Kamis, 03 September 2026

UAC ch1

 UANG ATAU CINTA



 

BAB 1 — Orang yang Dipilih

Anggi

Anggi sudah memutuskan satu hal bahkan sebelum gelang bertuliskan namanya dikunci di pergelangan tangan: kalau harus tinggal dua minggu bersama sembilan orang asing, ia tidak akan jadi orang yang menunggu diajak bicara.

Jadi ketika pintu ruang bersama terbuka dan para peserta mulai masuk satu per satu, Anggi menyambut hampir semuanya lebih dulu.

“Hai. Anggi.”

“Gilang.” Lelaki yang baru masuk itu menyambut uluran tangannya, lalu melihat gelang di tangan Anggi. “Untung namanya ditulis. Kalau enggak, hari ketiga aku pasti manggil semua orang ‘Bro’ sama ‘Mbak’.”

Anggi tertawa. Gilang belum lima menit berada di sana dan sudah berbicara seperti mereka berteman sejak lama.

Peserta berikutnya lebih tenang. Namanya Damar. Ia tidak banyak bicara saat memperkenalkan diri, tetapi ketika orang lain bertanya tentang alasan ikut acara, ia menjawab tanpa gaya yang dibuat-buat.

“Penasaran,” katanya. “Kalau manusia dikasih data, aturan, dan insentif, pilihan akhirnya berubah atau enggak.”

“Jadi kamu ke sini buat penelitian?” tanya Anggi.

“Enggak. Kalau penelitian harus ada izin etik.”

Gilang tertawa paling keras. Damar ikut tersenyum kecil, seolah baru sadar kalimatnya terdengar lucu.

Anggi menyukai itu.

Tidak ada petir, musik, atau perasaan konyol bahwa semesta baru saja mempertemukannya dengan seseorang. Yang ada hanya kesan sederhana: lelaki ini menarik.

Hari pertama dipakai untuk saling mengenal dan memahami bentuk umum permainan. Mereka tinggal di tempat yang sama selama empat belas hari. Nama yang dipakai adalah nama samaran. Telepon genggam hanya boleh digunakan dalam waktu terbatas di kamar masing-masing, tanpa kesempatan mencari peserta lain. Kontak, nama asli, alamat, tempat kerja, akun media sosial, dan informasi yang memungkinkan orang saling menemukan di luar acara dilarang dibagikan.

Dana bersama dimulai dari seratus juta rupiah. Nilainya bisa naik atau turun lewat tantangan dan pelanggaran. Di akhir acara, uang itu dibagi rata kepada peserta yang menyelesaikan permainan tanpa pasangan dan memenuhi standar penilaian.

“Kalau dapat pasangan?” tanya seseorang.

Layar besar menampilkan ikon dua orang bergandengan tangan. Suara Game Master terdengar datar dari pengeras suara.

“Dua peserta yang sepakat melanjutkan hubungan dapat mengajukan Sweet Exit. Keduanya meninggalkan permainan bersama dan menerima paket hadiah pasangan. Mereka tidak mendapat bagian dari dana akhir.”

Di sudut ruangan, seorang lelaki yang sejak tadi sibuk membaca berkas aturan mengangkat tangan.

“Kalau informasi kontak disimpan dalam benda tertutup dan baru boleh dibuka setelah acara selesai, itu termasuk dibagikan selama acara?”

Beberapa kepala menoleh.

Game Master menjawab setelah jeda singkat. “Peserta dilarang membagikan informasi yang memungkinkan peserta lain mengidentifikasi atau menghubungi mereka di luar acara selama masa permainan. Keputusan produksi mengenai pelanggaran bersifat final.”

Lelaki itu mengangguk seolah baru menerima jawaban yang cukup, lalu kembali ke berkas.

Gilang membungkuk ke arah Anggi. “Baru datang sudah cari celah peraturan.”

Anggi menahan tawa. “Pasti anaknya seru kalau main monopoli.”

Damar, yang duduk di sisi lain Anggi, ikut menoleh pada lelaki itu. “Atau berbahaya.”

“Berbahaya karena?”

“Orang yang suka baca syarat dan ketentuan biasanya tahu hal yang enggak kita tahu.”

Anggi tersenyum lagi.

Hari kedua, aturan dijelaskan lebih rinci. Ada evaluasi berkala. Skor di bawah batas aman membuat peserta masuk zona bahaya dan diberi satu siklus untuk pulih. Tidak ada kewajiban membangun hubungan romantis untuk mendapat nilai tinggi. Kriteria yang dinilai terbuka: kontribusi, kerja sama, konsistensi, integritas, dan kemampuan beradaptasi.

Anggi mendengarkan seperlunya. Yang lebih menarik baginya adalah melihat orang-orang mulai membentuk orbit sendiri.

Gilang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain seperti pembawa acara tidak resmi. Ada perempuan manis yang lebih sering tersenyum daripada bicara, dan entah bagaimana Gilang selalu menemukan alasan untuk duduk di dekatnya. Ada lelaki lain yang kelihatannya tenang, tetapi kalau bicara soal rencana masa depan mendadak sangat jelas. Ada sepasang peserta yang hampir selalu berdiskusi soal strategi uang. Anggi belum merasa perlu mengingat semua nama; dalam kepalanya dua orang terakhir sudah terlanjur menjadi Pasangan Finansial.

Dua orang lain terlihat sangat kompak sejak awal. Mereka tidak lengket, justru santai, tetapi hampir setiap tugas kecil berakhir dengan keduanya bekerja bersama. Anggi juga belum terlalu mengenal mereka.

Lalu ada Tika.

Tika datang dengan kemampuan luar biasa untuk mengatakan apa yang dipikirkan tepat setengah detik sebelum seharusnya ia menahannya.

“Kalau dana akhirnya dua ratus juta dan tinggal lima orang, berarti empat puluh juta seorang,” katanya saat mereka membahas aturan.

Salah satu anggota Pasangan Finansial langsung menoleh.

Tika menunjuknya. “Nah, tuh. Ada yang matanya langsung nyala.”

Perempuan itu tertawa. “Aku cuma menghargai matematika.”

“Matematika juga menghargai kamu.”

Damar, yang duduk di antara mereka, berkata, “Secara teknis matematika tidak punya preferensi.”

Tika menatapnya. “Kamu capek enggak sih jadi begini?”

“Begini gimana?”

“Persis.”

Itulah pertama kali Anggi melihat Damar dan Tika saling melempar kalimat seperti dua orang yang secara alami menemukan ritme untuk mengganggu satu sama lain.

Saat itu, Anggi menganggapnya lucu.

Pada hari ketiga, tantangan pertama dimulai. Mereka harus menyelesaikan serangkaian tugas kelompok dengan pasangan yang berganti-ganti. Sebagian soal menguji ingatan terhadap informasi yang sudah dibagikan peserta, sebagian lain memerlukan koordinasi tanpa bicara. Tidak ada yang terlalu rumit, tetapi cukup untuk membuat semua orang frustrasi.

Anggi mendapat satu ronde bersama Damar.

Mereka diminta menyusun urutan kartu berdasarkan petunjuk yang hanya boleh dilihat salah satu orang. Damar cepat menangkap pola, tetapi tidak mengambil alih. Ia bertanya sebelum memindahkan kartu dan mendengarkan ketika Anggi merasa ada urutan yang keliru.

“Yang ini harusnya sebelum hijau,” kata Anggi.

Damar memeriksa lagi. “Iya. Benar.”

Tidak ada pujian berlebihan. Tidak ada gaya sok memimpin. Ia hanya mengubah susunan dan lanjut bekerja.

Mereka selesai sebelum waktu habis.

“Lumayan,” kata Damar.

“Lumayan? Kita tercepat.”

“Berarti sangat lumayan.”

“Mulai sekarang aku anggap itu pujian tertinggi dari kamu.”

Damar menatapnya sebentar lalu tersenyum. “Boleh.”

Dana bersama naik menjadi seratus dua puluh juta.

Malamnya, Anggi duduk bersama Damar cukup lama. Mereka bicara tentang alasan ikut acara, meski tetap harus hati-hati agar tidak menyentuh identitas asli.

“Aku memang pengin ketemu orang,” kata Anggi. “Kalau cocok, ya serius. Aku udah capek dikenalin sama sepupu, teman kantor—eh, enggak boleh bilang kantor, ya?”

“Boleh bilang punya pekerjaan. Yang enggak boleh detail yang bisa dilacak.”

“Nah, tuh. Kamu hafal.”

“Aku baca.”

“Kamu kayak orang yang baca manual sebelum pakai blender.”

“Kalau blendernya mahal, iya.”

Anggi tertawa. “Aku enggak tahu itu green flag atau red flag.”

“Bisa dikumpulkan datanya dulu.”

Percakapan itu mudah. Tidak seperti pendekatan yang mengharuskan Anggi terus mencari topik. Damar tidak banyak bercerita, tetapi ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ketika Anggi bicara, tatapannya tidak lari ke orang lain, tidak sibuk mencari giliran menyela.

Pada evaluasi pertama, perempuan pendiam yang sejak awal sering didekati Gilang masuk zona bahaya.

Nilai di layar menunjukkan 61, empat poin di bawah batas aman. Ia tersenyum kecil ketika peserta lain menepuk bahunya, tetapi wajahnya pucat. Gilang menjadi orang pertama yang duduk di sampingnya setelah pengumuman selesai. Lelaki yang sering bicara soal rencana masa depan tidak lama kemudian ikut mendekat.

Anggi cuma melihat dari jauh. Urusan itu terasa bukan miliknya.

Hari-hari setelahnya mulai mempunyai pola. Tantangan, evaluasi, obrolan, makan bersama, waktu ponsel di kamar, lalu kembali pada kehidupan yang terasa ganjil karena dekat sekaligus anonim.

Anggi mulai sengaja mencari Damar.

Tidak sampai mengejar. Ia hanya memastikan ada kursi kosong di dekatnya ketika mereka berkumpul. Menawarkan bantuan kalau Damar sedang memeriksa hasil tugas. Bertanya soal hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ia tanyakan pada siapa pun.

Damar menerima kedekatan itu dengan tenang.

Ia juga baik kepada semua orang, dan itu kadang membuat Anggi susah membaca apakah ada perlakuan khusus atau tidak.

Suatu sore, Damar mendengarkan Anggi mengeluh tentang keluarga besar yang menganggap usia tertentu sebagai alarm pernikahan.

“Setiap kumpul,” kata Anggi, “ada aja yang nanya kapan nyusul. Kalau nikah bisa dipesan kayak tiket kereta, aku udah checkout dari dulu.”

Damar mengangguk. “Jawaban yang aman biasanya ‘doakan saja’.”

“Kamu sering ditanya juga?”

“Semua orang Indonesia pernah ditanya itu setidaknya sekali.”

“Aku curiga kamu sebenarnya robot yang dilatih pakai dataset percakapan keluarga Indonesia.”

Damar tertawa pelan.

Anggi menyimpan suara tawa itu lebih lama dari yang perlu.

Pada evaluasi berikutnya perempuan itu keluar dari zona bahaya. Anggi hanya sempat melihat angka yang lebih tinggi dan Gilang mengangkat kedua tangan seperti tim sepak bola baru menang. Lelaki yang beberapa hari terakhir sering berada di dekatnya tersenyum juga, tidak seramai Gilang, tetapi terlihat jauh lebih lega.

Menjelang hari kedelapan, Anggi merasa permainannya berjalan cukup baik. Skornya aman. Dana terus bertambah. Hubungannya dengan Damar terasa maju perlahan, setidaknya menurut versinya sendiri.

Lalu ia mulai memperhatikan Tika.

Bukan karena Tika melakukan sesuatu yang salah. Justru itu masalahnya.

Tika dan Damar tidak pernah terlihat romantis. Mereka sering tidak sependapat, saling mengejek, dan menghabiskan cukup banyak waktu untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting.

“Kalau sendok jatuh, lima menit masih bersih enggak?” tanya Tika suatu malam.

“Itu makanan,” kata Damar.

“Prinsipnya sama.”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Karena permukaan sendok kontaknya lebih luas dan—”

“Sudah. Aku menyesal tanya.”

Namun lima menit kemudian mereka masih bicara.

Anggi duduk bersama peserta lain di meja yang sama dan ikut tertawa. Tidak ada alasan untuk cemburu. Damar tidak menyentuh Tika. Tika juga tidak menggoda dengan cara yang jelas. Kalau orang menonton dari luar, mereka mungkin hanya terlihat seperti dua orang yang kebetulan senang bertengkar.

Tetapi Anggi mulai melihat hal kecil.

Damar lebih cepat menjawab Tika daripada orang lain. Tika bisa membuat Damar tersenyum ketika ia sedang serius. Kalau mereka terpisah dalam tantangan, salah satu sering mencari reaksi yang lain setelah hasil diumumkan.

Malam itu, setelah peserta mulai bubar, Anggi melihat Damar dan Tika masih duduk di ruang bersama.

Tika mengatakan sesuatu yang tidak terdengar. Damar menggeleng, lalu membalas. Tika memukul ringan lengan kursi, bukan lengan Damar, dan tertawa begitu keras sampai membungkuk.

Anggi berhenti di ambang pintu.

Ia bisa masuk. Bisa ikut duduk. Bisa membuat percakapan itu menjadi bertiga.

Sebaliknya ia berkata, “Aku duluan, ya.”

Damar menoleh. “Malam.”

Tika mengangkat tangan. “Mimpi yang mahal. Biar hadiahnya naik.”

Anggi tertawa seperlunya lalu berjalan menuju kamar.

Di balik pintu yang bertuliskan nama samarannya, ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap gelang di tangannya.

Selama beberapa hari ia mengira sudah tahu siapa yang ingin ia pilih.

Yang baru ia sadari malam itu adalah: belum tentu orang itu sedang membuat pilihan yang sama.


 

BAB 2 — Tidak Jadi Mengejar

Gilang

Gilang punya kebiasaan buruk: kalau suasana sepi lebih dari sepuluh detik, ia merasa bertanggung jawab secara moral untuk memperbaikinya.

Pada hari pertama, kebiasaan itu membuatnya mengenal hampir semua orang sebelum makan siang. Pada hari kedua, kebiasaan itu membuatnya tahu siapa yang paling gampang diajak tertawa. Pada hari ketiga, kebiasaan itu membuatnya sadar bahwa Laras adalah satu-satunya orang yang bisa menertawakan leluconnya sambil tetap terlihat ingin bersembunyi di balik gelas.

Itu menarik.

Laras tidak pendiam karena tidak punya pendapat. Ia hanya memilih kapan ingin mengeluarkannya. Kadang Gilang bisa berceloteh dua menit, lalu Laras menjawab satu kalimat yang membuatnya berhenti karena tepat sekali.

“Kalau kamu terus ngomong,” kata Laras suatu sore, “orang lain jadi enggak perlu merasa canggung.”

“Nah. Itu kontribusiku buat bangsa.”

“Buat acara ini dulu, deh.”

Gilang tertawa. Laras ikut tersenyum.

Ia mulai mendekati Laras tanpa rencana khusus. Membawakan minum kalau kebetulan lewat. Duduk di dekatnya saat diskusi kelompok. Mengajaknya jadi pasangan ketika tantangan memberi kebebasan memilih.

Laras tidak menolak.

Bagi Gilang, itu cukup untuk mencoba sedikit lebih jauh.

Masalahnya, ada Reno.

Gilang tidak langsung menganggap Reno pesaing. Reno bukan tipe yang agresif mendekati siapa pun. Lelaki itu malah sering terlihat sibuk menyiapkan sesuatu untuk kelompok, memikirkan strategi tugas, atau berbicara dengan orang berbeda.

Tapi sekitar hari kelima, Gilang melihat pola.

Laras mencari Reno bukan ketika suasana ramai, melainkan setelahnya. Kalau ada pembahasan masa depan, pandangan Laras lebih sering jatuh pada Reno. Kalau Reno berbicara, Laras mendengarkan dengan kualitas perhatian yang berbeda.

Bukan perhatian sopan.

Perhatian yang membuat orang lain di meja jadi latar.

Gilang mengerti sebelum siapa pun perlu menjelaskan.

Sore itu ia dan Laras kebetulan sedang merapikan kartu bekas tantangan.

“Kamu nanti kalau dapat kesempatan Sweet Exit, tipe yang cepat mutusin atau lama?” tanyanya.

Laras menumpuk kartu dengan rapi. “Tergantung orangnya.”

“Jawaban aman.”

“Memang harusnya jawab apa?”

“‘Kalau sama Gilang langsung.’”

Laras tertawa, lalu menatapnya dengan ekspresi yang terlalu lembut untuk orang yang hendak memberi harapan.

Gilang cepat-cepat mengangkat telapak tangan.

“Bercanda. Jangan bikin pidato.”

Laras terdiam sebentar. “Aku enggak mau bikin kamu salah paham.”

“Nah, kan. Tetap jadi pidato.”

“Gilang.”

“Iya, iya. Aku paham.”

Dan anehnya, ia memang paham.

Sedikit kecewa tentu ada. Ia manusia, bukan moderator acara. Tetapi ia sudah cukup dewasa untuk mengenali perbedaan antara aku suka dia dan dia berutang kesempatan padaku.

Mulai hari itu Gilang berhenti mengejar.

Ia tidak menjauh dari Laras. Justru hubungan mereka menjadi lebih ringan. Ia bisa menggoda tanpa menghitung apakah Laras membalas dengan sinyal tertentu. Bisa mendukung Laras tanpa merasa setiap keberhasilan Reno mengambil sesuatu darinya.

Yang tidak ia duga, setelah berhenti sibuk mencari kesempatan romantis, skornya malah naik.

Evaluasi berikutnya menempatkannya di peringkat atas.

“Gilang, 91,” suara Game Master mengumumkan.

Tika bersiul. “Wah, badut kelas jadi juara umum.”

“Mohon hormati prestasi akademik saya.”

“Akademik dari mana?”

“Pokoknya prestasi.”

Pada evaluasi selanjutnya nilainya bahkan lebih tinggi.

Gilang mulai curiga mungkin kunci permainan memang sesederhana melakukan sesuatu tanpa berharap imbalan dari orang tertentu.

Ia membantu Anggi saat kelompok mereka kehilangan arah dalam satu tugas. Menjadi pasangan kerja Ranti ketika perempuan itu terlalu tegang mengejar target. Menarik Bram masuk ke percakapan ketika lelaki itu kelihatan lebih tertarik menghitung pembagian dana daripada bersosialisasi.

“Kalau tersisa enam orang dan dananya seratus enam puluh juta,” kata Bram, “bagian per orang—”

“Jangan dilanjutin,” potong Gilang. “Nanti tiga orang langsung takut kamu dorong Sweet Exit.”

Perempuan dari Pasangan Finansial yang duduk di sebelah rekannya malah menjawab, “Kalau mereka bahagia, kita ikut bahagia.”

Gilang menunjuk keduanya. “Kalian tuh romantisnya kapitalistik banget.”

Perempuan itu tertawa. Rekannya cuma mengangkat bahu.

Di luar dinamika aneh itu, Laras dan Reno makin mudah terlihat.

Bukan karena mereka selalu bersama. Justru karena ketika terpisah, mereka seperti punya jalur untuk kembali ke percakapan yang sama.

Pada pagi hari kesembilan, Gilang bangun lebih awal dan berjalan ke ruang bersama untuk mencari kopi. Dari kejauhan ia melihat Laras dan Reno sedang bicara di area yang cukup terbuka.

Tidak ada orang lain di dekat mereka.

Gilang hampir memanggil, lalu mengurungkan niat.

Wajah Laras serius. Reno juga tidak terlihat santai. Laras mengatakan sesuatu. Reno menjawab setelah jeda yang terlalu panjang.

Gilang tidak bisa mendengar isi percakapan, tetapi tubuhnya mengenali ketegangan itu sebelum pikirannya selesai menerjemahkan.

Ada bagian kecil dalam dirinya yang berbisik bahwa mungkin ini kabar baik untuknya.

Kalau mereka bertengkar, kalau ternyata Reno tidak merasakan hal yang sama, kalau hubungan itu tidak jadi ke mana-mana—

Gilang memandang Laras sekali lagi.

Lalu ia mengambil cangkir dan berbalik ke arah lain.

Harapan kecil itu masih ada. Ia tidak akan berpura-pura suci.

Namun untuk pertama kalinya, harapan yang lebih besar bukan agar Laras kembali melihatnya.

Ia cuma ingin perempuan itu mendapatkan jawaban yang membuatnya baik-baik saja.


 

BAB 3 — Sebelum Angka Keluar

Laras

Laras datang ke acara itu karena sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama dalam bentuk berbeda.

Coba kenalan dulu. Siapa tahu cocok.

Biasanya kalimat itu diikuti foto seseorang, informasi pekerjaan yang terlalu lengkap, dan janji dari kerabat bahwa lelaki tersebut “anaknya baik”. Laras tidak pernah tahu harus berbuat apa dengan keterangan itu.

Baik adalah syarat dasar, bukan alasan untuk membangun hidup bersama.

Di tempat ini, anehnya, ia justru merasa lebih bebas. Semua orang kehilangan sebagian identitasnya. Tidak ada nama keluarga, kantor, kampus, alamat, atau akun media sosial. Mereka dipaksa menilai apa yang ada di depan mata.

Gilang adalah orang pertama yang membuatnya nyaman.

Ia lucu tanpa memaksa orang lain menjadi penonton. Ketika Laras masuk zona bahaya setelah evaluasi pertama, Gilang duduk di dekatnya dan membicarakan hal sama sekali tidak penting sampai rasa malu Laras sedikit turun.

“Kalau kamu dieliminasi gara-gara nilai segini,” katanya, “aku protes. Soalnya berarti juri enggak menilai kemampuan menahan diri buat enggak lempar aku pakai bantal.”

Laras tertawa meski matanya masih panas.

Ia sadar Gilang mendekatinya. Dan ia tidak menutup pintu.

Ia memang datang untuk mencari kemungkinan.

Tetapi semakin lama, Laras juga sadar ada hal yang tidak bisa diukur dari seberapa menyenangkan seseorang berada di dekatnya.

Gilang akan membuat hari-harinya ramai. Ia bisa membayangkan pergi makan dengannya, tertawa sepanjang perjalanan, mengenalkannya pada teman-teman tanpa khawatir suasana canggung.

Namun ketika pembicaraan bergeser pada hal yang lebih jauh, Laras justru lebih sering mencari Reno.

Reno tidak manis dalam cara yang langsung terlihat. Ia cenderung bicara seolah segala hal memiliki rencana lima tahun. Ketika peserta lain membahas apa yang akan dilakukan dengan hadiah, Reno tidak menyebut barang yang ingin dibeli. Ia berbicara tentang kebebasan memilih pekerjaan, menabung, membantu keluarga, dan membangun hidup yang tidak tergantung pada satu keputusan buruk.

Suatu malam Laras bertanya, “Kamu selalu mikir sejauh itu?”

“Enggak selalu.”

“Kedengarannya selalu.”

Reno tersenyum. “Aku cuma enggak suka keputusan besar yang dibuat karena suasana.”

Kalimat itu tinggal di kepala Laras lebih lama daripada yang ia inginkan.

Ia mulai mengamati Reno lewat tindakan kecil. Lelaki itu tidak pernah menjadi orang pertama yang paling ramai memberi dukungan, tetapi ia hampir selalu muncul ketika benar-benar dibutuhkan. Saat salah satu tugas Laras gagal dan membuat tim kehilangan poin, Reno tidak mengatakan enggak apa-apa seperti orang lain. Ia bertanya apa yang membuat Laras bingung, lalu membantu memikirkan cara agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Itu terdengar tidak romantis.

Laras menyukainya.

Ranti menjadi orang pertama yang terang-terangan menggoda mereka.

Perempuan itu duduk bersama Laras setelah evaluasi ketiga, memegang gelas sambil mengamati Reno yang sedang berdiskusi dengan Bram.

“Kalau kalian mau Sweet Exit,” katanya, “aku mendukung.”

Laras hampir tersedak. “Kenapa?”

“Karena kalian cocok.”

“Kamu bahkan belum kenal aku lama.”

“Cukup.” Ranti berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Dan pembagian dana juga jadi lebih bagus.”

Laras menatapnya.

Ranti tersenyum tanpa rasa bersalah. “Dua alasan bisa benar bersamaan.”

Sejak itu Laras sulit melihat Bram dan Ranti tanpa teringat perhitungan uang.

Hari kesembilan datang bersama pengumuman baru: malam nanti produksi akan mengungkap sebagian hasil analisis kompatibilitas yang dibuat sebelum acara dimulai.

Ruangan langsung ramai.

Gilang menepuk meja. “Nah, ini baru gosip ilmiah.”

Damar terlihat paling tertarik. Tika malah bertanya apakah hasil analisis bisa menggugurkan keputusan peserta.

“Tidak,” jawab Game Master. “Data hanya akan ditampilkan sebagai informasi.”

Laras memandang layar yang sudah kembali gelap.

Ia tidak ingin menunggu malam.

Bukan karena takut hasilnya buruk. Justru karena ia tidak ingin memberi angka kesempatan untuk masuk ke sesuatu yang sudah terasa jelas.

Ia mencari Reno sebelum kegiatan berikutnya dimulai.

Mereka duduk di tempat yang masih bisa terlihat kamera tetapi cukup jauh dari percakapan orang lain. Laras menyatukan kedua tangan di pangkuan agar Reno tidak melihat jarinya gemetar.

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Reno langsung memberi perhatian penuh. “Iya.”

“Aku enggak tahu nanti malam data bilang apa.”

Reno menunggu.

Laras menelan ludah. Kalau enggak bilang sekarang, nanti kamu akan merasa keputusan ini dipengaruhi angka.

“Aku suka sama kamu.”

Reno tidak bergerak.

Laras memaksa dirinya lanjut sebelum keberanian yang tersisa habis.

“Aku datang ke sini memang buat cari hubungan serius. Dan sejauh ini… kalau aku harus pilih orang yang pengin aku kenal setelah acara, itu kamu.”

Wajah Reno berubah, bukan menjadi kaget, melainkan seperti orang yang menerima sesuatu yang sudah ia duga namun tetap belum siap memegangnya.

Laras menarik napas.

“Aku mau ngajak kamu Sweet Exit.”

Jeda setelahnya terasa terlalu panjang.

Reno melihat ke bawah sebentar, lalu kembali menatap Laras.

“Aku juga suka kamu.”

Kalimat itu seharusnya melegakan.

Namun nada suaranya membuat Laras tahu ada lanjutan.

“Aku cuma…” Reno mengusap tengkuknya. “Boleh aku minta waktu sedikit?”

Laras merasa sesuatu turun di dadanya.

“Karena data nanti malam?” tanyanya.

“Bukan cuma itu.”

“Berarti termasuk itu.”

Reno tidak menjawab cepat.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Laras tersenyum, karena ia tidak tahu ekspresi lain yang bisa dipakai tanpa mempermalukan dirinya sendiri.

“Oke.”

“Laras—”

“Enggak apa-apa. Aku yang ngajak. Kamu berhak mikir.”

Ia berdiri sebelum percakapan berubah menjadi penghiburan.

Di belakangnya Reno memanggil namanya sekali, tetapi Laras tidak berhenti.

Malam nanti angka-angka akan muncul di layar.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke tempat itu, Laras berharap ia tidak perlu melihat satu pun.


 

BAB 4 — Pasangan Finansial

Bram

Bram tidak percaya pada istilah “ikuti alur”.

Alur, menurut pengalamannya, biasanya adalah nama sopan untuk sesuatu yang belum dihitung dengan baik.

Karena itu, pada hari pertama ia membaca seluruh aturan sampai halaman terakhir sementara sebagian peserta sibuk memperkenalkan diri. Ia bahkan sempat menanyakan satu skenario yang membuat beberapa orang menoleh: apakah informasi kontak yang disimpan di dalam benda tertutup dan baru dibuka setelah acara selesai tetap dianggap telah dibagikan.

Jawaban Game Master tidak memuaskan.

Larangan berlaku selama acara. Keputusan produksi final.

Bram mencatat ruang tafsir itu dalam kepala, lalu melanjutkan membaca.

Ia tidak datang untuk mencari celah aturan. Setidaknya bukan tujuan utama. Ia datang karena hidupnya terlalu stabil.

Pekerjaan—yang detailnya tidak boleh dibicarakan—berjalan baik. Keuangannya aman. Tempat tinggal nyaman. Ia bisa membeli hampir semua kebutuhan tanpa menghitung sampai tanggal gajian.

Dan setiap malam, setelah segala sesuatu selesai, ia pulang pada keheningan yang semakin sulit disebut nyaman.

Acara ini tampak seperti taruhan kecil untuk kemungkinan yang tidak bisa ia beli.

Lalu ia bertemu Ranti.

Kesan pertama Bram terhadap Ranti adalah: perempuan ini tahu cara membuat daftar.

Dalam tantangan pertama, ketika kelompok mereka kacau menentukan urutan tugas, Ranti mengambil kertas dan membagi pekerjaan dalam kurang dari satu menit.

“Kamu pegang waktu,” katanya pada Bram. “Aku koordinasi orang. Kalau ada yang selesai, lapor ke sini.”

Bram tidak tersinggung diperintah. Rencananya masuk akal.

Mereka menang ronde itu.

Setelahnya Ranti berkata, “Kita cocok kerja.”

Bram menjawab, “Efisien.”

Itulah awal hubungan yang oleh peserta lain kemudian disebut Pasangan Finansial.

Mereka sendiri tidak pernah memakai istilah itu, setidaknya tidak pada awalnya.

Ranti terang-terangan peduli pada dana bersama. Setiap hasil challenge muncul, matanya langsung berpindah ke angka total. Bram juga begitu, meski alasannya berbeda. Ia menyukai sistem yang jelas: ada tindakan, ada konsekuensi, ada angka yang berubah.

Hubungan manusia jauh lebih merepotkan.

“Kita sekarang seratus tiga puluh delapan,” kata Ranti setelah tantangan kedua. “Kalau nanti tinggal enam orang…”

“Dua puluh tiga juta kurang sedikit per orang.”

Ranti menoleh. “Kamu hitung juga.”

“Refleks.”

“Bagus.”

Mereka bertukar senyum yang seharusnya biasa saja.

Bram mulai menyukai saat-saat seperti itu.

Tentu ia tidak mengaku.

Mereka malah semakin serius mengubah ketertarikan menjadi strategi. Kalau ada pasangan yang jelas saling suka, Bram dan Ranti menjadi pendukung paling aktif untuk mendorong mereka mengambil Sweet Exit.

“Bukan karena uang,” kata Ranti suatu hari ketika Gilang menuduh mereka.

Bram menambahkan, “Kebahagiaan orang penting.”

Gilang menatap keduanya. “Kalian kalau bohong kompak juga, ya.”

Ada pasangan lain yang paling membuat Bram dan Ranti frustrasi: Wulan dan Arif.

Dua orang itu sangat solid. Bekerja sama dengan mulus, ngobrol terus, saling mencari ketika duduk, dan hampir tidak pernah benar-benar bertengkar.

“Kalau mereka enggak Sweet Exit, aku bingung,” kata Ranti.

“Secara probabilitas harusnya tinggi.”

“Jangan pakai probabilitas. Kelihatan aja.”

“Kelihatan juga data.”

Ranti mendengus.

Bram menyukai suara itu lebih dari yang pantas.

Menjelang hari kesembilan, perhatian mereka beralih pada Laras dan Reno. Keduanya jelas saling menyukai. Bagi Bram, mereka adalah kandidat paling logis untuk keluar sebelum evaluasi final.

Lalu Laras mengajak Reno Sweet Exit dan Reno menunda.

Bram mengetahui itu bukan dari percakapan langsung, melainkan dari perubahan perilaku keduanya. Reno menjadi lebih diam. Laras tetap sopan, tetapi jaraknya terlihat.

Setelah challenge keempat gagal dan dana bersama turun, Bram menemukan Reno duduk sendiri.

Niat awal Bram sangat sederhana: mempercepat keputusan.

“Kalau kamu memang suka Laras,” katanya, “menunggu data malam ini menambah informasi, tapi juga menambah risiko.”

Reno menatapnya. “Risiko apa?”

“Dia menganggap kamu butuh angka untuk memilih dia.”

Reno menghela napas. “Aku tahu.”

Bram duduk di sampingnya.

“Jadi kenapa belum iya?”

Reno lama tidak menjawab.

“Aku cari yang serius,” katanya akhirnya. “Justru itu masalahnya. Aku enggak mau bikin keputusan karena dua minggu ini intens. Aku takut kita merasa yakin karena semua hal di sini dipercepat.”

Bram memahami itu lebih baik daripada yang ingin ia akui.

“Takut salah?”

“Takut terlalu cepat.”

“Kadang sama.”

Reno menoleh. “Kamu sendiri gimana?”

Pertanyaan itu menyebalkan karena Bram tidak menyiapkan jawaban.

Ia memandang Ranti di kejauhan. Perempuan itu sedang berbicara dengan Wulan, sesekali tertawa. Bram sudah terlalu terbiasa mencari Ranti di ruangan sampai baru sadar kebiasaan itu terbentuk.

“Kami kerja sama,” katanya.

Reno tersenyum tipis. “Aku enggak nanya hubungan kerja.”

Bram hampir membalas, tetapi tidak jadi.

Ia memikirkan angka dana akhir. Memikirkan kemungkinan Ranti mengambil Sweet Exit dan kehilangan bagian yang tampaknya sangat ia butuhkan. Memikirkan dirinya sendiri yang sebenarnya tidak membutuhkan uang itu, namun tetap menjadikan uang sebagai alasan aman untuk tidak mengatakan apa-apa.

“Aku mungkin sama kayak kamu,” kata Bram. “Bukan enggak tahu mau apa. Cuma lebih nyaman menyebut takut sebagai strategi.”

Reno diam.

Bram melanjutkan, “Kalau aku jadi kamu, aku akan putuskan sebelum data keluar.”

“Kamu sendiri?”

Bram tersenyum kecil. “Aku enggak pernah bilang aku konsisten.”

Percakapan selesai tanpa solusi untuk Bram, tetapi ia melihat sesuatu pada wajah Reno berubah.

Saat kembali ke ruang bersama, Ranti langsung menghampirinya.

“Ngomong apa sama Reno?”

“Strategi.”

“Biar mereka keluar?”

“Kurang lebih.”

Ranti mengangguk puas. “Bagus.”

Mereka berjalan berdampingan menuju peserta lain.

Bram menatap angka dana di layar, lalu Ranti, lalu angka lagi.

Untuk pertama kalinya, perhitungannya terasa lebih seperti tempat bersembunyi daripada cara mengambil keputusan.


 

BAB 5 — Cocok, Tapi

Wulan

Kalau ada satu hal yang paling membuat Wulan heran selama ikut acara itu, bukan aturan identitas, bukan kamera, bahkan bukan fakta bahwa sepuluh orang dewasa bersedia dinilai seperti tugas kelompok.

Yang paling membuatnya heran adalah betapa mudah ia akrab dengan Arif.

Mereka tidak punya momen perkenalan yang layak disebut istimewa. Di hari pertama, Arif hanya duduk di sebelahnya saat kursi lain penuh. Mereka bertukar nama, alasan ikut acara, lalu mendapati percakapan tidak berhenti ketika topik wajib sudah selesai.

Arif ikut karena, menurut pengakuannya, “lagi punya waktu dan enggak ada ruginya.”

“Dapat pasangan syukur,” katanya. “Dapat uang juga syukur. Dapat pengalaman doang ya… semoga pengalamannya enggak bikin malu pas tayang.”

Wulan tertawa.

Ia sendiri datang karena ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa. Selama beberapa tahun terakhir hidupnya terasa seperti jalan yang terlalu lurus: bekerja, pulang, bertemu teman pada akhir pekan, lalu mengulang. Acara ini setidaknya memaksanya masuk ke ruang yang tidak bisa diprediksi.

Ternyata orang pertama yang membuat ruang itu terasa normal adalah Arif.

Mereka hampir selalu bekerja baik ketika dipasangkan. Arif tahu kapan harus bercanda dan kapan harus berhenti. Wulan tidak perlu menerjemahkan maksudnya dua kali. Kalau salah satu lelah bersosialisasi, yang lain cukup duduk tanpa memaksa percakapan.

Dari luar, mereka tampak seperti pasangan paling masuk akal.

Ranti bahkan pernah bertanya langsung, “Kapan kalian Sweet Exit?”

Arif menjawab, “Kami lagi nunggu sponsor.”

“Hadiah pasangan sudah disponsori.”

“Berarti nunggu keberanian.”

Wulan ikut tertawa, tetapi jawaban itu menempel sebentar di pikirannya.

Keberanian untuk apa?

Ia menyukai Arif. Itu tidak perlu diperdebatkan. Ia akan dengan senang hati duduk dua jam bersamanya tanpa agenda. Ia percaya Arif. Kalau harus memilih satu peserta untuk dimintai bantuan dalam kondisi kacau, nama Arif akan berada di urutan atas.

Namun semakin jelas kedekatan mereka bagi orang lain, semakin Wulan merasakan ruang kecil yang kosong di dalam hubungan itu.

Bukan masalah besar. Justru itulah yang membuatnya sulit dijelaskan.

Hari kesembilan dimulai dengan pengumuman tentang analisis kompatibilitas pra-acara yang akan ditampilkan malam nanti.

Ruangan mendadak riuh.

“Ini hasil tes yang dulu?” tanya Anggi.

“Sebagian,” jawab Game Master. “Produksi akan mengungkap pasangan dengan skor kompatibilitas tertinggi dan beberapa data pendukung.”

Damar tampak seperti baru diberi hadiah ulang tahun.

Tika menoleh padanya. “Jangan senang dulu. Bisa aja hasilnya kamu cocok sama dispenser.”

“Dispenser tidak ikut asesmen.”

“Sayang sekali.”

Wulan melihat Damar menggeleng sambil menahan senyum. Di sisi lain, Laras tidak ikut bercanda. Reno juga lebih diam dari biasanya.

Sebelum tantangan dimulai, Wulan sempat menangkap tatapan keduanya. Ada jarak yang kemarin belum ada.

Challenge keempat seharusnya menjadi salah satu tugas yang paling bisa mereka menangkan. Kelompok dibagi dalam pasangan bergantian untuk menyusun rangkaian keputusan berdasarkan informasi yang tersebar. Masalahnya bukan tingkat kesulitan, melainkan konsentrasi.

Reno membuat dua kesalahan yang biasanya tidak ia lakukan. Laras terlambat memberi instruksi pada ronde berikutnya. Ketika waktu habis, target kelompok tidak tercapai.

Angka dana di layar turun.

Seratus enam puluh juta menjadi seratus empat puluh lima juta.

Beberapa orang mengerang. Ranti menutup mata sesaat seperti baru melihat portofolio investasinya merah.

Reno berdiri lebih dulu. “Maaf. Bagian tadi salahku.”

Laras ikut bicara, “Aku juga. Aku telat kasih petunjuk.”

Tidak ada yang benar-benar menyalahkan mereka. Gilang malah mengatakan kegagalan itu salah desain semesta yang tidak menghargai kerja keras. Tetapi Wulan melihat Laras menghindari tatapan Reno setelahnya.

Ada sesuatu.

Setelah makan siang, Wulan menemukan Arif di dekat ruang bersama. Mereka duduk agak menjauh dari keramaian.

“Menurut kamu kita ranking berapa nanti malam?” tanya Arif.

Wulan langsung tahu ia sedang membicarakan kompatibilitas.

“Kenapa ‘kita’?”

“Karena semua orang yakin kita cocok.”

“Semua orang terutama Ranti dan Bram karena mereka mau bagian uangnya tambah.”

“Itu tetap bentuk keyakinan.”

Wulan tersenyum.

Arif memainkan gelang di pergelangan tangannya. “Kalau hasilnya tinggi gimana?”

“Ya tinggi.”

“Terus?”

“Terus apa?”

Arif menoleh padanya. “Kita harus ngapa-ngapain?”

Pertanyaan itu terdengar santai, tetapi Wulan tahu Arif tidak sedang bercanda penuh.

Ia memilih kata dengan hati-hati.

“Menurutku enggak.”

Arif mengangguk pelan. “Aku juga.”

Wulan merasa lega, lalu justru semakin yakin ada percakapan yang harus mereka selesaikan.

“Rif.”

“Hm?”

“Kamu ngerasa ada yang kurang enggak?”

Arif tidak pura-pura tidak mengerti. Ia menatap lantai beberapa detik.

“Kurang dalam arti?”

“Kalau orang lihat kita, kayaknya semua syarat ada. Nyambung, nyaman, bisa kerja sama. Aku suka ngobrol sama kamu.”

“Aku juga.”

“Tapi…”

Arif tersenyum miring. “Ada tapi.”

Wulan mengembuskan napas. “Iya.”

Ia tidak ingin melukai orang yang justru membuat dua minggu itu menyenangkan. Namun membiarkan orang lain mengartikan hubungan mereka sampai keduanya ikut percaya akan lebih buruk.

“Aku enggak ngerasa pengin hubungan ini jadi romantis,” katanya. “Dan aku takut kalau data nanti bilang kita paling cocok, kita malah merasa harus mencoba cuma karena semua orang berharap begitu.”

Arif diam cukup lama hingga Wulan mulai bertanya apakah ia salah membaca keadaan.

Lalu Arif bersandar dan mengangguk.

“Kayaknya aku ngerti.”

“Kamu ngerasa sama?”

Arif melihat ke depan, ke layar yang saat itu hanya menampilkan jumlah dana.

“Aku ngerasa kita cocok banget,” katanya. “Cuma mungkin bukan cocok yang itu.”

Wulan merasakan bahunya turun.

“Persis.”

“Berarti kalau nanti ranking satu…”

“Kita tetap enggak Sweet Exit.”

“Ranti bakal kecewa berat.”

Wulan tertawa. “Dia lebih kecewa daripada kita.”

Mereka duduk beberapa menit tanpa perlu menambal percakapan.

Wulan tahu hubungan itu tetap penting. Mungkin justru karena mereka berani memberi nama yang benar sebelum orang lain memberi nama untuk mereka.

Malam nanti layar bisa menampilkan angka berapa pun.

Untuk pertama kalinya, Wulan tidak terlalu ingin tahu.


 

BAB 6 — Sebelum Data

Reno

Reno tahu jawabannya sebelum Laras mengajaknya Sweet Exit.

Itulah bagian yang paling membuatnya kesal pada diri sendiri.

Ketika Laras berkata bahwa ia menyukainya, Reno merasa lega dengan cara yang terlalu jelas. Ketika Laras mengatakan ia ingin melanjutkan hubungan mereka di luar acara, bagian dalam dirinya langsung menjawab iya.

Tetapi mulutnya meminta waktu.

Ia bisa memberi banyak alasan yang terdengar masuk akal. Dua minggu bukan waktu lama. Lingkungan acara membuat kedekatan terasa lebih intens. Mereka belum tahu nama asli, pekerjaan rinci, keluarga, lingkungan pertemanan, kebiasaan di dunia nyata. Memilih seseorang di dalam tempat tertutup jauh berbeda dengan memilih kehidupan bersama setelah pintu itu terbuka.

Semua alasan itu benar.

Tetapi ada satu hal lain yang lebih sulit ia akui: malam nanti data akan keluar, dan ia penasaran.

Reno membenci kenyataan bahwa rasa penasaran sekecil itu cukup untuk membuat Laras pulang dari percakapan dengan wajah yang berusaha tidak kecewa.

Challenge keempat hanya memperburuk keadaan.

Ia salah membaca satu instruksi. Pada ronde lain, pikirannya melayang ketika harus memberi petunjuk. Kelompok gagal dan dana turun lima belas juta.

Reno minta maaf. Laras juga. Setelah itu mereka hampir tidak bicara.

Di sela waktu kosong, Bram duduk di sebelahnya.

Lelaki itu biasanya tidak mendekati orang tanpa alasan. Reno sudah terbiasa melihat Bram dan Ranti bekerja seperti dua orang yang menjalankan perusahaan kecil di tengah acara kencan.

“Kalau kamu memang suka Laras,” kata Bram tanpa pembuka, “menunggu data malam ini menambah informasi, tapi juga menambah risiko.”

Reno menatapnya. “Risiko apa?”

“Dia menganggap kamu butuh angka untuk memilih dia.”

Kalimat itu mengenai tepat di tempat yang sejak pagi Reno hindari.

Mereka bicara cukup lama. Tentang keputusan besar. Tentang takut membuat pilihan saat suasana terlalu intens. Tentang cara orang menyamarkan ketakutan menjadi kehati-hatian.

Bram bahkan mengakui dirinya melakukan hal yang sama terhadap Ranti.

Setelah percakapan selesai, Reno melihat waktu menuju pengumuman malam semakin pendek.

Ia tidak merasa lebih tenang.

Justru sebaliknya.

Data yang tadi pagi terasa menarik sekarang mulai terasa seperti gangguan yang ia undang sendiri.

Ia mencari Laras.

Perempuan itu sedang membantu membereskan perlengkapan bekas challenge. Reno menunggu sampai selesai, lalu memanggilnya.

“Bisa ngobrol?”

Laras memandangnya sejenak. “Bisa.”

Mereka memilih tempat yang cukup jauh dari orang lain.

Reno tidak ingin mengulang percakapan pagi. Ia juga tidak ingin membuka dengan permintaan maaf yang panjang sampai Laras harus menghiburnya.

“Aku tadi salah,” katanya.

Laras mengangkat alis tipis.

“Bukan soal challenge. Ya, itu juga. Tapi yang pagi.”

Laras tidak membantu dengan pertanyaan. Ia membiarkan Reno melanjutkan sendiri.

“Aku minta waktu karena takut keputusan kita terlalu cepat,” kata Reno. “Dan karena aku penasaran sama data nanti malam.”

Rahang Laras sedikit mengeras.

“Aku tahu.”

“Terus selama challenge aku malah kepikiran satu hal.”

Reno berhenti, mencoba mengatakan sesuatu tanpa membuatnya terdengar seperti pidato.

“Kalau tugas yang cuma beberapa menit aja bikin aku kacau karena aku mikirin kamu, kayaknya masalahnya bukan aku kurang data.”

Laras hampir tersenyum, tetapi menahannya.

Reno melanjutkan, “Aku enggak mau kehilangan kesempatan cuma karena aku ingin memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah aku tahu.”

Laras menatapnya lurus.

“Dan kamu sudah tahu apa?”

“Aku suka kamu.”

“Itu kamu bilang tadi.”

“Iya.” Reno menarik napas. “Aku mau keluar sama kamu.”

Laras tidak langsung menjawab.

Reno pantas mendapat jeda itu.

“Tanpa lihat data?” tanya Laras.

“Tanpa lihat data.”

“Kalau nanti ternyata kita kompatibilitasnya rendah?”

“Ya berarti datanya punya bahan bagus buat evaluasi.”

Laras tertawa kecil. Itu suara pertama dari dirinya hari itu yang terdengar benar-benar ringan.

Reno ikut tersenyum.

“Aku serius,” katanya.

“Aku juga.” Laras menatapnya beberapa detik lagi. “Aku masih mau.”

Reno merasa lega dengan cara yang hampir memalukan.

Mereka mengajukan Sweet Exit sore itu.

Pengumuman dilakukan sederhana. Layar menampilkan nama samaran mereka, lalu tanda dua orang yang memilih keluar bersama. Game Master mengucapkan selamat dan menjelaskan bahwa setelah meninggalkan area permainan, mereka baru boleh bertukar identitas asli dan kontak.

Peserta lain bersorak.

Ranti tampak senang dengan dua alasan sekaligus. Gilang memeluk Reno lebih dulu, lalu Laras.

“Jaga dia,” katanya pada Reno, masih dengan nada ringan meski matanya tidak sepenuhnya bercanda.

Reno mengangguk. “Iya.”

Saat giliran Laras berpamitan pada Gilang, Reno sengaja memberi ruang.

Ia tidak merasa menang atas siapa pun.

Beberapa menit kemudian ia dan Laras berdiri di dekat pintu keluar dengan barang secukupnya. Mereka belum tahu nama asli satu sama lain. Belum tahu nomor telepon. Belum tahu banyak hal yang biasanya dianggap dasar sebelum dua orang memutuskan melanjutkan hubungan.

Namun justru untuk pertama kalinya Reno merasa keputusan itu bukan hasil lingkungan, bukan hasil kompetisi, dan bukan hasil analisis.

Laras menatapnya. “Siap?”

Reno mengangguk.

Mereka keluar sebelum satu angka pun tentang kecocokan mereka muncul di layar.


 

BAB 7 — Peringkat Tiga

Damar

Damar sudah menunggu malam itu sejak hari pertama.

Bukan karena ia menganggap analisis kompatibilitas sebagai jawaban mutlak. Ia cukup waras untuk tahu hubungan manusia tidak bisa direduksi menjadi persentase. Tetapi kalau produksi benar-benar melakukan wawancara, asesmen, dan pemetaan sebelum peserta bertemu, hasilnya tetap menarik.

Data tidak harus menentukan keputusan untuk berguna.

Tika menyebut minatnya itu “kegembiraan yang terlalu akademis untuk acara kencan”.

“Ini bukan acara kencan biasa,” kata Damar.

“Benar. Ini acara kencan dengan Excel.”

“Belum tentu pakai Excel.”

Tika menatapnya lama. “Kamu bisa enggak, sekali aja, biarin inti lelucon hidup?”

“Bisa.”

“Terima kasih.”

“Walaupun secara teknis—”

Tika melempar bantal kecil ke arahnya.

Malam itu semua peserta berkumpul di depan layar besar. Laras dan Reno sudah pergi beberapa jam sebelumnya, sehingga kursi mereka kosong. Suasana aneh: senang karena ada pasangan pertama yang memilih keluar, penasaran karena hasil analisis sebentar lagi diumumkan, dan sedikit sadar bahwa permainan mulai masuk bagian akhir.

Game Master menjelaskan bahwa yang ditampilkan bukan seluruh kombinasi pasangan, melainkan beberapa peringkat teratas serta data tambahan yang dianggap relevan.

Daftar pertama muncul.

*1. Wulan — Arif: 92%*

Ruangan meledak.

Gilang menepuk meja. “NAH!”

Ranti langsung menoleh pada keduanya. “Kalian lihat? Sembilan puluh dua!”

Wulan menutup wajah sambil tertawa. Arif mengangkat kedua tangan seolah sedang menerima dakwaan.

“Jangan lihat aku,” katanya. “Aku bukan yang bikin algoritmanya.”

Damar tidak terlalu terkejut. Wulan dan Arif punya ritme komunikasi paling mulus. Mereka jarang salah paham, preferensi banyak yang sejalan, dan hampir setiap tantangan menunjukkan pola kerja sama yang konsisten.

Yang aneh justru mereka belum Sweet Exit.

Peringkat kedua muncul.

*2. Tika — Gilang: 86%*

Untuk pertama kalinya malam itu ruangan benar-benar hening setengah detik.

Lalu Tika berkata, “Hah?”

Gilang menoleh padanya. “Selamat. Ternyata kita jodoh secara administrasi.”

“Enggak, terima kasih.”

“Belum aku lamar.”

“Bagus.”

Semua orang tertawa.

Damar ikut tertawa, tetapi pandangannya tetap pada angka 86.

Ia mencoba menyusun alasan. Tika dan Gilang sama-sama mudah bersosialisasi, cepat beradaptasi, suka humor, mungkin punya preferensi kehidupan yang mirip. Masuk akal.

Tetap terasa aneh.

Peringkat ketiga muncul.

*3. Anggi — Damar: 82%*

Damar merasakan beberapa kepala langsung menoleh.

Anggi tersenyum lebar, meski pipinya sedikit memerah.

Gilang bersiul. “Wah.”

Tika menunjuk Damar. “Tuh. Data favoritmu sudah bicara.”

Damar membaca angka itu lagi.

Delapan puluh dua persen.

Anggi memang masuk akal. Mereka nyaman bicara. Anggi terbuka, hangat, dan sering mencari percakapan dengannya. Damar menyukai kebersamaan mereka. Kalau model analisis memberi skor tinggi, ia bisa memahami variabel yang mungkin mendorong hasil itu.

Peringkat keempat menampilkan Laras dan Reno, pasangan yang sudah Sweet Exit, dengan angka 80%.

Ruangan kembali ramai karena mereka memilih satu sama lain bahkan sebelum tahu hasilnya.

Damar mendengar komentar orang-orang, tetapi pikirannya justru tertahan pada satu pertanyaan yang seharusnya tidak penting.

Kalau Anggi dan dirinya ada di peringkat tiga, lalu dirinya dan Tika di mana?

Ia tidak langsung meminta. Itu akan terlalu jelas, bahkan bagi seseorang yang tidak peka.

Untungnya layar kemudian menampilkan beberapa pasangan lain di luar empat besar sebagai bagian dari data tambahan.

Damar mencari cepat.

Ia menemukan namanya dan Tika pada salah satu baris bawah.

*Damar — Tika: 63%*

Tidak buruk. Tidak tinggi.

Damar tidak tahu kenapa angka itu mengganggunya.

Tika yang berdiri tidak jauh darinya melihat juga.

“Hahaha.”

Damar menoleh.

Tika menunjuk layar. “Enam puluh tiga. Pantes kita tiap hari ribut.”

“Kita enggak tiap hari ribut.”

“Ini kalimat orang yang tiap hari ribut.”

“Perbedaan pendapat tidak sama dengan konflik.”

“Nah. Bahkan definisi ribut pun kamu ributin.”

Damar mengembuskan napas, tetapi tersenyum.

Malam berakhir dengan banyak ejekan dan sedikit spekulasi. Anggi tidak menekan apa pun. Ia hanya sempat berkata, “Ternyata lumayan tinggi, ya.”

Damar mengangguk. “Iya.”

“Menurut kamu akurat?”

Damar memilih jawaban yang paling jujur. “Bisa jadi.”

Anggi tersenyum, dan Damar tidak memikirkan lebih jauh apa arti senyum itu.

Keesokan harinya hasil analisis berubah menjadi bahan bercandaan.

Tika dan Gilang dipanggil “peringkat dua” beberapa kali. Wulan dan Arif malah makin digoda karena angka mereka paling tinggi.

Saat sarapan, Tika duduk di seberang Damar.

“Gimana rasanya cocok delapan puluh dua persen sama orang?” tanyanya.

“Biasa.”

“Bohong. Kamu pasti semalam bikin grafik sendiri di kepala.”

“Enggak.”

“Analisis regresi?”

“Enggak.”

“Simulasi Monte Carlo?”

Damar menatapnya. “Kamu tahu istilah itu dari mana?”

“Internet ada gunanya.”

Damar tertawa.

Tika melanjutkan, “Kalau kita cuma enam puluh tiga, berarti setiap sepuluh obrolan, tiga koma tujuh harus berantem.”

“Persentase kompatibilitas tidak bekerja begitu.”

“Biarin. Aku lagi bikin sains baru.”

Damar menggeleng.

Percakapan berlanjut ke hal lain, lalu putus ketika peserta lain datang. Tidak ada pengakuan. Tidak ada momen romantis. Bahkan kalau ditonton dari luar, mungkin adegannya tidak berarti apa-apa.

Namun setelah Tika pergi, Damar memandang kursi kosong di seberangnya sedikit terlalu lama.

Ia punya data yang mengatakan Anggi adalah salah satu kemungkinan terbaik.

Anehnya, pertanyaan yang terus kembali justru tentang angka yang lebih rendah.


 

BAB 8 — Sebelum Jawaban

Tika

Tika awalnya ikut acara karena iseng.

Kalau semuanya gagal, ia masih punya cerita aneh untuk diceritakan seumur hidup. Kalau dapat uang, bagus. Kalau bertemu seseorang, lebih bagus lagi. Ia datang tanpa daftar syarat dan tanpa rencana memaksa dua minggu menjadi awal kisah cinta besar.

Lalu ada Damar, yang pada hari kedua berhasil membuatnya kesal hanya dengan menjelaskan bahwa istilah yang dipakai Tika “kurang tepat”.

Sejak itu mereka seperti menemukan hobi bersama: berbeda pendapat tentang hal-hal yang tidak layak diperdebatkan.

Tika suka mengganggunya karena Damar sulit membiarkan kesalahan logika lewat begitu saja. Damar, entah sadar atau tidak, selalu meladeni.

Awalnya itu sekadar lucu.

Lama-lama Tika mulai mencari Damar kalau ada kejadian aneh, hanya untuk melihat reaksinya. Kalau Game Master mengumumkan aturan baru, ia otomatis menoleh ke Damar. Kalau Gilang membuat lelucon buruk, Tika ingin tahu apakah Damar akan tertawa atau malah mengoreksi premisnya.

Ia tidak memperhatikan kapan kebiasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit ditertawakan.

Malam reveal seharusnya membuat semuanya jelas.

Ternyata data menempatkannya bersama Gilang di peringkat dua.

Tika hampir tertawa sampai sakit perut.

“Delapan puluh enam persen,” kata Gilang setelah acara pengumuman selesai. “Kalau kamu berubah pikiran, aku siap meninjau proposal.”

“Ditolak sebelum masuk meja.”

“Proses pengadaan yang tidak transparan.”

Mereka memang cocok untuk bercanda. Tika bisa memahami kenapa analisis melihat pola itu.

Namun ketika namanya bersama Damar hanya mendapatkan enam puluh tiga persen, ia justru merasakan sedikit tusukan yang tidak masuk akal.

Maka ia menertawakannya lebih keras.

“Pantes kita enggak cocok.”

Damar membela definisi mereka seperti biasa. Tika mengubah angka itu menjadi bahan olok-olok. Semua kembali aman.

Kecuali Tika tahu dirinya bohong.

Ia nyaman dengan Damar. Sangat nyaman. Dan kenyamanan itu tidak seperti bersama Gilang atau Wulan. Ada rasa menunggu sesuatu setiap kali Damar mendekat. Ada kesadaran bodoh ketika lengan mereka hampir bersentuhan. Ada kepuasan kecil ketika ia berhasil membuat Damar tertawa tanpa sengaja.

Enam puluh tiga persen, ya sudah. Mungkin sisanya bisa dicicil.

Pikiran itu terlalu memalukan untuk diucapkan.

Masalah sesungguhnya bukan angka mereka.

Masalahnya adalah Anggi dan Damar berada di peringkat tiga.

Delapan puluh dua persen.

Dan Anggi jelas menyukai Damar.

Tika bukan orang buta. Selama beberapa hari ia melihat Anggi sengaja duduk dekat Damar, mengajak bicara, mencari kesempatan berdua. Sebelumnya Tika tidak merasa terganggu. Damar berhak bicara dengan siapa pun. Anggi juga menyenangkan.

Setelah angka keluar, semuanya terasa berbeda.

Pagi berikutnya, Tika dan Damar masih bercanda tentang data. Mereka tertawa soal enam puluh tiga persen sampai Tika hampir percaya dirinya tidak peduli.

Lalu Anggi datang.

Tidak ada drama. Anggi hanya memanggil Damar dan bertanya apakah bisa bicara sebentar.

Damar berdiri.

Tika melihat mereka pergi ke sisi lain ruang bersama.

Peringkat tiga.

Delapan puluh dua persen.

Tika menatap gelas di depannya.

Ya bagus, dong. Memang kenapa?

Ia berdiri dan pergi sebelum Damar kembali.

Pada evaluasi keempat, tanda untuk Laras dan Reno tidak lagi berupa skor. Nama mereka ditampilkan dengan status Sweet Exit.

Tika menatap tanda itu lebih lama daripada yang diperlukan.

Kesempatan memang bisa selesai sebelum acara selesai. Dua orang bisa memutuskan cukup, keluar, lalu menghadapi dunia asli dengan semua informasi yang selama ini ditahan.

Besok masih ada challenge kelima. Setelah itu tinggal beberapa hari menuju evaluasi final.

Tika membuat keputusan yang terasa jauh lebih berani daripada seharusnya.

Ia akan mengajak Damar Sweet Exit.

Bukan dengan pengakuan cinta. Jangan konyol.

Ia akan membungkusnya sebagai candaan.

Nothing to lose.

Kalau Damar menolak, Tika bisa pura-pura sedang menguji reaksi. Kalau Damar tertawa, ia ikut tertawa. Kalau, dengan probabilitas yang bahkan Tika tidak mau hitung, Damar bilang iya—

Ia tidak menyelesaikan pikiran itu.

Keesokan paginya Tika bangun lebih cepat dan mencari Damar sebelum challenge kelima dimulai.

Ia tidak ada di ruang makan. Tidak di area duduk utama. Tika berjalan ke koridor samping dan mendengar suara Anggi lebih dulu.

Ia hampir memanggil, lalu berhenti.

Damar dan Anggi berada di area yang masih terbuka, tetapi sudutnya membuat Tika tidak terlihat dari tempat mereka berdiri.

“Aku sebenarnya udah pengin ngomong dari kemarin,” suara Anggi terdengar.

Tika seharusnya pergi.

Ia tahu itu.

Namun kakinya diam.

Anggi melanjutkan. Suaranya lebih pelan sekarang, tetapi Tika menangkap cukup banyak untuk memahami.

Tentang perasaannya. Tentang beberapa hari mereka bersama. Tentang hasil analisis yang membuatnya semakin yakin mungkin mereka memang punya kesempatan.

Tika merasa perutnya jatuh.

Ia tidak menunggu jawaban Damar.

Mungkin karena takut.

Mungkin karena merasa tidak punya hak berada di sana.

Mungkin karena kalau mendengar Damar menerima, ia ingin punya beberapa menit untuk menyusun wajah sebelum bertemu siapa pun.

Tika mundur pelan, lalu berbalik.

Nothing to lose, pikirnya semalam.

Ternyata ada.

Ia baru sadar ketika kemungkinan kehilangannya berdiri beberapa meter di belakang.


 

BAB 9 — Jawaban

Damar

Setelah Anggi selesai bicara, Damar tidak langsung menjawab.

Bukan karena ia tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan. Justru karena ia mengerti terlalu jelas.

Anggi menyukainya. Sudah beberapa hari. Hasil kompatibilitas semalam membuat kemungkinan itu terlihat makin masuk akal. Mereka berada di peringkat tiga dengan delapan puluh dua persen—angka yang, kalau dibaca tanpa konteks lain, cukup tinggi untuk membuat siapa pun berhenti dan mempertimbangkan.

Damar mempertimbangkan.

Ia memikirkan percakapan-percakapan mereka. Anggi mudah diajak bicara, hangat, perhatian, dan tidak pernah membuatnya merasa harus menjadi orang lain. Ia bisa membayangkan kencan pertama dengan Anggi setelah acara. Bisa membayangkan percakapan panjang tanpa kesulitan.

Secara logika, pilihan itu tampak masuk akal.

Lalu Damar mencoba membayangkan dirinya berjalan keluar dari tempat ini bersama seseorang.

Orang yang muncul di kepalanya bukan Anggi.

Tika muncul sambil tertawa karena hal yang tidak penting. Tika yang memelintir angka 63 persen menjadi bahan lelucon. Tika yang selalu mengganggu penjelasannya tetapi justru mendengarkan sampai selesai ketika hal itu benar-benar penting.

Damar baru menyadari betapa sering pikirannya kembali pada perempuan itu setelah ia mencoba mengarahkannya ke orang lain.

Ia memandang Anggi.

“Anggi.”

Ekspresi Anggi tetap terbuka, tetapi Damar melihat ketegangan di bahunya.

“Aku senang kamu ngomong jujur.”

Anggi tersenyum kecil. “Kalimat pembuka yang enggak menjanjikan.”

Damar hampir tertawa, tetapi tidak jadi.

“Aku enggak mau bikin kamu nunggu jawaban yang sebenarnya sudah ada.”

Anggi mengangguk pelan.

Damar memilih kalimat yang tidak menyalahkan data dan tidak menyalahkan siapa pun.

“Aku nyaman sama kamu. Tapi perasaanku enggak sampai ke tempat yang sama.”

Anggi menunduk sebentar.

Damar ingin menambahkan banyak hal—bahwa Anggi tidak salah membaca kedekatan mereka, bahwa delapan puluh dua persen bukan kebohongan, bahwa semua kualitas yang ia sukai pada Anggi tetap nyata. Namun ia tahu kalimat-kalimat semacam itu sering hanya membuat penolakan lebih panjang.

Jadi ia diam.

Anggi menarik napas lalu menatapnya lagi.

“Oke.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf karena enggak suka.”

Nada suaranya ringan, tetapi matanya tidak.

Damar mengangguk.

Anggi pergi beberapa saat kemudian tanpa marah, tanpa membuat adegan, tanpa menuntut penjelasan lain.

Damar berdiri sendirian.

Yang aneh, rasa lega karena sudah jujur hanya bertahan sebentar.

Pikirannya langsung mencari Tika.

Ia teringat pagi-pagi terakhir, percakapan mereka, dan bagaimana Tika semalam seperti ingin mengatakan sesuatu lalu membatalkannya. Damar tidak tahu apakah itu berarti apa-apa. Ia juga tidak tahu apakah Tika melihat percakapannya dengan Anggi.

Ia keluar dari area itu dan memeriksa ruang bersama.

Tika tidak ada.

Dapur, tidak ada.

Area duduk, tidak ada.

Ia hampir tertawa pada dirinya sendiri. Beberapa hari lalu ia masih menganggap hasil kompatibilitas sebagai informasi paling menarik dalam permainan. Sekarang ia bahkan tidak memikirkan angka 63 atau 82.

Data memang bisa menunjukkan kemungkinan.

Yang tidak bisa dilakukan data adalah membuat seseorang ingin mencari satu orang tertentu ketika orang itu menghilang dari ruangan.


 

BAB 10 — Zona Bahaya

Anggi

Challenge kelima gagal.

Anggi tahu bagian dirinya ikut menyebabkan kegagalan itu.

Tugasnya sederhana: mengingat urutan instruksi yang dibacakan sekali, lalu menyampaikannya pada anggota tim berikut. Di ronde latihan ia tidak bermasalah. Saat waktu resmi dimulai, satu bagian pikirannya tetap berada di percakapan pagi tadi.

Ia melewatkan satu instruksi.

Kesalahan itu memaksa tim mengulang tahap, waktu habis, dan layar besar menampilkan pengurangan dana.

Seratus empat puluh lima juta menjadi seratus dua puluh lima juta.

Anggi berdiri bersama peserta lain dan berkata, “Maaf. Yang tadi salahku.”

Tidak ada yang menyerang.

Gilang langsung berkata, “Salah kita bareng. Kalau satu urutan bisa bikin satu tim ambruk, sistem kita memang rapuh.”

Tika tidak mengatakan apa-apa. Damar juga tidak.

Justru sikap baik semua orang membuat Anggi semakin malu.

Ia menghabiskan sisa hari dengan lebih banyak diam.

Biasanya Anggi akan ikut duduk di tengah keramaian, menyela percakapan, atau mengomentari apa pun yang terjadi. Hari itu ia memilih kegiatan yang memberinya alasan untuk sibuk: merapikan sesuatu, mengambil minum, masuk kamar lebih awal.

Ia tidak marah pada Damar.

Itu membuat semuanya lebih menyebalkan.

Kalau Damar bersikap buruk, mungkin Anggi bisa mengubah sedih menjadi kesal. Namun Damar menolaknya dengan cara yang bahkan sulit dicela. Tidak memberi harapan, tidak merendahkan, tidak menyalahkan situasi.

Malamnya Anggi memikirkan satu hal yang lebih memalukan daripada penolakan itu sendiri: selama beberapa hari ia sudah menyusun cerita di kepalanya.

Tentang kedekatan mereka. Tentang peringkat tiga. Tentang kemungkinan keluar bersama.

Ia tidak pernah mengatakan cerita itu pada siapa pun, tetapi tetap merasa seperti seseorang baru saja mengambil naskah dari tangannya dan memberitahu bahwa tokoh utama lelaki tidak pernah setuju ikut.

Evaluasi berikutnya datang sebelum Anggi sempat pulih.

Nama peserta muncul satu per satu di layar.

Gilang tetap tinggi. Ranti aman. Wulan dan Arif aman. Tika aman.

Lalu nama Anggi.

*59 — Zona Bahaya*

Ruangan terasa lebih sunyi daripada sebenarnya.

Game Master menjelaskan aturan yang sudah semua orang tahu. Anggi punya satu siklus terakhir untuk pulih. Karena evaluasi final tinggal beberapa hari, ia menjadi satu-satunya peserta yang masih berisiko tereliminasi karena skor.

Anggi mengangguk seperti informasi itu tidak mengejutkan.

Begitu kembali ke kamar, ia mengeluarkan tas.

Tidak ada alasan langsung berkemas, tetapi tangannya membutuhkan pekerjaan.

Ia baru memasukkan dua potong pakaian ketika ada ketukan.

Wulan berdiri di depan pintu.

“Boleh masuk?”

Anggi mundur memberi jalan.

Wulan melihat tas terbuka. “Kamu mau kabur lewat ventilasi?”

Anggi tertawa kecil. “Persiapan aja.”

“Belum selesai.”

“Kalau nanti selesai jelek, aku enggak mau panik.”

Wulan duduk di tepi kursi. “Boleh sedih. Tapi jangan bikin keputusan final dari nilai satu hari waktu kamu lagi kacau.”

Anggi menatap kaus yang ada di tangannya.

“Aku malu, Wul.”

“Karena masuk danger zone?”

Anggi menggeleng.

Wulan tidak mendesak.

Anggi akhirnya berkata, “Karena aku ngerasa kayak orang yang terlalu yakin.”

“Yakin soal Damar?”

Anggi menatapnya cepat.

Wulan mengangkat bahu. “Aku enggak tuli.”

Anggi menutup wajah sebentar. “Tuh, kan.”

“Terus kenapa kalau kamu salah?”

“Ya malu.”

“Kalau semua orang yang salah baca perasaan harus malu permanen, enggak ada yang berani kencan.”

Anggi menurunkan tangan.

Wulan melanjutkan, “Kamu bilang perasaanmu. Dia jawab. Selesai. Yang bikin kamu jelek bukan ditolak. Yang bikin jelek kalau habis ditolak kamu jadi nyusahin semua orang, dan menurutku kamu belum sampai situ.”

“Challenge tadi gagal.”

“Itu satu hari.”

Kalimat itu sederhana, tetapi Anggi membiarkannya tinggal.

Besoknya, dukungan datang dari arah yang tidak ia duga.

Gilang membuat seolah-olah nilai Anggi adalah masalah tim. Arif menawarkan latihan singkat untuk jenis tugas yang sering membuatnya panik. Bahkan Bram dan Ranti ikut berbicara dengannya sebelum last challenge.

Ranti berkata, “Kamu harus keluar dari zona bahaya.”

“Terima kasih.”

Bram menambahkan, “Secara moral.”

Ranti meliriknya. “Kenapa harus ditambah ‘secara moral’?”

Bram menjawab sangat tenang, “Karena secara finansial kalau satu orang tereliminasi, bagian akhir yang lain naik.”

Anggi menatap mereka.

Ranti memukul lengan Bram. “Makanya jangan dihitung sekarang.”

“Tapi sudah terhitung.”

Gilang yang kebetulan lewat menyela, “Demi Tuhan, pasangan finansial lagi berusaha memberi dukungan emosional tapi spreadsheet-nya bocor.”

Anggi tertawa. Benar-benar tertawa untuk pertama kalinya sejak kemarin.

Bram mengangkat tangan menyerah. “Pokoknya jangan tereliminasi.”

“Alasannya aku pilih yang moral aja,” kata Anggi.

Last challenge menjadi kesempatan terakhir menambah dana. Tidak ada janji mencapai dua ratus juta. Yang mereka butuhkan hanya menyelesaikan rangkaian tugas kelompok lebih baik daripada challenge sebelumnya.

Anggi masuk dengan ketakutan bahwa satu kesalahan akan membuktikan semua hal buruk yang ia pikirkan tentang dirinya.

Lalu ronde pertama berjalan baik.

Di ronde kedua ia salah satu petunjuk, tetapi kali ini tidak membeku. Ia memperbaiki, memberi tahu tim, dan lanjut.

Pada ronde terakhir, Anggi menjadi orang yang harus menggabungkan informasi dari tiga peserta. Tangan kirinya gemetar sedikit.

“Gi,” kata Gilang dari seberang, “fokus sini.”

Anggi menatap kartu di depannya.

Damar berada di sisi lain meja, tetapi untuk pertama kalinya selama beberapa hari Anggi tidak memikirkan apakah lelaki itu sedang melihatnya.

Ia hanya mengerjakan bagiannya.

Waktu berhenti.

Layar berubah.

*BERHASIL*

Dana bersama naik menjadi seratus enam puluh juta.

Ruangan pecah oleh sorak. Anggi ikut berteriak sampai suaranya serak.

Ia tidak tahu berapa nilai finalnya nanti. Tidak tahu apakah satu challenge cukup memperbaiki skor. Tidak tahu bagaimana cuplikan dirinya akan terlihat empat bulan lagi ketika acara tayang.

Namun saat semua orang saling menepuk bahu, Anggi sadar satu hal kecil yang terasa penting.

Ia datang ke tempat ini untuk dipilih seseorang.

Pada hari ketiga belas, untuk pertama kalinya ia tidak menganggap itu sebagai ukuran utama apakah dirinya berhasil.


 

BAB 11 — Nothing to Lose

Tika

Tika menghabiskan dua hari berpura-pura tidak menunggu penjelasan.

Damar sempat mencarinya setelah percakapan dengan Anggi, tetapi timing mereka terus buruk. Ada challenge, evaluasi, persiapan last challenge, lalu semua orang sibuk dengan kemungkinan Anggi tereliminasi.

Tika memilih tidak bertanya.

Kalau Damar menerima Anggi, cepat atau lambat akan terlihat. Kalau menolak, itu juga bukan otomatis berarti Damar memilih Tika.

Jadi Tika kembali pada keahlian terbaiknya: bercanda sampai sesuatu terasa tidak terlalu menakutkan.

Setelah last challenge berhasil dan suasana lebih ringan, ia duduk di ruang bersama bersama Damar. Peserta lain sudah berpencar. Untuk beberapa menit mereka bicara soal challenge, soal dana seratus enam puluh juta, dan soal kemungkinan Ranti menghitung pembagian sejak angka baru muncul.

Damar berkata, “Dia pasti sudah hitung.”

“Bram juga.”

“Mereka mungkin hitung pakai dua metode biar saling verifikasi.”

Tika tertawa. “Nah, kamu sudah mulai belajar jahat.”

Damar tersenyum.

Lalu obrolan berhenti.

Tika sadar sudah tidak punya banyak waktu. Kesempatan Sweet Exit hanya tersisa sampai evaluasi final. Ia sudah pernah berniat melakukan ini dan mundur karena melihat Anggi.

Nothing to lose.

Kalimat itu kembali, tetapi sekarang terdengar bodoh.

Tika menyandarkan punggung.

“Mar.”

“Hm?”

“Misalnya nih.”

Damar langsung menatapnya dengan ekspresi waspada. “Kenapa kalau kamu mulai pakai ‘misalnya’ biasanya ada jebakan?”

“Enggak ada. Ini hipotetis.”

“Oke.”

“Kalau ada dua orang yang kompatibilitasnya cuma enam puluh tiga persen…”

Damar menutup mata sesaat. “Kita masih bahas itu?”

“Dengar dulu.”

“Iya.”

“Terus dua orang itu—misalnya—sudah lumayan nyaman. Lumayan sering ngobrol. Lumayan tahan sama kebiasaan buruk masing-masing.”

Damar mengangguk perlahan.

Tika merasakan jantungnya mulai tidak kooperatif.

“Terus waktu acara tinggal dikit. Menurut kamu konyol enggak kalau salah satunya ngajak Sweet Exit cuma buat… ya, lihat nanti di luar gimana?”

Damar menjawab terlalu cepat.

“Enggak.”

Tika berkedip.

Damar juga seperti baru sadar kecepatannya sendiri.

Mereka diam.

Tika tertawa kecil karena tidak tahu harus melakukan apa lagi. “Wah. Cepat banget.”

“Aku sudah kepikiran.”

Tika berhenti tertawa.

“Kepikiran apa?”

Damar menatapnya, lalu berkata, “Kamu lihat Anggi ngomong sama aku waktu itu, ya?”

Tika merasa panas naik ke wajah. “Aku enggak sengaja.”

“Aku enggak bilang kamu sengaja.”

“Aku pergi sebelum…” Tika berhenti.

Damar menyelesaikan, “Sebelum dengar jawaban.”

Tika tidak menjawab.

Damar menatapnya cukup lama.

“Aku nolak.”

Tika mengangkat pandangan.

Bukan rasa senang yang datang pertama. Justru rasa bersalah kecil karena ada bagian dirinya yang lega atas kekecewaan Anggi.

Damar seperti membaca kekacauan itu, meski mungkin tidak tahu bentuknya.

“Bukan karena kamu,” katanya. “Maksudku, bukan karena aku sudah punya keputusan sama kamu waktu itu. Aku nolak karena memang perasaanku ke Anggi enggak sama.”

“Terus sekarang?”

Pertanyaan itu lolos sebelum Tika bisa membungkusnya dengan lelucon.

Damar diam sebentar.

“Sekarang aku tahu aku nyariin kamu setelah itu.”

Tika menatapnya.

“Cuma itu?”

“Aku belum selesai.”

“Lanjut.”

“Kalau ada pengumuman, aku cari reaksi kamu. Kalau ada hal aneh, aku kepikiran nanti kamu komentar apa. Dan waktu data bilang kita enggak terlalu cocok, aku lebih terganggu daripada seharusnya.”

Tika tidak bisa menahan senyum. “Enam puluh tiga itu masih lulus kalau KKM-nya enam puluh.”

Damar tertawa.

Ketegangan pecah sedikit.

Tika menunduk, lalu berkata pelan, “Aku kemarin mau ngajak kamu. Pagi itu.”

“Sweet Exit?”

“Iya.”

“Terus lihat Anggi.”

“Iya.”

“Kenapa enggak tunggu jawaban?”

Tika menatapnya tajam. “Karena aku punya harga diri.”

“Hubungannya?”

“Diam.”

Damar tertawa lagi.

Tika ikut tertawa, lalu keduanya kembali diam dengan cara yang tidak lagi canggung.

Ia memikirkan semua hal yang belum mereka tahu satu sama lain. Nama asli. Tempat tinggal. Rutinitas. Pekerjaan. Teman-teman. Kebiasaan buruk yang tidak sempat terlihat dalam dua minggu.

Sweet Exit bukan janji seumur hidup.

Itu cuma keputusan untuk memberi sesuatu kesempatan nyata.

Tika menarik napas.

“Jadi,” katanya, “kalau aku sekarang ngajak beneran, kamu mau?”

Damar tidak menjawab terlalu cepat kali ini.

Ia tersenyum lebih dulu.

“Mau.”

Tika mengangkat alis. “Yakin? Data kita jelek.”

“Data menemukan kemungkinan.”

“Wah, siap bikin kutipan.”

“Belum selesai.”

“Ya ampun.”

“Data enggak bisa memutuskan aku pengin kenal siapa setelah ini.”

Tika menatapnya beberapa detik, lalu memalingkan wajah agar Damar tidak terlalu puas melihat senyumnya.

“Gombal kamu ternyata bentuknya presentasi.”

“Efektif?”

“Enam puluh tiga persen.”

Pagi berikutnya mereka mengajukan Sweet Exit.

Pengumuman terasa lebih memalukan daripada yang Tika bayangkan karena semua orang langsung bersorak seperti sudah menunggu terlalu lama.

Gilang menepuk bahu Damar. “Akhirnya statistik kalah.”

Damar berkata, “Bukan kalah.”

Tika menarik lengan Damar. “Jangan jelasin. Ayo pergi sebelum dia mulai.”

Anggi berdiri sedikit jauh. Tika ragu mendekat, tetapi Anggi justru menghampiri lebih dulu.

“Selamat,” katanya.

Tidak ada senyum lebar, tetapi juga tidak ada kepahitan yang sengaja dipamerkan.

Tika mengangguk. “Makasih.”

Damar juga mengucapkan terima kasih.

Game Master mengumumkan bahwa kesempatan Sweet Exit akan berakhir pada evaluasi final sore nanti. Setelah itu peserta yang tersisa dan memenuhi syarat akan menerima bagian dana sama rata.

Tika mendengar informasi itu setengah hati.

Beberapa menit kemudian ia dan Damar berdiri di dekat pintu yang sama tempat Laras dan Reno keluar beberapa hari sebelumnya.

Damar menatapnya. “Nothing to lose?”

Tika mengingat kalimat yang dulu ia pakai untuk meyakinkan diri.

Ia menggeleng.

“Justru ada,” katanya. “Makanya aku ngajak.”

Mereka keluar bersama.


 

BAB 12 — Sedikit Saja

Arif

Arif tidak pernah berbohong ketika bilang ia ikut acara tanpa beban.

Dapat pasangan, syukur. Dapat uang, syukur. Pulang dengan pengalaman aneh yang nanti bisa ditertawakan, juga tidak masalah.

Yang baru ia sadari adalah: manusia bisa masuk tanpa ekspektasi dan tetap keluar membawa sesuatu yang tidak direncanakan.

Pada hari kesembilan, Wulan mengatakan hubungan mereka lebih cocok disebut persahabatan.

Saat itu Arif mengangguk karena sebagian besar dirinya memang setuju.

Mereka nyaman. Sangat nyaman. Tapi nyaman tidak otomatis romantis. Kalau semua hubungan yang mudah harus dijadikan pacaran, hidup akan penuh mantan yang seharusnya cukup jadi teman baik.

Jadi Arif menerima.

Setidaknya ia mengira sudah menerima.

Malam reveal menempatkan mereka di peringkat pertama dengan kompatibilitas 92 persen.

Semua orang heboh.

Ranti terlihat seperti seseorang baru saja menunjukkan tiket undian yang belum dicairkan.

“SEMBILAN PULUH DUA,” katanya.

Arif mengangkat tangan. “Saya juga bisa baca.”

Wulan tertawa.

Arif ikut tertawa.

Namun ketika malam selesai, ada bagian kecil dalam dirinya yang bertanya: kalau datanya setinggi itu, apa mereka terlalu cepat menutup kemungkinan?

Ia tidak mengatakannya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Ia dan Wulan tetap duduk bersama, tetap kompak, tetap menjadi bahan godaan orang lain. Dari luar, tidak ada yang berubah.

Di dalam diri Arif, sesuatu justru mulai terlihat setelah namanya diberi batas.

Mungkin ia memang punya rasa sedikit.

Bukan cinta besar. Bukan keinginan mendesak untuk membawa Wulan keluar saat itu juga. Lebih seperti bibit yang baru ia sadar ada setelah Wulan mengatakan jangan ditanam.

Dan karena Wulan sudah jelas, Arif tidak punya hak menyiramnya diam-diam sambil berharap perempuan itu berubah pikiran.

Ia mencoba bersikap sama seperti sebelumnya.

Kadang berhasil.

Kadang saat Wulan tertawa dekat sekali, ia bertanya bagaimana kalau mereka memberi waktu sedikit lebih lama.

Lalu ia mengingat percakapan mereka.

Wulan tidak bilang Arif kurang baik. Tidak bilang mereka tidak cocok. Justru sebaliknya: mereka cocok, tetapi Wulan tidak merasakan dorongan romantis.

Itu bukan masalah yang bisa diperbaiki dengan presentasi tambahan.

Setelah Tika dan Damar Sweet Exit, peserta tersisa tinggal enam orang: Anggi, Gilang, Wulan, Arif, Ranti, dan Bram.

Dana akhir seratus enam puluh juta menunggu evaluasi final. Secara hitungan kasar, kalau semuanya bertahan, masing-masing akan mendapat bagian yang cukup besar.

Arif seharusnya senang.

Namun pengumuman bahwa setelah pembagian hadiah para peserta tidak boleh saling mencari atau bertukar kontak sampai aturan pascaproduksi memperbolehkan membuatnya memikirkan Wulan lagi.

Acara ini akan selesai. Mereka akan pulang ke kehidupan masing-masing dengan nama yang bahkan mungkin bukan nama asli.

Kalau Wulan benar-benar hanya ingin berteman, persahabatan itu sendiri belum tentu bisa langsung diteruskan.

Menjelang evaluasi final, Arif mengajak Wulan bicara.

“Boleh aku tanya sekali lagi?”

Wulan menatapnya dan langsung tahu topiknya. “Boleh.”

“Jawabannya masih sama?”

Wulan diam sebentar.

“Iya.”

Arif mengangguk.

Tidak ada kejutan. Tetap terasa seperti menerima hasil ujian yang sebenarnya sudah ia lihat dari kunci jawaban.

Wulan melanjutkan, “Aku sayang sama hubungan kita di sini. Justru aku enggak mau bikin itu jadi sesuatu yang aku sendiri enggak yakin.”

Arif menatap tangannya.

“Kalau aku bilang aku mungkin ada sedikit rasa, itu bikin keadaan aneh enggak?”

Wulan tersenyum tipis, sedih tapi tidak panik. “Sedikit?”

“Sedikit.”

“Kayak berapa persen?”

Arif tertawa. “Jangan mulai.”

Wulan ikut tertawa kecil.

“Enggak bikin aneh,” katanya. “Asal kamu enggak berharap aku jawab beda karena kasihan.”

“Enggak.”

Dan Arif sungguh-sungguh.

Ia kecewa, tetapi bukan berarti Wulan salah.

“Kalau nanti kita boleh kontak setelah acara?” tanyanya.

Wulan mengangkat bahu. “Kalau aturan produksinya sudah mengizinkan dan hidup nyata enggak terlalu ribet, aku mau tetap kenal.”

“Sebagai teman.”

“Sebagai teman.”

Arif mengembuskan napas dan mengangguk.

Ada banyak cara untuk kehilangan sesuatu. Salah satunya adalah memaksakan bentuk yang tidak cocok sampai hal yang sudah ada ikut rusak.

Arif memilih tidak melakukan itu.

Ia datang dengan prinsip tidak ada ruginya ikut.

Ternyata ada sedikit yang bisa hilang.

Tetapi ada juga sesuatu yang tetap layak dibawa pulang, meski bentuknya bukan yang sempat ia bayangkan.


 

BAB 13 — Celah Sistem

Ranti

Ranti sudah menghitung bagian hadiah akhir setidaknya lima kali.

Bukan karena ia tidak percaya hitungan sebelumnya. Ia cuma ingin memastikan angka itu tetap nyata.

Seratus enam puluh juta dibagi enam orang berarti sekitar dua puluh enam juta lebih sedikit per orang, selama tidak ada perubahan jumlah peserta sebelum evaluasi final.

Bagi sebagian orang, uang itu mungkin bonus.

Bagi Ranti, itu napas.

Beberapa bulan sebelum ikut acara, keadaan keuangannya jatuh lebih cepat daripada yang ingin ia ceritakan kepada siapa pun. Tidak sampai membuatnya kehilangan tempat tinggal, tetapi cukup untuk mengubah cara ia melihat setiap pengeluaran. Ada tagihan yang tertunda. Ada rencana yang dibatalkan. Ada rasa malu setiap kali harus mengakui bahwa orang yang selama ini terlihat pandai mengatur justru sedang kesulitan mengatur hidup sendiri.

Itulah sebabnya sejak awal ia memandang dana bersama dengan serius.

Dan itulah sebabnya Bram menjadi masalah.

Awalnya Bram adalah partner kerja yang nyaman. Ia cepat menghitung, tidak baper ketika dikoreksi, dan bisa mengikuti rencana tanpa perlu diberi instruksi dua kali.

Mereka sama-sama menertawakan julukan Pasangan Finansial, lalu diam-diam hidup sesuai julukan itu.

Mereka mendorong Laras dan Reno. Mereka frustrasi melihat Wulan dan Arif tidak Sweet Exit. Mereka menghitung dampak jumlah peserta terhadap hadiah sambil pura-pura hanya peduli pada kebahagiaan orang lain.

Lalu, tanpa disadari Ranti, kerja sama itu menjadi tempat paling nyaman di seluruh acara.

Ia mulai mencari Bram saat mau membicarakan sesuatu. Mulai tahu kapan lelaki itu sedang benar-benar serius dan kapan hanya bersembunyi di balik nada datar. Mulai bisa membedakan senyum sopan Bram dengan senyum yang muncul khusus ketika Ranti mengatakan sesuatu yang tidak ia duga.

Menjelang evaluasi final, mereka duduk bersama tanpa agenda.

Itu sendiri sudah aneh.

Biasanya percakapan mereka punya tujuan: challenge, skor, dana, atau strategi.

“Kita hampir selesai,” kata Ranti.

Bram mengangguk. “Iya.”

“Kalau enam orang tetap bertahan, dua puluh enam koma enam sekian.”

“Dua puluh enam juta enam ratus enam puluh enam ribu lebih.”

Ranti menoleh. “Aku enggak minta angka lengkap.”

“Kamu memulai.”

Ranti tersenyum.

Mereka diam sebentar.

Bram berkata, “Kamu sebenarnya butuh uangnya buat apa?”

Pertanyaan itu sederhana. Ranti selama ini selalu menghindari jawaban rinci.

Namun acara hampir selesai. Mungkin karena itu ia lelah bersembunyi.

“Buat nutup lubang,” katanya.

Bram menatapnya, tidak menyela.

“Keuanganku lagi jelek. Ada beberapa keputusan yang salah. Bukan judi, bukan utang aneh-aneh. Cuma… jatuh aja. Dan aku butuh waktu buat berdiri lagi.”

Ranti menelan ludah.

“Kalau aku ambil Sweet Exit, hadiah pasangan memang ada nilainya, tapi bukan uang tunai sebanyak ini. Aku enggak bisa pura-pura itu enggak penting.”

Bram mengangguk pelan.

Ranti menatapnya. “Kamu sendiri? Dari awal kamu juga ngitung terus. Emang butuh uang?”

Bram hampir tertawa.

“Enggak.”

Jawaban itu membuat Ranti kesal lebih cepat daripada seharusnya.

“Terus selama ini?”

“Aku suka sistem yang bisa dihitung.”

“Bram.”

“Dan aku pakai uang sebagai alasan.”

Ranti terdiam.

Bram memandang ke depan, bukan kepadanya.

“Hidupku aman secara finansial,” katanya. “Terlalu aman, mungkin. Yang enggak aman bagian lain.”

“Bagian lain apa?”

Bram mengembuskan napas pendek. “Aku kesepian.”

Ranti tidak menyangka pengakuan itu akan terdengar begitu telanjang dari seseorang seperti Bram.

Bram melanjutkan sebelum ia sempat menjawab.

“Aku pikir ikut acara ini taruhan yang masuk akal. Kalau enggak dapat siapa-siapa, hidupku balik seperti biasa. Kalau dapat…”

Ia akhirnya menoleh pada Ranti.

Kalimatnya tidak selesai.

Tidak perlu.

Ranti merasakan sesuatu yang sudah lama ia tahan ikut bergerak ke permukaan.

“Kamu suka aku?” tanyanya, dan langsung merasa pertanyaan itu terlalu blak-blakan.

Bram menjawab tanpa drama. “Iya.”

Jantung Ranti berdetak keras.

Ia tertawa kecil karena gugup. “Kita parah banget, ya. Bisa ngomongin pembagian dua puluh enam juta dulu baru ini.”

“Urutannya konsisten.”

“Jangan bercanda.”

“Aku enggak bercanda.”

Ranti menatapnya.

“Aku juga suka kamu,” katanya.

Bram menutup mata sebentar, lalu tersenyum.

Untuk beberapa menit, semua perhitungan Ranti menjadi tidak penting.

Mereka bicara lebih jujur daripada sebelumnya. Tentang rasa yang tumbuh di balik strategi. Tentang kemungkinan kalau situasi berbeda. Tentang fakta yang paling menyakitkan: mereka saling memilih, tetapi kondisi mereka tidak sama.

Bram bisa meninggalkan hadiah tanpa merasa hidupnya terganggu.

Ranti tidak.

“Kalau aku ngajak Sweet Exit sekarang,” kata Bram, “kamu bakal nolak?”

Ranti menatapnya lama.

“Iya.”

Bram mengangguk.

“Bukan karena aku enggak mau kamu,” kata Ranti cepat.

“Aku tahu.”

“Aku beneran butuh uang ini.”

“Aku tahu.”

Jawaban tenang itu justru lebih menyakitkan.

Ranti memejamkan mata sesaat. “Benci banget aku sama timing.”

“Timing juga enggak punya preferensi.”

Ranti menatapnya tajam.

Bram tersenyum kecil. “Kebanyakan ngobrol sama Damar.”

Ranti tertawa sambil mengusap mata yang mulai panas.

Mereka tidak berpelukan lama. Tidak ada janji akan menunggu. Tidak ada kalimat besar tentang takdir.

Bram hanya berkata, “Aku ada urusan sebentar.”

Ranti tidak bertanya.

Beberapa waktu kemudian mereka bertemu lagi.

Bram membawa benda kecil berbentuk kotak tipis, tertutup rapat. Tidak ada tulisan di luar selain nama Ranti.

“Apa ini?”

“Jangan dibuka.”

Ranti mengerutkan dahi. “Sampai kapan?”

“Sampai acara benar-benar selesai. Kamu sudah keluar dari sini.”

“Bram.”

“Menurutku ini celah sistem.”

Ranti langsung teringat pertanyaan Bram pada hari pertama tentang benda tertutup dan informasi kontak.

“Isinya kontak kamu?” bisiknya.

Bram tidak menjawab langsung.

Ia hanya berkata, “Simpan. Jangan buka sekarang.”

“Ini boleh?”

“Menurut tafsirku, selama kamu belum bisa melihat informasinya saat acara berlangsung, aku belum benar-benar membagikan kontak.”

Ranti memandang kotak itu.

“Produksi bilang keputusan mereka final.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Bram menarik napas.

“Aku enggak minta kamu hubungi. Aku cuma mau kasih kemungkinan.”

Ada banyak alasan untuk menolak benda itu. Ranti tahu.

Namun beberapa jam lagi evaluasi final dimulai. Setelah itu mereka bisa saja tidak punya jalan untuk menemukan satu sama lain sampai produksi mengizinkan, entah kapan.

Ranti menerima kotak itu.

Bram menatap tangannya yang menggenggam benda tersebut.

“Selamat tinggal, Ranti.”

Nada suaranya terlalu final.

“Kamu ngomong kayak mau pergi sekarang.”

Bram tersenyum tipis. “Aku ke confession room.”

“Lama?”

“Enggak tahu.”

Ia pergi sebelum Ranti sempat memikirkan pertanyaan berikutnya.

Ranti menyimpan kotak itu di antara barang pribadinya.

Waktu berjalan.

Pengumuman untuk evaluasi final terdengar.

Semua peserta diminta berkumpul.

Bram tidak datang.

Ranti menunggu sampai detik terakhir, mengira pintu akan terbuka dan lelaki itu masuk dengan ekspresi tenang seperti biasa.

Tidak.

Layar menyala.

Nilai akhir muncul satu per satu.

Gilang tetap tinggi. Wulan dan Arif aman. Ranti aman. Anggi mendapat 83—cukup tinggi untuk membuat ruangan bersorak, terutama setelah dua hari terakhir.

Anggi menutup mulut dengan kedua tangan, lalu tertawa sambil menangis sedikit.

Ranti ikut tepuk tangan, tetapi matanya tetap mencari pintu.

Nama Bram belum muncul.

Lalu layar berubah.

Suara Game Master menjadi lebih formal.

“Peserta, sebelum pembagian hadiah akhir, produksi perlu menyampaikan keputusan terkait pelanggaran aturan.”

Perut Ranti langsung mengeras.

“Berdasarkan pengakuan peserta dan pemeriksaan internal, Bram telah menyerahkan media yang memuat informasi kontak kepada peserta lain selama masa permainan. Instruksi agar media baru dibuka setelah acara tidak mengubah waktu penyerahan informasi tersebut. Produksi menilai tindakan itu sebagai pembagian kontak selama acara.”

Ranti tidak mendengar napasnya sendiri.

“Karena pelanggaran dikategorikan berat dan disengaja, Bram dieliminasi dari permainan dan tidak berhak menerima bagian dana akhir.”

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada suara orang berteriak.

Hanya enam orang yang diam, lalu lima orang yang pelan-pelan mengerti bahwa Bram tidak akan kembali.

Beberapa menit kemudian dua kru mendekati Ranti dengan sopan.

“Kami perlu mengambil benda yang diberikan Bram.”

Ranti memegang tasnya.

“Kalau aku belum buka?”

“Benda tersebut tetap menjadi barang bukti untuk proses kepatuhan. Setelah proses pascaproduksi selesai, status pengembaliannya akan diinformasikan.”

“Bram tahu kalian ambil?”

Salah satu kru menggeleng. “Bram sudah meninggalkan area permainan. Dia mengakui penyerahan benda itu, tetapi tidak mengetahui proses setelahnya.”

Ranti menelan ludah.

Ia mengeluarkan kotak tipis itu.

Untuk satu detik, tangannya ingin merobek penutupnya. Cukup satu gerakan. Cukup lihat apa yang tertulis sebelum diserahkan.

Namun itu hanya akan menambah pelanggaran baru.

Ranti melepaskannya.

Kotak itu berpindah ke tangan kru.

Ia tidak pernah melihat isinya.

Bram keluar dengan keyakinan bahwa ia sudah meninggalkan kemungkinan untuk dihubungi.

Ranti berdiri di sana mengetahui kemungkinan itu baru saja dibawa pergi.

Dan orang yang menunggunya tidak tahu bahwa ia tak pernah menerimanya.


 

EPILOG — Empat Bulan Kemudian

Acara itu selesai dengan lima peserta menerima bagian dana akhir.

Anggi pulang dengan uang, skor final yang tidak pernah ia bayangkan akan membuatnya bangga, dan satu cerita yang awalnya terasa memalukan tetapi perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa ia tertawakan. Ketika episode penolakannya tayang empat bulan kemudian, komentar orang asing datang dalam jumlah yang terlalu banyak. Sebagian membuatnya ingin menutup aplikasi. Sebagian lain justru berasal dari orang-orang yang pernah berada di posisi sama.

Ia berhenti membaca semuanya pada hari ketiga.

Gilang pulang sebagai salah satu peserta dengan skor tertinggi tanpa Sweet Exit. Teman-temannya—setelah akhirnya tahu ia ikut acara apa—tidak membiarkan peringkat kompatibilitasnya dengan Tika dilupakan. Gilang menanggapinya dengan membuat lelucon yang lebih buruk daripada komentar publik, lalu lanjut hidup seperti biasa.

Laras dan Reno menghadapi bagian yang jauh lebih sulit setelah keluar: kenyataan.

Mereka akhirnya tahu nama asli, pekerjaan, kebiasaan, keluarga, dan jarak tempuh yang tidak pernah masuk dalam analisis produksi. Mereka sempat berdebat soal hal-hal yang sama sekali tidak romantis. Waktu. Jadwal. Cara mengatur uang. Pertanyaan keluarga besar yang datang terlalu cepat.

Tetapi empat bulan kemudian, ketika episode Sweet Exit mereka tayang, mereka menontonnya di dua tempat berbeda sambil tetap saling mengirim pesan.

Hubungan itu tidak menjadi sempurna hanya karena mereka memilih sebelum data keluar.

Mereka hanya masih memilih untuk melanjutkan.

Damar dan Tika juga menemukan bahwa kompatibilitas 63 persen ternyata tidak punya kekuatan magis untuk menentukan siapa yang paling sering memulai percakapan atau siapa yang lebih dulu minta maaf setelah salah paham.

Tika menyimpan tangkapan layar peringkat mereka dan menjadikannya bahan ejekan setiap kali Damar terlalu yakin pada satu angka.

Damar tetap menyukai data.

Ia hanya berhenti menggunakannya sebagai alasan untuk menunda hal yang sudah ia tahu.

Wulan dan Arif tidak berubah menjadi pasangan setelah acara. Ketika akhirnya produksi mengizinkan peserta tertentu saling berhubungan, mereka bertukar pesan seperti dua orang yang memang pernah tinggal bersama dalam situasi aneh dan keluar dengan rasa sayang yang bentuknya tidak perlu diperbaiki.

Arif sempat membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar nyaman dengan itu.

Wulan memberinya waktu.

Ranti menggunakan uang bagiannya untuk hal-hal yang tidak pernah masuk cuplikan acara: melunasi kewajiban, menutup beberapa lubang, mengembalikan sedikit rasa tenang pada rekening yang berbulan-bulan membuatnya takut membuka aplikasi.

Bram tidak menerima apa pun dari dana akhir.

Setelah keluar dari produksi, ia kembali ke hidup yang sama seperti sebelum datang. Stabil. Teratur. Sepi.

Ia tidak punya kontak Ranti.

Ia juga tidak mencoba melanggar aturan lebih jauh dengan mencari berdasarkan petunjuk yang mungkin ia ingat. Sejak awal ia tidak pernah meminta Ranti menghubunginya. Ia hanya meninggalkan kemungkinan.

Minggu pertama berlalu tanpa telepon.

Lalu minggu kedua.

Bram mulai menganggap Ranti memilih tidak menghubungi.

Itu menyakitkan, tetapi masuk akal. Ranti mungkin berubah pikiran. Mungkin setelah acara selesai ia melihat hubungan mereka sebagai sesuatu yang hanya bekerja di dalam lingkungan tertutup. Mungkin ia tidak ingin membuka masalah baru setelah baru saja menata hidup.

Bram tidak marah.

Ia hanya berhenti menunggu dengan sengaja.

Empat bulan setelah syuting, acara mulai tayang.

Episode demi episode mengubah peserta menjadi bahan percakapan publik. Potongan humor Gilang menyebar. Peringkat kompatibilitas Wulan dan Arif diperdebatkan orang asing. Penolakan Anggi pada akhirnya justru membuat banyak penonton menyukainya. Tika dan Damar punya penggemar yang menganggap angka 63 persen sebagai lelucon bersama.

Bram menonton seperlunya.

Ia tidak menyukai melihat dirinya sendiri di layar.

Tetapi ia tetap mengikuti sampai episode terakhir.

Malam itu apartemennya sunyi. Bram duduk sendiri, televisi menyala, ponselnya tergeletak di meja.

Adegan evaluasi final mulai diputar.

Ia melihat dirinya masuk confession room. Produksi tidak menampilkan seluruh pengakuan, hanya bagian penting: Bram menjelaskan bahwa ia menyerahkan kotak tertutup yang berisi informasi untuk menghubunginya, dan bahwa menurut tafsirnya larangan belum dilanggar selama Ranti tidak membuka kotak tersebut sampai acara selesai.

Lalu tayangan berpindah ke ruangan utama.

Bram melihat Ranti duduk menunggu.

Ia melihat pengumuman eliminasi.

Ia melihat kru mendatangi Ranti.

Dan untuk pertama kalinya, Bram melihat kotak itu diambil dari tangan perempuan tersebut.

Bram menegakkan badan.

Ia memutar ulang beberapa detik.

Ranti bertanya sesuatu kepada kru. Teks terjemahan percakapan muncul di bawah layar.

*Bram tahu barangnya disita?*

Jawaban kru: *Tidak. Bram sudah keluar.*

Bram berhenti bernapas sesaat.

Empat bulan.

Selama empat bulan ia mengira Ranti membuka kotak itu dan memilih tidak menelepon.

Ternyata Ranti tidak pernah mendapat kesempatan.

Episode berakhir tidak lama kemudian. Media sosial langsung ramai. Ponsel Bram mulai memunculkan notifikasi dari teman-teman yang baru menonton, sebagian besar berisi variasi kalimat yang sama: Gila, ternyata begitu.

Bram tidak membalas.

Ia menatap layar televisi yang sudah masuk kredit akhir.

Ponselnya berdering.

Nomor tidak dikenal.

Bram melihatnya beberapa detik.

Lalu mengangkat.

“Halo?”

Ada jeda pendek.

“Bram?”

Ia mengenali suara itu sebelum pikirannya sempat memastikan.

Ranti.

Bram berdiri tanpa sadar.

“Iya.”

“Aku baru dapat barang yang waktu itu disita.”

Bram memejamkan mata.

Ranti melanjutkan, “Produksi baru balikin setelah proses pascaproduksi selesai dan episode terakhir tayang. Aku baru buka.”

Empat bulan salah paham runtuh dalam satu kalimat.

Bram tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan rasa lega yang datang terlambat.

“Jadi kamu enggak pernah dapat?”

“Enggak.”

“Dan aku pikir…”

“Aku tahu kamu pasti mikir aku enggak mau hubungi.”

Bram diam.

Ranti juga.

Di luar percakapan mereka, internet sibuk memutuskan siapa yang paling cocok dengan siapa, siapa yang seharusnya memilih apa, dan apakah analisis produksi terbukti benar.

Bram tidak membaca satu pun.

“Apa kabar?” tanyanya akhirnya.

Ranti tertawa pelan di seberang.

“Panjang.”

“Waktuku ada.”

Telepon itu berlanjut.

Tidak ada kamera. Tidak ada skor. Tidak ada dana bersama yang harus dihitung. Tidak ada aturan yang bisa dibaca untuk menemukan jawaban.

Hanya dua orang yang akhirnya mendapat kesempatan bicara setelah kemungkinan mereka sempat tertahan empat bulan.

Apa yang terjadi setelahnya belum ditentukan oleh siapa pun.

Dan untuk sekali ini, Bram merasa itu cukup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar