Chapter 1 — Festival Senja
Lampu-lampu kecil digantung dari satu ujung lapangan ke ujung lain, membentuk garis-garis cahaya yang bergetar pelan setiap kali angin sore lewat.
Di bawahnya, lapangan SMA Garuda Bhakti berubah total.
Biasanya tempat itu cuma dipakai untuk upacara yang bikin betis pegal, olahraga yang bikin sebagian murid pura-pura asma, dan apel pagi yang lebih sering jadi ajang adu kuat melawan kantuk. Tapi malam ini, lapangan itu terlihat hampir tidak seperti sekolah.
Ada stand makanan di kanan-kiri. Ada panggung kecil di depan lapangan. Ada suara musik dari speaker yang terlalu bersemangat. Ada bau sosis bakar, jagung manis, minyak goreng, parfum remaja, dan asap cabai yang entah kenapa terasa seperti ancaman.
Di antara semua keramaian itu, stand kelas XI-2 berdiri dengan spanduk besar berwarna merah menyala.
Tulisan di spanduk itu berbunyi:
SEBLAK ANTI GALAU
Kalau Masih Galau, Tambah Cabai
Di bawahnya, ada tulisan kecil yang sebenarnya tidak disetujui panitia kelas, tapi sudah telanjur dicetak:
Tidak menerima pembayaran pakai janji manis.
Kirana Putri menatap spanduk itu seperti sedang menatap nilai matematika yang turun sepuluh poin.
“Masih nggak masuk akal kenapa tulisan terakhir itu harus ada,” katanya.
Di sebelahnya, Jalu Prasetyo berdiri sambil memegang centong plastik, ekspresinya penuh kebanggaan.
“Branding, Ra.”
“Branding itu bukan alasan buat mempermalukan kelas sendiri.”
“Justru ini identitas. Kelas lain jual dimsum, es cokelat, takoyaki. Biasa. Kita jual pengalaman emosional.”
Kirana menarik napas panjang.
Satu tarikan napas yang kalau diterjemahkan kira-kira berbunyi: Tuhan, kuatkan aku menghadapi laki-laki ini selama satu semester lagi.
“Pengalaman emosional dari mana?” tanya Tara Maheswari sambil memasang jepit rambutnya yang sejak tadi turun terus. “Orang beli seblak, bukan daftar terapi.”
Jalu mengangkat centong seperti mikrofon.
“Justru di situlah letak inovasinya, Tar. Seblak kita bukan cuma makanan. Seblak kita adalah perjalanan batin.”
Manda Ayuningtyas muncul dari belakang stand dengan apron miring, rambut agak berantakan, dan wajah penuh percaya diri yang biasanya menjadi tanda bahwa sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang buruk.
“Betul,” kata Manda. “Setiap suapan adalah pengingat bahwa hidup memang pedas, tapi kita tetap harus mengunyah.”
Tara menatap Manda.
“Kamu habis makan cabai mentah, ya?”
“Sedikit.”
“Berapa?”
Manda berpikir sebentar.
“Tergantung definisi sedikit.”
Kirana langsung menoleh tajam.
“Manda.”
Manda tersenyum terlalu lebar.
“Empat.”
“Empat cabai?”
“Sendok.”
Tara menutup mulutnya. “Ya Allah.”
Jalu mengangguk pelan seperti dokter yang baru menerima kabar pasien sulit diselamatkan.
“Pantas tadi kuahnya bisa bikin sendok minta pensiun.”
Kirana memejamkan mata.
“Kita sudah bahas takaran cabai.”
“Sudah,” jawab Manda cepat. “Tapi Jalu bilang, ‘pedas itu relatif.’”
Jalu langsung menunjuk dirinya sendiri dengan centong.
“Sebentar, jangan menyudutkan saya. Saya bilang pedas itu relatif dalam konteks filsafat rasa, bukan untuk diaplikasikan ke panci ukuran hajatan.”
“Jalu,” kata Kirana pelan, “kamu yang masukin cabai tambahan?”
Jalu diam.
Diamnya Jalu adalah jawaban.
Tara langsung mundur satu langkah dari panci.
“Jadi ini seblak atau cairan penghapus dosa?”
Manda mengambil mangkuk kecil, mencicipi sedikit kuahnya, lalu wajahnya langsung berubah.
Senyumnya hilang.
Matanya berkaca-kaca.
Dia menatap langit.
“Indah.”
Kirana panik. “Indah gimana?”
“Seperti melihat masa depan.”
“Pedas banget?”
Manda mengangguk pelan.
“Aku bisa melihat arwah mantan gebetan Jalu.”
Jalu tersinggung. “Jangan bawa-bawa almarhum kisah cinta gue.”
“Dia belum meninggal, Lu. Dia cuma manggil kamu adik.”
“Justru itu lebih tragis.”
Di belakang mereka, Bima Arkananta mengangkat kamera.
Klik.
Satu foto terekam.
Manda dengan wajah merah karena cabai. Jalu dengan centong seperti senjata perang. Tara yang setengah tertawa setengah khawatir. Kirana yang terlihat seperti bendahara negara menghadapi krisis ekonomi.
Bima menurunkan kamera sedikit.
Dia tidak banyak bicara sejak tadi. Seperti biasa. Di antara mereka berlima, Bima memang paling sering hadir seperti tanda baca koma: tidak mencolok, tapi entah kenapa membuat semuanya terasa punya jeda.
Dia berdiri di sisi stand, mengenakan kaus panitia Festival Senja, kamera tergantung di leher, dan ekspresi datar yang membuat orang sulit menebak apakah dia sedang senang, bosan, atau memikirkan cara kabur.
Manda menoleh ke arahnya.
“Bim.”
“Hm?”
“Kamu habis foto aku?”
“Iya.”
“Untuk dokumentasi?”
Bima diam sebentar.
“Untuk bukti korban.”
Manda menunjuknya dengan sendok plastik.
“Mulut kamu irit, tapi sekalinya keluar nyebelin.”
Jalu menepuk meja stand.
“Setuju. Bima tuh kayak minimarket dekat sekolah. Kelihatannya tenang, tapi pas dicek, banyak kejutan.”
Bima menatap Jalu.
“Kamu pernah dilarang masuk minimarket?”
Jalu langsung tersinggung untuk kedua kalinya malam itu.
“Itu salah paham. Gue cuma nanya promo ayam geprek terlalu antusias.”
Tara tertawa.
Biasanya, kalau Tara tertawa, suasana jadi lebih ringan. Tawanya mudah menular. Jenis tawa yang membuat orang lain merasa diizinkan ikut bahagia, meskipun tidak tahu apa yang sedang lucu.
Tapi malam itu, tawa Tara terdengar cepat.
Sedikit terlalu cepat.
Kirana menyadarinya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Manda juga menyadarinya, lalu pura-pura sibuk mengaduk panci.
Bima menyadarinya juga.
Ia menatap Tara sebentar, seperti hendak bertanya, tapi Tara sudah lebih dulu berbalik ke arah pengunjung.
“Ayo, ayo! Seblak anti galau! Pedasnya bisa disesuaikan dengan tingkat penyesalan!”
Seorang adik kelas berhenti di depan stand.
“Kak, level satu pedas banget nggak?”
Manda langsung maju.
“Level satu itu pedas manja. Kayak chat cuma ‘hehe’ padahal pengin bilang kangen.”
Adik kelas itu tampak bingung.
Jalu menyambung, “Level dua itu pedas mikir. Level tiga pedas sadar diri. Level empat pedas habis stalking. Level lima pedas melihat dia jalan sama orang lain.”
Adik kelas itu mundur setengah langkah.
Tara menepuk meja.
“Tenang, Dek. Itu cuma marketing. Level satu aman.”
Bima, dari belakang, berkata datar, “Aman untuk orang yang sudah punya tujuan hidup.”
Adik kelas itu makin pucat.
Kirana langsung menyikut Bima.
“Jangan bantu kalau hasilnya memperburuk keadaan.”
Bima mengangguk.
“Baik.”
Manda menahan tawa. “Bima kalau jualan tuh auranya kayak customer service di akhir zaman.”
“Setidaknya jujur,” kata Bima.
“Jujur boleh, tapi jangan sampai pelanggan merasa hidupnya dievaluasi.”
“Sulit.”
“Kenapa?”
Bima melirik panci seblak.
“Karena kuahnya memang menghakimi.”
Manda tertawa.
Kali ini Bima menatapnya sedikit lebih lama.
Tidak lama. Hanya beberapa detik. Tapi cukup lama untuk sesuatu yang seharusnya biasa saja.
Di depan stand, Festival Senja terus bergerak.
Musik dari panggung berganti lagu. Anak-anak kelas sebelah mulai berteriak karena lomba yel-yel. Lampion-lampion kecil di dekat lorong sebelah lapangan mulai dinyalakan satu per satu. Cahaya jingganya jatuh di wajah murid-murid yang lewat, membuat semuanya tampak hangat, hampir seperti adegan film.
Tapi tidak semua yang terlihat hangat terasa nyaman.
Di ujung lapangan, sebuah papan kayu berdiri di depan lorong panjang yang dihias lampion.
Tulisan di papan itu membuat banyak murid melambat saat lewat.
LORONG LAMPION
Pembukaan Kotak Kalimat Terakhir pukul 20.30
Di bawah tulisan itu, ada kertas kecil yang ditempel asal-asalan:
Datang kalau berani tahu.
Manda membaca tulisan itu dari jauh, lalu mendengus.
“Dramatis banget. Ini sekolah atau lokasi uji nyali?”
Jalu mengikuti arah pandangnya.
“Menurut gue, Kotak Kalimat Terakhir itu konsepnya serem.”
Tara mengambil gelas es teh. “Serem dari mana? Romantis kali.”
“Romantis kalau isinya bagus,” kata Jalu. “Kalau dapat kalimat ‘tolong balikin Tupperware mamaku’, gimana?”
“Itu kamu, Lu,” kata Kirana.
Jalu menoleh. “Kok nuduh?”
“Karena kamu punya sejarah tidak mengembalikan barang.”
“Itu bukan tidak mengembalikan. Itu peminjaman jangka panjang tanpa tanggal jatuh tempo.”
Kirana menatapnya datar.
“Nama lainnya maling kecil.”
Jalu memegang dada.
“Ketua kelas kalau ngomong memang tidak pakai rem.”
“Aku nggak galak. Kalian aja yang susah diatur.”
Manda, Tara, dan Jalu menjawab hampir bersamaan.
“Itu definisi galak, Ra.”
Bima tidak ikut menjawab.
Ia masih melihat Lorong Lampion.
Dari tempatnya berdiri, lorong itu tampak indah. Lampion-lampion kertas menggantung di kiri-kanan. Beberapa sudah menyala, beberapa masih gelap. Di ujung lorong, ada meja kecil tempat panitia OSIS menyimpan amplop-amplop anonim dari Kotak Kalimat Terakhir.
Tradisi Festival Senja.
Setiap siswa boleh mengirim satu kalimat untuk seseorang.
Bukan surat panjang.
Bukan puisi satu halaman.
Cuma satu kalimat.
Satu kalimat yang bisa terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat seseorang tidak bisa tidur semalaman.
Katanya, setelah Festival Senja, banyak hal berubah.
Ada yang pulang dengan status baru.
Ada yang pulang dengan hati patah.
Ada yang besoknya tidak lagi duduk di tempat yang sama.
Ada circle yang tetap utuh.
Ada juga yang pelan-pelan pecah, bukan karena bertengkar besar, tapi karena semua orang tiba-tiba terlalu hati-hati untuk tertawa seperti biasa.
Bima menatap lampion terakhir yang belum menyala di ujung lorong.
Entah kenapa, lampion itu terasa seperti hitungan mundur.
“Bim.”
Suara Kirana membuat Bima menoleh.
“Kamu belum makan dari tadi, kan?” tanya Kirana.
Bima menggeleng.
“Belum.”
Kirana mengambil satu mangkuk seblak dan menyodorkannya.
“Ini level satu. Jangan ambil dari panci yang Manda aduk tadi. Itu level pengadilan akhirat.”
“Terima kasih.”
Bima menerima mangkuk itu.
Kirana tersenyum kecil. Rapi, tenang, seperti biasa. Tapi matanya tidak setenang itu.
“Kamu nanti ke Lorong Lampion?” tanya Kirana.
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Terlalu ringan.
Bima belum sempat menjawab ketika Tara muncul dari samping.
“Semua harus ke sana, dong. Biar seru.”
Tara tersenyum lebar, tapi tangannya memainkan sedotan es teh sampai bengkok.
“Kamu juga mau ke sana?” tanya Bima.
Tara mengangkat bahu.
“Lihat nanti. Tergantung semesta.”
Manda langsung menyahut dari belakang panci.
“Semesta lagi sibuk, Tar. Dari tadi ngurusin Jalu yang hampir masukin kecap ke es teh.”
Jalu membela diri, “Botolnya mirip!”
“Kecap botol besar, es teh teko bening,” kata Kirana.
“Mirip secara emosional.”
“Lu, berhenti ngomong sebelum aku masukkan kamu ke daftar pengeluaran kelas.”
Jalu langsung diam.
Manda tertawa lagi. Kali ini lebih keras dari yang diperlukan.
Lalu tiba-tiba, beberapa detik setelah tawa itu selesai, suasana di antara mereka berlima terasa jatuh.
Tidak ada yang langsung bicara.
Di depan stand, pengunjung masih ramai.
Di panggung, MC masih berteriak terlalu semangat.
Di sebelah mereka, kelas XI-4 sedang ribut karena colokan listrik mati.
Semua masih berjalan seperti biasa.
Tapi di meja stand seblak kelas XI-2, sesuatu terasa bergeser sedikit.
Seperti kursi yang tidak sengaja tersenggol.
Kecil.
Tapi terdengar.
Jalu memandangi mereka satu per satu.
Kirana yang pura-pura menghitung uang kembalian.
Tara yang sibuk mengaduk es teh padahal gelasnya sudah kosong.
Manda yang terlalu fokus pada panci.
Bima yang diam dengan mangkuk seblak di tangan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Jalu tidak langsung bercanda.
Ia hanya berkata pelan, “Kalian kenapa, sih?”
Tidak ada yang menjawab.
Manda akhirnya mengangkat kepala.
“Kenapa apanya?”
“Ini,” kata Jalu sambil menunjuk udara di antara mereka. “Vibes-nya. Kok kayak grup keluarga habis ada yang bahas warisan?”
Tara tertawa kecil.
Kirana pura-pura tidak mendengar.
Bima menunduk ke mangkuknya.
Manda mengambil kerupuk dan melempar pelan ke arah Jalu.
“Vibes kamu aja yang miskin.”
“Gue serius.”
“Nah, itu yang bikin serem.”
Jalu menatap Manda lebih lama dari biasanya.
“Man, serius. Meja kita akhir-akhir ini aneh.”
Manda ingin menjawab dengan candaan lain. Sesuatu yang cukup konyol supaya pembicaraan itu hancur sebelum menjadi terlalu jujur.
Tapi untuk sepersekian detik, kata-katanya tidak keluar.
Bima melihat itu.
Dan seperti biasa, Bima melihat terlalu banyak.
Manda akhirnya tersenyum lebar.
“Meja kita aneh karena kamu masih punya utang gorengan.”
Jalu langsung menunjuknya.
“Nah! Fitnah ekonomi lagi!”
Kirana mengangkat alis. “Memang belum bayar, kan?”
“Belum, tapi itu karena sistem pembayaran kita belum jelas.”
“Bayar pakai uang.”
“Itu sistem kapitalis.”
Tara menepuk bahu Jalu.
“Lu, kadang aku kagum. Kamu tuh bisa salah, tapi tetap punya energi buat bikin seminar.”
Percakapan kembali pecah.
Manda tertawa.
Tara ikut tertawa.
Kirana menggeleng sambil tersenyum kecil.
Jalu kembali berisik.
Bima tetap diam.
Dari luar, mungkin mereka terlihat seperti biasa.
Lima orang yang terlalu sering bersama.
Lima orang yang menguasai satu meja kantin seolah-olah meja itu sudah tercatat di sertifikat keluarga.
Lima orang yang punya grup WA dengan nama berubah setiap minggu.
Awalnya: Bukan Circle, Cuma Kebetulan Sering Bareng.
Lalu berubah menjadi: Circle Aman Anti Baper.
Nama itu dibuat Manda, disetujui Jalu, ditentang Kirana karena “alay”, dipakai Tara karena “lucu”, dan dibaca Bima tanpa komentar.
Aturannya juga dibuat sambil bercanda.
Dilarang naksir anggota circle sendiri.
Yang baper bayar seblak satu meja.
Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.
Waktu itu mereka semua tertawa.
Karena waktu itu aturan itu terasa mustahil dilanggar.
Bima menatap Manda yang sedang berdebat dengan Jalu tentang apakah kerupuk bisa disebut sayur kalau direndam kuah.
Ia lalu menatap Kirana yang diam-diam membereskan uang receh supaya tidak berantakan.
Lalu Tara yang tersenyum kepada pengunjung, bahkan ketika matanya terlihat lelah.
Lalu kembali ke Manda.
Selalu kembali ke Manda.
Dulu Bima mengira ia memperhatikan semua orang dengan cara yang sama.
Kepada Kirana, ia membantu.
Kepada Tara, ia mendengarkan.
Kepada Jalu, ia berusaha bertahan hidup.
Kepada Manda—
Bima berhenti pada pikirannya sendiri.
Karena bagian itu tidak pernah sesederhana yang lain.
“Bim,” panggil Manda tiba-tiba.
Bima tersadar.
“Hm?”
Manda menyipitkan mata. “Kamu ngelamun?”
“Sedikit.”
“Mikir apa?”
Bima menatapnya.
Lampu dari stand memantul di wajah Manda. Rambutnya agak berantakan. Pipinya masih sedikit merah karena kuah seblak tadi. Apronnya miring. Di tangannya ada sendok plastik. Di belakangnya, spanduk absurd mereka berkibar pelan tertiup angin.
Manda terlihat seperti kekacauan kecil yang entah bagaimana membuat tempat itu terasa aman.
Bima hampir menjawab jujur.
Hampir.
Tapi dari arah Lorong Lampion, bel kecil berbunyi.
Tiga kali.
Ting.
Ting.
Ting.
Suara panitia OSIS terdengar dari pengeras suara.
“Perhatian untuk seluruh siswa SMA Garuda Bhakti. Pembukaan Kotak Kalimat Terakhir akan dimulai lima belas menit lagi di Lorong Lampion. Bagi penerima kalimat yang ingin mengetahui pengirimnya, silakan bersiap di area lorong.”
Keramaian lapangan berubah.
Bukan menjadi sepi, tapi menjadi berbeda.
Beberapa siswa langsung bersorak. Beberapa saling dorong malu-malu. Beberapa pura-pura tidak peduli, tapi wajahnya sudah merah. Ada yang langsung mengecek kantong, memastikan kertas kalimatnya masih ada. Ada juga yang tiba-tiba berjalan menjauh, seolah-olah tidak siap menghadapi satu kalimat yang mungkin bisa mengubah sisa semester.
Di stand XI-2, tidak ada yang bergerak.
Manda menurunkan sendoknya.
Tara berhenti tersenyum.
Kirana menggenggam ujung buku catatan kecilnya.
Jalu menatap mereka bertiga, lalu menatap Bima.
Bima melihat lampion terakhir di ujung lorong.
Sekarang lampion itu menyala.
Cahayanya kecil.
Tapi cukup untuk membuat dada Bima terasa sesak.
Katanya setelah festival ini, banyak yang berubah.
Bima dulu tidak terlalu percaya.
Baginya, perubahan biasanya datang pelan-pelan. Dari hal-hal kecil yang tidak langsung disadari. Dari chat yang mulai jarang dibalas. Dari tawa yang terdengar berbeda. Dari meja kantin yang tiba-tiba menyisakan satu kursi kosong.
Tapi malam ini, ia mulai takut rumor itu benar.
Ia bukan cuma takut perasaannya ketahuan.
Bukan cuma takut seseorang sakit hati.
Bukan cuma takut kalimat yang ia kirim akan sampai pada orang yang tepat.
Yang paling ia takutkan adalah sesuatu yang lebih sederhana.
Lebih kecil.
Lebih menyedihkan.
Ia takut tempat mereka pulang setelah jam istirahat tidak terasa seperti rumah lagi.
Manda tiba-tiba berkata, dengan suara yang dipaksakan ceria, “Oke. Siapa pun yang dapat kalimat paling alay malam ini harus bayar seblak.”
Jalu langsung mengangkat tangan.
“Kalau gue dapat kalimat tagihan gorengan lagi, itu masuk kategori alay atau kriminal?”
Tara tertawa pelan.
Kirana menghela napas, tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Bima menatap Manda.
Manda menatap balik.
Hanya sebentar.
Lalu Manda memalingkan wajah lebih dulu.
Di antara suara musik, tawa murid-murid, aroma cabai, dan cahaya lampion, Bima akhirnya sadar satu hal.
Malam itu tidak datang tiba-tiba.
Semua yang terjadi di Festival Senja sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya.
Jauh sebelum lampion dinyalakan.
Jauh sebelum Kotak Kalimat Terakhir dibuka.
Jauh sebelum mereka membuat aturan bodoh tentang siapa yang harus membayar seblak kalau ada yang baper.
Semuanya dimulai sekitar empat bulan lalu.
Saat mereka belum menjadi circle.
Saat Manda belum menjadi orang yang paling dicari di tengah keramaian.
Saat Kirana belum tahu bahwa diam bisa terasa nyaman.
Saat Tara belum sadar bahwa didengar bisa membuat hati berharap.
Saat Jalu masih mengira tugas konsumsi adalah jalan menuju kejayaan.
Dan saat Bima, untuk pertama kalinya, melihat seorang cewek menunjuk ke arahnya sambil berkata:
“Bima, kamu ini manusia apa fitur mode hemat daya?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar