Rabu, 17 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 8 / 20

Chapter 8

Semua Orang Mulai Salah Paham

Ada banyak benda yang bisa membuat suasana kelas berubah dalam waktu singkat.

Nilai ulangan yang dibagikan.

Guru matematika masuk membawa map tebal.

Pengumuman piket dadakan.

Atau, dalam kasus pagi itu, selembar kertas kecil tanpa nama yang ditemukan di meja Salsa.

Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.

Kalimatnya pendek.

Tidak ada hiasan.

Tidak ada gambar hati.

Tidak ada inisial.

Tapi justru karena itu, efeknya lebih berbahaya.

Kelas XI IPA 2 yang beberapa detik sebelumnya masih sibuk dengan urusan pagi masing-masing langsung berubah menjadi ruang investigasi.

Bima berdiri paling depan.

Tentu saja.

Ia mengambil posisi di samping meja Salsa dengan wajah serius, seolah baru saja menerima kasus nasional.

“Teman-teman,” katanya pelan, “kita menghadapi perkara besar.”

Alya langsung bergerak cepat.

“Jangan mulai.”

Bima menunjuk kertas di tangan Salsa.

“Surat anonim.”

“Itu bukan urusan kita.”

“Tanpa nama.”

“Justru itu bukan urusan kita.”

“Berpotensi confess.”

“Bima.”

“Dan waktunya festival.”

Alya terdiam sebentar.

Bagian terakhir itu memang agak merepotkan.

Karena kalau ada orang mengganggu Salsa saat festival, apalagi di tengah jadwal stand yang sudah mereka susun, itu bisa jadi masalah.

Bima melihat celah itu dan langsung memanfaatkannya.

“Sebagai tim inti, kita wajib menjaga stabilitas saksi utama.”

“Aku bukan saksi utama,” kata Salsa pelan.

“Nanti bisa berubah tergantung kebutuhan naskah.”

Naya yang berdiri di sebelah Salsa mengambil kertas itu, membaca sekali lagi, lalu menatap Salsa.

“Kamu tahu dari siapa?”

Salsa menggeleng.

“Enggak.”

“Curiga siapa?”

“Enggak juga.”

Jawaban itu terlalu tenang.

Tapi Naya tahu Salsa cukup pandai menyembunyikan rasa tidak nyaman di balik suara tenang.

Masalahnya, Bima tidak punya keahlian membaca suasana sebaik itu.

Atau punya, tapi sering kalah oleh keinginannya membuat situasi jadi lebih ramai.

Ia sudah mengeluarkan buku kecil dari tasnya.

Alya menatap buku itu.

“Itu apa?”

“Buku catatan penyelidikan.”

“Kamu punya buku catatan penyelidikan?”

“Baru beli kemarin.”

“Kenapa?”

“Untuk keadaan seperti ini.”

Naya mengintip isi buku itu.

Halaman pertama tertulis besar:

KASUS-KASUS YANG BELUM DIPECAHKAN

Di bawahnya ada beberapa poin:

  1. Siapa yang menghabiskan saus kantin?

  2. Kenapa Raka selalu datang saat azan?

  3. Apakah Alya punya mode santai?

  4. Siapa pengirim surat Salsa?

Naya menunjuk nomor dua.

“Pertanyaan nomor dua itu bukan misteri.”

“Bagi ilmu pengetahuan, semua bisa diteliti.”

Raka yang baru saja meletakkan tasnya di kursi menoleh.

“Apa?”

“Tidak ada,” kata Alya cepat.

Bima menutup bukunya.

“Terlambat. Penyelidikan sudah dimulai.”

Raka melihat kertas di tangan Naya, lalu ke Salsa.

“Ada masalah?”

Salsa menggeleng pelan.

“Belum tahu.”

Raka mengangguk.

Tidak bertanya lebih jauh.

Tidak membuat ekspresi heboh.

Tidak memperlakukan kertas itu seperti bom.

Ia hanya berkata, “Kalau nanti mengganggu jadwal, bilang.”

Salsa menatapnya.

“Maksudnya?”

“Kalau kamu jadi nggak nyaman, sesi saksi bisa diganti.”

Bima langsung menunjuk Raka.

“Lihat! Ini respons orang teknis. Bahkan confess pun dianggap gangguan jadwal.”

“Memang bisa mengganggu,” kata Raka.

Naya menatap Raka sambil menyipit.

“Kamu kalau ada orang confess, yang kamu pikirkan pertama kali jadwal?”

Raka diam sebentar.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Confess-nya kapan.”

Bima menepuk buku catatannya.

“Catat. Raka tidak menolak konsep confess. Ia hanya peduli waktu pelaksanaan.”

Alya mengambil buku Bima.

“Disita sampai istirahat.”

“Bu Ketua!”

“Demi keselamatan kelas.”

Naya tertawa.

Salsa juga ikut tertawa kecil, meski masih memegang kertas itu dengan hati-hati.

Untuk sementara, suasana kembali cair.

Tapi tentu saja, berita seperti itu tidak mungkin benar-benar diam di kelas XI IPA 2.

Dalam waktu kurang dari satu jam, beberapa anak sudah tahu bahwa Salsa mendapat surat anonim.

Dalam waktu dua jam, informasinya berkembang menjadi: ada seseorang yang akan confess pada Salsa saat festival.

Dalam waktu tiga jam, versi liar mulai muncul.

“Katanya pakai bunga.”

“Katanya di panggung opening.”

“Katanya satu angkatan bakal lihat.”

“Katanya Bima jadi perantara.”

Yang terakhir membuat Bima hampir tersedak air mineral.

“Aku tidak terlibat.”

Naya menepuk punggungnya.

“Belum.”

“Aku tidak mau.”

“Tumben.”

“Aku suka kekacauan, tapi kekacauan ini berisiko menimpa orang lain dan aku bisa disalahkan.”

Alya menatapnya.

“Kamu semakin dewasa?”

“Tidak. Aku cuma takut dimarahi Salsa.”

Salsa yang mendengar itu tersenyum kecil.

“Kenapa aku?”

“Karena kalau kamu marah, pasti tetap sopan. Itu lebih menakutkan.”

Naya mengangguk serius.

“Benar. Orang marah tapi sopan itu level final.”

Salsa tertawa lagi.

Namun di sela tawa itu, matanya sempat jatuh ke kertas kecil yang ia simpan di dalam buku.

Raka melihat.

Tidak lama.

Hanya sekali.

Lalu ia membuka catatan jadwal dan mencoret sesuatu.

Alya yang duduk di sebelahnya melihat gerakan itu.

“Kamu ubah jadwal?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Sesi Salsa di depan stand aku pindah lebih siang. Biar tidak pas jam ramai setelah opening.”

Alya menatapnya.

“Karena surat itu?”

“Untuk jaga-jaga.”

Alya membaca jadwal baru.

Raka juga menambahkan dua anggota kelas lain untuk membantu sesi saksi, supaya Salsa tidak sendirian di depan.

Alya menatap catatan itu sedikit lebih lama.

Lalu mengangguk.

“Bagus.”

Bima yang entah dari mana tiba-tiba muncul di belakang mereka langsung berkata, “Ohoo.”

Alya hampir menjatuhkan pulpen.

“Kamu dari mana?”

“Dari sisi kebenaran.”

“Pergi.”

Bima menunjuk jadwal.

“Raka perhatian sekali sama Salsa.”

Raka menoleh.

“Itu manajemen risiko.”

“Cinta sering menyamar sebagai manajemen risiko.”

Naya yang mendengar dari meja depan langsung tertawa.

Alya menatap Bima tajam.

Salsa tersipu sedikit, lalu buru-buru menunduk ke ponselnya.

Raka tidak berubah ekspresi.

“Kalau kamu ngomong begitu ke orang yang salah, bisa bikin salah paham.”

“Berarti ke orang yang benar boleh?”

“Bima.”

Alya mengembalikan buku catatan penyelidikan ke kepala Bima.

Bukan menyerahkan.

Mengetukkan.

Pelan, tapi cukup bermakna.

“Aduh.”

“Jangan bikin suasana makin aneh.”

“Baik.”

Tapi sudah terlambat.

Karena sejak saat itu, Bima punya teori baru.

Menurut Bima, Raka mungkin menyukai Salsa.

Dasarnya:

Pertama, Raka membela Salsa dari dua cowok kemarin.

Kedua, Raka membuat jadwal agar Salsa tidak terlalu capek.

Ketiga, Raka menganggap confess sebagai gangguan jadwal, yang menurut Bima adalah tanda orang cemburu yang terlalu administratif.

Ketika teori itu disampaikan Bima pada Naya saat istirahat, Naya hampir menjatuhkan bakwan.

“Raka suka Salsa?”

“Sangat mungkin.”

Naya melihat ke arah Raka.

Saat itu Raka sedang duduk di kursinya, membaca catatan teknis sambil sesekali menjawab pertanyaan Alya.

Di sisi lain, Salsa sedang berdiskusi dengan dua anak tentang poster.

“Hmm,” gumam Naya.

“Kenapa?”

“Nggak tahu. Bisa aja.”

“Kan?”

“Tapi kemarin kamu bilang Raka suka Alya.”

Bima mengangkat jari.

“Detektif boleh memperbarui teori berdasarkan bukti baru.”

“Detektif juga sebaiknya pernah benar minimal sekali.”

“Itu serangan personal.”

“Kamu kuat.”

Bima mengambil satu gorengan dari piring Naya.

Naya langsung menatapnya.

“Bim.”

“Apa?”

“Itu gorengan terakhir.”

Bima membeku.

Naya menatap piring.

Bima menatap gorengan di tangannya.

Lalu mereka saling menatap.

Dari jarak beberapa meja, Raka mengangkat wajah.

Mungkin karena suara Naya yang mendadak turun satu nada.

“Bima,” kata Naya pelan, “kamu sadar ini kasus berat?”

Bima perlahan meletakkan gorengan itu kembali ke piring.

“Aku belum menggigit.”

“Tapi niat kriminal sudah ada.”

“Aku bisa menjelaskan.”

“Silakan jelaskan di stand nanti.”

Bima menelan ludah.

“Naya, sebagai teman—”

“Sebagai pembela, aku menolak membelamu.”

Satu meja tertawa.

Raka menatap piring Naya sebentar.

Lalu kembali ke catatannya.

Beberapa menit kemudian, saat Naya sedang sibuk menggoda Bima, Raka berdiri dan berjalan keluar kelas.

Ia kembali tidak lama kemudian dengan dua gorengan dalam plastik kecil.

Ia meletakkannya di meja Naya.

“Ini.”

Naya berhenti bicara.

“Hah?”

“Kantin masih ada.”

Naya melihat gorengan itu.

Lalu melihat Raka.

“Buat aku?”

“Kamu tadi ribut soal gorengan terakhir.”

“Karena Bima hampir melakukan kejahatan.”

“Aku tidak hampir,” protes Bima.

Naya mengambil plastik itu.

“Makasih.”

Raka mengangguk.

Lalu kembali duduk.

Tidak ada ekspresi khusus.

Tidak ada suasana romantis.

Tidak ada musik latar.

Bima bahkan langsung berkata, “Rak, punyaku?”

Raka menoleh.

“Kamu pelakunya.”

“Belum terbukti.”

“Motif ada. Kesempatan ada.”

Naya tertawa keras.

Alya yang melihat dari meja lain hanya menggeleng.

Salsa juga melihat.

Ia tersenyum kecil.

Mungkin karena Raka memang perhatian.

Mungkin karena perhatian itu ternyata tidak hanya untuk dirinya.

Mungkin karena, entah kenapa, Naya menerima perhatian itu tanpa terlihat menyadari apa pun.

Saat pulang sekolah, latihan opening kembali dilakukan.

Kali ini mereka memakai panggung kecil kosong di aula untuk membayangkan posisi saat festival.

Bima berdiri di tengah sebagai terdakwa.

Naya menjadi MC sekaligus pembela.

Alya duduk sebagai hakim.

Salsa memegang poster opening.

Raka berdiri di bawah panggung, mengatur durasi.

Beberapa siswa yang masih berada di aula berhenti untuk menonton.

“Mulai,” kata Raka.

Naya langsung masuk dengan suara besar.

“Saudara-saudara sekalian! Hari ini kita akan menyaksikan kasus yang mengguncang akal sehat: seorang siswa membawa palu ke sekolah dan menyebutnya simbol keadilan!”

Bima berdiri dengan wajah terluka.

“Saya hanya ingin hukum dihormati.”

Alya mengetuk meja.

“Dengan palu sungguhan?”

“Simbol harus terasa nyata, Yang Mulia.”

Naya menunjuk Bima.

“Lihat! Ia bahkan belum menyesal!”

Penonton kecil di aula tertawa.

Raka melihat stopwatch.

“Tiga puluh detik.”

Latihan berjalan lebih lancar daripada sebelumnya.

Bima masih improvisasi.

Tentu saja.

Tapi kali ini improvisasinya tidak terlalu jauh.

Alya mulai menemukan ritme sebagai hakim.

Naya makin luwes mengarahkan suasana.

Salsa tahu kapan harus mengangkat poster agar terlihat.

Raka beberapa kali memberi tanda tangan agar mereka mempercepat bagian tertentu.

Di percobaan ketiga, durasi mereka tepat dua menit lima puluh delapan detik.

Raka mengangkat wajah.

“Pas.”

Naya langsung mengangkat kedua tangan.

“Kita berhasil!”

Bima ikut berdiri.

“Sejarah mencatat.”

Alya tampak lega.

Salsa tersenyum.

Beberapa siswa yang menonton bertepuk tangan kecil.

Salah satu dari mereka berkata, “Ini beneran bakal rame, sih.”

Kalimat itu membuat mereka semua saling pandang.

Tidak ada yang berlebihan.

Tapi ada rasa puas kecil yang sama.

Sesuatu yang mereka buat mulai terlihat bentuknya.

Setelah latihan, Salsa turun dari panggung sambil membawa poster.

Namun salah satu siswa yang tadi menonton menghampirinya.

“Sal.”

Salsa menoleh.

“Iya?”

Anak itu tampak gugup.

Ia bukan siswa yang kemarin bicara sembarangan.

Wajahnya lebih hati-hati.

“Poster kamu bagus.”

“Makasih.”

“Nanti pas festival, kamu ada waktu sebentar?”

Bima, yang sedang minum, langsung berhenti.

Naya menoleh.

Alya menutup buku.

Raka masih memasukkan stopwatch ke tas, tapi gerakannya melambat.

Salsa berkedip.

“Untuk apa?”

Anak itu tampak semakin gugup.

“Ada yang mau aku omongin.”

Hening.

Terlalu hening.

Bima perlahan menunjuk anak itu.

“Surat?”

Anak itu panik.

“Hah?”

Bima maju satu langkah.

“Kamu yang taruh surat di meja Salsa?”

“Surat apa?”

Salsa menatapnya lebih teliti.

Anak itu benar-benar terlihat bingung.

Alya langsung menarik Bima mundur.

“Jangan interogasi orang sembarangan.”

“Tapi atmosfernya mendukung.”

“Tidak.”

Anak itu menggaruk kepala.

“Aku cuma mau nanya nanti boleh minta file posternya nggak. Buat belajar desain. Soalnya aku juga bagian publikasi kelas.”

Salsa diam.

Lalu tertawa kecil.

“Oh.”

Naya langsung membungkuk sambil menahan tawa.

Bima mematung.

Alya menutup wajah dengan buku.

Raka menatap Bima.

“Detektif.”

Satu kata.

Tapi cukup menghancurkan.

Bima memegang dada.

“Aku hanya mengikuti petunjuk.”

“Petunjuknya kamu buat sendiri,” kata Alya.

Anak itu masih kebingungan.

Salsa akhirnya menjawab, “Boleh. Nanti aku kirim lewat grup panitia festival aja, ya.”

“Makasih, Sal.”

Setelah anak itu pergi, Naya langsung tertawa.

“Bima, kamu hampir menjadikan orang tidak bersalah sebagai tersangka.”

“Dalam proses penyelidikan, kesalahan kecil wajar terjadi.”

“Itu bukan kecil. Itu salah pintu.”

Bima menatap Raka.

“Jangan komentar.”

Raka memasukkan ponselnya ke saku.

“Aku belum.”

“Tapi wajahmu sudah.”

“Aku tidak mengatur wajah.”

“Justru itu yang menyakitkan.”

Salsa masih tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak surat anonim itu muncul, ia tampak benar-benar terhibur.

Bima mungkin salah.

Sangat salah.

Tapi entah bagaimana, kesalahannya membuat suasana tidak terlalu berat.

Namun masalahnya, surat itu tetap belum jelas.

Dan festival semakin dekat.

Malam itu, grup Mahkamah Receh kembali ramai dengan pembahasan latihan opening.

Alya: Durasi sudah pas. Besok tinggal ulang sekali.

Naya: Aku bangga pada terdakwa kita.

Bima: Terima kasih. Akhirnya diakui.

Raka: Jangan improvisasi bagian palu menderita lagi.

Bima: Tapi itu kuat secara emosional.

Alya: Tidak.

Salsa: Aku masih ketawa kalau ingat Bima interogasi orang tadi.

Naya: Detektif gagal episode 1.

Bima: Ini baru episode 1? Berarti masih ada ruang berkembang.

Raka: Ruang salah juga ada.

Bima: Raka makin sering menusukku dengan kalimat pendek.

Naya membaca chat itu sambil makan gorengan yang tadi dibawa pulang dari kantin.

Ia tersenyum sendiri.

Lalu mengetik.

Naya: Terima kasih untuk sponsor gorengan hari ini.

Beberapa detik kemudian, Bima membalas.

Bima: Sama-sama.

Naya: Bukan kamu.

Bima: Oh.

Salsa mengirim emoji tertawa.

Alya mengirim pesan:

Alya: Fokus. Besok kita finalkan kartu kasus.

Raka tidak membalas.

Naya menatap layar sebentar.

Biasanya Raka memang tidak selalu membalas.

Tapi beberapa menit kemudian, pesan baru muncul.

Raka: Kalau gorengannya terlalu berminyak, jangan dimakan semua malam-malam.

Naya membaca pesan itu.

Lalu menatap gorengan terakhir di piringnya.

Ia mengerutkan kening.

Naya: Kamu ini pengatur durasi atau pengatur gorengan?

Raka: Pencegahan.

Naya: Aku sehat.

Raka: Sekarang.

Bima langsung masuk.

Bima: WAH.

Alya: Jangan mulai.

Salsa: Raka perhatian ke semua orang, ya.

Pesan itu membuat Naya berhenti sebentar.

Ia membaca kalimat Salsa.

Lalu membaca lagi pesan Raka sebelumnya.

Raka perhatian ke semua orang.

Benar juga.

Raka memang begitu.

Ia memperbaiki palu Bima.

Membantu proposal Alya.

Menyusun jadwal Salsa.

Membawakan gorengan untuk Naya.

Jadi tidak ada yang aneh.

Tidak ada yang perlu dipikirkan.

Naya mengetik balasan.

Naya: Iya. Anak baik. Cocok jadi pengurus inventaris kehidupan.

Raka membalas beberapa detik kemudian.

Raka: Jabatan itu tidak ada.

Naya: Sekarang ada.

Bima: Aku ingin jabatan.

Alya: Terdakwa tetap.

Bima: Kejam.

Grup kembali ramai.

Naya tertawa lagi.

Namun tanpa ia sadari, di tempat lain, Salsa membaca percakapan itu dengan senyum yang sedikit berubah.

Bukan kecewa.

Bukan cemburu.

Belum sejauh itu.

Hanya ada pertanyaan kecil yang mulai muncul.

Kalau Raka memang perhatian ke semua orang, kenapa beberapa perhatian terasa berbeda tergantung siapa yang menerimanya?

Salsa menatap kertas anonim di atas mejanya.

Lalu menatap layar ponsel.

Di grup, Bima sedang mengirim stiker palu.

Naya sedang meledek.

Alya sedang menegur.

Raka hanya muncul sesekali.

Namun setiap kemunculannya selalu terasa tepat.

Salsa menyimpan kertas anonim itu ke dalam laci.

Besok ia akan mencari tahu siapa pengirimnya.

Atau setidaknya mencoba.

Sayangnya, sebelum Salsa sempat melakukan apa pun, keesokan paginya masalah baru datang lebih dulu.

Poster keempat yang seharusnya belum diunggah tiba-tiba sudah tersebar di story beberapa anak.

Bukan versi final.

Bukan desain yang sudah disetujui.

Melainkan versi draft yang masih punya tulisan kecil di pojok bawah:

“Jangan upload dulu, masih jelek.”

Salsa berdiri di depan papan pengumuman sambil menatap layar ponselnya.

Naya di sebelahnya membuka mulut.

Bima ikut melihat.

Alya membeku.

Raka membaca tulisan di poster itu.

Lalu berkata pelan,

“Setidaknya mereka mengikuti instruksi.”

Alya menoleh.

Raka menunjuk tulisan kecil di poster.

“Masih jelek.”

Naya menahan tawa.

Salsa menutup wajah dengan kedua tangan.

Dan Bima, setelah hening selama dua detik, berbisik,

“Sepertinya hari ini kita menyidang pelaku penyebaran draft.”

Selasa, 16 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 7 / 20

Chapter 7

Cewek Populer Juga Bisa Capek

Ada satu hal yang seharusnya tidak diberikan kepada Naya terlalu cepat.

Panggung.

Karena begitu ia mendengar bahwa setiap stand wajib menampilkan sesi pembuka di panggung kecil festival, otaknya langsung bekerja dengan kecepatan yang membuat Alya ingin menyita mikrofon sebelum mikrofon itu ada.

“Jadi begini,” kata Naya sambil berdiri di depan papan tulis. “Kita bikin opening sidang.”

Alya sudah curiga sejak kata “jadi”.

“Opening sidang maksudnya apa?”

“Pengunjung festival lewat, terus tiba-tiba kita adakan sidang darurat di panggung.”

“Sidang siapa?”

Naya menunjuk Bima.

Bima yang sejak tadi memegang palu kardus langsung berdiri tegak.

“Aku siap menjadi jaksa.”

“Bukan,” kata Naya.

Bima membeku.

“Kamu jadi terdakwa.”

“Maaf?”

“Opening-nya begini. Bima ditangkap karena membawa palu mencurigakan ke sekolah.”

Satu kelas langsung tertawa.

Bima menatap Naya seperti baru saja dikhianati oleh negara.

“Itu berdasarkan kisah nyata.”

“Makanya kuat,” jawab Naya.

Alya memejamkan mata.

Ia tidak tahu harus menolak karena ide itu konyol atau menerima karena, sayangnya, ide itu memang cocok.

Salsa menutup mulut, menahan tawa.

Raka yang duduk di dekat jendela hanya menatap palu kardus di tangan Bima.

“Secara bukti, kuat,” katanya.

Bima menunjuk Raka.

“Kamu juga?”

“Pernah terjadi.”

“Sejarah ditulis oleh pihak yang menang,” kata Bima muram.

“Dan oleh orang yang tidak membawa palu sungguhan ke sekolah,” tambah Alya.

Tawa kelas makin keras.

Naya mengambil spidol dan menulis di papan:

OPENING: SIDANG DARURAT BIMA

Bima langsung berdiri.

“Keberatan.”

“Ditolak,” kata Naya cepat.

“Aku belum menyampaikan alasan.”

“Sudah terbaca dari wajahmu.”

“Aku menuntut peran yang lebih bermartabat.”

“Tenang. Kamu akan menjadi terdakwa paling penting.”

“Tidak membantu.”

Alya menatap tulisan di papan.

“Berapa durasi opening?”

“Maksimal tiga menit,” jawab Raka sebelum Naya sempat menjawab.

Semua menoleh padanya.

Raka membuka catatannya.

“Kalau terlalu lama, orang lewat bosan. Kalau terlalu pendek, mereka belum paham konsep stand. Tiga menit cukup untuk konflik, punchline, ajakan datang ke stand.”

Naya menunjuk Raka dengan penuh semangat.

“Nah! Itu produser kita.”

“Aku bukan produser.”

“Kalau begitu pengawas durasi.”

“Lebih masuk akal.”

Alya mencatat.

“Baik. Opening tiga menit. Bima terdakwa. Naya pembela atau MC?”

“Dua-duanya,” jawab Naya.

Alya menatapnya.

Naya tersenyum.

“Aku multifungsi.”

“Berbahaya.”

“Terima kasih.”

Salsa mengangkat tangan pelan.

“Kalau untuk menarik pengunjung, kita juga bisa bawa poster besar. Aku bisa desain satu poster khusus untuk opening.”

“Bagus,” kata Alya. “Kamu bisa buat?”

“Bisa.”

Dari belakang kelas, seseorang langsung menyahut, “Kalau Salsa yang bawa poster, pasti ramai.”

Beberapa anak lain tertawa.

“Bener.”

“Sal, nanti berdiri di depan stand aja.”

“Jadi ikon stand.”

“Kalau Salsa manggil, anak kelas lain pasti datang.”

Salsa tersenyum.

Senyum yang sama seperti biasanya.

Ramah.

Aman.

Sedikit terlalu siap.

“Lihat nanti, ya,” katanya.

Naya melirik Salsa.

Lalu melihat anak-anak yang masih bercanda.

Alya sedang sibuk mencatat.

Bima sedang berdebat dengan Dito soal apakah terdakwa boleh menggugat balik.

Raka menulis sesuatu di buku.

Tidak ada yang benar-benar menangkap perubahan kecil di wajah Salsa.

Atau mungkin ada.

Raka mengangkat wajah sebentar.

Melihat Salsa.

Lalu kembali menulis.

Hari itu, persiapan opening dimulai.

Naya menulis naskah kasar dengan kecepatan luar biasa.

Bima berulang kali meminta agar karakter terdakwa diberi “martabat”, dan setiap permintaan itu justru membuat Naya menambahkan satu kesalahan baru ke daftar dakwaannya.

Alya menyusun jadwal latihan.

Raka membuat batas durasi dan tanda kapan tiap bagian harus masuk.

Salsa mulai mendesain poster opening.

Di atas kertas sketsanya, ia menulis:

DATANG DAN SAKSIKAN!
SIDANG PALING TIDAK PENTING TAHUN INI

Di bawahnya, ada ilustrasi palu hakim, siluet siswa, dan tulisan kecil:

Ruang Sidang Anak Sekolah XI IPA 2

Naya menatap sketsa itu dengan mata berbinar.

“Sal, kamu tuh kalau bikin poster kayak beneran niat.”

“Memang niat,” jawab Salsa.

“Tidak semua orang di ruangan ini familiar dengan konsep itu,” kata Alya sambil melirik Bima.

Bima tersinggung.

“Aku juga niat.”

“Kamu niat menjadi masalah.”

“Itu tetap niat.”

Raka melihat sketsa Salsa.

“Bagian tanggal dan lokasi sudah jelas.”

Salsa menoleh.

“Menurutmu cukup menarik?”

“Cukup.”

Bima langsung berbisik pada Naya, “Kalau Raka bilang cukup, berarti bagus banget.”

Naya mengangguk. “Standar pujian dia memang hemat.”

Raka tidak menanggapi.

Namun Salsa tersenyum sedikit.

“Berarti aku lanjut digital, ya.”

Alya mengangguk.

“Terima kasih, Sal.”

“Tenang.”

Salsa kembali menggambar.

Untuk beberapa saat, ia terlihat nyaman.

Sampai bel istirahat berbunyi dan beberapa anak dari kelas lain datang ke depan kelas mereka.

Awalnya cuma dua orang.

Lalu empat.

Lalu entah bagaimana jadi tujuh.

Sebagian melihat poster yang ditempel di papan pengumuman dekat kelas.

Sebagian lagi jelas datang karena melihat story Salsa.

“Sal, poster yang kamu upload itu kamu yang desain?”

“Iya,” jawab Salsa.

“Keren banget.”

“Makasih.”

“Nanti kamu jaga stand jam berapa?”

Salsa berhenti sebentar.

“Belum tahu.”

“Kalau kamu ada, aku datang.”

Teman di sebelahnya menyikut. “Modus banget.”

Anak itu tertawa.

Salsa ikut tersenyum.

Lagi-lagi senyum yang aman.

“Datang aja. Stand-nya seru, kok.”

“Kalau kamu yang ngajak, pasti datang.”

Naya yang duduk di meja depan langsung menyela.

“Kalau yang ngajak konsep stand-nya gimana?”

Anak itu menoleh.

“Hah?”

“Kami juga punya harga diri sebagai tim kreatif,” kata Naya. “Jangan cuma datang karena Salsa. Datanglah juga karena kalian ingin mempertanggungjawabkan dosa sosial kalian.”

Bima muncul di belakang Naya sambil membawa palu kardus.

“Benar. Apakah kalian pernah menghilangkan charger orang?”

Salah satu anak langsung mundur setengah langkah.

“Wah, kok spesifik?”

Bima menyipitkan mata.

“Mencurigakan.”

Anak-anak itu tertawa.

Suasana mencair.

Sebagian mulai bertanya soal konsep stand.

Sebagian meminta contoh kasus.

Naya langsung menjelaskan dengan gaya seperti pemandu acara.

Bima menambahkan dakwaan yang tidak diminta.

Alya datang untuk memastikan mereka tidak membocorkan semua isi stand sebelum festival.

Salsa berdiri di belakang sedikit, masih tersenyum, tapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat perhatian.

Raka yang sejak tadi duduk di tempatnya memperhatikan itu.

Tidak lama.

Hanya sebentar.

Lalu ia menunduk lagi.

Saat anak-anak kelas lain pergi, Salsa duduk kembali sambil menghela napas kecil.

Naya meletakkan siku di meja Salsa.

“Capek?”

Salsa berkedip.

“Hm?”

“Dijadikan brosur berjalan.”

Salsa tertawa kecil.

“Enggak juga.”

“Bohong.”

Salsa menatap Naya.

Naya tersenyum.

Tidak meledek.

Tidak heboh.

Hanya melihat dengan cara yang membuat orang sulit pura-pura terlalu lama.

Akhirnya Salsa menghela napas.

“Sedikit.”

Naya mengangguk.

“Kalau ada yang mulai nyebelin, bilang aja. Nanti Bima kita lepas.”

Dari belakang, Bima langsung menoleh.

“Aku anjing penjaga?”

“Kamu lebih ke alarm rusak. Tapi berguna.”

Bima tampak mempertimbangkan apakah itu pujian.

Raka berdiri dari kursinya dan berjalan ke meja mereka.

Ia meletakkan selembar kertas di depan Salsa.

Salsa melihat kertas itu.

“Ini apa?”

“Jadwal jaga stand sementara.”

Alya ikut mendekat.

“Kamu sudah buat?”

“Baru draft.”

Salsa membaca.

Di sana, nama Salsa tidak ditempatkan terus-menerus di bagian depan stand.

Ia mendapat giliran promosi, desain, dan satu sesi sebagai saksi.

Tidak lebih banyak daripada yang lain.

Bima mendapat beberapa sesi sebagai jaksa.

Naya sebagai MC dan pembela.

Alya sebagai hakim dan koordinator.

Raka sebagai teknis dan pengatur antrean.

Beberapa anggota kelas lain juga sudah dimasukkan bergantian.

Salsa menatap jadwal itu lebih lama dari yang diperlukan.

“Kenapa aku cuma satu sesi saksi?”

Raka diam sebentar.

“Biar tidak terlalu capek.”

Bima langsung menoleh.

“Ohoo?”

Alya menatap Bima.

“Jangan.”

Bima pura-pura menutup mulut dengan palu kardus.

Raka melanjutkan dengan nada datar, “Kalau kamu terus di depan, orang datang karena kamu. Bukan karena stand. Nanti capek juga.”

Salsa tidak langsung menjawab.

Kalimat itu biasa saja.

Tidak manis.

Tidak berlebihan.

Tapi untuk Salsa, kalimat itu terasa cukup langka.

Biasanya orang hanya berkata, “Kamu di depan aja biar ramai.”

Jarang ada yang bertanya apakah ia lelah.

Lebih jarang lagi ada yang menyusun jadwal seolah kelelahan itu memang hal yang perlu dicegah.

“Oh,” kata Salsa akhirnya.

Lalu tersenyum.

Kali ini, senyumnya sedikit berbeda.

Lebih kecil.

Tapi lebih asli.

“Makasih, Rak.”

Raka mengangguk.

“Jadwalnya masih bisa diubah.”

Naya melirik Salsa.

Lalu Raka.

Lalu Salsa lagi.

“Ohoo.”

Alya langsung berkata, “Naya.”

“Aku cuma menikmati perkembangan sosial.”

“Jangan jadikan orang proyek penelitian.”

“Tidak. Aku penonton.”

Bima ikut mengangkat tangan.

“Aku juga.”

“Justru itu masalahnya,” kata Alya.

Salsa tertawa pelan.

Namun tawa itu tidak sepenuhnya canggung seperti tadi.

Setelah pulang sekolah, mereka latihan opening pertama.

Lokasinya di kelas kosong sebelah, karena kelas mereka masih dipakai beberapa anak untuk mengerjakan tugas.

Naya berdiri di depan sebagai MC.

Bima duduk di kursi terdakwa dengan wajah yang menurutnya penuh martabat, tapi menurut semua orang mirip orang menahan bersin.

Alya menjadi hakim.

Salsa mengamati sambil sesekali mencatat bagian yang bisa dipakai untuk poster.

Raka memegang stopwatch.

“Mulai,” kata Raka.

Naya langsung mengangkat tangan seolah memegang mikrofon.

“Saudara-saudara sekalian! Pada hari yang penuh kejanggalan ini, kita berkumpul untuk menyaksikan perkara besar yang mengguncang dunia pendidikan!”

Bima berdiri.

“Saya keberatan sebelum dituduh.”

“Duduk,” kata Alya.

Bima duduk.

“Di hadapan kita,” lanjut Naya, “terdapat seorang siswa bernama Bima, yang didakwa membawa palu mencurigakan ke sekolah dengan alasan ‘simbol keadilan’.”

Bima berdiri lagi.

“Itu benar secara ideologis!”

“Duduk,” kata Alya.

Bima duduk lagi.

Salsa tertawa.

Raka melihat stopwatch.

“Empat puluh detik.”

Naya mengangguk.

“Bagus. Lanjut.”

Bima berdiri ketiga kalinya.

“Sebagai terdakwa, saya ingin menyampaikan bahwa palu tersebut tidak bersalah. Ia hanya ingin diakui.”

Alya mengetuk meja dengan palu kardus.

Tok.

“Palu tidak punya perasaan.”

Bima memegang dada.

“Justru karena semua orang berpikir begitu, palu-palu di dunia menderita.”

Naya menutup wajah dengan kertas naskah.

Salsa tertawa lebih keras.

Alya memejamkan mata.

“Ini keluar naskah.”

Bima mengangkat tangan.

“Improvisasi.”

“Jangan.”

Raka berkata datar, “Satu menit dua puluh detik. Bima sudah keluar jalur dua kali.”

“Catatan yang menyakitkan,” kata Bima.

“Tapi akurat.”

Mereka mengulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pada percobaan keempat, opening berhasil selesai dalam tiga menit dua belas detik.

Raka menatap stopwatch.

“Masih lewat dua belas detik.”

Naya menjatuhkan diri ke kursi.

“Dua belas detik itu masih manusiawi.”

“Kalau lima sesi, jadi satu menit.”

“Raka, kamu menghitung penderitaan.”

“Agar tidak bertambah.”

Alya mengangguk.

“Raka benar.”

Naya menatap Alya.

“Kamu sekarang sering memihak Raka.”

Alya langsung tegak.

“Karena dia benar.”

“Ohoo.”

“Naya.”

Bima mengangkat tangan.

“Sebagai terdakwa, aku juga merasa Raka benar. Bagian dakwaanku terlalu pendek.”

“Tidak ada yang bilang begitu,” kata Salsa.

“Perasaanku bilang.”

“Perasaanmu tidak masuk rundown,” kata Raka.

Naya tertawa.

Latihan berlangsung sampai sore.

Tidak terlalu lancar.

Tidak terlalu rapi.

Tapi cukup membuat mereka mulai tahu bagaimana satu sama lain bekerja.

Alya tegas, tapi mulai belajar tertawa saat rencana tidak berjalan sempurna.

Naya spontan, tapi selalu punya cara membuat suasana hidup.

Bima kacau, tapi anehnya membuat naskah lebih lucu.

Salsa tenang, tapi matanya jeli menangkap bagian yang bisa dipakai untuk menarik perhatian orang.

Raka diam, tapi hampir selalu tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Ketika mereka akhirnya beristirahat, Salsa duduk di dekat jendela sambil melihat ulang foto-foto poster di ponselnya.

Bima dan Naya masih berdebat soal apakah palu kardus layak diberi nama.

Alya mengecek catatan.

Raka berdiri di dekat pintu, memasukkan stopwatch dan catatan ke tasnya.

Dari luar kelas, dua siswa laki-laki lewat.

Salah satu dari mereka berhenti saat melihat Salsa.

“Sal.”

Salsa mengangkat wajah.

“Iya?”

“Nanti pas festival kamu di stand terus, kan?”

Salsa tersenyum.

“Belum tahu.”

“Yah, harusnya kamu di depan terus. Biar stand kalian ramai.”

Temannya tertawa.

“Bener. Kalau bukan karena kamu, paling stand sidang-sidangan itu nggak ada yang datang.”

Ruangan langsung terasa sedikit berubah.

Tidak drastis.

Tidak sampai sunyi total.

Tapi cukup untuk membuat Naya berhenti bicara.

Alya mengangkat wajah dari catatannya.

Bima menurunkan palu kardus.

Salsa masih tersenyum.

Namun senyumnya kali ini kaku.

Sebelum Naya sempat membalas, Raka sudah bicara.

“Kalau cuma mau lihat Salsa, bukan di stand kami tempatnya.”

Dua siswa itu menoleh ke Raka.

Raka berdiri dengan tas di bahu.

Wajahnya biasa saja.

Tidak marah.

Tidak menantang.

Justru karena itu kalimatnya terasa lebih tajam.

Salah satu siswa mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Stand kami ada konsep. Datang kalau mau ikut. Kalau cuma mau menjadikan orang sebagai pajangan, jangan.”

Hening.

Naya menatap Raka.

Bima perlahan membuka mulut.

Alya terlihat sama terkejutnya.

Salsa juga.

Siswa itu tertawa canggung.

“Lah, santai aja kali.”

“Memang santai,” kata Raka.

Nada suaranya tetap datar.

“Tapi jangan begitu.”

Temannya menarik lengan siswa itu.

“Udah, ayo.”

Mereka pergi sambil bergumam tidak jelas.

Beberapa detik setelah mereka menghilang dari koridor, Bima menunjuk Raka dengan palu kardus.

“Yang Mulia.”

Alya menoleh.

“Kenapa?”

“Saya mengajukan Raka sebagai saksi ahli keberanian mendadak.”

Raka menatapnya.

“Jangan.”

Naya berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Raka.

Matanya menyipit.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu barusan ngomong panjang.”

“Tidak terlalu.”

“Itu panjang untuk standarmu.”

Raka tidak menjawab.

Salsa berdiri pelan.

“Rak.”

Raka menoleh.

Salsa tersenyum kecil.

“Makasih.”

Raka mengangguk.

“Sama-sama.”

Hanya itu.

Tidak ada kalimat tambahan.

Tidak ada basa-basi.

Tapi cukup.

Alya menatap Raka sebentar, lalu Salsa.

Naya juga melihat mereka.

Bima, tentu saja, melihat semuanya dengan ekspresi orang yang baru menemukan bahan gosip bermutu tinggi.

Namun sebelum Bima sempat membuka mulut, Alya sudah menunjuknya.

“Jangan.”

Bima menutup mulut.

“Tapi—”

“Jangan.”

Bima menurunkan palu.

“Demokrasi kembali mati.”

Salsa tertawa kecil.

Kali ini lebih lega.

Latihan hari itu selesai tidak lama kemudian.

Saat mereka keluar kelas, langit sudah mulai jingga.

Naya berjalan di depan bersama Bima, masih membahas kemungkinan nama untuk palu kardus.

“Palu itu harus punya nama,” kata Bima.

“Nggak harus.”

“Harus. Semua senjata legendaris punya nama.”

“Itu bukan senjata.”

“Semua properti legendaris punya nama.”

Naya berpikir sebentar.

“Palkon.”

Bima berhenti.

“Palkon?”

“Palu kondangan.”

“Itu hinaan.”

“Palkim?”

“Palu hakim?”

“Iya.”

Bima terdiam.

“Lumayan.”

Di belakang mereka, Alya berjalan bersama Salsa.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alya pelan.

Salsa tersenyum.

“Iya. Sudah biasa.”

Alya mengerutkan kening.

“Justru itu yang nggak enak.”

Salsa tidak langsung menjawab.

Lalu ia tertawa kecil.

“Iya juga.”

Raka berjalan sedikit di belakang, tidak ikut dalam percakapan.

Namun ia mendengar.

Dan seperti biasa, ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Malamnya, di grup Mahkamah Receh, Salsa mengirim poster ketiga.

DICARI!
Pelaku Pemakan Gorengan Terakhir

Respons grup langsung ramai.

Naya: INI DIA KASUS BERAT.

Bima: Hukuman maksimal.

Alya: Jangan terlalu banyak tanda seru di caption.

Salsa: Siap.

Raka: Poster sudah bagus. Caption bisa lebih pendek.

Naya: Raka hari ini sedang banyak komentar.

Bima: Efek menjadi pahlawan koridor.

Salsa yang membaca pesan itu langsung mengetik.

Salsa: Jangan diledek. Tadi aku benar-benar terbantu.

Grup hening beberapa detik.

Lalu Naya membalas.

Naya: Siap, Sal. Tapi tetap boleh kami catat sebagai sejarah?

Salsa: Boleh sedikit.

Bima: SEJARAH: RAKA MENGGUNAKAN LEBIH DARI SEPULUH KATA UNTUK MEMBELA KEADILAN.

Raka: Jangan caps lock.

Alya: Setuju.

Naya: Setuju dengan Raka atau setuju jangan caps lock?

Alya: Dua-duanya.

Bima: Ohoo.

Alya: Bima.

Salsa membaca chat itu sambil tersenyum.

Di kamarnya, poster keempat masih terbuka di layar laptop.

Biasanya, setelah kejadian seperti tadi, ia akan merasa malas menjadi pusat perhatian.

Tapi malam itu sedikit berbeda.

Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada yang mengingatkan orang lain bahwa ia bukan pajangan.

Mungkin karena teman-teman barunya tidak memperlakukannya seperti alat promosi.

Mungkin karena saat ia berkata capek, ada yang benar-benar percaya.

Salsa mengetik pelan di grup.

Salsa: Besok aku bawa desain kartu kasus ya. Biar kita bisa pilih bareng.

Naya langsung membalas.

Naya: Siap, saksi utama.

Lalu pesan lain muncul.

Raka: Jangan terlalu banyak. Nanti capek.

Salsa membaca pesan itu.

Senyumnya muncul lagi.

Kecil.

Tapi tulus.

Salsa: Iya, Pak Pengatur Durasi.

Raka tidak membalas.

Bima yang membalas.

Bima: WAH ADA JABATAN BARU.

Alya: Jangan caps lock.

Naya: Pak Pengatur Durasi terdengar seperti guru piket waktu.

Raka: Aku keluar grup.

Naya: Jangan. Nanti siapa yang mengingatkan Bima punya batas bicara?

Raka: Benar juga.

Bima mengirim stiker menangis.

Malam itu, grup kembali ramai.

Dan untuk pertama kalinya, Salsa tidak merasa ia harus selalu tersenyum dengan cara yang aman.

Ia bisa tertawa.

Sedikit lebih lepas.

Sedikit lebih nyaman.

Namun kenyamanan baru itu justru membuat sesuatu yang lain mulai bergerak tanpa mereka sadari.

Karena keesokan harinya, saat Salsa datang ke kelas, di mejanya sudah ada selembar kertas kecil.

Dilipat rapi.

Tanpa nama.

Salsa membukanya.

Isinya hanya satu kalimat.

Nanti pas festival, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.

Salsa menatap kertas itu.

Naya yang baru masuk langsung melihat wajahnya.

“Sal?”

Salsa mengangkat kertas itu pelan.

Bima yang muncul dari belakang Naya langsung membelalak.

“Wah.”

Alya berhenti di ambang pintu.

Raka yang baru masuk beberapa langkah di belakang mereka ikut melihat.

Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Bima berbisik dengan nada terlalu serius,

“Sepertinya kasus baru telah masuk ke pengadilan.”

Senin, 15 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 6 / 20

Chapter 6

Semua Orang Mulai Nyaman

Keesokan harinya, Alya datang ke kelas dengan satu tekad sederhana.

Apa pun yang terjadi, ia tidak akan panik.

Tidak karena proposal.

Tidak karena anggaran.

Tidak karena poster.

Tidak karena logo ayam berwig hakim yang entah bagaimana mulai mendapat dukungan dari beberapa anggota kelas.

Dan terutama, tidak karena Bima.

Tekad itu bertahan selama sembilan menit.

Sampai Bima masuk kelas sambil membawa sesuatu yang dibungkus plastik hitam.

Alya langsung menatapnya.

“Bima.”

Bima berhenti di ambang pintu.

“Iya?”

“Itu apa?”

“Properti.”

“Properti apa?”

“Palu versi aman.”

Seluruh siswa yang sudah datang ke kelas otomatis menoleh.

Naya, yang sedang duduk di meja depan sambil mengunyah roti, langsung berhenti mengunyah.

Salsa menurunkan ponselnya.

Raka yang baru membuka buku juga ikut melihat.

Alya menatap bungkusan plastik hitam di tangan Bima.

“Kenapa dibungkus seperti barang bukti?”

“Biar dramatis.”

“Buka.”

“Di sini?”

“Sekarang.”

Bima berjalan ke tengah kelas dengan langkah pelan, seolah akan membuka peninggalan sejarah.

Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja tim inti.

Lalu membuka plastiknya.

Satu kelas menunggu.

Naya bahkan berdiri sedikit dari kursinya.

Dari dalam plastik, Bima mengeluarkan sebuah benda.

Bentuknya seperti palu hakim.

Atau setidaknya, niatnya begitu.

Gagangnya terbuat dari bekas gulungan kertas tebal yang dilakban sampai kaku. Kepalanya terbuat dari dua potong kardus yang digulung dan ditempel begitu banyak lakban sampai tampak seperti benda yang baru selamat dari perang.

Warnanya cokelat, hitam, dan bening.

Secara fungsi, mungkin aman.

Secara estetika, menyedihkan.

Hening.

Lalu Naya bertepuk tangan pelan.

“Wah.”

Bima mengangkat dagu.

“Terima kasih.”

“Aku belum muji.”

“Tapi auranya menuju ke sana.”

Salsa menahan tawa.

Alya menatap palu itu dengan ekspresi sulit.

“Ini kamu buat sendiri?”

“Iya.”

“Dengan apa?”

“Tekad.”

“Dan lakban berlebihan,” kata Raka.

Bima menunjuknya cepat.

“Jangan menghina fondasi peradaban sekolah.”

“Lakbannya hampir lebih banyak daripada kardusnya.”

“Itu namanya struktur.”

Naya mengambil palu itu, mengangkatnya, lalu mengetuk meja pelan.

Tok.

Suaranya kecil.

Tidak berwibawa.

Lebih mirip suara pintu lemari yang malu-malu.

Bima langsung membeku.

Naya mengetuk lagi.

Tok.

Lalu menatap Bima dengan wajah prihatin.

“Bim.”

“Jangan.”

“Ini bukan palu hakim.”

“Jangan lanjutkan.”

“Ini palu yang minta maaf sebelum mukul.”

Satu kelas tertawa.

Bima memegang dada.

“Kalian tidak menghargai karya anak bangsa.”

Alya mengambil palu itu dari tangan Naya dan memeriksanya.

Aneh.

Jelek.

Tapi aman.

Tidak akan merusak meja.

Tidak akan membuat guru piket panik.

Tidak akan membuat Bima dipanggil ke ruang BK.

Untuk standar properti buatan Bima, ini termasuk kemajuan besar.

“Bisa dipakai,” kata Alya akhirnya.

Bima langsung tegak.

“Serius?”

“Tapi harus dirapikan.”

“Berarti diterima?”

“Diterima sementara.”

Bima mengangkat kedua tangan.

“Mahkamah menerima simbol keadilan!”

Naya berseru, “Keberatan! Simbol keadilan masih perlu skincare.”

Salsa tertawa.

Raka menatap palu itu sebentar, lalu mengambil spidol hitam.

“Boleh?”

Bima memicingkan mata.

“Kamu mau apa?”

“Rapiin garisnya.”

“Kamu tidak akan mengubah identitasnya?”

“Identitasnya apa?”

Bima melihat palu itu.

Diam.

Lalu berkata, “Perjuangan.”

Raka tidak menjawab.

Ia hanya mulai merapikan bagian pinggir palu dengan spidol hitam, menutupi bekas lakban yang terlalu berantakan.

Alya memperhatikan beberapa detik.

Naya juga.

Tangan Raka bergerak tenang.

Tidak cepat, tapi rapi.

Benda yang tadinya terlihat seperti korban bencana pelan-pelan mulai tampak seperti properti yang sengaja dibuat.

Tidak bagus-bagus amat.

Tapi cukup.

Bima menatap dengan mata berbinar.

“Rak.”

“Hm?”

“Kamu menyelamatkan harga diriku.”

“Palu ini belum tentu menyelamatkan stand.”

“Tapi harga diriku dulu.”

Alya memijat pelipis.

Namun kali ini, ia tidak benar-benar kesal.

Setelah pelajaran pertama selesai, poster Salsa mulai menyebar.

Awalnya hanya di grup kelas.

Lalu di story beberapa anak.

Lalu diunggah ulang oleh anak kelas lain.

Poster pertama menampilkan ilustrasi siluet siswa memegang pulpen, dengan tulisan besar:

DICARI!
Pelaku Penghilang Pulpen Pinjaman

Di bawahnya ada kalimat:

Segera datang ke Ruang Sidang Anak Sekolah XI IPA 2.
Pengadilan paling tidak penting, tapi paling dekat dengan kehidupanmu.

Tidak sampai satu jam, beberapa anak dari kelas lain mulai bertanya.

“Eh, ini beneran stand kalian?”

“Kalau pengunjung disidang beneran?”

“Kasusnya bisa request?”

“Kalau yang hilang perasaan, bisa disidang juga?”

Pertanyaan terakhir datang dari Dito, yang entah kenapa selalu muncul saat pembahasan mulai tidak penting.

Naya langsung menjawab, “Kalau perasaanmu hilang, itu bukan kasus. Itu evaluasi diri.”

Dito memegang dada.

“Aku cuma nanya.”

“Pertanyaanmu punya luka batin.”

Bima berdiri di samping Naya sambil membawa palu kardus yang sudah dirapikan.

“Sebagai jaksa, saya siap memproses kasus kehilangan perasaan.”

Alya menoleh cepat.

“Tidak ada kasus itu.”

“Tapi pasarnya ada.”

“Bima.”

“Baik.”

Salsa duduk di meja tim inti sambil membuka ponsel.

Ia terlihat senang.

Bukan senang yang heboh.

Lebih seperti lega karena sesuatu yang ia buat benar-benar dihargai.

“Poster kedua aku unggah nanti sore,” katanya. “Kasus charger hilang.”

Naya langsung mengangguk antusias.

“Bagus. Besok gorengan.”

Bima mengangkat palu.

“Gorengan adalah kasus berat.”

“Palu turunkan,” kata Alya.

Bima menurunkan palu.

Raka duduk di sisi meja, menulis sesuatu di buku catatan.

Alya melirik.

“Kamu tulis apa?”

“Pertanyaan yang sering muncul.”

“Untuk apa?”

“Biar nanti alurnya jelas. Kalau banyak yang tanya request kasus, kita perlu batasan.”

Alya menatap catatan itu.

Di sana tertulis beberapa poin:

  • Apakah pengunjung boleh pilih kasus?

  • Apakah boleh datang berkelompok?

  • Durasi tiap sidang maksimal berapa menit?

  • Hukuman lucu harus aman dan sukarela.

  • Perlu antrean saat ramai.

  • Perlu orang yang menjelaskan aturan di depan stand.

Alya terdiam.

Lagi-lagi, Raka sudah memikirkan hal yang belum sempat ia pikirkan.

“Makasih,” katanya.

Raka mengangguk.

“Biar nanti nggak kacau.”

Bima menoleh.

“Rak, aku hargai usahamu. Tapi stand ini secara konsep memang mengandung kekacauan.”

“Makanya perlu batas.”

“Batas itu musuh seni.”

“Batas itu alasan seni tidak dilaporkan guru.”

Naya menunjuk Raka dengan roti di tangannya.

“Kalimat itu masuk poster.”

“Jangan.”

“Masuk prinsip hidup.”

“Jangan juga.”

Salsa tertawa sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Alya melihat mereka satu per satu.

Bima dengan palu kardusnya.

Naya dengan roti dan daftar kasus absurdnya.

Salsa dengan poster yang mulai menarik perhatian sekolah.

Raka dengan daftar teknis yang selalu muncul sebelum masalah terjadi.

Mereka masih kacau.

Tapi tidak sepenuhnya tidak berguna.

Itu perkembangan yang cukup besar.

Saat istirahat kedua, mereka mencoba simulasi sidang pertama.

Tempatnya di kelas.

Terdakwanya: Dito.

Bukan karena Dito dipilih.

Tapi karena ia sendiri yang menawarkan diri dengan kalimat, “Gue mau coba dulu, tapi jangan yang memalukan.”

Kalimat itu jelas tidak dipahami oleh Bima.

Bima langsung berdiri di depan kelas dengan palu kardus di tangan.

“Sidang perkara nomor satu dibuka!”

Alya duduk di kursi hakim karena semua orang sepakat ia paling cocok terlihat mengintimidasi tanpa perlu berusaha.

Naya menjadi pembela.

Salsa menjadi saksi.

Raka berdiri di samping papan tulis, memegang catatan alur dan stopwatch dari ponselnya.

Dito duduk di kursi terdakwa dengan ekspresi mulai menyesal.

Beberapa anak berkumpul menonton.

Bima mengambil kartu kasus pertama, lalu membacanya dengan suara lantang.

“Terdakwa Dito didakwa atas kasus berat: membaca chat grup, tidak membalas, tetapi muncul pertama saat ada info makanan gratis.”

Kelas langsung ribut.

“Itu benar!”

“Saksi hidup!”

“Gue pernah lihat!”

Dito panik.

“Lah, kok kasusnya pas banget?”

Naya berdiri sebagai pembela.

“Yang Mulia, klien saya tidak bersalah. Ia hanya memiliki prioritas hidup yang jelas.”

Bima menunjuk Naya.

“Prioritas itu makanan?”

“Bukankah makanan adalah hak dasar manusia?”

Beberapa anak bertepuk tangan.

Alya mengetuk meja dengan palu kardus.

Tok.

Suaranya masih kecil.

Alya menatap palu itu.

Bima langsung berbisik, “Nanti aku perbaiki suaranya.”

“Jangan bawa palu sungguhan lagi.”

“Belum tentu solusinya itu.”

“Bima.”

“Baik.”

Salsa berdiri sebagai saksi.

“Saya pernah melihat Dito membaca chat grup tugas selama lima menit, lalu tidak membalas apa pun.”

Dito menunjuk Salsa.

“Loh, Sal, kamu lihat?”

Salsa tersenyum.

“Iya.”

“Kenapa nggak negur?”

“Aku menunggu hati nuranimu bekerja.”

Kelas tertawa.

Dito menunduk.

“Hati nuraniku buffering.”

Naya langsung menunjuk Dito.

“Yang Mulia, klien saya mengaku memiliki masalah jaringan moral.”

“Keberatan!” seru Bima. “Itu bukan istilah hukum.”

“Ini Mahkamah Receh, semua istilah bisa diterima.”

Raka melihat stopwatch.

“Sudah dua menit.”

Alya langsung sadar.

“Sidang jangan terlalu panjang. Keputusan.”

Bima mengangkat palu.

“Sebentar. Aku belum menyampaikan dakwaan penutup.”

“Tidak ada dakwaan penutup,” kata Alya.

“Aku sudah menyiapkan.”

“Potong.”

Bima terlihat seperti orang yang baru dilarang bernapas.

Alya menatap Dito.

“Dengan ini, terdakwa dinyatakan bersalah secara sosial.”

Kelas bersorak.

“Hukumannya,” lanjut Alya, membaca daftar hukuman yang sudah mereka siapkan, “terdakwa harus membaca kalimat permintaan maaf kepada grup kelas dengan nada pembawa berita.”

Dito berdiri.

Mengambil kertas hukuman.

Lalu membaca dengan suara dibuat-buat serius.

“Selamat siang, pemirsa. Saya, Dito, menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh anggota grup kelas karena telah membaca chat tanpa membalas. Ke depan, saya berjanji akan minimal mengirim stiker jempol sebagai bentuk kontribusi.”

Kelas meledak tertawa.

Bahkan beberapa anak yang tadi hanya lewat ikut berhenti di depan kelas.

Naya tertawa sambil menepuk meja.

Salsa menutup mulut, bahunya bergetar.

Bima mengangkat palu kardus tinggi-tinggi seperti baru memenangkan perkara besar.

Alya mencoba tetap serius, tapi gagal sepenuhnya.

Raka menunduk melihat stopwatch.

Sudut bibirnya naik.

Kali ini lebih jelas.

Naya yang masih tertawa sempat melihatnya.

“Raka!”

Raka langsung mengangkat wajah.

“Apa?”

“Kamu ketawa.”

“Nggak.”

“Kali ini jelas.”

“Aku cuma melihat waktunya.”

“Stopwatch lucu, ya?”

Raka menatap ponselnya.

Lalu berkata datar, “Dua menit empat puluh detik.”

Naya menyipitkan mata.

“Itu pengalihan.”

“Data.”

Bima menunjuk Raka.

“Data tidak bisa menyembunyikan perasaan.”

Alya langsung menatap Bima.

“Jangan mulai sidang baru.”

“Aku hanya menyampaikan kemungkinan.”

Dito yang baru selesai dihukum duduk lagi sambil berkata, “Aneh, tapi seru.”

Kalimat itu membuat meja tim inti hening sesaat.

Karena dari semua komentar yang bisa muncul, itu yang paling mereka butuhkan.

Aneh.

Tapi seru.

Alya menulis cepat di bukunya.

Simulasi berhasil. Durasi perlu dipersingkat. Hukuman aman. Penonton tertawa.

Salsa langsung membuka ponsel.

“Aku bisa pakai video pendek simulasi ini buat teaser, tapi muka Dito jangan kelihatan jelas kalau dia nggak mau.”

Dito langsung berkata, “Kalau muka gue kelihatan, harus ganteng.”

Naya mengangguk serius.

“Berarti jangan kelihatan.”

Dito tersinggung.

Bima menepuk bahunya.

“Tenang. Di mata hukum, semua terdakwa sama.”

“Entah kenapa itu tidak menghibur.”

Raka melihat kerumunan kecil di depan kelas.

“Kalau saat festival ramai seperti ini, kita butuh pembatas antrean.”

Alya mengangguk.

“Tali rafia?”

“Bisa. Atau pita bekas yang kemarin.”

“Nanti aku cek lagi.”

“Aku bisa cek.”

Alya menoleh.

Raka sudah menulis di catatannya.

“Aku sekalian lihat kursi yang bisa dipinjam.”

Alya menahan diri untuk tidak langsung berkata, “Nanti aku ikut.”

Karena ia sadar, ia tidak harus ikut semua hal.

Jadi ia hanya berkata, “Oke.”

Naya langsung menatapnya.

Alya menatap balik.

“Apa?”

“Nggak. Aku bangga.”

“Jangan.”

“Bu Ketua sedang belajar melepas beban.”

“Aku bisa menarik kembali izinnya.”

“Baik, saya diam.”

Bima berbisik kepada Salsa, “Perkembangan karakter.”

Salsa tersenyum. “Lumayan cepat.”

Setelah simulasi itu, suasana kelas berubah.

Ruang Sidang Anak Sekolah tidak lagi terdengar seperti ide absurd yang cuma lucu di kepala Naya.

Sekarang mereka sudah melihat bentuknya.

Mereka sudah mendengar tawa penonton.

Mereka sudah tahu bagian mana yang harus diperbaiki.

Dan yang paling penting, anak-anak kelas lain mulai penasaran.

Saat pulang sekolah, beberapa siswa dari IPS 1 muncul di depan kelas.

“Eh, katanya di sini ada sidang?”

Bima langsung berdiri.

Alya menarik kerah seragamnya dari belakang.

“Belum buka.”

Bima menoleh.

“Tapi pengadilan tidak boleh menolak rakyat.”

“Pengadilan kita belum punya proposal disetujui.”

“Birokrasi memang menghambat keadilan.”

Naya muncul di samping pintu.

“Datang pas festival. Nanti kalian bisa disidang resmi.”

Salah satu anak IPS 1 menunjuk Bima.

“Dia jaksa?”

Bima langsung menegakkan badan.

“Calon jaksa utama.”

Alya berkata, “Belum diputuskan.”

“Sudah takdir,” kata Bima.

Raka yang sedang membereskan catatan berkata pelan, “Takdir juga bisa direvisi.”

Naya langsung tertawa.

Bima menunjuk Raka dengan wajah kecewa.

“Kamu makin sering menyerangku.”

“Fakta makin sering muncul.”

Anak-anak IPS 1 tertawa sebelum akhirnya pergi.

Alya menghela napas.

“Kalau promosi terlalu cepat, nanti ekspektasi orang tinggi.”

“Bagus dong,” kata Naya.

“Bagus kalau kita siap.”

“Kita akan siap.”

Alya menatapnya.

Naya tersenyum lebar.

Terlalu percaya diri.

Tapi anehnya, tidak sepenuhnya kosong.

Di belakang senyum itu, ada keyakinan yang membuat orang lain ingin sedikit ikut percaya.

Alya mengalihkan pandangan ke Raka.

“Menurutmu?”

Raka menutup bukunya.

“Bisa siap. Kalau Bima tidak improvisasi terlalu jauh.”

“Kenapa syaratnya aku?” protes Bima.

“Karena faktor risiko utama.”

Salsa menahan tawa.

Bima menatap mereka semua.

“Aku merasa tidak dihargai.”

“Kamu dihargai,” kata Naya.

“Sebagai?”

“Ancaman yang harus dikelola.”

“Terima kasih. Itu hampir pujian.”

Sore itu, mereka tidak langsung pulang.

Tanpa disuruh, mereka tetap tinggal di kelas.

Salsa merevisi poster kedua.

Naya dan Bima memperbaiki daftar kasus setelah simulasi.

Alya menyusun catatan evaluasi.

Raka mengecek barang properti dan menempel ulang bagian palu kardus yang mulai lepas.

Pekerjaan mereka belum selesai.

Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada yang benar-benar mengeluh ingin pulang.

Bima tetap mengeluh, tentu saja.

Namun ia mengeluh sambil menulis daftar dakwaan.

Itu sudah dihitung bekerja.

Sekitar setengah jam kemudian, azan Asar terdengar dari masjid dekat sekolah.

Raka yang sedang memotong lakban berhenti.

Ia merapikan gunting, menutup spidol, lalu berdiri.

“Aku ke masjid dulu.”

Naya mengangkat wajah.

“Oh, iya. Hati-hati.”

Bima langsung menoleh.

“Rak, kamu kalau dengar azan responsnya cepat banget.”

Raka menyampirkan tas kecil berisi sajadah tipis ke bahu.

“Memang waktunya.”

“Kalau dengar bel matematika, bisa respons cepat juga nggak?”

“Tidak.”

Naya tertawa.

Alya menatap daftar barang.

“Setelah itu balik lagi?”

“Iya. Ada lakban yang belum selesai.”

Bima menunjuk lakban di meja.

“Dia kembali demi lakban. Dedikasi yang mengharukan.”

Raka tidak menanggapi.

Ia berjalan keluar kelas.

Beberapa detik setelah ia pergi, Naya mengambil palu kardus yang tadi sedang diperbaiki Raka.

Bagian pinggirnya sudah lebih rapi.

Lakbannya tidak lagi berantakan.

Spidol hitam menutupi sisi-sisi yang sebelumnya terlihat asal.

Naya memutar palu itu di tangan.

“Dia rapi juga, ya.”

Alya menulis tanpa mengangkat wajah.

“Raka memang teliti.”

Salsa menatap pintu tempat Raka tadi keluar.

“Dan lumayan perhatian.”

Naya mengangguk.

“Iya. Ke barang.”

Salsa tersenyum kecil.

“Ke orang juga.”

Naya menoleh.

“Hm?”

Salsa hanya tersenyum dan kembali ke poster.

Naya mengerutkan kening sebentar.

Lalu mengangkat bahu.

“Memang dia baik.”

Bima yang sejak tadi mendengar langsung menunjuk Naya.

“Nah, itu masalahnya.”

“Apa?”

“Kalau orang terlalu baik, susah dibedain mana baik umum, mana baik khusus.”

Alya berhenti menulis.

Salsa menahan senyum.

Naya menatap Bima.

“Kamu ngomong kayak orang yang paham.”

“Aku memang paham.”

“Kamu?”

“Aku banyak mengamati kehidupan.”

“Kamu kemarin bawa palu ke sekolah.”

“Itu juga bagian dari kehidupan.”

Alya memutuskan untuk tidak membiarkan pembicaraan berkembang terlalu jauh.

“Fokus. Kita masih harus finalkan daftar kasus.”

Bima kembali menulis, tapi masih bergumam, “Catat ucapanku. Suatu hari teori ini akan terbukti.”

Naya tidak menanggapi.

Ia hanya meletakkan palu kardus kembali ke meja.

Beberapa menit kemudian, Raka kembali.

Tanpa banyak bicara, ia duduk lagi dan melanjutkan memperbaiki palu.

Naya menyodorkan potongan lakban yang sudah ia siapkan.

“Ini.”

Raka menatap lakban itu.

Lalu menerimanya.

“Makasih.”

“Biar cepat. Katanya kamu kembali demi lakban.”

“Itu kata Bima.”

“Tapi benar?”

Raka melihat palu kardus di tangannya.

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

Raka diam sebentar.

“Barangnya belum selesai.”

Naya mengangguk.

Jawaban itu terdengar sangat Raka.

Praktis.

Datar.

Tidak mencurigakan.

Jadi Naya tidak memikirkannya lagi.

Salsa yang melihat dari seberang meja hanya tersenyum tipis.

Alya juga melihat, tapi ia lebih sibuk memastikan daftar kasus tidak mengandung hal yang bisa membuat mereka dimarahi guru.

Bima melihat.

Tentu saja.

Namun Bima melihat sambil menyipitkan mata terlalu dramatis, sehingga tidak ada yang menganggapnya serius.

Menjelang sore, mereka akhirnya punya hasil.

Poster kedua siap.

Daftar kasus sementara selesai.

Palu kardus sudah layak dipakai.

Alur teknis sudah diperbarui.

Proposal hampir final.

Alya menatap semua itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.

Kemarin, ini semua terasa seperti beban.

Hari ini, masih beban.

Tapi bebannya punya suara tawa.

Itu sedikit membantu.

Naya berdiri sambil meregangkan tangan.

“Menurutku, kita perlu foto dokumentasi.”

“Untuk apa?” tanya Alya.

“Bukti bahwa kita pernah produktif.”

Bima langsung berdiri sambil membawa palu.

“Aku setuju.”

Salsa mengangkat ponselnya.

“Ayo. Sekalian buat arsip promosi.”

Raka mulai berdiri menjauh.

Naya langsung menunjuknya.

“Raka, jangan kabur.”

“Aku tidak kabur.”

“Kamu bergerak menjauh dari kamera.”

“Itu definisi kabur secara visual,” kata Bima.

Raka berhenti.

Alya menahan senyum.

“Sekali saja. Buat dokumentasi.”

Raka melihat mereka.

Lalu menghela napas kecil.

“Baik.”

Mereka berdiri di depan papan tulis.

Di belakang mereka tertempel tulisan:

RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH

Dan kertas kecil yang masih sedikit miring:

LUCU, TAPI NGGAK JAHAT

Bima berdiri paling depan memegang palu kardus.

Naya berdiri di sampingnya, sengaja menunjuk palu itu seperti presenter iklan.

Salsa memegang poster.

Alya memegang buku catatan.

Raka berdiri sedikit di belakang, tapi masih masuk kamera.

Salsa mengatur timer ponsel di meja.

“Tiga…”

“Dua…”

“Satu…”

Foto terambil.

Hasilnya langsung mereka lihat bersama.

Bima terlihat terlalu bangga.

Naya tertawa.

Salsa tersenyum manis.

Alya terlihat seperti ketua kelas yang belum sepenuhnya menerima nasib.

Raka tampak diam seperti biasa.

Namun kalau diperhatikan baik-baik, sudut bibirnya sedikit naik.

Naya menunjuk layar.

“Tuh! Ketahuan senyum!”

Raka melihat foto itu.

“Tidak.”

“Itu senyum.”

“Itu efek cahaya.”

“Cahaya dari mana? Jendela aja di samping.”

“Pantulan.”

Bima menatapnya serius.

“Raka, berhentilah menyalahkan fenomena alam.”

Salsa tertawa.

Alya mengirim foto itu ke grup.

Tidak sampai satu menit, beberapa anggota kelas lain membalas.

Dito: Tim hukum receh.

Mira: Bima kenapa kayak mau mukul meja orang?

Fajar: Itu Raka senyum?

Naya: NAH KAN.

Raka: Efek cahaya.

Bima: Fenomena alam kembali dijadikan kambing hitam.

Alya membaca balasan itu sambil menggeleng.

Namun ia menyimpan foto tersebut.

Bukan karena sentimental.

Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Malamnya, poster kedua Salsa diunggah.

Kasus charger hilang.

Responsnya lebih ramai daripada poster pertama.

Beberapa siswa dari kelas lain mulai menandai teman mereka.

Komentar-komentar bermunculan.

“Ini gue banget.”

“Yang minjam charger gue tolong sadar.”

“Stand XI IPA 2 kayaknya seru.”

“Gue mau disidang.”

Dalam waktu satu hari, sesuatu yang awalnya cuma ide absurd di papan tulis mulai berubah menjadi pembicaraan kecil di angkatan mereka.

Belum besar.

Belum legenda.

Tapi mulai bergerak.

Di grup Mahkamah Receh, notifikasi kembali ramai.

Salsa: Poster kedua sudah naik.

Naya: KEREN. Besok gorengan.

Bima: Kasus gorengan harus mendapat perlakuan khusus.

Alya: Jangan terlalu banyak poster. Jadwal unggah harus diatur.

Raka: Dua hari sekali mungkin cukup. Biar tidak cepat habis.

Salsa: Setuju.

Naya: Wah, Raka sudah jadi konsultan promosi.

Raka: Tidak.

Bima: Semua orang di grup ini punya jabatan kecuali aku yang belum diresmikan sebagai jaksa.

Alya: Karena memang belum.

Bima: Tirani.

Naya: Sabar, calon terdakwa.

Bima: Aku jaksa.

Raka: Bisa berubah.

Bima: RAKA.

Alya tertawa kecil di kamarnya.

Kali ini ia tidak langsung sadar.

Ketika sadar, ia berhenti sebentar.

Lalu melihat layar ponselnya lagi.

Grup itu berisik.

Sangat berisik.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus mematikan notifikasi.

Sementara itu, di rumahnya, Naya membaca ulang chat sambil tersenyum sendiri.

Bukan karena ada hal khusus.

Hanya karena semua orang terdengar seperti diri mereka masing-masing.

Bima yang terlalu percaya diri.

Alya yang berusaha mengatur.

Salsa yang menenangkan.

Raka yang muncul sesekali dengan kalimat pendek yang entah kenapa selalu tepat.

Naya mengetik pesan.

Naya: Besok jangan ada yang telat rapat ya. Terutama jaksa gadungan.

Bima: Saya bukan gadungan. Saya belum diakui negara.

Raka: Negara belum rugi.

Naya tertawa keras sampai ibunya dari luar kamar bertanya, “Kenapa?”

“Nggak, Bu! Ada orang aneh!”

Ia hampir mengetik balasan, tapi berhenti saat melihat pesan Raka itu lagi.

Negara belum rugi.

Untuk ukuran Raka, itu lumayan niat bercanda.

Naya tersenyum.

Lalu mengetik:

Naya: Raka mulai berbahaya. Dia sudah bisa roasting.

Balasan Raka muncul setengah menit kemudian.

Raka: Belajar dari lingkungan.

Bima: Aku merasa dijadikan bahan penelitian.

Alya: Memang.

Salsa: Sedikit.

Naya: Banyak.

Grup kembali ramai.

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, sesuatu benar-benar mulai berubah.

Bukan perubahan besar.

Bukan perubahan yang membuat siapa pun berhenti dan berkata, “Mulai hari ini kita sahabat.”

Tidak ada deklarasi.

Tidak ada janji.

Tidak ada momen dramatis.

Hanya lima orang yang awalnya tidak punya tempat tetap, perlahan mulai punya meja yang sama.

Punya grup yang sama.

Punya bahan tertawaan yang sama.

Dan punya satu proyek berantakan yang entah kenapa mulai terasa sayang kalau dikerjakan sendirian.

Namun tentu saja, kenyamanan itu tidak boleh berlangsung terlalu lama.

Karena dua hari kemudian, saat proposal akhirnya dikumpulkan dan mereka merasa sedikit aman, Bu Ratna masuk kelas dengan pengumuman baru.

“Anak-anak, ada perubahan dari panitia festival.”

Alya langsung menegakkan badan.

Naya berhenti mengunyah.

Bima menurunkan palu kardusnya.

Salsa menatap Bu Ratna.

Raka menutup buku catatannya.

Bu Ratna tersenyum.

Senyum guru yang lagi-lagi tidak membawa kabar baik.

“Setiap stand wajib menampilkan satu sesi pembuka di panggung kecil festival untuk menarik pengunjung.”

Satu kelas terdiam.

Lalu perlahan, semua mata menoleh ke arah tim inti.

Lebih tepatnya, ke arah Naya.

Naya menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa lihat aku?”

Bima menjawab pelan, “Karena kalau ada panggung, biasanya kamu alasan panggung itu dibuat.”

Alya memejamkan mata.

Raka menatap papan tulis.

Salsa menahan tawa gugup.

Dan Naya, setelah diam selama tiga detik, akhirnya tersenyum.

Senyum yang membuat Alya langsung merasa keadaan akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

“Berarti,” kata Naya, “kita butuh opening yang norak.”

Bima langsung mengangkat palu kardus.

“Sidang keliling.”

Alya berkata cepat, “Tidak.”

Namun terlambat.

Karena mata Naya sudah berbinar.

Dan kalau mata Naya sudah berbinar, biasanya satu kelas hanya punya dua pilihan.

Ikut.

Atau terseret.

Minggu, 14 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 5 / 20

Chapter 5

Grup Chat yang Isinya Tidak Nyambung

Bima benar-benar membawa palu ke sekolah.

Palu sungguhan.

Palu yang biasanya dipakai untuk memaku kayu, memperbaiki kursi, atau dalam kasus tertentu, membuat guru piket mempertanyakan keamanan lingkungan belajar.

Benda itu kini tergeletak di atas meja tim inti.

Berat.

Kusam.

Dan sama sekali tidak terlihat seperti simbol keadilan.

Lebih terlihat seperti alat bukti.

Alya menatap palu itu cukup lama.

Lalu menatap Bima.

Lalu kembali menatap palu.

“Bima.”

“Iya?”

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Rumah.”

“Orang rumahmu tahu?”

Bima diam.

Keheningan itu menjawab lebih banyak daripada kata-kata.

Naya langsung menutup mulutnya, menahan tawa.

Salsa memegang ujung mapnya, ragu antara ikut tertawa atau khawatir.

Raka menatap palu itu dengan wajah datar.

“Kalau ada pemeriksaan tas, kamu susah menjelaskan.”

Bima tampak tersinggung.

“Kenapa kalian semua melihat ini sebagai masalah?”

“Karena itu palu,” kata Alya.

“Palu bisa menjadi properti.”

“Palu juga bisa menjadi alasan pemanggilan orang tua.”

Naya mengangkat tangan. “Sebagai pembela, aku merasa kasus ini berat.”

“Aku belum jadi terdakwa.”

“Semua orang yang membawa palu ke sekolah punya potensi jadi terdakwa.”

Bima memegang dada.

“Aku membawa ini demi stand.”

“Stand kita konsep sidang anak sekolah,” kata Salsa pelan. “Bukan rekonstruksi kriminal.”

Raka mengangguk kecil.

“Dan terlalu berat. Kalau dipakai mukul meja, mejanya bisa rusak.”

Bima melihat palu itu.

Lalu melihat meja.

Seolah baru menyadari kemungkinan tersebut.

Alya menarik napas panjang.

“Palu ini kamu bawa pulang lagi.”

“Tapi kewibawaan sidang—”

“Kita bikin properti dari kayu bekas atau kardus tebal.”

“Kardus tidak berwibawa.”

“Lebih berwibawa daripada dipanggil BK.”

Bima terdiam.

Kalimat itu sulit dilawan.

Naya menepuk bahu Bima.

“Tenang. Kita bisa bikin palu hakim versi aman. Namanya juga Ruang Sidang Anak Sekolah. Bukan Ruang Sidang Pengadilan Negeri.”

Bima masih terlihat tidak rela.

“Tapi bunyinya pasti beda.”

Raka mengambil spidol dari meja, lalu mengetuk pelan permukaan meja.

Tok.

Semua menoleh.

“Bunyinya cukup,” kata Raka.

Bima menatap spidol itu dengan ekspresi seperti baru melihat pengkhianatan.

“Kamu ingin mengganti simbol keadilan dengan alat tulis?”

“Lebih aman.”

“Lebih lemah.”

“Tapi tidak disita.”

Alya menunjuk Raka.

“Setuju.”

Bima menatap satu per satu wajah mereka.

Naya tersenyum.

Salsa tersenyum sopan.

Alya tidak tersenyum sama sekali.

Raka sudah kembali menunduk ke daftar barang.

Bima akhirnya mengambil palu itu dengan gerakan dramatis.

“Baik. Aku akan memulangkan simbol keadilan ini.”

“Sekarang,” kata Alya.

“Sekarang?”

“Iya. Titipkan ke satpam atau taruh di motormu kalau kamu bawa motor.”

“Aku naik angkot.”

“Berarti titipkan ke satpam.”

Bima memeluk palu itu seperti perpisahan terakhir.

“Selamat tinggal, rekan perjuangan.”

Naya bertepuk tangan pelan.

“Pidato pemakaman untuk palu. Hari ini lengkap.”

Bima berjalan keluar kelas dengan langkah berat.

Dua menit kemudian, ia kembali.

Tanpa palu.

Dengan wajah orang yang baru kehilangan hak asuh.

Alya tidak memberi kesempatan untuk berkabung.

“Kita lanjut rapat.”

Bima duduk.

“Hatiku belum siap.”

“Hatimu tidak masuk agenda.”

Alya membuka buku catatan.

Hari itu, mereka punya tiga tugas utama.

Pertama, membuat grup koordinasi.

Kedua, membagi tugas properti dan promosi.

Ketiga, memastikan Bima tidak membawa benda berbahaya lagi ke sekolah.

Poin ketiga, lagi-lagi, tidak ditulis.

Tapi semua orang tahu.

“Untuk koordinasi,” kata Alya, “kita butuh grup chat khusus tim inti.”

Bima langsung mengangkat tangan.

“Aku buat.”

“Jangan,” kata Alya cepat.

“Kenapa?”

“Aku ingin nama grupnya normal.”

Bima tampak terluka.

“Aku belum usul.”

“Justru itu.”

Naya mengeluarkan ponsel. “Aku aja yang buat.”

Alya menoleh.

“Kamu bisa bikin nama normal?”

“Bisa.”

Lima detik kemudian, ponsel mereka bergetar.

Naya baru saja membuat grup.

Namanya:

MAHKAMAH RECEH XI IPA 2

Alya menatap layar ponselnya.

Lalu menatap Naya.

“Ini normal menurutmu?”

“Normal untuk kita.”

Bima langsung tersenyum lebar.

“Aku suka.”

“Itu masalahnya,” kata Alya.

Salsa tertawa kecil sambil menyimpan nomor mereka satu per satu.

Raka melihat nama grup itu.

Diam.

Lalu mengetik sesuatu.

Beberapa detik kemudian, muncul pesan pertama dari Raka.

Raka: Grup ini untuk koordinasi stand?

Naya langsung membalas.

Naya: Bukan. Ini grup dakwah hukum.

Bima: Saya siap menjadi jaksa umat.

Alya: Tolong serius.

Salsa: Aku sudah masuk ya.

Naya: Selamat datang, saksi yang selalu dipercaya.

Bima: Keberatan. Saksi terlalu cantik bisa memengaruhi hakim.

Alya: Bima.

Bima: Baik, saya cabut keberatan.

Raka menatap layar beberapa detik.

Lalu menaruh ponselnya menghadap bawah.

Naya melihatnya.

“Raka menyerah duluan.”

“Aku membaca seperlunya.”

“Ini baru lima pesan.”

“Sudah cukup menggambarkan masa depan.”

Salsa menahan tawa.

Alya mengetuk meja dengan spidol.

“Sekarang kita serius.”

Bima menatap spidol di tangan Alya.

“Lihat? Bahkan kamu mulai memakai palu versi alat tulis.”

Alya langsung meletakkan spidol.

“Bima.”

“Maaf.”

Rapat dimulai.

Atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai rapat.

Alya membagi tugas dengan rapi.

Naya dan Bima bertugas membuat daftar kasus dan skenario sidang.

Salsa bertugas membuat konsep poster, promosi media sosial, dan desain kartu kasus.

Raka bertugas membuat alur teknis, daftar barang, dan sistem antrean.

Alya mengawasi semuanya, menyusun proposal, mengurus anggaran, dan memastikan kelas tidak berubah menjadi pasar malam tanpa izin.

“Kenapa tugasmu paling banyak?” tanya Salsa.

Alya berhenti menulis.

“Karena proposal harus dikumpulkan minggu depan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu alasan.”

Naya menopang dagu.

“Bu Ketua, kamu tahu kan kerja tim itu artinya tidak semua hal harus kamu pegang?”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap pegang semua.”

“Aku cuma memastikan.”

“Memastikan semua beban hidup pindah ke tasmu?”

Alya menatap Naya.

Naya tersenyum polos.

Bima mengangkat tangan. “Aku bisa bantu proposal.”

Alya diam.

Naya diam.

Salsa diam.

Raka bahkan berhenti menulis.

Bima melihat reaksi mereka.

“Kenapa hening?”

Alya menjawab hati-hati, “Kamu yakin?”

“Aku bisa mengetik.”

“Itu bukan satu-satunya syarat.”

“Aku juga bisa memakai huruf kapital.”

Naya berbisik pada Salsa, “Kemajuan besar.”

Bima menunjuknya. “Aku dengar.”

Raka tiba-tiba berkata, “Aku bisa bantu format proposal.”

Alya menoleh.

“Format?”

“Iya. Bagian teknis, kebutuhan barang, alur pengunjung. Nanti kamu tinggal susun konsep utama dan anggaran.”

Alya menatapnya beberapa detik.

Bukan karena tidak mengerti.

Tapi karena otaknya perlu waktu menerima bahwa seseorang baru saja mengambil sebagian beban tanpa ia minta.

“Kamu yakin?” tanyanya.

Raka mengangguk.

“Bisa.”

Naya langsung tersenyum miring.

“Ohoo.”

Alya menoleh cepat.

“Jangan.”

“Aku cuma bilang ohoo.”

“Itu masalahnya.”

Bima menepuk meja. “Sebagai jaksa, aku mencium kerja sama profesional.”

“Itu bukan kasus,” kata Salsa.

“Belum.”

Raka tidak bereaksi.

Ia hanya membuka buku catatan dan mulai menyalin poin-poin teknis.

Alya kembali melihat bukunya.

Anehnya, daftar pekerjaannya terasa sedikit lebih manusiawi.

Rapat berlanjut.

Naya mulai membaca beberapa contoh kasus yang ia buat.

“Kasus pertama: terdakwa mengatakan ‘lima menit lagi sampai’, padahal berdasarkan penyelidikan, ia masih mencari kaus kaki.”

Bima mengangkat tangan.

“Sebagai jaksa, aku bisa membawakan ini dengan penuh amarah.”

“Jangan terlalu penuh,” kata Raka.

“Kenapa?”

“Takut pengunjung kabur.”

“Berarti amarah sedang.”

Naya mencatat.

“Kasus kedua: terdakwa meminjam pulpen lalu hilang.”

Alya mengangguk. “Bagus. Relate.”

“Kasus ketiga: terdakwa bilang ‘aku nggak belajar’ tapi nilainya sembilan puluh.”

Satu meja langsung terdiam.

Salsa menutup mulut.

Bima perlahan menoleh ke Raka.

Raka yang sedang menulis ikut menoleh.

“Apa?”

Bima menunjuknya.

“Tersangka.”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Tapi auramu begitu.”

“Aura tidak bisa jadi bukti.”

Naya menepuk meja.

“Kalimat itu bagus. Masukkan ke skenario.”

Salsa menulis cepat.

Aura tidak bisa jadi bukti.

Alya menatap mereka, lalu sadar bahwa ia baru saja membiarkan kalimat Raka masuk ke skenario stand.

Ia ingin protes.

Tapi sebenarnya cocok.

Jadi ia diam.

“Kasus keempat,” lanjut Naya, “terdakwa pura-pura tidak melihat chat grup tugas.”

“Ini kasus berat,” kata Salsa.

“Setuju,” kata Alya.

Bima mengangguk. “Hukuman maksimal.”

Raka menambahkan, “Tapi jangan pakai chat asli.”

Naya menunjuknya.

“Betul. Kita pakai chat karangan. Biar aman.”

Alya mencatat:

Semua kasus harus fiktif. Tidak menyerang orang tertentu.

Di bawahnya, ia menambahkan:

Lucu, tapi nggak jahat.

Kalimat itu mulai terasa seperti aturan sungguhan.

Bukan cuma tulisan miring di papan.

Sementara itu, grup chat baru mereka mulai berbunyi lagi.

Bima mengirim pesan.

Bima: Usul kasus: terdakwa menghilangkan palu keadilan.

Alya: Ditolak.

Bima: Belum disidang.

Naya: Aku sebagai pembela juga menolak.

Salsa: Kasusnya terlalu pribadi.

Raka: Barang bukti sudah diamankan satpam.

Bima menatap Raka dengan wajah tersakiti.

“Kamu ikut mengkhianatiku?”

“Fakta.”

“Fakta bisa menyakiti.”

“Makanya jangan bawa palu.”

Naya tertawa sampai hampir menjatuhkan ponsel.

Alya sebenarnya ingin menegur mereka agar fokus.

Tapi anehnya, meski kacau, mereka tetap menghasilkan sesuatu.

Daftar kasus bertambah.

Daftar properti mulai jelas.

Salsa berhasil membuat sketsa poster pertama.

Raka membuat alur sederhana:

  1. Pengunjung mengambil nomor antrean.

  2. Pengunjung mengambil kartu kasus.

  3. Pengunjung masuk ruang sidang.

  4. Jaksa membaca dakwaan.

  5. Pembela memberi pembelaan.

  6. Saksi memberi komentar.

  7. Hakim memutus hukuman lucu.

  8. Pengunjung mendapat stiker “Sudah Disidang”.

Naya membaca alur itu dengan mata berbinar.

“Kita kasih stiker?”

“Kalau ada anggaran,” kata Raka.

“Harus ada. Itu lucu.”

Bima mengangkat tangan. “Stikernya tulis apa?”

Naya langsung menjawab, “Saya mantan terdakwa.”

Salsa tertawa. “Atau ‘Telah diadili secara tidak serius’.”

Raka menulis.

Alya menatapnya.

“Kamu serius masukin?”

“Bisa jadi ide.”

Bima memegang dada.

“Raka sudah mulai menerima budaya kita.”

“Belum,” kata Raka.

“Tahap penyangkalan.”

Salsa memutar sketsa posternya ke arah mereka.

Di kertas itu, ia menggambar konsep poster seperti pengumuman buronan.

Di tengahnya ada siluet siswa memegang pulpen.

Di atasnya tertulis:

DICARI!

Di bawahnya:

Pelaku Penghilang Pulpen Pinjaman

Naya langsung bertepuk tangan.

“Sal, ini bagus banget!”

Bima mengangguk serius.

“Aku merasakan keadilan.”

Alya memperhatikan detailnya.

“Ini bisa dipakai. Nanti versi digitalnya bisa kamu buat?”

“Bisa,” jawab Salsa. “Tapi aku butuh daftar kasus final dulu.”

“Berarti Naya dan Bima harus selesai hari ini.”

Bima menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa aku disebut setelah Naya?”

“Karena kontribusimu belum stabil.”

“Tidak adil.”

“Stabil dulu.”

Raka melihat poster itu sebentar.

Lalu berkata, “Kalau desainnya seperti buronan, bisa dibuat beberapa versi. Biar orang penasaran.”

Salsa menoleh.

“Misalnya?”

“Bukan cuma pulpen. Bisa charger, gorengan, chat grup. Tiap poster beda kasus.”

Salsa berpikir.

Lalu wajahnya terlihat lebih cerah.

“Iya juga. Jadi promosi bertahap.”

Naya menunjuk Raka.

“Nah! Diam-diam punya ide bagus.”

“Aku tidak diam-diam.”

“Kamu selalu diam-diam.”

“Tidak selalu.”

“Barusan kamu bicara, itu pengecualian.”

Raka memilih tidak membalas.

Alya mencatat ide itu.

Tanpa sadar, ia menulis nama Raka di samping poin promosi.

Lalu berhenti.

Kenapa ia menulis nama Raka?

Raka bagian teknis.

Tapi idenya memang membantu promosi.

Alya menghapus tanda tanya kecil di kepalanya dan lanjut menulis.

Rapat selesai saat langit di luar kelas mulai berubah warna.

Siswa lain sudah banyak yang pulang.

Kelas mereka tinggal berisi lima orang itu dan beberapa suara dari lapangan.

Naya meregangkan tangan.

“Wah, kita produktif juga.”

Bima mengangguk. “Aku bangga pada lembaga ini.”

“Kamu dari tadi lebih banyak membahas palu,” kata Alya.

“Itu bagian dari identitas lembaga.”

Salsa merapikan kertas desainnya.

“Aku nanti coba bikin poster digital malam ini. Kalau sudah, aku kirim ke grup.”

Raka menutup bukunya.

“Aku kirim alur teknis juga.”

Alya mengangguk.

“Aku susun proposal. Besok kita cek bareng.”

Naya menyipitkan mata.

“Kamu susun proposal sendirian?”

Alya berhenti.

“Raka bantu format teknis.”

“Selain itu?”

“Aku bisa.”

Naya menatapnya.

Alya menatap balik.

Salsa menatap keduanya.

Bima berbisik, “Ini seperti duel tanpa musik.”

Raka memasukkan bukunya ke tas, lalu berkata, “Kirim draft-nya ke grup. Kalau ada yang bisa dibagi, dibagi.”

Alya menoleh.

Kalimat itu tidak terdengar seperti perintah.

Tapi cukup membuatnya tidak bisa langsung membantah.

“Aku lihat nanti.”

Naya menunjuk Alya.

“Itu bahasa ketua kelas untuk ‘aku kerjakan sendiri dulu lalu pingsan’.”

“Aku tidak akan pingsan.”

“Belum.”

Bima mengangkat tangan.

“Kalau pingsan, apakah rapat ditunda?”

Alya mengambil buku dan menatapnya tajam.

“Bima.”

“Aku cuma menanyakan prosedur.”

Mereka akhirnya keluar kelas bersama-sama.

Bima berjalan paling depan sambil masih membahas bahwa palu sungguhan seharusnya dipertimbangkan sebagai properti premium.

Naya berjalan di samping Salsa, melihat sketsa poster sambil sesekali menambahkan ide yang makin lama makin tidak masuk akal.

Alya berjalan sedikit di belakang mereka, memeluk buku catatannya.

Raka berjalan di sebelahnya.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Cukup dekat untuk mendengar ketika Alya menghela napas pelan.

“Capek?” tanya Raka.

Alya menoleh.

Pertanyaan itu pendek.

Biasa saja.

Tapi karena datang dari orang yang jarang bertanya, rasanya sedikit mengejutkan.

“Lumayan.”

“Proposal bisa dicicil.”

“Aku tahu.”

“Jangan semua malam ini.”

Alya hampir menjawab, “Aku tahu,” lagi.

Tapi kali ini ia berhenti.

Karena kalau ia jujur, ia memang berencana mengerjakan semuanya malam ini.

Naya benar.

Menyebalkan sekali.

“Aku coba,” kata Alya akhirnya.

Raka mengangguk.

“Kalau butuh bagian teknis, kirim saja.”

Alya melihatnya sebentar.

“Makasih.”

“Sama-sama.”

Mereka berjalan lagi.

Di depan, Bima tiba-tiba berhenti dan berbalik.

“Teman-teman.”

Alya langsung waspada.

“Apa?”

“Aku punya ide nama stiker.”

“Jangan yang aneh,” kata Salsa.

Bima mengangkat satu jari dengan wajah serius.

“Lulusan Mahkamah Receh.”

Naya berhenti.

Salsa berhenti.

Alya berhenti.

Raka juga berhenti.

Hening.

Bima menunggu penilaian.

Naya perlahan mengangguk.

“Sayangnya... itu bagus.”

Bima mengepalkan tangan.

“Aku tahu.”

Alya memejamkan mata.

Ia benci harus mengakui ini.

Tapi benar.

Itu bagus.

Salsa langsung membuka ponsel.

“Aku catat.”

Raka berkata pelan, “Bisa dipakai.”

Bima menatap Raka dengan mata berbinar.

“Kamu mengakuinya?”

“Idenya bisa dipakai.”

“Bukan aku?”

“Idenya.”

“Cukup. Aku terima.”

Mereka tertawa kecil di koridor yang mulai sepi.

Tidak keras.

Tidak heboh seperti di kelas.

Tapi cukup untuk membuat langkah pulang terasa sedikit lebih ringan.

Malamnya, grup MAHKAMAH RECEH XI IPA 2 resmi hidup.

Terlalu hidup.

Salsa: Aku kirim draft poster pertama ya.

Salsa mengirim gambar poster buronan pulpen.

Naya: SAL INI KEREN BANGET.

Bima: Aku merasa pulpen-pulpen terwakili.

Alya: Bagus. Tapi tulisan tanggal festival perlu diperbesar.

Raka: Kontras judul sudah oke. Bagian lokasi bisa dipindah ke bawah.

Salsa: Siap, aku revisi.

Lalu Bima mengirim stiker orang mengetuk palu.

Alya: Jangan spam.

Bima: Ini bukan spam. Ini simulasi suasana sidang.

Naya: Tok tok tok.

Bima: Saudara terdakwa, apakah Anda mengaku?

Naya: Saya hanya korban keadaan.

Bima: Semua terdakwa bilang begitu.

Alya: Fokus.

Raka: Aku kirim alur teknis.

Raka mengirim foto catatan rapi.

Beberapa menit kemudian, Alya mengirim dokumen proposal awal.

Alya: Draft kasar. Belum selesai.

Naya langsung membalas.

Naya: Kamu bilang mau dicicil.

Bima: Ketua kelas tertangkap tangan.

Salsa: Alya, ini sudah banyak banget.

Raka: Bagian teknis belum perlu kamu tulis ulang. Pakai punyaku saja.

Alya menatap layar ponselnya.

Di kamarnya, buku catatan terbuka di meja.

Proposal di laptop masih belum selesai.

Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.

Beberapa detik kemudian, pesan baru dari Raka muncul.

Raka: Kirim file-nya kalau mau. Aku rapikan bagian teknis.

Alya membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Bukan karena pesannya sulit dimengerti.

Tapi karena ia tidak terbiasa ada orang yang benar-benar menawarkan bantuan sebelum ia meminta.

Naya mengirim pesan lagi.

Naya: Bu Ketua, terima bantuan adalah bagian dari ibadah sosial.

Bima: Setuju. Jangan halangi amal Raka.

Salsa: Biar cepat selesai juga.

Alya menatap layar.

Menghela napas.

Lalu akhirnya mengirim file.

Alya: Jangan ubah bagian konsep dulu. Bagian teknis saja.

Raka: Oke.

Bima: SEJARAH. ALYA MEMBAGI BEBAN.

Naya: Tolong screenshot.

Alya: Bima.

Bima: Baik.

Alya meletakkan ponselnya di meja.

Anehnya, setelah file itu terkirim, bahunya terasa sedikit lebih ringan.

Di sisi lain kota, Raka membuka file proposal itu di laptopnya.

Ia membaca bagian konsep yang ditulis Alya.

Rapi.

Terlalu rapi.

Bahkan catatan kecil pun dibuat lengkap.

Raka terdiam sebentar.

Lalu mulai merapikan bagian teknis sesuai catatannya.

Tidak banyak bicara.

Tidak mengirim pesan tambahan.

Hanya mengerjakan bagian yang sudah ia bilang akan ia kerjakan.

Sementara itu, grup chat terus berjalan.

Naya dan Bima berdebat apakah kasus “makan gorengan terakhir” termasuk pelanggaran ringan atau berat.

Salsa mengirim revisi poster kedua.

Alya beberapa kali mencoba mengetik “sudah cukup, jangan terlalu malam”, tapi selalu tertunda karena ada ide baru yang sebenarnya bagus.

Raka akhirnya mengirim file revisi satu jam kemudian.

Raka: Bagian teknis sudah dirapikan. Aku tambah alur antrean dan daftar barang.

Alya membuka file itu.

Membaca.

Lalu diam.

Rapi.

Jelas.

Tidak berlebihan.

Dan, yang paling menyebalkan, sangat membantu.

Alya: Makasih. Ini bagus.

Balasan Raka muncul beberapa detik kemudian.

Raka: Sama-sama.

Tidak ada emoji.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada kalimat panjang.

Alya menatap dua kata itu sebentar.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Senyum itu hanya bertahan sebentar, karena pesan Bima langsung muncul.

Bima: Teman-teman, aku membuat logo.

Gambar terkirim.

Seekor ayam memakai wig hakim.

Grup hening selama beberapa detik.

Lalu Naya membalas.

Naya: Itu ayam.

Bima: Phoenix hukum.

Alya: Ditolak.

Salsa: Lucu sih.

Raka: Bisa jadi maskot sampingan.

Alya menatap pesan Raka.

Tidak percaya.

Alya: Jangan didukung.

Bima: RAKA DI PIHAKKU.

Raka: Sampingan. Bukan logo utama.

Naya: Terlambat. Dia sudah merasa menang.

Benar saja, Bima langsung mengirim tiga stiker perayaan.

Alya menatap layar ponsel dengan pasrah.

Malam itu, proposal belum selesai sepenuhnya.

Poster belum final.

Daftar kasus masih terlalu banyak.

Logo ayam berwig hakim entah kenapa tersimpan di galeri Salsa.

Tapi untuk pertama kalinya, grup itu terasa seperti sesuatu yang berguna.

Kacau.

Berisik.

Tidak efisien.

Namun hidup.

Dan di antara notifikasi yang terus muncul sampai hampir jam sepuluh malam, Alya menyadari satu hal kecil yang cukup berbahaya.

Mengerjakan sesuatu bersama mereka ternyata tidak seburuk yang ia kira.

Bahkan, meski ia tidak akan mengakuinya keras-keras, sedikit menyenangkan.

Sayangnya, kesenangan itu hanya bertahan sampai pesan terakhir malam itu muncul dari Bima.

Bima: Besok aku bawa palu versi aman.

Alya langsung duduk tegak.

Alya: Maksudnya apa?

Tidak ada balasan.

Bima offline.

Naya mengirim satu pesan terakhir.

Naya: Bu Ketua, besok kita berdoa saja.

Raka membalas singkat.

Raka: Aku bawa lakban.

Alya menatap layar ponselnya.

Entah kenapa, kalimat itu tidak membuatnya tenang.

Sama sekali.

Sabtu, 13 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 4 / 20

Chapter 4

Ketua Kelas, Anak Pendiam, dan Kardus yang Hilang

Ada banyak hal yang bisa hilang di kelas XI IPA 2.

Pulpen.

Penghapus.

Niat belajar.

Kesabaran Alya.

Namun dari semua benda yang mungkin hilang, kardus kas kelas jelas bukan pilihan yang menyenangkan.

Apalagi kardus itu bukan sekadar kardus.

Di dalamnya biasanya tersimpan beberapa barang penting: uang kas cadangan, nota pembelian, kertas-kertas bekas yang entah kenapa masih disimpan, dan benda-benda kecil yang oleh Alya disebut “perlengkapan kelas”, sementara oleh Bima disebut “koleksi museum penderitaan”.

Sekarang kardus itu hilang.

Lemari kelas terbuka.

Rak bagian bawah kosong.

Dan lima orang berdiri di depannya seperti baru saja menemukan lokasi perkara.

Bima menunjuk ruang kosong itu dengan ekspresi sangat serius.

“Sepertinya, sidang pertama kita harus dimulai sekarang.”

Alya menoleh pelan.

“Bima.”

“Iya?”

“Ini bukan waktunya bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Ini justru bukti bahwa konsep stand kita sangat relevan dengan kehidupan nyata.”

Naya menatap lemari, lalu menatap Bima.

“Kalau ternyata kamu yang mindahin, aku pribadi akan mengusulkan hukuman membaca janji siswa pakai nada sedih.”

“Aku tidak bersalah.”

“Itu kalimat semua terdakwa.”

“Makanya aku butuh pengacara.”

Naya menunjuk dirinya sendiri. “Bayar dulu.”

“Teman kok transaksional.”

“Pengacara memang begitu.”

Salsa mencoba melihat ke dalam lemari, mungkin berharap kardus itu hanya bersembunyi di balik benda lain.

Sayangnya tidak.

Yang ada hanya beberapa sapu kelas, pengki, satu bola plastik penyok, dan tumpukan map lama.

“Terakhir siapa yang pegang?” tanya Salsa.

Alya membuka buku catatannya cepat.

Terlalu cepat.

Seolah ia memang sudah menduga suatu hari nanti sesuatu akan hilang dan ia perlu membuktikan bahwa dunia ini tidak bisa dipercaya.

“Kemarin aku pakai untuk ambil uang beli spidol,” kata Alya. “Setelah itu aku masukkan lagi ke lemari.”

“Lemarinya dikunci?” tanya Raka.

Alya berhenti.

Lalu menatap pintu lemari.

“Harusnya.”

Bima langsung mengangkat tangan.

“Yang Mulia, izinkan saya menyatakan bahwa kata ‘harusnya’ adalah pintu menuju kehancuran.”

Alya menatapnya.

Bima menurunkan tangan.

“Baik. Saya diam.”

Naya membuka pintu lemari satu lagi.

“Siapa tahu pindah ke sini.”

“Kalau kardus bisa pindah sendiri, kita punya masalah lebih besar,” kata Raka.

Naya menoleh.

“Raka, itu kalimat paling horor yang kamu ucapkan hari ini.”

“Aku cuma bilang kemungkinan.”

“Jangan. Aku tidak siap menghadapi kardus berhantu.”

Bima langsung mundur.

“Kalau horor, aku keluar dari kepanitiaan.”

“Kamu keluar dari kepanitiaan karena kardus?” tanya Salsa.

“Setiap orang punya batas.”

“Batasmu rendah sekali,” kata Alya.

“Yang penting ada.”

Alya menghela napas panjang, lalu menatap ruang kosong di lemari itu lagi.

Masalahnya bukan hanya kardusnya.

Masalahnya, mereka baru saja berhasil membuat satu kelas tertarik membantu stand.

Mereka baru saja punya konsep.

Baru saja punya prinsip.

Baru saja punya sedikit harapan.

Lalu sekarang, sebelum bahkan membeli properti pertama, barang kas kelas hilang.

Sebagai ketua kelas, Alya tahu satu hal dengan sangat jelas.

Pada akhirnya, semua orang akan bertanya padanya.

Bukan karena ia yang menghilangkan.

Tapi karena ia yang biasa memegang semua hal.

“Aku cari dulu,” kata Alya cepat.

Naya menoleh. “Cari ke mana?”

“Ruang guru, mungkin kemarin kebawa. Atau aku tanya petugas kebersihan. Atau cek ruang OSIS. Atau—”

“Alya.”

Salsa memanggilnya pelan.

Alya berhenti.

“Pelan-pelan dulu.”

“Aku pelan.”

“Nggak,” kata Naya. “Kamu udah masuk mode mesin fotokopi rusak.”

“Apa maksudnya?”

“Berisik, panas, dan semua orang takut mendekat.”

Bima mengangguk. “Analogi yang kuat.”

Alya menutup buku catatannya dengan sedikit lebih keras dari perlu.

“Aku ketua kelas. Kalau barang kelas hilang, aku harus bertanggung jawab.”

“Bertanggung jawab iya,” kata Raka.

Semua menoleh.

Raka berdiri di dekat lemari, masih melihat isi rak yang kosong.

“Tapi bukan berarti harus cari sendiri.”

Alya terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tidak terdengar dramatis.

Tidak terdengar seperti nasihat panjang.

Tapi justru karena itu, Alya tidak langsung punya jawaban.

Bima perlahan menunjuk Raka.

“Wah.”

Raka menoleh. “Apa?”

“Kamu barusan terdengar seperti tokoh bijak yang muncul di episode penting.”

“Tidak.”

“Kalau ada musik latar, aku pasti merinding.”

“Jangan tambahkan musik latar.”

Naya tersenyum. “Aku setuju sama Raka. Bukan soal musik latar, tapi soal jangan cari sendiri.”

Alya ingin membantah.

Kebiasaan lama.

Namun ia melihat empat orang di depannya.

Naya dengan wajah serius yang jarang bertahan lebih dari tiga detik.

Salsa yang menunggu dengan sabar.

Bima yang entah kenapa sudah menggulung lengan baju seperti benar-benar akan bekerja.

Dan Raka yang masih berdiri tenang di samping lemari.

Akhirnya Alya menarik napas.

“Baik.”

Bima langsung menepuk tangan.

“Keputusan bijak dari Yang Mulia Ketua.”

“Jangan mulai.”

“Maaf.”

Alya membuka buku catatannya lagi.

“Kita bagi tugas.”

“Ini baru rapat darurat,” kata Naya.

“Aku dan Raka cek ruang guru dan tanya Bu Ratna,” kata Alya. “Naya dan Salsa tanya anak-anak yang kemarin piket. Bima—”

“Aku siap.”

“Kamu cek bawah meja, belakang lemari, dan tanya petugas kebersihan.”

Bima menatapnya.

“Kenapa wilayahku seperti ekspedisi bawah tanah?”

“Karena kamu paling mungkin masuk ke tempat-tempat aneh tanpa malu.”

Bima terdiam.

Lalu mengangguk.

“Itu benar.”

Maka dimulailah pencarian kardus kas kelas XI IPA 2.

Sebuah operasi yang, menurut Bima, layak diberi nama besar.

“Operasi Keadilan Kardus,” katanya sambil keluar kelas.

“Jangan sebut itu di depan petugas kebersihan,” pesan Alya.

“Terlambat kalau sudah jadi sejarah.”

Naya dan Salsa pergi ke koridor untuk mencari anak-anak yang piket kemarin.

Bima berjalan ke arah gudang kecil dekat tangga sambil membawa sapu, entah untuk apa.

Sementara Alya dan Raka menuju ruang guru.

Selama beberapa langkah pertama, mereka berjalan dalam diam.

Bukan diam yang canggung.

Lebih seperti diam karena Alya terlalu sibuk menyusun kemungkinan di kepala, sementara Raka memang tidak merasa perlu mengisi udara dengan kata-kata.

Koridor sekolah sudah mulai sepi karena jam pulang.

Beberapa siswa masih lewat sambil membawa tas.

Di kejauhan, suara Bima terdengar samar.

“Pak, izin bertanya. Apakah Bapak melihat kardus mencurigakan?”

Alya berhenti berjalan.

Raka juga berhenti.

Mereka menoleh ke arah suara itu.

Petugas kebersihan terlihat menatap Bima dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Alya memejamkan mata.

“Kenapa dia bertanya seperti polisi di sinetron?”

“Setidaknya dia bertanya,” kata Raka.

Alya menoleh pada Raka.

Jawaban itu terlalu positif untuk situasi yang melibatkan Bima.

“Kamu selalu melihat sisi baik orang?”

“Tidak.”

“Tadi kedengarannya begitu.”

“Aku hanya berusaha supaya kamu tidak tambah stres.”

Alya terdiam sebentar.

Lalu cepat-cepat berjalan lagi.

“Tidak perlu.”

“Perlu apa?”

“Berusaha supaya aku tidak stres.”

Raka mengikuti langkahnya.

“Aku tidak bilang akan berhasil.”

Alya hampir tersenyum.

Hampir.

Tapi ia menahannya, karena merasa tidak pantas tersenyum saat kardus kas kelas masih hilang.

Ruang guru berada di ujung koridor.

Bu Ratna masih ada di dalam, sedang merapikan beberapa berkas.

Ketika melihat Alya dan Raka datang, beliau mengangkat wajah.

“Kenapa, Alya?”

“Bu, maaf mengganggu. Kardus kas kelas kami hilang dari lemari. Kemarin saya sempat ambil uang untuk beli spidol, lalu seingat saya saya kembalikan lagi. Ibu ada lihat kardus itu terbawa ke ruang guru atau dipindahkan?”

Bu Ratna berpikir sebentar.

“Kardus cokelat yang biasa di lemari?”

“Iya, Bu.”

“Sepertinya tidak ada di sini. Tapi tadi pagi Pak Dedi sempat memindahkan beberapa barang dari kelas kalian karena katanya lemari bawah mau dibersihkan.”

Alya langsung tegak.

“Pak Dedi?”

“Iya. Coba tanya ke gudang peralatan. Mungkin dibawa ke sana.”

Alya mengangguk cepat.

“Baik, Bu. Terima kasih.”

Mereka keluar dari ruang guru.

Alya berjalan lebih cepat.

Raka mengikuti.

“Gudang peralatan dekat lapangan,” kata Alya.

“Bima tadi ke arah sana?”

Alya berhenti.

Lalu menatap Raka.

Mereka berdua sadar pada saat yang sama.

Bima.

Gudang.

Kardus hilang.

Ini kombinasi yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama.

Alya langsung mempercepat langkah.

Raka ikut berjalan di sampingnya.

Dari arah tangga, Naya dan Salsa muncul.

“Nemu info?” tanya Naya.

“Pak Dedi mungkin mindahin ke gudang,” jawab Alya cepat.

Salsa menghela napas lega. “Berarti belum tentu hilang.”

“Belum tentu,” kata Alya.

Naya menunjuk ke arah lapangan. “Bima juga tadi ke sana, kan?”

Keempatnya terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu mereka berjalan lebih cepat.

Ketika sampai di depan gudang peralatan, mereka mendengar suara Bima dari dalam.

“Tenang. Saya punya pengalaman.”

Alya langsung membuka pintu.

“Pengalaman apa?”

Di dalam gudang, Bima sedang berdiri di atas bangku kecil sambil berusaha menarik sesuatu dari rak atas.

Petugas kebersihan berdiri di bawahnya dengan wajah khawatir.

Dan di rak paling atas, terlihat kardus cokelat yang sangat familiar.

Kardus kas kelas.

Alya langsung menunjuk.

“Itu!”

Bima menoleh dengan wajah bangga.

“Aku menemukannya.”

“Kamu ngapain berdiri di situ?”

“Mengambil bukti.”

“Turun.”

“Sebentar lagi sampai.”

“Bima, turun dulu.”

“Tanggung.”

Bangku kecil itu bergoyang.

Salsa menahan napas.

Naya spontan maju setengah langkah.

Alya mematung karena terlalu banyak kemungkinan buruk muncul di kepalanya.

Raka bergerak paling cepat.

Ia masuk ke gudang, memegang sisi bangku agar tidak bergeser, lalu berkata datar, “Turun.”

Bima menunduk.

“Kalau aku turun, siapa yang ambil kardus?”

“Aku.”

“Kamu bisa?”

Raka melihat tinggi rak.

“Bisa.”

Bima memandangnya beberapa detik.

Lalu turun pelan-pelan dengan harga diri yang sedikit terluka.

“Baik. Silakan, wahai tiang listrik.”

“Aku tidak setinggi itu.”

“Lebih tinggi dari harga diriku saat ini.”

Raka tidak menjawab.

Ia naik ke bangku, meraih kardus itu tanpa banyak usaha, lalu menurunkannya.

Alya langsung menerima kardus tersebut.

Ia membuka tutupnya.

Uang kas ada.

Nota ada.

Kertas bekas ada.

Benda-benda kecil yang tidak jelas gunanya juga ada.

Semuanya lengkap.

Alya menghela napas lega.

Begitu lega sampai bahunya turun sedikit.

“Syukurlah.”

Pak Dedi, petugas kebersihan, akhirnya menjelaskan bahwa kardus itu tadi pagi dipindahkan sementara karena bagian bawah lemari kelas basah akibat tumpahan air. Beliau lupa memberi tahu karena dipanggil ke kelas lain.

“Maaf, ya, Nak,” kata Pak Dedi.

Alya langsung menggeleng.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga seharusnya cek dulu.”

Raka menatap Alya sebentar.

Namun tidak mengatakan apa pun.

Naya menyandarkan tangan di pinggang.

“Berarti kasus selesai?”

Bima mengangkat tangan.

“Sebentar. Sebagai jaksa, aku merasa perlu menyampaikan hasil penyelidikan.”

“Tidak perlu,” kata Alya.

“Perlu untuk pendidikan hukum.”

“Tidak perlu.”

Bima berdiri di tengah gudang, mengabaikan penolakan resmi.

“Setelah penyelidikan mendalam, dapat disimpulkan bahwa terdakwa utama bukanlah manusia.”

Salsa mengernyit. “Lalu?”

Bima menunjuk lantai.

“Terdakwanya adalah tumpahan air.”

Naya menepuk tangan pelan.

“Luar biasa. Untuk pertama kalinya, kamu menuduh benda mati.”

“Benda mati sering lolos dari hukum.”

Raka turun dari bangku.

“Karena tidak bisa disidang.”

Bima menunjuknya cepat.

“Nah! Makanya kita perlu sistem hukum yang lebih luas.”

Alya memegang kardus kas lebih erat.

“Ayo kembali ke kelas.”

“Tunggu, kita belum menentukan hukuman untuk tumpahan air.”

“Bima.”

“Baik.”

Mereka kembali ke kelas bersama-sama.

Untuk pertama kalinya sejak ditunjuk sebagai tim inti, mereka berjalan dalam satu rombongan kecil.

Bukan karena sengaja.

Hanya karena tujuan mereka sama.

Alya membawa kardus.

Raka berjalan di sebelahnya, sekali-sekali melirik untuk memastikan kardus itu tidak terlalu berat.

Naya dan Salsa berjalan di belakang sambil membahas kemungkinan hukuman untuk “kasus tumpahan air”.

Bima berjalan paling belakang sambil berkata pada siapa pun yang mau mendengar bahwa ia baru saja menyelesaikan kasus besar.

Tidak ada yang mau mendengar.

Tapi itu tidak pernah menghentikan Bima.

Sesampainya di kelas, Alya meletakkan kardus di meja guru.

Ia membuka buku catatannya lagi, lalu mencoret satu tulisan kecil yang tadi ia buat:

Cari kardus kas.

Setelah itu, ia menatap isi kardus.

“Kita harus hitung anggaran.”

Bima langsung mundur.

“Aku alergi angka.”

“Kamu kelas IPA,” kata Salsa.

“Itu status administratif.”

Naya duduk di meja depan.

“Berapa uang kas yang bisa dipakai?”

Alya menghitung cepat.

“Tidak banyak. Kita masih butuh untuk kebutuhan kelas lain. Jadi untuk stand, harus hemat.”

“Berarti dekorasi seadanya,” kata Salsa.

“Properti bikin sendiri,” tambah Raka.

“Promosi pakai media sosial dan poster murah,” kata Naya.

Bima mengangkat tangan.

“Palu hakim tetap harus berwibawa.”

Alya menatapnya.

“Kamu boleh buat sendiri.”

Bima terdiam.

“Aku merasa dijebak oleh impianku sendiri.”

“Bagus.”

Mereka mulai mengeluarkan isi kardus.

Uang kas disisihkan.

Nota dirapikan.

Kertas bekas dipilih yang masih bisa dipakai.

Karton lama yang terlipat ternyata masih bisa dipotong untuk kartu kasus.

Bima menemukan tiga tutup botol dan menyebutnya “barang bukti”.

Naya menemukan gulungan pita bekas lomba 17 Agustus dan mengusulkan itu untuk pembatas antrean.

Salsa menemukan kertas warna sisa dekorasi kelas dan langsung memikirkan poster.

Raka menemukan lakban bening yang masih setengah penuh.

“Ini penting,” katanya.

Bima menoleh.

“Kenapa nada bicaramu seperti menemukan harta karun?”

“Karena lakban selalu dibutuhkan.”

“Bahkan dalam hidup?”

“Terutama dalam kepanitiaan.”

Naya mengangguk serius.

“Lakban adalah fondasi peradaban sekolah.”

Alya, tanpa sadar, tersenyum kecil.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Raka melihatnya.

Lalu kembali menunduk ke kardus, seolah tidak melihat apa pun.

Mereka bekerja hampir satu jam.

Tidak ada yang benar-benar menyebutnya rapat.

Lebih seperti membongkar benda-benda lama sambil menyadari bahwa barang yang tadinya dianggap tidak berguna ternyata bisa menyelamatkan anggaran.

Alya mencatat semua barang.

Salsa mulai menggambar sketsa poster.

Naya menulis beberapa kasus baru di kertas bekas.

Bima mencoba membuat palu hakim dari spidol dan tutup botol, lalu gagal dalam waktu kurang dari tiga menit.

Raka memisahkan barang yang bisa digunakan, barang yang harus diperbaiki, dan barang yang sebaiknya tidak disentuh karena mencurigakan.

Pada suatu titik, Alya mencoba mengangkat tumpukan kertas dan karton ke meja lain.

Tumpukannya terlalu tinggi.

Beberapa kertas mulai meluncur.

Sebelum jatuh, Raka sudah menahan bagian sampingnya.

“Bagi dua,” katanya.

“Aku bisa.”

“Bisa jatuh juga.”

Alya menatapnya.

Raka menatap balik dengan wajah datar.

Tidak menantang.

Tidak menyindir.

Hanya menyatakan kemungkinan yang sangat masuk akal.

Alya akhirnya menghela napas dan membagi tumpukan itu menjadi dua.

“Terima kasih.”

Raka mengangkat separuh tumpukan.

“Sama-sama.”

Naya yang melihat dari ujung meja langsung menyipitkan mata.

“Ohoo.”

Alya menoleh cepat.

“Apa?”

“Nggak.”

“Jangan mulai.”

“Aku belum mulai.”

“Wajahmu sudah mulai.”

Bima ikut menoleh.

“Ada apa? Aku melewatkan gosip?”

“Tidak ada gosip,” kata Alya cepat.

Salsa hanya tersenyum sambil kembali menggambar.

Raka tidak bereaksi.

Atau setidaknya terlihat tidak bereaksi.

Namun setelah meletakkan karton di meja lain, ia memilih kembali ke kardus dan menyibukkan diri dengan menggulung kabel lama.

Alya duduk lagi, sedikit lebih tegak dari sebelumnya.

Naya tersenyum kecil.

Bukan karena ia benar-benar melihat sesuatu.

Lebih karena menggoda Alya selalu menyenangkan.

Setelah barang-barang selesai dipilah, Alya membuat daftar kebutuhan yang masih harus dibeli.

Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup membuatnya berpikir keras.

“Kita butuh karton tambahan, spidol warna, tali rafia, kain hitam, dan mungkin cat kecil.”

“Cat?” tanya Bima.

“Untuk properti.”

“Kalau pakai cat, aku punya bakat melukis.”

Naya menatapnya.

“Bima, phoenix kamu bentuknya ayam.”

“Itu gaya abstrak.”

“Abstrak pun bisa tersinggung.”

Salsa menahan tawa.

Alya menulis perkiraan harga.

Semakin lama, dahinya semakin berkerut.

Raka memperhatikan dari samping.

“Bisa kurangi kain,” katanya.

Alya menoleh.

“Maksudnya?”

“Kalau latar nggak full tertutup, cukup bagian meja hakim. Sisanya pakai karton tulisan. Lebih murah.”

Alya melihat sketsa kasar di bukunya.

Salsa ikut mendekat.

“Bisa juga. Kalau desain posternya kuat, dekorasinya nggak perlu terlalu penuh.”

Naya menunjuk papan tulis.

“Berarti kita bikin ruang sidang versi rakyat.”

Bima mengangkat tangan.

“Rakyat menuntut palu hakim tetap berkelas.”

“Rakyat disuruh bikin sendiri,” jawab Alya.

Bima menurunkan tangan.

Alya mencoret beberapa kebutuhan.

Anggaran turun sedikit.

Tidak banyak.

Tapi cukup.

Ia melirik Raka.

“Makasih.”

Raka mengangguk kecil.

Lagi-lagi cuma begitu.

Tidak ada kalimat manis.

Tidak ada senyum besar.

Tidak ada hal yang seharusnya membuat Alya merasa aneh.

Tapi entah kenapa, ia merasa sedikit lebih ringan.

Mungkin karena untuk pertama kalinya hari itu, ada orang yang tidak hanya memberinya masalah atau pertanyaan.

Ada orang yang memberi solusi sebelum ia sempat meminta.

Alya segera menunduk ke buku catatan.

Tidak perlu dipikirkan.

Itu cuma karena Raka teliti.

Bukan hal lain.

Pasti bukan hal lain.

“Bu Ketua,” panggil Naya tiba-tiba.

Alya mendongak.

“Apa?”

“Wajahmu barusan seperti orang yang habis dibantu terus gengsi mengakui.”

Alya menatapnya datar.

“Kamu terlalu banyak membaca novel.”

“Berarti akurat?”

“Tidak.”

Bima menunjuk Naya.

“Sebagai jaksa, aku ingin memanggil saksi.”

“Tidak ada sidang,” kata Alya.

“Salsaaa,” panggil Bima.

Salsa mengangkat wajah dari sketsanya.

“Aku tidak melihat apa-apa.”

“Kamu bahkan belum ditanya.”

“Aku belajar menghindari masalah.”

Raka berdiri sambil membawa gulungan kabel.

“Aku ke gudang sebentar. Ini kabel harus dicek.”

Alya langsung ikut berdiri.

“Aku ikut. Sekalian kembalikan barang yang tidak dipakai.”

Naya membuka mulut.

Alya langsung menunjuknya.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Sudah kelihatan.”

“Aku cuma mau bilang hati-hati.”

“Tidak.”

“Serius.”

Alya menatap Naya curiga.

Naya tersenyum polos.

Terlalu polos.

Akhirnya Alya mengambil beberapa barang dan berjalan keluar bersama Raka.

Begitu mereka keluar kelas, Bima langsung mendekat ke Naya.

“Menurutmu ada sesuatu?”

Naya melihat pintu.

Lalu mengangkat bahu.

“Belum tahu.”

“Tapi ada potensi?”

“Semua hal punya potensi kalau kamu cukup halu.”

Bima mengangguk bijak.

“Itu prinsip hidup yang indah.”

Di koridor, Alya dan Raka berjalan menuju gudang.

Kali ini, kardus tidak hilang.

Tidak ada Bima berdiri di atas bangku.

Tidak ada tumpahan air yang harus disidang.

Hanya koridor sore yang mulai sepi dan dua orang membawa barang sisa.

Alya memegang beberapa karton.

Raka membawa kabel dan benda-benda yang lebih berat.

Beberapa langkah berlalu tanpa suara.

Lalu Alya berkata, “Tadi makasih.”

Raka menoleh sedikit.

“Soal apa?”

“Soal kardus. Anggaran. Barang-barang. Semuanya.”

“Oh.”

Raka diam sebentar.

“Sama-sama.”

Jawaban singkat.

Seharusnya percakapan berhenti di sana.

Namun Alya, entah kenapa, melanjutkan.

“Kamu memang biasanya memperhatikan hal-hal kecil begitu?”

Raka berpikir.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Aku cuma melihat yang perlu dikerjakan.”

Alya menatapnya.

Kalimat itu sederhana.

Tapi terdengar seperti cara hidup.

“Capek nggak?”

Raka menoleh.

“Apa?”

“Melihat yang perlu dikerjakan terus.”

Raka diam.

Untuk beberapa detik, Alya merasa ia baru saja bertanya terlalu personal.

Ia hampir menarik kembali pertanyaan itu.

Namun Raka menjawab pelan.

“Kadang.”

Alya tidak tahu harus berkata apa.

Raka melanjutkan, masih dengan suara yang sama tenangnya.

“Tapi lebih capek kalau melihat sesuatu bisa dibereskan, tapi dibiarkan.”

Alya berhenti berjalan sebentar.

Raka ikut berhenti.

Ada sesuatu yang membuat jawaban itu terasa terlalu dekat dengannya.

Karena Alya juga begitu.

Ia sering mengambil tugas bukan karena ingin terlihat hebat.

Tapi karena melihat sesuatu berantakan dan tidak sanggup membiarkannya begitu saja.

Bedanya, Alya melakukannya sambil mengeluh dalam hati.

Raka melakukannya dalam diam.

“Berarti kamu juga tipe yang susah membiarkan orang lain kerja sendiri,” kata Alya.

Raka menatap barang di tangannya.

“Mungkin.”

Alya hampir tertawa.

“Kamu sering sekali jawab mungkin.”

“Karena seringnya memang mungkin.”

“Itu bukan jawaban.”

“Tapi tidak salah.”

Alya akhirnya benar-benar tersenyum kecil.

Kali ini tidak sempat ia tahan.

Raka melihatnya sebentar.

Lalu mengalihkan pandangan ke depan.

“Gudangnya masih dikunci?”

Alya berkedip.

“Oh. Iya. Kuncinya di Pak Dedi.”

Percakapan itu selesai begitu saja.

Tidak ada momen panjang.

Tidak ada musik latar.

Tidak ada angin dramatis.

Hanya dua orang yang sama-sama terlalu terbiasa membereskan sesuatu, berjalan mencari kunci gudang.

Namun bagi Alya, sore itu menyisakan satu hal kecil yang mengganggu.

Ternyata Raka tidak sediam yang ia kira.

Ia hanya bicara saat merasa perlu.

Dan entah kenapa, saat ia bicara, jawabannya sering tepat mengenai bagian yang paling sulit dibantah.

Setelah mereka mengembalikan barang dan kembali ke kelas, Naya langsung menatap Alya.

Alya menatap balik.

“Apa?”

“Nggak.”

“Jangan bilang ‘ohoo’.”

Naya menahan senyum.

“O—”

“Naya.”

“Baik. Aku simpan dulu.”

Bima langsung menulis sesuatu di kertas.

Alya menyipitkan mata.

“Kamu nulis apa?”

“Catatan kasus.”

“Kasus apa?”

“Belum tahu. Tapi atmosfernya menjanjikan.”

Salsa tertawa kecil.

Raka kembali duduk di dekat meja, seolah tidak ada yang terjadi.

Dan mungkin memang tidak ada yang terjadi.

Mereka hanya menemukan kardus.

Menghitung anggaran.

Memilah barang.

Mengembalikan kabel.

Hal-hal biasa dalam kepanitiaan kecil yang tidak penting bagi siapa pun di luar kelas mereka.

Tapi bagi Alya, hari itu sedikit berbeda dari kemarin.

Kemarin, ia merasa dipaksa memimpin empat orang yang belum tentu bisa diandalkan.

Hari ini, ia mulai curiga bahwa setidaknya satu dari mereka mungkin bisa diandalkan lebih dari yang ia kira.

Sayangnya, rasa percaya kecil itu langsung diuji keesokan harinya.

Karena Bima benar-benar datang membawa palu.

Bukan palu mainan.

Bukan palu properti.

Palu sungguhan.

Dengan wajah bangga, ia meletakkannya di atas meja tim inti.

“Untuk kewibawaan sidang.”

Alya menatap palu itu.

Naya menutup mulut.

Salsa membeku.

Raka melihat palu, lalu melihat Bima.

“Kenapa kamu bawa senjata ke sekolah?”

Bima tersinggung.

“Ini bukan senjata.”

Alya memejamkan mata.

“Bima.”

Bima menepuk gagang palu itu dengan penuh keyakinan.

“Ini simbol keadilan.”

Dan pada saat itu, Alya sadar satu hal.

Kardus hilang kemarin ternyata bukan masalah.

Itu baru pemanasan.