## **CHAPTER 2
Kebaikan yang Disalahartikan Semesta**
Arga baru sadar satu hal penting di sekolah barunya.
**Menjadi cowok baik itu capek.**
Bukan capek fisik.
Capek **mental**.
Karena setiap kali dia berbuat baik, semesta seperti mencatatnya di papan skor raksasa:
> **ARGA +1 POIN SALAH PAHAM**
---
### **Insiden Pulpen Berdarah-darah (Tidak Benar-Benar Berdarah)**
Jam pelajaran kedua, suasana kelas agak kacau.
Guru Matematika belum datang.
Anak-anak ribut.
Pulpen beterbangan kayak migrasi burung.
Tiba-tiba terdengar suara pelan dari samping Arga.
> “Eh… maaf…”
Arga menoleh.
Cewek berkuncir dua, senyumnya cerah banget. Namanya **Rani**.
> “Pulpen aku habis tintanya. Boleh pinjem punyamu sebentar?”
Dalam kepala Arga langsung muncul panel komik.
Cewek menunduk malu.
Cowok menyerahkan pulpen.
Tangan bersentuhan.
Bunga sakura gugur padahal ini Indonesia.
Arga menutup mata sebentar.
> “Fokus. Ini bukan komik.”
Dia menyerahkan pulpen dengan dua tangan, kayak lagi menyerahkan ijazah.
> “Ini… pakai aja.”
Rani tersenyum makin lebar.
> “Makasih ya, Arga. Kamu tuh perhatian banget.”
Arga kaku.
> “Oh… biasa aja kok.”
Dalam hati:
> *“BAHAYA. INI KALIMAT PEMBUKA.”*
---
### **Sudut Pandang Rani (Yang Terlalu Optimis)**
Bagi Rani, Arga itu misterius.
Cowok yang:
* nggak pamer,
* nggak sok jago,
* tapi selalu ada.
Rani membatin:
> *“Cowok baik kayak gini biasanya cuma ada di drama.”*
Dia melirik Arga diam-diam.
Arga sedang menatap buku, serius, alisnya sedikit berkerut.
Rani tersenyum sendiri.
> *“Fix. Dia tipe setia.”*
Sementara itu, Arga:
> *“Kenapa dia senyum sendiri? Apakah aku salah apa?”*
---
### **Datangnya Maya, Energi Saingan**
Saat istirahat, Arga menuju kantin.
Misinya sederhana:
> makan → selesai → hidup berlanjut.
Belum juga duduk, seseorang sudah menarik kursi di depannya.
> “Boleh duduk?”
Suaranya tenang. Tegas.
Itu **Maya**.
Rambutnya rapi. Tatapannya tajam. Auranya seperti ketua OSIS atau CEO startup.
Arga refleks berdiri setengah badan.
> “Oh—silakan.”
Maya duduk, membuka bekalnya dengan rapi.
> “Kamu Arga, ya?”
Arga mengangguk.
> “Iya.”
> “Aku Maya.”
Hening dua detik.
Maya menatap Arga lurus-lurus.
> “Aku perhatiin kamu.”
Arga hampir keselek bakwan.
> “Hah?”
Maya melanjutkan santai:
> “Kamu bantu Rani tadi. Dan beberapa orang lain.”
Arga tertawa kering.
> “Oh… itu… kebetulan aja.”
Maya menyipitkan mata.
> “Kamu selalu bilang ‘kebetulan’ kalau berbuat baik?”
Arga tidak tahu harus jawab apa.
Dalam hati:
> *“KENAPA DIA TERLIHAT SEPERTI TOKOH SAINGAN CINTA DI KOMIK.”*
---
### **Naya: Tenang yang Bikin Goyah**
Saat Arga berdiri hendak pergi, seseorang menepuk pelan lengannya.
> “Arga.”
Itu Naya.
Nada suaranya lembut. Tidak memaksa.
> “Kamu ketinggalan penghapus.”
Dia menyerahkan penghapus kecil berwarna biru.
Arga menerimanya, jantungnya aneh.
> “Oh… makasih.”
Naya mengangguk.
> “Sama-sama.”
Tidak ada senyum berlebihan.
Tidak ada tatapan aneh.
Tidak ada kalimat *kamu baik banget*.
Dan justru itu… **bahaya**.
Arga menatap penghapus itu lama.
Dalam kepala muncul panel komik:
cowok menyimpan benda kecil pemberian cewek.
Arga langsung menggeleng kuat-kuat.
> “Stop. Stop. STOP.”
---
### **Flashback Konyol: Efek Salah Tafsir**
Penghapus biru itu memicu memori.
Flashback: sekolah lama.
Cewek lain memberikan permen.
> “Ini buat kamu.”
Arga menyimpannya di saku sepanjang hari.
Besoknya:
> “Eh, itu permen buat Dimas. Kamu jangan GR.”
Kamera imajiner zoom ke wajah Arga.
Tulisan besar:
> **JANGAN GR**
Arga kembali ke masa kini.
Menghela napas panjang.
> “Tenang. Ini cuma penghapus.”
---
### **Papan Skor Salah Paham Bertambah**
Sore hari, Arga pulang.
Dia membuka tas.
Komik romantis mengintip dari map.
Arga bergumam:
> “Hari kedua aja udah gini. Gimana sebulan?”
Di sisi lain kelas:
* Rani cerita ke temannya,
> “Dia perhatian banget sama aku.”
* Maya berpikir,
> “Cowok itu menarik. Dan aku nggak suka kalah.”
* Naya… hanya membaca buku, sambil sesekali menatap penghapus biru yang sama.
Dan Arga?
Dia duduk di kamar, membaca komik, lalu mendesah.
> “Kenapa dunia nyata makin mirip komik sih…”
---
**END OF CHAPTER 2**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar