Rekam Ulang - Bukan Lagi Penonton
---
----
----
-----
----
-----
Tiga tahun berlalu jauh lebih cepat daripada yang Arvin bayangkan.
Jika seseorang bertanya kepada Arvin apa yang paling berubah dalam tiga tahun itu, jawabannya bukan rambutnya, bukan nilai rapornya, bukan jumlah teman di kontak ponselnya, bahkan bukan fakta bahwa ia akhirnya berhasil mengajak Rara nonton bioskop berdua setelah tujuh belas kali menyangkal bahwa itu adalah kencan.
Yang paling berubah adalah satu hal sederhana.
Arvin tidak lagi takut hadir.
Ia hadir saat Ibu kontrol ke rumah sakit setiap bulan.
Ia hadir saat Rara gagal masuk semifinal olimpiade dan menangis diam-diam di halte.
Ia hadir saat Kak Bima lulus dan meninggalkan gudang perlengkapan dengan pesan terakhir, "Jangan jadi manusia lembek, Cil."
Ia hadir saat Dimas patah tangan di pertandingan basket dan membutuhkan seseorang untuk mengantarnya ke UKS.
Ia hadir di panggung Pensi meski hanya bertugas menarik kabel di belakang tirai.
Ia hadir ketika teman-temannya tertawa.
Ia hadir ketika mereka bertengkar.
Ia hadir ketika dirinya sendiri takut.
Dan yang paling penting, ia tidak lagi menunggu kalimat sempurna sebelum membuka mulut.
Kadang-kadang kata-katanya masih bodoh.
Kadang-kadang leluconnya garing.
Kadang-kadang Rara menatapnya seperti ingin melemparkannya ke sungai.
Tapi Arvin akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah ia pahami selama dua puluh enam tahun hidupnya.
Manusia tidak membutuhkan dialog sempurna.
Mereka hanya membutuhkan keberanian untuk mengatakan sesuatu sebelum kesempatan itu hilang.
Hari kelulusan tiba.
Juni 2016.
Halaman SMA Negeri 3 dipenuhi seragam putih abu-abu yang penuh coretan spidol. Ada suara tawa, tangisan, teriakan, kamera ponsel, dan janji-janji remaja yang sebagian besar mungkin tidak akan pernah ditepati.
Arvin berdiri di bawah pohon mangga dekat lapangan basket sambil memegang dua gelas es teh.
Rambutnya kini pendek dan rapi. Tubuhnya sedikit lebih berisi dibanding tiga tahun lalu. Cara berdirinya pun berubah. Bahunya tidak lagi melengkung ke dalam seperti seseorang yang mencoba meminta maaf karena keberadaannya.
Di sampingnya, Rara sedang memeriksa hasil coretan di punggung seragam Arvin.
"Kamu sadar nggak sih semua orang nulis pesan normal?"
Rara menunjuk tulisan besar milik Dimas.
JANGAN LUPA ASURANSI GUE NANTI.
Di bawahnya ada tulisan Kak Bima yang datang khusus menghadiri kelulusan mereka.
JANGAN JADI BENALU MASYARAKAT.
Dan tepat di dekat kerah, tulisan tangan Rara berbunyi:
JANGAN BALIK JADI NPC.
Arvin tersenyum.
"Bagus. Berarti personal branding gue berhasil."
Rara memutar bola mata.
"Arvin."
"Hm?"
"Setelah ini kamu beneran jadi berangkat kuliah ke Bandung?"
Arvin mengangguk.
"Kalau keterima daftar ulang."
Rara memandang gelas es teh di tangannya.
"Aku di Jogja."
"Iya."
"Jauh."
"Lumayan."
Hening beberapa detik.
Tiga tahun lalu, Arvin pasti akan mencari topik lain.
Cuaca.
Ujian.
Harga batagor.
Apa pun yang bisa menyelamatkannya dari pembicaraan berbahaya.
Sekarang ia hanya menarik napas.
"Ra."
Rara menoleh.
"Gue bakal kangen."
Mata Rara membesar sedikit.
Arvin tersenyum.
"Nah. Gue udah bilang. Nggak mati, kan?"
Rara tertawa kecil.
"Belum."
Ia mengangkat dagunya sedikit.
"Aku juga bakal kangen."
Tidak ada petir.
Tidak ada musik orkestra.
Tidak ada siswa lain yang tiba-tiba melempar bunga.
Hanya dua remaja yang berdiri di bawah pohon mangga, mengatakan sesuatu yang seharusnya memang dikatakan.
Dan bagi Arvin, itu lebih dari cukup.
Malamnya, rumah bercat hijau telur asin dipenuhi aroma sup ayam.
Ibu sedang sibuk membungkus makanan untuk tetangga.
Kondisi jantungnya jauh lebih stabil.
Ia rutin minum obat.
Rutin kontrol.
Bahkan kini ia memiliki kebiasaan berjalan kaki tiga puluh menit setiap pagi bersama kelompok ibu-ibu kompleks yang lebih banyak bergosip daripada olahraga.
Arvin duduk di meja makan, memperhatikan Ibunya dari belakang.
Ada lebih banyak uban di rambut wanita itu.
Ada garis-garis halus di wajahnya.
Tapi ia hidup.
Ia benar-benar hidup.
"Kenapa lihat-lihat Ibu terus?" tegur Ibu tanpa menoleh. "Mau minta uang?"
"Nggak."
"Mau minta motor?"
"Nggak."
"Mau bilang Rara hamil?"
Arvin tersedak air.
"BU!"
Ibu tertawa terbahak-bahak.
"Bercanda!"
"Humor Ibu makin mengerikan sejak sehat."
Ibu duduk di seberangnya.
"Terus kenapa?"
Arvin diam.
Tiga tahun lalu, setiap melihat wajah itu, ada rasa takut yang luar biasa.
Takut waktu akan mengambilnya lagi.
Takut perubahan ini hanya sementara.
Takut suatu pagi ia akan bangun dan mendapati semuanya kembali seperti semula.
Namun rasa takut itu perlahan hilang.
Digantikan rasa syukur.
Arvin mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Ibunya.
"Terima kasih ya, Bu."
Ibu mengerutkan dahi.
"Terima kasih apaan?"
"Semua."
Ibu mencibir kecil.
"Anak aneh."
Arvin tertawa.
"Iya."
Lalu ia mengucapkan kalimat yang kini tidak lagi terasa sulit.
"Arvin sayang Ibu."
Ibu terdiam.
Meski sudah mendengarnya berkali-kali selama tiga tahun terakhir, kalimat itu masih selalu membuat wanita tersebut salah tingkah.
"Iya, iya."
Ibu menepuk tangan Arvin.
"Ibu juga sayang kamu."
Dan untuk sesaat, dunia terasa sempurna.
Sampai suara itu muncul.
TING.
Arvin membeku.
Sudah hampir satu tahun Sistem Rekam Masa tidak memberinya misi.
Tidak ada teks hijau.
Tidak ada ancaman kebotakan.
Tidak ada sengatan raket nyamuk.
Namun suara itu tidak mungkin salah.
Arvin berdiri perlahan.
"Ibu..."
"Hm?"
"Aku ke kamar sebentar."
Log Sistem Rekam Masa tergeletak di atas kasurnya.
Buku itu sudah lama tidak dibuka.
Sampul kulit hitamnya kini penuh goresan, sudut-sudutnya menumpul, tetapi huruf perak di permukaannya masih terbaca.
LOG SISTEM REKAM MASA
HOST: ARVIN
Arvin membuka halaman terakhir.
Tinta muncul perlahan.
MISI UTAMA SELESAI.
Status Entitas:
Ibu Rina — HIDUP.
Rara — STABIL.
Hubungan Sosial — TIDAK MEMALUKAN.
Host — Lumayan layak disebut manusia.
Arvin tersenyum.
"Terima kasih atas pujiannya."
Tulisan berikutnya muncul.
MASA PEMINJAMAN TELAH BERAKHIR.
Senyum Arvin lenyap.
"Apa?"
Huruf-huruf terus muncul.
Kesadaran Host akan dikembalikan ke titik asal dalam 60 detik.
Arvin menatap halaman itu tanpa berkedip.
Darahnya terasa dingin.
"Enggak."
Ia membalik halaman.
Kosong.
"Enggak, enggak, enggak."
Ia kembali ke halaman terakhir.
"Tunggu!"
Arvin berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.
"Ibu!"
Ia berlari keluar kamar.
"Ibu!"
Wanita itu muncul dari dapur.
"Ada apa lagi?!"
Arvin menghantam tubuh Ibunya dengan pelukan.
"Eh! Vin!"
Arvin memeluknya sekuat tenaga.
"Tolong..."
Air matanya langsung jatuh.
"Tolong jangan hilang."
Ibu panik.
"Kamu kenapa lagi sih?!"
Arvin tidak menjawab.
Ia menatap wajah Ibunya.
Menghafalnya.
Setiap kerutan.
Setiap helai uban.
Setiap detail kecil yang selama sepuluh tahun pertama hidupnya tidak pernah ia perhatikan.
"Ibu."
"Ya?"
"Arvin sayang Ibu."
Wajah Ibu melembut.
"Ibu juga sayang kamu."
Arvin berlari keluar rumah.
"RARA!"
Ia mengambil ponselnya.
Tangannya gemetar hebat saat menekan nomor.
Sambungan masuk.
"Vin?"
Suara Rara.
"Ra."
"Kenapa? Suaramu kok—"
"Gue cuma mau bilang..."
Arvin terisak.
"Makasih."
"Hah?"
"Makasih udah jadi temen gue."
"Arvin, kamu kenapa?"
"Makasih udah sering marahin gue."
"Vin—"
"Dan..."
Arvin tertawa di sela tangis.
"Gue suka sama lo."
Hening.
Dari ujung telepon terdengar suara Rara yang gemetar.
"Kamu baru berani bilang sekarang, goblok?"
Arvin tertawa.
"Iya."
"Aku juga suka sama kamu."
Arvin menutup mata.
Ia menatap Ibunya yang berdiri di ambang pintu.
"Bu."
Ibu tersenyum.
"Jangan takut."
Arvin menangis.
Gelap.
BRAAAK!
Arvin terbangun dengan kepala menghantam meja.
"Aduh!"
Napasnya memburu.
Tangannya langsung meraba-raba tubuhnya.
Bukan seragam SMA.
Kaos hitam lusuh.
Celana pendek.
Tangannya kembali besar.
Kasar.
Berusia dua puluh enam tahun.
Arvin perlahan mengangkat kepala.
Ruangan kos sempit.
Bau obat nyamuk.
Mangkuk mi instan rasa soto.
Laptop menyala.
Jam digital di layar menunjukkan:
23.48
11 Maret 2023
Arvin tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Tidak berkedip.
Di meja masih ada bingkai kayu kecil.
Foto Ibu.
Foto yang sama.
Arvin meraihnya dengan tangan gemetar.
"Ibu?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka ponsel.
Galeri.
Foto.
Percakapan.
Kontak.
Tidak ada Rara.
Tidak ada Kak Bima.
Tidak ada tiga tahun kehidupan baru itu.
Arvin membuka media sosial.
Mencari nama Rara.
Profilnya masih sama seperti yang ia ingat sebelum perjalanan itu.
Mereka tidak saling mengikuti.
Tidak pernah berteman dekat.
Tidak pernah makan batagor bersama.
Tidak pernah ke tukang cukur bersama.
Tidak pernah berpelukan di ruang OSIS.
Arvin mencari Dimas.
Sama.
Kak Bima.
Sama.
Sekolah.
Sama.
Tidak ada yang berubah.
Arvin menatap kalender.
Lalu foto Ibunya.
Tanggal kematian di belakang bingkai tetap sama.
25 September 2013.
Enam bulan setelah hari yang tadi baru saja ia jalani selama tiga tahun.
Arvin merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.
Ia merosot ke lantai.
"Enggak..."
Suara itu keluar kecil.
"Enggak..."
Ia memukul lantai.
"ENGGAK!"
Air mata tumpah.
"Katanya gue berhasil!"
Ia meraih laptop.
"Katanya gue nyelametin Ibu!"
Tidak ada rekammasa.ai.
Tidak ada email.
Tidak ada tombol Rekam Ulang.
Arvin membuka folder Spam.
Kosong.
Ia mencari browser history.
Tidak ada.
Seolah semua itu tidak pernah terjadi.
Kemudian ia melihat sesuatu di atas kasur.
Buku kulit imitasi.
Arsip Tragedi Verbal Arvin Volume 14.
Dengan tangan gemetar, Arvin membukanya.
Semua tulisan lamanya masih ada.
Dialog kasir.
Dialog tetangga.
Dialog teman kantor.
Semua kegagalan kecilnya.
Namun di halaman terakhir terdapat tulisan yang bukan miliknya.
Tinta hitam.
Selamat datang kembali, Penonton.
Arvin menahan napas.
Tulisan baru muncul.
Klarifikasi teknis yang mungkin seharusnya kami jelaskan sejak awal:
Perjalanan waktu tidak mengubah timeline asal.
Prinsip konservasi kausalitas melarang rekaman lama ditimpa.
Sistem hanya membuat cabang baru.
Arvin membaca kalimat itu berulang kali.
Cabang baru.
Tulisan berlanjut.
Di suatu garis waktu lain:
Ibu Rina masih hidup.
Rara tidak kehilangan masa depannya.
Seorang Arvin berusia sembilan belas tahun sedang mempersiapkan kuliah sambil terlalu sering menelepon pacarnya di Jogja.
Dan ia tidak tahu bahwa semua itu terjadi karena seorang pria dua puluh enam tahun dari garis waktu lain pernah meminjam tubuhnya selama tiga tahun.
Air mata Arvin kembali mengalir.
"Jadi..."
Bibirnya bergetar.
"Gue cuma nyelametin Arvin yang lain?"
Jawaban muncul.
Benar.
Arvin tertawa getir.
"Brengsek."
Tulisan muncul lagi.
Bahasa kasar terdeteksi.
"Brengsek."
Sistem tidak menanggapi.
Arvin menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Semua rasa kehilangan yang sempat hilang selama tiga tahun menghantamnya sekaligus.
Ibu tetap meninggal.
Ia tetap sendirian.
Tidak ada Rara.
Tidak ada rumah hijau dengan sup ayam.
Tidak ada kehidupan kedua.
Tidak ada akhir bahagia untuk dirinya.
"Terus buat apa?"
Arvin menatap buku itu dengan marah.
"BUAT APA KALIAN KIRIM GUE KE SANA?!"
Tinta bergerak perlahan.
Pertanyaan awal Anda:
"Kalau saja aku bisa ulang semuanya."
Kami tidak pernah menjanjikan Anda bisa menghapus semuanya.
Kami hanya memberi Anda kesempatan melihat apa yang akan terjadi jika, sekali saja, Anda berhenti menjadi penonton.
Arvin terdiam.
Tulisan terus muncul.
Anda menyelamatkan Ibu Rina di garis waktu lain.
Anda menyelamatkan Rara.
Anda mengubah hidup Arvin yang lain.
Tapi itu bukan tujuan sebenarnya.
Arvin menatap halaman itu.
Kalimat terakhir muncul.
Tujuan sebenarnya adalah membuktikan bahwa orang yang Anda anggap tidak bisa berubah...
bisa.
Arvin menutup mulutnya.
Dadanya terasa sesak.
Sistem melanjutkan.
Anda selalu berkata:
"Kalau Ibu masih hidup, saya pasti berbeda."
Sekarang Anda tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Keberanian itu datang dari Anda.
Kebaikan itu datang dari Anda.
Kemampuan berbicara itu datang dari Anda.
Keputusan untuk hadir itu datang dari Anda.
Ibu Anda memberi Anda alasan.
Tetapi Anda sendiri yang berjalan.
Air mata menetes ke halaman buku.
Arvin menatap pantulan dirinya di layar laptop.
Rambut berantakan.
Kantung mata.
Bahunya membungkuk.
Masih sama.
Tapi ia tidak merasa sedang melihat orang yang sama.
Tulisan terakhir muncul.
Timeline ini tidak bisa direkam ulang.
Tapi bagian selanjutnya belum direkam.
Jangan sia-siakan.
Selamat tinggal, Arvin.
Dan satu hal lagi:
Besok kembalikan uang dua ribu milik kasir minimarket.
Itu bukan tip.
Tulisan menghilang.
Semua halaman buku kembali menjadi kosong.
Arvin menatapnya lama.
Lalu ia tertawa.
Kecil.
Serak.
Tetapi sungguhan.
Keesokan paginya, Arvin berdiri di depan minimarket.
Pintu kaca yang kemarin ia tabrak masih memiliki bekas telapak dahinya.
Ia menarik napas.
Masuk.
TING TONG.
Kasir yang sama berdiri di belakang meja.
Perempuan itu langsung mengenalinya.
"Oh, Mas yang kemarin—"
"Yang nabrak pintu."
Kasir itu menahan tawa.
"Iya."
Arvin berjalan mendekati meja.
Jantungnya berdebar.
Telapak tangannya berkeringat.
Tidak ada Sistem Rekam Masa.
Tidak ada sengatan listrik.
Tidak ada ancaman kebotakan.
Tidak ada yang memaksanya bicara.
Ia bisa pergi.
Ia bisa menunduk.
Ia bisa kembali menjadi NPC.
Arvin mengambil uang dua ribu rupiah dari sakunya.
"Kemarin kembalian saya ketinggalan."
Kasir tertawa.
"Kirain sengaja dikasih tips."
Arvin ikut tertawa.
"Dua ribu terlalu murah buat tips habis bikin Mbaknya hampir manggil tukang kaca."
Kasir itu terkekeh.
Arvin merasa gugup.
Sangat gugup.
Namun kali ini ia tidak mencari dialog brilian.
Ia tidak mencari kalimat menohok.
Ia hanya bicara.
"Oh iya..."
"Hm?"
"Nama Mbak siapa?"
Kasir itu sedikit terkejut.
"Sinta."
Arvin mengangguk.
"Saya Arvin."
"Saya tahu. Namanya ada di kartu debit kemarin."
Arvin memejamkan mata sebentar.
"Oke. Pembukaan saya gagal total."
Sinta tertawa.
Aneh.
Dunia tidak runtuh.
Tidak ada yang mengejek.
Tidak ada sirene.
Tidak ada bencana nasional.
Arvin tersenyum.
"Ya udah. Sampai ketemu lagi, Mbak Sinta."
"Sampai ketemu, Mas Arvin."
Arvin berjalan keluar.
Untuk pertama kalinya, ia melewati pintu kaca tanpa menabraknya.
Sore harinya, Arvin pergi ke pemakaman.
Ia membawa bunga sederhana.
Tidak ada hujan.
Tidak ada musik sedih.
Hanya suara burung dan angin yang menggerakkan rumput.
Arvin duduk di depan makam Ibunya.
Lama.
"Bu."
Ia tersenyum kecil.
"Arvin kemarin mimpi panjang banget."
Arvin menceritakan semuanya.
Tentang rumah sakit.
Tentang obat.
Tentang sup hambar.
Tentang Rara.
Tentang batagor.
Tentang rambutnya yang pernah masuk bumbu kacang.
Tentang Kak Bima.
Tentang kelulusan.
Tentang tiga tahun yang tidak pernah terjadi di dunia ini.
Arvin tertawa dan menangis bergantian.
"Di sana Ibu sehat."
Ia mengusap batu nisan.
"Ibu cerewet banget."
Angin berembus.
"Dan Arvin seneng."
Ia menunduk.
"Dulu Arvin selalu mikir hidup Arvin berhenti waktu Ibu pergi."
Air matanya jatuh.
"Tapi mungkin..."
Ia menarik napas panjang.
"Mungkin itu bukan yang Ibu mau."
Tidak ada suara menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, Arvin tidak membutuhkan jawaban.
"Arvin sayang Ibu."
Kalimat itu keluar dengan mudah.
Tidak ada rasa malu.
Tidak ada penyesalan.
Hanya kasih sayang.
"Terima kasih."
Arvin berdiri.
Membersihkan celananya.
Lalu menatap makam itu untuk terakhir kali.
"Arvin pulang dulu."
Ia tersenyum.
"Besok harus kerja."
Beberapa bulan kemudian.
Arsip Tragedi Verbal Arvin Volume 14 sudah tidak berada di bawah kasur.
Buku itu kini berdiri di rak.
Di sebelahnya ada sebuah buku baru.
Sampulnya masih kulit imitasi.
Namun judulnya berbeda.
ARSIP KEJADIAN YANG BENAR-BENAR GUE LAKUKAN
VOLUME 1
Halaman pertamanya berisi:
12 Maret.
Mengembalikan uang dua ribu ke kasir.
Berhasil ngobrol normal selama dua menit.
Tidak terdengar seperti lumba-lumba tersedak.
Progress.
Halaman kedua:
15 Maret.
Makan siang bareng teman kantor.
Tidak pura-pura sibuk lihat HP.
Lumayan.
Halaman ketiga:
20 Maret.
Telepon teman SMA lama.
Canggung.
Tapi ternyata masih bisa ngobrol.
Halaman keempat:
2 April.
Daftar kelas public speaking.
Hampir kabur.
Tidak jadi.
Halaman kelima:
17 April.
Pergi ke makam Ibu.
Bilang kangen.
Tidak menunggu mesin waktu untuk mengatakannya.
Di halaman terakhir, Arvin menulis satu kalimat besar.
Hidup tidak bisa direkam ulang.
Tapi selama kamera masih menyala, adegan berikutnya masih bisa diperbaiki.
Arvin menutup buku.
Laptop di depannya menyala.
Ada pesan baru dari seorang teman kantor.
Bro, malam ini nongkrong ikut nggak?
Jari Arvin berhenti di atas keyboard.
Dulu, ia akan mengetik:
Kayaknya nggak bisa. Ada kerjaan.
Kemudian ia akan menghapusnya.
Menulis alasan lain.
Menghapus lagi.
Lalu tidak membalas sama sekali.
Kali ini, Arvin mengetik dua kata.
Gue ikut.
Send.
Ia berdiri, mengambil jaket, lalu memandang sebentar bingkai foto Ibunya di meja.
Wanita itu masih tersenyum sama seperti sebelumnya.
Timeline ini memang tidak berubah.
Ibunya tetap pergi.
Masa lalunya tetap penuh penyesalan.
Rara di dunia ini mungkin bahkan tidak mengingatnya.
Tidak ada satu pun keajaiban yang memperbaiki apa yang telah terjadi.
Namun Arvin akhirnya memahami bahwa melanjutkan hidup bukan berarti mengkhianati orang yang telah pergi.
Melanjutkan hidup adalah membawa bagian terbaik dari mereka ke adegan berikutnya.
Arvin mematikan lampu kamar.
Menutup pintu.
Dan pergi.
Tidak ada portal cahaya.
Tidak ada sistem.
Tidak ada misi.
Tidak ada ancaman sengatan listrik.
Untuk pertama kalinya, Arvin mengambil langkah ke depan tanpa perlu dipaksa siapa pun.
Karena kini ia tahu—
dirinya tidak membutuhkan kesempatan kedua untuk mulai hidup.
Ia hanya membutuhkan keberanian menggunakan kesempatan yang masih tersisa.
Dan kali ini,
Arvin tidak lagi menjadi penonton.
TAMAT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar