Rabu, 08 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #9


## **CHAPTER 9


Latihan, Goyah, dan Hampir Menyerah**


Arga sekarang hidup dalam dua dunia yang sama-sama bikin capek.


Dunia nyata.

Dan dunia di kepalanya sendiri.


Dan dua-duanya lagi lomba bikin dia panik.


---


### **Latihan yang Terlalu Serius untuk Cowok Gampang Baper**


Latihan drama masuk minggu kedua.


Guru sudah mulai galak.


> “Kalian bukan baca puisi! Ini drama ROMANTIS!”


Arga berdiri berhadapan dengan Naya.


Jarak mereka… terlalu dekat untuk cowok yang hobi kabur.


> **Naya (naskah):**

> “Kenapa kamu selalu pergi?”


Arga tahu ini dialog.


Tapi nadanya…

terasa nyata.


Arga menjawab sesuai naskah, suaranya pelan:


> “Karena aku takut kehilangan.”


Guru mengangguk puas.


> “Nah! Itu! Rasain!”


Arga:


> *“BU. SAYA MERASAKAN KEBANYAKAN.”*


---


### **Komedi: Arga Overthinking Total**


Saat adegan duduk bersebelahan, lutut mereka bersentuhan.


Sedikit.

Sangat sedikit.


Tapi bagi Arga, itu **gempa bumi skala 9**.


Dalam kepala:


> *“Ini latihan. Ini akting. Jangan kebawa.”*


Komik imajiner muncul:

panel berbunga.

teks miring.

detak jantung.


Arga langsung berdiri.


> “Bu, izin minum!”


Guru melotot.


> “Kamu kenapa lagi?”


Arga jujur setengah:


> “Dehidrasi… perasaan.”


Seluruh aula:


> “…?”


---


### **Maya Menekan di Saat yang Tepat**


Di luar aula, Maya menunggu.


> “Kamu kelihatan cocok sama dia.”


Arga terkejut.


> “Hah?”


Maya menyilangkan tangan.


> “Makanya aku tanya lagi. Kamu mau apa?”


Arga bingung.


> “Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”


Maya mendekat.


> “Kadang, dengan diam, kamu nyakitin semua orang.”


Kalimat itu **kena**.


Maya menatapnya serius.


> “Kalau kamu takut sama Naya, bilang. Jangan pakai aku buat kabur.”


Arga menelan ludah.


> “Aku nggak pernah pakai kamu.”


Maya tersenyum tipis.


> “Belum.”


---


### **Naya Mulai Capek**


Hari-hari berikutnya, Naya berubah.


Masih latihan.

Masih profesional.

Tapi… dingin.


Saat Arga mencoba bercanda kecil:


> “Dialog kita kayak komik ya.”


Naya hanya mengangguk.


> “Fokus latihan aja.”


Arga merasa dadanya ditarik pelan.


---


### **Percakapan yang Hampir Jujur**


Suatu sore, setelah latihan, hujan turun.


Lagi.


Arga dan Naya berteduh di aula kosong.


Sunyi.


Akhirnya Arga bicara.


> “Kamu marah?”


Naya menggeleng.


> “Capek.”


Satu kata. Berat.


> “Aku nggak tahu posisiku apa,” lanjut Naya.

> “Teman? Lawan main? Atau cuma orang yang kamu hindari pelan-pelan?”


Arga membuka mulut…

lalu menutup lagi.


Naya tersenyum kecil, sedih.


> “Jawabanmu itu juga jawaban.”


---


### **Tragedi Kecil: Salah Paham Terbesar**


Besoknya, Arga melihat Maya keluar dari ruang musik…

bersama Naya.


Maya bicara.

Naya diam.


Dari jauh, Arga cuma melihat potongan adegan.


Dalam kepalanya, cerita langsung jadi:


> *“Maya bilang sesuatu. Naya capek. Naya pergi.”*


Arga tidak mendekat.


Dia memilih…

kabur.


---


### **Naya Mengambil Keputusan**


Di rumah, Naya duduk di tepi ranjang.


Ponselnya bergetar.


Pesan dari Arga tidak datang.


Dia menarik napas panjang.


> “Aku nggak mau jadi orang yang nunggu.”


Malam itu, Naya menulis pesan…

lalu menghapus.


Akhirnya, dia menutup ponsel.


---


### **Akhir Chapter: Menuju Klimaks**


Di kamar, Arga membuka komik.


Panel terakhir:


> *‘Jika kamu terus lari, kamu akan kehilangan tanpa pernah bertarung.’*


Arga menutup buku, tangannya gemetar.


> “Aku nggak mau kehilangan…”


Tapi di luar sana, waktu tidak menunggu cowok yang ragu.


Festival tinggal **beberapa hari lagi**.


Dan kesalahan Arga…

akan segera **meledak di panggung**.


---


**END OF CHAPTER 9**



Selasa, 07 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #8

 **CHAPTER 8


Saat Dunia Memaksa Mendekat**


Arga percaya satu hal:


Kalau dia cukup sering kabur,

mungkin dunia akan capek ngejar.


Ternyata dunia itu **bandel**.


---


### **Pengumuman yang Menghancurkan Strategi Kabur**


Jam terakhir, guru Seni Budaya masuk dengan wajah terlalu semangat.


> “Anak-anak, untuk festival sekolah, kita akan menampilkan **drama**.”


Kelas langsung ribut.


> “YES!”

>

> “Aduh, malu!”

>

> “Bu, boleh jadi pohon aja nggak?”


Guru tersenyum kejam.


> “Pemeran utama sudah ibu tentukan.”


Arga langsung nunduk.


> “Arga Pradana.”


Kepalanya terangkat pelan.


> “Saya, Bu?”


> “Dan… Naya.”


Sunyi.


Sunyi yang **tidak sehat**.


Rani menunduk.

Maya menatap ke depan, rahangnya mengeras.

Naya menoleh ke Arga… sebentar saja.


Arga membeku.


Dalam kepala:


> *“INI KONFLIK BESAR. INI BAB SEBELUM ENDING.”*


---


### **Reaksi yang Tidak Sinkron**


Saat bel berbunyi, Arga langsung berdiri.


Rencananya: **kabur sebelum realita nyusul**.


Tapi Naya berdiri di hadapannya.


> “Arga.”


Suaranya tenang. Terlalu tenang.


> “Kita harus latihan.”


Arga mengangguk cepat.


> “Iya. Tapi… nanti aja.”


Naya menatapnya lama.


> “Kamu selalu bilang ‘nanti’.”


Kalimat itu pelan, tapi berat.


Arga tidak sanggup membalas.


Dia pergi.


---


### **Maya Tidak Tinggal Diam**


Di lorong, Maya menyusul Arga.


Langkahnya cepat.


> “Kamu nggak bisa terus menghindar.”


Arga berhenti.


> “Aku nggak minta dipilih.”


Maya mendekat.


> “Tapi kamu juga nggak menolak.”


Arga terdiam.


Maya menarik napas.


> “Kalau kamu nggak mau Naya, bilang. Jangan gantung.”


Arga menatap lantai.


> “Aku… belum berani.”


Maya tersenyum miring.


> “Atau kamu cuma berani kalau aman?”


Kalimat itu **menampar**.


---


### **Latihan Drama Pertama (yang Aneh Banget)**


Latihan di aula.


Arga berdiri kaku.

Naya berdiri dua langkah di depannya.


Guru memberi naskah.


> “Adegan pertama, kalian bertemu dan saling menatap.”


Arga menelan ludah.


> “Tatapannya jangan kosong. Ini drama romantis.”


Arga menatap Naya.


Naya menatap balik.


Dan untuk pertama kalinya…

Arga **tidak kabur**.


Dadanya sesak.

Tangannya dingin.


Dalam kepala:


> *“Ini nyata. Ini bukan panel komik.”*


Guru bertepuk tangan.


> “Bagus. Teruskan.”


Arga ingin pingsan.


---


### **Komedi: Arga Salah Fokus**


Saat adegan dialog:


> **Naya (sesuai naskah):**

> “Aku menunggumu.”


Arga blank.


Dia spontan menjawab:


> “Aku… takut.”


Guru terdiam.


> “Itu bukan di naskah.”


Seluruh aula hening.


Arga panik.


> “Ma—maksud saya…”


Naya meliriknya.

Pelan, hampir tidak terdengar:


> “Jujur juga nggak apa-apa.”


Arga menatapnya.


Dan **itu** lebih berbahaya dari dialog romantis mana pun.


---


### **Jarak yang Dipaksa Menyempit**


Latihan selesai.


Arga duduk di tangga aula, capek mental.


Naya duduk di sampingnya, menjaga jarak satu orang.


> “Aku nggak akan ngejar kamu,” kata Naya pelan.

> “Tapi aku juga nggak mau pura-pura.”


Arga menggenggam tasnya.


> “Aku takut ngulang kesalahan.”


Naya mengangguk.


> “Aku juga takut. Tapi aku tetap datang.”


Sunyi.


Hangat.


Arga ingin bilang sesuatu…

tapi kata-katanya macet.


---


### **Akhir Chapter: Tidak Ada Jalan Mundur**


Di rumah, Arga membuka komik.


Panel terakhir bab itu:


> *‘Kadang, cerita memaksa kita sampai ke halaman berikutnya.’*


Arga menutup buku.


> “Aku dipaksa maju.”


Di sekolah, drama sudah berjalan.


Dan Arga tahu satu hal pasti:


**Kabur kali ini akan lebih sakit daripada tinggal.**


---


**END OF CHAPTER 8**



Senin, 06 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #7


## **CHAPTER 7


Cemburu yang Tidak Diakui**


Arga bangun pagi dengan satu perasaan aneh.


Bukan takut.

Bukan nyaman.

Tapi **tidak enak**.


Perasaan yang muncul saat kamu bilang “nggak apa-apa”, padahal jelas **apa-apa**.


---


### **Naya yang Berubah (Pelan Tapi Terasa)**


Di kelas, Arga langsung mencari satu sosok.


Bangku dekat jendela masih diisi Naya.


Tapi…


Dia tidak menoleh.

Tidak menyapa.

Tidak senyum kecil.


Bukan dingin.

Lebih tepatnya: **berjarak**.


Arga duduk, gelisah.


Dalam kepala:


> *“Aku salah apa?”*


Padahal dia tahu jawabannya.


---


### **Maya Masuk, Tanpa Rem**


Saat jam kosong, Maya menghampiri Arga.


Langsung duduk di mejanya.


> “Kamu kabur lagi kemarin.”


Nada suaranya bukan marah.

Lebih ke observasi.


Arga menggaruk kepala.


> “Aku pusing.”


Maya mencondongkan badan sedikit.


> “Aku bisa bikin kamu nggak pusing.”


Arga hampir jatuh dari kursi.


> “Maya…”


Maya tersenyum.


> “Aku serius. Aku jelas. Kamu nggak perlu nebak-nebak.”


Dan itu…


**menggoda**.


---


### **Rani Memilih Mundur**


Di koridor, Rani menyapa Arga untuk terakhir kalinya.


> “Arga.”


Arga menoleh.


> “Iya?”


Rani tersenyum tipis, tapi matanya capek.


> “Aku nggak mau jadi salah paham terus.”


Arga ingin bilang sesuatu…

tapi tidak ada kalimat yang cukup.


Rani menepuk lengannya.


> “Semoga kamu bahagia.”


Dan pergi.


Arga berdiri lama.


> *“Aku selalu kehilangan orang… karena aku diam.”*


---


### **Cemburu Datang Tanpa Undangan**


Sore itu, Arga melihat pemandangan yang bikin dadanya aneh.


Naya berdiri di depan kelas…

bersama cowok lain.


Mereka ngobrol.


Tertawa kecil.


Arga berhenti jalan.


Dalam kepala:


> *“Siapa dia?”*


Hatinya terasa sempit.


Lalu otaknya cepat-cepat menyela:


> *“Bukan urusanmu.”*


Tapi perasaan tidak mau dengar.


Arga berbalik arah.


Kabur.


---


### **Flashback Konyol yang Menampar**


Flashback muncul.


Sekolah lama.

Dia melihat cewek yang dia suka tertawa dengan cowok lain.


Dia diam.

Menunggu.

Kabur.


Ending-nya?

Dia ditinggal tanpa pernah tahu kenapa.


Arga memejamkan mata.


> “Aku ngulang lagi.”


---


### **Pesan yang Tidak Dibalas**


Malam itu, Arga membuka chat.


Pesan Naya kemarin masih ada.


Arga mengetik:


> *“Kamu kenapa?”*


Lalu menghapus.


Dia mengetik lagi:


> *“Maaf kalau aku bikin kamu…”*


Menghapus lagi.


Akhirnya, tidak terkirim apa pun.


Di sisi lain, Naya menatap layar juga.


Lama.


Lalu menaruh ponsel.


> “Kalau dia mau, dia akan bicara.”


---


### **Akhir Chapter: Semua Menunggu**


Arga duduk di kamar.


Komik terbuka di halaman terakhir.


Balon dialog:


> *‘Kadang, yang paling menakutkan bukan ditolak… tapi mencoba.’*


Arga menutup buku.


> “Aku takut dua-duanya.”


Dan di sekolah, jarak antara Arga dan Naya tidak jauh…


Tapi terasa **panjang sekali**.


---


**END OF CHAPTER 7**



Minggu, 05 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #6

CHAPTER 6


Saat Nyaman Jadi Masalah Baru**


Arga melakukan satu kesalahan fatal.


Dia pikir setelah rahasianya terbongkar ke Naya, hidupnya akan **lebih tenang**.


Ternyata tidak.


Hidupnya jadi **lebih ribet**, tapi dengan perasaan hangat yang mencurigakan.


---


### **Efek Samping: Arga Jadi Lebih Sering Senyum**


Pagi itu, Arga masuk kelas sambil…

**senyum tipis**.


Bukan senyum lebar.

Bukan senyum bahagia.

Senyum kecil yang biasanya cuma muncul di panel terakhir komik.


Rani memperhatikan.


> “Kamu kelihatan beda,” katanya pelan.


Arga tersentak.


> “Hah? Beda gimana?”


Rani mengangkat bahu.


> “Lebih… ringan.”


Arga panik.


> *“KELIHATAN? INI BAHAYA.”*


---


### **Maya Mulai Bermain Terang-terangan**


Saat istirahat, Maya mendekati Arga di koridor.


Tanpa basa-basi.


> “Arga.”


Arga berhenti jalan.


> “Iya?”


Maya menatapnya lurus.


> “Aku suka kamu.”


Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Tidak ada efek slow motion.


Justru itu yang bikin Arga **lemas**.


> “Aku nggak suka muter-muter,” lanjut Maya.

> “Dan aku nggak suka kalah.”


Arga menelan ludah.


> “Maya… aku—”


> “Tenang,” potong Maya.

> “Aku nggak minta jawaban sekarang.”


Dia melangkah mendekat setengah langkah.


> “Aku cuma mau kamu jujur sama dirimu sendiri.”


Lalu pergi.


Arga berdiri membeku.


Dalam kepala:


> *“INI BUKAN ADEGAN KOMIK. INI ADEGAN BOSS FIGHT.”*


---


### **Rani dan Kejujuran yang Terlambat**


Sore hari, Rani menyusul Arga ke taman sekolah.


Nada suaranya lebih pelan dari biasanya.


> “Arga… aku mau nanya.”


Arga berhenti.


> “Iya?”


Rani memainkan ujung tasnya.


> “Kamu pernah suka aku?”


Pertanyaan sederhana.

Efeknya seperti ujian hidup.


Arga jujur.


> “Pernah… mikir.”


Rani tersenyum tipis.


> “Aku juga.”


Sunyi.


Rani menghela napas.


> “Tapi kamu selalu kabur. Jadi aku kira… kamu main-main.”


Arga cepat menggeleng.


> “Aku bukan main-main. Aku cuma takut.”


Rani tertawa kecil, pahit.


> “Aku kalah sama ketakutanmu sendiri, ya?”


Kalimat itu **menancap**.


---


### **Arga Kalah oleh Kepalanya Sendiri**


Malam itu, Arga duduk di kamar, komik terbuka.


Adegan di komik:

cowok ragu.

cewek menunggu.


Arga menutup buku dengan kasar.


> “KENAPA SEMUA MIRIP.”


Flashback menyerbu:


* Salah tafsir

* Ditertawakan

* Ditinggal


Arga memeluk lutut.


> “Aku nggak siap…”


Tapi wajah Naya muncul di pikirannya.

Tenang.

Tidak memaksa.


Dan itu justru bikin goyah.


---


### **Komedi Salah Paham Level Sekolah**


Keesokan harinya, gosip meledak.


> “Katanya Arga ditolak Rani.”

>

> “Nggak, dia ditembak Maya.”

>

> “Fix playboy halus.”


Arga mendengar semuanya…

dan memilih solusi terbaik versi dia:


> **KABUR.**


Dia pura-pura sakit.

Izin pulang lebih awal.


Di gerbang sekolah, Naya melihat Arga pergi.


Dia tidak mengejar.


Tapi sore itu, dia mengirim pesan pertama kalinya.


> **Naya:**

> *“Kalau kamu lari terus, capek juga, ya?”*


Arga menatap layar lama.


Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.


> **Arga:**

> *“Iya.”*


Balasan Naya cepat.


> **Naya:**

> *“Aku di sini. Tapi aku nggak akan maksa.”*


Dan entah kenapa…

itu lebih menenangkan daripada janji apa pun.


---


### **Akhir Chapter: Goyah**


Arga berbaring di kasur.


Komik di sampingnya tertutup.


> “Aku pengen berani…”

>

> “Tapi aku belum bisa.”


Di sekolah, tiga cewek memikirkan Arga dengan cara berbeda.


Dan Arga?


Dia berdiri tepat di tengah:

antara trauma,

antara nyaman,

antara **lari atau tinggal**.


---


**END OF CHAPTER 6**



Sabtu, 04 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #5

 *CHAPTER 5

Rahasia yang Tidak Ditertawakan**

Naya sebenarnya bukan tipe orang yang mudah kepikiran.

Kalau ada yang menghilang dari hidupnya, biasanya dia cuma mikir:

“Oh. Ya udah.”

Tapi entah kenapa…
Arga beda.


Sudut Pandang Naya: Cowok Aneh tapi Tidak Jahat

Naya duduk di bangku dekat jendela, menatap halaman sekolah.

Arga tidak kelihatan lagi.

Dia mengingat kejadian-kejadian kecil:

  • Cara Arga mengembalikan penghapus dengan dua tangan.

  • Cara dia panik tiap kali jarak terlalu dekat.

  • Cara dia kabur, bukan menghindar dengan dingin.

Dalam hati, Naya bergumam:

“Dia bukan nggak peduli… dia kayak takut.”

Temannya menyenggol.

“Kamu kepikiran Arga, ya?”

Naya menggeleng.

“Nggak.”

Lalu nambah pelan:

“…mungkin dikit.”


Takdir Bernama Perpustakaan (Lagi)

Siang itu, Naya ke perpustakaan.

Dan tentu saja…

Arga ada di sana.

Duduk di pojok.
Kepala agak menunduk.
Tas terbuka sedikit.

Naya melihat map cokelat itu.

Dia ragu.
Lalu mendekat.

“Arga.”

Arga kaget, hampir menjatuhkan bukunya.

“Eh—Naya.”

Sunyi sebentar.

Naya duduk.

“Kamu sering ke sini.”

Arga mengangguk.

“Tempat aman.”

Naya tersenyum kecil.

“Dari apa?”

Arga terdiam.

Jawaban jujurnya terlalu panjang.
Jawaban bohongnya terasa salah.

“Dari… ribut.”

Naya mengangguk, tidak mengejar.


Momen Nyaman yang Berbahaya

Mereka duduk berdampingan, masing-masing membaca.

Tidak bicara.

Dan itu… nyaman.

Arga sadar hal itu, lalu langsung panik.

Dalam kepala:

“STOP NYAMAN. NYAMAN ITU AWAL.”

Saat Arga hendak menutup tas, map cokelat itu jatuh.

Kali ini, tidak bisa diselamatkan.

Komik romantis meluncur keluar.

Judulnya terbaca jelas.

Hening.

Arga mematung.

Wajahnya merah.

“Aku bisa jelasin.”

Naya mengambil komik itu, membaca judulnya pelan.

“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk…”

Arga menutup wajah.

“Tolong jangan ketawa.”


Reaksi yang Tidak Sesuai Ekspektasi Arga

Naya tidak tertawa.

Dia duduk kembali, membuka komik itu sebentar.

“Ini yang scene hujannya bagus, ya?”

Arga mengintip dari balik jarinya.

“Kamu… tahu?”

Naya mengangguk.

“Aku suka komik ginian juga.”

Arga terdiam.

Skenario terburuk di kepalanya:
diejek.
dipermalukan.
dijadikan bahan gosip.

Yang terjadi:
diterima.

Naya mengembalikan komik itu.

“Nggak ada yang salah.”

Arga menelan ludah.

“Cowok suka ginian… nggak aneh?”

Naya menggeleng.

“Aneh itu kalau pura-pura.”

Kalimat itu nempel.


Arga Tanpa Sadar Membuka Sedikit Luka

Arga tertawa kecil, canggung.

“Aku sering kabur… karena komik-komik ini bikin aku gampang kebawa perasaan.”

Naya menatapnya.

“Dan kamu takut?”

Arga mengangguk.

“Aku pernah sakit.”

Tidak detail.
Tidak dramatis.
Tapi jujur.

Naya tidak mengasihani.

“Makasih udah jujur.”

Arga kaget.

“Itu aja?”

Naya tersenyum.

“Iya. Aku nggak minta kamu berubah.”

Dan untuk pertama kalinya…
Arga tidak ingin kabur.


Papan Skor Salah Paham Berubah Arah

Dari jauh, Maya melihat mereka di perpustakaan.

Duduk berdampingan.
Tenang.
Dekat.

Maya menyipitkan mata.

“Oh…”

Rani juga melihat.
Hatinya sedikit turun.

“Jadi… aku salah paham?”


Malam yang Terlalu Hangat

Malam itu, Arga membaca komik.

Balon dialog:

‘Orang yang tepat tidak membuatmu takut.’

Arga menutup buku.

Tersenyum kecil.

“Masalahnya… aku masih takut.”

Tapi sekarang, untuk pertama kalinya…
takut itu tidak sendirian.


END OF CHAPTER 5


Jumat, 03 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #4

*CHAPTER 4

Gosip, Komik, dan Dunia yang Terlalu Romantis**

Arga tidak tahu sejak kapan, tapi ada satu fakta yang menghantam hidupnya:

Dia jadi bahan pembicaraan.

Padahal target hidup Arga cuma:

Datang. Duduk. Pulang. Hidup.

Tapi kelas punya agenda lain.


Gosip Dimulai (Tanpa Persetujuan Korban)

Di sudut kelas, suara berbisik terdengar jelas.

“Eh, Arga tuh sebenernya deket sama siapa sih?”

“Katanya sama Rani.”

“Lah, kemarin aku liat dia bareng Maya.”

“Aku malah sering liat dia sama Naya.”

Arga yang duduk di bangkunya, pura-pura fokus ke buku, bisa mendengar semuanya.

Dalam hati:

“KENAPA SEMUA ORANG NGOMONGIN AKU SEOLAH-OLAH AKU ARTIS.”

Rani duduk di bangkunya dengan wajah campur aduk.

“Kok Arga akhir-akhir ini kayak ngilang ya…”

“Dia bosen kali,” jawab temannya.

Kalimat itu menusuk.


Maya dan Teori yang Terlalu Jauh

Di sisi lain kelas, Maya menyandarkan punggung ke kursi.

Dia mendengar gosip itu… dan tersenyum tipis.

“PHP, ya?”

Temannya melirik.

“Maksudmu Arga?”

Maya mengangguk pelan.

“Cowok baik yang tiba-tiba menjauh. Klasik.”

Dalam pikirannya:

“Atau dia menyembunyikan sesuatu.”

Maya tidak suka misteri yang tidak terpecahkan.

Dan Arga?
Dia misteri berjalan.


Rahasia yang Hampir Terbongkar

Hari itu pelajaran olahraga.

Arga lupa satu hal penting:
tasnya tidak terkunci rapat.

Saat dia membuka tas untuk mengambil botol minum…

BRUK.

Map cokelat jatuh.

Dan isinya…
terbuka sedikit.

Warna pastel menyembul.

Judul hampir terbaca.

Rani yang berdiri di dekatnya mengerutkan kening.

“Itu apa, Ga?”

Waktu berhenti.

Dalam kepala Arga:
sirene berbunyi.
tulisan merah:

BAHAYA SOSIAL.

Dia menyambar map itu terlalu cepat.

“BUKU!”

Rani terkejut.

“Hah? Buku apa panik banget?”

Arga tertawa terlalu keras.

“BUKU PELAJARAN!”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Buku pelajaran warna pink?”

Arga berkeringat.

“E—edisi baru.”

Untungnya, peluit guru olahraga berbunyi.

Nyawa sosial Arga selamat… untuk sementara.


Dunia Nyata yang Kelewat Mirip Komik

Sore hari, hujan turun.

Sekolah mendadak sepi.

Arga berdiri di selasar, menunggu hujan reda.

Dan tentu saja…

Naya berdiri di sana juga.

Sunyi.
Hujan.
Pantulan cahaya.
SETTING KOMIK ROMANTIS LEVEL TINGGI.

Arga menelan ludah.

Dalam kepala:

“Aku buka payung, kita berdiri dekat, lalu…”

Flashback suram menyela.

Cewek lain.
Hujan lain.
Harapan yang tidak jadi apa-apa.

Arga mengencangkan tas di bahu.

“Aku… duluan.”

Naya menoleh.

“Hujannya masih deras.”

Arga mengangguk.

“Nggak apa-apa.”

Dia melangkah keluar…
dan kehujanan total.

Naya menatap punggungnya.

Pelan, hampir ke dirinya sendiri:

“Aneh.”


Ledakan Salah Paham

Besoknya, gosip makin panas.

“Katanya Arga ninggalin Naya pas hujan.”

“Fix PHP.”

“Sok baik tapi kabur.”

Arga mendengarnya.

Kepalanya pusing.

Dia ingin berteriak:

“AKU BUKAN PHP, AKU TRAUMA.”

Tapi tentu saja, itu tidak mungkin dijelaskan.

Dia memilih solusi terbaik menurut versinya:

menghilang lebih jauh.


Naya Mulai Bertanya (Dalam Diam)

Di perpustakaan, Naya menutup bukunya.

Temannya bertanya:

“Kamu sama Arga kenapa?”

Naya menggeleng.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Tapi saat dia melihat kursi kosong di pojok perpustakaan…

Ada sesuatu yang terasa hilang.


Arga, Komik, dan Kejujuran yang Ditunda

Malam itu, Arga membaca komik.

Balon dialog:

‘Kadang, ketakutan membuat kita terlihat kejam.’

Arga menutup buku itu pelan.

“Aku nggak bermaksud jahat…”

Dia menatap langit-langit.

“Aku cuma belum siap.”

Di luar sana, tiga cewek memikirkan satu cowok yang sama—
dengan kesimpulan yang berbeda-beda.

Dan Arga?

Dia cuma ingin dunia berhenti mirip komik sebentar saja.


END OF CHAPTER 4