Selasa, 04 Agustus 2026

Yang Naksir Bayar Seblak Ch 5 / 18


 

Chapter 5 — Circle Aman Anti Baper

Awalnya, mereka tidak berniat menjadi circle.

Setidaknya, itu yang selalu Manda katakan setiap kali ada orang mulai menggoda.

“Cie, berlima terus.”

“Cie, geng panitia.”

“Cie, sudah kayak keluarga cemara versi kantin.”

Biasanya Manda langsung membalas, “Bukan circle. Cuma kebetulan sering bareng karena penderitaan yang sama.”

Penderitaan yang dimaksud adalah Festival Senja.

Setelah rapat pertama, rapat kedua datang. Lalu rapat ketiga. Lalu rapat tambahan karena Jalu mengusulkan menu “seblak dessert” yang langsung ditolak oleh akal sehat. Lalu rapat dadakan karena Manda menggambar konsep dekorasi terlalu besar sampai Kirana menghitung ulang biaya dengan wajah nyaris kehilangan harapan.

Semakin sering rapat, semakin sering mereka pulang sore.

Semakin sering pulang sore, semakin sering mereka lapar.

Dan semakin sering mereka lapar, semakin sering meja kantin Bu Yuyun menjadi tempat pelarian.

Meja itu sebenarnya biasa saja.

Letaknya di pojok kanan kantin, dekat tiang yang catnya sudah mengelupas. Permukaan mejanya penuh coretan nama angkatan lama, bekas tipe-x, dan satu tulisan misterius yang berbunyi:

RIZKY JANGAN LUPA JANJI

Tidak ada yang tahu Rizky siapa.

Tidak ada yang tahu janji apa.

Tapi Jalu pernah berkata, “Meja ini penuh sejarah luka.”

Manda menjawab, “Kayak dompet kamu.”

Sejak saat itu, meja itu terasa resmi menjadi milik mereka.

Bukan karena mereka menempelkan nama.

Bukan karena mereka sepakat.

Tapi karena setiap jam istirahat, entah bagaimana, mereka selalu kembali ke sana.

Kirana duduk di sisi paling dekat dengan jalur keluar, supaya mudah pergi kalau dipanggil guru atau harus mengejar anak yang belum bayar kas.

Tara duduk di sebelahnya, selalu dengan minuman berbeda tergantung promo hari itu.

Manda biasanya duduk di sisi tengah, tapi jarang benar-benar duduk normal. Kadang kakinya naik satu, kadang badannya menghadap samping, kadang ia berdiri mendadak hanya untuk memperagakan sesuatu yang sebenarnya bisa dijelaskan tanpa gerakan penuh risiko.

Jalu duduk di ujung, posisi strategis untuk melihat gorengan baru datang.

Bima duduk di sisi yang menghadap lapangan.

Katanya karena cahayanya bagus untuk mengecek hasil foto.

Manda pernah menuduhnya, “Alasan. Kamu duduk situ karena kalau bosan bisa melihat pohon dan berpura-pura punya hidup damai.”

Bima menjawab, “Pohon lebih tenang dari Jalu.”

Jalu, yang sedang mengunyah tahu isi, tersedak harga diri.

Hari itu, kantin lebih ramai dari biasanya.

Anak-anak kelas XII sedang latihan pentas seni di aula, jadi sebagian dari mereka menyerbu kantin setelah latihan. Kelas X juga baru selesai olahraga. Bu Yuyun tampak bergerak dari satu sisi warung ke sisi lain dengan kecepatan yang seharusnya mendapat penghargaan nasional.

“Yang pesan mi ayam sabar! Ibu cuma punya dua tangan, bukan cabang minimarket!”

Jalu menatap Bu Yuyun dengan kagum.

“Bu Yuyun adalah bukti bahwa kepemimpinan tegas masih ada di negeri ini.”

Kirana membuka buku catatan festival.

“Jalu, kamu sudah survei harga kerupuk?”

Jalu langsung menunduk ke piringnya.

“Sedang dalam proses.”

Manda menatapnya.

“Proses apa?”

“Proses mental.”

“Kamu belum survei?”

“Sudah.”

“Mana catatannya?”

Jalu mengeluarkan kertas lusuh dari saku.

Kirana menerimanya, lalu membaca.

Wajahnya berubah.

“Ini bukan catatan harga bahan.”

Jalu mengangguk.

“Memang.”

“Ini daftar jajanan yang kamu beli di pasar.”

“Data lapangan.”

Manda merebut kertas itu dan membaca keras-keras, “Cilok, batagor, es doger, kue cubit, telur gulung—Lu survei pasar apa wisata kuliner?”

Jalu mengangkat telunjuk.

“Kita tidak boleh mengambil keputusan konsumsi tanpa memahami ekosistem makanan di sekitar.”

Tara tertawa sambil mengaduk es jeruknya.

“Terus harga kerupuknya mana?”

Jalu diam.

Kirana menutup mata.

“Jalu.”

“Baik, saya akui. Saya terdistraksi.”

Manda menepuk meja.

“Demi telur gulung?”

“Telur gulung itu memanggil saya.”

“Semua makanan memanggil kamu.”

“Karena saya pendengar yang baik.”

Bima, yang sejak tadi diam, berkata, “Pendengar yang lapar.”

Manda langsung menunjuknya.

“Nah. Ini yang aku bilang. Bima kalau ngomong dikit, tapi akurat.”

Jalu menunjuk Bima balik.

“Lo jangan ikut-ikutan menindas rakyat kecil.”

Bima menatapnya.

“Kamu besar.”

Tara menutup mulut, menahan tawa.

Jalu tampak sangat terluka.

“Body shaming tidak baik.”

“Maksudku suaramu.”

“Oh.” Jalu mengangguk, lalu tersinggung lagi. “Itu juga tidak baik.”

Kirana mengetuk buku catatan dengan pulpen.

“Besok kamu survei ulang. Beneran. Bawa Manda.”

Manda langsung menoleh.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu bisa mengawasi Jalu.”

“Aku bukan CCTV berjalan.”

Jalu mengangkat tangan.

“Tapi kalau jadi CCTV, kamu pasti banyak komentarnya.”

Manda menatapnya tajam.

“Besok aku pastikan kamu cuma beli kerupuk dan rasa malu.”

“Rasa malu saya sudah habis sejak kelas sepuluh.”

“Keliatan.”

Tara tertawa lagi.

Kali ini tawanya ringan. Sejak kejadian Nadia, ia memang masih kadang terlihat melamun, tapi di meja kantin itu, Tara tampak lebih bisa bernapas. Manda tahu. Kirana tahu. Bima juga tahu.

Tidak ada yang membahasnya.

Kadang cara paling baik menjaga teman adalah tidak menarik paksa cerita dari mulutnya.

Kadang cukup duduk di meja yang sama, memesan minuman, lalu membiarkan tawa datang lagi pelan-pelan.

Bu Yuyun datang membawa semangkuk seblak pesanan Manda.

“Seblak level tiga. Siapa?”

Manda mengangkat tangan.

“Saya, Bu.”

Bu Yuyun meletakkan mangkuk di depannya, lalu menatap Jalu.

“Jalu, utang gorengan kemarin belum bayar.”

Jalu membeku.

Kirana langsung menoleh.

Manda menepuk meja sambil tertawa.

Tara berkata, “Ini momen penting.”

Bima mengangkat kamera kecilnya.

Jalu menatap Bima dengan panik.

“Jangan dokumentasikan kemiskinan saya.”

Bima menurunkan kamera sedikit.

“Ini sejarah.”

“Sejarah penderitaan.”

Bu Yuyun melipat tangan.

“Bayar nanti pulang. Jangan pura-pura lupa.”

Jalu mengangguk cepat.

“Siap, Bu. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab.”

Bu Yuyun pergi.

Manda mencondongkan tubuh ke arah Jalu.

“Lu tahu nggak, tiap kamu bilang nggak akan lari, justru wajahmu kelihatan siap sprint.”

“Manusia punya naluri bertahan hidup.”

Kirana mencatat sesuatu di bukunya.

Jalu curiga. “Ra, kamu nulis apa?”

“Utang gorengan Jalu.”

“Kenapa masuk catatan festival?”

“Supaya tidak hilang dari sejarah.”

Tara tertawa sampai hampir menumpahkan es jeruknya.

Bima memperhatikan mereka satu per satu.

Aneh, pikirnya.

Beberapa minggu lalu, mereka hanyalah nama-nama di kelas yang sama.

Kirana, ketua kelas yang rapi.

Tara, anak ceria yang tahu semua promo.

Manda, cewek ribut yang suka membuat kelas berubah menjadi panggung.

Jalu, bencana berjalan dengan dompet tipis.

Sekarang, mereka duduk di satu meja seperti itu adalah hal paling wajar.

Seolah-olah meja kantin pojok kanan memang sejak awal menunggu mereka berlima.

Seolah-olah tawa Manda, omelan Kirana, komentar Tara, dan keluhan Jalu sudah menjadi bagian dari suara kantin.

Bima tidak tahu kapan persisnya sesuatu berubah.

Mungkin saat mereka mulai punya grup panitia.

Mungkin saat mereka pulang sore bersama.

Mungkin saat Kirana kehilangan buku kas.

Mungkin saat Tara duduk di kantin dengan tawa yang terlalu keras.

Atau mungkin perubahan memang tidak pernah datang dalam satu kejadian besar.

Mungkin ia datang dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus sampai akhirnya terasa seperti rumah.

“Bim.”

Bima menoleh.

Manda menyodorkan sendok berisi kuah seblak ke arahnya.

“Mau coba?”

Bima melihat kuah merah itu.

“Level berapa?”

“Tiga.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku masih ingin hidup.”

Manda memutar mata.

“Lemah.”

Jalu langsung maju.

“Sini, gue coba.”

Kirana menahan tangan Jalu.

“Kamu sudah makan gorengan empat.”

“Itu pembuka.”

“Untuk apa?”

“Untuk kehidupan.”

Tara mengambil sendok lain dan mencicipi sedikit kuah Manda.

Beberapa detik kemudian, ia langsung minum es jeruk.

“Man, ini bukan level tiga. Ini level orang yang pengin melupakan masa lalu.”

Manda tampak bangga.

“Enak, kan?”

“Enak, tapi ada sensasi melihat malaikat pencatat amal.”

Jalu makin tertarik.

“Berarti gue harus coba.”

Kirana, Tara, dan Manda serempak berkata, “Jangan.”

Bima menambahkan, “Nanti Bu Yuyun kehilangan pelanggan.”

Jalu menunjuk Bima lagi.

“Kenapa kamu selalu menyerang saat aku tidak siap?”

“Karena kamu jarang siap.”

Manda tertawa sambil memukul meja.

Satu meja ikut tertawa.

Bahkan Kirana, yang tadi mencoba serius dengan catatan festival, akhirnya menutup bukunya.

“Sudah. Kita bahas festival nanti saja. Aku capek.”

Jalu mengangkat kedua tangan seperti baru mendengar kabar kemerdekaan.

“Alhamdulillah! Ketua kelas memberi amnesti!”

Kirana menunjuknya.

“Tapi besok survei harga kerupuk.”

“Tyranny returns.”

Tara menatap mereka sambil tersenyum.

“Eh,” katanya tiba-tiba. “Kalian sadar nggak sih, kita sekarang selalu makan bareng?”

Manda berhenti mengaduk seblak.

Jalu menoleh.

Kirana mengernyit.

Bima diam.

Tara menunjuk meja.

“Lihat. Tempat duduk juga sudah kayak tetap. Kirana di situ. Aku di sini. Manda di tengah biar bisa mengganggu semua arah. Jalu di ujung dekat gorengan. Bima di sana, pura-pura jadi CCTV.”

Bima menjawab, “Aku bukan CCTV.”

Manda menyeringai.

“Kalau aku CCTV banyak komentar, kamu CCTV tanpa suara.”

“Berarti lebih baik.”

“Berarti membosankan.”

“Efisien.”

Jalu menepuk meja.

“Tara benar. Ini sudah bukan sekadar panitia.”

Kirana langsung waspada.

“Jangan mulai.”

“Ini circle.”

Manda langsung mengangkat sendok.

“Tidak.”

Tara tertawa. “Kenapa tidak?”

“Karena kalau disebut circle, nanti ada ekspektasi. Nanti orang-orang mulai bilang ‘cie circle’. Nanti kalau salah satu nggak ikut makan, dibilang berantem. Nanti kalau ada yang dekat sama orang lain, dibilang keluar dari circle. Ribet.”

Jalu menatapnya kagum.

“Untuk orang yang biasanya asal ngomong, analisis kamu kali ini dalam.”

Manda melempar tisu ke wajahnya.

“Tapi,” lanjut Jalu sambil mencabut tisu dari pipi, “kalau kita menyangkal bahwa ini circle, justru itu ciri-ciri circle.”

Tara mengangguk.

“Betul. Nama grup kita aja sudah mencurigakan.”

Kirana mengambil ponselnya.

“Nama grup kita masih ‘Bukan Circle, Cuma Kebetulan Sering Bareng’?”

“Masih,” kata Tara.

Manda mengangkat jempol.

“Nama itu sangat akurat.”

Jalu menggeleng.

“Tidak. Kita perlu upgrade identitas.”

Kirana langsung menatapnya curiga.

“Jangan ganti nama grup aneh-aneh.”

Terlambat.

Ponsel mereka bergetar hampir bersamaan.

Jalu Prasetyo mengubah nama grup menjadi Circle Aman Anti Baper

Tara langsung tertawa.

Manda membaca nama itu, lalu menatap Jalu.

“Circle aman anti baper?”

Jalu mengangguk penuh kebanggaan.

“Ya. Karena kita ini circle yang aman.”

Kirana memicingkan mata.

“Aman dari apa?”

“Dari baper.”

Manda menaruh sendoknya pelan.

“Konsep menarik.”

Bima menatap layar ponselnya.

Nama grup itu terlihat bodoh.

Tapi juga terasa seperti sesuatu yang akan diingat.

Tara menopang dagu.

“Kenapa harus anti baper?”

Jalu mengambil gorengan terakhir dari piringnya.

“Karena sejarah membuktikan, circle bisa hancur kalau ada yang naksir anggota sendiri.”

Kirana mengangkat alis.

“Sejarah mana?”

“Sejarah umum.”

“Itu bukan sumber valid.”

“Ra, perasaan manusia tidak bisa selalu pakai daftar pustaka.”

Manda mengangguk-ngangguk seolah setuju dengan seminar absurd itu.

“Benar juga. Kalau ada yang naksir sesama circle, nanti jadi canggung.”

Tara memainkan sedotan.

“Terus kalau beneran ada yang naksir?”

Jalu menunjuk mangkuk seblak Manda.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Manda langsung menepuk meja.

“Nah. Ini baru hukum yang bisa ditegakkan.”

Kirana menatap mereka bergantian.

“Kalian serius membuat aturan ini?”

Jalu mengangkat tangan.

“Sangat serius.”

Manda ikut mengangkat tangan.

“Demi kestabilan sosial.”

Tara tertawa.

“Bima setuju?”

Semua menoleh ke Bima.

Bima menatap mereka.

Lalu ke mangkuk seblak Manda.

Lalu ke ponselnya yang masih menampilkan nama grup baru.

“Boleh.”

Manda menunjuknya.

“Wah. Kalau Bima setuju, berarti sah. Dia kan notaris tanpa ekspresi.”

Bima menjawab, “Aku tidak punya izin praktik.”

“Tidak apa-apa. Kita juga tidak punya izin membuat hukum.”

Kirana memijat pelipis.

“Aku merasa ini akan menjadi masalah.”

Jalu menggeleng cepat.

“Tidak akan. Justru aturan ini mencegah masalah.”

“Biasanya kalimat seperti itu awal bencana,” kata Kirana.

Tara mencondongkan tubuh.

“Oke, tapi detailnya gimana? Kalau yang baper bayar seblak, level pedasnya ditentukan siapa?”

Manda langsung mengangkat sendok seperti palu sidang.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Jalu berdiri sedikit.

“Saya setuju.”

Kirana menatap Manda.

“Tingkat kebodohan?”

“Iya.” Manda mulai menghitung dengan jari. “Kalau cuma suka diam-diam, level dua.”

Tara menyambung, “Kalau sudah nyari-nyari alasan buat chat?”

“Level tiga,” kata Manda.

Jalu mengangkat tangan.

“Kalau stalking sampai kepencet like foto tahun 2021?”

Manda menatapnya.

“Level empat dan wajib refleksi diri.”

Tara tertawa.

Kirana tanpa sadar ikut tersenyum.

Bima bertanya, “Kalau sampai bikin playlist?”

Manda langsung menoleh ke Bima.

Matanya menyipit.

“Bikin playlist?”

Bima mengangkat bahu.

“Contoh.”

“Judul playlist-nya apa?”

Bima diam sebentar.

“Tugas Biologi.”

Tara langsung meledak tertawa.

Jalu memukul meja.

Kirana menutup mulutnya.

Manda menatap Bima penuh kecurigaan.

“Itu bukan baper biasa.”

Bima menatapnya.

“Bukan?”

“Itu level psikopat.”

Satu meja tertawa.

Bima menunduk sedikit, tapi kali ini senyumnya terlihat jelas.

Kecil.

Cepat.

Tapi terlihat.

Manda langsung menunjuk.

“Tuh! Dia senyum!”

Bima kembali datar.

“Tidak.”

“Jangan bohong. Aku melihat bukti visual dengan mata kepala sendiri.”

Jalu menoleh ke Tara.

“Tolong masukkan ke berita acara. Pada hari ini, Bima Arkananta tersenyum karena playlist Tugas Biologi.”

Tara mengambil ponsel.

“Aku catat di grup.”

Beberapa detik kemudian, pesan Tara masuk:

Tara: Berita acara: Bima senyum. Penyebab: playlist psikopat.

Bima membaca pesan itu.

Lalu membalas:

Bima: Hoaks.

Manda langsung tertawa lagi.

“Dia membalas chat! Ini hari bersejarah jilid dua!”

Kirana tersenyum kecil melihat layar ponselnya.

Jalu mengangkat gorengan seperti piala.

“Dengan ini, Circle Aman Anti Baper resmi berdiri.”

Manda ikut mengangkat sendok.

“Aturannya: dilarang naksir anggota circle sendiri.”

Tara mengangkat gelas es jeruk.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Kirana, meski wajahnya masih ragu, akhirnya mengangkat pulpennya.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Mereka semua menoleh ke Bima.

Bima melihat benda-benda yang terangkat di atas meja: gorengan, sendok, gelas, pulpen.

Tidak ada yang elegan.

Tidak ada yang romantis.

Tidak ada yang terlihat seperti momen penting dalam hidup siapa pun.

Tapi entah kenapa, Bima merasa perlu ikut.

Ia mengangkat kameranya sedikit.

“Dokumentasi.”

Manda menyeringai.

“Sah.”

Klik.

Foto itu terambil dari sudut yang agak miring.

Di dalamnya, Jalu memegang gorengan dengan wajah terlalu bangga. Tara tertawa dengan gelas es jeruk di tangan. Kirana mengangkat pulpen sambil terlihat antara malu dan pasrah. Manda mengangkat sendok dengan ekspresi seperti pemimpin revolusi seblak.

Dan di tepi foto, pantulan kaca kantin menangkap Bima yang berdiri di belakang kamera.

Mereka berlima.

Circle yang katanya aman.

Circle yang katanya anti baper.

Circle yang saat itu belum tahu bahwa aturan yang dibuat sambil tertawa sering kali justru menjadi hal yang paling menyakitkan ketika dilanggar.


Setelah nama grup berubah, hidup mereka seperti mendapat identitas baru.

Manda langsung mengganti foto grup dengan gambar mangkuk seblak yang ia edit memakai mahkota.

Jalu mengirim stiker ayam berjoget sebanyak dua belas kali sampai Kirana mengancam akan mengeluarkannya dari grup, meskipun secara teknis ia tidak tahu cara mengeluarkan orang dari grup tanpa terlihat jahat.

Tara membuat polling pertama:

Kalau ada yang baper duluan, bayar seblak level berapa?

Pilihan:

A. Level dua, masih manusiawi
B. Level tiga, biar sadar diri
C. Level lima, biar kapok
D. Tergantung siapa orangnya

Jalu memilih C.

Manda memilih D.

Tara memilih D.

Kirana memilih A sambil mengetik, “Kalian terlalu ekstrem.”

Bima tidak memilih.

Manda langsung menandainya.

Manda: @Bima pilih. Demokrasi membutuhkan partisipasi properti kelas.

Bima: A.

Jalu: pengecut.

Bima: Waras.

Tara: Bima tipe damai.

Manda: Bima tipe kalau baper diam-diam terus playlist-nya dinamain Tugas Biologi.

Bima: Tidak punya playlist.

Manda: BELUM.

Bima membaca pesan itu di rumah malamnya.

Ia duduk di meja belajar, lampu kamar menyala redup. Di luar jendela, suara motor sesekali lewat. Buku Fisika terbuka di depannya, tapi matanya lebih sering turun ke layar ponsel.

Grup itu ramai.

Terlalu ramai untuk ukuran grup yang awalnya dibuat demi koordinasi festival.

Jalu mengirim foto gorengan dengan caption “makanan rapat besok”.

Kirana membalas, “Jangan pakai uang kas.”

Tara mengirim info promo minuman.

Manda mengirim voice note tujuh detik yang isinya hanya, “Jalu jangan dipercaya.”

Lalu Jalu membalas dengan voice note sebelas detik berisi pembelaan diri yang tidak meyakinkan.

Bima biasanya hanya membaca.

Tapi malam itu, ketika Manda mengirim foto coretan desain stand yang sangat berantakan dengan tulisan:

INI KONSEP AWAL. JANGAN DIHAKIMI.

Bima membuka foto itu.

Ia memperbesar gambar.

Garis-garisnya kacau, tapi idenya jelas. Ada lampion kecil di atas stand. Ada papan menu berbentuk hati retak. Ada sudut foto untuk pengunjung dengan tulisan “Aku sudah sembuh, tapi bohong.”

Bima mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya ia mengirim:

Bima: Lampionnya bagus.

Balasan Manda muncul hampir seketika.

Manda: CUMA LAMPIONNYA?

Bima menatap layar.

Lalu mengetik:

Bima: Yang lain juga. Tapi lampionnya paling aman.

Manda: AMAN DARI APA?

Bima: Dari penghakiman.

Tara mengirim emoji tertawa.

Jalu menulis, “Bima makin berani sejak jadi anggota circle.”

Kirana menulis, “Fokus. Besok kita bahas anggaran dekorasi.”

Manda mengirim stiker kucing mengangkat palu.

Bima menatap stiker itu lama.

Tanpa sadar, ia tersenyum.

Kecil.

Sendiri.

Di kamar yang sepi.

Lalu ia cepat-cepat meletakkan ponsel dan melihat buku Fisika lagi, seolah-olah tertangkap basah oleh dirinya sendiri.


Keesokan harinya, aturan “anti baper” mulai menjadi bahan candaan tetap.

Saat Tara memuji tulisan tangan Bima yang rapi, Jalu langsung berteriak, “Wah, hati-hati! Administrasi baper!”

Tara melempar tisu ke arahnya.

Saat Kirana meminta Bima membantunya mengambil kardus dari ruang OSIS, Manda berkata, “Tenang, aku catat. Bantuan logistik bukan indikasi romantis.”

Kirana langsung merah telinga.

“Tidak ada yang romantis.”

Manda mengangguk serius.

“Betul. Kardus memang tidak romantis.”

Saat Manda meminjam kamera Bima dan hampir menjatuhkannya, Bima memegang tali kamera cepat-cepat, lalu Jalu berkata, “Pegangan tangan terselubung!”

Bima menjawab datar, “Pegangan kamera.”

Manda menatap Jalu.

“Lu kalau nulis skenario FTV pasti semua adegannya di tangga.”

Jalu bangga. “Tangga itu simbol perjalanan emosi.”

Kirana menghela napas.

“Kita baru jalan tiga minggu dan aku sudah lelah.”

Tara tertawa.

Tapi semakin sering aturan itu disebut, semakin aturan itu terasa seperti pagar.

Pagar yang mereka bangun sambil bercanda.

Pagar yang terlihat rendah, lucu, dan tidak penting.

Tidak ada yang sadar bahwa suatu hari, pagar itu akan membuat mereka ragu melangkah.

Hari itu, setelah pelajaran terakhir, mereka kembali berkumpul di meja kantin.

Bu Yuyun baru saja menggoreng cireng. Aromanya membuat Jalu tampak hampir menangis.

“Kita perlu beli,” kata Jalu.

Kirana menatapnya.

“Pakai uang sendiri.”

“Ra, kamu menghancurkan puisi dalam hidupku.”

“Kamu menghancurkan anggaran.”

Manda mengambil satu cireng dari piring Tara.

Tara langsung protes.

“Eh!”

Manda menggigitnya cepat.

“Pajak persahabatan.”

“Kita belum sahabat.”

Manda berhenti mengunyah.

Jalu juga berhenti.

Kirana mengangkat kepala.

Bima menatap Tara.

Tara menyadari semua orang melihatnya.

“Apa?”

Manda menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Tara.

“Kita belum sahabat?”

Tara mengedip.

“Kan... belum deklarasi?”

Jalu langsung berdiri.

“Benar juga. Kita baru deklarasi circle, belum persahabatan.”

Kirana menahan dahinya.

“Deklarasi apa lagi?”

Jalu mengangkat satu tangan.

“Saya, Jalu Prasetyo, dengan ini menyatakan bahwa—”

Kirana menarik lengan bajunya sampai ia duduk lagi.

“Tidak ada deklarasi di kantin.”

Manda menatap Tara.

“Jadi selama ini aku ini apa buat kamu?”

Tara langsung tertawa.

“Teman, Man. Teman dekat.”

“Teman dekat tapi cirengnya nggak boleh dimakan?”

“Itu cireng terakhir.”

“Berarti ujian persahabatan.”

Tara menatap piringnya, lalu menatap Manda.

“Fine. Kamu boleh ambil setengah.”

Manda tersenyum puas.

“Nah. Ini baru fondasi hubungan sehat.”

Bima berkata pelan, “Hubungan yang dimulai dari pemerasan cireng.”

Manda menunjuknya tanpa melihat.

“Diam, properti kelas.”

Tapi ia tersenyum.

Dan Bima melihat.

Kirana juga melihat.

Tara juga.

Mungkin tidak ada yang mengaku, tapi saat itu mereka semua tahu.

Mau disebut panitia, circle, teman dekat, atau kebetulan sering bareng, mereka sudah menjadi sesuatu.

Sesuatu yang membuat jam istirahat terasa kurang lengkap kalau satu orang tidak ada.

Sesuatu yang membuat notifikasi grup WA tidak selalu menyebalkan.

Sesuatu yang membuat meja kantin pojok kanan terasa seperti tempat kembali.

Manda mengangkat mangkuk seblaknya.

“Oke. Finalisasi aturan.”

Jalu langsung siap.

“Dilarang naksir anggota circle sendiri.”

Tara mengangkat gelas.

“Yang baper bayar seblak satu meja.”

Kirana mengangkat pulpen, kali ini lebih rela.

“Level pedas ditentukan berdasarkan tingkat kebodohan masing-masing.”

Semua menoleh ke Bima lagi.

Bima menghela napas kecil.

Lalu mengangkat kameranya.

“Circle aman.”

Manda tersenyum puas.

“Anti baper.”

Mereka tertawa bersama.

Di meja pojok kantin Bu Yuyun, di antara piring cireng, mangkuk seblak, es jeruk, buku catatan festival, kamera Bima, dan utang gorengan Jalu yang belum selesai, aturan itu resmi hidup.

Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kalimat itu tidak akan terdengar lucu lagi.

Mereka tidak tahu bahwa Kirana akan mengingat payung dan buku kas.

Mereka tidak tahu bahwa Tara akan mengingat kantin dan tawa yang dipaksa lembur.

Mereka tidak tahu bahwa Manda akan menjadi orang yang paling tahu, paling peka, dan paling takut mengaku.

Dan Bima, yang saat itu memotret mereka semua, belum sadar bahwa di antara semua wajah yang ia simpan dalam kameranya, ada satu wajah yang akan selalu ia cari lebih dulu.

Bahkan sebelum ia tahu alasannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar