Chapter 7 — Pulang Hujan
Hujan turun tepat ketika bel pulang berbunyi.
Bukan hujan rintik yang bisa dilawan dengan tas di atas kepala dan keyakinan palsu bahwa rambut akan tetap aman. Bukan juga hujan badai yang dramatis seperti adegan film ketika tokoh utama habis patah hati.
Hujan itu hujan yang menyebalkan.
Cukup deras untuk membuat semua orang batal pulang cepat, tapi tidak cukup deras untuk membuat sekolah mengizinkan siswa berteduh sambil merasa puitis.
Langit di atas SMA Garuda Bhakti berubah abu-abu. Air jatuh deras dari atap koridor. Lapangan yang tadi siang berdebu mulai basah dan mengilap. Beberapa siswa berlari ke gerbang sambil menjerit, beberapa pasrah duduk di tangga, beberapa menelepon orang tua dengan suara memelas.
Di kelas XI-2, suasana tidak kalah kacau.
“Payung gue hilang,” kata Jalu sambil membongkar tasnya.
Manda, yang sedang memasukkan buku ke dalam tas, menoleh.
“Lu pernah punya payung?”
“Punya.”
“Payung yang mana?”
“Yang hitam.”
“Lu, semua payung kalau hilang mendadak jadi hitam.”
Jalu menatapnya serius.
“Payung itu penting buat perjalanan hidup gue.”
Tara, yang duduk di meja depan sambil melihat aplikasi cuaca, tertawa.
“Aplikasi bilang hujan berhenti jam lima.”
Jalu langsung lemas.
“Jam lima? Aku sudah lapar jam empat.”
Kirana berdiri di dekat jendela, menatap hujan dengan wajah yang makin lama makin tegang. Di mejanya, buku catatan festival sudah masuk tas. Buku kas juga aman. Tapi ada satu hal yang tidak aman.
Ia tidak membawa payung.
Biasanya Kirana membawa semua hal yang mungkin diperlukan manusia di sekolah: pulpen cadangan, stabilo, tisu, plester, permen mint, kalkulator kecil, flashdisk, bahkan peniti. Tapi hari itu, karena pagi terlalu cerah dan ia terburu-buru mengejar Jalu yang belum bayar kas, ia lupa membawa payung.
Kesalahan kecil.
Tapi Kirana benci kesalahan kecil yang sebenarnya bisa dicegah.
Manda menyadari wajah Kirana.
“Ra, kamu nggak bawa payung?”
Kirana menggeleng pelan.
“Aku kira nggak hujan.”
Jalu menunjuk jendela.
“Langit mengkhianati kita semua.”
Kirana menatapnya.
“Kamu tidak membantu.”
“Saya sedang membangun solidaritas penderitaan.”
Tara memasukkan ponselnya ke tas.
“Aku dijemput kakakku, tapi masih setengah jam lagi. Ra, kamu bisa ikut mobilku nanti kalau mau.”
Kirana berpikir sebentar.
“Rumahku beda arah jauh.”
“Ya sudah, nanti turun di depan sekolah dulu, terus—”
“Ribet, Tar. Nggak apa-apa. Aku tunggu hujan reda.”
Manda mengangkat tangan.
“Aku punya jas hujan.”
Kirana sedikit lega.
“Serius?”
Manda mengeluarkan sesuatu dari tas.
Jas hujan plastik warna kuning neon yang terlihat seperti pernah mengalami banyak penderitaan.
“Tapi cuma satu.”
Jalu langsung menunjuknya.
“Itu punyaku.”
Manda menoleh tajam.
“Ini punyaku.”
“Punyaku hilang tadi.”
“Jadi semua jas hujan di dunia otomatis punya kamu?”
“Yang kuning itu mirip.”
“Lu bahkan tadi bilang payungmu hitam.”
“Manusia boleh punya banyak properti.”
Bima Arkananta, yang sejak tadi duduk diam sambil mengecek baterai kameranya, mengangkat kepala.
“Aku bawa payung.”
Semua menoleh.
Jalu menatapnya seperti melihat pahlawan.
“Bim.”
Bima menatap balik.
“Tidak.”
“Aku belum minta.”
“Wajahmu sudah.”
Manda tertawa.
Kirana menoleh ke Bima.
“Kamu pulang lewat gerbang depan?”
Bima mengangguk.
“Iya.”
“Rumahmu arah mana?”
“Lewat halte depan.”
Kirana sedikit ragu.
Bima memasukkan kamera ke tas, lalu mengambil payung lipat hitam dari saku samping.
“Aku bisa antar sampai gerbang depan.”
Kirana membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Manda langsung mengangkat alis.
Tara melirik Kirana.
Jalu membuka mulut dengan wajah siap berkomentar.
Kirana menunjuk Jalu sebelum ia sempat bicara.
“Jangan.”
Jalu mengangkat kedua tangan.
“Saya belum mengatakan apa pun.”
“Kamu akan.”
“Ketua kelas melakukan kriminalisasi niat.”
Bima berdiri.
“Kalau mau.”
Kirana menatap hujan di luar, lalu payung di tangan Bima.
Gerbang depan sebenarnya tidak jauh. Tapi hujan deras, dan ia membawa beberapa buku yang tidak boleh basah. Menolak hanya karena merasa canggung akan sangat tidak praktis.
Kirana tidak suka tidak praktis.
Jadi ia mengangguk.
“Oke. Terima kasih.”
Tara tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajah di balik tas.
Manda menatap mereka berdua, lalu menatap hujan, lalu tiba-tiba berkata terlalu ceria, “Nah, bagus. Kirana selamat. Tinggal nasib rakyat kecil seperti kami.”
Jalu mengangkat tangan.
“Aku rakyat kecil.”
“Kamu rakyat boros.”
“Aku lapar, Man.”
“Kamu selalu lapar.”
Bima membuka payung di depan pintu kelas.
Payung itu tidak terlalu besar.
Cukup untuk dua orang kalau mereka berjalan agak dekat.
Kirana melihat payung itu, lalu merasakan sesuatu yang menyebalkan muncul di dadanya.
Bukan perasaan besar.
Bukan sesuatu yang bisa dinamai dengan percaya diri.
Hanya kesadaran kecil bahwa berjalan berdua di bawah payung yang sama terdengar seperti adegan yang biasanya ia anggap terlalu dilebih-lebihkan di drama sekolah.
Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu.
Ini cuma hujan.
Ini cuma payung.
Ini cuma Bima mengantar sampai gerbang.
Tidak perlu ada interpretasi lain.
“Ra,” panggil Tara.
Kirana menoleh.
“Hati-hati.”
Nada Tara biasa saja.
Tapi senyumnya tidak biasa.
Kirana langsung tahu Tara sedang menahan godaan untuk berkata “cie”.
“Jangan mulai,” kata Kirana.
Tara mengangkat tangan.
“Aku nggak bilang apa-apa.”
Manda menyandarkan siku ke meja.
“Tenang, Ra. Bantuan logistik bukan indikasi romantis.”
Kirana langsung merasakan wajahnya panas.
“Manda.”
“Apa? Itu kutipan dari aku sendiri.”
Bima menatap Manda.
“Kamu sering mengutip diri sendiri?”
Manda mengangguk bangga.
“Karena tidak ada orang lain yang cukup bijak melakukannya.”
Jalu bertepuk tangan pelan.
“Luar biasa.”
Kirana tidak mau memberi ruang lebih lama untuk komentar mereka.
“Ayo, Bim.”
Bima mengangguk.
Mereka keluar kelas.
Di belakang, suara Jalu terdengar samar.
“Kalau payungnya kecil, itu bukan salah cuaca, itu takdir naratif.”
Lalu disusul suara Manda.
“Lu diam sebelum aku pakaikan jas hujan ini ke kepala kamu.”
Koridor sekolah penuh siswa yang menunggu hujan reda.
Beberapa duduk di lantai sambil main ponsel. Beberapa berdiri bergerombol di dekat tangga. Ada yang melepas sepatu karena sudah telanjur basah. Ada yang mencoba berlari menembus hujan lalu kembali lagi dengan wajah menyesal.
Bima berjalan di sisi luar, memegang payung sedikit lebih tinggi.
Kirana berjalan di sebelahnya, memeluk tas di depan dada supaya buku-bukunya aman.
Begitu mereka keluar dari koridor menuju jalur terbuka ke gerbang, suara hujan langsung membesar.
Air menghantam payung dengan ritme cepat.
Dunia di sekitar mereka menjadi kabur.
Lapangan, pohon, motor di parkiran, semuanya terlihat seperti dilapisi tirai air.
Kirana menatap jalan setapak yang mulai tergenang.
“Hati-hati,” kata Bima.
Kirana mengangguk.
Mereka berjalan pelan.
Awalnya, Kirana berusaha menjaga jarak sewajar mungkin.
Tapi payung itu memang tidak besar.
Setiap kali ia sedikit menjauh, bahunya terkena cipratan hujan. Setiap kali Bima memiringkan payung ke arahnya, bahu Bima yang terkena.
Kirana menyadarinya setelah beberapa langkah.
“Bim.”
“Hm?”
“Payungnya miring.”
“Iya.”
“Kamu kehujanan.”
“Sedikit.”
Kirana menatap bahu kanan Bima.
Bagian seragamnya sudah basah cukup jelas.
“Itu bukan sedikit. Itu bahumu sudah jadi daerah rawan banjir.”
Bima melihat bahunya sebentar.
“Masih bisa dipakai.”
“Bahumu?”
“Seragam.”
Kirana menahan senyum.
“Jawabanmu kadang bikin orang bingung mau marah atau ketawa.”
“Biasanya yang mana?”
“Keduanya.”
Bima mengangguk.
“Efisien.”
Kirana tertawa kecil.
Suara tawanya hampir tenggelam oleh hujan.
Tapi Bima mendengarnya.
Dan Kirana sadar Bima mendengarnya, karena sudut bibir cowok itu bergerak sedikit.
Kirana menunduk cepat, pura-pura memperhatikan jalan.
Di depan mereka, gerbang sekolah masih beberapa meter lagi. Satpam berdiri di pos sambil membantu siswa menyeberang. Di luar gerbang, beberapa motor ojek online berjejer. Mobil-mobil orang tua berhenti sebentar, menaikkan anak, lalu pergi.
Kirana harusnya fokus pada itu.
Pada jalan becek.
Pada buku-bukunya.
Pada bagaimana nanti ia pulang dari gerbang.
Tapi pikirannya justru sibuk mencatat hal-hal kecil yang tidak penting.
Cara Bima memegang payung.
Cara langkahnya melambat ketika Kirana hampir menginjak genangan.
Cara ia tidak banyak bicara, tapi tidak membuat suasana terasa kosong.
Cara bahunya basah karena payung itu lebih banyak melindungi Kirana.
“Kamu selalu bawa payung?” tanya Kirana.
“Kalau musim hujan.”
“Praktis.”
“Iya.”
“Tumben aku kalah siap.”
Bima menoleh sedikit.
“Kamu nggak harus selalu siap.”
Kirana diam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi seperti biasa, kalimat sederhana dari Bima kadang mendarat di tempat yang tidak ia duga.
Kirana memeluk tasnya lebih erat.
“Kalau aku nggak siap, biasanya semuanya berantakan.”
“Tidak selalu.”
“Kamu belum lihat XI-2 tanpa aku.”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu kamu sakit dua hari.”
Kirana menoleh.
“Kelas berantakan, kan?”
Bima berpikir sebentar.
“Jalu hampir jadi ketua kelas sementara.”
Kirana berhenti berjalan setengah detik.
“Apa?”
“Tidak jadi.”
“Siapa yang mencegah?”
“Manda.”
Kirana menghela napas lega.
“Untung.”
“Dia bilang kalau Jalu jadi ketua kelas, besok kita semua masuk sekolah pakai kostum bebas.”
Kirana memejamkan mata.
“Itu mungkin benar terjadi.”
“Iya.”
Mereka berjalan lagi.
Kirana tersenyum kecil.
Aneh.
Biasanya, kalau ia membayangkan kelas berjalan tanpa dirinya, ia merasa harus segera kembali, harus memastikan semuanya terkendali, harus memegang catatan dan daftar hadir dan buku kas. Tapi mendengar Bima menceritakannya dengan datar membuat kekhawatiran itu terasa sedikit lucu.
Sedikit lebih ringan.
Di dekat parkiran motor, hujan turun makin deras. Beberapa siswa berteriak sambil berlari. Air memantul dari aspal.
Bima otomatis memiringkan payung lagi ke arah Kirana.
Kirana melihat bahunya semakin basah.
“Bim, serius. Payungnya tengahin.”
“Sudah.”
“Belum.”
“Kalau tengah, tas kamu kena.”
“Seragam kamu basah.”
“Nanti kering.”
“Kamu bisa sakit.”
“Tidak apa-apa.”
Kirana menatapnya.
“Kenapa kamu selalu bilang nggak apa-apa?”
Bima tidak langsung menjawab.
Hujan mengisi jeda di antara mereka.
Lalu Bima berkata, “Karena biasanya memang nggak apa-apa.”
“Kalau nggak?”
“Ya nanti dipikir.”
Kirana menggeleng pelan.
“Kamu terlalu santai.”
“Kamu terlalu tegang.”
Kirana ingin membantah.
Tapi ia tidak bisa.
Karena mungkin benar.
Mungkin ia memang terlalu tegang.
Terlalu sibuk memastikan semuanya pada tempatnya.
Terlalu takut kalau sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Dan mungkin itulah sebabnya berada di dekat Bima terasa aneh.
Bima tidak membuat semua hal rapi.
Ia bukan seperti Kirana.
Ia tidak punya daftar panjang dan catatan detail untuk setiap kemungkinan.
Tapi Bima membuat sesuatu yang berantakan terasa tidak perlu langsung dibereskan saat itu juga.
Kadang cukup diam.
Kadang cukup berjalan pelan di bawah hujan.
Kadang cukup membiarkan bahu sendiri basah supaya orang lain tetap kering.
Mereka hampir sampai gerbang ketika suara teriakan terdengar dari arah belakang.
“JALU, JAS HUJANNYA NYANGKUT!”
Kirana dan Bima sama-sama berhenti.
Suara itu jelas suara Manda.
Kirana menoleh ke belakang.
Di kejauhan, dekat pagar samping parkiran, Manda dan Jalu tampak sedang mengalami tragedi kecil.
Jalu memakai jas hujan kuning neon milik Manda, tapi bagian belakangnya tersangkut di ujung pagar. Ia mencoba maju, sementara Manda menarik jas hujan itu ke arah sebaliknya. Hasilnya, Jalu terlihat seperti layangan gagal terbang.
Tara berdiri di bawah koridor, tertawa sambil memegang ponsel, kemungkinan besar merekam.
Kirana menutup mulut.
“Ya ampun.”
Bima juga menoleh.
Untuk beberapa detik, wajahnya tetap datar.
Lalu sudut bibirnya naik.
Kecil.
Hampir tak terlihat.
Tapi Kirana melihat.
Ia juga melihat hal lain.
Bima tidak hanya melihat kejadian itu karena lucu.
Tatapannya berhenti pada Manda.
Lebih tepatnya, pada cara Manda berdiri di bawah hujan tanpa benar-benar peduli bahwa rambutnya mulai basah. Pada cara Manda tertawa sambil tetap mencoba membantu Jalu. Pada cara Manda tampak kacau, ribut, dan hidup.
Kirana melihat Bima melihat Manda.
Tapi saat itu, ia belum tahu harus menamai apa pandangan itu.
Mungkin hanya karena Manda memang menarik perhatian.
Mungkin karena adegannya lucu.
Mungkin karena siapa pun akan melihat Manda kalau Manda sedang berteriak di tengah hujan sambil menyelamatkan Jalu dari pagar.
Kirana tidak ingin berpikir lebih jauh.
“Harus kita bantu?” tanyanya.
Bima masih melihat ke belakang.
“Manda bisa.”
“Kamu yakin?”
Bima mengangguk.
“Dia lebih kuat dari Jalu.”
Kirana tertawa.
Di kejauhan, Manda akhirnya berhasil melepaskan jas hujan dari pagar. Jalu hampir jatuh, lalu Manda menarik kerah jas hujannya agar ia tidak tersungkur. Tara bertepuk tangan dari koridor.
Bima baru kembali menghadap depan setelah memastikan mereka baik-baik saja.
Kirana menyadarinya.
Tapi ia menyimpan kesadaran itu diam-diam.
Mereka melanjutkan langkah ke gerbang.
Di pos satpam, Bima menutup payung sedikit agar tidak mengganggu siswa lain yang lewat.
Kirana berhenti di bawah atap kecil dekat pos.
“Terima kasih. Aku tunggu ojek di sini aja.”
Bima mengangguk.
“Hati-hati.”
“Kamu juga. Bahumu basah banget.”
“Nanti kering.”
“Kamu sudah bilang itu.”
“Masih benar.”
Kirana menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Bima.”
“Hm?”
“Kamu kalau membantu orang, bisa nggak sambil terlihat sedikit peduli pada diri sendiri?”
Bima berpikir sebentar.
“Sulit.”
Kirana tertawa.
Lebih lepas dari yang ia rencanakan.
Bima menatapnya sejenak.
Lalu ia mengangguk.
“Aku duluan.”
“Iya. Makasih.”
Bima membuka payung lagi dan berjalan keluar gerbang menuju halte.
Kirana memperhatikannya beberapa detik.
Bahu kanannya benar-benar basah.
Langkahnya tetap santai.
Payung hitamnya bergerak di antara hujan dan keramaian depan sekolah.
Kirana mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek, tapi jarinya berhenti di layar.
Ia teringat kalimat Bima.
Kamu nggak harus selalu siap.
Kirana menghela napas pelan.
Mungkin Bima tidak bermaksud apa-apa.
Mungkin bagi Bima, itu cuma kalimat biasa.
Tapi Kirana benci bagaimana kalimat biasa dari cowok itu bisa bertahan lebih lama di kepalanya daripada penjelasan guru Kimia satu bab penuh.
Sementara itu, di dekat pagar parkiran, Manda masih sibuk mengomeli Jalu.
“Lu kalau jalan lihat-lihat!”
Jalu memegangi jas hujan kuning yang sekarang agak robek di bagian belakang.
“Aku korban infrastruktur.”
“Kamu korban tidak punya koordinasi tubuh.”
Tara mendekat sambil tertawa.
“Aku rekam.”
Jalu langsung panik.
“Hapus.”
“Tidak. Ini konten grup.”
“Tar, kasihanilah martabatku.”
Manda menatapnya.
“Lu masih punya?”
Jalu menunjuk Manda.
“Setelah semua yang kita lalui bersama, kamu tega.”
“Kita baru melewati pagar.”
Tara mengirim video ke grup.
Beberapa detik kemudian, ponsel mereka berbunyi.
Tara: Breaking news: Jalu dikalahkan pagar.
Kirana membalas dari gerbang:
Kirana: Jangan rusak jas hujan orang.
Jalu langsung mengetik:
Jalu: Saya korban.
Manda mengetik:
Manda: Korban gaya jalan sendiri.
Bima tidak membalas.
Tapi beberapa detik kemudian, Tara melihat status “Bima sedang mengetik...”
Lalu hilang.
Lalu muncul lagi.
Lalu hilang.
Manda, yang ikut melihat layar Tara, mengerutkan dahi.
“Bima ngetik tapi batal.”
Tara menggoda, “Mungkin sedang menyusun laporan saksi mata.”
Manda mengambil ponselnya sendiri dan membuka grup.
Tidak ada pesan dari Bima.
Entah kenapa, ia merasa sedikit penasaran.
Lalu ponselnya bergetar.
Bukan di grup.
Chat pribadi.
Bima: Kamu kehujanan?
Manda menatap layar.
Tara, yang berada di sebelahnya, mencoba mengintip.
Manda langsung memiringkan ponsel.
“Apaan?”
Tara tersenyum.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu bilang banyak.”
Manda membaca pesan itu lagi.
Kamu kehujanan?
Kalimatnya pendek.
Sangat Bima.
Tidak ada emotikon.
Tidak ada tambahan.
Tidak ada tanda-tanda panik.
Tapi Manda menatapnya lebih lama dari yang masuk akal.
Ia membalas:
Manda: Dikit. Tenang, aku bukan kerupuk. Nggak melempem kena air.
Bima membalas beberapa detik kemudian.
Bima: Jas hujannya robek.
Manda menatap jas hujan kuning yang dipakai Jalu.
Benar juga.
Bagian belakangnya robek sedikit karena tersangkut pagar.
Manda: Itu luka perjuangan.
Bima: Jalu yang pakai.
Manda: Maka itu luka kebodohan.
Beberapa detik tidak ada balasan.
Lalu:
Bima: Pulang hati-hati.
Manda diam.
Hujan masih turun di depan mereka.
Tara masih menahan senyum di sampingnya.
Jalu sedang meratapi jas hujan dengan dramatis.
Manda membaca pesan itu sekali lagi.
Pulang hati-hati.
Biasa.
Cuma dua kata.
Tidak perlu dianggap apa-apa.
Ia membalas cepat.
Manda: Siap, properti kelas. Kamu juga jangan hanyut.
Bima:
Bima: Aku bukan Jalu.
Manda tertawa sendiri.
Tara langsung menyikutnya pelan.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Manda.”
“Apa?”
“Kamu senyum-senyum.”
“Karena Bima nyindir Jalu.”
Tara menatapnya dengan ekspresi yang terlalu tahu.
Manda cepat-cepat memasukkan ponselnya ke saku.
“Jangan mulai.”
“Aku belum mulai.”
“Bagus. Jangan.”
Tara hanya tersenyum.
Manda berjalan ke arah gerbang sambil menarik jas hujan Jalu yang robek.
Tapi sepanjang perjalanan, ia sadar satu hal menyebalkan.
Ia masih memikirkan pesan Bima.
Dan lebih menyebalkan lagi, ia merasa senang.
Malamnya, grup Circle Aman Anti Baper sangat ramai.
Tara mengirim video Jalu tersangkut pagar sebanyak dua kali karena “versi pertama kurang dramatis”.
Jalu mengirim pembelaan panjang yang dimulai dengan kalimat:
Saya ingin meluruskan kronologi tragedi pagar.
Manda membalas dengan stiker ayam Derita memegang palu, yang baru ia buat sendiri dari foto boneka ayam.
Kirana mengetik:
Besok jas hujan Manda harus diganti kalau robeknya parah.
Jalu:
Kenapa semuanya berujung tagihan?
Kirana:
Karena tindakan punya konsekuensi.
Jalu:
Kalimat itu terlalu dewasa untuk grup ini.
Tara:
Setuju. Turunkan level kedewasaan.
Manda:
Jalu kalah dari pagar.
Bima membaca semua pesan itu dari kamarnya.
Seragamnya sudah diganti. Bahunya sempat terasa dingin, tapi tidak apa-apa. Ia menaruh payung di sudut kamar dalam keadaan terbuka sedikit agar kering.
Di layar ponselnya, Manda mengirim meme baru: foto Jalu tersangkut pagar dengan tulisan besar:
KETIKA HIDUP MENAHANMU UNTUK PULANG
Bima tersenyum kecil.
Ia hampir membalas.
Tapi jarinya berhenti.
Di galeri ponselnya, ada beberapa foto dari hari itu.
Kirana berdiri di depan jendela menatap hujan.
Tara tertawa sambil memegang ponsel.
Jalu panik dengan jas hujan tersangkut.
Manda tertawa di tengah hujan, rambutnya sedikit basah, tangannya menarik jas hujan Jalu, wajahnya cerah seperti hujan bukan masalah, melainkan bagian dari panggung.
Bima berhenti di foto itu.
Ia memperbesar sedikit.
Tidak tahu kenapa.
Atau mungkin ia tahu, tapi belum mau mengaku.
Di foto itu, Manda tidak sedang melihat kamera.
Ia sedang tertawa ke arah Jalu.
Matanya menyipit.
Rambutnya berantakan.
Jas hujan kuning neon membuat seluruh adegan terlihat konyol.
Tapi bagi Bima, foto itu terasa hangat.
Aneh, karena fotonya diambil saat hujan.
Ia menyimpannya ke folder dokumentasi festival.
Lalu, setelah ragu beberapa detik, ia menyalinnya ke folder lain.
Folder yang tidak ia beri nama apa-apa.
Hanya berisi beberapa foto yang menurutnya bagus.
Atau setidaknya, itu alasan yang ia pakai untuk dirinya sendiri.
Di rumahnya, Kirana juga membuka grup yang sama.
Ia membaca pesan-pesan konyol itu sambil duduk di meja belajar. Buku tugas Matematika terbuka, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Video Jalu tersangkut pagar membuatnya tertawa kecil.
Lalu ia teringat Bima yang menoleh ke belakang.
Cara Bima memastikan Manda dan Jalu baik-baik saja sebelum melanjutkan langkah.
Kirana mengetuk ujung pulpen ke meja.
Ia mencoba mengingat detailnya secara objektif.
Bima menoleh karena ada suara teriakan.
Wajar.
Siapa pun akan menoleh.
Bima melihat Manda karena Manda yang berteriak.
Wajar juga.
Tidak ada yang aneh.
Kesimpulan: tidak perlu dipikirkan.
Kirana menulis rumus di buku.
Dua menit kemudian, pikirannya kembali ke payung hitam.
Ke bahu Bima yang basah.
Ke kalimat, Kamu nggak harus selalu siap.
Kirana menutup wajah dengan kedua tangan.
“Fokus, Ra.”
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Tara.
Tara: Ra.
Kirana: Apa?
Tara: Tadi payungan sama Bima gimana?
Kirana langsung duduk tegak.
Kirana: Biasa.
Tara: Aku cuma tanya gimana hujannya.
Kirana menatap layar.
Tara mengirim stiker kucing tersenyum licik.
Kirana membalas:
Kirana: Hujannya deras. Bima basah sebelah. Selesai.
Tara:
Tara: Bima basah sebelah itu terdengar seperti judul cerpen.
Kirana:
Kirana: Tara.
Tara:
Tara: Oke oke. Aku diam.
Beberapa detik kemudian:
Tara: Tapi dia baik ya.
Kirana menatap pesan itu lebih lama.
Lalu membalas:
Kirana: Iya.
Tara tidak membalas lagi.
Kirana meletakkan ponselnya.
Satu kata itu terasa terlalu jujur.
Iya.
Bima baik.
Tapi baik ke siapa?
Ke Kirana, ia membantu mencari buku kas.
Ke Tara, ia mendengarkan saat tawa Tara tidak baik-baik saja.
Ke Manda, ia mengirim pesan menanyakan apakah Manda kehujanan.
Ke Jalu, ia... ya, setidaknya tidak membiarkan Jalu benar-benar hanyut dalam kebodohan sendiri.
Mungkin Bima memang baik ke semua orang.
Kirana seharusnya lega dengan kesimpulan itu.
Tapi entah kenapa, justru kesimpulan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Karena kalau seseorang baik ke semua orang, bagaimana caranya tahu bahwa satu kebaikan terasa berbeda?
Kirana tidak punya jawabannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus mencatat perasaan itu di halaman mana.
Keesokan paginya, hujan sudah berhenti.
Sekolah masih lembap. Beberapa daun basah menempel di lapangan. Udara terasa dingin, membuat sebagian siswa datang dengan jaket meski peraturan sekolah sebenarnya tidak mengizinkan jaket selain almamater.
Di kelas XI-2, Jalu masuk dengan gaya jalan sedikit pincang.
Manda langsung menunjuknya.
“Kenapa jalanmu begitu?”
Jalu menatapnya tragis.
“Luka batin.”
Tara tertawa.
“Kaki kamu yang kena pagar, bukan batin.”
“Justru batin yang paling dalam lukanya.”
Kirana masuk dari pintu depan, membawa buku catatan dan wajah siap memulai hari.
“Jalu, jas hujan Manda?”
Jalu mengeluarkan jas hujan kuning dari tas.
Sudah ditempel lakban bening di bagian robek.
Manda mengambilnya.
“Lu tambal pakai lakban?”
“Solusi ekonomis.”
“Ini jas hujan, bukan kardus paket.”
Bima masuk beberapa detik kemudian.
Manda menoleh.
“Bim.”
“Hm?”
“Kemarin kamu pulang aman?”
“Aman.”
“Nggak hanyut?”
“Tidak.”
“Sayang.”
Bima menatapnya datar.
Manda tertawa.
Kirana memperhatikan mereka dari mejanya.
Tara juga.
Jalu tidak, karena sedang sibuk menjelaskan bahwa lakban adalah inovasi tekstil.
Manda memakai jas hujan kuning itu sebentar di dalam kelas, hanya untuk mengejek Jalu. Tara merekam. Jalu protes. Kirana menyuruh mereka berhenti karena guru hampir datang.
Bima duduk di bangkunya dekat jendela.
Ia membuka kamera dan mengecek beberapa foto.
Manda, yang lewat di sampingnya, tiba-tiba berhenti.
“Itu foto kemarin?”
Bima langsung menekan tombol kembali.
“Dokumentasi.”
Manda menyipit.
“Foto aku?”
“Foto Jalu.”
“Bohong. Aku lihat rambut basahku.”
Bima diam.
Manda mencondongkan badan, mencoba melihat layar kamera.
Bima menjauhkan kamera sedikit.
Manda menyeringai.
“Wah. Ada rahasia.”
“Tidak.”
“Kalau tidak, sini lihat.”
“Tidak.”
“Berarti iya.”
Bima menatapnya.
“Guru datang.”
Manda langsung menoleh ke pintu.
Tidak ada guru.
Saat ia menoleh kembali, Bima sudah memasukkan kamera ke tas.
Manda membuka mulut, tersinggung.
“Bima Arkananta, kamu baru saja membohongi aku.”
“Strategi bertahan hidup.”
“Dari apa?”
“Dari kamu.”
Manda memegang dada.
“Sakit. Tapi kreatif.”
Tara tertawa pelan dari bangkunya.
Kirana membuka buku catatan, tapi matanya sempat turun ke halaman kosong terlalu lama.
Hari baru dimulai.
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Mereka masih duduk di kelas yang sama.
Masih bercanda.
Masih membahas festival.
Masih menertawakan tragedi pagar.
Namun sesuatu yang kecil mulai bergerak di bawah semua kebiasaan itu.
Kirana mulai mengingat payung.
Tara mulai memperhatikan cara Bima memperhatikan.
Manda mulai menyimpan chat pendek yang seharusnya tidak berarti.
Bima mulai menyimpan foto yang ia sebut dokumentasi.
Dan Jalu, tanpa sadar, mulai berdiri di tengah semua itu sebagai orang pertama yang kelak menyadari bahwa meja kantin mereka tidak selamanya akan seramai biasanya.
Tapi pagi itu, belum ada yang mau mengaku.
Karena di grup mereka, nama itu masih terdengar seperti jaminan.
Circle Aman Anti Baper.
Padahal mungkin, sejak hujan sore kemarin, kata “aman” sudah mulai retak sedikit.


