Jumat, 22 Mei 2026

Akad Rahasia di Kota Beasiswa Chapter 3 dari 10


 

Chapter 3

Cemburu yang Belum Punya Nama


Hari kedua kuliah, Hafizh menyadari bahwa hidup di kota bukan hanya soal menghafal rute, mencari makanan halal, atau menyesuaikan diri dengan suara klakson.

Ada satu hal yang jauh lebih sulit dari semua itu.

Menjadi natural.

Sejak Subuh, ia sudah memikirkan hal tersebut dengan serius.

Terlalu serius.

Di meja kecil ruang tengah, setelah salat dan membaca wirid, Hafizh membuka buku catatan. Naila keluar dari kamarnya sambil membawa mukena yang sudah dilipat rapi, lalu berhenti ketika melihat Hafizh menulis dengan wajah penuh tanggung jawab.

“Kamu mencatat apa pagi-pagi?”

Hafizh tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu kalimat dulu, memberi titik, lalu mengangkat wajah.

“Strategi bersikap natural.”

Naila menatapnya.

“Strategi?”

“Iya.”

“Untuk bersikap natural?”

“Benar.”

Naila meletakkan mukena di kursi. “Hafizh, orang natural biasanya tidak menyusun strategi.”

Hafizh terdiam.

Pena di tangannya berhenti bergerak.

“Itu masuk akal,” katanya pelan.

Naila menarik kursi dan duduk di seberangnya. Di atas meja sudah ada dua gelas air hangat. Satu di depan Hafizh, satu di tempat yang biasa ia duduki. Hal kecil seperti itu mulai terjadi tanpa mereka rencanakan.

Naila memperhatikan halaman catatan Hafizh.

“Boleh lihat?”

Hafizh ragu sebentar, lalu menggeser buku itu.

Di halaman tertulis:

Upaya Bersikap Natural di Kampus:

  1. Tidak terlalu sering menggunakan kata “maslahat”.

  2. Tidak menjawab semua pertanyaan seperti sedang sidang.

  3. Jika ditanya hubungan dengan Naila, jawab santai: “Kami teman dari kampung.”

  4. Jangan menoleh terlalu cepat saat nama Naila disebut.

  5. Jangan mencatat di depan orang saat situasi sosial berlangsung.

  6. Senyum secukupnya.

  7. Definisi senyum secukupnya masih perlu dikaji.

Naila membaca poin ketujuh dua kali.

Lalu tertawa.

Bukan tawa kecil yang malu-malu seperti biasanya. Kali ini ia benar-benar tertawa sampai harus menutup mulut dengan punggung tangan.

Hafizh menatapnya, awalnya bingung, lalu ikut tersenyum sedikit.

“Kenapa?”

“Definisi senyum secukupnya masih perlu dikaji,” ulang Naila, berusaha menahan tawa.

“Itu masalah nyata.”

“Tidak, itu masalahmu.”

“Berarti tetap nyata.”

Naila tertawa lagi.

Hafizh memandangnya diam-diam.

Pagi belum terlalu terang. Sinar matahari masuk lewat jendela depan, jatuh di sisi wajah Naila yang tertutup kerudung rumahan berwarna krem. Wajahnya masih polos tanpa riasan, matanya sedikit berair karena tertawa, dan untuk beberapa detik Hafizh lupa bahwa ia sedang memegang pena.

Ia baru sadar ketika ujung pena menekan kertas terlalu lama dan meninggalkan titik tinta yang membesar.

Naila berhenti tertawa ketika melihat Hafizh diam.

“Apa?”

Hafizh cepat menunduk. “Tidak apa-apa.”

Naila menyipit curiga. “Kalau kamu bilang tidak apa-apa, aku juga harus analisis konteks?”

Hafizh mengangkat wajah, tampak kaget.

Naila menunjuk buku catatannya. “Poin enam evaluasi hari pertama. Kalau Naila bilang tidak apa-apa, perlu analisis konteks.”

Hafizh tampak seperti seseorang yang ketahuan menyimpan rahasia negara di tempat terbuka.

“Itu catatan pribadi.”

“Kamu memberiku izin membaca.”

“Hanya halaman ini.”

“Catatanmu bocor sendiri.”

Hafizh menutup buku dengan hati-hati.

“Baik. Untuk ke depannya, akses dokumen akan dibatasi.”

Naila tersenyum, lalu mengambil gelas air hangat.

“Aku setuju.”

Mereka sarapan nasi hangat, telur dadar, dan sambal teri dari kampung. Setelah kemarin bentuk telur Naila dianggap menyerupai peta wilayah tidak dikenal, pagi ini Hafizh menawarkan diri memasak telur.

Hasilnya lebih bulat.

Tapi gosong di satu sisi.

Naila menatap piring.

Hafizh berkata sebelum ia komentar, “Secara bentuk meningkat.”

“Secara warna?”

“Perlu evaluasi.”

Naila tersenyum.

Makan pagi menjadi lebih ringan daripada kemarin. Masih ada jeda canggung, masih ada kalimat yang terlalu hati-hati, tetapi tidak lagi sebeku malam pertama.

Sampai ponsel Naila berbunyi.

Pesan dari Rara.

Rara: Nai, hari ini kamu duduk sama aku ya. Jangan sama teman sekampungmu terus. Nanti orang-orang makin curiga.
Rara: Eh tapi kalau mau sama dia juga tidak apa-apa. Aku mendukung cinta yang sehat.
Rara: Tapi kalian belum cinta ya? Atau sudah?
Rara: Aku belum kepo. Ini survei sosial.

Naila membaca pesan itu sambil menahan napas.

Hafizh memperhatikan.

“Rara?”

“Iya.”

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

Hafizh terdiam, lalu berkata, “Analisis konteks menunjukkan ada.”

Naila menatapnya.

Hafizh menatap balik dengan wajah datar, tetapi sudut bibirnya hampir tersenyum.

Naila akhirnya menunjukkan pesan itu.

Hafizh membacanya.

Ekspresinya langsung berubah serius, terutama pada bagian “mendukung cinta yang sehat”.

“Dia sangat cepat membuat kesimpulan.”

“Rara memang begitu.”

“Apakah kamu sudah menjelaskan?”

“Bahwa kita teman sekampung? Sudah.”

“Dia percaya?”

“Menurutmu?”

Hafizh membaca ulang pesan itu.

“Tidak.”

Naila menghela napas.

“Farhan bagaimana?”

Seolah dipanggil, ponsel Hafizh berbunyi.

Pesan dari Farhan.

Farhan: Bro. Hari ini jangan tegang banget kalau ketemu Naila.
Farhan: Cewek suka cowok yang chill.
Farhan: Tapi jangan terlalu chill juga nanti dikira tidak serius.
Farhan: Intinya seimbang.
Farhan: Gue sadar ini tidak membantu.

Hafizh menatap layar lama sekali.

Naila menunggu.

“Apa katanya?”

Hafizh menyerahkan ponsel.

Naila membaca, lalu tersenyum lebar.

“Farhan jujur.”

“Dia mengganggu.”

“Rara juga.”

Mereka saling memandang.

Lalu untuk pertama kalinya sejak tinggal di kontrakan itu, mereka tertawa bersama karena masalah yang sama.

Tawa itu berhenti ketika azan dari masjid dekat gang terdengar samar, disusul suara motor lewat dengan knalpot terlalu keras. Kota seperti mengingatkan mereka bahwa hari baru sudah dimulai.

Hafizh menutup buku catatan.

“Kita berangkat?”

Naila mengangguk.

“Iya.”

Mereka keluar dari kontrakan dengan jarak berjalan yang sudah direvisi.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Menurut Hafizh, jarak itu akhirnya cukup natural.

Menurut Naila, masih seperti dua orang yang habis bertengkar tapi sudah memutuskan berdamai.

Namun setidaknya ibu warung tidak lagi menatap mereka terlalu lama.

Di kampus, suasana jauh lebih ramai daripada hari orientasi. Mahasiswa lama sudah mulai berdatangan. Ada yang berlari mengejar kelas, ada yang duduk di tangga sambil minum kopi, ada yang memakai jaket organisasi, ada yang membawa poster kegiatan.

Naila berjalan lebih lambat ketika melewati halaman utama.

Di tengah lapangan, beberapa mahasiswa laki-laki dan perempuan sedang berlatih teater. Mereka tertawa keras. Salah satu laki-laki pura-pura berlutut sambil menyerahkan bunga plastik kepada seorang perempuan. Teman-temannya bersorak.

Naila langsung memalingkan wajah.

Hafizh ikut melihat, lalu segera menunduk.

Mereka berjalan beberapa langkah tanpa bicara.

Lalu Naila berbisik, “Itu latihan apa?”

“Sepertinya drama.”

“Kenapa harus berlutut?”

“Mungkin bagian dari naskah.”

“Orang-orang menonton.”

“Iya.”

“Mereka tidak malu?”

Hafizh berpikir sebentar.

“Mungkin tingkat malunya berbeda.”

Naila mengangguk serius, seperti baru mempelajari konsep sosial baru.

“Tingkat malu kota.”

Hafizh hampir tersenyum.

Di depan gedung fakultas, mereka harus berpisah. Jadwal Hafizh pagi itu adalah kelas pengantar kalkulus untuk mahasiswa teknik. Naila ada kelas dasar-dasar pendidikan di gedung berbeda.

Naila memegang strap tasnya.

“Aku ke gedung C.”

“Aku ke gedung E.”

“Jangan lupa makan siang.”

Hafizh terdiam.

Kalimat itu terdengar biasa. Sangat biasa. Orang bisa mengatakannya kepada teman, saudara, atau siapa pun.

Tapi karena yang mengatakannya Naila, dan karena pagi itu mereka berangkat dari rumah yang sama, Hafizh merasa kalimat itu memiliki berat yang berbeda.

Ia mengangguk.

“Kamu juga.”

“Kalau kantin meragukan, beli roti?”

“Iya. Tapi nanti aku sudah survei beberapa kios.”

Naila tersenyum kecil. “Baik, petugas survei halal.”

Hafizh ingin membalas sesuatu yang ringan. Sesuatu yang natural.

Ia mengingat poin catatan: tidak menjawab semua seperti sidang.

Maka ia berkata, “Siap.”

Naila menatapnya.

Hafizh tiba-tiba khawatir kata “siap” terlalu santai.

Tapi Naila tersenyum.

“Lumayan natural.”

Lalu ia berjalan pergi.

Hafizh berdiri beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Hafizh!”

Suara Farhan membuatnya tersadar.

Farhan muncul dari arah tangga sambil membawa kopi plastik.

“Lo melamun?”

“Tidak.”

“Lo melihat Naila pergi.”

“Itu observasi arah.”

Farhan berhenti berjalan.

“Bro, kalimat-kalimat lo tuh mahal banget.”

Hafizh menghela napas. “Kelasnya di mana?”

“Gedung E. Bareng. Tapi sebelum itu…” Farhan menyipitkan mata. “Ada perkembangan?”

“Perkembangan apa?”

“Hubungan lo sama Naila.”

“Kami teman sekampung.”

Farhan menatapnya lama.

Hafizh berusaha tersenyum secukupnya.

Farhan mundur setengah langkah.

“Kenapa senyum lo seperti petugas perpustakaan yang mencurigai peminjam buku?”

Hafizh langsung berhenti tersenyum.

Farhan tertawa.

“Santai, Fizh. Gue nggak maksa cerita. Tapi kelihatan banget lo peduli sama dia.”

Hafizh diam.

“Itu wajar,” lanjut Farhan. “Kalian dari kampung yang sama. Sama-sama baru di kota. Wajar saling jaga.”

Hafizh menatap Farhan.

Untuk pertama kalinya, Farhan mengatakan sesuatu yang tidak mengganggu.

Hafizh mengangguk pelan.

“Iya. Saling jaga.”

Farhan menepuk bahunya. “Nah. Itu lebih manusiawi.”

Di sisi lain kampus, Naila duduk di kelas bersama Rara. Ruangan itu besar, ber-AC, dengan papan tulis putih yang sangat lebar. Mahasiswa duduk bercampur, meski sebagian masih bergerombol dengan teman yang sudah dikenal.

Rara duduk di sebelah Naila, membuka laptop penuh stiker.

“Kamu tinggal di sekitar kampus?” tanya Rara.

“Iya.”

“Sama keluarga?”

Naila hampir menjawab tidak, lalu berhenti.

“Dengan… kenalan keluarga.”

Itu tidak sepenuhnya bohong. Hafizh memang kenalan keluarga. Sangat dikenali keluarga. Bahkan sudah menjadi keluarga, tapi bagian itu tidak perlu dijelaskan.

Rara mengangguk. “Aku kos. Ibu kosku galak tapi baik. Galaknya lima menit, baiknya kalau sudah dibayar.”

Naila tertawa kecil.

Tak lama kemudian dosen masuk. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan dengan suara tegas dan pembawaan hangat.

Kelas dimulai dengan perkenalan.

Satu per satu mahasiswa menyebut nama, asal daerah, dan alasan memilih jurusan pendidikan.

Ketika giliran Naila tiba, ia berdiri.

“Nama saya Naila Azzahra. Saya dari Kampung Darussalam Bukit. Saya memilih jurusan pendidikan karena ingin kembali mengajar dan membantu anak-anak di daerah saya mendapat akses belajar yang lebih baik.”

Ruangan hening sebentar.

Lalu dosen tersenyum.

“Jawaban yang bagus, Naila. Semoga niat itu terjaga.”

Naila duduk dengan wajah hangat.

Rara menyikut pelan. “Keren.”

Naila menunduk malu.

Setelah beberapa mahasiswa lain, seorang laki-laki berdiri di barisan depan.

“Nama saya Dimas Arya Pratama. Saya sebenarnya senior yang menjadi asisten pengantar kampus untuk kelas ini, bukan mahasiswa baru. Hari ini saya membantu Bu Lestari dalam sesi diskusi. Kalau nanti teman-teman butuh informasi akademik atau organisasi, bisa hubungi saya.”

Naila mengenali suara itu.

Dimas.

Senior yang kemarin membantunya mencari ruang.

Ia berdiri percaya diri, memakai kemeja biru muda, senyum ramah, dan bicara dengan lancar. Tidak berlebihan. Tidak bercanda terlalu banyak. Tidak canggung.

Rara langsung mencondongkan tubuh ke arah Naila.

“Itu Kak Dimas.”

Naila mengangguk.

“Yang kemarin bantu kamu.”

“Iya.”

“Dia keren, kan?”

Naila berpikir.

Dimas memang terlihat baik. Cara bicaranya rapi. Ia membantu tanpa membuat orang merasa bodoh. Kemarin saat Naila salah gedung, ia tidak tertawa. Ia hanya berkata, “Wajar, kampus ini memang seperti labirin.”

Jadi Naila menjawab jujur.

“Dia baik.”

Rara menatapnya penuh kemenangan, seolah kata “baik” adalah bukti sebuah kisah cinta baru saja dimulai.

Naila langsung menyadari bahaya.

“Maksudku baik sebagai senior.”

“Tenang, aku tidak bilang apa-apa.”

“Wajahmu bilang banyak.”

Rara nyengir.

Sesi kelas berlanjut. Bu Lestari membagi mahasiswa dalam kelompok kecil untuk diskusi tentang pengalaman belajar di daerah asal. Dimas berkeliling membantu setiap kelompok.

Ketika sampai di meja Naila dan Rara, ia berhenti.

“Naila, kan?”

Naila mengangguk. “Iya, Kak.”

“Kemarin sudah tidak tersesat lagi setelah itu?”

“Tidak, Kak. Terima kasih sudah membantu.”

“Sama-sama. Darussalam Bukit jauh dari sini?”

“Lumayan jauh. Di daerah bukit. Aksesnya belum terlalu mudah.”

Dimas terlihat tertarik. “Menarik. Kalau nanti ada tugas tentang pendidikan daerah, pengalamanmu bisa jadi perspektif penting.”

Naila mengangguk. “Insyaallah.”

Rara memperhatikan mereka seperti penonton drama episode pertama.

Dimas tersenyum. “Kalau butuh referensi atau peta gedung kampus, kabari saja. Aku kirim file-nya.”

Naila ragu.

Menerima bantuan senior tidak salah.

Tapi entah kenapa, ia langsung memikirkan Hafizh.

Bukan karena Hafizh melarang. Hafizh bahkan belum tahu. Tapi Naila merasa perlu hati-hati.

“Boleh, Kak. Mungkin kirim ke grup kelas saja?”

Dimas tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum lebih hormat.

“Boleh. Bagus juga, biar semua dapat.”

Rara di sampingnya pelan-pelan mengangkat ibu jari di bawah meja.

Naila menahan keinginan untuk menginjak kaki Rara.

Sementara itu, kelas kalkulus Hafizh berlangsung dengan cara yang berbeda.

Tidak ada diskusi hangat. Tidak ada perkenalan panjang. Dosen masuk, membuka materi, lalu langsung menulis simbol-simbol di papan.

Farhan yang tadi sangat santai mulai kehilangan warna wajah setelah dua puluh menit.

“Fizh,” bisiknya.

Hafizh menoleh sedikit.

“Lo paham?”

“Iya.”

“Gue tersesat.”

“Di bagian mana?”

“Sejak beliau bilang selamat pagi.”

Hafizh menahan senyum.

Setelah kelas selesai, beberapa mahasiswa berkumpul di depan papan, masih membahas soal. Seorang mahasiswi senior yang menjadi asisten praktikum masuk membawa tumpukan modul.

“Untuk mahasiswa baru teknik, yang ikut program penguatan akademik beasiswa, nanti sore ada sesi tambahan,” katanya. “Saya Safira, asisten untuk kelas ini.”

Hafizh mendongak.

Safira memakai jilbab abu-abu, kacamata tipis, dan berbicara dengan tenang. Ia membagikan modul satu per satu. Ketika sampai di meja Hafizh, ia berhenti sejenak.

“Kamu Hafizh Rahman?”

“Iya, Kak.”

“Kamu dari jalur beasiswa Darussalam?”

“Betul.”

“Aku baca nilai seleksimu bagus sekali di matematika. Nanti kalau bersedia, kamu bisa bantu kelompok belajar kecil. Banyak teman jalur beasiswa yang perlu penyesuaian.”

Hafizh agak terkejut.

“Saya masih mahasiswa baru, Kak.”

Safira tersenyum. “Justru karena masih baru, biasanya lebih mudah menjelaskan ke teman seangkatan. Tidak perlu sekarang. Pikirkan saja dulu.”

Farhan menoleh ke Hafizh dengan mata berbinar.

Setelah Safira pergi, Farhan berbisik, “Bro.”

“Apa?”

“Senior cantik mengakui kecerdasan lo.”

Hafizh menatap modul.

“Dia menawarkan tanggung jawab akademik.”

“Bahasa lo bisa membunuh gosip sebelum lahir.”

“Alhamdulillah.”

Farhan menepuk meja pelan.

“Lo serius nggak sadar?”

“Sadar apa?”

Farhan menunjuk pintu tempat Safira keluar. “Kak Safira itu salah satu senior yang terkenal. Pintar, kalem, banyak yang kagum. Dan dia tadi tahu nama lo.”

“Karena data nilai seleksi.”

“Betul. Dan itu tetap keren.”

Hafizh tidak menanggapi.

Namun dalam hati, ia memikirkan tawaran Safira. Membantu kelompok belajar terdengar bermanfaat. Tapi jadwalnya sore. Jika ia pulang terlambat, Naila sendirian di kontrakan. Ia harus membicarakannya.

Membicarakan.

Bukan mengatur sendiri.

Ia ingat pesan ibunya.

Jangan hanya mengatur. Tanya hatinya.

Saat istirahat siang, Hafizh dan Naila tidak langsung bertemu. Mereka sudah sepakat tidak terlalu sering terlihat berdua. Tapi kesepakatan itu ternyata lebih mudah dibuat daripada dijalani.

Naila duduk bersama Rara di kantin. Kali ini ia berani membeli nasi dari kios yang ada sertifikat halal tertempel di kaca. Rara bangga seperti baru melihat muridnya lulus ujian.

“Nah, gitu dong. Kamu harus coba hidup kota pelan-pelan.”

“Aku coba.”

“Pelan-pelan tapi jangan terlalu pelan. Nanti keburu lulus.”

Naila tersenyum.

Lalu ia melihat Hafizh masuk kantin bersama Farhan.

Hafizh juga melihatnya.

Keduanya berhenti sepersekian detik.

Lalu sama-sama berpura-pura tidak terlalu menyadari.

Hafizh memilih meja agak jauh bersama Farhan. Naila tetap duduk bersama Rara.

Jarak mereka cukup aman.

Tapi Naila merasa aneh.

Di rumah, mereka sarapan satu meja. Di kampus, mereka seperti kenalan biasa yang hanya kebetulan pernah satu daerah.

Naila mencoba makan.

Tapi matanya sesekali bergerak ke arah Hafizh.

Hafizh sedang membuka botol minum. Farhan bicara banyak sambil menggerakkan tangan. Hafizh mendengarkan dengan wajah datar.

Lalu Safira datang.

Ia berdiri di dekat meja Hafizh, membawa map.

Naila tidak tahu siapa perempuan itu.

Safira tampak berbicara kepada Hafizh. Hafizh mengangguk. Safira tersenyum. Hafizh menjawab sesuatu. Mereka terlihat membahas modul.

Biasa saja.

Sangat biasa.

Tidak ada yang salah.

Naila menyuap nasi.

Rasanya tiba-tiba lebih hambar.

Rara mengikuti arah pandangnya.

“Ooooh.”

Naila langsung menoleh. “Apa?”

“Itu Kak Safira.”

“Kak Safira?”

“Senior teknik. Pintar banget. Adem. Banyak yang suka.”

Naila menatap Rara.

“Kenapa kamu tahu semua orang yang banyak disukai?”

“Bakat sosial.”

Naila kembali melihat ke arah Hafizh.

Safira memberikan selembar kertas. Hafizh menerimanya dengan dua tangan, sopan. Lalu Safira pergi.

Biasa saja.

Sangat biasa.

Tetap saja Naila merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Rara mencondongkan tubuh.

“Kamu cemburu?”

Naila hampir tersedak.

“Tidak.”

“Cepat sekali jawabnya.”

“Karena tidak.”

“Aku baru tanya.”

“Aku juga baru jawab.”

Rara tersenyum tipis. “Oke. Tidak cemburu.”

Naila mengambil minum.

Ia tidak cemburu.

Tentu saja tidak.

Untuk apa cemburu?

Hafizh hanya bicara dengan senior. Hafizh pasti bicara soal akademik. Hafizh itu kalau bicara dengan perempuan pasti formal. Tidak mungkin macam-macam.

Tapi kenapa ia ingin tahu kertas apa yang diberikan Safira?

Kenapa ia ingin tahu apakah Hafizh tersenyum?

Kenapa ia ingin tahu apakah Hafizh mencatat nama Safira di buku catatan?

Naila meletakkan sendok.

Rara mengamati.

“Nasi kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Rara tersenyum makin lebar. “Wah. Ini tidak apa-apa yang perlu analisis konteks.”

Naila menatapnya tajam.

“Kamu kenapa bisa mirip Hafizh?”

“Berarti Hafizh juga tahu kalau kamu suka bilang tidak apa-apa padahal apa-apa?”

Naila diam.

Terlambat.

Rara menepuk meja pelan. “Aku dapat data baru.”

“Rara.”

“Aku diam.”

“Kamu tidak diam.”

“Aku akan diam setelah satu pertanyaan.”

“Tidak.”

“Dia perhatian banget ya?”

Naila ingin menyangkal.

Tapi di kepalanya muncul banyak hal sekaligus.

Hafizh yang bertanya apakah ia nyaman di mobil.

Hafizh yang membuat daftar kontak darurat.

Hafizh yang mencarikan kios halal.

Hafizh yang berkata, “Di niatku, bukan.”

Naila menunduk ke piring.

“Dia… memang begitu.”

Rara tidak menggoda kali ini. Suaranya melembut.

“Kamu kelihatan percaya sama dia.”

Naila diam.

Percaya.

Ya, mungkin itu kata yang tepat.

Ia percaya Hafizh. Tapi kepercayaan ternyata tidak membuat hatinya kebal dari rasa tidak nyaman ketika melihat perempuan lain tersenyum kepada Hafizh.

Rasa itu asing.

Naila tidak tahu harus menyebutnya apa.

Di meja lain, Hafizh mengalami hal serupa beberapa menit kemudian.

Ia sedang membaca selembar jadwal kelompok belajar yang diberikan Safira ketika Farhan menyikutnya.

“Fizh.”

“Apa?”

“Itu Naila ngobrol sama Kak Dimas.”

Hafizh mengangkat wajah.

Di sisi kantin, Dimas berdiri dekat meja Naila dan Rara. Ia tidak duduk. Ia hanya berbicara sebentar, tampak ramah. Naila mendengarkan, lalu mengangguk. Rara ikut tersenyum. Dimas kemudian menyerahkan sesuatu, mungkin brosur organisasi atau jadwal kegiatan.

Hafizh menatap.

Farhan melihat ekspresi Hafizh.

“Bro.”

Hafizh tetap menatap.

“Bro.”

“Apa?”

“Lo kelihatan seperti mau menghitung dosa seseorang.”

Hafizh langsung menunduk ke jadwal.

“Aku tidak.”

Farhan menyandarkan punggung. “Kak Dimas itu terkenal juga. Ketua bidang kaderisasi di organisasi pendidikan, sering jadi MC, anaknya rapi. Banyak yang suka.”

Hafizh merasakan sesuatu di dadanya.

Tidak sakit.

Tidak juga marah.

Lebih seperti ada benda kecil yang mengganjal.

“Dia senior Naila,” kata Hafizh.

“Iya.”

“Mungkin membahas kegiatan akademik.”

“Mungkin.”

“Itu wajar.”

“Wajar.”

Farhan menunggu.

Hafizh menatap nasi bungkusnya.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”

Farhan mengangkat kedua tangan. “Gue cuma menyaksikan proses manusia mengenali perasaannya.”

“Apa maksudnya?”

“Tidak apa-apa.”

Hafizh menatap Farhan.

Farhan tersenyum. “Analisis konteks sendiri.”

Hafizh memutuskan bahwa Farhan adalah ujian yang dikirim dalam bentuk teman.

Sore harinya, Hafizh dan Naila pulang tidak bersamaan.

Hafizh ada sesi pengenalan laboratorium. Naila ada tugas kelompok singkat. Mereka sepakat bertemu di kontrakan.

Namun hujan turun sebelum Magrib.

Bukan hujan besar, tapi cukup membuat jalan gang basah dan langit menjadi kelabu. Naila sampai lebih dulu, sedikit basah di ujung gamis. Ia masuk rumah, mengganti kerudung, lalu membuat teh hangat.

Satu gelas untuk dirinya.

Satu gelas untuk Hafizh.

Setelah meletakkan gelas kedua, ia berhenti.

Ia menatap gelas itu.

Kapan ia mulai otomatis membuatkan teh untuk Hafizh?

Naila menyentuh pipinya, lalu cepat-cepat mengambil buku tugas agar tidak memikirkan hal aneh.

Hafizh pulang dua puluh menit kemudian.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Ia masuk dengan bahu agak basah. Rambutnya terkena gerimis. Tasnya dipeluk di depan dada agar modul tidak basah.

Naila berdiri dari meja.

“Kamu kehujanan?”

“Sedikit.”

“Kenapa tidak berteduh?”

“Sudah hampir sampai.”

“Itu bukan jawaban.”

Hafizh berhenti melepas sepatu.

Naila juga berhenti.

Nada suaranya tadi seperti orang yang khawatir. Bahkan sedikit kesal.

Hafizh memandangnya.

Naila menyadari itu, lalu cepat-cepat berkata, “Maksudku, kalau sakit nanti susah kuliah.”

Hafizh mengangguk pelan.

“Iya. Maaf.”

Naila mengambil handuk kecil dari jemuran dalam rumah dan menyerahkannya.

Hafizh menerima.

“Terima kasih.”

Ia mengeringkan rambut dengan canggung.

Naila menunjuk meja. “Aku buat teh.”

Hafizh melihat dua gelas di sana.

“Untukku?”

“Tidak. Untuk tamu imajiner.”

Hafizh terdiam.

Naila baru sadar nada bicaranya agak tajam lagi.

“Maaf.”

Tapi Hafizh tiba-tiba tersenyum tipis.

“Berarti aku boleh minum jatah tamu imajiner?”

Naila menatapnya.

Lalu tertawa.

Ketegangan kecil itu mencair.

Mereka duduk di meja ruang tengah. Hujan rintik-rintik di luar, mengenai atap seng dapur dengan bunyi teratur. Kota menjadi sedikit lebih pelan ketika hujan.

Hafizh membuka tas dan mengeluarkan modul.

Naila melihat selembar kertas dari Safira.

“Itu apa?”

“Jadwal kelompok belajar tambahan.”

“Dari siapa?”

“Kak Safira. Senior teknik.”

Naila mengangguk.

Terlalu pelan.

Hafizh memperhatikan.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Hafizh langsung diam.

Analisis konteks.

Nada datar. Mata tidak melihat langsung. Tangan memutar gelas. Kemungkinan ada sesuatu.

Hafizh meletakkan kertas itu.

“Naila.”

“Iya?”

“Kamu keberatan kalau aku ikut kelompok belajar sore?”

Naila terkejut.

“Kenapa tanya aku?”

Hafizh tampak bingung dengan pertanyaannya.

“Karena jadwal sore membuatku pulang lebih lambat. Kamu di rumah sendiri. Kita juga perlu mengatur makan malam dan belanja. Jadi perlu ditanyakan.”

Naila menatapnya.

Rasa mengganjal di dadanya berubah bentuk.

Bukan hilang sepenuhnya, tapi melembut.

“Oh.”

“Kalau kamu tidak nyaman, aku bisa menyesuaikan.”

Naila cepat menggeleng.

“Tidak. Ikut saja. Itu bagus untuk kuliahmu.”

“Yakin?”

“Iya.”

Hafizh tidak langsung percaya.

“Tidak apa-apa yang sebenarnya tidak apa-apa?”

Naila menatapnya.

Lalu menghela napas.

“Kali ini iya.”

“Konteks mendukung?”

“Konteks mendukung.”

Hafizh mengangguk serius.

Naila menyeruput teh, lalu bertanya seolah santai, “Kak Safira itu baik?”

Hafizh menjawab tanpa berpikir panjang, “Iya. Dia pintar dan rapi menjelaskan.”

Sendok kecil di tangan Naila berhenti.

Hafizh baru menyadari sesuatu.

Farhan benar.

Kejujuran perlu hikmah.

Ia cepat menambahkan, “Maksudku dalam konteks akademik.”

Naila memandang teh.

“Iya. Aku juga maksudnya begitu.”

Suasana kembali canggung.

Hafizh merasa ia baru saja menginjak ranjau yang tidak terlihat.

Ia menatap Naila, lalu berkata pelan, “Aku belum paham apakah jawabanku tadi membuatmu tidak nyaman.”

Naila diam.

Hujan di luar semakin rapat.

Biasanya, Naila akan berkata tidak apa-apa. Tapi setelah dua hari tinggal bersama Hafizh, ia mulai sadar bahwa kalimat itu sering membuat semuanya makin sulit.

Jadi ia mencoba jujur.

“Aku juga belum paham,” katanya.

Hafizh menunggu.

Naila menatap gelasnya. “Tadi di kantin aku lihat kamu bicara dengan Kak Safira. Lalu Rara bilang dia terkenal, pintar, banyak yang suka. Aku tahu itu tidak ada masalah. Kamu juga pasti bicara soal kuliah. Tapi…”

Ia berhenti.

Wajahnya terasa panas.

“Tapi?” tanya Hafizh pelan.

“Aku merasa aneh.”

Hafizh diam.

Dadanya berdebar.

Bukan karena ia tersinggung, tapi karena Naila sedang membuka sesuatu yang lembut dan asing. Ia takut salah menanggapinya.

“Aneh bagaimana?”

Naila menggeleng kecil. “Tidak tahu. Seperti… ingin tahu kenapa dia bicara denganmu. Ingin tahu kertas apa yang dia kasih. Ingin tahu apakah kamu senang.”

Hafizh menatapnya.

Naila cepat menambahkan, “Aku tahu itu tidak logis.”

“Tidak,” kata Hafizh.

Naila mengangkat wajah.

Hafizh menunduk sedikit, tampak malu.

“Aku juga merasa begitu.”

“Kamu?”

“Tadi aku melihat Kak Dimas bicara denganmu.”

Naila berkedip.

“Dia cuma kasih info kegiatan jurusan.”

“Aku tahu.”

“Kamu cemburu?”

Kata itu keluar begitu saja.

Begitu keluar, Naila langsung menutup mulut.

Hafizh membeku.

Cemburu.

Kata itu akhirnya muncul di antara mereka, duduk di atas meja bersama dua gelas teh hangat dan suara hujan.

Hafizh tampak seperti sedang menimbang apakah boleh mengakui perasaan itu tanpa terlihat kekanak-kanakan.

“Aku…” Ia berhenti. “Belum memastikan istilahnya.”

Naila menatapnya.

Lalu perlahan tertawa.

“Hafizh.”

“Iya?”

“Perasaan bukan laporan praktikum. Tidak harus dipastikan istilahnya dulu.”

Hafizh menunduk, malu.

“Mungkin cemburu,” katanya akhirnya.

Naila terdiam.

Tidak ada yang bicara beberapa detik.

Lalu Naila berkata sangat pelan, “Aku juga mungkin.”

Hafizh mengangkat wajah.

Mereka saling menatap.

Kali ini tidak ada yang langsung membuang pandang.

Ada sesuatu yang baru di ruangan itu. Sesuatu yang lebih jujur daripada aturan rumah, lebih lembut daripada jadwal belanja, dan lebih menakutkan daripada pakta beasiswa.

Mereka sama-sama cemburu.

Dan bukannya membuat marah, pengakuan itu justru membuat keduanya sama-sama lega.

“Berarti,” kata Hafizh hati-hati, “kalau ada hal seperti itu, kita bicara?”

Naila mengangguk.

“Tapi jangan saling melarang tanpa alasan.”

“Iya.”

“Dan jangan menyimpulkan macam-macam.”

“Iya.”

“Dan kalau aku bertanya soal Kak Safira, bukan berarti aku menuduh.”

“Kalau aku bertanya soal Kak Dimas, juga begitu.”

Naila mengangguk lagi.

Lalu ia berkata, “Tapi kamu jangan bilang perempuan lain cantik secara objektif.”

Hafizh membuka mulut.

Menutupnya lagi.

“Baik.”

Naila menyipit. “Kamu mau bertanya kenapa?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Hafizh mencatat dalam kepala. Bukan di buku, karena poin kelima strategi natural melarang mencatat di depan orang saat situasi sosial berlangsung.

Malam itu, mereka makan mi rebus dengan telur karena hujan membuat mereka malas belanja. Hafizh memotong cabai terlalu banyak. Naila kepedasan tapi tidak mau mengaku. Hafizh menyadari setelah melihat matanya berair, lalu buru-buru mengambil air.

“Kamu kenapa tidak bilang?”

“Tidak apa-apa.”

Hafizh menatapnya.

Naila mengangkat gelas. “Kali ini benar-benar karena cabai.”

Hafizh hampir tertawa.

Setelah makan, mereka duduk di ruang tengah mengerjakan tugas masing-masing. Pintu depan tertutup. Jendela terbuka sedikit. Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah basah dan suara kendaraan dari jalan besar.

Naila membaca materi kuliah.

Hafizh mengerjakan soal kalkulus.

Sesekali, tanpa sadar, Naila melirik Hafizh.

Hafizh juga sesekali melirik Naila.

Setiap kali mata mereka hampir bertemu, keduanya kembali menunduk ke buku masing-masing.

Sangat tidak efisien.

Sangat tidak natural.

Tapi anehnya, menyenangkan.

Sekitar pukul sembilan, ponsel Naila berbunyi.

Pesan dari Rara.

Rara: Nai, besok ada bazar organisasi di kampus. Kamu ikut aku ya.
Rara: Kak Dimas juga jaga stan organisasi pendidikan.
Rara: Ini kesempatan bagus buat kenal senior.
Rara: Jangan bawa Hafizh. Nanti auranya jadi rapat keluarga.

Naila membacanya sambil tersenyum kecut.

Hafizh melihat.

“Rara?”

“Iya.”

“Apa katanya?”

Naila ragu sebentar, lalu menyerahkan ponsel.

Hafizh membaca.

Wajahnya datar.

Tapi Naila mulai mengenali tanda-tandanya. Kalau Hafizh diam sedikit lebih lama dari biasa, berarti ada sesuatu.

“Tidak apa-apa?” tanya Naila.

Hafizh mengangkat wajah.

Untuk sesaat, Naila merasa lucu karena sekarang giliran ia yang bertanya seperti itu.

Hafizh mengembalikan ponsel.

“Tidak apa-apa.”

Naila mengangkat alis.

Hafizh menghela napas kecil.

“Mungkin sedikit apa-apa.”

Naila tersenyum.

“Besok aku bisa pergi dengan Rara. Tapi kalau ada yang perlu aku ceritakan, aku cerita. Begitu?”

Hafizh menatapnya.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

“Dan kamu kalau kelompok belajar dengan Kak Safira, juga cerita.”

“Iya.”

“Bukan laporan lengkap.”

“Baik.”

“Cukup yang penting.”

Hafizh berhenti.

“Definisi penting?”

Naila menunjuknya dengan pena.

“Jangan mulai.”

Hafizh menutup mulut.

Mereka kembali belajar.

Namun belum sampai sepuluh menit, ponsel Hafizh berbunyi.

Pesan dari Farhan.

Farhan: Bro, besok bazar organisasi. Lo ikut gue.
Farhan: Ada stan robotik, debat, pecinta alam, dan mungkin stan pencarian jodoh terselubung.
Farhan: Tenang, gue akan bantu lo terlihat chill di depan Naila.
Farhan: Jangan berterima kasih. Ini misi kemanusiaan.

Hafizh memejamkan mata.

Naila melihat ekspresinya.

“Farhan?”

“Iya.”

“Apa katanya?”

Hafizh menunjukkan pesan itu.

Naila membaca sampai akhir, lalu tertawa.

“Stan pencarian jodoh terselubung?”

“Dia perlu pembinaan bahasa.”

“Dia lucu.”

Hafizh menatapnya.

Naila berhenti tertawa.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Naila menyipit.

Hafizh cepat memperbaiki, “Sedikit apa-apa. Tapi tidak perlu dibahas karena tidak logis.”

Naila menahan senyum.

“Kamu cemburu pada Farhan?”

“Tidak. Dia laki-laki.”

“Cemburu tidak harus karena itu. Bisa karena aku bilang dia lucu.”

Hafizh terdiam.

Naila menatapnya penuh kemenangan lembut.

Hafizh akhirnya berkata, “Mungkin perlu kajian lebih lanjut.”

Naila tertawa sampai harus menutup buku.

Malam itu, sebelum masuk kamar masing-masing, mereka berdiri lagi di tempat yang sama.

Di depan dua pintu kamar.

Kebiasaan baru yang belum disepakati tapi terus terjadi.

Naila memegang buku kuliahnya.

“Hafizh.”

“Iya?”

“Menurutmu cemburu itu buruk?”

Hafizh berpikir sebentar.

“Kalau membuat kita zalim, buruk. Kalau membuat kita menjaga dengan benar, mungkin bisa jadi tanda peduli.”

Naila mengangguk pelan.

“Kamu baca itu di buku?”

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

Hafizh menatapnya.

“Baru kupikirkan hari ini.”

Naila menunduk, tersenyum kecil.

“Jawabanmu lumayan.”

“Lumayan natural?”

“Lumayan romantis.”

Setelah mengatakan itu, Naila langsung masuk kamar.

Pintu tertutup.

Hafizh berdiri di luar dengan seluruh sistem pikirannya berhenti.

Romantis.

Naila baru saja mengatakan jawabannya romantis.

Ia masuk kamar belakang dengan langkah pelan, duduk di tepi kasur, lalu membuka buku catatan.

Ia menulis:

Temuan Penting:

  1. Naila mungkin cemburu pada Kak Safira.

  2. Aku mungkin cemburu pada Kak Dimas.

  3. Cemburu tidak harus langsung buruk.

  4. Jangan menyebut perempuan lain cantik secara objektif.

  5. Jawaban tentang cemburu dinilai “lumayan romantis”.

  6. Perlu memahami romantis tanpa bertanya terlalu jelas, karena bisa membuat suasana berbahaya.

Ia berhenti di poin enam.

Lalu menambahkan:

Catatan tambahan: ketika Naila tertawa, rumah terasa lebih tenang.

Di kamar depan, Naila duduk bersandar pada bantal, memeluk buku kuliah yang belum ia baca lagi sejak sepuluh menit lalu.

Ia tidak mengerti kenapa kata “cemburu” bisa membuatnya malu sekaligus senang.

Sebelum menikah, ia mengira cemburu adalah sesuatu yang besar, dramatis, dan buruk. Sesuatu yang muncul dalam kisah-kisah rumah tangga yang rumit.

Ternyata cemburu bisa muncul di kantin kampus, hanya karena seorang senior memberi jadwal kelompok belajar kepada Hafizh.

Ternyata cemburu bisa membuat nasi halal bersertifikat terasa hambar.

Ternyata cemburu bisa membuat seseorang ingin bertanya, tapi malu karena takut terdengar kekanak-kanakan.

Dan ternyata, ketika dibicarakan baik-baik, cemburu tidak selalu menjadi pertengkaran.

Kadang ia menjadi pintu kecil untuk saling mengenal.

Naila mengambil ponsel dan membuka chat Hafizh.

Mereka hanya terpisah beberapa meter, tapi entah kenapa mengirim pesan terasa lebih mudah daripada mengetuk pintu.

Ia mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya ia mengirim:

Naila: Besok kalau aku ke bazar dengan Rara, kamu jangan terlalu khawatir.

Di kamar belakang, Hafizh membaca pesan itu.

Ia membalas:

Hafizh: Baik. Kamu juga jangan terlalu khawatir kalau aku ikut Farhan.

Naila tersenyum.

Naila: Aku tidak khawatir pada Farhan. Aku khawatir dia mengajarimu hal aneh.

Hafizh menatap pesan itu, lalu membalas:

Hafizh: Kekhawatiran itu berdasar.

Naila tertawa pelan.

Beberapa detik kemudian, pesan Hafizh masuk lagi.

Hafizh: Naila.

Naila menunggu.

Hafizh: Kalau besok ada yang membuatmu tidak nyaman, kabari aku. Sebagai teman sekampung di depan orang. Sebagai suamimu di niatku.

Naila membaca kalimat itu beberapa kali.

Wajahnya kembali panas.

Ia ingin membalas dengan sesuatu yang biasa. Sesuatu yang tidak terlalu menunjukkan perasaannya.

Tapi setelah hari ini, ia ingin belajar jujur sedikit.

Maka ia mengetik:

Naila: Iya. Kamu juga begitu.

Lalu setelah berpikir panjang, ia menambahkan:

Naila: Dan Hafizh?

Hafizh: Iya?

Naila: Tadi jawabanmu memang romantis.

Di kamar belakang, Hafizh menatap layar ponsel.

Lama.

Sangat lama.

Lalu ia meletakkan ponsel di meja, berdiri, berjalan dua langkah, duduk lagi, membuka buku catatan, menutupnya, lalu mengambil ponsel kembali.

Ia ingin membalas dengan kalimat yang baik.

Tidak terlalu kaku.

Tidak terlalu berani.

Tidak terlalu formal.

Tidak terlalu membahayakan rahasia.

Setelah lima menit berpikir, ia mengetik:

Hafizh: Alhamdulillah.

Di kamar depan, Naila melihat balasan itu.

Ia menutup wajah dengan bantal.

“Hafizh…” gumamnya pelan, setengah gemas, setengah tertawa.

Suaminya baru saja menjawab pujian romantis dengan hamdalah.

Namun anehnya, itu sangat Hafizh.

Dan mungkin justru karena itu, Naila tersenyum sampai tertidur.

Keesokan paginya, bazar organisasi membuat kampus jauh lebih ramai daripada biasanya. Stan-stan berdiri di sepanjang koridor utama. Ada musik dari pengeras suara, poster warna-warni, mahasiswa membagikan brosur, dan kakak tingkat yang terlalu bersemangat mengajak mahasiswa baru bergabung.

Rara menarik tangan Naila dari satu stan ke stan lain.

“Ayo, lihat organisasi pendidikan dulu.”

Naila mengikuti, masih mencoba menyesuaikan diri dengan keramaian.

Di seberang koridor, Hafizh berjalan bersama Farhan yang membawa dua brosur robotik dan satu stiker entah dari mana.

“Zh, lo harus ikut minimal satu organisasi. Biar nggak kuliah-pulang-kuliah-pulang.”

“Kenapa itu buruk?”

“Karena nanti lo jadi legenda perpustakaan.”

“Itu terdengar baik.”

Farhan menepuk dahinya.

Di tengah keramaian, Hafizh melihat Naila.

Naila juga melihat Hafizh.

Mereka berhenti sepersekian detik.

Lalu mencoba bersikap normal.

Masalahnya, Rara dan Farhan melihat itu.

Dari dua arah berbeda, kedua teman baru itu saling bertatapan.

Rara menunjuk Naila dengan dagu.

Farhan menunjuk Hafizh dengan brosur.

Mereka tersenyum seperti dua orang yang baru menemukan proyek bersama.

Naila merasakan firasat buruk.

Hafizh juga.

Namun sebelum keduanya bisa menghindar, Dimas muncul di dekat stan organisasi pendidikan.

“Naila,” panggilnya ramah. “Kamu datang juga.”

Naila menoleh. “Iya, Kak. Dengan Rara.”

Dimas tersenyum. “Bagus. Aku baru mau jelaskan program relawan mengajar. Sepertinya cocok dengan minatmu.”

Di saat yang sama, dari sisi lain, Safira menghampiri Hafizh di dekat stan akademik teknik.

“Hafizh, kamu jadi ikut sesi penguatan sore ini?”

Hafizh menjawab sopan, “Insyaallah, Kak.”

Naila melihat Safira bicara dengan Hafizh.

Hafizh melihat Dimas bicara dengan Naila.

Rara melihat Naila melihat Hafizh.

Farhan melihat Hafizh melihat Naila.

Semua terjadi dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Dan dalam sepuluh detik itu, rasa aneh yang kemarin baru mereka beri nama mulai muncul lagi.

Bedanya, kali ini mereka berada di tengah keramaian kampus.

Tidak bisa bicara jujur.

Tidak bisa menjelaskan.

Tidak bisa saling menenangkan.

Mereka hanya bisa berdiri di posisi masing-masing, memainkan peran sebagai dua teman sekampung yang katanya biasa saja.

Lalu Rara, dengan niat yang menurutnya baik, berseru dari seberang koridor:

“Hafizh! Sini dong! Naila mau daftar organisasi, kamu dukung nggak?”

Semua orang di sekitar menoleh.

Naila membeku.

Hafizh juga.

Dimas menatap Naila.

Safira menatap Hafizh.

Farhan menutup wajah dengan brosur.

Rara baru sadar bahwa mungkin suaranya terlalu keras.

Di tengah keramaian bazar, status “teman sekampung” mereka tiba-tiba terasa jauh lebih sulit dipertahankan.

Dan Hafizh, yang semalam baru belajar bahwa cemburu bisa dibicarakan baik-baik, kini harus menjawab pertanyaan sederhana yang sama sekali tidak sederhana:

Apakah ia mendukung Naila?

Sebagai teman sekampung?

Atau sebagai suami yang belum boleh diketahui siapa pun?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar