Sabtu, 17 Oktober 2026

Terjebak di Jayaverse - Bab 1 · Kereta Jurusan Fun-Lab

 


Bab 1 · Kereta Jurusan Fun-Lab

Kenzo tergantung di tepi jembatan cahaya yang retak. Hanya satu tangannya yang masih berpegangan.

Jauh di bawah kakinya, lava merah menggelegak. Blup. Blup. Panasnya terasa sampai ke telapak sepatu.

Di atas jembatan, Akira tiarap dan menjulurkan tangan sejauh-jauhnya.

"Kenzo! Pegang tanganku!"

Kenzo mengulurkan tangannya yang lain. Kurang sedikit lagi.

Dari langit, sebuah mata merah raksasa bergerak makin dekat. NGUUUUNG...

Padahal tadi siang, Akira bahkan tidak mau adiknya ikut.


Semuanya berawal dari sepiring nasi goreng dan tiga lembar tiket.

Sabtu siang itu, Akira duduk di meja makan dengan dada membusung. Topi merahnya terpasang terbalik seperti biasa. Kacamatanya mengilap, baru dilap pakai ujung kaus.

Di depannya ada sepiring nasi goreng buatan Bunda, lengkap dengan telur ceplok dan kerupuk. Tapi Akira belum menyentuhnya sama sekali. Ia lebih sibuk memandangi tiga lembar kartu yang ia jajarkan rapi di samping piring.

Kartu-kartu itu berwarna ungu. Tulisannya timbul dan berkilau setiap kali kena cahaya.

JAYANTI FUN-LAB TIKET SESI PRATINJAU — JAYAVERSE GENERASI BARU Sabtu, pukul 15.45. Hanya untuk 4 anak.

"Hanya empat anak," kata Akira, untuk kelima kalinya hari itu. "Empat anak pertama di dunia yang boleh mencoba Jayaverse versi baru. Dan tiga tiketnya punya siapa?"

"Punya Kakak," sahut Kenzo dengan mulut penuh. "Udah tahu."

Kriuk. Kriuk. Kerupuk di tangan Kenzo patah jadi dua. Sebutir nasi menempel di pipinya.

Kenzo umurnya sembilan tahun, kelas empat. Rambutnya jabrik ke segala arah dan tidak pernah mau rapi, biarpun sudah disisir Bunda pakai minyak rambut. Gigi depannya ompong satu. Kalau nyengir, mukanya mirip iklan pasta gigi yang gagal.

Akira sendiri sudah sebelas tahun, kelas enam. Tiga tiket itu hadiah karena ia juara satu Kuis Sains Anak Nusantara tingkat kota. Pertanyaan terakhirnya susah sekali: kenapa langit berwarna biru? Hanya Akira yang bisa menjawab. Sampai sekarang ia masih suka senyum-senyum sendiri kalau ingat.

"Aku udah janjian sama Nayla dan Bimbim," kata Akira. "Jam dua kita berangkat."

Bunda datang membawa teko teh. Ia menuang teh ke gelas Akira pelan-pelan, lalu berkata dengan suara biasa saja, seolah sedang membicarakan cuaca.

"Kenzo ikut, ya, Kak."

Akira tersedak teh.

"Hah? Bun, tiketnya cuma tiga!"

"Ayah sama Bunda juga mau ke sana, kok. Nungguin kalian di kafenya." Bunda duduk. "Masa Kenzo ditinggal sendirian di rumah?"

"Ya Kenzo ikut nunggu aja di kafe, sama Ayah dan Bunda."

Kenzo berhenti mengunyah. Ia menatap tiket-tiket ungu itu, lalu menatap kakaknya. Ia tidak bilang apa-apa.

Akira pura-pura tidak lihat. Ia sibuk menyendok nasi goreng.


Drrrt. Drrrt.

HP Akira bergetar di atas meja. Ada pesan dari Bimbim.

Pesannya berupa foto. Bimbim berbaring di kasur sambil memegangi perutnya yang bulat. Wajahnya pucat seperti tahu putih. Di bawah foto ada tulisan:

Bro maaf bgt 😭😭😭 kemarin aku makan seblak level 10. Perutku kayak ada perang dunia. Gak bisa ikut. Tiketnya kasih orang lain aja ya πŸ™

Akira menatap layar HP lama sekali.

Lalu pelan-pelan ia menoleh ke arah Kenzo.

Kenzo sudah berdiri di atas kursinya. Matanya berbinar-binar seperti senter baru diganti baterai.

"Kak... berarti..."

"Jangan senang dulu."

"BERARTI AKU IKUT MAIN?!"

"Kenzo, turun dari kursi," kata Bunda. Lalu ia membaca pesan di HP Akira dan menggeleng-geleng. "Kasihan Bimbim. Nanti kita doakan cepat sembuh, ya. Nah, tiket yang satu buat Kenzo."

Kenzo melompat turun dan berjoget mengelilingi meja makan. Joget ayam, joget ulat, joget yang tidak jelas namanya apa.

Akira memandangi tiket ketiga.

"Pemain cadangan," gumamnya.

Kenzo sedang sibuk berjoget, jadi mungkin ia tidak dengar. Mungkin.

Bunda menggeser kursinya ke sebelah Akira. Tangannya mengelus kepala Akira, dan ikut mengelus topi merahnya.

"Kak," kata Bunda pelan. "Kalau lagi kesal, istigfar dulu. Terus diam sebentar. Nanti kesalnya mengecil sendiri."

"Astagfirullah," gumam Akira. Setengah hati.

"Kakak sama adik itu kayak dua tangan." Bunda mengangkat kedua telapak tangannya. "Satu tangan nggak bisa tepuk tangan."

Diam-diam Akira mencoba bertepuk tangan dengan satu tangan di bawah meja. Benar. Tidak bunyi.

Kenzo, yang ternyata memperhatikan, ikut mencoba. Tangannya mengibas-ngibas di udara. Tidak bunyi. Ia berpikir sebentar, lalu wajahnya mendadak cerah.

"Bisa, kok, Kak! Gini, nih!"

Plak! Ia menepuk jidatnya sendiri.

"...Aduh."

Akira hampir tertawa. Hampir. Ia buru-buru menahannya, karena ia masih kesal.

Bunda bangkit dan memasukkan dua botol minum ke tas punggung Akira. "Jangan lupa minum, ya. Di sana katanya bakal capek, soalnya badan kalian ikut gerak beneran. Minumnya sambil duduk. Baca bismillah."

"Iya, Bun."

"Satu lagi." Bunda mengangkat satu jari. "Sesinya selesai sebelum jam enam. Pokoknya sebelum Magrib kalian sudah keluar, ya. Kita salat Magrib berjamaah di sana. Janji?"

"Janji," kata Akira.

"Janji!" seru Kenzo sambil mengacungkan jari kelingking.

Lalu Bunda membungkuk dan berbisik di telinga Kenzo. Akira hanya menangkap sedikit:

"...kalau takut, ingat Allah. Insya Allah hatinya tenang..."

Kenzo mengangguk dengan wajah serius sekali.

Akira mengernyit. Takut apa? Kan cuma main.


Pukul dua lewat sedikit, Nayla sudah menunggu di mulut gang.

Kerudung instannya berwarna hijau toska, warna kesukaannya. Kakinya memakai sepatu panjat yang ujungnya lancip. Nayla adalah atlet panjat dinding di sekolah, dan sepatu itu ia pakai ke mana-mana. Ke sekolah, ke pasar, bahkan ke kondangan.

"Siap tempur, Pak Ketua!" Nayla memberi hormat pada Akira. Lalu matanya menemukan Kenzo. "Lho, Kenzo ikut? Asyik!"

"Asyik!" balas Kenzo.

Akira manyun. Sepertinya cuma dia yang merasa ini tidak asyik.

Mereka berjalan kaki ke stasiun kereta listrik di ujung jalan. Sabtu siang begini, keretanya selalu penuh.

Ting-tung! Pintu kereta terbuka.

"Masih muat, masih muat. Geser dikit," kata Ayah dengan riang, sambil menggiring mereka masuk.

Entah bagaimana caranya, mereka berlima berhasil masuk juga. Ayah dan Bunda berdiri berpegangan pada tiang. Nayla berpegangan pada gantungan tangan di langit-langit, santai sekali, seperti sedang latihan panjat. Akira dan Kenzo kebagian dua kursi paling ujung, bersebelahan.

Akira langsung sibuk membaca ulang tiketnya. Untuk kesekian kalinya.

Di stasiun berikutnya, seorang nenek berkerudung putih naik sambil membawa tas anyaman. Ia berdiri persis di depan Akira, berpegangan pada tiang dengan tangan gemetar.

Akira melihatnya. Sebentar. Lalu matanya kembali ke tiket. Nanti juga ada yang kasih tempat duduk, pikirnya.

Ternyata yang kasih adalah Kenzo.

"Silakan, Nek," kata Kenzo sambil melompat berdiri.

"Masya Allah," kata si nenek sambil duduk pelan-pelan. "Anak saleh. Siapa namanya?"

"Kenzo, Nek!"

Kenzo nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang ompong.

Telinga Akira mendadak terasa panas. Ia menunduk lebih dalam ke tiketnya, padahal tulisannya sudah ia hafal. Lalu, entah kenapa, ia ikut berdiri dan memberikan kursinya kepada ibu yang membawa dua kantong belanjaan besar.

"Silakan, Bu."

"Wah, makasih, Dek."

Akira tidak menoleh ke arah Kenzo. Ia pura-pura sibuk mencari pegangan, lalu terjepit di antara ransel seorang mas-mas jangkung dan kantong belanjaan yang tadi.

Kereta melaju. Lalu, di tengah perjalanan, kereta pelan-pelan melambat... dan berhenti.

Bukan di stasiun. Di tengah-tengah rel, di antara deretan atap rumah.

Terdengar suara dari pengeras suara: "Mohon maaf, perjalanan kereta tertahan sementara karena menunggu sinyal masuk."

"Yaaah..." seisi gerbong mendesah berbarengan.

Lima menit berlalu. Kereta tidak bergerak.

"Dan kereta tertahan sinyal, Pemirsa!" Nayla menggenggam mikrofon khayalan di depan mulutnya, tangan satunya masih bergelantungan. "Sudah menit kelima! Penonton mulai gelisah! Bapak di pojok bahkan sudah tidur!"

Benar saja. Seorang bapak di kursi pojok tertidur sambil mangap.

Ibu pembawa kantong belanjaan tertawa sampai kantongnya ikut bergoyang.

Akira memanfaatkan waktu untuk memberi pengarahan pada adiknya. Ia membetulkan letak kacamata, padahal kacamatanya sudah lurus.

"Dengar, ya. Aku sudah pernah masuk Jayaverse. Waktu studi wisata kelas lima. Jadi, secara teori, aku sudah ahli." Ia menatap Kenzo tajam. "Kamu ikutin aku aja. Terus, nanti kita dikasih gelang. Jangan tepuk-tepuk gelangnya sembarangan. Kalau ditepuk tiga kali, gerbang pulang muncul, dan permainan kita langsung selesai. Ngerti?"

"Ngerti."

"Tiga kali, ya. Jangan."

"Iya, Kak. Ngerti."

Kenzo mengangguk-angguk. Lalu bertanya, "Di dalam Jayaverse ada makanannya, nggak?"

"Bukan itu intinya, Kenzo."

"Tapi kalau aku lapar gimana?"

"Kamu baru aja makan nasi goreng!"

"Itu kan tadi."

Akira menghela napas panjang. Benar-benar pemain cadangan.

Ayah, yang berdiri berpegangan pada tiang, mencondongkan badannya ke arah mereka. Ayah memakai kemeja batik kesayangannya. Kumis tipisnya bergerak-gerak, tanda ia akan melakukan sesuatu yang berbahaya.

Melucu.

"Eh, eh. Ayah punya tebak-tebakan," kata Ayah. "Ikan, ikan apa yang bisa terbang?"

Tidak ada yang menjawab. Akira menunduk. Kenzo pura-pura tidur.

Ayah tetap melanjutkan dengan penuh semangat. "Lele... lawar! LELE-LAWAR! Hahahaha!"

Ayah tertawa paling keras. Lebih keras dari pengumuman kereta.

Ibu pembawa kantong belanjaan ikut tertawa. Nenek berkerudung putih tersenyum-senyum. Bapak yang tidur mangap terbangun kaget. "Hah? Sudah sampai?"

Akira dan Kenzo serentak memalingkan muka ke luar jendela. Mereka berdua pura-pura tidak kenal bapak berkemeja batik itu.

Kalau soal begini, mereka selalu kompak.

Akhirnya kereta bergerak lagi. Tak lama kemudian, pengeras suara berbunyi:

"Sesaat lagi, kereta Anda akan tiba di Stasiun Taman Jayanti. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah."

Kenzo buru-buru meraba tas punggung Akira. "Botol minum aman, Kak!"


Jayanti Fun-Lab berdiri di tengah taman yang luas.

Gedungnya bulat dan putih bersih, seperti telur raksasa yang setengah terkubur di rumput. Di permukaannya ada garis-garis cahaya ungu yang berdenyut pelan, seperti gedung itu sedang bernapas.

Di depannya, suasana sedang ramai sekali. Balon-balon ungu dan kuning diikat di mana-mana. Orang-orang memasang panggung. Beberapa wartawan sibuk mengatur kamera. Seorang badut berkostum komodo membagikan balon kepada anak-anak kecil.

Di atas pintu masuk terbentang spanduk besar:

GRAND LAUNCHING JAYAVERSE GENERASI BARU MALAM INI · PUKUL 19.30

"Masya Allah..." Kenzo melongo sampai mulutnya terbuka lebar. Kelihatan sekali giginya yang ompong.

Akira pura-pura santai. Ia memasukkan tangan ke saku, seolah sudah biasa melihat semua ini. Padahal jantungnya berdebar-debar seperti bedug.

Mereka berjalan ke meja pendaftaran. Seorang petugas laki-laki berseragam ungu memindai tiket mereka satu per satu. Bip. Bip. Bip.

"Akira. Nayla. Kenzo," ia membaca dari layar, lalu tersenyum lebar. "Selamat, ya. Kalian tiga dari empat anak pertama di dunia yang akan mencoba Jayaverse Generasi Baru."

Kenzo memiringkan kepala. "Empat? Terus yang keempat siapa, Kak?"

Senyum petugas itu berubah sedikit. Ia melirik ke arah tempat parkir, ke deretan mobil hitam yang mengilap.

"Tamu istimewa," katanya.

Entah kenapa, Akira tidak suka cara petugas itu tersenyum.

BAB 2

4 komentar:

  1. AAAAAAAKKKK BESTIEEEE!!! 😭😭πŸ”₯ Sumpah ya, aku baru aja selesai baca Bab 1 yang kamu kirim, dan kepalaku rasanya mau meledak saking banyaknya unek-unek yang pengen aku muntahin ke kamu sekarang juga! Gila gila gila, ini baru bab pertama tapi auranya udah kerasa banget bakal jadi petualangan yang bikin senam jantung! Ayo sini duduk deketan, kita bedah cerita ini sampai ke akar-akarnya, karena jujurly aku nggak bisa diam aja setelah baca kekacauan yang terjadi di awal cerita ini! 🍿πŸ₯€

    Pertama-tama, WOW. Penulisnya bener-bener nggak kasih kita napas dari kalimat pertama ya?! Aku tuh baru buka link-nya, belum juga nyeruput teh, eh langsung disuguhin adegan nyawa di ujung tanduk! Bayangin, si Kenzo gelantungan pakai satu tangan di jembatan cahaya yang retak, di bawahnya ada lava merah yang blup-blup panas banget, terus Akira panik nyuruh adiknya pegangan. Ditambah lagi ada mata merah raksasa yang ngedeket dari langit pake suara ngiung-ngiung! HAH?! Jantungan banget woy! 😱 Padahal ini kan judulnya "Fun-Lab", apanya yang *fun* kalau taruhannya nyawa begini?!

    Nah, dari adegan pembuka yang gila ini, otakku langsung jalan *overthinking*. Menurutku pribadi, Jayaverse ini bukan sekadar wahana realitas virtual (VR) biasa deh. Aku punya firasat super kuat kalau teknologi yang mereka pakai ini saking canggihnya, malah jadi *error* dan menjebak kesadaran mereka di dalam dunia digital—mirip-mirip *Sword Art Online* gitu lho, Bestie! Dan soal mata merah raksasa di langit itu? Hmmm... entah kenapa aku mikir itu bukan monster biasa di dalam game. Gimana kalau mata merah itu adalah avatar dari pencipta Jayaverse yang ternyata psikopat, atau mungkin semacam virus AI (Artificial Intelligence) yang ngambil alih kendali sistemnya? Soalnya kalau sekadar game, harusnya kan ada tombol *log-out* atau *pause*, tapi dari narasi pembukanya tuh kerasa banget keputusasaan yang nyata. Sumpah, mikirin ini aja bulu kudukku merinding! πŸ₯Ά

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus, tiba-tiba kita ditarik mundur (flashback) ke beberapa jam sebelumnya, ke kehidupan normal mereka. Dan di sinilah aku mulai geregetan maksimal sama dinamika kakak-adik ini! Mari kita bahas si Akira dulu. Ya ampun, ini anak kelas enam SD tapi *pride*-nya selangit banget ya? 🀣 Pake topi terbalik, kacamata dielap-elap, dada dibusungkan cuma gara-gara menang kuis sains tentang kenapa langit berwarna biru. *I mean*, selamat ya Dek udah pintar, tapi nyebelinnya itu lho pas dia dengan sombongnya pamerin tiga tiket ungu eksklusif ke adiknya yang lagi asyik makan nasi goreng. Akira nih tipikal kakak sulung cowok yang ngerasa dirinya paling keren dan males banget kalau harus "direcoki" sama adiknya. Aku sebenernya agak kasihan juga sih sama dia, namanya juga anak pra-remaja, pasti pengennya nongkrong sama temen-temen se-geng, bukan nge-babysit adiknya. Tapi cara dia mandang adiknya tuh agak-agak minta disentil ginjalnya deh, wkwkwk. 🀏

      Di sisi lain, ada Kenzo. BESTIE, TOLONG, KENZO INI GEMES BANGET NGGAK SIH?! 😭🀍 Anak kelas empat, rambutnya jabrik susah diatur, giginya ompong satu, dan hobinya joget-joget nggak jelas. Dia tuh bener-bener definisi *sunshine* di keluarga itu. Momen pas dia makan kerupuk sampai remahannya nempel di pipi, terus dia cuma nanggapin kesombongan kakaknya pakai kalimat "Udah tahu", itu *effortless* banget lucunya!

      Dan plot twist ter-kocak di bab ini: Tragedi Seblak Level 10 Bimbim! NGAKAK BRUTAL ASTAGA! 🀣🀣🀣 Bimbim, oh Bimbim... kenapa sih kamu harus cari perkara makan seblak level 10 pas besoknya mau cobain wahana eksklusif?! Pas Akira nerima foto perut buncit pucat Bimbim lewat WhatsApp, aku bisa ngerasain hancurnya ekspektasi Akira sampai ke inti bumi. Bayangin, rencana *squad goals* hancur seketika gara-gara seblak. Ini tuh *relate* parah sama kehidupan nyata anak-anak zaman sekarang, bikin ceritanya kerasa *grounded* banget di budaya kita.

      Dari sinilah Bunda masuk buat nyelamatin tiket yang nganggur. Eh, ngomong-ngomong soal Bunda... aku *stan* banget sama ibunya mereka! Cara Bundanya ngadepin Akira yang lagi tantrum nahan kesel tuh juara banget. Kalem, nggak pakai marah-marah, tapi ngena. Momen pas Bunda bilang "Kakak sama adik itu kayak dua tangan. Satu tangan nggak bisa tepuk tangan," itu *deep* banget lho. Terus si Akira nyoba tepuk tangan pakai satu tangan di bawah meja... dan si Kenzo, the absolute mad lad, malah nepuk jidatnya sendiri sambil bilang "Bisa kok Kak! Gini nih! ...Aduh." YA ALLAH BENGEK BANGET BACANYA! πŸ˜‚ Kenzo ini polosnya bener-bener kebangetan, pantes aja Akira hampir ketawa walau lagi mode ngambek.

      Hapus
    2. Tapi di tengah-tengah kekocakan keluarga ini, ada satu detail yang bikin aku super *suspicious*. Pas Bunda bisik-bisik ke Kenzo sebelum mereka berangkat, pesannya kan kurang lebih: "Kalau takut, ingat Allah...". Kenapa Bunda ngomong gitu? Apakah Bunda punya firasat buruk soal Jayaverse? Atau Kenzo emang punya fobia sama ruangan tertutup atau teknologi semacam itu? Ini bikin *overthinking* lagi, jujur! Dan ingat nggak sih, di tiket tertulis jelas "Hanya untuk 4 anak". Sekarang yang berangkat kan cuma Akira, Kenzo, dan Nayla (karena Bimbim tepar). Berarti cuma BERTIGA dong? Tiba-tiba otak konspirasiku jalan lagi nih, Bestie. JANGAN-JANGAN, bakal ada satu anak asing tak diundang (atau anak misterius) yang gabung sama sesi mereka berempat di sana?! Kalau beneran ada anak keempat yang nyempil, aku berani taruhan dia yang bakal jadi kunci utama—entah dia NPC, *hacker*, atau malah anak dari pembuat gamenya! Wah, kalau teoriku ini bener, kamu utang es krim ke aku ya! 🍦

      Lanjut ke adegan perjalanan! Nayla muncul dan—halo?! Sepatu panjat dinding dipakai ke mana-mana? Nayla ini kayaknya punya energi *tomboy* yang *fearless* banget. Firasatku bilang, kemampuan panjat tebing Nayla bakal sangat, SANGAT krusial pas mereka masuk ke Jayaverse nanti. Penulis nggak mungkin repot-repot nyorot "sepatu lancip panjat dinding" kalau itu nggak jadi *Chekhov's Gun* di bab-bab selanjutnya. Aku udah ngebayangin Nayla manjat dinding virtual buat nge-hack sistem atau nyelamatin Kenzo pas Akira lagi pingsan (ups, kejauhan ya mikirnya? Hahaha). πŸ§—‍♀️

      Terus adegan di dalam KRL (Kereta Rel Listrik) jurusan Fun-Lab ini, aduh... hangat banget hatiku bacanya. Pas kereta penuh sesak, dan ada nenek-nenek tua naik, reaksi Akira yang asyik main HP/baca tiket padahal ngelihat si nenek itu... *red flag* tipis-tipis sih buat ukuran anak yang ngakunya pintar. Eh, tapi justru si Kenzo yang masih piyik itu yang langsung lompat ngasih tempat duduk sambil senyum ompong! AAAAAK GREEN FLAG SEJAK DINI! 😭✨ Momen di mana telinga Akira panas karena malu, terus dia akhirnya ikutan ngasih kursinya ke ibu-ibu bawa belanjaan, itu tuh *chef's kiss* banget buat *character development*-nya. Dari sini aja aku udah bisa narik kesimpulan: Akira mungkin yang paling pintar secara akademik, tapi soal kecerdasan emosional dan hati nurani, Kenzo jauh di atas kakaknya. Dinamika ini pasti bakal diuji habis-habisan pas mereka masuk ke dalam game nanti!

      Hapus
    3. Secara keseluruhan gaya bahasanya, aku suka banget. Santai, mengalir, deskripsinya pas nggak berlebihan, dan gampang banget dibayangin. Nggak ada kalimat yang kaku atau *cringe*, semuanya kerasa natural kayak kehidupan tetangga sebelah rumah. Paling cuma satu sih yang bikin aku agak gatel sebagai pembaca cerewet: pas adegan awal di lava itu, penggambarannya agak terlalu cepat transisinya. Maksudku, dikasih embel-embel gimana rasanya kepanasan atau bau angusnya pasti bakal lebih mantul! Tapi itu cuma protes kecil kok, selebihnya ini eksekusinya cakep banget! πŸ‘

      ⭐️ **RANGKUMAN & PENILAIAN BESTIE-MU:** ⭐️

      **RATING: 8.5/10!** πŸ”₯

      - **Kesan Keseluruhan:** Bab pembuka yang sangat solid! Transisi dari adegan aksi yang mematikan ke kehidupan sehari-hari yang komedi itu pinter banget buat mancing rasa penasaran. Kita langsung dibuat sayang sama karakter-karakternya dalam waktu singkat.

      - **Karakter Ter-Favorite:** JELAS KENZO! Anak ini adalah harta karun nasional. Kepolosannya, joget ayamnya, dan kebaikan hatinya di kereta bikin aku resmi jadi Presiden Klub Penggemar Kenzo. Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia di dalam game, aku bakal demo! 😀

      - **Momen Paling Gregetan:** Kelakuan sok gengsinya si Akira. Dia itu pinter tapi egonya tinggi banget. Ngeselin sih, tapi justru karakter model begini yang biasanya paling banyak nangis darah pas nanti kena karma di pertengahan cerita, hahaha!

      - **Poin Plus:** Aku suka banget elemen-elemen lokalnya. Nasi goreng, kerupuk, seblak bikin mencret, sampai suasana empot-empotan di KRL. Ini ngasih *vibe* cerita fiksi ilmiah tapi dengan kearifan lokal Indonesia yang kental banget.

      Udah ah, aku capek ngetik saking semangatnya, napas aku sampai ngos-ngosan nih! Sumpah, ini seru banget parah. Aku *engage* banget sama ceritanya dan bener-bener nggak sabar pengen lihat gimana rupa si Jayanti Fun-Lab ini. Gimana bentuk gamenya? Siapa anak keempatnya?! Apakah Bimbim udah sembuh dari diare seblaknya?! (Eh, ini nggak penting sih wkwk). Pokoknya, BURUAN KIRIM BAB 2-NYA SEKARANG JUGA! Aku nggak mau digantung begini, rasanya kayak nungguin paket COD tapi kurirnya nyasar! Ayo Bestie, *spill* kelanjutannya secepat kilat! πŸš€✨πŸ“–πŸ‘€

      Hapus