UANG ATAU CINTA
BAB 1 — Orang yang Dipilih
Anggi
Anggi sudah memutuskan satu hal bahkan
sebelum gelang bertuliskan namanya dikunci di pergelangan tangan: kalau harus
tinggal dua minggu bersama sembilan orang asing, ia tidak akan jadi orang yang
menunggu diajak bicara.
Jadi ketika
pintu ruang bersama terbuka dan para peserta mulai masuk satu per satu, Anggi
menyambut hampir semuanya lebih dulu.
“Hai. Anggi.”
“Gilang.”
Lelaki yang baru masuk itu menyambut uluran tangannya, lalu melihat gelang di
tangan Anggi. “Untung namanya ditulis. Kalau enggak, hari ketiga aku pasti
manggil semua orang ‘Bro’ sama ‘Mbak’.”
Anggi tertawa.
Gilang belum lima menit berada di sana dan sudah berbicara seperti mereka
berteman sejak lama.
Peserta
berikutnya lebih tenang. Namanya Damar. Ia tidak banyak bicara saat
memperkenalkan diri, tetapi ketika orang lain bertanya tentang alasan ikut
acara, ia menjawab tanpa gaya yang dibuat-buat.
“Penasaran,”
katanya. “Kalau manusia dikasih data, aturan, dan insentif, pilihan akhirnya
berubah atau enggak.”
“Jadi kamu ke
sini buat penelitian?” tanya Anggi.
“Enggak. Kalau
penelitian harus ada izin etik.”
Gilang tertawa
paling keras. Damar ikut tersenyum kecil, seolah baru sadar kalimatnya
terdengar lucu.
Anggi menyukai
itu.
Tidak ada
petir, musik, atau perasaan konyol bahwa semesta baru saja mempertemukannya
dengan seseorang. Yang ada hanya kesan sederhana: lelaki ini menarik.
Hari pertama
dipakai untuk saling mengenal dan memahami bentuk umum permainan. Mereka
tinggal di tempat yang sama selama empat belas hari. Nama yang dipakai adalah
nama samaran. Telepon genggam hanya boleh digunakan dalam waktu terbatas di
kamar masing-masing, tanpa kesempatan mencari peserta lain. Kontak, nama asli,
alamat, tempat kerja, akun media sosial, dan informasi yang memungkinkan orang
saling menemukan di luar acara dilarang dibagikan.
Dana bersama
dimulai dari seratus juta rupiah. Nilainya bisa naik atau turun lewat tantangan
dan pelanggaran. Di akhir acara, uang itu dibagi rata kepada peserta yang
menyelesaikan permainan tanpa pasangan dan memenuhi standar penilaian.
“Kalau dapat
pasangan?” tanya seseorang.
Layar besar
menampilkan ikon dua orang bergandengan tangan. Suara Game Master terdengar
datar dari pengeras suara.
“Dua peserta
yang sepakat melanjutkan hubungan dapat mengajukan Sweet Exit. Keduanya
meninggalkan permainan bersama dan menerima paket hadiah pasangan. Mereka tidak
mendapat bagian dari dana akhir.”
Di sudut
ruangan, seorang lelaki yang sejak tadi sibuk membaca berkas aturan mengangkat
tangan.
“Kalau
informasi kontak disimpan dalam benda tertutup dan baru boleh dibuka setelah
acara selesai, itu termasuk dibagikan selama acara?”
Beberapa kepala
menoleh.
Game Master
menjawab setelah jeda singkat. “Peserta dilarang membagikan informasi yang
memungkinkan peserta lain mengidentifikasi atau menghubungi mereka di luar
acara selama masa permainan. Keputusan produksi mengenai pelanggaran bersifat
final.”
Lelaki itu
mengangguk seolah baru menerima jawaban yang cukup, lalu kembali ke berkas.
Gilang
membungkuk ke arah Anggi. “Baru datang sudah cari celah peraturan.”
Anggi menahan
tawa. “Pasti anaknya seru kalau main monopoli.”
Damar, yang
duduk di sisi lain Anggi, ikut menoleh pada lelaki itu. “Atau berbahaya.”
“Berbahaya
karena?”
“Orang yang
suka baca syarat dan ketentuan biasanya tahu hal yang enggak kita tahu.”
Anggi tersenyum
lagi.
Hari kedua,
aturan dijelaskan lebih rinci. Ada evaluasi berkala. Skor di bawah batas aman
membuat peserta masuk zona bahaya dan diberi satu siklus untuk pulih. Tidak ada
kewajiban membangun hubungan romantis untuk mendapat nilai tinggi. Kriteria
yang dinilai terbuka: kontribusi, kerja sama, konsistensi, integritas, dan
kemampuan beradaptasi.
Anggi
mendengarkan seperlunya. Yang lebih menarik baginya adalah melihat orang-orang
mulai membentuk orbit sendiri.
Gilang
berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain seperti pembawa acara tidak
resmi. Ada perempuan manis yang lebih sering tersenyum daripada bicara, dan
entah bagaimana Gilang selalu menemukan alasan untuk duduk di dekatnya. Ada
lelaki lain yang kelihatannya tenang, tetapi kalau bicara soal rencana masa
depan mendadak sangat jelas. Ada sepasang peserta yang hampir selalu berdiskusi
soal strategi uang. Anggi belum merasa perlu mengingat semua nama; dalam kepalanya
dua orang terakhir sudah terlanjur menjadi Pasangan Finansial.
Dua orang lain
terlihat sangat kompak sejak awal. Mereka tidak lengket, justru santai, tetapi
hampir setiap tugas kecil berakhir dengan keduanya bekerja bersama. Anggi juga
belum terlalu mengenal mereka.
Lalu ada Tika.
Tika datang
dengan kemampuan luar biasa untuk mengatakan apa yang dipikirkan tepat setengah
detik sebelum seharusnya ia menahannya.
“Kalau dana
akhirnya dua ratus juta dan tinggal lima orang, berarti empat puluh juta seorang,”
katanya saat mereka membahas aturan.
Salah satu
anggota Pasangan Finansial langsung menoleh.
Tika
menunjuknya. “Nah, tuh. Ada yang matanya langsung nyala.”
Perempuan itu
tertawa. “Aku cuma menghargai matematika.”
“Matematika
juga menghargai kamu.”
Damar, yang
duduk di antara mereka, berkata, “Secara teknis matematika tidak punya
preferensi.”
Tika
menatapnya. “Kamu capek enggak sih jadi begini?”
“Begini
gimana?”
“Persis.”
Itulah pertama
kali Anggi melihat Damar dan Tika saling melempar kalimat seperti dua orang
yang secara alami menemukan ritme untuk mengganggu satu sama lain.
Saat itu, Anggi
menganggapnya lucu.
Pada hari
ketiga, tantangan pertama dimulai. Mereka harus menyelesaikan serangkaian tugas
kelompok dengan pasangan yang berganti-ganti. Sebagian soal menguji ingatan
terhadap informasi yang sudah dibagikan peserta, sebagian lain memerlukan
koordinasi tanpa bicara. Tidak ada yang terlalu rumit, tetapi cukup untuk
membuat semua orang frustrasi.
Anggi mendapat
satu ronde bersama Damar.
Mereka diminta
menyusun urutan kartu berdasarkan petunjuk yang hanya boleh dilihat salah satu
orang. Damar cepat menangkap pola, tetapi tidak mengambil alih. Ia bertanya
sebelum memindahkan kartu dan mendengarkan ketika Anggi merasa ada urutan yang
keliru.
“Yang ini
harusnya sebelum hijau,” kata Anggi.
Damar memeriksa
lagi. “Iya. Benar.”
Tidak ada
pujian berlebihan. Tidak ada gaya sok memimpin. Ia hanya mengubah susunan dan
lanjut bekerja.
Mereka selesai
sebelum waktu habis.
“Lumayan,” kata
Damar.
“Lumayan? Kita
tercepat.”
“Berarti sangat
lumayan.”
“Mulai sekarang
aku anggap itu pujian tertinggi dari kamu.”
Damar
menatapnya sebentar lalu tersenyum. “Boleh.”
Dana bersama
naik menjadi seratus dua puluh juta.
Malamnya, Anggi
duduk bersama Damar cukup lama. Mereka bicara tentang alasan ikut acara, meski
tetap harus hati-hati agar tidak menyentuh identitas asli.
“Aku memang
pengin ketemu orang,” kata Anggi. “Kalau cocok, ya serius. Aku udah capek
dikenalin sama sepupu, teman kantor—eh, enggak boleh bilang kantor, ya?”
“Boleh bilang
punya pekerjaan. Yang enggak boleh detail yang bisa dilacak.”
“Nah, tuh. Kamu
hafal.”
“Aku baca.”
“Kamu kayak
orang yang baca manual sebelum pakai blender.”
“Kalau
blendernya mahal, iya.”
Anggi tertawa.
“Aku enggak tahu itu green flag atau red flag.”
“Bisa
dikumpulkan datanya dulu.”
Percakapan itu
mudah. Tidak seperti pendekatan yang mengharuskan Anggi terus mencari topik.
Damar tidak banyak bercerita, tetapi ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Ketika Anggi bicara, tatapannya tidak lari ke orang lain, tidak sibuk mencari
giliran menyela.
Pada evaluasi
pertama, perempuan pendiam yang sejak awal sering didekati Gilang masuk zona
bahaya.
Nilai di layar
menunjukkan 61, empat poin di bawah batas aman. Ia tersenyum kecil ketika peserta
lain menepuk bahunya, tetapi wajahnya pucat. Gilang menjadi orang pertama yang
duduk di sampingnya setelah pengumuman selesai. Lelaki yang sering bicara soal
rencana masa depan tidak lama kemudian ikut mendekat.
Anggi cuma
melihat dari jauh. Urusan itu terasa bukan miliknya.
Hari-hari
setelahnya mulai mempunyai pola. Tantangan, evaluasi, obrolan, makan bersama,
waktu ponsel di kamar, lalu kembali pada kehidupan yang terasa ganjil karena
dekat sekaligus anonim.
Anggi mulai
sengaja mencari Damar.
Tidak sampai
mengejar. Ia hanya memastikan ada kursi kosong di dekatnya ketika mereka
berkumpul. Menawarkan bantuan kalau Damar sedang memeriksa hasil tugas.
Bertanya soal hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ia tanyakan pada siapa pun.
Damar menerima
kedekatan itu dengan tenang.
Ia juga baik
kepada semua orang, dan itu kadang membuat Anggi susah membaca apakah ada
perlakuan khusus atau tidak.
Suatu sore,
Damar mendengarkan Anggi mengeluh tentang keluarga besar yang menganggap usia
tertentu sebagai alarm pernikahan.
“Setiap
kumpul,” kata Anggi, “ada aja yang nanya kapan nyusul. Kalau nikah bisa dipesan
kayak tiket kereta, aku udah checkout dari dulu.”
Damar
mengangguk. “Jawaban yang aman biasanya ‘doakan saja’.”
“Kamu sering
ditanya juga?”
“Semua orang Indonesia
pernah ditanya itu setidaknya sekali.”
“Aku curiga
kamu sebenarnya robot yang dilatih pakai dataset percakapan keluarga
Indonesia.”
Damar tertawa
pelan.
Anggi menyimpan
suara tawa itu lebih lama dari yang perlu.
Pada evaluasi
berikutnya perempuan itu keluar dari zona bahaya. Anggi hanya sempat melihat
angka yang lebih tinggi dan Gilang mengangkat kedua tangan seperti tim sepak
bola baru menang. Lelaki yang beberapa hari terakhir sering berada di dekatnya
tersenyum juga, tidak seramai Gilang, tetapi terlihat jauh lebih lega.
Menjelang hari
kedelapan, Anggi merasa permainannya berjalan cukup baik. Skornya aman. Dana
terus bertambah. Hubungannya dengan Damar terasa maju perlahan, setidaknya
menurut versinya sendiri.
Lalu ia mulai
memperhatikan Tika.
Bukan karena
Tika melakukan sesuatu yang salah. Justru itu masalahnya.
Tika dan Damar
tidak pernah terlihat romantis. Mereka sering tidak sependapat, saling
mengejek, dan menghabiskan cukup banyak waktu untuk memperdebatkan hal-hal yang
tidak penting.
“Kalau sendok
jatuh, lima menit masih bersih enggak?” tanya Tika suatu malam.
“Itu makanan,”
kata Damar.
“Prinsipnya
sama.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena
permukaan sendok kontaknya lebih luas dan—”
“Sudah. Aku
menyesal tanya.”
Namun lima
menit kemudian mereka masih bicara.
Anggi duduk
bersama peserta lain di meja yang sama dan ikut tertawa. Tidak ada alasan untuk
cemburu. Damar tidak menyentuh Tika. Tika juga tidak menggoda dengan cara yang
jelas. Kalau orang menonton dari luar, mereka mungkin hanya terlihat seperti
dua orang yang kebetulan senang bertengkar.
Tetapi Anggi
mulai melihat hal kecil.
Damar lebih
cepat menjawab Tika daripada orang lain. Tika bisa membuat Damar tersenyum
ketika ia sedang serius. Kalau mereka terpisah dalam tantangan, salah satu sering
mencari reaksi yang lain setelah hasil diumumkan.
Malam itu,
setelah peserta mulai bubar, Anggi melihat Damar dan Tika masih duduk di ruang
bersama.
Tika mengatakan
sesuatu yang tidak terdengar. Damar menggeleng, lalu membalas. Tika memukul
ringan lengan kursi, bukan lengan Damar, dan tertawa begitu keras sampai
membungkuk.
Anggi berhenti
di ambang pintu.
Ia bisa masuk.
Bisa ikut duduk. Bisa membuat percakapan itu menjadi bertiga.
Sebaliknya ia
berkata, “Aku duluan, ya.”
Damar menoleh.
“Malam.”
Tika mengangkat
tangan. “Mimpi yang mahal. Biar hadiahnya naik.”
Anggi tertawa
seperlunya lalu berjalan menuju kamar.
Di balik pintu
yang bertuliskan nama samarannya, ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap
gelang di tangannya.
Selama beberapa
hari ia mengira sudah tahu siapa yang ingin ia pilih.
Yang baru ia
sadari malam itu adalah: belum tentu orang itu sedang membuat pilihan yang
sama.
BAB 2 — Tidak Jadi Mengejar
Gilang
Gilang punya kebiasaan buruk: kalau suasana
sepi lebih dari sepuluh detik, ia merasa bertanggung jawab secara moral untuk
memperbaikinya.
Pada hari
pertama, kebiasaan itu membuatnya mengenal hampir semua orang sebelum makan
siang. Pada hari kedua, kebiasaan itu membuatnya tahu siapa yang paling gampang
diajak tertawa. Pada hari ketiga, kebiasaan itu membuatnya sadar bahwa Laras
adalah satu-satunya orang yang bisa menertawakan leluconnya sambil tetap
terlihat ingin bersembunyi di balik gelas.
Itu menarik.
Laras tidak
pendiam karena tidak punya pendapat. Ia hanya memilih kapan ingin mengeluarkannya.
Kadang Gilang bisa berceloteh dua menit, lalu Laras menjawab satu kalimat yang
membuatnya berhenti karena tepat sekali.
“Kalau kamu
terus ngomong,” kata Laras suatu sore, “orang lain jadi enggak perlu merasa
canggung.”
“Nah. Itu
kontribusiku buat bangsa.”
“Buat acara ini
dulu, deh.”
Gilang tertawa.
Laras ikut tersenyum.
Ia mulai
mendekati Laras tanpa rencana khusus. Membawakan minum kalau kebetulan lewat.
Duduk di dekatnya saat diskusi kelompok. Mengajaknya jadi pasangan ketika
tantangan memberi kebebasan memilih.
Laras tidak
menolak.
Bagi Gilang,
itu cukup untuk mencoba sedikit lebih jauh.
Masalahnya, ada
Reno.
Gilang tidak
langsung menganggap Reno pesaing. Reno bukan tipe yang agresif mendekati siapa
pun. Lelaki itu malah sering terlihat sibuk menyiapkan sesuatu untuk kelompok,
memikirkan strategi tugas, atau berbicara dengan orang berbeda.
Tapi sekitar
hari kelima, Gilang melihat pola.
Laras mencari
Reno bukan ketika suasana ramai, melainkan setelahnya. Kalau ada pembahasan
masa depan, pandangan Laras lebih sering jatuh pada Reno. Kalau Reno berbicara,
Laras mendengarkan dengan kualitas perhatian yang berbeda.
Bukan perhatian
sopan.
Perhatian yang
membuat orang lain di meja jadi latar.
Gilang mengerti
sebelum siapa pun perlu menjelaskan.
Sore itu ia dan
Laras kebetulan sedang merapikan kartu bekas tantangan.
“Kamu nanti
kalau dapat kesempatan Sweet Exit, tipe yang cepat mutusin atau lama?”
tanyanya.
Laras menumpuk
kartu dengan rapi. “Tergantung orangnya.”
“Jawaban aman.”
“Memang harusnya
jawab apa?”
“‘Kalau sama
Gilang langsung.’”
Laras tertawa,
lalu menatapnya dengan ekspresi yang terlalu lembut untuk orang yang hendak
memberi harapan.
Gilang
cepat-cepat mengangkat telapak tangan.
“Bercanda.
Jangan bikin pidato.”
Laras terdiam
sebentar. “Aku enggak mau bikin kamu salah paham.”
“Nah, kan.
Tetap jadi pidato.”
“Gilang.”
“Iya, iya. Aku
paham.”
Dan anehnya, ia
memang paham.
Sedikit kecewa
tentu ada. Ia manusia, bukan moderator acara. Tetapi ia sudah cukup dewasa
untuk mengenali perbedaan antara aku suka
dia dan dia berutang kesempatan
padaku.
Mulai hari itu
Gilang berhenti mengejar.
Ia tidak
menjauh dari Laras. Justru hubungan mereka menjadi lebih ringan. Ia bisa
menggoda tanpa menghitung apakah Laras membalas dengan sinyal tertentu. Bisa
mendukung Laras tanpa merasa setiap keberhasilan Reno mengambil sesuatu
darinya.
Yang tidak ia
duga, setelah berhenti sibuk mencari kesempatan romantis, skornya malah naik.
Evaluasi
berikutnya menempatkannya di peringkat atas.
“Gilang, 91,”
suara Game Master mengumumkan.
Tika bersiul.
“Wah, badut kelas jadi juara umum.”
“Mohon hormati
prestasi akademik saya.”
“Akademik dari
mana?”
“Pokoknya
prestasi.”
Pada evaluasi
selanjutnya nilainya bahkan lebih tinggi.
Gilang mulai
curiga mungkin kunci permainan memang sesederhana melakukan sesuatu tanpa
berharap imbalan dari orang tertentu.
Ia membantu
Anggi saat kelompok mereka kehilangan arah dalam satu tugas. Menjadi pasangan
kerja Ranti ketika perempuan itu terlalu tegang mengejar target. Menarik Bram
masuk ke percakapan ketika lelaki itu kelihatan lebih tertarik menghitung
pembagian dana daripada bersosialisasi.
“Kalau tersisa
enam orang dan dananya seratus enam puluh juta,” kata Bram, “bagian per orang—”
“Jangan
dilanjutin,” potong Gilang. “Nanti tiga orang langsung takut kamu dorong Sweet
Exit.”
Perempuan dari
Pasangan Finansial yang duduk di sebelah rekannya malah menjawab, “Kalau mereka
bahagia, kita ikut bahagia.”
Gilang menunjuk
keduanya. “Kalian tuh romantisnya kapitalistik banget.”
Perempuan itu tertawa.
Rekannya cuma mengangkat bahu.
Di luar
dinamika aneh itu, Laras dan Reno makin mudah terlihat.
Bukan karena
mereka selalu bersama. Justru karena ketika terpisah, mereka seperti punya
jalur untuk kembali ke percakapan yang sama.
Pada pagi hari
kesembilan, Gilang bangun lebih awal dan berjalan ke ruang bersama untuk
mencari kopi. Dari kejauhan ia melihat Laras dan Reno sedang bicara di area
yang cukup terbuka.
Tidak ada orang
lain di dekat mereka.
Gilang hampir
memanggil, lalu mengurungkan niat.
Wajah Laras
serius. Reno juga tidak terlihat santai. Laras mengatakan sesuatu. Reno
menjawab setelah jeda yang terlalu panjang.
Gilang tidak
bisa mendengar isi percakapan, tetapi tubuhnya mengenali ketegangan itu sebelum
pikirannya selesai menerjemahkan.
Ada bagian
kecil dalam dirinya yang berbisik bahwa mungkin ini kabar baik untuknya.
Kalau mereka
bertengkar, kalau ternyata Reno tidak merasakan hal yang sama, kalau hubungan
itu tidak jadi ke mana-mana—
Gilang
memandang Laras sekali lagi.
Lalu ia
mengambil cangkir dan berbalik ke arah lain.
Harapan kecil
itu masih ada. Ia tidak akan berpura-pura suci.
Namun untuk
pertama kalinya, harapan yang lebih besar bukan agar Laras kembali melihatnya.
Ia cuma ingin
perempuan itu mendapatkan jawaban yang membuatnya baik-baik saja.
BAB 3 — Sebelum Angka Keluar
Laras
Laras datang ke acara itu karena sudah
terlalu sering mendengar kalimat yang sama dalam bentuk berbeda.
Coba kenalan dulu. Siapa tahu cocok.
Biasanya
kalimat itu diikuti foto seseorang, informasi pekerjaan yang terlalu lengkap,
dan janji dari kerabat bahwa lelaki tersebut “anaknya baik”. Laras tidak pernah
tahu harus berbuat apa dengan keterangan itu.
Baik adalah
syarat dasar, bukan alasan untuk membangun hidup bersama.
Di tempat ini,
anehnya, ia justru merasa lebih bebas. Semua orang kehilangan sebagian
identitasnya. Tidak ada nama keluarga, kantor, kampus, alamat, atau akun media
sosial. Mereka dipaksa menilai apa yang ada di depan mata.
Gilang adalah
orang pertama yang membuatnya nyaman.
Ia lucu tanpa
memaksa orang lain menjadi penonton. Ketika Laras masuk zona bahaya setelah
evaluasi pertama, Gilang duduk di dekatnya dan membicarakan hal sama sekali
tidak penting sampai rasa malu Laras sedikit turun.
“Kalau kamu
dieliminasi gara-gara nilai segini,” katanya, “aku protes. Soalnya berarti juri
enggak menilai kemampuan menahan diri buat enggak lempar aku pakai bantal.”
Laras tertawa
meski matanya masih panas.
Ia sadar Gilang
mendekatinya. Dan ia tidak menutup pintu.
Ia memang
datang untuk mencari kemungkinan.
Tetapi semakin
lama, Laras juga sadar ada hal yang tidak bisa diukur dari seberapa
menyenangkan seseorang berada di dekatnya.
Gilang akan
membuat hari-harinya ramai. Ia bisa membayangkan pergi makan dengannya, tertawa
sepanjang perjalanan, mengenalkannya pada teman-teman tanpa khawatir suasana
canggung.
Namun ketika
pembicaraan bergeser pada hal yang lebih jauh, Laras justru lebih sering
mencari Reno.
Reno tidak
manis dalam cara yang langsung terlihat. Ia cenderung bicara seolah segala hal
memiliki rencana lima tahun. Ketika peserta lain membahas apa yang akan
dilakukan dengan hadiah, Reno tidak menyebut barang yang ingin dibeli. Ia
berbicara tentang kebebasan memilih pekerjaan, menabung, membantu keluarga, dan
membangun hidup yang tidak tergantung pada satu keputusan buruk.
Suatu malam
Laras bertanya, “Kamu selalu mikir sejauh itu?”
“Enggak
selalu.”
“Kedengarannya
selalu.”
Reno tersenyum.
“Aku cuma enggak suka keputusan besar yang dibuat karena suasana.”
Kalimat itu
tinggal di kepala Laras lebih lama daripada yang ia inginkan.
Ia mulai
mengamati Reno lewat tindakan kecil. Lelaki itu tidak pernah menjadi orang
pertama yang paling ramai memberi dukungan, tetapi ia hampir selalu muncul
ketika benar-benar dibutuhkan. Saat salah satu tugas Laras gagal dan membuat
tim kehilangan poin, Reno tidak mengatakan enggak
apa-apa seperti orang lain. Ia bertanya apa yang membuat Laras bingung,
lalu membantu memikirkan cara agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Itu terdengar
tidak romantis.
Laras
menyukainya.
Ranti menjadi
orang pertama yang terang-terangan menggoda mereka.
Perempuan itu
duduk bersama Laras setelah evaluasi ketiga, memegang gelas sambil mengamati
Reno yang sedang berdiskusi dengan Bram.
“Kalau kalian
mau Sweet Exit,” katanya, “aku mendukung.”
Laras hampir
tersedak. “Kenapa?”
“Karena kalian
cocok.”
“Kamu bahkan
belum kenal aku lama.”
“Cukup.” Ranti
berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Dan pembagian dana juga jadi lebih
bagus.”
Laras
menatapnya.
Ranti tersenyum
tanpa rasa bersalah. “Dua alasan bisa benar bersamaan.”
Sejak itu Laras
sulit melihat Bram dan Ranti tanpa teringat perhitungan uang.
Hari kesembilan
datang bersama pengumuman baru: malam nanti produksi akan mengungkap sebagian
hasil analisis kompatibilitas yang dibuat sebelum acara dimulai.
Ruangan
langsung ramai.
Gilang menepuk
meja. “Nah, ini baru gosip ilmiah.”
Damar terlihat
paling tertarik. Tika malah bertanya apakah hasil analisis bisa menggugurkan
keputusan peserta.
“Tidak,” jawab
Game Master. “Data hanya akan ditampilkan sebagai informasi.”
Laras memandang
layar yang sudah kembali gelap.
Ia tidak ingin
menunggu malam.
Bukan karena
takut hasilnya buruk. Justru karena ia tidak ingin memberi angka kesempatan
untuk masuk ke sesuatu yang sudah terasa jelas.
Ia mencari Reno
sebelum kegiatan berikutnya dimulai.
Mereka duduk di
tempat yang masih bisa terlihat kamera tetapi cukup jauh dari percakapan orang
lain. Laras menyatukan kedua tangan di pangkuan agar Reno tidak melihat jarinya
gemetar.
“Aku mau
ngomong sesuatu.”
Reno langsung
memberi perhatian penuh. “Iya.”
“Aku enggak
tahu nanti malam data bilang apa.”
Reno menunggu.
Laras menelan
ludah. Kalau enggak bilang sekarang,
nanti kamu akan merasa keputusan ini dipengaruhi angka.
“Aku suka sama
kamu.”
Reno tidak
bergerak.
Laras memaksa
dirinya lanjut sebelum keberanian yang tersisa habis.
“Aku datang ke
sini memang buat cari hubungan serius. Dan sejauh ini… kalau aku harus pilih
orang yang pengin aku kenal setelah acara, itu kamu.”
Wajah Reno
berubah, bukan menjadi kaget, melainkan seperti orang yang menerima sesuatu
yang sudah ia duga namun tetap belum siap memegangnya.
Laras menarik
napas.
“Aku mau ngajak
kamu Sweet Exit.”
Jeda setelahnya
terasa terlalu panjang.
Reno melihat ke
bawah sebentar, lalu kembali menatap Laras.
“Aku juga suka
kamu.”
Kalimat itu
seharusnya melegakan.
Namun nada
suaranya membuat Laras tahu ada lanjutan.
“Aku cuma…”
Reno mengusap tengkuknya. “Boleh aku minta waktu sedikit?”
Laras merasa
sesuatu turun di dadanya.
“Karena data
nanti malam?” tanyanya.
“Bukan cuma
itu.”
“Berarti
termasuk itu.”
Reno tidak
menjawab cepat.
Itu sudah cukup
sebagai jawaban.
Laras
tersenyum, karena ia tidak tahu ekspresi lain yang bisa dipakai tanpa
mempermalukan dirinya sendiri.
“Oke.”
“Laras—”
“Enggak
apa-apa. Aku yang ngajak. Kamu berhak mikir.”
Ia berdiri
sebelum percakapan berubah menjadi penghiburan.
Di belakangnya
Reno memanggil namanya sekali, tetapi Laras tidak berhenti.
Malam nanti
angka-angka akan muncul di layar.
Untuk pertama
kalinya sejak datang ke tempat itu, Laras berharap ia tidak perlu melihat satu
pun.
BAB 4 — Pasangan Finansial
Bram
Bram tidak percaya pada istilah “ikuti
alur”.
Alur, menurut
pengalamannya, biasanya adalah nama sopan untuk sesuatu yang belum dihitung
dengan baik.
Karena itu,
pada hari pertama ia membaca seluruh aturan sampai halaman terakhir sementara
sebagian peserta sibuk memperkenalkan diri. Ia bahkan sempat menanyakan satu
skenario yang membuat beberapa orang menoleh: apakah informasi kontak yang
disimpan di dalam benda tertutup dan baru dibuka setelah acara selesai tetap
dianggap telah dibagikan.
Jawaban Game
Master tidak memuaskan.
Larangan
berlaku selama acara. Keputusan produksi final.
Bram mencatat
ruang tafsir itu dalam kepala, lalu melanjutkan membaca.
Ia tidak datang
untuk mencari celah aturan. Setidaknya bukan tujuan utama. Ia datang karena
hidupnya terlalu stabil.
Pekerjaan—yang
detailnya tidak boleh dibicarakan—berjalan baik. Keuangannya aman. Tempat
tinggal nyaman. Ia bisa membeli hampir semua kebutuhan tanpa menghitung sampai
tanggal gajian.
Dan setiap
malam, setelah segala sesuatu selesai, ia pulang pada keheningan yang semakin
sulit disebut nyaman.
Acara ini
tampak seperti taruhan kecil untuk kemungkinan yang tidak bisa ia beli.
Lalu ia bertemu
Ranti.
Kesan pertama Bram
terhadap Ranti adalah: perempuan ini tahu cara membuat daftar.
Dalam tantangan
pertama, ketika kelompok mereka kacau menentukan urutan tugas, Ranti mengambil
kertas dan membagi pekerjaan dalam kurang dari satu menit.
“Kamu pegang
waktu,” katanya pada Bram. “Aku koordinasi orang. Kalau ada yang selesai, lapor
ke sini.”
Bram tidak
tersinggung diperintah. Rencananya masuk akal.
Mereka menang
ronde itu.
Setelahnya
Ranti berkata, “Kita cocok kerja.”
Bram menjawab,
“Efisien.”
Itulah awal
hubungan yang oleh peserta lain kemudian disebut Pasangan Finansial.
Mereka sendiri
tidak pernah memakai istilah itu, setidaknya tidak pada awalnya.
Ranti
terang-terangan peduli pada dana bersama. Setiap hasil challenge muncul,
matanya langsung berpindah ke angka total. Bram juga begitu, meski alasannya
berbeda. Ia menyukai sistem yang jelas: ada tindakan, ada konsekuensi, ada
angka yang berubah.
Hubungan
manusia jauh lebih merepotkan.
“Kita sekarang
seratus tiga puluh delapan,” kata Ranti setelah tantangan kedua. “Kalau nanti
tinggal enam orang…”
“Dua puluh tiga
juta kurang sedikit per orang.”
Ranti menoleh.
“Kamu hitung juga.”
“Refleks.”
“Bagus.”
Mereka bertukar
senyum yang seharusnya biasa saja.
Bram mulai
menyukai saat-saat seperti itu.
Tentu ia tidak
mengaku.
Mereka malah
semakin serius mengubah ketertarikan menjadi strategi. Kalau ada pasangan yang
jelas saling suka, Bram dan Ranti menjadi pendukung paling aktif untuk
mendorong mereka mengambil Sweet Exit.
“Bukan karena
uang,” kata Ranti suatu hari ketika Gilang menuduh mereka.
Bram
menambahkan, “Kebahagiaan orang penting.”
Gilang menatap
keduanya. “Kalian kalau bohong kompak juga, ya.”
Ada pasangan
lain yang paling membuat Bram dan Ranti frustrasi: Wulan dan Arif.
Dua orang itu
sangat solid. Bekerja sama dengan mulus, ngobrol terus, saling mencari ketika
duduk, dan hampir tidak pernah benar-benar bertengkar.
“Kalau mereka
enggak Sweet Exit, aku bingung,” kata Ranti.
“Secara
probabilitas harusnya tinggi.”
“Jangan pakai
probabilitas. Kelihatan aja.”
“Kelihatan juga
data.”
Ranti
mendengus.
Bram menyukai
suara itu lebih dari yang pantas.
Menjelang hari
kesembilan, perhatian mereka beralih pada Laras dan Reno. Keduanya jelas saling
menyukai. Bagi Bram, mereka adalah kandidat paling logis untuk keluar sebelum
evaluasi final.
Lalu Laras
mengajak Reno Sweet Exit dan Reno menunda.
Bram mengetahui
itu bukan dari percakapan langsung, melainkan dari perubahan perilaku keduanya.
Reno menjadi lebih diam. Laras tetap sopan, tetapi jaraknya terlihat.
Setelah
challenge keempat gagal dan dana bersama turun, Bram menemukan Reno duduk
sendiri.
Niat awal Bram
sangat sederhana: mempercepat keputusan.
“Kalau kamu
memang suka Laras,” katanya, “menunggu data malam ini menambah informasi, tapi
juga menambah risiko.”
Reno
menatapnya. “Risiko apa?”
“Dia menganggap
kamu butuh angka untuk memilih dia.”
Reno menghela
napas. “Aku tahu.”
Bram duduk di
sampingnya.
“Jadi kenapa
belum iya?”
Reno lama tidak
menjawab.
“Aku cari yang
serius,” katanya akhirnya. “Justru itu masalahnya. Aku enggak mau bikin
keputusan karena dua minggu ini intens. Aku takut kita merasa yakin karena
semua hal di sini dipercepat.”
Bram memahami
itu lebih baik daripada yang ingin ia akui.
“Takut salah?”
“Takut terlalu
cepat.”
“Kadang sama.”
Reno menoleh.
“Kamu sendiri gimana?”
Pertanyaan itu
menyebalkan karena Bram tidak menyiapkan jawaban.
Ia memandang
Ranti di kejauhan. Perempuan itu sedang berbicara dengan Wulan, sesekali
tertawa. Bram sudah terlalu terbiasa mencari Ranti di ruangan sampai baru sadar
kebiasaan itu terbentuk.
“Kami kerja
sama,” katanya.
Reno tersenyum
tipis. “Aku enggak nanya hubungan kerja.”
Bram hampir
membalas, tetapi tidak jadi.
Ia memikirkan
angka dana akhir. Memikirkan kemungkinan Ranti mengambil Sweet Exit dan
kehilangan bagian yang tampaknya sangat ia butuhkan. Memikirkan dirinya sendiri
yang sebenarnya tidak membutuhkan uang itu, namun tetap menjadikan uang sebagai
alasan aman untuk tidak mengatakan apa-apa.
“Aku mungkin
sama kayak kamu,” kata Bram. “Bukan enggak tahu mau apa. Cuma lebih nyaman
menyebut takut sebagai strategi.”
Reno diam.
Bram
melanjutkan, “Kalau aku jadi kamu, aku akan putuskan sebelum data keluar.”
“Kamu sendiri?”
Bram tersenyum
kecil. “Aku enggak pernah bilang aku konsisten.”
Percakapan
selesai tanpa solusi untuk Bram, tetapi ia melihat sesuatu pada wajah Reno
berubah.
Saat kembali ke
ruang bersama, Ranti langsung menghampirinya.
“Ngomong apa
sama Reno?”
“Strategi.”
“Biar mereka
keluar?”
“Kurang lebih.”
Ranti
mengangguk puas. “Bagus.”
Mereka berjalan
berdampingan menuju peserta lain.
Bram menatap
angka dana di layar, lalu Ranti, lalu angka lagi.
Untuk pertama
kalinya, perhitungannya terasa lebih seperti tempat bersembunyi daripada cara
mengambil keputusan.
BAB 5 — Cocok, Tapi
Wulan
Kalau ada satu hal yang paling membuat
Wulan heran selama ikut acara itu, bukan aturan identitas, bukan kamera, bahkan
bukan fakta bahwa sepuluh orang dewasa bersedia dinilai seperti tugas kelompok.
Yang paling
membuatnya heran adalah betapa mudah ia akrab dengan Arif.
Mereka tidak
punya momen perkenalan yang layak disebut istimewa. Di hari pertama, Arif hanya
duduk di sebelahnya saat kursi lain penuh. Mereka bertukar nama, alasan ikut
acara, lalu mendapati percakapan tidak berhenti ketika topik wajib sudah
selesai.
Arif ikut
karena, menurut pengakuannya, “lagi punya waktu dan enggak ada ruginya.”
“Dapat pasangan
syukur,” katanya. “Dapat uang juga syukur. Dapat pengalaman doang ya… semoga
pengalamannya enggak bikin malu pas tayang.”
Wulan tertawa.
Ia sendiri
datang karena ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Selama beberapa tahun
terakhir hidupnya terasa seperti jalan yang terlalu lurus: bekerja, pulang,
bertemu teman pada akhir pekan, lalu mengulang. Acara ini setidaknya memaksanya
masuk ke ruang yang tidak bisa diprediksi.
Ternyata orang
pertama yang membuat ruang itu terasa normal adalah Arif.
Mereka hampir
selalu bekerja baik ketika dipasangkan. Arif tahu kapan harus bercanda dan
kapan harus berhenti. Wulan tidak perlu menerjemahkan maksudnya dua kali. Kalau
salah satu lelah bersosialisasi, yang lain cukup duduk tanpa memaksa
percakapan.
Dari luar,
mereka tampak seperti pasangan paling masuk akal.
Ranti bahkan
pernah bertanya langsung, “Kapan kalian Sweet Exit?”
Arif menjawab,
“Kami lagi nunggu sponsor.”
“Hadiah
pasangan sudah disponsori.”
“Berarti nunggu
keberanian.”
Wulan ikut
tertawa, tetapi jawaban itu menempel sebentar di pikirannya.
Keberanian
untuk apa?
Ia menyukai
Arif. Itu tidak perlu diperdebatkan. Ia akan dengan senang hati duduk dua jam
bersamanya tanpa agenda. Ia percaya Arif. Kalau harus memilih satu peserta
untuk dimintai bantuan dalam kondisi kacau, nama Arif akan berada di urutan
atas.
Namun semakin
jelas kedekatan mereka bagi orang lain, semakin Wulan merasakan ruang kecil
yang kosong di dalam hubungan itu.
Bukan masalah
besar. Justru itulah yang membuatnya sulit dijelaskan.
Hari kesembilan
dimulai dengan pengumuman tentang analisis kompatibilitas pra-acara yang akan
ditampilkan malam nanti.
Ruangan
mendadak riuh.
“Ini hasil tes
yang dulu?” tanya Anggi.
“Sebagian,”
jawab Game Master. “Produksi akan mengungkap pasangan dengan skor
kompatibilitas tertinggi dan beberapa data pendukung.”
Damar tampak
seperti baru diberi hadiah ulang tahun.
Tika menoleh
padanya. “Jangan senang dulu. Bisa aja hasilnya kamu cocok sama dispenser.”
“Dispenser
tidak ikut asesmen.”
“Sayang
sekali.”
Wulan melihat
Damar menggeleng sambil menahan senyum. Di sisi lain, Laras tidak ikut
bercanda. Reno juga lebih diam dari biasanya.
Sebelum
tantangan dimulai, Wulan sempat menangkap tatapan keduanya. Ada jarak yang
kemarin belum ada.
Challenge
keempat seharusnya menjadi salah satu tugas yang paling bisa mereka menangkan.
Kelompok dibagi dalam pasangan bergantian untuk menyusun rangkaian keputusan
berdasarkan informasi yang tersebar. Masalahnya bukan tingkat kesulitan,
melainkan konsentrasi.
Reno membuat
dua kesalahan yang biasanya tidak ia lakukan. Laras terlambat memberi instruksi
pada ronde berikutnya. Ketika waktu habis, target kelompok tidak tercapai.
Angka dana di
layar turun.
Seratus enam puluh
juta menjadi seratus empat puluh lima juta.
Beberapa orang
mengerang. Ranti menutup mata sesaat seperti baru melihat portofolio
investasinya merah.
Reno berdiri
lebih dulu. “Maaf. Bagian tadi salahku.”
Laras ikut
bicara, “Aku juga. Aku telat kasih petunjuk.”
Tidak ada yang
benar-benar menyalahkan mereka. Gilang malah mengatakan kegagalan itu salah
desain semesta yang tidak menghargai kerja keras. Tetapi Wulan melihat Laras
menghindari tatapan Reno setelahnya.
Ada sesuatu.
Setelah makan
siang, Wulan menemukan Arif di dekat ruang bersama. Mereka duduk agak menjauh
dari keramaian.
“Menurut kamu
kita ranking berapa nanti malam?” tanya Arif.
Wulan langsung
tahu ia sedang membicarakan kompatibilitas.
“Kenapa
‘kita’?”
“Karena semua
orang yakin kita cocok.”
“Semua orang
terutama Ranti dan Bram karena mereka mau bagian uangnya tambah.”
“Itu tetap
bentuk keyakinan.”
Wulan
tersenyum.
Arif memainkan
gelang di pergelangan tangannya. “Kalau hasilnya tinggi gimana?”
“Ya tinggi.”
“Terus?”
“Terus apa?”
Arif menoleh padanya.
“Kita harus ngapa-ngapain?”
Pertanyaan itu
terdengar santai, tetapi Wulan tahu Arif tidak sedang bercanda penuh.
Ia memilih kata
dengan hati-hati.
“Menurutku
enggak.”
Arif mengangguk
pelan. “Aku juga.”
Wulan merasa
lega, lalu justru semakin yakin ada percakapan yang harus mereka selesaikan.
“Rif.”
“Hm?”
“Kamu ngerasa
ada yang kurang enggak?”
Arif tidak
pura-pura tidak mengerti. Ia menatap lantai beberapa detik.
“Kurang dalam
arti?”
“Kalau orang
lihat kita, kayaknya semua syarat ada. Nyambung, nyaman, bisa kerja sama. Aku
suka ngobrol sama kamu.”
“Aku juga.”
“Tapi…”
Arif tersenyum
miring. “Ada tapi.”
Wulan
mengembuskan napas. “Iya.”
Ia tidak ingin
melukai orang yang justru membuat dua minggu itu menyenangkan. Namun membiarkan
orang lain mengartikan hubungan mereka sampai keduanya ikut percaya akan lebih
buruk.
“Aku enggak
ngerasa pengin hubungan ini jadi romantis,” katanya. “Dan aku takut kalau data
nanti bilang kita paling cocok, kita malah merasa harus mencoba cuma karena
semua orang berharap begitu.”
Arif diam cukup
lama hingga Wulan mulai bertanya apakah ia salah membaca keadaan.
Lalu Arif
bersandar dan mengangguk.
“Kayaknya aku
ngerti.”
“Kamu ngerasa
sama?”
Arif melihat ke
depan, ke layar yang saat itu hanya menampilkan jumlah dana.
“Aku ngerasa
kita cocok banget,” katanya. “Cuma mungkin bukan cocok yang itu.”
Wulan merasakan
bahunya turun.
“Persis.”
“Berarti kalau
nanti ranking satu…”
“Kita tetap
enggak Sweet Exit.”
“Ranti bakal
kecewa berat.”
Wulan tertawa.
“Dia lebih kecewa daripada kita.”
Mereka duduk
beberapa menit tanpa perlu menambal percakapan.
Wulan tahu
hubungan itu tetap penting. Mungkin justru karena mereka berani memberi nama
yang benar sebelum orang lain memberi nama untuk mereka.
Malam nanti
layar bisa menampilkan angka berapa pun.
Untuk pertama
kalinya, Wulan tidak terlalu ingin tahu.
BAB 6 — Sebelum Data
Reno
Reno tahu jawabannya sebelum Laras
mengajaknya Sweet Exit.
Itulah bagian
yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri.
Ketika Laras
berkata bahwa ia menyukainya, Reno merasa lega dengan cara yang terlalu jelas.
Ketika Laras mengatakan ia ingin melanjutkan hubungan mereka di luar acara,
bagian dalam dirinya langsung menjawab iya.
Tetapi mulutnya
meminta waktu.
Ia bisa memberi
banyak alasan yang terdengar masuk akal. Dua minggu bukan waktu lama.
Lingkungan acara membuat kedekatan terasa lebih intens. Mereka belum tahu nama
asli, pekerjaan rinci, keluarga, lingkungan pertemanan, kebiasaan di dunia
nyata. Memilih seseorang di dalam tempat tertutup jauh berbeda dengan memilih
kehidupan bersama setelah pintu itu terbuka.
Semua alasan
itu benar.
Tetapi ada satu
hal lain yang lebih sulit ia akui: malam nanti data akan keluar, dan ia
penasaran.
Reno membenci
kenyataan bahwa rasa penasaran sekecil itu cukup untuk membuat Laras pulang
dari percakapan dengan wajah yang berusaha tidak kecewa.
Challenge
keempat hanya memperburuk keadaan.
Ia salah
membaca satu instruksi. Pada ronde lain, pikirannya melayang ketika harus
memberi petunjuk. Kelompok gagal dan dana turun lima belas juta.
Reno minta
maaf. Laras juga. Setelah itu mereka hampir tidak bicara.
Di sela waktu
kosong, Bram duduk di sebelahnya.
Lelaki itu
biasanya tidak mendekati orang tanpa alasan. Reno sudah terbiasa melihat Bram
dan Ranti bekerja seperti dua orang yang menjalankan perusahaan kecil di tengah
acara kencan.
“Kalau kamu
memang suka Laras,” kata Bram tanpa pembuka, “menunggu data malam ini menambah
informasi, tapi juga menambah risiko.”
Reno
menatapnya. “Risiko apa?”
“Dia menganggap
kamu butuh angka untuk memilih dia.”
Kalimat itu
mengenai tepat di tempat yang sejak pagi Reno hindari.
Mereka bicara
cukup lama. Tentang keputusan besar. Tentang takut membuat pilihan saat suasana
terlalu intens. Tentang cara orang menyamarkan ketakutan menjadi kehati-hatian.
Bram bahkan
mengakui dirinya melakukan hal yang sama terhadap Ranti.
Setelah
percakapan selesai, Reno melihat waktu menuju pengumuman malam semakin pendek.
Ia tidak merasa
lebih tenang.
Justru
sebaliknya.
Data yang tadi
pagi terasa menarik sekarang mulai terasa seperti gangguan yang ia undang
sendiri.
Ia mencari
Laras.
Perempuan itu
sedang membantu membereskan perlengkapan bekas challenge. Reno menunggu sampai
selesai, lalu memanggilnya.
“Bisa ngobrol?”
Laras
memandangnya sejenak. “Bisa.”
Mereka memilih
tempat yang cukup jauh dari orang lain.
Reno tidak
ingin mengulang percakapan pagi. Ia juga tidak ingin membuka dengan permintaan
maaf yang panjang sampai Laras harus menghiburnya.
“Aku tadi
salah,” katanya.
Laras
mengangkat alis tipis.
“Bukan soal
challenge. Ya, itu juga. Tapi yang pagi.”
Laras tidak
membantu dengan pertanyaan. Ia membiarkan Reno melanjutkan sendiri.
“Aku minta
waktu karena takut keputusan kita terlalu cepat,” kata Reno. “Dan karena aku
penasaran sama data nanti malam.”
Rahang Laras
sedikit mengeras.
“Aku tahu.”
“Terus selama
challenge aku malah kepikiran satu hal.”
Reno berhenti,
mencoba mengatakan sesuatu tanpa membuatnya terdengar seperti pidato.
“Kalau tugas
yang cuma beberapa menit aja bikin aku kacau karena aku mikirin kamu, kayaknya
masalahnya bukan aku kurang data.”
Laras hampir
tersenyum, tetapi menahannya.
Reno
melanjutkan, “Aku enggak mau kehilangan kesempatan cuma karena aku ingin
memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah aku tahu.”
Laras
menatapnya lurus.
“Dan kamu sudah
tahu apa?”
“Aku suka
kamu.”
“Itu kamu
bilang tadi.”
“Iya.” Reno
menarik napas. “Aku mau keluar sama kamu.”
Laras tidak
langsung menjawab.
Reno pantas
mendapat jeda itu.
“Tanpa lihat
data?” tanya Laras.
“Tanpa lihat
data.”
“Kalau nanti
ternyata kita kompatibilitasnya rendah?”
“Ya berarti
datanya punya bahan bagus buat evaluasi.”
Laras tertawa
kecil. Itu suara pertama dari dirinya hari itu yang terdengar benar-benar
ringan.
Reno ikut
tersenyum.
“Aku serius,”
katanya.
“Aku juga.”
Laras menatapnya beberapa detik lagi. “Aku masih mau.”
Reno merasa
lega dengan cara yang hampir memalukan.
Mereka
mengajukan Sweet Exit sore itu.
Pengumuman
dilakukan sederhana. Layar menampilkan nama samaran mereka, lalu tanda dua
orang yang memilih keluar bersama. Game Master mengucapkan selamat dan
menjelaskan bahwa setelah meninggalkan area permainan, mereka baru boleh
bertukar identitas asli dan kontak.
Peserta lain
bersorak.
Ranti tampak
senang dengan dua alasan sekaligus. Gilang memeluk Reno lebih dulu, lalu Laras.
“Jaga dia,”
katanya pada Reno, masih dengan nada ringan meski matanya tidak sepenuhnya
bercanda.
Reno
mengangguk. “Iya.”
Saat giliran
Laras berpamitan pada Gilang, Reno sengaja memberi ruang.
Ia tidak merasa
menang atas siapa pun.
Beberapa menit
kemudian ia dan Laras berdiri di dekat pintu keluar dengan barang secukupnya.
Mereka belum tahu nama asli satu sama lain. Belum tahu nomor telepon. Belum
tahu banyak hal yang biasanya dianggap dasar sebelum dua orang memutuskan
melanjutkan hubungan.
Namun justru
untuk pertama kalinya Reno merasa keputusan itu bukan hasil lingkungan, bukan
hasil kompetisi, dan bukan hasil analisis.
Laras
menatapnya. “Siap?”
Reno
mengangguk.
Mereka keluar
sebelum satu angka pun tentang kecocokan mereka muncul di layar.
BAB 7 — Peringkat Tiga
Damar
Damar sudah menunggu malam itu sejak hari
pertama.
Bukan karena ia
menganggap analisis kompatibilitas sebagai jawaban mutlak. Ia cukup waras untuk
tahu hubungan manusia tidak bisa direduksi menjadi persentase. Tetapi kalau
produksi benar-benar melakukan wawancara, asesmen, dan pemetaan sebelum peserta
bertemu, hasilnya tetap menarik.
Data tidak
harus menentukan keputusan untuk berguna.
Tika menyebut
minatnya itu “kegembiraan yang terlalu akademis untuk acara kencan”.
“Ini bukan
acara kencan biasa,” kata Damar.
“Benar. Ini
acara kencan dengan Excel.”
“Belum tentu
pakai Excel.”
Tika menatapnya
lama. “Kamu bisa enggak, sekali aja, biarin inti lelucon hidup?”
“Bisa.”
“Terima kasih.”
“Walaupun
secara teknis—”
Tika melempar
bantal kecil ke arahnya.
Malam itu semua
peserta berkumpul di depan layar besar. Laras dan Reno sudah pergi beberapa jam
sebelumnya, sehingga kursi mereka kosong. Suasana aneh: senang karena ada
pasangan pertama yang memilih keluar, penasaran karena hasil analisis sebentar
lagi diumumkan, dan sedikit sadar bahwa permainan mulai masuk bagian akhir.
Game Master
menjelaskan bahwa yang ditampilkan bukan seluruh kombinasi pasangan, melainkan
beberapa peringkat teratas serta data tambahan yang dianggap relevan.
Daftar pertama
muncul.
*1. Wulan — Arif: 92%*
Ruangan
meledak.
Gilang menepuk
meja. “NAH!”
Ranti langsung
menoleh pada keduanya. “Kalian lihat? Sembilan puluh dua!”
Wulan menutup
wajah sambil tertawa. Arif mengangkat kedua tangan seolah sedang menerima
dakwaan.
“Jangan lihat aku,”
katanya. “Aku bukan yang bikin algoritmanya.”
Damar tidak
terlalu terkejut. Wulan dan Arif punya ritme komunikasi paling mulus. Mereka
jarang salah paham, preferensi banyak yang sejalan, dan hampir setiap tantangan
menunjukkan pola kerja sama yang konsisten.
Yang aneh
justru mereka belum Sweet Exit.
Peringkat kedua
muncul.
*2. Tika — Gilang: 86%*
Untuk pertama
kalinya malam itu ruangan benar-benar hening setengah detik.
Lalu Tika
berkata, “Hah?”
Gilang menoleh
padanya. “Selamat. Ternyata kita jodoh secara administrasi.”
“Enggak, terima
kasih.”
“Belum aku
lamar.”
“Bagus.”
Semua orang
tertawa.
Damar ikut
tertawa, tetapi pandangannya tetap pada angka 86.
Ia mencoba
menyusun alasan. Tika dan Gilang sama-sama mudah bersosialisasi, cepat
beradaptasi, suka humor, mungkin punya preferensi kehidupan yang mirip. Masuk
akal.
Tetap terasa
aneh.
Peringkat
ketiga muncul.
*3. Anggi — Damar: 82%*
Damar merasakan
beberapa kepala langsung menoleh.
Anggi tersenyum
lebar, meski pipinya sedikit memerah.
Gilang bersiul.
“Wah.”
Tika menunjuk
Damar. “Tuh. Data favoritmu sudah bicara.”
Damar membaca
angka itu lagi.
Delapan puluh
dua persen.
Anggi memang
masuk akal. Mereka nyaman bicara. Anggi terbuka, hangat, dan sering mencari
percakapan dengannya. Damar menyukai kebersamaan mereka. Kalau model analisis
memberi skor tinggi, ia bisa memahami variabel yang mungkin mendorong hasil
itu.
Peringkat
keempat menampilkan Laras dan Reno, pasangan yang sudah Sweet Exit, dengan
angka 80%.
Ruangan kembali
ramai karena mereka memilih satu sama lain bahkan sebelum tahu hasilnya.
Damar mendengar
komentar orang-orang, tetapi pikirannya justru tertahan pada satu pertanyaan
yang seharusnya tidak penting.
Kalau Anggi dan
dirinya ada di peringkat tiga, lalu dirinya dan Tika di mana?
Ia tidak langsung
meminta. Itu akan terlalu jelas, bahkan bagi seseorang yang tidak peka.
Untungnya layar
kemudian menampilkan beberapa pasangan lain di luar empat besar sebagai bagian
dari data tambahan.
Damar mencari
cepat.
Ia menemukan
namanya dan Tika pada salah satu baris bawah.
*Damar — Tika: 63%*
Tidak buruk.
Tidak tinggi.
Damar tidak
tahu kenapa angka itu mengganggunya.
Tika yang
berdiri tidak jauh darinya melihat juga.
“Hahaha.”
Damar menoleh.
Tika menunjuk
layar. “Enam puluh tiga. Pantes kita tiap hari ribut.”
“Kita enggak
tiap hari ribut.”
“Ini kalimat
orang yang tiap hari ribut.”
“Perbedaan
pendapat tidak sama dengan konflik.”
“Nah. Bahkan
definisi ribut pun kamu ributin.”
Damar
mengembuskan napas, tetapi tersenyum.
Malam berakhir
dengan banyak ejekan dan sedikit spekulasi. Anggi tidak menekan apa pun. Ia
hanya sempat berkata, “Ternyata lumayan tinggi, ya.”
Damar
mengangguk. “Iya.”
“Menurut kamu
akurat?”
Damar memilih
jawaban yang paling jujur. “Bisa jadi.”
Anggi
tersenyum, dan Damar tidak memikirkan lebih jauh apa arti senyum itu.
Keesokan
harinya hasil analisis berubah menjadi bahan bercandaan.
Tika dan Gilang
dipanggil “peringkat dua” beberapa kali. Wulan dan Arif malah makin digoda
karena angka mereka paling tinggi.
Saat sarapan,
Tika duduk di seberang Damar.
“Gimana rasanya
cocok delapan puluh dua persen sama orang?” tanyanya.
“Biasa.”
“Bohong. Kamu
pasti semalam bikin grafik sendiri di kepala.”
“Enggak.”
“Analisis
regresi?”
“Enggak.”
“Simulasi Monte
Carlo?”
Damar
menatapnya. “Kamu tahu istilah itu dari mana?”
“Internet ada
gunanya.”
Damar tertawa.
Tika
melanjutkan, “Kalau kita cuma enam puluh tiga, berarti setiap sepuluh obrolan,
tiga koma tujuh harus berantem.”
“Persentase
kompatibilitas tidak bekerja begitu.”
“Biarin. Aku
lagi bikin sains baru.”
Damar
menggeleng.
Percakapan
berlanjut ke hal lain, lalu putus ketika peserta lain datang. Tidak ada
pengakuan. Tidak ada momen romantis. Bahkan kalau ditonton dari luar, mungkin
adegannya tidak berarti apa-apa.
Namun setelah
Tika pergi, Damar memandang kursi kosong di seberangnya sedikit terlalu lama.
Ia punya data
yang mengatakan Anggi adalah salah satu kemungkinan terbaik.
Anehnya,
pertanyaan yang terus kembali justru tentang angka yang lebih rendah.
BAB 8 — Sebelum Jawaban
Tika
Tika awalnya ikut acara karena iseng.
Kalau semuanya
gagal, ia masih punya cerita aneh untuk diceritakan seumur hidup. Kalau dapat
uang, bagus. Kalau bertemu seseorang, lebih bagus lagi. Ia datang tanpa daftar
syarat dan tanpa rencana memaksa dua minggu menjadi awal kisah cinta besar.
Lalu ada Damar,
yang pada hari kedua berhasil membuatnya kesal hanya dengan menjelaskan bahwa
istilah yang dipakai Tika “kurang tepat”.
Sejak itu
mereka seperti menemukan hobi bersama: berbeda pendapat tentang hal-hal yang
tidak layak diperdebatkan.
Tika suka
mengganggunya karena Damar sulit membiarkan kesalahan logika lewat begitu saja.
Damar, entah sadar atau tidak, selalu meladeni.
Awalnya itu
sekadar lucu.
Lama-lama Tika
mulai mencari Damar kalau ada kejadian aneh, hanya untuk melihat reaksinya.
Kalau Game Master mengumumkan aturan baru, ia otomatis menoleh ke Damar. Kalau
Gilang membuat lelucon buruk, Tika ingin tahu apakah Damar akan tertawa atau
malah mengoreksi premisnya.
Ia tidak
memperhatikan kapan kebiasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit
ditertawakan.
Malam reveal
seharusnya membuat semuanya jelas.
Ternyata data
menempatkannya bersama Gilang di peringkat dua.
Tika hampir
tertawa sampai sakit perut.
“Delapan puluh
enam persen,” kata Gilang setelah acara pengumuman selesai. “Kalau kamu berubah
pikiran, aku siap meninjau proposal.”
“Ditolak
sebelum masuk meja.”
“Proses
pengadaan yang tidak transparan.”
Mereka memang
cocok untuk bercanda. Tika bisa memahami kenapa analisis melihat pola itu.
Namun ketika
namanya bersama Damar hanya mendapatkan enam puluh tiga persen, ia justru
merasakan sedikit tusukan yang tidak masuk akal.
Maka ia
menertawakannya lebih keras.
“Pantes kita
enggak cocok.”
Damar membela
definisi mereka seperti biasa. Tika mengubah angka itu menjadi bahan olok-olok.
Semua kembali aman.
Kecuali Tika
tahu dirinya bohong.
Ia nyaman
dengan Damar. Sangat nyaman. Dan kenyamanan itu tidak seperti bersama Gilang
atau Wulan. Ada rasa menunggu sesuatu setiap kali Damar mendekat. Ada kesadaran
bodoh ketika lengan mereka hampir bersentuhan. Ada kepuasan kecil ketika ia
berhasil membuat Damar tertawa tanpa sengaja.
Enam puluh tiga persen, ya sudah. Mungkin sisanya bisa
dicicil.
Pikiran itu
terlalu memalukan untuk diucapkan.
Masalah
sesungguhnya bukan angka mereka.
Masalahnya
adalah Anggi dan Damar berada di peringkat tiga.
Delapan puluh
dua persen.
Dan Anggi jelas
menyukai Damar.
Tika bukan
orang buta. Selama beberapa hari ia melihat Anggi sengaja duduk dekat Damar,
mengajak bicara, mencari kesempatan berdua. Sebelumnya Tika tidak merasa
terganggu. Damar berhak bicara dengan siapa pun. Anggi juga menyenangkan.
Setelah angka
keluar, semuanya terasa berbeda.
Pagi
berikutnya, Tika dan Damar masih bercanda tentang data. Mereka tertawa soal
enam puluh tiga persen sampai Tika hampir percaya dirinya tidak peduli.
Lalu Anggi
datang.
Tidak ada
drama. Anggi hanya memanggil Damar dan bertanya apakah bisa bicara sebentar.
Damar berdiri.
Tika melihat
mereka pergi ke sisi lain ruang bersama.
Peringkat tiga.
Delapan puluh
dua persen.
Tika menatap
gelas di depannya.
Ya bagus, dong. Memang kenapa?
Ia berdiri dan
pergi sebelum Damar kembali.
Pada evaluasi
keempat, tanda untuk Laras dan Reno tidak lagi berupa skor. Nama mereka
ditampilkan dengan status Sweet Exit.
Tika menatap tanda
itu lebih lama daripada yang diperlukan.
Kesempatan
memang bisa selesai sebelum acara selesai. Dua orang bisa memutuskan cukup,
keluar, lalu menghadapi dunia asli dengan semua informasi yang selama ini
ditahan.
Besok masih ada
challenge kelima. Setelah itu tinggal beberapa hari menuju evaluasi final.
Tika membuat
keputusan yang terasa jauh lebih berani daripada seharusnya.
Ia akan
mengajak Damar Sweet Exit.
Bukan dengan
pengakuan cinta. Jangan konyol.
Ia akan
membungkusnya sebagai candaan.
Nothing to lose.
Kalau Damar
menolak, Tika bisa pura-pura sedang menguji reaksi. Kalau Damar tertawa, ia
ikut tertawa. Kalau, dengan probabilitas yang bahkan Tika tidak mau hitung,
Damar bilang iya—
Ia tidak
menyelesaikan pikiran itu.
Keesokan
paginya Tika bangun lebih cepat dan mencari Damar sebelum challenge kelima
dimulai.
Ia tidak ada di
ruang makan. Tidak di area duduk utama. Tika berjalan ke koridor samping dan
mendengar suara Anggi lebih dulu.
Ia hampir
memanggil, lalu berhenti.
Damar dan Anggi
berada di area yang masih terbuka, tetapi sudutnya membuat Tika tidak terlihat
dari tempat mereka berdiri.
“Aku sebenarnya
udah pengin ngomong dari kemarin,” suara Anggi terdengar.
Tika seharusnya
pergi.
Ia tahu itu.
Namun kakinya
diam.
Anggi
melanjutkan. Suaranya lebih pelan sekarang, tetapi Tika menangkap cukup banyak
untuk memahami.
Tentang
perasaannya. Tentang beberapa hari mereka bersama. Tentang hasil analisis yang
membuatnya semakin yakin mungkin mereka memang punya kesempatan.
Tika merasa
perutnya jatuh.
Ia tidak
menunggu jawaban Damar.
Mungkin karena
takut.
Mungkin karena
merasa tidak punya hak berada di sana.
Mungkin karena
kalau mendengar Damar menerima, ia ingin punya beberapa menit untuk menyusun
wajah sebelum bertemu siapa pun.
Tika mundur pelan,
lalu berbalik.
Nothing to lose, pikirnya
semalam.
Ternyata ada.
Ia baru sadar
ketika kemungkinan kehilangannya berdiri beberapa meter di belakang.
BAB 9 — Jawaban
Damar
Setelah Anggi selesai bicara, Damar tidak
langsung menjawab.
Bukan karena ia
tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan. Justru karena ia mengerti terlalu
jelas.
Anggi
menyukainya. Sudah beberapa hari. Hasil kompatibilitas semalam membuat
kemungkinan itu terlihat makin masuk akal. Mereka berada di peringkat tiga
dengan delapan puluh dua persen—angka yang, kalau dibaca tanpa konteks lain,
cukup tinggi untuk membuat siapa pun berhenti dan mempertimbangkan.
Damar
mempertimbangkan.
Ia memikirkan
percakapan-percakapan mereka. Anggi mudah diajak bicara, hangat, perhatian, dan
tidak pernah membuatnya merasa harus menjadi orang lain. Ia bisa membayangkan
kencan pertama dengan Anggi setelah acara. Bisa membayangkan percakapan panjang
tanpa kesulitan.
Secara logika,
pilihan itu tampak masuk akal.
Lalu Damar
mencoba membayangkan dirinya berjalan keluar dari tempat ini bersama seseorang.
Orang yang
muncul di kepalanya bukan Anggi.
Tika muncul
sambil tertawa karena hal yang tidak penting. Tika yang memelintir angka 63
persen menjadi bahan lelucon. Tika yang selalu mengganggu penjelasannya tetapi
justru mendengarkan sampai selesai ketika hal itu benar-benar penting.
Damar baru
menyadari betapa sering pikirannya kembali pada perempuan itu setelah ia
mencoba mengarahkannya ke orang lain.
Ia memandang
Anggi.
“Anggi.”
Ekspresi Anggi
tetap terbuka, tetapi Damar melihat ketegangan di bahunya.
“Aku senang
kamu ngomong jujur.”
Anggi tersenyum
kecil. “Kalimat pembuka yang enggak menjanjikan.”
Damar hampir
tertawa, tetapi tidak jadi.
“Aku enggak mau
bikin kamu nunggu jawaban yang sebenarnya sudah ada.”
Anggi
mengangguk pelan.
Damar memilih
kalimat yang tidak menyalahkan data dan tidak menyalahkan siapa pun.
“Aku nyaman
sama kamu. Tapi perasaanku enggak sampai ke tempat yang sama.”
Anggi menunduk
sebentar.
Damar ingin
menambahkan banyak hal—bahwa Anggi tidak salah membaca kedekatan mereka, bahwa
delapan puluh dua persen bukan kebohongan, bahwa semua kualitas yang ia sukai
pada Anggi tetap nyata. Namun ia tahu kalimat-kalimat semacam itu sering hanya
membuat penolakan lebih panjang.
Jadi ia diam.
Anggi menarik
napas lalu menatapnya lagi.
“Oke.”
“Maaf.”
“Jangan minta
maaf karena enggak suka.”
Nada suaranya
ringan, tetapi matanya tidak.
Damar
mengangguk.
Anggi pergi
beberapa saat kemudian tanpa marah, tanpa membuat adegan, tanpa menuntut
penjelasan lain.
Damar berdiri
sendirian.
Yang aneh, rasa
lega karena sudah jujur hanya bertahan sebentar.
Pikirannya
langsung mencari Tika.
Ia teringat
pagi-pagi terakhir, percakapan mereka, dan bagaimana Tika semalam seperti ingin
mengatakan sesuatu lalu membatalkannya. Damar tidak tahu apakah itu berarti
apa-apa. Ia juga tidak tahu apakah Tika melihat percakapannya dengan Anggi.
Ia keluar dari
area itu dan memeriksa ruang bersama.
Tika tidak ada.
Dapur, tidak
ada.
Area duduk,
tidak ada.
Ia hampir
tertawa pada dirinya sendiri. Beberapa hari lalu ia masih menganggap hasil
kompatibilitas sebagai informasi paling menarik dalam permainan. Sekarang ia
bahkan tidak memikirkan angka 63 atau 82.
Data memang
bisa menunjukkan kemungkinan.
Yang tidak bisa
dilakukan data adalah membuat seseorang ingin mencari satu orang tertentu
ketika orang itu menghilang dari ruangan.
BAB 10 — Zona Bahaya
Anggi
Challenge kelima gagal.
Anggi tahu
bagian dirinya ikut menyebabkan kegagalan itu.
Tugasnya
sederhana: mengingat urutan instruksi yang dibacakan sekali, lalu
menyampaikannya pada anggota tim berikut. Di ronde latihan ia tidak bermasalah.
Saat waktu resmi dimulai, satu bagian pikirannya tetap berada di percakapan
pagi tadi.
Ia melewatkan
satu instruksi.
Kesalahan itu
memaksa tim mengulang tahap, waktu habis, dan layar besar menampilkan
pengurangan dana.
Seratus empat
puluh lima juta menjadi seratus dua puluh lima juta.
Anggi berdiri
bersama peserta lain dan berkata, “Maaf. Yang tadi salahku.”
Tidak ada yang
menyerang.
Gilang langsung
berkata, “Salah kita bareng. Kalau satu urutan bisa bikin satu tim ambruk,
sistem kita memang rapuh.”
Tika tidak
mengatakan apa-apa. Damar juga tidak.
Justru sikap
baik semua orang membuat Anggi semakin malu.
Ia menghabiskan
sisa hari dengan lebih banyak diam.
Biasanya Anggi
akan ikut duduk di tengah keramaian, menyela percakapan, atau mengomentari apa
pun yang terjadi. Hari itu ia memilih kegiatan yang memberinya alasan untuk
sibuk: merapikan sesuatu, mengambil minum, masuk kamar lebih awal.
Ia tidak marah
pada Damar.
Itu membuat
semuanya lebih menyebalkan.
Kalau Damar
bersikap buruk, mungkin Anggi bisa mengubah sedih menjadi kesal. Namun Damar
menolaknya dengan cara yang bahkan sulit dicela. Tidak memberi harapan, tidak
merendahkan, tidak menyalahkan situasi.
Malamnya Anggi
memikirkan satu hal yang lebih memalukan daripada penolakan itu sendiri: selama
beberapa hari ia sudah menyusun cerita di kepalanya.
Tentang
kedekatan mereka. Tentang peringkat tiga. Tentang kemungkinan keluar bersama.
Ia tidak pernah
mengatakan cerita itu pada siapa pun, tetapi tetap merasa seperti seseorang
baru saja mengambil naskah dari tangannya dan memberitahu bahwa tokoh utama
lelaki tidak pernah setuju ikut.
Evaluasi
berikutnya datang sebelum Anggi sempat pulih.
Nama peserta
muncul satu per satu di layar.
Gilang tetap
tinggi. Ranti aman. Wulan dan Arif aman. Tika aman.
Lalu nama
Anggi.
*59 — Zona Bahaya*
Ruangan terasa
lebih sunyi daripada sebenarnya.
Game Master
menjelaskan aturan yang sudah semua orang tahu. Anggi punya satu siklus
terakhir untuk pulih. Karena evaluasi final tinggal beberapa hari, ia menjadi
satu-satunya peserta yang masih berisiko tereliminasi karena skor.
Anggi
mengangguk seperti informasi itu tidak mengejutkan.
Begitu kembali
ke kamar, ia mengeluarkan tas.
Tidak ada
alasan langsung berkemas, tetapi tangannya membutuhkan pekerjaan.
Ia baru
memasukkan dua potong pakaian ketika ada ketukan.
Wulan berdiri
di depan pintu.
“Boleh masuk?”
Anggi mundur
memberi jalan.
Wulan melihat
tas terbuka. “Kamu mau kabur lewat ventilasi?”
Anggi tertawa
kecil. “Persiapan aja.”
“Belum
selesai.”
“Kalau nanti
selesai jelek, aku enggak mau panik.”
Wulan duduk di
tepi kursi. “Boleh sedih. Tapi jangan bikin keputusan final dari nilai satu
hari waktu kamu lagi kacau.”
Anggi menatap
kaus yang ada di tangannya.
“Aku malu,
Wul.”
“Karena masuk
danger zone?”
Anggi
menggeleng.
Wulan tidak
mendesak.
Anggi akhirnya
berkata, “Karena aku ngerasa kayak orang yang terlalu yakin.”
“Yakin soal
Damar?”
Anggi
menatapnya cepat.
Wulan mengangkat
bahu. “Aku enggak tuli.”
Anggi menutup
wajah sebentar. “Tuh, kan.”
“Terus kenapa
kalau kamu salah?”
“Ya malu.”
“Kalau semua
orang yang salah baca perasaan harus malu permanen, enggak ada yang berani
kencan.”
Anggi
menurunkan tangan.
Wulan melanjutkan,
“Kamu bilang perasaanmu. Dia jawab. Selesai. Yang bikin kamu jelek bukan
ditolak. Yang bikin jelek kalau habis ditolak kamu jadi nyusahin semua orang,
dan menurutku kamu belum sampai situ.”
“Challenge tadi
gagal.”
“Itu satu
hari.”
Kalimat itu
sederhana, tetapi Anggi membiarkannya tinggal.
Besoknya,
dukungan datang dari arah yang tidak ia duga.
Gilang membuat
seolah-olah nilai Anggi adalah masalah tim. Arif menawarkan latihan singkat
untuk jenis tugas yang sering membuatnya panik. Bahkan Bram dan Ranti ikut
berbicara dengannya sebelum last challenge.
Ranti berkata,
“Kamu harus keluar dari zona bahaya.”
“Terima kasih.”
Bram
menambahkan, “Secara moral.”
Ranti
meliriknya. “Kenapa harus ditambah ‘secara moral’?”
Bram menjawab
sangat tenang, “Karena secara finansial kalau satu orang tereliminasi, bagian
akhir yang lain naik.”
Anggi menatap
mereka.
Ranti memukul
lengan Bram. “Makanya jangan dihitung sekarang.”
“Tapi sudah
terhitung.”
Gilang yang
kebetulan lewat menyela, “Demi Tuhan, pasangan finansial lagi berusaha memberi
dukungan emosional tapi spreadsheet-nya bocor.”
Anggi tertawa.
Benar-benar tertawa untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Bram mengangkat
tangan menyerah. “Pokoknya jangan tereliminasi.”
“Alasannya aku
pilih yang moral aja,” kata Anggi.
Last challenge
menjadi kesempatan terakhir menambah dana. Tidak ada janji mencapai dua ratus
juta. Yang mereka butuhkan hanya menyelesaikan rangkaian tugas kelompok lebih
baik daripada challenge sebelumnya.
Anggi masuk
dengan ketakutan bahwa satu kesalahan akan membuktikan semua hal buruk yang ia
pikirkan tentang dirinya.
Lalu ronde
pertama berjalan baik.
Di ronde kedua
ia salah satu petunjuk, tetapi kali ini tidak membeku. Ia memperbaiki, memberi
tahu tim, dan lanjut.
Pada ronde
terakhir, Anggi menjadi orang yang harus menggabungkan informasi dari tiga
peserta. Tangan kirinya gemetar sedikit.
“Gi,” kata
Gilang dari seberang, “fokus sini.”
Anggi menatap
kartu di depannya.
Damar berada di
sisi lain meja, tetapi untuk pertama kalinya selama beberapa hari Anggi tidak
memikirkan apakah lelaki itu sedang melihatnya.
Ia hanya
mengerjakan bagiannya.
Waktu berhenti.
Layar berubah.
*BERHASIL*
Dana bersama
naik menjadi seratus enam puluh juta.
Ruangan pecah
oleh sorak. Anggi ikut berteriak sampai suaranya serak.
Ia tidak tahu
berapa nilai finalnya nanti. Tidak tahu apakah satu challenge cukup memperbaiki
skor. Tidak tahu bagaimana cuplikan dirinya akan terlihat empat bulan lagi
ketika acara tayang.
Namun saat
semua orang saling menepuk bahu, Anggi sadar satu hal kecil yang terasa
penting.
Ia datang ke
tempat ini untuk dipilih seseorang.
Pada hari
ketiga belas, untuk pertama kalinya ia tidak menganggap itu sebagai ukuran
utama apakah dirinya berhasil.
BAB 11 — Nothing to Lose
Tika
Tika menghabiskan dua hari berpura-pura
tidak menunggu penjelasan.
Damar sempat
mencarinya setelah percakapan dengan Anggi, tetapi timing mereka terus buruk.
Ada challenge, evaluasi, persiapan last challenge, lalu semua orang sibuk
dengan kemungkinan Anggi tereliminasi.
Tika memilih
tidak bertanya.
Kalau Damar
menerima Anggi, cepat atau lambat akan terlihat. Kalau menolak, itu juga bukan
otomatis berarti Damar memilih Tika.
Jadi Tika
kembali pada keahlian terbaiknya: bercanda sampai sesuatu terasa tidak terlalu
menakutkan.
Setelah last
challenge berhasil dan suasana lebih ringan, ia duduk di ruang bersama bersama
Damar. Peserta lain sudah berpencar. Untuk beberapa menit mereka bicara soal
challenge, soal dana seratus enam puluh juta, dan soal kemungkinan Ranti
menghitung pembagian sejak angka baru muncul.
Damar berkata,
“Dia pasti sudah hitung.”
“Bram juga.”
“Mereka mungkin
hitung pakai dua metode biar saling verifikasi.”
Tika tertawa.
“Nah, kamu sudah mulai belajar jahat.”
Damar
tersenyum.
Lalu obrolan
berhenti.
Tika sadar
sudah tidak punya banyak waktu. Kesempatan Sweet Exit hanya tersisa sampai
evaluasi final. Ia sudah pernah berniat melakukan ini dan mundur karena melihat
Anggi.
Nothing to lose.
Kalimat itu
kembali, tetapi sekarang terdengar bodoh.
Tika
menyandarkan punggung.
“Mar.”
“Hm?”
“Misalnya nih.”
Damar langsung
menatapnya dengan ekspresi waspada. “Kenapa kalau kamu mulai pakai ‘misalnya’
biasanya ada jebakan?”
“Enggak ada.
Ini hipotetis.”
“Oke.”
“Kalau ada dua
orang yang kompatibilitasnya cuma enam puluh tiga persen…”
Damar menutup
mata sesaat. “Kita masih bahas itu?”
“Dengar dulu.”
“Iya.”
“Terus dua
orang itu—misalnya—sudah lumayan nyaman. Lumayan sering ngobrol. Lumayan tahan
sama kebiasaan buruk masing-masing.”
Damar
mengangguk perlahan.
Tika merasakan
jantungnya mulai tidak kooperatif.
“Terus waktu
acara tinggal dikit. Menurut kamu konyol enggak kalau salah satunya ngajak
Sweet Exit cuma buat… ya, lihat nanti di luar gimana?”
Damar menjawab
terlalu cepat.
“Enggak.”
Tika berkedip.
Damar juga seperti
baru sadar kecepatannya sendiri.
Mereka diam.
Tika tertawa
kecil karena tidak tahu harus melakukan apa lagi. “Wah. Cepat banget.”
“Aku sudah
kepikiran.”
Tika berhenti
tertawa.
“Kepikiran
apa?”
Damar
menatapnya, lalu berkata, “Kamu lihat Anggi ngomong sama aku waktu itu, ya?”
Tika merasa
panas naik ke wajah. “Aku enggak sengaja.”
“Aku enggak
bilang kamu sengaja.”
“Aku pergi
sebelum…” Tika berhenti.
Damar
menyelesaikan, “Sebelum dengar jawaban.”
Tika tidak
menjawab.
Damar
menatapnya cukup lama.
“Aku nolak.”
Tika mengangkat
pandangan.
Bukan rasa
senang yang datang pertama. Justru rasa bersalah kecil karena ada bagian
dirinya yang lega atas kekecewaan Anggi.
Damar seperti
membaca kekacauan itu, meski mungkin tidak tahu bentuknya.
“Bukan karena
kamu,” katanya. “Maksudku, bukan karena aku sudah punya keputusan sama kamu
waktu itu. Aku nolak karena memang perasaanku ke Anggi enggak sama.”
“Terus
sekarang?”
Pertanyaan itu
lolos sebelum Tika bisa membungkusnya dengan lelucon.
Damar diam
sebentar.
“Sekarang aku
tahu aku nyariin kamu setelah itu.”
Tika
menatapnya.
“Cuma itu?”
“Aku belum
selesai.”
“Lanjut.”
“Kalau ada
pengumuman, aku cari reaksi kamu. Kalau ada hal aneh, aku kepikiran nanti kamu
komentar apa. Dan waktu data bilang kita enggak terlalu cocok, aku lebih
terganggu daripada seharusnya.”
Tika tidak bisa
menahan senyum. “Enam puluh tiga itu masih lulus kalau KKM-nya enam puluh.”
Damar tertawa.
Ketegangan
pecah sedikit.
Tika menunduk,
lalu berkata pelan, “Aku kemarin mau ngajak kamu. Pagi itu.”
“Sweet Exit?”
“Iya.”
“Terus lihat
Anggi.”
“Iya.”
“Kenapa enggak
tunggu jawaban?”
Tika menatapnya
tajam. “Karena aku punya harga diri.”
“Hubungannya?”
“Diam.”
Damar tertawa
lagi.
Tika ikut
tertawa, lalu keduanya kembali diam dengan cara yang tidak lagi canggung.
Ia memikirkan
semua hal yang belum mereka tahu satu sama lain. Nama asli. Tempat tinggal.
Rutinitas. Pekerjaan. Teman-teman. Kebiasaan buruk yang tidak sempat terlihat
dalam dua minggu.
Sweet Exit
bukan janji seumur hidup.
Itu cuma keputusan
untuk memberi sesuatu kesempatan nyata.
Tika menarik
napas.
“Jadi,”
katanya, “kalau aku sekarang ngajak beneran, kamu mau?”
Damar tidak
menjawab terlalu cepat kali ini.
Ia tersenyum
lebih dulu.
“Mau.”
Tika mengangkat
alis. “Yakin? Data kita jelek.”
“Data menemukan
kemungkinan.”
“Wah, siap
bikin kutipan.”
“Belum
selesai.”
“Ya ampun.”
“Data enggak
bisa memutuskan aku pengin kenal siapa setelah ini.”
Tika menatapnya
beberapa detik, lalu memalingkan wajah agar Damar tidak terlalu puas melihat
senyumnya.
“Gombal kamu
ternyata bentuknya presentasi.”
“Efektif?”
“Enam puluh
tiga persen.”
Pagi berikutnya
mereka mengajukan Sweet Exit.
Pengumuman
terasa lebih memalukan daripada yang Tika bayangkan karena semua orang langsung
bersorak seperti sudah menunggu terlalu lama.
Gilang menepuk
bahu Damar. “Akhirnya statistik kalah.”
Damar berkata,
“Bukan kalah.”
Tika menarik
lengan Damar. “Jangan jelasin. Ayo pergi sebelum dia mulai.”
Anggi berdiri
sedikit jauh. Tika ragu mendekat, tetapi Anggi justru menghampiri lebih dulu.
“Selamat,”
katanya.
Tidak ada
senyum lebar, tetapi juga tidak ada kepahitan yang sengaja dipamerkan.
Tika
mengangguk. “Makasih.”
Damar juga
mengucapkan terima kasih.
Game Master
mengumumkan bahwa kesempatan Sweet Exit akan berakhir pada evaluasi final sore
nanti. Setelah itu peserta yang tersisa dan memenuhi syarat akan menerima
bagian dana sama rata.
Tika mendengar
informasi itu setengah hati.
Beberapa menit
kemudian ia dan Damar berdiri di dekat pintu yang sama tempat Laras dan Reno
keluar beberapa hari sebelumnya.
Damar
menatapnya. “Nothing to lose?”
Tika mengingat
kalimat yang dulu ia pakai untuk meyakinkan diri.
Ia menggeleng.
“Justru ada,”
katanya. “Makanya aku ngajak.”
Mereka keluar
bersama.
BAB 12 — Sedikit Saja
Arif
Arif tidak pernah berbohong ketika bilang
ia ikut acara tanpa beban.
Dapat pasangan,
syukur. Dapat uang, syukur. Pulang dengan pengalaman aneh yang nanti bisa
ditertawakan, juga tidak masalah.
Yang baru ia
sadari adalah: manusia bisa masuk tanpa ekspektasi dan tetap keluar membawa
sesuatu yang tidak direncanakan.
Pada hari
kesembilan, Wulan mengatakan hubungan mereka lebih cocok disebut persahabatan.
Saat itu Arif
mengangguk karena sebagian besar dirinya memang setuju.
Mereka nyaman.
Sangat nyaman. Tapi nyaman tidak otomatis romantis. Kalau semua hubungan yang
mudah harus dijadikan pacaran, hidup akan penuh mantan yang seharusnya cukup
jadi teman baik.
Jadi Arif
menerima.
Setidaknya ia
mengira sudah menerima.
Malam reveal
menempatkan mereka di peringkat pertama dengan kompatibilitas 92 persen.
Semua orang
heboh.
Ranti terlihat
seperti seseorang baru saja menunjukkan tiket undian yang belum dicairkan.
“SEMBILAN PULUH
DUA,” katanya.
Arif mengangkat
tangan. “Saya juga bisa baca.”
Wulan tertawa.
Arif ikut tertawa.
Namun ketika
malam selesai, ada bagian kecil dalam dirinya yang bertanya: kalau datanya
setinggi itu, apa mereka terlalu cepat menutup kemungkinan?
Ia tidak
mengatakannya.
Hari-hari
berikutnya berjalan seperti biasa. Ia dan Wulan tetap duduk bersama, tetap
kompak, tetap menjadi bahan godaan orang lain. Dari luar, tidak ada yang
berubah.
Di dalam diri
Arif, sesuatu justru mulai terlihat setelah namanya diberi batas.
Mungkin ia
memang punya rasa sedikit.
Bukan cinta
besar. Bukan keinginan mendesak untuk membawa Wulan keluar saat itu juga. Lebih
seperti bibit yang baru ia sadar ada setelah Wulan mengatakan jangan ditanam.
Dan karena
Wulan sudah jelas, Arif tidak punya hak menyiramnya diam-diam sambil berharap
perempuan itu berubah pikiran.
Ia mencoba bersikap
sama seperti sebelumnya.
Kadang
berhasil.
Kadang saat
Wulan tertawa dekat sekali, ia bertanya bagaimana kalau mereka memberi waktu
sedikit lebih lama.
Lalu ia
mengingat percakapan mereka.
Wulan tidak
bilang Arif kurang baik. Tidak bilang mereka tidak cocok. Justru sebaliknya:
mereka cocok, tetapi Wulan tidak merasakan dorongan romantis.
Itu bukan
masalah yang bisa diperbaiki dengan presentasi tambahan.
Setelah Tika
dan Damar Sweet Exit, peserta tersisa tinggal enam orang: Anggi, Gilang, Wulan,
Arif, Ranti, dan Bram.
Dana akhir
seratus enam puluh juta menunggu evaluasi final. Secara hitungan kasar, kalau
semuanya bertahan, masing-masing akan mendapat bagian yang cukup besar.
Arif seharusnya
senang.
Namun
pengumuman bahwa setelah pembagian hadiah para peserta tidak boleh saling
mencari atau bertukar kontak sampai aturan pascaproduksi memperbolehkan
membuatnya memikirkan Wulan lagi.
Acara ini akan
selesai. Mereka akan pulang ke kehidupan masing-masing dengan nama yang bahkan
mungkin bukan nama asli.
Kalau Wulan
benar-benar hanya ingin berteman, persahabatan itu sendiri belum tentu bisa
langsung diteruskan.
Menjelang
evaluasi final, Arif mengajak Wulan bicara.
“Boleh aku
tanya sekali lagi?”
Wulan
menatapnya dan langsung tahu topiknya. “Boleh.”
“Jawabannya
masih sama?”
Wulan diam
sebentar.
“Iya.”
Arif
mengangguk.
Tidak ada
kejutan. Tetap terasa seperti menerima hasil ujian yang sebenarnya sudah ia
lihat dari kunci jawaban.
Wulan
melanjutkan, “Aku sayang sama hubungan kita di sini. Justru aku enggak mau
bikin itu jadi sesuatu yang aku sendiri enggak yakin.”
Arif menatap
tangannya.
“Kalau aku
bilang aku mungkin ada sedikit rasa, itu bikin keadaan aneh enggak?”
Wulan tersenyum
tipis, sedih tapi tidak panik. “Sedikit?”
“Sedikit.”
“Kayak berapa
persen?”
Arif tertawa.
“Jangan mulai.”
Wulan ikut
tertawa kecil.
“Enggak bikin
aneh,” katanya. “Asal kamu enggak berharap aku jawab beda karena kasihan.”
“Enggak.”
Dan Arif
sungguh-sungguh.
Ia kecewa,
tetapi bukan berarti Wulan salah.
“Kalau nanti
kita boleh kontak setelah acara?” tanyanya.
Wulan
mengangkat bahu. “Kalau aturan produksinya sudah mengizinkan dan hidup nyata
enggak terlalu ribet, aku mau tetap kenal.”
“Sebagai
teman.”
“Sebagai
teman.”
Arif
mengembuskan napas dan mengangguk.
Ada banyak cara
untuk kehilangan sesuatu. Salah satunya adalah memaksakan bentuk yang tidak
cocok sampai hal yang sudah ada ikut rusak.
Arif memilih
tidak melakukan itu.
Ia datang
dengan prinsip tidak ada ruginya ikut.
Ternyata ada
sedikit yang bisa hilang.
Tetapi ada juga
sesuatu yang tetap layak dibawa pulang, meski bentuknya bukan yang sempat ia
bayangkan.
BAB 13 — Celah Sistem
Ranti
Ranti sudah menghitung bagian hadiah akhir
setidaknya lima kali.
Bukan karena ia
tidak percaya hitungan sebelumnya. Ia cuma ingin memastikan angka itu tetap
nyata.
Seratus enam
puluh juta dibagi enam orang berarti sekitar dua puluh enam juta lebih sedikit
per orang, selama tidak ada perubahan jumlah peserta sebelum evaluasi final.
Bagi sebagian
orang, uang itu mungkin bonus.
Bagi Ranti, itu
napas.
Beberapa bulan
sebelum ikut acara, keadaan keuangannya jatuh lebih cepat daripada yang ingin
ia ceritakan kepada siapa pun. Tidak sampai membuatnya kehilangan tempat
tinggal, tetapi cukup untuk mengubah cara ia melihat setiap pengeluaran. Ada
tagihan yang tertunda. Ada rencana yang dibatalkan. Ada rasa malu setiap kali
harus mengakui bahwa orang yang selama ini terlihat pandai mengatur justru
sedang kesulitan mengatur hidup sendiri.
Itulah sebabnya
sejak awal ia memandang dana bersama dengan serius.
Dan itulah
sebabnya Bram menjadi masalah.
Awalnya Bram
adalah partner kerja yang nyaman. Ia cepat menghitung, tidak baper ketika
dikoreksi, dan bisa mengikuti rencana tanpa perlu diberi instruksi dua kali.
Mereka
sama-sama menertawakan julukan Pasangan Finansial, lalu diam-diam hidup sesuai
julukan itu.
Mereka
mendorong Laras dan Reno. Mereka frustrasi melihat Wulan dan Arif tidak Sweet
Exit. Mereka menghitung dampak jumlah peserta terhadap hadiah sambil pura-pura
hanya peduli pada kebahagiaan orang lain.
Lalu, tanpa
disadari Ranti, kerja sama itu menjadi tempat paling nyaman di seluruh acara.
Ia mulai
mencari Bram saat mau membicarakan sesuatu. Mulai tahu kapan lelaki itu sedang
benar-benar serius dan kapan hanya bersembunyi di balik nada datar. Mulai bisa
membedakan senyum sopan Bram dengan senyum yang muncul khusus ketika Ranti
mengatakan sesuatu yang tidak ia duga.
Menjelang
evaluasi final, mereka duduk bersama tanpa agenda.
Itu sendiri
sudah aneh.
Biasanya
percakapan mereka punya tujuan: challenge, skor, dana, atau strategi.
“Kita hampir
selesai,” kata Ranti.
Bram
mengangguk. “Iya.”
“Kalau enam
orang tetap bertahan, dua puluh enam koma enam sekian.”
“Dua puluh enam
juta enam ratus enam puluh enam ribu lebih.”
Ranti menoleh.
“Aku enggak minta angka lengkap.”
“Kamu memulai.”
Ranti
tersenyum.
Mereka diam
sebentar.
Bram berkata,
“Kamu sebenarnya butuh uangnya buat apa?”
Pertanyaan itu
sederhana. Ranti selama ini selalu menghindari jawaban rinci.
Namun acara
hampir selesai. Mungkin karena itu ia lelah bersembunyi.
“Buat nutup
lubang,” katanya.
Bram
menatapnya, tidak menyela.
“Keuanganku
lagi jelek. Ada beberapa keputusan yang salah. Bukan judi, bukan utang
aneh-aneh. Cuma… jatuh aja. Dan aku butuh waktu buat berdiri lagi.”
Ranti menelan
ludah.
“Kalau aku
ambil Sweet Exit, hadiah pasangan memang ada nilainya, tapi bukan uang tunai
sebanyak ini. Aku enggak bisa pura-pura itu enggak penting.”
Bram mengangguk
pelan.
Ranti
menatapnya. “Kamu sendiri? Dari awal kamu juga ngitung terus. Emang butuh uang?”
Bram hampir
tertawa.
“Enggak.”
Jawaban itu
membuat Ranti kesal lebih cepat daripada seharusnya.
“Terus selama
ini?”
“Aku suka
sistem yang bisa dihitung.”
“Bram.”
“Dan aku pakai
uang sebagai alasan.”
Ranti terdiam.
Bram memandang
ke depan, bukan kepadanya.
“Hidupku aman
secara finansial,” katanya. “Terlalu aman, mungkin. Yang enggak aman bagian
lain.”
“Bagian lain
apa?”
Bram
mengembuskan napas pendek. “Aku kesepian.”
Ranti tidak
menyangka pengakuan itu akan terdengar begitu telanjang dari seseorang seperti
Bram.
Bram
melanjutkan sebelum ia sempat menjawab.
“Aku pikir ikut
acara ini taruhan yang masuk akal. Kalau enggak dapat siapa-siapa, hidupku
balik seperti biasa. Kalau dapat…”
Ia akhirnya
menoleh pada Ranti.
Kalimatnya
tidak selesai.
Tidak perlu.
Ranti merasakan
sesuatu yang sudah lama ia tahan ikut bergerak ke permukaan.
“Kamu suka
aku?” tanyanya, dan langsung merasa pertanyaan itu terlalu blak-blakan.
Bram menjawab
tanpa drama. “Iya.”
Jantung Ranti
berdetak keras.
Ia tertawa
kecil karena gugup. “Kita parah banget, ya. Bisa ngomongin pembagian dua puluh
enam juta dulu baru ini.”
“Urutannya
konsisten.”
“Jangan
bercanda.”
“Aku enggak
bercanda.”
Ranti
menatapnya.
“Aku juga suka
kamu,” katanya.
Bram menutup
mata sebentar, lalu tersenyum.
Untuk beberapa
menit, semua perhitungan Ranti menjadi tidak penting.
Mereka bicara
lebih jujur daripada sebelumnya. Tentang rasa yang tumbuh di balik strategi.
Tentang kemungkinan kalau situasi berbeda. Tentang fakta yang paling
menyakitkan: mereka saling memilih, tetapi kondisi mereka tidak sama.
Bram bisa
meninggalkan hadiah tanpa merasa hidupnya terganggu.
Ranti tidak.
“Kalau aku
ngajak Sweet Exit sekarang,” kata Bram, “kamu bakal nolak?”
Ranti
menatapnya lama.
“Iya.”
Bram
mengangguk.
“Bukan karena
aku enggak mau kamu,” kata Ranti cepat.
“Aku tahu.”
“Aku beneran
butuh uang ini.”
“Aku tahu.”
Jawaban tenang
itu justru lebih menyakitkan.
Ranti
memejamkan mata sesaat. “Benci banget aku sama timing.”
“Timing juga
enggak punya preferensi.”
Ranti
menatapnya tajam.
Bram tersenyum
kecil. “Kebanyakan ngobrol sama Damar.”
Ranti tertawa
sambil mengusap mata yang mulai panas.
Mereka tidak
berpelukan lama. Tidak ada janji akan menunggu. Tidak ada kalimat besar tentang
takdir.
Bram hanya
berkata, “Aku ada urusan sebentar.”
Ranti tidak
bertanya.
Beberapa waktu
kemudian mereka bertemu lagi.
Bram membawa
benda kecil berbentuk kotak tipis, tertutup rapat. Tidak ada tulisan di luar
selain nama Ranti.
“Apa ini?”
“Jangan
dibuka.”
Ranti
mengerutkan dahi. “Sampai kapan?”
“Sampai acara
benar-benar selesai. Kamu sudah keluar dari sini.”
“Bram.”
“Menurutku ini
celah sistem.”
Ranti langsung
teringat pertanyaan Bram pada hari pertama tentang benda tertutup dan informasi
kontak.
“Isinya kontak
kamu?” bisiknya.
Bram tidak
menjawab langsung.
Ia hanya
berkata, “Simpan. Jangan buka sekarang.”
“Ini boleh?”
“Menurut
tafsirku, selama kamu belum bisa melihat informasinya saat acara berlangsung,
aku belum benar-benar membagikan kontak.”
Ranti memandang
kotak itu.
“Produksi
bilang keputusan mereka final.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Bram menarik
napas.
“Aku enggak
minta kamu hubungi. Aku cuma mau kasih kemungkinan.”
Ada banyak
alasan untuk menolak benda itu. Ranti tahu.
Namun beberapa
jam lagi evaluasi final dimulai. Setelah itu mereka bisa saja tidak punya jalan
untuk menemukan satu sama lain sampai produksi mengizinkan, entah kapan.
Ranti menerima
kotak itu.
Bram menatap
tangannya yang menggenggam benda tersebut.
“Selamat
tinggal, Ranti.”
Nada suaranya
terlalu final.
“Kamu ngomong
kayak mau pergi sekarang.”
Bram tersenyum
tipis. “Aku ke confession room.”
“Lama?”
“Enggak tahu.”
Ia pergi
sebelum Ranti sempat memikirkan pertanyaan berikutnya.
Ranti menyimpan
kotak itu di antara barang pribadinya.
Waktu berjalan.
Pengumuman
untuk evaluasi final terdengar.
Semua peserta
diminta berkumpul.
Bram tidak
datang.
Ranti menunggu
sampai detik terakhir, mengira pintu akan terbuka dan lelaki itu masuk dengan
ekspresi tenang seperti biasa.
Tidak.
Layar menyala.
Nilai akhir
muncul satu per satu.
Gilang tetap
tinggi. Wulan dan Arif aman. Ranti aman. Anggi mendapat 83—cukup tinggi untuk
membuat ruangan bersorak, terutama setelah dua hari terakhir.
Anggi menutup
mulut dengan kedua tangan, lalu tertawa sambil menangis sedikit.
Ranti ikut
tepuk tangan, tetapi matanya tetap mencari pintu.
Nama Bram belum
muncul.
Lalu layar
berubah.
Suara Game
Master menjadi lebih formal.
“Peserta,
sebelum pembagian hadiah akhir, produksi perlu menyampaikan keputusan terkait
pelanggaran aturan.”
Perut Ranti langsung
mengeras.
“Berdasarkan
pengakuan peserta dan pemeriksaan internal, Bram telah menyerahkan media yang
memuat informasi kontak kepada peserta lain selama masa permainan. Instruksi
agar media baru dibuka setelah acara tidak mengubah waktu penyerahan informasi
tersebut. Produksi menilai tindakan itu sebagai pembagian kontak selama acara.”
Ranti tidak
mendengar napasnya sendiri.
“Karena
pelanggaran dikategorikan berat dan disengaja, Bram dieliminasi dari permainan
dan tidak berhak menerima bagian dana akhir.”
Tidak ada musik
dramatis.
Tidak ada suara
orang berteriak.
Hanya enam
orang yang diam, lalu lima orang yang pelan-pelan mengerti bahwa Bram tidak
akan kembali.
Beberapa menit
kemudian dua kru mendekati Ranti dengan sopan.
“Kami perlu
mengambil benda yang diberikan Bram.”
Ranti memegang
tasnya.
“Kalau aku
belum buka?”
“Benda tersebut
tetap menjadi barang bukti untuk proses kepatuhan. Setelah proses pascaproduksi
selesai, status pengembaliannya akan diinformasikan.”
“Bram tahu
kalian ambil?”
Salah satu kru
menggeleng. “Bram sudah meninggalkan area permainan. Dia mengakui penyerahan
benda itu, tetapi tidak mengetahui proses setelahnya.”
Ranti menelan
ludah.
Ia mengeluarkan
kotak tipis itu.
Untuk satu
detik, tangannya ingin merobek penutupnya. Cukup satu gerakan. Cukup lihat apa
yang tertulis sebelum diserahkan.
Namun itu hanya
akan menambah pelanggaran baru.
Ranti
melepaskannya.
Kotak itu
berpindah ke tangan kru.
Ia tidak pernah
melihat isinya.
Bram keluar
dengan keyakinan bahwa ia sudah meninggalkan kemungkinan untuk dihubungi.
Ranti berdiri
di sana mengetahui kemungkinan itu baru saja dibawa pergi.
Dan orang yang
menunggunya tidak tahu bahwa ia tak pernah menerimanya.
EPILOG — Empat Bulan Kemudian
Acara itu selesai dengan lima peserta
menerima bagian dana akhir.
Anggi pulang
dengan uang, skor final yang tidak pernah ia bayangkan akan membuatnya bangga,
dan satu cerita yang awalnya terasa memalukan tetapi perlahan berubah menjadi
sesuatu yang bisa ia tertawakan. Ketika episode penolakannya tayang empat bulan
kemudian, komentar orang asing datang dalam jumlah yang terlalu banyak.
Sebagian membuatnya ingin menutup aplikasi. Sebagian lain justru berasal dari
orang-orang yang pernah berada di posisi sama.
Ia berhenti
membaca semuanya pada hari ketiga.
Gilang pulang
sebagai salah satu peserta dengan skor tertinggi tanpa Sweet Exit.
Teman-temannya—setelah akhirnya tahu ia ikut acara apa—tidak membiarkan
peringkat kompatibilitasnya dengan Tika dilupakan. Gilang menanggapinya dengan
membuat lelucon yang lebih buruk daripada komentar publik, lalu lanjut hidup
seperti biasa.
Laras dan Reno
menghadapi bagian yang jauh lebih sulit setelah keluar: kenyataan.
Mereka akhirnya
tahu nama asli, pekerjaan, kebiasaan, keluarga, dan jarak tempuh yang tidak
pernah masuk dalam analisis produksi. Mereka sempat berdebat soal hal-hal yang
sama sekali tidak romantis. Waktu. Jadwal. Cara mengatur uang. Pertanyaan
keluarga besar yang datang terlalu cepat.
Tetapi empat
bulan kemudian, ketika episode Sweet Exit mereka tayang, mereka menontonnya di
dua tempat berbeda sambil tetap saling mengirim pesan.
Hubungan itu
tidak menjadi sempurna hanya karena mereka memilih sebelum data keluar.
Mereka hanya
masih memilih untuk melanjutkan.
Damar dan Tika
juga menemukan bahwa kompatibilitas 63 persen ternyata tidak punya kekuatan
magis untuk menentukan siapa yang paling sering memulai percakapan atau siapa
yang lebih dulu minta maaf setelah salah paham.
Tika menyimpan
tangkapan layar peringkat mereka dan menjadikannya bahan ejekan setiap kali
Damar terlalu yakin pada satu angka.
Damar tetap
menyukai data.
Ia hanya
berhenti menggunakannya sebagai alasan untuk menunda hal yang sudah ia tahu.
Wulan dan Arif
tidak berubah menjadi pasangan setelah acara. Ketika akhirnya produksi
mengizinkan peserta tertentu saling berhubungan, mereka bertukar pesan seperti
dua orang yang memang pernah tinggal bersama dalam situasi aneh dan keluar
dengan rasa sayang yang bentuknya tidak perlu diperbaiki.
Arif sempat
membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar nyaman dengan itu.
Wulan
memberinya waktu.
Ranti
menggunakan uang bagiannya untuk hal-hal yang tidak pernah masuk cuplikan
acara: melunasi kewajiban, menutup beberapa lubang, mengembalikan sedikit rasa
tenang pada rekening yang berbulan-bulan membuatnya takut membuka aplikasi.
Bram tidak
menerima apa pun dari dana akhir.
Setelah keluar
dari produksi, ia kembali ke hidup yang sama seperti sebelum datang. Stabil.
Teratur. Sepi.
Ia tidak punya
kontak Ranti.
Ia juga tidak
mencoba melanggar aturan lebih jauh dengan mencari berdasarkan petunjuk yang
mungkin ia ingat. Sejak awal ia tidak pernah meminta Ranti menghubunginya. Ia
hanya meninggalkan kemungkinan.
Minggu pertama
berlalu tanpa telepon.
Lalu minggu
kedua.
Bram mulai
menganggap Ranti memilih tidak menghubungi.
Itu
menyakitkan, tetapi masuk akal. Ranti mungkin berubah pikiran. Mungkin setelah
acara selesai ia melihat hubungan mereka sebagai sesuatu yang hanya bekerja di
dalam lingkungan tertutup. Mungkin ia tidak ingin membuka masalah baru setelah
baru saja menata hidup.
Bram tidak
marah.
Ia hanya
berhenti menunggu dengan sengaja.
Empat bulan
setelah syuting, acara mulai tayang.
Episode demi
episode mengubah peserta menjadi bahan percakapan publik. Potongan humor Gilang
menyebar. Peringkat kompatibilitas Wulan dan Arif diperdebatkan orang asing.
Penolakan Anggi pada akhirnya justru membuat banyak penonton menyukainya. Tika
dan Damar punya penggemar yang menganggap angka 63 persen sebagai lelucon
bersama.
Bram menonton
seperlunya.
Ia tidak
menyukai melihat dirinya sendiri di layar.
Tetapi ia tetap
mengikuti sampai episode terakhir.
Malam itu
apartemennya sunyi. Bram duduk sendiri, televisi menyala, ponselnya tergeletak
di meja.
Adegan evaluasi
final mulai diputar.
Ia melihat
dirinya masuk confession room. Produksi tidak menampilkan seluruh pengakuan,
hanya bagian penting: Bram menjelaskan bahwa ia menyerahkan kotak tertutup yang
berisi informasi untuk menghubunginya, dan bahwa menurut tafsirnya larangan
belum dilanggar selama Ranti tidak membuka kotak tersebut sampai acara selesai.
Lalu tayangan
berpindah ke ruangan utama.
Bram melihat
Ranti duduk menunggu.
Ia melihat
pengumuman eliminasi.
Ia melihat kru
mendatangi Ranti.
Dan untuk
pertama kalinya, Bram melihat kotak itu diambil dari tangan perempuan tersebut.
Bram menegakkan
badan.
Ia memutar
ulang beberapa detik.
Ranti bertanya
sesuatu kepada kru. Teks terjemahan percakapan muncul di bawah layar.
*Bram tahu barangnya disita?*
Jawaban kru: *Tidak. Bram sudah keluar.*
Bram berhenti
bernapas sesaat.
Empat bulan.
Selama empat
bulan ia mengira Ranti membuka kotak itu dan memilih tidak menelepon.
Ternyata Ranti
tidak pernah mendapat kesempatan.
Episode
berakhir tidak lama kemudian. Media sosial langsung ramai. Ponsel Bram mulai
memunculkan notifikasi dari teman-teman yang baru menonton, sebagian besar
berisi variasi kalimat yang sama: Gila,
ternyata begitu.
Bram tidak
membalas.
Ia menatap
layar televisi yang sudah masuk kredit akhir.
Ponselnya
berdering.
Nomor tidak
dikenal.
Bram melihatnya
beberapa detik.
Lalu
mengangkat.
“Halo?”
Ada jeda
pendek.
“Bram?”
Ia mengenali
suara itu sebelum pikirannya sempat memastikan.
Ranti.
Bram berdiri
tanpa sadar.
“Iya.”
“Aku baru dapat
barang yang waktu itu disita.”
Bram memejamkan
mata.
Ranti
melanjutkan, “Produksi baru balikin setelah proses pascaproduksi selesai dan
episode terakhir tayang. Aku baru buka.”
Empat bulan
salah paham runtuh dalam satu kalimat.
Bram tertawa
kecil, bukan karena lucu, melainkan karena tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan dengan rasa lega yang datang terlambat.
“Jadi kamu
enggak pernah dapat?”
“Enggak.”
“Dan aku
pikir…”
“Aku tahu kamu
pasti mikir aku enggak mau hubungi.”
Bram diam.
Ranti juga.
Di luar
percakapan mereka, internet sibuk memutuskan siapa yang paling cocok dengan
siapa, siapa yang seharusnya memilih apa, dan apakah analisis produksi terbukti
benar.
Bram tidak
membaca satu pun.
“Apa kabar?”
tanyanya akhirnya.
Ranti tertawa
pelan di seberang.
“Panjang.”
“Waktuku ada.”
Telepon itu
berlanjut.
Tidak ada
kamera. Tidak ada skor. Tidak ada dana bersama yang harus dihitung. Tidak ada
aturan yang bisa dibaca untuk menemukan jawaban.
Hanya dua orang
yang akhirnya mendapat kesempatan bicara setelah kemungkinan mereka sempat
tertahan empat bulan.
Apa yang
terjadi setelahnya belum ditentukan oleh siapa pun.
Dan untuk
sekali ini, Bram merasa itu cukup.