Rabu, 31 Desember 2025

Jangan Jatuh Cinta! #1


## **CHAPTER 1


Cowok Biasa, Rahasia yang Tidak Keren**


Nama cowok itu **Arga Pradana**.


Kalau Arga berdiri di barisan cowok SMA, dia akan berada di posisi paling “iya, dia ada”.

Bukan yang paling ganteng.

Bukan yang paling jelek.

Tampangnya tipe yang kalau absen, guru harus mikir dua detik.


“Arga mana ya… yang rambutnya gitu?”


Rambutnya *gitu* juga nggak jelas gimananya.


Tapi Arga punya satu kelebihan fatal: **dia baik hati**.

Dan satu kelemahan super mematikan: **dia gampang baper**.


Gabungan ini ibarat menu combo diskon:


> *Gratis sakit hati berkali-kali.*


---


### **Rahasia Gelap di Dalam Tas**


Pagi itu, sebelum berangkat ke sekolah barunya, Arga duduk di kasur sambil menatap tasnya.


Di dalam tas itu ada buku tulis.

Ada pulpen.

Ada penghapus.

Dan ada sesuatu yang **harus disembunyikan dari dunia cowok-cowokan**.


Arga membuka resleting pelan-pelan, seperti sedang membuka peti harta karun… atau bom.


Di dalamnya ada **komik romantis**.


Judulnya:


> *“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk”*


Sampulnya warna pastel.

Ada gambar cowok dan cewek saling tatap, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran dunia nyata.


Arga menghela napas.


“Kenapa sih aku cowok tapi sukanya ginian…” gumamnya.


Dia mengambil komik itu, membukanya sebentar.


Balon dialog di komik:


> *‘Kalau ini kenyataan, aku akan menggenggam tanganmu.’*


Arga langsung menutupnya.


“STOP. Jangan kebawa perasaan. Ini jam tujuh pagi. Ini dunia nyata.”


Dia memasukkan komik itu ke dalam map cokelat polos, lalu ke dalam tas.


Sambil menepuk tasnya, Arga berkata dengan suara pelan tapi serius:


> “Tenang. Kita aman. Nggak ada yang tahu.”


Tas itu diam.

Tapi trauma Arga tidak.


---


### **Flashback yang Datang Tanpa Undangan**


Begitu Arga melangkah keluar rumah, pikirannya tiba-tiba ditarik ke masa lalu.


Sekolah lama.

Koridor panjang.

Seorang cewek berdiri di depannya.


Flashback itu muncul **tanpa permisi**, seperti iklan pop-up.


Cewek itu tersenyum manis.


> “Arga, kamu tuh baik banget, ya.”


Jantung Arga versi masa lalu langsung jungkir balik.


Dalam pikirannya:


> *“BAIK = BERARTI. BERARTI = SUKA. SUKA = PACARAN.”*


Arga tersenyum kikuk.


> “Hehe… makasih.”


Cewek itu mencondongkan badan, suaranya diturunkan.


> “Eh… kamu kenal Dimas, kan?”


Arga mengangguk. Dimas adalah sahabatnya. Ganteng. Tinggi. Hidupnya kayak iklan sampo.


> “Kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”


*BRUK.*


Hati Arga jatuh.

Mentalnya ikut nyemplung.


Flashback freeze.


Narator imajiner di kepala Arga:


> *“Dan di situlah, Arga belajar… jangan GR dulu.”*


Flashback lain menyusul.

Cewek lain.

Kalimat lain.

Akhirnya sama.


“Arga, kamu enak diajak curhat.”

“Arga, kamu tuh kayak kakak.”

“Arga, kamu baik… tapi…”


Kata *tapi* itu lebih tajam dari pisau dapur.


---


### **Sumpah di Gerbang Sekolah Baru**


Gerbang **SMA Harapan Bangsa** berdiri di depan Arga.


Gedungnya tinggi.

Muralnya cerah.

Aura “awal baru”-nya kental banget.


Arga berhenti sejenak.


Menarik napas.


Lalu berbicara pada dirinya sendiri seperti karakter utama film yang mau memulai hidup baru.


> “Oke, Arga. Dengerin gue.”


Dia mengangkat satu jari.


> “Di sekolah ini, lo **nggak boleh jatuh cinta**.”


Jari kedua.


> “Lo **nggak boleh baper**.”


Jari ketiga.


> “Lo **nggak boleh salah tafsir kebaikan orang**.”


Dia menatap lurus ke depan.


> “Lo cuma mau hidup normal. Masuk kelas. Pulang. Tamat.”


Hening.


Lalu Arga nambah pelan:


> “Dan baca komik romantis… **diam-diam**.”


Angin berhembus.

Bendera sekolah berkibar.

Semesta seolah tertawa kecil.


---


### **Hari Pertama yang Sudah Terlihat Mencurigakan**


Begitu masuk kelas, Arga langsung memilih bangku strategis:

tengah-tengah, tidak depan, tidak belakang.


“Posisi aman,” gumamnya.


Guru masuk.

Absen berjalan.


Saat istirahat pertama, seorang cewek menjatuhkan bukunya tepat di dekat kaki Arga.


Buku-buku itu berserakan.


Cewek itu panik.


> “Aduh—”


Refleks Arga bekerja lebih cepat dari logika.


Dia jongkok.


> “Eh, sini aku bantuin.”


Dia mengumpulkan buku satu per satu, menyerahkannya dengan rapi.


Cewek itu tersenyum.


> “Makasih ya. Kamu baik banget.”


Arga membeku.


Kata-kata itu **terlalu familiar**.


Dalam kepala Arga:


> *“JANGAN KE-GE-ER. JANGAN.”*


Dia tertawa kecil.


> “Oh… hehe… sama-sama.”


Cewek itu pergi.


Arga duduk kembali, menepuk dadanya sendiri.


> “Aman. Aman. Belum apa-apa.”


Dari bangku dekat jendela, seorang cewek lain memperhatikan Arga diam-diam.


Namanya **Naya**.


Dia tidak tersenyum berlebihan.

Tidak heboh.

Hanya menatap sebentar… lalu kembali membaca buku.


Dan entah kenapa, Arga merasa **tidak nyaman**.


Bukan tidak nyaman karena risih.


Tapi karena…

**terlalu tenang**.


Arga menelan ludah.


> “Nggak. Jangan. Ini baru hari pertama.”


Di dalam tasnya, komik romantis seakan bergetar pelan.


---


**END OF CHAPTER 1**



Petualangan Akira dan Kenzo: Rahasia Hutan Angin

Pagi itu, matahari bersinar cerah di halaman rumah Akira dan Kenzo. Burung-burung berkicau, dan angin berembus pelan membawa aroma rumput basah. Namun, suasana damai itu tidak berlangsung lama.


“Aku duluan!” teriak Akira, anak laki-laki berusia sembilan tahun, sambil berlari menuju sepeda birunya.


“Tidak bisa! Itu sepedaku hari ini!” balas Kenzo, adiknya yang berusia enam tahun, dengan wajah cemberut dan tangan menyilang di dada.


“Sepedamu yang kecil itu di sana,” kata Akira sambil menunjuk sepeda merah yang rodanya masih memakai roda bantu.


“Aku sudah besar!” Kenzo menendang kerikil kecil di tanah. Tok! Tok!


Ibu yang sedang menyiram tanaman menoleh dan tersenyum tipis. “Kalian berdua, berhenti bertengkar. Kalau terus ribut, nanti ibu suruh bereskan loteng.”


Akira dan Kenzo saling pandang. Loteng rumah mereka terkenal berdebu dan penuh barang lama. Tidak ada yang ingin ke sana.


“Baik, Bu,” jawab mereka hampir bersamaan.


Beberapa saat kemudian, karena bosan dan masih kesal satu sama lain, Akira punya ide. “Kenzo, daripada kita diam saja, bagaimana kalau… kita ke loteng?”


Kenzo membelalakkan mata. “Ke loteng? Bukannya itu menakutkan?”


“Justru seru,” kata Akira sambil tersenyum percaya diri. “Siapa tahu ada harta karun.”


Kenzo berpikir sejenak. Kata harta karun terdengar sangat menarik. Ia pun mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi kamu duluan.”


Mereka menaiki tangga kayu menuju loteng. Kriet… kriet… suara tangga berbunyi setiap kali diinjak. Debu beterbangan ketika Akira membuka pintu kecil di atas.


“Wah, gelap sekali,” gumam Kenzo sambil memegang baju kakaknya.


Akira menyalakan senter. Cahaya kecil itu menyingkap tumpukan kardus, koper tua, dan lemari kayu yang catnya sudah mengelupas.


“Ayo cari sesuatu,” kata Akira.


Kenzo mengangguk, lalu tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak kayu kecil. Bruk! Kotak itu jatuh dan terbuka. Di dalamnya ada selembar kertas tua yang terlipat rapi.


“Apa itu?” tanya Kenzo penasaran.


Akira mengambil kertas itu dengan hati-hati. “Seperti… peta.”


Mereka membentangkan kertas tersebut. Di sana tergambar gambar hutan, sungai kecil, dan sebuah tanda berbentuk bintang. Di pojoknya tertulis dengan huruf rapi:

Hutan Angin.”


“Hutan Angin itu di mana?” tanya Kenzo.


Akira mengingat-ingat. “Sepertinya dekat desa kita. Kakek pernah bercerita tentang hutan itu.”


Tiba-tiba, angin bertiup dari jendela kecil loteng, membuat peta itu berkibar pelan. Kenzo merinding.


“Akira… bagaimana kalau peta ini benar?” bisiknya.


Akira tersenyum, matanya berbinar. “Kalau benar, berarti ada petualangan menunggu kita.”


“Tapi… kalau berbahaya?”


“Kita bisa melakukannya bersama,” jawab Akira yakin.


Kenzo menatap kakaknya. Ia masih sering bertengkar dengan Akira, tetapi kali ini ia merasa sedikit berani. “Baik. Tapi kalau aku takut, kamu harus melindungiku.”


Akira mengangguk. “Setuju.”


Pagi berikutnya, Akira dan Kenzo bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul, dan cahaya lembutnya masuk melalui jendela kamar mereka. Di bawah bantal Akira, peta Hutan Angin tersimpan rapi.


“Kenzo, bangun,” bisik Akira sambil menggoyang bahu adiknya.


Kenzo mengucek mata. “Masih pagi sekali…”


“Petualangan tidak menunggu orang yang malas,” jawab Akira dengan nada serius, menirukan gaya pahlawan dalam buku cerita.


Kenzo langsung duduk. “Benar! Aku siap!”


Mereka mengenakan pakaian yang nyaman. Akira membawa tas kecil berisi botol minum, roti, dan senter. Kenzo membawa topi favoritnya, meski topi itu kebesaran dan sering menutup matanya.


Setelah berpamitan kepada ibu dengan alasan ingin bermain di dekat rumah, mereka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang desa. Jalan itu jarang dilewati orang. Rumput liar tumbuh di kanan kiri, dan pepohonan mulai tampak semakin rapat.


“Akira, kita sudah jauh belum?” tanya Kenzo sambil terengah-engah.


“Baru sedikit,” jawab Akira. “Lihat peta ini. Kita harus mengikuti aliran sungai kecil.”


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara gemericik air. Sebuah sungai jernih mengalir pelan di depan mereka. Di atas batu besar, ada tanda yang sama seperti di peta.


“Itu tandanya!” seru Kenzo gembira.


Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama. Untuk menyeberang, mereka harus melewati batang kayu yang sempit.


“Aku duluan,” kata Akira.


“Tidak! Aku juga mau duluan!” Kenzo maju ke depan.


“Kamu bisa jatuh!”


“Aku bisa!” Kenzo membalas sambil menginjak batang kayu itu.


Plup!


Kenzo hampir terpeleset. Akira cepat-cepat menarik tangannya.


“Kenzo! Sudah kubilang,” kata Akira dengan suara sedikit tinggi.


Kenzo menunduk. “Maaf…”


Akira menarik napas dan mengusap kepala adiknya. “Tidak apa-apa. Kita harus saling membantu.”


Mereka pun menyeberang dengan hati-hati, kali ini bersama-sama. Setelah itu, suasana berubah. Udara terasa lebih sejuk, dan angin berdesir lembut di antara pepohonan.


“Inikah Hutan Angin?” tanya Kenzo pelan.


Akira mengangguk. “Sepertinya iya.”


Daun-daun bergoyang meski tidak ada angin kencang. Bunyi whoosh terdengar seperti bisikan. Kenzo merapat ke sisi Akira.


“Aku tidak suka suara itu…”


“Tenang. Kita tetap bersama,” jawab Akira, meski sebenarnya ia juga merasa sedikit gugup.


Mereka melangkah lebih dalam hingga menemukan sebuah papan kayu tua bertuliskan:

“Siapa yang masuk harus berani dan jujur.”


Kenzo membaca pelan. “Berani dan jujur… maksudnya apa?”


Sebelum Akira sempat menjawab, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar di udara, dan tiba-tiba… peta di tangan Akira bersinar lembut.


“Akira…” bisik Kenzo.


“Sepertinya… petualangan kita benar-benar dimulai,” jawab Akira sambil menggenggam peta itu erat.


Di depan mereka, jalan bercabang dua. Satu tampak terang, satu lagi gelap dan penuh semak.


Kenzo menelan ludah. “Kita pilih yang mana?”


Akira menarik napas dalam-dalam sambil menatap dua jalan di hadapannya. Jalan yang terang terlihat aman, dengan tanah rata dan sinar matahari yang menembus pepohonan. Jalan yang gelap dipenuhi semak dan bayangan, seolah menyimpan banyak rahasia.


“Kita lewat yang terang saja,” kata Kenzo cepat. “Yang itu kelihatan menakutkan.”


Akira ragu sejenak. Ia membuka kembali peta tua itu. Anehnya, tanda bintang di peta justru mengarah ke jalan yang gelap.


“Kenzo,” kata Akira pelan, “peta ini menunjukkan jalan yang gelap.”


Kenzo membelalakkan mata. “Hah? Tapi aku takut…”


Akira berjongkok agar sejajar dengan adiknya. “Aku juga sedikit takut. Tapi kita kan bersama. Kalau kita ingin tahu rahasianya, kita harus berani.”


Kenzo terdiam. Angin berbisik pelan di antara daun-daun, seolah ikut mendengarkan. Akhirnya, Kenzo mengangguk kecil. “Baik… tapi kamu jangan meninggalkanku.”


“Tidak akan,” jawab Akira mantap.


Mereka pun melangkah ke jalan gelap. Semak-semak menyentuh kaki mereka, dan suara angin terdengar seperti bisikan pelan. Whoosh… whoosh…


“Apa hutan ini bisa bicara?” bisik Kenzo.


Akira hampir tertawa, tapi menahannya. “Mungkin itu hanya angin.”


Namun tiba-tiba, mereka mendengar suara krek! dari belakang. Kenzo menjerit kecil dan bersembunyi di balik Akira.


“Itu pasti monster!” katanya panik.


Akira menoleh cepat. Dari balik semak, muncul seekor rusa kecil. Matanya besar dan tampak terkejut.


“Oh… cuma rusa,” kata Akira lega.


Kenzo menghela napas panjang. “Aku kira… ah sudahlah.”


Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah lapangan kecil. Di tengahnya berdiri batu besar berbentuk lingkaran. Di atas batu itu terukir tulisan:


“Keberanian bukan berarti tidak takut,

tetapi tetap melangkah meski takut.”


Kenzo membaca tulisan itu dengan suara lirih. “Berarti… aku berani juga ya, Kak?”


Akira tersenyum. “Iya. Kamu sangat berani.”


Tiba-tiba, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar mengelilingi batu. Dari tengah pusaran angin, terdengar suara lembut.


“Kalian telah memilih dengan hati yang jujur.”


Kenzo memegang tangan Akira erat-erat. “Akira… ada yang bicara!”


“Tenang,” jawab Akira, meski jantungnya berdebar. “Kita dengarkan.”


“Namun perjalanan belum selesai,” lanjut suara itu. “Kalian harus belajar satu hal lagi: bekerja sama.”


Angin berhenti. Di hadapan mereka muncul jalan sempit yang harus dilalui bersama. Di kiri kanan terdapat parit kecil berisi air.


“Kita tidak bisa lewat sendirian,” kata Kenzo.


Akira mengangguk. “Kita harus saling membantu.”


Mereka berjalan perlahan, saling berpegangan tangan. Beberapa kali Kenzo hampir terpeleset, dan Akira segera menahannya. Saat Akira kehilangan keseimbangan, Kenzo justru yang menariknya.


“Aku kuat juga, kan?” kata Kenzo dengan bangga.


“Iya,” jawab Akira sambil tertawa kecil. “Ternyata kamu bisa menolongku.”


Akhirnya, mereka sampai di ujung jalan. Di sana, peta kembali bersinar lebih terang dari sebelumnya. Tanda bintang kini tampak sangat dekat.


Kenzo menatap ke depan dengan mata berbinar. “Kak… sepertinya tujuan kita sudah dekat.”


Akira mengangguk. “Satu langkah lagi.”


Akira dan Kenzo melangkah perlahan mengikuti cahaya dari peta. Cahaya itu membawa mereka ke sebuah tempat yang sangat tenang. Pepohonan di sekeliling tampak lebih tinggi dan rapi, seolah menjaga sesuatu yang berharga. Angin berembus lembut, tidak lagi berbisik, melainkan terasa seperti menyapa.


Di tengah tempat itu berdiri sebuah pohon besar dengan batang kokoh dan daun yang selalu bergerak pelan, meski udara tampak diam. Akar-akarnya menjalar seperti tangan yang kuat namun ramah.


“Ini pasti tempatnya,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk. “Pohon itu… seperti hidup.”


Mereka mendekat. Di batang pohon, terdapat ukiran berbentuk bintang—sama persis dengan tanda di peta. Di bawahnya tertulis:


“Harta terbesar bukanlah yang dapat disimpan,

melainkan yang dapat dijaga bersama.”


Kenzo mengernyitkan dahi. “Di mana hartanya, Kak? Tidak ada emas.”


Akira juga bingung. Ia menoleh ke sekeliling. Tidak ada peti, tidak ada benda berkilau. Hanya pohon besar, angin, dan keheningan.


Tiba-tiba, angin berhembus lebih kuat, namun terasa hangat. Suara lembut yang pernah mereka dengar kembali terdengar.


“Kalian telah sampai,” kata suara itu. “Apakah kalian tahu mengapa Hutan Angin memilih kalian?”


Kenzo menelan ludah. “Karena… kami berani?”


“Dan karena kalian belajar bekerja sama,” tambah Akira.


Suara itu terdengar seperti tersenyum. “Benar. Namun ada satu hal lagi.”


Angin berputar lembut mengelilingi mereka. Kenzo tanpa sadar memegang tangan Akira. Untuk pertama kalinya hari itu, mereka tidak bertengkar sama sekali.


“Kalian sering bertengkar,” lanjut suara itu, “tetapi kalian selalu kembali bersama. Hutan Angin menjaga anak-anak yang mau belajar saling memahami.”


Akira terdiam. Ia teringat semua pertengkaran kecil dengan Kenzo—tentang sepeda, mainan, dan hal-hal sepele.


“Maafkan aku, Kenzo,” kata Akira tiba-tiba. “Aku sering merasa paling benar.”


Kenzo menatap kakaknya, lalu tersenyum kecil. “Aku juga sering keras kepala. Tapi… aku senang punya Kakak.”


Angin berhenti berputar. Daun-daun di pohon besar itu jatuh satu per satu, lalu berubah menjadi cahaya kecil yang hangat. Cahaya itu menyelimuti Akira dan Kenzo, membuat hati mereka terasa ringan.


“Ini adalah harta Hutan Angin,” kata suara itu perlahan. “Keberanian, kerja sama, dan kasih sayang.”


Cahaya meredup. Peta di tangan Akira berubah menjadi kertas kosong.


“Hah? Petanya hilang!” seru Kenzo.


Akira tersenyum. “Sepertinya kita sudah tidak membutuhkannya lagi.”


Mereka berjalan pulang menyusuri jalan yang terasa lebih singkat dari sebelumnya. Ketika keluar dari hutan, matahari sudah mulai condong ke barat.


“Akira,” kata Kenzo sambil melangkah di samping kakaknya, “kalau besok kita bertengkar lagi…”


Akira tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Yang penting, kita ingat hari ini.”


Mereka pulang dengan langkah ringan dan hati yang hangat. Hutan Angin kembali sunyi, menyimpan rahasianya, menunggu anak-anak lain yang siap belajar tentang arti petualangan yang sesungguhnya.


Tamat. 🌿✨

Akira & Kenzo - Robot Penjaga Galaksi




Akira berusia 9 tahun dan merasa dirinya sudah sangat dewasa.

Menurut Akira, umur 9 itu artinya:


boleh sok jago,


boleh banyak tahu,


dan tidak perlu mendengarkan adik.


Kenzo berusia 6 tahun dan yakin satu hal:

kakaknya itu nyebelin.


Pagi itu, Akira sedang serius menyusun robot dari balok-balok mainan di ruang tengah.


“JANGAN DIPEGANG,” kata Akira tegas sambil jongkok.


Kenzo yang duduk di sebelahnya mengangguk…

lalu menyentuhnya sedikit.


“Kenzo!”

“Cuma dikit.”

“DIKIT ITU MERUSAK KESEIMBANGAN ROBOT!”


Robot balok itu akhirnya roboh dengan bunyi prak!


Kenzo terdiam.

Akira menutup wajahnya.


“Itu robot penjaga galaksi,” kata Akira sedih.

“Galaksi apa?” tanya Kenzo.

“Galaksi… ya galaksi!”


Kenzo berpikir sebentar, lalu berkata pelan,

“Kalau roboh, berarti galaksinya kalah ya?”


Akira berdiri.

“Itu bukan kalah. Itu—”


Belum sempat selesai, Kenzo sudah tertawa keras.


Akira mengejar Kenzo mengelilingi rumah.

Mereka berlari, teriak, hampir menabrak sofa, dan akhirnya ditegur ibu.


“Akira, Kenzo! Jangan ribut!”


Keduanya langsung diam.

Akira duduk di sofa dengan tangan menyilang.

Kenzo duduk di lantai sambil manyun.


Beberapa menit kemudian, listrik tiba-tiba mati.


Rumah jadi agak gelap dan sunyi.


Kenzo mendekat ke Akira tanpa bilang apa-apa.

Akira melirik… lalu tidak menjauh.


“Kalau gelap gini,” kata Kenzo pelan,

“robot penjaga galaksi masih kerja nggak?”


Akira terdiam sebentar.

“Masih,” jawabnya.

“Tapi… butuh asisten.”


Kenzo tersenyum kecil.


Dan untuk pertama kalinya hari itu,

mereka tidak bertengkar selama lima menit penuh.


Listrik sudah menyala kembali, tapi suasana rumah masih terasa sepi.

Ibu sedang di dapur, ayah di kamar kerja.


Akira menatap robot baloknya yang roboh.

Kenzo duduk di sampingnya, memegang satu balok merah.


“Kalau kita bikin lagi,” kata Kenzo hati-hati,

“aku nggak sentuh yang penting.”


Akira menghela napas seperti orang dewasa yang sangat sabar.

“Baik. Tapi kamu cuma pegang balok merah.”


Kenzo mengangguk kuat-kuat.


Mereka menyusun bersama.

Ajaibnya, robot itu berdiri lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ini namanya Robot Penjaga Galaksi Super,” kata Akira bangga.

“Kenapa super?”

“Karena ada balok merah.”


Kenzo tersenyum lebar.


Tiba-tiba terdengar suara bruk dari kamar mereka.


Kenzo langsung memegang tangan Akira.

“Suara apa itu?”


Akira menelan ludah.

“Paling… angin.”


Padahal jendela tertutup.


Sebagai kakak, Akira tahu satu hal:

kalau dia takut, dia nggak boleh kelihatan takut.


“Misi rahasia,” katanya.

“Kita cek bersama.”


Mereka berjalan pelan ke kamar.

Lampu kamar menyala, tapi tidak ada siapa-siapa.


Kenzo menunjuk ke bawah tempat tidur.

“Ada bayangan…”


Akira jongkok perlahan dan mengintip.


Ternyata…

bola karet Kenzo yang menggelinding sendiri karena kipas angin.


Kenzo tertawa keras.

Akira ikut tertawa, meski pipinya agak merah.


“Ternyata bukan monster,” kata Kenzo.

“Monster itu nggak pakai bola,” jawab Akira.


Mereka duduk di lantai kamar, bersandar di tempat tidur.


“Kalau aku takut,” kata Kenzo pelan,

“aku pegangan kakak ya.”


Akira terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Iya. Tapi jangan bilang siapa-siapa.”


Kenzo tersenyum.


Dari balik pintu, ibu memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.


Hari itu, Akira dan Kenzo belajar satu hal penting,

meski mereka belum tahu namanya:


bertengkar itu biasa,

tapi saling jaga itu lebih penting.


Pagi itu terasa aneh bagi Akira.


Rumah terlalu sepi.


Biasanya ada suara Kenzo:


menyanyi lagu yang salah lirik,


menjatuhkan sendok,


atau berteriak minta ditemani ke kamar mandi.


Tapi pagi ini… tidak ada.


“Ibu,” tanya Akira sambil mengenakan sandal,

“Kenzo ke mana?”


Ibu menjawab dari dapur,

“Kenzo ikut Tante Mira sebentar. Nanti sore pulang.”


Akira mengangguk.

Harusnya dia senang.

Tidak ada yang mengganggu.

Tidak ada yang rebut mainan.


Tapi…

kenapa dadanya terasa kosong?


Akira bermain sendiri.

Menyusun robot.

Membaca buku.


Semua terasa tidak seru.


Robotnya berdiri tegak, tapi Akira tidak tersenyum.

Biasanya Kenzo yang bertepuk tangan dan berkata,

“Wah, hebat!”


Siang hari, Akira duduk di bawah meja makan.

Itu tempat rahasia mereka.


Akira baru sadar:

tempat itu terasa terlalu besar kalau sendirian.


Sore pun datang.


Akira duduk di dekat pintu, pura-pura mengikat tali sepatu…

padahal menunggu.


Akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


“AKIRAAA!”


Kenzo berlari dan langsung memeluk kakaknya.


Akira kaget…

lalu memeluk balik.


“Jangan lama-lama pergi lagi,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk.

“Kalau pergi, aku bawain oleh-oleh.”


Mereka tertawa.


Malam itu, Akira membagi robot penjaga galaksi menjadi dua.


“Yang ini punyamu,” katanya.

“Yang itu punyaku.”


Kenzo memandang kakaknya heran.

“Kenapa dibagi?”


Akira tersenyum kecil.

“Supaya galaksinya aman.”


Dan sejak hari itu,

Akira dan Kenzo masih sering bertengkar…


Tapi mereka juga tahu,

mereka adalah satu tim.


🌟 Tamat