Selasa, 15 September 2026

PETUALANGAN SATU HARI



PETUALANGAN
SATU HARI

Sebuah novella

“Ada hari-hari yang kita kenang seumur hidup.
Ada pula hidup yang hanya sempat kita kenang sehari.”

BAB 1 — Hutan yang Tidak Kukenal

Hal pertama yang kurasakan adalah dingin.

Bukan dingin pendingin udara yang terlalu rendah, bukan pula dingin lantai keramik ketika telapak kaki menyentuhnya pagi-pagi. Dingin ini basah. Menempel pada pipi, masuk ke sela baju, dan membawa bau tanah yang baru selesai diguyur hujan.

Aku membuka mata.

Di atas kepalaku tidak ada plafon kamar. Tidak ada kipas angin yang bunyinya sudah miring sejak dua tahun lalu. Tidak ada poster naga yang ditempel Gale dengan selotip sampai cat tembokku ikut terkelupas.

Yang ada hanya daun.

Ratusan daun.

Mereka bergoyang pelan jauh di atas sana, diselingi cahaya pucat pagi yang menembus kabut.

Aku menatapnya beberapa detik, berharap otakku akan menyusun penjelasan yang masuk akal.

Tidak terjadi apa-apa.

“Hah?”

Suaraku terdengar aneh.

Lebih berat.

Aku langsung bangun—atau mencoba bangun. Tubuhku melesat terlalu cepat dan kepalaku hampir menabrak dahan rendah. Aku terhuyung keluar dari sesuatu yang ternyata kantong tidur hijau tua.

“Apa-apaan ini?”

Aku berdiri.

Lalu membeku.

Tanah terasa terlalu jauh.

Aku melihat kedua kakiku. Sepatu bot. Celana kargo. Kaki panjang yang jelas bukan milikku.

Aku mengangkat tangan.

Tangan itu besar, urat-uratnya terlihat samar di punggung, dan ada bekas luka tipis di dekat ibu jari kanan. Kuku-kukunya pendek dan kotor oleh tanah. Ada jam digital hitam melingkar di pergelangan.

Aku meraba wajah.

Rahang.

Ada rambut-rambut kasar di dagu.

“HEH?”

Seekor burung terbang panik dari semak.

Aku berlari ke genangan air terdekat dan berjongkok di depannya. Permukaan air bergoyang. Setelah beberapa detik, wajah seorang laki-laki dewasa muncul di sana.

Aku ikut bergerak.

Dia ikut bergerak.

Aku menyentuh pipi.

Dia juga.

“Tidak mungkin.”

Aku memukul air dengan telapak tangan sampai wajah itu pecah menjadi riak-riak.

Jantungku berdetak terlalu cepat.

Kemarin sore aku masih empat belas tahun.

Setidaknya itu hal terakhir yang kuingat.

Aku, Raina, dan Gale bermain di lapangan kosong dekat rumah. Raina mengikat handuk merah di pinggang dan bersikeras bahwa itu gaun kerajaan. Gale menjadi penyihir jahat yang menculiknya. Aku, tentu saja, menjadi pangeran.

Gale protes karena menurutnya penyihir lebih keren daripada pangeran.

Kami bertengkar soal aturan sampai ibu Raina memanggilnya pulang.

Setelah itu…

Aku menekan pelipis.

Setelah itu apa?

Kosong.

Aku mencubit lengan sendiri.

“Sakit!”

Bagus. Berarti kalau ini mimpi, mimpinya cukup niat.

Aku berdiri lagi dan melihat sekeliling.

Barulah kusadari bahwa aku tidak terbangun tanpa persiapan. Di bawah pohon besar tempat kantong tidurku tergeletak ada ransel gunung, botol air, mantel hujan, kompas, lampu kepala, kotak P3K, tali, dan sebuah pisau bersarung.

Aku menelan ludah.

Pisau.

Tanganku mengambilnya sebelum aku sempat berpikir. Gerakannya mulus. Ibu jari membuka pengunci, tangan kiri memeriksa sisi bilah, lalu aku memasukkannya lagi ke sarung.

Aku terdiam.

Aku tidak tahu cara memakai pisau seperti itu.

Tapi tanganku tahu.

Perasaan takut yang tadi memenuhi kepalaku mendadak berdesakan dengan sesuatu yang sama sekali tidak pantas muncul saat seseorang terbangun di tubuh orang dewasa di tengah hutan.

Kagum.

Aku melihat ransel. Melihat tali. Melihat kompas. Melihat tubuhku sekali lagi.

“Jangan-jangan…”

Aku berdiri tegak.

“Jangan-jangan aku benar-benar jadi petualang?”

Kalimat itu terdengar bodoh bahkan bagi diriku sendiri.

Tetapi ada bagian kecil dalam kepalaku—bagian yang selama bertahun-tahun membaca komik petualangan, menggambar peta dungeon di buku matematika, dan membayangkan hidup di hutan hanya dengan pisau dan tali—yang mulai bersorak.

Mungkin aku terlempar ke masa depan.

Mungkin ini dunia lain.

Mungkin hidupku berubah menjadi permainan.

Kalau begitu, pikirku, pasti ada tujuan.

Perutku berbunyi.

Tujuan pertama ternyata sederhana.

Makanan.

Aku memasukkan perlengkapan ke ransel. Anehnya, aku tahu persis barang mana yang harus diletakkan di bagian bawah, mana yang harus mudah dijangkau, dan bagaimana menarik tali pengikat agar beban menempel nyaman di punggung.

Aku tidak mengerti dari mana pengetahuan itu datang.

Kubiarkan saja.

Kalau tubuh dewasa ini punya kemampuan khusus, aku tidak akan mengeluh.

Aku mulai berjalan.

Hutan masih basah. Cahaya matahari membuat tetes air di ujung daun terlihat seperti kaca kecil. Tanah menurun ke arah timur—entah kenapa aku tahu itu timur tanpa memeriksa kompas—dan dari kejauhan terdengar suara air mengalir.

Dalam dua puluh menit aku menemukan pohon jambu hutan. Lagi-lagi tangan dan mataku bekerja mendahului pikiran: memeriksa buah, mencium bagian yang terbuka, memastikan tidak ada bekas gigitan hewan.

“Wah,” gumamku sambil menggigit buah pertama. “Versi dewasaku keren juga.”

Rasanya masam sekali sampai mataku berair.

“Versi dewasaku bodoh.”

Aku tertawa sendiri.

Aneh. Seharusnya aku panik. Seharusnya aku menangis mencari ibu. Tetapi kepanikan itu seperti ombak yang datang dan pergi. Selama aku bergerak, selama ada sesuatu untuk dikerjakan, semuanya terasa seperti petualangan yang selama ini hanya kubayangkan.

Barangkali otakku sengaja berpikir begitu supaya aku tidak menjerit.

Aku menyusuri suara sungai sampai menemukan sesuatu yang bukan berasal dari alam.

Selembar kertas.

Tersangkut di akar pohon.

Kertas itu kusut, tepinya robek, dan tintanya sebagian luntur. Tetapi tulisan tangan di atasnya masih bisa dibaca.

Aku mengambilnya.

Tulisan itu terasa akrab.

Terlalu akrab.

“…Aku terus mencari Raina dan akhirnya menemukannya sedang menangis. Begitu melihatku, dia langsung berlari dan memelukku. Katanya dia takut. Aku bilang dia tidak perlu takut karena aku tahu jalan pulang…”

Aku membaca bagian itu dua kali.

Raina.

Jantungku memukul sekali dengan keras.

“Raina?”

Kertas itu robek tepat setelah kalimat berikutnya.

“…aku berjanji tidak akan meninggalkannya lagi.”

Aku membalik kertas. Tidak ada apa-apa.

Aku tertawa kecil.

Tentu saja.

Petunjuk pertama.

Kalau ini benar-benar petualangan, ternyata tujuannya sudah jelas.

Aku memasukkan sobekan itu ke saku dada.

“Baiklah,” kataku pada hutan yang tidak menjawab. “Pangeran harus mencari tuan putri.”

Dan untuk pertama kalinya sejak membuka mata pagi itu, aku merasa tahu ke mana harus pergi.

Padahal aku sama sekali tidak tahu.


BAB 2 — Tubuh yang Mengingat

Hutan rupanya punya cara sendiri untuk menertawakan orang yang terlalu percaya diri.

Setengah jam setelah menyatakan diriku pangeran, aku tersesat.

Aku yakin sudah berjalan lurus mengikuti aliran sungai, tetapi sebuah pohon tumbang yang kulihat tadi muncul lagi di depanku. Ada jamur berbentuk kipas di batangnya dan bekas sayatan berbentuk segitiga pada kulit kayu.

“Aku muter?”

Aku menatap bekas sayatan itu.

Ada sesuatu di dalam kepalaku yang berbisik: bukan segitiga. Panah.

Aku mendekat.

Benar. Tiga goresan tipis membentuk anak panah ke kiri. Di bawahnya ada dua garis pendek.

Tanganku menyentuh bekas itu.

Perasaan aneh menjalar di tengkuk.

Aku mengenalnya.

Bukan karena pernah melihatnya. Karena tahu bagaimana membuatnya.

Aku mencabut pisau, memilih sisi batang yang tidak berlumut, lalu tanpa berpikir membuat simbol yang sama: satu anak panah, dua garis.

Gerakanku cepat dan terukur.

Aku mundur.

Kedua simbol itu hampir identik.

“Ini… aku yang bikin?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengikuti arah panah.

Jalur yang awalnya tampak seperti semak biasa perlahan berubah menjadi lintasan sempit. Beberapa ranting sudah dipotong rapi. Batu-batu kecil ditumpuk tiga-tiga pada persimpangan. Di satu tempat ada tali tua diikatkan pada akar sebagai pegangan untuk menuruni lereng.

Tubuhku mengenali semuanya.

Ketika tanah licin, kakiku otomatis mengambil posisi menyamping. Ketika menyeberangi batang tumbang, lenganku terangkat menjaga keseimbangan. Saat mendengar geraman dari semak, aku tidak membeku; tangan kanan turun ke pisau sementara kaki mundur setengah langkah.

Seekor anjing liar kurus muncul di antara pakis.

Aku berhenti bernapas.

Anjing itu memperlihatkan gigi.

“Anjing baik…” bisikku.

Dia menggeram.

Otakku berteriak lari.

Tubuhku tidak menurut.

Aku menurunkan pusat berat badan, tidak menatap matanya langsung, lalu perlahan meraih botol dari samping tas. Ada sisa buah di saku. Kulempar jauh ke kiri.

Anjing itu menoleh.

Aku mundur.

Dia mengendus buah, lalu memutuskan aku tidak sepadan dengan usahanya dan menghilang ke semak.

Baru setelah itu lututku gemetar.

“Gila.”

Aku duduk di batu.

Tubuh ini benar-benar punya hidupnya sendiri.

Aku memandangi tangan dewasa itu lagi.

Kalau aku benar-benar melompat sepuluh tahun, lima belas tahun, entah berapa lama… apa yang sudah kulakukan selama waktu itu?

Apakah aku sekolah?

Apakah aku bekerja?

Apakah aku masih berteman dengan Gale?

Apakah Raina…

Aku tersenyum tanpa sadar.

Kalau kami semua sudah dewasa, Raina pasti cantik sekali.

Lalu senyum itu menghilang.

Bagaimana kalau dia sudah menikah?

“Tidak,” kataku cepat pada diri sendiri. “Jangan bikin side quest menyedihkan sebelum ketemu karakter utamanya.”

Aku berdiri lagi.

Jalur itu berakhir di sungai yang cukup lebar. Arusnya tenang, airnya cokelat kehijauan, dan di seberang tampak atap-atap rumah jauh di balik pepohonan.

Peradaban.

Aku hampir berteriak senang.

Lalu kusadari ada seseorang di sungai.

Sebuah perahu motor kecil melaju dari hulu. Pengemudinya laki-laki tua berkulit gelap dengan topi lusuh. Dia melihatku, memperlambat perahu, lalu memicingkan mata.

Aku baru sadar bajuku basah oleh keringat dan lumpur.

Orang itu menepi.

“Hei!” teriaknya. “Kamu!”

Aku menoleh ke belakang memastikan tidak ada orang lain.

“Ya, kamu!”

“Kenapa, Pak?”

Mesin dimatikan. Perahu bergeser mendekati tepian.

Laki-laki itu menatap wajahku lama sekali sampai aku tidak nyaman.

“Astaga,” katanya pelan. “Benar kamu.”

“Benar siapa?”

Dia tidak menjawab. Tangannya merogoh saku jaket dan mengeluarkan kertas terlipat.

Aku langsung waspada.

“Apa itu?”

“Siapa namamu?”

Pertanyaan sederhana itu membuatku ragu.

Nama.

Tentu aku tahu namaku.

“Jay.”

“Nama lengkap.”

Aku menyebutkannya.

Wajah laki-laki itu berubah.

Bukan takut. Bukan marah.

Lega.

“Ya Allah,” gumamnya. “Naik. Ayo naik.”

“Bapak siapa?”

“Darma. Orang sini panggil Pak Rowan. Saya bawa perahu antar orang dari kampung seberang. Cepat, naik dulu.”

“Kenapa?”

“Karena semua orang mencari kamu.”

Darahku terasa turun ke kaki.

Semua orang mencari aku.

Kalimat itu bisa berarti banyak hal.

Aku melirik kertas di tangannya.

Dia buru-buru melipatnya kembali.

“Apa itu?” tanyaku.

“Bukan apa-apa.”

Kalau orang berkata bukan apa-apa sambil menyembunyikan sesuatu, biasanya itu justru apa-apa.

Aku naik ke perahu, tetapi mataku tidak lepas dari saku jaketnya.

Mesin menyala.

“Bapak tahu Raina?” tanyaku setelah beberapa menit.

Pak Rowan menoleh sekilas. “Raina?”

“Raina. Temanku. Rumahnya dekat lapangan. Saya harus menemuinya.”

Wajahnya jadi aneh.

“Oh,” katanya. “Raina itu.”

“Bapak tahu?”

“Semua orang tahu.”

Jawaban yang sama sekali tidak menenangkan.

Perahu bergerak ke hilir. Angin membuat jaket Pak Rowan terbuka sedikit.

Kertas itu menyembul dari saku.

Aku melihat foto.

Foto wajah laki-laki dewasa.

Wajahku.

Di atasnya ada huruf besar.

DICARI.

Di bawah foto ada angka yang sempat kutangkap sebelum jaket tertutup kembali.

Rp100.000.000.

Seratus juta.

Aku tercekat.

Poster buronan.

Tentu saja.

Kenapa lagi ada foto seseorang, tulisan DICARI, dan hadiah seratus juta?

Aku menatap Pak Rowan.

Dia bersiul kecil seolah tidak terjadi apa-apa.

Petualangan ini tiba-tiba tidak menyenangkan lagi.

“Pak,” kataku.

“Hm?”

“Itu apa?”

“Apa?”

“Kertas di saku.”

Tangannya refleks menutup saku.

“Nanti saja.”

“Nanti kapan?”

“Nanti kalau sudah sampai.”

Sampai ke mana?

Penjara?

Markas penjaga?

Tempat eksekusi?

Otak empat belas tahunku bekerja sangat efektif dalam menghasilkan kemungkinan terburuk.

Aku melihat tepian sungai.

Jaraknya sekitar delapan meter.

Arus tenang.

Tubuhku tahu berenang.

Setidaknya aku berharap begitu.

“Pak Rowan.”

“Ya?”

“Maaf.”

“Hah?”

Aku melompat.

Air sungai menelan seluruh tubuhku.

Di belakang terdengar teriakan Pak Rowan.

“JAY! HEI! JANGAN—”

Aku muncul ke permukaan, mengambil napas, dan berenang.

Tubuhku meluncur dengan gerakan yang terlalu terampil untuk seseorang yang terakhir kuingat masih takut berenang di bagian kolam yang dalam.

Pak Rowan mematikan mesin karena takut baling-baling mengenai aku.

Kesalahan besar.

Aku mencapai tepian, menarik diri ke lumpur, lalu berlari masuk ke pepohonan.

“JAY!” teriaknya lagi. “KAMU SALAH PAHAM!”

Itulah kalimat yang pasti diteriakkan penjahat ketika buruannya berhasil kabur.

Aku tidak menoleh.


BAB 3 — Buronan

Aku berlari sampai paru-paruku terasa terbakar.

Ketika akhirnya berhenti, aku berada di balik tembok beton yang dipenuhi lumut. Di luar tembok terdengar kendaraan lewat. Ada klakson. Ada suara pedagang. Ada kehidupan normal.

Aku menyandarkan punggung dan tertawa terengah-engah.

“Aku buronan.”

Mengucapkannya keras-keras membuat situasinya terdengar semakin tidak masuk akal.

Kemarin aku masih dimarahi guru karena lupa membawa tugas IPS.

Hari ini kepalaku dihargai seratus juta.

Aku mengintip dari balik tembok.

Jalan raya membentang di depan. Bangunan-bangunan tampak akrab tetapi salah. Warung yang kuingat sebagai kios kecil kini menjadi minimarket dua lantai. Pohon mangga besar di tikungan sudah tidak ada. Di tempat lapangan tanah berdiri deretan ruko.

Orang-orang berjalan sambil menunduk menatap benda tipis bercahaya di tangan mereka.

Aku memperhatikan seorang anak SMA menggeser-geser jarinya di layar kaca.

“Wah.”

Telepon genggam tanpa tombol.

Jadi aku memang berada di masa depan.

Aku ingin mencobanya.

Lalu ingat aku buronan.

Prioritas.

Aku menarik tudung mantel meski cuaca tidak hujan, menundukkan kepala, lalu berjalan menyusuri gang yang entah bagaimana terasa kukenal.

Setiap beberapa puluh meter, dunia mengirimkan kejutan kecil.

Rumah Pak Hendra berubah menjadi klinik gigi.

Toko kaset tempat Gale membeli CD game sudah menjadi kedai kopi.

Jembatan kecil yang dulu kami lewati dengan sepeda sekarang dicat warna-warni dan dipenuhi lampu.

Tetapi di bawah semua perubahan itu, bentuk kota masih sama. Tikungan-tikungannya tinggal di tubuhku seperti lagu lama.

Aku tidak perlu berpikir untuk memilih jalan.

Kakiku membawaku ke rumah Raina.

Ketika gerbangnya terlihat dari ujung gang, aku berhenti.

Rumah itu jauh lebih besar daripada yang kuingat. Dindingnya dicat putih, pagar besi hitam menggantikan pagar kayu pendek yang dulu sering kami panjat. Pohon jambu tempat kami pernah membuat “markas kerajaan” masih ada, hanya sekarang batangnya begitu besar sampai dua orang mungkin baru bisa memeluknya.

Dadaku terasa hangat.

Raina pasti ada di sana.

Aku berjalan mendekat, lalu melihat dua orang berseragam di pos kecil dekat gerbang.

Penjaga.

Tentu saja rumah putri punya penjaga.

Aku nyaris tertawa pada kebetulan itu.

Lalu salah satu penjaga mengangkat kepala dan menatapku terlalu lama.

Aku berbalik.

“Hei!”

Aku mempercepat langkah.

“Mas! Tunggu!”

Lari.

Aku menyelinap ke gang samping, melompati parit, memanjat tembok rendah—dan kembali dibuat terkejut oleh tubuhku sendiri. Tanganku menemukan pegangan sebelum mataku. Kakiku mendarat dengan benar tanpa rasa sakit.

Aku tiba di kebun belakang rumah Raina.

Tempat itu berubah, tetapi pintu dapur masih ada di posisi yang sama.

Aku mengetuk pelan.

Tidak ada jawaban.

Mengetuk lagi.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan berambut pendek dengan beberapa helai uban berdiri di sana membawa sendok kayu.

Aku mengenalnya seketika.

“Tante Lusy?”

Sendok kayu jatuh.

Perempuan itu menutup mulut dengan kedua tangan.

“Jay?”

Aku tersenyum canggung. “Bibi makin tua.”

Dia menampar lenganku.

“Aduh!”

Lalu memelukku begitu keras sampai aku hampir kehilangan napas.

“Dasar anak kurang ajar,” katanya sambil menangis. “Hilang seminggu, muncul dari dapur, kalimat pertama bilang aku tua.”

Aku kaku dalam pelukannya.

Seminggu.

“Aku… hilang seminggu?”

Tante Lusy mundur. Wajahnya berubah ketika melihat ekspresiku.

“Oh tidak.”

“Apa?”

“Kamu belum baca?”

“Baca apa?”

Dia menatapku seperti seseorang yang baru menyadari lantai di depannya tidak ada.

“Jay,” katanya pelan. “Hari ini tanggal berapa?”

Aku melihat jam digital di tangan.

07-10-XX+10.

Aku mengernyit.

“Apa maksudnya plus sepuluh?”

Tante Lusy menutup mata.

Ketika membukanya lagi, ada kesedihan yang membuatku mendadak takut.

“Raina di mana?” tanyaku cepat.

Dia tidak menjawab.

“Bi. Raina di mana?”

“Dia… tidak di rumah.”

“Ke mana?”

“Jay, kamu harus pulang dulu.”

“Aku datang jauh-jauh buat ketemu dia.”

“Pulang ke rumahmu. Masuk ke kamarmu. Di meja belajar ada sesuatu yang harus kamu baca.”

“Kenapa semua orang hari ini bicara seperti NPC yang cuma kasih petunjuk setengah-setengah?”

Tante Lusy tertawa kecil di antara air mata. Itu malah membuatku semakin bingung.

Dia meraih tanganku.

“Kamu tahu jalan pulang?”

Aku hendak menjawab tentu saja.

Lalu sadar aku tidak tahu apakah rumahku masih ada.

“Kurasa.”

“Pergilah. Jangan ke mana-mana lagi. Dan Jay…”

“Ya?”

“Kalau kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah, jangan langsung percaya pada perasaan pertama.”

“Itu nasihat yang sangat aneh.”

“Aku tahu.”

Dia memelukku sekali lagi.

Aku berjalan pergi lewat kebun belakang.

Di ujung gang, dua penjaga tadi masih mencari-cari. Aku mengambil jalan memutar.

Sepanjang perjalanan, kalimat Tante Lusy menempel di kepala.

Hilang seminggu.

Belum baca.

Tanggal plus sepuluh.

Jangan percaya perasaan pertama.

Dan satu hal lagi.

Ketika kusebut nama Raina, Tante Lusy tidak terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan seorang tuan putri dari pangerannya.

Dia terlihat seperti orang yang takut aku akan mengingat sesuatu.


BAB 4 — Surat untuk Orang Asing

Rumahku masih ada.

Aku mengenalinya dari pagar hijau yang catnya selalu mengelupas di bagian bawah. Hanya saja sekarang pagar itu lebih tinggi, atap rumah sudah diganti, dan ada kamera kecil menghadap jalan.

Aku berdiri beberapa meter dari gerbang.

Tiba-tiba aku takut masuk.

Hutan tidak menakutkan. Poster buronan bisa kulawan dengan berlari. Penjaga bisa dihindari.

Tetapi rumah adalah tempat kenangan seharusnya cocok dengan kenyataan.

Bagaimana kalau tidak?

Aku membuka gerbang.

Suara engselnya berbeda.

Pintu depan terbuka sebelum aku sempat mengetuk.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Rambutnya sebagian besar sudah putih.

Tubuhnya lebih kecil daripada yang kuingat.

Tetapi aku mengenali matanya.

“Ibu?”

Wajahnya runtuh.

Dia berlari memelukku.

“Jay.”

Hanya namaku. Berkali-kali.

Jay. Jay. Jay.

Seolah dengan mengucapkannya dia bisa memastikan aku tidak hilang lagi.

Aku memeluk balik, canggung pada awalnya, lalu erat.

Ibu menangis di dadaku.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, rasa petualangan lenyap sepenuhnya.

Ibu tidak seharusnya setua ini.

Aku masih ingat dia pagi kemarin, berdiri di dapur dengan rambut hitam dijepit asal sambil mengomel karena aku belum mandi.

Sekarang ada garis-garis dalam di sudut matanya.

Sepuluh tahun.

Angka itu mulai punya bentuk.

“Bu,” bisikku. “Apa yang terjadi sama aku?”

Dia mundur, mengusap wajah, lalu memaksakan senyum.

“Kamarmu dulu.”

“Tante Lusy juga bilang begitu.”

“Karena kamu sendiri yang minta.”

Aku terdiam.

“Yang minta?”

Ibu mengangguk. “Kamu.”

Tangga menuju lantai dua terasa lebih sempit. Di dinding ada foto-foto yang tidak kukenal.

Aku berhenti di salah satunya.

Foto keluarga.

Ibu. Kakakku, Ryan, sudah dewasa. Seorang laki-laki yang jelas aku—wajah yang kulihat di genangan pagi tadi. Kami berdiri di depan rumah sakit.

Aku dalam foto tersenyum sambil mengangkat dua jempol.

Di sebelahku ada Raina dan Gale.

Mereka juga sudah dewasa.

Raina memang cantik.

Sangat cantik.

Aku menyentuh kaca foto tanpa sadar.

“Ini kapan?”

“Empat tahun lalu,” kata Ibu.

“Aku kelihatan… normal.”

Ibu menarik napas.

“Kamu memang normal, Jay.”

Aku menatapnya.

Dia menggeleng pelan. “Baca dulu.”

Kamarku berada di ujung lorong.

Ketika pintu dibuka, aku hampir tertawa karena bagian pertama yang kulihat adalah poster naga yang sama.

Sudah pudar dan sudutnya robek, tetapi masih ada.

Di bawahnya, semuanya berubah.

Tempat tidur lebih besar. Rak penuh buku. Peta-peta topografi digantung di dinding. Ada simpul-simpul tali yang diberi label. Sebuah papan tulis putih memenuhi hampir separuh dinding.

Di tengah papan tertulis dengan spidol hitam besar:

JIKA KAMU BARU BANGUN DAN TIDAK TAHU APA YANG TERJADI, BACA MAP BIRU DI MEJA.

Di bawahnya:

JANGAN PANIK.

KAMU AMAN.

JANGAN PERGI MENCARI RAINA SEBELUM MEMBACA.

Aku melirik Ibu.

“Kenapa bagian terakhir pakai huruf kapital semua?”

“Karena kamu keras kepala.”

Entah kenapa jawabannya terasa sangat seperti ibu yang kuingat sampai aku tertawa.

Di atas meja ada map biru.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Halaman pertama hanya berisi beberapa baris.

Halo, Jay.

Namamu Jay. Kamu menulis surat ini untuk dirimu sendiri.

Hari ini kemungkinan besar bukan 30 Mei, sepuluh tahun yang lalu, meskipun itu adalah hari terakhir yang terasa utuh dalam ingatanmu.

Kamu berusia dua puluh empat tahun.

Aku berhenti membaca.

Dua puluh empat.

Aku melihat tangan.

Dua puluh empat.

Aku melanjutkan.

Pada 30 Mei, ketika kamu berusia empat belas tahun, kamu mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera otak berat. Kamu selamat. Sebagian besar kemampuanmu pulih. Kamu bisa berbicara, membaca, belajar, bekerja dengan bantuan, melakukan banyak hal yang orang lain lakukan.

Tetapi ada satu hal yang tidak pulih dengan baik: kemampuan otakmu menyimpan dan mengakses kenangan baru setelah tidur panjang.

Cedera itu membuat kemampuan otakmu membentuk dan mengakses ingatan baru menjadi sangat rapuh. Selama terjaga, kamu biasanya bisa mengikuti hari dengan baik. Setelah tidur panjang—terutama tidur malam—sebagian besar pengalaman setelah kecelakaan dapat menjadi kabur atau hilang dari ingatan sadar.

Bukan berarti kamu kembali menjadi anak empat belas tahun. Tubuhmu terus belajar. Kebiasaanmu bertahan. Keterampilan bisa menempel. Emosi kadang meninggalkan bekas bahkan ketika kamu lupa alasannya.

Itulah sebabnya kamu mungkin tahu cara melakukan hal-hal yang tidak kamu ingat pernah pelajari.

Aku menurunkan kertas.

Pisau.

Kompas.

Berenang.

Jalur hutan.

Tubuh yang mengingat.

Aku membaca lagi.

Kamu membuat sistem supaya bisa hidup: kalender, foto, catatan, rekaman video, dan terutama diari. Setiap pagi kamu membaca ringkasan. Tidak selalu semuanya. Kamu memutuskan sendiri seberapa banyak kehidupan yang ingin kamu pinjam dari tulisan orang yang bernama sama denganmu kemarin.

Kalimat terakhir membuat tenggorokanku kering.

Tulisan orang yang bernama sama denganku kemarin.

Aku membalik halaman.

Ada foto kecelakaan. Foto rumah sakit. Diagram sederhana tentang ingatan. Nomor telepon keluarga. Daftar obat. Daftar orang yang aman dipercaya.

Di pojok halaman terselip kartu kecil bertuliskan ARUNIKA dan sebuah nomor telepon. Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku, jadi kulewati.

Nama pertama: Ibu.

Nama kedua: Ryan.

Nama ketiga: Raina.

Nama keempat: Gale.

Gale.

Sahabatku.

Aku membaca halaman terakhir.

CATATAN KHUSUS UNTUK HARI INI:

Jika kamu membaca ini pada tanggal 7 Oktober, kamu baru ditemukan setelah hilang selama tujuh hari.

Empat buku diari utama juga hilang.

Kami belum tahu kenapa kamu pergi.

Jika kamu menemukan sobekan atau catatan dari diari, simpan. Jangan mengambil keputusan besar sebelum membaca semuanya.

Aku merogoh saku.

Sobekan dari hutan terasa seperti benda panas.

Ibu berdiri di pintu, diam sejak tadi.

“Bu.”

“Ya?”

“Kenapa aku pergi?”

“Kami tidak tahu.”

“Aku bawa semua diari?”

“Empat buku yang paling penting.”

“Kenapa?”

Ibu menggeleng. “Kamu tidak bilang.”

Aku menatap papan tulis.

JANGAN PERGI MENCARI RAINA SEBELUM MEMBACA.

“Raina kenapa?”

Ibu menutup mata sesaat.

Aku tahu ekspresi itu sekarang. Ekspresi orang yang ingin melindungiku dari sesuatu yang sudah pernah kulalui berkali-kali.

“Bu.”

Sebelum dia menjawab, terdengar suara pintu depan dibuka keras.

Langkah kaki berlari menaiki tangga.

Seorang laki-laki muncul di ambang pintu.

Tinggi. Rambut berantakan. Napas tersengal. Wajahnya sangat kukenal dan sama sekali asing.

“Jay?”

Aku menatapnya.

Dia menatapku balik, lalu tertawa kecil seperti tidak percaya.

“Kak Ryan?”

“Ya, bocah bodoh.”

Dia memukul bahuku lalu menarikku ke pelukan.

Aku mencium bau keringat dan asap kendaraan.

“Kau tua banget,” kataku.

“Dan kau masih menyebalkan.”

Untuk beberapa detik rasanya seperti tidak ada sepuluh tahun di antara kami.

Lalu benda di sakunya bergetar.

Ryan mengeluarkan telepon tipis bercahaya.

Aku refleks menunjuk.

“Wah. Kakak punya telepon tanpa tombol!”

Ryan menatapku.

Ibu menutup wajah.

Dan entah kenapa mereka berdua tertawa sampai menangis.

Aku ikut tertawa meski tidak tahu apa yang lucu.

Barangkali begitulah hidupku sekarang.

Aku terus tiba di tengah lelucon yang sudah dimulai sepuluh tahun lalu.


BAB 5 — Lima Jejak

Ryan ingin aku tidur.

Itu saran paling bodoh yang pernah kudengar.

“Kalau aku tidur, aku lupa hari ini,” kataku.

“Tidak selalu semuanya.”

“Kalau sebagian besar hilang, bedanya apa?”

“Kau capek.”

“Justru karena aku capek aku tidak mau tidur.”

Ryan mengusap wajah. “Aku lupa betapa melelahkannya debat dengan versi pagimu.”

“Versi pagiku?”

“Sebutan keluarga. Jangan tersinggung.”

“Aku tersinggung.”

“Nah, itu juga konsisten.”

Kami duduk di meja makan. Ibu memaksa kami makan nasi hangat, telur dadar, dan sayur asem sementara aku mengajukan pertanyaan begitu cepat sampai Ryan beberapa kali menyuruhku mengunyah dulu.

Ayah meninggal tiga tahun setelah kecelakaanku karena serangan jantung.

Aku tidak ingat pemakamannya.

Aku menyelesaikan sekolah melalui program belajar khusus.

Aku tidak kuliah seperti yang dulu kubayangkan, tetapi beberapa tahun terakhir membantu komunitas konservasi dan tim pengelola jalur. Rupanya dari sanalah semua keterampilan hutan yang terasa asing di kepalaku berasal.

Aku pernah tinggal sendiri selama delapan bulan.

Gagal.

Aku pernah mencoba bekerja di toko alat luar ruang.

Lumayan berhasil.

Aku pernah memelihara kucing bernama Naga.

Mati dua tahun lalu.

Aku tidak ingat pernah menyayanginya, tetapi ketika Ryan menunjukkan foto kucing abu-abu gemuk di telepon, dadaku mendadak sesak sampai aku harus memalingkan muka.

“Tubuhmu suka meninggalkan bocoran,” kata Ryan pelan.

Aku tidak bertanya apa maksudnya. Aku mulai mengerti.

Ada hal-hal yang hilang dari kepalaku tetapi tidak benar-benar pergi.

Seperti bekas luka setelah luka itu sendiri menutup.

Setelah makan, aku mengeluarkan sobekan kertas dari saku dan meletakkannya di meja.

Ryan berhenti bergerak.

“Dari mana?”

“Hutan.”

Dia mengambilnya. “Tulisanmu.”

“Aku tahu.”

“Ini dari buku cokelat.”

“Kau hafal?”

“Setelah sepuluh tahun mengingat untuk dua orang, ya, ada beberapa hal yang hafal.”

Nada suaranya datar. Ada sesuatu di bawah kalimat itu yang tidak bisa kubaca.

“Aku mau balik.”

Ibu yang sedang mencuci piring langsung menoleh. “Tidak.”

“Diari lainnya mungkin masih di sana.”

“Polisi sudah mencari.”

“Mereka tidak tahu tanda jalanku.”

Ryan mengamati sobekan itu lebih lama.

“Aku tahu,” katanya.

Ibu menatapnya tajam. “Ryan.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Bu, lebih aman aku ikut daripada dia kabur sendiri lagi.”

“Aku tidak akan kabur.”

Keduanya menatapku.

“Baik,” kataku. “Catatan menunjukkan reputasiku buruk.”

Ibu duduk. Tiba-tiba dia terlihat sangat lelah.

“Kalian pulang sebelum malam.”

Ryan mengangguk.

Aku mengangkat tangan seperti prajurit. “Siap.”

Ibu tidak tertawa.

Sebelum berangkat, Ryan memberiku jaket dan topi. Katanya wajahku masih tersebar di poster pencarian.

“Jadi aku bukan buronan?”

Dia menatapku beberapa detik. “Kau pikir poster itu poster buronan?”

“Ada tulisan DICARI dan hadiah seratus juta!”

Ryan tertawa begitu keras sampai hampir jatuh dari kursi.

“Pak Rowan pasti panik setengah mati.”

“Jangan ketawa. Format posternya menyesatkan.”

“Di bawah tulisan DICARI ada kata ORANG HILANG sebesar itu.”

“Aku cuma lihat sekilas.”

“Dan langsung lompat ke sungai.”

“Strategi bertahan hidup.”

“Gangguan kejiwaan tambahan.”

Aku melempar topi ke arahnya.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada di sebuah mobil tua. Aku duduk di kursi penumpang sambil menatap kota seperti turis dari masa lalu.

Ryan berkali-kali melirikku.

“Apa?” tanyaku.

“Tidak ada.”

“Kau dari tadi lihat aku.”

“Aneh saja.”

“Apanya?”

“Seminggu aku cari kau dan sekarang kau duduk di sebelah, mengomentari lampu lalu lintas LED seperti alien.”

“Aku belum pernah lihat.”

“Aku tahu.”

Aku ingin bertanya apakah dia marah padaku.

Sebelum sempat, teleponnya menyala di dashboard.

Sebuah pesan muncul.

Sudah ketemu?

Ryan cepat membalik layar.

“Siapa?”

“Teman.”

“Teman siapa?”

“Temanku.”

Jawaban yang secara teknis benar dan sama sekali tidak menjawab.

Aku teringat Pak Rowan menyembunyikan poster.

“Nanti kalau kau bilang ‘bukan apa-apa’, aku akan lompat dari mobil.”

Ryan mendengus. “Sabuk pengamanmu terpasang. Silakan coba.”

Kami kembali ke sungai. Kali ini Pak Rowan tidak ada. Ryan menelepon seseorang dan lima belas menit kemudian datang perahu lain.

Aku ternganga ketika dia membayar dengan menempelkan telepon pada kode kotak di papan kecil.

“Kalian sudah hidup di masa depan,” kataku.

“Kita belum punya mobil terbang.”

“Kecewa.”

Di seberang sungai kami masuk ke jalur yang tadi pagi kulewati. Ryan membiarkanku memimpin.

Aku mencari simbol di pohon.

Satu anak panah. Dua garis.

“Ini sistemku?”

“Ya.”

“Kenapa dua garis?”

“Entah. Kau tidak pernah mau kasih tahu.”

Itu membuatku senang secara kekanak-kanakan. Ada rahasia yang bahkan Ryan tidak punya.

Sekitar satu kilometer dari tempatku bangun, jalur bercabang. Aku berhenti di depan batu besar berbentuk miring.

Ada sensasi seperti gatal di otak.

Bukan ingatan. Lebih seperti tubuhku berharap menemukan sesuatu di sana.

Aku berjongkok dan meraba bagian bawah batu.

Jari-jariku menyentuh plastik.

Sebuah kantong kedap air tersembunyi di celah.

Di dalamnya ada sobekan kertas.

Ryan mengembuskan napas.

“Yang pertama.”

“Kau tahu ada berapa?”

Dia menunjuk sudut kertas.

Ada angka kecil dengan pensil: 1/5.

Aku tertawa.

“Ternyata versi dewasaku memang bikin quest.”

Ryan tidak ikut tertawa.

Aku membuka lipatan itu.

Tanggal di bagian atas tertulis 5 Desember, tahun kecelakaanku.

Tujuh bulan setelah hari terakhir yang kuingat.

Tulisan tanganku terlihat lebih berantakan daripada sekarang.

Aku membaca.

Hari ini aku dan Raina pergi ke hutan. Aku tahu aku pernah ke sana dengannya sebelum kecelakaan, tapi aku tidak ingat bagian itu sampai dia menceritakan lagi. Katanya waktu kami masih kecil dia pernah tersesat karena balik sendiri mencari bunga. Aku menemukannya menangis dan membawanya pulang. Katanya sejak hari itu aku suka memanggilnya tuan putri dan dia memanggilku pangeran sok tahu.

Dia menangis waktu cerita. Aku tidak tahu kenapa cerita lucu bikin dia menangis.

Aku bilang jangan takut. Kalau dia tersesat lagi, aku akan cari lagi.

Dia bilang, “Masalahnya bukan aku yang tersesat, Jay.”

Aku tidak mengerti maksudnya.

Mungkin besok aku juga tidak mengerti.

Aku berhenti.

Sobekan yang kutemukan pagi tadi ternyata sambungan halaman ini.

Pangeran.

Tuan putri.

Bukan quest.

Hanya lelucon masa kecil yang hidup terlalu lama.

“Raina sering menemaniku?” tanyaku.

Ryan memandang hutan. “Dulu, hampir tiap hari.”

“Dulu?”

Ryan mengembuskan napas. “Dulu kami menjelaskan semuanya langsung.”

“Terus?”

“Kau marah. Menuduh kami memilih cerita yang enak buat kami sendiri. Kadang kau kabur. Kadang menangis sampai pingsan. Besoknya kami mulai dari awal.”

Aku menatap sobekan di tanganku.

