Jumat, 02 Januari 2026

Jangan Jatuh Cinta #3

*CHAPTER 3

Kabur Adalah Solusi (Menurut Arga)**

Arga mulai sadar:
sumpah anti-cinta itu tidak berfungsi di lingkungan sekolah.

Lebih tepatnya, tidak berfungsi kalau dia tetap jadi dirinya sendiri.

Dan masalah terbesar Arga adalah:
dia nggak bisa pura-pura jadi orang jahat.


Operasi: Hidup Biasa yang Gagal Total

Pagi itu, Arga berangkat dengan rencana matang.

“Hari ini aku akan:

  1. Tidak banyak bicara

  2. Tidak terlalu peduli

  3. Tidak memikirkan siapa pun”

Begitu sampai kelas…

Rani menyapanya duluan.

“Pagi, Arga!”

Arga kaget setengah mati.

“Pa—pagi.”

Nada suaranya terlalu lembut.
Itu kesalahan pertama.

Rani duduk agak dekat dari biasanya.

“Kamu kelihatan capek. Tidur jam berapa?”

Arga refleks jujur.

“Sekitar jam satu.”

Rani membulatkan mata.

“Hah? Kenapa?”

Arga hampir menjawab ‘karena mikirin hidup’, tapi cepat mengubahnya.

“Belajar.”

Rani tersenyum.

“Rajin banget.”

Dalam kepala Arga:

“KENAPA SEMUA KALIMAT BISA KEDENGERAN ROMANTIS.”


Guru, Kelompok, dan Kutukan Duduk Bareng

Guru Bahasa Indonesia masuk.

“Hari ini kita kerja kelompok. Empat orang per kelompok.”

Arga menelan ludah.

Guru menunjuk secara acak.

“Arga… Rani… Maya… Naya.”

Hening.

Suara bangku digeser terdengar kayak efek suara film horor.

Arga berdiri pelan.

“Bu… apa tidak bisa—”

“Tidak,” potong guru. “Sudah pas.”

PAS DARI MANA, BU. INI FORMASI AKHIR DUNIA.

Mereka duduk melingkar.

Rani langsung buka suara.

“Kita bagi tugas ya! Arga mau ngerjain bagian apa?”

Arga masih loading.

“E—eh…”

Maya menyela, tenang tapi menusuk.

“Arga cocok jadi ketua. Dia kelihatan bertanggung jawab.”

Arga tersedak udara.

“Aku nggak—”

Naya berbicara pelan.

“Kalau Arga nggak keberatan.”

Semua mata tertuju padanya.

Arga menyerah.

“…ya udah.”

Dalam hati:

“AKU TERJEBAK.”


Kejadian Kecil yang Jadi Besar di Kepala Arga

Saat diskusi, Naya menjatuhkan pulpennya.

Pulpen itu menggelinding… berhenti tepat di dekat kaki Arga.

Waktu melambat.

Arga mengambil pulpen itu.

Ujung jari mereka bersentuhan sebentar.

Sangat sebentar.

Tapi cukup.

Dalam kepala Arga:
panel komik muncul.
Teks besar:

“Detik di mana perasaan itu tumbuh.”

Flashback menyerbu.

Sekolah lama.
Sentuhan tangan.
Harapan palsu.
Kalimat “aku cuma nganggep kamu teman”.

Arga langsung menarik tangannya terlalu cepat.

Pulpen jatuh lagi.

“Eh—maaf,” katanya terlalu cepat.

Naya terlihat bingung.

“Nggak apa-apa.”

Rani melirik.
Maya memperhatikan.

Papan skor salah paham naik level.


Sudut Pandang Maya: Ini Menarik

Maya menyandarkan dagu ke tangan.

Dalam pikirannya:

“Dia gugup… tapi bukan karena bodoh. Karena peduli.”

Maya tidak suka hal yang setengah-setengah.

Dan Arga?
Dia penuh tanda tanya.

Maya tersenyum tipis.

“Kalau gitu, aku mau lihat sejauh apa dia kabur.”


Arga Mulai Menghilang

Sejak hari itu, Arga mengubah pola hidupnya.

  • Datang tepat bel masuk

  • Pulang paling cepat

  • Istirahat di perpustakaan

  • Menghindari kantin

  • Menghindari semua orang yang punya potensi dialog

Rani merasa aneh.

“Kok Arga jarang kelihatan ya?”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Dia menghindar.”

Naya… tidak bertanya.

Dan justru itu yang bikin Arga makin kepikiran.


Perpustakaan: Tempat Aman yang Ditembus Kenyataan

Arga duduk di pojok perpustakaan, membuka komik.

Balon dialog di komik:

‘Kadang, menjauh bukan berarti tidak peduli.’

Arga menutup buku itu cepat-cepat.

“Kok pas sih…”

Tiba-tiba, kursi di depannya ditarik pelan.

“Boleh duduk?”

Arga mengangkat kepala.

Naya.

Jantungnya jatuh dari lantai dua.

“Oh… silakan.”

Naya duduk, membuka buku pelajaran.
Hening.

Nyaman.

Terlalu nyaman.

Naya akhirnya bicara.

“Kamu menghindar ya?”

Arga panik.

“Hah? Nggak kok.”

Naya menatapnya sebentar.

“Oh.”

Tidak menuduh.
Tidak memaksa.

Dan itu lebih berbahaya daripada interogasi.

Arga berdiri tiba-tiba.

“Aku… ke toilet.”

Padahal tidak.

Dia kabur.


Arga vs Dirinya Sendiri

Di lorong, Arga menempel ke dinding.

Napasnya cepat.

“Kenapa sih aku begini…”

Flashback konyol terakhir muncul:
dirinya dulu, percaya senyum.
percaya perhatian.
percaya komik.

Arga memejamkan mata.

“Aku nggak mau sakit lagi.”

Di belakangnya, Naya berdiri, melihat Arga pergi.

Pelan, dia bergumam:

“Atau… kamu cuma takut.”


END OF CHAPTER 3


Kamis, 01 Januari 2026

Jangan Jatuh Cinta #2



## **CHAPTER 2


Kebaikan yang Disalahartikan Semesta**


Arga baru sadar satu hal penting di sekolah barunya.


**Menjadi cowok baik itu capek.**


Bukan capek fisik.

Capek **mental**.


Karena setiap kali dia berbuat baik, semesta seperti mencatatnya di papan skor raksasa:


> **ARGA +1 POIN SALAH PAHAM**


---


### **Insiden Pulpen Berdarah-darah (Tidak Benar-Benar Berdarah)**


Jam pelajaran kedua, suasana kelas agak kacau.


Guru Matematika belum datang.

Anak-anak ribut.

Pulpen beterbangan kayak migrasi burung.


Tiba-tiba terdengar suara pelan dari samping Arga.


> “Eh… maaf…”


Arga menoleh.


Cewek berkuncir dua, senyumnya cerah banget. Namanya **Rani**.


> “Pulpen aku habis tintanya. Boleh pinjem punyamu sebentar?”


Dalam kepala Arga langsung muncul panel komik.


Cewek menunduk malu.

Cowok menyerahkan pulpen.

Tangan bersentuhan.

Bunga sakura gugur padahal ini Indonesia.


Arga menutup mata sebentar.


> “Fokus. Ini bukan komik.”


Dia menyerahkan pulpen dengan dua tangan, kayak lagi menyerahkan ijazah.


> “Ini… pakai aja.”


Rani tersenyum makin lebar.


> “Makasih ya, Arga. Kamu tuh perhatian banget.”


Arga kaku.


> “Oh… biasa aja kok.”


Dalam hati:


> *“BAHAYA. INI KALIMAT PEMBUKA.”*


---


### **Sudut Pandang Rani (Yang Terlalu Optimis)**


Bagi Rani, Arga itu misterius.


Cowok yang:


* nggak pamer,

* nggak sok jago,

* tapi selalu ada.


Rani membatin:


> *“Cowok baik kayak gini biasanya cuma ada di drama.”*


Dia melirik Arga diam-diam.

Arga sedang menatap buku, serius, alisnya sedikit berkerut.


Rani tersenyum sendiri.


> *“Fix. Dia tipe setia.”*


Sementara itu, Arga:


> *“Kenapa dia senyum sendiri? Apakah aku salah apa?”*


---


### **Datangnya Maya, Energi Saingan**


Saat istirahat, Arga menuju kantin.


Misinya sederhana:


> makan → selesai → hidup berlanjut.


Belum juga duduk, seseorang sudah menarik kursi di depannya.


> “Boleh duduk?”


Suaranya tenang. Tegas.


Itu **Maya**.


Rambutnya rapi. Tatapannya tajam. Auranya seperti ketua OSIS atau CEO startup.


Arga refleks berdiri setengah badan.


> “Oh—silakan.”


Maya duduk, membuka bekalnya dengan rapi.


> “Kamu Arga, ya?”


Arga mengangguk.


> “Iya.”


> “Aku Maya.”


Hening dua detik.


Maya menatap Arga lurus-lurus.


> “Aku perhatiin kamu.”


Arga hampir keselek bakwan.


> “Hah?”


Maya melanjutkan santai:


> “Kamu bantu Rani tadi. Dan beberapa orang lain.”


Arga tertawa kering.


> “Oh… itu… kebetulan aja.”


Maya menyipitkan mata.


> “Kamu selalu bilang ‘kebetulan’ kalau berbuat baik?”


Arga tidak tahu harus jawab apa.


Dalam hati:


> *“KENAPA DIA TERLIHAT SEPERTI TOKOH SAINGAN CINTA DI KOMIK.”*


---


### **Naya: Tenang yang Bikin Goyah**


Saat Arga berdiri hendak pergi, seseorang menepuk pelan lengannya.


> “Arga.”


Itu Naya.


Nada suaranya lembut. Tidak memaksa.


> “Kamu ketinggalan penghapus.”


Dia menyerahkan penghapus kecil berwarna biru.


Arga menerimanya, jantungnya aneh.


> “Oh… makasih.”


Naya mengangguk.


> “Sama-sama.”


Tidak ada senyum berlebihan.

Tidak ada tatapan aneh.

Tidak ada kalimat *kamu baik banget*.


Dan justru itu… **bahaya**.


Arga menatap penghapus itu lama.


Dalam kepala muncul panel komik:

cowok menyimpan benda kecil pemberian cewek.


Arga langsung menggeleng kuat-kuat.


> “Stop. Stop. STOP.”


---


### **Flashback Konyol: Efek Salah Tafsir**


Penghapus biru itu memicu memori.


Flashback: sekolah lama.


Cewek lain memberikan permen.


> “Ini buat kamu.”


Arga menyimpannya di saku sepanjang hari.


Besoknya:


> “Eh, itu permen buat Dimas. Kamu jangan GR.”


Kamera imajiner zoom ke wajah Arga.

Tulisan besar:


> **JANGAN GR**


Arga kembali ke masa kini.

Menghela napas panjang.


> “Tenang. Ini cuma penghapus.”


---


### **Papan Skor Salah Paham Bertambah**


Sore hari, Arga pulang.


Dia membuka tas.

Komik romantis mengintip dari map.


Arga bergumam:


> “Hari kedua aja udah gini. Gimana sebulan?”


Di sisi lain kelas:


* Rani cerita ke temannya,


  > “Dia perhatian banget sama aku.”

* Maya berpikir,


  > “Cowok itu menarik. Dan aku nggak suka kalah.”

* Naya… hanya membaca buku, sambil sesekali menatap penghapus biru yang sama.


Dan Arga?


Dia duduk di kamar, membaca komik, lalu mendesah.


> “Kenapa dunia nyata makin mirip komik sih…”


---


**END OF CHAPTER 2**



Rabu, 31 Desember 2025

Jangan Jatuh Cinta! #1


## **CHAPTER 1


Cowok Biasa, Rahasia yang Tidak Keren**


Nama cowok itu **Arga Pradana**.


Kalau Arga berdiri di barisan cowok SMA, dia akan berada di posisi paling “iya, dia ada”.

Bukan yang paling ganteng.

Bukan yang paling jelek.

Tampangnya tipe yang kalau absen, guru harus mikir dua detik.


“Arga mana ya… yang rambutnya gitu?”


Rambutnya *gitu* juga nggak jelas gimananya.


Tapi Arga punya satu kelebihan fatal: **dia baik hati**.

Dan satu kelemahan super mematikan: **dia gampang baper**.


Gabungan ini ibarat menu combo diskon:


> *Gratis sakit hati berkali-kali.*


---


### **Rahasia Gelap di Dalam Tas**


Pagi itu, sebelum berangkat ke sekolah barunya, Arga duduk di kasur sambil menatap tasnya.


Di dalam tas itu ada buku tulis.

Ada pulpen.

Ada penghapus.

Dan ada sesuatu yang **harus disembunyikan dari dunia cowok-cowokan**.


Arga membuka resleting pelan-pelan, seperti sedang membuka peti harta karun… atau bom.


Di dalamnya ada **komik romantis**.


Judulnya:


> *“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk”*


Sampulnya warna pastel.

Ada gambar cowok dan cewek saling tatap, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran dunia nyata.


Arga menghela napas.


“Kenapa sih aku cowok tapi sukanya ginian…” gumamnya.


Dia mengambil komik itu, membukanya sebentar.


Balon dialog di komik:


> *‘Kalau ini kenyataan, aku akan menggenggam tanganmu.’*


Arga langsung menutupnya.


“STOP. Jangan kebawa perasaan. Ini jam tujuh pagi. Ini dunia nyata.”


Dia memasukkan komik itu ke dalam map cokelat polos, lalu ke dalam tas.


Sambil menepuk tasnya, Arga berkata dengan suara pelan tapi serius:


> “Tenang. Kita aman. Nggak ada yang tahu.”


Tas itu diam.

Tapi trauma Arga tidak.


---


### **Flashback yang Datang Tanpa Undangan**


Begitu Arga melangkah keluar rumah, pikirannya tiba-tiba ditarik ke masa lalu.


Sekolah lama.

Koridor panjang.

Seorang cewek berdiri di depannya.


Flashback itu muncul **tanpa permisi**, seperti iklan pop-up.


Cewek itu tersenyum manis.


> “Arga, kamu tuh baik banget, ya.”


Jantung Arga versi masa lalu langsung jungkir balik.


Dalam pikirannya:


> *“BAIK = BERARTI. BERARTI = SUKA. SUKA = PACARAN.”*


Arga tersenyum kikuk.


> “Hehe… makasih.”


Cewek itu mencondongkan badan, suaranya diturunkan.


> “Eh… kamu kenal Dimas, kan?”


Arga mengangguk. Dimas adalah sahabatnya. Ganteng. Tinggi. Hidupnya kayak iklan sampo.


> “Kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”


*BRUK.*


Hati Arga jatuh.

Mentalnya ikut nyemplung.


Flashback freeze.


Narator imajiner di kepala Arga:


> *“Dan di situlah, Arga belajar… jangan GR dulu.”*


Flashback lain menyusul.

Cewek lain.

Kalimat lain.

Akhirnya sama.


“Arga, kamu enak diajak curhat.”

“Arga, kamu tuh kayak kakak.”

“Arga, kamu baik… tapi…”


Kata *tapi* itu lebih tajam dari pisau dapur.


---


### **Sumpah di Gerbang Sekolah Baru**


Gerbang **SMA Harapan Bangsa** berdiri di depan Arga.


Gedungnya tinggi.

Muralnya cerah.

Aura “awal baru”-nya kental banget.


Arga berhenti sejenak.


Menarik napas.


Lalu berbicara pada dirinya sendiri seperti karakter utama film yang mau memulai hidup baru.


> “Oke, Arga. Dengerin gue.”


Dia mengangkat satu jari.


> “Di sekolah ini, lo **nggak boleh jatuh cinta**.”


Jari kedua.


> “Lo **nggak boleh baper**.”


Jari ketiga.


> “Lo **nggak boleh salah tafsir kebaikan orang**.”


Dia menatap lurus ke depan.


> “Lo cuma mau hidup normal. Masuk kelas. Pulang. Tamat.”


Hening.


Lalu Arga nambah pelan:


> “Dan baca komik romantis… **diam-diam**.”


Angin berhembus.

Bendera sekolah berkibar.

Semesta seolah tertawa kecil.


---


### **Hari Pertama yang Sudah Terlihat Mencurigakan**


Begitu masuk kelas, Arga langsung memilih bangku strategis:

tengah-tengah, tidak depan, tidak belakang.


“Posisi aman,” gumamnya.


Guru masuk.

Absen berjalan.


Saat istirahat pertama, seorang cewek menjatuhkan bukunya tepat di dekat kaki Arga.


Buku-buku itu berserakan.


Cewek itu panik.


> “Aduh—”


Refleks Arga bekerja lebih cepat dari logika.


Dia jongkok.


> “Eh, sini aku bantuin.”


Dia mengumpulkan buku satu per satu, menyerahkannya dengan rapi.


Cewek itu tersenyum.


> “Makasih ya. Kamu baik banget.”


Arga membeku.


Kata-kata itu **terlalu familiar**.


Dalam kepala Arga:


> *“JANGAN KE-GE-ER. JANGAN.”*


Dia tertawa kecil.


> “Oh… hehe… sama-sama.”


Cewek itu pergi.


Arga duduk kembali, menepuk dadanya sendiri.


> “Aman. Aman. Belum apa-apa.”


Dari bangku dekat jendela, seorang cewek lain memperhatikan Arga diam-diam.


Namanya **Naya**.


Dia tidak tersenyum berlebihan.

Tidak heboh.

Hanya menatap sebentar… lalu kembali membaca buku.


Dan entah kenapa, Arga merasa **tidak nyaman**.


Bukan tidak nyaman karena risih.


Tapi karena…

**terlalu tenang**.


Arga menelan ludah.


> “Nggak. Jangan. Ini baru hari pertama.”


Di dalam tasnya, komik romantis seakan bergetar pelan.


---


**END OF CHAPTER 1**



Petualangan Akira dan Kenzo: Rahasia Hutan Angin

Pagi itu, matahari bersinar cerah di halaman rumah Akira dan Kenzo. Burung-burung berkicau, dan angin berembus pelan membawa aroma rumput basah. Namun, suasana damai itu tidak berlangsung lama.


“Aku duluan!” teriak Akira, anak laki-laki berusia sembilan tahun, sambil berlari menuju sepeda birunya.


“Tidak bisa! Itu sepedaku hari ini!” balas Kenzo, adiknya yang berusia enam tahun, dengan wajah cemberut dan tangan menyilang di dada.


“Sepedamu yang kecil itu di sana,” kata Akira sambil menunjuk sepeda merah yang rodanya masih memakai roda bantu.


“Aku sudah besar!” Kenzo menendang kerikil kecil di tanah. Tok! Tok!


Ibu yang sedang menyiram tanaman menoleh dan tersenyum tipis. “Kalian berdua, berhenti bertengkar. Kalau terus ribut, nanti ibu suruh bereskan loteng.”


Akira dan Kenzo saling pandang. Loteng rumah mereka terkenal berdebu dan penuh barang lama. Tidak ada yang ingin ke sana.


“Baik, Bu,” jawab mereka hampir bersamaan.


Beberapa saat kemudian, karena bosan dan masih kesal satu sama lain, Akira punya ide. “Kenzo, daripada kita diam saja, bagaimana kalau… kita ke loteng?”


Kenzo membelalakkan mata. “Ke loteng? Bukannya itu menakutkan?”


“Justru seru,” kata Akira sambil tersenyum percaya diri. “Siapa tahu ada harta karun.”


Kenzo berpikir sejenak. Kata harta karun terdengar sangat menarik. Ia pun mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi kamu duluan.”


Mereka menaiki tangga kayu menuju loteng. Kriet… kriet… suara tangga berbunyi setiap kali diinjak. Debu beterbangan ketika Akira membuka pintu kecil di atas.


“Wah, gelap sekali,” gumam Kenzo sambil memegang baju kakaknya.


Akira menyalakan senter. Cahaya kecil itu menyingkap tumpukan kardus, koper tua, dan lemari kayu yang catnya sudah mengelupas.


“Ayo cari sesuatu,” kata Akira.


Kenzo mengangguk, lalu tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak kayu kecil. Bruk! Kotak itu jatuh dan terbuka. Di dalamnya ada selembar kertas tua yang terlipat rapi.


“Apa itu?” tanya Kenzo penasaran.


Akira mengambil kertas itu dengan hati-hati. “Seperti… peta.”


Mereka membentangkan kertas tersebut. Di sana tergambar gambar hutan, sungai kecil, dan sebuah tanda berbentuk bintang. Di pojoknya tertulis dengan huruf rapi:

Hutan Angin.”


“Hutan Angin itu di mana?” tanya Kenzo.


Akira mengingat-ingat. “Sepertinya dekat desa kita. Kakek pernah bercerita tentang hutan itu.”


Tiba-tiba, angin bertiup dari jendela kecil loteng, membuat peta itu berkibar pelan. Kenzo merinding.


“Akira… bagaimana kalau peta ini benar?” bisiknya.


Akira tersenyum, matanya berbinar. “Kalau benar, berarti ada petualangan menunggu kita.”


“Tapi… kalau berbahaya?”


“Kita bisa melakukannya bersama,” jawab Akira yakin.


Kenzo menatap kakaknya. Ia masih sering bertengkar dengan Akira, tetapi kali ini ia merasa sedikit berani. “Baik. Tapi kalau aku takut, kamu harus melindungiku.”


Akira mengangguk. “Setuju.”


Pagi berikutnya, Akira dan Kenzo bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul, dan cahaya lembutnya masuk melalui jendela kamar mereka. Di bawah bantal Akira, peta Hutan Angin tersimpan rapi.


“Kenzo, bangun,” bisik Akira sambil menggoyang bahu adiknya.


Kenzo mengucek mata. “Masih pagi sekali…”


“Petualangan tidak menunggu orang yang malas,” jawab Akira dengan nada serius, menirukan gaya pahlawan dalam buku cerita.


Kenzo langsung duduk. “Benar! Aku siap!”


Mereka mengenakan pakaian yang nyaman. Akira membawa tas kecil berisi botol minum, roti, dan senter. Kenzo membawa topi favoritnya, meski topi itu kebesaran dan sering menutup matanya.


Setelah berpamitan kepada ibu dengan alasan ingin bermain di dekat rumah, mereka berjalan menyusuri jalan setapak di belakang desa. Jalan itu jarang dilewati orang. Rumput liar tumbuh di kanan kiri, dan pepohonan mulai tampak semakin rapat.


“Akira, kita sudah jauh belum?” tanya Kenzo sambil terengah-engah.


“Baru sedikit,” jawab Akira. “Lihat peta ini. Kita harus mengikuti aliran sungai kecil.”


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara gemericik air. Sebuah sungai jernih mengalir pelan di depan mereka. Di atas batu besar, ada tanda yang sama seperti di peta.


“Itu tandanya!” seru Kenzo gembira.


Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama. Untuk menyeberang, mereka harus melewati batang kayu yang sempit.


“Aku duluan,” kata Akira.


“Tidak! Aku juga mau duluan!” Kenzo maju ke depan.


“Kamu bisa jatuh!”


“Aku bisa!” Kenzo membalas sambil menginjak batang kayu itu.


Plup!


Kenzo hampir terpeleset. Akira cepat-cepat menarik tangannya.


“Kenzo! Sudah kubilang,” kata Akira dengan suara sedikit tinggi.


Kenzo menunduk. “Maaf…”


Akira menarik napas dan mengusap kepala adiknya. “Tidak apa-apa. Kita harus saling membantu.”


Mereka pun menyeberang dengan hati-hati, kali ini bersama-sama. Setelah itu, suasana berubah. Udara terasa lebih sejuk, dan angin berdesir lembut di antara pepohonan.


“Inikah Hutan Angin?” tanya Kenzo pelan.


Akira mengangguk. “Sepertinya iya.”


Daun-daun bergoyang meski tidak ada angin kencang. Bunyi whoosh terdengar seperti bisikan. Kenzo merapat ke sisi Akira.


“Aku tidak suka suara itu…”


“Tenang. Kita tetap bersama,” jawab Akira, meski sebenarnya ia juga merasa sedikit gugup.


Mereka melangkah lebih dalam hingga menemukan sebuah papan kayu tua bertuliskan:

“Siapa yang masuk harus berani dan jujur.”


Kenzo membaca pelan. “Berani dan jujur… maksudnya apa?”


Sebelum Akira sempat menjawab, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar di udara, dan tiba-tiba… peta di tangan Akira bersinar lembut.


“Akira…” bisik Kenzo.


“Sepertinya… petualangan kita benar-benar dimulai,” jawab Akira sambil menggenggam peta itu erat.


Di depan mereka, jalan bercabang dua. Satu tampak terang, satu lagi gelap dan penuh semak.


Kenzo menelan ludah. “Kita pilih yang mana?”


Akira menarik napas dalam-dalam sambil menatap dua jalan di hadapannya. Jalan yang terang terlihat aman, dengan tanah rata dan sinar matahari yang menembus pepohonan. Jalan yang gelap dipenuhi semak dan bayangan, seolah menyimpan banyak rahasia.


“Kita lewat yang terang saja,” kata Kenzo cepat. “Yang itu kelihatan menakutkan.”


Akira ragu sejenak. Ia membuka kembali peta tua itu. Anehnya, tanda bintang di peta justru mengarah ke jalan yang gelap.


“Kenzo,” kata Akira pelan, “peta ini menunjukkan jalan yang gelap.”


Kenzo membelalakkan mata. “Hah? Tapi aku takut…”


Akira berjongkok agar sejajar dengan adiknya. “Aku juga sedikit takut. Tapi kita kan bersama. Kalau kita ingin tahu rahasianya, kita harus berani.”


Kenzo terdiam. Angin berbisik pelan di antara daun-daun, seolah ikut mendengarkan. Akhirnya, Kenzo mengangguk kecil. “Baik… tapi kamu jangan meninggalkanku.”


“Tidak akan,” jawab Akira mantap.


Mereka pun melangkah ke jalan gelap. Semak-semak menyentuh kaki mereka, dan suara angin terdengar seperti bisikan pelan. Whoosh… whoosh…


“Apa hutan ini bisa bicara?” bisik Kenzo.


Akira hampir tertawa, tapi menahannya. “Mungkin itu hanya angin.”


Namun tiba-tiba, mereka mendengar suara krek! dari belakang. Kenzo menjerit kecil dan bersembunyi di balik Akira.


“Itu pasti monster!” katanya panik.


Akira menoleh cepat. Dari balik semak, muncul seekor rusa kecil. Matanya besar dan tampak terkejut.


“Oh… cuma rusa,” kata Akira lega.


Kenzo menghela napas panjang. “Aku kira… ah sudahlah.”


Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah lapangan kecil. Di tengahnya berdiri batu besar berbentuk lingkaran. Di atas batu itu terukir tulisan:


“Keberanian bukan berarti tidak takut,

tetapi tetap melangkah meski takut.”


Kenzo membaca tulisan itu dengan suara lirih. “Berarti… aku berani juga ya, Kak?”


Akira tersenyum. “Iya. Kamu sangat berani.”


Tiba-tiba, angin bertiup lebih kencang. Daun-daun berputar mengelilingi batu. Dari tengah pusaran angin, terdengar suara lembut.


“Kalian telah memilih dengan hati yang jujur.”


Kenzo memegang tangan Akira erat-erat. “Akira… ada yang bicara!”


“Tenang,” jawab Akira, meski jantungnya berdebar. “Kita dengarkan.”


“Namun perjalanan belum selesai,” lanjut suara itu. “Kalian harus belajar satu hal lagi: bekerja sama.”


Angin berhenti. Di hadapan mereka muncul jalan sempit yang harus dilalui bersama. Di kiri kanan terdapat parit kecil berisi air.


“Kita tidak bisa lewat sendirian,” kata Kenzo.


Akira mengangguk. “Kita harus saling membantu.”


Mereka berjalan perlahan, saling berpegangan tangan. Beberapa kali Kenzo hampir terpeleset, dan Akira segera menahannya. Saat Akira kehilangan keseimbangan, Kenzo justru yang menariknya.


“Aku kuat juga, kan?” kata Kenzo dengan bangga.


“Iya,” jawab Akira sambil tertawa kecil. “Ternyata kamu bisa menolongku.”


Akhirnya, mereka sampai di ujung jalan. Di sana, peta kembali bersinar lebih terang dari sebelumnya. Tanda bintang kini tampak sangat dekat.


Kenzo menatap ke depan dengan mata berbinar. “Kak… sepertinya tujuan kita sudah dekat.”


Akira mengangguk. “Satu langkah lagi.”


Akira dan Kenzo melangkah perlahan mengikuti cahaya dari peta. Cahaya itu membawa mereka ke sebuah tempat yang sangat tenang. Pepohonan di sekeliling tampak lebih tinggi dan rapi, seolah menjaga sesuatu yang berharga. Angin berembus lembut, tidak lagi berbisik, melainkan terasa seperti menyapa.


Di tengah tempat itu berdiri sebuah pohon besar dengan batang kokoh dan daun yang selalu bergerak pelan, meski udara tampak diam. Akar-akarnya menjalar seperti tangan yang kuat namun ramah.


“Ini pasti tempatnya,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk. “Pohon itu… seperti hidup.”


Mereka mendekat. Di batang pohon, terdapat ukiran berbentuk bintang—sama persis dengan tanda di peta. Di bawahnya tertulis:


“Harta terbesar bukanlah yang dapat disimpan,

melainkan yang dapat dijaga bersama.”


Kenzo mengernyitkan dahi. “Di mana hartanya, Kak? Tidak ada emas.”


Akira juga bingung. Ia menoleh ke sekeliling. Tidak ada peti, tidak ada benda berkilau. Hanya pohon besar, angin, dan keheningan.


Tiba-tiba, angin berhembus lebih kuat, namun terasa hangat. Suara lembut yang pernah mereka dengar kembali terdengar.


“Kalian telah sampai,” kata suara itu. “Apakah kalian tahu mengapa Hutan Angin memilih kalian?”


Kenzo menelan ludah. “Karena… kami berani?”


“Dan karena kalian belajar bekerja sama,” tambah Akira.


Suara itu terdengar seperti tersenyum. “Benar. Namun ada satu hal lagi.”


Angin berputar lembut mengelilingi mereka. Kenzo tanpa sadar memegang tangan Akira. Untuk pertama kalinya hari itu, mereka tidak bertengkar sama sekali.


“Kalian sering bertengkar,” lanjut suara itu, “tetapi kalian selalu kembali bersama. Hutan Angin menjaga anak-anak yang mau belajar saling memahami.”


Akira terdiam. Ia teringat semua pertengkaran kecil dengan Kenzo—tentang sepeda, mainan, dan hal-hal sepele.


“Maafkan aku, Kenzo,” kata Akira tiba-tiba. “Aku sering merasa paling benar.”


Kenzo menatap kakaknya, lalu tersenyum kecil. “Aku juga sering keras kepala. Tapi… aku senang punya Kakak.”


Angin berhenti berputar. Daun-daun di pohon besar itu jatuh satu per satu, lalu berubah menjadi cahaya kecil yang hangat. Cahaya itu menyelimuti Akira dan Kenzo, membuat hati mereka terasa ringan.


“Ini adalah harta Hutan Angin,” kata suara itu perlahan. “Keberanian, kerja sama, dan kasih sayang.”


Cahaya meredup. Peta di tangan Akira berubah menjadi kertas kosong.


“Hah? Petanya hilang!” seru Kenzo.


Akira tersenyum. “Sepertinya kita sudah tidak membutuhkannya lagi.”


Mereka berjalan pulang menyusuri jalan yang terasa lebih singkat dari sebelumnya. Ketika keluar dari hutan, matahari sudah mulai condong ke barat.


“Akira,” kata Kenzo sambil melangkah di samping kakaknya, “kalau besok kita bertengkar lagi…”


Akira tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Yang penting, kita ingat hari ini.”


Mereka pulang dengan langkah ringan dan hati yang hangat. Hutan Angin kembali sunyi, menyimpan rahasianya, menunggu anak-anak lain yang siap belajar tentang arti petualangan yang sesungguhnya.


Tamat. 🌿✨

Akira & Kenzo - Robot Penjaga Galaksi




Akira berusia 9 tahun dan merasa dirinya sudah sangat dewasa.

Menurut Akira, umur 9 itu artinya:


boleh sok jago,


boleh banyak tahu,


dan tidak perlu mendengarkan adik.


Kenzo berusia 6 tahun dan yakin satu hal:

kakaknya itu nyebelin.


Pagi itu, Akira sedang serius menyusun robot dari balok-balok mainan di ruang tengah.


“JANGAN DIPEGANG,” kata Akira tegas sambil jongkok.


Kenzo yang duduk di sebelahnya mengangguk…

lalu menyentuhnya sedikit.


“Kenzo!”

“Cuma dikit.”

“DIKIT ITU MERUSAK KESEIMBANGAN ROBOT!”


Robot balok itu akhirnya roboh dengan bunyi prak!


Kenzo terdiam.

Akira menutup wajahnya.


“Itu robot penjaga galaksi,” kata Akira sedih.

“Galaksi apa?” tanya Kenzo.

“Galaksi… ya galaksi!”


Kenzo berpikir sebentar, lalu berkata pelan,

“Kalau roboh, berarti galaksinya kalah ya?”


Akira berdiri.

“Itu bukan kalah. Itu—”


Belum sempat selesai, Kenzo sudah tertawa keras.


Akira mengejar Kenzo mengelilingi rumah.

Mereka berlari, teriak, hampir menabrak sofa, dan akhirnya ditegur ibu.


“Akira, Kenzo! Jangan ribut!”


Keduanya langsung diam.

Akira duduk di sofa dengan tangan menyilang.

Kenzo duduk di lantai sambil manyun.


Beberapa menit kemudian, listrik tiba-tiba mati.


Rumah jadi agak gelap dan sunyi.


Kenzo mendekat ke Akira tanpa bilang apa-apa.

Akira melirik… lalu tidak menjauh.


“Kalau gelap gini,” kata Kenzo pelan,

“robot penjaga galaksi masih kerja nggak?”


Akira terdiam sebentar.

“Masih,” jawabnya.

“Tapi… butuh asisten.”


Kenzo tersenyum kecil.


Dan untuk pertama kalinya hari itu,

mereka tidak bertengkar selama lima menit penuh.


Listrik sudah menyala kembali, tapi suasana rumah masih terasa sepi.

Ibu sedang di dapur, ayah di kamar kerja.


Akira menatap robot baloknya yang roboh.

Kenzo duduk di sampingnya, memegang satu balok merah.


“Kalau kita bikin lagi,” kata Kenzo hati-hati,

“aku nggak sentuh yang penting.”


Akira menghela napas seperti orang dewasa yang sangat sabar.

“Baik. Tapi kamu cuma pegang balok merah.”


Kenzo mengangguk kuat-kuat.


Mereka menyusun bersama.

Ajaibnya, robot itu berdiri lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ini namanya Robot Penjaga Galaksi Super,” kata Akira bangga.

“Kenapa super?”

“Karena ada balok merah.”


Kenzo tersenyum lebar.


Tiba-tiba terdengar suara bruk dari kamar mereka.


Kenzo langsung memegang tangan Akira.

“Suara apa itu?”


Akira menelan ludah.

“Paling… angin.”


Padahal jendela tertutup.


Sebagai kakak, Akira tahu satu hal:

kalau dia takut, dia nggak boleh kelihatan takut.


“Misi rahasia,” katanya.

“Kita cek bersama.”


Mereka berjalan pelan ke kamar.

Lampu kamar menyala, tapi tidak ada siapa-siapa.


Kenzo menunjuk ke bawah tempat tidur.

“Ada bayangan…”


Akira jongkok perlahan dan mengintip.


Ternyata…

bola karet Kenzo yang menggelinding sendiri karena kipas angin.


Kenzo tertawa keras.

Akira ikut tertawa, meski pipinya agak merah.


“Ternyata bukan monster,” kata Kenzo.

“Monster itu nggak pakai bola,” jawab Akira.


Mereka duduk di lantai kamar, bersandar di tempat tidur.


“Kalau aku takut,” kata Kenzo pelan,

“aku pegangan kakak ya.”


Akira terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Iya. Tapi jangan bilang siapa-siapa.”


Kenzo tersenyum.


Dari balik pintu, ibu memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.


Hari itu, Akira dan Kenzo belajar satu hal penting,

meski mereka belum tahu namanya:


bertengkar itu biasa,

tapi saling jaga itu lebih penting.


Pagi itu terasa aneh bagi Akira.


Rumah terlalu sepi.


Biasanya ada suara Kenzo:


menyanyi lagu yang salah lirik,


menjatuhkan sendok,


atau berteriak minta ditemani ke kamar mandi.


Tapi pagi ini… tidak ada.


“Ibu,” tanya Akira sambil mengenakan sandal,

“Kenzo ke mana?”


Ibu menjawab dari dapur,

“Kenzo ikut Tante Mira sebentar. Nanti sore pulang.”


Akira mengangguk.

Harusnya dia senang.

Tidak ada yang mengganggu.

Tidak ada yang rebut mainan.


Tapi…

kenapa dadanya terasa kosong?


Akira bermain sendiri.

Menyusun robot.

Membaca buku.


Semua terasa tidak seru.


Robotnya berdiri tegak, tapi Akira tidak tersenyum.

Biasanya Kenzo yang bertepuk tangan dan berkata,

“Wah, hebat!”


Siang hari, Akira duduk di bawah meja makan.

Itu tempat rahasia mereka.


Akira baru sadar:

tempat itu terasa terlalu besar kalau sendirian.


Sore pun datang.


Akira duduk di dekat pintu, pura-pura mengikat tali sepatu…

padahal menunggu.


Akhirnya terdengar suara pintu terbuka.


“AKIRAAA!”


Kenzo berlari dan langsung memeluk kakaknya.


Akira kaget…

lalu memeluk balik.


“Jangan lama-lama pergi lagi,” kata Akira pelan.


Kenzo mengangguk.

“Kalau pergi, aku bawain oleh-oleh.”


Mereka tertawa.


Malam itu, Akira membagi robot penjaga galaksi menjadi dua.


“Yang ini punyamu,” katanya.

“Yang itu punyaku.”


Kenzo memandang kakaknya heran.

“Kenapa dibagi?”


Akira tersenyum kecil.

“Supaya galaksinya aman.”


Dan sejak hari itu,

Akira dan Kenzo masih sering bertengkar…


Tapi mereka juga tahu,

mereka adalah satu tim.


🌟 Tamat



Rabu, 06 Agustus 2025

Soal Matematika BTD Pakai Bar Model




Soal:

1. Harga Tack Shooter lebih mahal $300 daripada Dart Monkey. Jika Dart Monkey $250, berapa harga Tack Shooter?

2. Harga 2 Ninja Monkey dan 1 Sniper Monkey totalnya $1.400. Jika Ninja Monkey $500, berapa harga Sniper Monkey?

3. Harga Wizard Monkey dan Alchemist totalnya $1.000. Jika Alchemist lebih mahal $200, berapa harga masing-masing?

4. Harga 2 Boomerang Monkey sama dengan harga 1 Spike Factory. Jika Boomerang Monkey $600, berapa harga Spike Factory?

5. Harga Ice Monkey dan Tack Shooter totalnya $1.400. Tack Shooter lebih mahal $200 dari Ice Monkey. Berapa harga masing-masing?

6. Upgrade Apache Dartship dan Stronger Stimulant totalnya $16.000. Apache Dartship lebih mahal $14.000. Berapa harga masing-masing upgrade?

7. Harga 3 Dart Monkey dan 2 Sniper Monkey totalnya $1.500. Jika Dart Monkey $200, berapa harga Sniper Monkey?

8. Harga Banana Farm lebih mahal 3× harga Ice Monkey. Jika total keduanya $2.000, berapa harga masing-masing?

9. Harga Alchemist dan Druid totalnya $1.800. Alchemist lebih mahal $400 dari Druid. Berapa harga masing-masing?

10. Harga 2 Wizard Monkey dan 3 Ninja Monkey totalnya $3.300. Jika Ninja Monkey $700, berapa harga Wizard Monkey?


Kunci Jawaban:

  1. Tack Shooter = $550
  2. Sniper Monkey = $400
  3. Wizard = $400, Alchemist = $600
  4. Spike Factory = $1.200
  5. Ice = $600, Tack Shooter = $800
  6. Apache = $15.000, Stronger = $1.000
  7. Sniper Monkey = $450
  8. Ice Monkey = $500, Banana Farm = $1.500
  9. Druid = $700, Alchemist = $1.100
  10. Wizard = $600


Rabu, 25 Juni 2025

Sora

 


Bab 1: Tatapan Pertama, Bukan Jatuh Cinta

Aku pertama kali melihat Sora di perpustakaan. Dia duduk diam, fokus membaca, tidak terganggu oleh siapa pun. Aku tidak langsung jatuh cinta. Aku justru penasaran-bagaimana bisa seseorang terlihat sekuat itut anpa harus berbicara banyak? Aku mencoba menyapa, tapi dia hanya menjawab seperlunya. Tapi justru di situlah awalnya. Aku tidak ingin mendekatinya, aku ingin menghormatinya.

Bab 2: Belajar Menghargai, Bukan Mengejar

Semakin aku mengenal Sora, aku sadar bahwa dia bukan seseorang yang bisa disentuh dengan rayuan. Diat idak butuh pujian, tidak butuh perhatian setengah hati. Maka aku belajar-untuk hadir tanpa mengganggu.

Aku bicara kalau penting. Aku bantu kalau diminta. Dan ketika aku menyadari perasaanku tumbuh, aku memilih pergi... untuk memperbaiki diri, bukan memaksakan hubungan.

Bab 3: Janji Diam-Diam

Saat aku pergi ke luar kota untuk pelatihan beasiswa, aku tidak bilang akan kembali untuknya. Tapi dalam hati, aku tahu: kalau aku pulang, aku akan datang bukan sebagai lelaki yang sama. Aku akan datang dengan niat, kesiapan, dan tekad untuk menjadi pemimpin yang bisa dia percaya.

Bab 4: Datang dengan Tangan Penuh

Dua tahun kemudian, aku kembali. Dia masih sama. Kuat, tenang, dan logis. Tapi aku tahu, dia juga lebih terbuka. Aku tidak membawa cincin saat itu. Aku membawa payung dan map berisi rencana hidup. Dan saat dia bilang, 'Datanglah ke rumahku, kita harus bicara panjang,' aku tahu... inilah waktunya.

Bab 5: Dia Bilang 'Sayang'

Menikah dengan Sora bukan kisah cinta dramatis. Tapi setiap hari bersamanya adalah pelajaran tentang bagaimana mencintai dengan cara yang dewasa. Hari pertama menikah dia ngajarin aku nyetrika. Hari ketiga kami adu siapa yang lebih rapi cuci piring. Dan hari ke-10... dia panggil aku 'sayang' sambil ketawa kecil.

Bukan romantis yang biasa, tapi itulah momen paling manis sepanjang hidupku.

-------

Bab 1: Mereka yang Tak Saling Cari

Sora dan Keisuke adalah dua orang yang sangat berbeda dari pasangan romantis di film. Mereka tidakp ernah pacaran, tidak suka basa-basi manis, dan punya prinsip masing-masing yang teguh. Tapi justru itulah yang mempertemukan mereka-bukan karena saling mencari, tapi karena sama-sama bertahan. Keisuke menghormati batasan Sora, dan Sora mulai membuka ruang bagi niat yang tidak asal datang.

Bab 2: Janji yang Diam-diam Ditepati

Ketika Keisuke pergi untuk melanjutkan studi, ia tidak berjanji untuk kembali membawa cinta, tapi membawa kesiapan. Dua tahun kemudian, ia kembali. Tidak untuk mengulang cerita lama, tapi untuk memulai yang baru. Sora tidak langsung menerima, tapi ia tidak lagi menolak. Karena kali ini, niat datang lebih dulu daripada rasa.

Bab 3: Rumah Kecil, Cinta Besar

Mereka menikah tanpa pernah saling 'nembak'. Rumah mereka kecil, tapi setiap tawa yang lahir di dalamnya terasa luas. Dari nyetrika gosong, masakan gagal, hingga kompetisi siapa paling cepat nyuci piring, semuanya jadi kenangan. Cinta mereka bukan tentang kata-kata manis, tapi kerja sama diam-diam yang saling menjaga satu sama lain.

Bab 4: Mita dan Cermin yang Jujur

Mita, sahabat Sora, awalnya bingung. Sora yang dulu dingin sekarang hangat. Tapi justru itulah yang membuatnya percaya, bahwa mungkin cinta tidak harus selalu bikin jantung deg-degan-kadang cinta adalah tempat kamu bisa jadi diri sendiri tanpa takut salah.

Bab 5: Jalan Pulang yang Sama

Ketika Sora dan Keisuke duduk di teras rumah sambil minum teh, mereka tahu: cinta bukan tentang memulai paling cepat. Tapi tentang siapa yang bertahan paling dalam. Dan Mita? Kini sedang menulis novel ini-bukan untuk bercerita soal orang lain, tapi untuk mengingat bahwa cinta logis pun bisa bikin hati meleleh.


----------

Bab 1: Aku Bukan Anti Cinta, Aku Anti Drama

Dulu, aku selalu dibilang dingin. Padahal aku cuma gak mau terjebak hubungan tanpa arah. Pacaran? Enggak. Aku percaya cinta itu harusnya serius dari awal. Makanya waktu Keisuke mulai muncul, aku gak langsung tertarik. Aku hanya memperhatikan. Dia beda, tapi aku tetap jaga jarak. Karena bukan dia yang pertama tertarik padaku... dan aku gak mau dia jadi yang pertama patah hati juga.

Bab 2: Batasan yang Menguji

Keisuke gak pernah maksa ngobrol. Dia hadir tanpa ganggu, bantu tanpa pamer. Itu aneh buatku-karena aku terbiasa dengan cowok yang sok ramah padahal cuma modus. Tapi Keisuke beda. Dan justru itu bikin aku bingung: kalau dia beneran tulus, kenapa aku takut berharap?

Bab 3: Saat Dia Pergi

Dia bilang mau lanjut studi. Aku kira dia akan pergi dan lupa. Tapi ternyata enggak. Dia pamit baik-baik. Gak janji akan kembali. Tapi cara dia pamit... bikin aku percaya. Kalau dia datang lagi, mungkin bukan sebagai teman biasa. Tapi sebagai seseorang yang siap ambil peran lebih besar di hidupku.

Bab 4: Waktu yang Ditunggu

Dua tahun berlalu. Aku berubah. Lebih terbuka, lebih berani bilang 'kangen' ke sahabatku, Mita. Dan tiba-tiba... dia muncul. Bawa payung. Bawa map. Bawa niat. Bukan rayuan. Aku gak langsung bilang iya. Tapi aku ajak dia ke rumah. Karena bicara serius soal hidup... tempatnya memang di rumah, bukan di kafe.

Bab 5: Aku Istrinya

Sekarang... aku bangun tiap pagi, bukan sebagai cewek anti pdkt lagi. Tapi sebagai istri. Dan suamiku? Orang yang dulu aku tolak-tolak diam-diam, sekarang malah aku suapin waktu dia sakit. Cinta itu bukan soal deg-degan tiap hari. Tapi tenang, paham, dan tumbuh sama-sama. Dan akhirnya... aku bisa bilang 'sayang' tanpa takut, karena aku tahu: dia datang bukan buat main-main.


Senin, 23 Juni 2025

Figuran di Dunia Inso's Law



Judul: Figuran di Dunia Inso's Law

Bab 1: Webtoon, Gombalan, dan Portal Tak Masuk Akal

“Galih,” kata Feni sambil mengangkat alis, “kamu sadar nggak sih, semua cowok di Inso’s Law itu kayak nyimpen mesin kabut buat bikin suasana dramatis?”

Galih duduk di sampingnya di sofa, berselimut selimut tipis, menatap layar tablet yang sedang memutar episode terbaru dari webtoon favorit Feni. “Itu fog machine batin, Fen. Aktif kalau hatinya berkabut.”

Feni mencibir. “Halah, sok puitis.”

Galih menatapnya sebentar, lalu berkata sambil menggigit roti sobek:
“Kalau kita masuk ke dunia kayak gini, kamu bakal langsung dikerubungin cowok ganteng semua.”

Feni mengangkat dagu. “Terus aku akan tolak mereka semua karena... aku udah nikah.”

Galih nyengir. “Dan karena kamu anti gombal?”

Feni menunjuk dia dengan telunjuknya. “Nah, itu. Makanya jangan coba-coba gombal.”

Galih pura-pura berpikir. “Berarti nggak boleh bilang ‘kalau aku figuran, kamu adalah seluruh naskahku’?”

Feni langsung melempar bantal ke mukanya.

“DASAR, GOMBAL HALUS!”

Tiba-tiba layar tablet mereka berkedip terang. Muncul tulisan:

[Error: Peran ganda terdeteksi.
Menyesuaikan jalur figuran.]

Galih memicingkan mata. “Eh? Ini efek baru?”

Seketika ruang tamu mereka bergetar. Angin berembus. Lampu kedap-kedip. Semuanya seperti...

Cut to black.


Bab 2: Selamat Datang di SMA Webtoon

Galih membuka mata pertama kali. Ia berdiri di depan gedung sekolah besar, modern, dengan langit sky blue dan efek kelopak bunga beterbangan. Seragam SMA Korea yang licin dan rapi menempel di tubuhnya.

Di sampingnya, Feni mengenakan seragam perempuan dengan pita merah muda dan ekspresi sangat tidak sabar.

“INI APAAN SIH?” Feni nyaris teriak. “Kita... beneran masuk ke webtoon ini?!”

Galih melihat sekeliling, lalu ke dirinya sendiri. “Aku... jadi siswa SMA lagi? Serius?”

Tiba-tiba muncullah panel transparan seperti hologram game RPG:

Nama: Galih
Peran: Figuran pendiam, suka duduk di balkon sekolah sambil membaca novel cinta dan memikirkan ending alternatif.
Kemampuan: Komentar nyeleneh yang bikin tokoh utama mikir ulang hidupnya.

Nama: Feni
Peran: Sahabat ekspresif tokoh utama perempuan.
Kemampuan: Cerita tanpa titik koma, anti gombal, tapi semua cowok penasaran.

Feni membaca deskripsinya dan langsung mengangkat alis. “Kenapa karakterku kayak influencer gagal yang hidup buat komentar?”

Galih menghela napas. “Ya mending daripada aku yang duduk sendirian di balkon dan jadi ‘pencetus momen perenungan tokoh utama.’”

Tiba-tiba tiga cowok super tampan lewat di lorong.
Yang satu dingin dan tajir.
Yang satu lucu dan ceria.
Yang satu sinis tapi secretly penyayang.

Dan seperti hukum Inso’s Law, mereka semua berhenti... untuk melihat seorang cewek manis dan lugu yang baru datang—tokoh utama.

“Gue beneran di semesta klise,” gumam Feni. “Tinggal tunggu adegan rebutan payung.”

Galih melirik Feni. “Menurutmu kalau aku lempar payung ke cowok-cowok itu, sistem bakal error?”

Feni menoleh cepat. “Jangan ganggu skenario. Kita di sini cuma figuran.”

Galih tersenyum kecil. “Tapi figuran juga bisa jatuh cinta... ulang.”

Feni mengernyit. “Jangan mulai.”

“Bukan gombal, serius. Maksudku... di dunia baru ini, kita bisa jatuh cinta lagi. Ngulang semuanya dari nol. Kayak re-run.”

Feni menatapnya. “Ya asal jangan pakai kata-kata kayak, ‘Kamu bukan tokoh utama, tapi kamu pusat semestaku.’”

Galih pura-pura kecewa. “Padahal aku udah nyiapin itu buat nanti malam.”

Feni melempar binder ke arahnya.


Bab 3: Klub Figuran dan Naskah yang Mulai Retak

Galih dan Feni akhirnya bergabung dalam “klub figuran” sekolah: ruang kecil di pojokan lantai 3, isinya siswa-siswa latar belakang yang sudah sadar bahwa mereka hidup di dunia webtoon.

Feni langsung akrab dengan semua anggota, mendebat soal plot dan nyinyir tentang logika dunia ini. Galih, di sisi lain, mulai membuat peta hubungan antar tokoh, lengkap dengan teori konspirasi bahwa tokoh utama sebenarnya punya AI yang ngatur jalan cerita.

Di tengah semua itu, perlahan mereka menyadari sesuatu yang aneh: sistem mulai berubah.
Dialog tokoh utama mulai terdengar kaku.
Adegan klasik mulai gagal—seperti tidak ada payung saat hujan, atau tokoh cowok utama lupa reaksi gombalnya.
Dan yang paling mencurigakan...

Tokoh utama cewek mulai sering curhat ke Feni.

Feni menatap Galih dengan serius, “Apa jangan-jangan aku... mulai jadi tokoh utama baru?”

Galih menyeringai. “Kalau iya, boleh dong aku naik pangkat dari figuran jadi love interest.”

Feni memelototinya. “SATU GOMBAL LAGI DAN GUE PILIH COWOK SINIS ITU BUAT NGGANTIKAN KAMU.”

Galih angkat tangan. “Oke. Tapi kamu tahu kan, cuma aku yang tahu kamu paling benci disuapin dari sisi kiri.”

Feni terdiam. Pipinya memerah.
“Bukan gombal, ya?”
“Fakta.”





Minggu, 15 Juni 2025

Suara yang Tertinggal - Chapter 1 — Hari Tanpa Dialog

Judul: "Suara yang Tertinggal"



Chapter 1 — Hari Tanpa Dialog

Tak ada yang benar-benar mengenalnya.

Bahkan orang-orang yang melewatinya setiap hari di halte bus, atau yang duduk bersisian dengannya saat makan siang di kantin kantor, hanya tahu bahwa namanya Arvin dan dia tidak bicara banyak. Atau malah, nyaris tidak pernah bicara sama sekali.

Dia datang tepat waktu. Dia mengangguk jika dipanggil. Dia mengerjakan tugas tanpa pernah bertanya. Tidak pernah protes. Tidak pernah mengeluh.

Tapi juga, tidak pernah benar-benar hadir.

Hari itu, hujan turun seperti biasa—datar dan malas. Arvin duduk di dalam bus kota dengan wajah menghadap jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di tangannya ada buku catatan yang selalu ia bawa, tapi tak banyak yang tahu, bukunya hampir penuh. Isinya bukan to-do list atau laporan kerja, tapi... dialog.

Dialog yang tidak pernah ia ucapkan.


"Maaf, aku sebenarnya ingin bilang bahwa desainmu kemarin sangat bagus."
"Apakah kamu juga sering merasa kesepian di ruangan penuh orang?"
"Bisakah kamu ajarkan caranya bicara... tanpa gemetar?"


Tiga kalimat itu ditulis pada halaman terakhir. Ia menatapnya sejenak, lalu menutup bukunya pelan. Di sisi kanan bus, pantulan wajahnya tampak di kaca: kurus, mata sayu, rambut sedikit acak. Seseorang yang bahkan tidak akan dikenali jika hilang selama seminggu.

Setibanya di kantor, seperti biasa, tak ada yang menyapanya. Semua sibuk dengan layar, obrolan, dan notifikasi. Di dunia itu, orang seperti Arvin tidak punya tempat.

Hingga saat makan siang, saat semua orang pergi dan ruang kerja sunyi, ia membuka laptopnya dan menemukan satu pesan misterius.


Dari: unknown@rekammasa.ai
Subjek: Apakah Kau Yakin Ini Waktu yang Kau Inginkan?

"Arvin, jika kau bisa kembali, apa yang akan kau ubah?
Klik link ini hanya jika kau benar-benar ingin bicara.
Waktu tidak suka orang yang ragu."


Ia tidak pernah merasa percaya pada hal aneh. Tapi hari itu, entah kenapa, tangannya bergerak sendiri. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.

Ia klik.

Layar menjadi putih. Bening. Sunyi. Lalu tiba-tiba, seperti gema yang pecah di telinga...

"Arvin..."

Suara itu—sangat familiar. Suara ibunya. Lembut. Penuh rindu. Tapi ia sudah lama tak mendengarnya. Lebih dari sepuluh tahun. Karena ibu meninggal ketika ia masih SMA.

Layar laptop meledak menjadi kilatan cahaya dan...


Ia terbangun.

Bukan di kantornya. Bukan di kamarnya.

Ia berada di dalam kelas. Seragam SMA menempel di tubuhnya. Di luar jendela, lonceng sekolah berdentang nyaring. Teman-teman sekelas masih muda, bersuara riuh. Dan di papan tulis tertulis tanggal yang membuat jantungnya membeku:

"Senin, 11 Maret 2013."


(Akhir Chapter 1)

Next: Chapter 2 – Tanggal yang Tak Pernah Terlupakan


Kelanjutannya dapat dilihat di: https://chatgpt.com/share/684fbd34-13c8-800b-9250-db3f9181db4d

Rabu, 19 Februari 2025

Pantun

 


#### **Pantun untuk Akira**  

1. Kelinci lompat ke dalam tas,  

   Malah nyangkut di dalam tali.  

   Akira anak yang cerdas,  

   Sopan santun tiada terjali.  


2. Main layangan di pinggir kali,  

   Talinya putus kena duri.  

   Akira selalu berbudi pekerti,  

   Baik hati dan murah hati.  


3. Makan bakso di pagi buta,  

   Kuahnya tumpah di atas meja.  

   Akira rajin baca cerita,  

   Ilmunya banyak luar biasa.  

Selasa, 18 Februari 2025

Petualangan di Photobooth



Suatu sore, Feni mengajak Galih berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin mencoba photobooth baru yang katanya bisa menghasilkan foto dengan efek ajaib.  

Senin, 25 November 2024

Low Healer: Mahasiswa yang Nyasar ke Dunia Isekai

 


Low Healer: Mahasiswa yang Nyasar ke Dunia Isekai


Chapter 1: Tersesat di Kampus

Ari adalah seorang mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kaki di universitas besar yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan lorong-lorong panjang. Hari pertama kuliah penuh dengan kebingungan. Semua orang tampak tahu ke mana mereka harus pergi, sedangkan Ari, yang masih baru, merasa seperti ikan di luar air. Ia harus menuju ruang kuliah untuk kelas pengantar jurusannya, tetapi setiap sudut kampus terasa asing dan membingungkan.

Setelah berputar-putar dan mengecek jadwalnya, Ari masih belum bisa menemukan ruang kelas yang tepat. Tiba-tiba, di ujung lorong yang sepi, ia melihat sebuah pintu yang agak mencurigakan dengan tulisan besar di atasnya: "Kelas Isekai." Pintu itu terlihat berbeda dari yang lain, dengan desain yang tidak biasa, seolah-olah itu bukan bagian dari kampus biasa. Ada aura misterius yang membuatnya penasaran.

Jumat, 15 November 2024

Pasutri Baru di Desa Konoha




**Bab 1: Dunia yang Tak Terduga**


Pagi itu, Galih terbangun dengan rasa bingung yang luar biasa. Matanya terbuka lebar, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kecil. Tubuhnya terasa berbeda—lebih ringan, lebih energik—dan ada sesuatu yang sangat tidak familiar dengan lingkungan sekitarnya. 


Dia mendapati dirinya berada di sebuah kamar kecil yang sederhana, yang bahkan lebih kecil daripada kamar tidurnya di rumah. Dengan cepat, Galih bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke cermin. Namun, yang dia lihat bukanlah wajah dirinya yang biasa. Yang ada di hadapannya adalah wajah seorang anak laki-laki dengan rambut pirang berantakan dan mata biru cerah yang sangat khas.

Rabu, 04 September 2024

Petualangan Akira dan Kenzo: Menyelamatkan Dunia Pokémon


Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah dua saudara, Akira dan Kenzo. Akira adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun yang penuh semangat, sementara adiknya, Kenzo, baru berumur 7 tahun tetapi sangat cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Mereka berdua sangat menyukai Pokémon dan sering bermimpi untuk menjadi pelatih Pokémon hebat suatu hari nanti.


Suatu hari, saat mereka bermain di hutan dekat desa, mereka menemukan sebuah gua yang sebelumnya belum pernah mereka lihat. Dengan hati-hati, mereka masuk ke dalam gua itu dan tiba-tiba merasa tanah di bawah mereka berguncang. Sebuah cahaya terang muncul, dan sebelum mereka sadar, Akira dan Kenzo sudah berada di tempat yang asing dan penuh dengan Pokémon!


"Kenzo, di mana kita?" tanya Akira dengan suara gemetar, meskipun mencoba tetap tenang.


"Aku tidak tahu, Kak. Tapi lihat, ada banyak Pokémon di sini!" seru Kenzo, matanya berbinar-binar melihat berbagai Pokémon yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Tak lama setelah itu, seekor Kyogre, Pokémon air yang besar dan kuat, muncul dari danau di dekat mereka. Air mulai naik dan ombak besar mendekat ke arah mereka. Namun, sebelum air tersebut menenggelamkan mereka, sebuah gemuruh terdengar dari bawah tanah. Groudon, Pokémon tanah yang legendaris, muncul dan menghentikan lautan dengan kekuatan daratannya yang hebat.


"Tolong kami!" teriak Akira dan Kenzo bersama-sama.


Kyogre dan Groudon menoleh ke arah mereka dan tampak menyadari kehadiran dua anak kecil itu. Mereka berdua berhenti bertarung dan mendekat ke Akira dan Kenzo. Melalui sinar mata mereka, Akira bisa merasakan bahwa Kyogre dan Groudon bukanlah musuh, melainkan ingin membantu mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, Kak?" bisik Kenzo.


"Tidak tahu, tapi kita harus menemukan jalan keluar dari sini," jawab Akira.


Tiba-tiba, langit di atas mereka menjadi gelap. Awan hitam pekat berputar-putar, dan dari kegelapan itu, muncul Pokémon legendaris lain, Eternatus. Pokémon ini memancarkan energi yang begitu kuat, hingga membuat Kyogre dan Groudon mundur. Eternatus mengeluarkan raungan keras dan tampaknya marah.


Akira dan Kenzo merasa sangat ketakutan, tetapi mereka tahu mereka harus melakukan sesuatu. Akira ingat cerita yang pernah ia baca tentang Pokémon legendaris. Ia tahu bahwa ketiga Pokémon ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan jika mereka bisa bekerja sama, mereka bisa menghentikan kemarahan Eternatus.


Dengan keberanian yang luar biasa, Akira mendekati Kyogre dan Groudon. "Kalian harus bekerja sama untuk menghentikan Eternatus! Kalau tidak, seluruh dunia Pokémon akan hancur!" seru Akira.


Mendengar itu, Kyogre dan Groudon saling berpandangan dan mengangguk. Mereka kemudian bergabung kekuatan mereka. Dengan bantuan Akira dan Kenzo, mereka berhasil menenangkan Eternatus, mengembalikan keseimbangan alam, dan menyelamatkan dunia Pokémon dari kehancuran.


Setelah semuanya selesai, Kyogre, Groudon, dan Eternatus mengucapkan terima kasih kepada Akira dan Kenzo. Dengan kekuatan mereka, kedua saudara itu dikembalikan ke desa mereka.


"Kak, itu luar biasa! Kita baru saja menyelamatkan dunia Pokémon!" seru Kenzo dengan gembira.


"Ya, tapi ingat, Kenzo, kita berhasil karena kita bekerja sama dan tidak menyerah," jawab Akira sambil tersenyum.


Sejak hari itu, Akira dan Kenzo terus bermimpi menjadi pelatih Pokémon hebat. Petualangan mereka di dunia Pokémon mengajarkan mereka tentang keberanian, persahabatan, dan pentingnya bekerja sama untuk mengatasi rintangan apapun.


Tamat.







You said:

Bikin lagi. Harus ada semua pokemon legendari. Buat cerita yang panjang.

ChatGPT said:

ChatGPT

Memory updated

Judul: Petualangan Akira dan Kenzo: Menyelamatkan Dunia Pokémon


Di sebuah desa kecil yang indah, dua bersaudara, Akira dan Kenzo, hidup dengan bahagia bersama keluarga mereka. Akira, yang berusia 12 tahun, adalah seorang anak yang pemberani dan selalu siap menghadapi tantangan. Kenzo, adiknya yang berusia 8 tahun, cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Mereka berdua sangat menyukai Pokémon dan sering bermimpi bisa bertualang di dunia Pokémon.


Suatu hari, saat sedang menjelajahi hutan dekat rumah mereka, Akira dan Kenzo menemukan sebuah altar kuno yang tersembunyi di balik semak-semak lebat. Altar itu dipenuhi dengan ukiran-ukiran aneh dan sebuah bola kristal besar yang bersinar lembut di tengahnya.


"Kenzo, lihat ini! Sepertinya ini sesuatu yang luar biasa," kata Akira dengan mata berbinar.


Kenzo, yang selalu tertarik dengan hal-hal misterius, mendekati altar dan menyentuh bola kristal itu. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyelimuti mereka dan sebelum mereka sempat bereaksi, mereka sudah berada di sebuah tempat yang benar-benar berbeda.


Mereka berdiri di atas puncak sebuah gunung yang tinggi, dikelilingi oleh awan-awan putih. Di hadapan mereka berdiri sesosok Pokémon besar berwarna putih dengan sayap megah, Arceus.


"Selamat datang, Akira dan Kenzo," suara Arceus bergema, "Aku telah memanggil kalian karena dunia Pokémon dalam bahaya besar. Semua Pokémon legendaris telah terbangun dan saling berperang. Jika mereka tidak dihentikan, seluruh dunia Pokémon akan hancur."


Mendengar itu, Akira dan Kenzo merasa takut, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu. "Apa yang bisa kami lakukan, Arceus?" tanya Akira.


"Kalian harus menemui semua Pokémon legendaris dan meyakinkan mereka untuk berhenti berperang. Hanya kalian yang bisa melakukannya karena kalian adalah manusia yang murni hati," jawab Arceus.


Dengan semangat yang kuat, Akira dan Kenzo menerima tugas tersebut. Arceus memberi mereka masing-masing sebuah amulet yang dapat memanggilnya kapan saja dalam keadaan darurat. Kemudian, mereka pun memulai perjalanan panjang mereka di dunia Pokémon.


Bab 1: Pertemuan dengan Lugia dan Ho-Oh

Perjalanan pertama mereka membawa Akira dan Kenzo ke langit yang penuh badai. Di sana, mereka bertemu dengan Lugia, Pokémon penjaga laut, yang sedang bertarung sengit dengan Ho-Oh, Pokémon penjaga langit. Angin ribut dan kilatan petir menyelimuti langit, mengancam menenggelamkan seluruh wilayah di bawahnya.


Akira berteriak sekuat tenaga, "Lugia, Ho-Oh! Hentikan pertempuran ini!"


Namun, kedua Pokémon itu terlalu terfokus pada pertarungan mereka untuk mendengar. Kenzo, yang berpikir cepat, menggunakan amulet yang diberikan oleh Arceus untuk memanggil kekuatannya. Cahaya terang dari amulet itu menyebar, menarik perhatian Lugia dan Ho-Oh.


"Kalian tidak perlu berperang. Ada ancaman yang jauh lebih besar yang harus kita hadapi bersama," kata Kenzo dengan tegas.


Lugia dan Ho-Oh akhirnya mendengarkan dan menyadari kebenaran dari kata-kata Kenzo. Mereka berhenti bertarung dan setuju untuk membantu Akira dan Kenzo dalam misi mereka. Sebagai tanda terima kasih, Ho-Oh memberikan bulu emasnya kepada Akira, sementara Lugia memberikan bulu peraknya kepada Kenzo.


Bab 2: Petualangan di Dunia Kegelapan

Setelah menyatukan Lugia dan Ho-Oh, perjalanan mereka berlanjut ke dalam gua yang gelap dan dingin, tempat tinggal Giratina, Pokémon dunia kegelapan. Gua tersebut terasa sangat menyeramkan dengan bayangan yang terus bergerak di sekeliling mereka.


Ketika mereka semakin jauh masuk ke dalam gua, Giratina tiba-tiba muncul dari kegelapan, matanya bersinar merah marah. "Kenapa kalian memasuki wilayahku?!" raungnya dengan suara mengerikan.


"Maafkan kami, Giratina. Kami datang bukan untuk bertarung, tapi untuk meminta bantuanmu. Dunia Pokémon dalam bahaya, dan hanya dengan bekerja sama kita bisa menyelamatkannya," kata Akira, berusaha tetap tenang.


Giratina, yang biasanya tidak percaya pada siapa pun, merasa ada kejujuran dalam kata-kata Akira. Setelah berbincang sebentar, Giratina setuju untuk membantu, tapi dengan satu syarat: mereka harus mengalahkan bayangan ketakutan yang telah lama menghantuinya.


Dengan bantuan Lugia dan Ho-Oh, Akira dan Kenzo melawan bayangan tersebut dan berhasil memusnahkannya. Setelah itu, Giratina bergabung dengan mereka dalam misi menyelamatkan dunia Pokémon.


Bab 3: Kejutan di Puncak Gunung

Perjalanan berikutnya membawa mereka ke puncak gunung tertinggi, tempat mereka bertemu dengan Dialga dan Palkia, dua Pokémon penjaga waktu dan ruang. Keduanya sedang bertarung, menyebabkan distorsi waktu dan ruang yang berbahaya.


"Dialga! Palkia! Kalian merusak keseimbangan alam!" teriak Akira.


Namun, keduanya tetap bertarung tanpa memperhatikan peringatan tersebut. Kenzo memikirkan sesuatu dan menggunakan amuletnya untuk menghubungi Giratina. Dengan bantuan Giratina, mereka mampu menghentikan pertarungan tersebut. Giratina, yang memiliki hubungan unik dengan Dialga dan Palkia, berhasil meyakinkan mereka untuk berhenti bertarung.


Setelah mendengar alasan mereka, Dialga dan Palkia setuju untuk membantu. Sebagai tanda kesetiaan, Dialga memberikan Kristal Waktu kepada Akira, sementara Palkia memberikan Orb Ruang kepada Kenzo.


Bab 4: Konfrontasi dengan Kyogre dan Groudon

Setelah menyatukan beberapa Pokémon legendaris, Akira dan Kenzo menuju lautan luas di mana Kyogre dan Groudon sedang bertarung hebat. Kyogre membuat lautan meluap dengan amarahnya, sementara Groudon menyebabkan gempa bumi yang mengancam seluruh daratan.


Dengan keberanian yang besar, Akira dan Kenzo terjun ke lautan dan mendekati kedua Pokémon tersebut. Mereka menggunakan bulu emas dan perak yang diberikan oleh Ho-Oh dan Lugia untuk memanggil kekuatan mereka dan meredakan amarah Kyogre dan Groudon.


Setelah pertarungan itu berakhir, Kyogre dan Groudon menyadari bahwa pertempuran mereka hanya akan membawa kehancuran. Mereka pun setuju untuk membantu dalam misi menyelamatkan dunia Pokémon.


Bab 5: Pertarungan Terakhir di Langit

Setelah melalui berbagai tantangan, Akira dan Kenzo bersama dengan semua Pokémon legendaris lainnya akhirnya tiba di langit, tempat Rayquaza bersemayam. Namun, Rayquaza tampak sedang berperang dengan Pokémon misterius dari luar angkasa, Eternatus. Pertarungan mereka menyebabkan langit menjadi gelap gulita dan cahaya bintang menghilang.


Akira dan Kenzo tahu bahwa ini adalah pertempuran terakhir yang harus mereka hentikan. Mereka memanggil semua Pokémon legendaris yang telah mereka temui. Bersama-sama, mereka melancarkan serangan gabungan untuk menenangkan Rayquaza dan mengalahkan Eternatus.


Pertarungan itu sangat sengit. Eternatus hampir tidak terkalahkan, tetapi dengan keberanian Akira dan Kenzo, serta bantuan dari semua Pokémon legendaris, mereka berhasil mengalahkan Eternatus dan mengembalikan kedamaian ke dunia Pokémon.


Bab 6: Kembali ke Rumah

Setelah semua selesai, Arceus muncul kembali di hadapan mereka. "Kalian telah menyelamatkan dunia Pokémon. Terima kasih atas keberanian dan tekad kalian," kata Arceus dengan lembut.


Dengan kekuatan Arceus, Akira dan Kenzo dikembalikan ke desa mereka. Mereka kembali dengan kenangan tak terlupakan tentang petualangan mereka di dunia Pokémon dan hadiah dari Pokémon legendaris yang akan selalu mereka jaga.


Meskipun mereka telah kembali ke kehidupan sehari-hari, Akira dan Kenzo tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa—mereka telah menyelamatkan dunia Pokémon dan menjalin persahabatan dengan makhluk-makhluk luar biasa yang hanya bisa mereka impikan sebelumnya.


Tamat.

Kamis, 08 Agustus 2024

Petualangan Akira dan Kenzo: Mengenal Allah

 **Judul: Petualangan Akira dan Kenzo: Mengenal Allah**


Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah dua bersaudara bernama Akira dan Kenzo. Akira, sang kakak, adalah anak yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Sementara Kenzo, adiknya, memiliki hati yang besar, namun sering kali terlibat pertengkaran dengan kakaknya.


Suatu hari, saat mereka sedang bermain di halaman rumah, Akira dan Kenzo kembali berselisih paham. Akira ingin bermain petak umpet, sementara Kenzo lebih suka bermain bola. Pertengkaran mereka semakin memanas hingga membuat Ibu mereka khawatir.


"Ibu, kenapa sih kami selalu bertengkar?" tanya Kenzo dengan wajah cemberut.


Ibu mereka tersenyum lembut dan berkata, "Mungkin kalian berdua perlu mengenal Allah lebih dekat. Dengan mengenal-Nya, hati kalian bisa menjadi lebih tenang dan saling memahami satu sama lain."


Akira dan Kenzo saling berpandangan, penasaran dengan maksud Ibu mereka.


"Kalian mau ikut Ibu dalam sebuah petualangan untuk mengenal Allah?" tanya Ibu mereka dengan senyum penuh kehangatan.


Tanpa ragu, Akira dan Kenzo setuju. Mereka berjalan bersama Ibu menuju sebuah hutan kecil di pinggir desa. Di tengah perjalanan, Ibu mereka mulai bercerita.


"Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia menciptakan alam semesta ini dengan segala keindahannya. Lihatlah pohon-pohon ini, udara segar yang kalian hirup, dan burung-burung yang berkicau. Semua ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada kita," jelas Ibu.


Kenzo memandangi burung yang berkicau di atas pohon, sambil berkata, "Jadi, Allah yang menciptakan semua ini? Betapa luar biasa!"


Ibu mengangguk. "Betul sekali, Kenzo. Allah juga memberikan kita hati dan akal agar kita bisa saling mencintai dan menghormati satu sama lain."


Akira merenung sejenak, lalu bertanya, "Kalau begitu, kenapa kita sering bertengkar, Bu?"


"Karena kita kadang lupa bahwa Allah menginginkan kita untuk hidup rukun dan saling menyayangi. Dengan mengingat Allah, kita akan lebih mudah mengendalikan diri dan memahami perasaan orang lain," jawab Ibu dengan bijak.


Setelah mendengar penjelasan Ibu, Akira dan Kenzo merasa lebih tenang. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, kali ini tanpa bertengkar. Di perjalanan, mereka menemukan berbagai keajaiban alam, seperti bunga yang indah, sungai yang jernih, dan langit biru yang luas. Semua itu membuat mereka semakin kagum akan kebesaran Allah.


Ketika mereka kembali ke rumah, Akira dan Kenzo saling berpelukan. "Maafkan aku, Akira, karena sering bertengkar," kata Kenzo dengan tulus.


Akira tersenyum dan membalas, "Aku juga minta maaf, Kenzo. Mulai sekarang, kita akan selalu ingat Allah dan berusaha untuk tidak bertengkar lagi."


Ibu mereka melihat dengan bangga dan berkata, "Ingatlah, anak-anak, mengenal Allah adalah kunci untuk hidup damai dan bahagia. Selama kalian saling menyayangi dan mengingat-Nya, kalian akan selalu bersama-sama dalam kebahagiaan."


Sejak saat itu, Akira dan Kenzo menjalani hari-hari mereka dengan lebih rukun dan penuh kasih sayang. Mereka tidak hanya belajar tentang alam dan ciptaan Allah, tetapi juga belajar untuk menjadi saudara yang saling menghormati dan mencintai.


**Tamat.**

Selasa, 16 Juli 2024

The Elimination Quest


**Chapter 1: Permulaan**


Pagi itu, langit Jakarta cerah seakan memberi pertanda baik bagi para peserta. Semua berkumpul di sebuah gedung besar yang dirancang khusus untuk permainan yang akan mengubah hidup mereka. Masing-masing membawa harapan, strategi, dan ketegangan yang memenuhi udara. Mereka tahu bahwa hanya satu dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang, atau mungkin mereka semua akan berbagi hadiah besar jika keberuntungan berpihak pada mereka.


Di dalam gedung, suasana semakin tegang saat mereka menunggu instruksi pertama. Sebuah layar besar menyala, menampilkan seorang pembawa acara yang karismatik. "Selamat datang di The Elimination Quest," katanya dengan senyum lebar. "Permainan ini akan menguji kemampuan kalian dalam berbagai mini-games, ketahanan mental, dan strategi sosial. Siapkan diri kalian, karena perjalanan ini akan penuh dengan kejutan."


Para peserta terdiri dari berbagai latar belakang. Ada Ardi, seorang pengusaha muda yang ambisius, Nina, seorang guru sekolah yang pintar dan sabar, Dika, seorang atlet dengan ketahanan fisik luar biasa, dan banyak lagi. Setiap peserta membawa cerita hidupnya sendiri, dan mereka siap untuk melakukan apa saja demi meraih kemenangan.


Pembawa acara melanjutkan, "Setiap ronde, kalian akan berkompetisi dalam mini-games yang berbeda. Hasil dari setiap permainan akan menentukan peringkat kalian dan jumlah 'vote card' yang kalian peroleh. Di akhir setiap ronde, kalian akan menggunakan vote card tersebut untuk memilih siapa yang akan dieliminasi. Orang dengan vote terbanyak akan keluar dari permainan, dan hadiah untuk pemenang akan bertambah Rp100,000 untuk setiap pemain yang tereliminasi."


Semua peserta saling memandang, mencoba membaca pikiran dan niat satu sama lain. Mereka tahu bahwa setiap langkah, setiap kata, dan setiap keputusan bisa menjadi penentu nasib mereka dalam permainan ini.


"Ronde pertama akan segera dimulai," kata pembawa acara. "Silakan masuk ke ruangan mini-game di sebelah kanan."


Para peserta bergerak menuju ruangan tersebut. Di dalam, mereka menemukan berbagai alat permainan yang telah disiapkan. Terdapat sebuah papan besar dengan balok-balok yang harus disusun, meja-meja dengan teka-teki, dan arena kecil untuk lomba fisik.


"Permainan pertama adalah lomba menyusun balok. Kalian harus membangun menara setinggi mungkin dalam waktu yang ditentukan. Waktu kalian adalah 10 menit. Siap, mulai!"


Semua peserta mulai beraksi. Tangan-tangan mereka bergerak cepat, mencoba menumpuk balok-balok tersebut dengan hati-hati. Ardi tampak fokus, mengukur setiap balok sebelum menambahkannya ke menara. Nina dengan teliti menyusun balok-baloknya dengan stabil, sementara Dika menggunakan kekuatannya untuk membangun menara yang tinggi dengan cepat.


Waktu terus berjalan, dan ketegangan semakin meningkat. Beberapa menara mulai goyah, beberapa bahkan roboh. Namun, pada akhirnya, waktu habis dan menara Nina berdiri paling tinggi dan stabil.


"Selamat, Nina! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards. Ardi, di peringkat kedua dengan 4 vote cards, dan Dika di peringkat ketiga dengan 3 vote cards. Peringkat terakhir akan mendapatkan 0 vote cards."


Mereka semua kembali ke ruang utama dengan hasil masing-masing. Saatnya pemilihan eliminasi pertama. Para peserta merasa tegang karena ini adalah momen krusial yang bisa menentukan perjalanan mereka dalam permainan ini.


"Silakan gunakan vote card kalian untuk memilih satu pemain yang akan dieliminasi," instruksi dari pembawa acara terdengar. Para peserta memegang vote card mereka dengan erat, berbisik satu sama lain, dan mencoba membuat keputusan terbaik. Mereka tahu bahwa pilihan ini bisa menjadi awal dari strategi panjang atau mungkin akhir dari perjalanan mereka di The Elimination Quest.


Permainan ini baru saja dimulai, dan setiap langkah akan menjadi sejarah yang tercatat dalam ingatan mereka. The Elimination Quest bukan hanya sekadar permainan, tapi sebuah perjalanan penuh taktik, kerja keras, dan mungkin, sedikit keberuntungan.


**Chapter 2: Strategi dan Pengkhianatan**


Ruang utama dipenuhi dengan suara bisikan dan tatapan tajam. Para peserta tahu bahwa pemilihan eliminasi pertama ini adalah momen krusial. Mereka harus memilih dengan bijak, tidak hanya berdasarkan performa di mini-game pertama, tetapi juga pada siapa yang mereka anggap sebagai ancaman terbesar.


Nina, sebagai pemenang pertama, merasa lega tapi sekaligus waspada. Ia tahu bahwa keberhasilannya bisa menjadikannya target. Ardi dan Dika saling bertukar pandang, mencoba membaca pikiran satu sama lain.


"Silakan masukkan vote card kalian ke dalam kotak pemilihan," perintah pembawa acara.


Satu per satu, para peserta mendekati kotak pemilihan dan memasukkan vote card mereka. Wajah mereka menunjukkan berbagai ekspresi, dari percaya diri hingga cemas.


Setelah semua vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. "Baiklah, mari kita lihat hasilnya."


Suasana menjadi sangat tegang. Pembawa acara mengumumkan satu per satu nama yang mendapatkan vote. Ternyata, hasilnya cukup mengejutkan. Nina mendapatkan 2 suara, Dika 2 suara, dan Ardi 3 suara. Sisanya tersebar di antara peserta lain dengan jumlah kecil.


"Ardi, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000," kata pembawa acara.


Ardi tampak kecewa, tetapi ia menerima keputusannya dengan tenang. "Selamat berjuang untuk kalian semua. Semoga kalian bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Para peserta lainnya merasa lega, tapi juga semakin sadar bahwa permainan ini bukan hanya soal kemampuan dalam mini-games, tetapi juga kemampuan membaca strategi dan niat orang lain. Mereka tahu bahwa untuk bertahan, mereka harus bisa berpikir beberapa langkah ke depan.


Setelah eliminasi selesai, pembawa acara memberikan instruksi untuk ronde kedua. "Ronde kedua akan segera dimulai. Permainan kali ini adalah teka-teki logika. Kalian harus menyelesaikan teka-teki ini secepat mungkin. Waktu kalian adalah 15 menit. Siap, mulai!"


Para peserta segera mengambil posisi mereka dan mulai memecahkan teka-teki. Mereka diberikan sebuah teka-teki kompleks yang membutuhkan analisis mendalam dan pemikiran cepat.


Nina kembali menunjukkan ketenangannya dan berhasil menyelesaikan teka-teki dengan cepat. Dika, dengan kekuatan fisiknya, sedikit kesulitan, tetapi tetap berusaha sebaik mungkin. Beberapa peserta lain tampak kebingungan, tetapi terus berjuang.


Waktu terus berjalan, dan ketegangan semakin meningkat. Pada akhirnya, waktu habis dan Nina kembali menjadi pemenang dengan menyelesaikan teka-teki pertama kali. Dika berada di peringkat kedua, dan peserta lainnya mengikuti dengan peringkat yang berbeda-beda.


"Selamat, Nina! Kamu mendapatkan peringkat pertama lagi dan 5 vote cards. Dika, di peringkat kedua dengan 4 vote cards, dan peserta lainnya mendapatkan vote cards sesuai peringkat mereka."


Dengan hasil ini, para peserta kembali ke ruang utama untuk pemilihan eliminasi kedua. Mereka sadar bahwa Nina mulai menjadi target utama karena kemenangan berturut-turutnya. Namun, mereka juga tahu bahwa mengeliminasi pesaing lain yang mungkin lebih lemah bisa menjadi strategi yang lebih aman untuk sementara waktu.


"Silakan gunakan vote card kalian untuk memilih satu pemain yang akan dieliminasi," perintah pembawa acara.


Para peserta memegang vote card mereka dan saling berbisik lagi, mencoba membuat keputusan terbaik. Mereka tahu bahwa setiap suara dapat menentukan siapa yang akan keluar dan bagaimana dinamika permainan akan berubah.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya lebih tersebar. Nina mendapatkan 3 suara, Dika 2 suara, dan beberapa peserta lainnya mendapatkan masing-masing 1 suara.


"Nina, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Nina tersenyum pahit. "Sepertinya kemenangan beruntun tidak selalu menguntungkan. Semoga kalian semua beruntung," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Para peserta yang tersisa merasa lega, tetapi mereka juga tahu bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Mereka harus terus berjuang, menggunakan strategi yang lebih cerdas, dan bersiap menghadapi pengkhianatan di setiap sudut.


The Elimination Quest bukan hanya soal kemampuan dalam mini-games, tetapi juga tentang bagaimana mereka bisa bertahan dalam tekanan dan mengelola aliansi yang rapuh. Dengan dua peserta sudah tereliminasi, permainan ini semakin intens dan penuh dengan intrik.


**Chapter 3: Aliansi dan Kejutan**


Setelah eliminasi kedua, suasana semakin tegang. Para peserta yang tersisa tahu bahwa mereka harus mulai membentuk aliansi jika ingin bertahan lebih lama dalam permainan ini. Di antara mereka, muncul pembicaraan dan kesepakatan rahasia, semuanya dilakukan dengan penuh kehati-hatian.


Dika, yang sekarang menjadi salah satu pesaing terkuat setelah Nina keluar, merasa perlu mencari dukungan. Ia mendekati Rani, seorang mahasiswa yang cerdas dan cepat dalam berpikir. "Rani, kita harus bekerja sama jika ingin bertahan. Bagaimana menurutmu?"


Rani menatap Dika sejenak, lalu mengangguk. "Aku setuju. Tapi kita harus berhati-hati. Orang lain juga pasti berpikir hal yang sama."


Sementara itu, di sudut lain ruangan, Budi, seorang pekerja kantoran yang dikenal tenang dan perhitungan, mendekati Siska, seorang ibu rumah tangga yang cekatan. "Siska, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Kita saling mendukung dan mencoba mengeliminasi peserta yang paling kuat."


Siska tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Budi. Aku setuju. Kita harus pandai membaca situasi."


Pembawa acara kemudian mengumumkan bahwa ronde ketiga akan segera dimulai. "Ronde ketiga adalah permainan fisik. Kalian akan berlomba melewati rintangan yang telah disiapkan. Waktu kalian adalah 20 menit. Siap, mulai!"


Para peserta berlari menuju arena rintangan. Ada dinding untuk dipanjat, terowongan sempit untuk dilewati, dan jembatan gantung yang harus diseimbangkan. Dika, dengan keunggulan fisiknya, melaju dengan cepat melewati rintangan. Rani menggunakan kecerdasannya untuk menemukan cara tercepat dan termudah melewati setiap rintangan, sementara Budi dan Siska bekerja sama untuk saling membantu melewati bagian tersulit.


Waktu terus berjalan, dan keringat mengalir di wajah mereka. Pada akhirnya, Dika berhasil mencapai garis finish pertama, diikuti oleh Rani dan kemudian Budi serta Siska.


"Selamat, Dika! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards. Rani, di peringkat kedua dengan 4 vote cards, dan Budi serta Siska di peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing 3 dan 2 vote cards."


Para peserta kembali ke ruang utama untuk pemilihan eliminasi ketiga. Mereka tahu bahwa setiap ronde semakin sulit dan setiap keputusan menjadi lebih penting.


"Silakan gunakan vote card kalian untuk memilih satu pemain yang akan dieliminasi," perintah pembawa acara.


Dika dan Rani saling bertukar pandang, yakin bahwa mereka akan saling mendukung. Budi dan Siska juga melakukan hal yang sama, merasa aman dengan kesepakatan mereka. Namun, ada pemain lain yang juga membuat strategi diam-diam.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya lebih mengejutkan. Rani mendapatkan 3 suara, Siska 3 suara, dan beberapa peserta lainnya mendapatkan masing-masing 1 suara.


"Ternyata ada dua pemain yang mendapatkan suara terbanyak. Dalam hal ini, tidak ada yang akan dieliminasi, dan kita akan melanjutkan ke ronde berikutnya dengan semua peserta yang masih ada," kata pembawa acara.


Para peserta merasa lega, terutama Rani dan Siska yang hampir tereliminasi. Mereka tahu bahwa ke depan, mereka harus lebih berhati-hati dan mungkin memperkuat aliansi mereka.


"Ronde keempat akan segera dimulai," pembawa acara melanjutkan. "Permainan kali ini adalah permainan memori. Kalian harus mengingat dan menyebutkan urutan gambar yang ditampilkan di layar. Waktu kalian adalah 15 menit. Siap, mulai!"


Para peserta segera fokus pada layar yang menampilkan serangkaian gambar. Mereka harus mengingat urutan gambar tersebut dan kemudian menuliskannya kembali dengan benar. Permainan ini membutuhkan konsentrasi tinggi dan ingatan yang tajam.


Rani, dengan kecerdasannya, tampak tenang dan fokus. Dika juga berusaha sebaik mungkin, meskipun ini bukan keahliannya. Budi dan Siska bekerja keras untuk mengingat urutan gambar dengan benar.


Waktu berlalu, dan mereka semua menyerahkan jawaban mereka. Hasilnya diumumkan, dan Rani berhasil menjadi yang pertama dengan urutan gambar yang sempurna. Dika berada di peringkat kedua, diikuti oleh Budi dan Siska.


"Selamat, Rani! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards. Dika, di peringkat kedua dengan 4 vote cards, dan Budi serta Siska di peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing 3 dan 2 vote cards."


Dengan hasil ini, mereka kembali ke ruang utama untuk pemilihan eliminasi keempat. Kali ini, para peserta lebih berhati-hati dalam menggunakan vote cards mereka. Mereka tahu bahwa setiap suara bisa menjadi penentu.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya lebih tersebar, tetapi ada satu nama yang mendapatkan lebih banyak suara.


"Budi, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Budi menerima keputusannya dengan lapang dada. "Selamat berjuang untuk kalian semua. Semoga kalian bisa mencapai tujuan kalian," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Para peserta yang tersisa tahu bahwa permainan ini semakin ketat dan setiap keputusan semakin penting. Mereka harus terus berjuang, menggunakan strategi yang lebih cerdas, dan bersiap menghadapi pengkhianatan di setiap sudut. The Elimination Quest terus berlanjut, dan hanya mereka yang paling pintar, kuat, dan cerdik yang akan bertahan hingga akhir.


**Chapter 4: Pergeseran Kekuatan**


Dengan Budi yang tereliminasi, dinamika permainan mulai berubah. Aliansi yang terbentuk menjadi lebih rapuh, dan setiap pemain mulai memperhitungkan langkah mereka dengan lebih hati-hati. Dika dan Rani merasa semakin terpojok, sementara Siska, yang kini sendirian, merasa harus lebih waspada.


"Ronde kelima akan segera dimulai," suara pembawa acara menginterupsi pikiran mereka. "Permainan kali ini adalah permainan strategi. Kalian harus bermain catur cepat. Setiap pemain akan diadu satu sama lain dalam pertandingan eliminasi. Pemenangnya akan mendapatkan 5 vote cards, sementara yang kalah tidak mendapatkan apa-apa. Waktu setiap pertandingan adalah 5 menit. Siap, mulai!"


Para peserta mendekati meja catur yang telah disiapkan. Mereka tahu bahwa kemampuan berpikir cepat dan strategi akan diuji dalam permainan ini. Dika berhadapan dengan Rani, sementara Siska berhadapan dengan peserta lainnya.


Pertandingan dimulai dengan cepat. Pion-pion bergerak di atas papan, kuda-kuda melompat, dan ratu-ratu mengejar posisi strategis. Dika menunjukkan kekuatan dan kemampuannya dalam berpikir cepat, sementara Rani mencoba menggunakan kecerdasannya untuk membaca langkah-langkah Dika.


Waktu terus berjalan, dan tekanan semakin meningkat. Akhirnya, Dika berhasil mengalahkan Rani dalam langkah terakhirnya. Di meja lain, Siska juga berhasil mengalahkan lawannya dengan strategi yang cerdas.


"Selamat, Dika dan Siska! Kalian mendapatkan 5 vote cards masing-masing. Para peserta yang kalah tidak mendapatkan vote cards," kata pembawa acara.


Para peserta yang kalah merasa kecewa, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus terus berjuang dalam pemilihan eliminasi berikutnya.


"Silakan gunakan vote card kalian untuk memilih satu pemain yang akan dieliminasi," instruksi pembawa acara terdengar.


Dika dan Siska saling memandang, mencoba membaca niat satu sama lain. Mereka tahu bahwa aliansi bisa berubah kapan saja, dan mereka harus berhati-hati.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya cukup mengejutkan. Siska mendapatkan 4 suara, dan peserta lain mendapatkan masing-masing 1 suara.


"Siska, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Siska tampak terkejut, tetapi ia menerima nasibnya dengan lapang dada. "Selamat berjuang untuk kalian yang tersisa. Semoga kalian bisa mencapai tujuan kalian," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Dengan Siska yang tereliminasi, hanya tersisa beberapa pemain yang masih bertahan. Mereka tahu bahwa setiap ronde semakin penting dan setiap keputusan semakin krusial.


"Ronde keenam akan segera dimulai," pembawa acara melanjutkan. "Permainan kali ini adalah permainan ketahanan. Kalian harus berdiri di satu kaki selama mungkin. Siapa yang bertahan paling lama akan menjadi pemenang. Siap, mulai!"


Para peserta segera berdiri di satu kaki, mencoba menjaga keseimbangan mereka. Ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga konsentrasi dan ketahanan mental. Dika, dengan kekuatan fisiknya, tampak percaya diri, sementara Rani menggunakan teknik pernapasan untuk menjaga ketenangannya.


Waktu terus berlalu, dan satu per satu peserta mulai kehilangan keseimbangan mereka. Pada akhirnya, Dika berhasil bertahan paling lama, disusul oleh Rani.


"Selamat, Dika! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards. Rani, di peringkat kedua dengan 4 vote cards," kata pembawa acara.


Dengan hasil ini, para peserta kembali ke ruang utama untuk pemilihan eliminasi keenam. Mereka tahu bahwa ini adalah momen kritis. Setiap suara bisa menjadi penentu siapa yang akan keluar dan siapa yang akan bertahan.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya lebih mengejutkan lagi. Rani mendapatkan 3 suara, sementara peserta lainnya mendapatkan masing-masing 2 suara.


"Rani, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Rani tersenyum pahit. "Sepertinya perjalanan saya berakhir di sini. Semoga kalian yang tersisa bisa mencapai tujuan kalian," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Para peserta yang tersisa merasa lega, tetapi mereka tahu bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Mereka harus terus berjuang, menggunakan strategi yang lebih cerdas, dan bersiap menghadapi pengkhianatan di setiap sudut. The Elimination Quest terus berlanjut, dan hanya mereka yang paling pintar, kuat, dan cerdik yang akan bertahan hingga akhir.


**Chapter 5: Kejutan di Tengah Permainan**


Dengan Rani yang tereliminasi, jumlah pemain semakin sedikit. Ketegangan semakin terasa di setiap sudut ruangan. Mereka yang tersisa tahu bahwa setiap langkah, setiap kata, dan setiap keputusan menjadi semakin penting.


"Ronde ketujuh akan segera dimulai," suara pembawa acara bergema di ruangan. "Permainan kali ini adalah teka-teki matematika. Kalian harus menyelesaikan serangkaian soal matematika dalam waktu 20 menit. Pemenangnya akan mendapatkan 5 vote cards, dan yang lainnya tidak akan mendapatkan apa-apa. Siap, mulai!"


Para peserta segera duduk di meja mereka dan mulai mengerjakan soal matematika yang ditampilkan di layar. Soal-soalnya bervariasi dari aritmetika dasar hingga aljabar kompleks. Dika, dengan kekuatan fisiknya, merasa kurang percaya diri, tetapi ia berusaha sebaik mungkin. Peserta lain yang tersisa juga berjuang keras untuk menyelesaikan soal-soal tersebut.


Waktu terus berjalan, dan akhirnya pembawa acara mengumumkan waktu habis. Jawaban dikumpulkan dan diperiksa. Hasilnya diumumkan, dan kali ini, peserta yang tidak terduga berhasil meraih kemenangan.


"Selamat, Arif! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards," kata pembawa acara.


Arif, seorang mahasiswa yang sebelumnya tampak kurang menonjol, merasa bangga dengan pencapaiannya. Peserta lainnya menyadari bahwa mereka harus lebih berhati-hati terhadap Arif.


"Silakan gunakan vote card kalian untuk memilih satu pemain yang akan dieliminasi," instruksi pembawa acara terdengar.


Dengan vote cards yang sudah dipegang, para peserta mulai berbisik satu sama lain, membuat kesepakatan dan strategi. Mereka tahu bahwa setiap suara bisa menjadi penentu.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya lebih tersebar, tetapi ada satu nama yang mendapatkan lebih banyak suara.


"Dika, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Dika tersenyum pahit. "Semoga kalian yang tersisa bisa mencapai tujuan kalian. Saya akan mendukung kalian dari luar," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Dengan Dika yang tereliminasi, hanya tinggal tiga peserta yang tersisa. Mereka tahu bahwa permainan semakin mendekati akhir, dan setiap langkah menjadi semakin penting.


"Ronde kedelapan akan segera dimulai," pembawa acara melanjutkan. "Permainan kali ini adalah permainan teka-teki visual. Kalian harus mengidentifikasi perbedaan di antara dua gambar yang hampir sama. Waktu kalian adalah 15 menit. Siap, mulai!"


Para peserta segera fokus pada gambar yang ditampilkan di layar. Mereka harus mengidentifikasi setiap perbedaan kecil di antara kedua gambar tersebut. Ini membutuhkan konsentrasi tinggi dan perhatian terhadap detail. Arif, dengan ketenangannya, tampak percaya diri, sementara peserta lainnya berusaha sebaik mungkin untuk menemukan semua perbedaan.


Waktu terus berlalu, dan akhirnya waktu habis. Jawaban dikumpulkan dan diperiksa. Hasilnya diumumkan, dan kali ini, Arif kembali menunjukkan ketangkasannya.


"Selamat, Arif! Kamu mendapatkan peringkat pertama dan 5 vote cards," kata pembawa acara.


Dengan hasil ini, para peserta kembali ke ruang utama untuk pemilihan eliminasi kedelapan. Mereka tahu bahwa ini adalah momen krusial. Setiap suara bisa menjadi penentu siapa yang akan keluar dan siapa yang akan bertahan.


Setelah vote card terkumpul, pembawa acara membuka kotak pemilihan dan mulai menghitung suara. Kali ini, hasilnya cukup mengejutkan. Arif mendapatkan 4 suara, sementara peserta lainnya mendapatkan masing-masing 1 suara.


"Arif, kamu telah mendapatkan suara terbanyak dan akan dieliminasi dari permainan ini. Hadiah untuk pemenang bertambah Rp100,000 lagi," kata pembawa acara.


Arif menerima keputusannya dengan tenang. "Perjalanan saya berakhir di sini. Semoga kalian yang tersisa bisa mencapai tujuan kalian," katanya sebelum meninggalkan ruangan.


Kini hanya tersisa dua peserta, dan mereka tahu bahwa ini adalah momen penentuan. Mereka harus menggunakan semua kemampuan, strategi, dan ketahanan yang mereka miliki untuk menjadi pemenang.


"Ronde kesembilan akan segera dimulai," pembawa acara melanjutkan. "Permainan kali ini adalah permainan keberanian. Kalian harus melompati rintangan berbahaya yang telah disiapkan. Pemenangnya akan mendapatkan kesempatan untuk memilih apakah akan melanjutkan permainan atau membagi hadiah yang sudah terkumpul. Siap, mulai!"


Para peserta berlari menuju arena rintangan yang tampak menakutkan. Mereka harus melompati api, melewati dinding berduri, dan menyeimbangkan diri di atas tali yang tinggi. Ini adalah ujian terakhir mereka, dan mereka tahu bahwa setiap langkah bisa menjadi penentu.


Waktu terus berjalan, dan akhirnya mereka berhasil melewati semua rintangan. Pemenangnya diumumkan, dan kali ini, keberuntungan berpihak pada salah satu dari mereka.


"Selamat, Bayu! Kamu mendapatkan peringkat pertama," kata pembawa acara. "Sekarang, saatnya untuk membuat keputusan besar. Apakah kamu akan melanjutkan permainan atau membagi hadiah yang sudah terkumpul?"


Bayu melihat ke peserta lain, lalu berpikir sejenak. "Saya memutuskan untuk membagi hadiah," katanya dengan tegas.


Pembawa acara tersenyum. "Keputusan yang bijak. Selamat untuk kalian berdua! Kalian akan membagi hadiah yang sudah terkumpul. Permainan ini bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang keberanian, strategi, dan kerjasama. Terima kasih telah menjadi bagian dari The Elimination Quest."


Para peserta bersorak, merasa lega dan bahagia. Mereka tahu bahwa perjalanan ini telah menguji mereka dalam berbagai cara, tetapi mereka berhasil melewatinya dengan baik. Hadiah yang mereka bagi adalah simbol dari kerja keras dan ketahanan mereka. The Elimination Quest mungkin telah berakhir, tetapi kenangan dan pelajaran dari permainan ini akan terus hidup dalam ingatan mereka.

**Chapter 6: Selebrasi dan Refleksi**


Dengan keputusan Bayu untuk membagi hadiah, para peserta yang tersisa merasa lega. Mereka tahu bahwa meskipun perjalanan ini penuh dengan tantangan, mereka telah berhasil melewati semuanya bersama-sama. Pembawa acara mengumumkan jumlah total hadiah yang akan dibagi.


"Total hadiah yang telah terkumpul adalah Rp1,000,000. Bayu dan Tika, masing-masing dari kalian akan menerima Rp500,000," kata pembawa acara. "Selamat atas kemenangan kalian!"


Bayu dan Tika tersenyum lebar, merasa bangga dan puas dengan pencapaian mereka. Mereka berdua telah menunjukkan keberanian, ketekunan, dan kemampuan berpikir strategis sepanjang permainan. Mereka menerima amplop berisi uang hadiah dan berterima kasih kepada pembawa acara serta tim produksi.


Para peserta yang telah tereliminasi juga datang untuk memberikan ucapan selamat. Meskipun mereka tidak berhasil mencapai akhir, mereka merasa bangga dengan partisipasi mereka dalam permainan yang penuh tantangan ini.


"Terima kasih atas dukungan kalian," kata Bayu. "Tanpa kalian, saya tidak akan bisa sampai sejauh ini."


Tika menambahkan, "Ya, ini adalah pengalaman yang luar biasa. Saya belajar banyak hal dan mendapatkan teman-teman baru. Terima kasih semuanya."


Malam itu, para peserta mengadakan pesta kecil untuk merayakan akhir dari The Elimination Quest. Mereka berbagi cerita dan kenangan tentang setiap ronde yang mereka lalui. Ada tawa, canda, dan refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari selama permainan.


"Saya tidak menyangka bahwa permainan ini akan menguji kami dalam begitu banyak cara," kata Rani. "Ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang kecerdasan, strategi, dan bahkan keberanian."


Arif setuju, "Betul sekali. Saya merasa bahwa setiap ronde memberikan pelajaran berharga. Dan yang terpenting, saya belajar bahwa aliansi dan kepercayaan sangat penting dalam permainan seperti ini."


Budi, yang telah tereliminasi lebih awal, berkata, "Saya mungkin tidak bertahan sampai akhir, tetapi saya bangga dengan apa yang telah saya capai. Ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan."


Mereka semua menyadari bahwa The Elimination Quest bukan hanya sebuah permainan, tetapi juga sebuah perjalanan yang mengajarkan mereka banyak hal tentang diri mereka sendiri dan tentang bekerja sama dengan orang lain.


"Permainan ini mengajarkan kita untuk tidak menyerah," kata Dika. "Kita harus terus berjuang, bahkan ketika situasi tampak sulit."


Siska menambahkan, "Dan yang paling penting, kita harus selalu menghargai orang-orang di sekitar kita. Mereka adalah bagian penting dari perjalanan kita."


Dengan kata-kata bijak itu, malam selebrasi berlanjut dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Para peserta menyadari bahwa meskipun permainan ini penuh dengan tantangan dan pengkhianatan, mereka telah tumbuh dan belajar menjadi individu yang lebih kuat dan lebih bijaksana.


The Elimination Quest mungkin telah berakhir, tetapi kenangan dan pelajaran dari permainan ini akan terus hidup dalam hati mereka. Mereka berjanji untuk menjaga persahabatan yang telah mereka bangun dan terus mendukung satu sama lain dalam kehidupan mereka di luar permainan.


Bayu dan Tika, sebagai pemenang, merasa bangga dengan pencapaian mereka, tetapi mereka juga tahu bahwa kemenangan ini adalah hasil dari kerja keras dan dukungan semua peserta. Mereka bersyukur atas kesempatan ini dan bertekad untuk menggunakan pengalaman ini sebagai motivasi untuk mencapai lebih banyak lagi dalam hidup mereka.


Malam itu, di tengah-tengah tawa dan cerita, para peserta menyadari bahwa mereka bukan hanya bagian dari sebuah permainan, tetapi juga bagian dari sebuah perjalanan yang telah mengubah mereka menjadi individu yang lebih baik. Dan dengan itu, mereka menutup babak terakhir dari The Elimination Quest dengan penuh rasa syukur dan kebanggaan.