Chapter 6 — Manda, Jalu, dan Bencana Stand Seblak
Kirana Putri seharusnya tahu bahwa mengirim Manda dan Jalu survei bahan berdua adalah keputusan berisiko tinggi.
Tanda-tandanya sudah ada sejak awal.
Pertama, Jalu menyebut kegiatan survei harga sebagai “ekspedisi ekonomi”.
Kedua, Manda membawa tote bag besar bergambar bebek memakai kacamata hitam dan berkata, “Kita harus siap menghadapi pasar.”
Ketiga, sebelum berangkat, Jalu bertanya apakah uang transport bisa diganti dengan “uang mental”.
Kirana menatap mereka berdua di depan gerbang sekolah dengan wajah sangat serius.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Tugas kalian cuma survei harga bahan. Bukan belanja besar. Bukan jalan-jalan. Bukan menciptakan masalah.”
Jalu mengangguk mantap.
“Siap.”
Manda ikut mengangguk.
“Paham.”
Kirana menyipitkan mata.
“Aku tidak yakin.”
Tara, yang berdiri di sebelah Kirana sambil memegang minuman promo, menepuk bahunya.
“Ra, positif thinking.”
Kirana menoleh.
“Kepada mereka?”
Tara melihat Manda dan Jalu.
Manda sedang mencoba memasukkan botol minum ke tote bag yang sudah penuh entah apa. Jalu sedang menghitung uang receh sambil berbisik, “Ini cukup nggak untuk bertahan hidup?”
Tara diam sejenak.
“Oke, mungkin realistis thinking.”
Bima berdiri agak di belakang mereka, kamera tergantung di leher. Ia ikut karena Kirana meminta dokumentasi proses persiapan festival. Sebenarnya, dokumentasi survei bahan tidak terlalu penting. Tapi Kirana bilang, “Kalau mereka macam-macam, minimal ada bukti.”
Jalu menoleh ke Bima.
“Bim, kenapa kamu ikut? Jangan bilang kamu ditugaskan sebagai pengawas.”
Bima mengangkat kamera sedikit.
“Bukti.”
Jalu memegang dada.
“Sakit sekali dijadikan objek investigasi.”
Manda menepuk pundaknya.
“Tenang, Lu. Kalau kita masuk berita, minimal fotonya bagus.”
Kirana langsung menunjuk mereka berdua.
“Tidak ada yang masuk berita.”
“Kalau viral positif?” tanya Jalu.
“Tidak.”
“Kalau viral karena inovasi seblak?”
“Jalu.”
“Baik.”
Kirana menyerahkan selembar kertas kepada Manda.
“Ini daftar bahan yang harus kalian cek harganya. Kerupuk, cabai, telur, bakso, sosis, sawi, bumbu, cup, sendok plastik. Catat harga per kilo atau per bungkus. Jangan beli kecuali memang perlu contoh.”
Manda menerima kertas itu dengan gaya hormat.
“Siap, Komandan Kas.”
“Kirana.”
“Siap, Kirana.”
Jalu mengintip daftar itu.
“Tidak ada anggaran untuk makanan selama survei?”
“Tidak.”
“Itu pelanggaran hak pekerja lapangan.”
“Kalian pergi dua jam, bukan kerja tambang.”
Tara tertawa.
Bima mengangkat kamera.
Klik.
Foto pertama hari itu: Kirana menyerahkan daftar dengan ekspresi seperti melepas dua prajurit ke medan perang, Manda memasang wajah sok serius, Jalu terlihat sedang menderita, dan Tara tertawa di samping mereka.
Kelak, foto itu akan menjadi bukti bahwa Kirana sebenarnya sudah punya firasat buruk sejak awal.
Pasar Melati terletak sekitar sepuluh menit dari sekolah.
Sepuluh menit kalau jalan normal.
Lima belas menit kalau bersama Jalu, karena ia berhenti di setiap penjual makanan.
Dua puluh menit kalau bersama Manda, karena ia berhenti untuk membaca papan toko yang menurutnya lucu.
Dua puluh lima menit kalau bersama mereka berdua, karena setiap tiga puluh langkah ada perdebatan yang tidak diperlukan.
“Lu, kenapa kita berhenti?” tanya Manda.
Jalu menunjuk gerobak.
“Ada telur gulung.”
“Kita survei bahan seblak.”
“Telur termasuk bahan.”
“Telur gulung bukan bahan. Itu godaan.”
“Dalam hidup, godaan juga perlu dipahami.”
Bima berdiri beberapa langkah di belakang, memotret mereka dari samping.
Klik.
Manda menarik lengan Jalu menjauh dari gerobak telur gulung.
“Jalan.”
“Tunggu, aku cuma mau tanya harga.”
“Kamu mau beli.”
“Survei rasa adalah bagian dari survei harga.”
“Kirana akan menguliti kita pakai buku kas.”
Jalu langsung berjalan lebih cepat.
Pasar Melati ramai, panas, dan penuh suara yang saling menabrak.
Penjual sayur memanggil pembeli. Motor lewat terlalu dekat. Plastik kresek bergesekan. Ibu-ibu menawar dengan intensitas seperti debat nasional. Di sudut pasar, ada penjual sandal yang memutar lagu dangdut dari speaker kecil.
Manda tampak hidup di tengah kekacauan itu.
Ia bertanya harga dengan percaya diri, menawar dengan wajah polos, lalu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum sampai penjual yang awalnya jutek ikut melunak.
“Cabai rawit sekilo berapa, Bu?”
“Empat puluh ribu.”
“Kalau beli buat anak sekolah yang sedang membangun masa depan bangsa?”
“Iya, tetap empat puluh ribu.”
“Kalau masa depan bangsanya agak kasihan?”
“Dikurangin dua ribu.”
Manda langsung menoleh ke Jalu.
“Catat. Tiga puluh delapan ribu.”
Jalu membuka catatan di ponselnya.
“Cabai rawit, tiga puluh delapan ribu karena bangsa kasihan.”
“Jangan tulis begitu.”
“Biar ada konteks.”
Bima memotret dari belakang.
Klik.
Manda sedang menawar cabai dengan tangan di dada. Jalu menunduk serius mencatat kalimat absurd. Di depan mereka, ibu penjual cabai menahan tawa.
Setelah cabai, mereka mengecek kerupuk.
Manda menunjuk karung besar berisi kerupuk mentah.
“Ini cocok.”
Jalu mengangguk.
“Berapa kilo?”
“Untuk festival, mungkin lima kilo cukup.”
Jalu menatap karung itu seperti sedang menghitung sesuatu.
“Kalau sepuluh?”
Manda menoleh pelan.
“Jalu.”
“Apa?”
“Kita jual seblak satu malam, bukan buka cabang.”
“Tapi kalau ramai?”
“Kalau ramai, bagus.”
“Kalau habis?”
“Berarti sukses.”
“Kalau orang masih mau beli?”
“Kita bilang habis.”
Jalu tampak tidak terima.
“Itu bukan mental pengusaha.”
“Itu mental tidak bangkrut.”
Akhirnya Manda mencatat lima kilo.
Jalu mencatat sepuluh kilo di ponselnya.
Bima melihat.
Tapi Bima memilih diam, karena kadang alam harus membiarkan manusia belajar dari akibatnya sendiri.
Masalah berikutnya terjadi di toko plastik.
Kirana meminta mereka mencatat harga cup dan sendok plastik.
Manda menemukan cup bening ukuran sedang.
“Ini cukup.”
Jalu menemukan cup warna-warni.
“Ini lebih menarik.”
“Lu, itu cup puding.”
“Seblak dalam cup puding bisa jadi inovasi.”
“Seblak kuah panas dalam cup puding adalah tuntutan hukum.”
“Tidak kalau kita namai konsep.”
Bima berkata datar dari belakang, “Konsep luka bakar.”
Manda menunjuk Bima.
“Nah, dengar. Bahkan Bima yang biasanya membiarkan kita hancur saja ikut bicara.”
Jalu menatap Bima.
“Kamu tidak mendukung kreativitas.”
“Aku mendukung keselamatan.”
Manda mengambil cup bening.
“Final. Kita catat yang ini.”
Jalu masih menatap cup warna-warni dengan sedih.
“Selamat tinggal, peluang bisnis.”
“Lu bisa sedih nanti. Sekarang catat harga.”
Di toko bumbu, situasi hampir aman.
Hampir.
Sampai Jalu melihat rak cabai bubuk.
Matanya menyala.
“Man.”
“Tidak.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu sudah.”
“Bayangkan seblak kita punya cabai rahasia.”
“Tidak.”
“Cabai spesial.”
“Tidak.”
“Cabai yang membuat orang mengingat kita.”
“Mereka akan mengingat kita lewat tagihan rumah sakit.”
Bima membaca label di salah satu bungkus cabai bubuk.
“Ini level ekstra pedas.”
Jalu tersenyum.
“Bagus.”
“Untuk restoran ayam geprek.”
“Lebih bagus.”
Manda merebut bungkus itu dari tangan Jalu.
“Kirana bilang cabai rawit biasa.”
Jalu menunjuk bungkus cabai bubuk.
“Tapi ini murah.”
“Mudah juga mengakhiri masa muda.”
“Kamu terlalu takut mengambil risiko.”
“Kamu terlalu sering menjadi risiko.”
Bima memotret mereka.
Klik.
Manda memegang bungkus cabai bubuk tinggi-tinggi, Jalu mencoba meraihnya, dan di belakang mereka penjual bumbu tampak menikmati drama gratis.
Pada akhirnya, mereka tidak membeli cabai bubuk itu.
Setidaknya, itu yang Manda kira.
Dua jam kemudian, mereka kembali ke sekolah dengan kondisi yang sulit dijelaskan secara singkat.
Kirana dan Tara sedang duduk di ruang kelas, membahas desain poster festival, ketika suara ribut terdengar dari koridor.
“Jalu, aku bilang jangan pegang bagian bawahnya!”
“Aku pegang! Ini berat!”
“Makanya tadi jangan sok beli tambahan!”
“Ini investasi!”
“Ini bencana!”
Tara langsung menoleh ke pintu.
Kirana menutup mata.
“Ya Tuhan.”
Pintu kelas terbuka.
Manda masuk lebih dulu, membawa tote bag besar yang tampak hampir meledak.
Di belakangnya, Jalu muncul dengan dua kantong plastik besar berisi kerupuk.
Bima masuk terakhir, memegang kamera dan satu kantong kecil. Wajahnya datar, tapi entah kenapa justru terlihat seperti orang yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal.
Tara berdiri.
“Kenapa kalian kelihatan seperti habis pindahan kontrakan?”
Manda menunjuk Jalu.
“Dia.”
Jalu langsung protes.
“Kami.”
“Tidak. Kamu.”
Kirana berdiri pelan.
Sangat pelan.
“Jelaskan.”
Jalu menaruh kantong plastik di lantai.
“Baik. Sebelum semuanya menghakimi, saya ingin menyampaikan bahwa semua pembelian dilakukan dengan pertimbangan strategis.”
Kirana menatap dua kantong besar itu.
“Itu kerupuk?”
Jalu mengangguk.
“Iya.”
“Berapa kilo?”
Jalu diam.
Manda menjawab dengan suara datar, “Sepuluh.”
Kirana menatap Jalu.
“Aku minta survei harga, bukan belanja sepuluh kilo kerupuk.”
Jalu mengangkat tangan.
“Diskon kalau beli banyak.”
“Berapa diskonnya?”
Jalu berpikir.
“Lima ribu.”
Kirana menutup buku catatannya.
“Jalu.”
“Dalam jangka panjang, itu menguntungkan.”
“Kita bahkan belum tahu butuh berapa banyak.”
“Makanya aku antisipasi.”
Manda meletakkan tote bag di meja.
“Antisipasi kiamat kerupuk.”
Tara menahan tawa, tapi gagal ketika Jalu mengeluarkan daftar belanja dari saku.
Kirana mengambil kertas itu dan membacanya.
Semakin lama, wajahnya semakin berubah.
“Kerupuk sepuluh kilo. Cabai rawit tiga kilo. Bumbu seblak. Cup. Sendok plastik. Spanduk?”
Tara menoleh cepat.
“Spanduk?”
Manda mengangkat dua tangan.
“Itu sebenarnya ideku, tapi eksekusinya lepas kendali.”
Kirana membaca lagi.
“Spanduk bertuliskan...” Ia berhenti.
Tara mendekat dan membaca dari samping.
Lalu tertawa.
Kirana menatap Manda dan Jalu.
“SEBLAK ANTI GALAU, KECUALI KAMU?”
Jalu tersenyum bangga.
“Catchy, kan?”
Kirana menaruh kertas di meja.
“Aku minta kalian survei harga.”
Manda mengangguk cepat.
“Betul.”
“Kalian pulang membawa sepuluh kilo kerupuk, tiga kilo cabai, spanduk, dan...” Kirana melihat sesuatu menyembul dari tote bag Manda. “Itu apa?”
Manda cepat-cepat menutup tote bag.
“Bukan apa-apa.”
Tara langsung maju.
“Manda.”
“Dekorasi tambahan.”
Jalu mencoba membantu.
“Maskot.”
Kirana memandang mereka.
“Maskot apa?”
Bima, dari belakang, berkata pelan, “Ayam.”
Hening.
Tara membuka tote bag.
Dari dalamnya, ia mengangkat sebuah boneka ayam berwarna kuning terang, memakai pita merah kecil di leher dan ekspresi mata yang sangat kosong.
Tara menatap boneka itu.
Boneka itu seolah menatap balik dengan penuh kehampaan.
Kirana tidak bergerak.
Manda tersenyum kaku.
“Dia lucu, kan?”
Jalu mengangguk antusias.
“Namanya bisa kita pikirkan nanti.”
Kirana berbicara sangat pelan.
“Aku minta kalian beli bahan.”
Jalu menelan ludah.
Kirana menunjuk boneka ayam itu.
“Bukan membangun kerajaan.”
Jalu, karena tidak punya insting bertahan hidup yang baik, menjawab, “Tapi kerajaan ini punya visi.”
Manda mengangkat boneka ayam seperti piala.
“Dan maskot.”
Tara langsung tertawa sampai duduk di kursi.
Bima mengangkat kamera.
Klik.
Foto itu terambil sempurna.
Manda mengangkat boneka ayam dengan wajah bangga yang terlalu serius. Jalu berdiri di sebelahnya seperti penasihat kerajaan gagal. Tara tertawa di kursi. Kirana tampak seperti ingin mengundurkan diri dari jabatan ketua kelas, sekolah, dan mungkin kehidupan.
Bima menurunkan kamera.
Manda menoleh cepat.
“Kamu foto?”
“Iya.”
“Untuk dokumentasi?”
Bima melihat boneka ayam di tangan Manda.
“Untuk barang bukti.”
“Bim!”
Tapi Manda tertawa.
Dan Bima, tanpa sadar, ikut menyimpan foto itu lebih lama dari foto-foto lain.
Bukan karena boneka ayamnya.
Bukan karena kekacauan Jalu.
Tapi karena di foto itu, Manda terlihat sangat Manda.
Berantakan, spontan, absurd, dan entah bagaimana membuat semua hal yang seharusnya membuat stres terasa sedikit lebih ringan.
Sidang darurat dimulai lima menit kemudian.
Lokasi: ruang kelas XI-2.
Ketua sidang: Kirana Putri.
Terdakwa utama: Jalu Prasetyo.
Terdakwa tambahan: Manda Ayuningtyas.
Saksi: Tara Maheswari dan Bima Arkananta.
Barang bukti: sepuluh kilo kerupuk, tiga kilo cabai, satu spanduk mencurigakan, satu boneka ayam yang mulai membuat semua orang tidak nyaman karena terus ditaruh menghadap mereka.
Kirana berdiri di depan meja.
“Pertama, kenapa kalian belanja padahal aku bilang survei?”
Jalu mengangkat tangan.
“Karena beberapa harga hanya berlaku jika beli langsung.”
“Yang mana?”
Jalu diam.
Manda menunjuk kerupuk.
“Kerupuk.”
Kirana menatapnya.
“Manda.”
“Diskonnya lima ribu.”
“Kita tidak butuh sepuluh kilo.”
Jalu maju sedikit.
“Belum tentu. Kalau stand kita viral—”
“Tidak semua hal harus viral.”
“Kalau tidak viral, bagaimana masa depan promosi kita?”
Tara mengangkat tangan dari kursinya.
“Sebagai bagian promosi, aku tidak bertanggung jawab atas kerupuk sepuluh kilo.”
Manda menatap Tara.
“Pengkhianatan.”
“Aku sayang kalian, tapi aku masih punya akal sehat.”
Kirana lanjut membaca daftar.
“Kedua, cabai tiga kilo. Kenapa sebanyak ini?”
Manda menunjuk Jalu.
“Dia bilang pedas adalah nilai jual.”
Jalu menunjuk Manda.
“Dia menawar sampai penjualnya luluh.”
Manda membalas, “Karena kamu bilang ‘tiga kilo sekalian, Bu, untuk masa depan.’”
Jalu menatap Kirana.
“Itu kalimat motivasi.”
“Itu kalimat yang membuat anggaran bengkak,” kata Kirana.
Bima berkata dari kursinya, “Dan kemungkinan korban meningkat.”
Jalu menoleh.
“Bim, kamu seharusnya netral.”
“Aku dokumentasi. Bukan pengacara.”
Tara tertawa.
Kirana mengambil napas panjang.
“Ketiga, spanduk.”
Manda mengangkat tangan.
“Itu memang aku yang desain cepat di tempat.”
Kirana menatapnya.
“Kenapa tulisannya ‘kecuali kamu’?”
Manda tampak berusaha menjelaskan secara akademis.
“Jadi konsepnya, seblak kita anti galau untuk semua orang, kecuali orang yang membaca. Karena semua orang merasa tersindir, jadi mereka tertarik.”
Tara berhenti tertawa.
“Sebentar. Itu sebenarnya pintar.”
Kirana menoleh.
“Jangan dukung.”
“Maaf, tapi dari sisi promosi, itu clickbait offline.”
Jalu menunjuk Tara.
“Nah! Ahli promosi sudah bicara.”
Kirana memijat pelipis.
“Baik. Spanduk mungkin bisa dipakai setelah dicek lagi.”
Manda dan Jalu saling tos kecil.
“Tapi,” lanjut Kirana, membuat mereka langsung berhenti, “boneka ayam tidak ada hubungannya dengan seblak.”
Manda mendekap boneka ayam itu.
“Ada.”
Kirana menunggu.
Manda berpikir cepat.
“Seblak pakai telur. Telur dari ayam. Jadi ini representasi sumber daya.”
Bima menatapnya.
“Argumen lemah.”
Manda menunjuknya.
“Jangan hancurkan aku di depan anakku.”
Jalu mengangguk serius.
“Dia anak ideologis kami.”
Kirana duduk.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam.
Tara mulai khawatir.
“Ra?”
Kirana menatap semua barang di meja, lalu menatap Manda dan Jalu.
“Aku tahu kalian niat membantu.”
Manda dan Jalu langsung terlihat sedikit bersalah.
“Tapi kalau setiap tugas sederhana berubah jadi... ini,” Kirana menunjuk boneka ayam, “aku bisa gila sebelum festival.”
Jalu menunduk.
“Maaf.”
Manda juga menunduk sedikit.
“Maaf, Ra. Kita kebawa suasana.”
Kirana menghela napas.
“Aku tidak marah karena kalian kreatif. Aku marah karena kalian tidak tanya dulu.”
Manda mengangguk.
“Iya.”
Jalu ikut mengangguk.
“Baik. Ke depannya, semua pembelian di atas harga gorengan harus izin dulu.”
Kirana menatapnya.
“Semua pembelian harus izin dulu.”
“Termasuk gorengan?”
“Khusus kamu, iya.”
Jalu tampak ingin protes, tapi melihat wajah Kirana, ia memilih hidup.
“Siap.”
Suasana sedikit tenang.
Tara mengambil boneka ayam dari Manda dan meletakkannya di tengah meja.
“Kalau begitu, nasib ayam ini gimana?”
Kirana langsung menjawab, “Tidak masuk anggaran.”
Manda mengangkat tangan.
“Aku bayar sendiri.”
Jalu ikut mengangkat tangan.
“Kami patungan.”
Kirana menatap mereka berdua.
“Kalian sudah bayar kas?”
Hening.
Tara tertawa lagi.
Bima menunduk, menyembunyikan senyum kecil di balik kamera.
Manda menunjuk Jalu.
“Dia belum.”
Jalu menunjuk Manda.
“Dia juga belum minggu depan.”
“Minggu depan belum terjadi, Lu!”
“Tapi akan terjadi.”
Kirana membuka buku kas.
“Baik. Sebelum membahas boneka ayam, bayar kas dulu.”
Jalu memegang dada.
“Boneka ini mempersatukan kita dalam penderitaan.”
Bima berkata, “Namanya cocok.”
Manda langsung menoleh.
“Apa?”
“Penderitaan.”
Tara tertawa sampai menepuk meja.
Jalu mengangkat boneka ayam itu.
“Mulai hari ini, dia bernama Derita.”
Kirana langsung menolak.
“Tidak.”
Manda malah tampak suka.
“Derita lucu juga.”
“Tolong jangan beri nama boneka ayam.”
Tara mengambil foto boneka ayam.
“Sudah telanjur. Aku upload ke grup.”
Beberapa detik kemudian, ponsel mereka berbunyi.
Tara mengirim foto
Caption:
Anggota baru panitia: Derita. Jobdesc belum jelas.
Jalu langsung membalas di grup:
Jalu: Derita adalah maskot perjuangan.
Manda:
Manda: Hormati dia.
Kirana:
Kirana: Tidak ada maskot dalam proposal.
Bima menatap grup itu.
Lalu mengetik:
Bima: Derita tidak perlu masuk proposal. Cukup jadi saksi.
Manda langsung menatap Bima dari seberang meja.
“Kamu mendukung Derita?”
“Tidak.”
“Tapi kamu membalas.”
“Fakta.”
“Kamu mulai peduli.”
“Tidak.”
“Peduli.”
“Tidak.”
Jalu menatap mereka bergantian.
“Ini energi debat yang menarik.”
Kirana langsung berkata, “Jalu, jangan.”
“Belum ngomong apa-apa.”
“Wajahmu sudah.”
Tara tersenyum melihat mereka semua.
Ruang kelas yang tadi terasa seperti sidang mulai berubah kembali menjadi tempat ribut biasa.
Manda dan Jalu masih bersalah, Kirana masih stres, Tara masih tertawa, Bima masih diam-diam memotret, dan boneka ayam bernama Derita duduk di tengah meja seperti simbol keputusan buruk yang entah bagaimana membuat hari itu lebih mudah dikenang.
Sore menjelang ketika mereka mulai merapikan barang.
Kerupuk sepuluh kilo akhirnya disimpan di lemari kelas setelah Kirana menulis label besar:
BAHAN FESTIVAL. JANGAN DIMAKAN. TERUTAMA JALU.
Jalu merasa terserang, tapi tidak bisa membantah.
Cabai tiga kilo dibagi. Sebagian dibawa Kirana untuk disimpan sementara di rumah karena “kalau ditinggal di kelas, aku tidak percaya siapa pun.”
Spanduk digulung dan disimpan di pojok.
Boneka ayam Derita diletakkan di atas lemari, meski Kirana bersikeras itu hanya sementara.
Tara pulang duluan karena dijemput kakaknya.
Jalu pergi ke kantin untuk “menyelesaikan urusan moral dengan Bu Yuyun”, yang berarti membayar utang gorengan setelah diingatkan Kirana sebanyak tiga kali.
Kirana ke ruang guru untuk menyerahkan revisi daftar kebutuhan.
Tinggallah Manda dan Bima di kelas.
Manda berdiri di depan lemari, menatap Derita yang duduk di atasnya.
“Menurut kamu Kirana beneran marah?”
Bima memasukkan kamera ke tas.
“Tadi iya.”
“Sekarang?”
“Masih sedikit.”
Manda mengangguk pelan.
“Aku tahu kita nyusahin.”
“Kamu tahu?”
Manda menoleh.
“Bima, aku memang sering bertindak seperti tidak punya rem, tapi bukan berarti aku tidak tahu ada tembok.”
Bima diam.
Kalimat itu terdengar seperti candaan.
Tapi tidak sepenuhnya.
Manda menatap spanduk yang masih tergulung.
“Aku cuma pengin stand kita beda. Biar seru. Biar Kirana juga nanti senang kalau ramai. Biar Tara punya bahan promosi. Biar Jalu... ya, biar Jalu ada kerjaan selain utang.”
Bima menatapnya.
“Dan kamu?”
“Aku?”
“Kamu pengin apa?”
Manda tampak kaget sebentar.
Lalu ia tertawa kecil.
“Aku pengin semuanya nggak tegang-tegang amat.”
Di luar jendela, langit mulai berwarna jingga. Suara siswa yang pulang makin sedikit. Kipas kelas masih berputar dengan bunyi yang sama menyedihkan dan angin yang tetap tidak terasa.
Manda bersandar ke meja.
“Kalau semua orang terlalu serius, capek, Bim. Kadang harus ada yang bikin rusuh dikit.”
“Dikit?”
Manda menunjuk boneka ayam.
“Oke, hari ini rusuhnya agak ukuran keluarga.”
Bima hampir tersenyum.
Manda menangkapnya.
“Nah.”
“Tidak.”
“Mau senyum.”
“Tidak.”
“Kamu tuh susah banget jujur soal senyum sendiri.”
Bima menutup resleting tas.
“Kamu susah banget diam.”
Manda tersenyum lebar.
“Karena kalau aku diam, nanti dunia kehilangan hiburan.”
Bima menatapnya.
“Kamu pernah diam.”
Manda tidak langsung menjawab.
Kalimat itu membuat udara di kelas berubah sedikit.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Manda mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
“Ya masa aku ngomong terus dua puluh empat jam.”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Bima diam sebentar.
Ia bukan orang yang pandai merapikan kalimat untuk hal-hal semacam ini. Ia bisa mengingat detail, bisa memotret momen, bisa melihat perubahan kecil pada orang lain. Tapi mengatakan bahwa ia melihatnya—itu bagian yang sulit.
Akhirnya, Bima hanya berkata, “Kadang kalau kamu diam, kelihatan beda.”
Manda tertawa.
Terlalu cepat.
“Beda gimana? Lebih cantik? Lebih bijak? Lebih kayak tokoh utama film indie?”
Bima menatapnya.
“Lebih jauh.”
Tawa Manda berhenti.
Untuk pertama kalinya sore itu, ia tidak langsung punya jawaban.
Bima juga tampak baru sadar kalimatnya terdengar terlalu jujur.
Ia segera mengambil tas.
“Aku pulang dulu.”
Manda mengangguk cepat.
“Iya. Pulang sana. Nanti properti kelas dicari inventaris.”
Bima berjalan ke pintu.
Tapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Manda.”
“Hm?”
“Foto tadi bagus.”
Manda mengerutkan dahi.
“Foto apa?”
“Yang kamu angkat Derita.”
Manda menatapnya.
Lalu senyum jahilnya kembali.
“Oh, jadi kamu mengakui aku fotogenik?”
“Boneka ayamnya.”
“Bima!”
Bima keluar kelas dengan wajah datar.
Tapi Manda melihat sudut bibirnya naik sedikit sebelum ia berbalik.
Kecil.
Sebentar.
Tapi ada.
Manda berdiri sendirian di kelas, lalu menatap Derita di atas lemari.
“Lihat, Der,” gumamnya. “Anak itu nyebelin.”
Boneka ayam tentu saja tidak menjawab.
Tapi anehnya, dada Manda terasa sedikit hangat.
Ia cepat-cepat menggeleng.
“Enggak. Jangan aneh.”
Lalu mengambil tasnya dan keluar kelas.
Di koridor, Bima masih terlihat berjalan beberapa meter di depan.
Manda hampir memanggilnya, tapi tidak jadi.
Ia hanya berjalan pelan di belakang, sambil berpikir bahwa mungkin hari ini memang bencana.
Kerupuk terlalu banyak.
Cabai terlalu banyak.
Spanduk terlalu absurd.
Boneka ayam tidak berguna.
Kirana hampir meledak.
Jalu hampir kehilangan hak belanja.
Tapi di antara semua kekacauan itu, ada satu hal kecil yang Manda bawa pulang diam-diam.
Kalimat Bima.
Kadang kalau kamu diam, kelihatan beda.
Manda tidak tahu kenapa kalimat itu menempel di kepalanya.
Ia juga tidak mau tahu.
Karena dalam Circle Aman Anti Baper, hal seperti itu seharusnya tidak penting.
Seharusnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar