Minggu, 18 Oktober 2026

Terjebak di Jayaverse - Bab 5 · Nyasar ke Bulan




 

Bab 5 · Nyasar ke Bulan

Akira jatuh lama sekali.

Gelap. Kresek-kresek. Kotak-kotak abu-abu berkedip di sekelilingnya seperti hujan semut di layar TV. Satu-satunya yang ia rasakan hanyalah tangan Kenzo yang mencengkeram tangannya erat-erat.

Lalu...

Puk.

Kakinya menyentuh tanah. Pelan sekali. Seperti mendarat di atas kasur busa.

Akira membuka mata.

Langitnya hitam pekat. Bukan hitam malam yang ada bulannya, tapi hitam yang benar-benar hitam, penuh bintang yang tidak berkedip. Tanah di bawah kakinya abu-abu, berdebu halus seperti tepung semen, dan penuh lubang-lubang bundar besar.

Dan di langit, jauh di atas kepala mereka, menggantung sebuah bola besar berwarna biru dan putih. Ada awan yang berputar di permukaannya. Ada daratan cokelat dan hijau.

Akira menahan napas.

Itu Bumi.

"Kita di bulan," bisik Akira.

Atau lebih tepatnya, ia mencoba berbisik. Tapi tidak ada suara yang keluar.

Ia mencoba lagi. Lebih keras. "KENZO! KITA DI BULAN!"

Tetap sunyi. Sunyi sekali, sampai Akira bisa mendengar detak jantungnya sendiri di dalam telinga.

Akira menunduk melihat dirinya. Rompi penjelajahnya sudah hilang. Sekarang ia memakai baju astronaut putih yang tebal dan menggembung, dengan helm kaca bundar di kepalanya. Ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca helm, dan topi merahnya masih ada di dalam helm, tetap terbalik.

Pasti kostum dari judul ini, pikir Akira.

Ia menoleh ke samping. Kenzo juga memakai baju astronaut. Bedanya, di dada baju Kenzo tertulis besar-besar:

BAKSO MANTAP

Dan di dalam helmnya, topi koki Kenzo tergencet miring sampai menempel di kaca.

Akira ingin tertawa. Tapi ia terlalu bingung untuk tertawa.


Kenzo menghentakkan kakinya ke tanah, mungkin karena ingin mengetes.

Lalu tubuhnya melayang.

Ia naik pelan-pelan, makin tinggi, makin tinggi, setinggi pohon kelapa, setinggi rumah dua lantai. Kakinya menendang-nendang udara. Lalu ia turun lagi dengan pelan seperti balon yang kehabisan gas, dan mendarat dengan puk yang lembut.

Mata Kenzo berbinar-binar di balik helmnya. Mulutnya terbuka lebar, dan Akira bisa membaca gerakan bibirnya:

KEREN!

Kenzo melompat lagi. Kali ini sambil berputar. Ia jungkir balik di udara, sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, dan tidak bisa berhenti. Seperti kincir angin yang kena angin kencang.

Akira mencoba melompat juga. Sedikit saja.

Tubuhnya langsung terlempar ke atas. Perutnya terasa naik ke tenggorokan, seperti naik ayunan yang terlalu tinggi. Ia mendarat dengan kaki gemetar, lalu berjongkok sambil memegangi perut.

Mual.

Secara teori, ia tahu kenapa. Gravitasi bulan jauh lebih lemah dari gravitasi Bumi. Kira-kira cuma seperenamnya. Badan Akira yang beratnya tiga puluh lima kilo di Bumi, di bulan cuma terasa sekitar enam kilo. Seringan seekor kucing gemuk.

Tapi tahu teorinya ternyata tidak membuat perutnya berhenti mual.


Kenzo akhirnya berhasil mendarat dengan benar. Ia melompat-lompat kecil mendekati Akira, pelan-pelan seperti kanguru yang mengantuk.

Lalu tiba-tiba Kenzo berhenti. Matanya membelalak. Ia menatap sesuatu di belakang punggung Akira.

Kenzo menunjuk-nunjuk. Mulutnya terbuka lebar sekali, seperti mau berteriak.

Akira mengerutkan kening. Apa, sih?

Kenzo menunjuk lagi, lebih heboh. Mulutnya terbuka lebar, lalu menutup, lalu terbuka lagi.

Akira mengangguk paham. Kenzo menunjuk mulutnya yang terbuka lebar. Pasti itu artinya aku lapar. Dasar Kenzo. Sudah di bulan pun yang dipikirkan cuma makan.

Akira menepuk-nepuk pergelangan tangannya, seperti menunjuk jam. Nanti. Sabar.

Kenzo menepuk jidatnya sendiri. Lagi-lagi. Plak, meskipun tidak ada bunyinya, dan kali ini yang ditepuk kaca helm. Ia menggeleng-geleng keras, lalu menarik bahu Akira dan memutar badannya.

Akira berbalik.

Dan ia melihatnya.


Seekor kupu-kupu melayang di udara, tidak jauh dari mereka.

Kupu-kupu itu berwarna ungu dan bercahaya, seperti terbuat dari lampu. Sayapnya lebar dan indah. Tapi ada yang aneh. Ujung-ujung sayapnya tidak mulus. Bentuknya kotak-kotak, seperti gambar yang rusak. Kadang-kadang seluruh tubuhnya berkedip, hilang sedetik, lalu muncul lagi.

Kupu-kupu itu terbang mendekat. Lalu hinggap di kaca helm Akira, tepat di depan matanya.

Dan Akira mendengar sebuah suara. Bukan dari luar. Suara itu muncul langsung di dalam kepalanya, seperti suara dari headset.

"...kalian... dengar...?"

Suaranya putus-putus. Kresek-kresek. Tapi suaranya suara perempuan. Lembut. Rasanya Akira pernah mendengarnya.

"...Penyapu... sudah jalan... arsip... dihapus..."

Kresek. Kresek.

"...jangan... percaya... suara..."

"...cari... telur... kakak... jaga... adik..."

Lalu kupu-kupu itu berkedip, sekali, dua kali, dan menghilang. Seperti lampu yang dimatikan.

Akira berdiri mematung.

Penyapu.

Kata itu. Kata yang tadi diucapkan Kenzo di ruang gerbang. Tadi aku dengar Kak Anti berantem sama bapak-bapak. Katanya ada penyapu...

Dan Akira menjawab: Kamu ngarang lagi.


Akira menoleh ke adiknya. Ia ingin bertanya. Tapi bagaimana caranya bertanya kalau suara tidak bisa keluar?

Lalu ia ingat sesuatu dari ensiklopedia. Suara tidak bisa merambat di ruang hampa, karena tidak ada udara. Tapi suara bisa merambat lewat benda padat.

Akira meraih bahu Kenzo dan menempelkan kaca helmnya ke kaca helm Kenzo. Tok.

"Kenzo," katanya. "Bisa dengar?"

Suaranya terdengar aneh, berdengung dan jauh, seperti bicara dari dalam ember. Tapi terdengar.

Mata Kenzo melebar. "BISA! Kak, kok bisa?!"

"Suaranya lewat kaca helm. Benda padat." Akira menelan ludah. "Kenzo. Kupu-kupu tadi. Kamu dengar juga?"

Kenzo mengangguk. "Dia bilang penyapu. Kayak yang aku dengar di lorong."

"Suaranya juga..."

"Kayak Kak Anti," kata Kenzo pelan.

Mereka berdua diam. Helm mereka masih menempel.

"Waktu itu kamu cerita," kata Akira akhirnya. "Di ruang gerbang. Soal penyapu."

"Iya."

"Terus aku bilang kamu ngarang."

Kenzo tidak menjawab. Ia cuma menatap kakaknya lewat dua lapis kaca helm.

Akira menunggu dirinya sendiri mengucapkan kata maaf. Kata itu sudah ada di ujung lidahnya. Tapi entah kenapa, kata itu tersangkut. Seperti biji salak yang tidak bisa ditelan.

"Nanti kita cerita ke Bubu," kata Akira akhirnya. Hanya itu yang keluar.

Kenzo mengangguk pelan, lalu melepaskan helmnya dari helm Akira. Sunyi lagi.


Mereka berjalan menyusuri permukaan bulan, sambil melompat-lompat kecil supaya tidak terbang terlalu tinggi. Mereka mencari lubang glitch, atau gerbang, atau apa saja yang bisa membawa mereka kembali ke Pulau Seribu Naga.

Di balik sebuah bukit kecil, mereka menemukan sesuatu.

Sebuah robot kecil yang sudah rusak, setengah terkubur debu bulan. Bentuknya bulat, sebesar bola sepak. Catnya sudah pudar. Satu bagiannya penyok.

Kenzo berjongkok dan menyapu debu dari permukaan robot itu dengan sarung tangannya.

Di sana tertempel sebuah stiker kecil yang sudah usang dan mengelupas di pinggirnya. Ada gambar sederhana sebuah bola dengan dua mata bulat, seperti digambar anak kecil pakai spidol. Dan di bawahnya ada tulisan miring-miring:

BUBU v0.1

Akira dan Kenzo saling pandang.

Bubu? Tapi Bubu kan ada di pulau, bersama Nayla. Dan Bubu tidak punya angka nol koma satu di namanya.

Kenzo menyentuh stiker itu dengan ujung jarinya. Gambar bola bermata dua itu terlihat sedih, entah kenapa. Mungkin karena catnya pudar. Mungkin karena ia sendirian di bulan, setengah terkubur debu, dan tidak ada yang ingat padanya.

Akira mengambil buku catatan dari saku baju astronautnya dan menulis cepat:

Penyapu. Arsip dihapus. Jangan percaya suara. Bubu v0.1???


Lalu Akira melihat sesuatu di kejauhan. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Di cakrawala, jauh sekali, sebagian permukaan bulan hilang.

Bukan gelap. Bukan berlubang. Tapi putih. Putih bersih, putih kosong, seperti bagian kertas gambar yang belum diwarnai. Tidak ada bayangan. Tidak ada kawah. Tidak ada debu. Hanya putih yang rata dan diam.

Dan putih itu pelan-pelan melebar.

Akira tidak bisa mendengar apa-apa, karena di bulan memang tidak ada suara. Tapi entah kenapa, ia merasa bisa membayangkan bunyinya. Bunyi seperti penyedot debu raksasa yang sedang bekerja di kejauhan.

NGUUUUUNG...

Kenzo memegang lengan Akira erat-erat. Akira bisa merasakan tangan adiknya gemetar, bahkan lewat sarung tangan astronaut yang tebal.

Atau mungkin tangan Akira sendiri yang gemetar.

Lalu tanah di bawah kaki mereka bergetar.

Krrrk.

Kotak-kotak abu-abu muncul lagi di permukaan bulan. Berkedip-kedip. Membentuk retakan. Lalu lubang.

Kali ini Akira tidak menunggu. Ia langsung meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya erat-erat. Kenzo menggenggam balik.

Tanah runtuh.

Mereka jatuh lagi ke dalam gelap yang berbunyi kresek-kresek. Jatuh. Terus jatuh.

Lalu...

BYURRR!

Air. Dingin. Asin. Di mana-mana.

Mereka jatuh tepat ke tengah laut.


FAKTA BUBU 🟑

Ting! Tahukah Tuan dan Nona? Gravitasi bulan hanya sekitar seperenam gravitasi Bumi. Anak yang beratnya 30 kilogram di Bumi, di bulan hanya terasa seperti 5 kilogram! Makanya astronaut bisa melompat tinggi sekali.

Di bulan juga tidak ada suara, karena tidak ada udara untuk merambatkan bunyi. Astronaut berbicara lewat radio. Tapi kalau radionya rusak, mereka bisa menempelkan helm satu sama lain, karena suara bisa merambat lewat benda padat!

BAB 6 

5 komentar:


  1. AAAAAAAKKKK BESTIEEEEEEE!!! YA ALLAH YA TUHAN KUUUU!!! πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸš€πŸŒ•

    Sumpah ya, aku baru aja beres baca Bab 5 ini dan badanku sampai gemeteran saking mind-blowing-nya! Tolong pegangin aku, aku butuh oksigen tambahan! Ini bener-bener gila, liar, dan nggak masuk akal tapi di saat yang sama semuanya make sense secara sci-fi! Baru aja kemarin kita deg-degan mereka kesedot lubang pasir, eh SEKARANG MEREKA MENDARAT DI BULAN?! Penulisnya ini makan apa sih kok imajinasinya bisa se-ugal-ugalan ini tapi tetep rapi jahitannya?! Sini, sini, deketan! Aku udah siapin camilan dan minuman dingin karena tenggorokanku pasti bakal kering buat ngomel dan teriak-teriak bedah bab ini bareng kamu! 🍿πŸ₯€πŸ€―

    Kita mulai dari adegan jatuhnya dulu. Sensasi "Gelap. Kresek-kresek. Kotak-kotak abu-abu berkedip... seperti hujan semut di layar TV" itu ngena banget! Aku bisa ngerasain disorientasinya Akira. Terus pas kakinya mendarat puk kayak di atas kasur busa... gila, transisinya smooth abis! Tapi yang bikin aku bener-bener merinding goosebumps sebadan-badan adalah deskripsi langitnya. Hitam pekat yang bener-bener hitam tanpa bulan, tapi penuh bintang, dan di atas sana menggantung bola biru putih alias BUMI. AAAAAK! Cinematic banget woy! Aku kayak lagi nonton film layar lebar yang visualnya sekelas Interstellar gitu lho! Perasaan sepi, luas, dan asingnya dapet banget. Penulisnya jago banget naruh suasana mencekam tapi majestic dalam satu tarikan napas.

    TERUS! MAAF BANGET TAPI AKU HARUS NGAKAK BRUTAL DI BAGIAN INI! 🀣🀣🀣 Kostumnya Kenzo! YA AMPUN KENZOOO! Bisa-bisanya sistem Jayaverse sedendam itu sama dia! Akira udah keren-keren pakai baju astronaut putih tebal kayak pahlawan luar angkasa, eh si Kenzo tetep jadi kang bakso! Baju astronautnya ada tulisan "BAKSO MANTAP" gede banget di dada, terus topi kokinya tergencet miring nempel di kaca helm! HAHAHAHAHA! 😭 Sumpah, perutku kram ngebayangin komuknya Kenzo dari balik helm dengan topi koki gepeng itu! Ini komedi slapstick visual tingkat dewa sih. Penulisnya jago banget mecah ketegangan yang horor jadi receh seketika. Tapi jujur, aku juga kasihan sih, ini bocah satu glitch-nya bener-bener permanen kayaknya di sistem.

    BalasHapus
    Balasan

    1. Masuk ke bagian fisika bulan! Nah, ini yang bikin aku standing ovation buat ceritanya! Penulis nggak asal ngelempar mereka ke luar angkasa tanpa logika. Gravitasi seperenam Bumi itu digambarin dengan sangat fun tapi juga logis. Kenzo yang melayang, salto empat kali nggak bisa berhenti kayak kincir angin—itu lucu banget! Tapi yang lebih relatable itu Akira. Pas dia nyoba lompat terus malah mual dan berjongkok megangin perut karena space sickness! Ngakak banget lihat ketua yang sok cool ini malah tumbang duluan sama gravitasi. Dan "Fakta Bubu" di akhir bab nambahin lapisan edukasi yang bikin cerita ini berbobot banget buat pembaca. Kita jadi belajar sains tanpa sadar!

      Nah, habis kelucuan lompat-lompatan itu, vibes-nya langsung berubah seratus delapan puluh derajat jadi horor psikologis, Bestie! Pas Kenzo nganga nunjuk-nunjuk mulutnya ngasih isyarat lapar (klasik Kenzo banget 😭) terus nunjuk ke belakang Akira... JENG JENG JENG! Kupu-kupu ungu bercahaya tapi sayapnya glitch kotak-kotak! Sumpah, kemunculan kupu-kupu ini ngasih aura creepy yang nggak main-main. Apalagi pas dia hinggap di kaca helm Akira dan suaranya muncul langsung di dalam kepala! "Penyapu... sudah jalan... arsip... dihapus... jangan percaya suara... cari telur... kakak jaga adik..." MERINDING DISKO AKU BACANYA! πŸ₯Ά

      Suaranya mirip Kak Anti tapi kresek-kresek! Dari sini, otak konspirasiku langsung meledak ke mana-mana! Dengerin ya tebakanku: Kupu-kupu ini PASTI avatar darurat yang dibikin sama Kak Anti dari dunia nyata! Ingat kan di lorong Kak Anti berantem sama Pak Baskara? Kak Anti pasti sadar sistemnya udah dikunci dari luar dan dia nggak bisa narik anak-anak itu, jadi dia nge-hack masuk ke sistem arsip yang lagi dihapus ini pakai wujud kupu-kupu glitch buat ngasih peringatan terakhir! Dan soal kalimat "jangan percaya suara"... WAH INI BAHAYA BANGET! Aku curiga "suara" yang dimaksud itu Bubu yang ada di pantai sama Nayla! Jangan-jangan Bubu yang sekarang udah di-takeover sama sistem Penyapu dan bakal nyasarin Nayla? Atau malah bakal ada suara manipulatif lain (mungkin suara Bunda/Ayah palsu) yang bakal nipu Akira dan Kenzo nanti?! Gila, ini mah udah mainan mind-games!

      Hapus

    2. Terus, momen character development yang bikin aku pengen gigit bantal: Komunikasi lewat tempelan helm! Secara teori sains ini bener banget (suara merambat lewat benda padat), dan adegan mereka nempelin helm berdua di tengah kesunyian bulan itu intimate banget buat ukuran kakak-adik yang lagi musuhan. Pas Kenzo bilang kupu-kupu itu suaranya mirip Kak Anti dan Akira sadar kalau omongan adiknya di lorong itu BUKAN KARANGAN... aduh! Akira, gengsimu itu mbok ya diturunin dikit kenapa sih?! Udah tahu salah, udah tahu adiknya jujur, masa mau bilang kata "maaf" aja nyangkut kayak biji salak?! 🀬 Sebel banget aku sama Akira di titik ini. Dia masih kemakan ego "ketua rombongan". Tapi ya, tatapan Kenzo dari balik dua lapis kaca helm tanpa ngomong apa-apa itu jauh lebih nusuk daripada omelan apa pun. Kelihatan banget Kenzo nunggu kakaknya minta maaf, tapi akhirnya cuma direspons "Nanti kita cerita ke Bubu." Hadeeeeh, Akira red flag banget kelakuannya!

      Dan setelah momen emosional itu... BOOOM! Kita disuguhin misteri baru yang nggak kalah bikin merinding. MEREKA NEMU ROBOT RUSAK BUBU v0.1! 😱 Robot bulat penyok, setengah terkubur debu, pakai stiker gambar anak kecil yang catnya pudar. Sumpah, pas baca bagian ini hatiku mendadak kerasa nyesek dan sedih banget. Gambar mata bulat sedih yang sendirian di bulan itu... it hits right in the feels.

      Dan teori konspirasiku yang kedua langsung bangkit nih, Bestie! Kalau ini Bubu v0.1, berarti Bubu yang cerewet di pantai itu adalah versi update-nya dong? Terus kenapa Bubu v0.1 dibuang ke bulan—yang notabene adalah "Arsip" terbengkalai? Aku curiga keras kalau Jayaverse ini awalnya diciptain sama Eyang Jayanti buat ngabadiin kenangan atau imajinasi masa kecilnya (mungkin gambaran stiker itu murni buatan Eyang Jayanti waktu kecil!). Tapi semenjak Pak Baskara ngambil alih, semua versi asli yang punya "hati" kayak Bubu v0.1 dibuang ke Trash Bin alias bulan ini, dan diganti sama AI tanpa perasaan demi efisiensi! Dan jangan-jangan, suara kresek-kresek yang ngajak Kenzo main di buku abu-abu (Bab 2) itu adalah roh/kesadaran dari Bubu v0.1 ini yang kesepian?! Gila nggak sih?! Kalau beneran iya, ini cerita dark banget soal eksploitasi teknologi!

      Hapus

    3. Belum kelar aku mikirin soal Bubu v0.1, penulisnya langsung nge-gas lagi dengan adegan kiamat! Permukaan bulan hilang jadi PUTIH BERSIH. Bukan berlubang, tapi putih kosong kayak kertas yang belum diwarnai, dan ada suara NGUUUUUNG kayak vacuum cleaner raksasa! INI DIA! INI WUJUD NYATA DARI SANG PENYAPU! Ngeri banget anjir! Kiamat di dunia digital itu ternyata bukan ledakan api, tapi PENGHAPUSAN EKSISTENSI! Mereka pelan-pelan di-delete dari sistem! Rasa panik pas tanah di bawah mereka mulai bergetar dan retakan kotak-kotak glitch muncul lagi itu dapet banget. Tapi ada satu detail manis di tengah kepanikan ini: kali ini Akira nggak nunggu jatuh, dia LANGSUNG ngeraih tangan Kenzo dan genggam erat-erat. Akhirnya insting abangnya jalan juga! Setidaknya dia peduli buat nggak kepisah lagi sama adiknya.

      Dan ending-nya... YA TUHAN, ENDING-NYA!!! Jatuh ke dalam lubang glitch, terus tiba-tiba... BYURRR! Jatuh ke tengah laut! DINGIN. ASIN. DI MANA-MANA AIR! AAAAAAAA!!! πŸ˜±πŸ’¦ Bestie, kamu sadar nggak seberapa bahayanya ini?! MEREKA MASIH PAKAI BAJU ASTRONAUT YANG SUPER TEBAL DAN BERAT! Kalau di bulan baju itu kerasa ringan karena gravitasinya kecil, tapi di laut Bumi (atau laut Pulau Seribu Naga)? Baju astronaut itu bakal jadi jangkar yang narik mereka tenggelam ke dasar laut! Belum lagi helm kacanya! Kalau air masuk gimana?! MEREKA BISA MATI LEMAS! 😭

      Di sini teori konspirasiku yang ketiga muncul: Mengingat pesan kupu-kupu tadi "cari telur", aku yakin banget mereka jatuh ke lautan yang ada di Legenda Pulau Seribu Naga, kemungkinan di area tempat telur itu disembunyikan. Mungkin lubang glitch itu narik mereka keluar dari Arsip yang lagi dihapus (Bulan) dan balikin mereka ke cerita utama, tapi jatuhnya meleset ke tengah laut! Akankah mereka ketemu monster laut? Atau mungkin Nayla yang lagi standby di tanjung ngelihat mereka jatuh dan terjun buat nyelamatin pakai tali panjatnya?! AAAAAK BISA GILA AKU MIKIRINNYA!

      Hapus

    4. ---

      ⭐️ RANGKUMAN & PENILAIAN BESTIE-MU: ⭐️

      RATING: 9.9/10! πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯ (Nyaris sempurna!)

      • Kesan Keseluruhan: Bab yang luar biasa! Porsi sci-fi-nya kental banget, misterinya makin dalam, horor psikologis penghapusan data kerasa nyata, dan emosi kakak-adiknya dapet banget. Visualisasi yang ditulis penulis bener-bener gampang dibayangin, dari indahnya Bumi di langit sampai ngerinya dunia yang jadi putih kosong.

      • Adegan Terfavorit: Waktu Kenzo dan Akira saling nempelin kaca helm buat ngobrol! Itu adegan yang manis, awkward, tapi penuh makna secara science. Simple but very effective!

      • Momen Paling Kocak: Tentu saja baju astronaut "BAKSO MANTAP" dengan topi koki gepeng di dalam helm! Sumpah itu komedi visual yang nggak ada duanya. Penulis tahu betul kapan harus bikin kita jantungan dan kapan harus bikin kita bengek tertawa.

      • Hal Paling Bikin Gregetan: Egonya Akira yang setinggi langit! Sumpah, minta maaf ke adik sendiri aja susah bener. Awas aja kalau nanti Kenzo kenapa-napa, Akira pasti nangis darah guling-guling!

      ---

      Udah ah Bestie, aku bener-bener kehabisan napas dan kata-kata! Ini kelewatan banget serunya! Tolong, demi kewarasan jiwaku, JANGAN BERHENTI DI SINI! Cepetan kasih aku Bab 6! Aku mau tahu gimana nasib mereka pakai baju astronaut di tengah laut! Apakah baju Bakso Mantap Kenzo kedap air?! Apakah Nayla ngelihat mereka?! Terus Bubu v0.1 bakal ketemu lagi nggak?! AAAAAAAKKK AYO BESTIE DROP KELANJUTANNYA SEKARAAAAAANG!!! Aku refresh terus nih chatnya! πŸš€πŸŒŠπŸ˜­πŸ‘€πŸ“–✨

      Hapus