Rabu, 21 Oktober 2015

Bu Sahabat yang Keceplosan Jadi Calon

 

Bu Sahabat yang Keceplosan Jadi Calon

1

Raka selalu punya satu masalah kalau sudah berurusan dengan Nadia: mulutnya terlalu gampang bercanda, sementara hatinya terlalu lama menyimpan rahasia.

Jumat malam itu dia sedang tiduran di kamarnya sendiri di Bandung, kamar yang cuma dia tempati dua minggu sekali kalau pulang dari kampus. Kipas angin berderit. Dari dapur terdengar Mamah mengomeli kucing tetangga yang nyolong ikan asin. Raka baru mau memejamkan mata ketika HP-nya bergetar.

Nadia: Kang Rakaaa Nadia: Lagi sibuk nggak?

Raka langsung duduk. Dia tidak tahu kenapa badannya selalu bereaksi duluan sebelum otaknya kalau yang chat Nadia.

Raka: Mau cerita apa, Nad? Kuah baso tumpah lagi ke laptop? Raka: Wkwkwk. Cerita aja atuh, biasanya juga nggak pake izin. Nadia: Ih, serius atuh, Kang 😭 Nadia: Dan itu baru SEKALI ya kuahnya tumpah. Dibahas terus seumur hidup.

Mereka sudah berteman sejak SMA. Nadia adik kelasnya, satu angkatan di bawah, anak Rohis yang dulu suka minjam catatan Fisika Raka dan mengembalikannya dengan coretan stabilo warna-warni di mana-mana. Sekarang Raka sudah semester empat di sekolah kedinasan di Jakarta, sementara Nadia kuliah di Bandung. Jaraknya jauh, tapi chat mereka tidak pernah benar-benar putus. Meme tidak jelas, kabar remeh, keluhan soal dosen. Kadang sampai jam satu pagi.

Bagi orang lain, itu persahabatan biasa.

Bagi Raka, sudah lama tidak biasa.

Dia suka sama Nadia. Sudah dari kapan, dia sendiri lupa. Mungkin dari waktu Nadia mengembalikan catatan Fisika dengan tulisan kecil di pojok halaman: "Makasih, Kang. Tulisan Akang jelek tapi rumusnya bener."

Tapi Raka punya prinsip. Dia tidak mau pacaran buat coba-coba. Kalau serius sama seseorang, dia mau mengusahakannya sampai pernikahan. Dan untuk itu dia harus lulus dulu, ditempatkan dulu, kerja dulu, siap dulu. Masih jauh. Jadi selama ini perasaan itu dia simpan rapi, seperti barang mahal yang tidak boleh keluar dari lemari.

Nadia: Jadi gini, Kang. Nadia: Di kampus ada yang suka ngajak aku ngobrol. Namanya Dimas. Satu kelompok tugas. Nadia: Kemarin dia nawarin nganterin pulang. Padahal rumahnya di Buahbatu, aku kan di Cimahi. Muternya jauh pisan. Nadia: Menurut Akang itu teh maksudnya apa?

Raka menatap layar agak lama. Kipas angin masih berderit.

Maksudnya apa? Ya jelas maksudnya apa. Laki-laki mana yang rela muter dari Buahbatu ke Cimahi cuma buat urusan kelompok tugas?

Raka: Oh tidaaak 😭 Akang cemburuu..

Begitu terkirim, jantungnya langsung turun ke perut. Buru-buru dia tambahkan:

Raka: WKWKWK.

Dua tanda centang biru. Nadia sedang mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.

Nadia: Tapi kalau beneran cemburu kenapa, hayo? 👀

Raka: Yaa terserah Nadia atuh. Aku mah apa atuh, cuma temen doangg 😭

Kali ini Nadia tidak langsung membalas. Satu menit. Dua menit. Raka membalikkan HP-nya ke kasur, lalu membaliknya lagi. Mamah di dapur sudah selesai dengan kucing dan sekarang menyalakan murotal dari radio.

Waktu pesan berikutnya masuk, Raka merasa bercandaannya mungkin sudah kebablasan.

Nadia: Kalau aku beneran jadian sama dia, Akang masih mau dengerin cerita-cerita aku nggak?

Raka membaca pertanyaan itu tiga kali.

Jawaban jujurnya: tidak tahu. Dia tidak yakin sanggup mendengarkan Nadia cerita soal kencan dengan laki-laki lain sambil membalas "wkwk mantap". Tapi dia juga tidak mau perasaannya jadi urusan Nadia. Itu urusan dia sendiri.

Raka: Kyaaaa, cie cieee. Tapi Akang kumaha atuh, Nad 💔💔💔 Nadia: Emangnya kenapa kalau aku jadian sama dia?

Raka menghela napas panjang. Jempolnya diam di atas layar.

Raka: Yaa Akang nggak mau atuh deket kayak gini sama kamu kalau kamu udah punya pacar mah 😭 Nggak enak sama pacarmu. Raka: Tapi jadi temen biasa mah nggak apa-apa. Akang bisa pura-pura nggak baper, wkwk.

Lama tidak ada balasan. Lalu:

Nadia: Kang. Nadia: Akang teh selama ini suka sama aku, ya?

Jantung Raka seperti berhenti sebentar, lalu jalan lagi dengan kecepatan yang tidak sehat.

Sebelum dia sempat mengetik apa pun, satu pesan lagi masuk.

Nadia: Aku juga takut kehilangan Akang, tau.

Raka menatap kalimat itu. Dia bisa merasakan wajahnya panas sendiri di kamar yang gelap.

Lalu, karena dia Raka, dia melakukan yang selalu dia lakukan. Berlindung di balik bercanda.

Raka: Iiih dasar kamu mah, Nad. Jangan suka bikin ge-er atuh, aahhh. Raka: Nggak sehat ini buat jantuung. Nadia: Akang mah gitu terus. Nadia: Besok Akang masih di Bandung kan? Raka: Masih. Minggu sore baru balik. Nadia: Ketemu, yuk. Jam 11. Kafe yang deket kampus aku, yang ada es krim gelasnya segede gaban itu. Nadia: Aku mau denger langsung. Jangan lewat chat. Akang mah kalau di chat suka kabur ke wkwk. Nadia: Terus... aku juga ada yang mau diomongin sih.

Raka: Siap, Bu. Nadia: Bu naon 😭 Raka: Bu Nadia. Kan yang ngatur jadwal. Nadia: Udah ah. Tidur. Jangan begadang.

Raka begadang.

Dia berbaring menatap langit-langit sampai murotal di dapur sudah lama mati, sampai kipas angin berhenti berderit karena dia matikan, sampai azan Subuh dari masjid kompleks terdengar dan dia sadar dia belum tidur sama sekali.

Aku juga ada yang mau diomongin.

Apa? Bahwa dia mau jadian sama Dimas? Bahwa dia minta Raka berhenti bercanda soal cemburu?

Atau...

Raka menutup muka dengan bantal. Jangan atuh. Jangan berharap duluan.


2

Jam 10.47, Raka sudah duduk di pojok kafe, di meja dekat jendela yang menghadap jalan.

Dia sudah memesan air mineral, karena tidak tega memesan es krim duluan sebelum Nadia datang. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Di kepalanya, kalimat-kalimat yang dia susun semalaman berbaris rapi seperti barisan apel pagi.

Nad, jadi gini. Akang mau jujur.

Nad, Akang punya prinsip.

Nad—

Pintu kafe terbuka. Lonceng kecil di atasnya berbunyi.

Nadia masuk dengan kerudung dusty pink, tas selempang kanvas, dan muka yang langsung berubah begitu melihat Raka.

"Ya ampun, Kang Raka!" Dia bahkan belum duduk. "Mata panda! Begadang, nya?"

Semua kalimat yang berbaris di kepala Raka bubar jalan.

"Biasa aja atuh, Nad. Ini teh mata hasil perjuangan hidup."

"Perjuangan mikirin saha, tuh?" Nadia duduk sambil memicingkan mata. "👀"

"Kamu barusan ngomong emoji?"

"Iya. Biar Akang ngerti."

Raka hampir keselek ludahnya sendiri.

Mereka memesan es krim. Nadia memilih stroberi, Raka cokelat. Es krimnya datang dalam gelas tinggi dengan sendok panjang yang ujungnya runcing, ukurannya memang segede gaban, persis seperti kata Nadia. Selama beberapa menit mereka mengobrol hal lain. Dosen Nadia yang suka telat tapi galak kalau mahasiswanya telat. Teman asrama Raka yang mengigau bahasa Jepang padahal tidak bisa bahasa Jepang. Kucing tetangga yang tadi malam nyolong ikan asin Mamah.

Raka tertawa di bagian yang tepat. Tapi dari tadi dia memperhatikan sesuatu: Nadia mengaduk es krimnya terus tanpa memakannya, sampai stroberinya pelan-pelan mencair jadi sup merah muda.

Akhirnya Nadia meletakkan sendok.

"Hayu, Kang," katanya. "Katanya ada yang penting mau disampaikan. Akang duluan aja. Nanti aku juga mau cerita."

Raka mengaduk es krimnya sendiri. Sekarang giliran dia yang tidak memakannya.

"Jadi gini ceritanya," katanya akhirnya. "Udah lama Akang suka sama seseorang."

Nadia diam. Sendok di tangannya berhenti.

"Tapi Akang punya prinsip. Akang mah anti pacaran yang main-main. Makanya nggak pernah punya pacar. Jadi rencananya, Akang mau ngajak nikah orang yang Akang suka itu. Nanti. Kalau udah waktunya."

Dia memaksa dirinya terus bicara.

"Masalahnya, itu teh masih lama pisan. Akang aja belum lulus. Jadi yaa, nggak pernah Akang nyatain. Gitu ceritanya."

Raka mengangkat bahu, berusaha kelihatan santai. Dia bisa merasakan telinganya mulai panas.

"Kalau orangnya keburu punya pacar, yaa Akang mundur aja."

"Oh…"

Nadia menatap es krimnya yang sudah setengah cair. Dari tempatnya duduk, Raka bisa melihat Nadia menggigit bibir bawah. Kebiasaan sejak SMA, setiap kali Nadia sedang menimbang-nimbang mau bertanya atau tidak.

"Kang," kata Nadia pelan. "Kalau orang itu akhirnya jadian sama orang lain, gara-gara dia ngira Akang cuma nganggep dia temen, gimana?"

Raka belum sempat menjawab ketika Nadia buru-buru mengangkat tangan.

"Maksudnya, secara teori! Teori, ya!"

"Iya, teori."

"Iya."

Nadia menarik napas. Lalu menarik napas lagi, seperti orang yang mau loncat ke kolam renang tapi airnya dingin.

"Kang, aku boleh nanya satu hal?"

"Naon?"

"Orang yang Akang suka itu… aku kenal, nggak? Atau jangan-jangan, kita pernah ngobrol bareng sama dia?"

Raka menatapnya.

Semalaman dia sudah menyiapkan kalimat yang bagus. Kalimat yang rapi, yang dewasa, yang tidak bikin malu. Semuanya hilang. Yang tersisa cuma Nadia, es krim stroberi yang mencair, dan pertanyaan yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Kali ini, Raka tidak kabur ke wkwk.

"Ah, kamu mah pura-pura nggak peka, Nad," katanya. "Kamu orangnya."

Nadia membeku. Satu detik. Dua detik. Tiga.

"KANG RAKAAA!"

Dua mahasiswa di meja sebelah menoleh. Nadia menutup wajah dengan kedua tangan. Dari sela-sela jarinya, Raka bisa melihat pipinya merah padam.

"Kenapa ngomongnya gitu sih!" Suaranya teredam telapak tangan. "Akang mah dari dulu suka ngomong aneh-aneh! Terus kalau aku tanggepin, malah bilang aku ge-er! Terus aku malu sendiri! Terus aku mikir, ah, Kang Raka mah emang gitu ke semua orang!"

"Nggak ke semua orang, atuh."

"DIEM DULU!"

Raka diam. Dia mengambil sendok, menyuap es krim cokelatnya untuk pertama kali, dan sadar es krim itu sudah tidak dingin lagi.

Nadia menurunkan tangan pelan-pelan. Mukanya masih merah, tapi ada yang lain di situ. Sesuatu yang kelihatan seperti lega, yang dia coba sembunyikan dengan cemberut.

"Terus," katanya, setelah agak tenang. "Aku masih punya satu pertanyaan."

"Mangga."

"Akang beneran suka sama aku? Atau cuma nggak rela kalau aku suka sama orang lain? Soalnya Akang ngomongnya pas aku cerita soal Dimas."

Pertanyaan yang adil. Raka memikirkannya sebentar sebelum menjawab.

"Suka beneran atuh. Dari lama. Dimas mah cuma bikin Akang keceplosan." Dia mengusap tengkuk. "Tapi nggak sampai yang nggak rela. Akang mah udah nyiapin diri buat risikonya. Itu kan konsekuensi prinsip Akang sendiri. Kata Pak Ustaz juga pacaran teh dosa. Jadi kalau kita nggak jodoh, ya udah…"

Nadia terdiam.

"Ya ampun, Kang…"

Raka mengira Nadia akan terharu. Ternyata tidak. Nadia malah kelihatan seperti orang yang baru mendengar sesuatu yang bikin kesal, tapi kesalnya tidak bisa dia marahkan.

"Aku ngerti prinsip Akang," kata Nadia. "Aku juga nggak mau Akang ngelanggar yang Akang yakinin. Beneran. Tapi…"

Dia memutar gelas es krimnya.

"Akang ngomong kayak yang dari awal udah siap kehilangan aku. Udah beres semuanya di kepala Akang. Akang suka, Akang diem, Akang nunggu, kalau aku diambil orang, Akang mundur. Selesai." Dia mengangkat muka. "Padahal Akang aja belum pernah nanya aku maunya apa."

Raka membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Dia tidak pernah memikirkan itu dari sisi Nadia. Selama ini dia merasa sedang bersikap baik. Tidak mengikat, tidak menuntut. Ternyata, dari seberang meja, itu juga bisa kelihatan seperti memutuskan sendirian.

Nadia melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Kalau Akang memang serius sama aku, pernah kepikiran nggak, buat dateng ke keluarga aku? Suatu hari nanti. Bukan sekarang," tambahnya cepat. "Nanti. Kalau Akang udah siap. Kalau memang waktunya udah pas."

Dia menarik napas.

"Soalnya jujur aja, Kang. Aku teh capek juga pura-pura nganggep Akang cuma sahabat."

Hening.

Lalu Nadia sepertinya baru mendengar ucapannya sendiri. Matanya membesar. Dia menutup wajah lagi, kali ini lebih cepat.

"Astagfirullah! Aku barusan ngomong naon!"

Dua mahasiswa di meja sebelah menoleh lagi. Salah satunya senyum-senyum.

Raka tidak tertawa. Dia bisa saja tertawa. Ini kesempatan emas untuk meledek Nadia sampai lebaran tahun depan. Tapi dia tidak melakukannya.

"Nggak ada yang lucu atuh, Nad," katanya. "Yang jujur mah malah harus dihargain."

Nadia menurunkan tangannya. Pelan. Matanya menyipit curiga.

"Tumben bijak. Biasanya juga kerjaannya ngeledekin aku wae."

"Ini teh Akang lagi mode serius. Jarang-jarang. Nikmatin aja."

Nadia mendengus. Raka nyengir. Lalu tawa mereka pecah berdua, dan ketegangan yang dari tadi menggantung di atas meja pelan-pelan turun, seperti es krim yang akhirnya meleleh dari pinggir gelas.


Setelah tawanya reda, Nadia memandangi gelasnya lama.

"Sekarang giliran aku, ya," katanya. "Yang tadi aku bilang mau diomongin."

Raka mengangguk. Dia memegang sendoknya terlalu erat.

"Aku nggak tau nanti kita bakal jodoh atau nggak," kata Nadia. "Itu mah urusan Allah. Tapi aku tau satu hal. Aku nggak mau Akang mundur cuma karena Akang udah mutusin sendiri kalau aku pasti bakal milih orang lain."

Dia menatap Raka lekat-lekat. Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak membuang muka.

"Orang yang paling sering aku cari kalau ada cerita apa pun, ya Akang. Orang yang aku tungguin balesan chat-nya. Yang aku ganggu tengah malem. Yang kalau sehari nggak ngobrol, rasanya ada yang kurang…"

Suaranya mengecil. Mukanya makin merah.

"Ya Akang, Kang." Dia buru-buru menambahkan, "Tapi jangan ge-er dulu."

Raka tidak bisa bicara. Dia cuma bisa menahan senyum, dan menahannya dengan sangat buruk.

"Tuh kan, senyum-senyum," tuduh Nadia. "Dibilang jangan ge-er."

"Ini bukan ge-er. Ini otot muka Akang lagi error."

Nadia mengangkat sendok es krimnya yang panjang dan runcing, mengacungkannya ke arah Raka seperti pedang. "Sekali lagi Akang bercanda, ini melayang."

"Ampun, Bu."

Nadia menurunkan sendoknya. Lalu, hampir berbisik, dia bertanya, "Kalau suatu hari nanti Akang beneran udah siap… Akang masih mau dateng buat aku?"

Raka tidak bercanda kali ini.

"Insyaallah," katanya. "Serius Akang mah."

Cuma itu. Raka tidak menjanjikan tanggal. Tidak meminta Nadia menunggu. Tidak mengklaim masa depan yang belum dia lihat. Dia sendiri tidak tahu dua tahun lagi dia ditempatkan di mana. Bisa di Jakarta, bisa di Papua.

Tapi Nadia mengangguk pelan, dan matanya berkaca-kaca, dan Raka tahu jawaban sesederhana itu sudah sampai ke tempat yang benar.

"Ya Allah, Kang," kata Nadia, mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Kenapa kalau Akang ngomong serius malah bikin aku makin susah bersikap normal!"

Raka terkekeh.

"Tapi, Kang," lanjut Nadia, kembali ke nadanya yang biasa. "Kita nggak usah mendadak jadi aneh, ya. Aku masih mau cerita soal tugas kuliah. Masih mau ngirim meme nggak jelas jam sebelas malem. Masih mau nelepon Akang kalau bingung mau masak apa."

"Kamu nggak pernah masak."

"Makanya nelepon Akang. Biar bingungnya ada temennya."

Dia tersenyum.

"Kalau nanti memang jodoh, insyaallah kita usahain dengan cara yang baik. Kalau ternyata jalannya beda, ya kita hadapin juga dengan baik."

Raka mengangguk.

Lalu, entah dari mana, Nadia memasang muka jahil.

"Jadi… kita teh sekarang Pak Calon sama Bu Calon, gitu?"

Raka hampir menjatuhkan sendoknya.

"Masyaallah. Jadi kita teh Pak Calon sama Bu Calon?" Dia mencondongkan badan ke depan, mendadak serius lagi. "Yakin kamu nggak apa-apa, Nad? Dari awal tadi Akang udah bilang loh, Akang nggak mau ngiket kamu."

Nadia menggeleng.

"Aku tau, Kang. Aku nggak ngerasa diiket kok."

Dia tersenyum kecil.

"Tapi nggak ngiket sama nggak peduli itu beda, tau nggak? Akang boleh nerima kalau ternyata kita nggak jodoh. Tapi bukan berarti Akang harus terus-terusan pura-pura nggak punya perasaan."

Lalu dia memonyongkan bibir, menurunkan suaranya, dan menirukan gaya Raka dengan sangat tidak adil.

"'Aku mah apa atuh, cuma temen doangg.'"

Raka tertawa sampai harus memegangi perut.

"Pokoknya," kata Nadia, mengacungkan telunjuk, "mulai sekarang, kalau Akang bilang 'aku mah cuma temen doang' lagi, aku berhak ngungkit kejadian di kafe ini seumur hidup!"

Dia mengulurkan kelingkingnya ke tengah meja.

"Deal, Pak Calon?"

Raka memandangi kelingking itu sebentar. Lalu dia menautkan kelingkingnya sendiri.

"Deal, Bu Calon."


Waktu berjalan tanpa terasa. Es krim di dua gelas tinggi itu sudah lama berubah jadi genangan cokelat dan merah muda. Matahari di luar jendela sudah pindah posisi.

Nadia melirik jam di HP-nya, lalu terlonjak.

"Astagfirullah, udah mau jam satu!" Dia buru-buru memasukkan HP dan dompet ke tas. "Aku ada kerja kelompok, Kang. Makan siang sambil bahas tugas. Udah ditungguin di gerbang."

Raka tidak bertanya siapa saja anggota kelompoknya. Dia sudah tahu salah satunya.

Nadia berdiri, merapikan kerudung, dan berjalan ke pintu.

Raka tidak bisa menahan diri.

"Dah, hati-hati ya," panggilnya. "Bu Sahabat yang keceplosan jadi calon."

Tangan Nadia yang sudah memegang gagang pintu berhenti.

Pelan-pelan, dia menoleh.

"KANG RAKAAAAA!"

Dua mahasiswa di meja sebelah kali ini terang-terangan tertawa. Nadia menutup mulutnya sendiri, sadar pengunjung lain ikut melirik.

"Saha nu keceplosan!" desisnya, setengah berbisik, setengah berteriak. "Aku teh cuma bercanda, Kang! BER-CAN-DA!"

Raka cuma tersenyum puas sambil menyendok sisa es krimnya yang sudah cair.

Nadia geleng-geleng kepala. Dia jelas berusaha keras menahan senyum, dan kalah.

"Harusnya dulu aku temenan sama orang yang lebih kalem," gerutunya. "Lebih berwibawa…"

Dia berhenti sebentar.

"…tapi nanti aku nggak bisa ketawa kayak gini, sih."

Sesaat, tatapannya jadi hangat.

"Hatur nuhun, ya, Kang. Udah jujur sama aku hari ini."

Lalu, sebelum Raka sempat membalas, mukanya kembali jahil.

"Jangan nungguin aku di sini sambil cemburu, ya! Katanya nggak sampai nggak rela, kan?"

Dia melambaikan tangan lebar-lebar.

"Aku pergi dulu, Pak Sahabat yang Ternyata Suka Sama Aku!"

Lonceng di atas pintu berbunyi. Nadia hilang ke trotoar.

Raka duduk sendirian di meja dekat jendela, dengan dua gelas es krim yang sudah jadi sup dan senyum yang tidak mau pergi dari mukanya. Mahasiswa di meja sebelah mengacungkan jempol ke arahnya.

Raka balas mengacungkan jempol. Malu, tapi bangga.


3

Gerbang kampus cuma lima menit jalan kaki dari kafe. Nadia menghabiskan lima menit itu dengan senyum-senyum sendiri sampai seorang ibu penjual cilok menatapnya curiga.

Dimas sudah berdiri di bawah pohon dekat pos satpam.

"Nadia!"

Dia tersenyum begitu melihat Nadia. Senyumnya baik. Dimas memang orang baik. Itu yang bikin Nadia merasa bersalah selama beberapa minggu terakhir, setiap kali dia menerima tawaran Dimas untuk diantar pulang padahal dia tahu Dimas harus muter jauh.

"Lama nunggu?" tanya Nadia.

"Nggak kok. Yang lain udah duluan ke tempat makan, katanya laper." Dimas menyerahkan sebotol air mineral yang entah sejak kapan dia pegang. "Udah beres ngobrol sama temenmu?"

Nadia menerima botol itu. "Udah. Maaf ya, Dim. Tadi aku memang perlu ngomong dulu sama dia."

Dimas memperhatikan wajahnya sebentar.

"Kamu kelihatan seneng."

"Hah? Masa?"

"Iya. Dari tadi senyum terus."

Nadia spontan menyentuh pipinya. Panas. Dia membuang muka ke arah jalan.

"Ah, biasa aja."

Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar menuju warung nasi tempat teman-teman kelompok mereka menunggu. Motor dan angkot hijau lewat bergantian. Beberapa langkah kemudian, Dimas bicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.

"Nad. Aku boleh nanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu sebenernya udah punya seseorang yang kamu suka, ya?"

Langkah Nadia melambat.

Dia teringat seorang laki-laki yang mungkin masih duduk di kafe, dengan lingkaran hitam di bawah mata, es krim cokelat yang sudah cair, dan senyum jahil yang nyebelinnya minta ampun.

Dia bisa saja mengelak. Bilang "nggak tau" atau "kenapa nanya gitu". Dua minggu lalu, mungkin dia akan menjawab begitu.

Tapi barusan dia duduk dua jam di depan orang yang akhirnya berhenti bercanda dan bicara jujur. Rasanya tidak adil kalau dia sendiri tidak melakukan hal yang sama.

"…Iya," katanya. "Kayaknya iya."

Dimas mengangguk pelan.

"Oh. Temenmu yang tadi?"

Nadia diam sebentar.

"Iya. Aku udah lama kenal dia. Dari SMA."

Dimas tidak langsung bicara. Mereka terus berjalan. Seorang tukang parkir meniup peluit panjang di depan minimarket.

"Makasih udah jujur," kata Dimas akhirnya. Suaranya tetap tenang, walaupun senyumnya tidak lagi sampai ke mata. "Mendingan tau sekarang."

"Maaf ya, Dim. Aku harusnya nggak nerima-nerima aja tiap kamu nawarin nganter. Aku tau rumah kamu jauh."

"Nggak apa-apa. Aku juga yang nawarin." Dimas mengangkat bahu. "Tapi mulai sekarang, kamu naik angkot aja, ya. Bensin aku lagi mahal."

Nadia tertawa, kaget. Dimas ikut tertawa, sedikit dipaksakan, tapi tetap tertawa.

Hari itu Nadia belajar bahwa jujur tidak selalu bikin semuanya jadi gampang. Kadang jujur malah membuka urusan baru yang harus dibereskan dengan dewasa. Ada yang lega, ada yang kecewa, dan dua-duanya harus ditanggung.

Tapi setidaknya, dia tidak lagi berjalan sambil menebak-nebak.


4

Di kafe, Raka akhirnya membayar dua gelas es krim yang sebagian besar tidak dimakan. Kasirnya, perempuan berkerudung hitam yang sepertinya mendengar semuanya, memberinya kembalian sambil berkata, "Semoga lancar, A."

Raka cuma bisa bilang, "Hatur nuhun, Teh," dengan telinga yang kembali panas.

Di angkot pulang ke rumah, HP-nya bergetar.

Nadia: Kang. Nadia: Tadi aku jujur ke Dimas. Bilang aku udah suka sama orang lain. Nadia: Dia baik banget. Malah bercanda soal bensin. Aku jadi ngerasa jahat 😭

Raka memandangi pesan itu. Ada rasa lega, dan di bawahnya ada rasa kasihan pada Dimas. Laki-laki yang rela muter dari Buahbatu ke Cimahi, lalu ditolak dengan sopan. Raka tahu persis rasanya menyukai Nadia dan tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu. Bedanya, Raka beruntung.

Raka: Kamu nggak jahat, Nad. Kamu jujur. Itu beda. Raka: Dimas juga kayaknya orang baik. Doain aja dia dapet yang rumahnya searah. Nadia: HAHAHA AKANG Nadia: Tuh kan bijak lagi. Dua kali dalam sehari. Kesurupan apa? Raka: Kesurupan Pak Calon. Nadia: ... Nadia: Sendok es krimnya masih di tas aku loh, Kang. Nggak sengaja kebawa. Raka: ITU NAMANYA NYOLONG, BU CALON. Nadia: ITU NAMANYA BARANG BUKTI.

Raka tertawa sendirian di angkot. Bapak-bapak di sebelahnya menggeser duduk sedikit menjauh.

Masa depan mereka masih jauh. Raka belum lulus, belum ditempatkan, belum punya apa-apa selain prinsip dan satu janji kelingking di kafe. Belum ada ikatan, belum ada kepastian, belum ada tanggal.

Tapi untuk sekarang, itu sudah cukup.

Mungkin memang begitu cara sebagian cerita dimulai. Bukan dengan pacaran atau janji besar, tapi dengan dua orang yang akhirnya berhenti bercanda cukup lama untuk bilang yang sebenarnya, lalu menyerahkan sisanya kepada Allah sambil tetap berusaha.

Lalu, soal Pak Calon dan Bu Calon?

Yah, setidaknya Raka sekarang punya satu keuntungan. Kalau suatu hari nanti Nadia benar-benar jadi istrinya, dia sudah punya bahan buat menggodanya sampai tua.

Tentu saja dengan satu syarat: Nadia tidak keburu melempar sendok es krim curian itu ke arahnya duluan.


Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar