Rabu, 21 Oktober 2015

Kejelasan Versi Akang

 

Kejelasan Versi Akang

1. Kertas di Bawah Tirai

Kalau ditanya kapan mulainya, Raka selalu bilang: rapat panitia Maulid, kelas dua belas, musala sekolah, jam setengah empat sore.

Rapat Rohis di sekolah mereka selalu dipisah tirai hijau yang digantung di tengah ruangan. Ikhwan di kiri, akhwat di kanan. Suara bisa lewat, muka tidak. Raka ketua panitia. Sekretarisnya, adik kelas yang baru naik kelas sebelas, duduk persis di seberang tirai, dan dia cuma kenal suaranya: cepat, agak cempreng, dan selalu memotong di saat yang tepat.

"Kang, anggaran konsumsinya kurang. Itu teh baru buat seratus kotak. Yang dateng bisa seratus lima puluh."

"Nanti kita cari donatur."

"Donaturnya saha, Kang? Akang?"

Para ikhwan tertawa. Raka tidak bisa melihat siapa yang bicara, tapi dia bisa membayangkan mukanya: puas.

Karena tirai, koordinasi panitia dilakukan dengan cara yang paling purba: kertas. Disobek dari buku tulis, dilipat dua, lalu diselipkan lewat celah di bawah tirai. Mula-mula isinya serius.

Konsumsi 150 kotak, Kang. Fix.

Spanduk udah dipesen. Ukuran 3x1. — N

Inisialnya N. Raka baru tahu namanya Nadia setelah rapat ketiga, waktu dia mengintip daftar hadir.

Di rapat kelima, kertas yang menyelinap dari bawah tirai isinya lain.

Kang. Pak Ustaz ketiduran.

Raka menoleh ke depan. Benar saja: Pak Ustaz, pembina Rohis mereka, duduk bersandar ke dinding dengan tangan terlipat dan kepala miring ke kanan. Kacamatanya melorot sampai ujung hidung.

Raka menggambar Pak Ustaz di balik kertas itu: kepala miring, kacamata melorot, dan gelembung besar berisi zzzZZZ. Dia menyelipkannya kembali ke bawah tirai.

Tiga detik kemudian, dari balik tirai, terdengar tawa yang ditahan, lalu gagal ditahan, lalu suara akhwat lain berbisik galak, "Nadiaaa!"

Pak Ustaz terbangun. "Naon? Aya naon?"

"Teu aya, Pak," jawab seisi musala, serempak.

Raka menyimpan kertas itu. Lalu kertas berikutnya, dan berikutnya lagi. Semuanya dia masukkan ke kotak sepatu bekas di bawah kasurnya. Waktu itu dia bilang ke dirinya sendiri bahwa itu arsip kepanitiaan.

Kotak itu masih ada sampai sekarang. Arsip kepanitiaan memang biasanya tidak dibuang.


Beberapa bulan setelah Maulid, Nadia mengirim pesan lewat teman sekelas Raka: dia mau pinjam catatan Fisika kelas sebelas. Katanya Raka terkenal rapi.

Raka meminjamkannya. Seminggu kemudian buku itu kembali dalam keadaan yang bisa dibilang korban perang. Hampir setiap halaman distabilo: kuning untuk rumus, hijau untuk contoh soal, merah muda untuk hal-hal yang menurut Nadia "penting banget", yang ternyata hampir semuanya.

Di pojok kanan bawah halaman terakhir ada tulisan kecil dengan pulpen ungu:

Makasih, Kang. Tulisan Akang jelek tapi rumusnya bener.

Raka kesal. Lima menit.

Setelah itu, setiap malam sebelum ujian, dia membuka halaman terakhir buku itu. Katanya untuk mengulang rumus. Padahal di halaman itu tidak ada rumus.


Pak Ustaz punya kebiasaan menutup setiap kajian Jumat dengan nasihat, sambil mengetuk-ngetukkan spidol ke papan tulis seperti sedang mengetuk pintu.

Satu nasihat yang paling sering dia ulang:

"Barudak, dalam Islam mah nggak ada istilah pacaran. Jaga pandangan. Jangan pegang-pegangan sama yang bukan mahram. Jangan berduaan, karena yang ketiganya setan. Insyaallah, perempuan yang baik buat laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya."

Raka mencatat itu baik-baik. Setidaknya bagian yang gampang: tidak pacaran, tidak bersentuhan. Sejak itu dia tidak pernah bersalaman dengan perempuan yang bukan mahram. Teman-teman akhwat paham dan ikut menangkupkan tangan di dada setiap kali bertemu dia. Nadia yang paling cepat paham.

Pak Ustaz sebetulnya masih punya lanjutan nasihat itu. Raka mendengarnya juga. Tapi bagian itu entah kenapa tidak pernah dia catat.


2. PING

Raka lulus dan masuk sekolah kedinasan di Jakarta. Asrama, apel pagi, seragam yang disetrika sampai bisa dipakai mengiris roti. Irfan, teman sekelasnya waktu SMA, ternyata keterima di kampus yang sama, jadi setidaknya ada satu orang yang bisa diajak ngomong Sunda tanpa diledek.

Nadia lulus setahun kemudian dan kuliah di Bandung. Rumahnya di Cimahi.

Jarak Jakarta–Bandung ternyata tidak ada artinya bagi BlackBerry.

Nadia: PING!!! Nadia: Kang, dosen aku telat 45 menit terus pas dateng nyuruh kita yang minta maaf. Logikanya di mana Raka: Logikanya di dosen. Mahasiswa mah nggak dikasih logika, cuma dikasih tugas. Nadia: HAHAHAHA bener

Chat mereka jalan hampir setiap hari, berawal dari hal remeh dan sering berakhir jam satu pagi. Foto seblak. Keluhan soal tugas. Gambar kucing Nadia, si Oyen, yang tidur dengan posisi tidak masuk akal.

Lalu suatu malam:

Nadia: Kang, aku teh lagi belajar puasa Senin-Kamis. Tapi nggak pernah bisa bangun sahur 😭 Alarm HP aku matiin sambil tidur. Raka: Mau dibangunin? Nadia: Gimana caranya? Raka: Liat aja nanti.

Senin, jam tiga pagi, BlackBerry Nadia di Cimahi bergetar.

Raka: PING!!! Raka: PING!!! Raka: PING!!! Raka: PING!!! Raka: PING!!! Nadia: UDAH BANGUN IH Raka: Sahur. Jangan tidur lagi. Akang tau kamu mau tidur lagi. Nadia: ... kok tau

Sejak itu, setiap Senin dan Kamis jam tiga pagi, Raka menjadi alarm manusia. Dia memasang pengingat di BlackBerry-nya dengan judul Nadia sahur. Teman sekamarnya di asrama, yang beberapa kali terbangun karena getaran HP Raka di meja, sempat bertanya serius, "Raka, maneh ikut ronda?"

"Iya," jawab Raka. "Ronda sahur."

Ini berlangsung berbulan-bulan, dan tidak sekali pun Raka bertanya pada dirinya sendiri kenapa dia mau bangun jam tiga pagi dua kali seminggu untuk orang yang, katanya, cuma teman.


3. Cuma Temen Doang

Setiap kali Raka pulang ke Bandung, alumni Rohis selalu kumpul. Tempatnya tidak pernah berubah: warung seblak Teh Imas di belakang sekolah. Mejanya panjang, kursinya plastik, dan level pedasnya diberi nama sesuai tingkatan dosa.

Raka selalu duduk di seberang Nadia. Dia tidak pernah merencanakannya. Selalu kebetulan saja kursi itu yang kosong, atau selalu kebetulan saja dia datang terakhir. Kebetulan itu terjadi tujuh kali berturut-turut.

Di kali kedelapan, Irfan yang tidak tahan.

"Ciee," katanya keras-keras, sambil menunjuk Raka dan Nadia bergantian dengan sendok. "Kang Raka sama Nadia teh kapan?"

Satu meja bersorak. Teh Imas sampai menoleh dari balik wajan.

Raka tidak panik. Dia sudah menyiapkan jawaban untuk saat seperti ini. Dia meletakkan sendoknya, memasang muka paling melas, dan berkata dengan suara lantang:

"Aku mah apa atuh. Cuma temen doang."

Semua ber-"huuu". Ada yang melempar kerupuk. Irfan memegangi perut.

Nadia ikut tertawa.

Hanya saja, Raka nanti baru tahu, tawanya datang sedetik lebih lambat dari yang lain.


4. Semoga Kamu Cepet Ketemu

Ulang tahun Nadia jatuh di bulan Maret. Raka memutuskan bahwa ucapan ulang tahun lewat BBM terasa kurang sakral. Jadi dia memakai SMS.

Jam 23.30 dia mulai mengetik. Jam 23.58 ucapannya sudah sepanjang khotbah Jumat. Jam 00.00 tepat dia menekan kirim.

Masalahnya, satu SMS cuma muat 160 karakter. Ucapan Raka terpotong jadi enam bagian. Dan pulsanya, yang memang tinggal sedikit karena akhir bulan, habis di bagian kelima.

Tiga menit kemudian, BBM masuk.

Nadia: Kang Nadia: Makasih 😭😭 panjang pisan Nadia: Tapi SMS-nya berhenti di "dan semoga kamu cepet ketemu" Nadia: Ketemu SIAPA?

Raka menatap layar. Dia tidak ingat persis lanjutannya. Dia cuma ingat bahwa lanjutannya terlalu jujur untuk diketik ulang.

Raka: Ketemu… jodoh. Raka: Eh. Raka: Ketemu IPK 4. Raka: Pokoknya ketemu yang baik-baik lah. Nadia: HAHAHAHA Nadia: :)

Raka memandangi emoticon terakhir itu lama. Dia hafal emoticon tertawa Nadia, emoticon marahnya, emoticon menangis lebaynya. Yang ini dia tidak bisa artikan.

Dia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Dia memang jago untuk urusan itu.


5. Bubur dari Mamah

Bulan Agustus, Nadia kena tifus. Dirawat di rumah, tidak boleh ke mana-mana, dan BBM-nya cuma berisi tiga kalimat sehari, semuanya lesu.

Raka di Jakarta tidak bisa berbuat apa-apa. Di asrama, izin keluar harus diurus seminggu sebelumnya. Jadi dia melakukan satu-satunya hal yang terpikir: menelepon Mamah.

"Mah. Bisa bikinin bubur ayam? Buat dianterin ke Cimahi."

Hening di seberang.

"Ka Cimahi? Saha ieu nu gering?"

"Temen, Mah. Nadia."

"Nadia saha?"

"Temen Rohis, Mah. Adik kelas."

Hening lagi. Lalu suara Mamah, pelan dan sangat curiga: "Babaturan naon nu nepi ka dianteuran bubur ka Cimahi?"

Raka tidak menjawab. Mamah tidak mendesak.

Besoknya, Mamah naik angkot dua kali ke Cimahi, membawa rantang tiga susun berisi bubur ayam, kerupuk, dan sambal yang dipisah. Malamnya Raka menelepon lagi.

"Kumaha, Mah?"

"Budakna bageur," kata Mamah. Jeda. "Indungna oge."

Cuma itu. Mamah tidak bertanya apa-apa lagi, waktu itu atau sesudahnya. Tapi Raka tahu, sejak hari itu, Mamah tahu.


6. Yang Biasa Nemenin Makan Seblak

Bulan-bulan berikutnya, obrolan mereka mulai menyerempet ke masa depan.

Nadia: Kang, nanti penempatan mau di mana? Raka: Di mana aja. Asal pulangnya ke Bandung. Nadia: Kenapa harus Bandung? Raka: Soalnya Mamah di Bandung.

Itu jawaban yang aman. Raka tahu itu jawaban yang aman. Tapi jempolnya, yang sejak tadi lebih jujur daripada kepalanya, terus mengetik.

Raka: Sama seblak Teh Imas. Nadia: Seblak doang? Raka: Sama… Raka: Yang biasa nemenin makan seblak.

Tanda centang berubah jadi R. Dibaca. Nadia sedang mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.

Raka panik. Sebelum balasan Nadia masuk, dia mengirim jurus andalannya:

Raka: Aku mah apa atuh, cuma temen doangg 😭

Nadia: Akang mah gitu terus.

Raka tertawa sendiri di kasur asrama. Dia mengira Nadia sedang bercanda.


7. Temen Aku

Ada beberapa hal yang, kalau Raka mau jujur, seharusnya dia perhatikan.

Suatu malam Nadia bertanya, "Kang, Akang teh pernah suka sama orang nggak?" Raka menjawab, "Pernah. Tapi nanti aja ceritanya. Kalau udah waktunya." Nadia membalas, "Kapan waktunya?" Raka mengirim stiker orang tidur.

Di lain malam, Nadia bercerita ada kakak tingkat yang beberapa kali menawarinya pulang bareng.

Raka: Ciee. Hati-hati, kakak tingkat mah licin. Raka: Tapi nanti kalau kamu udah punya pacar mah, Akang mundur ya. Nggak enak deket-deket sama pacar orang. Nadia: Kok gitu? Raka: Ya kan prinsip. Raka: Eh btw si Oyen udah divaksin belum?

Lalu suatu malam, jam sebelas lewat, masuk BBM yang panjang.

Nadia: Kang, mau nanya. Tapi ini teh soal temen aku ya. Nadia: Temen aku ada yang lagi digantungin. Udah lama deket sama cowok, udah bertahun-tahun. Perhatian, nemenin, pokoknya kayak yang suka. Tapi cowoknya nggak pernah bilang apa-apa. Kalau ditanya selalu bercanda. Nadia: Terus sekarang ada cowok lain yang nembak dia. Orangnya baik. Jelas. Nadia: Menurut Akang temen aku harus gimana?

Raka membacanya dengan serius. Dia memang selalu serius kalau Nadia bertanya soal temannya. Dia ingin jadi sahabat yang bijak.

Raka: Bilangin temenmu, sabar dulu. Raka: Mungkin cowoknya lagi nyiapin sesuatu. Laki-laki mah kadang diem bukan karena nggak serius. Justru karena serius. Raka: Kalau cowok yang satunya cuma ngajak pacaran, belum tentu lebih baik.

Lama tidak ada balasan. Lalu:

Nadia: Oke, Kang.

Cuma itu.

Raka mengirim stiker jempol, lalu tidur nyenyak. Dia merasa sudah memberi nasihat yang bagus.

Sampai bertahun-tahun kemudian, setiap kali teringat malam itu, dia selalu ingin kembali ke kasur asrama yang sempit itu dan menampar dirinya sendiri dengan bantal.


8. In a Relationship With

Dua minggu kemudian, Selasa pagi, Raka antre kamar mandi asrama sambil membuka aplikasi Facebook di BlackBerry-nya. Kebiasaan buruk. Antreannya panjang, sinyalnya lambat, dan berandanya biasanya cuma berisi foto makanan dan kuis "Kamu Mirip Tokoh Kartun Siapa?".

Pagi itu, beranda menampilkan satu kabar di urutan paling atas.

Nadia Anindya is in a relationship with Bayu Ramadhan.

Nama Bayu biru, bisa diklik. Di bawahnya ada 47 like, dan komentar dari teman-teman SMA yang Raka kenal semua.

Ciyeeeh akhirnyaaa 😍 Barakallah Naaad 🤭 PJ PJ PJ

Raka me-refresh halaman. Statusnya masih di situ.

Dia me-refresh lagi. Masih.

Dia me-refresh sekali lagi, entah berharap apa. Mungkin berharap Facebook salah ketik.

"Raka! Woy! Giliran!" teriak teman di belakangnya. Antrean sudah maju dan dia berdiri sendirian di depan pintu kamar mandi yang terbuka.

Dia mandi dengan air yang dinginnya tidak dia rasakan.


Siangnya, di sela jam kuliah, Raka membuka profil Bayu. Dia tahu itu ide buruk, dan dia tetap melakukannya.

Foto di puncak gunung. Foto dengan motor bebek yang dimodifikasi seadanya. Foto memakai jaket himpunan, merangkul teman-temannya, tertawa lebar. Laki-laki biasa. Kelihatan baik. Kelihatan seperti orang yang kalau suka sama seseorang, ya bilang.

Justru itu yang membuat dadanya sesak.

Raka kembali ke status Nadia. Dia mengetik komentar:

Selamat, Nad! Traktiran mana traktiran 🎉

Dia hapus. Dia ketik lagi. Dia hapus lagi. Dia ketik lagi, kali ini tanpa emoticon. Lalu dia hapus semuanya, dan cuma menekan tombol Like.

Begitu jempol birunya menyala, dia langsung menyesal.


Sorenya, BBM masuk. Seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa.

Nadia: Kang, si Oyen udah sembuh. Ternyata kemarin muntah bulu gara-gara kebanyakan makan rumput 😂

Malam sebelumnya, Nadia masih bercerita soal Oyen yang muntah. Malam sebelumnya, status itu belum ada. Raka berusaha menghitung di jam berapa antara dua pesan itu hidupnya bergeser, dan tidak berhasil.

Raka: Alhamdulillah. Raka: Selamat juga ya, Nad. Yang di FB. Nadia: Hehe. Makasih, Kang.

Setelah itu, Raka melakukan yang dulu dia bilang akan dia lakukan. Dia mundur.

Bukan dengan bertengkar. Bukan dengan menghilang. Hanya pelan-pelan: balasan yang makin pendek, jeda yang makin panjang. Pengingat Nadia sahur di BlackBerry-nya dia matikan, tapi tidak dia hapus, karena dia tidak sanggup.

Nadia tidak pernah bertanya kenapa. Raka tidak tahu apakah itu karena Nadia tidak peduli, atau karena dia sudah tahu jawabannya.


9. Hujan Setelah Tarawih

Ramadan tahun itu, alumni Rohis mengadakan buka bersama dan tarawih di musala sekolah lama mereka. Raka dan Nadia sama-sama didaulat jadi panitia, karena dua-duanya dulu pengurus dan karena, kata Irfan, "kalian berdua teh paling rajin ngumpulin duit kas."

Selama acara, mereka bekerja seperti dua panitia profesional. Nadia mengurus takjil, Raka mengurus sound system. Mereka bicara secukupnya, sopan, dan efisien. Irfan, yang tahu sedikit dan menebak sisanya, tidak berani bercanda soal mereka.

Selesai tarawih, alumni pulang satu per satu. Tinggal beberapa panitia yang membereskan kardus takjil. Lalu satu per satu mereka juga pamit: ada yang dijemput, ada yang bawa motor. Tepat ketika tinggal Raka dan Nadia yang belum pulang, hujan turun.

Bukan gerimis. Hujan Bandung yang turun seperti ditumpahkan dari ember, membuat genteng musala berisik dan jalan di depan sekolah berubah jadi sungai kecil. Angkot tidak lewat-lewat.

Mereka tidak sendirian. Mang Dadang, marbot musala sejak zaman mereka masih pakai seragam putih abu, sedang mengepel lantai di dalam dengan pintu terbuka lebar. Sesekali dia menyanyikan lagu Sunda lawas, dengan nada yang tidak pernah benar.

Raka sengaja duduk di ujung teras yang terlihat dari pintu musala. Nadia duduk di ujung satunya, dua meter jauhnya, dipisah tumpukan kardus air mineral. Mang Dadang terlalu jauh untuk mendengar, tapi cukup dekat untuk terlihat. Raka tidak bilang apa-apa soal itu, dan Nadia juga tidak bertanya.

Waktu Nadia berdiri untuk memindahkan satu kardus, kakinya tergelincir di lantai teras yang basah.

Raka bergerak duluan, lebih cepat dari pikirannya. Tangannya terulur. Lalu, di tengah jalan, tangan itu berhenti, ditarik kembali, dan diganti dengan gagang payung lipat yang sejak tadi dia pegang.

Nadia menangkap gagang payung itu, berhasil berdiri tegak, lalu tertawa.

"Masih aja, Kang," katanya. "Dari SMA."

Raka nyengir. "Konsisten, Nad. Itu kelebihan Akang satu-satunya."

Nadia duduk lagi. Kali ini senyumnya agak lama.


Mereka mengobrol ringan. Pohon mangga di depan musala, yang dulu dipakai Irfan untuk sembunyi kalau telat salat, ternyata sudah ditebang. Pak Ustaz sudah pensiun dan pulang kampung ke Tasik. Teh Imas sekarang menjual seblak dengan topping keju, dan itu, menurut Nadia, adalah pengkhianatan budaya.

Lalu hujan makin deras, dan obrolan ringan kehabisan bahan.

"Kang," kata Nadia, sambil memandangi air yang jatuh dari ujung genteng. "Akang teh kenapa sekarang jarang bales?"

Raka sudah menduga pertanyaan itu akan datang, entah kapan. Dia tetap tidak siap.

"Sibuk, Nad," katanya. "Akang kan calon abdi negara. Banyak apel."

Nadia tidak tertawa. Itu pertanda buruk. Nadia selalu tertawa, bahkan pada lelucon Raka yang paling garing sekalipun.

"Gara-gara Bayu, ya?"

Raka diam.

"Akang kan dulu bilang," kata Nadia pelan, "kalau aku udah punya pacar, Akang mundur. Nggak enak sama pacar orang. Ternyata Akang beneran."

"Ya kan prinsip."

"Iya. Prinsip."

Nadia menarik napas panjang. Di dalam musala, Mang Dadang pindah ke lagu berikutnya.

"Kang, aku mau jujur. Sekali ini aja. Habis ini aku nggak bakal bahas lagi."

Raka mengangguk. Dia memegang gagang payungnya terlalu erat.

"Aku dulu suka sama Akang."

Hujan di genteng musala terdengar sangat keras.

"Dari SMA," lanjut Nadia, masih memandangi hujan. "Dari kertas-kertas di bawah tirai itu. Dari gambar Pak Ustaz ketiduran. Aku masih nyimpen, tau."

Raka tidak bisa bicara.

"Terus Akang ke Jakarta. Terus kita BBM-an tiap hari. Terus Akang bangunin aku sahur jam tiga pagi, Senin-Kamis, berbulan-bulan. Terus Mamah Akang nganterin bubur ke Cimahi. Mamah Akang, Kang. Pake rantang. Terus Akang bilang mau pulang ke Bandung soalnya ada yang biasa nemenin makan seblak." Suaranya mulai bergetar. "Aku teh harus mikir apa, Kang?"

"Nad…"

"Aku nunggu. Dua tahun. Aku kirim tanda sebanyak yang aku bisa tanpa harus nembak duluan. Aku perempuan, Kang. Aku nggak mau nembak duluan." Dia tertawa kecil, tapi tidak ada yang lucu. "Terus setiap kali aku deket dikit, Akang bilang apa?"

Raka tahu jawabannya. Dia tidak mau mengucapkannya.

Nadia yang mengucapkannya, dengan suara melas yang meniru gaya Raka hampir dengan sempurna:

"Aku mah apa atuh, cuma temen doang."

Lalu suaranya kembali jadi suaranya sendiri.

"Akang sendiri yang bilang, Kang. Di warung seblak, di depan semua orang. Terus di BBM. Berkali-kali. Aku teh harus percaya yang mana? Bubur dari Mamah, atau 'cuma temen doang'?"

Raka menunduk. Air hujan memercik ke ujung sandalnya.

"Terus," kata Nadia, lebih pelan, "temen aku yang digantungin itu, Kang. Yang aku tanyain malem-malem."

Raka mengangkat kepala.

"Itu aku."

Raka teringat jawabannya sendiri malam itu. Bilangin temenmu, sabar dulu. Laki-laki mah kadang diem justru karena serius. Dia merasa seperti seseorang yang baru tahu bahwa selama ini dia menjawab soal ujiannya sendiri dengan jawaban yang salah.

"Terus Bayu dateng," kata Nadia. "Dia nggak muter-muter. Dia bilang, 'Aku suka kamu. Mau jadi pacarku?' Udah. Gitu doang. Dan untuk pertama kalinya, Kang, aku tau aku teh siapa buat seseorang."

Dia akhirnya menoleh ke Raka. Matanya basah, tapi suaranya tegas.

"Tapi itu dulu, Kang. Sekarang aku sama Bayu. Dan aku mau serius jaga itu. Aku nggak mau nyakitin orang yang udah berani jelas sama aku."


Raka lama tidak bicara. Ketika akhirnya bicara, suaranya keluar lebih serak dari yang dia kira.

"Akang juga suka sama kamu, Nad. Dari lama."

Nadia memejamkan mata sebentar, seperti orang yang menerima kabar yang sudah dia tahu tapi tetap sakit mendengarnya.

"Akang diem bukan karena nggak serius," kata Raka. "Justru karena serius. Akang kira, jelas itu teh nikah, Nad. Bukan pacaran. Akang mau lulus dulu, kerja dulu, terus dateng ke rumah kamu, ke bapak kamu. Akang lagi nyiapin itu. Akang kira kamu tau."

"Gimana aku bisa tau, Kang?" kata Nadia, hampir berbisik. "Akang nggak pernah bilang."

"Akang kira…"

"Aku nggak minta dinikahin sekarang, Kang. Aku nggak minta dipacarin juga. Aku cuma pengin tau aku teh siapa buat Akang. Itu aja. Satu kalimat."

Satu kalimat.

Raka memikirkan semua kalimat yang bisa dia ucapkan selama dua tahun itu. Nad, Akang serius. Nanti kalau udah siap, Akang mau ke rumah. Kalimat itu tidak melanggar prinsip apa pun. Bukan ajakan pacaran. Tidak perlu bersentuhan, tidak perlu berduaan. Cuma satu kalimat, dan dia tidak pernah mengucapkannya. Karena takut. Karena merasa belum pantas. Karena mengira diam sudah cukup jelas.

Ternyata diam tidak pernah jelas untuk siapa pun.

Lalu, di teras musala itu, di bawah genteng yang sama, dia akhirnya ingat lanjutan nasihat Pak Ustaz. Bagian yang dulu tidak pernah dia catat:

"Kalau udah suka sama seseorang dan udah mampu, datangi walinya. Kalau belum mampu, puasa, sibukkan diri, jaga hati. Jangan mainin perasaan anak orang. Jangan kasih harapan yang nggak bisa kamu tanggung."

Dia tidak pernah pacaran. Dia tidak pernah menyentuh Nadia, bahkan barusan, waktu Nadia hampir jatuh. Dia merasa sudah menjaga diri dengan baik.

Padahal selama dua tahun dia mengirim PING jam tiga pagi. Dia mengirim bubur lewat Mamah. Dia bilang "yang biasa nemenin makan seblak" lalu kabur ke "cuma temen doang". Dia membiarkan seseorang berharap, dan tidak pernah datang ataupun bilang apa-apa.

Yang dia jaga selama ini cuma kulitnya.

"Maaf, Nad," katanya. "Akang telat."

Nadia mengangguk. Dia tidak bilang "nggak apa-apa", dan Raka bersyukur dia tidak bilang begitu. Itu akan jadi bohong, dan mereka berdua sudah cukup lama saling membohongi diri.


Lampu kuning muncul dari ujung jalan. Angkot hijau, akhirnya.

Mereka berdua berdiri. Angkot itu berhenti di depan gerbang sekolah, dan pintunya terbuka.

Isinya penuh sesak. Tujuh ibu-ibu, empat karung bawang, dan satu kambing kecil yang diikat di kaki kursi, memandang mereka dengan tatapan kosong.

Angkot itu berlalu.

Raka dan Nadia saling pandang. Lalu, entah siapa yang mulai, mereka tertawa. Tertawa yang aneh, setengah sedih setengah geli, sampai Mang Dadang melongok dari pintu musala dengan pel di tangan, bingung.

Sepuluh menit kemudian, angkot berikutnya datang. Kali ini ada tempat.

Raka menyodorkan payung lipatnya. Nadia menerimanya, lewat gagangnya, seperti tadi.

"Nanti Akang basah," kata Nadia.

"Rumah Akang deket. Jalan kaki lima belas menit."

Nadia naik. Sebelum pintu angkot tertutup, dia menoleh.

"Kang."

"Hm?"

"Nanti, ke orang berikutnya, langsung bilang aja, ya. Jangan bikin dia nebak-nebak kayak aku."

Pintu tertutup. Angkot itu menjauh, lampunya mengecil, lalu hilang di tikungan.

Raka berjalan pulang di bawah hujan, tanpa payung.


10. Sahur Dua Piring

Raka sampai rumah basah kuyup, langsung masuk kamar, dan tidak keluar sampai jam tiga pagi.

Jam tiga pagi, waktu sahur, dia duduk di meja makan dan menghabiskan dua piring nasi.

Mamah memperhatikannya dari balik kompor. "Meni lapar pisan, A?"

"Patah hati teh butuh kalori, Mah."

Mamah tidak bertanya apa-apa. Dia tidak perlu bertanya, karena dia sudah tahu sejak urusan rantang ke Cimahi. Dia cuma menggoreng satu telur dadar lagi dan meletakkannya di atas nasi Raka tanpa bicara.

Di sela suapan, Raka membuka kalender di BlackBerry-nya. Pagi itu hari Kamis, dan di kolom hari itu masih ada satu pengingat yang sudah berbulan-bulan dia matikan bunyinya tapi tidak pernah dia hapus.

Nadia sahur.

Raka memandanginya lama. Lalu, dengan jempol yang sama yang dulu mengetik "cuma temen doang", dia menekan Hapus.

Dia memakan telur dadar Mamah sampai habis.


Waktu berjalan seperti biasa: tidak peduli siapa yang patah hati.

Raka lulus. Dia ditempatkan di Jakarta. Ada kantor, gaji pertama, kos sendiri di gang sempit dekat Stasiun Tebet, dan perasaan aneh bahwa sekarang dia sudah "siap", persis seperti yang dulu dia rencanakan, hanya saja tanpa orang yang dulu dia rencanakan.

Chat dengan Nadia tinggal sesekali. Ucapan ulang tahun, sekarang lewat BBM, pendek, dan tidak ada yang terpotong. Ucapan lebaran. Satu-dua komentar di Facebook.

Dari beranda Facebook, Raka sesekali melihat kabar Nadia. Foto berdua dengan Bayu di kebun teh Lembang. Foto kue dengan lilin dan tulisan 2 tahun 💕. Setahun kemudian, 3 tahun.

Status hubungannya tidak berubah: In a relationship with Bayu Ramadhan.

Raka tidak lagi me-refresh halaman. Dia cuma lewat, kadang memberi like, lalu lanjut bekerja. Lukanya sudah jadi bekas, bukan luka basah lagi. Kalau ditekan masih terasa, tapi dia sudah jarang menekannya.


11. Komentar di Bawah Foto

Irfan juga ditempatkan di Jakarta, dan sejak SMA dia tidak pernah berhenti jadi orang paling berisik dalam hidup Raka.

Suatu malam, Irfan mengunggah foto ke Facebook: belasan anak kecil duduk bersila di lantai masjid, beberapa perempuan berkerudung berdiri di belakang mereka. Caption-nya:

Bakti sosial di Garut bareng temen-temen. Seru pisan! 🙏

Raka membaca kolom komentarnya sambil tiduran. Komentar ketiga datang dari akun bernama Salma Nurhaliza:

Fan, itu bukan 'bakti sosial', itu 'pengajian anak yatim'. Beda acara 😊

Raka tertawa sendiri di kamar kos. Sopan, tapi telak. Dia menekan Like tanpa berpikir panjang.

Lima menit kemudian, BlackBerry-nya bergetar.

Irfan: WOY. Irfan: Maneh nge-like komen Salma?? Raka: Emang kenapa? Komennya lucu. Irfan: Itu temen urang. Guru SD di Garut. Anak liqo. Belum pernah pacaran. Irfan: Sama kayak maneh, cuma bedanya dia mah beneran soleh 😂 Irfan: Mau dikenalin?

Raka memandangi layar.

Dulu, dia akan menjawab dengan bercanda, lalu mengganti topik. Lalu menyimpan foto profil itu di kepalanya selama dua tahun, menunggu waktu yang tepat.

Dia ingat teras musala. Hujan. Pintu angkot yang menutup.

Jangan bikin dia nebak-nebak kayak aku.

Raka: Mau. Raka: Tapi urang yang ngomong langsung. Irfan: ANJIR. MANEH BERUBAH. Siapa yang ngajarin? Raka: Panjang ceritanya.


Raka mengirim permintaan pertemanan, lalu satu pesan Facebook yang dia tulis ulang empat kali sampai cukup sopan:

Assalamu'alaikum, Teh Salma. Saya Raka, temen Irfan dari SMA. Tadi saya baca komentar Teteh di foto Irfan, dan saya setuju, itu memang bukan bakti sosial. Salam kenal.

Salma membalas besok paginya, jam enam lewat sedikit. Bukan tengah malam.

Wa'alaikumussalam. Salam kenal, Kang. Irfan memang suka asal kasih caption. 😊

Mereka bertukar pesan beberapa kali. Soal Irfan, soal pekerjaan masing-masing, soal murid-murid Salma yang menurut Salma "kelakuannya kayak anak ayam lepas". Pesannya tidak panjang, tidak sering, dan tidak pernah lewat dari jam sembilan malam.

Di pesan ketiga, Salma menulis sesuatu yang membuat Raka hampir menjatuhkan HP-nya.

Afwan, Kang, sebelum lanjut ngobrol, saya mau nanya dulu. Tujuannya apa, nya? Biar saya nggak nebak-nebak.

Raka menatap kalimat itu.

Nebak-nebak.

Kata yang sama, dari orang yang berbeda, di tempat yang berbeda, bertahun-tahun kemudian. Seperti soal ujian yang dulu dia jawab salah, sekarang datang lagi dengan angka yang berbeda.

Kali ini dia tidak kabur.

Saya mau jujur, Teh. Saya lagi cari yang serius, buat nikah. Saya udah kerja, insyaallah udah siap. Kalau Teteh berkenan, saya mau kenal Teteh ke arah sana. Dan saya mau kenal keluarga Teteh dari awal, bukan belakangan.

Dia menekan kirim sebelum sempat menghapusnya.

Balasan datang dua jam kemudian. Dua jam terpanjang dalam hidup Raka, termasuk antrean kamar mandi asrama dulu.

Alhamdulillah. Akhirnya ada juga yang ngomongnya jelas.

Belakangan Raka tahu, sebelum dia, ada beberapa laki-laki yang mendekati Salma. Semuanya mengajak "jalan dulu aja, nggak usah dipikirin jauh-jauh". Semuanya mundur begitu Salma menjawab, "Kalau serius, kenalan sama Bapak saya."

Raka tertawa membaca cerita itu. Kata jelas di pesan Salma terasa seperti hadiah kecil yang dikirim dari teras musala bertahun-tahun lalu.


12. Bukan Pacaran

Masalah pertama muncul di minggu kedua, dan masalahnya adalah istilah.

"Jadi kita teh sekarang pacaran, Teh?" tanya Raka lewat telepon, dengan nada setengah bercanda. "Pacaran yang syar'i?"

Di seberang, Salma diam sebentar.

"Bukan pacaran, Kang. Kenalan buat nikah."

"Ya sama aja atuh, Teh. Isinya sama."

"Beda. Pacaran syar'i mah nggak ada, Kang. Itu teh kayak bilang ngopi tanpa kopi."

Raka tertawa sampai harus menjauhkan HP dari telinga.

Masalahnya, tidak ada yang sepakat soal nama. Irfan menyebutnya "proyek". Ibu Salma, waktu Raka pertama kali menelepon untuk memperkenalkan diri, menyebutnya "prosés". Teman-teman kantor Raka, yang memergoki Raka tersenyum-senyum sendiri di pantry, menyebutnya "LDR-an sama ukhti".

Isinya, apa pun namanya, sama saja. Batasannya mereka sepakati tanpa perlu banyak diskusi, karena ternyata dua-duanya sudah memegang batasan itu sejak lama: tidak bersentuhan, tidak bergandengan, tidak bersalaman, dan tidak berduaan.

Untuk yang terakhir, jarak Jakarta–Garut justru membantu. Mereka hampir tidak pernah bertemu, kecuali di rumah Salma, di ruang tamu dengan pintu terbuka, sementara Ibu Salma bolak-balik "kebetulan" lewat membawa pisang goreng, teh manis, lalu pisang goreng lagi.

Yang paling berat buat Raka adalah jam tidur Salma.

Salma tidur jam sembilan malam. Setelah isya, dia tidak membalas pesan kecuali penting. Raka, yang pernah bertahun-tahun hidup dalam ritme BBM sampai jam satu pagi, awalnya merasa seperti ikan yang dipindahkan ke akuarium baru.

Raka: Teh, udah tidur? (21.14)

Salma: Udah, Kang. Ini kebangun mau minum. Tidur lagi, nya. Assalamu'alaikum. (04.30)

Bulan pertama, Raka tersiksa. Bulan kedua, dia mulai tidur jam sepuluh. Bulan ketiga, dia sadar bahwa dia tidak pernah merasa sesegar ini sejak SMA.

Belakangan dia bersyukur. Dengan Salma, tidak ada yang menggantung di udara jam satu pagi. Semua yang perlu dikatakan, dikatakan siang hari, dengan jelas, lalu selesai.


Pertemuan pertama mereka bukan di kafe. Bukan juga di warung bakso. Tapi di ruang tamu rumah Salma di Garut, di depan Bapak dan Ibu Salma.

Raka berangkat naik bus malam dari Terminal Kampung Rambutan, lima jam perjalanan, ditemani Irfan yang mengaku ikut "sebagai saksi", padahal jelas-jelas sebagai penonton.

Rumah Salma rumah tua dengan halaman luas, pohon jambu air, dan ruang tamu yang dindingnya penuh foto keluarga berbingkai emas. Bapak Salma, pensiunan mantri puskesmas, duduk di kursi rotan dengan kopi hitam di tangan dan tatapan seperti sedang memeriksa pasien.

Salma duduk di samping ibunya. Kerudungnya biru tua, menutup sampai dada. Dia menyapa Raka dengan menangkupkan tangan di dada. Raka membalas dengan cara yang sama, dan untuk sesaat dia lupa semua kalimat yang sudah dia siapkan di bus.

Lalu Bapak berkata, "Mangga, Nak Raka. Ceritakan diri."

Dan Raka, karena gugup, melakukan hal paling memalukan yang bisa dia lakukan: dia presentasi.

"Baik, Pak. Poin pertama: nama saya Raka, asli Bandung. Poin kedua: saya bekerja di Jakarta, insyaallah penghasilan cukup untuk berkeluarga. Poin ketiga…"

Di sebelahnya, Irfan tiba-tiba batuk-batuk. Batuknya panjang, aneh, dan makin keras di setiap kata "poin". Akhirnya Irfan minta izin ke kamar mandi dan tidak kembali selama sepuluh menit.

Salma menunduk. Bahunya bergetar. Ibu Salma pura-pura sibuk menuang teh.

Bapak mendengarkan sampai poin ketujuh tanpa ekspresi. Lalu dia meletakkan kopinya.

"Bisa main catur?"

Raka bisa main catur. Dalam artian dia tahu kuda jalannya bentuk L.

Dia kalah tiga kali berturut-turut. Yang ketiga, dalam sebelas langkah.

Di akhir partai ketiga, Bapak bersandar di kursi rotannya, memandangi Raka lama, lalu, untuk pertama kalinya hari itu, tersenyum.

"Jujur," katanya. "Kalah teh jujur. Nggak pura-pura ngalah, nggak pura-pura bisa."

Raka tidak tahu itu pujian atau bukan. Belakangan Salma memberi tahu bahwa itu pujian tertinggi yang pernah keluar dari mulut Bapak untuk laki-laki mana pun.


Beberapa bulan bolak-balik Jakarta–Garut naik bus malam. Beberapa puluh partai catur, dan Raka akhirnya menang sekali, yang dia curigai karena Bapak sengaja mengalah. Beberapa ratus pisang goreng.

Lalu Raka datang lagi, kali ini bersama Mamah dan keluarga besar, untuk melamar.

Malam lamaran itu ruang tamu penuh. Keluarga Raka di satu sisi, keluarga Salma di sisi lain. Kue-kue di meja, seserahan di pojok, Irfan di barisan belakang memegang kamera.

Di tengah acara, Bapak Salma berdeham dan bertanya, dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang:

"Nak Raka. Sebelum Salma, pernah pacaran?"

Ruangan hening.

"Belum pernah, Pak," jawab Raka.

Bapak mengangguk puas.

Lalu, karena dia tetap Raka, dan karena ada beberapa hal yang tidak bisa diubah oleh pengalaman apa pun, dia menambahkan:

"Sama Teh Salma juga bukan pacaran, Pak. Kata Teh Salma mah."

Ruang tamu pecah oleh tawa. Mamah memukul lengan Raka. Ibu Salma tertawa sampai harus memegangi meja. Irfan, di belakang, berteriak, "TERUS APA DONG? PROYEK!"

Salma, yang duduk di samping ibunya, menunduk sambil menutup mulut dengan ujung kerudungnya. Raka bisa melihat matanya menyipit, tanda dia sedang tertawa sungguhan.

Perang istilah itu selesai malam itu. Dua-duanya merasa menang.


Di tengah tawa itu, Raka teringat Pak Ustaz di kajian Jumat. Spidol yang diketuk-ketuk ke papan tulis.

Perempuan yang baik buat laki-laki yang baik.

Raka tahu dirinya tidak sebaik itu. Dia tahu dia cuma menjalankan sebagian dari nasihat Pak Ustaz, dan cara dia mengenal Salma pun belum sepenuhnya seperti yang diajarkan. Salma yang rajin liqo, yang menolak kata pacaran, yang tidur jam sembilan dan bangun sebelum subuh, jelas lebih baik daripada dia.

Tapi bagian kecil yang dia jaga dengan sungguh-sungguh sejak SMA, tidak pernah main-main dan tidak pernah menyentuh, ternyata tetap membuahkan hasil. Dia dipertemukan dengan perempuan yang juga menjaga diri. Rasanya seperti diberi lebih dari yang pantas dia terima.

Raka bersyukur dengan cara itu: malu sekaligus lega.


Undangan sudah dicetak. Raka memandangi satu lembar di meja kosnya cukup lama.

Lalu dia membuka Facebook, mencari nama Nadia, dan mengirim pesan.

Nad. Akang mau nikah. Doain, ya. Dateng, sama Bayu.

Dia sengaja menulis nama Bayu. Dia tidak mau ada yang canggung. Dia tidak mau Nadia merasa harus memilih antara datang sendiri atau tidak datang sama sekali.

Kali ini dia langsung bilang.

Balasan datang sebelas menit kemudian.

MASYAALLAH KANG 😭😭😭 DATENG ATUH!! Nanti aku koordinir anak-anak alumni Rohis, kita nyarter elf dari Bandung. Bayu ikut. Mang Dadang juga aku ajak!!

Huruf kapitalnya masih sama seperti dulu.


13. Salaman Tanpa Menyentuh

Resepsinya di halaman rumah keluarga Salma di Garut. Tenda biru dari ujung pagar sampai pohon jambu air. Kursi plastik merah berjejer. Prasmanan dengan rendang, sayur lodeh, dan kerupuk yang disusun seperti menara. Di pojok, organ tunggal memainkan lagu-lagu yang terlalu semangat untuk siang yang sepanas itu.

Raka duduk di pelaminan dengan beskap yang membuatnya sulit bernapas. Di sebelahnya, Salma tampak tenang, seperti biasa. Yang tidak biasa adalah sesekali Salma menoleh ke Raka dan tersenyum tanpa alasan.

Menjelang zuhur, sebuah elf putih berhenti di mulut gang.

Pintunya terbuka. Satu per satu turun wajah-wajah yang Raka kenal: anak-anak alumni Rohis, sebagian sudah menggendong bayi, ada yang perutnya lebih maju dari terakhir kali Raka lihat, ada yang masih memakai jaket almamater karena tidak sempat ganti baju. Begitu melihat pelaminan, mereka serempak berteriak dari ujung gang:

"KANG RAKAAAAA!"

Organ tunggal sampai berhenti sebentar.

Di antara mereka ada Mang Dadang, memakai peci hitam dan kemeja batik yang kebesaran. Dia melambaikan tangan ke Raka seperti melambai ke kapal yang mau berlayar.

Dan di antara mereka ada Nadia, dengan gamis krem. Di sebelahnya Bayu, memakai batik yang kelihatan baru disetrika tadi pagi.


Bayu naik ke pelaminan lebih dulu. Dia menjabat tangan Raka dengan erat, hangat, tanpa basa-basi.

"Selamat, Kang. Nadia teh dari kemarin heboh mulu mau ke sini. Bajunya ganti tiga kali."

"Hatur nuhun, Bay. Makasih udah jauh-jauh."

Bayu bergeser ke Salma. Tangannya sempat terulur setengah, lalu dia melihat Salma sudah menangkupkan tangan di depan dada. Tangannya berhenti di udara, ragu sebentar, lalu buru-buru ikut menangkup di dada, sedikit terlalu cepat.

"Selamat, Teh," katanya, sambil mengangguk-angguk sopan. Telinganya agak merah.

Salma tersenyum. "Hatur nuhun, A."

Lalu Nadia.

Dia berdiri di depan Raka. Tanpa perlu diberi tahu, tanpa ragu sedetik pun, dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Raka melakukan hal yang sama.

Dua pasang telapak tangan, terpisah sejengkal udara. Persis seperti waktu SMA. Persis seperti di teras musala waktu hujan, waktu gagang payung lipat yang menggantikan tangannya.

"Barakallah, Kang," kata Nadia. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya lebar, selebar senyum yang dulu cuma bisa Raka bayangkan dari balik tirai hijau. "Akhirnya jelas juga, ya."

"Hatur nuhun, Nad," kata Raka. "Kali ini Akang langsung bilang."

Nadia tertawa kecil, lalu bergeser ke Salma. Dua perempuan itu berpelukan seperti teman lama, padahal baru bertemu lima detik.

Raka mendengar Nadia berbisik ke telinga Salma, tapi bisikannya cukup keras untuk didengar seisi pelaminan:

"Teh, titip Kang Raka, ya. Orangnya suka ngelucu kalau lagi gugup."

Salma tersenyum. "Udah ketahuan, Teh. Pas pertama ketemu Bapak, dia presentasi. Pake poin-poin."

Nadia menutup mulutnya dan menoleh ke Raka dengan mata membesar. "Poin-poin, Kang? Serius?"

"Sampe poin tujuh," tambah Salma.

Dua perempuan itu tertawa bersama. Raka duduk di tengah pelaminan dengan muka merah sampai ke telinga, dan memutuskan bahwa ini harga yang pantas.


Dari pelaminan, Raka bisa melihat rombongan alumni menguasai dua meja prasmanan di bawah tenda. Mereka berisik seperti dulu di warung seblak Teh Imas. Irfan berdiri di atas kursi, memotret semua orang. Mang Dadang sedang menambah rendang untuk ketiga kalinya, sementara anak-anak alumni menggodanya dengan "Mang, kolesterol, Mang!"

Nadia dan Bayu duduk di tengah mereka. Raka melihat Bayu mengambilkan kerupuk untuk Nadia, dan Nadia mengambilkan sambal untuk Bayu, dengan gerakan yang sudah jadi kebiasaan.

Raka memperhatikan mereka sebentar.

Dia tidak merasa menang. Dia juga tidak merasa kalah. Setiap orang punya waktunya sendiri, dan setiap orang punya kamusnya sendiri.

Dalam hati dia cuma berdoa, semoga Nadia dan Bayu juga menemukan jelas versi mereka.

Lalu Salma menyentuh ujung lengan beskapnya, pelan, untuk pertama kalinya. Mereka sudah sah, dan Raka hampir melompat dari kursi.

"A," bisik Salma. "Senyum. Difoto."

Raka senyum.


Malamnya, setelah tamu terakhir pulang dan tenda mulai dibongkar, Raka duduk di tepi kasur di kamar yang dulu kamar Salma. Dindingnya masih penuh piagam lomba cerdas cermat dan foto wisuda.

Dia membuka Facebook di HP-nya. Dia membuka profilnya sendiri, menekan Edit, lalu menggulir ke bagian yang belum pernah dia isi seumur hidup.

Status Hubungan.

Dia tidak memilih In a relationship with.

Raka is married to Salma Nurhaliza.

Dia menekan Simpan dan memandangi baris itu lama. Ternyata begini rasanya kejelasan versi dia. Persis seperti yang dulu dia bayangkan di kasur asrama, hanya dengan nama yang berbeda. Anehnya, itu tidak terasa salah sama sekali.

Notifikasi mulai berdatangan. Ucapan selamat, like, komentar dari teman kantor yang menulis "AKHIRNYA UKHTI" dengan huruf kapital.

Lalu satu notifikasi lain: Nadia Anindya menandai Anda di sebuah foto.

Fotonya diambil siang tadi di depan pelaminan. Seluruh rombongan alumni Rohis berjajar, Raka dan Salma di tengah. Semuanya menangkupkan tangan di depan dada, karena Nadia yang mengatur gayanya dan berteriak "TANGKUP SEMUA, TANGKUP!" sebelum Irfan memotret.

Semuanya, kecuali Mang Dadang di pojok kanan, yang dengan percaya diri mengacungkan dua jempol.

Keterangannya:

Nadia Anindya: Kondangan sahabat dari jaman Rohis 🤍 Barakallahu lakuma, Kang Raka & Teh Salma. Jangan lupa traktiran seblak Teh Imas. Yang level dosa besar.

Raka tertawa pelan.

Rasanya tidak lagi sakit. Hanya hangat, seperti membuka kotak sepatu berisi kertas-kertas lama dan menemukan gambar Pak Ustaz ketiduran, lengkap dengan zzzZZZ-nya.

Persahabatan itu ternyata tidak hilang. Bentuknya saja yang berubah.

Salma, yang sedang melepas jepit kerudung di depan cermin, menoleh. "Saha, A? Senyum-senyum sendiri."

"Nadia," kata Raka. "Temen SMA. Yang ngajarin Akang cara ngomong jelas."

Salma mengangguk dan kembali melepas jepit kerudungnya. Dia tidak bertanya lagi. Raka sudah menceritakan semuanya di bulan-bulan pertama mereka kenal: kertas di bawah tirai, PING jam tiga pagi, teras musala, payung lipat. Salma bertanya, dan kali ini Raka memutuskan untuk tidak menyimpan apa pun.

Di antara mereka berdua, sejak awal, tidak ada yang perlu ditebak-tebak.


Epilog

Beberapa tahun kemudian, di halaman rumah mereka sendiri di pinggiran Jakarta, Raka mengajari anak sulungnya naik sepeda roda dua.

Anaknya kecil, berani, dan menurut Salma, "mulutnya persis Akang". Dia mengayuh dengan semangat sementara Raka memegangi sadelnya dari belakang, setengah berlari.

Dari teras, Salma berteriak, "A! Jangan dilepas dulu!"

"Iya, iya!" teriak Raka balik, napasnya terengah. "Akang bilang dulu sebelum dilepas!"

Salma tertawa, keras dan lepas, tertawa yang cuma keluar kalau dia benar-benar geli.

Anak mereka menoleh, bingung. "Kenapa Umi ketawa?"

"Nggak apa-apa," kata Raka. "Itu mah urusan orang tua."

Lalu dia membungkuk, mendekatkan mulutnya ke telinga anaknya, dan bicara pelan dan jelas, supaya tidak ada yang perlu ditebak:

"Abi lepas, ya. Hitungan ketiga. Satu… dua…"


Selesai.