Chapter 2 — Panitia Dadakan
Empat bulan sebelum Festival Senja, Bima Arkananta masih percaya bahwa menjadi siswa yang tidak mencolok adalah strategi hidup terbaik.
Datang tepat waktu.
Duduk di bangku tengah dekat jendela.
Mengerjakan tugas secukupnya.
Tidak ikut drama kelas.
Tidak terlalu dekat dengan siapa pun.
Tidak terlalu jauh juga.
Posisi aman.
Selama hampir satu tahun di SMA Garuda Bhakti, Bima berhasil menjalankan strategi itu dengan cukup baik. Ia bukan murid paling pintar, bukan paling populer, bukan paling sering dipanggil guru BK, dan jelas bukan tipe siswa yang namanya muncul di grup kelas karena kelakuan ajaib.
Bima hanya Bima.
Anak yang kalau guru bertanya, menjawab seperlunya.
Anak yang sering diminta memotret kegiatan kelas karena hasil fotonya bagus.
Anak yang kalau tertawa, orang-orang kadang kaget karena ternyata dia bisa.
Pagi itu, strategi hidup Bima hancur karena satu kalimat dari wali kelas.
“Untuk Festival Senja semester ini, kelas kita harus membentuk panitia khusus.”
Satu kelas XI-2 langsung mengeluarkan suara khas murid SMA yang mendengar kata panitia.
Campuran antara keluhan, bisikan, dan energi ingin menghilang dari muka bumi.
Bu Ratih, wali kelas mereka, menatap seluruh kelas dari depan papan tulis. Tangannya memegang spidol. Senyumnya tenang, yang justru membuat keadaan semakin berbahaya.
“Festival Senja adalah acara tahunan sekolah. Setiap kelas wajib membuka stand, ikut lomba dekorasi, dan menyiapkan perwakilan untuk pentas seni.”
Jalu Prasetyo mengangkat tangan.
Bu Ratih menghela napas dulu sebelum mempersilakan.
“Iya, Jalu?”
“Bu, kalau kelas kita memilih untuk mendukung dari jauh, boleh nggak?”
“Tidak.”
“Maksud saya, dukungan moral.”
“Tidak.”
“Doa?”
“Jalu.”
“Baik, Bu. Saya hanya menguji batas demokrasi.”
Satu kelas tertawa.
Kirana Putri, yang duduk di baris depan, langsung menoleh ke belakang.
“Jalu, jangan mulai.”
Jalu memegang dada.
“Ra, bangsa ini maju karena ada orang-orang yang berani bertanya.”
“Bangsa ini juga capek karena ada kamu.”
Tawa kelas makin pecah.
Bu Ratih mengetuk papan tulis pelan dengan spidol.
“Sudah. Kita mulai bagi tugas.”
Kalimat itu membuat sebagian murid langsung menunduk, pura-pura membaca buku. Ada yang mendadak sibuk membetulkan tali sepatu. Ada yang menatap keluar jendela seolah-olah menemukan makna hidup pada pohon mangga di halaman.
Bima juga ikut menunduk.
Terlambat.
“Bima,” panggil Bu Ratih.
Bima mengangkat kepala.
“Iya, Bu?”
“Kamu bagian dokumentasi, ya.”
Satu kelas langsung mengangguk seolah itu keputusan paling masuk akal di dunia.
Bima ingin menolak, tapi ia tahu menolak di depan Bu Ratih membutuhkan energi sosial yang lebih besar daripada menerima nasib.
Jadi ia hanya berkata, “Baik, Bu.”
“Bagus.” Bu Ratih menulis namanya di papan.
DOKUMENTASI: Bima
Di sebelah papan, Kirana sudah berdiri dengan buku catatan di tangan. Sebagai ketua kelas, ia otomatis berada di garis depan penderitaan.
“Untuk koordinator kelas, Kirana,” kata Bu Ratih.
Kirana mengangguk mantap.
“Baik, Bu.”
Tidak ada yang protes.
Karena semua tahu, kalau bukan Kirana, kelas XI-2 mungkin akan menjual martabak mentah di hari festival karena lupa menyalakan kompor.
“Promosi?” lanjut Bu Ratih.
Tara Maheswari langsung mengangkat tangan.
“Aku aja, Bu.”
Bu Ratih tersenyum lega. “Bagus. Tara bagian promosi.”
Tara menoleh ke belakang sambil tersenyum bangga.
“Tenang, kelas kita bakal viral.”
Jalu menyahut, “Viral positif atau dipanggil kepala sekolah?”
“Tergantung kerja sama kalian.”
Bu Ratih menulis lagi.
PROMOSI: Tara
“Dekorasi?” tanya Bu Ratih.
Kelas hening.
Dekorasi terdengar seperti pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, tenaga, dan kemungkinan besar lem tembak. Tidak ada yang mau mengambil risiko.
Lalu dari baris kanan tengah, sebuah tangan terangkat dengan penuh semangat.
Manda Ayuningtyas.
“Aku, Bu!”
Beberapa murid langsung menoleh.
Kirana terlihat sedikit waspada.
Bu Ratih menatap Manda.
“Kamu yakin?”
Manda tersenyum lebar.
“Yakin, Bu. Saya punya visi.”
Jalu langsung berbisik keras, “Nah, ini tanda bahaya.”
Manda menoleh tajam.
“Lu diem. Orang tanpa visi jangan mengganggu seniman.”
“Gue punya visi.”
“Visi apa?”
“Lulus tanpa remedial.”
“Itu bukan visi. Itu mukjizat.”
Kelas kembali tertawa.
Bu Ratih, mungkin karena sudah terlalu lelah menghadapi mereka sejak awal semester, hanya menulis nama Manda di papan.
DEKORASI: Manda
“Terakhir, konsumsi.”
Satu kelas mendadak sibuk lagi.
Mata turun.
Punggung membungkuk.
Ada yang pura-pura batuk.
Jalu malah duduk tegak, tidak sadar bahwa sikap itu membuatnya terlihat seperti relawan.
Bu Ratih tersenyum.
“Jalu.”
Jalu membeku.
“Kenapa saya merasa dipanggil bukan karena prestasi, Bu?”
“Kamu bagian konsumsi.”
Jalu berdiri setengah.
“Bu, saya ingin menyampaikan bahwa saya punya riwayat buruk dengan makanan.”
Kirana menoleh cepat. “Justru karena itu kamu harus diawasi.”
“Ra, kamu ketua kelas atau musuh politik saya?”
Bu Ratih menatap Jalu dengan senyum yang tidak bisa ditawar.
“Jalu, konsumsi.”
Jalu duduk kembali dengan wajah pasrah.
“Baik, Bu. Saya akan mengabdi pada bangsa melalui jalur seblak.”
Manda langsung menoleh.
“Siapa bilang kita jualan seblak?”
Jalu mengangkat alis.
“Belum ada yang bilang. Tapi aku baru saja mendapat wahyu.”
Tara menepuk meja.
“Eh, seblak lucu juga. Anak-anak sekolah suka.”
Kirana langsung membuka buku catatannya.
“Seblak butuh bahan banyak. Kerupuk, telur, cabai, bumbu, topping. Harus hitung modal dulu.”
Manda mengangkat tangan seperti sedang rapat kabinet.
“Aku setuju seblak, asal konsepnya nggak biasa.”
Kirana menatapnya curiga.
“Konsep nggak biasa seperti apa?”
Manda tersenyum.
“Seblak bertema patah hati.”
Kirana diam.
Tara tampak tertarik.
Jalu terlihat seperti baru menemukan tujuan hidup.
Bima, dari bangkunya, hanya memperhatikan.
Itulah pertama kalinya ia melihat mereka semua dalam satu garis yang sama.
Kirana dengan buku catatan dan wajah serius.
Tara dengan senyum ceria yang membuat ide buruk terdengar mungkin berhasil.
Jalu dengan mata berbinar setiap kali mendengar kata makanan.
Dan Manda—
Bima berhenti beberapa detik pada Manda.
Manda sedang menjelaskan sesuatu tentang dekorasi stand dengan tangan bergerak ke sana kemari, seolah-olah kata-katanya tidak cukup cepat keluar dari mulut. Rambutnya diikat asal. Pulpen terselip di telinga, padahal di tangannya juga ada pulpen lain. Wajahnya hidup sekali, seperti tombol volume yang tidak pernah berada di bawah angka delapan.
“Bayangin,” kata Manda. “Stand kita pakai lampu merah, tulisan dramatis, terus nama menunya bukan level satu sampai lima.”
Jalu menunjuknya. “Betul. Terlalu biasa.”
“Nama levelnya harus pakai fase galau,” lanjut Manda.
Tara langsung mengambil ponsel. “Aku catat. Ini bisa jadi konten.”
Kirana memijat pelipis.
“Kenapa aku merasa ini akan melelahkan?”
Manda mengangkat satu jari.
“Level satu: Cuma Kagum.”
Tara mengetik sambil tertawa.
“Level dua?” tanya Jalu.
“Mulai Nunggu Chat.”
“Level tiga?”
“Stalking Story.”
“Level empat?” Tara mulai tertawa lebih keras.
Manda berdiri dari kursinya, seperti penyair membacakan karya.
“Playlist Tengah Malam.”
Jalu memukul meja.
“Gila. Level lima?”
Manda menarik napas dramatis.
“Sudah Tahu Nggak Mungkin, Tapi Masih Berharap.”
Satu kelas bersorak.
Ada yang tertawa, ada yang tepuk tangan, ada yang berteriak, “Itu gue, anjir!”
Kirana langsung menutup wajahnya dengan buku catatan.
“Kita tidak akan menulis itu di menu.”
“Kenapa?” tanya Manda.
“Karena itu bukan menu. Itu diagnosis.”
Jalu menepuk meja lagi.
“Justru itu yang mahal, Ra. Kita jual makanan plus validasi perasaan.”
Kirana menunjuk Jalu dengan pulpen.
“Kamu fokus konsumsi. Jangan tambah konsep.”
“Baik. Tapi kalau nanti stand kita menang, jangan lupa sejarah mencatat bahwa saya adalah nabi seblak.”
“Tidak ada yang akan mencatat itu.”
“Aku catat sendiri.”
Bu Ratih, yang sejak tadi membiarkan diskusi absurd itu berjalan, akhirnya berdeham.
“Baik. Berarti sementara stand kelas kita seblak?”
Kirana tampak ingin menolak, tapi satu kelas sudah terlalu bersemangat.
Tara mengangkat tangan. “Setuju, Bu.”
Jalu mengangkat dua tangan. “Setuju demi bangsa.”
Manda mengangkat sendal sedikit dari bawah meja. “Setuju sampai kaki.”
Kirana menatap Manda.
“Manda.”
“Apa? Aku totalitas.”
Bu Ratih mengangguk.
“Kalau begitu, setelah jam pelajaran selesai, panitia kecil rapat di ruang kelas. Kirana, kamu koordinasi.”
Kirana mengangguk. “Baik, Bu.”
Bima sempat berharap bagian dokumentasi tidak perlu ikut rapat.
Harapan itu gugur ketika Kirana menoleh ke arahnya.
“Bima, kamu ikut ya. Kita perlu bahas konsep foto dan poster.”
Bima mengangguk pelan.
“Ya.”
Manda, yang duduk dua baris di depan Bima, ikut menoleh.
Untuk pertama kalinya hari itu, mata mereka bertemu.
Manda menyipitkan mata seperti sedang menilai barang di toko online.
“Bima.”
Bima menatapnya.
“Iya?”
“Kamu ini manusia apa fitur mode hemat daya?”
Kelas langsung tertawa.
Bima hanya berkedip sekali.
“Manusia.”
“Oh,” kata Manda, mengangguk serius. “Kirain properti kelas.”
Tara tertawa sampai menunduk.
Jalu menunjuk Bima. “Gue dari dulu curiga. Dia jarang ngomong karena mungkin baterainya tinggal dua persen.”
Bima menatap Jalu.
“Kalau baterai aku dua persen, kamu notifikasi tidak penting.”
Jalu terdiam.
Satu kelas meledak.
Tara memukul meja sambil tertawa. Kirana sampai menutup mulut, berusaha tetap terlihat berwibawa dan gagal. Manda membeku selama satu detik, lalu langsung menunjuk Bima dengan heboh.
“WOI!”
Bima sedikit mundur.
“DIA BISA NYERANG BALIK!”
Tawa kelas makin ramai.
Manda berdiri, menunjuk Bima seolah menemukan spesies langka.
“Catat, ini sejarah. Bima ternyata bukan mode hemat daya. Dia silent killer.”
Bima tidak menjawab.
Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Kecil sekali.
Hampir tidak terlihat.
Namun Manda melihatnya.
Matanya membesar.
“WOI, DIA BISA SENYUM!”
“Mana?” Jalu langsung berdiri.
Tara menoleh cepat. “Serius?”
Kirana ikut melihat.
Bima langsung kembali datar.
Manda menunjuk wajahnya.
“Tadi! Aku lihat! Jangan pura-pura jadi batu lagi!”
Bima mengambil buku dari meja, lalu membukanya asal.
“Aku tidak senyum.”
“Senyum.”
“Tidak.”
“Senyum, Bim. Aku saksi mata.”
“Matamu habis kena debu.”
Manda memegang dada, dramatis.
“Difitnah oleh properti kelas.”
Jalu menepuk bahu Manda.
“Sabar, Man. Berurusan dengan Bima memang harus pakai kesabaran dan charger original.”
Kirana mengetuk meja.
“Sudah. Nanti rapat setelah pulang sekolah. Jangan ada yang kabur.”
Jalu langsung duduk.
“Aku merasa kalimat itu ditujukan ke saya.”
“Karena memang.”
“Ketua kelas terlalu transparan dalam kebencian.”
“Aku tidak benci. Aku realistis.”
Bima menunduk ke bukunya.
Tapi selama beberapa detik setelah semua orang kembali ribut dengan urusan masing-masing, ia masih mengingat suara Manda saat berteriak, “Dia bisa senyum!”
Aneh.
Biasanya kalau ada yang membuatnya jadi pusat perhatian, Bima merasa tidak nyaman.
Tapi tadi, untuk alasan yang belum ia pahami, ia tidak terlalu terganggu.
Mungkin karena Manda ribut dengan cara yang tidak membuat orang merasa diserang.
Atau mungkin karena ketika Manda menertawakan sesuatu, ia seperti menarik semua orang ikut masuk ke dalam dunia yang lebih ringan.
Bima tidak tahu.
Yang jelas, setelah tawa kelas mereda, ia masih melihat Manda beberapa detik lebih lama.
Tidak sengaja.
Setidaknya, waktu itu ia mengira begitu.
Rapat panitia setelah pulang sekolah dimulai dengan lima orang, satu papan tulis, dua spidol yang hampir habis, dan Jalu yang membawa gorengan tanpa izin.
Kirana berdiri di depan kelas dengan buku catatan terbuka.
“Oke. Kita bahas konsep stand dulu.”
Jalu mengunyah bakwan. “Seblak.”
“Kita semua sudah tahu seblak.”
“Bagus. Rapat selesai.”
Kirana menatapnya.
Jalu pelan-pelan menurunkan bakwan.
“Belum selesai, ya?”
“Belum.”
Tara duduk di meja baris depan, kaki menggantung santai.
“Menurut aku, konsep Manda tadi bisa dipakai, tapi jangan terlalu sad girl. Harus tetap lucu.”
Manda mengangkat jempol. “Setuju. Galau, tapi tetap punya harga diri.”
Jalu menambahkan, “Galau, tapi tidak lupa makan.”
Kirana menulis di papan.
Konsep: Seblak Anti Galau
Bima duduk di kursi dekat jendela, kamera di atas meja. Ia memperhatikan tanpa banyak bicara.
Kirana menoleh padanya.
“Bima, menurut kamu gimana?”
Empat pasang mata langsung mengarah kepadanya.
Bima menatap tulisan di papan.
“Bisa.”
Kirana menunggu.
Tara ikut menunggu.
Manda menyipit.
Jalu mengangkat alis.
Bima sadar jawabannya terlalu pendek.
Ia menambahkan, “Kalau visualnya kuat.”
Manda langsung menunjuknya.
“Nah! Dia punya isi!”
Bima menatap Manda datar.
“Aku bukan galon.”
“Belum tentu. Sama-sama diam di pojokan dan berguna kalau dibutuhkan.”
Tara tertawa lagi.
Kirana mencoba tetap fokus.
“Visual kuat maksudnya?”
Bima berpikir sebentar.
“Pakai warna merah dan kuning. Lampu agak remang. Menu ditulis seperti ramalan zodiak, tapi versi seblak. Foto promosi jangan cuma makanan. Ambil ekspresi orang waktu makan.”
Manda menatap Bima dengan mata berbinar.
“Ekspresi penderitaan?”
“Bisa.”
“Ekspresi menyesal pernah berharap?”
“Bisa.”
“Ekspresi Jalu saat ditagih utang?”
“Tidak perlu difoto. Sudah sering terjadi.”
Jalu menunjuk Bima dengan sisa bakwan.
“Bim, kamu makin lama makin berani.”
Bima menjawab datar, “Efek lingkungan.”
Manda tertawa sambil memukul meja.
Kirana menulis cepat di bukunya.
“Oke. Jadi konsep visual: lucu, dramatis, warna hangat, ekspresi pengunjung.”
Tara mengangkat ponsel.
“Aku bisa bikin teaser di Instagram kelas. Misalnya: ‘Pilih level pedas sesuai kondisi hati.’”
Jalu mengangguk mantap.
“Level satu: Cuma Kagum.”
Manda menyambung, “Level dua: Nunggu Chat.”
Tara ikut, “Level tiga: Stalking Story.”
Bima, tanpa sadar, berkata, “Level empat: Playlist Tengah Malam.”
Semua langsung menoleh.
Bima berhenti.
Manda tersenyum pelan.
“Wah.”
Jalu menaruh bakwan.
“Bima ikut menyumbang penderitaan emosional.”
Tara menunjuk Bima. “Berarti level lima apa?”
Bima diam.
Sebenarnya ia hanya mengingat ucapan Manda di kelas tadi. Tapi karena semua orang menunggu, ia akhirnya menjawab, “Sudah Tahu Nggak Mungkin, Tapi Masih Berharap.”
Hening satu detik.
Lalu Manda menepuk meja.
“Gila. Cocok. Kamu ternyata bisa jadi anak konten.”
Bima menggeleng.
“Tidak.”
“Bisa.”
“Tidak.”
“Bisa kalau dipaksa.”
“Semakin tidak.”
Kirana menulis daftar level itu, lalu berhenti di level lima.
“Ini agak menyedihkan.”
Jalu mengangguk serius.
“Justru itu yang menjual. Anak SMA suka merasa hidupnya tragis.”
Tara menatap Jalu.
“Kamu ngomong begitu kayak bukan anak SMA.”
“Aku sudah melewati banyak hal.”
“Kakak kelas manggil kamu adik bukan termasuk tragedi nasional.”
Jalu langsung memegang dada.
“Tolong jangan membuka luka lama di ruang rapat.”
Manda memiringkan kepala.
“Sebentar, ini cerita yang mana?”
Tara langsung semangat.
“Jadi dulu Jalu suka kakak kelas—”
“Tidak perlu!” Jalu berdiri panik.
Kirana menatap jam.
“Kita punya waktu empat bulan sebelum festival. Tolong jangan habiskan rapat pertama untuk membahas riwayat cinta Jalu yang gagal sebelum dimulai.”
Jalu duduk pelan.
“Ketua kelas memang kejam.”
“Realistis,” koreksi Kirana.
Manda mengangkat tangan.
“Aku ada ide dekorasi.”
Kirana tampak takut, tapi tetap profesional.
“Apa?”
“Kita bikin stand seperti tempat makan biasa, tapi penuh kalimat-kalimat galau konyol.”
Tara langsung mengetik.
“Contoh?”
Manda berdiri, mengambil spidol, lalu menulis di papan dengan huruf besar:
MAKAN DULU, NANGIS NANTI
Jalu mengangguk kagum.
“Dalam.”
Manda menulis lagi:
KALAU DIA NGGAK PEKA, TAMBAH CABAI
Tara tertawa.
Bima menatap papan, lalu berkata pelan, “Kalau masih berharap, jangan pesan level lima sendirian.”
Manda berhenti menulis.
Ia menoleh.
Tara menatap Bima dengan mulut terbuka.
Jalu berdiri lagi.
“Kamu siapa dan apa yang kamu lakukan pada Bima?”
Bima terlihat sedikit menyesal sudah bicara.
Kirana, yang sejak tadi serius, akhirnya tertawa kecil.
“Itu bagus.”
Manda menunjuk Bima dengan spidol.
“Bima fix punya sisi gelap.”
“Tidak.”
“Punya.”
“Tidak.”
“Bim, orang normal nggak tiba-tiba bikin slogan seblak yang kedengarannya seperti mantan penyair patah hati.”
Bima menatap papan.
“Cuma kalimat.”
Manda tersenyum.
“Cuma kalimat tuh kadang bahaya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Untuk sesaat, kalimat itu menggantung di ruang kelas.
Cuma kalimat.
Empat bulan kemudian, mereka baru benar-benar mengerti bahwa Manda benar.
Cuma satu kalimat bisa membuat seseorang berharap.
Cuma satu kalimat bisa membuat seseorang patah hati.
Cuma satu kalimat bisa mengubah cara lima orang duduk di meja kantin.
Tapi sore itu, mereka belum tahu.
Sore itu, mereka masih tertawa.
Masih merasa semuanya ringan.
Masih merasa aturan-aturan bodoh yang nanti mereka buat tidak akan pernah menjadi masalah.
Kirana kembali mengetuk buku catatannya.
“Oke. Pembagian tugas detail. Tara, kamu bikin konsep promosi. Manda, kamu mulai desain dekorasi. Jalu, kamu survei harga bahan.”
Jalu langsung cerah.
“Dengan anggaran?”
“Nanti aku kasih.”
“Dengan uang transport?”
“Kantin ke pasar cuma sepuluh menit.”
“Dengan dukungan moral?”
Kirana menatapnya.
“Dengan pengawasan.”
Jalu menoleh ke Manda.
“Man, kita survei bareng.”
Manda mengerutkan dahi.
“Kenapa aku?”
“Karena kalau aku sendiri, Kirana tidak percaya.”
“Wajar.”
“Makanya.”
Manda berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Oke. Tapi kalau kamu beli hal aneh, aku tinggal.”
“Definisikan aneh.”
“Kembang api, topeng monyet, poster motivasi, atau apa pun yang kamu sebut investasi.”
Jalu tampak kecewa. “Padahal topeng monyet bisa jadi maskot.”
Kirana langsung berkata, “Tidak.”
Bima mengangkat kamera, diam-diam mengambil foto papan tulis yang penuh coretan.
Klik.
Tara menoleh.
“Bim, nanti fotonya kirim ke grup kelas, ya.”
Bima mengangguk.
“Ya.”
Manda langsung berbalik.
“Kita perlu grup panitia sendiri.”
Jalu mengangkat tangan. “Setuju. Grup kelas terlalu banyak orang tidak penting.”
Kirana menatap Jalu.
“Kamu juga sering tidak penting.”
“Tapi aku fungsional.”
“Kadang.”
Manda sudah membuka ponsel.
“Nama grupnya apa?”
Kirana menjawab cepat, “Panitia Festival XI-2.”
Manda menatapnya seperti baru mendengar sesuatu yang menyedihkan.
“Ra.”
“Apa?”
“Nama itu sehat, tapi tidak punya jiwa.”
Tara tertawa. “Setuju. Harus yang lucu.”
Kirana melipat tangan.
“Kita butuh grup untuk koordinasi, bukan untuk lomba stand up comedy.”
Jalu mengangkat jari.
“Bagaimana kalau: Pasukan Seblak Patah Hati.”
“Tidak,” kata Kirana.
Tara berpikir. “Seblak Senja Squad?”
Manda mengernyit.
“Terlalu toko minuman boba.”
Jalu mencoba lagi. “Cabai-Cabai Kehidupan.”
“Jelek,” kata Bima.
Semua menoleh.
Jalu terpukul.
“Bim, biasanya orang pendiam itu lebih sopan.”
“Maaf.”
“Tapi tetap jelek?”
“Iya.”
Manda tertawa senang.
“Oke, berarti Bima jadi dewan kurasi nama grup.”
Bima menggeleng.
“Jangan.”
“Terlambat.”
Kirana menghela napas.
“Aku tidak peduli namanya apa, asal grupnya dipakai untuk koordinasi.”
Manda mengetik cepat.
Beberapa detik kemudian, ponsel Bima bergetar.
Undangan grup masuk.
Nama grupnya:
Bukan Circle, Cuma Kebetulan Sering Bareng
Bima menatap layar.
Lalu menatap Manda.
“Ini grup panitia?”
Manda mengangguk mantap.
“Iya.”
“Kenapa namanya begitu?”
“Supaya tidak terlalu formal.”
Kirana membaca nama grup dari ponselnya, lalu menutup mata.
“Manda.”
“Apa? Bagus, kan?”
Tara tertawa. “Aku suka.”
Jalu mengangguk. “Ada unsur penyangkalan. Artistik.”
Bima masih menatap layar.
Anggota grup: Kirana, Tara, Manda, Jalu, Bima.
Lima orang.
Hanya grup panitia kecil, seharusnya.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang perlu diingat terlalu serius.
Tapi beberapa hal dalam hidup memang sering dimulai dengan cara yang tampak biasa saja.
Satu grup WA.
Satu rapat sepulang sekolah.
Satu ide stand seblak.
Satu cewek ribut yang menyebutnya fitur mode hemat daya.
Dan satu senyum kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Sore itu, sebelum pulang, mereka berjalan keluar kelas bersama.
Kirana paling depan, masih membahas jadwal rapat berikutnya.
Tara di sampingnya, sudah merancang caption promosi.
Jalu berjalan sambil menghabiskan gorengan terakhir.
Manda di belakang, memainkan spidol yang entah kenapa terbawa dari kelas.
Bima berjalan paling belakang.
Di tangga, Manda tiba-tiba berhenti dan menoleh.
“Bim.”
Bima ikut berhenti.
“Hm?”
“Besok bawa kamera, ya.”
“Untuk apa?”
“Dokumentasi proses kreatif.”
“Proses kreatif siapa?”
Manda menunjuk dirinya sendiri.
“Aku.”
Bima menatapnya sebentar.
“Kalau prosesnya gagal?”
“Justru harus didokumentasikan. Biar jadi pelajaran generasi berikutnya.”
Bima hampir tersenyum lagi.
Hampir.
Tapi kali ini, Manda menangkapnya sebelum hilang.
“Nah!” katanya cepat. “Itu tadi mau senyum.”
“Tidak.”
“Mau.”
“Tidak.”
“Bima, kamu ini kalau senyum kayak diskon mendadak. Jarang, tapi bikin orang heboh.”
Bima diam.
Manda tertawa sendiri, lalu turun tangga menyusul yang lain.
“Besok jangan lupa, properti kelas!”
Bima berdiri sebentar di anak tangga.
Di bawah, Manda sudah kembali ribut dengan Jalu karena Jalu mengaku spidol yang dibawa Manda adalah “aset rapat” dan harus dikembalikan demi transparansi organisasi.
Tara tertawa sambil merekam mereka.
Kirana mencoba melerai dengan wajah lelah.
Bima mengangkat kamera.
Klik.
Foto itu tidak terlalu bagus.
Sedikit blur.
Cahayanya kurang.
Komposisinya berantakan.
Tapi beberapa bulan kemudian, saat semua terasa jauh lebih rumit, Bima akan kembali melihat foto itu berkali-kali.
Karena di foto itu, mereka masih belum tahu apa-apa.
Mereka masih belum tahu bahwa Festival Senja bukan cuma tugas kelas.
Mereka masih belum tahu bahwa stand seblak akan membuat mereka terlalu sering duduk bersama.
Mereka masih belum tahu bahwa candaan “anti baper” akan menjadi aturan yang paling sulit dipatuhi.
Dan Bima belum tahu bahwa orang yang paling ribut di tangga itu kelak akan menjadi orang yang paling ia cari di setiap keramaian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar