Rabu, 20 Mei 2026

Akad Rahasia di Kota Beasiswa Chapter 2 dari 10


 

Chapter 2

Teman Sekampung, Katanya


Kota tidak menyambut Hafizh dan Naila dengan gerbang megah seperti di brosur universitas.

Kota menyambut mereka dengan klakson.

Banyak sekali klakson.

Klakson motor, klakson mobil, klakson angkot, klakson bus, bahkan ada klakson yang bunyinya seperti ayam tersedak. Semua bercampur dengan suara penjual minuman, teriakan kernet, mesin kendaraan, dan langkah orang-orang yang berjalan cepat seakan semua sedang terlambat menghadiri sidang penting.

Naila duduk kaku di kursi belakang mobil sewaan, memeluk tas kecilnya di dada.

Matanya bergerak ke kiri dan kanan.

Gedung tinggi.

Lampu merah.

Jalan bercabang.

Orang menyeberang sembarangan.

Perempuan dengan pakaian beragam.

Laki-laki dan perempuan tertawa bersama di pinggir jalan.

Warung makan dengan tulisan besar-besar.

Kafe dengan kaca bening.

Toko roti yang baunya sampai masuk ke mobil.

Semua terasa terlalu banyak.

Di sebelah kanan, Hafizh juga diam. Bedanya, ia tidak memeluk tas. Ia memegang buku catatan kecilnya dengan ekspresi seperti jenderal yang sedang memasuki wilayah asing.

Sesekali ia mencatat sesuatu.

Naila melirik.

“Apa yang kamu tulis?” tanyanya pelan.

Hafizh menoleh. “Pengamatan awal.”

“Pengamatan awal?”

“Iya.”

“Tentang apa?”

Hafizh melihat ke luar jendela, lalu membaca catatannya. “Satu, tingkat kebisingan tinggi. Dua, jumlah kendaraan bermotor sangat padat. Tiga, penyeberangan jalan membutuhkan kewaspadaan ekstra. Empat, perlu memastikan restoran halal sebelum makan.”

Naila menatapnya.

“Lima,” lanjut Hafizh serius, “jangan percaya lampu sein motor.”

Naila hampir tertawa, tapi menahannya karena sopir di depan bisa mendengar.

“Kenapa?”

“Tadi motor menyalakan sein kiri, tapi belok kanan.”

Naila akhirnya tertawa kecil.

Hafizh menatapnya sebentar, lalu menunduk ke catatan lagi. Telinganya memerah sedikit.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan kecil di gang yang cukup tenang. Rumah itu bercat hijau muda, pagarnya pendek, halamannya sempit, dan di sampingnya ada pohon mangga yang lebih rindang daripada ukuran halamannya.

Pak sopir membantu menurunkan koper.

“Ini rumahnya, Mas, Mbak,” katanya. “Pak Yusuf yang punya kontrakan sudah titip kunci ke warung depan. Katanya beliau baru bisa datang sore.”

Hafizh mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

Naila turun perlahan, melihat rumah itu dengan campuran lega dan gugup.

Di sinilah mereka akan tinggal.

Satu kontrakan.

Tidak sekamar.

Tapi tetap satu atap.

Kalimat itu membuat wajah Naila panas sendiri, padahal tidak ada yang mengucapkannya.

Hafizh mengambil dua koper besar.

Naila otomatis ingin mengambil satu.

“Biar aku bawa,” kata Hafizh.

“Tidak apa-apa. Aku bisa.”

“Kopernya berat.”

“Punyamu juga berat.”

“Aku laki-laki.”

Naila menatapnya.

Hafizh langsung merasa kalimat itu mungkin terdengar seperti ceramah dadakan.

“Maksudku,” ia memperbaiki, “aku bertanggung jawab membantu barang berat.”

“Aku juga bertanggung jawab atas barangku sendiri.”

Mereka saling menatap.

Pak sopir berdiri di samping mobil, bingung apakah harus membantu atau pura-pura tidak mendengar.

Akhirnya Hafizh berkata, “Baik. Kita bagi.”

Ia mengambil koper besar dan kardus makanan. Naila mengambil koper sedang dan tas kain.

Baru tiga langkah, koper Naila tersangkut batu kecil di depan pagar.

Koper itu miring.

Naila ikut miring.

Hafizh refleks melepaskan kardus makanan, maju setengah langkah, lalu berhenti.

Ia ingat.

Mereka berada di gang.

Ada ibu warung melihat.

Ada sopir melihat.

Ada anak kecil melihat sambil makan es lilin.

Kalau ia memegang Naila terlalu cepat, nanti terlihat bagaimana?

Kalau tidak menolong, istrinya jatuh.

Dalam sepersekian detik itu, Hafizh melakukan perhitungan rumit yang tidak pernah keluar di ujian matematika.

Untungnya Naila berhasil menahan keseimbangan sendiri.

Ia berdiri tegak, lalu menoleh ke Hafizh.

Tatapannya tenang.

Terlalu tenang.

“Terima kasih atas pertimbangan maslahatnya,” kata Naila pelan.

Hafizh merasa seperti baru saja diberi nilai merah.

“Aku tadi—”

“Tidak apa-apa.”

Kalimat “tidak apa-apa” dari Naila terdengar sangat jelas berarti “apa-apa”.

Hafizh ingin menjelaskan, tapi ibu warung sudah memanggil.

“Kuncinya di sini, Nak!”

Mereka masuk ke rumah kontrakan itu beberapa menit kemudian.

Rumahnya sederhana tapi bersih. Ruang tamu kecil menyambung dengan ruang tengah. Ada tiga kamar. Kamar depan dekat jendela, kamar belakang dekat dapur, dan satu kamar kecil di tengah yang dikunci. Dapur sempit tapi cukup. Kamar mandi berada di belakang.

Hafizh meletakkan barang di ruang tengah, lalu membuka buku catatan.

“Kita perlu menentukan pembagian kamar.”

Naila masih kesal soal insiden koper, tapi tetap menjawab, “Bukannya sudah ditentukan? Aku kamar depan, kamu kamar belakang.”

“Iya. Tapi berdasarkan diskusi kemarin, perlu evaluasi denah.”

Naila menatap kamar depan, lalu kamar belakang.

“Kamar depan ada jendela ke jalan.”

“Itu kekurangannya,” kata Hafizh.

“Kamar belakang dekat dapur dan kamar mandi.”

“Itu kelebihannya.”

“Kamar belakang lebih panas.”

“Itu kekurangannya.”

“Kamu mau tukar?”

Hafizh tampak berpikir serius.

Naila menunggu.

Lalu Hafizh berkata, “Sebagai solusi sementara, kamu pilih kamar yang membuatmu paling nyaman.”

Naila melembut sedikit.

“Kalau begitu aku kamar depan. Lebih terang.”

“Baik.”

Hafizh mencatat.

Naila melirik buku itu lagi. “Semua hal harus dicatat?”

“Tidak semua.”

“Apa yang tidak dicatat?”

Hafizh terdiam.

Lalu membuka halaman lain.

“Sejauh ini belum ada.”

Naila menahan senyum.

Mereka mulai membereskan barang. Tidak banyak bicara. Sesekali Hafizh bertanya di mana meletakkan beras, minyak, dan obat-obatan. Naila menjawab pendek-pendek.

Ketika kardus makanan dibuka, mereka menemukan bekal dari kampung dalam jumlah yang cukup untuk memberi makan satu halaqah kecil: rendang kering, abon, sambal teri, keripik tempe, kacang bawang, kurma, madu, teh, beras, dan tiga toples kue.

Di atas semua itu ada selembar kertas dari Ummu Salma.

Tulisan tangan ibunya rapi.

Untuk Naila dan Hafizh. Makan yang teratur. Jangan boros. Jangan lupa saling mengingatkan. Fokus kuliah. Jangan punya anak dulu.

Naila membaca cepat, lalu langsung melipat kertas itu.

Terlambat.

Hafizh sudah membacanya juga.

Mereka berdiri diam di dapur.

Toples kue seolah ikut diam.

Hafizh berdeham. “Pesan yang konsisten.”

Naila memejamkan mata sebentar.

“Hafizh.”

“Iya?”

“Jangan komentari bagian itu setiap kali muncul.”

“Baik.”

Hafizh mencatat sesuatu.

Naila langsung curiga. “Kamu menulis apa?”

“Tidak mengomentari bagian itu setiap kali muncul.”

Naila mengambil toples keripik tempe dan berjalan ke rak dapur.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, ia merasa ingin melempar sesuatu. Tapi karena ia istri yang baru belajar sabar, ia memilih menyusun keripik berdasarkan ukuran toples.

Sore harinya, Pak Yusuf, pemilik kontrakan, datang. Ia lelaki paruh baya berkumis tipis, ramah, dan banyak bertanya.

“Kalian dari kampung yang sama, ya?”

Hafizh dan Naila menjawab hampir bersamaan, “Iya.”

“Saudara?”

Hafizh berhenti.

Naila juga.

Tidak mungkin bilang saudara.

Tidak mungkin bilang suami-istri.

Tidak mungkin diam terlalu lama.

“Kami…” Hafizh mulai.

“Teman sekampung,” potong Naila cepat.

Hafizh menoleh.

Naila tetap menatap Pak Yusuf dengan wajah sopan.

Pak Yusuf mengangguk. “Oh, teman sekampung. Sama-sama dapat beasiswa?”

“Iya, Pak,” jawab Naila.

“Bagus, bagus. Jarang anak muda dari kampung bisa tembus Universitas Madani Raya.” Pak Yusuf melihat sekeliling rumah. “Kalian sudah tahu aturan kontrakan? Tidak boleh ramai-ramai. Tidak boleh bawa teman menginap sembarangan. Jaga kebersihan. Kalau ada kerusakan, kabari. Dan…”

Ia memandang Hafizh, lalu Naila.

“Karena ini satu rumah, tetap jaga batas, ya. Biarpun teman sekampung.”

Wajah Hafizh langsung tegang.

Naila menunduk.

“Iya, Pak,” kata mereka bersamaan.

Pak Yusuf tampak puas. “Bagus. Anak-anak baik kelihatannya.”

Setelah Pak Yusuf pergi, suasana rumah menjadi sangat canggung.

Teman sekampung.

Itu status resmi mereka di kota.

Hafizh berdiri di ruang tengah, masih memegang kunci cadangan.

Naila duduk di kursi plastik, memainkan ujung kerudungnya.

Akhirnya Hafizh berkata, “Tadi jawabanmu cepat.”

“Karena kamu lama.”

“Aku sedang memilih diksi yang aman.”

“Kalau kamu terlalu lama, Pak Yusuf bisa curiga.”

“Benar.”

Hafizh mengangguk, lalu mencatat.

Naila menatapnya dengan mata menyipit. “Apa lagi?”

“Status sosial eksternal: teman sekampung.”

Naila menarik napas panjang.

“Jangan terlalu sering menyebutnya. Rasanya aneh.”

Hafizh menutup buku catatan pelan.

“Aneh karena tidak sesuai keadaan sebenarnya?”

Naila tidak langsung menjawab.

“Iya,” katanya akhirnya. “Tapi mau bagaimana lagi?”

Hafizh menunduk.

Ia ingin mengatakan sesuatu yang menenangkan, tetapi tidak menemukan kalimat yang pas.

Dalam pikirannya, ia menyusun beberapa opsi.

Ini hanya sementara.

Terlalu biasa.

Kesabaran adalah bagian dari ujian.

Terlalu seperti ceramah.

Aku tetap suamimu meskipun orang lain tidak tahu.

Terlalu langsung. Berbahaya bagi detak jantung.

Akhirnya yang keluar adalah, “Kita jalani sesuai rencana.”

Naila tersenyum tipis. Bukan senyum senang. Lebih seperti senyum menerima bahwa suaminya memang berbicara seperti surat edaran.

“Iya,” jawabnya. “Sesuai rencana.”

Malam pertama di kontrakan tidak seperti yang sering dibayangkan orang tentang pengantin baru.

Tidak ada dekorasi kamar.

Tidak ada makan malam romantis.

Tidak ada percakapan manis sampai larut.

Yang ada adalah Hafizh mengecek kunci pintu tiga kali, Naila mencuci gelas, lalu mereka duduk berhadapan di meja kecil ruang tengah untuk membahas jadwal.

“Besok orientasi jam tujuh,” kata Hafizh.

Naila membuka map. “Kita harus berangkat jam berapa?”

“Kalau berdasarkan jarak ke kampus dan kemungkinan macet, maksimal jam enam.”

“Subuh sekitar jam berapa?”

“Empat tiga puluh.”

“Berarti setelah Subuh langsung siap-siap.”

“Iya.”

Hafizh mencatat.

Naila memandang meja.

Ada dua gelas teh di sana. Teh buatan Naila. Satu untuknya, satu untuk Hafizh. Ia tadi membuatnya tanpa berpikir panjang, lalu baru sadar setelah meletakkan gelas di depan Hafizh.

Apakah membuatkan teh untuk suami itu terlalu terlihat seperti istri?

Tapi mereka di rumah.

Rumah ini ruang privat.

Tapi tetap saja, mereka masih canggung.

Hafizh mengangkat gelas, mencicipi sedikit.

Naila menunggu komentarnya.

“Manisnya pas,” kata Hafizh.

Naila mengangkat alis.

“Kamu yakin? Bukan proporsional?”

Hafizh berhenti.

Lalu tampak sadar bahwa ia sedang digoda.

“Pas,” ulangnya, sedikit malu. “Lebih manusiawi?”

Naila tertawa kecil.

“Iya. Lebih manusiawi.”

Malam itu mereka membuat aturan rumah.

Aturan pertama: kamar masing-masing adalah ruang pribadi.

Aturan kedua: pintu kamar tidak boleh sembarangan dibuka.

Aturan ketiga: ruang tengah, dapur, dan teras adalah area bersama.

Aturan keempat: jika ada tamu, keduanya menjaga jarak seperti teman sekampung.

Aturan kelima: jika ada masalah, dibicarakan, bukan dipendam.

Aturan keenam: jangan terlalu sering membahas nasihat “jangan punya anak dulu” karena dapat menyebabkan gangguan konsentrasi.

Aturan keenam itu usulan Naila.

Hafizh menerimanya dengan wajah serius.

Setelah semua selesai, mereka berdiri di depan pintu kamar masing-masing.

Kamar Naila di depan.

Kamar Hafizh di belakang.

Jaraknya hanya beberapa langkah.

Namun bagi mereka, jarak itu terasa penuh tanda tanya.

Naila memegang gagang pintu kamarnya. “Hafizh.”

“Iya?”

“Besok… di kampus, kita benar-benar harus seperti teman biasa?”

Hafizh diam sebentar.

“Iya.”

Naila mengangguk.

“Kalau aku bingung ruangan?”

“Kamu bisa bertanya.”

“Ke kamu?”

“Bisa.”

“Sebagai teman sekampung?”

Hafizh terdiam lagi.

Naila menyesal bertanya. Tapi pertanyaan itu sudah keluar.

Hafizh menatap lantai, lalu menjawab pelan, “Di depan orang, iya. Sebagai teman sekampung.”

Naila mengangguk pelan.

“Di luar depan orang?” tanyanya, hampir berbisik.

Hafizh mengangkat wajah.

Untuk beberapa detik, rumah kecil itu terasa sangat sunyi.

“Sebagai suamimu,” jawab Hafizh.

Naila langsung membuka pintu kamar.

“Baik. Selamat malam.”

Ia masuk cepat dan menutup pintu.

Tidak dibanting. Sangat sopan.

Tapi cukup cepat untuk menunjukkan bahwa wajahnya pasti sudah merah.

Hafizh berdiri beberapa saat di depan kamarnya sendiri.

Lalu ia menunduk, memegang dada.

Detak jantungnya tidak sesuai jadwal.

Pagi pertama orientasi dimulai dengan kekacauan kecil.

Naila bangun tepat waktu, tetapi setrika listrik dari kampung ternyata butuh adaptor karena colokannya longgar. Hafizh mencoba memperbaiki dengan selotip, lalu menyadari itu tidak aman. Akhirnya baju Naila tidak serapi yang ia inginkan.

Hafizh menawarkan bajunya.

Naila menatapnya.

“Maksudku,” Hafizh cepat menjelaskan, “baju luarku yang masih baru. Bukan bajuku yang sedang dipakai.”

“Aku pakai gamis, Hafizh.”

“Oh. Iya.”

Mereka sarapan dengan nasi, abon, dan telur dadar yang bentuknya lebih mirip peta wilayah tidak dikenal.

Naila yang memasak.

Hafizh yang memotong bawang.

Awalnya Hafizh bersikeras membantu. Setelah lima menit, matanya merah dan ia mengaku bahwa bawang adalah ujian yang lebih berat daripada soal integral.

Mereka berangkat pukul enam lewat sepuluh.

Hafizh terlihat gelisah karena terlambat sepuluh menit dari rencana. Naila terlihat gelisah karena harus berjalan berdampingan dengan Hafizh di gang.

“Jarak,” bisik Hafizh.

Naila langsung menjauh setengah langkah.

“Terlalu jauh,” bisik Hafizh lagi. “Nanti seperti bermusuhan.”

Naila mendekat sedikit.

“Terlalu dekat?”

“Tidak. Mungkin wajar.”

“Kamu yakin?”

“Tidak.”

Mereka berjalan dalam jarak yang menurut Hafizh “cukup sosial”, menurut Naila “aneh”, dan menurut ibu warung “anak muda zaman sekarang kaku sekali”.

Sesampainya di gerbang Universitas Madani Raya, keduanya berhenti.

Gerbang itu besar. Tinggi. Dengan nama universitas terpampang jelas. Mahasiswa baru berdatangan dari berbagai arah. Ada yang membawa koper, ada yang datang dengan orang tua, ada yang tertawa bersama teman, ada yang sibuk membuat konten video.

Naila mendongak.

Jantungnya berdebar.

Hafizh berdiri di sampingnya.

“Besar sekali,” kata Naila pelan.

“Iya.”

“Kamu gugup?”

“Iya.”

Naila menoleh, agak terkejut karena Hafizh menjawab jujur.

Hafizh menatap gerbang. “Tapi kita sudah sampai.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi Naila, cukup menenangkan.

Mereka berjalan ke aula orientasi. Di pintu masuk, panitia membagikan kartu peserta.

“Nama?” tanya seorang kakak tingkat perempuan.

“Hafizh Rahman.”

“Fakultas Teknik. Kelompok tujuh.” Kakak itu menyerahkan kartu. Lalu melihat ke Naila. “Kamu?”

“Naila Azzahra.”

“Fakultas Pendidikan. Kelompok tiga.”

Naila menerima kartu itu.

Kelompok berbeda.

Jadwal berbeda.

Ruangan berbeda.

Naila menatap kartu di tangannya.

Hafizh memperhatikan perubahan wajahnya.

“Kamu bisa?” tanyanya pelan.

Naila mengangkat dagu sedikit. “Bisa.”

Itu jawaban otomatis.

Hafizh mengenalnya cukup untuk tahu bahwa “bisa” kadang berarti “aku takut tapi tidak mau merepotkan”.

Ia ingin menemani Naila sampai ruangan kelompok tiga. Tapi panitia laki-laki sudah memanggil peserta kelompok tujuh.

“Kelompok tujuh, lewat sini!”

Hafizh bimbang.

Naila melihat itu.

“Pergilah,” katanya. “Nanti kamu terlambat.”

“Kalau ada apa-apa, kirim pesan.”

“Iya.”

“Kalau tersesat—”

“Aku kirim pesan.”

“Kalau ada yang mengganggu—”

“Hafizh.”

“Iya?”

“Aku mahasiswa baru, bukan anak kambing hilang.”

Hafizh terdiam.

Lalu mengangguk serius. “Baik.”

Naila hampir tertawa, tapi panitia sudah mengarahkannya ke sisi lain.

Mereka berpisah di aula.

Baru tiga menit kemudian, Hafizh menerima pesan.

Naila: Ruang 3B itu lantai berapa?

Hafizh berhenti di tengah koridor.

Ia melihat papan petunjuk.

Tidak ada ruang 3B.

Ada Gedung B.

Ada Lantai 3.

Ada Ruang B-3.

Kemungkinan kekacauan tinggi.

Ia mengetik cepat.

Hafizh: Kirim foto papan terdekat.

Naila mengirim foto buram.

Hafizh memperbesar.

Itu bukan papan ruangan.

Itu papan larangan merokok.

Hafizh memejamkan mata.

Hafizh: Tetap di tempat. Aku cari.

Ia baru berjalan dua langkah ketika seorang panitia menahannya.

“Mas, kelompok tujuh ke sana.”

“Sebentar, Kak. Teman saya tersesat.”

“Teman?”

Hafizh berhenti.

Teman.

Kata itu lagi.

“Iya,” jawabnya. “Teman sekampung.”

Panitia tersenyum. “Wah, kompak. Tapi nanti bisa dibantu panitia lain. Mas masuk dulu. Orientasi mau mulai.”

Hafizh ragu.

Lalu ponselnya berbunyi lagi.

Naila: Sudah ketemu. Tadi aku salah gedung. Ada kakak panitia yang bantu.

Hafizh lega.

Namun beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.

Naila: Namanya Dimas. Baik orangnya.

Hafizh menatap pesan itu.

Dimas.

Baik orangnya.

Ia tidak tahu kenapa dua kata itu membuat dahinya mengerut.

Apakah ini kekhawatiran biasa?

Atau tanggung jawab?

Atau karena Naila menyebut laki-laki lain baik?

Hafizh tidak sempat menganalisis karena panitia sudah menggiringnya ke kelompok tujuh.

Di aula kecil kelompok tujuh, Hafizh duduk di barisan tengah. Di sebelahnya, seorang mahasiswa berambut sedikit berantakan langsung menyapa.

“Bro, dari mana?”

Hafizh menoleh.

Anak itu tersenyum lebar, memakai hoodie abu-abu, dan tampak terlalu santai untuk acara resmi.

“Darussalam Bukit,” jawab Hafizh.

“Wah, jauh nggak?”

“Cukup jauh.”

“Nama gue Farhan.”

Hafizh berkedip.

Farhan?

Ia baru sadar. Ini Farhan anak tetangga yang kemarin ikut melepas mereka? Bukan. Wajahnya beda. Ternyata hanya namanya sama. Atau mungkin dunia memang menyediakan banyak Farhan untuk menguji ketenangan Hafizh.

“Hafizh,” katanya.

Farhan menjabat tangannya. “Lo anak beasiswa juga?”

“Iya.”

“Sama. Gue dari Bekasi. Tenang aja, kalau butuh info kota, tanya gue. Gue kelihatannya memang tidak dapat dipercaya, tapi sebenarnya lumayan.”

Hafizh tidak tahu harus menanggapi bagian mana.

“Terima kasih.”

Farhan menyipitkan mata. “Lo kaku banget, ya?”

Hafizh diam.

“Maaf,” kata Farhan cepat. “Bukan hinaan. Observasi.”

Hafizh teringat catatan pengamatan awalnya dan merasa mungkin mereka bisa berteman.

Sementara itu, di kelompok tiga, Naila duduk di antara mahasiswa perempuan yang belum ia kenal. Di sebelah kirinya ada seorang gadis berkacamata bulat yang sejak tadi tersenyum ramah.

“Hai. Aku Rara.”

“Naila.”

“Kamu dari mana?”

“Darussalam Bukit.”

“Wah, namanya bagus. Daerah mana?”

Naila menjelaskan singkat.

Rara mendengarkan dengan antusias, lalu berkata, “Aku dari Jakarta. Tapi tenang, aku juga sering tersesat di gedung kampus. Tadi aja aku masuk toilet dosen.”

Naila terkejut.

Rara tertawa. “Jangan tegang. Ini kampus gede, semua orang pernah salah.”

Naila tersenyum.

Rara menunjuk ke pintu. “Tadi kamu dibantu Kak Dimas, ya?”

Naila mengangguk.

“Itu senior terkenal. Aktif organisasi, pinter, ramah. Banyak yang naksir.”

“Oh,” kata Naila.

Rara menatapnya penuh arti. “Oh doang?”

Naila bingung. “Harus apa?”

“Biasanya minimal kagum sedikit.”

“Kenapa?”

Rara menatap Naila seperti menemukan spesies langka.

“Kamu menarik.”

Naila tidak yakin itu pujian atau hasil penelitian.

Orientasi dimulai.

Seorang dosen naik ke panggung, menjelaskan tentang budaya akademik, kedisiplinan, etika kampus, dan tanggung jawab penerima beasiswa. Kata-kata seperti “integritas”, “prestasi”, “komitmen studi”, dan “tidak mengambil tanggungan keluarga administratif selama masa beasiswa” muncul berkali-kali.

Naila mendengarkan dengan serius.

Secara aturan, ia dan Hafizh aman. Akad agama mereka belum menjadi status administratif. Tidak ada catatan kampus yang berubah. Tidak ada tanggungan keluarga yang didaftarkan. Mereka juga tidak tinggal sekamar dan tidak meminta fasilitas pasangan.

Tapi tetap saja, setiap kali kata “status” disebut, jantungnya berdetak lebih cepat.

Saat sesi istirahat, Rara mengajak Naila ke kantin.

“Kamu sudah makan?”

“Sudah tadi pagi.”

“Jam berapa?”

“Setelah Subuh.”

Rara melotot. “Itu bukan sarapan, itu sahur emosional. Ayo makan.”

Naila mengikuti Rara ke kantin. Di sana suasananya ramai sekali. Mahasiswa laki-laki dan perempuan duduk bercampur, tertawa, berdiskusi, makan dari piring yang sama, saling memanggil dengan nama pendek.

Naila berhenti sejenak.

Rara menyadari. “Kamu nggak nyaman?”

“Bukan. Hanya… belum biasa.”

“Oh.” Rara mengangguk santai. “Nanti juga biasa. Kamu mau makan apa?”

Naila melihat deretan menu.

Ayam geprek.

Mie ayam.

Bakso.

Nasi goreng.

Sate taichan.

Minuman boba.

Ia mencari tulisan halal, tapi tidak semua kios memasangnya.

Naila mengeluarkan ponsel.

Naila: Hafizh, kalau kantin kampus tidak ada tulisan halal di semua kios, sebaiknya makan apa?

Balasan datang cepat.

Hafizh: Pilih kios yang jelas bahan dan prosesnya. Hindari yang meragukan. Kalau ragu, beli roti kemasan atau makanan yang sudah ada label halal. Aku nanti survei kantin.

Naila membaca pesan itu.

Rara yang berdiri di sampingnya melirik tanpa sengaja.

“Siapa Hafizh?”

Naila hampir menjatuhkan ponsel.

“Teman sekampung.”

Rara tersenyum. “Cepat banget balasnya.”

“Dia memang… responsif.”

“Responsif?”

“Iya.”

Rara makin tersenyum. “Teman sekampung yang responsif.”

Naila memasukkan ponsel ke tas. “Aku mau beli roti saja.”

Di sisi lain kampus, Hafizh sedang makan nasi bungkus yang dibawa dari kontrakan. Farhan duduk di depannya, memegang ayam geprek level lima.

“Lo nggak beli makan kantin?” tanya Farhan.

“Masih observasi.”

“Observasi makanan?”

“Iya.”

Farhan mengangguk pelan. “Lo unik.”

Ponsel Hafizh berbunyi lagi.

Naila: Aku beli roti. Rara bilang aku seperti orang yang mau mendaki gunung karena bawa bekal sendiri.

Hafizh membalas.

Hafizh: Roti cukup untuk sementara. Nanti malam kita evaluasi makanan kampus.

Farhan menyipitkan mata melihat Hafizh mengetik dengan ekspresi serius.

“Cewek?”

Hafizh langsung meletakkan ponsel.

“Teman sekampung.”

Farhan tersenyum sangat lebar.

“Gue belum nanya statusnya.”

Hafizh diam.

Farhan menunjuk dengan sendok. “Wah. Menarik.”

“Tidak ada yang menarik.”

“Justru orang yang bilang tidak ada yang menarik biasanya paling menarik.”

Hafizh memutuskan untuk makan lebih cepat.

Selesai orientasi hari pertama, mahasiswa baru dikumpulkan di lapangan untuk foto kelompok. Matahari sore masih panas. Naila berdiri bersama kelompok tiga. Hafizh berdiri jauh di sisi kelompok tujuh.

Mereka saling melihat dari kejauhan.

Naila tampak lelah.

Hafizh juga.

Hafizh mengangkat ponsel sedikit, memberi isyarat agar Naila membaca pesan.

Naila membuka ponselnya.

Hafizh: Setelah acara selesai, tunggu di dekat gerbang samping. Kita pulang bersama. Jarak wajar.

Naila menatap pesan itu.

Jarak wajar.

Ia ingin tertawa sekaligus menghela napas.

Naila: Definisi jarak wajar?

Hafizh membalas setelah beberapa detik.

Hafizh: Tidak terlalu dekat hingga dicurigai, tidak terlalu jauh hingga terlihat bermusuhan.

Naila mengetik.

Naila: Itu bukan ukuran. Itu ceramah.

Hafizh membaca pesan itu dan tampak berpikir keras dari kejauhan.

Naila melihat wajahnya, lalu tertawa sendiri.

Rara yang berdiri di sampingnya langsung menangkap momen itu.

“Kamu senyum-senyum lihat siapa?”

Naila mematikan layar ponsel. “Tidak siapa-siapa.”

“Tidak siapa-siapa namanya Hafizh?”

Naila tersedak udara.

“Aku lihat tadi namanya,” kata Rara santai. “Tenang, aku nggak kepo. Aku cuma sangat tertarik.”

“Itu kepo.”

“Versi sopan.”

Naila tidak tahu harus menjawab apa.

Acara selesai menjelang Magrib. Mahasiswa berhamburan keluar lapangan. Naila menunggu di dekat gerbang samping seperti pesan Hafizh.

Beberapa menit kemudian, Hafizh datang dengan langkah cepat.

“Kamu menunggu lama?”

“Tidak.”

“Capek?”

“Sedikit.”

“Sudah minum?”

Naila menatapnya.

Hafizh langsung memperbaiki. “Maksudku, cuaca panas. Penting untuk hidrasi.”

“Aku sudah minum.”

“Baik.”

Mereka mulai berjalan pulang. Jarak di antara mereka kira-kira satu meter. Hafizh menganggap itu aman. Naila menganggap itu seperti dua orang yang sedang bertengkar diam-diam.

Setelah beberapa langkah, Naila berkata, “Hafizh.”

“Iya?”

“Kalau kita jalan sejauh ini, orang malah mengira kita tidak saling kenal.”

Hafizh memperpendek jarak setengah langkah.

“Begini?”

“Masih seperti panitia dan peserta.”

Hafizh mendekat sedikit lagi.

“Begini?”

Naila menatap ke depan, berusaha tidak tersenyum. “Lumayan.”

Dari belakang, suara Rara tiba-tiba muncul.

“Naila!”

Naila membeku.

Hafizh otomatis menjauh setengah langkah.

Rara berlari kecil menghampiri, membawa tote bag besar. Di sampingnya ada Farhan dari kelompok Hafizh, yang ternyata sudah akrab dengan Rara entah sejak kapan.

Farhan menunjuk Hafizh. “Lho, Zh, ini teman sekampung lo?”

Rara menunjuk Naila. “Ini Hafizh yang responsif itu?”

Naila dan Hafizh sama-sama diam.

Farhan melihat mereka bergantian.

Rara juga.

Lalu keduanya tersenyum dengan jenis senyum yang sama berbahayanya.

Hafizh berdeham. “Kami satu kampung.”

Naila menambahkan, “Kebetulan kontrakan kami dekat.”

Hafizh menoleh cepat.

Naila sadar kalimat itu bisa menimbulkan masalah.

“Bukan dekat,” koreksinya. “Maksudnya… daerahnya dekat.”

Farhan mengangkat alis. “Daerahnya dekat?”

Rara menyilangkan tangan. “Definisikan dekat.”

Hafizh mengambil alih dengan wajah sangat serius. “Masih dalam radius yang memungkinkan koordinasi keberangkatan kampus.”

Farhan menatap Rara.

Rara menatap Farhan.

Lalu Farhan berbisik, “Mereka cocok.”

Naila mendengar itu.

Hafizh juga.

“Kami teman sekampung,” kata Hafizh dan Naila bersamaan.

Justru karena bersamaan, kalimat itu terdengar makin tidak meyakinkan.

Rara tersenyum manis. “Iya, iya. Teman sekampung.”

Farhan menepuk bahu Hafizh. “Tenang. Gue paham.”

“Kamu tidak paham,” kata Hafizh cepat.

“Biasanya yang bilang begitu berarti gue paham.”

Hafizh terlihat ingin menjelaskan panjang, tapi Naila buru-buru berkata, “Kami harus pulang. Mau Magrib.”

Rara mengangguk. “Oke. Hati-hati, ya.”

Farhan melambai. “Besok ketemu, teman sekampung nasional.”

Hafizh dan Naila berjalan menjauh dalam diam.

Setelah cukup jauh, Naila berkata pelan, “Mereka curiga.”

“Iya.”

“Karena kamu terlalu kaku.”

Hafizh menoleh. “Aku?”

“Iya.”

“Kamu juga menjawab kontrakan dekat.”

Naila terdiam.

“Itu memang kesalahan.”

“Kita perlu menyusun jawaban standar,” kata Hafizh.

“Jangan terdengar seperti formulir.”

“Baik.”

Mereka sampai di kontrakan menjelang azan Magrib.

Begitu masuk, Naila langsung duduk di kursi ruang tengah dan melepas napas panjang. Hafizh meletakkan tasnya di samping meja.

Hari pertama belum selesai, tapi rasanya seperti mereka sudah menjalani satu semester.

Setelah salat Magrib bergantian, mereka makan malam sederhana: nasi, rendang kering dari kampung, dan timun. Tidak ada percakapan selama beberapa menit.

Akhirnya Naila berkata, “Aku dapat teman.”

Hafizh menoleh.

“Namanya Rara. Dia baik. Banyak bicara. Tapi baik.”

Hafizh mengangguk. “Aku juga. Namanya Farhan. Banyak bicara juga.”

“Mungkin teman kota memang banyak bicara.”

“Mungkin.”

Naila menyuap nasi, lalu berkata, “Rara curiga.”

“Farhan juga.”

“Kita harus lebih natural.”

Hafizh mengangguk serius. “Setuju.”

“Masalahnya, kamu kalau natural tetap kaku.”

Hafizh berhenti makan.

Naila baru sadar kalimatnya terlalu jujur.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.” Hafizh mengambil minum. “Itu masukan.”

Naila merasa bersalah. “Maksudku bukan jelek.”

“Aku tahu.”

“Cuma… kalau kamu terlalu formal, orang malah memperhatikan.”

“Lalu sebaiknya bagaimana?”

Naila terdiam.

Ia juga tidak tahu.

Kalau Hafizh terlalu jauh, ia sedih.

Kalau Hafizh terlalu dekat, rahasia mereka berisiko.

Kalau Hafizh terlalu formal, orang curiga.

Kalau Hafizh terlalu santai, Naila mungkin pingsan duluan karena tidak terbiasa.

“Aku juga tidak tahu,” jawabnya akhirnya.

Hafizh memandangnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Lalu Hafizh berkata, “Kalau begitu kita belajar lagi.”

Kalimat itu sama seperti kemarin di beranda rumah Naila.

Sederhana, tapi menenangkan.

Naila mengangguk.

“Iya. Kita belajar lagi.”

Setelah makan, mereka mencuci piring bersama. Hafizh mencuci, Naila membilas. Awalnya canggung, lalu perlahan terasa biasa. Air mengalir, piring berdenting, kipas angin ruang tengah berputar pelan.

Di tengah kegiatan itu, ponsel Naila berbunyi.

Pesan dari Rara.

Rara: Nai, kamu sudah sampai?
Rara: Sama Hafizh?
Rara: Eh maaf, maksudku sama teman sekampungmu yang responsif itu.
Rara: Btw kalian lucu. Kayak orang saling suka tapi habis ikut pelatihan anti-ekspresi.

Naila membaca pesan itu dan langsung menutup layar.

Hafizh melihat wajahnya berubah.

“Ada apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Pesan dari Rara?”

“Iya.”

“Apa katanya?”

Naila ragu. “Tidak penting.”

Hafizh mengeringkan piring dengan lap. “Kalau berkaitan dengan kecurigaan, mungkin penting untuk evaluasi.”

Naila menarik napas.

Lalu menunjukkan pesan itu.

Hafizh membaca.

Wajahnya tetap datar, tapi telinganya merah.

“Pelatihan anti-ekspresi,” ulangnya pelan.

Naila menahan tawa.

Hafizh mengembalikan ponsel. “Besok aku akan berusaha lebih natural.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku belum tahu.”

“Itu bukan rencana.”

“Akan aku rencanakan.”

Naila tertawa.

Kali ini Hafizh ikut tersenyum, sedikit lebih jelas dari biasanya.

Malam itu, setelah semua beres, mereka kembali berdiri di depan pintu kamar masing-masing.

Situasinya mirip malam sebelumnya, tapi tidak sama.

Kemarin mereka asing.

Hari ini mereka masih canggung, tapi sudah melewati satu hari bersama di kota yang asing.

Naila memegang gagang pintu.

“Hafizh.”

“Iya?”

“Tadi waktu aku tersesat, kamu mau nyusul?”

“Iya.”

“Tapi tidak jadi?”

“Panitia menahan.”

“Oh.”

Hafizh menatapnya. “Kalau panitia tidak menahan, aku akan datang.”

Naila menunduk.

Dadanya terasa hangat.

“Sebagai teman sekampung?” tanyanya pelan.

Hafizh diam sejenak.

Lalu menjawab, “Di depan panitia, iya.”

Naila mengangkat wajah.

Hafizh melanjutkan, lebih pelan, “Di niatku, bukan.”

Naila langsung kehilangan kemampuan menyusun kalimat.

Ia membuka pintu kamar terlalu cepat.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Pintu tertutup.

Hafizh berdiri beberapa detik, lalu masuk ke kamarnya sendiri.

Di dalam kamar, Naila duduk di tepi kasur, memegang pipinya yang panas.

Ia tidak tahu apakah kalimat Hafizh tadi termasuk romantis.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Tapi yang jelas, ia membuat Naila tersenyum sendirian seperti orang yang baru menemukan rahasia kecil.

Di kamar belakang, Hafizh membuka buku catatan. Ia menulis di halaman baru:

Evaluasi Hari Pertama Kampus:

  1. Kota ramai, tapi bisa dipelajari.

  2. Kantin perlu survei halal.

  3. Rara dan Farhan berpotensi curiga.

  4. Jawaban “teman sekampung” perlu dilatih agar natural.

  5. Naila tersesat tapi bisa mengatasi.

  6. Jika Naila berkata “tidak apa-apa”, perlu analisis konteks.

  7. Jarak berjalan belum final.

  8. Kalimat sederhana bisa membuat Naila tersenyum.

Hafizh berhenti di poin delapan.

Ia membacanya lagi.

Lalu menambahkan:

Catatan: perlu mempelajari cara membuat Naila tersenyum tanpa membahayakan rahasia.

Di kamar depan, Naila membalas pesan Rara.

Naila: Kami memang teman sekampung. Jangan berpikir macam-macam.

Balasan Rara datang cepat.

Rara: Aku belum bilang macam-macam. Kamu defensif sekali.

Naila menatap layar.

Lalu menjatuhkan diri ke bantal.

Di luar, kota masih bising. Motor lewat. Anjing menggonggong jauh. Seseorang tertawa dari rumah sebelah. Dunia baru mereka tidak sunyi seperti kampung.

Namun di dalam kontrakan kecil itu, ada dua kamar yang lampunya masih menyala.

Di satu kamar, Hafizh belajar menjadi lebih natural.

Di kamar lain, Naila belajar memahami kenapa kalimat “di niatku, bukan” bisa membuat seseorang susah tidur.

Mereka belum tahu bahwa keesokan harinya, Rara dan Farhan akan duduk satu meja di kantin, membahas teori paling berbahaya bagi ketenangan Hafizh dan Naila:

Bahwa dua “teman sekampung” itu jelas saling suka.

Dan karena mereka tidak tahu status sebenarnya, Rara dan Farhan akan memutuskan untuk membantu.

Dengan cara mereka sendiri.

Yang tentu saja akan membuat semuanya jauh lebih kacau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar