Barang yang Dibeli, Hidup yang Dijalani
Raka dan Dimas duduk sebangku sejak kelas tujuh.
Kalau dilihat dari seragam, keduanya hampir tidak berbeda. Kemeja putih yang sama, celana biru yang sama, sepatu hitam yang sama-sama sering terkena debu lapangan sekolah.
Perbedaannya baru terlihat ketika bel pulang berbunyi.
Dimas biasanya dijemput mobil. Raka berjalan kaki.
Rumah Dimas berada di kompleks besar di tengah kota. Rumah Raka berada hampir lima kilometer dari sekolah, di pinggir desa, setelah jalan aspal berubah menjadi jalan batu dan kemudian menjadi tanah. Ia tinggal bersama ibu dan adiknya di sebuah rumah kecil berdinding papan yang oleh Raka sendiri kadang ia sebut "gubuk", tanpa sedikit pun merasa malu.
Suatu Jumat, Dimas berkata kepadanya,
"Besok main ke rumahku, yuk."
Raka mengangguk.
"Jauh nggak?"
Dimas tertawa.
"Buat kamu? Kayaknya nggak ada tempat yang jauh."
Sabtu pagi, Raka datang dengan berjalan kaki.
Begitu masuk rumah Dimas, ia beberapa kali berhenti hanya untuk melihat-lihat. Bukan karena terpukau oleh kemewahan, melainkan karena banyak benda di rumah itu yang belum pernah ia lihat.
Di sebuah ruangan dekat taman belakang terdapat alat besar dengan sabuk hitam yang bisa bergerak.
Raka menunjuk.
"Itu apa?"
"Treadmill."
"Untuk apa?"
"Jalan sama lari."
Raka mendekat. Ia melihat layar kecil, tombol kecepatan, penghitung jarak, kalori, dan detak jantung.
"Jadi kita berdiri di sini, terus jalannya bergerak?"
"Iya."
"Terus kita jalan?"
"Iya."
"Tapi nggak ke mana-mana?"
Dimas mulai tertawa.
"Iya."
Raka ikut tertawa.
Dimas menyalakan treadmill dan memperagakannya. Setelah beberapa menit, layar menunjukkan jarak 800 meter.
"Bapak biasanya lari lima kilometer setiap pagi," kata Dimas. "Katanya supaya konsisten olahraga."
Raka memandangi angka di layar.
"Lima kilometer?"
"Iya."
Raka terdiam sebentar, lalu tersenyum.
"Jarak rumahku ke sekolah hampir segitu."
"Kamu tiap hari jalan segitu?"
"Pergi doang. Pulangnya lima kilometer lagi."
Dimas menghentikan treadmill.
Raka mengusap permukaan pegangan alat itu.
"Ternyata aku punya treadmill yang panjang sekali."
Dimas mengernyit.
"Mana?"
Raka menunjuk ke luar jendela.
"Jalan dari rumah sampai sekolah."
Mereka tertawa.
Tetapi dalam hati Raka tiba-tiba merasa bersyukur. Selama ini ia sering mengeluh karena harus bangun lebih pagi. Ia pernah iri melihat teman-temannya datang dengan sepeda motor atau mobil.
Hari itu ia baru sadar bahwa sesuatu yang baginya adalah keterbatasan ternyata menjadi kegiatan yang sengaja dicari orang lain.
Mereka kemudian masuk ke kamar Dimas.
Di dekat lemari terdapat rak berisi banyak sepatu.
Dimas mengambil satu pasang sepatu dengan sol sangat tipis.
"Ini baru dibeli Bapak. Barefoot shoes."
"Barefoot?"
"Sepatu yang dibuat supaya rasanya seperti jalan tanpa sepatu. Katanya lebih natural."
Raka membalik sepatu itu.
"Harganya berapa?"
"Hampir dua juta."
Raka terdiam.
"Dua juta?"
"Iya."
"Supaya rasanya kayak nggak pakai sepatu?"
"Iya."
Raka melihat telapak kakinya sendiri.
Kalau tidak sekolah, ia memang hampir selalu bertelanjang kaki. Pergi ke kebun, mengambil kayu, bermain di sungai, bahkan mengejar ayam yang masuk ladang.
Ia sudah mengenal rasa tanah kering yang panas, lumpur setelah hujan, batu sungai yang dingin, rumput pagi yang basah, sampai kerikil tajam yang membuat langkah harus hati-hati.
Raka mengembalikan sepatu itu ke rak dengan pelan.
"Berarti kakiku mahal juga."
Dimas tertawa keras.
"Kenapa?"
"Aku barefoot asli."
"Kamu nggak takut kena batu?"
"Makanya lihat jalan."
Dimas masih tertawa, tetapi Raka justru memikirkan sesuatu.
Benda mahal itu dibuat agar seseorang bisa merasakan kembali sesuatu yang selama ini ia anggap biasa.
Mereka lalu naik ke lantai atas.
Di salah satu ruangan terdapat rak besar penuh peralatan.
Ada tenda, sleeping bag, kompor portabel, lampu kepala, tongkat trekking, tas carrier, hammock, botol minum khusus, pisau lipat, kursi kecil, sampai alat penyaring air.
"Wah, ini semua buat apa?"
"Camping."
Dimas mengambil sebuah tenda kecil.
"Ini ringan banget. Bisa dibawa naik gunung."
Raka melihat label harga yang masih tergantung.
"Empat juta?"
"Itu tenda bagus."
Dimas kemudian menunjukkan sleeping bag.
"Kalau ini supaya bisa tidur di tempat dingin."
Berikutnya matras.
"Ini supaya tidur di tanah tetap nyaman."
Lalu lampu kepala.
"Ini buat jalan malam."
Kompor portabel.
"Ini buat masak di luar."
Tongkat trekking.
"Ini supaya kuat jalan di jalur naik turun."
Raka semakin lama semakin diam.
Dimas akhirnya bertanya,
"Kok kamu bengong?"
Raka menggeleng.
"Nggak. Aku baru sadar ternyata kegiatan di sekitar rumahku banyak alatnya."
"Maksudnya?"
"Kalau mati lampu, aku pakai lampu minyak. Kalau mau masak di luar, bikin api pakai kayu. Kalau mau tidur di luar, tinggal gelar tikar di bale depan."
Ia mengambil tongkat trekking itu.
"Kalau jalan ke bukit, biasanya aku cari kayu begini di pinggir jalan."
Dimas mulai memahami.
"Sering naik bukit?"
"Hampir tiap minggu. Di belakang rumahku ada bukit kecil. Lewat sana ada sungai."
"Bagus?"
"Menurutku biasa saja."
Raka berhenti.
Kemudian ia mengoreksi kalimatnya sendiri.
"Eh, mungkin bukan biasa. Aku saja yang terlalu sering lihat."
Ia teringat pagi-pagi ketika kabut turun sampai ke halaman. Suara burung yang membangunkannya. Aliran sungai tempat ia dan adiknya mencari ikan kecil. Pohon jambu yang bisa dipanjat tanpa tiket. Bukit yang dari puncaknya memperlihatkan sawah sampai jauh ke desa sebelah.
Selama ini ia sering membandingkan rumahnya dengan rumah orang lain.
Atap seng mereka bocor di dua tempat.
Lantai dapur masih tanah.
Air harus diambil dari sumur.
Kalau hujan besar, jalan menjadi becek.
Tetapi pada hari itu, untuk pertama kalinya Raka melihat kehidupan mereka dari sisi yang berbeda.
Di rumah Dimas ada mesin untuk berjalan.
Di tempatnya ada jalan panjang.
Ada sepatu mahal agar kaki terasa menyentuh tanah.
Ia memiliki tanah itu sendiri.
Ada peralatan mahal agar manusia bisa beberapa hari tinggal dekat alam.
Ia tinggal di dekat alam setiap hari.
Dimas kemudian menunjukkan foto keluarganya ketika camping.
"Kami tahun lalu ke tempat ini."
Raka melihat foto sebuah keluarga sedang duduk di depan tenda. Di belakangnya terdapat sungai kecil berbatu.
"Bagus, kan?"
Raka mengangguk.
"Bagus."
"Tiket masuknya lumayan mahal. Tapi seru. Malamnya dengar suara sungai."
Raka tersenyum.
"Aku tiap malam dengar."
Dimas menatapnya.
"Serius?"
"Kalau habis hujan suaranya sampai rumah."
Untuk beberapa saat keduanya diam.
Anehnya, Dimas yang kemudian terlihat iri.
"Enak juga rumahmu."
Raka hampir tertawa.
Selama bertahun-tahun justru ia yang merasa kehidupan Dimas jauh lebih enak.
Sore harinya, mereka duduk di halaman belakang sambil minum teh.
"Rak," kata Dimas, "minggu depan aku boleh main ke rumahmu?"
Raka menatapnya.
"Ngapain?"
"Ya main."
"Nggak ada apa-apa di rumahku."
"Ada sungai."
"Itu sungai biasa."
"Ada bukit."
"Bukit kecil."
"Bisa bikin api?"
"Bisa."
"Bisa tidur di luar?"
"Bisa, tapi banyak nyamuk."
Dimas tertawa.
"Pokoknya aku mau."
Raka akhirnya mengangguk.
Minggu berikutnya, Dimas benar-benar datang.
Ia membawa carrier besar, sepatu trekking, topi, botol minum, trekking pole, dan jaket outdoor.
Raka hanya memakai kaus, celana pendek, dan sandal tipis.
Melihat Dimas turun dari mobil, Raka tertawa.
"Kita mau ke belakang rumah, bukan ke Everest."
Dimas memandang perlengkapannya sendiri.
"Bapak yang nyuruh bawa."
Mereka berjalan melewati kebun singkong, pematang sawah, lalu masuk ke jalan kecil menuju bukit.
Belum sampai satu kilometer, Dimas sudah berkeringat.
Raka berjalan santai di depannya.
"Masih jauh?"
"Katanya kamu punya treadmill."
"Itu beda!"
Ketika sampai sungai, Dimas melepas sepatu trekkingnya yang mahal.
Raka sudah lebih dulu masuk ke air dengan kaki telanjang.
"Dingin!" teriak Dimas.
Raka tertawa.
"Nah. Ini fitur pendinginnya."
Mereka duduk di atas batu sambil merendam kaki.
Tidak ada layar.
Tidak ada penghitung langkah.
Tidak ada indikator kalori.
Tidak ada tiket.
Hanya suara air, daun yang bergerak, serangga, angin, dan cahaya matahari yang menembus pepohonan.
Dimas mengambil ponselnya untuk memotret.
Raka memandang sungai yang sudah ia lihat ratusan kali.
Entah kenapa, sore itu sungai tersebut tampak berbeda.
Lebih indah.
Bukan karena sungainya berubah.
Cara Raka melihatnya yang berubah.
Dalam perjalanan pulang, Dimas berkata,
"Rak, kamu sebenarnya kaya juga."
Raka tertawa.
"Rumahku saja bocor."
"Bukan kaya begitu."
Raka mengerti maksudnya.
Ia juga tahu bahwa kemiskinan bukan sesuatu yang harus dibuat indah-indah. Ia tetap ingin ibunya tidak perlu khawatir soal uang. Ia ingin rumah mereka diperbaiki. Ia ingin suatu hari mempunyai kendaraan agar ibunya tidak perlu berjalan jauh ke pasar.
Tetapi sekarang ia mengerti satu hal.
Tidak memiliki sesuatu tidak selalu berarti tidak mendapatkan manfaatnya.
Kadang manusia membeli treadmill untuk mendapatkan perjalanan kaki yang sudah menjadi keseharian orang lain.
Membeli sepatu barefoot untuk merasakan tanah yang sudah akrab dengan telapak kaki orang lain.
Membeli tenda, kompor, tongkat trekking, hammock, dan berbagai perlengkapan agar selama dua hari bisa hidup dekat dengan alam yang menjadi halaman belakang orang lain.
Dan sebaliknya, banyak hal yang dimiliki Dimas juga merupakan kenyamanan yang sungguh berharga. Rumah yang kokoh, pendidikan yang terjamin, kendaraan, dan kehidupan tanpa rasa cemas tentang kebutuhan sehari-hari bukan sesuatu yang pantas diremehkan hanya karena bisa dibeli dengan uang.
Sejak hari itu mereka tidak lagi terlalu sibuk menentukan siapa yang lebih beruntung.
Dimas belajar bahwa harga sebuah pengalaman tidak selalu tertulis pada label barang.
Raka belajar bahwa kekurangan tidak harus menutup matanya terhadap apa yang sudah ia miliki.
Senin berikutnya mereka kembali duduk sebangku.
Dimas datang dengan mobil.
Raka datang setelah berjalan hampir lima kilometer.
"Kamu olahraga pagi lagi?" tanya Dimas.
Raka meletakkan tasnya.
"Sepuluh kilometer sehari."
"Lima kilometer, kali. Kan baru berangkat."
Raka tersenyum.
"Nanti pulang."
Dimas mengangguk serius.
"Treadmill alami?"
"Treadmill alami."
"Gratis?"
Raka berpikir sebentar.
Kemudian ia melihat sedikit lumpur yang menempel di ujung sepatunya.
"Nggak juga."
"Bayarnya pakai apa?"
Raka tersenyum.
"Bangun lebih pagi."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar