Rabu, 21 Oktober 2015

Selama Lo Masih Single

 

Selama Lo Masih Single

1

Rabu malam, jam setengah sebelas, HP Raka getar di atas tumpukan fotokopian jurnal yang belum sempat dia stabilo.

Nadia: [foto] Nadia: liat Nadia: ini katanya level 3. level 3 dari mana. ini level neraka

Di foto itu ada semangkuk seblak yang kuahnya merah pekat, nyaris oranye, dengan kerupuk yang sudah lembek dan setengah butir telur mengambang di pinggir.

Raka: Itu bukan seblak, Nad. Itu kuah cabe yang kebetulan ada kerupuknya. Nadia: RAKA BIBIR GUE MATI RASA Raka: Minum susu. Jangan air putih, nanti pedesnya malah nyebar ke mana-mana. Nadia: orang lagi sekarat malah dikasih kuliah kimia Raka: Biologi kali. Nggak tau juga sih. Pokoknya susu.

Raka tahu minggu depan Nadia bakal pesan level tiga lagi. Lalu mengeluh lagi, dengan huruf kapital semua, persis seperti sekarang. Nadia memang begitu. Kalau panik, capslock-nya nyala sendiri. Kalau lagi kesal beneran, balasannya cuma "hm" ditambah stiker kucing gendut yang melotot. Bakso favoritnya bakso urat, pangsitnya harus yang goreng, dan seledrinya wajib disingkirkan karena, kata Nadia, "rasanya kayak makan rumput yang sok wangi."

Raka hafal semua itu. Dia tidak pernah menganggapnya aneh. Menurutnya, teman yang baik memang begitu. Memperhatikan.

Nadia: eh btw gue disuruh ngelipet 400 kotak suvenir buat nikahan kak salsa Nadia: 400 ra Nadia: jari gue udah kayak ceker Raka: Kenapa nggak pake jasa? Nadia: kata mama mahal. tenaga anak bungsu kan gratis Raka: Eksploitasi tenaga kerja dalam rumah tangga. Bisa lapor Disnaker. Nadia: disnaker ga nerima laporan anak bungsu. udah ditolak dari lahir

Raka ketawa sendiri di kamar kosnya. Dari kamar sebelah terdengar suara gim online dan teriakan "WOY, HEAL, HEAL!" Kos-kosan dekat kampus di Bogor memang tidak pernah benar-benar sepi.

Beberapa menit tidak ada balasan. Lalu:

Nadia: ra Nadia: lima taun lagi kita masih temenan ga ya Nadia: kayak gini. chat ga jelas jam segini

Ini bukan pertama kalinya Nadia bertanya begitu. Setidaknya sudah empat kali, kalau Raka tidak salah hitung. Biasanya muncul tengah malam, sesudah Nadia habis membahas hal yang sama sekali tidak berhubungan.

Raka mengetik:

Raka: Tergantung sih. Lima taun lagi lo kerja di mana, gue di mana. Orang makin sibuk, chat makin jarang. Temenan tuh kayak tanaman, Nad. Kalau nggak disiram ya

Nadia: ya ampun ditanya dikit langsung seminar

Raka nyengir. Jempolnya sempat mengetik satu kalimat lagi.

Kalau gue sih maunya masih.

Dia pandangi kalimat itu agak lama. Lalu dia hapus, huruf demi huruf, dan menggantinya dengan:

Raka: Ya diusahain lah. Nadia: oke. dicatet. kalo lima taun lagi lo ngilang gue tagih Nadia: eh kita udah berapa lama sih ga ketemu Raka: Enam bulan. Terakhir pas lo minjem charger gue terus nggak dibalikin. Nadia: ITU GUE BALIKIN YA Raka: Lewat ojol. Kabelnya doang. Kepalanya nggak. Nadia: ... Nadia: sabtu yuk. bakso di margo. gue traktir es teh sebagai permintaan maaf atas kepala charger Nadia: tapi ada peraturan: ga boleh bahas tugas, skripsi, deadline, dosen Raka: Deal.

Mereka sudah berteman dua tahun. Kenalnya di kegiatan mengajar sukarela antarkampus. Nadia pegang kelas matematika, Raka kebagian kelas IPA, dan dua-duanya sama-sama tidak tahu cara menenangkan anak kelas empat SD yang berebut spidol. Sejak itu mereka chat hampir setiap hari. Tapi Nadia kuliah di Depok dan Raka di Bogor. Ketemu langsung jadi semacam acara besar yang harus dijadwalkan, seperti arisan keluarga.

Raka: Taruhan. Sabtu lo pake kerudung ijo. Nadia: kok ijo Raka: Feeling.

Bukan feeling. Tiga kali terakhir mereka ketemu, Nadia selalu pakai kerudung hijau sage. Raka ingat karena warnanya mirip cat pagar SD tempat mereka dulu mengajar.

Nadia: kalo salah? Raka: Gue bayarin pangsit tambahan. Nadia: DEAL. siap2 bangkrut ya pak


2

Sabtu pagi, Nadia terjebak di rumah penjahit langganan Mama di Depok Timur, menyaksikan perdebatan paling panjang dalam sejarah umat manusia: panjang lengan baju seragam keluarga.

"Tiga perempat aja, Bu, biar keliatan gelangnya," kata penjahitnya.

"Nggak, panjang. Nanti foto sama besan kelihatan nggak sopan."

"Ma," Kak Salsa menyela, "itu bajunya buat Nadia, bukan buat Mama."

"Ya makanya Mama yang mutusin."

Nadia berdiri di tengah ruangan dengan kain krem dililitkan ke badannya, tangan direntangkan seperti orang-orangan sawah. Semua seragam perempuan di keluarga besarnya warna krem. Kerudungnya juga krem. Mama sudah membelikan tiga lembar dengan warna yang persis sama, dan Nadia diwajibkan memakai salah satunya hari ini supaya penjahit bisa menyesuaikan nuansa warna kainnya.

Dia mengetik dengan satu tangan, karena tangan satunya lagi sedang diukur.

Nadia: ra sori telat 30 menit. mama belom kelar debat sama penjahit soal panjang lengan Raka: Santai. Gue main basket dulu di Timezone. Nadia: basket beneran? Raka: Yang masukin bola ke ring terus keluar tiket. Olahraga orang dewasa.

Nadia senyum. Lalu notifikasi lain muncul di atas layar.

Kak Ardi: Nad, maaf ganggu weekend. Cuma mau bilang, soal ajakan aku kemarin, aku nggak nagih kok. Kalau udah kepikiran jawabannya, kabarin aja ya. Kalau jawabannya nggak, juga nggak apa-apa.

Nadia membaca pesan itu dua kali. Tidak membalas.

Ardi itu kakak tingkat beda jurusan. Mereka pertama kali bicara di bazar buku fakultas dua bulan lalu, waktu Nadia kebagian mengangkut sepuluh dus snack dari parkiran ke aula sendirian, karena panitia logistik lainnya mendadak "ada kelas". Ardi lewat, tidak bilang apa-apa, langsung mengangkat lima dus. Setelah semuanya sampai di aula, dia cuma bilang, "Lain kali minta tolong aja," lalu pergi. Tidak minta nomor. Tidak minta apa pun.

Mereka ketemu lagi di beberapa rapat. Ngobrol. Lalu chat. Ardi orangnya sopan, agak kaku, dan kalau chat masih pakai "aku-kamu", tidak pernah "lo-gue", bahkan setelah dua bulan. Tapi dia ingat hal-hal kecil. Dia ingat Nadia tidak suka kopi pahit dan selalu pesan yang ada susunya. Dia ingat Nadia sedang menunggu pengumuman asisten dosen, dan dia orang pertama yang bilang selamat waktu pengumumannya keluar. Bahkan sebelum Mama tahu.

Minggu lalu, Ardi mengajaknya makan malam. Berdua.

"Aku mau jujur aja, Nad," katanya waktu itu, di depan perpustakaan, sambil memegangi tali tasnya erat-erat seperti takut tasnya kabur. "Aku pengin kenal kamu lebih jauh. Bukan cuma sebagai temen panitia. Kalau kamu nggak nyaman, bilang aja. Aku nggak bakal jadi aneh."

Nadia menghargai itu. Sungguh. Jarang ada orang yang bisa bilang maunya apa tanpa muter-muter dulu.

Masalahnya, Nadia tidak tahu dirinya suka Ardi, atau cuma suka diperlakukan baik oleh Ardi. Dari dekat, dua hal itu bentuknya mirip sekali.

"Nadia, tangannya jangan turun," tegur penjahit.

Nadia merentangkan tangan lagi. HP-nya dia masukkan ke saku, dengan pesan Ardi masih berstatus terbaca.


3

Skor basket Raka 112. Rekor pribadinya 138. Dia sedang mencoba memecahkannya untuk ketiga kali ketika seseorang menepuk punggungnya.

"Krem," kata Raka, sebelum menoleh sepenuhnya.

Nadia berdiri di belakangnya, masih agak terengah karena naik eskalator sambil setengah lari. Kerudungnya krem. Bajunya krem. Tasnya juga krem, entah sengaja entah kebetulan.

"Seragam keluarga," kata Nadia. "Mama maksa semuanya krem biar kompak pas foto."

"Itu namanya kecurangan sistematis."

"Itu namanya takdir. Pangsit dua, ya."

"Taruhannya pangsit tambahan, bukan pangsit dua."

"Tambahan itu bisa satu, bisa dua. Bahasa Indonesia itu kaya, Ra."

Raka menyerah. Bola terakhirnya meleset dan mesin mengeluarkan tujuh lembar tiket tipis. Nadia memungut tiket-tiket itu dan memasukkannya ke saku Raka seolah sedang menyelamatkan aset negara.

"Main satu lagi, yuk. Yang berdua," kata Nadia. "Abis itu makan."

Mereka berjalan ke mesin isi saldo dekat pintu masuk. Di samping mesin capit boneka, seorang laki-laki tinggi sedang berjongkok di sebelah anak perempuan kecil yang menempelkan wajahnya ke kaca, menunjuk boneka beruang ungu.

Laki-laki itu menoleh. Lalu berdiri.

"Lho, Nadia?"

Nadia berhenti setengah langkah. "Eh. Kak Ardi."

"Nganterin adik," kata Ardi, menunjuk anak kecil itu dengan dagu. "Udah dua puluh ribu belum dapet juga."

"Kakaknya cupu," kata adiknya tanpa melepaskan pandangan dari kaca.

Ardi tertawa kecil, lalu menoleh ke Raka dan mengulurkan tangan. "Ardi."

"Raka."

Jabat tangannya mantap, tapi tidak sok kuat. Raka diam-diam mencatat itu, lalu kesal sendiri karena mencatatnya.

"Temen dari kegiatan ngajar dulu," kata Nadia, entah kepada siapa.

"Oh, yang anak Bogor itu? Nadia pernah cerita," kata Ardi ramah. Lalu, sebelum adiknya menyeretnya kembali ke mesin capit, dia menambahkan dengan suara yang lebih pelan, khusus untuk Nadia, "Yang kemarin santai aja ya, Nad. Nggak usah dipikirin sekarang."

"Iya, Kak."

Ardi pamit. Adiknya sudah memasukkan koin lagi.

Raka tidak bertanya. Dia tidak tahu apa "yang kemarin" itu. Dia juga tidak merasa berhak tahu. Tapi dia melihat Nadia memainkan HP di tangannya, membuka dan mengunci layar tanpa membaca apa-apa, dan dia melihat Nadia memanggil laki-laki itu "Kak" dengan nada yang tidak pernah dipakai untuk memanggil Raka.

Di kepalanya, tanpa diminta, terdengar suara pengumuman yang sudah ribuan kali dia dengar di KRL Bogor–Jakarta.

Pintu akan segera ditutup. Perhatikan barang bawaan Anda.

Selama ini Raka selalu merasa waktunya masih panjang. Kuliah dulu. Kerja dulu. Siap dulu. Baru nanti. Dia tidak pernah kepikiran bahwa "nanti" itu cuma berlaku buat dirinya sendiri. Orang lain tidak ikut menunggu jadwalnya.

"Ra. Woy. Zombie."

Nadia sudah berdiri di depan mesin tembak-tembakan, memegang pistol plastik oranye dengan dua tangan, seperti polisi di sinetron.

Lima detik setelah permainan dimulai, Nadia mulai menjerit. Sepuluh detik kemudian, dia menembaki semuanya: zombie, tong, lampu, langit-langit, dan satu ekor ayam yang sebetulnya cuma lewat. Dia tidak pernah mengisi ulang peluru karena lupa caranya, meskipun Raka sudah meneriakkan "TEMBAK KE LUAR LAYAR!" sebanyak empat kali.

Dua menit kemudian, layar berubah merah. GAME OVER.

Nadia menurunkan pistolnya pelan-pelan, napasnya ngos-ngosan. "Itu... tadi zombie-nya curang."

"Lo nembak ayam, Nad."

"Ayamnya mencurigakan."

Raka ketawa sampai harus pegangan ke mesin. "Ya udah, baguslah. Berarti kita bisa makan lebih cepet."

Nadia mendengus dan menganggapnya ledekan biasa.

Padahal Raka serius. Dia tidak butuh menang. Dia tidak butuh tempat bagus atau acara spesial. Duduk satu meja dengan Nadia selama satu jam saja, buat Raka, sudah cukup jadi alasan naik kereta hampir sejam dari Bogor.


4

Warung bakso itu ada di lantai yang sama, persis di samping Timezone, sehingga sesekali suara "YOU WIN!" dari mesin terdengar sampai ke meja mereka.

"Urat satu, nggak pake seledri," kata Nadia ke mas-mas penjaga. "Pangsit gorengnya empat. Yang dua dia yang bayar."

"Itu baru pertama kali gue denger orang pesen bakso pake klausul," kata Raka.

"Hukum harus ditegakkan."

Es teh mereka datang lebih dulu. Nadia langsung mengaduknya dengan sedotan, terus-menerus, tanpa alasan yang jelas karena gulanya sudah larut dari tadi. Kebiasaan itu muncul tiap kali dia mau cerita panjang.

"Gue keterima jadi asdos," katanya. "Semester depan. Statistika."

"Gue tau. Lo udah ngabarin. Pake tiga stiker kucing joget."

"Ya kan sekarang gue ngomong langsung. Beda."

Dia bercerita sambil terus mengaduk. Honornya memang tidak besar, tapi itu uang pertama yang dia hasilkan sendiri. Dia mau menabung. Mau bisa membelikan Mama sesuatu tanpa harus minta uang ke Mama dulu, "soalnya aneh nggak sih, ngasih hadiah ke orang pake duit orang itu sendiri." Dia mau tetap tinggal dekat rumah, apa pun kerjaannya nanti, karena Kak Salsa sebentar lagi ikut suaminya ke Surabaya dan Mama bakal sendirian. Dia juga mau baca dua puluh buku tahun ini.

"Tahun ini baru dapet berapa?"

"Tiga." Nadia berhenti mengaduk. "Dua komik."

Raka mendengarkan semuanya. Dia tidak sedang pura-pura. Dia memang selalu suka mendengarkan Nadia bercerita tentang rencana, karena di situ Nadia kelihatan paling yakin pada dirinya sendiri.

Bakso datang. Nadia menyingkirkan seledri yang tetap saja nyasar ke mangkuknya, satu per satu, ke pinggir piring kecil.

"Ra," katanya, sambil menatap mangkuk. "Kalo nanti kita udah sama-sama punya pasangan, kita masih bisa kayak gini nggak?"

Raka menuang sambal. Satu sendok. Lalu setengah lagi.

"Mungkin nggak bisa persis kayak gini," katanya. "Nggak bisa chat jam sebelas malem ngomongin seblak. Nggak enak sama pasangan masing-masing. Tapi berubah kan nggak sama dengan ilang. Paling nyesuaiin aja."

"Hmm." Nadia mengunyah bakso uratnya pelan-pelan. "Eh, satu lagi. Kemaren calon mertuanya Kak Salsa nanya, nanti abis nikah Kak Salsa masih kerja nggak. Gue jadi kepikiran. Kalo nanti suami gue nyuruh gue berhenti kerja gimana?"

"Lo maunya gimana?"

"Gue nggak anti jadi ibu rumah tangga. Serius. Kalo emang itu yang terbaik buat keluarga, ya ayo. Tapi gue maunya itu diputusin bareng. Bukan gue disuruh." Dia meletakkan sendoknya. "Gue nggak mau nikah terus tiba-tiba hidup gue jadi kecil. Ngerti nggak sih?"

"Ngerti," kata Raka. "Yang serem tuh bukan berhenti kerjanya. Yang serem itu kalo lo nggak ditanya."

Nadia menatapnya sebentar, lalu mengangguk, seperti guru yang puas karena muridnya akhirnya menjawab dengan benar.

"Lo sendiri gimana? Lo tuh dari dulu nggak pernah pacaran kenapa sih? Jangan bilang belum nemu yang cocok. Klise."

"Bukan belum nemu." Raka mengaduk kuahnya. "Gue cuma nggak mau pacaran yang nggak jelas arahnya. Jalan dua tahun, putus, terus mulai lagi dari nol. Capek. Gue maunya beresin kuliah dulu, kerja, punya tabungan, baru nyari. Yang emang buat nikah."

"Terus?"

"Ya, kalo semuanya lancar, mungkin nikah umur dua enam." Dia buru-buru menambahkan, "Tapi itu rencana doang. Gue tetep tawakal."

Nadia menutup mulutnya dengan tangan, tapi tawanya tetap lolos. "Ya ampun, Ra. Lo udah punya roadmap. Ada Gantt chart-nya nggak?"

"Ada. Belum gue print aja."

Mereka berdua ketawa. Mas-mas di balik gerobak sempat melirik ke meja mereka.

Raka meneguk es tehnya. Lalu, tanpa direncanakan, dia bilang, "Nad. Kalo lo udah punya pasangan nanti, kabarin gue, ya."

Nadia berhenti mengunyah. "Kenapa?"

"Ya... lo kan sahabat gue."

Jawaban itu benar. Cuma belum lengkap.

Nadia memandangi es tehnya. Sedotannya berputar lagi, pelan.

"Yang tadi itu," katanya akhirnya. "Kak Ardi. Kakak tingkat. Dia..." Dia berhenti, mencari kata. "Ya gitu deh."

"Gitu gimana?"

"Nanti aja." Nadia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Ra, gue nanya sekali lagi deh. Serius. Kalo nanti kita sama-sama punya pasangan, kita masih deket nggak?"

Pertanyaan yang sama. Kedua kalinya dalam satu jam.

Tapi kali ini Raka tidak bisa menjawabnya dengan teori tanaman.

Dia menaruh sendoknya. Dari Timezone terdengar suara bel panjang, tanda ada orang yang baru saja dapat jackpot tiket. Seseorang di sana bersorak.

"Gue boleh nanya balik dulu nggak?"

"Apa?"

"Kalo misalnya gue jujur soal sesuatu, tapi risikonya pertemanan kita bisa berubah," kata Raka, "lo mau nanggung risikonya nggak?"

Sedotan di tangan Nadia berhenti.

Dia menatap Raka lama. Raka bisa melihat Nadia sedang menebak-nebak. Mungkin Raka mau pindah kota. Mungkin Raka sakit. Mungkin Raka mau bilang selama ini dia yang menghilangkan kepala charger.

"Mau," kata Nadia. "Kayaknya."

Raka menarik napas.

"Gue suka sama lo, Nad."

Hening. Bukan hening dramatis. Suara mesin capit, sendok beradu dengan mangkuk, dan musik pop dari speaker mal masih terdengar seperti biasa. Hanya meja mereka yang tiba-tiba terasa jauh dari semua itu.

"Gue ngomong bukan karena pengin lo bales sekarang," lanjut Raka, cepat-cepat, sebelum keberaniannya habis. "Bukan juga minta lo nungguin gue. Gue cuma nggak mau sepuluh tahun lagi nyesel karena nggak pernah ngomong."

Nadia tidak menyela. Tangannya diam di atas meja.

"Lo tau sendiri rencana gue. Kuliah, kerja, siap dulu. Kalo nanti waktunya dateng dan perasaan gue masih sama, gue pengin dateng ke lo dengan niat serius. Buat nikah. Tapi itu nanti." Dia menggeleng. "Sekarang gue nggak mau ngiket lo. Lo bebas kenal siapa aja. Kalo nanti lo punya pasangan, gue mundur. Gue hormatin."

"Ra..."

"Gue percaya, kalo emang jodoh, insyaallah nggak ke mana. Tapi kalo ternyata lo jalan duluan karena lo udah nemu jalan lo sendiri, ya gue juga harus bisa terima." Raka tersenyum, sedikit miring. "Gue nggak bakal sok kuat. Pasti sedih lah. Tapi itu urusan gue. Bukan beban lo."

Nadia menunduk. Lama. Kuah baksonya sudah berhenti mengepul.

"Gue nggak bisa bales sekarang, Ra," katanya pelan. "Gue nggak mau bilang 'iya' cuma biar lo nggak sedih. Gue juga nggak mau ngasih harapan yang belum tentu bisa gue tepatin."

"Iya. Gue tau."

"Tapi makasih." Nadia mengangkat wajahnya. Matanya agak merah di pinggir, tapi tidak menangis. "Makasih lo udah jujur. Nggak semua orang berani."

Raka mengangguk. Tenggorokannya terasa sempit. Dia minum es teh lagi, padahal gelasnya tinggal es batu.

Nadia memutar-mutar sedotan, tapi kali ini tidak mengaduk apa-apa.

"Gue boleh nanya sesuatu yang agak jahat nggak?"

"Boleh."

"Selama dua taun ini... lo beneran nyaman temenan sama gue? Atau sebenernya tiap kali lo nemenin gue, lo diem-diem berharap itu bikin kita makin deket?"

Pertanyaan itu memang agak jahat. Tapi Raka paham kenapa Nadia perlu menanyakannya.

"Dua-duanya ada," katanya jujur. "Gue nggak bisa bohong, gue suka sama lo. Tapi gue nggak mau temenan kita jadi kayak nyicil, Nad. Tiap kali gue nemenin lo begadang ngerjain laporan, tiap kali gue dengerin lo ngomel soal suvenir, itu bukan cicilan yang nanti harus lo lunasin pake perasaan." Dia mengetuk meja pelan dengan ujung jari. "Gue suka sama lo. Tapi lo nggak utang apa-apa sama gue."

Nadia diam lama. Lalu dia mengambil satu pangsit goreng dari mangkuknya, pangsit hasil taruhan, dan meletakkannya di mangkuk Raka.

"Apaan nih?"

"Nggak tau. Pengin aja."

Raka menatap pangsit itu. Dia tidak tahu artinya. Mungkin memang tidak ada artinya. Tapi dia memakannya juga.


Mereka duduk di situ lebih lama dari yang direncanakan. Mangkuk sudah diangkat. Gelas es teh sudah diisi ulang sekali.

"Ra," kata Nadia, akhirnya. "Abis ini... lo masih mau nerima chat receh gue nggak? Kayak, seblak, suvenir, kucing di depan rumah gue yang mukanya kayak Pak RT. Lo masih sanggup nggak, sekarang gue udah tau?"

Raka menyandarkan punggung ke kursi plastik. Pura-pura mikir.

"Ya seperti biasa dong, Nad," katanya. "Selama lo masih single."

Lalu dia mengedipkan sebelah mata.

Detik berikutnya, segumpal tisu mendarat di jidatnya.

"RAKAAA! BARUSAN LO BIJAK BANGET, KENAPA SEKARANG ADA SYARATNYA?!"

"Syarat dan ketentuan berlaku!"

"GUE LAPORIN DISNAKER!"

Mas-mas bakso melirik lagi. Kali ini sambil senyum.

Tawa itu melonggarkan sesuatu yang sejak tadi menegang di meja mereka. Waktu tawanya reda, Nadia menyeka sudut matanya dan bicara lagi, kali ini lebih pelan.

"Gue juga nggak mau kehilangan lo, Ra. Serius. Tapi gue minta satu hal." Dia menatap Raka lurus-lurus. "Jangan berhenti jalanin hidup lo gara-gara gue. Jangan nolak kenalan sama orang karena nungguin gue. Gue nggak mau jadi alasan lo berhenti."

"Oke."

"Dan gue juga nggak mau deket sama lo cuma karena takut nyakitin lo. Itu nggak adil buat lo." Dia menggigit bibir. "Jadi kalo nanti ada yang bikin nggak nyaman, kita ngomong. Lo juga. Kalo lo butuh jarak, bilang."

"Deal," kata Raka. "Tanpa klausul pangsit."


Di lobi mal, di dekat pintu keluar ke arah stasiun, Nadia berhenti.

"Ra. Tadi kan kita sepakat jujur."

"Iya."

"Kak Ardi ngajak gue makan. Seminggu lalu. Dia bilang dia mau kenal gue lebih jauh. Serius." Nadia memegang tali tasnya. "Gue belum jawab. Tapi abis ini gue mau jawab. Gue mau coba kenal dia dulu. Pelan-pelan. Gue belum janji apa-apa ke dia."

Raka mendengarnya. Kalimat itu jatuh di dadanya seperti batu kecil ke sumur. Tidak keras, tapi dalam.

"Ini bukan gara-gara lo tadi ngomong," kata Nadia buru-buru. "Gue cuma... gue nggak mau milih apa pun karena ngerasa nggak enak sama siapa pun. Termasuk sama lo."

Raka mengangguk. Dia butuh dua detik sebelum bisa bicara dengan suara yang normal.

"Makasih udah bilang ke gue duluan, Nad."

"Lo nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa itu agak berlebihan," kata Raka. "Tapi gue bakal apa-apa yang baik-baik aja."

"Itu kalimat apaan."

"Nggak tau. Gue juga bingung."

Nadia tertawa kecil, lalu menepuk lengannya dua kali dan berjalan ke arah tempat jemputan ojol.


5

Di jok belakang motor ojol, di tengah macet Margonda yang tidak pernah peduli hari Sabtu, Nadia membuka pesan Ardi.

Dia mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Nadia: Kak, makasih udah sabar. Aku mau kok makan bareng. Tapi aku mau jujur juga, aku belum tau perasaan aku ke Kakak gimana. Aku mau kenal Kakak dulu pelan-pelan, tanpa janji apa-apa dulu. Kalau Kakak nggak keberatan.

Balasan Ardi datang tidak sampai satu menit.

Kak Ardi: Nggak keberatan sama sekali. Makasih udah jujur, Nad. Aku juga lebih tenang kalau gitu.

Nadia mematikan layar. Dia tidak merasa bersalah, dan itu justru yang membuatnya lega. Dia memilih bukan karena takut menyakiti Ardi, juga bukan karena takut menyakiti Raka. Untuk sekali ini, dia memilih karena dia sendiri ingin tahu jawabannya.

Tapi waktu motor berhenti di lampu merah dan dia melihat bayangan dirinya di kaca spion, dengan kerudung krem yang kalah taruhan itu, dia teringat Raka yang memakan pangsit pemberiannya tanpa bertanya lagi. Dadanya terasa sedikit sakit, dan dia tidak tahu harus menamai rasa sakit itu apa.


Malamnya, di KRL arah Bogor yang penuh orang pulang belanja, HP Raka bergetar.

Nadia: RAAAA Nadia: mama barusan nambahin 60 orang ke daftar tamu Nadia: ENAM PULUH Nadia: gue nanya itu siapa aja katanya "temen pengajian yang dulu" Nadia: pengajian yang mana ma. mama udah pengajian dari jaman orba Nadia: berarti suvenirnya kurang 60. berarti jari gue

Raka memandangi layar. Di jendela kereta, lampu-lampu Citayam lewat satu-satu.

Rasa sedihnya masih ada. Raka tidak berusaha mengusirnya. Biar saja rasa itu ikut duduk di sebelahnya sampai Bogor.

Lalu dia mengetik:

Raka: Turut berduka atas jari lo. Raka: Jadi ceker level dua. Nadia: HAHAHAHA SIALAN Nadia: [stiker kucing joget]

Hidup jalan terus. Seblak masih pedas, suvenir masih kurang, dan kucing di depan rumah Nadia mukanya masih mirip Pak RT.

Bedanya, sekarang mereka berdua tahu. Ternyata jujur bisa mengubah sesuatu tanpa harus menghancurkannya.


6

Dua tahun kemudian.

Raka sudah kerja di kantor konsultan di Jakarta Selatan. Dia berangkat jam enam pagi, pulang jam delapan malam, dan baru tahu bahwa "nanti gue kabarin" di dunia kerja bisa berarti tiga minggu. Chat dari Nadia tidak lagi dia balas dalam lima menit. Kadang lima jam. Kadang besok paginya, diawali dengan "sori baru buka".

Nadia juga sama. Sejak lulus, dia jadi staf pengajar honorer di kampusnya sambil mengurus Mama, yang sejak Kak Salsa pindah ke Surabaya mendadak hobi ikut tiga kelompok senam sekaligus. Ada minggu-minggu ketika percakapan mereka cuma dua atau tiga pesan. Pernah juga empat bulan lewat tanpa ketemu sama sekali.

Soal Ardi, Raka cuma tahu yang Nadia ceritakan. Mereka sempat dekat cukup lama, cukup serius sampai Ardi pernah main ke rumah Nadia. Lalu suatu malam, delapan bulan lalu, Nadia mengirim pesan pendek:

Nadia: ra. gue sama kak ardi udahan. baik2 kok. ga ada yang salah. kita cuma sadar kita cocok jadi temen, tapi ga cocok buat bangun rumah bareng

Raka membaca pesan itu di toilet kantor, lama.

Dia tidak langsung datang. Dia tidak mengirim kalimat yang sudah dia simpan dua tahun. Dia cuma membalas:

Raka: Lo gimana? Butuh bakso? Nadia: nanti aja. makasih ra

Dan Raka menghormati "nanti aja" itu.

Raka juga tidak diam di tempat. Dia ikut klub lari kantor dan selalu finis paling belakang. Dia ikut kajian Sabtu pagi di masjid dekat kos barunya. Dia pernah mau saja dikenalkan dengan anak teman ibunya, seorang apoteker di Cibinong yang baik dan sopan. Mereka makan siang sekali, ngobrol soal harga obat dan kucing. Di ujung pertemuan, dua-duanya sama-sama tahu tidak ada yang perlu dilanjutkan. Raka pulang tanpa merasa gagal.

Dia tidak menganggap dirinya sedang menunggu Nadia. Tapi dia juga tidak mau bohong bahwa perasaan itu sudah hilang.

Lalu, suatu Kamis malam:

Nadia: ra, masih inget tempat bakso yang dulu? Raka: Yang gue kalah taruhan terus lo malak pangsit? Nadia: ITU BUKAN MALAK. ITU HAK PEMENANG 😭 Raka: Wkwkwk. Kenapa emang? Nadia: ketemu yuk. udah lama banget


Sabtu itu Raka datang lebih awal lagi. Tapi kali ini dia tidak mampir ke Timezone. Dia langsung duduk di meja yang sama, di samping tiang yang sama, dan memesan es teh.

Nadia datang sepuluh menit kemudian. Kerudungnya hijau sage.

Raka tidak bilang apa-apa. Nadia juga tidak. Tapi waktu duduk, Nadia sempat melirik kerudungnya sendiri, lalu melirik Raka, dan pura-pura sibuk membaca menu yang sudah dia hafal.

"Urat satu, nggak pake seledri, pangsit goreng dua," katanya ke mas-mas penjaga. Mas-masnya masih orang yang sama, hanya kumisnya sekarang lebih tebal.

Mereka bercerita. Pekerjaan Raka yang ternyata lebih banyak rapat daripada kerja. Mahasiswa Nadia yang menulis "statistika" jadi "statiska" di lembar UTS dan tetap ngotot itu bukan salah ketik. Mama yang sekarang punya akun TikTok. Kak Salsa yang sedang hamil anak kedua.

Nadia mengaduk es tehnya terus, seperti dulu.

Lalu, di satu jeda, waktu kuah baksonya mulai dingin, Nadia menatap Raka.

"Ra. Gue mau nanya. Dulu, abis lo bilang suka sama gue, lo pernah nyesel nggak?"

Raka berpikir sebentar.

"Takut, pernah. Nyesel, nggak."

"Kenapa?"

"Soalnya kalo dulu gue nggak ngomong, gue bakal terus nebak-nebak. Tiap lo chat jam sebelas, gue bakal mikir, 'jangan-jangan.' Tiap lo nanya lima tahun lagi kita masih temenan nggak, gue bakal ngira itu kode." Raka memutar sendok di mangkuknya. "Capek, Nad. Mending gue ngomong, terus tau jawabannya, walaupun jawabannya 'belum'."

"Terus... sekarang perasaan lo gimana?"

Raka tidak langsung menjawab. Di Timezone, mesin basket berbunyi. Seseorang pasti sedang mengejar rekor.

"Masih ada," katanya akhirnya. "Gue nggak bisa pura-pura nggak ada. Tapi beda sama dulu. Gue nggak lagi nungguin lo mutusin sesuatu."

Dia menatap Nadia dengan tenang.

"Kalo suatu hari gue dateng lagi buat ngomong serius, gue pengin itu karena gue emang udah siap bangun hidup bareng lo. Bukan karena gue udah kelamaan nyimpen terus ngerasa berhak dapet jawaban."

Nadia tidak berkata apa-apa. Dia cuma mengangguk pelan, lalu menyuap baksonya.

Raka tidak tahu apa yang ada di kepala Nadia. Tapi dia tahu apa yang barusan dia katakan, dan dia memaksudkannya. Dia tidak menawarkan janji untuk menunggu. Dia cuma bilang perasaannya pernah ada, mungkin masih ada, dan tidak akan dia pakai untuk mengatur hidup siapa pun.

Mereka lanjut makan.

Tidak ada pengakuan kedua. Tidak ada permintaan untuk menunggu. Tidak ada kesepakatan apa-apa.

Cuma dua orang yang sudah saling kenal empat tahun, makan bakso di meja yang sama, dan kali ini tidak ada yang perlu disembunyikan.


Di lobi mal, di dekat pintu keluar yang sama, Nadia menepuk bahu Raka.

"Ra. Kalo nanti lo nikah duluan, gue masih boleh jadi temen lo, kan?"

Raka menoleh, pura-pura kaget. "Lah. Dulu kan lo yang nanya gitu ke gue. Sekarang kebalik?"

"Ya siapa tau istri lo galak."

"Kalo istri gue galak, berarti gue yang harus belajar komunikasi. Bukan malah ngilangin semua temen gue."

"Cieee. Udah kebayang istrinya."

"Ya kan harus punya rencana. Umur dua enam, inget?"

"Lo udah dua empat, Ra. Dua taun lagi."

"Makanya. Gantt chart-nya udah gue print sekarang."

Nadia tertawa sampai membungkuk. Satpam di dekat pintu melirik mereka.

Lalu mereka berpisah. Nadia ke tempat jemputan ojol. Raka ke stasiun.


KRL arah Bogor sore itu tidak terlalu penuh. Raka dapat duduk, di dekat pintu, persis di bawah pengumuman yang sudah ribuan kali dia dengar.

Pintu akan segera ditutup.

Dulu kalimat itu bikin dia panik. Sekarang dia cuma mendengarnya sebagai pengumuman biasa. Pintu yang satu tertutup, lalu kereta berhenti di stasiun berikutnya, dan pintu yang lain terbuka. Begitu terus sampai Bogor.

HP-nya bergetar.

Nadia: ra tadi gue lupa bilang Nadia: kalo sabtu depan lo mau ngajak bakso lagi, gue mau Nadia: selama lo masih single 😜

Raka menatap layar. Lalu dia tertawa sendirian, cukup keras sampai ibu-ibu di depannya mengangkat alis.

Kalimatnya dibalikin. Dua tahun dia simpan sebagai lelucon, sekarang Nadia mengembalikannya dengan emoji yang sama.

Mungkin itu cuma bercanda. Mungkin juga bukan. Raka tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa harus segera tahu.

Raka: WKWKWK DIBALIKIN Raka: Oke. Sabtu depan. Raka: Pangsit lo yang bayar.

Nadia: [stiker kucing joget]

Kereta berhenti di Citayam. Pintu terbuka.

Raka menyimpan HP-nya ke saku, lalu bersandar dan memejamkan mata sampai Bogor.


Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar