Kamis, 06 Agustus 2026

Yang Naksir Bayar Seblak Ch 7 / 18


 

Chapter 7 — Pulang Hujan

Hujan turun tepat ketika bel pulang berbunyi.

Bukan hujan rintik yang bisa dilawan dengan tas di atas kepala dan keyakinan palsu bahwa rambut akan tetap aman. Bukan juga hujan badai yang dramatis seperti adegan film ketika tokoh utama habis patah hati.

Hujan itu hujan yang menyebalkan.

Cukup deras untuk membuat semua orang batal pulang cepat, tapi tidak cukup deras untuk membuat sekolah mengizinkan siswa berteduh sambil merasa puitis.

Langit di atas SMA Garuda Bhakti berubah abu-abu. Air jatuh deras dari atap koridor. Lapangan yang tadi siang berdebu mulai basah dan mengilap. Beberapa siswa berlari ke gerbang sambil menjerit, beberapa pasrah duduk di tangga, beberapa menelepon orang tua dengan suara memelas.

Di kelas XI-2, suasana tidak kalah kacau.

“Payung gue hilang,” kata Jalu sambil membongkar tasnya.

Manda, yang sedang memasukkan buku ke dalam tas, menoleh.

“Lu pernah punya payung?”

“Punya.”

“Payung yang mana?”

“Yang hitam.”

“Lu, semua payung kalau hilang mendadak jadi hitam.”

Jalu menatapnya serius.

“Payung itu penting buat perjalanan hidup gue.”

Tara, yang duduk di meja depan sambil melihat aplikasi cuaca, tertawa.

“Aplikasi bilang hujan berhenti jam lima.”

Jalu langsung lemas.

“Jam lima? Aku sudah lapar jam empat.”

Kirana berdiri di dekat jendela, menatap hujan dengan wajah yang makin lama makin tegang. Di mejanya, buku catatan festival sudah masuk tas. Buku kas juga aman. Tapi ada satu hal yang tidak aman.

Ia tidak membawa payung.

Biasanya Kirana membawa semua hal yang mungkin diperlukan manusia di sekolah: pulpen cadangan, stabilo, tisu, plester, permen mint, kalkulator kecil, flashdisk, bahkan peniti. Tapi hari itu, karena pagi terlalu cerah dan ia terburu-buru mengejar Jalu yang belum bayar kas, ia lupa membawa payung.

Kesalahan kecil.

Tapi Kirana benci kesalahan kecil yang sebenarnya bisa dicegah.

Manda menyadari wajah Kirana.

“Ra, kamu nggak bawa payung?”

Kirana menggeleng pelan.

“Aku kira nggak hujan.”

Jalu menunjuk jendela.

“Langit mengkhianati kita semua.”

Kirana menatapnya.

“Kamu tidak membantu.”

“Saya sedang membangun solidaritas penderitaan.”

Tara memasukkan ponselnya ke tas.

“Aku dijemput kakakku, tapi masih setengah jam lagi. Ra, kamu bisa ikut mobilku nanti kalau mau.”

Kirana berpikir sebentar.

“Rumahku beda arah jauh.”

“Ya sudah, nanti turun di depan sekolah dulu, terus—”

“Ribet, Tar. Nggak apa-apa. Aku tunggu hujan reda.”

Manda mengangkat tangan.

“Aku punya jas hujan.”

Kirana sedikit lega.

“Serius?”

Manda mengeluarkan sesuatu dari tas.

Jas hujan plastik warna kuning neon yang terlihat seperti pernah mengalami banyak penderitaan.

“Tapi cuma satu.”

Jalu langsung menunjuknya.

“Itu punyaku.”

Manda menoleh tajam.

“Ini punyaku.”

“Punyaku hilang tadi.”

“Jadi semua jas hujan di dunia otomatis punya kamu?”

“Yang kuning itu mirip.”

“Lu bahkan tadi bilang payungmu hitam.”

“Manusia boleh punya banyak properti.”

Bima Arkananta, yang sejak tadi duduk diam sambil mengecek baterai kameranya, mengangkat kepala.

“Aku bawa payung.”

Semua menoleh.

Jalu menatapnya seperti melihat pahlawan.

“Bim.”

Bima menatap balik.

“Tidak.”

“Aku belum minta.”

“Wajahmu sudah.”

Manda tertawa.

Kirana menoleh ke Bima.

“Kamu pulang lewat gerbang depan?”

Bima mengangguk.

“Iya.”

“Rumahmu arah mana?”

“Lewat halte depan.”

Kirana sedikit ragu.

Bima memasukkan kamera ke tas, lalu mengambil payung lipat hitam dari saku samping.

“Aku bisa antar sampai gerbang depan.”

Kirana membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Manda langsung mengangkat alis.

Tara melirik Kirana.

Jalu membuka mulut dengan wajah siap berkomentar.

Kirana menunjuk Jalu sebelum ia sempat bicara.

“Jangan.”

Jalu mengangkat kedua tangan.

“Saya belum mengatakan apa pun.”

“Kamu akan.”

“Ketua kelas melakukan kriminalisasi niat.”

Bima berdiri.

“Kalau mau.”

Kirana menatap hujan di luar, lalu payung di tangan Bima.

Gerbang depan sebenarnya tidak jauh. Tapi hujan deras, dan ia membawa beberapa buku yang tidak boleh basah. Menolak hanya karena merasa canggung akan sangat tidak praktis.

Kirana tidak suka tidak praktis.

Jadi ia mengangguk.

“Oke. Terima kasih.”

Tara tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajah di balik tas.

Manda menatap mereka berdua, lalu menatap hujan, lalu tiba-tiba berkata terlalu ceria, “Nah, bagus. Kirana selamat. Tinggal nasib rakyat kecil seperti kami.”

Jalu mengangkat tangan.

“Aku rakyat kecil.”

“Kamu rakyat boros.”

“Aku lapar, Man.”

“Kamu selalu lapar.”

Bima membuka payung di depan pintu kelas.

Payung itu tidak terlalu besar.

Cukup untuk dua orang kalau mereka berjalan agak dekat.

Kirana melihat payung itu, lalu merasakan sesuatu yang menyebalkan muncul di dadanya.

Bukan perasaan besar.

Bukan sesuatu yang bisa dinamai dengan percaya diri.

Hanya kesadaran kecil bahwa berjalan berdua di bawah payung yang sama terdengar seperti adegan yang biasanya ia anggap terlalu dilebih-lebihkan di drama sekolah.

Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu.

Ini cuma hujan.

Ini cuma payung.

Ini cuma Bima mengantar sampai gerbang.

Tidak perlu ada interpretasi lain.

“Ra,” panggil Tara.

Kirana menoleh.

“Hati-hati.”

Nada Tara biasa saja.

Tapi senyumnya tidak biasa.

Kirana langsung tahu Tara sedang menahan godaan untuk berkata “cie”.

“Jangan mulai,” kata Kirana.

Tara mengangkat tangan.

“Aku nggak bilang apa-apa.”

Manda menyandarkan siku ke meja.

“Tenang, Ra. Bantuan logistik bukan indikasi romantis.”

Kirana langsung merasakan wajahnya panas.

“Manda.”

“Apa? Itu kutipan dari aku sendiri.”

Bima menatap Manda.

“Kamu sering mengutip diri sendiri?”

Manda mengangguk bangga.

“Karena tidak ada orang lain yang cukup bijak melakukannya.”

Jalu bertepuk tangan pelan.

“Luar biasa.”

Kirana tidak mau memberi ruang lebih lama untuk komentar mereka.

“Ayo, Bim.”

Bima mengangguk.

Mereka keluar kelas.

Di belakang, suara Jalu terdengar samar.

“Kalau payungnya kecil, itu bukan salah cuaca, itu takdir naratif.”

Lalu disusul suara Manda.

“Lu diam sebelum aku pakaikan jas hujan ini ke kepala kamu.”


Koridor sekolah penuh siswa yang menunggu hujan reda.

Beberapa duduk di lantai sambil main ponsel. Beberapa berdiri bergerombol di dekat tangga. Ada yang melepas sepatu karena sudah telanjur basah. Ada yang mencoba berlari menembus hujan lalu kembali lagi dengan wajah menyesal.

Bima berjalan di sisi luar, memegang payung sedikit lebih tinggi.

Kirana berjalan di sebelahnya, memeluk tas di depan dada supaya buku-bukunya aman.

Begitu mereka keluar dari koridor menuju jalur terbuka ke gerbang, suara hujan langsung membesar.

Air menghantam payung dengan ritme cepat.

Dunia di sekitar mereka menjadi kabur.

Lapangan, pohon, motor di parkiran, semuanya terlihat seperti dilapisi tirai air.

Kirana menatap jalan setapak yang mulai tergenang.

“Hati-hati,” kata Bima.

Kirana mengangguk.

Mereka berjalan pelan.

Awalnya, Kirana berusaha menjaga jarak sewajar mungkin.

Tapi payung itu memang tidak besar.

Setiap kali ia sedikit menjauh, bahunya terkena cipratan hujan. Setiap kali Bima memiringkan payung ke arahnya, bahu Bima yang terkena.

Kirana menyadarinya setelah beberapa langkah.

“Bim.”

“Hm?”

“Payungnya miring.”

“Iya.”

“Kamu kehujanan.”

“Sedikit.”

Kirana menatap bahu kanan Bima.

Bagian seragamnya sudah basah cukup jelas.

“Itu bukan sedikit. Itu bahumu sudah jadi daerah rawan banjir.”

Bima melihat bahunya sebentar.

“Masih bisa dipakai.”

“Bahumu?”

“Seragam.”

Kirana menahan senyum.

“Jawabanmu kadang bikin orang bingung mau marah atau ketawa.”

“Biasanya yang mana?”

“Keduanya.”

Bima mengangguk.

“Efisien.”

Kirana tertawa kecil.

Suara tawanya hampir tenggelam oleh hujan.

Tapi Bima mendengarnya.

Dan Kirana sadar Bima mendengarnya, karena sudut bibir cowok itu bergerak sedikit.

Kirana menunduk cepat, pura-pura memperhatikan jalan.

Di depan mereka, gerbang sekolah masih beberapa meter lagi. Satpam berdiri di pos sambil membantu siswa menyeberang. Di luar gerbang, beberapa motor ojek online berjejer. Mobil-mobil orang tua berhenti sebentar, menaikkan anak, lalu pergi.

Kirana harusnya fokus pada itu.

Pada jalan becek.

Pada buku-bukunya.

Pada bagaimana nanti ia pulang dari gerbang.

Tapi pikirannya justru sibuk mencatat hal-hal kecil yang tidak penting.

Cara Bima memegang payung.

Cara langkahnya melambat ketika Kirana hampir menginjak genangan.

Cara ia tidak banyak bicara, tapi tidak membuat suasana terasa kosong.

Cara bahunya basah karena payung itu lebih banyak melindungi Kirana.

“Kamu selalu bawa payung?” tanya Kirana.

“Kalau musim hujan.”

“Praktis.”

“Iya.”

“Tumben aku kalah siap.”

Bima menoleh sedikit.

“Kamu nggak harus selalu siap.”

Kirana diam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi seperti biasa, kalimat sederhana dari Bima kadang mendarat di tempat yang tidak ia duga.

Kirana memeluk tasnya lebih erat.

“Kalau aku nggak siap, biasanya semuanya berantakan.”

“Tidak selalu.”

“Kamu belum lihat XI-2 tanpa aku.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Waktu kamu sakit dua hari.”

Kirana menoleh.

“Kelas berantakan, kan?”

Bima berpikir sebentar.

“Jalu hampir jadi ketua kelas sementara.”

Kirana berhenti berjalan setengah detik.

“Apa?”

“Tidak jadi.”

“Siapa yang mencegah?”

“Manda.”

Kirana menghela napas lega.

“Untung.”

“Dia bilang kalau Jalu jadi ketua kelas, besok kita semua masuk sekolah pakai kostum bebas.”

Kirana memejamkan mata.

“Itu mungkin benar terjadi.”

“Iya.”

Mereka berjalan lagi.

Kirana tersenyum kecil.

Aneh.

Biasanya, kalau ia membayangkan kelas berjalan tanpa dirinya, ia merasa harus segera kembali, harus memastikan semuanya terkendali, harus memegang catatan dan daftar hadir dan buku kas. Tapi mendengar Bima menceritakannya dengan datar membuat kekhawatiran itu terasa sedikit lucu.

Sedikit lebih ringan.

Di dekat parkiran motor, hujan turun makin deras. Beberapa siswa berteriak sambil berlari. Air memantul dari aspal.

Bima otomatis memiringkan payung lagi ke arah Kirana.

Kirana melihat bahunya semakin basah.

“Bim, serius. Payungnya tengahin.”

“Sudah.”

“Belum.”

“Kalau tengah, tas kamu kena.”

“Seragam kamu basah.”

“Nanti kering.”

“Kamu bisa sakit.”

“Tidak apa-apa.”

Kirana menatapnya.

“Kenapa kamu selalu bilang nggak apa-apa?”

Bima tidak langsung menjawab.

Hujan mengisi jeda di antara mereka.

Lalu Bima berkata, “Karena biasanya memang nggak apa-apa.”

“Kalau nggak?”

“Ya nanti dipikir.”

Kirana menggeleng pelan.

“Kamu terlalu santai.”

“Kamu terlalu tegang.”

Kirana ingin membantah.

Tapi ia tidak bisa.

Karena mungkin benar.

Mungkin ia memang terlalu tegang.

Terlalu sibuk memastikan semuanya pada tempatnya.

Terlalu takut kalau sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Dan mungkin itulah sebabnya berada di dekat Bima terasa aneh.

Bima tidak membuat semua hal rapi.

Ia bukan seperti Kirana.

Ia tidak punya daftar panjang dan catatan detail untuk setiap kemungkinan.

Tapi Bima membuat sesuatu yang berantakan terasa tidak perlu langsung dibereskan saat itu juga.

Kadang cukup diam.

Kadang cukup berjalan pelan di bawah hujan.

Kadang cukup membiarkan bahu sendiri basah supaya orang lain tetap kering.

Mereka hampir sampai gerbang ketika suara teriakan terdengar dari arah belakang.

“JALU, JAS HUJANNYA NYANGKUT!”

Kirana dan Bima sama-sama berhenti.

Suara itu jelas suara Manda.

Kirana menoleh ke belakang.

Di kejauhan, dekat pagar samping parkiran, Manda dan Jalu tampak sedang mengalami tragedi kecil.

Jalu memakai jas hujan kuning neon milik Manda, tapi bagian belakangnya tersangkut di ujung pagar. Ia mencoba maju, sementara Manda menarik jas hujan itu ke arah sebaliknya. Hasilnya, Jalu terlihat seperti layangan gagal terbang.

Tara berdiri di bawah koridor, tertawa sambil memegang ponsel, kemungkinan besar merekam.

Kirana menutup mulut.

“Ya ampun.”

Bima juga menoleh.

Untuk beberapa detik, wajahnya tetap datar.

Lalu sudut bibirnya naik.

Kecil.

Hampir tak terlihat.

Tapi Kirana melihat.

Ia juga melihat hal lain.

Bima tidak hanya melihat kejadian itu karena lucu.

Tatapannya berhenti pada Manda.

Lebih tepatnya, pada cara Manda berdiri di bawah hujan tanpa benar-benar peduli bahwa rambutnya mulai basah. Pada cara Manda tertawa sambil tetap mencoba membantu Jalu. Pada cara Manda tampak kacau, ribut, dan hidup.

Kirana melihat Bima melihat Manda.

Tapi saat itu, ia belum tahu harus menamai apa pandangan itu.

Mungkin hanya karena Manda memang menarik perhatian.

Mungkin karena adegannya lucu.

Mungkin karena siapa pun akan melihat Manda kalau Manda sedang berteriak di tengah hujan sambil menyelamatkan Jalu dari pagar.

Kirana tidak ingin berpikir lebih jauh.

“Harus kita bantu?” tanyanya.

Bima masih melihat ke belakang.

“Manda bisa.”

“Kamu yakin?”

Bima mengangguk.

“Dia lebih kuat dari Jalu.”

Kirana tertawa.

Di kejauhan, Manda akhirnya berhasil melepaskan jas hujan dari pagar. Jalu hampir jatuh, lalu Manda menarik kerah jas hujannya agar ia tidak tersungkur. Tara bertepuk tangan dari koridor.

Bima baru kembali menghadap depan setelah memastikan mereka baik-baik saja.

Kirana menyadarinya.

Tapi ia menyimpan kesadaran itu diam-diam.

Mereka melanjutkan langkah ke gerbang.

Di pos satpam, Bima menutup payung sedikit agar tidak mengganggu siswa lain yang lewat.

Kirana berhenti di bawah atap kecil dekat pos.

“Terima kasih. Aku tunggu ojek di sini aja.”

Bima mengangguk.

“Hati-hati.”

“Kamu juga. Bahumu basah banget.”

“Nanti kering.”

“Kamu sudah bilang itu.”

“Masih benar.”

Kirana menatapnya, lalu tersenyum kecil.

“Bima.”

“Hm?”

“Kamu kalau membantu orang, bisa nggak sambil terlihat sedikit peduli pada diri sendiri?”

Bima berpikir sebentar.

“Sulit.”

Kirana tertawa.

Lebih lepas dari yang ia rencanakan.

Bima menatapnya sejenak.

Lalu ia mengangguk.

“Aku duluan.”

“Iya. Makasih.”

Bima membuka payung lagi dan berjalan keluar gerbang menuju halte.

Kirana memperhatikannya beberapa detik.

Bahu kanannya benar-benar basah.

Langkahnya tetap santai.

Payung hitamnya bergerak di antara hujan dan keramaian depan sekolah.

Kirana mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek, tapi jarinya berhenti di layar.

Ia teringat kalimat Bima.

Kamu nggak harus selalu siap.

Kirana menghela napas pelan.

Mungkin Bima tidak bermaksud apa-apa.

Mungkin bagi Bima, itu cuma kalimat biasa.

Tapi Kirana benci bagaimana kalimat biasa dari cowok itu bisa bertahan lebih lama di kepalanya daripada penjelasan guru Kimia satu bab penuh.


Sementara itu, di dekat pagar parkiran, Manda masih sibuk mengomeli Jalu.

“Lu kalau jalan lihat-lihat!”

Jalu memegangi jas hujan kuning yang sekarang agak robek di bagian belakang.

“Aku korban infrastruktur.”

“Kamu korban tidak punya koordinasi tubuh.”

Tara mendekat sambil tertawa.

“Aku rekam.”

Jalu langsung panik.

“Hapus.”

“Tidak. Ini konten grup.”

“Tar, kasihanilah martabatku.”

Manda menatapnya.

“Lu masih punya?”

Jalu menunjuk Manda.

“Setelah semua yang kita lalui bersama, kamu tega.”

“Kita baru melewati pagar.”

Tara mengirim video ke grup.

Beberapa detik kemudian, ponsel mereka berbunyi.

Tara: Breaking news: Jalu dikalahkan pagar.

Kirana membalas dari gerbang:

Kirana: Jangan rusak jas hujan orang.

Jalu langsung mengetik:

Jalu: Saya korban.

Manda mengetik:

Manda: Korban gaya jalan sendiri.

Bima tidak membalas.

Tapi beberapa detik kemudian, Tara melihat status “Bima sedang mengetik...”

Lalu hilang.

Lalu muncul lagi.

Lalu hilang.

Manda, yang ikut melihat layar Tara, mengerutkan dahi.

“Bima ngetik tapi batal.”

Tara menggoda, “Mungkin sedang menyusun laporan saksi mata.”

Manda mengambil ponselnya sendiri dan membuka grup.

Tidak ada pesan dari Bima.

Entah kenapa, ia merasa sedikit penasaran.

Lalu ponselnya bergetar.

Bukan di grup.

Chat pribadi.

Bima: Kamu kehujanan?

Manda menatap layar.

Tara, yang berada di sebelahnya, mencoba mengintip.

Manda langsung memiringkan ponsel.

“Apaan?”

Tara tersenyum.

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Wajahmu bilang banyak.”

Manda membaca pesan itu lagi.

Kamu kehujanan?

Kalimatnya pendek.

Sangat Bima.

Tidak ada emotikon.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada tanda-tanda panik.

Tapi Manda menatapnya lebih lama dari yang masuk akal.

Ia membalas:

Manda: Dikit. Tenang, aku bukan kerupuk. Nggak melempem kena air.

Bima membalas beberapa detik kemudian.

Bima: Jas hujannya robek.

Manda menatap jas hujan kuning yang dipakai Jalu.

Benar juga.

Bagian belakangnya robek sedikit karena tersangkut pagar.

Manda: Itu luka perjuangan.

Bima: Jalu yang pakai.

Manda: Maka itu luka kebodohan.

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu:

Bima: Pulang hati-hati.

Manda diam.

Hujan masih turun di depan mereka.

Tara masih menahan senyum di sampingnya.

Jalu sedang meratapi jas hujan dengan dramatis.

Manda membaca pesan itu sekali lagi.

Pulang hati-hati.

Biasa.

Cuma dua kata.

Tidak perlu dianggap apa-apa.

Ia membalas cepat.

Manda: Siap, properti kelas. Kamu juga jangan hanyut.

Bima:

Bima: Aku bukan Jalu.

Manda tertawa sendiri.

Tara langsung menyikutnya pelan.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Manda.”

“Apa?”

“Kamu senyum-senyum.”

“Karena Bima nyindir Jalu.”

Tara menatapnya dengan ekspresi yang terlalu tahu.

Manda cepat-cepat memasukkan ponselnya ke saku.

“Jangan mulai.”

“Aku belum mulai.”

“Bagus. Jangan.”

Tara hanya tersenyum.

Manda berjalan ke arah gerbang sambil menarik jas hujan Jalu yang robek.

Tapi sepanjang perjalanan, ia sadar satu hal menyebalkan.

Ia masih memikirkan pesan Bima.

Dan lebih menyebalkan lagi, ia merasa senang.


Malamnya, grup Circle Aman Anti Baper sangat ramai.

Tara mengirim video Jalu tersangkut pagar sebanyak dua kali karena “versi pertama kurang dramatis”.

Jalu mengirim pembelaan panjang yang dimulai dengan kalimat:

Saya ingin meluruskan kronologi tragedi pagar.

Manda membalas dengan stiker ayam Derita memegang palu, yang baru ia buat sendiri dari foto boneka ayam.

Kirana mengetik:

Besok jas hujan Manda harus diganti kalau robeknya parah.

Jalu:

Kenapa semuanya berujung tagihan?

Kirana:

Karena tindakan punya konsekuensi.

Jalu:

Kalimat itu terlalu dewasa untuk grup ini.

Tara:

Setuju. Turunkan level kedewasaan.

Manda:

Jalu kalah dari pagar.

Bima membaca semua pesan itu dari kamarnya.

Seragamnya sudah diganti. Bahunya sempat terasa dingin, tapi tidak apa-apa. Ia menaruh payung di sudut kamar dalam keadaan terbuka sedikit agar kering.

Di layar ponselnya, Manda mengirim meme baru: foto Jalu tersangkut pagar dengan tulisan besar:

KETIKA HIDUP MENAHANMU UNTUK PULANG

Bima tersenyum kecil.

Ia hampir membalas.

Tapi jarinya berhenti.

Di galeri ponselnya, ada beberapa foto dari hari itu.

Kirana berdiri di depan jendela menatap hujan.

Tara tertawa sambil memegang ponsel.

Jalu panik dengan jas hujan tersangkut.

Manda tertawa di tengah hujan, rambutnya sedikit basah, tangannya menarik jas hujan Jalu, wajahnya cerah seperti hujan bukan masalah, melainkan bagian dari panggung.

Bima berhenti di foto itu.

Ia memperbesar sedikit.

Tidak tahu kenapa.

Atau mungkin ia tahu, tapi belum mau mengaku.

Di foto itu, Manda tidak sedang melihat kamera.

Ia sedang tertawa ke arah Jalu.

Matanya menyipit.

Rambutnya berantakan.

Jas hujan kuning neon membuat seluruh adegan terlihat konyol.

Tapi bagi Bima, foto itu terasa hangat.

Aneh, karena fotonya diambil saat hujan.

Ia menyimpannya ke folder dokumentasi festival.

Lalu, setelah ragu beberapa detik, ia menyalinnya ke folder lain.

Folder yang tidak ia beri nama apa-apa.

Hanya berisi beberapa foto yang menurutnya bagus.

Atau setidaknya, itu alasan yang ia pakai untuk dirinya sendiri.


Di rumahnya, Kirana juga membuka grup yang sama.

Ia membaca pesan-pesan konyol itu sambil duduk di meja belajar. Buku tugas Matematika terbuka, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Video Jalu tersangkut pagar membuatnya tertawa kecil.

Lalu ia teringat Bima yang menoleh ke belakang.

Cara Bima memastikan Manda dan Jalu baik-baik saja sebelum melanjutkan langkah.

Kirana mengetuk ujung pulpen ke meja.

Ia mencoba mengingat detailnya secara objektif.

Bima menoleh karena ada suara teriakan.

Wajar.

Siapa pun akan menoleh.

Bima melihat Manda karena Manda yang berteriak.

Wajar juga.

Tidak ada yang aneh.

Kesimpulan: tidak perlu dipikirkan.

Kirana menulis rumus di buku.

Dua menit kemudian, pikirannya kembali ke payung hitam.

Ke bahu Bima yang basah.

Ke kalimat, Kamu nggak harus selalu siap.

Kirana menutup wajah dengan kedua tangan.

“Fokus, Ra.”

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Tara.

Tara: Ra.

Kirana: Apa?

Tara: Tadi payungan sama Bima gimana?

Kirana langsung duduk tegak.

Kirana: Biasa.

Tara: Aku cuma tanya gimana hujannya.

Kirana menatap layar.

Tara mengirim stiker kucing tersenyum licik.

Kirana membalas:

Kirana: Hujannya deras. Bima basah sebelah. Selesai.

Tara:

Tara: Bima basah sebelah itu terdengar seperti judul cerpen.

Kirana:

Kirana: Tara.

Tara:

Tara: Oke oke. Aku diam.

Beberapa detik kemudian:

Tara: Tapi dia baik ya.

Kirana menatap pesan itu lebih lama.

Lalu membalas:

Kirana: Iya.

Tara tidak membalas lagi.

Kirana meletakkan ponselnya.

Satu kata itu terasa terlalu jujur.

Iya.

Bima baik.

Tapi baik ke siapa?

Ke Kirana, ia membantu mencari buku kas.

Ke Tara, ia mendengarkan saat tawa Tara tidak baik-baik saja.

Ke Manda, ia mengirim pesan menanyakan apakah Manda kehujanan.

Ke Jalu, ia... ya, setidaknya tidak membiarkan Jalu benar-benar hanyut dalam kebodohan sendiri.

Mungkin Bima memang baik ke semua orang.

Kirana seharusnya lega dengan kesimpulan itu.

Tapi entah kenapa, justru kesimpulan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Karena kalau seseorang baik ke semua orang, bagaimana caranya tahu bahwa satu kebaikan terasa berbeda?

Kirana tidak punya jawabannya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus mencatat perasaan itu di halaman mana.


Keesokan paginya, hujan sudah berhenti.

Sekolah masih lembap. Beberapa daun basah menempel di lapangan. Udara terasa dingin, membuat sebagian siswa datang dengan jaket meski peraturan sekolah sebenarnya tidak mengizinkan jaket selain almamater.

Di kelas XI-2, Jalu masuk dengan gaya jalan sedikit pincang.

Manda langsung menunjuknya.

“Kenapa jalanmu begitu?”

Jalu menatapnya tragis.

“Luka batin.”

Tara tertawa.

“Kaki kamu yang kena pagar, bukan batin.”

“Justru batin yang paling dalam lukanya.”

Kirana masuk dari pintu depan, membawa buku catatan dan wajah siap memulai hari.

“Jalu, jas hujan Manda?”

Jalu mengeluarkan jas hujan kuning dari tas.

Sudah ditempel lakban bening di bagian robek.

Manda mengambilnya.

“Lu tambal pakai lakban?”

“Solusi ekonomis.”

“Ini jas hujan, bukan kardus paket.”

Bima masuk beberapa detik kemudian.

Manda menoleh.

“Bim.”

“Hm?”

“Kemarin kamu pulang aman?”

“Aman.”

“Nggak hanyut?”

“Tidak.”

“Sayang.”

Bima menatapnya datar.

Manda tertawa.

Kirana memperhatikan mereka dari mejanya.

Tara juga.

Jalu tidak, karena sedang sibuk menjelaskan bahwa lakban adalah inovasi tekstil.

Manda memakai jas hujan kuning itu sebentar di dalam kelas, hanya untuk mengejek Jalu. Tara merekam. Jalu protes. Kirana menyuruh mereka berhenti karena guru hampir datang.

Bima duduk di bangkunya dekat jendela.

Ia membuka kamera dan mengecek beberapa foto.

Manda, yang lewat di sampingnya, tiba-tiba berhenti.

“Itu foto kemarin?”

Bima langsung menekan tombol kembali.

“Dokumentasi.”

Manda menyipit.

“Foto aku?”

“Foto Jalu.”

“Bohong. Aku lihat rambut basahku.”

Bima diam.

Manda mencondongkan badan, mencoba melihat layar kamera.

Bima menjauhkan kamera sedikit.

Manda menyeringai.

“Wah. Ada rahasia.”

“Tidak.”

“Kalau tidak, sini lihat.”

“Tidak.”

“Berarti iya.”

Bima menatapnya.

“Guru datang.”

Manda langsung menoleh ke pintu.

Tidak ada guru.

Saat ia menoleh kembali, Bima sudah memasukkan kamera ke tas.

Manda membuka mulut, tersinggung.

“Bima Arkananta, kamu baru saja membohongi aku.”

“Strategi bertahan hidup.”

“Dari apa?”

“Dari kamu.”

Manda memegang dada.

“Sakit. Tapi kreatif.”

Tara tertawa pelan dari bangkunya.

Kirana membuka buku catatan, tapi matanya sempat turun ke halaman kosong terlalu lama.

Hari baru dimulai.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Mereka masih duduk di kelas yang sama.

Masih bercanda.

Masih membahas festival.

Masih menertawakan tragedi pagar.

Namun sesuatu yang kecil mulai bergerak di bawah semua kebiasaan itu.

Kirana mulai mengingat payung.

Tara mulai memperhatikan cara Bima memperhatikan.

Manda mulai menyimpan chat pendek yang seharusnya tidak berarti.

Bima mulai menyimpan foto yang ia sebut dokumentasi.

Dan Jalu, tanpa sadar, mulai berdiri di tengah semua itu sebagai orang pertama yang kelak menyadari bahwa meja kantin mereka tidak selamanya akan seramai biasanya.

Tapi pagi itu, belum ada yang mau mengaku.

Karena di grup mereka, nama itu masih terdengar seperti jaminan.

Circle Aman Anti Baper.

Padahal mungkin, sejak hujan sore kemarin, kata “aman” sudah mulai retak sedikit.

Rabu, 05 Agustus 2026

Yang Naksir Bayar Seblak Ch 6 / 18

 


Chapter 6 — Manda, Jalu, dan Bencana Stand Seblak

Kirana Putri seharusnya tahu bahwa mengirim Manda dan Jalu survei bahan berdua adalah keputusan berisiko tinggi.

Tanda-tandanya sudah ada sejak awal.

Pertama, Jalu menyebut kegiatan survei harga sebagai “ekspedisi ekonomi”.

Kedua, Manda membawa tote bag besar bergambar bebek memakai kacamata hitam dan berkata, “Kita harus siap menghadapi pasar.”

Ketiga, sebelum berangkat, Jalu bertanya apakah uang transport bisa diganti dengan “uang mental”.

Kirana menatap mereka berdua di depan gerbang sekolah dengan wajah sangat serius.

“Dengar baik-baik,” katanya. “Tugas kalian cuma survei harga bahan. Bukan belanja besar. Bukan jalan-jalan. Bukan menciptakan masalah.”

Jalu mengangguk mantap.

“Siap.”

Manda ikut mengangguk.

“Paham.”

Kirana menyipitkan mata.

“Aku tidak yakin.”

Tara, yang berdiri di sebelah Kirana sambil memegang minuman promo, menepuk bahunya.

“Ra, positif thinking.”

Kirana menoleh.

“Kepada mereka?”

Tara melihat Manda dan Jalu.

Manda sedang mencoba memasukkan botol minum ke tote bag yang sudah penuh entah apa. Jalu sedang menghitung uang receh sambil berbisik, “Ini cukup nggak untuk bertahan hidup?”

Tara diam sejenak.

“Oke, mungkin realistis thinking.”

Bima berdiri agak di belakang mereka, kamera tergantung di leher. Ia ikut karena Kirana meminta dokumentasi proses persiapan festival. Sebenarnya, dokumentasi survei bahan tidak terlalu penting. Tapi Kirana bilang, “Kalau mereka macam-macam, minimal ada bukti.”

Jalu menoleh ke Bima.

“Bim, kenapa kamu ikut? Jangan bilang kamu ditugaskan sebagai pengawas.”

Bima mengangkat kamera sedikit.

“Bukti.”

Jalu memegang dada.

“Sakit sekali dijadikan objek investigasi.”

Manda menepuk pundaknya.

“Tenang, Lu. Kalau kita masuk berita, minimal fotonya bagus.”

Kirana langsung menunjuk mereka berdua.

“Tidak ada yang masuk berita.”

“Kalau viral positif?” tanya Jalu.

“Tidak.”

“Kalau viral karena inovasi seblak?”

“Jalu.”

“Baik.”

Kirana menyerahkan selembar kertas kepada Manda.

“Ini daftar bahan yang harus kalian cek harganya. Kerupuk, cabai, telur, bakso, sosis, sawi, bumbu, cup, sendok plastik. Catat harga per kilo atau per bungkus. Jangan beli kecuali memang perlu contoh.”

Manda menerima kertas itu dengan gaya hormat.

“Siap, Komandan Kas.”

“Kirana.”

“Siap, Kirana.”

Jalu mengintip daftar itu.

“Tidak ada anggaran untuk makanan selama survei?”

“Tidak.”

“Itu pelanggaran hak pekerja lapangan.”

“Kalian pergi dua jam, bukan kerja tambang.”

Tara tertawa.

Bima mengangkat kamera.

Klik.

Foto pertama hari itu: Kirana menyerahkan daftar dengan ekspresi seperti melepas dua prajurit ke medan perang, Manda memasang wajah sok serius, Jalu terlihat sedang menderita, dan Tara tertawa di samping mereka.

Kelak, foto itu akan menjadi bukti bahwa Kirana sebenarnya sudah punya firasat buruk sejak awal.


Pasar Melati terletak sekitar sepuluh menit dari sekolah.

Sepuluh menit kalau jalan normal.

Lima belas menit kalau bersama Jalu, karena ia berhenti di setiap penjual makanan.

Dua puluh menit kalau bersama Manda, karena ia berhenti untuk membaca papan toko yang menurutnya lucu.

Dua puluh lima menit kalau bersama mereka berdua, karena setiap tiga puluh langkah ada perdebatan yang tidak diperlukan.

“Lu, kenapa kita berhenti?” tanya Manda.

Jalu menunjuk gerobak.

“Ada telur gulung.”

“Kita survei bahan seblak.”

“Telur termasuk bahan.”

“Telur gulung bukan bahan. Itu godaan.”

“Dalam hidup, godaan juga perlu dipahami.”

Bima berdiri beberapa langkah di belakang, memotret mereka dari samping.

Klik.

Manda menarik lengan Jalu menjauh dari gerobak telur gulung.

“Jalan.”

“Tunggu, aku cuma mau tanya harga.”

“Kamu mau beli.”

“Survei rasa adalah bagian dari survei harga.”

“Kirana akan menguliti kita pakai buku kas.”

Jalu langsung berjalan lebih cepat.

Pasar Melati ramai, panas, dan penuh suara yang saling menabrak.

Penjual sayur memanggil pembeli. Motor lewat terlalu dekat. Plastik kresek bergesekan. Ibu-ibu menawar dengan intensitas seperti debat nasional. Di sudut pasar, ada penjual sandal yang memutar lagu dangdut dari speaker kecil.

Manda tampak hidup di tengah kekacauan itu.

Ia bertanya harga dengan percaya diri, menawar dengan wajah polos, lalu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum sampai penjual yang awalnya jutek ikut melunak.

“Cabai rawit sekilo berapa, Bu?”

“Empat puluh ribu.”

“Kalau beli buat anak sekolah yang sedang membangun masa depan bangsa?”

“Iya, tetap empat puluh ribu.”

“Kalau masa depan bangsanya agak kasihan?”

“Dikurangin dua ribu.”

Manda langsung menoleh ke Jalu.

“Catat. Tiga puluh delapan ribu.”

Jalu membuka catatan di ponselnya.

“Cabai rawit, tiga puluh delapan ribu karena bangsa kasihan.”

“Jangan tulis begitu.”

“Biar ada konteks.”

Bima memotret dari belakang.

Klik.

Manda sedang menawar cabai dengan tangan di dada. Jalu menunduk serius mencatat kalimat absurd. Di depan mereka, ibu penjual cabai menahan tawa.

Setelah cabai, mereka mengecek kerupuk.

Manda menunjuk karung besar berisi kerupuk mentah.

“Ini cocok.”

Jalu mengangguk.

“Berapa kilo?”

“Untuk festival, mungkin lima kilo cukup.”

Jalu menatap karung itu seperti sedang menghitung sesuatu.

“Kalau sepuluh?”

Manda menoleh pelan.

“Jalu.”

“Apa?”

“Kita jual seblak satu malam, bukan buka cabang.”

“Tapi kalau ramai?”

“Kalau ramai, bagus.”

“Kalau habis?”

“Berarti sukses.”

“Kalau orang masih mau beli?”

“Kita bilang habis.”

Jalu tampak tidak terima.

“Itu bukan mental pengusaha.”

“Itu mental tidak bangkrut.”

Akhirnya Manda mencatat lima kilo.

Jalu mencatat sepuluh kilo di ponselnya.

Bima melihat.

Tapi Bima memilih diam, karena kadang alam harus membiarkan manusia belajar dari akibatnya sendiri.

Masalah berikutnya terjadi di toko plastik.

Kirana meminta mereka mencatat harga cup dan sendok plastik.

Manda menemukan cup bening ukuran sedang.

“Ini cukup.”

Jalu menemukan cup warna-warni.

“Ini lebih menarik.”

“Lu, itu cup puding.”

“Seblak dalam cup puding bisa jadi inovasi.”

“Seblak kuah panas dalam cup puding adalah tuntutan hukum.”

“Tidak kalau kita namai konsep.”

Bima berkata datar dari belakang, “Konsep luka bakar.”

Manda menunjuk Bima.

“Nah, dengar. Bahkan Bima yang biasanya membiarkan kita hancur saja ikut bicara.”

Jalu menatap Bima.

“Kamu tidak mendukung kreativitas.”

“Aku mendukung keselamatan.”

Manda mengambil cup bening.

“Final. Kita catat yang ini.”

Jalu masih menatap cup warna-warni dengan sedih.

“Selamat tinggal, peluang bisnis.”

“Lu bisa sedih nanti. Sekarang catat harga.”

Di toko bumbu, situasi hampir aman.

Hampir.

Sampai Jalu melihat rak cabai bubuk.

Matanya menyala.

“Man.”

“Tidak.”

“Aku belum ngomong.”

“Wajahmu sudah.”

“Bayangkan seblak kita punya cabai rahasia.”

“Tidak.”

“Cabai spesial.”

“Tidak.”

“Cabai yang membuat orang mengingat kita.”

“Mereka akan mengingat kita lewat tagihan rumah sakit.”

Bima membaca label di salah satu bungkus cabai bubuk.

“Ini level ekstra pedas.”

Jalu tersenyum.

“Bagus.”

“Untuk restoran ayam geprek.”

“Lebih bagus.”

Manda merebut bungkus itu dari tangan Jalu.

“Kirana bilang cabai rawit biasa.”

Jalu menunjuk bungkus cabai bubuk.

“Tapi ini murah.”

“Mudah juga mengakhiri masa muda.”

“Kamu terlalu takut mengambil risiko.”

“Kamu terlalu sering menjadi risiko.”

Bima memotret mereka.

Klik.

Manda memegang bungkus cabai bubuk tinggi-tinggi, Jalu mencoba meraihnya, dan di belakang mereka penjual bumbu tampak menikmati drama gratis.

Pada akhirnya, mereka tidak membeli cabai bubuk itu.

Setidaknya, itu yang Manda kira.


Dua jam kemudian, mereka kembali ke sekolah dengan kondisi yang sulit dijelaskan secara singkat.

Kirana dan Tara sedang duduk di ruang kelas, membahas desain poster festival, ketika suara ribut terdengar dari koridor.

“Jalu, aku bilang jangan pegang bagian bawahnya!”

“Aku pegang! Ini berat!”

“Makanya tadi jangan sok beli tambahan!”

“Ini investasi!”

“Ini bencana!”

Tara langsung menoleh ke pintu.

Kirana menutup mata.

“Ya Tuhan.”

Pintu kelas terbuka.

Manda masuk lebih dulu, membawa tote bag besar yang tampak hampir meledak.

Di belakangnya, Jalu muncul dengan dua kantong plastik besar berisi kerupuk.

Bima masuk terakhir, memegang kamera dan satu kantong kecil. Wajahnya datar, tapi entah kenapa justru terlihat seperti orang yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal.

Tara berdiri.

“Kenapa kalian kelihatan seperti habis pindahan kontrakan?”

Manda menunjuk Jalu.

“Dia.”

Jalu langsung protes.

“Kami.”

“Tidak. Kamu.”

Kirana berdiri pelan.

Sangat pelan.

“Jelaskan.”

Jalu menaruh kantong plastik di lantai.

“Baik. Sebelum semuanya menghakimi, saya ingin menyampaikan bahwa semua pembelian dilakukan dengan pertimbangan strategis.”

Kirana menatap dua kantong besar itu.

“Itu kerupuk?”

Jalu mengangguk.

“Iya.”

“Berapa kilo?”

Jalu diam.

Manda menjawab dengan suara datar, “Sepuluh.”

Kirana menatap Jalu.

“Aku minta survei harga, bukan belanja sepuluh kilo kerupuk.”

Jalu mengangkat tangan.

“Diskon kalau beli banyak.”

“Berapa diskonnya?”

Jalu berpikir.

“Lima ribu.”

Kirana menutup buku catatannya.

“Jalu.”

“Dalam jangka panjang, itu menguntungkan.”

“Kita bahkan belum tahu butuh berapa banyak.”

“Makanya aku antisipasi.”

Manda meletakkan tote bag di meja.

“Antisipasi kiamat kerupuk.”

Tara menahan tawa, tapi gagal ketika Jalu mengeluarkan daftar belanja dari saku.

Kirana mengambil kertas itu dan membacanya.

Semakin lama, wajahnya semakin berubah.

“Kerupuk sepuluh kilo. Cabai rawit tiga kilo. Bumbu seblak. Cup. Sendok plastik. Spanduk?”

Tara menoleh cepat.

“Spanduk?”

Manda mengangkat dua tangan.

“Itu sebenarnya ideku, tapi eksekusinya lepas kendali.”

Kirana membaca lagi.

“Spanduk bertuliskan...” Ia berhenti.

Tara mendekat dan membaca dari samping.

Lalu tertawa.

Kirana menatap Manda dan Jalu.

“SEBLAK ANTI GALAU, KECUALI KAMU?”

Jalu tersenyum bangga.

“Catchy, kan?”

Kirana menaruh kertas di meja.

“Aku minta kalian survei harga.”

Manda mengangguk cepat.

“Betul.”

“Kalian pulang membawa sepuluh kilo kerupuk, tiga kilo cabai, spanduk, dan...” Kirana melihat sesuatu menyembul dari tote bag Manda. “Itu apa?”

Manda cepat-cepat menutup tote bag.

“Bukan apa-apa.”

Tara langsung maju.

“Manda.”

“Dekorasi tambahan.”

Jalu mencoba membantu.

“Maskot.”

Kirana memandang mereka.

“Maskot apa?”

Bima, dari belakang, berkata pelan, “Ayam.”

Hening.

Tara membuka tote bag.

Dari dalamnya, ia mengangkat sebuah boneka ayam berwarna kuning terang, memakai pita merah kecil di leher dan ekspresi mata yang sangat kosong.

Tara menatap boneka itu.

Boneka itu seolah menatap balik dengan penuh kehampaan.

Kirana tidak bergerak.

Manda tersenyum kaku.

“Dia lucu, kan?”

Jalu mengangguk antusias.

“Namanya bisa kita pikirkan nanti.”

Kirana berbicara sangat pelan.

“Aku minta kalian beli bahan.”

Jalu menelan ludah.

Kirana menunjuk boneka ayam itu.

“Bukan membangun kerajaan.”

Jalu, karena tidak punya insting bertahan hidup yang baik, menjawab, “Tapi kerajaan ini punya visi.”

Manda mengangkat boneka ayam seperti piala.

“Dan maskot.”

Tara langsung tertawa sampai duduk di kursi.

Bima mengangkat kamera.

Klik.

Foto itu terambil sempurna.

Manda mengangkat boneka ayam dengan wajah bangga yang terlalu serius. Jalu berdiri di sebelahnya seperti penasihat kerajaan gagal. Tara tertawa di kursi. Kirana tampak seperti ingin mengundurkan diri dari jabatan ketua kelas, sekolah, dan mungkin kehidupan.

Bima menurunkan kamera.

Manda menoleh cepat.

“Kamu foto?”

“Iya.”

“Untuk dokumentasi?”

Bima melihat boneka ayam di tangan Manda.

“Untuk barang bukti.”

“Bim!”

Tapi Manda tertawa.

Dan Bima, tanpa sadar, ikut menyimpan foto itu lebih lama dari foto-foto lain.

Bukan karena boneka ayamnya.

Bukan karena kekacauan Jalu.

Tapi karena di foto itu, Manda terlihat sangat Manda.

Berantakan, spontan, absurd, dan entah bagaimana membuat semua hal yang seharusnya membuat stres terasa sedikit lebih ringan.


Sidang darurat dimulai lima menit kemudian.

Lokasi: ruang kelas XI-2.

Ketua sidang: Kirana Putri.

Terdakwa utama: Jalu Prasetyo.

Terdakwa tambahan: Manda Ayuningtyas.

Saksi: Tara Maheswari dan Bima Arkananta.

Barang bukti: sepuluh kilo kerupuk, tiga kilo cabai, satu spanduk mencurigakan, satu boneka ayam yang mulai membuat semua orang tidak nyaman karena terus ditaruh menghadap mereka.

Kirana berdiri di depan meja.

“Pertama, kenapa kalian belanja padahal aku bilang survei?”

Jalu mengangkat tangan.

“Karena beberapa harga hanya berlaku jika beli langsung.”

“Yang mana?”

Jalu diam.

Manda menunjuk kerupuk.

“Kerupuk.”

Kirana menatapnya.

“Manda.”

“Diskonnya lima ribu.”

“Kita tidak butuh sepuluh kilo.”

Jalu maju sedikit.

“Belum tentu. Kalau stand kita viral—”

“Tidak semua hal harus viral.”

“Kalau tidak viral, bagaimana masa depan promosi kita?”

Tara mengangkat tangan dari kursinya.

“Sebagai bagian promosi, aku tidak bertanggung jawab atas kerupuk sepuluh kilo.”

Manda menatap Tara.

“Pengkhianatan.”

“Aku sayang kalian, tapi aku masih punya akal sehat.”

Kirana lanjut membaca daftar.

“Kedua, cabai tiga kilo. Kenapa sebanyak ini?”

Manda menunjuk Jalu.

“Dia bilang pedas adalah nilai jual.”

Jalu menunjuk Manda.

“Dia menawar sampai penjualnya luluh.”

Manda membalas, “Karena kamu bilang ‘tiga kilo sekalian, Bu, untuk masa depan.’”

Jalu menatap Kirana.

“Itu kalimat motivasi.”

“Itu kalimat yang membuat anggaran bengkak,” kata Kirana.

Bima berkata dari kursinya, “Dan kemungkinan korban meningkat.”

Jalu menoleh.

“Bim, kamu seharusnya netral.”

“Aku dokumentasi. Bukan pengacara.”

Tara tertawa.

Kirana mengambil napas panjang.

“Ketiga, spanduk.”

Manda mengangkat tangan.

“Itu memang aku yang desain cepat di tempat.”

Kirana menatapnya.

“Kenapa tulisannya ‘kecuali kamu’?”

Manda tampak berusaha menjelaskan secara akademis.

“Jadi konsepnya, seblak kita anti galau untuk semua orang, kecuali orang yang membaca. Karena semua orang merasa tersindir, jadi mereka tertarik.”

Tara berhenti tertawa.

“Sebentar. Itu sebenarnya pintar.”

Kirana menoleh.

“Jangan dukung.”

“Maaf, tapi dari sisi promosi, itu clickbait offline.”

Jalu menunjuk Tara.

“Nah! Ahli promosi sudah bicara.”

Kirana memijat pelipis.

“Baik. Spanduk mungkin bisa dipakai setelah dicek lagi.”

Manda dan Jalu saling tos kecil.

“Tapi,” lanjut Kirana, membuat mereka langsung berhenti, “boneka ayam tidak ada hubungannya dengan seblak.”

Manda mendekap boneka ayam itu.

“Ada.”

Kirana menunggu.

Manda berpikir cepat.

“Seblak pakai telur. Telur dari ayam. Jadi ini representasi sumber daya.”

Bima menatapnya.

“Argumen lemah.”

Manda menunjuknya.

“Jangan hancurkan aku di depan anakku.”

Jalu mengangguk serius.

“Dia anak ideologis kami.”

Kirana duduk.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Tara mulai khawatir.

“Ra?”

Kirana menatap semua barang di meja, lalu menatap Manda dan Jalu.

“Aku tahu kalian niat membantu.”

Manda dan Jalu langsung terlihat sedikit bersalah.

“Tapi kalau setiap tugas sederhana berubah jadi... ini,” Kirana menunjuk boneka ayam, “aku bisa gila sebelum festival.”

Jalu menunduk.

“Maaf.”

Manda juga menunduk sedikit.

“Maaf, Ra. Kita kebawa suasana.”

Kirana menghela napas.

“Aku tidak marah karena kalian kreatif. Aku marah karena kalian tidak tanya dulu.”

Manda mengangguk.

“Iya.”

Jalu ikut mengangguk.

“Baik. Ke depannya, semua pembelian di atas harga gorengan harus izin dulu.”

Kirana menatapnya.

“Semua pembelian harus izin dulu.”

“Termasuk gorengan?”

“Khusus kamu, iya.”

Jalu tampak ingin protes, tapi melihat wajah Kirana, ia memilih hidup.

“Siap.”

Suasana sedikit tenang.

Tara mengambil boneka ayam dari Manda dan meletakkannya di tengah meja.

“Kalau begitu, nasib ayam ini gimana?”

Kirana langsung menjawab, “Tidak masuk anggaran.”

Manda mengangkat tangan.

“Aku bayar sendiri.”

Jalu ikut mengangkat tangan.

“Kami patungan.”

Kirana menatap mereka berdua.

“Kalian sudah bayar kas?”

Hening.

Tara tertawa lagi.

Bima menunduk, menyembunyikan senyum kecil di balik kamera.

Manda menunjuk Jalu.

“Dia belum.”

Jalu menunjuk Manda.

“Dia juga belum minggu depan.”

“Minggu depan belum terjadi, Lu!”

“Tapi akan terjadi.”

Kirana membuka buku kas.

“Baik. Sebelum membahas boneka ayam, bayar kas dulu.”

Jalu memegang dada.

“Boneka ini mempersatukan kita dalam penderitaan.”

Bima berkata, “Namanya cocok.”

Manda langsung menoleh.

“Apa?”

“Penderitaan.”

Tara tertawa sampai menepuk meja.

Jalu mengangkat boneka ayam itu.

“Mulai hari ini, dia bernama Derita.”

Kirana langsung menolak.

“Tidak.”

Manda malah tampak suka.

“Derita lucu juga.”

“Tolong jangan beri nama boneka ayam.”

Tara mengambil foto boneka ayam.

“Sudah telanjur. Aku upload ke grup.”

Beberapa detik kemudian, ponsel mereka berbunyi.

Tara mengirim foto

Caption:

Anggota baru panitia: Derita. Jobdesc belum jelas.

Jalu langsung membalas di grup:

Jalu: Derita adalah maskot perjuangan.

Manda:

Manda: Hormati dia.

Kirana:

Kirana: Tidak ada maskot dalam proposal.

Bima menatap grup itu.

Lalu mengetik:

Bima: Derita tidak perlu masuk proposal. Cukup jadi saksi.

Manda langsung menatap Bima dari seberang meja.

“Kamu mendukung Derita?”

“Tidak.”

“Tapi kamu membalas.”

“Fakta.”

“Kamu mulai peduli.”

“Tidak.”

“Peduli.”

“Tidak.”

Jalu menatap mereka bergantian.

“Ini energi debat yang menarik.”

Kirana langsung berkata, “Jalu, jangan.”

“Belum ngomong apa-apa.”

“Wajahmu sudah.”

Tara tersenyum melihat mereka semua.

Ruang kelas yang tadi terasa seperti sidang mulai berubah kembali menjadi tempat ribut biasa.

Manda dan Jalu masih bersalah, Kirana masih stres, Tara masih tertawa, Bima masih diam-diam memotret, dan boneka ayam bernama Derita duduk di tengah meja seperti simbol keputusan buruk yang entah bagaimana membuat hari itu lebih mudah dikenang.


Sore menjelang ketika mereka mulai merapikan barang.

Kerupuk sepuluh kilo akhirnya disimpan di lemari kelas setelah Kirana menulis label besar:

BAHAN FESTIVAL. JANGAN DIMAKAN. TERUTAMA JALU.

Jalu merasa terserang, tapi tidak bisa membantah.

Cabai tiga kilo dibagi. Sebagian dibawa Kirana untuk disimpan sementara di rumah karena “kalau ditinggal di kelas, aku tidak percaya siapa pun.”

Spanduk digulung dan disimpan di pojok.

Boneka ayam Derita diletakkan di atas lemari, meski Kirana bersikeras itu hanya sementara.

Tara pulang duluan karena dijemput kakaknya.

Jalu pergi ke kantin untuk “menyelesaikan urusan moral dengan Bu Yuyun”, yang berarti membayar utang gorengan setelah diingatkan Kirana sebanyak tiga kali.

Kirana ke ruang guru untuk menyerahkan revisi daftar kebutuhan.

Tinggallah Manda dan Bima di kelas.

Manda berdiri di depan lemari, menatap Derita yang duduk di atasnya.

“Menurut kamu Kirana beneran marah?”

Bima memasukkan kamera ke tas.

“Tadi iya.”

“Sekarang?”

“Masih sedikit.”

Manda mengangguk pelan.

“Aku tahu kita nyusahin.”

“Kamu tahu?”

Manda menoleh.

“Bima, aku memang sering bertindak seperti tidak punya rem, tapi bukan berarti aku tidak tahu ada tembok.”

Bima diam.

Kalimat itu terdengar seperti candaan.

Tapi tidak sepenuhnya.

Manda menatap spanduk yang masih tergulung.

“Aku cuma pengin stand kita beda. Biar seru. Biar Kirana juga nanti senang kalau ramai. Biar Tara punya bahan promosi. Biar Jalu... ya, biar Jalu ada kerjaan selain utang.”

Bima menatapnya.

“Dan kamu?”

“Aku?”

“Kamu pengin apa?”

Manda tampak kaget sebentar.

Lalu ia tertawa kecil.

“Aku pengin semuanya nggak tegang-tegang amat.”

Di luar jendela, langit mulai berwarna jingga. Suara siswa yang pulang makin sedikit. Kipas kelas masih berputar dengan bunyi yang sama menyedihkan dan angin yang tetap tidak terasa.

Manda bersandar ke meja.

“Kalau semua orang terlalu serius, capek, Bim. Kadang harus ada yang bikin rusuh dikit.”

“Dikit?”

Manda menunjuk boneka ayam.

“Oke, hari ini rusuhnya agak ukuran keluarga.”

Bima hampir tersenyum.

Manda menangkapnya.

“Nah.”

“Tidak.”

“Mau senyum.”

“Tidak.”

“Kamu tuh susah banget jujur soal senyum sendiri.”

Bima menutup resleting tas.

“Kamu susah banget diam.”

Manda tersenyum lebar.

“Karena kalau aku diam, nanti dunia kehilangan hiburan.”

Bima menatapnya.

“Kamu pernah diam.”

Manda tidak langsung menjawab.

Kalimat itu membuat udara di kelas berubah sedikit.

Tidak banyak.

Tapi cukup.

Manda mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Ya masa aku ngomong terus dua puluh empat jam.”

“Bukan begitu.”

“Terus?”

Bima diam sebentar.

Ia bukan orang yang pandai merapikan kalimat untuk hal-hal semacam ini. Ia bisa mengingat detail, bisa memotret momen, bisa melihat perubahan kecil pada orang lain. Tapi mengatakan bahwa ia melihatnya—itu bagian yang sulit.

Akhirnya, Bima hanya berkata, “Kadang kalau kamu diam, kelihatan beda.”

Manda tertawa.

Terlalu cepat.

“Beda gimana? Lebih cantik? Lebih bijak? Lebih kayak tokoh utama film indie?”

Bima menatapnya.

“Lebih jauh.”

Tawa Manda berhenti.

Untuk pertama kalinya sore itu, ia tidak langsung punya jawaban.

Bima juga tampak baru sadar kalimatnya terdengar terlalu jujur.

Ia segera mengambil tas.

“Aku pulang dulu.”

Manda mengangguk cepat.

“Iya. Pulang sana. Nanti properti kelas dicari inventaris.”

Bima berjalan ke pintu.

Tapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar.

“Manda.”

“Hm?”

“Foto tadi bagus.”

Manda mengerutkan dahi.

“Foto apa?”

“Yang kamu angkat Derita.”

Manda menatapnya.

Lalu senyum jahilnya kembali.

“Oh, jadi kamu mengakui aku fotogenik?”

“Boneka ayamnya.”

“Bima!”

Bima keluar kelas dengan wajah datar.

Tapi Manda melihat sudut bibirnya naik sedikit sebelum ia berbalik.

Kecil.

Sebentar.

Tapi ada.

Manda berdiri sendirian di kelas, lalu menatap Derita di atas lemari.

“Lihat, Der,” gumamnya. “Anak itu nyebelin.”

Boneka ayam tentu saja tidak menjawab.

Tapi anehnya, dada Manda terasa sedikit hangat.

Ia cepat-cepat menggeleng.

“Enggak. Jangan aneh.”

Lalu mengambil tasnya dan keluar kelas.

Di koridor, Bima masih terlihat berjalan beberapa meter di depan.

Manda hampir memanggilnya, tapi tidak jadi.

Ia hanya berjalan pelan di belakang, sambil berpikir bahwa mungkin hari ini memang bencana.

Kerupuk terlalu banyak.

Cabai terlalu banyak.

Spanduk terlalu absurd.

Boneka ayam tidak berguna.

Kirana hampir meledak.

Jalu hampir kehilangan hak belanja.

Tapi di antara semua kekacauan itu, ada satu hal kecil yang Manda bawa pulang diam-diam.

Kalimat Bima.

Kadang kalau kamu diam, kelihatan beda.

Manda tidak tahu kenapa kalimat itu menempel di kepalanya.

Ia juga tidak mau tahu.

Karena dalam Circle Aman Anti Baper, hal seperti itu seharusnya tidak penting.

Seharusnya.

Selasa, 04 Agustus 2026

Yang Naksir Bayar Seblak Ch 5 / 18


 

Chapter 5 — Circle Aman Anti Baper

Awalnya, mereka tidak berniat menjadi circle.

Setidaknya, itu yang selalu Manda katakan setiap kali ada orang mulai menggoda.

“Cie, berlima terus.”

“Cie, geng panitia.”

“Cie, sudah kayak keluarga cemara versi kantin.”

Biasanya Manda langsung membalas, “Bukan circle. Cuma kebetulan sering bareng karena penderitaan yang sama.”

Penderitaan yang dimaksud adalah Festival Senja.

Setelah rapat pertama, rapat kedua datang. Lalu rapat ketiga. Lalu rapat tambahan karena Jalu mengusulkan menu “seblak dessert” yang langsung ditolak oleh akal sehat. Lalu rapat dadakan karena Manda menggambar konsep dekorasi terlalu besar sampai Kirana menghitung ulang biaya dengan wajah nyaris kehilangan harapan.

Semakin sering rapat, semakin sering mereka pulang sore.

Semakin sering pulang sore, semakin sering mereka lapar.

Dan semakin sering mereka lapar, semakin sering meja kantin Bu Yuyun menjadi tempat pelarian.

Meja itu sebenarnya biasa saja.

Letaknya di pojok kanan kantin, dekat tiang yang catnya sudah mengelupas. Permukaan mejanya penuh coretan nama angkatan lama, bekas tipe-x, dan satu tulisan misterius yang berbunyi:

RIZKY JANGAN LUPA JANJI

Tidak ada yang tahu Rizky siapa.

Tidak ada yang tahu janji apa.

Tapi Jalu pernah berkata, “Meja ini penuh sejarah luka.”

Manda menjawab, “Kayak dompet kamu.”

Sejak saat itu, meja itu terasa resmi menjadi milik mereka.

Bukan karena mereka menempelkan nama.

Bukan karena mereka sepakat.

Tapi karena setiap jam istirahat, entah bagaimana, mereka selalu kembali ke sana.

Kirana duduk di sisi paling dekat dengan jalur keluar, supaya mudah pergi kalau dipanggil guru atau harus mengejar anak yang belum bayar kas.

Tara duduk di sebelahnya, selalu dengan minuman berbeda tergantung promo hari itu.

Manda biasanya duduk di sisi tengah, tapi jarang benar-benar duduk normal. Kadang kakinya naik satu, kadang badannya menghadap samping, kadang ia berdiri mendadak hanya untuk memperagakan sesuatu yang sebenarnya bisa dijelaskan tanpa gerakan penuh risiko.

Jalu duduk di ujung, posisi strategis untuk melihat gorengan baru datang.

Bima duduk di sisi yang menghadap lapangan.

Katanya karena cahayanya bagus untuk mengecek hasil foto.

Manda pernah menuduhnya, “Alasan. Kamu duduk situ karena kalau bosan bisa melihat pohon dan berpura-pura punya hidup damai.”

Bima menjawab, “Pohon lebih tenang dari Jalu.”

Jalu, yang sedang mengunyah tahu isi, tersedak harga diri.

Hari itu, kantin lebih ramai dari biasanya.

Anak-anak kelas XII sedang latihan pentas seni di aula, jadi sebagian dari mereka menyerbu kantin setelah latihan. Kelas X juga baru selesai olahraga. Bu Yuyun tampak bergerak dari satu sisi warung ke sisi lain dengan kecepatan yang seharusnya mendapat penghargaan nasional.

“Yang pesan mi ayam sabar! Ibu cuma punya dua tangan, bukan cabang minimarket!”

Jalu menatap Bu Yuyun dengan kagum.

“Bu Yuyun adalah bukti bahwa kepemimpinan tegas masih ada di negeri ini.”

Kirana membuka buku catatan festival.

“Jalu, kamu sudah survei harga kerupuk?”

Jalu langsung menunduk ke piringnya.

“Sedang dalam proses.”

Manda menatapnya.

“Proses apa?”

“Proses mental.”

“Kamu belum survei?”

“Sudah.”

“Mana catatannya?”

Jalu mengeluarkan kertas lusuh dari saku.

Kirana menerimanya, lalu membaca.

Wajahnya berubah.

“Ini bukan catatan harga bahan.”

Jalu mengangguk.

“Memang.”

“Ini daftar jajanan yang kamu beli di pasar.”

“Data lapangan.”

Manda merebut kertas itu dan membaca keras-keras, “Cilok, batagor, es doger, kue cubit, telur gulung—Lu survei pasar apa wisata kuliner?”

Jalu mengangkat telunjuk.

“Kita tidak boleh mengambil keputusan konsumsi tanpa memahami ekosistem makanan di sekitar.”

Tara tertawa sambil mengaduk es jeruknya.

“Terus harga kerupuknya mana?”

Jalu diam.

Kirana menutup mata.

“Jalu.”

“Baik, saya akui. Saya terdistraksi.”

Manda menepuk meja.

“Demi telur gulung?”

“Telur gulung itu memanggil saya.”

“Semua makanan memanggil kamu.”

“Karena saya pendengar yang baik.”

Bima, yang sejak tadi diam, berkata, “Pendengar yang lapar.”

Manda langsung menunjuknya.

“Nah. Ini yang aku bilang. Bima kalau ngomong dikit, tapi akurat.”

Jalu menunjuk Bima balik.

“Lo jangan ikut-ikutan menindas rakyat kecil.”

Bima menatapnya.

“Kamu besar.”

Tara menutup mulut, menahan tawa.

Jalu tampak sangat terluka.

“Body shaming tidak baik.”

“Maksudku suaramu.”

“Oh.” Jalu mengangguk, lalu tersinggung lagi. “Itu juga tidak baik.”

Kirana mengetuk buku catatan dengan pulpen.

“Besok kamu survei ulang. Beneran. Bawa Manda.”

Manda langsung menoleh.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu bisa mengawasi Jalu.”

“Aku bukan CCTV berjalan.”

Jalu mengangkat tangan.

“Tapi kalau jadi CCTV, kamu pasti banyak komentarnya.”

Manda menatapnya tajam.

“Besok aku pastikan kamu cuma beli kerupuk dan rasa malu.”

“Rasa malu saya sudah habis sejak kelas sepuluh.”

“Keliatan.”

Tara tertawa lagi.

Kali ini tawanya ringan. Sejak kejadian Nadia, ia memang masih kadang terlihat melamun, tapi di meja kantin itu, Tara tampak lebih bisa bernapas. Manda tahu. Kirana tahu. Bima juga tahu.

Tidak ada yang membahasnya.

Kadang cara paling baik menjaga teman adalah tidak menarik paksa cerita dari mulutnya.

Kadang cukup duduk di meja yang sama, memesan minuman, lalu membiarkan tawa datang lagi pelan-pelan.

Bu Yuyun datang membawa semangkuk seblak pesanan Manda.

“Seblak level tiga. Siapa?”

Manda mengangkat tangan.

“Saya, Bu.”

Bu Yuyun meletakkan mangkuk di depannya, lalu menatap Jalu.

“Jalu, utang gorengan kemarin belum bayar.”

Jalu membeku.

Kirana langsung menoleh.

Manda menepuk meja sambil tertawa.

Tara berkata, “Ini momen penting.”

Bima mengangkat kamera kecilnya.

Jalu menatap Bima dengan panik.

“Jangan dokumentasikan kemiskinan saya.”

Bima menurunkan kamera sedikit.

“Ini sejarah.”

“Sejarah penderitaan.”

Bu Yuyun melipat tangan.

“Bayar nanti pulang. Jangan pura-pura lupa.”

Jalu mengangguk cepat.

“Siap, Bu. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab.”

Bu Yuyun pergi.

Manda mencondongkan tubuh ke arah Jalu.

“Lu tahu nggak, tiap kamu bilang nggak akan lari, justru wajahmu kelihatan siap sprint.”

“Manusia punya naluri bertahan hidup.”

Kirana mencatat sesuatu di bukunya.

Jalu curiga. “Ra, kamu nulis apa?”

“Utang gorengan Jalu.”

“Kenapa masuk catatan festival?”

“Supaya tidak hilang dari sejarah.”

Tara tertawa sampai hampir menumpahkan es jeruknya.

Bima memperhatikan mereka satu per satu.

Aneh, pikirnya.

Beberapa minggu lalu, mereka hanyalah nama-nama di kelas yang sama.

Kirana, ketua kelas yang rapi.

Tara, anak ceria yang tahu semua promo.

Manda, cewek ribut yang suka membuat kelas berubah menjadi panggung.

Jalu, bencana berjalan dengan dompet tipis.

Sekarang, mereka duduk di satu meja seperti itu adalah hal paling wajar.

Seolah-olah meja kantin pojok kanan memang sejak awal menunggu mereka berlima.

Seolah-olah tawa Manda, omelan Kirana, komentar Tara, dan keluhan Jalu sudah menjadi bagian dari suara kantin.

Bima tidak tahu kapan persisnya sesuatu berubah.

Mungkin saat mereka mulai punya grup panitia.

Mungkin saat mereka pulang sore bersama.

Mungkin saat Kirana kehilangan buku kas.

Mungkin saat Tara duduk di kantin dengan tawa yang terlalu keras.

Atau mungkin perubahan memang tidak pernah datang dalam satu kejadian besar.

Mungkin ia datang dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus sampai akhirnya terasa seperti rumah.

“Bim.”

Bima menoleh.

Manda menyodorkan sendok berisi kuah seblak ke arahnya.

“Mau coba?”

Bima melihat kuah merah itu.

“Level berapa?”

“Tiga.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku masih ingin hidup.”

Manda memutar mata.

“Lemah.”

Jalu langsung maju.

“Sini, gue coba.”

Kirana menahan tangan Jalu.

“Kamu sudah makan gorengan empat.”

“Itu pembuka.”

“Untuk apa?”

“Untuk kehidupan.”

Tara mengambil sendok lain dan mencicipi sedikit kuah Manda.

Beberapa detik kemudian, ia langsung minum es jeruk.

“Man, ini bukan level tiga. Ini level orang yang pengin melupakan masa lalu.”

Manda tampak bangga.

“Enak, kan?”

“Enak, tapi ada sensasi melihat malaikat pencatat amal.”

Jalu makin tertarik.

“Berarti gue harus coba.”

Kirana, Tara, dan Manda serempak berkata, “Jangan.”

Bima menambahkan, “Nanti Bu Yuyun kehilangan pelanggan.”

Jalu menunjuk Bima lagi.

“Kenapa kamu selalu menyerang saat aku tidak siap?”

“Karena kamu jarang siap.”

Manda tertawa sambil memukul meja.

Satu meja ikut tertawa.

Bahkan Kirana, yang tadi mencoba serius dengan catatan festival, akhirnya menutup bukunya.

“Sudah. Kita bahas festival nanti saja. Aku capek.”

Jalu mengangkat kedua tangan seperti baru mendengar kabar kemerdekaan.

“Alhamdulillah! Ketua kelas memberi amnesti!”

Kirana menunjuknya.

“Tapi besok survei harga kerupuk.”

“Tyranny returns.”

Tara menatap mereka sambil tersenyum.

“Eh,” katanya tiba-tiba. “Kalian sadar nggak sih, kita sekarang selalu makan bareng?”

Manda berhenti mengaduk seblak.

Jalu menoleh.

Kirana mengernyit.

Bima diam.

Tara menunjuk meja.

“Lihat. Tempat duduk juga sudah kayak tetap. Kirana di situ. Aku di sini. Manda di tengah biar bisa mengganggu semua arah. Jalu di ujung dekat gorengan. Bima di sana, pura-pura jadi CCTV.”

Bima menjawab, “Aku bukan CCTV.”

Manda menyeringai.

“Kalau aku CCTV banyak komentar, kamu CCTV tanpa suara.”

“Berarti lebih baik.”

“Berarti membosankan.”

“Efisien.”

Jalu menepuk meja.

“Tara benar. Ini sudah bukan sekadar panitia.”

Kirana langsung waspada.

“Jangan mulai.”

“Ini circle.”

Manda langsung mengangkat sendok.

“Tidak.”

Tara tertawa. “Kenapa tidak?”

“Karena kalau disebut circle, nanti ada ekspektasi. Nanti orang-orang mulai bilang ‘cie circle’. Nanti kalau salah satu nggak ikut makan, dibilang berantem. Nanti kalau ada yang dekat sama orang lain, dibilang keluar dari circle. Ribet.”

Jalu menatapnya kagum.

“Untuk orang yang biasanya asal ngomong, analisis kamu kali ini dalam.”

Manda melempar tisu ke wajahnya.

“Tapi,” lanjut Jalu sambil mencabut tisu dari pipi, “kalau kita menyangkal bahwa ini circle, justru itu ciri-ciri circle.”

Tara mengangguk.

“Betul. Nama grup kita aja sudah mencurigakan.”

Kirana mengambil ponselnya.

“Nama grup kita masih ‘Bukan Circle, Cuma Kebetulan Sering Bareng’?”

“Masih,” kata Tara.

Manda mengangkat jempol.

“Nama itu sangat akurat.”

Jalu menggeleng.

“Tidak. Kita perlu upgrade identitas.”

Kirana langsung menatapnya curiga.

“Jangan ganti nama grup aneh-aneh.”

Terlambat.

Ponsel mereka bergetar hampir bersamaan.

Jalu Prasetyo mengubah nama grup menjadi Circle Aman Anti Baper

Tara langsung tertawa.

Manda membaca nama itu, lalu menatap Jalu.

“Circle aman anti baper?”

Jalu mengangguk penuh kebanggaan.

“Ya. Karena kita ini circle yang aman.”

Kirana memicingkan mata.

“Aman dari apa?”

“Dari baper.”

Manda menaruh sendoknya pelan.

“Konsep menarik.”

Bima menatap layar ponselnya.

Nama grup itu terlihat bodoh.

Tapi juga terasa seperti sesuatu yang akan diingat.

Tara menopang dagu.

“Kenapa harus anti baper?”

Jalu mengambil gorengan terakhir dari piringnya.

“Karena sejarah membuktikan, circle bisa hancur kalau ada yang naksir anggota sendiri.”

Kirana mengangkat alis.

“Sejarah mana?”

“Sejarah umum.”

“Itu bukan sumber valid.”

“Ra, perasaan manusia tidak bisa selalu pakai daftar pustaka.”

Manda mengangguk-ngangguk seolah setuju dengan seminar absurd itu.

“Benar juga. Kalau ada yang naksir sesama circle, nanti jadi canggung.”

Tara memainkan sedotan.

“Terus kalau beneran ada yang naksir?”

Jalu menunjuk mangkuk seblak Manda.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Manda langsung menepuk meja.

“Nah. Ini baru hukum yang bisa ditegakkan.”

Kirana menatap mereka bergantian.

“Kalian serius membuat aturan ini?”

Jalu mengangkat tangan.

“Sangat serius.”

Manda ikut mengangkat tangan.

“Demi kestabilan sosial.”

Tara tertawa.

“Bima setuju?”

Semua menoleh ke Bima.

Bima menatap mereka.

Lalu ke mangkuk seblak Manda.

Lalu ke ponselnya yang masih menampilkan nama grup baru.

“Boleh.”

Manda menunjuknya.

“Wah. Kalau Bima setuju, berarti sah. Dia kan notaris tanpa ekspresi.”

Bima menjawab, “Aku tidak punya izin praktik.”

“Tidak apa-apa. Kita juga tidak punya izin membuat hukum.”

Kirana memijat pelipis.

“Aku merasa ini akan menjadi masalah.”

Jalu menggeleng cepat.

“Tidak akan. Justru aturan ini mencegah masalah.”

“Biasanya kalimat seperti itu awal bencana,” kata Kirana.

Tara mencondongkan tubuh.

“Oke, tapi detailnya gimana? Kalau yang baper bayar seblak, level pedasnya ditentukan siapa?”

Manda langsung mengangkat sendok seperti palu sidang.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Jalu berdiri sedikit.

“Saya setuju.”

Kirana menatap Manda.

“Tingkat kebodohan?”

“Iya.” Manda mulai menghitung dengan jari. “Kalau cuma suka diam-diam, level dua.”

Tara menyambung, “Kalau sudah nyari-nyari alasan buat chat?”

“Level tiga,” kata Manda.

Jalu mengangkat tangan.

“Kalau stalking sampai kepencet like foto tahun 2021?”

Manda menatapnya.

“Level empat dan wajib refleksi diri.”

Tara tertawa.

Kirana tanpa sadar ikut tersenyum.

Bima bertanya, “Kalau sampai bikin playlist?”

Manda langsung menoleh ke Bima.

Matanya menyipit.

“Bikin playlist?”

Bima mengangkat bahu.

“Contoh.”

“Judul playlist-nya apa?”

Bima diam sebentar.

“Tugas Biologi.”

Tara langsung meledak tertawa.

Jalu memukul meja.

Kirana menutup mulutnya.

Manda menatap Bima penuh kecurigaan.

“Itu bukan baper biasa.”

Bima menatapnya.

“Bukan?”

“Itu level psikopat.”

Satu meja tertawa.

Bima menunduk sedikit, tapi kali ini senyumnya terlihat jelas.

Kecil.

Cepat.

Tapi terlihat.

Manda langsung menunjuk.

“Tuh! Dia senyum!”

Bima kembali datar.

“Tidak.”

“Jangan bohong. Aku melihat bukti visual dengan mata kepala sendiri.”

Jalu menoleh ke Tara.

“Tolong masukkan ke berita acara. Pada hari ini, Bima Arkananta tersenyum karena playlist Tugas Biologi.”

Tara mengambil ponsel.

“Aku catat di grup.”

Beberapa detik kemudian, pesan Tara masuk:

Tara: Berita acara: Bima senyum. Penyebab: playlist psikopat.

Bima membaca pesan itu.

Lalu membalas:

Bima: Hoaks.

Manda langsung tertawa lagi.

“Dia membalas chat! Ini hari bersejarah jilid dua!”

Kirana tersenyum kecil melihat layar ponselnya.

Jalu mengangkat gorengan seperti piala.

“Dengan ini, Circle Aman Anti Baper resmi berdiri.”

Manda ikut mengangkat sendok.

“Aturannya: dilarang naksir anggota circle sendiri.”

Tara mengangkat gelas es jeruk.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Kirana, meski wajahnya masih ragu, akhirnya mengangkat pulpennya.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Mereka semua menoleh ke Bima.

Bima melihat benda-benda yang terangkat di atas meja: gorengan, sendok, gelas, pulpen.

Tidak ada yang elegan.

Tidak ada yang romantis.

Tidak ada yang terlihat seperti momen penting dalam hidup siapa pun.

Tapi entah kenapa, Bima merasa perlu ikut.

Ia mengangkat kameranya sedikit.

“Dokumentasi.”

Manda menyeringai.

“Sah.”

Klik.

Foto itu terambil dari sudut yang agak miring.

Di dalamnya, Jalu memegang gorengan dengan wajah terlalu bangga. Tara tertawa dengan gelas es jeruk di tangan. Kirana mengangkat pulpen sambil terlihat antara malu dan pasrah. Manda mengangkat sendok dengan ekspresi seperti pemimpin revolusi seblak.

Dan di tepi foto, pantulan kaca kantin menangkap Bima yang berdiri di belakang kamera.

Mereka berlima.

Circle yang katanya aman.

Circle yang katanya anti baper.

Circle yang saat itu belum tahu bahwa aturan yang dibuat sambil tertawa sering kali justru menjadi hal yang paling menyakitkan ketika dilanggar.


Setelah nama grup berubah, hidup mereka seperti mendapat identitas baru.

Manda langsung mengganti foto grup dengan gambar mangkuk seblak yang ia edit memakai mahkota.

Jalu mengirim stiker ayam berjoget sebanyak dua belas kali sampai Kirana mengancam akan mengeluarkannya dari grup, meskipun secara teknis ia tidak tahu cara mengeluarkan orang dari grup tanpa terlihat jahat.

Tara membuat polling pertama:

Kalau ada yang baper duluan, bayar seblak level berapa?

Pilihan:

A. Level dua, masih manusiawi
B. Level tiga, biar sadar diri
C. Level lima, biar kapok
D. Tergantung siapa orangnya

Jalu memilih C.

Manda memilih D.

Tara memilih D.

Kirana memilih A sambil mengetik, “Kalian terlalu ekstrem.”

Bima tidak memilih.

Manda langsung menandainya.

Manda: @Bima pilih. Demokrasi membutuhkan partisipasi properti kelas.

Bima: A.

Jalu: pengecut.

Bima: Waras.

Tara: Bima tipe damai.

Manda: Bima tipe kalau baper diam-diam terus playlist-nya dinamain Tugas Biologi.

Bima: Tidak punya playlist.

Manda: BELUM.

Bima membaca pesan itu di rumah malamnya.

Ia duduk di meja belajar, lampu kamar menyala redup. Di luar jendela, suara motor sesekali lewat. Buku Fisika terbuka di depannya, tapi matanya lebih sering turun ke layar ponsel.

Grup itu ramai.

Terlalu ramai untuk ukuran grup yang awalnya dibuat demi koordinasi festival.

Jalu mengirim foto gorengan dengan caption “makanan rapat besok”.

Kirana membalas, “Jangan pakai uang kas.”

Tara mengirim info promo minuman.

Manda mengirim voice note tujuh detik yang isinya hanya, “Jalu jangan dipercaya.”

Lalu Jalu membalas dengan voice note sebelas detik berisi pembelaan diri yang tidak meyakinkan.

Bima biasanya hanya membaca.

Tapi malam itu, ketika Manda mengirim foto coretan desain stand yang sangat berantakan dengan tulisan:

INI KONSEP AWAL. JANGAN DIHAKIMI.

Bima membuka foto itu.

Ia memperbesar gambar.

Garis-garisnya kacau, tapi idenya jelas. Ada lampion kecil di atas stand. Ada papan menu berbentuk hati retak. Ada sudut foto untuk pengunjung dengan tulisan “Aku sudah sembuh, tapi bohong.”

Bima mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya ia mengirim:

Bima: Lampionnya bagus.

Balasan Manda muncul hampir seketika.

Manda: CUMA LAMPIONNYA?

Bima menatap layar.

Lalu mengetik:

Bima: Yang lain juga. Tapi lampionnya paling aman.

Manda: AMAN DARI APA?

Bima: Dari penghakiman.

Tara mengirim emoji tertawa.

Jalu menulis, “Bima makin berani sejak jadi anggota circle.”

Kirana menulis, “Fokus. Besok kita bahas anggaran dekorasi.”

Manda mengirim stiker kucing mengangkat palu.

Bima menatap stiker itu lama.

Tanpa sadar, ia tersenyum.

Kecil.

Sendiri.

Di kamar yang sepi.

Lalu ia cepat-cepat meletakkan ponsel dan melihat buku Fisika lagi, seolah-olah tertangkap basah oleh dirinya sendiri.


Keesokan harinya, aturan “anti baper” mulai menjadi bahan candaan tetap.

Saat Tara memuji tulisan tangan Bima yang rapi, Jalu langsung berteriak, “Wah, hati-hati! Administrasi baper!”

Tara melempar tisu ke arahnya.

Saat Kirana meminta Bima membantunya mengambil kardus dari ruang OSIS, Manda berkata, “Tenang, aku catat. Bantuan logistik bukan indikasi romantis.”

Kirana langsung merah telinga.

“Tidak ada yang romantis.”

Manda mengangguk serius.

“Betul. Kardus memang tidak romantis.”

Saat Manda meminjam kamera Bima dan hampir menjatuhkannya, Bima memegang tali kamera cepat-cepat, lalu Jalu berkata, “Pegangan tangan terselubung!”

Bima menjawab datar, “Pegangan kamera.”

Manda menatap Jalu.

“Lu kalau nulis skenario FTV pasti semua adegannya di tangga.”

Jalu bangga. “Tangga itu simbol perjalanan emosi.”

Kirana menghela napas.

“Kita baru jalan tiga minggu dan aku sudah lelah.”

Tara tertawa.

Tapi semakin sering aturan itu disebut, semakin aturan itu terasa seperti pagar.

Pagar yang mereka bangun sambil bercanda.

Pagar yang terlihat rendah, lucu, dan tidak penting.

Tidak ada yang sadar bahwa suatu hari, pagar itu akan membuat mereka ragu melangkah.

Hari itu, setelah pelajaran terakhir, mereka kembali berkumpul di meja kantin.

Bu Yuyun baru saja menggoreng cireng. Aromanya membuat Jalu tampak hampir menangis.

“Kita perlu beli,” kata Jalu.

Kirana menatapnya.

“Pakai uang sendiri.”

“Ra, kamu menghancurkan puisi dalam hidupku.”

“Kamu menghancurkan anggaran.”

Manda mengambil satu cireng dari piring Tara.

Tara langsung protes.

“Eh!”

Manda menggigitnya cepat.

“Pajak persahabatan.”

“Kita belum sahabat.”

Manda berhenti mengunyah.

Jalu juga berhenti.

Kirana mengangkat kepala.

Bima menatap Tara.

Tara menyadari semua orang melihatnya.

“Apa?”

Manda menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Tara.

“Kita belum sahabat?”

Tara mengedip.

“Kan... belum deklarasi?”

Jalu langsung berdiri.

“Benar juga. Kita baru deklarasi circle, belum persahabatan.”

Kirana menahan dahinya.

“Deklarasi apa lagi?”

Jalu mengangkat satu tangan.

“Saya, Jalu Prasetyo, dengan ini menyatakan bahwa—”

Kirana menarik lengan bajunya sampai ia duduk lagi.

“Tidak ada deklarasi di kantin.”

Manda menatap Tara.

“Jadi selama ini aku ini apa buat kamu?”

Tara langsung tertawa.

“Teman, Man. Teman dekat.”

“Teman dekat tapi cirengnya nggak boleh dimakan?”

“Itu cireng terakhir.”

“Berarti ujian persahabatan.”

Tara menatap piringnya, lalu menatap Manda.

“Fine. Kamu boleh ambil setengah.”

Manda tersenyum puas.

“Nah. Ini baru fondasi hubungan sehat.”

Bima berkata pelan, “Hubungan yang dimulai dari pemerasan cireng.”

Manda menunjuknya tanpa melihat.

“Diam, properti kelas.”

Tapi ia tersenyum.

Dan Bima melihat.

Kirana juga melihat.

Tara juga.

Mungkin tidak ada yang mengaku, tapi saat itu mereka semua tahu.

Mau disebut panitia, circle, teman dekat, atau kebetulan sering bareng, mereka sudah menjadi sesuatu.

Sesuatu yang membuat jam istirahat terasa kurang lengkap kalau satu orang tidak ada.

Sesuatu yang membuat notifikasi grup WA tidak selalu menyebalkan.

Sesuatu yang membuat meja kantin pojok kanan terasa seperti tempat kembali.

Manda mengangkat mangkuk seblaknya.

“Oke. Finalisasi aturan.”

Jalu langsung siap.

“Dilarang naksir anggota circle sendiri.”

Tara mengangkat gelas.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Kirana mengangkat pulpen, kali ini lebih rela.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Semua menoleh ke Bima lagi.

Bima menghela napas kecil.

Lalu mengangkat kameranya.

“Circle aman.”

Manda tersenyum puas.

“Anti baper.”

Mereka tertawa bersama.

Di meja pojok kantin Bu Yuyun, di antara piring cireng, mangkuk seblak, es jeruk, buku catatan festival, kamera Bima, dan utang gorengan Jalu yang belum selesai, aturan itu resmi hidup.

Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kalimat itu tidak akan terdengar lucu lagi.

Mereka tidak tahu bahwa Kirana akan mengingat payung dan buku kas.

Mereka tidak tahu bahwa Tara akan mengingat kantin dan tawa yang dipaksa lembur.

Mereka tidak tahu bahwa Manda akan menjadi orang yang paling tahu, paling peka, dan paling takut mengaku.

Dan Bima, yang saat itu memotret mereka semua, belum sadar bahwa di antara semua wajah yang ia simpan dalam kameranya, ada satu wajah yang akan selalu ia cari lebih dulu.

Bahkan sebelum ia tahu alasannya.