“Beberapa tahun lalu kau bikin aturan,” lanjutnya. “Kalau ada catatanmu yang bisa menjawab, biarkan tulisanmu bicara lebih dulu. Katamu, setidaknya kau tahu orang yang menulisnya punya kepentingan yang sama denganmu.”

“Karena dia aku.”

“Kurang lebih.”

“Jadi sekarang kau cuma mengikuti aturan buatanku?”

“Selama kau aman, ya.” Ryan menatapku. “Kalau keselamatanmu dipertaruhkan, aturan itu berhenti berlaku.”

Aku tidak punya jawaban.

Ryan berjalan lebih dulu.

Untuk pertama kali aku memperhatikan punggungnya.

Ada lelah pada cara dia membawa bahu.

Sepuluh tahun, pikirku.

Bukan hanya aku yang menjalani sepuluh tahun ini.


BAB 6 — Buku yang Tidak Pernah Selesai

Jejak kedua ditemukan di bawah papan kayu jembatan kecil.

Aku tahu tempat itu tanpa tahu kenapa. Bahkan sebelum melihat tanda, kakiku sudah turun dari jalur dan tanganku meraba baut ketiga dari kiri.

Di baliknya terselip tabung plastik tipis.

2/5.

Tanggal: 18 Juni, empat tahun setelah kecelakaan.

Aku membuka kertas sambil berdiri.

Ryan berkata, “Duduk.”

“Kenapa?”

“Duduk saja.”

Aku mendengus, tetapi menurut.

Tulisan itu lebih rapi.

Aku bangun dan membaca bahwa aku sudah delapan belas tahun. Aku tidak percaya sampai bercermin. Aku benci bercermin.

Tidak ada yang spesial hari ini. Raina dan Gale datang. Mereka sudah lulus sekolah dan sibuk bicara soal kuliah. Aku mengangguk seolah mengerti. Di kepalaku mereka masih teman sekelas yang kemarin rebutan es lilin.

Gale membawa game baru. Ternyata aku masih bisa belajar pola permainan meskipun besok aku tidak ingat pernah memainkannya. Lucu. Tanganku semakin jago sementara kepalaku selalu merasa pemula.

Raina membantuku membaca ringkasan enam bulan terakhir. Dia memotong rambut. Aku bilang jelek. Katanya aku juga bilang begitu kemarin. Mungkin aku konsisten.

Aku masih menyukainya.

Aku rasa aku sudah menyukainya sejak sebelum kecelakaan. Tetapi sekarang perasaan itu terasa tidak adil. Raina tumbuh setiap hari. Aku hanya tumbuh kalau orang lain menceritakan pertumbuhanku.

Kadang aku ingin dia berhenti datang supaya aku tidak terus jatuh cinta pada orang yang sama untuk pertama kali.

Kadang aku takut kalau dia benar-benar berhenti datang.

Di bagian bawah ada tulisan lebih besar, seperti ditulis sambil marah.

Aku capek jadi orang yang selalu ditinggal hari esok.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

“Ini aku?”

Ryan mengangguk.

“Rasanya bukan.”

“Ya.”

“Kok ‘ya’?”

“Karena kau selalu bilang begitu.”

Aku melipat kertas perlahan.

“Aku tidak ingat umur delapan belas,” kataku. “Aku tidak ingat lulus sekolah. Ayah meninggal. Aku bahkan tidak ingat pernah punya kucing.”

Ryan membuka mulut.

“Jangan bilang kau tahu.”

Dia menutupnya lagi.

Anehnya, itu justru membuat kemarahanku naik.

“Kalian semua tahu. Ibu tahu. Raina tahu. Gale tahu. Semua orang punya versi hidupku kecuali aku.”

“Dan menurutmu itu menyenangkan?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Sepuluh tahun, Jay.”

“Aku tahu angkanya!”

“Tidak. Kau tahu tulisan ‘sepuluh’. Kau tidak tahu rasanya.”

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling sakit.

Ryan maju selangkah.

“Kau tidak tahu rasanya mengubur Ayah sambil menjelaskan padamu setiap pagi kenapa kursinya kosong. Kau tidak tahu rasanya Ibu akhirnya memutuskan kita tidak boleh memberitahumu tiap hari karena dia tidak sanggup melihatmu berduka untuk pertama kali ratusan kali.”

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Kau tidak tahu Raina duduk di tangga rumah sakit setiap kali kau panik. Kau tidak tahu Gale tidur di lantai kamarmu waktu kau takut bangun sendirian. Kau tidak tahu berapa kali aku benci kalian semua karena aku satu-satunya orang di rumah yang tidak boleh lupa.”

Ryan berhenti.

Wajahnya pucat.

“Aku…”

“Tidak usah.” Dia mengusap mata dengan punggung tangan. “Aku butuh jalan sebentar.”

Dia berjalan.

Aku tetap berdiri beberapa detik.

Ada banyak cara kehilangan seseorang.

Mungkin keluargaku kehilangan aku setiap malam.

Dan setiap pagi, mereka harus berpura-pura senang mendapatkanku kembali.

Aku mengejar Ryan.

Kami tidak bicara selama hampir satu jam.

Jejak ketiga ditemukan di reruntuhan pos pengamatan lama. Sebagian atapnya ambruk. Lumut menutupi bangku. Di salah satu tiang ada ukiran anak panah dan dua garis.

Aku naik ke loteng sempit tanpa disuruh.

Di bawah papan lantai, sebuah amplop menunggu.

3/5.

Tanggalnya enam tahun setelah kecelakaan.

Aku tidak langsung membuka.

“Aku akan jadi orang yang menyebalkan lagi?”

Ryan duduk di ambang pintu. “Kau selalu menyebalkan.”

Aku tersenyum sedikit.

Lalu membaca.

Hari ini buruk.

Aku mencoba tinggal sendiri lagi minggu ini. Tiga hari pertama berhasil. Hari keempat aku bangun, membaca catatan di pintu kulkas, lalu merasa seperti sedang menumpang di rumah orang asing yang kebetulan punya wajahku.

Aku membaca diari lama dan menemukan daftar rencana yang pernah kubuat: kuliah kehutanan, keliling Indonesia, bikin game, menikah sebelum tiga puluh, punya rumah dengan halaman belakang cukup besar untuk api unggun.

Aku bahkan pernah menulis daftar nama anak. Sangat memalukan. Tapi yang paling menyebalkan bukan itu. Yang paling menyebalkan adalah menyadari bahwa semua rencana itu masih terasa milik seseorang yang kukenal, bukan milikku.

Sekarang aku dua puluh tahun. Aku bisa bekerja, mengikat simpul lebih cepat daripada Pak Rendy, menghafal jalur lewat tubuh, dan tetap perlu catatan di kamar mandi supaya beberapa pagi tidak panik melihat wajah sendiri.

Pak Rendy membayarku untuk membantu merawat jalur pendakian. Katanya aku bagus dengan tangan dan punya insting arah yang aneh. Aku mulai percaya mungkin hidupku tidak harus terlihat normal untuk tetap menjadi hidup yang sungguhan.

Tadi pagi aku menulis “MADESU” besar-besar di halaman sebelumnya. Masa Depan Suram. Kedengarannya seperti tulisan anak SMP. Sore ini aku malu membacanya. Mungkin kemajuan kadang cuma berarti sempat membenci hidup pada pagi hari dan tetap pergi bekerja pada siang hari.

Aku masih sering merasa jadi beban. Tetapi hari ini, untuk beberapa jam, aku juga merasa berguna.

Raina marah ketika kubilang hidupku tidak praktis bagi siapa pun. Dia bilang harga hidup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mudah hidup itu diatur oleh orang lain.

Aku masih kesal mendengarnya. Tapi mungkin aku mulai ingin percaya.

Malam ini aku masih takut menutup mata. Bedanya, untuk pertama kalinya ketakutan itu tidak terasa seperti alasan untuk berhenti membangun hari berikutnya.

Aku menutup kertas.

Ada rasa malu yang aneh, seperti baru membaca rahasia orang lain lalu menemukan namaku sendiri di bawahnya.

“Dia benar-benar seburuk itu?” tanyaku.

Ryan tidak membetulkan kata ganti itu.

“Ada tahun-tahun yang sangat berat.”

“Dia pernah…”

Aku tidak menyelesaikan kalimat.

Ryan tahu maksudku.

“Pernah bilang ingin mati. Pernah juga pergi tanpa kabar satu malam. Itu sebabnya waktu kau hilang seminggu sekarang…” Dia menelan ludah. “Kami takut.”

Aku memandangi tulisan tanganku.

Aku tidak merasa ingin mati.

Aku merasa lapar, bingung, takut, penasaran, dan mungkin sedikit jatuh cinta pada perempuan yang bahkan belum kutemui hari ini.

Tetapi laki-laki yang menulis halaman ini adalah aku.

Atau pernah menjadi aku.

“Apa dia membaik?”

Ryan mengangguk. “Pelan-pelan.”

“Bagaimana?”

“Kau berhenti mencoba hidup seperti orang yang tidak punya kondisi ini.”

Aku menunggu.

“Kau bikin rutinitas. Kerja yang cocok. Orang-orang di komunitas tahu. Kau belajar survival. Menulis lebih sedikit, tapi lebih berguna. Kau bahkan mulai bercanda kalau tiap pagi dapat New Game Plus.”

Aku tertawa kecil.

“Itu lumayan bagus.”

“Kau bilang itu seratus kali.”

“Berarti memang bagus.”

Ryan berdiri.

Matahari sudah miring.

“Dua lagi.”

Aku memasukkan tiga fragmen ke kantong kedap air.

Entah kenapa, sekarang benda-benda itu terasa jauh lebih berat daripada kertas.


BAB 7 — Tahun Baru

Jejak keempat berada di tempat yang seharusnya tidak ada di hutan.

Sebuah ayunan.

Hanya satu kursi kayu tergantung dari pohon tua di tepi tebing landai. Talinya baru dibanding batang pohon, tetapi kursinya kusam oleh hujan.

Aku berhenti cukup jauh.

“Aku bikin ini?”

“Gale yang pasang,” kata Ryan. “Kau yang minta.”

“Kenapa?”

“Baca.”

Di balik kursi ayunan ada kotak logam kecil.

4/5.

Tanggal: 1 Januari, tujuh tahun setelah kecelakaan.

Tulisan dimulai dengan satu kalimat yang digarisbawahi tiga kali.

Hari ini aku sangat bahagia.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Semalam kami merayakan tahun baru di bukit ini. Ibu, Ryan, Gale, Raina, Tante Lusy, beberapa teman komunitas. Mereka menyalakan lampu kecil di pohon dan membawa makanan terlalu banyak.

Aku tahu aku akan kehilangan sebagian besar malam ini setelah tidur. Aku sudah terbiasa dengan pikiran itu. Biasanya aku merekam hal-hal penting supaya bisa kutonton lagi.

Tapi ada perasaan yang tidak bisa direkam.

Jadi aku menulis sekarang, sebelum tidur.

Aku mencintai Raina.

Bukan hanya karena anak empat belas tahun di dalam kepalaku menyukainya. Aku mencintai perempuan yang kukenal lewat catatan, rekaman, kebiasaan, dan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali dia masuk ruangan.

Malam ini aku bilang padanya.

Aku bilang ini mungkin tidak adil. Besok pagi aku mungkin melihat wajahnya dan merasa baru pertama kali menyatakan cinta. Aku mungkin lupa pertengkaran. Aku mungkin lupa momen-momen kecil yang membuat hubungan menjadi nyata.

Raina bilang, “Kalau begitu aku akan mengenalkan diriku lagi.”

Aku menangis. Dia juga.

Kami berciuman di bawah lampu murahan yang dipasang Gale sambil mengeluh kabelnya kusut.

Aku bahagia.

Kalau besok aku membaca ini dan tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama, tolong jangan anggap tulisan ini bohong.

Kamu pernah bahagia.

Kamu pernah sangat bahagia.

Aku berhenti membaca.

Dunia terasa terlalu sunyi.

Di bawah halaman ada foto kecil yang ditempel selotip.

Raina dan aku duduk di ayunan ini.

Versi dewasaku menatap kamera sambil tertawa. Raina memeluk lengannya. Ada lampu-lampu kecil di belakang kami.

Wajahnya bukan lagi wajah gadis empat belas tahun yang kuingat.

Tetapi aku mengenali senyumnya.

Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku.

Dada sesak.

Mata panas.

Aku menyentuh foto itu.

“Aku pacaran sama Raina?”

Ryan diam.

“Kak.”

“Ya.”

“Berapa lama?”

“Hampir setahun.”

Aku tertawa kecil. “Kenapa cuma setahun?”

Ryan tidak menjawab.

Senyumku hilang.

“Apa kami putus?”

“Jay…”

“Dia yang mutusin?”

“Kalian berdua.”

“Kenapa?”

“Yang benar-benar terjadi antara kalian, tanya Raina. Tapi baca fragmen terakhir dulu. Kau sendiri yang menyusun urutannya.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kepala pusing.

“Aku benci hidup yang jawabannya selalu satu halaman lagi.”

“Aku juga.”

“Berhenti bilang—”

Aku berhenti sendiri.

Ryan hampir tersenyum.

Aku duduk lagi.

“Apa Raina masih…”

Aku tidak sanggup menyelesaikan.

“Dia akan menikah tiga hari lagi,” kata Ryan.

Kalimat itu keluar begitu sederhana.

Tetapi rasanya seperti sesuatu dijatuhkan tepat ke tengah dadaku.

“Dengan siapa?”

Ryan melihatku.

Aku sudah tahu sebelum dia menjawab.

“Gale.”

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena otakku menolak menerima pilihan lain.

“Gale?”

“Ya.”

“Gale yang rambutnya kayak sapu ijuk?”

“Rambutnya sudah membaik.”

“Gale yang kalau main bola jadi kiper karena larinya lambat?”

“Sekarang masih lambat.”

“Gale yang tiap kita role-play selalu jadi penjahat karena dia paling suka teriak ‘kuasai dunia’?”

Ryan tidak menjawab.

Aku bangkit.

“Di mana halaman kelima?”

“Jay, tenang.”

“Di mana?”

Ryan menghela napas.

“Dekat tempat kau ditemukan pagi tadi.”

Aku mulai berjalan.

“Jay.”

Aku mempercepat langkah.

“JAY!”

Aku berbalik.

“Apa?”

“Tante Lusy bilang apa sebelum kau pulang?”

Aku mengerutkan dahi.

Jangan percaya perasaan pertama.

Aku mengepalkan tangan.

“Perasaanku sekarang sangat jelas.”

“Itulah yang kutakutkan.”

Aku berjalan lagi.

Gale.

Sahabatku.

Menikahi Raina.

Di dalam kepalaku, sebuah cerita lama mulai menyusun dirinya sendiri.

Pangeran.

Tuan putri.

Dan penjahat yang sejak kecil memang selalu kebagian peran antagonis.


BAB 8 — Sang Antagonis

Fragmen kelima tersembunyi di dekat pohon tempat aku bangun.

Anehnya aku tidak menemukannya pagi tadi.

Ryan menunjuk sebuah lubang kecil di bawah akar. “Itu?”

Aku merogoh dan mengeluarkan tabung hitam.

5/5.

Tanganku tidak mau membukanya.

Sejak membaca halaman keempat, seluruh hari berubah bentuk.

Pagi tadi aku mengira sedang menjalani petualangan aneh menuju seorang tuan putri. Siang tadi aku mengetahui bahwa hidupku sendiri sudah berjalan sepuluh tahun tanpa izin. Sekarang, menjelang sore, aku memegang jawaban yang mungkin menjelaskan kenapa aku hilang.

Aku membuka tabung.

Tanggalnya 29 Agustus. Kurang dari dua bulan lalu.

Tulisan di bagian atas begitu menekan sampai ujung pena menembus kertas.

GALE AKAN MENIKAH DENGAN RAINA.

Aku menatap Ryan.

“Bagus,” gumamnya. “Ini halaman itu.”

Aku membaca cepat.

Aku tidak percaya.

Tiga minggu lalu aku membaca ringkasan hubungan Raina dan Gale. Katanya mereka sudah bersama hampir dua tahun. Katanya aku tahu. Katanya bahkan aku yang pertama kali mendorong Gale supaya jujur pada Raina.

Aku tidak percaya satu kata pun.

Bagaimana mungkin aku melakukan itu?

Aku dan Raina saling mencintai. Aku punya buktinya. Ada foto. Ada video. Ada ratusan halaman.

Gale tahu semua itu.

Dia sahabatku.

Tapi sekarang mereka akan menikah.

Hari ini aku pergi menemui Raina dan membuatnya menangis. Katanya kami sudah membicarakan ini berkali-kali. Katanya versi diriku kemarin bisa menerima, tapi versi diriku hari ini tidak. Aku benci mendengarnya menyebutku seperti ada banyak Jay.

Aku cuma satu orang.

Aku masih di sini.

Aku pangerannya.

Gale selalu antagonisnya.

Kalau ada bagian diriku yang setuju menyerahkan Raina kepada Gale, bagian itu pengecut.

Aku akan menghentikan pernikahan mereka sebelum 10 Oktober.

Aku akan membuat diriku sendiri mengerti.

Tulisan berhenti.

Di bawahnya ada kalimat lain dengan tinta berbeda, lebih kecil, ditambahkan kemudian.

Kalau kamu membaca ini dari potongan-potongan yang kusebar, berarti rencanaku berhasil sejauh ini.

Jangan langsung menemui Gale.

Cari buku hitam.

Aku membalik kertas.

Kosong.

“Buku hitam apa?”

Ryan menatap halaman itu seperti baru pertama kali melihat bagian terakhir.

“Tidak ada di rumah.”

“Diari kelima?”

“Kami cuma tahu empat buku hilang.”

“Mungkin ada yang tidak kalian tahu.”

Ryan mengambil telepon. Jemarinya bergerak cepat.

“Siapa yang kau kirimi pesan?”

“Ibu. Dan orang Arunika.”

Nama dari kartu kecil di map biru.

“Mereka siapa?”

“Tim rehabilitasi neurokognitif. Kau pernah ikut program rawat jalan di sana.”

“Mereka datang ke sini?”

Ryan tidak mengelak. “Aku minta mereka siaga di dermaga sejak pagi. Setelah seminggu kau hilang, aku tidak mau cuma mengandalkan keberuntungan.”

“Kau sudah merencanakan ini.”

“Aku merencanakan cara membawamu pulang dengan aman. Apa pun setelah itu kita bicarakan.”

Aku tidak suka jawabannya. Justru karena untuk pertama kalinya hari itu, jawabannya terdengar jujur.

“Sudah sore. Kita pulang.”

“Aku belum menemukan buku hitam.”

“Besok bisa dicari.”

Aku tertawa pendek. “Besok?”

Ryan memejamkan mata seolah baru sadar betapa bodohnya kalimat itu.

“Tidak ada besok buatku, Kak.”

“Jangan dramatis.”

“Bagimu gampang bilang begitu! Besok pagi kau bangun dan hari ini masih milikmu. Aku bangun dan kau harus cerita lagi siapa diriku.”

“Aku tahu.”

“Nah, sekarang aku boleh bilang berhenti bilang kau tahu.”

Ryan memandang ke arah sungai.

Mesin perahu terdengar dari kejauhan.

“Bagus,” katanya. “Jemputan datang.”

Aku menoleh.

Perahu yang mendekat bukan perahu kecil seperti tadi. Lebih besar, dengan empat orang di dalamnya.

Satu pengemudi.

Tiga laki-laki mengenakan jaket abu-abu seragam.

Aku menatap Ryan.

“Tim Arunika?”

Ryan mengangguk. “Mereka datang untuk evaluasi. Bukan untuk menyeretmu.”

“Tiga orang untuk evaluasi?”

“Terakhir kali satu petugas mencoba menjemputmu sendirian, kau kabur lewat jendela ruang konsultasi.”

Aku terdiam.

“Versi dewasaku benar-benar merepotkan.”

“Akhirnya kita sepakat soal sesuatu.”

“Jay—”

Salah satu laki-laki turun lebih dulu. Dia tersenyum profesional.

“Mas Jay?”

Aku mundur satu langkah.

Dia mengangkat kedua telapak tangan. “Tenang. Kami dari Arunika.”

Nama itu sekarang punya tempat samar di kepalaku: kartu kecil dalam map biru, nomor yang tadi kulewati begitu saja.

Ryan berdiri di antara kami.

“Kak.”

“Dengar dulu.”

“Arunika itu apa?”

“Pusat rehabilitasi neurokognitif.”

Aku menatap wajahnya.

“Kalian mau bawa aku ke sana?”

“Bukan malam ini kalau kau tidak setuju, kecuali dokter menilai kau dalam bahaya langsung.”

“Tapi kalian sudah membicarakan ini tanpa aku.”

“Kami sudah membicarakannya denganmu. Berkali-kali.”

“Kapan?”

“Pada hari-hari yang sekarang tidak bisa kau akses.”

“Bagiku itu sama saja dengan tidak pernah!”

Ryan menegang. “Dan bagiku itu tetap percakapan dengan adikku.”

Dia menarik napas panjang.

“Kau menghilang seminggu, Jay. Ibu tidak tidur. Polisi, relawan, orang kampung, semuanya cari. Ini bukan pertama kalinya kau pergi, tapi ini yang paling lama. Kau meninggalkan obat. Kau mematikan pelacak. Kau sengaja membuat kami tidak bisa menemukanmu.”

“Karena ada sesuatu yang harus kulakukan.”

“Kau bahkan tidak tahu apa!”

“Aku akan tahu kalau kalian berhenti menghalangiku.”

Ryan tertawa pendek, tanpa humor.

“Besok kau mungkin lupa semua ini. Lusa kau bisa membaca halaman marah yang sama dan pergi lagi. Minggu depan mungkin keberuntunganmu habis. Dan kami apa? Mulai dari nol?”

Aku memandang tiga petugas itu.

“Jadi rencananya apa?”

“Evaluasi intensif dulu. Rutinitas yang lebih terkontrol. Terapi. Sistem catatanmu ditinjau bersama kamu, bukan dibuang. Kalau ada bagian yang terus memicu spiral, kita cari cara lain menyimpannya.”

“Raina.”

“Bukan soal Raina. Luka yang belum selesai.”

“Diari.”

“Bukan hidupmu. Cara kita memaksamu menelan sepuluh tahun sekaligus setiap pagi.”

Aku mengepalkan tangan. “Tetap saja kalian mau mengatur siapa diriku.”

“Aku mau kau hidup cukup lama untuk memilihnya sendiri.”

“Kalau semua yang kuingat dipilihkan orang lain, lalu aku siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Laki-laki dari Arunika melangkah pelan. “Mas Jay, kita bisa bicara di tempat yang lebih aman.”

Aku mundur.

Di belakangku hutan.

Di depanku Ryan.

Wajahnya bukan wajah penjahat. Itu justru membuat semuanya lebih buruk.

Dia terlihat seperti kakakku.

Seorang kakak yang sangat lelah.

“Maaf,” katanya.

Aku percaya dia benar-benar menyesal.

Lalu tubuhku bergerak.

Bukan melawan.

Kabur.

Aku melempar ransel ke salah satu sisi, membuat dua orang refleks menoleh, lalu menerobos celah di antara pohon. Seseorang berteriak. Ryan memanggil namaku.

Aku berlari menanjak.

Kakiku tahu jalur.

Mereka tidak.

Aku melompati akar, memotong tikungan, meluncur di tanah basah sambil berpegangan pada batang. Di belakang terdengar langkah semakin jauh.

“JAY!”

Suara Ryan.

Aku tidak berhenti.

“JANGAN KE RAINA!”

Itulah hal terakhir yang seharusnya dia teriakkan.

Karena sekarang aku tahu persis ke mana harus pergi.


BAB 9 — Tuan Putri yang Tidak Perlu Diselamatkan

Aku sampai di rumah Raina menjelang magrib.

Kali ini aku tidak menghindari gerbang.

Dua penjaga yang tadi mengejarku berdiri ketika melihatku. Salah satunya meraih radio.

“Mas Jay—”

“Aku cuma mau bicara sama Raina.”

“Mas, sebentar—”

“Aku tidak akan bikin masalah.”

Mereka saling pandang.

Mungkin wajahku terlihat cukup kacau untuk membuat janji itu tidak meyakinkan. Bajuku penuh lumpur, siku lecet, napas masih berat karena berlari.

Pintu rumah terbuka.

Tante Lusy muncul.

Dia melihatku, kemudian melihat ke belakang seolah mengharapkan Ryan muncul menyusul.

“Di mana kakakmu?”

“Aku kabur.”

Tante Lusy menutup mata.

“Tentu saja.”

“Bi, aku harus ketemu Raina.”

Dia menatapku lama.

“Kamu sudah baca semuanya?”

“Belum. Ada buku hitam.”

Wajahnya berubah nyaris tak terlihat.

“Kamu tahu?” tanyaku.

“Aku pernah lihat buku itu.”

“Di mana?”

“Jay.”

“Semua orang hari ini memanggil namaku sebelum mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar.”

Tante Lusy hampir tersenyum.

“Raina ada di atas.”

Aku membeku.

“Dia pulang?”

“Sejak siang.”

“Kenapa tadi bilang tidak ada?”

“Karena tadi pagi kamu belum tahu apa-apa.”

“Sekarang aku sudah tahu banyak.”

“Belum tentu cukup.”

Aku menghela napas. “Aku cuma ingin bicara.”

Tante Lusy menepi.

Aku masuk.

Rumah itu menyimpan banyak hal yang kuingat dalam bentuk yang berubah. Meja makan sama tetapi kursinya berbeda. Lukisan bunga di dinding masih ada, kini bingkainya baru. Tangga kayu masih berbunyi di anak tangga keenam.

Tubuhku tahu itu sebelum kakiku menginjaknya.

Di lantai dua, pintu kamar Raina terbuka sedikit.

Aku mengetuk.

Tidak ada jawaban.

“Raina?”

Suara dari dalam menjawab pelan. “Masuk.”

Aku mendorong pintu.

Dia berdiri di depan jendela.

Tidak memakai gaun. Tidak ada musik dramatis. Tidak ada mahkota.

Hanya perempuan dua puluh empat tahun dengan kaus abu-abu, celana panjang hitam, dan rambut diikat seadanya. Di meja ada beberapa kotak undangan, pita, dan sebuah kebaya yang masih dibungkus plastik.

Dia menoleh.

Aku lupa semua kalimat yang sudah kususun sepanjang jalan.

Raina yang kuingat memiliki pipi bulat dan dua gigi depan sedikit terlalu besar. Perempuan di depanku tetap punya mata yang sama, tetapi wajahnya menyimpan sepuluh tahun yang tidak kumiliki.

“Jay.”

Suaranya pecah di namaku.

Aku ingin berlari memeluknya.

Tubuhku hampir melakukannya.

Lalu aku melihat cincin di jarinya.

Aku berhenti.

“Kau benar-benar mau menikah.”

Dia menunduk melihat cincin itu. “Ya.”

“Dengan Gale.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar seperti tuduhan.

Raina mengangkat kepala.

“Karena aku mencintainya.”

Aku tertawa pendek. “Begitu saja?”

“Tidak. Sama sekali tidak begitu saja.”

“Tapi kita—”

“Aku tahu.”

“Kita pacaran.”

“Aku tahu.”

“Aku baca diari. Tahun lalu kita—”

“Jay, itu hampir empat tahun lalu.”

“Buatku tadi sore!”

Suara kami sama-sama meninggi.

Raina memejamkan mata.

Aku langsung menyesal, tetapi marah lebih mudah daripada mengaku takut.

“Kau bilang akan mengenalkan dirimu lagi setiap pagi.”

Dia membuka mata.

“Kamu sudah baca halaman itu.”

“Ya.”

“Dan bagian setelahnya?”

“Belum ada.”

Dia mengangguk pelan seolah itu menjelaskan semuanya.

“Apa?” kataku. “Apa yang terjadi setelahnya?”

“Kami mencoba.”

“Berarti kita bisa coba lagi.”

“Tidak.”

Jawabannya datang terlalu cepat.

Aku merasa seperti ditampar.

Raina menarik napas, lalu duduk di tepi tempat tidur.

“Aku minta maaf. Bukan begitu caraku ingin mengatakan ini.”

“Kenapa tidak?”

Dia menatap lantai.

“Karena pada awalnya kalimat itu terdengar romantis. ‘Aku akan mengenalkan diriku lagi.’ Aku sungguh-sungguh waktu mengatakannya. Aku pikir cinta berarti cukup sabar mengulang semuanya.”

Aku berdiri diam.

“Beberapa pagi indah,” lanjutnya. “Kamu baca catatan kita, lihat video, lalu tersenyum dan bilang kamu percaya pada dirimu yang kemarin. Kadang kita sarapan, jalan-jalan, tertawa. Kadang rasanya kita bisa melakukan itu selamanya.”

Dia mengusap cincin dengan ibu jari.

“Tapi ada pagi ketika kamu bangun dan tidak percaya. Kamu pikir aku kasihan padamu. Ada pagi ketika kamu marah karena merasa hubungan itu dipaksakan oleh tulisan orang lain. Ada hari kamu jatuh cinta lagi. Ada hari kamu tidak. Ada hari kamu memperlakukanku seperti pacarmu sebelum aku sempat menjadi apa pun bagimu hari itu.”

Aku ingin membantah.

Tidak bisa.

“Suatu malam,” katanya, “kamu menulis sesuatu. Besoknya kita membacanya bersama.”

“Apa?”

Raina menatapku.

“Kamu bilang, ‘Cinta tidak boleh menjadi utang yang ditagih dari orang yang lupa meminjam.’”

Kalimat itu terasa terlalu dewasa untuk menjadi milikku.

Aku membenci diriku sendiri karena pernah menulisnya.

“Jadi kita putus.”

“Ya.”

“Dan kau langsung pilih Gale?”

Raina menggeleng. “Setahun lebih setelah kita berpisah.”

“Dia menunggumu?”

“Dia menemani kita semua. Seperti selalu.”

“Dia tahu aku masih mencintaimu.”

“Dia juga tahu aku masih mencintaimu.”

Aku menatapnya tajam.

Raina tidak menghindari tatapanku.

“Cinta tidak selalu berarti aku harus hidup bersamamu, Jay.”

Aku tertawa pahit. “Kalimat orang dewasa memang menyebalkan.”

“Ya.”

“Aku tidak tahu cara jadi orang dewasa.”

“Aku tahu.”

“Aku benci kalian bilang begitu.”

“Aku tahu itu juga.”

Anehnya kali ini aku tidak marah.

Aku berjalan ke meja dan menyentuh salah satu undangan. Nama mereka tercetak berdampingan.

RAINA EVELYN HART & GALE ADRIAN WEST.

Tiga hari lagi.

“Apakah kau bahagia?” tanyaku.

Raina diam cukup lama sampai aku takut mendengar jawabannya.

“Ya,” katanya akhirnya. “Dan lama sekali aku merasa bersalah karena bahagia.”

Dia menatap undangan di meja, bukan aku.

“Bukan karena kebahagiaan itu salah. Karena setiap kali aku membayangkan pernikahan ini, ada bagian diriku yang membayangkan kamu bangun pada suatu pagi, membaca namaku, lalu harus kehilangan sesuatu yang buatmu terasa baru. Aku sempat berpikir menunda semuanya akan lebih baik.”

“Kenapa tidak?” tanyaku.

“Karena aku akhirnya sadar rasa bersalah juga bisa menjadi cara lain untuk membiarkan kecelakaan itu menentukan hidup kita.”

Dia berdiri dan mendekat.

“Kecelakaan itu terjadi karena aku.”

Aku mengernyit.

“Apa?”

“Kamu benar-benar tidak tahu bagian itu?”

“Tidak ada di ringkasan.”

Raina menutup mulut sejenak, seperti seseorang yang baru menyadari telah membuka pintu yang seharusnya terkunci.

“Apa yang terjadi tanggal tiga puluh Mei?” tanyaku.

“Jay…”

“Ceritakan.”

Dia duduk kembali.

Lalu, pelan-pelan, memberi kembali satu hari yang hilang dari hidupku.

Kami bertiga—aku, Raina, Gale—pergi ke hutan sepulang sekolah. Bukan jauh. Hanya ke bukit kecil di pinggir kota, tempat anak-anak sering bermain.

Kami melanjutkan permainan pangeran dan putri yang kemarin kuingat.

Raina menantangku membuktikan bahwa seorang pangeran sungguhan berani menyeberangi jembatan kayu tua di atas aliran sungai berbatu.

Gale bilang jangan.

Aku bilang tentu saja berani.

Di tengah jembatan papan yang lapuk patah.

Raina terpeleset.

Aku menarik tangannya.

Dia selamat mencapai sisi batu.

Aku jatuh.

Kepalaku membentur batu di bawah.

Gale berlari mencari orang dewasa.

Raina bertahan di sampingku sampai bantuan datang, memegang tanganku dan terus mengulang, “Jangan tidur, Jay. Jangan tidur.”

Aku selamat setelah operasi dan berminggu-minggu di rumah sakit.

Ketika sadar penuh, aku tidak mengingat kecelakaan.

Hari terakhir di kepalaku berhenti beberapa jam sebelum kejadian itu.

Raina mengusap air mata.

“Aku tahu secara logika itu kecelakaan. Aku tahu aku masih anak-anak. Tapi selama bertahun-tahun aku berpikir kalau aku tidak menantangmu, hidupmu tidak akan seperti ini.”

“Jadi kau menemaniku karena rasa bersalah?”

Dia menatapku begitu tajam sampai aku langsung menyesal.

“Awalnya mungkin rasa bersalah membuatku tidak pergi,” katanya. “Tapi jangan hina sepuluh tahun hidupku dengan menganggap semuanya cuma itu.”

Aku menunduk.

“Maaf.”

“Aku mencintaimu. Betulan. Mungkin sebagian diriku akan selalu mencintaimu.”

Harapan bodoh langsung menyala.

Raina melihatnya.

“Tapi aku memilih Gale.”

Harapan itu padam.

“Kau datang untuk menyelamatkanku,” katanya. “Padahal aku tidak sedang disandera siapa-siapa.”

Aku hampir tersenyum.

“Gale masih antagonis menyebalkan.”

“Benar.”

“Rambutnya masih jelek?”

“Lebih baik sedikit.”

Kami tertawa.

Untuk sesaat hanya ada aku dan Raina seperti dulu.

Kemudian dia memelukku.

Tubuhku mengenali pelukan itu.

Bukan sebagai sesuatu yang baru.

Sebagai rumah yang pernah kutinggali lama sekali.

Aku memejamkan mata.

“Aku akan lupa ini,” bisikku.

“Mungkin.”

“Itu menyebalkan.”

“Ya.”

“Kalau besok aku datang dan marah lagi?”

Raina menatapku lama. Ada lelah di matanya, tetapi bukan penolakan.

“Aku akan bilang yang sebenarnya lagi.”

“Tapi aku juga harus jujur soal satu hal, Jay. Aku tidak bisa menjadi satu-satunya orang yang menjaga seluruh hidupmu tetap utuh. Aku pernah mencoba. Kita berdua hampir tenggelam karenanya.”

“Berapa kali kau masih mau melakukan itu?”

Raina menarik napas di bahuku.

“Selama aku sanggup. Dan kalau suatu hari aku tidak sanggup, itu bukan berarti hari-hari yang kita punya menjadi bohong.”

Aku melepaskan pelukannya.

“Aku tidak mau kau harus begitu.”

Ekspresinya berubah. Mungkin karena dia pernah mendengar kalimat itu dari Jay yang lain.

“Buku hitam,” kataku. “Kau tahu di mana?”

Raina mengangguk.

“Gale punya.”

Tentu saja.

Sang antagonis memegang item terakhir.

Beberapa cerita memang tidak tahu cara menjadi hal lain.


BAB 10 — Rumah Sang Penjahat

Aku meminjam sepeda tua milik Tante Lusy.

Raina melarangku pergi sendirian.

Aku pergi sendirian.

Dia berteriak dari gerbang bahwa itu membuktikan aku masih sama menyebalkannya.

Aku mengangkat tangan tanpa menoleh.

Langit sudah gelap ketika sampai di rumah Gale.

Aku ingat rumah itu sebagai bangunan satu lantai dengan halaman berantakan dan ring basket miring. Sekarang pagarnya tinggi, halaman tertata, dan ada lampu sensor yang menyala ketika aku mendekat.

Aku menekan bel.

Seorang laki-laki membuka pintu.

Aku tahu dia Gale sebelum otakku sempat membandingkan wajahnya dengan anak empat belas tahun yang kuingat.

Beberapa orang berubah banyak ketika dewasa. Gale tidak.

Dia hanya seperti versi lama yang diperbesar dan diberi sedikit janggut.

Rambutnya memang lebih baik.

Sayang sekali.

“Jay.”

Dia berdiri membeku.

Aku menurunkan sepeda.

“Katanya kau punya buku hitamku.”

Gale menatap wajahku, bajuku, lumpur di celana, lalu menghela napas panjang.

“Masuk dulu.”

“Tidak.”

“Jay.”

“Semua orang—”

“—memanggil namamu sebelum mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar. Aku tahu. Kau mengeluh soal itu sejak umur enam belas.”

Aku terdiam.

“Masuk.”

Aku masuk.

Ruang tamunya penuh kardus. Ada dekorasi pernikahan, bingkai foto, dan beberapa hadiah masih terbungkus.

Di atas lemari ada foto bertiga.

Aku, Raina, Gale.

Kami dewasa. Aku berdiri di tengah sambil merangkul keduanya. Di tangan kami ada papan bertuliskan JALUR 7 SELESAI.

“Kapan?” tanyaku.

“Tiga tahun lalu.”

“Apa itu?”

“Kita bikin jalur edukasi hutan untuk komunitas. Kau yang desain penandanya.”

“Anak panah dan garis?”

Gale tersenyum. “Nah. Akhirnya kau mungkin mengerti.”

“Dua garis artinya apa?”

“Bukan apa-apa.”

Aku menatapnya curiga.

“Kali ini sungguh. Kau bilang simbol lebih mudah diingat tubuhmu kalau ada pola ritme. Satu gores, dua gores. Panah, jeda, cek.”

Aku merasakan gerakan itu di tangan.

Panah. Dua garis.

Tubuh yang mengingat.

“Buku hitam.”

Gale tidak berusaha mengalihkan lagi.

Dia pergi ke kamar dan kembali membawa buku catatan kecil dengan sampul hitam kusam.

Aku mengenalinya.

Bukan dengan kepala.

Dengan rasa takut.

Tanganku tidak mau menerimanya.

Gale meletakkannya di meja.

“Kau meninggalkan ini di kamarmu tanggal sembilan September,” katanya. “Aku menemukannya setelah kau hilang.”

“Aku hilang tanggal tiga puluh September.”

“Ya.”

“Tiga minggu setelah nulis buku ini?”

“Kurang lebih.”

“Apa kau sudah baca?”

“Halaman yang kau tandai untukku.”

“Isinya?”

“Lebih baik kau baca sendiri.”

Aku duduk.

Sampulnya terasa dingin.

Halaman pertama berisi daftar tanggal dan instruksi singkat.

Jika bangun tanpa konteks, jangan mulai dari halaman pertama. Cari tanggal terbaru.

Aku membalik ke belakang.

9 September.

Tulisan tangan yang sama seperti fragmen-fragmen tadi, tetapi lebih tenang.

Aku membaca.

Hari ini aku cukup jernih untuk menulis sesuatu yang kemungkinan akan kubenci besok.

Aku mencintai Raina.

Kalimat itu tidak berubah hanya karena hubungan kami berakhir.

Aku juga mencintai Gale seperti saudara.

Kalimat itu lebih sulit kutulis hari ini karena pagi tadi aku membaca halaman 29 Agustus dan menghabiskan dua jam membenci dia.

Aku membaca ulang catatan lain. Menonton rekaman. Bicara dengan Raina. Bicara dengan Gale.

Dan aku malu.

Bukan karena cemburu. Aku berhak merasa cemburu. Bukan karena sedih. Aku berhak sedih.

Aku malu karena menganggap cintaku memberi hak untuk menentukan masa depan Raina.

Aku memandang Gale.

Dia duduk di kursi seberang, siku di lutut, kedua tangan saling menggenggam.

Aku kembali membaca.

Raina bukan hadiah yang menunggu pangeran menyelesaikan quest. Harusnya aku tidak perlu menulis kalimat sebodoh itu, tetapi rupanya ada pagi ketika aku perlu membacanya.

Gale bukan penjahat hanya karena hidupnya sampai lebih dulu ke tempat yang pernah ingin kutempati.

Dan aku bukan anak empat belas tahun, meskipun kadang setiap pagi terasa seperti itu.

Aku sudah dua puluh empat.

Aku pernah memilih banyak hal yang tidak kuingat memilihnya.

Itu tidak membuat pilihan-pilihan itu tidak nyata.

Hari ini aku mengatakan kepada Gale bahwa kalau dia mundur dari pernikahan karena aku, aku tidak akan memaafkannya.

Dia menangis. Sangat memalukan. Jangan biarkan dia menyangkal.

Aku berhenti dan menatap Gale.

“Aku tidak menangis,” katanya cepat.

“Kau bahkan belum tahu bagian mana yang kubaca.”

“Sial.”

Aku hampir tertawa.

Kemudian sampai pada paragraf berikutnya.

Masalahnya adalah aku tahu tulisan ini tidak cukup.

Ada pagi ketika aku membacanya dan percaya. Ada pagi ketika kata-kata ini terasa seperti surat dari orang asing yang mencuri namaku.

Aku mulai membenci diari.

Selama sepuluh tahun diari menyelamatkan hidupku. Tapi diari juga bisa menjadi penjara. Aku bangun, membaca siapa diriku kemarin, lalu merasa wajib menjadi orang itu lagi.

Bagaimana kalau aku ingin memilih sendiri hari ini?

Bagaimana kalau Jay yang bangun besok tidak setuju denganku?

Apakah dia lebih tidak nyata daripada aku?

Aku menelan ludah.

Ini bukan tulisan orang putus asa.

Ini tulisan seseorang yang sudah terlalu lama berdebat dengan dirinya sendiri.

Aku lanjut membaca.

Karena itu aku membuat percobaan.

Bukan percobaan medis. Jangan panik.

Aku akan menyembunyikan buku utama, membawa perlengkapan secukupnya, lalu pergi ke hutan pada akhir September. Aku akan mematikan pelacak, karena kalau tidak Ryan akan menemukan aku dalam dua jam dan mengomel empat jam.

Aku akan menyebarkan lima fragmen dari beberapa tahun hidupku di sepanjang jalur yang tubuhku hafal.

Kalau semuanya berjalan seperti rencana, suatu pagi aku akan bangun di hutan tanpa ringkasan.

Aku akan menjadi Jay yang paling dekat dengan 30 Mei sepuluh tahun lalu.

Dia akan menemukan petunjuk. Dia akan salah paham. Tentu saja dia akan salah paham; dia aku.

Tapi untuk sekali ini, aku ingin dia menjalani hari ini bukan karena diberi tahu siapa dirinya sejak menit pertama.

Aku ingin tahu, setelah melihat jejak hidup kita sendiri, apakah dia sampai pada kesimpulan yang sama.

Aku berhenti bernapas.

Hari ini.

Hutan.

Sobekan-sobekan.

Semuanya direncanakan.

Olehku.

“Orang gila,” bisikku.

Gale mengangguk. “Aku juga bilang begitu.”

“Kenapa kau biarkan?”

“Aku tidak tahu rencana lengkapnya. Kau cuma bilang butuh beberapa hari sendiri. Kami baru tahu setelah kau benar-benar hilang.”

Aku melanjutkan.

Kalau kamu yang membaca ini adalah Jay dari pagi setelah percobaan itu, halo.

Maaf karena membuatmu lapar.

Semoga kau tidak melakukan sesuatu bodoh seperti melompat dari perahu Pak Rowan kalau bertemu dia.

Aku menutup buku keras-keras.

Gale mengangkat alis.

“Dia tahu aku banget.”

“Itu memang kau.”

“Diam.”

Aku membuka lagi.

Ada beberapa baris tersisa.

Aku tidak sedang mencoba mati.

Ini penting. Kalau pikiranmu menuju ke sana, pulanglah. Cari Ibu. Cari Ryan. Cari Raina. Cari Gale. Mereka menyebalkan tetapi aman.

Aku cuma ingin satu hari yang tidak dimulai dengan instruksi.

Satu hari ketika aku boleh menemukan hidupku sendiri.

Kalau setelah semuanya kamu masih ingin menghentikan pernikahan Raina dan Gale, datanglah padaku—yang sayangnya tidak mungkin karena aku adalah kamu—dan kita bisa berdebat.

Kalau kamu ingin membiarkan mereka bahagia, itu juga pilihanmu.

Jangan lakukan hanya karena aku menulisnya.

Aku ingin kamu memilih.

Di bagian paling bawah ada satu kalimat.

Besok bukan milik kita. Tapi hari ini masih milikmu.

Aku menutup buku.

Lama sekali tidak ada yang bicara.

Gale akhirnya bertanya, “Jadi?”

“Apa?”

“Kau mau menghajarku?”

Aku menatapnya.

“Aku mempertimbangkan.”

“Kalau bisa jangan di wajah. Tiga hari lagi aku nikah.”

Aku tertawa.

Tawa itu berubah menjadi sesuatu yang hampir seperti tangis.

Aku menunduk, menekan kedua telapak ke mata.

“Aku benci ini, Gal.”

Kursi bergerak.

Gale duduk di sebelahku.

“Aku tahu.”

“Jangan bilang kau tahu.”

“Oke.”

“Aku benci dia.”

“Siapa?”

“Aku yang nulis ini.”

“Wajar.”

“Dia sok dewasa.”

“Banget.”

“Dia ngatur semuanya.”

“Benar.”

“Tapi dia benar.”

Gale tidak menjawab.

Itulah sebabnya dia masih sahabatku.

Dia tahu kapan harus diam.


BAB 11 — Sepuluh Tahun dalam Satu Malam

Gale membuat mi instan.

Aku bilang keputusan penting seharusnya ditemani makanan yang lebih pantas.

Dia bilang kulkasnya hampir kosong karena tiga hari lagi menikah dan setengah hidupnya sudah dipindahkan ke rumah baru.

Kami makan di lantai ruang tamu di antara kardus dekorasi.

Anehnya, itu bagian paling normal dari seluruh hari.

Gale menyeruput mi terlalu keras seperti dulu. Aku mengeluh. Dia sengaja lebih keras.

“Beberapa hal tidak berubah,” kataku.

“Syukurlah.”

Aku melihat jam.

21.17.

Waktu terasa seperti musuh yang baru kusadari mengikuti sejak pagi.

“Kalau aku tidur jam dua belas, langsung lupa?”

“Tidak seperti sakelar,” kata Gale. “Kadang kau tidur siang dan masih ingat cukup banyak. Kadang setelah tidur malam memori hari sebelumnya tersisa seperti potongan mimpi. Dokter bilang tidak ada batas jam ajaib.”

“Jadi mungkin besok aku ingat semua ini.”

“Mungkin.”

“Tapi kemungkinan besar tidak.”

Gale tidak menjawab.

Aku mengaduk kuah yang tinggal sedikit.

“Bagaimana rasanya berteman denganku?”

“Pertanyaan jebakan.”

“Aku serius.”

Gale bersandar ke sofa.

“Melelahkan.”

“Terima kasih.”

“Lucu. Kadang menyedihkan. Kadang membuatku ingin memukulmu. Kadang aku iri.”

Aku menoleh. “Iri?”

“Dulu.”

“Apa yang bisa diiri dari ini?”

“Kau bisa mengalami hal yang sama seperti pertama kali. Film favorit. Tempat bagus. Makanan. Dulu aku pikir keren.”

“Lalu?”

“Lalu aku lihat harga yang kau bayar.”

Aku mengangguk.

Gale mengambil satu kardus kecil dan mengeluarkan sebuah konsol game tua.

Aku langsung mengenalinya.

“Ini punyaku!”

“Punya kita. Kau selalu kalah, lalu nuduh stikku lebih bagus.”

“Memang stikmu lebih bagus.”

“Sepuluh tahun dan fitnahnya konsisten.”

Kami menyalakannya.

Permainan lama muncul di layar televisi modern yang terlalu besar untuk grafik kotak-kotak itu.

Tanganku mengambil kontroler.

Aku tidak ingat levelnya.

Jari-jariku tahu kombinasi tombol.

Aku menang telak.

“HA!” teriakku.

Gale menatap layar dengan jijik. “Ini curang. Memori ototmu dua puluh empat, mulutmu empat belas.”

Aku tertawa begitu keras sampai perut sakit.

Kemudian layar hasil pertandingan memantulkan bayangan kami.

Dua laki-laki dewasa.

Tawa berhenti sendiri.

“Gal.”

“Hm?”

“Apa kau merasa mengambil Raina dariku?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Dulu, ya.”

“Sekarang?”

“Tidak.”

“Cepat sekali.”

“Setelah kalian berpisah, aku butuh lebih dari setahun untuk berani mengajak dia makan berdua. Beberapa bulan setelah itu baru berani bilang aku suka. Setahun lebih lagi sebelum melamar. Tidak cepat buatku.”

Dia memutar kontroler di tangannya.

“Dan bahkan setelah dia bilang iya, ada malam-malam ketika aku berharap kau marah padaku. Kalau kau marah, semuanya jadi sederhana: aku pengkhianat, kau korban, selesai. Yang lebih susah adalah menerima bahwa tidak ada satu pun dari kita yang berniat menyakiti siapa-siapa.”

Aku menatap layar gelap di depan kami.

“Aku tetap ingin marah.”

“Boleh.”

“Sama kau.”

“Boleh juga. Asal jangan di wajah.”

Buatku semuanya terjadi hari ini.

Aku membaca cinta, patah hati, kecemburuan, penerimaan—sepuluh tahun emosi—dalam beberapa jam.

“Dia bahagia sama kau?”

Gale tersenyum kecil. “Tanyakan dia.”

“Sudah.”

“Dan?”

“Ya.”

“Kalau begitu kenapa tanya aku?”

Aku mengangkat bahu.

Mungkin aku memang masih mencari alasan untuk menjadikannya penjahat.

Cerita jauh lebih mudah kalau ada seseorang yang bisa disalahkan.

Kalau tidak, rasa sakit ini harus berdiri sendiri tanpa penjahat untuk menanggungnya.

Telepon Gale bergetar.

Nama Ryan muncul.

Gale melihatku.

“Angkat,” kataku.

Dia menjawab dan menyalakan pengeras suara.

“Ya?”

“Dia di sana?” suara Ryan langsung bertanya.

Aku mendekat. “Aku hidup.”

Hening.

Lalu napas panjang.

“Bocah bajingan.”

“Katanya aku dua puluh empat. Jangan panggil bocah.”

“Kau kabur dari tiga petugas terapi.”

“Mereka lambat.”

“Jay.”

“Maaf.”

Kata itu keluar sebelum aku sempat mempertimbangkan.

Ryan terdiam.

“Aku baca buku hitam,” lanjutku.

“Buku apa?”

“Panjang ceritanya.”

“Pulang.”

“Aku akan pulang.”

“Kapan?”

Aku melihat jam.

“Sebentar lagi.”

“Sekarang.”

“Kak.”

“Apa?”

“Maaf bikin kalian cari seminggu.”

Tidak ada suara beberapa detik.

Kemudian Ryan berkata lebih pelan, “Besok kalau lupa, aku akan marah lagi.”

“Ya.”

“Jadi hari ini jangan bikin aku menyesal memaafkanmu.”

Aku tersenyum. “Baik.”

Telepon ditutup.

Gale menatapku.

“Kau makin dewasa dalam dua belas jam.”

“Jangan hina aku.”

Aku berdiri dan mengambil buku hitam.

Di halaman kosong paling belakang, aku mulai menulis.

Gale tidak bertanya apa.

Aku menulis lama.

Bukan ringkasan hari ini. Bukan perintah untuk besok. Bukan daftar orang yang harus dipercaya.

Aku menulis surat.

Untuk seseorang yang mungkin akan bangun tanpa mengenalku.


BAB 12 — Surat untuk Besok

Halo.

Namamu Jay.

Kalau kalimat itu membuatmu kesal karena terdengar seperti orang lain sedang memberi tahu siapa dirimu, bagus. Aku juga kesal ketika membacanya pagi ini.

Aku tidak akan menceritakan semuanya.

Ada map biru di meja kamarmu kalau kau mau fakta. Ada orang-orang yang akan menjawab pertanyaan kalau kau mau cerita. Ada diari kalau kau mau mengenal orang yang pernah memakai tubuhmu sebelum hari ini.

Tapi kau tidak wajib membaca semuanya sekaligus.

Aku berhenti dan memikirkan kalimat berikutnya.

Gale membereskan mangkuk tanpa suara.

Aku melanjutkan.

Ada seorang perempuan bernama Raina.

Kau mencintainya.

Mungkin ketika membaca ini kau akan merasa kalimat itu benar. Mungkin tidak. Keduanya boleh.

Dia akan menikah dengan Gale.

Gale bukan penjahat.

Aku tahu ini mengecewakan.

Raina tidak perlu diselamatkan. Dia sudah memilih hidupnya.

Kau juga boleh memilih hidupmu.

Aku menggigit ujung pena.

Bagian tersulit bukan menerima bahwa Raina akan menikah.

Bagian tersulit adalah memikirkan aku yang besok sebagai orang lain.

Sepanjang hari semua orang mengatakan “kamu pernah”, “kamu sudah”, “kamu memilih”. Kata kamu terasa seperti jembatan yang dibangun orang lain di atas jurang yang tidak bisa kulihat.

Mungkin semua orang hidup dari potongan-potongan ingatan. Bedanya, milikku tercecer di map biru, video, bekas luka, dan kepala orang-orang yang mencintaiku.

Aku menulis lagi.

Hari ini aku marah pada diriku yang kemarin karena dia mencoba mengatur perjalanan ini.

Lalu aku sadar: dia sengaja meninggalkan ruang agar aku bisa tidak setuju.

Jadi aku akan melakukan hal yang sama untukmu.

Aku tidak akan bilang apa yang harus kau lakukan.

Aku cuma ingin kau tahu satu hal.

Hari ini layak dijalani.

Meskipun sakit.

Meskipun aku kehilangan banyak hal.

Meskipun malam ini aku tahu kemungkinan besar aku tidak akan bisa membawa semuanya ke pagi.

Hari ini tetap milikku.

Aku menutup pena.

Belum selesai.

Ada satu kalimat yang terus muncul sejak membaca buku hitam.

Aku menulisnya paling bawah, besar-besar.

KAMU TIDAK SEDANG MENCARI TUAN PUTRI.

Lalu di bawahnya:

KALAU HARUS MENYELAMATKAN SESEORANG HARI INI, COBA SELAMATKAN DIRIMU SENDIRI.

Aku menatap tulisan itu.

“Dramatis,” kata Gale dari belakang.

Aku hampir jatuh dari kursi. “Sejak kapan kau baca?”

“Cuma baris terakhir.”

“Privasi!”

“Rumahku.”

Aku melempar bantal sofa. Dia menghindar.

Jam menunjukkan 22.03.

Aku memasukkan surat ke amplop kecil yang kutemukan di laci, lalu menulis di depannya:

BACA INI DULU KALAU BANGUN DAN BINGUNG.

Aku memasukkannya ke saku jaket.

“Kenapa tidak taruh di map biru?” tanya Gale.

Aku terdiam.

Karena aku belum ingin pulang.

Bukan karena ingin menghilang.

Bukan karena ingin mati.

Aku hanya tahu kalau pulang sekarang, Ibu akan memelukku, Ryan akan mengomel, mereka akan menjagaku supaya tidak tertidur sendirian, dan besok pagi semuanya akan dimulai dengan penjelasan.

Ada satu tempat yang ingin kulihat lagi sebelum hari ini selesai.

“Aku mau ke hutan.”

Gale langsung menggeleng. “Tidak.”

“Sebentar.”

“Tidak.”

“Aku bawa pelacak.”

“Tidak.”

“Kau bisa ikut sampai sungai.”

“Tidak.”

“Aku akan telepon Ryan.”

Gale berhenti.

“Aku cuma mau ke ayunan,” kataku. “Tempat tahun baru itu.”

Wajahnya melunak sedikit.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku tidur dan lupa hari ini, setidaknya aku ingin tempat terakhir yang kulihat adalah tempat yang pernah membuatku sangat bahagia.”

Gale mengusap wajah.

“Kau pandai memanipulasi orang.”

“Skill pasif.”

Akhirnya kami pergi.

Ryan marah lewat telepon selama tujuh menit. Kemudian setuju dengan syarat Gale menungguku di jalur utama dan pelacak tetap aktif.

Ibu menelepon setelahnya.

Dia tidak marah.

Itu lebih buruk.

“Pulang, ya,” katanya.

“Aku pulang.”

“Janji?”

Aku melihat gelap hutan dari jendela mobil.

“Janji.”

Kami sampai di tepi jalur sekitar pukul sebelas.

Gale memberiku lampu kepala.

“Aku tunggu di sini.”

“Kalau aku belum balik satu jam?”

“Aku panggil semua orang dan kali ini kau benar-benar diikat ke kursi.”

“Adil.”

Aku masuk ke hutan.

Malam membuat jalur terasa berbeda, tetapi tubuhku tetap tahu.

Panah. Dua garis.

Panah. Dua garis.

Satu gores, dua gores. Panah, jeda, cek.

Aku berjalan sampai melihat ayunan.

Lampu-lampu kecil tentu tidak ada lagi.

Hanya bulan, pohon, dan kursi kayu yang bergerak pelan ditiup angin.

Aku duduk.

Dari sini kota terlihat sebagai lautan cahaya jauh di bawah.

Di suatu tempat di sana ada rumahku.

Ada Ibu yang menunggu.

Ada Ryan yang mungkin masih marah.

Ada Raina yang tiga hari lagi menikah.

Ada Gale yang sedang menunggu di mobil sambil mungkin menyesali semua pilihan pertemanannya.

Dan ada sepuluh tahun diriku tersebar di dalam kepala orang lain, di foto, video, diari, kebiasaan tangan, bekas luka, rasa sedih terhadap kucing yang tidak kuingat.

Aku tidak bisa membawa semua itu di kepalaku.

Mungkin aku memang tidak harus membawa semuanya sekaligus.

Aku mengeluarkan foto dari fragmen keempat.

Aku dan Raina di ayunan ini, hampir empat tahun lalu.

Kami tampak bahagia.

“Kamu pernah bahagia,” bisikku.

Pagi tadi aku mungkin akan menganggap kebahagiaan yang terlupakan sebagai kebahagiaan yang sia-sia.

Sekarang rasanya tidak sesederhana itu.

Sebuah lagu tidak menjadi buruk hanya karena selesai.

Barangkali satu hari juga tidak kehilangan artinya hanya karena tidak berhasil kubawa ke hari berikutnya.

Aku memasukkan foto kembali.

Kelopak mata terasa berat.

Aku langsung berdiri.

“Tidak. Jangan tidur di sini.”

Aku tertawa pada diri sendiri.

Lalu berjalan pulang.

Untuk pertama kalinya hari itu, kata pulang tidak terdengar seperti kekalahan.


BAB 13 — Petualangan Satu Hari

Aku hampir mencapai jalur utama ketika hujan turun.

Tidak deras. Hanya gerimis tipis yang membuat daun berkilau dalam cahaya lampu kepala.

Aku berhenti sebentar di bawah pohon besar.

Tempat itu terasa familiar.

Kemudian aku mengenalinya.

Di sinilah aku bangun pagi tadi.

Bekas kantong tidur masih terlihat di tanah. Beberapa ranting patah. Di akar pohon ada tempat sobekan pertama tersangkut.

Aku tertawa kecil.

“Checkpoint.”

Jam menunjukkan 23.41.

Sembilan belas menit menuju tengah malam, seolah tengah malam benar-benar punya kekuatan ajaib.

Aku tahu tidak begitu.

Tetapi simbol tetap penting bagi manusia.

Aku duduk sebentar.

Hujan berbisik di daun.

Aku mencoba mengulang semua yang terjadi hari ini supaya tidak hilang.

Bangun di hutan.

Tubuh dewasa.

Buah masam.

Sobekan kertas.

Pak Rowan.

Poster orang hilang yang kukira poster buronan.

Tante Lusy.

Ibu.

Map biru.

Ryan.

Lima fragmen.

Raina.

Gale.

Buku hitam.

Setiap kejadian terasa semakin jauh bahkan ketika aku masih mengingatnya.

Aku mengambil buku hitam dan membuka halaman terakhir.

Surat untuk besok ada di saku, bukan di sini.

Aku menambahkan satu baris.

23.47 — Aku memilih pulang.

Lalu menutup buku.

Sederhana sekali.

Sepuluh tahun hidup mengarah pada satu keputusan yang kelihatannya tidak heroik sama sekali.

Pulang.

Tidak menghentikan pernikahan.

Tidak menghilang.

Tidak membuktikan apa pun.

Hanya pulang.

Aku berdiri.

Kemudian dunia berputar.

Kakiku kehilangan keseimbangan. Aku meraih batang pohon dan melihat cahaya lampu seperti memanjang.

“Hebat,” gumamku. “Kurang tidur.”

Sejak kapan terakhir aku tidur?

Kalau aku memang menghabiskan seminggu di hutan dengan siklus yang tidak kuingat, mungkin tubuhku jauh lebih lelah daripada yang kusadari.

Aku mencoba berjalan.

Sepuluh langkah.

Lima.

Lututku menyerah.

Aku jatuh duduk di tanah basah.

Tidak apa-apa, pikirku. Istirahat satu menit.

Telepon.

Aku meraba saku.

Tidak ada.

Tentu saja. Aku tidak membawa telepon. Gale yang membawa pelacak terpisah di ransel.

Ransel.

Aku melepasnya, mencari alat pelacak, lalu menemukan lampu kecil hijau masih berkedip.

Mereka tahu aku di sini.

Bagus.

Aku menyandarkan kepala ke batang.

Jangan tidur.

Kalimat itu memicu sesuatu.

Raina empat belas tahun, berlutut di samping tubuhku yang berdarah, memegang tangan.

Jangan tidur, Jay.

Jangan tidur.

Apakah itu ingatan?

Atau hanya cerita yang baru kudengar beberapa jam lalu dan sekarang otakku membuat gambarnya?

Aku tidak tahu.

Mungkin tidak penting.

Aku membuka mata lebar-lebar.

“Gale pasti nyari,” kataku keras.

Hutan tidak menjawab.

Aku tertawa lemah.

Pagi tadi aku mengira ini dunia RPG.

Kalau benar, hari ini punya terlalu banyak cutscene dan boss terakhirnya ternyata hanya diriku sendiri.

Kelopak mata turun lagi.

Aku merogoh saku dan merasakan amplop.

Surat untuk besok.

Aku mengeluarkannya.

Mungkin kalau kusimpan di tangan, aku akan melihatnya begitu bangun.

Aku meletakkan amplop di bawah telapak kanan dan menggenggamnya.

“Cuma sebentar.”

Suara hujan makin jauh.

Hal terakhir yang kupikirkan bukan Raina.

Bukan Gale.

Bukan kecelakaan.

Aku memikirkan Ibu menunggu di rumah dan fakta bahwa aku sudah berjanji pulang.

Aku berharap mereka menemukanku sebelum pagi.

Lalu gelap.

•  •  •

Ada suara orang memanggil dari jauh.

Mungkin mimpi.

Ada tangan menyentuh bahu.

Ada cahaya.

Kemudian semuanya hilang.

•  •  •

Dingin.

Hal pertama yang kurasakan adalah dingin.

Aku membuka mata.

Daun-daun bergerak di atas kepalaku.

“Hwaahm…”

Aku berkedip.

Di mana ini?

Aku langsung bangun dan kepalaku hampir menabrak dahan.

“Hah?”

Suaraku berat.

Aku melihat tangan.

Tangan orang dewasa.

“Apa-apaan—”

Ada kertas di telapak kananku.

Sebuah amplop kusut oleh embun.

Tulisan besar di depannya:

BACA INI DULU KALAU BANGUN DAN BINGUNG.

Aku menatap tulisan itu.

Aneh.

Tulisan tanganku.

Aku membuka amplop.

Membaca baris pertama.

Halo.

Namamu Jay.

Aku mendengus.

“Tentu saja namaku Jay.”

Lalu membaca terus.

Di tengah surat aku berhenti.

Ada seorang perempuan bernama Raina.

Kau mencintainya.

Dia akan menikah dengan Gale.

Gale bukan penjahat.

“HAH?!”

Seekor burung terbang panik dari semak.

Aku membaca sampai akhir.

KAMU TIDAK SEDANG MENCARI TUAN PUTRI.

KALAU HARUS MENYELAMATKAN SESEORANG HARI INI, COBA SELAMATKAN DIRIMU SENDIRI.

Aku duduk lama sekali.

Tidak mengerti.

Tidak percaya.

Sedikit marah pada siapa pun yang menulis surat sok tahu ini, meskipun tulisan itu jelas milikku.

Dari kejauhan terdengar suara orang berteriak.

“JAY!”

Aku berdiri waspada.

Suara lain menyusul.

“JAY! KALAU KAU SUDAH BANGUN, JANGAN LARI!”

Seorang laki-laki muncul dari balik semak. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat karena kurang tidur.

Aku mengenalinya sekaligus tidak mengenalinya.

“Kak Ryan?”

Dia berhenti.

Lututnya seperti kehilangan tenaga.

“Ya,” katanya sambil tertawa dan menangis bersamaan. “Ya, bocah bodoh.”

Dia tidak langsung memelukku. Tidak bertanya apa yang kuingat. Tidak mencoba menjelaskan sepuluh tahun dalam satu napas.

Dia hanya mengulurkan tangan.

Di belakangnya muncul Gale.

Versi dewasa Gale.

Aku menatapnya.

Dia mengangkat kedua tangan.

“Baca suratnya dulu sebelum mukul aku.”

Aku melihat surat.

Melihat Gale.

Melihat Ryan.

Lalu, entah kenapa, aku tertawa.

Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin.

Aku tidak tahu berapa banyak hari yang sudah hilang.

Aku tidak tahu apakah setelah tidur nanti aku akan kehilangan hari ini juga.

Tetapi pagi ini ada satu perbedaan.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus mencari siapa pun untuk membuat hidupku masuk akal.

Aku melipat surat dan memasukkannya ke saku.

Lalu kuraih tangan kakakku.

“Pulang yuk,” kataku.

Ryan menutup wajah dengan kedua tangan.

Gale tersenyum.

Dan kami berjalan keluar dari hutan.

Hari itu mungkin akan hilang juga.

Tetapi untuk saat ini, hari itu milikku.


TAMAT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar