Jumat, 02 Januari 2026

Jangan Jatuh Cinta #3

*CHAPTER 3

Kabur Adalah Solusi (Menurut Arga)**

Arga mulai sadar:
sumpah anti-cinta itu tidak berfungsi di lingkungan sekolah.

Lebih tepatnya, tidak berfungsi kalau dia tetap jadi dirinya sendiri.

Dan masalah terbesar Arga adalah:
dia nggak bisa pura-pura jadi orang jahat.


Operasi: Hidup Biasa yang Gagal Total

Pagi itu, Arga berangkat dengan rencana matang.

“Hari ini aku akan:

  1. Tidak banyak bicara

  2. Tidak terlalu peduli

  3. Tidak memikirkan siapa pun”

Begitu sampai kelas…

Rani menyapanya duluan.

“Pagi, Arga!”

Arga kaget setengah mati.

“Pa—pagi.”

Nada suaranya terlalu lembut.
Itu kesalahan pertama.

Rani duduk agak dekat dari biasanya.

“Kamu kelihatan capek. Tidur jam berapa?”

Arga refleks jujur.

“Sekitar jam satu.”

Rani membulatkan mata.

“Hah? Kenapa?”

Arga hampir menjawab ‘karena mikirin hidup’, tapi cepat mengubahnya.

“Belajar.”

Rani tersenyum.

“Rajin banget.”

Dalam kepala Arga:

“KENAPA SEMUA KALIMAT BISA KEDENGERAN ROMANTIS.”


Guru, Kelompok, dan Kutukan Duduk Bareng

Guru Bahasa Indonesia masuk.

“Hari ini kita kerja kelompok. Empat orang per kelompok.”

Arga menelan ludah.

Guru menunjuk secara acak.

“Arga… Rani… Maya… Naya.”

Hening.

Suara bangku digeser terdengar kayak efek suara film horor.

Arga berdiri pelan.

“Bu… apa tidak bisa—”

“Tidak,” potong guru. “Sudah pas.”

PAS DARI MANA, BU. INI FORMASI AKHIR DUNIA.

Mereka duduk melingkar.

Rani langsung buka suara.

“Kita bagi tugas ya! Arga mau ngerjain bagian apa?”

Arga masih loading.

“E—eh…”

Maya menyela, tenang tapi menusuk.

“Arga cocok jadi ketua. Dia kelihatan bertanggung jawab.”

Arga tersedak udara.

“Aku nggak—”

Naya berbicara pelan.

“Kalau Arga nggak keberatan.”

Semua mata tertuju padanya.

Arga menyerah.

“…ya udah.”

Dalam hati:

“AKU TERJEBAK.”


Kejadian Kecil yang Jadi Besar di Kepala Arga

Saat diskusi, Naya menjatuhkan pulpennya.

Pulpen itu menggelinding… berhenti tepat di dekat kaki Arga.

Waktu melambat.

Arga mengambil pulpen itu.

Ujung jari mereka bersentuhan sebentar.

Sangat sebentar.

Tapi cukup.

Dalam kepala Arga:
panel komik muncul.
Teks besar:

“Detik di mana perasaan itu tumbuh.”

Flashback menyerbu.

Sekolah lama.
Sentuhan tangan.
Harapan palsu.
Kalimat “aku cuma nganggep kamu teman”.

Arga langsung menarik tangannya terlalu cepat.

Pulpen jatuh lagi.

“Eh—maaf,” katanya terlalu cepat.

Naya terlihat bingung.

“Nggak apa-apa.”

Rani melirik.
Maya memperhatikan.

Papan skor salah paham naik level.


Sudut Pandang Maya: Ini Menarik

Maya menyandarkan dagu ke tangan.

Dalam pikirannya:

“Dia gugup… tapi bukan karena bodoh. Karena peduli.”

Maya tidak suka hal yang setengah-setengah.

Dan Arga?
Dia penuh tanda tanya.

Maya tersenyum tipis.

“Kalau gitu, aku mau lihat sejauh apa dia kabur.”


Arga Mulai Menghilang

Sejak hari itu, Arga mengubah pola hidupnya.

  • Datang tepat bel masuk

  • Pulang paling cepat

  • Istirahat di perpustakaan

  • Menghindari kantin

  • Menghindari semua orang yang punya potensi dialog

Rani merasa aneh.

“Kok Arga jarang kelihatan ya?”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Dia menghindar.”

Naya… tidak bertanya.

Dan justru itu yang bikin Arga makin kepikiran.


Perpustakaan: Tempat Aman yang Ditembus Kenyataan

Arga duduk di pojok perpustakaan, membuka komik.

Balon dialog di komik:

‘Kadang, menjauh bukan berarti tidak peduli.’

Arga menutup buku itu cepat-cepat.

“Kok pas sih…”

Tiba-tiba, kursi di depannya ditarik pelan.

“Boleh duduk?”

Arga mengangkat kepala.

Naya.

Jantungnya jatuh dari lantai dua.

“Oh… silakan.”

Naya duduk, membuka buku pelajaran.
Hening.

Nyaman.

Terlalu nyaman.

Naya akhirnya bicara.

“Kamu menghindar ya?”

Arga panik.

“Hah? Nggak kok.”

Naya menatapnya sebentar.

“Oh.”

Tidak menuduh.
Tidak memaksa.

Dan itu lebih berbahaya daripada interogasi.

Arga berdiri tiba-tiba.

“Aku… ke toilet.”

Padahal tidak.

Dia kabur.


Arga vs Dirinya Sendiri

Di lorong, Arga menempel ke dinding.

Napasnya cepat.

“Kenapa sih aku begini…”

Flashback konyol terakhir muncul:
dirinya dulu, percaya senyum.
percaya perhatian.
percaya komik.

Arga memejamkan mata.

“Aku nggak mau sakit lagi.”

Di belakangnya, Naya berdiri, melihat Arga pergi.

Pelan, dia bergumam:

“Atau… kamu cuma takut.”


END OF CHAPTER 3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar