Rabu, 27 Mei 2026

Yang Naksir Bayar Seblak Ch 1 / 18


 

Chapter 1 — Festival Senja

Lampu-lampu kecil digantung dari satu ujung lapangan ke ujung lain, membentuk garis-garis cahaya yang bergetar pelan setiap kali angin sore lewat.

Di bawahnya, lapangan SMA Garuda Bhakti berubah total.

Biasanya tempat itu cuma dipakai untuk upacara yang bikin betis pegal, olahraga yang bikin sebagian murid pura-pura asma, dan apel pagi yang lebih sering jadi ajang adu kuat melawan kantuk. Tapi malam ini, lapangan itu terlihat hampir tidak seperti sekolah.

Ada stand makanan di kanan-kiri. Ada panggung kecil di depan lapangan. Ada suara musik dari speaker yang terlalu bersemangat. Ada bau sosis bakar, jagung manis, minyak goreng, parfum remaja, dan asap cabai yang entah kenapa terasa seperti ancaman.

Di antara semua keramaian itu, stand kelas XI-2 berdiri dengan spanduk besar berwarna merah menyala.

Tulisan di spanduk itu berbunyi:

SEBLAK ANTI GALAU
Kalau Masih Galau, Tambah Cabai

Di bawahnya, ada tulisan kecil yang sebenarnya tidak disetujui panitia kelas, tapi sudah telanjur dicetak:

Tidak menerima pembayaran pakai janji manis.

Kirana Putri menatap spanduk itu seperti sedang menatap nilai matematika yang turun sepuluh poin.

“Masih nggak masuk akal kenapa tulisan terakhir itu harus ada,” katanya.

Di sebelahnya, Jalu Prasetyo berdiri sambil memegang centong plastik, ekspresinya penuh kebanggaan.

“Branding, Ra.”

“Branding itu bukan alasan buat mempermalukan kelas sendiri.”

“Justru ini identitas. Kelas lain jual dimsum, es cokelat, takoyaki. Biasa. Kita jual pengalaman emosional.”

Kirana menarik napas panjang.

Satu tarikan napas yang kalau diterjemahkan kira-kira berbunyi: Tuhan, kuatkan aku menghadapi laki-laki ini selama satu semester lagi.

“Pengalaman emosional dari mana?” tanya Tara Maheswari sambil memasang jepit rambutnya yang sejak tadi turun terus. “Orang beli seblak, bukan daftar terapi.”

Jalu mengangkat centong seperti mikrofon.

“Justru di situlah letak inovasinya, Tar. Seblak kita bukan cuma makanan. Seblak kita adalah perjalanan batin.”

Manda Ayuningtyas muncul dari belakang stand dengan apron miring, rambut agak berantakan, dan wajah penuh percaya diri yang biasanya menjadi tanda bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang buruk.

“Betul,” kata Manda. “Setiap suapan adalah pengingat bahwa hidup memang pedas, tapi kita tetap harus mengunyah.”

Tara menatap Manda.

“Kamu habis makan cabai mentah, ya?”

“Sedikit.”

“Berapa?”

Manda berpikir sebentar.

“Tergantung definisi sedikit.”

Kirana langsung menoleh tajam.

“Manda.”

Manda tersenyum terlalu lebar.

“Empat.”

“Empat cabai?”

“Sendok.”

Tara menutup mulutnya. “Ya Allah.”

Jalu mengangguk pelan seperti dokter yang baru menerima kabar pasien sulit diselamatkan.

“Pantas tadi kuahnya bisa bikin sendok minta pensiun.”

Kirana memejamkan mata.

“Kita sudah bahas takaran cabai.”

“Sudah,” jawab Manda cepat. “Tapi Jalu bilang, ‘pedas itu relatif.’”

Jalu langsung menunjuk dirinya sendiri dengan centong.

“Sebentar, jangan menyudutkan saya. Saya bilang pedas itu relatif dalam konteks filsafat rasa, bukan untuk diaplikasikan ke panci ukuran hajatan.”

“Jalu,” kata Kirana pelan, “kamu yang masukin cabai tambahan?”

Jalu diam.

Diamnya Jalu adalah jawaban.

Tara langsung mundur satu langkah dari panci.

“Jadi ini seblak atau cairan penghapus dosa?”

Manda mengambil mangkuk kecil, mencicipi sedikit kuahnya, lalu wajahnya langsung berubah.

Senyumnya hilang.

Matanya berkaca-kaca.

Dia menatap langit.

“Indah.”

Kirana panik. “Indah gimana?”

“Seperti melihat masa depan.”

“Pedas banget?”

Manda mengangguk pelan.

“Aku bisa melihat arwah mantan gebetan Jalu.”

Jalu tersinggung. “Jangan bawa-bawa almarhum kisah cinta gue.”

“Dia belum meninggal, Lu. Dia cuma manggil kamu adik.”

“Justru itu lebih tragis.”

Di belakang mereka, Bima Arkananta mengangkat kamera.

Klik.

Satu foto terekam.

Manda dengan wajah merah karena cabai. Jalu dengan centong seperti senjata perang. Tara yang setengah tertawa setengah khawatir. Kirana yang terlihat seperti bendahara negara menghadapi krisis ekonomi.

Bima menurunkan kamera sedikit.

Dia tidak banyak bicara sejak tadi. Seperti biasa. Di antara mereka berlima, Bima memang paling sering hadir seperti tanda baca koma: tidak mencolok, tapi entah kenapa membuat semuanya terasa punya jeda.

Dia berdiri di sisi stand, mengenakan kaus panitia Festival Senja, kamera tergantung di leher, dan ekspresi datar yang membuat orang sulit menebak apakah dia sedang senang, bosan, atau memikirkan cara kabur.

Manda menoleh ke arahnya.

“Bim.”

“Hm?”

“Kamu habis foto aku?”

“Iya.”

“Untuk dokumentasi?”

Bima diam sebentar.

“Untuk bukti korban.”

Manda menunjuknya dengan sendok plastik.

“Mulut kamu irit, tapi sekalinya keluar nyebelin.”

Jalu menepuk meja stand.

“Setuju. Bima tuh kayak minimarket dekat sekolah. Kelihatannya tenang, tapi pas dicek, banyak kejutan.”

Bima menatap Jalu.

“Kamu pernah dilarang masuk minimarket?”

Jalu langsung tersinggung untuk kedua kalinya malam itu.

“Itu salah paham. Gue cuma nanya promo ayam geprek terlalu antusias.”

Tara tertawa.

Biasanya, kalau Tara tertawa, suasana jadi lebih ringan. Tawanya mudah menular. Jenis tawa yang membuat orang lain merasa diizinkan ikut bahagia, meskipun tidak tahu apa yang sedang lucu.

Tapi malam itu, tawa Tara terdengar cepat.

Sedikit terlalu cepat.

Kirana menyadarinya, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Manda juga menyadarinya, lalu pura-pura sibuk mengaduk panci.

Bima menyadarinya juga.

Ia menatap Tara sebentar, seperti hendak bertanya, tapi Tara sudah lebih dulu berbalik ke arah pengunjung.

“Ayo, ayo! Seblak anti galau! Pedasnya bisa disesuaikan dengan tingkat penyesalan!”

Seorang adik kelas berhenti di depan stand.

“Kak, level satu pedas banget nggak?”

Manda langsung maju.

“Level satu itu pedas manja. Kayak chat cuma ‘hehe’ padahal pengin bilang kangen.”

Adik kelas itu tampak bingung.

Jalu menyambung, “Level dua itu pedas mikir. Level tiga pedas sadar diri. Level empat pedas habis stalking. Level lima pedas melihat dia jalan sama orang lain.”

Adik kelas itu mundur setengah langkah.

Tara menepuk meja.

“Tenang, Dek. Itu cuma marketing. Level satu aman.”

Bima, dari belakang, berkata datar, “Aman untuk orang yang sudah punya tujuan hidup.”

Adik kelas itu makin pucat.

Kirana langsung menyikut Bima.

“Jangan bantu kalau hasilnya memperburuk keadaan.”

Bima mengangguk.

“Baik.”

Manda menahan tawa. “Bima kalau jualan tuh auranya kayak customer service di akhir zaman.”

“Setidaknya jujur,” kata Bima.

“Jujur boleh, tapi jangan sampai pelanggan merasa hidupnya dievaluasi.”

“Sulit.”

“Kenapa?”

Bima melirik panci seblak.

“Karena kuahnya memang menghakimi.”

Manda tertawa.

Kali ini Bima menatapnya sedikit lebih lama.

Tidak lama. Hanya beberapa detik. Tapi cukup lama untuk sesuatu yang seharusnya biasa saja.

Di depan stand, Festival Senja terus bergerak.

Musik dari panggung berganti lagu. Anak-anak kelas sebelah mulai berteriak karena lomba yel-yel. Lampion-lampion kecil di dekat lorong sebelah lapangan mulai dinyalakan satu per satu. Cahaya jingganya jatuh di wajah murid-murid yang lewat, membuat semuanya tampak hangat, hampir seperti adegan film.

Tapi tidak semua yang terlihat hangat terasa nyaman.

Di ujung lapangan, sebuah papan kayu berdiri di depan lorong panjang yang dihias lampion.

Tulisan di papan itu membuat banyak murid melambat saat lewat.

LORONG LAMPION
Pembukaan Kotak Kalimat Terakhir pukul 20.30

Di bawah tulisan itu, ada kertas kecil yang ditempel asal-asalan:

Datang kalau berani tahu.

Manda membaca tulisan itu dari jauh, lalu mendengus.

“Dramatis banget. Ini sekolah atau lokasi uji nyali?”

Jalu mengikuti arah pandangnya.

“Menurut gue, Kotak Kalimat Terakhir itu konsepnya serem.”

Tara mengambil gelas es teh. “Serem dari mana? Romantis kali.”

“Romantis kalau isinya bagus,” kata Jalu. “Kalau dapat kalimat ‘tolong balikin Tupperware mamaku’, gimana?”

“Itu kamu, Lu,” kata Kirana.

Jalu menoleh. “Kok nuduh?”

“Karena kamu punya sejarah tidak mengembalikan barang.”

“Itu bukan tidak mengembalikan. Itu peminjaman jangka panjang tanpa tanggal jatuh tempo.”

Kirana menatapnya datar.

“Nama lainnya maling kecil.”

Jalu memegang dada.

“Ketua kelas kalau ngomong memang tidak pakai rem.”

“Aku nggak galak. Kalian aja yang susah diatur.”

Manda, Tara, dan Jalu menjawab hampir bersamaan.

“Itu definisi galak, Ra.”

Bima tidak ikut menjawab.

Ia masih melihat Lorong Lampion.

Dari tempatnya berdiri, lorong itu tampak indah. Lampion-lampion kertas menggantung di kiri-kanan. Beberapa sudah menyala, beberapa masih gelap. Di ujung lorong, ada meja kecil tempat panitia OSIS menyimpan amplop-amplop anonim dari Kotak Kalimat Terakhir.

Tradisi Festival Senja.

Setiap siswa boleh mengirim satu kalimat untuk seseorang.

Bukan surat panjang.

Bukan puisi satu halaman.

Cuma satu kalimat.

Satu kalimat yang bisa terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat seseorang tidak bisa tidur semalaman.

Katanya, setelah Festival Senja, banyak hal berubah.

Ada yang pulang dengan status baru.

Ada yang pulang dengan hati patah.

Ada yang besoknya tidak lagi duduk di tempat yang sama.

Ada circle yang tetap utuh.

Ada juga yang pelan-pelan pecah, bukan karena bertengkar besar, tapi karena semua orang tiba-tiba terlalu hati-hati untuk tertawa seperti biasa.

Bima menatap lampion terakhir yang belum menyala di ujung lorong.

Entah kenapa, lampion itu terasa seperti hitungan mundur.

“Bim.”

Suara Kirana membuat Bima menoleh.

“Kamu belum makan dari tadi, kan?” tanya Kirana.

Bima menggeleng.

“Belum.”

Kirana mengambil satu mangkuk seblak dan menyodorkannya.

“Ini level satu. Jangan ambil dari panci yang Manda aduk tadi. Itu level pengadilan akhirat.”

“Terima kasih.”

Bima menerima mangkuk itu.

Kirana tersenyum kecil. Rapi, tenang, seperti biasa. Tapi matanya tidak setenang itu.

“Kamu nanti ke Lorong Lampion?” tanya Kirana.

Pertanyaan itu terdengar ringan.

Terlalu ringan.

Bima belum sempat menjawab ketika Tara muncul dari samping.

“Semua harus ke sana, dong. Biar seru.”

Tara tersenyum lebar, tapi tangannya memainkan sedotan es teh sampai bengkok.

“Kamu juga mau ke sana?” tanya Bima.

Tara mengangkat bahu.

“Lihat nanti. Tergantung semesta.”

Manda langsung menyahut dari belakang panci.

“Semesta lagi sibuk, Tar. Dari tadi ngurusin Jalu yang hampir masukin kecap ke es teh.”

Jalu membela diri, “Botolnya mirip!”

“Kecap botol besar, es teh teko bening,” kata Kirana.

“Mirip secara emosional.”

“Lu, berhenti ngomong sebelum aku masukkan kamu ke daftar pengeluaran kelas.”

Jalu langsung diam.

Manda tertawa lagi. Kali ini lebih keras dari yang diperlukan.

Lalu tiba-tiba, beberapa detik setelah tawa itu selesai, suasana di antara mereka berlima terasa jatuh.

Tidak ada yang langsung bicara.

Di depan stand, pengunjung masih ramai.

Di panggung, MC masih berteriak terlalu semangat.

Di sebelah mereka, kelas XI-4 sedang ribut karena colokan listrik mati.

Semua masih berjalan seperti biasa.

Tapi di meja stand seblak kelas XI-2, sesuatu terasa bergeser sedikit.

Seperti kursi yang tidak sengaja tersenggol.

Kecil.

Tapi terdengar.

Jalu memandangi mereka satu per satu.

Kirana yang pura-pura menghitung uang kembalian.

Tara yang sibuk mengaduk es teh padahal gelasnya sudah kosong.

Manda yang terlalu fokus pada panci.

Bima yang diam dengan mangkuk seblak di tangan.

Untuk pertama kalinya malam itu, Jalu tidak langsung bercanda.

Ia hanya berkata pelan, “Kalian kenapa, sih?”

Tidak ada yang menjawab.

Manda akhirnya mengangkat kepala.

“Kenapa apanya?”

“Ini,” kata Jalu sambil menunjuk udara di antara mereka. “Vibes-nya. Kok kayak grup keluarga habis ada yang bahas warisan?”

Tara tertawa kecil.

Kirana pura-pura tidak mendengar.

Bima menunduk ke mangkuknya.

Manda mengambil kerupuk dan melempar pelan ke arah Jalu.

“Vibes kamu aja yang miskin.”

“Gue serius.”

“Nah, itu yang bikin serem.”

Jalu menatap Manda lebih lama dari biasanya.

“Man, serius. Meja kita akhir-akhir ini aneh.”

Manda ingin menjawab dengan candaan lain. Sesuatu yang cukup konyol supaya pembicaraan itu hancur sebelum menjadi terlalu jujur.

Tapi untuk sepersekian detik, kata-katanya tidak keluar.

Bima melihat itu.

Dan seperti biasa, Bima melihat terlalu banyak.

Manda akhirnya tersenyum lebar.

“Meja kita aneh karena kamu masih punya utang gorengan.”

Jalu langsung menunjuknya.

“Nah! Fitnah ekonomi lagi!”

Kirana mengangkat alis. “Memang belum bayar, kan?”

“Belum, tapi itu karena sistem pembayaran kita belum jelas.”

“Bayar pakai uang.”

“Itu sistem kapitalis.”

Tara menepuk bahu Jalu.

“Lu, kadang aku kagum. Kamu tuh bisa salah, tapi tetap punya energi buat bikin seminar.”

Percakapan kembali pecah.

Manda tertawa.

Tara ikut tertawa.

Kirana menggeleng sambil tersenyum kecil.

Jalu kembali berisik.

Bima tetap diam.

Dari luar, mungkin mereka terlihat seperti biasa.

Lima orang yang terlalu sering bersama.

Lima orang yang menguasai satu meja kantin seolah-olah meja itu sudah tercatat di sertifikat keluarga.

Lima orang yang punya grup WA dengan nama berubah setiap minggu.

Awalnya: Bukan Circle, Cuma Kebetulan Sering Bareng.

Lalu berubah menjadi: Circle Aman Anti Baper.

Nama itu dibuat Manda, disetujui Jalu, ditentang Kirana karena “alay”, dipakai Tara karena “lucu”, dan dibaca Bima tanpa komentar.

Aturannya juga dibuat sambil bercanda.

Dilarang naksir anggota circle sendiri.

Yang baper bayar seblak satu meja.

Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.

Waktu itu mereka semua tertawa.

Karena waktu itu aturan itu terasa mustahil dilanggar.

Bima menatap Manda yang sedang berdebat dengan Jalu tentang apakah kerupuk bisa disebut sayur kalau direndam kuah.

Ia lalu menatap Kirana yang diam-diam membereskan uang receh supaya tidak berantakan.

Lalu Tara yang tersenyum kepada pengunjung, bahkan ketika matanya terlihat lelah.

Lalu kembali ke Manda.

Selalu kembali ke Manda.

Dulu Bima mengira ia memperhatikan semua orang dengan cara yang sama.

Kepada Kirana, ia membantu.

Kepada Tara, ia mendengarkan.

Kepada Jalu, ia berusaha bertahan hidup.

Kepada Manda—

Bima berhenti pada pikirannya sendiri.

Karena bagian itu tidak pernah sesederhana yang lain.

“Bim,” panggil Manda tiba-tiba.

Bima tersadar.

“Hm?”

Manda menyipitkan mata. “Kamu ngelamun?”

“Sedikit.”

“Mikir apa?”

Bima menatapnya.

Lampu dari stand memantul di wajah Manda. Rambutnya agak berantakan. Pipinya masih sedikit merah karena kuah seblak tadi. Apronnya miring. Di tangannya ada sendok plastik. Di belakangnya, spanduk absurd mereka berkibar pelan tertiup angin.

Manda terlihat seperti kekacauan kecil yang entah bagaimana membuat tempat itu terasa aman.

Bima hampir menjawab jujur.

Hampir.

Tapi dari arah Lorong Lampion, bel kecil berbunyi.

Tiga kali.

Ting.

Ting.

Ting.

Suara panitia OSIS terdengar dari pengeras suara.

“Perhatian untuk seluruh siswa SMA Garuda Bhakti. Pembukaan Kotak Kalimat Terakhir akan dimulai lima belas menit lagi di Lorong Lampion. Bagi penerima kalimat yang ingin mengetahui pengirimnya, silakan bersiap di area lorong.”

Keramaian lapangan berubah.

Bukan menjadi sepi, tapi menjadi berbeda.

Beberapa siswa langsung bersorak. Beberapa saling dorong malu-malu. Beberapa pura-pura tidak peduli, tapi wajahnya sudah merah. Ada yang langsung mengecek kantong, memastikan kertas kalimatnya masih ada. Ada juga yang tiba-tiba berjalan menjauh, seolah-olah tidak siap menghadapi satu kalimat yang mungkin bisa mengubah sisa semester.

Di stand XI-2, tidak ada yang bergerak.

Manda menurunkan sendoknya.

Tara berhenti tersenyum.

Kirana menggenggam ujung buku catatan kecilnya.

Jalu menatap mereka bertiga, lalu menatap Bima.

Bima melihat lampion terakhir di ujung lorong.

Sekarang lampion itu menyala.

Cahayanya kecil.

Tapi cukup untuk membuat dada Bima terasa sesak.

Katanya setelah festival ini, banyak yang berubah.

Bima dulu tidak terlalu percaya.

Baginya, perubahan biasanya datang pelan-pelan. Dari hal-hal kecil yang tidak langsung disadari. Dari chat yang mulai jarang dibalas. Dari tawa yang terdengar berbeda. Dari meja kantin yang tiba-tiba menyisakan satu kursi kosong.

Tapi malam ini, ia mulai takut rumor itu benar.

Ia bukan cuma takut perasaannya ketahuan.

Bukan cuma takut seseorang sakit hati.

Bukan cuma takut kalimat yang ia kirim akan sampai pada orang yang tepat.

Yang paling ia takutkan adalah sesuatu yang lebih sederhana.

Lebih kecil.

Lebih menyedihkan.

Ia takut tempat mereka pulang setelah jam istirahat tidak terasa seperti rumah lagi.

Manda tiba-tiba berkata, dengan suara yang dipaksakan ceria, “Oke. Siapa pun yang dapat kalimat paling alay malam ini harus bayar seblak.”

Jalu langsung mengangkat tangan.

“Kalau gue dapat kalimat tagihan gorengan lagi, itu masuk kategori alay atau kriminal?”

Tara tertawa pelan.

Kirana menghela napas, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Bima menatap Manda.

Manda menatap balik.

Hanya sebentar.

Lalu Manda memalingkan wajah lebih dulu.

Di antara suara musik, tawa murid-murid, aroma cabai, dan cahaya lampion, Bima akhirnya sadar satu hal.

Malam itu tidak datang tiba-tiba.

Semua yang terjadi di Festival Senja sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Jauh sebelum lampion dinyalakan.

Jauh sebelum Kotak Kalimat Terakhir dibuka.

Jauh sebelum mereka membuat aturan bodoh tentang siapa yang harus membayar seblak kalau ada yang baper.

Semuanya dimulai sekitar empat bulan lalu.

Saat mereka belum menjadi circle.

Saat Manda belum menjadi orang yang paling dicari di tengah keramaian.

Saat Kirana belum tahu bahwa diam bisa terasa nyaman.

Saat Tara belum sadar bahwa didengar bisa membuat hati berharap.

Saat Jalu masih mengira tugas konsumsi adalah jalan menuju kejayaan.

Dan saat Bima, untuk pertama kalinya, melihat seorang cewek menunjuk ke arahnya sambil berkata:

“Bima, kamu ini manusia apa fitur mode hemat daya?”

Jumat, 02 Januari 2026

Jangan Jatuh Cinta #3

*CHAPTER 3

Kabur Adalah Solusi (Menurut Arga)**

Arga mulai sadar:
sumpah anti-cinta itu tidak berfungsi di lingkungan sekolah.

Lebih tepatnya, tidak berfungsi kalau dia tetap jadi dirinya sendiri.

Dan masalah terbesar Arga adalah:
dia nggak bisa pura-pura jadi orang jahat.


Operasi: Hidup Biasa yang Gagal Total

Pagi itu, Arga berangkat dengan rencana matang.

“Hari ini aku akan:

  1. Tidak banyak bicara

  2. Tidak terlalu peduli

  3. Tidak memikirkan siapa pun”

Begitu sampai kelas…

Rani menyapanya duluan.

“Pagi, Arga!”

Arga kaget setengah mati.

“Pa—pagi.”

Nada suaranya terlalu lembut.
Itu kesalahan pertama.

Rani duduk agak dekat dari biasanya.

“Kamu kelihatan capek. Tidur jam berapa?”

Arga refleks jujur.

“Sekitar jam satu.”

Rani membulatkan mata.

“Hah? Kenapa?”

Arga hampir menjawab ‘karena mikirin hidup’, tapi cepat mengubahnya.

“Belajar.”

Rani tersenyum.

“Rajin banget.”

Dalam kepala Arga:

“KENAPA SEMUA KALIMAT BISA KEDENGERAN ROMANTIS.”


Guru, Kelompok, dan Kutukan Duduk Bareng

Guru Bahasa Indonesia masuk.

“Hari ini kita kerja kelompok. Empat orang per kelompok.”

Arga menelan ludah.

Guru menunjuk secara acak.

“Arga… Rani… Maya… Naya.”

Hening.

Suara bangku digeser terdengar kayak efek suara film horor.

Arga berdiri pelan.

“Bu… apa tidak bisa—”

“Tidak,” potong guru. “Sudah pas.”

PAS DARI MANA, BU. INI FORMASI AKHIR DUNIA.

Mereka duduk melingkar.

Rani langsung buka suara.

“Kita bagi tugas ya! Arga mau ngerjain bagian apa?”

Arga masih loading.

“E—eh…”

Maya menyela, tenang tapi menusuk.

“Arga cocok jadi ketua. Dia kelihatan bertanggung jawab.”

Arga tersedak udara.

“Aku nggak—”

Naya berbicara pelan.

“Kalau Arga nggak keberatan.”

Semua mata tertuju padanya.

Arga menyerah.

“…ya udah.”

Dalam hati:

“AKU TERJEBAK.”


Kejadian Kecil yang Jadi Besar di Kepala Arga

Saat diskusi, Naya menjatuhkan pulpennya.

Pulpen itu menggelinding… berhenti tepat di dekat kaki Arga.

Waktu melambat.

Arga mengambil pulpen itu.

Ujung jari mereka bersentuhan sebentar.

Sangat sebentar.

Tapi cukup.

Dalam kepala Arga:
panel komik muncul.
Teks besar:

“Detik di mana perasaan itu tumbuh.”

Flashback menyerbu.

Sekolah lama.
Sentuhan tangan.
Harapan palsu.
Kalimat “aku cuma nganggep kamu teman”.

Arga langsung menarik tangannya terlalu cepat.

Pulpen jatuh lagi.

“Eh—maaf,” katanya terlalu cepat.

Naya terlihat bingung.

“Nggak apa-apa.”

Rani melirik.
Maya memperhatikan.

Papan skor salah paham naik level.


Sudut Pandang Maya: Ini Menarik

Maya menyandarkan dagu ke tangan.

Dalam pikirannya:

“Dia gugup… tapi bukan karena bodoh. Karena peduli.”

Maya tidak suka hal yang setengah-setengah.

Dan Arga?
Dia penuh tanda tanya.

Maya tersenyum tipis.

“Kalau gitu, aku mau lihat sejauh apa dia kabur.”


Arga Mulai Menghilang

Sejak hari itu, Arga mengubah pola hidupnya.

  • Datang tepat bel masuk

  • Pulang paling cepat

  • Istirahat di perpustakaan

  • Menghindari kantin

  • Menghindari semua orang yang punya potensi dialog

Rani merasa aneh.

“Kok Arga jarang kelihatan ya?”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Dia menghindar.”

Naya… tidak bertanya.

Dan justru itu yang bikin Arga makin kepikiran.


Perpustakaan: Tempat Aman yang Ditembus Kenyataan

Arga duduk di pojok perpustakaan, membuka komik.

Balon dialog di komik:

‘Kadang, menjauh bukan berarti tidak peduli.’

Arga menutup buku itu cepat-cepat.

“Kok pas sih…”

Tiba-tiba, kursi di depannya ditarik pelan.

“Boleh duduk?”

Arga mengangkat kepala.

Naya.

Jantungnya jatuh dari lantai dua.

“Oh… silakan.”

Naya duduk, membuka buku pelajaran.
Hening.

Nyaman.

Terlalu nyaman.

Naya akhirnya bicara.

“Kamu menghindar ya?”

Arga panik.

“Hah? Nggak kok.”

Naya menatapnya sebentar.

“Oh.”

Tidak menuduh.
Tidak memaksa.

Dan itu lebih berbahaya daripada interogasi.

Arga berdiri tiba-tiba.

“Aku… ke toilet.”

Padahal tidak.

Dia kabur.


Arga vs Dirinya Sendiri

Di lorong, Arga menempel ke dinding.

Napasnya cepat.

“Kenapa sih aku begini…”

Flashback konyol terakhir muncul:
dirinya dulu, percaya senyum.
percaya perhatian.
percaya komik.

Arga memejamkan mata.

“Aku nggak mau sakit lagi.”

Di belakangnya, Naya berdiri, melihat Arga pergi.

Pelan, dia bergumam:

“Atau… kamu cuma takut.”


END OF CHAPTER 3


Kamis, 01 Januari 2026

Jangan Jatuh Cinta #2



## **CHAPTER 2


Kebaikan yang Disalahartikan Semesta**


Arga baru sadar satu hal penting di sekolah barunya.


**Menjadi cowok baik itu capek.**


Bukan capek fisik.

Capek **mental**.


Karena setiap kali dia berbuat baik, semesta seperti mencatatnya di papan skor raksasa:


> **ARGA +1 POIN SALAH PAHAM**


---


### **Insiden Pulpen Berdarah-darah (Tidak Benar-Benar Berdarah)**


Jam pelajaran kedua, suasana kelas agak kacau.


Guru Matematika belum datang.

Anak-anak ribut.

Pulpen beterbangan kayak migrasi burung.


Tiba-tiba terdengar suara pelan dari samping Arga.


> “Eh… maaf…”


Arga menoleh.


Cewek berkuncir dua, senyumnya cerah banget. Namanya **Rani**.


> “Pulpen aku habis tintanya. Boleh pinjem punyamu sebentar?”


Dalam kepala Arga langsung muncul panel komik.


Cewek menunduk malu.

Cowok menyerahkan pulpen.

Tangan bersentuhan.

Bunga sakura gugur padahal ini Indonesia.


Arga menutup mata sebentar.


> “Fokus. Ini bukan komik.”


Dia menyerahkan pulpen dengan dua tangan, kayak lagi menyerahkan ijazah.


> “Ini… pakai aja.”


Rani tersenyum makin lebar.


> “Makasih ya, Arga. Kamu tuh perhatian banget.”


Arga kaku.


> “Oh… biasa aja kok.”


Dalam hati:


> *“BAHAYA. INI KALIMAT PEMBUKA.”*


---


### **Sudut Pandang Rani (Yang Terlalu Optimis)**


Bagi Rani, Arga itu misterius.


Cowok yang:


* nggak pamer,

* nggak sok jago,

* tapi selalu ada.


Rani membatin:


> *“Cowok baik kayak gini biasanya cuma ada di drama.”*


Dia melirik Arga diam-diam.

Arga sedang menatap buku, serius, alisnya sedikit berkerut.


Rani tersenyum sendiri.


> *“Fix. Dia tipe setia.”*


Sementara itu, Arga:


> *“Kenapa dia senyum sendiri? Apakah aku salah apa?”*


---


### **Datangnya Maya, Energi Saingan**


Saat istirahat, Arga menuju kantin.


Misinya sederhana:


> makan → selesai → hidup berlanjut.


Belum juga duduk, seseorang sudah menarik kursi di depannya.


> “Boleh duduk?”


Suaranya tenang. Tegas.


Itu **Maya**.


Rambutnya rapi. Tatapannya tajam. Auranya seperti ketua OSIS atau CEO startup.


Arga refleks berdiri setengah badan.


> “Oh—silakan.”


Maya duduk, membuka bekalnya dengan rapi.


> “Kamu Arga, ya?”


Arga mengangguk.


> “Iya.”


> “Aku Maya.”


Hening dua detik.


Maya menatap Arga lurus-lurus.


> “Aku perhatiin kamu.”


Arga hampir keselek bakwan.


> “Hah?”


Maya melanjutkan santai:


> “Kamu bantu Rani tadi. Dan beberapa orang lain.”


Arga tertawa kering.


> “Oh… itu… kebetulan aja.”


Maya menyipitkan mata.


> “Kamu selalu bilang ‘kebetulan’ kalau berbuat baik?”


Arga tidak tahu harus jawab apa.


Dalam hati:


> *“KENAPA DIA TERLIHAT SEPERTI TOKOH SAINGAN CINTA DI KOMIK.”*


---


### **Naya: Tenang yang Bikin Goyah**


Saat Arga berdiri hendak pergi, seseorang menepuk pelan lengannya.


> “Arga.”


Itu Naya.


Nada suaranya lembut. Tidak memaksa.


> “Kamu ketinggalan penghapus.”


Dia menyerahkan penghapus kecil berwarna biru.


Arga menerimanya, jantungnya aneh.


> “Oh… makasih.”


Naya mengangguk.


> “Sama-sama.”


Tidak ada senyum berlebihan.

Tidak ada tatapan aneh.

Tidak ada kalimat *kamu baik banget*.


Dan justru itu… **bahaya**.


Arga menatap penghapus itu lama.


Dalam kepala muncul panel komik:

cowok menyimpan benda kecil pemberian cewek.


Arga langsung menggeleng kuat-kuat.


> “Stop. Stop. STOP.”


---


### **Flashback Konyol: Efek Salah Tafsir**


Penghapus biru itu memicu memori.


Flashback: sekolah lama.


Cewek lain memberikan permen.


> “Ini buat kamu.”


Arga menyimpannya di saku sepanjang hari.


Besoknya:


> “Eh, itu permen buat Dimas. Kamu jangan GR.”


Kamera imajiner zoom ke wajah Arga.

Tulisan besar:


> **JANGAN GR**


Arga kembali ke masa kini.

Menghela napas panjang.


> “Tenang. Ini cuma penghapus.”


---


### **Papan Skor Salah Paham Bertambah**


Sore hari, Arga pulang.


Dia membuka tas.

Komik romantis mengintip dari map.


Arga bergumam:


> “Hari kedua aja udah gini. Gimana sebulan?”


Di sisi lain kelas:


* Rani cerita ke temannya,


  > “Dia perhatian banget sama aku.”

* Maya berpikir,


  > “Cowok itu menarik. Dan aku nggak suka kalah.”

* Naya… hanya membaca buku, sambil sesekali menatap penghapus biru yang sama.


Dan Arga?


Dia duduk di kamar, membaca komik, lalu mendesah.


> “Kenapa dunia nyata makin mirip komik sih…”


---


**END OF CHAPTER 2**



Rabu, 31 Desember 2025

Jangan Jatuh Cinta! #1


## **CHAPTER 1


Cowok Biasa, Rahasia yang Tidak Keren**


Nama cowok itu **Arga Pradana**.


Kalau Arga berdiri di barisan cowok SMA, dia akan berada di posisi paling “iya, dia ada”.

Bukan yang paling ganteng.

Bukan yang paling jelek.

Tampangnya tipe yang kalau absen, guru harus mikir dua detik.


“Arga mana ya… yang rambutnya gitu?”


Rambutnya *gitu* juga nggak jelas gimananya.


Tapi Arga punya satu kelebihan fatal: **dia baik hati**.

Dan satu kelemahan super mematikan: **dia gampang baper**.


Gabungan ini ibarat menu combo diskon:


> *Gratis sakit hati berkali-kali.*


---


### **Rahasia Gelap di Dalam Tas**


Pagi itu, sebelum berangkat ke sekolah barunya, Arga duduk di kasur sambil menatap tasnya.


Di dalam tas itu ada buku tulis.

Ada pulpen.

Ada penghapus.

Dan ada sesuatu yang **harus disembunyikan dari dunia cowok-cowokan**.


Arga membuka resleting pelan-pelan, seperti sedang membuka peti harta karun… atau bom.


Di dalamnya ada **komik romantis**.


Judulnya:


> *“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk”*


Sampulnya warna pastel.

Ada gambar cowok dan cewek saling tatap, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran dunia nyata.


Arga menghela napas.


“Kenapa sih aku cowok tapi sukanya ginian…” gumamnya.


Dia mengambil komik itu, membukanya sebentar.


Balon dialog di komik:


> *‘Kalau ini kenyataan, aku akan menggenggam tanganmu.’*


Arga langsung menutupnya.


“STOP. Jangan kebawa perasaan. Ini jam tujuh pagi. Ini dunia nyata.”


Dia memasukkan komik itu ke dalam map cokelat polos, lalu ke dalam tas.


Sambil menepuk tasnya, Arga berkata dengan suara pelan tapi serius:


> “Tenang. Kita aman. Nggak ada yang tahu.”


Tas itu diam.

Tapi trauma Arga tidak.


---


### **Flashback yang Datang Tanpa Undangan**


Begitu Arga melangkah keluar rumah, pikirannya tiba-tiba ditarik ke masa lalu.


Sekolah lama.

Koridor panjang.

Seorang cewek berdiri di depannya.


Flashback itu muncul **tanpa permisi**, seperti iklan pop-up.


Cewek itu tersenyum manis.


> “Arga, kamu tuh baik banget, ya.”


Jantung Arga versi masa lalu langsung jungkir balik.


Dalam pikirannya:


> *“BAIK = BERARTI. BERARTI = SUKA. SUKA = PACARAN.”*


Arga tersenyum kikuk.


> “Hehe… makasih.”


Cewek itu mencondongkan badan, suaranya diturunkan.


> “Eh… kamu kenal Dimas, kan?”


Arga mengangguk. Dimas adalah sahabatnya. Ganteng. Tinggi. Hidupnya kayak iklan sampo.


> “Kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”


*BRUK.*


Hati Arga jatuh.

Mentalnya ikut nyemplung.


Flashback freeze.


Narator imajiner di kepala Arga:


> *“Dan di situlah, Arga belajar… jangan GR dulu.”*


Flashback lain menyusul.

Cewek lain.

Kalimat lain.

Akhirnya sama.


“Arga, kamu enak diajak curhat.”

“Arga, kamu tuh kayak kakak.”

“Arga, kamu baik… tapi…”


Kata *tapi* itu lebih tajam dari pisau dapur.


---


### **Sumpah di Gerbang Sekolah Baru**


Gerbang **SMA Harapan Bangsa** berdiri di depan Arga.


Gedungnya tinggi.

Muralnya cerah.

Aura “awal baru”-nya kental banget.


Arga berhenti sejenak.


Menarik napas.


Lalu berbicara pada dirinya sendiri seperti karakter utama film yang mau memulai hidup baru.


> “Oke, Arga. Dengerin gue.”


Dia mengangkat satu jari.


> “Di sekolah ini, lo **nggak boleh jatuh cinta**.”


Jari kedua.


> “Lo **nggak boleh baper**.”


Jari ketiga.


> “Lo **nggak boleh salah tafsir kebaikan orang**.”


Dia menatap lurus ke depan.


> “Lo cuma mau hidup normal. Masuk kelas. Pulang. Tamat.”


Hening.


Lalu Arga nambah pelan:


> “Dan baca komik romantis… **diam-diam**.”


Angin berhembus.

Bendera sekolah berkibar.

Semesta seolah tertawa kecil.


---


### **Hari Pertama yang Sudah Terlihat Mencurigakan**


Begitu masuk kelas, Arga langsung memilih bangku strategis:

tengah-tengah, tidak depan, tidak belakang.


“Posisi aman,” gumamnya.


Guru masuk.

Absen berjalan.


Saat istirahat pertama, seorang cewek menjatuhkan bukunya tepat di dekat kaki Arga.


Buku-buku itu berserakan.


Cewek itu panik.


> “Aduh—”


Refleks Arga bekerja lebih cepat dari logika.


Dia jongkok.


> “Eh, sini aku bantuin.”


Dia mengumpulkan buku satu per satu, menyerahkannya dengan rapi.


Cewek itu tersenyum.


> “Makasih ya. Kamu baik banget.”


Arga membeku.


Kata-kata itu **terlalu familiar**.


Dalam kepala Arga:


> *“JANGAN KE-GE-ER. JANGAN.”*


Dia tertawa kecil.


> “Oh… hehe… sama-sama.”


Cewek itu pergi.


Arga duduk kembali, menepuk dadanya sendiri.


> “Aman. Aman. Belum apa-apa.”


Dari bangku dekat jendela, seorang cewek lain memperhatikan Arga diam-diam.


Namanya **Naya**.


Dia tidak tersenyum berlebihan.

Tidak heboh.

Hanya menatap sebentar… lalu kembali membaca buku.


Dan entah kenapa, Arga merasa **tidak nyaman**.


Bukan tidak nyaman karena risih.


Tapi karena…

**terlalu tenang**.


Arga menelan ludah.


> “Nggak. Jangan. Ini baru hari pertama.”


Di dalam tasnya, komik romantis seakan bergetar pelan.


---


**END OF CHAPTER 1**



Petualangan Akira dan Kenzo: Rahasia Hutan Angin

Pagi itu, matahari bersinar cerah di halaman rumah Akira dan Kenzo. Burung-burung berkicau, dan angin berembus pelan membawa aroma rumput basah. Namun, suasana damai itu tidak berlangsung lama.


“Aku duluan!” teriak Akira, anak laki-laki berusia sembilan tahun, sambil berlari menuju sepeda birunya.


“Tidak bisa! Itu sepedaku hari ini!” balas Kenzo, adiknya yang berusia enam tahun, dengan wajah cemberut dan tangan menyilang di dada.


“Sepedamu yang kecil itu di sana,” kata Akira sambil menunjuk sepeda merah yang rodanya masih memakai roda bantu.


“Aku sudah besar!” Kenzo menendang kerikil kecil di tanah. Tok! Tok!


Ibu yang sedang menyiram tanaman menoleh dan tersenyum tipis. “Kalian berdua, berhenti bertengkar. Kalau terus ribut, nanti ibu suruh bereskan loteng.”


Akira dan Kenzo saling pandang. Loteng rumah mereka terkenal berdebu dan penuh barang lama. Tidak ada yang ingin ke sana.


“Baik, Bu,” jawab mereka hampir bersamaan.


Beberapa saat kemudian, karena bosan dan masih kesal satu sama lain, Akira punya ide. “Kenzo, daripada kita diam saja, bagaimana kalau… kita ke loteng?”


Kenzo membelalakkan mata. “Ke loteng? Bukannya itu menakutkan?”


“Justru seru,” kata Akira sambil tersenyum percaya diri. “Siapa tahu ada harta karun.”


Kenzo berpikir sejenak. Kata harta karun terdengar sangat menarik. Ia pun mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi kamu duluan.”


Mereka menaiki tangga kayu menuju loteng. Kriet… kriet… suara tangga berbunyi setiap kali diinjak. Debu beterbangan ketika Akira membuka pintu kecil di atas.


“Wah, gelap sekali,” gumam Kenzo sambil memegang baju kakaknya.


Akira menyalakan senter. Cahaya kecil itu menyingkap tumpukan kardus, koper tua, dan lemari kayu yang catnya sudah mengelupas.


“Ayo cari sesuatu,” kata Akira.


Kenzo mengangguk, lalu tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak kayu kecil. Bruk! Kotak itu jatuh dan terbuka. Di dalamnya ada selembar kertas tua yang terlipat rapi.


“Apa itu?” tanya Kenzo penasaran.


Akira mengambil kertas itu dengan hati-hati. “Seperti… peta.”


Mereka membentangkan kertas tersebut. Di sana tergambar gambar hutan, sungai kecil, dan sebuah tanda berbentuk bintang. Di pojoknya tertulis dengan huruf rapi:

Hutan Angin.”


“Hutan Angin itu di mana?” tanya Kenzo.


Akira mengingat-ingat. “Sepertinya dekat desa kita. Kakek pernah bercerita tentang hutan itu.”


Tiba-tiba, angin bertiup dari jendela kecil loteng, membuat peta itu berkibar pelan. Kenzo merinding.


“Akira… bagaimana kalau peta ini benar?” bisiknya.


Akira tersenyum, matanya berbinar. “Kalau benar, berarti ada petualangan menunggu kita.”


“Tapi… kalau berbahaya?”


“Kita bisa melakukannya bersama,” jawab Akira yakin.


Kenzo menatap kakaknya. Ia masih sering bertengkar dengan Akira, tetapi kali ini ia merasa sedikit berani. “Baik. Tapi kalau aku takut, kamu harus melindungiku.”


Akira mengangguk. “Setuju.”


Pagi berikutnya, Akira dan Kenzo bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul, dan cahaya lembutnya masuk melalui jendela kamar mereka. Di bawah bantal Akira, peta Hutan Angin tersimpan rapi.


“Kenzo, bangun,” bisik Akira sambil menggoyang bahu adiknya.


Kenzo mengucek mata. “Masih pagi sekali…”


“Petualangan tidak menunggu orang yang malas,” jawab Akira dengan nada serius, menirukan gaya pahlawan dalam buku cerita.


Kenzo langsung duduk. “Benar! Aku siap!”


Mereka mengenakan pakaian yang nyaman. Akira membawa tas kecil berisi botol minum, roti, dan senter. Kenzo membawa topi favoritnya, meski topi itu kebesaran dan sering menutup matanya.


Setelah berpamitan kepada ibu dengan alasan ingin bermain di dekat rumah, mereka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang desa. Jalan itu jarang dilewati orang. Rumput liar tumbuh di kanan kiri, dan pepohonan mulai tampak semakin rapat.


“Akira, kita sudah jauh belum?” tanya Kenzo sambil terengah-engah.


“Baru sedikit,” jawab Akira. “Lihat peta ini. Kita harus mengikuti aliran sungai kecil.”


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara gemericik air. Sebuah sungai jernih mengalir pelan di depan mereka. Di atas batu besar, ada tanda yang sama seperti di peta.


“Itu tandanya!” seru Kenzo gembira.


Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama. Untuk menyeberang, mereka harus melewati batang kayu yang sempit.


“Aku duluan,” kata Akira.


“Tidak! Aku juga mau duluan!” Kenzo maju ke depan.


“Kamu bisa jatuh!”


“Aku bisa!” Kenzo membalas sambil menginjak batang kayu itu.


Plup!


Kenzo hampir terpeleset. Akira cepat-cepat menarik tangannya.


“Kenzo! Sudah kubilang,” kata Akira dengan suara sedikit tinggi.


Kenzo menunduk. “Maaf…”


Akira menarik napas dan mengusap kepala adiknya. “Tidak apa-apa. Kita harus saling membantu.”


Mereka pun menyeberang dengan hati-hati, kali ini bersama-sama. Setelah itu, suasana berubah. Udara terasa lebih sejuk, dan angin berdesir lembut di antara pepohonan.


“Inikah Hutan Angin?” tanya Kenzo pelan.


Akira mengangguk. “Sepertinya iya.”


Daun-daun bergoyang meski tidak ada angin kencang. Bunyi whoosh terdengar seperti bisikan. Kenzo merapat ke sisi Akira.


“Aku tidak suka suara itu…”


“Tenang. Kita tetap bersama,” jawab Akira, meski sebenarnya ia juga merasa sedikit gugup.


Mereka melangkah lebih dalam hingga menemukan sebuah papan kayu tua bertuliskan:

“Siapa yang masuk harus berani dan jujur.”


Kenzo membaca pelan. “Berani dan jujur… maksudnya apa?”


Sebelum Akira sempat menjawab, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar di udara, dan tiba-tiba… peta di tangan Akira bersinar lembut.


“Akira…” bisik Kenzo.


“Sepertinya… petualangan kita benar-benar dimulai,” jawab Akira sambil menggenggam peta itu erat.


Di depan mereka, jalan bercabang dua. Satu tampak terang, satu lagi gelap dan penuh semak.


Kenzo menelan ludah. “Kita pilih yang mana?”


Akira menarik napas dalam-dalam sambil menatap dua jalan di hadapannya. Jalan yang terang terlihat aman, dengan tanah rata dan sinar matahari yang menembus pepohonan. Jalan yang gelap dipenuhi semak dan bayangan, seolah menyimpan banyak rahasia.


“Kita lewat yang terang saja,” kata Kenzo cepat. “Yang itu kelihatan menakutkan.”


Akira ragu sejenak. Ia membuka kembali peta tua itu. Anehnya, tanda bintang di peta justru mengarah ke jalan yang gelap.


“Kenzo,” kata Akira pelan, “peta ini menunjukkan jalan yang gelap.”


Kenzo membelalakkan mata. “Hah? Tapi aku takut…”


Akira berjongkok agar sejajar dengan adiknya. “Aku juga sedikit takut. Tapi kita kan bersama. Kalau kita ingin tahu rahasianya, kita harus berani.”


Kenzo terdiam. Angin berbisik pelan di antara daun-daun, seolah ikut mendengarkan. Akhirnya, Kenzo mengangguk kecil. “Baik… tapi kamu jangan meninggalkanku.”


“Tidak akan,” jawab Akira mantap.


Mereka pun melangkah ke jalan gelap. Semak-semak menyentuh kaki mereka, dan suara angin terdengar seperti bisikan pelan. Whoosh… whoosh…


“Apa hutan ini bisa bicara?” bisik Kenzo.


Akira hampir tertawa, tapi menahannya. “Mungkin itu hanya angin.”


Namun tiba-tiba, mereka mendengar suara krek! dari belakang. Kenzo menjerit kecil dan bersembunyi di balik Akira.


“Itu pasti monster!” katanya panik.


Akira menoleh cepat. Dari balik semak, muncul seekor rusa kecil. Matanya besar dan tampak terkejut.


“Oh… cuma rusa,” kata Akira lega.


Kenzo menghela napas panjang. “Aku kira… ah sudahlah.”


Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah lapangan kecil. Di tengahnya berdiri batu besar berbentuk lingkaran. Di atas batu itu terukir tulisan:


“Keberanian bukan berarti tidak takut,

tetapi tetap melangkah meski takut.”


Kenzo membaca tulisan itu dengan suara lirih. “Berarti… aku berani juga ya, Kak?”


Akira tersenyum. “Iya. Kamu sangat berani.”


Tiba-tiba, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar mengelilingi batu. Dari tengah pusaran angin, terdengar suara lembut.


“Kalian telah memilih dengan hati yang jujur.”


Kenzo memegang tangan Akira erat-erat. “Akira… ada yang bicara!”


“Tenang,” jawab Akira, meski jantungnya berdebar. “Kita dengarkan.”


“Namun perjalanan belum selesai,” lanjut suara itu. “Kalian harus belajar satu hal lagi: bekerja sama.”


Angin berhenti. Di hadapan mereka muncul jalan sempit yang harus dilalui bersama. Di kiri kanan terdapat parit kecil berisi air.


“Kita tidak bisa lewat sendirian,” kata Kenzo.


Akira mengangguk. “Kita harus saling membantu.”


Mereka berjalan perlahan, saling berpegangan tangan. Beberapa kali Kenzo hampir terpeleset, dan Akira segera menahannya. Saat Akira kehilangan keseimbangan, Kenzo justru yang menariknya.


“Aku kuat juga, kan?” kata Kenzo dengan bangga.


“Iya,” jawab Akira sambil tertawa kecil. “Ternyata kamu bisa menolongku.”


Akhirnya, mereka sampai di ujung jalan. Di sana, peta kembali bersinar lebih terang dari sebelumnya. Tanda bintang kini tampak sangat dekat.


Kenzo menatap ke depan dengan mata berbinar. “Kak… sepertinya tujuan kita sudah dekat.”


Akira mengangguk. “Satu langkah lagi.”


Akira dan Kenzo melangkah perlahan mengikuti cahaya dari peta. Cahaya itu membawa mereka ke sebuah tempat yang sangat tenang. Pepohonan di sekeliling tampak lebih tinggi dan rapi, seolah menjaga sesuatu yang berharga. Angin berembus lembut, tidak lagi berbisik, melainkan terasa seperti menyapa.


Di tengah tempat itu berdiri sebuah pohon besar dengan batang kokoh dan daun yang selalu bergerak pelan, meski udara tampak diam. Akar-akarnya menjalar seperti tangan yang kuat namun ramah.


“Ini pasti tempatnya,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk. “Pohon itu… seperti hidup.”


Mereka mendekat. Di batang pohon, terdapat ukiran berbentuk bintang—sama persis dengan tanda di peta. Di bawahnya tertulis:


“Harta terbesar bukanlah yang dapat disimpan,

melainkan yang dapat dijaga bersama.”


Kenzo mengernyitkan dahi. “Di mana hartanya, Kak? Tidak ada emas.”


Akira juga bingung. Ia menoleh ke sekeliling. Tidak ada peti, tidak ada benda berkilau. Hanya pohon besar, angin, dan keheningan.


Tiba-tiba, angin berhembus lebih kuat, namun terasa hangat. Suara lembut yang pernah mereka dengar kembali terdengar.


“Kalian telah sampai,” kata suara itu. “Apakah kalian tahu mengapa Hutan Angin memilih kalian?”


Kenzo menelan ludah. “Karena… kami berani?”


“Dan karena kalian belajar bekerja sama,” tambah Akira.


Suara itu terdengar seperti tersenyum. “Benar. Namun ada satu hal lagi.”


Angin berputar lembut mengelilingi mereka. Kenzo tanpa sadar memegang tangan Akira. Untuk pertama kalinya hari itu, mereka tidak bertengkar sama sekali.


“Kalian sering bertengkar,” lanjut suara itu, “tetapi kalian selalu kembali bersama. Hutan Angin menjaga anak-anak yang mau belajar saling memahami.”


Akira terdiam. Ia teringat semua pertengkaran kecil dengan Kenzo—tentang sepeda, mainan, dan hal-hal sepele.


“Maafkan aku, Kenzo,” kata Akira tiba-tiba. “Aku sering merasa paling benar.”


Kenzo menatap kakaknya, lalu tersenyum kecil. “Aku juga sering keras kepala. Tapi… aku senang punya Kakak.”


Angin berhenti berputar. Daun-daun di pohon besar itu jatuh satu per satu, lalu berubah menjadi cahaya kecil yang hangat. Cahaya itu menyelimuti Akira dan Kenzo, membuat hati mereka terasa ringan.


“Ini adalah harta Hutan Angin,” kata suara itu perlahan. “Keberanian, kerja sama, dan kasih sayang.”


Cahaya meredup. Peta di tangan Akira berubah menjadi kertas kosong.


“Hah? Petanya hilang!” seru Kenzo.


Akira tersenyum. “Sepertinya kita sudah tidak membutuhkannya lagi.”


Mereka berjalan pulang menyusuri jalan yang terasa lebih singkat dari sebelumnya. Ketika keluar dari hutan, matahari sudah mulai condong ke barat.


“Akira,” kata Kenzo sambil melangkah di samping kakaknya, “kalau besok kita bertengkar lagi…”


Akira tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Yang penting, kita ingat hari ini.”


Mereka pulang dengan langkah ringan dan hati yang hangat. Hutan Angin kembali sunyi, menyimpan rahasianya, menunggu anak-anak lain yang siap belajar tentang arti petualangan yang sesungguhnya.


Tamat. 🌿✨

Akira & Kenzo - Robot Penjaga Galaksi




Akira berusia 9 tahun dan merasa dirinya sudah sangat dewasa.

Menurut Akira, umur 9 itu artinya:


boleh sok jago,


boleh banyak tahu,


dan tidak perlu mendengarkan adik.


Kenzo berusia 6 tahun dan yakin satu hal:

kakaknya itu nyebelin.


Pagi itu, Akira sedang serius menyusun robot dari balok-balok mainan di ruang tengah.


“JANGAN DIPEGANG,” kata Akira tegas sambil jongkok.


Kenzo yang duduk di sebelahnya mengangguk…

lalu menyentuhnya sedikit.


“Kenzo!”

“Cuma dikit.”

“DIKIT ITU MERUSAK KESEIMBANGAN ROBOT!”


Robot balok itu akhirnya roboh dengan bunyi prak!


Kenzo terdiam.

Akira menutup wajahnya.


“Itu robot penjaga galaksi,” kata Akira sedih.

“Galaksi apa?” tanya Kenzo.

“Galaksi… ya galaksi!”


Kenzo berpikir sebentar, lalu berkata pelan,

“Kalau roboh, berarti galaksinya kalah ya?”


Akira berdiri.

“Itu bukan kalah. Itu—”


Belum sempat selesai, Kenzo sudah tertawa keras.


Akira mengejar Kenzo mengelilingi rumah.

Mereka berlari, teriak, hampir menabrak sofa, dan akhirnya ditegur ibu.


“Akira, Kenzo! Jangan ribut!”


Keduanya langsung diam.

Akira duduk di sofa dengan tangan menyilang.

Kenzo duduk di lantai sambil manyun.


Beberapa menit kemudian, listrik tiba-tiba mati.


Rumah jadi agak gelap dan sunyi.


Kenzo mendekat ke Akira tanpa bilang apa-apa.

Akira melirik… lalu tidak menjauh.


“Kalau gelap gini,” kata Kenzo pelan,

“robot penjaga galaksi masih kerja nggak?”


Akira terdiam sebentar.

“Masih,” jawabnya.

“Tapi… butuh asisten.”


Kenzo tersenyum kecil.


Dan untuk pertama kalinya hari itu,

mereka tidak bertengkar selama lima menit penuh.


Listrik sudah menyala kembali, tapi suasana rumah masih terasa sepi.

Ibu sedang di dapur, ayah di kamar kerja.


Akira menatap robot baloknya yang roboh.

Kenzo duduk di sampingnya, memegang satu balok merah.


“Kalau kita bikin lagi,” kata Kenzo hati-hati,

“aku nggak sentuh yang penting.”


Akira menghela napas seperti orang dewasa yang sangat sabar.

“Baik. Tapi kamu cuma pegang balok merah.”


Kenzo mengangguk kuat-kuat.


Mereka menyusun bersama.

Ajaibnya, robot itu berdiri lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ini namanya Robot Penjaga Galaksi Super,” kata Akira bangga.

“Kenapa super?”

“Karena ada balok merah.”


Kenzo tersenyum lebar.


Tiba-tiba terdengar suara bruk dari kamar mereka.


Kenzo langsung memegang tangan Akira.

“Suara apa itu?”


Akira menelan ludah.

“Paling… angin.”


Padahal jendela tertutup.


Sebagai kakak, Akira tahu satu hal:

kalau dia takut, dia nggak boleh kelihatan takut.


“Misi rahasia,” katanya.

“Kita cek bersama.”


Mereka berjalan pelan ke kamar.

Lampu kamar menyala, tapi tidak ada siapa-siapa.


Kenzo menunjuk ke bawah tempat tidur.

“Ada bayangan…”


Akira jongkok perlahan dan mengintip.


Ternyata…

bola karet Kenzo yang menggelinding sendiri karena kipas angin.


Kenzo tertawa keras.

Akira ikut tertawa, meski pipinya agak merah.


“Ternyata bukan monster,” kata Kenzo.

“Monster itu nggak pakai bola,” jawab Akira.


Mereka duduk di lantai kamar, bersandar di tempat tidur.


“Kalau aku takut,” kata Kenzo pelan,

“aku pegangan kakak ya.”


Akira terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Iya. Tapi jangan bilang siapa-siapa.”


Kenzo tersenyum.


Dari balik pintu, ibu memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.


Hari itu, Akira dan Kenzo belajar satu hal penting,

meski mereka belum tahu namanya:


bertengkar itu biasa,

tapi saling jaga itu lebih penting.


Pagi itu terasa aneh bagi Akira.


Rumah terlalu sepi.


Biasanya ada suara Kenzo:


menyanyi lagu yang salah lirik,


menjatuhkan sendok,


atau berteriak minta ditemani ke kamar mandi.


Tapi pagi ini… tidak ada.


“Ibu,” tanya Akira sambil mengenakan sandal,

“Kenzo ke mana?”


Ibu menjawab dari dapur,

“Kenzo ikut Tante Mira sebentar. Nanti sore pulang.”


Akira mengangguk.

Harusnya dia senang.

Tidak ada yang mengganggu.

Tidak ada yang rebut mainan.


Tapi…

kenapa dadanya terasa kosong?


Akira bermain sendiri.

Menyusun robot.

Membaca buku.


Semua terasa tidak seru.


Robotnya berdiri tegak, tapi Akira tidak tersenyum.

Biasanya Kenzo yang bertepuk tangan dan berkata,

“Wah, hebat!”


Siang hari, Akira duduk di bawah meja makan.

Itu tempat rahasia mereka.


Akira baru sadar:

tempat itu terasa terlalu besar kalau sendirian.


Sore pun datang.


Akira duduk di dekat pintu, pura-pura mengikat tali sepatu…

padahal menunggu.


Akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


“AKIRAAA!”


Kenzo berlari dan langsung memeluk kakaknya.


Akira kaget…

lalu memeluk balik.


“Jangan lama-lama pergi lagi,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk.

“Kalau pergi, aku bawain oleh-oleh.”


Mereka tertawa.


Malam itu, Akira membagi robot penjaga galaksi menjadi dua.


“Yang ini punyamu,” katanya.

“Yang itu punyaku.”


Kenzo memandang kakaknya heran.

“Kenapa dibagi?”


Akira tersenyum kecil.

“Supaya galaksinya aman.”


Dan sejak hari itu,

Akira dan Kenzo masih sering bertengkar…


Tapi mereka juga tahu,

mereka adalah satu tim.


🌟 Tamat



Rabu, 06 Agustus 2025

Soal Matematika BTD Pakai Bar Model




Soal:

1. Harga Tack Shooter lebih mahal $300 daripada Dart Monkey. Jika Dart Monkey $250, berapa harga Tack Shooter?

2. Harga 2 Ninja Monkey dan 1 Sniper Monkey totalnya $1.400. Jika Ninja Monkey $500, berapa harga Sniper Monkey?

3. Harga Wizard Monkey dan Alchemist totalnya $1.000. Jika Alchemist lebih mahal $200, berapa harga masing-masing?

4. Harga 2 Boomerang Monkey sama dengan harga 1 Spike Factory. Jika Boomerang Monkey $600, berapa harga Spike Factory?

5. Harga Ice Monkey dan Tack Shooter totalnya $1.400. Tack Shooter lebih mahal $200 dari Ice Monkey. Berapa harga masing-masing?

6. Upgrade Apache Dartship dan Stronger Stimulant totalnya $16.000. Apache Dartship lebih mahal $14.000. Berapa harga masing-masing upgrade?

7. Harga 3 Dart Monkey dan 2 Sniper Monkey totalnya $1.500. Jika Dart Monkey $200, berapa harga Sniper Monkey?

8. Harga Banana Farm lebih mahal 3× harga Ice Monkey. Jika total keduanya $2.000, berapa harga masing-masing?

9. Harga Alchemist dan Druid totalnya $1.800. Alchemist lebih mahal $400 dari Druid. Berapa harga masing-masing?

10. Harga 2 Wizard Monkey dan 3 Ninja Monkey totalnya $3.300. Jika Ninja Monkey $700, berapa harga Wizard Monkey?


Kunci Jawaban:

  1. Tack Shooter = $550
  2. Sniper Monkey = $400
  3. Wizard = $400, Alchemist = $600
  4. Spike Factory = $1.200
  5. Ice = $600, Tack Shooter = $800
  6. Apache = $15.000, Stronger = $1.000
  7. Sniper Monkey = $450
  8. Ice Monkey = $500, Banana Farm = $1.500
  9. Druid = $700, Alchemist = $1.100
  10. Wizard = $600


Rabu, 25 Juni 2025

Sora

 


Bab 1: Tatapan Pertama, Bukan Jatuh Cinta

Aku pertama kali melihat Sora di perpustakaan. Dia duduk diam, fokus membaca, tidak terganggu oleh siapa pun. Aku tidak langsung jatuh cinta. Aku justru penasaran-bagaimana bisa seseorang terlihat sekuat itut anpa harus berbicara banyak? Aku mencoba menyapa, tapi dia hanya menjawab seperlunya. Tapi justru di situlah awalnya. Aku tidak ingin mendekatinya, aku ingin menghormatinya.

Bab 2: Belajar Menghargai, Bukan Mengejar

Semakin aku mengenal Sora, aku sadar bahwa dia bukan seseorang yang bisa disentuh dengan rayuan. Diat idak butuh pujian, tidak butuh perhatian setengah hati. Maka aku belajar-untuk hadir tanpa mengganggu.

Aku bicara kalau penting. Aku bantu kalau diminta. Dan ketika aku menyadari perasaanku tumbuh, aku memilih pergi... untuk memperbaiki diri, bukan memaksakan hubungan.

Bab 3: Janji Diam-Diam

Saat aku pergi ke luar kota untuk pelatihan beasiswa, aku tidak bilang akan kembali untuknya. Tapi dalam hati, aku tahu: kalau aku pulang, aku akan datang bukan sebagai lelaki yang sama. Aku akan datang dengan niat, kesiapan, dan tekad untuk menjadi pemimpin yang bisa dia percaya.

Bab 4: Datang dengan Tangan Penuh

Dua tahun kemudian, aku kembali. Dia masih sama. Kuat, tenang, dan logis. Tapi aku tahu, dia juga lebih terbuka. Aku tidak membawa cincin saat itu. Aku membawa payung dan map berisi rencana hidup. Dan saat dia bilang, 'Datanglah ke rumahku, kita harus bicara panjang,' aku tahu... inilah waktunya.

Bab 5: Dia Bilang 'Sayang'

Menikah dengan Sora bukan kisah cinta dramatis. Tapi setiap hari bersamanya adalah pelajaran tentang bagaimana mencintai dengan cara yang dewasa. Hari pertama menikah dia ngajarin aku nyetrika. Hari ketiga kami adu siapa yang lebih rapi cuci piring. Dan hari ke-10... dia panggil aku 'sayang' sambil ketawa kecil.

Bukan romantis yang biasa, tapi itulah momen paling manis sepanjang hidupku.

-------

Bab 1: Mereka yang Tak Saling Cari

Sora dan Keisuke adalah dua orang yang sangat berbeda dari pasangan romantis di film. Mereka tidakp ernah pacaran, tidak suka basa-basi manis, dan punya prinsip masing-masing yang teguh. Tapi justru itulah yang mempertemukan mereka-bukan karena saling mencari, tapi karena sama-sama bertahan. Keisuke menghormati batasan Sora, dan Sora mulai membuka ruang bagi niat yang tidak asal datang.

Bab 2: Janji yang Diam-diam Ditepati

Ketika Keisuke pergi untuk melanjutkan studi, ia tidak berjanji untuk kembali membawa cinta, tapi membawa kesiapan. Dua tahun kemudian, ia kembali. Tidak untuk mengulang cerita lama, tapi untuk memulai yang baru. Sora tidak langsung menerima, tapi ia tidak lagi menolak. Karena kali ini, niat datang lebih dulu daripada rasa.

Bab 3: Rumah Kecil, Cinta Besar

Mereka menikah tanpa pernah saling 'nembak'. Rumah mereka kecil, tapi setiap tawa yang lahir di dalamnya terasa luas. Dari nyetrika gosong, masakan gagal, hingga kompetisi siapa paling cepat nyuci piring, semuanya jadi kenangan. Cinta mereka bukan tentang kata-kata manis, tapi kerja sama diam-diam yang saling menjaga satu sama lain.

Bab 4: Mita dan Cermin yang Jujur

Mita, sahabat Sora, awalnya bingung. Sora yang dulu dingin sekarang hangat. Tapi justru itulah yang membuatnya percaya, bahwa mungkin cinta tidak harus selalu bikin jantung deg-degan-kadang cinta adalah tempat kamu bisa jadi diri sendiri tanpa takut salah.

Bab 5: Jalan Pulang yang Sama

Ketika Sora dan Keisuke duduk di teras rumah sambil minum teh, mereka tahu: cinta bukan tentang memulai paling cepat. Tapi tentang siapa yang bertahan paling dalam. Dan Mita? Kini sedang menulis novel ini-bukan untuk bercerita soal orang lain, tapi untuk mengingat bahwa cinta logis pun bisa bikin hati meleleh.


----------

Bab 1: Aku Bukan Anti Cinta, Aku Anti Drama

Dulu, aku selalu dibilang dingin. Padahal aku cuma gak mau terjebak hubungan tanpa arah. Pacaran? Enggak. Aku percaya cinta itu harusnya serius dari awal. Makanya waktu Keisuke mulai muncul, aku gak langsung tertarik. Aku hanya memperhatikan. Dia beda, tapi aku tetap jaga jarak. Karena bukan dia yang pertama tertarik padaku... dan aku gak mau dia jadi yang pertama patah hati juga.

Bab 2: Batasan yang Menguji

Keisuke gak pernah maksa ngobrol. Dia hadir tanpa ganggu, bantu tanpa pamer. Itu aneh buatku-karena aku terbiasa dengan cowok yang sok ramah padahal cuma modus. Tapi Keisuke beda. Dan justru itu bikin aku bingung: kalau dia beneran tulus, kenapa aku takut berharap?

Bab 3: Saat Dia Pergi

Dia bilang mau lanjut studi. Aku kira dia akan pergi dan lupa. Tapi ternyata enggak. Dia pamit baik-baik. Gak janji akan kembali. Tapi cara dia pamit... bikin aku percaya. Kalau dia datang lagi, mungkin bukan sebagai teman biasa. Tapi sebagai seseorang yang siap ambil peran lebih besar di hidupku.

Bab 4: Waktu yang Ditunggu

Dua tahun berlalu. Aku berubah. Lebih terbuka, lebih berani bilang 'kangen' ke sahabatku, Mita. Dan tiba-tiba... dia muncul. Bawa payung. Bawa map. Bawa niat. Bukan rayuan. Aku gak langsung bilang iya. Tapi aku ajak dia ke rumah. Karena bicara serius soal hidup... tempatnya memang di rumah, bukan di kafe.

Bab 5: Aku Istrinya

Sekarang... aku bangun tiap pagi, bukan sebagai cewek anti pdkt lagi. Tapi sebagai istri. Dan suamiku? Orang yang dulu aku tolak-tolak diam-diam, sekarang malah aku suapin waktu dia sakit. Cinta itu bukan soal deg-degan tiap hari. Tapi tenang, paham, dan tumbuh sama-sama. Dan akhirnya... aku bisa bilang 'sayang' tanpa takut, karena aku tahu: dia datang bukan buat main-main.


Senin, 23 Juni 2025

Figuran di Dunia Inso's Law



Judul: Figuran di Dunia Inso's Law

Bab 1: Webtoon, Gombalan, dan Portal Tak Masuk Akal

“Galih,” kata Feni sambil mengangkat alis, “kamu sadar nggak sih, semua cowok di Inso’s Law itu kayak nyimpen mesin kabut buat bikin suasana dramatis?”

Galih duduk di sampingnya di sofa, berselimut selimut tipis, menatap layar tablet yang sedang memutar episode terbaru dari webtoon favorit Feni. “Itu fog machine batin, Fen. Aktif kalau hatinya berkabut.”

Feni mencibir. “Halah, sok puitis.”

Galih menatapnya sebentar, lalu berkata sambil menggigit roti sobek:
“Kalau kita masuk ke dunia kayak gini, kamu bakal langsung dikerubungin cowok ganteng semua.”

Feni mengangkat dagu. “Terus aku akan tolak mereka semua karena... aku udah nikah.”

Galih nyengir. “Dan karena kamu anti gombal?”

Feni menunjuk dia dengan telunjuknya. “Nah, itu. Makanya jangan coba-coba gombal.”

Galih pura-pura berpikir. “Berarti nggak boleh bilang ‘kalau aku figuran, kamu adalah seluruh naskahku’?”

Feni langsung melempar bantal ke mukanya.

“DASAR, GOMBAL HALUS!”

Tiba-tiba layar tablet mereka berkedip terang. Muncul tulisan:

[Error: Peran ganda terdeteksi.
Menyesuaikan jalur figuran.]

Galih memicingkan mata. “Eh? Ini efek baru?”

Seketika ruang tamu mereka bergetar. Angin berembus. Lampu kedap-kedip. Semuanya seperti...

Cut to black.


Bab 2: Selamat Datang di SMA Webtoon

Galih membuka mata pertama kali. Ia berdiri di depan gedung sekolah besar, modern, dengan langit sky blue dan efek kelopak bunga beterbangan. Seragam SMA Korea yang licin dan rapi menempel di tubuhnya.

Di sampingnya, Feni mengenakan seragam perempuan dengan pita merah muda dan ekspresi sangat tidak sabar.

“INI APAAN SIH?” Feni nyaris teriak. “Kita... beneran masuk ke webtoon ini?!”

Galih melihat sekeliling, lalu ke dirinya sendiri. “Aku... jadi siswa SMA lagi? Serius?”

Tiba-tiba muncullah panel transparan seperti hologram game RPG:

Nama: Galih
Peran: Figuran pendiam, suka duduk di balkon sekolah sambil membaca novel cinta dan memikirkan ending alternatif.
Kemampuan: Komentar nyeleneh yang bikin tokoh utama mikir ulang hidupnya.

Nama: Feni
Peran: Sahabat ekspresif tokoh utama perempuan.
Kemampuan: Cerita tanpa titik koma, anti gombal, tapi semua cowok penasaran.

Feni membaca deskripsinya dan langsung mengangkat alis. “Kenapa karakterku kayak influencer gagal yang hidup buat komentar?”

Galih menghela napas. “Ya mending daripada aku yang duduk sendirian di balkon dan jadi ‘pencetus momen perenungan tokoh utama.’”

Tiba-tiba tiga cowok super tampan lewat di lorong.
Yang satu dingin dan tajir.
Yang satu lucu dan ceria.
Yang satu sinis tapi secretly penyayang.

Dan seperti hukum Inso’s Law, mereka semua berhenti... untuk melihat seorang cewek manis dan lugu yang baru datang—tokoh utama.

“Gue beneran di semesta klise,” gumam Feni. “Tinggal tunggu adegan rebutan payung.”

Galih melirik Feni. “Menurutmu kalau aku lempar payung ke cowok-cowok itu, sistem bakal error?”

Feni menoleh cepat. “Jangan ganggu skenario. Kita di sini cuma figuran.”

Galih tersenyum kecil. “Tapi figuran juga bisa jatuh cinta... ulang.”

Feni mengernyit. “Jangan mulai.”

“Bukan gombal, serius. Maksudku... di dunia baru ini, kita bisa jatuh cinta lagi. Ngulang semuanya dari nol. Kayak re-run.”

Feni menatapnya. “Ya asal jangan pakai kata-kata kayak, ‘Kamu bukan tokoh utama, tapi kamu pusat semestaku.’”

Galih pura-pura kecewa. “Padahal aku udah nyiapin itu buat nanti malam.”

Feni melempar binder ke arahnya.


Bab 3: Klub Figuran dan Naskah yang Mulai Retak

Galih dan Feni akhirnya bergabung dalam “klub figuran” sekolah: ruang kecil di pojokan lantai 3, isinya siswa-siswa latar belakang yang sudah sadar bahwa mereka hidup di dunia webtoon.

Feni langsung akrab dengan semua anggota, mendebat soal plot dan nyinyir tentang logika dunia ini. Galih, di sisi lain, mulai membuat peta hubungan antar tokoh, lengkap dengan teori konspirasi bahwa tokoh utama sebenarnya punya AI yang ngatur jalan cerita.

Di tengah semua itu, perlahan mereka menyadari sesuatu yang aneh: sistem mulai berubah.
Dialog tokoh utama mulai terdengar kaku.
Adegan klasik mulai gagal—seperti tidak ada payung saat hujan, atau tokoh cowok utama lupa reaksi gombalnya.
Dan yang paling mencurigakan...

Tokoh utama cewek mulai sering curhat ke Feni.

Feni menatap Galih dengan serius, “Apa jangan-jangan aku... mulai jadi tokoh utama baru?”

Galih menyeringai. “Kalau iya, boleh dong aku naik pangkat dari figuran jadi love interest.”

Feni memelototinya. “SATU GOMBAL LAGI DAN GUE PILIH COWOK SINIS ITU BUAT NGGANTIKAN KAMU.”

Galih angkat tangan. “Oke. Tapi kamu tahu kan, cuma aku yang tahu kamu paling benci disuapin dari sisi kiri.”

Feni terdiam. Pipinya memerah.
“Bukan gombal, ya?”
“Fakta.”





Minggu, 15 Juni 2025

Suara yang Tertinggal - Chapter 1 — Hari Tanpa Dialog

Judul: "Suara yang Tertinggal"



Chapter 1 — Hari Tanpa Dialog

Tak ada yang benar-benar mengenalnya.

Bahkan orang-orang yang melewatinya setiap hari di halte bus, atau yang duduk bersisian dengannya saat makan siang di kantin kantor, hanya tahu bahwa namanya Arvin dan dia tidak bicara banyak. Atau malah, nyaris tidak pernah bicara sama sekali.

Dia datang tepat waktu. Dia mengangguk jika dipanggil. Dia mengerjakan tugas tanpa pernah bertanya. Tidak pernah protes. Tidak pernah mengeluh.

Tapi juga, tidak pernah benar-benar hadir.

Hari itu, hujan turun seperti biasa—datar dan malas. Arvin duduk di dalam bus kota dengan wajah menghadap jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di tangannya ada buku catatan yang selalu ia bawa, tapi tak banyak yang tahu, bukunya hampir penuh. Isinya bukan to-do list atau laporan kerja, tapi... dialog.

Dialog yang tidak pernah ia ucapkan.


"Maaf, aku sebenarnya ingin bilang bahwa desainmu kemarin sangat bagus."
"Apakah kamu juga sering merasa kesepian di ruangan penuh orang?"
"Bisakah kamu ajarkan caranya bicara... tanpa gemetar?"


Tiga kalimat itu ditulis pada halaman terakhir. Ia menatapnya sejenak, lalu menutup bukunya pelan. Di sisi kanan bus, pantulan wajahnya tampak di kaca: kurus, mata sayu, rambut sedikit acak. Seseorang yang bahkan tidak akan dikenali jika hilang selama seminggu.

Setibanya di kantor, seperti biasa, tak ada yang menyapanya. Semua sibuk dengan layar, obrolan, dan notifikasi. Di dunia itu, orang seperti Arvin tidak punya tempat.

Hingga saat makan siang, saat semua orang pergi dan ruang kerja sunyi, ia membuka laptopnya dan menemukan satu pesan misterius.


Dari: unknown@rekammasa.ai
Subjek: Apakah Kau Yakin Ini Waktu yang Kau Inginkan?

"Arvin, jika kau bisa kembali, apa yang akan kau ubah?
Klik link ini hanya jika kau benar-benar ingin bicara.
Waktu tidak suka orang yang ragu."


Ia tidak pernah merasa percaya pada hal aneh. Tapi hari itu, entah kenapa, tangannya bergerak sendiri. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.

Ia klik.

Layar menjadi putih. Bening. Sunyi. Lalu tiba-tiba, seperti gema yang pecah di telinga...

"Arvin..."

Suara itu—sangat familiar. Suara ibunya. Lembut. Penuh rindu. Tapi ia sudah lama tak mendengarnya. Lebih dari sepuluh tahun. Karena ibu meninggal ketika ia masih SMA.

Layar laptop meledak menjadi kilatan cahaya dan...


Ia terbangun.

Bukan di kantornya. Bukan di kamarnya.

Ia berada di dalam kelas. Seragam SMA menempel di tubuhnya. Di luar jendela, lonceng sekolah berdentang nyaring. Teman-teman sekelas masih muda, bersuara riuh. Dan di papan tulis tertulis tanggal yang membuat jantungnya membeku:

"Senin, 11 Maret 2013."


(Akhir Chapter 1)

Next: Chapter 2 – Tanggal yang Tak Pernah Terlupakan


Kelanjutannya dapat dilihat di: https://chatgpt.com/share/684fbd34-13c8-800b-9250-db3f9181db4d

Rabu, 19 Februari 2025

Pantun

 


#### **Pantun untuk Akira**  

1. Kelinci lompat ke dalam tas,  

   Malah nyangkut di dalam tali.  

   Akira anak yang cerdas,  

   Sopan santun tiada terjali.  


2. Main layangan di pinggir kali,  

   Talinya putus kena duri.  

   Akira selalu berbudi pekerti,  

   Baik hati dan murah hati.  


3. Makan bakso di pagi buta,  

   Kuahnya tumpah di atas meja.  

   Akira rajin baca cerita,  

   Ilmunya banyak luar biasa.  

Selasa, 18 Februari 2025

Petualangan di Photobooth



Suatu sore, Feni mengajak Galih berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin mencoba photobooth baru yang katanya bisa menghasilkan foto dengan efek ajaib.  

Senin, 25 November 2024

Low Healer: Mahasiswa yang Nyasar ke Dunia Isekai

 


Low Healer: Mahasiswa yang Nyasar ke Dunia Isekai


Chapter 1: Tersesat di Kampus

Ari adalah seorang mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kaki di universitas besar yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan lorong-lorong panjang. Hari pertama kuliah penuh dengan kebingungan. Semua orang tampak tahu ke mana mereka harus pergi, sedangkan Ari, yang masih baru, merasa seperti ikan di luar air. Ia harus menuju ruang kuliah untuk kelas pengantar jurusannya, tetapi setiap sudut kampus terasa asing dan membingungkan.

Setelah berputar-putar dan mengecek jadwalnya, Ari masih belum bisa menemukan ruang kelas yang tepat. Tiba-tiba, di ujung lorong yang sepi, ia melihat sebuah pintu yang agak mencurigakan dengan tulisan besar di atasnya: "Kelas Isekai." Pintu itu terlihat berbeda dari yang lain, dengan desain yang tidak biasa, seolah-olah itu bukan bagian dari kampus biasa. Ada aura misterius yang membuatnya penasaran.

Jumat, 15 November 2024

Pasutri Baru di Desa Konoha




**Bab 1: Dunia yang Tak Terduga**


Pagi itu, Galih terbangun dengan rasa bingung yang luar biasa. Matanya terbuka lebar, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kecil. Tubuhnya terasa berbeda—lebih ringan, lebih energik—dan ada sesuatu yang sangat tidak familiar dengan lingkungan sekitarnya. 


Dia mendapati dirinya berada di sebuah kamar kecil yang sederhana, yang bahkan lebih kecil daripada kamar tidurnya di rumah. Dengan cepat, Galih bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke cermin. Namun, yang dia lihat bukanlah wajah dirinya yang biasa. Yang ada di hadapannya adalah wajah seorang anak laki-laki dengan rambut pirang berantakan dan mata biru cerah yang sangat khas.

Rabu, 04 September 2024

Petualangan Akira dan Kenzo: Menyelamatkan Dunia Pokémon


Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah dua saudara, Akira dan Kenzo. Akira adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang penuh semangat, sementara adiknya, Kenzo, baru berumur 7 tahun tetapi sangat cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Mereka berdua sangat menyukai Pokémon dan sering bermimpi untuk menjadi pelatih Pokémon hebat suatu hari nanti.


Suatu hari, saat mereka bermain di hutan dekat desa, mereka menemukan sebuah gua yang sebelumnya belum pernah mereka lihat. Dengan hati-hati, mereka masuk ke dalam gua itu dan tiba-tiba merasa tanah di bawah mereka berguncang. Sebuah cahaya terang muncul, dan sebelum mereka sadar, Akira dan Kenzo sudah berada di tempat yang asing dan penuh dengan Pokémon!


"Kenzo, di mana kita?" tanya Akira dengan suara gemetar, meskipun mencoba tetap tenang.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi lihat, ada banyak Pokémon di sini!" seru Kenzo, matanya berbinar-binar melihat berbagai Pokémon yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Tak lama setelah itu, seekor Kyogre, Pokémon air yang besar dan kuat, muncul dari danau di dekat mereka. Air mulai naik dan ombak besar mendekat ke arah mereka. Namun, sebelum air tersebut menenggelamkan mereka, sebuah gemuruh terdengar dari bawah tanah. Groudon, Pokémon tanah yang legendaris, muncul dan menghentikan lautan dengan kekuatan daratannya yang hebat.


"Tolong kami!" teriak Akira dan Kenzo bersama-sama.


Kyogre dan Groudon menoleh ke arah mereka dan tampak menyadari kehadiran dua anak kecil itu. Mereka berdua berhenti bertarung dan mendekat ke Akira dan Kenzo. Melalui sinar mata mereka, Akira bisa merasakan bahwa Kyogre dan Groudon bukanlah musuh, melainkan ingin membantu mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, Kak?" bisik Kenzo.


"Tidak tahu, tapi kita harus menemukan jalan keluar dari sini," jawab Akira.


Tiba-tiba, langit di atas mereka menjadi gelap. Awan hitam pekat berputar-putar, dan dari kegelapan itu, muncul Pokémon legendaris lain, Eternatus. Pokémon ini memancarkan energi yang begitu kuat, hingga membuat Kyogre dan Groudon mundur. Eternatus mengeluarkan raungan keras dan tampaknya marah.


Akira dan Kenzo merasa sangat ketakutan, tetapi mereka tahu mereka harus melakukan sesuatu. Akira ingat cerita yang pernah ia baca tentang Pokémon legendaris. Ia tahu bahwa ketiga Pokémon ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan jika mereka bisa bekerja sama, mereka bisa menghentikan kemarahan Eternatus.


Dengan keberanian yang luar biasa, Akira mendekati Kyogre dan Groudon. "Kalian harus bekerja sama untuk menghentikan Eternatus! Kalau tidak, seluruh dunia Pokémon akan hancur!" seru Akira.


Mendengar itu, Kyogre dan Groudon saling berpandangan dan mengangguk. Mereka kemudian bergabung kekuatan mereka. Dengan bantuan Akira dan Kenzo, mereka berhasil menenangkan Eternatus, mengembalikan keseimbangan alam, dan menyelamatkan dunia Pokémon dari kehancuran.


Setelah semuanya selesai, Kyogre, Groudon, dan Eternatus mengucapkan terima kasih kepada Akira dan Kenzo. Dengan kekuatan mereka, kedua saudara itu dikembalikan ke desa mereka.


"Kak, itu luar biasa! Kita baru saja menyelamatkan dunia Pokémon!" seru Kenzo dengan gembira.


"Ya, tapi ingat, Kenzo, kita berhasil karena kita bekerja sama dan tidak menyerah," jawab Akira sambil tersenyum.


Sejak hari itu, Akira dan Kenzo terus bermimpi menjadi pelatih Pokémon hebat. Petualangan mereka di dunia Pokémon mengajarkan mereka tentang keberanian, persahabatan, dan pentingnya bekerja sama untuk mengatasi rintangan apapun.


Tamat.







You said:

Bikin lagi. Harus ada semua pokemon legendari. Buat cerita yang panjang.

ChatGPT said:

ChatGPT

Memory updated

Judul: Petualangan Akira dan Kenzo: Menyelamatkan Dunia Pokémon


Di sebuah desa kecil yang indah, dua bersaudara, Akira dan Kenzo, hidup dengan bahagia bersama keluarga mereka. Akira, yang berusia 12 tahun, adalah seorang anak yang pemberani dan selalu siap menghadapi tantangan. Kenzo, adiknya yang berusia 8 tahun, cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Mereka berdua sangat menyukai Pokémon dan sering bermimpi bisa bertualang di dunia Pokémon.


Suatu hari, saat sedang menjelajahi hutan dekat rumah mereka, Akira dan Kenzo menemukan sebuah altar kuno yang tersembunyi di balik semak-semak lebat. Altar itu dipenuhi dengan ukiran-ukiran aneh dan sebuah bola kristal besar yang bersinar lembut di tengahnya.


"Kenzo, lihat ini! Sepertinya ini sesuatu yang luar biasa," kata Akira dengan mata berbinar.


Kenzo, yang selalu tertarik dengan hal-hal misterius, mendekati altar dan menyentuh bola kristal itu. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyelimuti mereka dan sebelum mereka sempat bereaksi, mereka sudah berada di sebuah tempat yang benar-benar berbeda.


Mereka berdiri di atas puncak sebuah gunung yang tinggi, dikelilingi oleh awan-awan putih. Di hadapan mereka berdiri sesosok Pokémon besar berwarna putih dengan sayap megah, Arceus.


"Selamat datang, Akira dan Kenzo," suara Arceus bergema, "Aku telah memanggil kalian karena dunia Pokémon dalam bahaya besar. Semua Pokémon legendaris telah terbangun dan saling berperang. Jika mereka tidak dihentikan, seluruh dunia Pokémon akan hancur."


Mendengar itu, Akira dan Kenzo merasa takut, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu. "Apa yang bisa kami lakukan, Arceus?" tanya Akira.


"Kalian harus menemui semua Pokémon legendaris dan meyakinkan mereka untuk berhenti berperang. Hanya kalian yang bisa melakukannya karena kalian adalah manusia yang murni hati," jawab Arceus.


Dengan semangat yang kuat, Akira dan Kenzo menerima tugas tersebut. Arceus memberi mereka masing-masing sebuah amulet yang dapat memanggilnya kapan saja dalam keadaan darurat. Kemudian, mereka pun memulai perjalanan panjang mereka di dunia Pokémon.


Bab 1: Pertemuan dengan Lugia dan Ho-Oh

Perjalanan pertama mereka membawa Akira dan Kenzo ke langit yang penuh badai. Di sana, mereka bertemu dengan Lugia, Pokémon penjaga laut, yang sedang bertarung sengit dengan Ho-Oh, Pokémon penjaga langit. Angin ribut dan kilatan petir menyelimuti langit, mengancam menenggelamkan seluruh wilayah di bawahnya.


Akira berteriak sekuat tenaga, "Lugia, Ho-Oh! Hentikan pertempuran ini!"


Namun, kedua Pokémon itu terlalu terfokus pada pertarungan mereka untuk mendengar. Kenzo, yang berpikir cepat, menggunakan amulet yang diberikan oleh Arceus untuk memanggil kekuatannya. Cahaya terang dari amulet itu menyebar, menarik perhatian Lugia dan Ho-Oh.


"Kalian tidak perlu berperang. Ada ancaman yang jauh lebih besar yang harus kita hadapi bersama," kata Kenzo dengan tegas.


Lugia dan Ho-Oh akhirnya mendengarkan dan menyadari kebenaran dari kata-kata Kenzo. Mereka berhenti bertarung dan setuju untuk membantu Akira dan Kenzo dalam misi mereka. Sebagai tanda terima kasih, Ho-Oh memberikan bulu emasnya kepada Akira, sementara Lugia memberikan bulu peraknya kepada Kenzo.


Bab 2: Petualangan di Dunia Kegelapan

Setelah menyatukan Lugia dan Ho-Oh, perjalanan mereka berlanjut ke dalam gua yang gelap dan dingin, tempat tinggal Giratina, Pokémon dunia kegelapan. Gua tersebut terasa sangat menyeramkan dengan bayangan yang terus bergerak di sekeliling mereka.


Ketika mereka semakin jauh masuk ke dalam gua, Giratina tiba-tiba muncul dari kegelapan, matanya bersinar merah marah. "Kenapa kalian memasuki wilayahku?!" raungnya dengan suara mengerikan.


"Maafkan kami, Giratina. Kami datang bukan untuk bertarung, tapi untuk meminta bantuanmu. Dunia Pokémon dalam bahaya, dan hanya dengan bekerja sama kita bisa menyelamatkannya," kata Akira, berusaha tetap tenang.


Giratina, yang biasanya tidak percaya pada siapa pun, merasa ada kejujuran dalam kata-kata Akira. Setelah berbincang sebentar, Giratina setuju untuk membantu, tapi dengan satu syarat: mereka harus mengalahkan bayangan ketakutan yang telah lama menghantuinya.


Dengan bantuan Lugia dan Ho-Oh, Akira dan Kenzo melawan bayangan tersebut dan berhasil memusnahkannya. Setelah itu, Giratina bergabung dengan mereka dalam misi menyelamatkan dunia Pokémon.


Bab 3: Kejutan di Puncak Gunung

Perjalanan berikutnya membawa mereka ke puncak gunung tertinggi, tempat mereka bertemu dengan Dialga dan Palkia, dua Pokémon penjaga waktu dan ruang. Keduanya sedang bertarung, menyebabkan distorsi waktu dan ruang yang berbahaya.


"Dialga! Palkia! Kalian merusak keseimbangan alam!" teriak Akira.


Namun, keduanya tetap bertarung tanpa memperhatikan peringatan tersebut. Kenzo memikirkan sesuatu dan menggunakan amuletnya untuk menghubungi Giratina. Dengan bantuan Giratina, mereka mampu menghentikan pertarungan tersebut. Giratina, yang memiliki hubungan unik dengan Dialga dan Palkia, berhasil meyakinkan mereka untuk berhenti bertarung.


Setelah mendengar alasan mereka, Dialga dan Palkia setuju untuk membantu. Sebagai tanda kesetiaan, Dialga memberikan Kristal Waktu kepada Akira, sementara Palkia memberikan Orb Ruang kepada Kenzo.


Bab 4: Konfrontasi dengan Kyogre dan Groudon

Setelah menyatukan beberapa Pokémon legendaris, Akira dan Kenzo menuju lautan luas di mana Kyogre dan Groudon sedang bertarung hebat. Kyogre membuat lautan meluap dengan amarahnya, sementara Groudon menyebabkan gempa bumi yang mengancam seluruh daratan.


Dengan keberanian yang besar, Akira dan Kenzo terjun ke lautan dan mendekati kedua Pokémon tersebut. Mereka menggunakan bulu emas dan perak yang diberikan oleh Ho-Oh dan Lugia untuk memanggil kekuatan mereka dan meredakan amarah Kyogre dan Groudon.


Setelah pertarungan itu berakhir, Kyogre dan Groudon menyadari bahwa pertempuran mereka hanya akan membawa kehancuran. Mereka pun setuju untuk membantu dalam misi menyelamatkan dunia Pokémon.


Bab 5: Pertarungan Terakhir di Langit

Setelah melalui berbagai tantangan, Akira dan Kenzo bersama dengan semua Pokémon legendaris lainnya akhirnya tiba di langit, tempat Rayquaza bersemayam. Namun, Rayquaza tampak sedang berperang dengan Pokémon misterius dari luar angkasa, Eternatus. Pertarungan mereka menyebabkan langit menjadi gelap gulita dan cahaya bintang menghilang.


Akira dan Kenzo tahu bahwa ini adalah pertempuran terakhir yang harus mereka hentikan. Mereka memanggil semua Pokémon legendaris yang telah mereka temui. Bersama-sama, mereka melancarkan serangan gabungan untuk menenangkan Rayquaza dan mengalahkan Eternatus.


Pertarungan itu sangat sengit. Eternatus hampir tidak terkalahkan, tetapi dengan keberanian Akira dan Kenzo, serta bantuan dari semua Pokémon legendaris, mereka berhasil mengalahkan Eternatus dan mengembalikan kedamaian ke dunia Pokémon.


Bab 6: Kembali ke Rumah

Setelah semua selesai, Arceus muncul kembali di hadapan mereka. "Kalian telah menyelamatkan dunia Pokémon. Terima kasih atas keberanian dan tekad kalian," kata Arceus dengan lembut.


Dengan kekuatan Arceus, Akira dan Kenzo dikembalikan ke desa mereka. Mereka kembali dengan kenangan tak terlupakan tentang petualangan mereka di dunia Pokémon dan hadiah dari Pokémon legendaris yang akan selalu mereka jaga.


Meskipun mereka telah kembali ke kehidupan sehari-hari, Akira dan Kenzo tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa—mereka telah menyelamatkan dunia Pokémon dan menjalin persahabatan dengan makhluk-makhluk luar biasa yang hanya bisa mereka impikan sebelumnya.


Tamat.