Selasa, 14 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #15

## **BONUS SCENE


Romantis Palsu yang Terlalu Sempurna**


Sore itu, Arga dan Naya duduk di halte taman.


Angin sepoi-sepoi.

Langit oranye.

Vibe… **berbahaya**.


Naya menopang dagu.


> “Kok kamu kelihatan mikir keras?”


Arga menatap jauh ke depan.


Suaranya berubah.


Tenang. Dalam. Puitis.


> “Ada kalanya, seseorang hadir bukan untuk dimiliki…

> tapi untuk mengajarkan kita arti pulang.”


Naya:


> “…?”


Arga menoleh pelan ke Naya.


> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”


Naya membeku.


Jantungnya:

**DUK. DUK. DUK.**


> “Arga…”

> “Hm?”


> “Kamu kenapa tiba-tiba…”


Arga tersenyum lembut.


> “Karena aku sadar… aku tidak butuh cerita lain. Aku cukup di halaman ini.”


Naya:

**KELEPEK.**


Dia menutup mulut.


> “Itu… itu manis banget…”


Arga mengangguk pelan, mantap.


> “Aku ingin tetap tinggal. Bersamamu.”


Sunyi.


Angin lewat.


Burung lewat.


Perasaan Naya naik ke langit ketujuh.


---


### **KEBONGKAR**


Naya menarik napas, matanya berbinar.


> “Arga…”


Tiba-tiba…

**HP Arga bunyi.**


*BEEP.*


Notifikasi.


Arga refleks melirik layar.


Naya ikut melirik.


Di layar, jelas:


**Judul:** *“Cinta di Musim Gugur – Chapter 47”*

**Subjudul:** *Dialog Pengakuan Tokoh Utama*


Naya:


> “…itu?”


Arga panik.


> “Itu—eh—referensi emosional.”


Naya merebut HP-nya.


Membaca.


Pelan.


Lalu membaca keras-keras:


> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”


Naya menatap Arga.


Hening.


Lama.


---


### **HUKUMAN SOSIAL RINGAN**


Naya tertawa keras.


> “ARGA.”


Arga menutup wajah.


> “Aku nggak niat nipu…”


> “Kamu BARUSAN BACAIN DIALOG KOMIK KE AKU?”


Arga mengangguk kecil.


> “…iya.”


Naya:


> “Aku hampir pingsan tahu.”


> “MAAF.”


---


### **PENEBUSAN JUJUR**


Naya mengembalikan HP.


> “Sekarang ganti.”


Arga menatapnya.


> “Ganti?”


> “Ngomong pakai kata kamu sendiri.”


Arga gugup.


Menggaruk kepala.


> “Aku… nggak sepintar tokoh komik.”


Naya tersenyum.


> “Nggak apa-apa.”


Arga menatap Naya.


> “Aku nyaman sama kamu.”

> “Aku sering takut.”

> “Tapi tiap sama kamu… aku pengen nyoba.”


Pendek.

Tidak puitis.


Naya tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.


> “Nah.”

> “Itu yang bikin aku kelepek beneran.”


---


### **ENDING ABSURD**


Bus datang.


Mereka berdiri.


Arga refleks berkata:


> “Aku suka kamu.”


Naya:


> “Itu komik?”


Arga cepat:


> “BUKAN.”


Naya tertawa dan meraih tangannya.


> “Bagus.”


Di tas Arga, komik itu bergeser.


Seolah berkata:


> *“Santai. Kamu sudah bisa tanpa aku.”*


---



Minggu, 12 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #13

CHAPTER


Kencan Pertama yang Terlalu Banyak Salah Tingkah**


Arga berdiri di depan rumah Naya.


Jam di HP: **15.00**

Jam di hati Arga: **PANIK**


Tas selempang di dada.

Isinya: dompet, HP, **komik romantis (nyempil, darurat emosional)**.


> “Ini cuma kencan,” gumam Arga.

> “Bukan final drama.”


Pintu terbuka.


Naya keluar.


Sederhana. Kaos, jaket tipis, rambut diikat.


Arga langsung nge-freeze.


> *“PANEL BUNGA. EFEK GLOW. INI BAHAYA.”*


---


### **Kesalahan Pertama: Terlalu Formal**


Arga refleks membungkuk.


> “Selamat sore.”


Naya:


> “…kita mau kencan atau wawancara kerja?”


Arga panik.


> “Maaf, kebiasaan minta maaf.”


---


### **Naik Motor: Adegan yang Tidak Ada di Komik**


Arga naik motor duluan.


Naya naik…

terus bingung mau pegangan ke mana.


> “Aku pegang jaket kamu ya?”

> “Boleh—eh—iya—atau—”


Naya akhirnya **megang tas Arga**.


Tasnya kebuka sedikit.


Komik jatuh.


*PLAK.*


Sunyi.


Naya menunduk.


> “…ini?”


Arga ingin mati sosial.


> “Itu… referensi hidup.”


Naya memungut komiknya.


> “Lucu.”


> “Lucu?”

> “Iya. Cowok baca komik cinta tapi kelihatan kayak mau ujian nasional.”


---


### **Tujuan Kencan: Tempat yang Salah**


Arga berhenti di depan…

**toko alat tulis**.


Naya menatap papan toko.


> “Kita mau beli pulpen?”


Arga berkeringat.


> “Aku kira ini kafe.”


> “Itu kafe sebelah,” kata Naya sambil menunjuk.


Arga:


> “…aku kebiasaan salah baca tanda-tanda.”


---


### **Di Kafe: Duduk Terlalu Jauh**


Mereka duduk.


Arga duduk **kepanjangan jaraknya**.


Naya menggeser kursinya mendekat.


> “Aku nggak gigit.”


Arga refleks:


> “Aku yang sering kegigit perasaan.”


---


### **Minuman Datang, Masalah Dimulai**


Pelayan:


> “Pesanannya?”


Arga gugup.


> “Yang… manis tapi nggak bikin sakit.”


Pelayan:


> “…es teh?”


Arga:


> “Iya.”


Naya tertawa.


Saat minum, Arga tersedak.


Naya refleks menepuk punggungnya.


Dalam kepala Arga:


> *“INI ADEGAN KOMIK. AKAN ADA ROMANTIS.”*


Di dunia nyata:


Arga batuk keras.


> “UHUK—MAAF—SALAH NAPAS—”


Romantis: **batal**.


---


### **Percakapan Jujur Tapi Absurd**


Naya akhirnya berkata:


> “Kamu tahu nggak kenapa aku mau kencan sama kamu?”


Arga tegang.


> “Karena aku baik?”


> “Karena kamu lucu tanpa niat.”


Arga mikir.


> “Itu pujian atau peringatan?”


> “Dua-duanya.”


---


### **Momen Hampir Romantis (Lagi)**


Sore makin gelap.


Lampu kafe nyala.


Naya menatap Arga.


> “Kamu masih takut?”


Arga jujur.


> “Masih.”


> “Kabur?”

> “Enggak.”


Arga mengangkat komiknya.


> “Aku bawa ini… tapi aku pengen bikin cerita sendiri.”


Naya tersenyum hangat.


> “Pelan-pelan aja.”


---


### **Ending Kencan: Gagal Tapi Berhasil**


Di depan rumah Naya.


Sunyi canggung.


Arga menggaruk kepala.


> “Kencan ini… aneh.”


Naya tertawa kecil.


> “Iya.”


> “Tapi…” Arga menelan ludah.

> “Aku seneng.”


Naya membuka helm.


> “Aku juga.”


Mereka saling menatap.


Arga maju setengah langkah…

lalu berhenti.


> “Aku belum berani.”


Naya tersenyum.


> “Nggak apa-apa. Kamu nggak kabur.”


Itu cukup.


---


### **Epilog Mini**


Di rumah, Arga buka komik.


Panel terakhir.


Biasanya: ciuman.


Arga menutup buku.


> “Nanti aja.”


HP-nya bunyi.


Pesan dari Naya:


> *Kencan kedua kapan? Jangan ke toko alat tulis lagi.*


Arga senyum lebar.


---



Sabtu, 11 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #12

*CHAPTER 12 (FINAL)


Cowok yang Berhenti Kabur**


Langit sore itu mendung.


Bukan hujan.

Bukan cerah.


Kayak perasaan Arga.


---


### **Pertemuan yang Tidak Seperti di Komik**


Arga duduk di bangku taman sekolah.


Tangannya berkeringat.

Komik favoritnya ada di tas…

tapi **tidak dia keluarkan**.


Langkah kaki terdengar.


Naya datang.


Tidak marah.

Tidak senyum.


Netral.


Itu lebih menakutkan.


> “Kamu mau ngomong apa?” tanya Naya.


Arga berdiri.

Menarik napas panjang.


> “Aku minta maaf.”


Pendek.

Tulus.


> “Aku nggak benci kamu.

> Aku takut sama perasaanku sendiri.”


Naya menyilangkan tangan.


> “Kenapa aku harus percaya?”


Arga menelan ludah.


> “Karena ini pertama kalinya aku nggak kabur.”


---


### **Pengakuan yang Berantakan Tapi Jujur**


Arga tertawa kecil, gugup.


> “Aku cowok aneh.

> Aku gampang baper.

> Aku suka baca komik romantis.”


Naya mengangkat alis.


> “Aku tahu.”


> “Dan setiap ada momen mirip komik, aku panik.

> Aku pikir kalau aku tinggal… aku bakal sakit lagi.”


Arga menatap Naya langsung.


> “Tapi waktu kamu jatuh di panggung…

> aku sadar, kabur juga nyakitin.”


Sunyi.


Naya menarik napas.


> “Kamu tahu aku nangis karena apa?”


Arga menggeleng.


> “Bukan karena jatuh.

> Tapi karena kupikir aku nggak cukup bikin kamu tinggal.”


Kalimat itu membuat dada Arga sesak.


---


### **Komedi Kecil di Tengah Jujur**


Arga refleks berkata:


> “Kamu cukup. Aku yang kepo kebanyakan.”


Naya terkekeh kecil.


> “Itu bukan kalimat romantis.”


> “Maaf. Aku biasa nyontek dari komik.”


Naya akhirnya tersenyum.


Sedikit.

Tapi nyata.


---


### **Pernyataan yang Tidak Sempurna**


Arga menghela napas.


> “Aku suka kamu.”


Tanpa metafora.

Tanpa panel bunga.


> “Dan aku takut… tapi aku mau belajar nggak lari.”


Naya menatapnya lama.


Lalu berkata pelan:


> “Aku nggak butuh cowok sempurna.”


Dia melangkah lebih dekat.


> “Aku cuma butuh cowok yang nggak ninggalin aku pas panik.”


Arga mengangguk cepat.


> “Aku bisa janji itu.”


> “Jangan janji,” potong Naya.

> “Bukti.”


Arga tersenyum gugup.


> “Oke… mulai sekarang.”


---


### **Akhir yang Tidak Seperti Komik, Tapi Lebih Baik**


Naya duduk di bangku.

Arga duduk di sampingnya.


Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada hujan pas.


Hanya dua orang…

yang memilih tinggal.


> “Komik kamu biasanya ending-nya gimana?” tanya Naya.


Arga berpikir.


> “Cowoknya berani.

> Ceweknya nunggu.”


Naya menyenggol bahunya.


> “Kalau di dunia nyata?”


Arga tersenyum.


> “Cowoknya masih takut…

> tapi nggak kabur.”


---


### **Epilog Komedi**


Seminggu kemudian.


Arga dan Naya jalan bareng di koridor.


Bisik-bisik terdengar.


> “Itu pacarnya ya?”

>

> “Kayaknya.”

>

> “Loh, bukannya dia trauma?”


Arga refleks melirik Naya panik.


Naya mengangkat alis.


> “Mau kabur?”


Arga menarik napas…

lalu tetap jalan.


> “Enggak.”


Naya tersenyum lebar.


Di tas Arga, komik romantis masih ada.


Bedanya…

kali ini dia tidak hidup di sana.


---


**TAMAT.**



Jumat, 10 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #11

CHAPTER 11


Setelah Kabur, Dunia Tidak Ikut Kabur**


Festival selesai dengan suasana… aneh.


Tepuk tangan ada.

Teriakan ada.

Tapi gosipnya **lebih kencang dari speaker aula**.


---


### **Naya: Nangis Tanpa Dramatis, Justru Lebih Sakit**


Di ruang ganti, Naya duduk sendirian.


Lututnya lecet sedikit.

Harga dirinya… lebih dari sedikit.


Dia menatap cermin.


> “Aku segitu nggak nyamannya ya buat kamu?” gumamnya.


Air matanya jatuh pelan.


Bukan karena jatuh di panggung.


Tapi karena ditinggal **setelah diselamatkan**.


Rani masuk pelan.


> “Kamu oke?”


Naya mengangguk, bohong.


> “Aku kelihatan oke?”


Rani duduk di sampingnya.


> “Arga itu… spesial. Dalam artian, bermasalah.”


Naya tertawa kecil di sela tangis.


> “Aku sadar sekarang.”


---


### **Maya: Kesal Tapi Jujur**


Di lorong belakang, Maya menyusul Arga ke atap.


Arga masih duduk, tatapannya kosong.


Maya tidak teriak.


Dia duduk.


Itu lebih menyeramkan.


> “Kamu tahu nggak,” kata Maya pelan,

> “kamu nyelametin orang, lalu ninggalin dia… itu lebih nyakitin daripada nggak ngapa-ngapain.”


Arga menutup wajah.


> “Aku panik…”


> “Bohong,” potong Maya.

> “Kamu **takut**.”


Sunyi.


> “Dan karena takutmu, Naya nangis.”


Kalimat itu menghantam lebih keras dari jatuhnya properti panggung.


---


### **Komedi Pahit: Interogasi Massal**


Guru seni memanggil Arga.


Di ruang guru, suasananya kayak sidang.


Guru seni.

Guru BK.

Wakasek.


Arga duduk kecil.


> “Kamu tahu kamu lari dari panggung itu bahaya?” tanya guru seni.


Arga mengangguk.


> “Kamu tahu kamu bikin lawan mainmu jatuh?”

> “Iya.”


> “Kamu tahu kamu bikin satu sekolah bingung?”

> “…iya.”


Guru BK menyandarkan badan.


> “Kamu tahu kenapa kamu begitu?”


Arga menjawab jujur:


> “Karena saya kebanyakan baca komik romantis.”


Semua:


> “…?”


Guru BK menahan senyum.


> “Kita bahas itu nanti.”


---


### **Flashback Terakhir: Luka Lama yang Belum Sembuh**


Malam itu, di kamar, Arga membuka komik.


Tangannya berhenti di satu panel lama.


Flashback sekolah lama.


Cewek yang pernah dekat…

ternyata cuma mau dekat dengan sahabat Arga yang ganteng.


> “Eh, kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”


Arga ingat senyumannya waktu itu.


Retak.


> “Sejak itu aku mikir… aku cuma batu loncatan.”


Arga menutup komik.


> “Aku capek kabur.”


---


### **Naya Mendengar Kebenaran**


Besoknya, Maya menemui Naya.


> “Aku nggak mau kamu salah paham,” kata Maya.


Dia menceritakan semuanya.


Tentang trauma.

Tentang komik.

Tentang kebiasaan Arga kabur.


Naya mendengarkan lama.


> “Jadi… dia bukan benci aku?”


Maya menggeleng.


> “Dia benci dirinya sendiri.”


Sunyi.


Naya mengusap matanya.


> “Itu nggak bikin aku otomatis sembuh sih…”


> “Aku tahu.”


---


### **Keputusan Arga**


Di sekolah, Arga berdiri di depan papan pengumuman.


Poster:

**Evaluasi Drama – Pengumuman Besok**


Arga menarik napas.


> “Kalau aku kabur lagi…”


Dia mengepalkan tangan.


> “Aku kehilangan dia beneran.”


Untuk pertama kalinya, Arga membuat keputusan **tanpa panel komik**.


Dia menulis pesan.


> *Naya, aku salah.

> Aku nggak kabur karena kamu.

> Aku kabur karena aku takut… tapi aku mau berhenti.*


Pesan terkirim.


Dua centang.


Belum dibalas.


---


### **Akhir Chapter: Harapan Tipis Tapi Nyata**


Naya membaca pesan itu di rumah.


Dia menatap layar lama.


Belum membalas.


Tapi…

dia tidak menghapusnya.


Naya menaruh ponsel di dada.


> “Kalau kamu beneran berhenti lari…”


Dia menutup mata.


> “Aku mau denger.”


---


**END OF CHAPTER 11**



Kamis, 09 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #10


## **CHAPTER 10


Hari di Mana Semua Salah Paham Bertabrakan**


Hari itu akhirnya datang.


Hari yang selama ini Arga takuti, hindari, dan pura-pura tidak ada di kalender hidupnya.


**Festival Sekolah.

Hari Pementasan Drama.**


Dan tentu saja…

semesta bangun pagi dengan niat jahat.


---


### **Pagi yang Terlalu Tenang untuk Bencana Besar**


Arga berdiri di depan cermin kamar.


Seragam rapi.

Rambut disisir.

Wajah… pucat.


Dia menatap dirinya sendiri lama.


> “Ini cuma drama,” katanya pelan.

> “Bukan hidup.”


Tas di bahunya terasa berat.


Bukan karena buku.

Tapi karena **perasaan yang belum dibereskan**.


---


### **Di Sekolah: Aura Tidak Enak Tercium**


Begitu sampai sekolah, Arga langsung merasakan sesuatu yang salah.


Terlalu ramai.

Terlalu berisik.

Terlalu banyak mata.


Rani menyapa singkat.


> “Semangat.”


Nada suaranya sopan. Jaraknya jelas.


Maya lewat, menatap Arga sekilas.


> “Jangan bikin orang nangis.”


Arga ingin jawab…

tapi tidak tahu jawab apa.


Dan Naya?


Tidak kelihatan.


---


### **Backstage: Jarak yang Menyakitkan**


Di belakang panggung, kostum dibagikan.


Arga mengenakan pakaian karakter utama:

jas sederhana, kemeja putih.


Naya berdiri beberapa langkah darinya.


Cantik.

Tenang.

Terlalu tenang.


Arga memberanikan diri mendekat.


> “Naya…”


Naya menoleh.


> “Iya?”


Nada netral. Profesional.


> “Setelah ini… kita bisa ngomong?”


Naya terdiam sebentar.


> “Setelah panggung.”


Arga mengangguk.


Dalam hati:


> *“Kalau masih ada setelah panggung.”*


---


### **Komedi Sebelum Tragedi**


Properti panggung mulai dicek.


Ada bangku taman.

Ada tirai.

Ada lampu gantung dekoratif.


Panitia ribut.


> “Lampunya aman, kan?”

>

> “Harusnya.”

>

> “HARUSNYA ITU BUKAN JAWABAN.”


Arga melirik lampu itu.


Entah kenapa…

dadanya tidak enak.


---


### **Drama Dimulai**


Lampu mati.

Lampu panggung menyala.


Penonton ramai.


Arga dan Naya masuk panggung.


Dialog mengalir.


> **Naya (naskah):**

> “Kamu selalu datang… lalu pergi.”


Arga menatapnya.


Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu apakah ini naskah…

atau kenyataan.


> **Arga (naskah):**

> “Karena aku takut… tapi aku tetap kembali.”


Suara Arga bergetar.


Guru seni di bangku depan menepuk pelan.


> “Bagus…”


---


### **Detik yang Mengubah Segalanya**


Masuk adegan puncak.


Naya berdiri tepat di bawah **lampu gantung dekoratif**.


Tali penyangganya berderit.


*KREEET.*


Arga mendengarnya.


Matanya membesar.


Dalam kepala Arga, **dunia berubah jadi panel komik**.


* Background gelap

* Slow motion

* Teks besar:


  > *“SELAMATKAN DIA.”*


Arga tidak mikir.


Dia **meloncat**.


---


### **Adegan Komik yang Salah di Dunia Nyata**


Arga menarik Naya ke pelukannya.


Penonton menahan napas.


Lampu…

**tidak jatuh ke arah Naya**.


Lampu jatuh ke samping panggung.


*DUAAARR.*


Aman.


Terlalu aman.


Arga masih memeluk Naya.


Hening.


Romantis.


Lalu…


Otak Arga hidup lagi.


> *“INI TERLALU NYATA.”*


Dia **langsung melepaskan** Naya.


Terlalu cepat.


Naya kehilangan keseimbangan.


> “Arga—!”


*BRUK.*


Naya jatuh ke lantai panggung.


Penonton:


> “OOOOH—”


Guru berdiri.


> “ASTAGA!”


Arga panik total.


> “Ma—maaf—aku—”


Dan tentu saja…


**dia kabur.**


---


### **Panggung, Air Mata, dan Salah Paham Terbesar**


Naya duduk di panggung.


Sakit sedikit.

Malu banyak.


Dan yang paling sakit:

**hatinya.**


Dalam pikirannya:


> *“Dia nyelametin aku… lalu langsung ngejauh.”*

> *“Dia benci aku, ya?”*


Air mata jatuh.


Bukan bagian naskah.


Penonton bingung:


> “Ini akting?”

>

> “Kok kayak nyata?”


Maya di belakang panggung mengepalkan tangan.


> “Bodoh…”


Rani menutup mulutnya.


> “Arga…”


---


### **Arga Kabur ke Tempat Favoritnya**


Arga berlari.


Lorong.

Tangga.

Atap sekolah.


Dia terengah.


Tangannya gemetar.


> “KENAPA AKU SELALU NGELAKUIN INI…”


Flashback menyerbu.


Komik.

Trauma.

Kesalahan yang diulang.


Arga duduk, menutup wajah.


Di bawah sana…

festival masih berjalan.


Tapi cerita Arga dan Naya…

**retak tepat di klimaksnya.**


---


**END OF CHAPTER 10**



Rabu, 08 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #9


## **CHAPTER 9


Latihan, Goyah, dan Hampir Menyerah**


Arga sekarang hidup dalam dua dunia yang sama-sama bikin capek.


Dunia nyata.

Dan dunia di kepalanya sendiri.


Dan dua-duanya lagi lomba bikin dia panik.


---


### **Latihan yang Terlalu Serius untuk Cowok Gampang Baper**


Latihan drama masuk minggu kedua.


Guru sudah mulai galak.


> “Kalian bukan baca puisi! Ini drama ROMANTIS!”


Arga berdiri berhadapan dengan Naya.


Jarak mereka… terlalu dekat untuk cowok yang hobi kabur.


> **Naya (naskah):**

> “Kenapa kamu selalu pergi?”


Arga tahu ini dialog.


Tapi nadanya…

terasa nyata.


Arga menjawab sesuai naskah, suaranya pelan:


> “Karena aku takut kehilangan.”


Guru mengangguk puas.


> “Nah! Itu! Rasain!”


Arga:


> *“BU. SAYA MERASAKAN KEBANYAKAN.”*


---


### **Komedi: Arga Overthinking Total**


Saat adegan duduk bersebelahan, lutut mereka bersentuhan.


Sedikit.

Sangat sedikit.


Tapi bagi Arga, itu **gempa bumi skala 9**.


Dalam kepala:


> *“Ini latihan. Ini akting. Jangan kebawa.”*


Komik imajiner muncul:

panel berbunga.

teks miring.

detak jantung.


Arga langsung berdiri.


> “Bu, izin minum!”


Guru melotot.


> “Kamu kenapa lagi?”


Arga jujur setengah:


> “Dehidrasi… perasaan.”


Seluruh aula:


> “…?”


---


### **Maya Menekan di Saat yang Tepat**


Di luar aula, Maya menunggu.


> “Kamu kelihatan cocok sama dia.”


Arga terkejut.


> “Hah?”


Maya menyilangkan tangan.


> “Makanya aku tanya lagi. Kamu mau apa?”


Arga bingung.


> “Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”


Maya mendekat.


> “Kadang, dengan diam, kamu nyakitin semua orang.”


Kalimat itu **kena**.


Maya menatapnya serius.


> “Kalau kamu takut sama Naya, bilang. Jangan pakai aku buat kabur.”


Arga menelan ludah.


> “Aku nggak pernah pakai kamu.”


Maya tersenyum tipis.


> “Belum.”


---


### **Naya Mulai Capek**


Hari-hari berikutnya, Naya berubah.


Masih latihan.

Masih profesional.

Tapi… dingin.


Saat Arga mencoba bercanda kecil:


> “Dialog kita kayak komik ya.”


Naya hanya mengangguk.


> “Fokus latihan aja.”


Arga merasa dadanya ditarik pelan.


---


### **Percakapan yang Hampir Jujur**


Suatu sore, setelah latihan, hujan turun.


Lagi.


Arga dan Naya berteduh di aula kosong.


Sunyi.


Akhirnya Arga bicara.


> “Kamu marah?”


Naya menggeleng.


> “Capek.”


Satu kata. Berat.


> “Aku nggak tahu posisiku apa,” lanjut Naya.

> “Teman? Lawan main? Atau cuma orang yang kamu hindari pelan-pelan?”


Arga membuka mulut…

lalu menutup lagi.


Naya tersenyum kecil, sedih.


> “Jawabanmu itu juga jawaban.”


---


### **Tragedi Kecil: Salah Paham Terbesar**


Besoknya, Arga melihat Maya keluar dari ruang musik…

bersama Naya.


Maya bicara.

Naya diam.


Dari jauh, Arga cuma melihat potongan adegan.


Dalam kepalanya, cerita langsung jadi:


> *“Maya bilang sesuatu. Naya capek. Naya pergi.”*


Arga tidak mendekat.


Dia memilih…

kabur.


---


### **Naya Mengambil Keputusan**


Di rumah, Naya duduk di tepi ranjang.


Ponselnya bergetar.


Pesan dari Arga tidak datang.


Dia menarik napas panjang.


> “Aku nggak mau jadi orang yang nunggu.”


Malam itu, Naya menulis pesan…

lalu menghapus.


Akhirnya, dia menutup ponsel.


---


### **Akhir Chapter: Menuju Klimaks**


Di kamar, Arga membuka komik.


Panel terakhir:


> *‘Jika kamu terus lari, kamu akan kehilangan tanpa pernah bertarung.’*


Arga menutup buku, tangannya gemetar.


> “Aku nggak mau kehilangan…”


Tapi di luar sana, waktu tidak menunggu cowok yang ragu.


Festival tinggal **beberapa hari lagi**.


Dan kesalahan Arga…

akan segera **meledak di panggung**.


---


**END OF CHAPTER 9**



Selasa, 07 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #8

 **CHAPTER 8


Saat Dunia Memaksa Mendekat**


Arga percaya satu hal:


Kalau dia cukup sering kabur,

mungkin dunia akan capek ngejar.


Ternyata dunia itu **bandel**.


---


### **Pengumuman yang Menghancurkan Strategi Kabur**


Jam terakhir, guru Seni Budaya masuk dengan wajah terlalu semangat.


> “Anak-anak, untuk festival sekolah, kita akan menampilkan **drama**.”


Kelas langsung ribut.


> “YES!”

>

> “Aduh, malu!”

>

> “Bu, boleh jadi pohon aja nggak?”


Guru tersenyum kejam.


> “Pemeran utama sudah ibu tentukan.”


Arga langsung nunduk.


> “Arga Pradana.”


Kepalanya terangkat pelan.


> “Saya, Bu?”


> “Dan… Naya.”


Sunyi.


Sunyi yang **tidak sehat**.


Rani menunduk.

Maya menatap ke depan, rahangnya mengeras.

Naya menoleh ke Arga… sebentar saja.


Arga membeku.


Dalam kepala:


> *“INI KONFLIK BESAR. INI BAB SEBELUM ENDING.”*


---


### **Reaksi yang Tidak Sinkron**


Saat bel berbunyi, Arga langsung berdiri.


Rencananya: **kabur sebelum realita nyusul**.


Tapi Naya berdiri di hadapannya.


> “Arga.”


Suaranya tenang. Terlalu tenang.


> “Kita harus latihan.”


Arga mengangguk cepat.


> “Iya. Tapi… nanti aja.”


Naya menatapnya lama.


> “Kamu selalu bilang ‘nanti’.”


Kalimat itu pelan, tapi berat.


Arga tidak sanggup membalas.


Dia pergi.


---


### **Maya Tidak Tinggal Diam**


Di lorong, Maya menyusul Arga.


Langkahnya cepat.


> “Kamu nggak bisa terus menghindar.”


Arga berhenti.


> “Aku nggak minta dipilih.”


Maya mendekat.


> “Tapi kamu juga nggak menolak.”


Arga terdiam.


Maya menarik napas.


> “Kalau kamu nggak mau Naya, bilang. Jangan gantung.”


Arga menatap lantai.


> “Aku… belum berani.”


Maya tersenyum miring.


> “Atau kamu cuma berani kalau aman?”


Kalimat itu **menampar**.


---


### **Latihan Drama Pertama (yang Aneh Banget)**


Latihan di aula.


Arga berdiri kaku.

Naya berdiri dua langkah di depannya.


Guru memberi naskah.


> “Adegan pertama, kalian bertemu dan saling menatap.”


Arga menelan ludah.


> “Tatapannya jangan kosong. Ini drama romantis.”


Arga menatap Naya.


Naya menatap balik.


Dan untuk pertama kalinya…

Arga **tidak kabur**.


Dadanya sesak.

Tangannya dingin.


Dalam kepala:


> *“Ini nyata. Ini bukan panel komik.”*


Guru bertepuk tangan.


> “Bagus. Teruskan.”


Arga ingin pingsan.


---


### **Komedi: Arga Salah Fokus**


Saat adegan dialog:


> **Naya (sesuai naskah):**

> “Aku menunggumu.”


Arga blank.


Dia spontan menjawab:


> “Aku… takut.”


Guru terdiam.


> “Itu bukan di naskah.”


Seluruh aula hening.


Arga panik.


> “Ma—maksud saya…”


Naya meliriknya.

Pelan, hampir tidak terdengar:


> “Jujur juga nggak apa-apa.”


Arga menatapnya.


Dan **itu** lebih berbahaya dari dialog romantis mana pun.


---


### **Jarak yang Dipaksa Menyempit**


Latihan selesai.


Arga duduk di tangga aula, capek mental.


Naya duduk di sampingnya, menjaga jarak satu orang.


> “Aku nggak akan ngejar kamu,” kata Naya pelan.

> “Tapi aku juga nggak mau pura-pura.”


Arga menggenggam tasnya.


> “Aku takut ngulang kesalahan.”


Naya mengangguk.


> “Aku juga takut. Tapi aku tetap datang.”


Sunyi.


Hangat.


Arga ingin bilang sesuatu…

tapi kata-katanya macet.


---


### **Akhir Chapter: Tidak Ada Jalan Mundur**


Di rumah, Arga membuka komik.


Panel terakhir bab itu:


> *‘Kadang, cerita memaksa kita sampai ke halaman berikutnya.’*


Arga menutup buku.


> “Aku dipaksa maju.”


Di sekolah, drama sudah berjalan.


Dan Arga tahu satu hal pasti:


**Kabur kali ini akan lebih sakit daripada tinggal.**


---


**END OF CHAPTER 8**



Senin, 06 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #7


## **CHAPTER 7


Cemburu yang Tidak Diakui**


Arga bangun pagi dengan satu perasaan aneh.


Bukan takut.

Bukan nyaman.

Tapi **tidak enak**.


Perasaan yang muncul saat kamu bilang “nggak apa-apa”, padahal jelas **apa-apa**.


---


### **Naya yang Berubah (Pelan Tapi Terasa)**


Di kelas, Arga langsung mencari satu sosok.


Bangku dekat jendela masih diisi Naya.


Tapi…


Dia tidak menoleh.

Tidak menyapa.

Tidak senyum kecil.


Bukan dingin.

Lebih tepatnya: **berjarak**.


Arga duduk, gelisah.


Dalam kepala:


> *“Aku salah apa?”*


Padahal dia tahu jawabannya.


---


### **Maya Masuk, Tanpa Rem**


Saat jam kosong, Maya menghampiri Arga.


Langsung duduk di mejanya.


> “Kamu kabur lagi kemarin.”


Nada suaranya bukan marah.

Lebih ke observasi.


Arga menggaruk kepala.


> “Aku pusing.”


Maya mencondongkan badan sedikit.


> “Aku bisa bikin kamu nggak pusing.”


Arga hampir jatuh dari kursi.


> “Maya…”


Maya tersenyum.


> “Aku serius. Aku jelas. Kamu nggak perlu nebak-nebak.”


Dan itu…


**menggoda**.


---


### **Rani Memilih Mundur**


Di koridor, Rani menyapa Arga untuk terakhir kalinya.


> “Arga.”


Arga menoleh.


> “Iya?”


Rani tersenyum tipis, tapi matanya capek.


> “Aku nggak mau jadi salah paham terus.”


Arga ingin bilang sesuatu…

tapi tidak ada kalimat yang cukup.


Rani menepuk lengannya.


> “Semoga kamu bahagia.”


Dan pergi.


Arga berdiri lama.


> *“Aku selalu kehilangan orang… karena aku diam.”*


---


### **Cemburu Datang Tanpa Undangan**


Sore itu, Arga melihat pemandangan yang bikin dadanya aneh.


Naya berdiri di depan kelas…

bersama cowok lain.


Mereka ngobrol.


Tertawa kecil.


Arga berhenti jalan.


Dalam kepala:


> *“Siapa dia?”*


Hatinya terasa sempit.


Lalu otaknya cepat-cepat menyela:


> *“Bukan urusanmu.”*


Tapi perasaan tidak mau dengar.


Arga berbalik arah.


Kabur.


---


### **Flashback Konyol yang Menampar**


Flashback muncul.


Sekolah lama.

Dia melihat cewek yang dia suka tertawa dengan cowok lain.


Dia diam.

Menunggu.

Kabur.


Ending-nya?

Dia ditinggal tanpa pernah tahu kenapa.


Arga memejamkan mata.


> “Aku ngulang lagi.”


---


### **Pesan yang Tidak Dibalas**


Malam itu, Arga membuka chat.


Pesan Naya kemarin masih ada.


Arga mengetik:


> *“Kamu kenapa?”*


Lalu menghapus.


Dia mengetik lagi:


> *“Maaf kalau aku bikin kamu…”*


Menghapus lagi.


Akhirnya, tidak terkirim apa pun.


Di sisi lain, Naya menatap layar juga.


Lama.


Lalu menaruh ponsel.


> “Kalau dia mau, dia akan bicara.”


---


### **Akhir Chapter: Semua Menunggu**


Arga duduk di kamar.


Komik terbuka di halaman terakhir.


Balon dialog:


> *‘Kadang, yang paling menakutkan bukan ditolak… tapi mencoba.’*


Arga menutup buku.


> “Aku takut dua-duanya.”


Dan di sekolah, jarak antara Arga dan Naya tidak jauh…


Tapi terasa **panjang sekali**.


---


**END OF CHAPTER 7**



Minggu, 05 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #6

CHAPTER 6


Saat Nyaman Jadi Masalah Baru**


Arga melakukan satu kesalahan fatal.


Dia pikir setelah rahasianya terbongkar ke Naya, hidupnya akan **lebih tenang**.


Ternyata tidak.


Hidupnya jadi **lebih ribet**, tapi dengan perasaan hangat yang mencurigakan.


---


### **Efek Samping: Arga Jadi Lebih Sering Senyum**


Pagi itu, Arga masuk kelas sambil…

**senyum tipis**.


Bukan senyum lebar.

Bukan senyum bahagia.

Senyum kecil yang biasanya cuma muncul di panel terakhir komik.


Rani memperhatikan.


> “Kamu kelihatan beda,” katanya pelan.


Arga tersentak.


> “Hah? Beda gimana?”


Rani mengangkat bahu.


> “Lebih… ringan.”


Arga panik.


> *“KELIHATAN? INI BAHAYA.”*


---


### **Maya Mulai Bermain Terang-terangan**


Saat istirahat, Maya mendekati Arga di koridor.


Tanpa basa-basi.


> “Arga.”


Arga berhenti jalan.


> “Iya?”


Maya menatapnya lurus.


> “Aku suka kamu.”


Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Tidak ada efek slow motion.


Justru itu yang bikin Arga **lemas**.


> “Aku nggak suka muter-muter,” lanjut Maya.

> “Dan aku nggak suka kalah.”


Arga menelan ludah.


> “Maya… aku—”


> “Tenang,” potong Maya.

> “Aku nggak minta jawaban sekarang.”


Dia melangkah mendekat setengah langkah.


> “Aku cuma mau kamu jujur sama dirimu sendiri.”


Lalu pergi.


Arga berdiri membeku.


Dalam kepala:


> *“INI BUKAN ADEGAN KOMIK. INI ADEGAN BOSS FIGHT.”*


---


### **Rani dan Kejujuran yang Terlambat**


Sore hari, Rani menyusul Arga ke taman sekolah.


Nada suaranya lebih pelan dari biasanya.


> “Arga… aku mau nanya.”


Arga berhenti.


> “Iya?”


Rani memainkan ujung tasnya.


> “Kamu pernah suka aku?”


Pertanyaan sederhana.

Efeknya seperti ujian hidup.


Arga jujur.


> “Pernah… mikir.”


Rani tersenyum tipis.


> “Aku juga.”


Sunyi.


Rani menghela napas.


> “Tapi kamu selalu kabur. Jadi aku kira… kamu main-main.”


Arga cepat menggeleng.


> “Aku bukan main-main. Aku cuma takut.”


Rani tertawa kecil, pahit.


> “Aku kalah sama ketakutanmu sendiri, ya?”


Kalimat itu **menancap**.


---


### **Arga Kalah oleh Kepalanya Sendiri**


Malam itu, Arga duduk di kamar, komik terbuka.


Adegan di komik:

cowok ragu.

cewek menunggu.


Arga menutup buku dengan kasar.


> “KENAPA SEMUA MIRIP.”


Flashback menyerbu:


* Salah tafsir

* Ditertawakan

* Ditinggal


Arga memeluk lutut.


> “Aku nggak siap…”


Tapi wajah Naya muncul di pikirannya.

Tenang.

Tidak memaksa.


Dan itu justru bikin goyah.


---


### **Komedi Salah Paham Level Sekolah**


Keesokan harinya, gosip meledak.


> “Katanya Arga ditolak Rani.”

>

> “Nggak, dia ditembak Maya.”

>

> “Fix playboy halus.”


Arga mendengar semuanya…

dan memilih solusi terbaik versi dia:


> **KABUR.**


Dia pura-pura sakit.

Izin pulang lebih awal.


Di gerbang sekolah, Naya melihat Arga pergi.


Dia tidak mengejar.


Tapi sore itu, dia mengirim pesan pertama kalinya.


> **Naya:**

> *“Kalau kamu lari terus, capek juga, ya?”*


Arga menatap layar lama.


Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.


> **Arga:**

> *“Iya.”*


Balasan Naya cepat.


> **Naya:**

> *“Aku di sini. Tapi aku nggak akan maksa.”*


Dan entah kenapa…

itu lebih menenangkan daripada janji apa pun.


---


### **Akhir Chapter: Goyah**


Arga berbaring di kasur.


Komik di sampingnya tertutup.


> “Aku pengen berani…”

>

> “Tapi aku belum bisa.”


Di sekolah, tiga cewek memikirkan Arga dengan cara berbeda.


Dan Arga?


Dia berdiri tepat di tengah:

antara trauma,

antara nyaman,

antara **lari atau tinggal**.


---


**END OF CHAPTER 6**



Sabtu, 04 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #5

 *CHAPTER 5

Rahasia yang Tidak Ditertawakan**

Naya sebenarnya bukan tipe orang yang mudah kepikiran.

Kalau ada yang menghilang dari hidupnya, biasanya dia cuma mikir:

“Oh. Ya udah.”

Tapi entah kenapa…
Arga beda.


Sudut Pandang Naya: Cowok Aneh tapi Tidak Jahat

Naya duduk di bangku dekat jendela, menatap halaman sekolah.

Arga tidak kelihatan lagi.

Dia mengingat kejadian-kejadian kecil:

  • Cara Arga mengembalikan penghapus dengan dua tangan.

  • Cara dia panik tiap kali jarak terlalu dekat.

  • Cara dia kabur, bukan menghindar dengan dingin.

Dalam hati, Naya bergumam:

“Dia bukan nggak peduli… dia kayak takut.”

Temannya menyenggol.

“Kamu kepikiran Arga, ya?”

Naya menggeleng.

“Nggak.”

Lalu nambah pelan:

“…mungkin dikit.”


Takdir Bernama Perpustakaan (Lagi)

Siang itu, Naya ke perpustakaan.

Dan tentu saja…

Arga ada di sana.

Duduk di pojok.
Kepala agak menunduk.
Tas terbuka sedikit.

Naya melihat map cokelat itu.

Dia ragu.
Lalu mendekat.

“Arga.”

Arga kaget, hampir menjatuhkan bukunya.

“Eh—Naya.”

Sunyi sebentar.

Naya duduk.

“Kamu sering ke sini.”

Arga mengangguk.

“Tempat aman.”

Naya tersenyum kecil.

“Dari apa?”

Arga terdiam.

Jawaban jujurnya terlalu panjang.
Jawaban bohongnya terasa salah.

“Dari… ribut.”

Naya mengangguk, tidak mengejar.


Momen Nyaman yang Berbahaya

Mereka duduk berdampingan, masing-masing membaca.

Tidak bicara.

Dan itu… nyaman.

Arga sadar hal itu, lalu langsung panik.

Dalam kepala:

“STOP NYAMAN. NYAMAN ITU AWAL.”

Saat Arga hendak menutup tas, map cokelat itu jatuh.

Kali ini, tidak bisa diselamatkan.

Komik romantis meluncur keluar.

Judulnya terbaca jelas.

Hening.

Arga mematung.

Wajahnya merah.

“Aku bisa jelasin.”

Naya mengambil komik itu, membaca judulnya pelan.

“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk…”

Arga menutup wajah.

“Tolong jangan ketawa.”


Reaksi yang Tidak Sesuai Ekspektasi Arga

Naya tidak tertawa.

Dia duduk kembali, membuka komik itu sebentar.

“Ini yang scene hujannya bagus, ya?”

Arga mengintip dari balik jarinya.

“Kamu… tahu?”

Naya mengangguk.

“Aku suka komik ginian juga.”

Arga terdiam.

Skenario terburuk di kepalanya:
diejek.
dipermalukan.
dijadikan bahan gosip.

Yang terjadi:
diterima.

Naya mengembalikan komik itu.

“Nggak ada yang salah.”

Arga menelan ludah.

“Cowok suka ginian… nggak aneh?”

Naya menggeleng.

“Aneh itu kalau pura-pura.”

Kalimat itu nempel.


Arga Tanpa Sadar Membuka Sedikit Luka

Arga tertawa kecil, canggung.

“Aku sering kabur… karena komik-komik ini bikin aku gampang kebawa perasaan.”

Naya menatapnya.

“Dan kamu takut?”

Arga mengangguk.

“Aku pernah sakit.”

Tidak detail.
Tidak dramatis.
Tapi jujur.

Naya tidak mengasihani.

“Makasih udah jujur.”

Arga kaget.

“Itu aja?”

Naya tersenyum.

“Iya. Aku nggak minta kamu berubah.”

Dan untuk pertama kalinya…
Arga tidak ingin kabur.


Papan Skor Salah Paham Berubah Arah

Dari jauh, Maya melihat mereka di perpustakaan.

Duduk berdampingan.
Tenang.
Dekat.

Maya menyipitkan mata.

“Oh…”

Rani juga melihat.
Hatinya sedikit turun.

“Jadi… aku salah paham?”


Malam yang Terlalu Hangat

Malam itu, Arga membaca komik.

Balon dialog:

‘Orang yang tepat tidak membuatmu takut.’

Arga menutup buku.

Tersenyum kecil.

“Masalahnya… aku masih takut.”

Tapi sekarang, untuk pertama kalinya…
takut itu tidak sendirian.


END OF CHAPTER 5


Jumat, 03 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #4

*CHAPTER 4

Gosip, Komik, dan Dunia yang Terlalu Romantis**

Arga tidak tahu sejak kapan, tapi ada satu fakta yang menghantam hidupnya:

Dia jadi bahan pembicaraan.

Padahal target hidup Arga cuma:

Datang. Duduk. Pulang. Hidup.

Tapi kelas punya agenda lain.


Gosip Dimulai (Tanpa Persetujuan Korban)

Di sudut kelas, suara berbisik terdengar jelas.

“Eh, Arga tuh sebenernya deket sama siapa sih?”

“Katanya sama Rani.”

“Lah, kemarin aku liat dia bareng Maya.”

“Aku malah sering liat dia sama Naya.”

Arga yang duduk di bangkunya, pura-pura fokus ke buku, bisa mendengar semuanya.

Dalam hati:

“KENAPA SEMUA ORANG NGOMONGIN AKU SEOLAH-OLAH AKU ARTIS.”

Rani duduk di bangkunya dengan wajah campur aduk.

“Kok Arga akhir-akhir ini kayak ngilang ya…”

“Dia bosen kali,” jawab temannya.

Kalimat itu menusuk.


Maya dan Teori yang Terlalu Jauh

Di sisi lain kelas, Maya menyandarkan punggung ke kursi.

Dia mendengar gosip itu… dan tersenyum tipis.

“PHP, ya?”

Temannya melirik.

“Maksudmu Arga?”

Maya mengangguk pelan.

“Cowok baik yang tiba-tiba menjauh. Klasik.”

Dalam pikirannya:

“Atau dia menyembunyikan sesuatu.”

Maya tidak suka misteri yang tidak terpecahkan.

Dan Arga?
Dia misteri berjalan.


Rahasia yang Hampir Terbongkar

Hari itu pelajaran olahraga.

Arga lupa satu hal penting:
tasnya tidak terkunci rapat.

Saat dia membuka tas untuk mengambil botol minum…

BRUK.

Map cokelat jatuh.

Dan isinya…
terbuka sedikit.

Warna pastel menyembul.

Judul hampir terbaca.

Rani yang berdiri di dekatnya mengerutkan kening.

“Itu apa, Ga?”

Waktu berhenti.

Dalam kepala Arga:
sirene berbunyi.
tulisan merah:

BAHAYA SOSIAL.

Dia menyambar map itu terlalu cepat.

“BUKU!”

Rani terkejut.

“Hah? Buku apa panik banget?”

Arga tertawa terlalu keras.

“BUKU PELAJARAN!”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Buku pelajaran warna pink?”

Arga berkeringat.

“E—edisi baru.”

Untungnya, peluit guru olahraga berbunyi.

Nyawa sosial Arga selamat… untuk sementara.


Dunia Nyata yang Kelewat Mirip Komik

Sore hari, hujan turun.

Sekolah mendadak sepi.

Arga berdiri di selasar, menunggu hujan reda.

Dan tentu saja…

Naya berdiri di sana juga.

Sunyi.
Hujan.
Pantulan cahaya.
SETTING KOMIK ROMANTIS LEVEL TINGGI.

Arga menelan ludah.

Dalam kepala:

“Aku buka payung, kita berdiri dekat, lalu…”

Flashback suram menyela.

Cewek lain.
Hujan lain.
Harapan yang tidak jadi apa-apa.

Arga mengencangkan tas di bahu.

“Aku… duluan.”

Naya menoleh.

“Hujannya masih deras.”

Arga mengangguk.

“Nggak apa-apa.”

Dia melangkah keluar…
dan kehujanan total.

Naya menatap punggungnya.

Pelan, hampir ke dirinya sendiri:

“Aneh.”


Ledakan Salah Paham

Besoknya, gosip makin panas.

“Katanya Arga ninggalin Naya pas hujan.”

“Fix PHP.”

“Sok baik tapi kabur.”

Arga mendengarnya.

Kepalanya pusing.

Dia ingin berteriak:

“AKU BUKAN PHP, AKU TRAUMA.”

Tapi tentu saja, itu tidak mungkin dijelaskan.

Dia memilih solusi terbaik menurut versinya:

menghilang lebih jauh.


Naya Mulai Bertanya (Dalam Diam)

Di perpustakaan, Naya menutup bukunya.

Temannya bertanya:

“Kamu sama Arga kenapa?”

Naya menggeleng.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Tapi saat dia melihat kursi kosong di pojok perpustakaan…

Ada sesuatu yang terasa hilang.


Arga, Komik, dan Kejujuran yang Ditunda

Malam itu, Arga membaca komik.

Balon dialog:

‘Kadang, ketakutan membuat kita terlihat kejam.’

Arga menutup buku itu pelan.

“Aku nggak bermaksud jahat…”

Dia menatap langit-langit.

“Aku cuma belum siap.”

Di luar sana, tiga cewek memikirkan satu cowok yang sama—
dengan kesimpulan yang berbeda-beda.

Dan Arga?

Dia cuma ingin dunia berhenti mirip komik sebentar saja.


END OF CHAPTER 4