## **CHAPTER 9
Latihan, Goyah, dan Hampir Menyerah**
Arga sekarang hidup dalam dua dunia yang sama-sama bikin capek.
Dunia nyata.
Dan dunia di kepalanya sendiri.
Dan dua-duanya lagi lomba bikin dia panik.
---
### **Latihan yang Terlalu Serius untuk Cowok Gampang Baper**
Latihan drama masuk minggu kedua.
Guru sudah mulai galak.
> “Kalian bukan baca puisi! Ini drama ROMANTIS!”
Arga berdiri berhadapan dengan Naya.
Jarak mereka… terlalu dekat untuk cowok yang hobi kabur.
> **Naya (naskah):**
> “Kenapa kamu selalu pergi?”
Arga tahu ini dialog.
Tapi nadanya…
terasa nyata.
Arga menjawab sesuai naskah, suaranya pelan:
> “Karena aku takut kehilangan.”
Guru mengangguk puas.
> “Nah! Itu! Rasain!”
Arga:
> *“BU. SAYA MERASAKAN KEBANYAKAN.”*
---
### **Komedi: Arga Overthinking Total**
Saat adegan duduk bersebelahan, lutut mereka bersentuhan.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Tapi bagi Arga, itu **gempa bumi skala 9**.
Dalam kepala:
> *“Ini latihan. Ini akting. Jangan kebawa.”*
Komik imajiner muncul:
panel berbunga.
teks miring.
detak jantung.
Arga langsung berdiri.
> “Bu, izin minum!”
Guru melotot.
> “Kamu kenapa lagi?”
Arga jujur setengah:
> “Dehidrasi… perasaan.”
Seluruh aula:
> “…?”
---
### **Maya Menekan di Saat yang Tepat**
Di luar aula, Maya menunggu.
> “Kamu kelihatan cocok sama dia.”
Arga terkejut.
> “Hah?”
Maya menyilangkan tangan.
> “Makanya aku tanya lagi. Kamu mau apa?”
Arga bingung.
> “Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”
Maya mendekat.
> “Kadang, dengan diam, kamu nyakitin semua orang.”
Kalimat itu **kena**.
Maya menatapnya serius.
> “Kalau kamu takut sama Naya, bilang. Jangan pakai aku buat kabur.”
Arga menelan ludah.
> “Aku nggak pernah pakai kamu.”
Maya tersenyum tipis.
> “Belum.”
---
### **Naya Mulai Capek**
Hari-hari berikutnya, Naya berubah.
Masih latihan.
Masih profesional.
Tapi… dingin.
Saat Arga mencoba bercanda kecil:
> “Dialog kita kayak komik ya.”
Naya hanya mengangguk.
> “Fokus latihan aja.”
Arga merasa dadanya ditarik pelan.
---
### **Percakapan yang Hampir Jujur**
Suatu sore, setelah latihan, hujan turun.
Lagi.
Arga dan Naya berteduh di aula kosong.
Sunyi.
Akhirnya Arga bicara.
> “Kamu marah?”
Naya menggeleng.
> “Capek.”
Satu kata. Berat.
> “Aku nggak tahu posisiku apa,” lanjut Naya.
> “Teman? Lawan main? Atau cuma orang yang kamu hindari pelan-pelan?”
Arga membuka mulut…
lalu menutup lagi.
Naya tersenyum kecil, sedih.
> “Jawabanmu itu juga jawaban.”
---
### **Tragedi Kecil: Salah Paham Terbesar**
Besoknya, Arga melihat Maya keluar dari ruang musik…
bersama Naya.
Maya bicara.
Naya diam.
Dari jauh, Arga cuma melihat potongan adegan.
Dalam kepalanya, cerita langsung jadi:
> *“Maya bilang sesuatu. Naya capek. Naya pergi.”*
Arga tidak mendekat.
Dia memilih…
kabur.
---
### **Naya Mengambil Keputusan**
Di rumah, Naya duduk di tepi ranjang.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Arga tidak datang.
Dia menarik napas panjang.
> “Aku nggak mau jadi orang yang nunggu.”
Malam itu, Naya menulis pesan…
lalu menghapus.
Akhirnya, dia menutup ponsel.
---
### **Akhir Chapter: Menuju Klimaks**
Di kamar, Arga membuka komik.
Panel terakhir:
> *‘Jika kamu terus lari, kamu akan kehilangan tanpa pernah bertarung.’*
Arga menutup buku, tangannya gemetar.
> “Aku nggak mau kehilangan…”
Tapi di luar sana, waktu tidak menunggu cowok yang ragu.
Festival tinggal **beberapa hari lagi**.
Dan kesalahan Arga…
akan segera **meledak di panggung**.
---
**END OF CHAPTER 9**