Selasa, 20 Oktober 2026

Terjebak di Jayaverse - Bab 13 · Si Cimol, Bayi Komodo

 

Bab 13 · Si Cimol, Bayi Komodo

Akira tidak berani bergerak.

Komodo-komodo itu makin dekat. Rumput emas tersibak di depan moncong mereka, srek, srek, srek. Kakinya pendek dan besar, dengan cakar melengkung. Kulitnya bersisik kasar seperti batu yang sudah lama kena hujan. Dan komodo yang paling depan, yang paling besar, masih membentangkan sayap kulitnya lebar-lebar.

Kenzo merapat ke punggung Akira.

Otak Akira berputar cepat. Lari? Mereka pasti lebih cepat. Panjat sesuatu? Nggak ada pohon di dekat sini. Pura-pura mati? Ia pernah membaca soal itu. Tapi itu untuk beruang, bukan komodo. Atau malah bukan untuk dua-duanya?

Ia masih berpikir ketika komodo terbesar itu sudah tepat di depan wajahnya.

Lidahnya menjulur keluar. Panjang, kuning, dan bercabang dua di ujungnya. Ssst. Lidah itu hampir menyentuh hidung Akira, lalu masuk lagi. Ssst. Keluar lagi, ke arah Kenzo.

Akira ingat satu halaman di ensiklopedianya. Komodo mencium dengan lidah. Lidahnya menangkap bau di udara, lalu membawanya masuk ke mulut. Komodo itu bukan sedang mengancam mereka. Ia sedang mengendus mereka.

"Ssssiapa kalian?" desis komodo itu. Suaranya serak dan pelan, seperti angin yang lewat di celah pintu.

Kenzo yang menjawab duluan. "Kami lagi nyari Telur Fajar, Pak Komodo! Kami mau balikin ke sarangnya!"

Lidah itu menjulur lagi. Ssst. Komodo besar itu diam lama.

"Bau kalian... bukan bau telur," katanya akhirnya. "Kalian bukan pencurinya."

Akira menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Tapi dengar baik-baik." Sayap kulit itu terlipat pelan. "Ratu sedang murka. Tidak ada orang asing yang boleh mendekati gunung. Kalau kami melihat kalian lagi di dekat gunung, kalian akan kami bawa menghadap Ratu."

Lalu komodo-komodo itu berbalik dan menghilang ke dalam rumput tinggi, satu per satu. Srek. Srek. Srek.

Rumput emas itu diam lagi.

Kenzo terduduk lemas. "Aku kira kita mau dimakan."

"Aku juga," kata Akira jujur.


Matahari Jingga sudah condong ke barat. Akira menghitung lagi. Kira-kira empat puluh menit menuju Magrib.

Dan tidak ada Nayla. Tidak ada Bubu. Tinggal mereka berdua.

Akira mengeluarkan buku catatannya yang masih agak lembap. Ia menggambar peta seadanya. Padang rumput. Gunung berasap di kejauhan. Garis-garis tempat komodo tadi menghilang.

TIT-TIT-TIT. Gelangnya berbunyi. "Jangan lupa minum!"

"Nanti," gumam Akira. Ia menutupi gelang itu dengan telapak tangannya tanpa melihat. Pensilnya terus bergerak.

Panas sekali di savana ini. Tidak ada pohon besar, tidak ada awan, hanya rumput setinggi pinggang dan matahari yang menyengat. Keringat menetes dari kening Akira ke halaman buku catatannya.

"Rencananya begini," kata Akira. "Komodo-komodo itu jaga di sekitar sini. Jadi kita harus nyamar. Kita bikin baju dari rumput. Kalau kita jalan pelan-pelan di dalam rumput yang tinggi, mereka nggak bakal lihat kita."

Kenzo memandangi rumput di sekeliling mereka. "Bikinnya pakai apa?"

"Pakai tangan. Ayo."

Mereka mencabuti rumput kering, lalu mengikatnya dengan rumput yang lebih panjang. Akira menyelipkannya ke saku-saku rompinya. Kenzo mengikatnya ke tali celemeknya. Ikatan Kenzo copot terus, jadi Akira yang mengikatnya ulang. Dua kali. Tiga kali.

TIT-TIT-TIT. "Jangan lupa minum!"

"Iya, iya. Nanti."

Akhirnya mereka selesai. Akira mundur selangkah untuk melihat hasilnya.

Kenzo terlihat seperti orang-orangan sawah yang habis kena angin puting beliung. Rumputnya mencuat ke segala arah. Topi kokinya menyembul di atas. Dan di bagian dada, di sela-sela rumput, tulisan BAKSO MANTAP masih kelihatan jelas.

"Kak," kata Kenzo, memandangi Akira. "Kakak kayak ketupat yang kebanyakan janur."

Akira ingin membalas. Tapi tiba-tiba kepalanya terasa ringan sekali.

Rumput emas di depannya bergoyang, padahal tidak ada angin. Langit berputar pelan. Lututnya lemas seperti karet gelang yang sudah kendor.

Akira terhuyung. Lututnya menyentuh tanah.

"Kak?!"


Suara Kenzo terdengar jauh, seperti dari ujung lorong yang panjang.

Akira mencoba berdiri. Tidak bisa. Kepalanya berdenyut. Mulutnya kering sekali, sampai lidahnya terasa lengket.

Lalu ada sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.

Sebutir buah. Bulat, berkulit ungu kehitaman, sebesar kelapa kecil, dan berkilau-kilau seperti kelapa di pantai tadi. Di dekat mereka berdiri sebatang pohon lontar yang tinggi, dan di kakinya berserakan buah-buah yang sama.

"Pos minum, Kak," kata Kenzo. Ia sudah membelah buah itu dengan batu. Di dalamnya ada daging bening seperti agar-agar, penuh air. "Duduk dulu, Kak. Bismillah."

Akira duduk. Ia tidak punya tenaga untuk membantah.

"Bismillah," bisiknya.

Airnya manis dan segar. Akira minum pelan-pelan, sambil duduk, persis seperti kata Bunda. Lalu satu buah lagi. Lalu satu lagi.

Pelan-pelan, rumput berhenti bergoyang. Langit berhenti berputar.

Akira memandangi gelangnya. Detak jantungnya masih cepat. Ia ingat bunyi "jangan lupa minum" tadi. Tiga kali. Dan tiga kali ia bilang nanti.

Badan mereka benar-benar berkeringat di sini. Air di dalam badan keluar bersama keringat. Kalau tidak diganti, badan kekurangan air, dan kepalanya jadi pusing. Akira tahu itu. Ia bahkan pernah menjelaskannya di depan kelas.

Tapi ia lupa. Ia terlalu sibuk menyusun rencana.

Dan yang ingat justru Kenzo.

"Makasih, Ken," kata Akira pelan.

Kenzo nyengir, memperlihatkan gigi ompongnya. Lalu ia ikut duduk dan makan buah lontar. Banyak. Sangat banyak.


Penyamaran mereka bertahan kira-kira sepuluh menit.

Mereka berjalan pelan-pelan di dalam rumput tinggi, membungkuk, seperti dua semak yang sedang berjalan-jalan sore. Gunung berasap makin besar di depan.

Lalu terdengar bunyi itu lagi. Srek. Srek.

Seekor komodo muncul dari balik rumput, kira-kira lima langkah di depan mereka. Akira langsung diam, membeku. Kenzo juga.

Kami semak. Kami cuma semak.

Komodo itu menoleh ke arah mereka. Lidahnya menjulur. Ssst. Lalu sekali lagi. Ssst. Ssst.

Ia mendekat. Bukan ke Akira. Ke Kenzo.

Lidah bercabang itu menjulur ke dada Kenzo, ke tulisan BAKSO MANTAP yang menyembul di sela rumput. Moncong komodo itu bergerak-gerak.

"Ssss... bau apa ini..." desisnya. "Kaldu... sapi..."

Air liur menetes dari ujung mulutnya.

Akira menepuk jidatnya sendiri. Tentu saja. Komodo mencium dengan lidah. Ia sendiri yang tadi mengingatnya. Komodo tidak perlu melihat mereka. Baju rumput mereka tidak ada gunanya sama sekali, apalagi kalau salah satunya memakai celemek yang wangi kuah bakso.

"LARI!"


Mereka berlari menembus rumput. Baju rumput mereka rontok di sepanjang jalan. Di belakang, komodo itu mengejar, dan larinya cepat sekali.

"POHON, KAK!" teriak Kenzo, menunjuk ke depan.

Sebatang pohon asam tua berdiri sendirian di tengah padang rumput. Batangnya besar dan bengkok-bengkok, dahannya rendah.

Kenzo sampai lebih dulu. Ia memanjat seperti tupai, lalu berbalik dan menjulurkan tangan. Akira meraihnya. Kenzo menarik, Akira memanjat. Kaki Akira baru saja terangkat dari tanah ketika rahang komodo itu mengatup di bawahnya. KLAP!

Mereka naik lebih tinggi lagi, ke dahan yang besar, lalu duduk terengah-engah.

Di bawah, komodo itu mencoba memanjat. Cakarnya mencakar-cakar batang pohon. Tapi badannya terlalu berat. Ia merosot. Mencoba lagi. Merosot lagi. Ia mengepakkan sayap kulitnya, melompat setinggi lutut, lalu jatuh berdebam.

"Sayapnya kekecilan," bisik Kenzo. "Badannya kegedean."

Akira mengangguk. "Komodo dewasa terlalu berat buat manjat pohon."

Komodo itu menyerah. Ia berbaring di bawah pohon, menunggu, lidahnya keluar-masuk. Sesekali ia mendongak ke arah celemek Kenzo dengan wajah sangat sedih.


Daun-daun di atas mereka bergoyang.

Bukan karena angin. Gerakannya datang dari dahan yang lebih tinggi, di antara daun-daun asam yang rimbun.

Akira mendongak. Sepasang mata kecil berwarna kuning sedang mengintip dari balik daun. Mata itu langsung bersembunyi lagi.

"Ada apa di atas?" bisik Kenzo.

Pelan-pelan, daun-daun itu tersibak. Seekor komodo kecil, panjangnya tidak lebih dari lengan Kenzo, sedang memeluk dahan erat-erat. Sisiknya hijau kekuningan dengan bintik-bintik. Di punggungnya ada sepasang sayap mungil, tipis dan bening seperti sayap capung. Dan seluruh tubuhnya gemetar.

"Bayi komodo," bisik Akira. Ia ingat lagi halaman ensiklopedia yang sama. "Bayi komodo memang tinggal di atas pohon. Soalnya di bawah... komodo yang besar kadang makan komodo yang kecil."

Kenzo menoleh ke bawah, ke komodo besar yang sedang menunggu. Lalu ke atas, ke bayi komodo yang gemetar. Wajahnya berubah.

"Kasihan," bisiknya.

Lalu Kenzo melakukan sesuatu yang tidak Akira duga.

Ia diam.

Kenzo, yang biasanya tidak bisa diam lima detik, duduk diam di dahan. Ia tidak memanggil-manggil. Ia tidak mendekat. Ia hanya mengulurkan satu tangannya, telapak menghadap ke atas, lalu menunggu.

"Nggak apa-apa," katanya pelan sekali. "Aku nggak gigit. Aku juga takut, kok."

Satu menit. Dua menit. Komodo besar di bawah mendengkur. Angin savana berdesir.

Lalu bayi komodo itu bergerak. Turun satu dahan. Lalu satu lagi. Lidah kecilnya menjulur, sst, mencicipi udara di dekat tangan Kenzo. Lalu ke celemeknya.

Lalu ia merayap naik ke tangan Kenzo, ke lengannya, dan meringkuk di pangkuannya seperti kucing.

Kenzo menahan napas. Matanya berbinar-binar.

"Kamu bulet," bisiknya. "Kenyal. Kayak cimol." Ia mengelus kepala kecil itu dengan satu jari. "Namamu Si Cimol, ya."

Bayi komodo itu mengedipkan matanya pelan. Sayap mungilnya bergetar.

Akira memandangi mereka berdua. Adiknya, dengan celemek basah dan topi koki yang lepek, memangku seekor bayi komodo yang tadi ketakutan setengah mati.

Ia teringat Kenzo yang mengembalikan ikan kecil ke air di hutan bakau. Kenzo yang bilang dia nolongin aku soal Si Ngebug. Kenzo yang tahu-tahu sudah menyodorkan buah lontar tadi.

"Ken," kata Akira.

"Hm?"

"Kamu jago banget bikin makhluk percaya sama kamu."

Kenzo mendongak. Mulutnya terbuka sedikit. Ia menatap Akira lama, seperti tidak yakin barusan mendengar apa.

"Kakak... muji aku?"

Telinga Akira terasa panas. Ia membuang muka. Tapi kali ini ia tidak bilang jangan geer.

"Iya," katanya.


Lalu komodo besar di bawah pohon berhenti mendengkur.

Ia mengangkat kepala, lalu menunduk dalam-dalam sampai dagunya menyentuh tanah. Di kejauhan, komodo-komodo lain muncul dari balik rumput dan melakukan hal yang sama.

Angin bertiup kencang sekali. Daun-daun asam beterbangan.

Dan matahari tiba-tiba hilang.

Akira mendongak. Sebuah bayangan raksasa menutupi langit. Sepasang sayap yang begitu lebar sampai menutupi Matahari Jingga, mengepak pelan, wuuum, wuuum, membuat rumput di bawahnya rebah.

Seekor komodo yang besarnya seperti rumah turun dari langit. Sisiknya keemasan. Di kepalanya ada tanduk-tanduk kecil yang berjajar seperti mahkota. Ia mendarat di depan pohon asam. BUMMM. Tanah bergetar sampai dahan tempat mereka duduk ikut berguncang.

Ratu Naga.

Mata emasnya menatap ke atas pohon. Ke dua anak manusia. Dan ke bayi komodo yang meringkuk di pangkuan Kenzo.

Ratu Naga membuka mulutnya, dan suaranya menggelegar ke seluruh padang rumput.

"PENCURI! Sudah mencuri telurku, sekarang kalian mau mencuri anak-anak kami juga?!"


CATATAN AKIRA 🔴

Tahukah Tuan dan Nona? (Bubu, aku pinjam kalimatmu lagi.) Komodo adalah kadal terbesar di dunia dan hanya hidup di Indonesia, di Pulau Komodo, Rinca, Flores, dan sekitarnya. Komodo asli tidak bersayap, dan ia mencium dengan lidahnya yang bercabang. Bayi komodo tinggal di atas pohon selama beberapa tahun supaya aman dari komodo dewasa.

Terjebak di Jayaverse - Bab 12 · Monster Baru di Tengah Badai

 

Bab 12 · Monster Baru di Tengah Badai

Tidak ada bunyi ting.

Kenzo terus menunggu bunyi itu. Bunyi kecil yang nyaring, seperti sendok diketuk ke gelas, lalu suara penyiar berita yang sok resmi: "Tuan-tuan dan Nona..."

Tapi yang terdengar hanya angin. Dan tali layangan yang berderit-derit karena menegang.

Kenzo duduk memeluk lutut di tepi pulau awan. Matanya panas. Ia sudah berhenti menangis, tapi rasanya tangisnya masih nyangkut di tenggorokan.

Ia menoleh ke kakaknya.

Akira berdiri di dekat simpul tali, memandang lurus ke depan, ke arah Pulau Seribu Naga. Wajahnya datar. Tidak sedih. Tidak apa-apa.

"Kakak nggak sedih, ya?" tanya Kenzo. Suaranya keluar lebih ketus dari yang ia mau.

Akira tidak menjawab.

"Bubu hilang, Kak! Disedot! Kakak diem aja!"

Akira tetap tidak menjawab. Tapi Kenzo melihat tangan kakaknya yang memegang tali. Buku-buku jarinya putih, saking kencangnya ia menggenggam.

Kenzo tidak tahu harus bagaimana membaca itu. Jadi ia memalingkan muka.

Nayla duduk di sebelah Kenzo dan merangkul bahunya. Ia tidak bilang apa-apa. Tidak ada Pemirsa. Rangkulannya saja sudah cukup.

Lalu Nayla melirik gelangnya sendiri dan meringis.

"Kenapa, Kak?"

"Bintangku tinggal dua." Ia menunjukkan gelangnya. Dari tiga gambar bintang, satu sudah padam. "Kena keranjang waktu jatuh di pasar tadi. Nggak kerasa, tahu-tahu udah berkurang."

Kenzo melirik gelangnya sendiri. Tiga bintangnya masih menyala. Entah kenapa, ia tidak merasa lega.


Langit mulai gelap.

Bukan gelap karena sore. Gelap karena awan. Awan-awan hitam yang tadi menumpuk di atas pulau sekarang sudah ada di depan mereka, tinggi sekali, seperti tembok yang menjulang sampai ke atas.

Matahari Jingga tidak kelihatan lagi.

Duaaar!

Kilat menyambar di dalam awan hitam itu. Sesaat semuanya putih terang, lalu gelap lagi.

Lalu hujan turun. Tidak pelan-pelan. Langsung deras, seperti air diguyur dari ember raksasa. Angin kencang menampar dari segala arah. Layangan raksasa mereka terombang-ambing, buntut naganya meliuk-liuk liar.

"Pegangan!" teriak Akira.

Nayla melompat ke dekat simpul dan ikut memegang tali bersama Akira. Kenzo merangkak ke arah tonjolan awan dan memeluknya erat-erat. Lalu ia merasakan sesuatu yang aneh. Awan di bawah lututnya terasa makin basah. Makin lembek.

Ia menunduk. Pulau awan mereka menyusut. Pinggirannya menetes-netes, berubah menjadi hujan, dan ikut jatuh ke laut.

"Kak! Awannya cair!"

Akira melihat ke bawah. Wajahnya pucat. Kenzo teringat penjelasan Bubu tadi. Kalau titik-titiknya bergabung jadi besar dan berat, mereka jatuh sebagai hujan.

Awan mereka sedang berubah menjadi hujan.


Lalu dari dalam awan hitam itu, sesuatu muncul.

Mula-mula hanya dua titik kuning yang menyala. Mata. Lalu dua tanduk besar yang melengkung, berkilat-kilat setiap kali kilat menyambar. Lalu tubuhnya. Besar dan berbulu kelabu kebiruan, seperti awan badai yang diberi badan. Tangannya bercakar panjang. Ada kilat-kilat kecil yang meletik di antara cakarnya. Tritt. Tritt.

Monster itu melayang mendekat, lalu berhenti tepat di depan mereka. Ia tertawa. Suaranya menggelegar bersama guntur.

"HAHAHAHA! Kaget, ya?!"

Kenzo membeku.

Ia kenal tawa itu.

Dan di pergelangan tangan monster itu, di antara bulu-bulu kelabu, melingkar sebuah gelang yang berkilau. Berwarna emas.

"Rafi?" bisik Kenzo.

"Bocil Bakso! Masih hidup kamu?" Monster itu memiringkan kepalanya, dan tanduknya ikut miring. "Keren, kan, kostum baruku? Baju ksatria itu ngebosenin. Jadi pahlawan nggak seru. Jadi penjahat lebih seru!"

Lalu dari belakang Rafi, dari balik awan hitam, terdengar bunyi yang sudah mereka kenal.

NGUUUUUUNG...

Si Penyapu muncul. Mata merahnya menyala di tengah hujan. Ia tidak menyerang. Ia hanya melayang di belakang Rafi, diam, menunggu. Seperti anjing yang menunggu perintah majikannya.

Rafi mengangkat tangan yang memakai gelang emas. Mata merah Si Penyapu ikut bergerak, mengikuti gelang itu ke atas, lalu ke bawah.

"Dia nurut sama aku," kata Rafi bangga. "Gara-gara gelang ini. Seru banget, kan?"

Kenzo merasa perutnya dingin. Jadi selama ini, monster yang menghapus pelangi, yang menghapus bapak penjual lada, yang menyedot Bubu... sekarang jadi peliharaan Rafi.


"Kalian lihat makhluk kotak-kotak abu-abu, nggak?" tanya Rafi. "Gelangku bilang dia virus. Kalau aku yang nangkep, Papa pasti..."

Rafi berhenti. Seperti tidak sengaja bicara terlalu banyak.

"Pokoknya aku yang mau nangkep," katanya cepat.

"Dia bukan virus!" Kenzo tidak tahu kenapa ia berteriak begitu. Kata-katanya keluar sendiri. "Dia nolongin aku!"

"Kenzo," desis Akira.

Rafi tertawa lagi. "Nolongin? Virus nolongin? Kamu tuh polos banget, ya, Bocil." Ia memandangi layangan raksasa mereka yang terombang-ambing di tengah badai. Mata kuningnya berbinar. "Eh, layangan kalian norak. Warna-warni gitu. Penyapu-ku suka yang warna-warni, lho."

Kenzo langsung mengerti maksudnya.

"Jangan!"

Rafi sudah melesat. Cakarnya menyambar rangka layangan dan mencengkeramnya. Ia menarik layangan itu ke arah belalai Si Penyapu.

Tali toska menyentak keras. Nayla, yang masih memegang tali di dekat simpul, ikut tertarik dan terseret di atas awan yang licin.

"Kak Nayla!"

Akira menyambar pinggang Nayla. Kenzo menyambar baju Akira. Mereka bertiga menahan tali seperti sedang lomba tarik tambang tujuh belasan. Tapi lawan mereka monster yang bisa terbang dan tidak pernah capek.

Tenggg! Tali itu menyentak lagi. Nayla terbanting ke tonjolan awan yang keras.

TIT! Gelang Nayla berbunyi. Kenzo melihat satu bintang lagi padam.

Tinggal satu.

"Lepasin aja, Kak!" teriak Kenzo. Ia melepaskan baju Akira dan merangkak maju ke simpul tali, mencoba membukanya. Biar layangannya lepas. Biar Kak Nayla tidak terbanting lagi.

Tapi simpul itu tidak mau terbuka. Makin ditarik makin kencang.

"Nggak!" Nayla menggertakkan gigi. "Ini satu-satunya jalan kita ke pulau!"

Rafi berdecak kesal. "Ih, bandel." Ia mengibaskan tangannya yang bebas ke arah simpul tali. Kilat-kilat kecil meletik dari cakarnya.

Kibasan itu mengarah tepat ke tangan Kenzo.

Nayla melihatnya lebih dulu. Ia melepaskan satu tangan dari tali dan mendorong Kenzo ke samping sekuat tenaga.

Kenzo terguling. Kibasan Rafi lewat tepat di tempat tangannya tadi berada.

Dan mengenai Nayla.


Semuanya terjadi cepat sekali.

Nayla terlempar dari pulau awan, masuk ke dalam hujan.

TIT-TIT-TIT. Bunyi gelangnya terdengar sekali lagi, pelan, di tengah deru angin.

Lalu tubuh Nayla berkedip. Seperti lampu yang mau padam. Satu kali. Dua kali.

Lalu hilang.

Tidak jatuh ke laut. Tidak tersangkut di mana pun. Hilang begitu saja, di tengah udara.

"KAK NAYLAAAA!"

Rafi berhenti menarik. Untuk sesaat, mata kuningnya melebar. Cakarnya yang memegang layangan sedikit mengendur.

"Eh..." katanya. "Bukan aku. Dia sendiri yang nggak mau lepas."

Lalu ia membuang muka. Ia melepaskan layangan dan melesat pergi menembus awan hitam. Si Penyapu mengikutinya, patuh, seperti bayangan.

nguuuung...


"Bintangnya habis," kata Akira. Suaranya bergetar. "Secara teori... kalau bintangnya habis, dia balik ke titik simpan. Pasti ke pantai awal. Waktu studi wisata dulu juga gitu."

Kenzo menatap kakaknya. Ia ingin percaya. Ia ingin sekali percaya.

Tapi tadi kakaknya juga bilang tepuk tiga kali pasti memanggil gerbang.

Lalu Kenzo melihat tali layangan. Tali toska itu, tali buatan Nayla, mulai memudar. Warnanya makin pucat, makin bening, seperti es batu yang mencair.

"Kak... talinya..."

Tali itu putus.

Layangan raksasa terlepas. Angin badai langsung menyambarnya. Dan pulau awan di bawah kaki mereka, yang sudah tinggal sebesar tikar, akhirnya ambrol menjadi hujan.

Mereka jatuh.

Kenzo menggapai-gapai udara. Lalu tangannya menyentuh sesuatu yang bersisik.

Buntut naga. Buntut layangan buatannya sendiri, yang menjuntai panjang ke bawah.

Kenzo mencengkeramnya dengan dua tangan. Sedetik kemudian, tangan Akira ikut mencengkeram buntut itu, tepat di bawah tangannya.

"JANGAN LEPAS!" teriak Akira.

"NGGAK!"

Layangan itu jatuh berputar-putar seperti daun kering. Langit, laut, awan hitam, langit lagi, semuanya berputar. Kenzo memejamkan mata. Perutnya terasa seperti ketinggalan di atas.

Bismillah. Bismillah. Bismillah.

Lalu, tiba-tiba, hujan berhenti.

Kenzo membuka mata. Mereka sudah keluar dari bawah awan badai. Di bawah mereka terbentang padang rumput yang luas sekali, berwarna emas, berkilau ditimpa cahaya Matahari Jingga yang muncul lagi dari balik awan.

Layangan mereka meluncur makin rendah. Makin rendah. Ujung buntutnya menyapu ujung-ujung rumput.

GEDEBUK!

Kenzo dan Akira jatuh berguling-guling di atas rumput. Layangan raksasa itu menancap miring di tanah, lalu pelan-pelan memudar dan menghilang. Pooof.

TIT. Gelang Kenzo berbunyi. Satu bintangnya padam. Gelang Akira juga.

Kenzo terlentang di rumput, terengah-engah. Rumputnya tinggi, kering, dan panas. Langitnya biru lagi. Rasanya ia ingin tidur saja di situ.

"Ken," bisik Akira.

Suara kakaknya aneh. Pelan sekali. Seperti orang yang tidak mau membangunkan sesuatu.

Kenzo mengangkat kepala.

Di sekeliling mereka, rumput emas itu bergoyang-goyang. Bukan karena angin. Dari balik rumput, muncul kepala-kepala besar bersisik. Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Lebih. Lidah-lidah panjang bercabang menjulur keluar masuk, ssst, ssst, mencicipi udara.

Komodo.

Belasan ekor. Mengepung mereka dari segala arah.

Dan di punggung komodo yang paling dekat, sepasang sayap kulit yang besar pelan-pelan terbentang.


BAB 13

Terjebak di Jayaverse - Bab 11 · Layang-Layang Raksasa

Bab 11 · Layang-Layang Raksasa

Bluk.

Akira jatuh telentang di atas sesuatu yang dingin, lembap, dan empuk. Seperti kasur yang dijemur tapi belum kering.

Ia membuka mata. Yang terlihat hanya putih.

Jantungnya langsung berhenti sebentar. Putih. Penyapu.

Tapi putih yang ini tidak rata. Putih yang ini bergumpal-gumpal dan menggembung, dengan bayangan lembut di setiap lekukannya. Ia bergerak pelan, seperti sedang bernapas. Dan di atasnya ada langit biru.

Awan. Ia berbaring di atas awan.

"Alhamdulillah," bisik Akira. Ia sendiri kaget betapa leganya.

Di sebelahnya, Nayla sudah duduk sambil merapikan kerudung. Bubu melayang-layang di atas kepala mereka, warnanya kuning pucat.

Dan Kenzo sedang berlutut, mencomot segumpal awan, lalu memasukkannya ke mulut.

"Kenzo! Jangan dimakan!"

Terlambat. Kenzo mengunyah. Lalu wajahnya bingung.

"Kok nggak ada rasanya, Kak? Dingin doang. Kayak ngemut embun di pintu kulkas."

Ting! "Tentu saja, Tuan Kenzo," kata Bubu. "Awan memang terbuat dari air. Matahari memanaskan air laut sampai berubah menjadi uap, lalu uap itu naik ke langit. Makin tinggi, udaranya makin dingin. Di sana, uap air berubah lagi menjadi titik-titik air yang sangat kecil. Miliaran titik air berkumpul, jadilah awan. Kalau titik-titiknya bergabung jadi besar dan berat, mereka jatuh sebagai hujan."

Kenzo berhenti mengunyah. "Berarti aku barusan makan hujan yang belum jadi?"

Bubu diam sebentar. "...Secara teknis, ya."

Nayla tertawa. Akira juga hampir tertawa, tapi ada yang lebih penting. Ia berdiri dan melihat ke sekeliling.

Mereka berada di atas sebuah pulau awan kecil, kira-kira seluas lapangan voli, yang melayang tinggi di atas laut. Jauh di depan, di seberang laut, terlihat Pulau Seribu Naga. Gunung berasap di tengahnya tampak kecil sekali dari sini.

Matahari Jingga sudah turun sedikit dari tengah langit. Akira menghitung di kepalanya. Kira-kira lima puluh menit lagi menuju Magrib.

"Kak," kata Kenzo pelan. Ia sudah tidak mengunyah lagi. "Tadi di pasar, Si Ngebug dorong aku ke lubang. Pas belalainya mau nyedot aku."

Akira tidak menjawab.

"Dia nolongin aku, Kak."

Akira meraba tas selempangnya. Di dalamnya ada gambar krayon yang terlipat. Bubu-ku, temanku. Ia tidak mengeluarkannya.

"Mungkin," kata Akira akhirnya. "Atau mungkin dia cuma nggak mau kita ketangkep Penyapu sebelum dia..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Pokoknya telurnya ada di dia. Itu yang penting sekarang."

Kenzo tidak membantah. Tapi wajahnya jelas tidak setuju.


"Masalahnya," kata Akira, "gimana caranya kita ke pulau itu? Awannya nggak gerak ke mana-mana."

Nayla mengintip ke tepi awan, lalu buru-buru mundur. "Kalau lompat, ya jelas nggak mungkin."

"Layangan!" seru Kenzo.

Akira sudah membuka mulut untuk bilang jangan aneh-aneh. Kebiasaan.

Lalu ia menutupnya lagi. Ia ingat tongkat jingga di labirin akar tadi.

Ia memikirkan ide itu baik-baik. Layangan yang besar bisa menarik dengan kuat. Seperti layar perahu yang ditiup angin. Kalau talinya diikat ke awan ini...

"Layangan raksasa," kata Akira pelan. "Talinya diikat ke awan. Terus layangannya narik awan kita. Kayak perahu layar."

Mata Kenzo membesar. "Kakak setuju sama ideku?"

"Jangan geer. Ayo bikin."


Mereka bertiga berdiri melingkar dan memejamkan mata.

"Aku bikin rangkanya," kata Akira. "Bentuk wajik. Kayak layangan yang dijual abang-abang di dekat sekolah."

"Aku bikin talinya," kata Nayla. "Yang panjang dan kuat."

"Aku bikin buntutnya!" kata Kenzo. "Buntut panjang kayak naga!"

Akira membuka sebelah matanya. Buntut? Buat apa buntut?

Lalu ia ingat sesuatu dari buku yang pernah ia baca. Layangan tanpa buntut gampang berputar-putar dan menukik. Buntut yang panjang membuatnya lebih stabil.

"Secara teori," kata Akira, "itu ide bagus."

Kenzo sampai lupa memejamkan mata.

Cahaya merah keluar dari tangan Akira, membentuk rangka yang lurus dan rapi. Cahaya toska dari tangan Nayla memanjang menjadi tali yang tebal. Cahaya kuning dari tangan Kenzo meliuk-liuk menjadi kain layangan dan buntut panjang bersisik, persis buntut naga.

Dan di tempat cahaya merah dan kuning saling bersentuhan, di sudut-sudut rangka dan di pangkal buntut, warnanya berubah.

Jingga.

Masih sedikit. Masih belang-belang. Tapi ada.

Layangan itu jadi. Besarnya seperti atap rumah. Sisik-sisik di buntutnya berkilau ditimpa cahaya matahari.

"Masya Allah," bisik Nayla. "Keren banget."

Nayla mencari tempat untuk mengikat tali. Di tengah pulau awan ada sebuah tonjolan yang padat dan keras, seperti bantal kapuk yang kelamaan dijemur. Nayla melilitkan tali ke tonjolan itu, lalu membuat simpul yang rumit dengan cepat.

"Simpul delapan," katanya. "Simpul andalan pemanjat. Makin ditarik makin kencang, tapi nggak bakal lepas sendiri."


Akira membasahi telunjuknya dengan ludah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sisi jarinya yang terasa dingin adalah sisi yang terkena angin.

"Anginnya dari arah laut," katanya. "Ke arah pulau. Pas."

"Kok bisa pas gitu?" tanya Kenzo.

"Ini kan siang. Siang hari, daratan lebih cepat panas daripada laut. Udara di atas pulau ikut panas, terus naik. Udara dari laut ngalir ke darat buat gantiin. Namanya angin laut." Akira membetulkan kacamatanya. "Kata Bu Guru, nelayan pulang melaut siang-siang juga dibantu angin ini."

Kenzo membawa layangan ke tepi awan yang menghadap pulau. Nayla memegang tali di dekat simpul. Akira berdiri di sebelahnya.

"Satu... dua... LEPAS!"

Kenzo melepaskan layangan. Angin langsung menangkapnya. Layangan raksasa itu melesat naik, buntut naganya meliuk-liuk di udara. Talinya menegang. Tenggg.

Pulau awan mereka tersentak. Lalu pelan-pelan mulai meluncur ke depan, ke arah Pulau Seribu Naga.

"Dan layangan raksasa mengudara, Pemirsa!" seru Nayla. "Awan kita resmi berlayar!"

Kenzo bersorak. Akira tersenyum. Kali ini ia tidak menyembunyikannya.


NGUUUUUUNG...

Senyum itu langsung hilang.

Akira menoleh ke belakang. Di kejauhan, dari balik gumpalan awan, sesuatu yang bulat, pipih, dan putih muncul perlahan. Satu mata merah menyala di tengahnya. Belalai panjang menjulur dan meliuk-liuk di bawahnya.

Si Penyapu.

Di antara mereka dan Si Penyapu, gerimis tipis sedang turun dari sebuah awan kelabu. Dan di depan gerimis itu melengkung sebuah pelangi. Besar dan terang, dengan tujuh warna yang lengkap.

Belalai Si Penyapu menyentuh ujung pelangi itu.

Lalu menyedotnya.

Warna-warna pelangi tersedot ke dalam belalai seperti mi yang diseruput. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Satu per satu. Di tempat pelangi itu tadi melengkung, sekarang hanya ada putih kosong yang rata. Seperti langit yang dihapus.

Lalu Si Penyapu melambat.

Tubuhnya oleng sedikit. Mata merahnya berkedip-kedip. Dan dari belalainya keluar bunyi yang sangat keras:

HEEEEEK!

Segumpal kabut warna-warni menyembur dari ujung belalai.

Hening sebentar.

Lalu Kenzo tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan pada tonjolan awan. "Kekenyangan dia! Dia sendawa, Kak!"

Nayla ikut tertawa, meskipun tawanya terdengar gugup.

Akira tidak tertawa. Ia sibuk menghitung jarak. Si Penyapu memang melambat. Tapi cuma sebentar.

Mata merah itu berhenti berkedip.

NGUUUUUUUUNG!

Si Penyapu bergerak lagi. Lebih cepat dari sebelumnya.


"Dia ngejar!" teriak Kenzo.

Awan mereka meluncur, tapi Si Penyapu meluncur lebih cepat. Jaraknya makin dekat. Bubu melayang di belakang mereka, tapi ia terus menoleh ke tempat pelangi tadi melengkung. Angin sedotannya mulai terasa, menarik-narik ujung kerudung Nayla dan buntut layangan.

Akira melihat ke depan dengan panik. Mencari apa saja.

Lalu ia melihatnya. Di depan, agak ke kiri, ada sebuah awan yang tinggi sekali. Bentuknya menggumpal-gumpal ke atas seperti kembang kol raksasa, dengan bagian bawah yang datar.

Awan terbentuk dari udara hangat yang naik. Awan setinggi itu berarti udara hangat di bawahnya naik dengan kencang sekali.

"Nayla!" teriak Akira. "Arahin layangannya ke bawah awan kembang kol itu!"

"Buat apa?!"

"Udara di bawahnya naik! Layangannya bakal ketarik ke atas!"

Nayla tidak bertanya lagi. Ia menarik tali kuat-kuat ke kiri, seperti pemanjat yang menggeser badan di tebing. Layangan raksasa itu berbelok, meliuk masuk ke bawah awan kembang kol.

WUSSSSS!

Layangan itu melesat ke atas seolah ditendang dari bawah. Talinya menyentak. Pulau awan mereka ikut terangkat, naik dan naik, seperti lift yang talinya ditarik raksasa.

Belalai Si Penyapu menyambar ke tempat mereka tadi berada.

Kosong. Belalai itu hanya menyedot udara.

"YESSS!" Kenzo meninju udara.

Tapi Bubu tidak ikut naik.


Bubu tertinggal di bawah. Ia melayang diam, menghadap ke tempat pelangi tadi melengkung. Ke putih kosong yang rata itu.

Warnanya biru. Biru yang sangat pucat.

"Bubu!" teriak Akira. "Naik! Cepat!"

Bubu seperti tidak mendengar. Suaranya terdengar pelan dan putus-putus, seperti radio kehabisan baterai.

"Pelangi itu... tidak akan kembali, Tuan-tuan. Yang sudah terhapus... tidak bisa diulang. Seperti nasi... sudah menjadi..."

Belalai Si Penyapu berbalik.

"BUBU!"

"...buburrr..."

Slurp.

Satu titik cahaya kecil tersedot ke dalam belalai. Lalu hilang.

Di tempat Bubu tadi melayang, sekarang ada sebuah lubang putih kecil di langit. Putih kosong. Bulat. Sebesar jeruk.

Si Penyapu diam sebentar. Mata merahnya mencari-cari ke atas, ke arah layangan mereka yang sudah terlalu tinggi untuk dijangkau belalainya. Lalu ia berbalik dan menghilang ke balik awan.

nguuuung...

Bunyinya makin pelan. Lalu sunyi.


Pulau awan mereka terus meluncur, ditarik layangan raksasa ke arah Pulau Seribu Naga.

Tidak ada yang bicara.

Kenzo duduk memeluk lututnya. Bahunya bergetar. Ia menangis tanpa suara.

Nayla memandangi lubang putih kecil di langit yang makin jauh di belakang mereka. Ia tidak berkomentar. Kepalan tangannya tidak naik ke depan mulut.

Akira berdiri memegangi tali layangan. Tangannya dingin.

Seperti nasi sudah menjadi bubur.

Biasanya, setiap kali Bubu bicara pakai peribahasa, ada yang salah. Lalu Nayla meralatnya, atau Kenzo bertanya, atau Akira ingin meralat tapi kalah cepat. Selalu begitu, dari pantai sampai pasar.

Tapi kali ini tidak ada yang meralat.

Karena kali ini Bubu benar.

Nasi sudah menjadi bubur. Artinya, yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi.

Akira menelan ludah. Di depan mereka, di atas Pulau Seribu Naga, awan-awan gelap mulai menumpuk.


CATATAN AKIRA 🔴

Tahukah Tuan dan Nona? (Biasanya Bubu yang bilang begini.) Awan terbentuk dari uap air laut yang naik, mendingin, lalu menjadi titik-titik air yang sangat kecil. Awan asli tidak bisa diinjak, karena isinya hanya titik air. Siang hari, angin bertiup dari laut ke darat. Namanya angin laut.

 BAB 12