Selasa, 29 September 2026

Rekam Ulang - Bukan Lagi Penonton


 

Rekam Ulang - Bukan Lagi Penonton

---

Arvin memiliki sebuah buku tulis bersampul kulit imitasi yang ia sembunyikan di bawah kasur. Di sampulnya, tertulis dengan spidol hitam tebal: Arsip Tragedi Verbal Arvin (Volume 14).

Buku itu bukan diari. Itu adalah naskah dari seorang sutradara yang gagal mengarahkan filmnya sendiri. Di dalamnya, Arvin menuliskan semua dialog brilian, jawaban menohok, dan rayuan maut yang seharusnya ia ucapkan di dunia nyata, namun hanya berujung pada kebisuan yang memalukan.

Contohnya, entri hari ini. Pukul 19.30, di minimarket depan kosan. Kasir minimarket yang manis bertanya, "Mau sekalian pulsa atau rotinya, Mas? Lagi promo."
Seharusnya, Arvin menjawab dengan senyum santai, "Boleh, Mbak. Sama sekalian nomor WA-nya kalau lagi promo juga."

Namun, apa yang keluar dari mulut Arvin di dunia nyata hanyalah suara mirip lumba-lumba tersedak, "Ngggh, e-enggak, eh, plastik, eh, uang pas." Ia lalu berlari keluar membawa sebungkus mi instan tanpa kantong plastik, meninggalkan kembalian dua ribu peraknya, dan menabrak pintu kaca minimarket hingga dahinya memerah.

Arvin menghela napas panjang, menutup buku catatannya, dan melemparnya ke sudut kasur yang berantakan. Di usianya yang menginjak dua puluh enam tahun, Arvin secara resmi telah mendaftarkan dirinya sebagai NPC (Non-Playable Character) di dunia nyata. Ia adalah karakter figuran di latar belakang yang hanya menunduk saat karakter utama lewat. Ia tidak terlihat, tidak terdengar, dan sangat, sangat kesepian.

Ruang kosannya yang sempit dan berbau campuran debu dan obat nyamuk bakar itu terasa semakin mencekik malam ini. Arvin menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap. Rambutnya berantakan, kantung matanya menghitam, dan bahunya selalu melengkung ke dalam, seolah ia sedang mencoba melipat dirinya sendiri agar muat dimasukkan ke dalam kardus.

Mata Arvin beralih ke sebuah bingkai foto kayu kecil di atas mejanya. Di dalam foto itu, seorang wanita paruh baya tersenyum lebar, merangkul seorang remaja laki-laki kikuk yang menatap kamera dengan wajah cemberut. Itu adalah Ibu. Dan remaja bodoh yang bahkan tidak bisa membalas pelukan ibunya saat difoto itu adalah Arvin sepuluh tahun yang lalu.

Tenggorokan Arvin terasa tercekat. Sepuluh tahun berlalu sejak Ibu meninggal karena komplikasi jantung, dan selama satu dekade itu pula Arvin merasa hidupnya berhenti berdetak bersamanya. Penyesalan terbesarnya bukanlah karena ia gagal menjadi orang sukses atau gagal punya pacar. Penyesalan terbesarnya adalah kenyataan bahwa sampai napas terakhir Ibunya, Arvin terlalu pengecut dan tertutup untuk sekadar mengatakan, "Arvin sayang Ibu. Terima kasih." Ia terlalu sibuk mengunci diri di kamar, menghindari interaksi sosial, hingga akhirnya tidak ada lagi interaksi yang tersisa untuk dihindari.

"Aku capek cuma jadi penonton, Bu," bisik Arvin ke udara kosong. Suaranya serak. "Kalau aja aku bisa ngomong... kalau aja aku bisa ulang semuanya."

Layar laptopnya mendadak menyala terang, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Arvin terlonjak dari kursinya. Ia mengusap wajahnya kasar, menyadari bahwa ia baru saja bersikap terlalu melodramatis untuk ukuran seorang pria dewasa yang makan malam dengan mi instan rasa soto.

Ia meraih mouse dan bersiap mematikan laptopnya ketika sebuah notifikasi email muncul di sudut kanan bawah layar. Bukannya masuk ke folder Spam bersama rentetan penipuan undian dan iklan obat kuat, email ini masuk ke kotak masuk utamanya.

Pengirimnya bernama rekammasa.ai.
Subjeknya sangat tidak sopan: Udah Capek Jadi Figuran?

Arvin mengerutkan dahi. Ia mungkin penakut, tapi ia bukan orang gaptek yang gampang kena phishing. Namun, ada sesuatu yang membuat jarinya gatal. Ia mengklik email tersebut. Tidak ada logo perusahaan, tidak ada basa-basi. Hanya latar belakang hitam dengan teks putih sederhana yang berbunyi:

Kita tahu isi buku di bawah kasurmu, Arvin. Daripada menulis naskah yang tidak pernah dipentaskan, bagaimana kalau kami memberimu panggungnya kembali? Jika kamu bisa kembali, apa satu hal yang ingin kamu ubah?

Di bawah teks itu, ada sebuah kotak kosong dan sebuah tombol bertuliskan: [REKAM ULANG]

Jantung Arvin berdebar kencang. Ini pasti ulah orang iseng, batinnya panik. Atau hacker. Atau... admin minimarket yang tadi dendam karena pintu kacanya kutabrak?

Tapi rasa sepi dan putus asa kadang membuat manusia melakukan hal-hal konyol. Dengan tangan gemetar, Arvin mendekatkan jemarinya ke keyboard. Ia tidak tahu apa yang merasukinya. Mungkin ini hanya website generator psikologi murahan, tapi ia butuh pelampiasan.

Ia mengetik di kotak kosong itu:
Aku ingin menyelamatkan Ibuku. Dan aku ingin bicara tanpa terdengar seperti lumba-lumba tersedak.

Tanpa berpikir panjang, Arvin mengklik tombol [REKAM ULANG].

Tepat pada detik itu, kipas pendingin laptop Arvin mengaum liar, suaranya mirip mesin jet pesawat yang mau lepas landas. Layar laptopnya tidak menampilkan pesan "Terima Kasih", melainkan mulai berkedip-kedip cepat antara warna merah, biru, dan hijau.

"Waduh, waduh! Virus! Ransomware!" Arvin panik, tangannya memukul-mukul keyboard, mencoba menekan CTRL+ALT+DEL secara brutal.

Namun keanehan tidak berhenti di layar laptop. Cangkir kopi di meja Arvin perlahan terangkat ke udara. Mi instan di dalam mangkuk plastiknya melayang, kuahnya membentuk bola-bola air kecil tanpa gravitasi. Arvin menahan napas. Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya mendadak seringan kapas. Ia mengambang beberapa sentimeter dari lantai.

Sebuah pop-up raksasa muncul di layar laptopnya yang kini bercahaya sangat menyilaukan hingga menerangi seluruh ruangan:

PERMINTAAN DITERIMA. PROSES REKAM MASA DIMULAI. (P.S. Tolong tutup matanya, kami tidak bertanggung jawab atas mual dan muntah selama perjalanan).

"Perjalanan apa?!" teriak Arvin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berteriak lantang tanpa memedulikan tetangga kosannya.

Lampu kamarnya meledak. Suara dengungan berfrekuensi tinggi menusuk gendang telinganya. Ruang kosannya tampak mendistorsi; dindingnya memanjang dan melengkung seperti lukisan cat air yang disiram air mendidih. Sebuah gaya tarik yang luar biasa kuat menarik pusar Arvin, menyeretnya ke arah layar laptopnya yang kini berubah menjadi pusaran cahaya putih yang membutakan.

Aku mati! pikir Arvin histeris sambil memejamkan mata rapat-rapat. Aku mati sebagai NPC berumur 26 tahun yang riwayat pencariannya di Google dipenuhi cara membalas sapaan kasir! Ini akhir yang sangat menyedihkan! Ibu, maafkan Arvin menyusul dengan cara tolol begini!

Tubuhnya tersedot masuk ke dalam cahaya itu. Ada sensasi jatuh bebas dari lantai seratus tanpa parasut, perutnya mual luar biasa, dan kepalanya terasa seperti diputar di dalam mesin cuci dengan kecepatan maksimal. Gelap. Semua menjadi gelap gulita, sunyi, dan hampa.

Lalu, terdengar suara gebrakan keras.

BRAAAK!

"ARVIN! Kamu ini sekolah niatnya mau belajar atau mau simulasi mati suri?!"

Arvin tersentak bangun, mengambil napas dalam-dalam seperti orang yang baru tenggelam. Matanya melotot. Hal pertama yang ia rasakan adalah ngilu di pipi kanannya, yang ternyata baru saja menempel di atas meja kayu penuh coretan tipe-x. Hal kedua yang ia sadari adalah bau ruangan ini: campuran aroma pembersih lantai pinus yang murah dan bau keringat remaja bercampur deodoran maskulin yang disemprotkan berlebihan.

Ia tidak berada di alam baka. Ia tidak berada di hadapan malaikat penjaga gerbang.

Arvin berkedip dengan bodoh, pandangannya masih buram. Berdiri menjulang di depannya adalah Pak Jono, guru Sejarah yang terkenal dengan kumis tebalnya yang sering bergetar jika sedang marah. Dan saat ini, kumis itu sedang bergetar hebat.

Seisi ruangan tertawa tertahan. Arvin menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Papan tulis kapur di depan kelas. Poster pahlawan nasional yang menguning. Dan... anak-anak berseragam putih abu-abu yang menatapnya dengan tatapan merendahkan namun geli.

Arvin melihat ke bawah, ke tubuhnya sendiri. Kemeja putih yang sedikit kebesaran dengan bet OSIS di saku kiri. Tangannya tidak lagi kasar dan kapalan. Tubuhnya terasa lebih kecil, lebih ringan.

Dengan tangan gemetar, Arvin merogoh saku celana abu-abunya. Bukannya ponsel pintar berlayar retak yang biasa ia pegang, jari-jarinya menarik keluar sebuah ponsel keypad lipat berwarna perak. Ia menekan tombol tengah ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan wallpaper animasi naga yang sangat alay.

Namun, bukan naga itu yang membuat napas Arvin seakan berhenti. Matanya terkunci pada deretan angka digital di sudut kanan atas layar ponsel tersebut.

Senin, 11 Maret 2013

Arvin menelan ludah. Jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging. Ia tidak mati. Email gila itu tidak membunuhnya. Ia terlempar kembali melintasi waktu, sejauh sepuluh tahun ke masa lalu.

Tepat enam bulan sebelum hari di mana ibunya meninggal dunia.

----

"Arvin?! Malah melamun menatap HP! Kamu mau saya sita HP lipatmu itu?!" bentak Pak Jono, suaranya menggelegar memantul di dinding kelas.

Seisi ruangan kembali tertawa. Di meja depan, Dimas, kapten tim basket sekolah yang di masa depan akan berjualan asuransi dan sering spam chat ke Arvin, menoleh ke belakang sambil menyeringai mengejek.

Otak Arvin yang berusia dua puluh enam tahun bekerja dengan kecepatan prosesor komputer Pentium 4. Jika ini adalah masa lalunya, Arvin remaja pasti akan menunduk dalam-dalam, menggumamkan kata maaf yang tidak jelas, dan membiarkan telinganya memerah menahan malu sampai jam pelajaran berakhir. Namun, Arvin yang sekarang memiliki memori satu dekade penderitaan batin. Ia tidak punya waktu untuk malu. Ia punya ibu yang harus diselamatkan.

"Maaf, Pak Jono," Arvin tiba-tiba berdiri tegak. Suaranya sedikit serak karena pita suaranya belum terbiasa digunakan dengan volume normal. "Saya baru saja mengalami pencerahan spiritual yang luar biasa mengenai betapa singkatnya kehidupan fana ini. Saya mohon izin ke toilet untuk mencuci muka dan merenungi dosa-dosa saya."

Hening.

Tawa di kelas terhenti seketika. Kumis Pak Jono berhenti bergetar, tergantikan oleh mulut yang sedikit menganga. Seumur hidupnya mengajar sejarah, belum pernah ada murid, apalagi murid paling pendiam seperti Arvin, yang membalas tegurannya dengan kalimat setara khotbah Jumat.

"Eee... ya. Ya sudah, sana. Cuci muka yang bersih," jawab Pak Jono kikuk, kehilangan momentum marahnya.

Tanpa menunggu persetujuan kedua, Arvin melangkah keluar kelas dengan langkah lebar. Ia setengah berlari menyusuri koridor sekolah menengah atasnya yang sudah lama ia lupakan. Bau khas sekolah—campuran dari bau debu kapur, jajanan kantin, dan pel lantai murahan—menyerbu indra penciumannya, membawa gelombang nostalgia yang membuat kepalanya pusing.

Ia menerobos masuk ke toilet pria dan langsung mencengkeram tepi wastafel. Arvin menatap cermin di hadapannya dan menahan pekikan ngeri.

Menatap balik ke arahnya adalah seorang remaja laki-laki kurus kering dengan postur membungkuk. Namun yang paling parah adalah gaya rambutnya: poni lempar super panjang yang menutupi satu matanya, persis seperti vokalis band emo tahun 2000-an yang kurang gizi.

"Astaga, aku lupa betapa memalukannya masa remajaku," gumam Arvin sambil menyibakkan poninya ke belakang, memperlihatkan beberapa jerawat pubertas di dahinya.

Ia memercikkan air dingin ke wajahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Dinginnya air terasa nyata. Sakit di dahinya akibat menabrak pintu minimarket di tahun 2023 sudah hilang, digantikan oleh rasa perih di ujung bibirnya akibat sariawan remaja. Ini nyata. Rekammasa.ai benar-benar mengirimnya mundur satu dekade.

Arvin membuka ritsleting tas punggungnya yang lusuh dengan tangan gemetar. Ia mencari-cari sesuatu, apa saja, yang bisa memberikan petunjuk. Di antara buku LKS Geografi dan bungkus permen karet yang sudah mengeras, jari-jarinya menyentuh sebuah benda bersampul kulit imitasi.

Itu adalah Arsip Tragedi Verbal Arvin. Tapi tunggu, ada yang berbeda.

Buku yang seharusnya kumal itu tampak baru. Di sampulnya tidak lagi tertulis judul aslinya, melainkan cetakan perak mengkilap: LOG SISTEM REKAM MASA - HOST: ARVIN.

Arvin membuka halaman pertamanya. Tidak ada tulisan tangannya di sana. Sebagai gantinya, tinta hitam muncul dengan sendirinya di atas kertas, seolah ada pena tak kasatmata yang sedang menuliskannya secara real-time:

*Selamat datang di tahun 2013, Penonton. *
Sistem telah mengunduh kesadaran Anda ke dalam body orisinal versi beta (berhubung versi 2023 Anda juga tidak lebih baik).
Misi Utama: Selamatkan nyawa Ibu Rina (Estimasi waktu kegagalan organ: 6 Bulan, 14 Hari).
Misi Sampingan: Belajarlah bicara seperti manusia normal. Setiap kali Anda memendam kata-kata penting, Anda akan menerima sengatan statis kecil. Jangan jadi pengecut.
Semoga berhasil.

Tepat ketika Arvin selesai membaca kalimat terakhir, bel pergantian jam pelajaran berbunyi nyaring. Arvin menutup buku itu kuat-kuat, menjejalkannya kembali ke dalam tas, dan berlari keluar toilet. Ia tidak peduli dengan tas sekolahnya, tidak peduli dengan jam pelajaran selanjutnya, dan sangat tidak peduli dengan tatapan heran guru BP yang melihatnya melesat melewati gerbang sekolah seperti orang kesurupan.

Arvin berlari menyusuri jalanan aspal yang panas. Ia melewati deretan warung internet yang masih penuh sesak oleh anak-anak berseragam membolos, melihat spanduk iklan provider telepon seluler yang mempromosikan gratis SMS sepuasnya, dan mendengar lagu boyband lokal mengalun dari sebuah radio di warung tegal. Dunia ini bergerak mundur, tapi bagi Arvin, ini adalah satu-satunya jalan maju.

Napasnya memburu saat ia berbelok ke sebuah gang sempit, gang menuju rumahnya. Sebuah rumah mungil dengan cat hijau telur asin yang mulai mengelupas, dengan pot-pot tanaman hias murahan berjejer rapi di terasnya.

Jantung Arvin serasa mau copot. Ia berhenti di depan pagar kayu yang reyot. Kakinya tiba-tiba terasa seperti disemen ke tanah. Bagaimana jika ini ilusi? Bagaimana jika ia masuk ke dalam dan rumah itu kosong seperti sepuluh tahun terakhir hidupnya?

Tiba-tiba, suara denting spatula yang beradu dengan wajan terdengar dari arah dapur. Disusul oleh bau harum bawang putih yang ditumis dan aroma ikan asin yang digoreng.

Tangan Arvin gemetar saat ia memutar kenop pintu depan yang tidak pernah dikunci jika siang hari. Pintu berderit terbuka.

"Arvin? Kok udah pulang? Kamu bolos lagi ya, dihukum suruh pulang?" suara itu mengalun dari arah dapur.

Suara yang selama sepuluh tahun hanya bisa Arvin dengar lewat rekaman kaset usang dan di dalam mimpi-mimpinya yang paling menyakitkan.

Seorang wanita dengan celemek bermotif bunga-bunga kuning keluar dari dapur, memegang sebuah sudip kayu. Wajahnya belum memiliki kerutan sedalam yang Arvin ingat di ranjang rumah sakit. Matanya bersinar hidup, rambutnya diikat asal-asalan, dan ia tampak begitu... sehat.

"Ibu..." suara Arvin pecah pada silabel pertama.

Ibu mengerutkan dahi, meletakkan sudipnya di atas meja makan. "Kamu kenapa? Mukamu pucat begitu. Berantem? Atau disetrap Pak Jono lagi gara-gara ketahuan tidur di kelas?" Omelan khas ibu-ibu Asia itu mengalir deras, natural, dan hangat.

Sesuatu di dalam dada Arvin yang selama ini beku dan mati, perlahan-lahan retak dan mencair. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arvin membuang tas punggungnya ke lantai dan menghambur ke depan. Ia memeluk ibunya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di bahu wanita itu. Pertahanannya hancur lebur. Arvin menangis tersedu-sedu, bahunya berguncang hebat, suaranya meraung seperti anak kecil yang kehilangan arah dan baru saja menemukan jalan pulang.

"Astaghfirullah, Arvin! Kamu kenapa, Nak?!" Ibu panik setengah mati. Ia menepuk-nepuk punggung Arvin dengan kaku, bingung dengan perubahan drastis anak remajanya yang biasanya menghindari kontak fisik seperti menghindari penyakit menular.

"I-Ibu... maafin Arvin... Arvin sayang Ibu..." racau Arvin di sela isakannya, meremas celemek ibunya seolah wanita itu akan menghilang menjadi debu jika ia melepaskannya.

Ibu diam sejenak, mengelus rambut poni lempar Arvin dengan lembut namun penuh kecurigaan. "Iya, iya, Ibu juga sayang kamu." Ia berdeham pelan. "Jujur sama Ibu, Vin. Kamu ngerusakin motor siapa sampai nangis begini? Atau kamu mau minta beliin handphone baru? Bilang aja, jangan pakai drama peluk-peluk segala, bikin Ibu jantungan."

Arvin tertawa di tengah tangisannya, sebuah tawa serak yang melegakan. Ia menggeleng keras, masih memeluk ibunya erat-erat. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Arvin merasa hidup. Ia tidak peduli jika ia harus melawan takdir, penyakit mematikan, atau bahkan sistem rekammasa.ai yang absurd. Kali ini, ia tidak akan menjadi penonton. Ia akan menulis ulang naskahnya, dan ia akan memastikan akhir cerita ini bahagia.

----

Arvin menghabiskan tiga piring nasi siang itu, ditambah dua potong ikan asin dan semangkuk penuh sayur asem.

Ibu duduk di seberang meja makan, menopang dagu sambil menatap anak semata wayangnya dengan raut wajah antara takjub dan ngeri. "Kamu beneran nggak kesurupan penunggu pohon beringin depan sekolah, kan, Vin? Tumben makannya rakus. Biasanya kalau disuruh makan sayur aja susahnya minta ampun, harus diancam uang jajannya dipotong dulu."

Arvin menelan suapan terakhirnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin mengatakan betapa ia merindukan masakan ini. Ia ingin bilang bahwa selama sepuluh tahun ke depan, ia hanya bertahan hidup dengan mi instan, frozen food, dan rasa sepi yang menggerogoti lambungnya. Namun, kebiasaan lama sebagai remaja tertutup yang edgy mendadak mengambil alih pita suaranya.

"Ya... kebetulan aja lagi laper. Biasa aja rasanya," gumam Arvin, memalingkan wajah ke arah TV tabung di sudut ruangan yang sedang menyiarkan sinetron laga.

BZZZTT!

Sengatan listrik statis yang tajam tiba-tiba menyengat pangkal leher Arvin. Rasanya seperti dicubit oleh capit kepiting tak kasatmata yang dialiri baterai aki.

"ADUH!" Arvin terlonjak dari kursi plastiknya hingga nyaris terjengkang. Ia mengusap lehernya dengan panik.

"Kenapa kamu? Digigit semut?" Ibu ikut terkejut.

Otak Arvin langsung teringat pada pesan di buku Log Sistem Rekam Masa yang ia tinggalkan di tas sekolah. Misi Sampingan: Belajarlah bicara seperti manusia normal. Jangan jadi pengecut. Setiap kali Anda memendam kata-kata penting, Anda akan menerima sengatan statis kecil.

Sistem itu tidak main-main. Ia benar-benar diawasi.

Arvin menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Ibunya, dan memaksa mulutnya melawan insting remajanya yang canggung. "M-maksud Arvin... masakan Ibu enak banget. Sayur asemnya pas, ikan asinnya krispi. Ini makanan paling enak yang pernah Arvin makan seumur hidup. Terima kasih udah masakin buat Arvin, Bu."

Keheningan yang canggung turun menyelimuti dapur mungil itu. Mata Ibu melebar, seolah Arvin baru saja berpidato menggunakan bahasa Klingon. Namun perlahan, semburat merah muncul di pipi wanita paruh baya itu, diikuti oleh senyum tipis yang berusaha ia sembunyikan.

"Dasar anak aneh. Tiba-tiba puitis," gerutu Ibu salah tingkah sambil mulai membereskan piring-piring kotor. "Sana ganti baju, bau keringat."

Arvin tersenyum lebar. Tidak ada sengatan listrik. Rasanya... melegakan. Mengatakan apa yang benar-benar ada di kepalanya ternyata tidak membuat bumi berhenti berputar atau langit runtuh.

Ia berjalan masuk ke kamarnya yang sempit. Poster band rock menempel di dinding, komputer desktop putih yang menguning bertengger di meja, dan tumpukan komik berserakan di kasur. Arvin duduk di tepi ranjang, merenungkan langkah selanjutnya.

Enam bulan, empat belas hari.

Tenggat waktu itu terus terngiang di kepalanya. Di masa lalu—atau masa depan?—ibunya tiba-tiba pingsan di dapur dan dinyatakan meninggal karena gagal jantung kronis yang tak pernah terdeteksi. Wanita itu selalu menyembunyikan rasa sakitnya, selalu mengelak jika diajak ke dokter dengan alasan masuk angin biasa, dan selalu beralasan tidak ingin membebani keuangan keluarga. Apalagi saat ini, di tahun 2013, sistem asuransi kesehatan nasional belum sepenuhnya merata dan mudah diakses.

Arvin butuh dua hal: Uang yang banyak, dan sebuah alasan agar Ibunya mau diperiksa menyeluruh ke rumah sakit secara sukarela tanpa curiga.

Tiba-tiba, suara ketukan keras dari pagar depan memecah konsentrasinya.

"Assalamualaikum! Permisi! Ada orang?!" Suara melengking seorang gadis terdengar dari luar.

Arvin keluar dari kamar dan melihat Ibunya sudah membukakan pintu depan. Di teras, berdiri seorang gadis SMA dengan seragam putih abu-abu yang disetrika sangat rapi, sepatu hitam mengkilap, dan kacamata tebal yang membingkai wajah bulatnya. Di tangannya, ia menenteng tas punggung lusuh milik Arvin.

Itu adalah Rara. Ketua kelas XI-IPS 2 yang terkenal galak, kaku, dan taat aturan layaknya robot departemen pendidikan. Di masa lalu, Arvin diam-diam menyukai Rara, namun ia tidak pernah berani mengucapkan satu patah kata pun kepadanya hingga mereka lulus.

"Eh, Rara," sapa Ibu ramah. "Masuk, Nduk. Ini tasnya Arvin kok bisa di kamu?"

Rara menatap Arvin yang baru muncul dari ambang pintu dengan tatapan menghakimi yang sanggup membuat logam meleleh.

"Siang, Tante," Rara menyalimi tangan Ibu dengan sopan, sebelum kembali menatap Arvin seperti menatap kecoa. "Saya cuma mau mengantarkan tas Arvin yang ditinggal kabur begitu saja di tengah jam pelajaran Pak Jono. Dan sebagai ketua kelas, saya ditugaskan menyampaikan pesan dari guru BP."

Rara berdeham, meniru nada suara guru bimbingan konseling mereka yang galak. "Arvin, besok pagi jam delapan tepat, kamu wajib membawa orang tua menghadap ke ruang BP. Kalau tidak, kamu akan diskors tiga hari karena tindakan kabur tanpa alasan yang logis."

Ibu menoleh ke arah Arvin, matanya menyipit berbahaya. Auranya mendadak berubah dari ibu peri yang pandai memasak menjadi monster penghancur kota. "Arvin... kamu kabur dari sekolah? Buat apa?!"

Di kehidupan sebelumnya, Arvin remaja pasti sudah menunduk, gemetar, dan mungkin mengunci diri di kamar sampai besok pagi karena takut dimarahi Ibunya dan dihakimi oleh Rara.

Namun Arvin yang sekarang, yang otaknya berisi kebijaksanaan pria dewasa berumur dua puluh enam tahun, justru melihat Rara seolah gadis itu adalah malaikat pembawa solusi yang turun dari langit.

Sebuah senyum miring terbentuk di wajah Arvin.

"Bagus," ucap Arvin santai, mengambil tasnya dari tangan Rara yang kini mematung kebingungan melihat reaksi Arvin yang tidak sesuai ekspektasi. "Makasih, Ra. Lo udah nolong gue banget."

"Nolong apa? Lo besok mau disidang, Arvin!" protes Rara, keningnya berkerut rapat.

"Iya, aku tahu," Arvin menoleh ke arah ibunya yang masih berkacak pinggang siap meledak. "Nah, Bu. Mumpung besok pagi Ibu harus ke sekolah buat nyidang Arvin di ruang BP, sekalian habis dari sana kita mampir ke rumah sakit kota, ya?"

"Rumah sakit? Buat apa?!" sergah Ibu makin bingung.

"Arvin mau cek kesehatan. Tadi... dada Arvin agak sesak waktu lari dari sekolah. Kayaknya jantung Arvin ada masalah keturunan deh. Ibu besok temenin, sekalian Ibu juga ikutan medical check-up, ya? Syarat dari BP-nya begitu."

Rara melotot, mulutnya sedikit terbuka. "Hah? Syarat dari BP mana yang mengharuskan—"

Sebelum Rara sempat membongkar kebohongannya, Arvin dengan cepat melangkah maju, memegang bahu Rara, dan memutar tubuh gadis itu menghadap ke pagar dengan gerakan luwes yang membuat Rara memekik kaget.

"Makasih banyak ya, Rara. Pesannya udah sampai. Hati-hati di jalan, ketua kelas terbaik! Besok gue traktir batagor di kantin!" Arvin mendorong Rara keluar pagar dan menutupnya dengan cepat, meninggalkan gadis itu berdiri kebingungan di pinggir jalan.

Arvin berbalik, tersenyum polos ke arah ibunya. Langkah pertama dari rencana besarnya telah dimulai, dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa sangat bersemangat menantikan hari esok.

---

Ibu menatap Arvin dengan raut wajah yang sulit diartikan. Separuh marah karena dibohongi di depan teman sekolah, separuh lagi panik setengah mati mendengar kata 'sesak napas' dan 'jantung'.

"Kamu jangan sembarangan kalau ngomong, Vin! Jantung apanya yang sakit?" Ibu maju selangkah, menempelkan punggung tangannya ke dahi Arvin, seolah mengecek demam bisa mendeteksi penyakit kardiologi.

Arvin tahu ia sedang bermain api. Di satu sisi, ia benci membohongi ibunya. Namun, di sisi lain, ini adalah satu-satunya skenario tercepat untuk menyeret wanita keras kepala ini ke rumah sakit.

"Beneran, Bu. Agak nyeri di dada kiri tadi," Arvin memasang wajah memelas terbaiknya. Ia hampir menambahkan kebohongan lain bahwa ia sampai pingsan di jalan, namun...

BZZZTT!

Sengatan statis kembali menyengat tengkuknya. Arvin meringis, mengusap lehernya cepat-cepat. Sistem sialan. Rupanya ia tidak boleh terlalu banyak berbohong soal perasaannya, atau memanipulasi keadaan tanpa ketulusan.

Arvin menghela napas, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat serius, tatapan seorang pria dewasa yang takut kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. "Arvin jujur... Arvin cuma pengen kita berdua sehat, Bu. Arvin mau Ibu temenin Arvin periksa, dan Arvin mohon banget, Ibu juga harus ikut diperiksa. Tolong turuti Arvin kali ini aja, ya?"

Mata Ibu berkedip cepat. Omelan yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja melihat kesungguhan di mata anaknya. Arvin yang biasanya acuh tak acuh, yang kalau diajak bicara hanya menjawab dengan gumaman seadanya, kini memohon padanya dengan kalimat yang begitu tertata.

"Ya... ya sudah," Ibu menghela napas panjang, merapikan celemeknya yang mendadak terasa kusut. "Besok habis dari BP, kita ke RSUD. Tapi awas ya, kalau ternyata kamu cuma masuk angin gara-gara sering tiduran di lantai, Ibu potong uang jajanmu sebulan!"

Arvin tersenyum lega. "Siap, Bos."

Malam harinya, Arvin duduk bersila di atas kasurnya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan pendar redup dari layar ponsel lipatnya. Di pangkuannya, Log Sistem Rekam Masa terbuka lebar.

Tulisan tinta hitam baru muncul secara perlahan di halaman kedua, seolah diketik oleh hantu:

Taktik manipulasi emosional yang lumayan, Host. Level: Sinetron Azab.
Namun, perlu diingatkan: Biaya pendaftaran dan tes laboratorium di RSUD besok membutuhkan dana.
Estimasi biaya: Rp 450.000.
Total harta kekayaan Anda saat ini di dalam celengan jago: Rp 78.500.
Saran Sistem: Jangan jual ginjal, karena Anda sedang mencoba menyelamatkan jantung.

Arvin memijat pelipisnya. Benar juga. Di tahun 2013, sistem jaminan kesehatan belum sepraktis sekarang, dan kalaupun mau memakai jamkesmas, antreannya bisa berminggu-minggu. Ia butuh jalur umum agar ibunya bisa langsung ditangani besok.

Mata Arvin menyapu ke sekeliling kamarnya. Berpikir, berpikir! Di masa depan, ia bekerja serabutan sebagai copywriter lepas, jadi ia terbiasa memutar otak saat kepepet. Pandangannya tertuju pada rak buku reyot di sudut ruangan. Di sana, berjejer rapi koleksi komik Naruto dan One Piece cetakan awal yang kondisinya masih sangat mulus, lengkap dengan beberapa kaset game PS2 original yang ia beli dari hasil menabung berbulan-bulan.

Dulu, benda-benda itu adalah harta karun terbesarnya. Tempatnya melarikan diri dari dunia nyata.

Tanpa ragu sedetik pun, Arvin mengambil ranselnya, memasukkan semua komik dan kaset game itu ke dalam tas hingga penuh sesak.

"Maaf, Naruto. Jalan ninjaku sekarang adalah menyelamatkan ibuku," gumam Arvin dramatis. Besok pagi-pagi buta, sebelum ke sekolah, ia akan mampir ke tempat penyewaan komik milik Bang Toyib di ujung gang dan memborongkan semuanya.

Keesokan harinya, pukul 08.00 WIB.

Ruang Bimbingan Konseling (BP) SMA Negeri 3 terasa lebih dingin dari kutub utara, padahal hanya bermodal kipas angin Cosmos yang berputar pelan di sudut ruangan.

Di balik meja kayu besar, duduk Bu Endang. Guru BP legendaris yang kacamata bacanya selalu bertengger di ujung hidung, membuat tatapannya terlihat seperti elang yang siap menerkam mangsa. Di sebelahnya berdiri Rara, sang ketua kelas, memegang map berisi catatan absen dengan postur tegak sempurna ala Paskibraka.

Di seberang meja, Ibu duduk dengan wajah tegang, meremas tali tas tangannya. Sementara Arvin duduk di samping ibunya, terlihat sangat santai. Terlalu santai, malah.

"Ibu Rina," Bu Endang memulai dengan nada suara berat yang menggema. "Saya panggil Ibu ke sini karena kelakuan anak Ibu kemarin sungguh di luar batas toleransi sekolah. Di tengah jam pelajaran Pak Jono, dia tiba-tiba berpidato tidak jelas, lalu lari keluar sekolah tanpa izin. Ini pelanggaran tata tertib tingkat B, Bu!"

Ibu menunduk, wajahnya memerah menahan malu. "S-saya minta maaf, Bu Endang. Arvin memang akhir-akhir ini—"

"Maaf, interupsi sebentar, Bu Endang," potong Arvin tiba-tiba. Suaranya tenang, bariton, dan penuh percaya diri.

Ketiga wanita di ruangan itu serempak menoleh ke arahnya. Mata Rara nyaris copot dari rongganya melihat keberanian (atau kebodohan) Arvin memotong ucapan sang algojo sekolah.

"Arvin, diam kamu," desis Ibu panik, mencubit paha anaknya.

Namun Arvin tidak bergeming. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke mata Bu Endang. Tubuhnya mungkin anak SMA berusia 16 tahun, tapi mental dan gaya bicaranya adalah pria dewasa 26 tahun yang sudah kebal dimaki-maki klien revisi.

"Saya bertanggung jawab penuh atas insiden kemarin," ucap Arvin artikulatif, tangannya terlipat elegan di atas meja. "Saya mengalami apa yang di dunia profesional disebut sebagai sudden existential krisis akibat burnout akademik yang tidak tertangani. Saya menyadari tindakan saya meninggalkan fasilitas pendidikan tanpa otorisasi adalah sebuah pelanggaran Standard Operating Procedure sekolah ini."

Hening. Kipas angin Cosmos di sudut ruangan terdengar berderit: ngik... ngik... ngik...

Mulut Bu Endang sedikit terbuka. Kacamata bacanya hampir merosot jatuh. Rara menahan napas, menatap Arvin dengan ekspresi campur aduk antara kagum dan menganggap cowok itu sudah gila.

"S-standar... apa?" ulang Bu Endang, blangko.

"Oleh karena itu," lanjut Arvin, mengabaikan kebingungan guru BP-nya, "daripada kita membuang waktu membahas motif saya yang terlalu kompleks, saya menawarkan resolusi. Saya siap menerima sanksi proporsional. Membersihkan toilet sekolah selama tiga hari berturut-turut sepulang sekolah? Saya terima. Tapi saya mohon, jangan libatkan ibu saya. Beliau adalah wanita karier yang sibuk mengurus rumah tangga, dan pagi ini kami memiliki agenda medical check-up yang sangat mendesak demi kelangsungan hidup."

BZZZTT!

Sengatan kecil menyerang tengkuk Arvin. Ia tahu kenapa. Ia terdengar terlalu arogan dan manipulatif. Ia harus memasukkan unsur ketulusan.

Arvin buru-buru menurunkan nada suaranya, menundukkan kepalanya sedikit. "Saya benar-benar minta maaf, Bu Endang. Saya janji ini tidak akan terulang lagi. Saya cuma butuh waktu untuk periksa ke rumah sakit hari ini."

Bu Endang berdeham keras, mencoba mengumpulkan kembali wibawanya yang baru saja dilibas oleh kosakata korporat dari anak ingusan. Ia membenarkan letak kacamatanya.

"Ehem. Ya. B-bagus kalau kamu sadar kesalahanmu, Arvin. Karena kamu proaktif... saya kabulkan penawaranmu. Kamu bersihkan toilet laki-laki di lantai dua selama tiga hari. Dan silakan bawa surat keterangan dokter besok. Ibu Rina, silakan bawa anak ini ke rumah sakit. Sidang selesai!" Bu Endang mengetuk mejanya cepat-cepat, ingin segera mengakhiri interaksi aneh ini.

Arvin berdiri, tersenyum ramah. "Terima kasih atas kebijaksanaannya, Bu. Mari, Bu Rina." Ia menuntun ibunya yang masih shock keluar dari ruangan.

Saat melewati Rara, Arvin mengedipkan sebelah matanya dengan kilat. "Catat jadwal piketku yang rapi ya, Ibu Ketua."

Rara hanya bisa mematung, wajahnya mendadak semerah tomat rebus. Jantungnya berdebar dengan ritme yang aneh. Arvin si pendiam yang biasanya berjalan menunduk menggeret sepatunya... kenapa tiba-tiba terlihat sangat... keren?

Di luar ruangan, Ibu akhirnya bisa bernapas normal. Ia menampar pelan lengan Arvin. "Kamu ini belajar ngomong kayak gitu dari mana sih?! Jantungan Ibu di dalam tadi!"

"Dari internet, Bu," kekeh Arvin santai, menepuk saku celananya yang kini tebal oleh uang hasil penjualan komik tadi pagi. Empat ratus lima puluh ribu rupiah siap digunakan. "Yuk, ke RSUD sekarang. Taksi argometer udah nunggu di depan."

Langkah pertama berhasil. Kini, saatnya menghadapi musuh yang sebenarnya: hasil rekam medis.

-----

Taksi biru berargometer itu membelah kemacetan jalanan kota. Di kursi belakang, Ibu duduk kaku sambil matanya tak lepas mengawasi angka merah di argo yang terus merangkak naik.

"Vin, beneran deh, kita turun di depan gang itu aja, lanjut naik angkot. Argonya udah dua puluh lima ribu! Bisa buat beli beras sekilo setengah!" bisik Ibu panik, menyikut rusuk Arvin.

Arvin hanya tertawa kecil, menepuk punggung tangan ibunya dengan lembut. "Udah, Bu, tenang aja. Arvin habis menang kuis online, makanya ada rezeki lebih buat ke dokter dan naik taksi. Sekali-sekali kita bergaya ala pejabat."

BZZZTT!

Sengatan statis di lehernya membuat Arvin mengaduh pelan. Benar juga, berbohong soal sumber uang (hasil menjual komik) ternyata memicu sensor sistem. Ia cepat-cepat menambahkan, "Maksudnya... Arvin rela ngeluarin uang simpanan Arvin demi Ibu. Nggak peduli harganya."

Sengatan itu berhenti. Ibu menatap Arvin dengan sorot mata yang melembut, meski bibirnya masih mengerucut. "Kamu ini... ya sudah. Tapi awas kalau uang jajanmu habis terus minta Ibu, ya."

Sesampainya di RSUD, suasana khas rumah sakit pemerintah di tahun 2013 langsung menyambut mereka. Antrean pendaftaran manual yang mengular, bau karbol yang menyengat, dan deretan kursi tunggu besi yang dingin. Berkat jalur umum berbayar, Arvin tidak perlu menunggu dari subuh. Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka sudah duduk di hadapan dr. Haris, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang tampak kelelahan.

"Jadi, yang sakit siapa ini? Adiknya?" tanya dr. Haris sambil membetulkan kacamatanya, menatap Arvin.

Arvin mendeham. Ia memulai sandiwaranya. "Saya, Dok. Belakangan ini dada kiri saya sering nyeri. Napas juga rasanya pendek, apalagi kalau habis lari."

Dokter Haris mengangguk, lalu mulai memeriksa Arvin. Stetoskop ditempelkan ke dada, punggung, lalu tekanan darahnya diukur. Setelah lima menit yang menegangkan bagi Ibu, dokter itu tersenyum simpul.

"Tekanan darah normal, 110/70. Detak jantung reguler. Paru-paru bersih. Kamu ini sehat walafiat, Dek. Paling cuma gejala asam lambung naik, atau kecapekan. Kurang-kurangin begadang main game atau stres mikirin ujian ya," jelas dr. Haris santai sambil menulis resep vitamin.

Ibu langsung mencubit paha Arvin keras-keras. "Tuh kan! Ibu bilang juga apa! Kamu tuh cuma masuk angin banyakan tidur di ubin! Bikin Ibu jantungan aja pagi-pagi!"

Arvin meringis kesakitan, tapi rencananya belum selesai. Ini adalah puncaknya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja dokter, mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius.

"Dokter," potong Arvin cepat sebelum ibunya bangkit berdiri. "Terima kasih sudah memeriksa saya. Tapi sebenarnya... saya sengaja pura-pura sakit supaya ibu saya mau datang ke sini."

Ibu melotot. "Arvin! Kamu ngomong apa sih? Malu-maluin!"

"Tolong, Dok," Arvin mengabaikan ibunya, suaranya kini bergetar menahan emosi yang nyata. Tidak ada sengatan statis dari sistem. Ini murni kejujurannya. "Ibu saya sering banget meremas dada kirinya kalau lagi nyuci baju. Beliau sering sesak napas kalau naik tangga, bibirnya kadang pucat, tapi selalu bilang cuma masuk angin dan cuma dikerok. Saya takut, Dok. Saya takut banget kehilangan Ibu. Tolong periksa ibu saya. Saya mohon."

Keheningan menyelimuti ruang periksa. Tangan Ibu yang tadinya siap memukul lengan Arvin kini membeku di udara. Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia tidak menyangka anaknya, yang ia pikir tidak pernah peduli dan selalu mengurung diri, ternyata diam-diam memperhatikan penderitaannya.

Dokter Haris menghentikan gerakan penanya. Ia menatap Ibu Rina yang kini menunduk salah tingkah. Sebagai dokter berpengalaman, instingnya langsung menangkap sinyal bahaya.

"Ibu Rina," suara dr. Haris berubah menjadi lebih tegas namun persuasif. "Apa yang dikatakan anak Ibu benar? Sering nyeri dada menjalar ke punggung atau rahang?"

"Y-ya... kadang-kadang, Dok. Tapi beneran, dikerok juga sembuh. Biasa, penyakit orang tua," Ibu mencoba tertawa hambar, tipikal ibu-ibu yang menolak membebani anaknya.

"Kita tidak bisa main-main dengan gejala seperti itu, Bu," sela dr. Haris. "Mumpung Ibu sudah di sini, dan anak Ibu sudah sejauh ini membawa Ibu... mari kita EKG. Cek rekam jantung sekarang. Suster, tolong siapkan ruang tindakan."

Karena rasa gengsi menolak di depan dokter—dan rasa haru melihat anaknya yang memohon—Ibu akhirnya pasrah digiring oleh suster ke balik tirai hijau.

Arvin duduk di kursi tunggu, meremas jari-jarinya hingga buku-bukunya memutih. Dua puluh menit berikutnya adalah waktu terlama dalam hidup Arvin. Ia seperti sedang disidang menunggu vonis hukuman mati. Jika ia salah perhitungan, jika penyakitnya tidak terdeteksi sekarang...

Tirai hijau akhirnya terbuka. Ibu keluar sambil mengancingkan kembali kemejanya, wajahnya tampak kebingungan. Dokter Haris membawa selembar kertas dengan grafik garis-garis bergelombang yang rumit. Wajah dokter itu tidak lagi santai.

"Ibu Rina, silakan duduk," ucap dr. Haris serius.

Jantung Arvin serasa merosot ke lambung.

"Hasil EKG Ibu menunjukkan adanya iskemia miokard. Suplai darah ke otot jantung Ibu berkurang signifikan. Selain itu, ada indikasi penyumbatan pada pembuluh darah koroner," jelas dr. Haris sambil menunjuk grafik tersebut.

Ibu mematung. Warna di wajahnya pudar seketika. "P-penyumbatan, Dok? Maksudnya... saya sakit jantung?"

"Tepat. Dan dari polanya, ini bukan hal baru. Kalau Ibu biarkan kondisi ini, terus-terusan mengandalkan kerokan dan menyepelekan rasa nyerinya... Ibu berisiko sangat tinggi mengalami serangan jantung fatal dalam waktu dekat. Enam bulan, atau bahkan kurang dari itu," pungkas sang dokter.

Arvin menahan napas. Enam bulan, empat belas hari. Estimasi sistem rekammasa.ai itu 100% akurat.

Air mata akhirnya tumpah dari pelupuk mata Ibu. Tangannya gemetar hebat. Kenyataan bahwa kematian ternyata berdiri begitu dekat di belakangnya menghantam mentalnya keras-keras.

"Tapi kabar baiknya," dr. Haris buru-buru menyambung, memecah ketegangan, "karena anak Ibu memaksa Ibu ke sini sekarang, kita menangkapnya sebelum terlambat. Kita bisa langsung mulai terapi obat-obatan pengencer darah dan vasodilator hari ini juga. Ibu harus rutin kontrol, jaga pola makan, dan tidak boleh stres. Kalau disiplin, Ibu bisa hidup panjang dan sehat menemani anak Ibu sampai dia lulus kuliah, kerja, bahkan menikah nanti."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan Ibu runtuh sepenuhnya. Ia menoleh ke arah Arvin. Pemuda kurus dengan poni lempar itu membalas tatapannya dengan mata merah dan senyum paling lega yang pernah dilihat dunia.

Ibu langsung memeluk Arvin erat-erat di depan meja dokter. Ia menangis terisak, membenamkan wajahnya di bahu anaknya.

"Maafin Ibu, Vin... Maafin Ibu yang bodoh, keras kepala..." isak Ibu. "Terima kasih, Nak... Kalau nggak ada kamu, Ibu nggak tahu..."

Arvin balas memeluk ibunya, membiarkan seragam abu-abunya basah oleh air mata. Beban seberat ribuan ton yang selama sepuluh tahun menghimpit dadanya, yang membuatnya menjadi pria penyendiri yang pahit di masa depan, tiba-tiba terangkat ke udara. Ia berhasil. Ia benar-benar berhasil mengubah takdir ibunya.

"Arvin nggak akan biarin Ibu pergi," bisik Arvin lembut.

Malam harinya, rumah kecil bercat hijau telur asin itu terasa berbeda. Ada kehangatan yang mengalir di udara. Ibu sudah meminum obat pertamanya dan tertidur pulas di kamarnya.

Arvin kembali duduk di atas kasur kamarnya, memegang buku Log Sistem Rekam Masa.

Tinta hitam kembali muncul, merangkai kalimat dengan cepat:

Status Misi Utama: TERCAPAI (SEMENTARA).
Nyawa Ibu Rina diperpanjang. Namun, Anda harus memastikan dia meminum obatnya dan tidak diam-diam makan sate kambing Mas Yanto.
Peringatan Sistem: Mengubah takdir kematian entitas utama akan menciptakan riak dalam ruang waktu (Butterfly Effect).

Arvin mengerutkan kening. "Riak apa maksudnya?" gumamnya.

Tulisan di buku berlanjut:
Anda telah mengubah nasib Anda sendiri. Di garis waktu asli, kematian Ibu Anda adalah katalis yang membuat Anda menjadi pria tertutup, gagal bersosialisasi, dan menjadi NPC. Karena Ibu Anda hidup, Anda tidak memiliki alasan untuk menjadi menyedihkan.

Misi Utama Baru: JADILAH KARAKTER UTAMA.
Mulai besok, Anda harus memperbaiki kehidupan sosial Anda. Tidak ada lagi sembunyi di toilet saat istirahat. Tidak ada lagi jawaban bergumam. Anda punya waktu 3 tahun masa SMA untuk membuktikan Anda layak mendapat kesempatan kedua ini.

Tantangan Pertama Besok: Traktir Rara batagor seperti yang Anda janjikan (dan buat dia tersenyum). Gagal melakukan ini, Anda akan menerima sengatan listrik bervoltase setara raket nyamuk di depan seluruh kantin.

Arvin menelan ludah. Wajah galak Rara dengan kacamata tebalnya terbayang di benaknya. Mendadak, menghadapi penyakit jantung ibunya terasa jauh lebih mudah daripada harus flirting dengan ketua kelas yang kaku bak kanebo kering.

"Sistem sialan," rutuk Arvin sambil tertawa kecil, menutup buku itu.

Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Arvin tidur tanpa ditemani rasa sesal, siap menyambut esok hari sebagai manusia baru, meskipun harus berurusan dengan raket nyamuk tak kasatmata.


----


Pagi itu, Arvin terbangun bukan oleh suara omelan Ibunya, melainkan oleh aroma aneh yang menguar dari dapur. Bukan bau minyak jelantah atau ikan asin goreng, melainkan wangi... kaldu bening dan sayuran rebus.

Arvin keluar kamar sambil mengucek mata dan mendapati Ibunya sedang memotong wortel dengan sangat hati-hati. Di sebelahnya, ada sepanci sup ayam bening yang asapnya mengepul hangat. Wanita itu mengenakan daster motif batik yang biasa, tapi raut wajahnya tampak jauh lebih rileks, seolah awan mendung yang selama ini menggantung di atas kepalanya telah tersapu angin.

"Pagi, jagoan," sapa Ibu sambil tersenyum lebar. "Tadi Ibu sudah minum obat dari dokter. Mulai hari ini, nggak ada lagi gorengan atau makanan bersantan. Kita berdua harus diet sehat. Sayur, buah, dan protein tanpa lemak!"

Arvin memandangi semangkuk sup bening dengan taburan seledri di atas meja. Di kehidupan sebelumnya, lidah bujangannya yang terbiasa dengan MSG dosis tinggi pasti akan memprotes makanan hambar ini. Namun hari ini, melihat ibunya berinisiatif merawat diri sendiri terasa seperti memenangi lotre miliaran rupiah.

"Wah, kelihatannya enak banget, Bu," Arvin duduk dan langsung menyendok sup tersebut, mengabaikan rasa hambar yang melanda lidahnya. "Ibu yang masak batu direbus aja pasti Arvin makan."

Ibu tertawa lepas, sebuah suara yang terdengar seperti musik di telinga Arvin. "Gombal kamu! Sana cepat habiskan, terus berangkat. Jangan lupa, hari ini kamu mulai masa hukuman bersihin toilet, kan? Bawa sikat dari rumah aja, sikat sekolah pasti udah gundul."

Berbekal sikat WC bergagang hijau dari rumah, Arvin melangkah memasuki gerbang SMA Negeri 3 dengan dada membusung. Dulu, lorong sekolah ini terasa seperti medan perang yang mengerikan, di mana setiap tatapan mata siswa lain adalah peluru yang menembus rasa percaya dirinya. Sekarang? Mereka hanyalah anak-anak remaja berseragam yang terjebak dalam hormon dan PR matematika. Arvin, dengan kebijaksanaan (dan penderitaan) usia 26 tahunnya, merasa seperti dewa yang sedang smurf—bermain di level pemula.

Hukumannya dimulai saat jam istirahat pertama. Arvin sedang menggulung lengan seragamnya, bersiap menyikat urinoir di toilet pria lantai dua, ketika segerombolan anak laki-laki masuk. Di barisan paling depan adalah Dimas, kapten basket dengan rambut cepak dan seragam yang sengaja dikeluarkan.

"Wuih, lihat nih guys, ada petugas kebersihan baru," ejek Dimas dengan suara keras yang dibuat-buat. Teman-temannya tertawa sumbang. "Rajin banget lo, Vin. Udah cocok banget tuh pegang sikat. Awas kesedot kloset!"

Di masa lalu, Arvin akan menunduk dalam-dalam, pura-pura tuli, dan menunggu gerombolan itu pergi dengan telinga memerah. Namun Arvin hari ini hanya memutar bola matanya malas. Ia ingat betul, sepuluh tahun dari sekarang, Dimas ini akan memohon-mohon padanya via Direct Message Instagram untuk membeli polis asuransi pendidikannya.

Arvin menegakkan tubuhnya, menatap Dimas dengan senyum kasihan yang sangat tulus. "Tenang aja, Dim. Gue lagi gladi resik buat masa depan. Siapa tahu nanti kalau lo nawarin gue asuransi dan gue tolak, lo stres terus muntah-muntah, seenggaknya gue udah ahli bersihinnya."

Dimas berkedip beberapa kali, otaknya yang biasa digunakan untuk lay-up basket berusaha memproses kalimat Arvin. "Hah? Asuransi apaan? Lo ngomong apaan sih, freak!" balas Dimas, tapi nadanya goyah.

"Udah, mending lo kencing sana, keburu bel," Arvin mengibaskan sikat WC-nya ke udara seolah mengusir lalat, lalu kembali fokus menyikat lantai. Meninggalkan Dimas dan kawan-kawannya yang saling pandang dalam kebingungan absolut sebelum akhirnya menyingkir ke sudut lain.

Satu kemenangan kecil tercatat. Namun, Arvin tahu boss battle hari ini bukanlah Dimas.

Tepat pukul sepuluh siang, bel istirahat kedua berbunyi. Arvin meletakkan alat perangnya dan mencuci tangan bersih-bersih. Saatnya menyelesaikan Misi Sistem.

Di ujung koridor, kantin sekolah tampak seperti lautan manusia kelaparan. Arvin menerobos kerumunan menuju gerobak Mang Ujang, pahlawan tanpa tanda jasa penjual batagor paling legendaris se-SMA 3. Setelah menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan—harga yang membuat Arvin dari masa depan nyaris menangis terharu saking murahnya—ia membawa dua piring plastik berisi batagor panas yang disiram bumbu kacang kental.

Mata Arvin memindai seisi kantin. Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap lapangan upacara, duduklah targetnya. Rara.

Ketua kelas itu sedang mengunyah roti tawar di satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk membalik halaman buku LKS Fisika. Tidak ada yang berani duduk di satu meja dengannya karena Rara memiliki reputasi suka menagih uang kas secara acak kepada siapa pun yang berada dalam radius dua meter darinya.

Arvin menarik napas panjang. Ini gampang, batinnya menyemangati diri. Aku cuma perlu kasih ini, bilang makasih, bikin lelucon bapak-bapak sedikit, terus dia senyum, dan kelar.

Arvin melangkah mendekat. Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Udara di sekitarnya seolah dipenuhi aliran listrik statis yang memperingatkan. Gagal membuat dia tersenyum, kau akan disengat voltase raket nyamuk, ancaman sistem terngiang di kepalanya.

Arvin mendeham, meletakkan salah satu piring batagor tepat di atas LKS Fisika Rara, menutupi rumus gravitasi Newton.

"Permisi, Ibu Ketua. Sesuai perjanjian internasional kita kemarin, upeti batagor telah tiba," ucap Arvin dengan nada santai yang setengah mati ia latih di depan cermin tadi pagi.

Rara mendongak. Kacamata tebalnya merosot sedikit. Ia menatap piring batagor itu, lalu menatap Arvin dengan dahi berkerut rapat. Tidak ada tanda-tanda senyum. Yang ada hanyalah kecurigaan tingkat tinggi.

"Kamu ngapain, Arvin?" tanya Rara datar. "Dan tolong angkat piringmu dari buku LKS-ku sebelum minyaknya nembus sampai ke bab Termodinamika."

Arvin buru-buru menggeser piring itu ke meja kosong di sebelah buku. "Eh, sori. Ini buat lo, Ra. Sebagai ucapan terima kasih karena udah bantuin gue selamat dari omelan Bu Endang kemarin. Dimakan dong, mumpung masih panas."

Rara menutup bukunya, melipat tangan di dada. "Aku nggak ngebantuin kamu. Aku cuma menjalankan tugas sebagai ketua kelas yang menyampaikan panggilan BP. Fakta bahwa kamu tiba-tiba kesurupan Mario Teguh dan berdebat sama Bu Endang itu di luar kendaliku."

Arvin duduk di kursi seberang meja. Ia mencoba tersenyum, tapi ketegangan mulai membuatnya bertingkah bodoh. "Ya... anggap aja ini sogokan supaya uang kas gue bulan ini dilunasi?"

BZZZTT!

Sengatan kecil yang familiar menyengat leher Arvin. Sistem memberitahu bahwa berbohong atau melucu dengan cara yang cringe tidak akan berhasil. Ia butuh sesuatu yang organik.

Rara mendengus. "Uang kasmu nunggak tiga bulan, Arvin. Batagor Mang Ujang harganya lima ribu. Secara matematis, sogokanmu nggak logis." Gadis itu menatap Arvin lekat-lekat. "Sebenarnya kamu ini kenapa sih? Kemarin tiba-tiba pidato di kelas, terus berani motong omongan BP, sekarang tiba-tiba bawain aku makanan. Kamu... nggak lagi sakit parah yang sisa hidupnya tinggal dua hari, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, Arvin justru tertawa. Tawa yang sangat lepas dan tulus. Ia menatap lurus ke mata Rara di balik lensa tebal itu.

"Nggak, Ra," ucap Arvin lembut. Suaranya kehilangan nada defensif. "Gue cuma... baru sadar kalau selama ini gue terlalu banyak sembunyi. Gue terlalu takut dihakimi sampai akhirnya gue jadi orang yang nyebelin dan nggak peduli sama sekitar. Kemarin itu... titik balik gue. Gue mau berubah. Dan langkah pertama gue adalah berterima kasih sama orang-orang yang sebenernya peduli, meskipun cara mereka nunjukinnya galak."

Arvin menunjuk LKS Fisika Rara. "Lo rajin banget ngurusin kelas yang isinya monyet-monyet kayak Dimas, padahal lo juga pusing mikirin ujian. Jadi, tolong terima batagor ini. Anggap aja ini kalori tambahan buat otak lo yang overworking."

Rara terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya, sang ketua kelas yang selalu punya jawaban untuk segala hal tampak kehabisan kata-kata. Rona merah perlahan menjalar dari leher hingga ke telinganya.

Arvin merasa di atas angin. Ia berhasil menyampaikan perasaannya tanpa disengat sistem! Ia hanya perlu menunggu Rara tersenyum.

Merasa sangat percaya diri, Arvin mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengambil kerupuk dari piringnya sendiri. Namun, ia lupa satu hal krusial: ia saat ini memiliki poni lempar ala vokalis band emo tahun 2010-an yang sangat panjang dan tidak terurus.

Saat ia menunduk, rambut poninya dengan mulus meluncur, menyapu permukaan piringnya, dan tercelup seluruhnya ke dalam kubangan bumbu kacang yang kental dan berminyak.

"Eh—"

Arvin membeku. Bumbu kacang itu menetes-netes dari ujung rambutnya, jatuh mengenai kemeja putihnya. Ia terlihat seperti orang idiot yang baru saja mencoba memakan batagor lewat dahi.

Rara menatap rambut Arvin yang berlumuran bumbu kacang. Keheningan yang absolut terjadi selama tiga detik.

Lalu, pertahanan gadis itu runtuh.

Rara menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Awalnya hanya suara tawa tertahan yang keluar dari sela-sela jarinya, tapi sedetik kemudian, ia tertawa lepas. Sebuah tawa yang renyah, melengkungkan matanya di balik kacamata, dan menampilkan lesung pipi di sebelah kiri wajahnya yang belum pernah Arvin lihat seumur hidupnya.

"Astaga, Arvin!" Rara tertawa sampai nyaris menangis, dengan tergesa-gesa mencabut beberapa lembar tisu dari kotak di atas meja dan menyodorkannya. "K-kamu mau berubah jadi boyband rasa kacang? Sumpah, poni kamu itu mending dipotong aja deh!"

Sambil mengelap rambutnya yang lengket dan bau tengik kacang tanah, Arvin tidak bisa menahan senyumnya sendiri. Melihat Rara tertawa sebahagia itu membuatnya menyadari satu hal: dunia remajanya dulu tidak seburuk yang ia ingat. Ia hanya memilih untuk tidak melihat sisi terangnya.

Saat Rara masih terkikik geli, suara denting notifikasi sistem berbunyi keras di dalam kepala Arvin.

TING!

Pesan hijau bercahaya melintas di pandangan peripheral-nya, seolah diproyeksikan langsung ke retina matanya:

MISI SELESAI. Target Rara tertawa (Poin Ekstra untuk komedi slapstick rambut bumbu kacang).
Hadiah: Tidak disengat listrik raket nyamuk, dan sebuah kenangan yang tidak memalukan.
Membuka Jalur Takdir Baru: "Teman Sebangku yang Peduli".

PERINGATAN SISTEM: Pembaruan Misi Utama.
Karena Anda tidak lagi menjadi beban masyarakat, gravitasi sosial Anda mulai menarik karakter lain. Bersiaplah, lusa akan ada Pensi Sekolah. Anda diwajibkan mendaftar sebagai panitia seksi perlengkapan. Jika menolak, rambut Anda akan rontok permanen secara instan.

Mata Arvin membelalak. Panitia Pensi? Seksi perlengkapan? Itu berarti mengangkat sound system, memasang terpal, dan berinteraksi dengan ratusan anak lain! Dan ancamannya adalah kebotakan dini?!

"Sistem biadab..." umpat Arvin pelan sambil menekan dahinya yang masih berlumur sisa bumbu kacang.

"Kamu bilang apa, Vin?" Rara bertanya, tawanya sudah mereda meski senyum lebarnya belum pudar.

"Nggak apa-apa," Arvin menghela napas pasrah, menatap Rara yang kini memakan batagor pemberiannya dengan wajah cerah. Arvin membalas senyum gadis itu. "Besok, temenin gue ke tempat potong rambut, ya, Ra? Sepertinya gue butuh makeover sebelum daftar panitia pensi lusa."

Rara menghentikan kunyahannya, menatap Arvin dengan alis terangkat, lalu mengangguk kecil. "Boleh. Asal kamu yang traktir ongkos angkotnya."

Di balik lengketnya bumbu kacang di poni dan ancaman kebotakan dari sistem tak kasatmata, Arvin merasa hidupnya akhirnya benar-benar dimulai. Ia bukan lagi penonton. Ia adalah sutradara yang sedang menulis ulang naskah terbaiknya.


-----

"Pangkas habis aja, Bang. Buang semua poni kesedihan dan beban masa lalu ini sampai ke akar-akarnya."

Bang Udin, pemangkas rambut di Barbershop Asgar (Asli Garut) langganan bapak-bapak kompleks, menghentikan guntingnya di udara. Ia menatap Arvin dari pantulan cermin dengan dahi berkerut, lalu melirik ke arah Rara yang duduk di kursi tunggu sambil pura-pura sibuk membaca majalah Trubus edisi budidaya lele.

"Yakin, Jang?" tanya Bang Udin dengan logat Sunda yang kental. "Sayang atuh, ini poni udah panjang begini, udah mirip Andika Kangen Band zaman kejayaan. Tinggal di-rebonding dikit aja banyak cewek yang nempel."

Arvin mendengus geli. "Justru itu yang mau saya hindari, Bang. Saya mau rebranding jadi manusia normal. Tolong potong pendek rapi, model undercut tipis sampingnya. Biar angin bisa kena dahi saya lagi."

Di kursi tunggu, bahu Rara bergetar menahan tawa. Gadis itu menutupi wajahnya dengan majalah lele.

Mesin cukur mulai mendengung nyaring. Rambut-rambut panjang yang selama ini menjadi tirai tempat Arvin bersembunyi berjatuhan ke lantai, bercampur dengan sisa-sisa bau bumbu batagor Mang Ujang. Seiring dengan rontoknya mahkota emo tersebut, Arvin menatap cermin dan perlahan mengenali kembali wajahnya. Tulang pipinya cukup tegas, alisnya tebal, dan tanpa bayang-bayang rambut yang menutupi mata, ia sama sekali tidak terlihat seperti remaja penyakitan. Ia hanya butuh sinar matahari dan sedikit kepercayaan diri.

Setengah jam kemudian, Bang Udin membersihkan sisa rambut di leher Arvin dengan spons berbedak bayi. "Sip, Jang. Kasep pisan! Udah siap ikut audisi boyband Korea."

Arvin berdiri, mengusap tengkuknya yang kini terasa semilir. Ia menoleh ke arah Rara. "Gimana, Bu Ketua? Uang kas gue udah bisa dilunasi pakai ketampanan gue belum?"

Rara menurunkan majalahnya. Mata di balik kacamata tebal itu mengerjap dua kali, lalu membesar sekian milimeter. Mulutnya sedikit terbuka, tertahan dalam ekspresi terkejut yang gagal ia tutupi. Rara selalu menganggap Arvin sebagai cowok aneh yang sering bergumam sendiri dan berpostur seperti udang bongkok. Namun sekarang, pemuda di depannya berdiri tegak, rambutnya tersisir rapi menampakkan dahi yang bersih, dan ada kilat jenaka di matanya yang menatap lurus.

Semburat merah muda seketika menjalar di pipi Rara. Ia buru-buru memalingkan wajah, berdeham keras-keras layaknya guru BP yang sedang menertibkan kelas.

"Y-ya, lumayanlah. Setidaknya sekarang kamu kelihatan kayak spesies manusia. Nggak kayak hantu penunggu lab biologi lagi," jawab Rara ketus, meski tangannya salah tingkah merapikan ujung rok seragamnya. "Ayo pulang. Udah sore. Jangan lupa ongkos angkotku kamu yang bayar!"

Arvin tersenyum lebar. Ia tahu pujian dari seorang Rara harus diterjemahkan dari bahasa tsundere ke bahasa Indonesia standar. "Siap, laksanakan."

Malam harinya, reaksi di rumah jauh lebih dramatis. Ibu nyaris menjatuhkan piring berisi tumis kangkung saat Arvin melangkah masuk ke dapur.

"Ya ampun, Arvin! Kamu dipotong sama siapa?! Kok ganteng banget anak Ibu?!" Ibu langsung menghampiri, memegang kedua pipi Arvin dan memutar-mutar kepalanya seperti sedang memeriksa semangka di pasar. "Astaga, dari dulu kek begini! Ibu sampai lupa kalau anak Ibu ternyata hidungnya mancung!"

"Berlebihan deh, Bu," Arvin tertawa, menepis lembut tangan ibunya. Hatinya menghangat melihat rona sehat di wajah ibunya, sebuah efek nyata dari obat dokter yang mulai diminum rutin sejak kemarin.

Setelah makan malam tanpa drama, Arvin kembali ke kamarnya. Ia membuka buku Log Sistem Rekam Masa.

Tinta hitam kembali merayap di atas kertas:

Validasi visual diterima. Anda tidak lagi merusak pemandangan.
Ingat Misi Utama Besok: Mendaftar Panitia Pensi sebagai Seksi Perlengkapan.
Sistem telah mengatur probabilitas. Besok, koordinator perlengkapan (Kak Bima dari kelas XII) sedang dalam krisis manpower. Jadikan diri Anda berguna. Sekali lagi: GAGAL MENDAFTAR = BOTAK PERMANEN.

Arvin mengelus kepalanya yang baru saja mendapat potongan rambut bagus. Ancaman sistem ini benar-benar tidak main-main dan menyerang ranah paling sensitif bagi seorang pria.

Keesokan paginya, suasana SMA Negeri 3 lebih riuh dari biasanya. Spanduk besar bertuliskan "PENTAS SENI SMAN 3: GEBYAR BINTANG 2013" sudah membentang di atas gerbang. Posko pendaftaran panitia dibuka di depan ruang OSIS, dikelilingi kerumunan siswa yang berdesakan. Kebanyakan berebut ingin masuk ke Seksi Acara (karena bisa dekat dengan band bintang tamu) atau Seksi Konsumsi (karena bisa menilep makanan).

Hampir tidak ada yang melirik meja pendaftaran Seksi Perlengkapan.

Meja itu dijaga oleh Kak Bima, raksasa kelas XII dengan tubuh kekar berotot, wajah sangar, dan reputasi sebagai preman sekolah yang sudah bertobat masuk OSIS. Ia duduk mengangkang, lengannya bersedekap, menatap malas pada kertas pendaftaran kosong di depannya. Seksi perlengkapan adalah pekerjaan kasar: angkat sound system, pasang panggung, gulung kabel berdebu, dan begadang sampai pagi. Tidak ada siswa normal yang mau menyiksa diri.

Arvin menyeruak dari kerumunan, mengabaikan tatapan beberapa adik kelas dan teman seangkatannya yang ternganga melihat perubahan drastis penampilannya. Ia berhenti tepat di depan meja Kak Bima.

"Permisi, Kak," Arvin membuka suara dengan tenang. "Saya mau daftar Seksi Perlengkapan."

Kak Bima mendongak, menatap Arvin dari ujung rambut baru hingga ujung sepatu pantofelnya yang kusam. Ia mendengus remeh.

"Lo? Daftar perlengkapan?" Suara bass Kak Bima menggelegar, membuat beberapa anak di meja sebelah menoleh. "Lo anak IPS yang kemarin kesurupan di kelas Pak Jono, kan? Eh, cil, perlengkapan itu bukan tempat buat caper atau main-main. Kita ngangkat rigging panggung, speaker ratusan kilo. Tangan krempeng lo itu paling ngangkat spanduk aja tremor. Mending lo daftar Seksi Dokumentasi sana, pura-pura sibuk megang kamera."

Di masa lalu, Arvin akan lari terbirit-birit diintimidasi senior seperti Bima. Namun Arvin 26 tahun telah makan asam garam menghadapi klien event organizer yang jauh lebih beringas.

Arvin mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja Kak Bima, menatap langsung ke dalam mata sang raksasa.

"Kak Bima," ucap Arvin dengan volume pelan namun memiliki otoritas yang aneh untuk seorang anak kelas XI. "Saya tahu Kakak lagi krisis anggota. Vendor panggung pasti minta loading barang H-2 tengah malam. Anak-anak manja di Seksi Acara nggak akan ada yang mau bantu Kakak angkat kabel tebal jam dua pagi. Mereka cuma mau nampang pas hari H."

Mata Bima sedikit melebar. Kata 'vendor', 'loading', dan H-2 bukanlah kosakata yang biasanya diketahui anak SMA biasa.

Arvin melanjutkan serangannya tanpa ampun. "Saya memang nggak sekekar Kakak, tapi saya punya stamina, saya nggak gampang ngeluh, dan yang paling penting, saya bersedia disuruh kerja kotor tanpa minta credit title di depan panggung. Kalau Kakak butuh tukang panggul merangkap kacung standby 24 jam untuk Pensi ini, saya orangnya. Kalau Kakak tolak, silakan pasang speaker panggung sendirian."

Hening sejenak. Bima menatap Arvin dengan sorot mata menilai. Perlahan, senyum miring yang mengerikan terbentuk di wajah senior itu.

"Punya nyali juga lo, cil. Gaya lo ngomong kayak bapak-bapak proyek," kekeh Bima. Ia menyodorkan kertas pendaftaran beserta pulpen ke arah Arvin. "Tulis nama lo. Mulai besok pulang sekolah, lo standby di gudang belakang. Lo telat lima menit, gue gantung lo di tiang bendera."

Arvin mengambil pulpen itu dengan sigap dan menuliskan namanya. Arvin Yuda.

Tepat ketika ia menyelesaikan huruf terakhir, rasa hangat menyelimuti kulit kepalanya. Rambutnya selamat dari kebotakan dini.

TING!
Suara notifikasi sistem berdentang di kepalanya, disusul teks hijau yang melayang di udara:

Misi Selesai. Status Rambut: AMAN.
Keanggotaan Seksi Perlengkapan berhasil didapatkan.
Efek Samping: Anda baru saja menjadikan diri Anda sasaran eksploitasi kerja romusha.
Misi Berikutnya: Malam ini, selamatkan Rara dari tragedi di ruang panitia.

Gerakan tangan Arvin membeku. Ia menatap teks hijau itu dengan dahi berkerut. Tragedi? Di ruang panitia? Rara?

Di garis waktu aslinya, Arvin sama sekali tidak tahu menahu soal Pensi. Ia menghabiskan hari-harinya bermain game di kamar. Ia tidak tahu tragedi apa yang menimpa sang ketua kelas di kepanitiaan ini. Namun, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Jika sistem sampai memberikan misi, berarti ini bukan sekadar masalah uang kas yang hilang atau PR yang belum dikerjakan.

Sesuatu yang buruk akan terjadi, dan kali ini, Arvin tidak akan membiarkan dirinya hanya menjadi penonton.

----

Sore itu, gudang belakang SMA Negeri 3 terasa seperti ruang penyiksaan di neraka lapis ketujuh.

Udara dipenuhi debu yang menari-nari di bawah cahaya lampu kuning redup, bercampur dengan bau keringat dan karat. Arvin terengah-engah, wajahnya memerah, dan kemeja putihnya sudah lepek oleh peluh. Di tangannya, ia memeluk gulungan kabel sound system hitam tebal yang beratnya terasa seperti memeluk anak sapi.

"Taruh di sudut sana, cil! Jangan sampai kusut. Kalau kusut, besok gue suruh lo ngunyah itu kabel!" suara bariton Kak Bima menggelegar dari atas scaffolding panggung mini yang sedang mereka rakit untuk gladi resik.

"Siap, komandan," jawab Arvin dengan sisa napasnya. Ia meletakkan kabel itu dengan hati-hati, lalu merosot duduk di atas kotak speaker yang belum terpakai. Seluruh otot di tubuh remajanya menjerit protes. Di usianya yang ke-26, mengangkat galon air mineral saja kadang membuat pinggangnya encok. Sekarang, ia dipaksa melakukan kerja rodi.

Namun, anehnya, ada kepuasan yang mengalir di dadanya. Kak Bima tidak memperlakukannya seperti orang buangan; senior sangar itu memperlakukannya seperti sesama pekerja keras. Tidak ada tatapan kasihan, tidak ada ejekan halus. Hanya kerja, keringat, dan kejujuran maskulin yang kasar.

Waktu berlalu cepat. Matahari mulai tenggelam, digantikan oleh semburat jingga keunguan yang menyapu langit. Bel tanda berakhirnya kegiatan ekstrakurikuler sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu, menyisakan segelintir panitia inti Pensi yang masih rapat di berbagai ruangan.

Arvin meneguk air dari botol mineralnya, lalu melirik jam tangan hitam murahan di pergelangan kirinya. Pukul 17.45.

Tiba-tiba, rasa dingin menjalar di tengkuknya. Teks hijau berpendar muncul sekelebat di sudut matanya:
Peringatan Sistem: Tragedi berjarak 30 meter dari lokasi Anda (Ruang OSIS). Waktu tersisa: 5 menit.

Arvin tersentak berdiri, membuat botol minumnya terjatuh. "Kak Bim!" panggil Arvin ke arah Bima yang sedang membereskan kunci inggris. "Saya izin ke toilet sebentar. Kebelet banget!"

Tanpa menunggu jawaban Bima, Arvin berlari keluar dari gudang. Kakinya membawa tubuhnya melesat menyusuri koridor lantai satu yang sudah sepi dan mulai gelap. Jantungnya berdebar kencang. Ruang OSIS terletak di ujung lorong seberang, berdekatan dengan ruang guru yang sudah terkunci rapat.

Saat Arvin mendekati ruangan tersebut, ia memperlambat langkahnya. Pintu ruang OSIS sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya putih jatuh ke lantai koridor. Dari dalam, terdengar suara perdebatan yang ditekan.

"Gue nggak mau tanda tangan, Ren. Ini namanya manipulasi data!" Suara Rara terdengar bergetar, namun penuh ketegasan.

"Ra, lo jangan kaku banget jadi orang, bisa nggak sih?!" Balasan itu datang dari suara laki-laki yang terdengar arogan dan memojokkan. Arvin mengenali suara itu. Reno, kelas XI-IPA 1. Anak kepala dinas kota, cowok paling hits se-angkatan, dan menjabat sebagai Ketua Pelaksana Pensi.

Arvin merayap mendekati pintu, mengintip dari celah. Di dalam, Rara sedang tersudut di meja bendahara, memeluk map tebal berisi laporan keuangan ke dadanya. Di depannya, Reno berdiri menjulang bersama dua cecenguknya dari Seksi Dana Usaha, mengurung Rara agar tidak bisa keluar.

"Tinggal lo masukin kwitansi lima juta ini ke pos 'Biaya Tak Terduga' atau 'Konsumsi Artis'. Gampang, kan?" desak Reno, menunjuk paksa ke arah secarik kertas di atas meja.

"Kwitansi apa dari tempat biliar dan kafe live music jam dua belas malam, Reno?! Kamu pakai uang sponsor Pensi buat foya-foya sama teman-temanmu, kan?! Kalau pembina tahu, Pensi kita bisa dibatalkan!" balas Rara, matanya berkaca-kaca menahan marah sekaligus takut karena diintimidasi tiga laki-laki.

Reno mendengus sinis, wajahnya mencondong berbahaya ke arah Rara. "Denger ya, anak cupu. Uang lima juta itu gue yang cari dari link bokap gue. Wajar kalau gue ambil komisi dikit buat 'networking'. Kalau elo nggak mau acc laporan ini, gue bakal bilang ke Bu Endang kalau elo selaku Bendahara Utama yang ngilangin uangnya. Lo tahu kan Bu Endang lebih percaya omongan siapa? Ketua Pelaksana yang anak pejabat, atau Bendahara kutu buku yang nggak punya
backing-an?"

Wajah Rara memucat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Reputasinya sebagai siswi teladan adalah segalanya baginya. Jika ia dituduh menggelapkan dana sekolah, beasiswa kuliahnya nanti bisa terancam.

"Tanda tangan. Sekarang," ancam Reno dengan nada rendah, menyodorkan sebuah pulpen. Tangan Rara gemetar saat perlahan meraih pulpen tersebut. Air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya.

BRAAAK!

Pintu ruang OSIS ditendang terbuka hingga menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.

Ketiga laki-laki itu terlonjak kaget dan serempak menoleh. Rara menjatuhkan pulpennya.

Di ambang pintu, berdirilah Arvin. Rambut undercut-nya agak berantakan, kemejanya kotor oleh noda oli dan debu, dan ia memegang sebuah kunci inggris raksasa berbahan besi padat yang sedari tadi ia bawa dari gudang. Matanya menatap Reno dengan tatapan yang sangat dingin, setajam pisau bedah.

Ia melangkah masuk, tidak mempedulikan postur tubuhnya yang lebih kurus dari Reno.

"Penggelapan dana organisasi, pemalsuan dokumen keuangan, dan... oh, intimidasi verbal dengan ancaman fitnah," Arvin menyebutkan daftar itu dengan nada datar, suaranya menggema di ruangan yang mendadak sunyi. Ia mengetuk-ngetukkan kunci inggrisnya ke telapak tangan kirinya dengan ritme pelan. Tuk. Tuk. Tuk. "Pasal 374 KUHP untuk penggelapan dalam jabatan, hukumannya maksimal lima tahun penjara. Lo mau pakai seragam oranye sebelum lulus SMA, Ren?"

Reno mengerjap, tampak terkejut selama beberapa detik sebelum kembali memasang wajah arogan. "Lo siapa berani masuk ke sini?! Arvin? Hah! Si babu perlengkapan yang kemarin kesurupan? Lo pikir lo siapa, bawa-bawa pasal segala? Mau sok jadi pahlawan lo?!"

"Gue? Gue cuma NPC yang kebetulan lewat," jawab Arvin santai. Ia melangkah melewati dua cecenguk Reno yang entah kenapa refleks mundur melihat aura Arvin yang sama sekali tidak memancarkan ketakutan anak SMA. Arvin berhenti tepat di depan Reno, menempatkan dirinya sebagai tameng antara laki-laki arogan itu dan Rara.

"Denger ya, Ren," suara Arvin turun satu oktaf, berubah menjadi desisan mematikan khas corporate slave yang sudah kehabisan kesabaran. "Lo pikir karena bapak lo pejabat, lo bisa bullying anak orang dan maksa dia nanggung kebodohan lo? Laporan keuangan itu nggak akan pernah di-Ttd. Kalau lo mau framing Rara ngilangin duitnya, silakan. Gue pastikan besok pagi, rincian kwitansi biliar dan kafe lo itu udah difotokopi dan tertempel manis di mading sekolah, di meja kepala sekolah, dan di laci ruang guru BP."

Wajah Reno memerah padam karena amarah dan kepanikan yang mulai menyerang. "Lo nggak punya buktinya, bangsat!" Reno mencengkeram kerah kemeja Arvin, bersiap melayangkan tinju.

Rara menjerit tertahan. "Arvin, awas!"

Namun Arvin tidak berkedip. Ia menatap lurus ke mata Reno dan tersenyum miring.

"Gue nggak perlu bukti," bisik Arvin. "Karena sebentar lagi, lo yang bakal ngaku sendiri di depan koordinator keamanan kita."

"Keamanan apaan—"

Sebelum Reno sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan sebesar piringan hitam mencengkeram bahunya dari belakang dengan kekuatan yang membuat tulang selangkanya berderak pelan.

"Woy."

Suara berat dan serak itu seolah membekukan udara di dalam ruangan. Reno melepaskan kerah Arvin seketika dan menoleh ke belakang dengan leher kaku.

Kak Bima berdiri di sana, menjulang seperti menara gading. Wajah sangarnya terlihat sangat murka, urat-urat di leher dan lengannya menonjol. Bima memang sudah tobat jadi preman, tapi otot dan insting brutalnya tidak pernah hilang.

"G-gila... Kak Bima..." salah satu teman Reno memucat dan mundur perlahan.

Arvin tersenyum dalam hati. Tentu saja Kak Bima menyusulnya. Saat lari dari gudang tadi, Arvin sengaja "menjatuhkan" kunci inggris kesayangan Kak Bima dari kotak tools-nya dan membawanya lari. Bima paling benci jika peralatannya dipinjam tanpa izin.

"Jadi..." Kak Bima mempererat cengkeramannya di bahu Reno hingga sang Ketua Pelaksana meringis kesakitan. "Gue denger ada cecenguk yang mau ngerusak Pensi kita pakai duit sponsor buat main biliar? Terus berani-beraninya nyentuh anak buah gue dari Seksi Perlengkapan?"

"K-kak, salah paham, Kak. I-ini urusan internal Seksi Danus..." Reno tergagap, seluruh arogansinya menguap luntur seperti riasan murah yang disiram hujan.

"Internal ndasmu," geram Bima. Ia mendorong Reno hingga laki-laki itu terhuyung mundur. "Dengerin gue baik-baik, anak manja. Lo cari cara balikin duit lima juta itu besok pagi sebelum matahari terbit, entah lo mau bobol celengan babi lo atau jual pelek motor lo. Kalau besok laporan keuangan ini nggak beres tanpa cacat, gue sendiri yang bakal seret lo ke ruang Kepsek, dan gue pastiin gigi lo sisa separuh. Paham?!"

Reno menelan ludah dengan susah payah, mengangguk cepat seperti burung pelatuk. "P-paham, Kak."

"Bagus. Sekarang keluar dari sini sebelum gue ubah pikiran."

Tanpa perlu disuruh dua kali, Reno dan kedua temannya langsung terbirit-birit keluar ruangan, nyaris tersandung kaki mereka sendiri.

Ruang OSIS kembali hening. Kak Bima mendengus kasar, lalu menoleh ke arah Arvin. Ia merebut kunci inggris dari tangan Arvin dan memukul pelan puncak kepala pemuda itu dengannya.

"Lo kalau mau nyari gara-gara sama anak pejabat, jangan pakai alat bengkel gue, cil. Untung gue ngikutin lo," gerutu Bima, meski nada suaranya tidak benar-benar marah. "Gue balik ke gudang. Lima menit lo nggak nongol, lo gue suruh gulung kabel pakai gigi."

Bima melangkah keluar, meninggalkan Arvin dan Rara berdua.

Arvin menghela napas panjang, merilekskan otot-otot bahunya yang tegang. Lutut remajanya sebenarnya gemetar hebat, tapi adrenalin berhasil menutupinya. Ia berbalik menatap Rara. Gadis itu masih mematung, memeluk mapnya erat-erat, matanya yang basah menatap Arvin dengan ketidakpercayaan yang mendalam.

"Lo nggak apa-apa, Ra?" tanya Arvin lembut, melangkah mendekat.

Pertahanan Rara akhirnya jebol. Air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh berderai membasahi pipinya. Tangannya gemetar saat ia menurunkan map tersebut ke atas meja. "A-aku... aku takut banget, Vin... Kalau kamu nggak dateng... kalau laporan itu..."

Rara terisak, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Citra ketua kelas yang galak dan tak tertembus itu runtuh sepenuhnya, menyisakan seorang gadis remaja berusia 16 tahun yang memikul beban terlalu berat.

Arvin merasa hatinya mencelos. Di kehidupan sebelumnya, Rara pasti menghadapi masalah ini sendirian. Mungkin ia terpaksa menandatangani laporan itu. Mungkin itulah sebabnya di tahun-tahun berikutnya, Rara yang dulunya ceria dan tegas perlahan menjadi sangat tertutup dan sinis kepada semua orang, hingga akhirnya mengundurkan diri dari OSIS dan kehilangan beasiswanya. Itukah "tragedi" yang dimaksud sistem? Tragedi hancurnya masa depan seseorang.

Tanpa berpikir panjang, Arvin melangkah maju dan menarik Rara ke dalam pelukannya.

Gadis itu tersentak, tubuhnya kaku sejenak. Namun, rasa aman yang ditawarkan Arvin menembus dinding pertahanannya. Rara membalas pelukan Arvin, mencengkeram kemeja kotor pemuda itu, dan menangis tersedu-sedu di dadanya.

"Udah... nggak apa-apa," bisik Arvin menenangkan, menepuk-nepuk punggung Rara dengan canggung namun tulus. "Ada gue, Ra. Lo nggak perlu nanggung semuanya sendirian. Besok, kita urus si Reno sama-sama."

Mereka berdiri di sana selama beberapa menit, di bawah pendar lampu neon ruang OSIS yang berkedip pelan. Bau debu dari kemeja Arvin entah bagaimana terasa menenangkan bagi Rara.

Saat tangis Rara mulai mereda, ia perlahan melepaskan pelukannya, wajahnya merah padam menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia buru-buru melepas kacamatanya dan mengusap air matanya dengan lengan seragam.

"M-maaf. Kemejamu jadi basah," cicit Rara, suaranya serak. Ia menatap ke bawah, tidak berani menatap mata Arvin.

"Nggak masalah. Kemeja gue emang udah bau apek dari tadi, kok," canda Arvin, mencoba mencairkan suasana.

Rara mendongak, menatap mata Arvin lekat-lekat. Kilat jenaka, keberanian yang tenang, dan kebaikan yang tidak dibuat-buat. Rara menyadari bahwa pemuda di depannya ini bukanlah Arvin si aneh yang selama ini ia kenal. Ini adalah seseorang yang benar-benar baru, dan untuk pertama kalinya, jantung Rara berdetak dengan ritme yang tidak wajar.

"Terima kasih, Arvin," ucap Rara pelan, menyunggingkan senyum kecil yang sangat tulus. "Kamu... ternyata pahlawan yang lumayan keren juga, biarpun bau keringat."

Arvin tertawa pelan. "Itu pujian terbaik yang pernah gue denger."

TING!

Suara denting sistem kembali menggema di kepala Arvin. Teks hijau mengalir turun di pandangannya:

MISI SELESAI. Tragedi berhasil dihindari.
Status Karakter Rara: Terselamatkan dari depresi klinis di masa depan.
Poin Kedekatan Ekstra diperoleh.
Peringatan: Berhenti tebar pesona. Kak Bima sudah menunggu Anda di gudang dengan kabel yang siap dijejalkan ke mulut Anda.

Arvin meringis membaca peringatan terakhir. "Ra, gue harus balik ke gudang sekarang sebelum gue dibunuh Kak Bima. Lo mau gue anter pulang? Bahaya sendirian."

Rara menggeleng cepat, tersenyum lebih lebar. "Nggak usah, aku bisa pulang sendiri. Kamu selesaikan urusanmu sama Kak Bima. Dan... semangat ya, panitia perlengkapan."

"Siap, Bu Ketua," Arvin memberikan hormat ala tentara dengan gaya konyol, lalu berlari keluar ruangan.

Sambil berlari kembali ke gudang, Arvin tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Menyelamatkan ibunya dari kematian telah memberinya tujuan, tapi menyelamatkan Rara dari keputusasaan memberinya sesuatu yang lain. Sebuah perasaan bahwa kehadirannya di dunia ini, di garis waktu ini, benar-benar memiliki arti.

Ia bukan lagi figur NPC di latar belakang. Arvin Yuda sedang menulis sejarahnya sendiri, satu revisi naskah pada satu waktu.

-----

Tiga tahun berlalu jauh lebih cepat daripada yang Arvin bayangkan.

Jika seseorang bertanya kepada Arvin apa yang paling berubah dalam tiga tahun itu, jawabannya bukan rambutnya, bukan nilai rapornya, bukan jumlah teman di kontak ponselnya, bahkan bukan fakta bahwa ia akhirnya berhasil mengajak Rara nonton bioskop berdua setelah tujuh belas kali menyangkal bahwa itu adalah kencan.

Yang paling berubah adalah satu hal sederhana.

Arvin tidak lagi takut hadir.

Ia hadir saat Ibu kontrol ke rumah sakit setiap bulan.

Ia hadir saat Rara gagal masuk semifinal olimpiade dan menangis diam-diam di halte.

Ia hadir saat Kak Bima lulus dan meninggalkan gudang perlengkapan dengan pesan terakhir, "Jangan jadi manusia lembek, Cil."

Ia hadir saat Dimas patah tangan di pertandingan basket dan membutuhkan seseorang untuk mengantarnya ke UKS.

Ia hadir di panggung Pensi meski hanya bertugas menarik kabel di belakang tirai.

Ia hadir ketika teman-temannya tertawa.

Ia hadir ketika mereka bertengkar.

Ia hadir ketika dirinya sendiri takut.

Dan yang paling penting, ia tidak lagi menunggu kalimat sempurna sebelum membuka mulut.

Kadang-kadang kata-katanya masih bodoh.

Kadang-kadang leluconnya garing.

Kadang-kadang Rara menatapnya seperti ingin melemparkannya ke sungai.

Tapi Arvin akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah ia pahami selama dua puluh enam tahun hidupnya.

Manusia tidak membutuhkan dialog sempurna.

Mereka hanya membutuhkan keberanian untuk mengatakan sesuatu sebelum kesempatan itu hilang.


Hari kelulusan tiba.

Juni 2016.

Halaman SMA Negeri 3 dipenuhi seragam putih abu-abu yang penuh coretan spidol. Ada suara tawa, tangisan, teriakan, kamera ponsel, dan janji-janji remaja yang sebagian besar mungkin tidak akan pernah ditepati.

Arvin berdiri di bawah pohon mangga dekat lapangan basket sambil memegang dua gelas es teh.

Rambutnya kini pendek dan rapi. Tubuhnya sedikit lebih berisi dibanding tiga tahun lalu. Cara berdirinya pun berubah. Bahunya tidak lagi melengkung ke dalam seperti seseorang yang mencoba meminta maaf karena keberadaannya.

Di sampingnya, Rara sedang memeriksa hasil coretan di punggung seragam Arvin.

"Kamu sadar nggak sih semua orang nulis pesan normal?"

Rara menunjuk tulisan besar milik Dimas.

JANGAN LUPA ASURANSI GUE NANTI.

Di bawahnya ada tulisan Kak Bima yang datang khusus menghadiri kelulusan mereka.

JANGAN JADI BENALU MASYARAKAT.

Dan tepat di dekat kerah, tulisan tangan Rara berbunyi:

JANGAN BALIK JADI NPC.

Arvin tersenyum.

"Bagus. Berarti personal branding gue berhasil."

Rara memutar bola mata.

"Arvin."

"Hm?"

"Setelah ini kamu beneran jadi berangkat kuliah ke Bandung?"

Arvin mengangguk.

"Kalau keterima daftar ulang."

Rara memandang gelas es teh di tangannya.

"Aku di Jogja."

"Iya."

"Jauh."

"Lumayan."

Hening beberapa detik.

Tiga tahun lalu, Arvin pasti akan mencari topik lain.

Cuaca.

Ujian.

Harga batagor.

Apa pun yang bisa menyelamatkannya dari pembicaraan berbahaya.

Sekarang ia hanya menarik napas.

"Ra."

Rara menoleh.

"Gue bakal kangen."

Mata Rara membesar sedikit.

Arvin tersenyum.

"Nah. Gue udah bilang. Nggak mati, kan?"

Rara tertawa kecil.

"Belum."

Ia mengangkat dagunya sedikit.

"Aku juga bakal kangen."

Tidak ada petir.

Tidak ada musik orkestra.

Tidak ada siswa lain yang tiba-tiba melempar bunga.

Hanya dua remaja yang berdiri di bawah pohon mangga, mengatakan sesuatu yang seharusnya memang dikatakan.

Dan bagi Arvin, itu lebih dari cukup.


Malamnya, rumah bercat hijau telur asin dipenuhi aroma sup ayam.

Ibu sedang sibuk membungkus makanan untuk tetangga.

Kondisi jantungnya jauh lebih stabil.

Ia rutin minum obat.

Rutin kontrol.

Bahkan kini ia memiliki kebiasaan berjalan kaki tiga puluh menit setiap pagi bersama kelompok ibu-ibu kompleks yang lebih banyak bergosip daripada olahraga.

Arvin duduk di meja makan, memperhatikan Ibunya dari belakang.

Ada lebih banyak uban di rambut wanita itu.

Ada garis-garis halus di wajahnya.

Tapi ia hidup.

Ia benar-benar hidup.

"Kenapa lihat-lihat Ibu terus?" tegur Ibu tanpa menoleh. "Mau minta uang?"

"Nggak."

"Mau minta motor?"

"Nggak."

"Mau bilang Rara hamil?"

Arvin tersedak air.

"BU!"

Ibu tertawa terbahak-bahak.

"Bercanda!"

"Humor Ibu makin mengerikan sejak sehat."

Ibu duduk di seberangnya.

"Terus kenapa?"

Arvin diam.

Tiga tahun lalu, setiap melihat wajah itu, ada rasa takut yang luar biasa.

Takut waktu akan mengambilnya lagi.

Takut perubahan ini hanya sementara.

Takut suatu pagi ia akan bangun dan mendapati semuanya kembali seperti semula.

Namun rasa takut itu perlahan hilang.

Digantikan rasa syukur.

Arvin mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Ibunya.

"Terima kasih ya, Bu."

Ibu mengerutkan dahi.

"Terima kasih apaan?"

"Semua."

Ibu mencibir kecil.

"Anak aneh."

Arvin tertawa.

"Iya."

Lalu ia mengucapkan kalimat yang kini tidak lagi terasa sulit.

"Arvin sayang Ibu."

Ibu terdiam.

Meski sudah mendengarnya berkali-kali selama tiga tahun terakhir, kalimat itu masih selalu membuat wanita tersebut salah tingkah.

"Iya, iya."

Ibu menepuk tangan Arvin.

"Ibu juga sayang kamu."

Dan untuk sesaat, dunia terasa sempurna.

Sampai suara itu muncul.

TING.

Arvin membeku.

Sudah hampir satu tahun Sistem Rekam Masa tidak memberinya misi.

Tidak ada teks hijau.

Tidak ada ancaman kebotakan.

Tidak ada sengatan raket nyamuk.

Namun suara itu tidak mungkin salah.

Arvin berdiri perlahan.

"Ibu..."

"Hm?"

"Aku ke kamar sebentar."


Log Sistem Rekam Masa tergeletak di atas kasurnya.

Buku itu sudah lama tidak dibuka.

Sampul kulit hitamnya kini penuh goresan, sudut-sudutnya menumpul, tetapi huruf perak di permukaannya masih terbaca.

LOG SISTEM REKAM MASA
HOST: ARVIN

Arvin membuka halaman terakhir.

Tinta muncul perlahan.

MISI UTAMA SELESAI.

Status Entitas:
Ibu Rina — HIDUP.
Rara — STABIL.
Hubungan Sosial — TIDAK MEMALUKAN.
Host — Lumayan layak disebut manusia.

Arvin tersenyum.

"Terima kasih atas pujiannya."

Tulisan berikutnya muncul.

MASA PEMINJAMAN TELAH BERAKHIR.

Senyum Arvin lenyap.

"Apa?"

Huruf-huruf terus muncul.

Kesadaran Host akan dikembalikan ke titik asal dalam 60 detik.

Arvin menatap halaman itu tanpa berkedip.

Darahnya terasa dingin.

"Enggak."

Ia membalik halaman.

Kosong.

"Enggak, enggak, enggak."

Ia kembali ke halaman terakhir.




"Tunggu!"

Arvin berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

"Ibu!"

Ia berlari keluar kamar.

"Ibu!"

Wanita itu muncul dari dapur.

"Ada apa lagi?!"

Arvin menghantam tubuh Ibunya dengan pelukan.

"Eh! Vin!"

Arvin memeluknya sekuat tenaga.

"Tolong..."

Air matanya langsung jatuh.

"Tolong jangan hilang."

Ibu panik.

"Kamu kenapa lagi sih?!"

Arvin tidak menjawab.




Ia menatap wajah Ibunya.

Menghafalnya.

Setiap kerutan.

Setiap helai uban.

Setiap detail kecil yang selama sepuluh tahun pertama hidupnya tidak pernah ia perhatikan.

"Ibu."

"Ya?"

"Arvin sayang Ibu."

Wajah Ibu melembut.

"Ibu juga sayang kamu."



Arvin berlari keluar rumah.

"RARA!"

Ia mengambil ponselnya.

Tangannya gemetar hebat saat menekan nomor.

Sambungan masuk.

"Vin?"

Suara Rara.

"Ra."

"Kenapa? Suaramu kok—"

"Gue cuma mau bilang..."

Arvin terisak.

"Makasih."

"Hah?"

"Makasih udah jadi temen gue."

"Arvin, kamu kenapa?"

"Makasih udah sering marahin gue."

"Vin—"

"Dan..."

Arvin tertawa di sela tangis.

"Gue suka sama lo."

Hening.



Dari ujung telepon terdengar suara Rara yang gemetar.

"Kamu baru berani bilang sekarang, goblok?"

Arvin tertawa.

"Iya."

"Aku juga suka sama kamu."


Arvin menutup mata.




Ia menatap Ibunya yang berdiri di ambang pintu.



"Bu."


Ibu tersenyum.


"Jangan takut."


Arvin menangis.



Gelap.


BRAAAK!

Arvin terbangun dengan kepala menghantam meja.

"Aduh!"

Napasnya memburu.

Tangannya langsung meraba-raba tubuhnya.

Bukan seragam SMA.

Kaos hitam lusuh.

Celana pendek.

Tangannya kembali besar.

Kasar.

Berusia dua puluh enam tahun.

Arvin perlahan mengangkat kepala.

Ruangan kos sempit.

Bau obat nyamuk.

Mangkuk mi instan rasa soto.

Laptop menyala.

Jam digital di layar menunjukkan:

23.48
11 Maret 2023

Arvin tidak bergerak.

Tidak bernapas.

Tidak berkedip.

Di meja masih ada bingkai kayu kecil.

Foto Ibu.

Foto yang sama.

Arvin meraihnya dengan tangan gemetar.

"Ibu?"

Tidak ada jawaban.

Ia membuka ponsel.

Galeri.

Foto.

Percakapan.

Kontak.

Tidak ada Rara.

Tidak ada Kak Bima.

Tidak ada tiga tahun kehidupan baru itu.

Arvin membuka media sosial.

Mencari nama Rara.

Profilnya masih sama seperti yang ia ingat sebelum perjalanan itu.

Mereka tidak saling mengikuti.

Tidak pernah berteman dekat.

Tidak pernah makan batagor bersama.

Tidak pernah ke tukang cukur bersama.

Tidak pernah berpelukan di ruang OSIS.

Arvin mencari Dimas.

Sama.

Kak Bima.

Sama.

Sekolah.

Sama.

Tidak ada yang berubah.

Arvin menatap kalender.

Lalu foto Ibunya.

Tanggal kematian di belakang bingkai tetap sama.

25 September 2013.

Enam bulan setelah hari yang tadi baru saja ia jalani selama tiga tahun.

Arvin merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.

Ia merosot ke lantai.

"Enggak..."

Suara itu keluar kecil.

"Enggak..."

Ia memukul lantai.

"ENGGAK!"

Air mata tumpah.

"Katanya gue berhasil!"

Ia meraih laptop.

"Katanya gue nyelametin Ibu!"

Tidak ada rekammasa.ai.

Tidak ada email.

Tidak ada tombol Rekam Ulang.

Arvin membuka folder Spam.

Kosong.

Ia mencari browser history.

Tidak ada.

Seolah semua itu tidak pernah terjadi.

Kemudian ia melihat sesuatu di atas kasur.

Buku kulit imitasi.

Arsip Tragedi Verbal Arvin Volume 14.

Dengan tangan gemetar, Arvin membukanya.

Semua tulisan lamanya masih ada.

Dialog kasir.

Dialog tetangga.

Dialog teman kantor.

Semua kegagalan kecilnya.

Namun di halaman terakhir terdapat tulisan yang bukan miliknya.

Tinta hitam.

Selamat datang kembali, Penonton.

Arvin menahan napas.

Tulisan baru muncul.

Klarifikasi teknis yang mungkin seharusnya kami jelaskan sejak awal:

Perjalanan waktu tidak mengubah timeline asal.

Prinsip konservasi kausalitas melarang rekaman lama ditimpa.

Sistem hanya membuat cabang baru.

Arvin membaca kalimat itu berulang kali.

Cabang baru.

Tulisan berlanjut.

Di suatu garis waktu lain:

Ibu Rina masih hidup.

Rara tidak kehilangan masa depannya.

Seorang Arvin berusia sembilan belas tahun sedang mempersiapkan kuliah sambil terlalu sering menelepon pacarnya di Jogja.

Dan ia tidak tahu bahwa semua itu terjadi karena seorang pria dua puluh enam tahun dari garis waktu lain pernah meminjam tubuhnya selama tiga tahun.

Air mata Arvin kembali mengalir.

"Jadi..."

Bibirnya bergetar.

"Gue cuma nyelametin Arvin yang lain?"

Jawaban muncul.

Benar.

Arvin tertawa getir.

"Brengsek."

Tulisan muncul lagi.

Bahasa kasar terdeteksi.

"Brengsek."

Sistem tidak menanggapi.

Arvin menutup wajahnya.

Tangisnya pecah.

Semua rasa kehilangan yang sempat hilang selama tiga tahun menghantamnya sekaligus.

Ibu tetap meninggal.

Ia tetap sendirian.

Tidak ada Rara.

Tidak ada rumah hijau dengan sup ayam.

Tidak ada kehidupan kedua.

Tidak ada akhir bahagia untuk dirinya.

"Terus buat apa?"

Arvin menatap buku itu dengan marah.

"BUAT APA KALIAN KIRIM GUE KE SANA?!"

Tinta bergerak perlahan.

Pertanyaan awal Anda:

"Kalau saja aku bisa ulang semuanya."

Kami tidak pernah menjanjikan Anda bisa menghapus semuanya.

Kami hanya memberi Anda kesempatan melihat apa yang akan terjadi jika, sekali saja, Anda berhenti menjadi penonton.

Arvin terdiam.

Tulisan terus muncul.

Anda menyelamatkan Ibu Rina di garis waktu lain.

Anda menyelamatkan Rara.

Anda mengubah hidup Arvin yang lain.

Tapi itu bukan tujuan sebenarnya.

Arvin menatap halaman itu.

Kalimat terakhir muncul.

Tujuan sebenarnya adalah membuktikan bahwa orang yang Anda anggap tidak bisa berubah...

bisa.

Arvin menutup mulutnya.

Dadanya terasa sesak.

Sistem melanjutkan.

Anda selalu berkata:

"Kalau Ibu masih hidup, saya pasti berbeda."

Sekarang Anda tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Keberanian itu datang dari Anda.

Kebaikan itu datang dari Anda.

Kemampuan berbicara itu datang dari Anda.

Keputusan untuk hadir itu datang dari Anda.

Ibu Anda memberi Anda alasan.

Tetapi Anda sendiri yang berjalan.

Air mata menetes ke halaman buku.

Arvin menatap pantulan dirinya di layar laptop.

Rambut berantakan.

Kantung mata.

Bahunya membungkuk.

Masih sama.

Tapi ia tidak merasa sedang melihat orang yang sama.

Tulisan terakhir muncul.

Timeline ini tidak bisa direkam ulang.

Tapi bagian selanjutnya belum direkam.

Jangan sia-siakan.

Selamat tinggal, Arvin.

Dan satu hal lagi:

Besok kembalikan uang dua ribu milik kasir minimarket.

Itu bukan tip.

Tulisan menghilang.

Semua halaman buku kembali menjadi kosong.

Arvin menatapnya lama.

Lalu ia tertawa.

Kecil.

Serak.

Tetapi sungguhan.


Keesokan paginya, Arvin berdiri di depan minimarket.

Pintu kaca yang kemarin ia tabrak masih memiliki bekas telapak dahinya.

Ia menarik napas.

Masuk.

TING TONG.

Kasir yang sama berdiri di belakang meja.

Perempuan itu langsung mengenalinya.

"Oh, Mas yang kemarin—"

"Yang nabrak pintu."

Kasir itu menahan tawa.

"Iya."

Arvin berjalan mendekati meja.

Jantungnya berdebar.

Telapak tangannya berkeringat.

Tidak ada Sistem Rekam Masa.

Tidak ada sengatan listrik.

Tidak ada ancaman kebotakan.

Tidak ada yang memaksanya bicara.

Ia bisa pergi.

Ia bisa menunduk.

Ia bisa kembali menjadi NPC.

Arvin mengambil uang dua ribu rupiah dari sakunya.

"Kemarin kembalian saya ketinggalan."

Kasir tertawa.

"Kirain sengaja dikasih tips."

Arvin ikut tertawa.

"Dua ribu terlalu murah buat tips habis bikin Mbaknya hampir manggil tukang kaca."

Kasir itu terkekeh.

Arvin merasa gugup.

Sangat gugup.

Namun kali ini ia tidak mencari dialog brilian.

Ia tidak mencari kalimat menohok.

Ia hanya bicara.

"Oh iya..."

"Hm?"

"Nama Mbak siapa?"

Kasir itu sedikit terkejut.

"Sinta."

Arvin mengangguk.

"Saya Arvin."

"Saya tahu. Namanya ada di kartu debit kemarin."

Arvin memejamkan mata sebentar.

"Oke. Pembukaan saya gagal total."

Sinta tertawa.

Aneh.

Dunia tidak runtuh.

Tidak ada yang mengejek.

Tidak ada sirene.

Tidak ada bencana nasional.

Arvin tersenyum.

"Ya udah. Sampai ketemu lagi, Mbak Sinta."

"Sampai ketemu, Mas Arvin."

Arvin berjalan keluar.

Untuk pertama kalinya, ia melewati pintu kaca tanpa menabraknya.


Sore harinya, Arvin pergi ke pemakaman.

Ia membawa bunga sederhana.

Tidak ada hujan.

Tidak ada musik sedih.

Hanya suara burung dan angin yang menggerakkan rumput.

Arvin duduk di depan makam Ibunya.

Lama.

"Bu."

Ia tersenyum kecil.

"Arvin kemarin mimpi panjang banget."

Arvin menceritakan semuanya.

Tentang rumah sakit.

Tentang obat.

Tentang sup hambar.

Tentang Rara.

Tentang batagor.

Tentang rambutnya yang pernah masuk bumbu kacang.

Tentang Kak Bima.

Tentang kelulusan.

Tentang tiga tahun yang tidak pernah terjadi di dunia ini.

Arvin tertawa dan menangis bergantian.

"Di sana Ibu sehat."

Ia mengusap batu nisan.

"Ibu cerewet banget."

Angin berembus.

"Dan Arvin seneng."

Ia menunduk.

"Dulu Arvin selalu mikir hidup Arvin berhenti waktu Ibu pergi."

Air matanya jatuh.

"Tapi mungkin..."

Ia menarik napas panjang.

"Mungkin itu bukan yang Ibu mau."

Tidak ada suara menjawab.

Namun untuk pertama kalinya, Arvin tidak membutuhkan jawaban.

"Arvin sayang Ibu."

Kalimat itu keluar dengan mudah.

Tidak ada rasa malu.

Tidak ada penyesalan.

Hanya kasih sayang.

"Terima kasih."

Arvin berdiri.

Membersihkan celananya.

Lalu menatap makam itu untuk terakhir kali.

"Arvin pulang dulu."

Ia tersenyum.

"Besok harus kerja."


Beberapa bulan kemudian.

Arsip Tragedi Verbal Arvin Volume 14 sudah tidak berada di bawah kasur.

Buku itu kini berdiri di rak.

Di sebelahnya ada sebuah buku baru.

Sampulnya masih kulit imitasi.

Namun judulnya berbeda.

ARSIP KEJADIAN YANG BENAR-BENAR GUE LAKUKAN
VOLUME 1

Halaman pertamanya berisi:

12 Maret.

Mengembalikan uang dua ribu ke kasir.

Berhasil ngobrol normal selama dua menit.

Tidak terdengar seperti lumba-lumba tersedak.

Progress.

Halaman kedua:

15 Maret.

Makan siang bareng teman kantor.

Tidak pura-pura sibuk lihat HP.

Lumayan.

Halaman ketiga:

20 Maret.

Telepon teman SMA lama.

Canggung.

Tapi ternyata masih bisa ngobrol.

Halaman keempat:

2 April.

Daftar kelas public speaking.

Hampir kabur.

Tidak jadi.

Halaman kelima:

17 April.

Pergi ke makam Ibu.

Bilang kangen.

Tidak menunggu mesin waktu untuk mengatakannya.

Di halaman terakhir, Arvin menulis satu kalimat besar.

Hidup tidak bisa direkam ulang.

Tapi selama kamera masih menyala, adegan berikutnya masih bisa diperbaiki.

Arvin menutup buku.

Laptop di depannya menyala.

Ada pesan baru dari seorang teman kantor.

Bro, malam ini nongkrong ikut nggak?

Jari Arvin berhenti di atas keyboard.

Dulu, ia akan mengetik:

Kayaknya nggak bisa. Ada kerjaan.

Kemudian ia akan menghapusnya.

Menulis alasan lain.

Menghapus lagi.

Lalu tidak membalas sama sekali.

Kali ini, Arvin mengetik dua kata.

Gue ikut.

Send.

Ia berdiri, mengambil jaket, lalu memandang sebentar bingkai foto Ibunya di meja.

Wanita itu masih tersenyum sama seperti sebelumnya.

Timeline ini memang tidak berubah.

Ibunya tetap pergi.

Masa lalunya tetap penuh penyesalan.

Rara di dunia ini mungkin bahkan tidak mengingatnya.

Tidak ada satu pun keajaiban yang memperbaiki apa yang telah terjadi.

Namun Arvin akhirnya memahami bahwa melanjutkan hidup bukan berarti mengkhianati orang yang telah pergi.

Melanjutkan hidup adalah membawa bagian terbaik dari mereka ke adegan berikutnya.

Arvin mematikan lampu kamar.

Menutup pintu.

Dan pergi.

Tidak ada portal cahaya.

Tidak ada sistem.

Tidak ada misi.

Tidak ada ancaman sengatan listrik.

Untuk pertama kalinya, Arvin mengambil langkah ke depan tanpa perlu dipaksa siapa pun.

Karena kini ia tahu—

dirinya tidak membutuhkan kesempatan kedua untuk mulai hidup.

Ia hanya membutuhkan keberanian menggunakan kesempatan yang masih tersisa.

Dan kali ini,

Arvin tidak lagi menjadi penonton.

TAMAT.