Senin, 18 Mei 2026

Akad Rahasia di Kota Beasiswa Chapter 1 dari 10


 

Chapter 1

Akad yang Terlalu Sunyi


Di Kampung Darussalam Bukit, kabar baik tidak pernah berjalan sendirian.

Ia selalu datang bersama suara sandal di jalan tanah, ketukan pintu yang terlalu semangat, ibu-ibu yang mendadak punya urusan lewat depan rumah, dan bapak-bapak yang pura-pura mencari kambing padahal ingin tahu cerita lengkapnya.

Sore itu, kabar baik datang dari sebuah ponsel tua milik Ustaz Hamdan.

Ponsel itu sudah tiga kali jatuh ke lantai surau, sekali tercebur ke ember wudu, dan layarnya retak seperti peta sungai. Tapi ketika pesan masuk dari panitia beasiswa Universitas Madani Raya, ponsel itu mendadak menjadi benda paling penting di seluruh kampung.

Ustaz Hamdan membaca pesan itu pelan-pelan.

Lalu sekali lagi.

Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung sorban, memasangnya lagi, dan membaca untuk ketiga kali.

Di depannya, Hafizh duduk tegak seperti santri yang sedang menunggu hasil ujian hafalan. Punggungnya lurus. Tangan di atas lutut. Wajahnya tenang, tetapi ujung jempol kakinya bergerak-gerak di balik sarung.

“Abi?” tanya Hafizh akhirnya.

Ustaz Hamdan tidak langsung menjawab.

Dari dapur, ibunya Hafizh, Ummu Maryam, keluar sambil membawa centong nasi. “Bagaimana, Bi?”

Ustaz Hamdan menarik napas.

“Hafizh diterima.”

Centong nasi jatuh ke lantai.

Hafizh berkedip.

“Diterima… maksudnya…”

“Beasiswa penuh,” kata Ustaz Hamdan. “Universitas Madani Raya. Fakultas Teknik. Mulai semester ini.”

Untuk beberapa detik, rumah itu sunyi.

Lalu Ummu Maryam menangis.

Bukan menangis sedih, tentu saja. Tapi jenis tangis ibu-ibu yang membuat anaknya bingung harus memeluk, meminta maaf, atau mencari tisu.

Hafizh menunduk, lalu mencium tangan ayahnya.

“Alhamdulillah.”

Ustaz Hamdan mengangguk, menepuk bahu putranya dengan bangga. “Alhamdulillah.”

Belum sempat kebahagiaan itu selesai, dari luar terdengar suara Pak Harun, tetangga sekaligus sahabat dekat keluarga.

“Hamdan! Hamdan! Naila juga diterima!”

Ummu Maryam yang masih menangis langsung menangis lebih keras.

Hafizh mengangkat kepala.

“Naila?”

Pak Harun masuk tanpa menunggu dipersilakan, wajahnya berseri-seri. Di belakangnya, Naila berdiri setengah bersembunyi di balik ibunya, Ummu Salma.

Gadis itu memakai kerudung cokelat muda, membawa map biru di dada, dan terlihat seperti seseorang yang ingin tersenyum lebar tapi takut terlihat terlalu bangga.

Matanya bertemu dengan mata Hafizh selama satu detik.

Hanya satu detik.

Lalu keduanya sama-sama menunduk.

“Fakultas Pendidikan,” kata Pak Harun dengan suara bergetar. “Beasiswa penuh juga. Kampus yang sama.”

Ustaz Hamdan mengucap hamdalah berkali-kali.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, berita itu sudah menyebar ke seluruh kampung.

Dua anak Darussalam Bukit diterima di universitas besar.

Bukan pesantren.

Bukan sekolah tinggi agama.

Universitas umum. Di kota besar. Dengan gedung tinggi, perpustakaan raksasa, laboratorium modern, mahasiswa dari berbagai daerah, dan biaya hidup yang kalau disebutkan keras-keras bisa membuat beberapa ibu istighfar.

Malamnya, rumah Ustaz Hamdan penuh.

Bapak-bapak duduk di ruang depan, membahas jalur keberangkatan, keamanan perjalanan, dan kemungkinan mencari kontrakan dekat kampus. Ibu-ibu di ruang tengah membahas bekal makanan kering, obat-obatan, pakaian, dan pertanyaan penting yang diulang sampai lima kali:

“Di sana nanti makanannya halal semua atau harus hati-hati?”

Hafizh duduk di dekat pintu, agak jauh dari pembicaraan utama. Naila duduk di sisi perempuan, ditemani Ummu Salma dan beberapa ibu.

Mereka tidak saling bicara.

Sebenarnya, Hafizh dan Naila saling kenal sejak kecil. Di kampung sekecil Darussalam Bukit, semua anak saling kenal. Mereka pernah belajar mengaji di surau yang sama, ikut lomba hafalan yang sama, bahkan pernah berebut kapur tulis saat masih madrasah diniyah.

Tapi sejak sama-sama besar, mereka mulai menjaga jarak.

Bukan karena saling benci.

Justru karena mereka diajari untuk menjaga diri.

Jadi, hubungan Hafizh dan Naila selama beberapa tahun terakhir bisa diringkas menjadi tiga jenis interaksi:

Pertama, mengucapkan salam jika berpapasan.

Kedua, bertukar buku lewat adik masing-masing.

Ketiga, saling mendengar nama masing-masing disebut dalam doa orang tua.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, mereka berada dalam satu ruangan dengan pembicaraan yang sama: masa depan mereka.

“Jaraknya jauh,” kata salah satu bapak. “Kalau dari sini ke terminal saja hampir dua jam. Lalu naik bus malam. Sampai kota, masih harus naik angkutan lagi.”

“Anak-anak belum pernah tinggal jauh,” tambah yang lain.

“Lingkungan kampus umum beda dengan kampung kita.”

“Betul.”

“Apalagi mereka berdua. Laki-laki dan perempuan. Dari kampung yang sama. Nanti urusan administrasi, daftar ulang, cari tempat tinggal, pasti banyak berhubungan.”

Hafizh menunduk makin dalam.

Naila meremas ujung mapnya.

Ustaz Hamdan diam cukup lama sebelum berkata, “Maka itu yang perlu kita pikirkan baik-baik.”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening.

Pak Harun menatap Ustaz Hamdan.

Mereka seperti dua orang yang sudah memikirkan hal sama, tapi sama-sama menunggu siapa yang berani mengucapkan duluan.

Akhirnya, Ummu Salma yang bersuara pelan.

“Bagaimana kalau… mereka kita akadkan dulu secara agama?”

Naila hampir menjatuhkan map.

Hafizh langsung mengangkat kepala.

Beberapa ibu menahan napas.

Ummu Maryam memandang suaminya, lalu memandang Hafizh. Matanya lembut, tapi serius.

“Bukan nikah terbuka,” lanjut Ummu Salma cepat. “Bukan resepsi. Bukan diumumkan. Hanya akad yang sah secara agama, dengan keluarga dan saksi yang cukup. Supaya perjalanan mereka terjaga. Supaya kalau ada keperluan, mereka bukan orang asing.”

Pak Harun menyambung, “Secara kampus, mereka tetap mahasiswa biasa. Tidak mencatatkan administrasi dulu. Tidak tinggal bersama seperti pasangan rumah tangga. Tidak membuka status ke siapa-siapa. Nanti kalau sudah lulus, baru kita resmikan secara terbuka, dicatatkan, dan resepsi.”

Hafizh merasa telinganya panas.

Ia sudah belajar bab nikah. Ia tahu rukun, syarat, hak, kewajiban. Ia pernah membaca penjelasan panjang tentang tanggung jawab suami. Ia juga pernah mendengar ceramah ayahnya tentang pernikahan sebagai ibadah.

Tapi mendengar namanya sendiri masuk ke dalam rencana akad membuat seluruh ilmu itu seperti berhamburan di kepala.

Naila tidak lebih baik.

Ia menatap ibunya dengan mata membesar, seolah ingin berkata, Ummi, kenapa pembicaraan sebesar ini diucapkan sambil duduk di dekat toples kacang?

“Anak-anak bagaimana?” tanya Ustaz Hamdan.

Semua mata menoleh ke Hafizh dan Naila.

Hafizh tercekat.

Ia ingin menjawab dengan kalimat matang, bijak, dan menunjukkan kesiapan sebagai calon kepala keluarga. Tapi yang keluar hanya, “Saya…”

Semua menunggu.

“Saya perlu minum.”

Farhan, anak tetangga yang ikut duduk di pojok karena mengantar ayahnya, langsung menunduk menahan tawa. Ia belum jadi teman sekamar Hafizh di kota, tapi bibit-bibit mengganggunya sudah terlihat sejak dini.

Ummu Maryam buru-buru mengambilkan air.

Setelah minum, Hafizh berusaha lagi.

“Saya… percaya kepada pertimbangan Abi, Ummi, Pak Harun, dan Ummu Salma. Kalau ini untuk menjaga agama dan kehormatan, saya menerima. Tapi…”

Ia melirik sekilas ke arah Naila, lalu langsung menunduk lagi.

“Tentu harus dengan ridha Naila.”

Semua mata pindah ke Naila.

Naila merasa seakan seluruh kampung sedang menunggunya menyelesaikan soal ujian yang jawabannya tidak ada di buku.

Ia memandang ibunya.

Ummu Salma menggenggam tangan Naila.

“Nak, ini bukan paksaan. Kalau hatimu menolak, katakan. Tidak ada yang akan marah.”

Naila menelan ludah.

Ia mengenal Hafizh. Bukan dekat, tapi cukup tahu. Hafizh anak yang baik. Tidak pernah terdengar macam-macam. Tidak suka bercanda berlebihan. Selalu menunduk jika bicara dengan perempuan. Hafalannya bagus. Nilai sekolahnya tinggi. Kalau diminta memimpin doa, suaranya tenang.

Tapi menikah?

Dengan Hafizh?

Naila mencoba membayangkan Hafizh sebagai suami.

Yang terbayang justru Hafizh duduk tegak sambil berkata, “Apakah kebutuhan konsumsi harianmu sudah terpenuhi?”

Entah kenapa, bayangan itu membuat Naila ingin tertawa dan menangis sekaligus.

“Aku…” Naila berhenti.

Semua menunggu.

“Aku menerima kalau Hafizh juga menerima.”

Hafizh mengangkat kepala.

Mata mereka bertemu lagi.

Kali ini lebih dari satu detik.

Lalu keduanya sama-sama menunduk dengan wajah merah.

Malam itu, pembicaraan berlangsung panjang. Bukan pembicaraan romantis. Tidak ada puisi. Tidak ada kata cinta. Tidak ada tatapan sendu di bawah bulan.

Yang ada adalah daftar aturan.

Akad akan dilakukan sederhana.

Hanya keluarga inti dan saksi.

Belum dicatatkan secara negara sampai mereka lulus.

Tidak diumumkan ke kampus.

Di kota, mereka akan tinggal di kontrakan yang sama, tetapi bukan sekamar. Kontrakan itu milik seorang kenalan Pak Harun, rumah kecil dengan tiga kamar: satu kamar untuk Hafizh, satu untuk Naila, satu lagi dikunci untuk barang. Rumah itu dekat masjid dan tidak jauh dari kampus.

Mereka tidak boleh sembarangan menerima tamu.

Biaya hidup akan ditransfer oleh keluarga setiap bulan.

Uang beasiswa digunakan sesuai aturan kuliah.

Mereka harus fokus belajar.

Mereka harus menjaga nama baik keluarga.

Dan yang paling membuat Hafizh dan Naila sama-sama menatap lantai:

“Jangan punya anak dulu.”

Kalimat itu diucapkan oleh Ustaz Hamdan dengan suara tenang, seolah sedang mengatakan, “Jangan lupa bawa payung.”

Padahal bagi Hafizh, kalimat itu seperti petir.

Naila pura-pura memperbaiki posisi kerudung, padahal wajahnya sudah panas sampai telinga.

Ummu Salma menambahkan dengan lembut, “Kalian masih sangat muda. Kuliah dulu. Tanggung jawab kalian sekarang belajar. Setelah lulus, baru nikah terbuka, resepsi, dicatatkan, dan mulai hidup rumah tangga dengan lebih siap.”

Hafizh mengangguk cepat.

Terlalu cepat.

Naila juga mengangguk.

Terlalu kaku.

Pak Harun berdeham. “Jadi kalian paham?”

Hafizh menjawab, “Paham.”

Naila menjawab, “Paham.”

Keduanya sama-sama tidak paham bagaimana harus bersikap setelah diberi nasihat seperti itu.

Tapi tentu saja, tidak mungkin mereka bertanya.

Tidak mungkin Hafizh mengangkat tangan lalu berkata, “Abi, mohon perincian teknis dari nasihat tersebut.”

Tidak mungkin Naila berkata, “Ummi, batasan praktiknya bagaimana?”

Maka mereka memilih diam.

Dan karena mereka dibesarkan dengan adab yang baik, diam mereka terlihat seperti tanda kedewasaan.

Padahal sebagian besar isinya adalah panik.

Akad dilakukan tiga hari kemudian.

Pagi itu, Kampung Darussalam Bukit berkabut tipis. Udara dingin turun dari bukit, membuat jendela-jendela rumah berembun. Dari surau terdengar suara anak-anak mengulang hafalan pendek setelah Subuh.

Di rumah Pak Harun, ruang tamu sudah dirapikan. Karpet digelar. Meja kecil diberi taplak putih. Tidak ada dekorasi besar. Hanya beberapa piring kue, teko teh panas, dan bunga melati dari halaman yang diletakkan dalam gelas bening.

Hafizh datang bersama orang tuanya.

Ia memakai baju koko putih dan sarung hitam. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Sejak pagi, ia sudah berwudu dua kali tanpa alasan jelas.

Ummu Maryam memperhatikan putranya dengan cemas.

“Kamu sakit?”

“Tidak, Ummi.”

“Kok pucat?”

“Sedang menghayati amanah.”

Ummu Maryam menatapnya sebentar, lalu mengusap bahunya. “Jangan terlalu tegang. Ini ibadah.”

Justru karena ibadah, Hafizh makin tegang.

Di dalam kamar, Naila duduk di depan cermin kecil. Ia memakai gamis putih tulang dan kerudung senada. Ummu Salma merapikan ujung kerudungnya sambil beberapa kali menahan air mata.

“Ummi jangan menangis,” kata Naila pelan.

“Ummi tidak menangis.”

“Air mata Ummi jatuh.”

“Itu karena mata Ummi kemasukan rasa haru.”

Naila menggigit bibir, lalu ikut berkaca-kaca.

“Ummi, setelah ini… Naila harus bagaimana?”

Ummu Salma berhenti merapikan kerudung.

“Jadi istri yang baik.”

Naila menunggu kelanjutan.

Tapi ibunya diam.

“Itu saja?”

Ummu Salma tersenyum kecil. “Dan tetap jadi Naila. Jangan tiba-tiba merasa harus menjadi orang lain.”

Naila menunduk.

“Aku takut canggung.”

“Pasti canggung.”

Naila mengangkat wajah. “Ummi kok begitu?”

Ummu Salma tertawa pelan. “Karena memang begitu awalnya. Apalagi kalian belum saling mengenal sebagai pasangan. Tidak apa-apa. Pelan-pelan. Jangan memaksa diri terlihat dewasa dalam sehari.”

Naila mengangguk, meski tetap gelisah.

Dari ruang tamu, suara Pak Harun memanggil.

Waktu akad tiba.

Naila tidak duduk di ruang tamu. Ia menunggu di kamar bersama ibunya dan beberapa perempuan keluarga. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, ia bisa mendengar suara laki-laki di depan.

Suara ayahnya.

Suara Ustaz Hamdan.

Suara saksi.

Lalu suara Hafizh.

Biasanya suara Hafizh tenang saat membaca doa atau menjawab pertanyaan pelajaran. Tapi kali ini ada getar kecil di ujung kalimatnya.

Ketika ijab kabul diucapkan, Naila memejamkan mata.

Sederhana sekali.

Tidak ada tepuk tangan meriah.

Tidak ada kamera profesional.

Tidak ada pelaminan.

Tapi dalam satu kalimat, sesuatu dalam hidupnya berubah.

Ia yang tadi masih Naila, anak Pak Harun, kini juga menjadi istri Hafizh.

Kata itu terasa besar sekali.

Istri.

Naila menunduk, menggenggam tangan ibunya.

Di ruang tamu, Hafizh mencium tangan Pak Harun. Pak Harun menariknya ke pelukan.

“Jaga Naila baik-baik,” bisik Pak Harun.

Hafizh mengangguk, tenggorokannya terasa sempit.

“Insyaallah, Pak.”

Pak Harun melepas pelukan, lalu menatapnya dengan mata tajam seorang ayah. “Bukan cuma dijaga dari orang lain. Jaga juga hatinya.”

Hafizh terdiam.

Bagian itu tidak pernah ada dalam contoh soal fikih yang ia baca.

Menjaga hati istri.

Ia mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.

Setelah akad, keluarga meminta Hafizh dan Naila duduk bersebelahan sebentar untuk didoakan.

Itu menjadi lima menit paling panjang dalam hidup mereka.

Hafizh duduk di sisi kanan. Naila di sisi kiri. Di antara mereka ada jarak sejengkal yang terasa seperti lembah.

Beberapa ibu tersenyum penuh arti.

Beberapa bapak menahan geli melihat keduanya kaku seperti peserta lomba pidato.

Ummu Maryam membawa sepiring kue.

“Hafizh, ambilkan untuk Naila.”

Hafizh langsung mengambil piring.

Terlalu cepat.

Akibatnya satu kue hampir jatuh. Ia menangkapnya dengan gerakan panik, lalu meletakkannya kembali seolah tidak terjadi apa-apa.

“Naila,” katanya pelan, “silakan.”

Naila menerima piring itu.

“Terima kasih.”

Setelah itu mereka diam.

Hafizh berpikir keras.

Apakah ia harus mengatakan sesuatu?

Apa yang dikatakan suami kepada istri lima menit setelah akad?

Semoga kamu bahagia?

Mohon kerja sama?

Selamat atas perubahan status?

Sementara itu, Naila juga berpikir keras.

Apakah ia harus tersenyum?

Apakah senyumnya nanti terlihat terlalu senang?

Apakah kalau tidak tersenyum Hafizh mengira ia menyesal?

Akhirnya Hafizh memberanikan diri.

“Apakah…”

Naila menoleh sedikit.

Hafizh berhenti.

Semua orang di ruangan tampaknya langsung memasang telinga, meski pura-pura sibuk makan kue.

Hafizh menelan ludah.

“Apakah kue itu… cukup manis?”

Naila menatap kue di tangannya.

Lalu menatap Hafizh.

Untuk sesaat, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Kemudian ia tertawa kecil.

Sangat kecil, hampir tidak terdengar.

Tapi Hafizh mendengarnya.

Dan anehnya, dadanya terasa lebih lapang.

“Cukup,” jawab Naila.

“Oh.”

Hafizh mengangguk.

“Alhamdulillah.”

Di pojok ruangan, Farhan menutup mulut dengan tangan, bahunya bergetar menahan tawa.

Sore harinya, setelah tamu keluarga pulang, Hafizh dan Naila diberi kesempatan berbicara di beranda, tentu dengan pintu terbuka dan orang tua tidak jauh dari sana.

Mereka duduk di dua kursi rotan. Di halaman, ayam-ayam Pak Harun berkeliaran seolah tidak peduli bahwa salah satu peristiwa terbesar dalam hidup Naila baru saja terjadi.

Beberapa menit pertama berlalu tanpa kata.

Hafizh memandang pohon jambu.

Naila memandang sandal.

Akhirnya Hafizh berkata, “Naila.”

Itu pertama kalinya ia memanggil nama Naila tanpa tambahan apa pun.

Tidak “Saudari Naila”.

Tidak “Naila binti Pak Harun”.

Hanya Naila.

Naila menoleh.

“Iya?”

Hafizh tampak menyusun kalimat di kepala.

“Kita sudah diberi amanah besar.”

Naila menunggu.

“Aku mungkin belum pandai…”

Ia berhenti.

Naila memperhatikan wajah Hafizh. Untuk pertama kalinya, ia melihat Hafizh tidak sekaku biasanya. Ada gugup di sana. Ada takut. Ada kesungguhan yang canggung.

“Belum pandai apa?” tanya Naila.

Hafizh menunduk sedikit.

“Menjadi suami.”

Naila diam.

Angin sore bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dari kebun belakang.

“Aku juga belum pandai menjadi istri,” kata Naila.

Hafizh mengangkat wajah.

Mereka saling menatap.

Kali ini tidak langsung menunduk.

“Jadi…” Hafizh berkata hati-hati, “kita belajar?”

Naila mengangguk.

“Kita belajar.”

Hafizh terlihat lega, seolah baru saja mendapat izin untuk tidak sempurna.

Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

Sebuah buku kecil.

Naila menatap buku itu.

“Apa itu?”

“Catatan.”

“Catatan apa?”

“Rencana kuliah, pembagian kebutuhan bulanan, jadwal belanja, daftar kontak darurat, dan beberapa poin tanggung jawab rumah tangga.”

Naila berkedip.

Setelah akad, suaminya memberinya buku rencana operasional.

Bukan bunga.

Bukan surat.

Buku rencana operasional.

“Ini…” Naila mencoba mencari kata yang sopan. “Sangat rapi.”

“Terima kasih.”

“Itu pujian?”

“Insyaallah.”

Naila menahan senyum.

Hafizh membuka halaman pertama. “Karena biaya hidup ditransfer orang tua, aku pikir kita perlu catat pemasukan dan pengeluaran. Beasiswa digunakan sesuai kebutuhan kampus. Uang dari keluarga untuk makan, listrik, air, dan kebutuhan harian. Kita juga harus sisihkan dana darurat.”

Naila mengangguk pelan.

Ini bukan percakapan romantis.

Tapi entah kenapa, ia merasa sedikit tenang.

Hafizh mungkin kaku. Sangat kaku. Tapi ia tidak main-main.

“Untuk kontrakan,” lanjut Hafizh, “kamar depan untukmu. Kamar belakang untukku. Kamar tengah untuk barang. Aku sudah minta Abi memastikan rumahnya dekat masjid dan ada pagar.”

Naila bertanya, “Kenapa aku kamar depan?”

“Lebih dekat dengan pintu keluar kalau ada keadaan darurat.”

“Kalau ada keadaan darurat, bukannya kamar belakang lebih aman?”

Hafizh berhenti.

Ia tampak memikirkan itu sungguh-sungguh.

“Kau benar. Nanti kita evaluasi denah.”

Naila tidak tahan lagi. Ia tertawa.

Kali ini lebih jelas.

Hafizh menatapnya bingung, tapi kemudian ikut tersenyum tipis.

Senyum Hafizh ternyata berbeda dari wajah biasanya. Tidak lebar, tidak mencolok, tapi cukup membuat Naila mendadak salah tingkah.

Ia cepat-cepat menunduk.

Beberapa detik kemudian, Hafizh berkata dengan suara lebih pelan, “Tentang nasihat orang tua…”

Naila langsung kaku.

Hafizh juga kaku.

Mereka sama-sama tahu nasihat mana yang dimaksud.

Fokus kuliah.

Jangan punya anak dulu.

Nikah terbuka setelah lulus.

Hafizh menatap buku catatannya seolah berharap ada jawaban tertulis di sana.

“Aku pikir,” katanya sangat hati-hati, “kita harus benar-benar fokus kuliah.”

“Iya,” jawab Naila cepat.

“Sangat fokus.”

“Iya.”

“Dan menjaga batas.”

“Iya.”

“Juga menjaga kesehatan.”

Naila menoleh. “Kesehatan?”

Hafizh tampak menyesal telah memilih kata itu.

“Maksudku… kesehatan umum.”

“Oh.”

“Seperti makan teratur.”

“Iya.”

“Tidur cukup.”

“Iya.”

“Tidak stres.”

“Iya.”

Mereka diam lagi.

Dari dalam rumah, terdengar suara Ummu Salma memanggil seseorang. Suara piring beradu. Suara anak kecil tertawa di jalan.

Dunia berjalan biasa saja.

Padahal di beranda itu, dua anak muda baru saja berusaha membahas pernikahan tanpa sanggup menyebut apa pun secara jelas.

Naila akhirnya berkata, “Hafizh.”

“Iya?”

“Kalau kita bingung, kita boleh tanya orang tua, kan?”

Hafizh terlihat sangat lega. “Boleh. Itu lebih aman.”

“Terutama Ummi.”

“Dan Abi.”

Naila ragu. “Abi-mu bisa menjelaskan dengan jelas?”

Hafizh terdiam.

Mereka sama-sama mengingat cara Ustaz Hamdan menyampaikan nasihat “jangan punya anak dulu” tadi. Singkat, datar, dan membuat dua orang nyaris pingsan dalam sopan santun.

“Mungkin,” kata Hafizh, “untuk beberapa hal, lebih baik kepada Ummi.”

Naila mengangguk serius.

“Setuju.”

Malam sebelum keberangkatan, Naila tidak bisa tidur.

Kopernya sudah tertutup. Di atas meja ada beberapa buku, mushaf kecil, dompet, dan amplop berisi uang pemberian ayahnya. Di samping bantal, ada buku catatan dari Hafizh.

Ia membukanya lagi.

Tulisan Hafizh rapi sekali.

Terlalu rapi.

Di halaman pertama tertulis:

Tujuan Utama Selama Kuliah:

  1. Menjaga agama.

  2. Menjaga amanah keluarga.

  3. Menjaga beasiswa.

  4. Menjaga kehormatan.

  5. Menjaga Naila.

  6. Lulus tepat waktu.

  7. Setelah lulus, menikah terbuka dengan baik.

Naila membaca poin kelima beberapa kali.

Menjaga Naila.

Ia tidak tahu kenapa tiga kata itu membuat dadanya hangat.

Di rumah seberang, Hafizh juga belum tidur.

Ia duduk di meja belajar, menatap koper yang sudah disiapkan. Ibunya masuk membawa segelas susu hangat.

“Belum tidur?”

“Belum, Ummi.”

Ummu Maryam meletakkan gelas di meja. “Memikirkan besok?”

Hafizh mengangguk.

“Memikirkan kuliah?”

“Iya.”

“Memikirkan Naila?”

Hafizh terbatuk.

Ummu Maryam tersenyum.

“Tidak apa-apa dipikirkan. Dia sekarang tanggung jawabmu juga.”

Hafizh menunduk.

“Ummi, bagaimana kalau aku tidak cukup baik?”

Ummu Maryam duduk di tepi ranjang.

“Tidak cukup baik sebagai apa?”

“Sebagai mahasiswa. Sebagai anak. Sebagai…” Hafizh berhenti sebentar. “Sebagai suami.”

Ummu Maryam menatap putranya dengan lembut.

“Tidak ada yang langsung pandai menjadi suami. Ayahmu dulu juga tidak.”

Hafizh mengangkat wajah, terkejut. “Abi?”

“Iya. Dulu waktu baru menikah, Abi pernah membelikan Ummi garam satu karung karena Ummi bilang garam di rumah habis.”

Hafizh terdiam.

“Satu karung?”

“Satu karung.”

“Kenapa?”

“Karena menurut Abi, itu solusi jangka panjang.”

Hafizh menatap ibunya.

Ummu Maryam tersenyum.

“Laki-laki baik kadang terlalu sibuk mencari solusi sampai lupa bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan. Jadi dengarkan Naila. Jangan hanya mengatur. Jangan hanya menjaga dari jauh. Tanya hatinya.”

Hafizh mengingat pesan Pak Harun.

Jaga juga hatinya.

Ia mengangguk pelan.

“Insyaallah, Ummi.”

Keesokan paginya, dua keluarga mengantar Hafizh dan Naila sampai jalan utama kampung. Dari sana, mobil sewaan akan membawa mereka ke terminal kota kabupaten.

Kabut belum sepenuhnya hilang. Beberapa warga datang melepas mereka. Ada yang membawa bekal. Ada yang memberi amplop kecil. Ada yang hanya menepuk bahu sambil mendoakan.

Naila memeluk ibunya lama sekali.

“Jaga diri,” bisik Ummu Salma. “Fokus kuliah. Jangan takut belajar hidup. Tapi jangan merasa harus kuat sendirian.”

Naila mengangguk.

Pak Harun menepuk kepala putrinya pelan. “Kalau ada apa-apa, kabari Ayah. Jangan disimpan.”

“Iya, Yah.”

Di sisi lain, Hafizh mencium tangan ayah dan ibunya.

Ustaz Hamdan memegang bahu putranya.

“Ingat. Kamu ke sana bukan untuk bermain-main.”

“Iya, Abi.”

“Belajar yang benar.”

“Iya.”

“Jaga Naila.”

“Iya.”

“Jangan punya anak dulu.”

Hafizh membeku.

Ummu Maryam langsung mencubit pelan lengan suaminya.

“Bi.”

Ustaz Hamdan tampak bingung. “Apa?”

Di dekat mobil, Naila mendengar kalimat itu dan langsung masuk lebih cepat ke kursi belakang, pura-pura sibuk merapikan tas.

Hafizh menunduk dalam-dalam.

“Iya, Abi.”

Farhan, yang ikut mengantar karena sekalian akan berangkat ke kota beberapa hari kemudian, menatap Hafizh dengan mata menyipit.

“Ada apa ini?” gumamnya.

Hafizh pura-pura tidak mendengar.

Mobil mulai bergerak meninggalkan Kampung Darussalam Bukit.

Naila duduk di belakang, dekat jendela kiri. Hafizh duduk di belakang juga, dekat jendela kanan. Di antara mereka ada satu tas besar, dua kardus makanan, dan jarak sopan yang disusun oleh rasa malu.

Jalan menurun berkelok. Rumah-rumah kayu mulai menjauh. Surau kecil di ujung kampung terlihat terakhir kali sebelum tertutup pepohonan.

Naila menatap keluar jendela.

Hafizh juga.

Keduanya sama-sama meninggalkan rumah.

Sama-sama menuju kota.

Sama-sama membawa rahasia.

Beberapa menit berlalu.

Lalu ponsel Naila berbunyi.

Pesan masuk dari Hafizh.

Naila menoleh sedikit. Hafizh duduk tidak sampai dua meter darinya, tapi wajahnya serius menatap layar ponsel.

Naila membuka pesan itu.

Hafizh: Assalamu’alaikum. Apakah posisi dudukmu nyaman?

Naila menahan senyum.

Ia mengetik balasan.

Naila: Wa’alaikumussalam. Kamu bisa tanya langsung. Aku duduk di sebelahmu.

Hafizh membaca pesan itu.

Wajahnya berubah kaku.

Lalu ia menoleh pelan.

“Apakah…” Ia berhenti, lalu memperbaiki kalimatnya. “Kamu nyaman?”

Naila mengangguk.

“Nyaman.”

“Oh.”

Hafizh mengangguk juga.

“Alhamdulillah.”

Mobil terus melaju.

Di depan mereka, kota menunggu dengan segala hal yang belum mereka pahami: kampus besar, kontrakan kecil, teman-teman baru, aturan beasiswa, rahasia yang harus dijaga, dan perasaan-perasaan aneh yang belum punya nama.

Naila menatap Hafizh sekilas.

Suaminya.

Kata itu masih terasa asing.

Hafizh menatap Naila sekilas.

Istrinya.

Kata itu masih terasa terlalu besar.

Mereka sama-sama cepat membuang pandang ke jendela.

Tapi kali ini, keduanya tersenyum kecil.

Di tengah perjalanan, ponsel Hafizh berbunyi. Pesan dari panitia beasiswa masuk bersamaan ke ponselnya dan ponsel Naila.

Selamat datang, calon mahasiswa Universitas Madani Raya. Seluruh penerima beasiswa diwajibkan hadir dalam orientasi dan menandatangani pakta komitmen studi. Penerima beasiswa wajib menjaga status akademik, tidak mengambil tanggungan keluarga selama masa kuliah, dan tidak melakukan perubahan status administratif tanpa persetujuan kampus.

Hafizh membaca pesan itu dua kali.

Naila juga.

Tidak ada kata yang secara langsung melarang akad agama yang tidak tercatat. Tidak ada aturan yang mereka langgar secara administratif.

Tapi tetap saja, dada mereka berdebar.

Karena di antara kalimat-kalimat resmi itu, mereka seperti melihat bayangan masa depan yang rumit.

Naila pelan-pelan menoleh.

“Hafizh.”

“Iya?”

“Kita aman, kan?”

Hafizh menatap layar ponselnya, lalu menatap jalan di depan.

Secara aturan kampus, mereka aman.

Secara keluarga, mereka aman.

Secara agama, mereka aman.

Tapi entah kenapa, ia merasa kota besar tidak akan sesederhana itu.

“Insyaallah,” jawab Hafizh.

Naila memperhatikan wajahnya.

“Itu jawaban yakin atau jawaban takut?”

Hafizh diam sebentar.

“Dua-duanya.”

Naila tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak akad, jawaban Hafizh terdengar tidak seperti catatan pelajaran. Terdengar seperti manusia biasa yang juga gugup.

Dan anehnya, itu membuat Naila lebih tenang.

Mobil terus menjauh dari kampung.

Di belakang mereka, kehidupan lama perlahan mengecil.

Di depan mereka, kehidupan baru mulai terbuka.

Mereka belum tahu bagaimana caranya menjadi pasangan.

Belum tahu bagaimana menjaga rahasia tanpa melukai hati.

Belum tahu bagaimana hidup satu kontrakan tapi tidak sekamar.

Belum tahu bagaimana menjelaskan hubungan yang sah, tapi belum boleh terbuka.

Belum tahu apa itu romantis.

Tapi untuk sementara, mereka tahu satu hal:

Mereka akan belajar.

Bersama.

Dan tepat ketika mobil memasuki jalan besar menuju kota, Hafizh membuka buku catatan kecilnya, menambahkan satu poin baru di bawah daftar tujuan.

Dengan tulisan rapi, ia menulis:

8. Belajar membuat Naila tidak merasa sendirian.

Naila tidak melihat tulisan itu.

Belum.

Tapi suatu hari nanti, ia akan melihatnya.

Dan saat itu, ia mungkin baru sadar bahwa kisah cinta mereka tidak dimulai dengan bunga, puisi, atau kata-kata manis.

Kisah itu dimulai dengan akad yang terlalu sunyi, dua orang yang terlalu malu, dan sebuah janji kecil yang ditulis diam-diam di halaman buku catatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar