Photobooth Isekai Rp 30.000: Garansi Pindah Dunia!
Sore itu di sebuah mal di Jakarta, Raka hanya punya satu misi: bertahan hidup menemani istrinya keliling mencari seprai diskon. Mereka baru menikah tiga bulan, dan Raka sedang dalam fase transisi dari pria lajang yang bebas menjadi suami siaga yang tangannya penuh dengan kantong belanja. Namun, misi sederhana itu terhenti ketika langkah Naya mendadak kaku di depan sebuah lorong sepi dekat eskalator rusak.
Di ujung lorong itu, terdapat sebuah mesin photobooth usang dengan lampu neon kelap-kelip bertuliskan: "Isekai Fantasy Dimension - Garansi Pindah Dunia! Rp 30.000 / 4 Pose".
"Yang, ayo foto di situ!" Mata Naya berbinar-binar, persis seperti kucing yang melihat sinar laser.
Raka memicingkan mata ke arah kotak boks yang tampak seperti properti film horor murah tersebut. "Sayang, itu mesinnya bau kabel hangus. Lagian kita udah bawa panci sama seprai, ribet."
Namun, di hadapan jurus bibir melengkung ke bawah dan tatapan memelas Naya, Raka yang bucin akut ini tak punya pilihan selain menyerah. Ia meletakkan kantong belanjaan di luar, lalu ditarik masuk ke dalam bilik sempit yang berbau kapur barus dan melati. Di dalam, terdapat keranjang berisi properti murahan. Naya dengan semangat memakaikan topi penyihir plastik ke kepalanya sendiri dan menodongkan tongkat peri berujung bintang, sementara Raka dipaksa memegang pedang gabus berlapis kertas perak yang sudah mengelupas.
"Siap ya? Gaya pertama, kaget!" seru Naya sambil menekan tombol Start.
Layar menghitung mundur. Tiga, dua, satu. Jepret!
Lampu kilat menyala begitu terang hingga Raka refleks menutup mata. Namun, kilat putih itu tak kunjung padam. Cahaya itu malah berputar, menelan suara dengungan AC mal, menggantinya dengan deru angin kencang dan aroma rumput basah. Sensasi lantai linoleum mal di bawah kakinya lenyap, digantikan oleh tanah gembur.
Ketika Raka membuka mata, ia tidak lagi berada di dalam bilik sempit. Ia berdiri di tengah padang rumput zamrud yang maha luas, di bawah langit berwarna biru keunguan dengan dua matahari kembar yang bersinar hangat.
"Raka..." Naya berbisik dengan suara gemetar di sampingnya.
Raka menoleh dan rahangnya nyaris lepas. Topi plastik Naya telah berubah menjadi topi kulit penyihir betulan dengan rajutan benang emas yang bersinar. Tongkat perinya kini berupa tongkat kayu ek tua dengan kristal safir yang berdenyut memancarkan energi magis. Raka buru-buru melihat ke tangannya sendiri. Pedang gabus murahan itu telah bertransformasi menjadi pedang ksatria baja yang berat, berkilau, dan memancarkan aura es. Pakaian kasual mereka telah berganti menjadi zirah perak dan jubah sutra yang epik.
"Sayang," Raka menelan ludah, menatap padang rumput dan siluet kastil melayang di kejauhan. "Mesin cuci kita di rumah... lupa aku matiin."
Naya malah melompat kegirangan, mengayunkan tongkatnya yang tiba-tiba menembakkan kembang api biru ke udara. "Kita beneran masuk isekai, Yang! Aku penyihir dan kamu ksatria pedang! Ini impian semua gamer!"
Belum sempat Raka berdebat soal cicilan KPR yang tak bisa dibayar dengan koin emas, semak-semak di depan mereka berdesir. Seekor monster Slime raksasa berwarna merah muda pekat melompat keluar, memamerkan deretan gigi tajam yang tidak proporsional dengan tubuh agar-agarnya. Raka yang panik refleks melangkah maju, memosisikan tubuhnya sebagai tameng untuk Naya. Ia mengayunkan pedangnya dengan gaya serampangan.
Namun, pedang itu ternyata sangat tajam. Sayangnya, karena Raka tidak punya skill berpedang, ia malah terpeleset rumput, membuat pedangnya menancap di tanah, dan tubuhnya terjerembap tepat ke pelukan si Slime merah muda. Tubuh Raka langsung basah kuyup oleh lendir berbau stroberi basi.
Naya tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit melihat suaminya berjuang melepaskan diri dari pelukan agar-agar raksasa, sebelum akhirnya ia berdehem, mengarahkan tongkatnya, dan berteriak, "Fireball!"
Bola api raksasa meluncur dari kristalnya, menghantam Slime itu hingga meledak menjadi serpihan jeli hangat, meninggalkan Raka yang duduk merana di tanah dengan zirah berlapis lendir. Naya berlari menghampirinya, membersihkan wajah suaminya dengan ujung jubahnya sambil menahan tawa. "Ksatria pelindungku keren banget sih, rela jadi umpan Slime," godanya.
"Ini nggak lucu, Naya. Kalau kita mati di sini, asuransi jiwa kita cair nggak?" gerutu Raka, meski ia akhirnya ikut tersenyum melihat istrinya sebahagia itu.
Hari-hari berikutnya dihabiskan pasutri baru itu dengan beradaptasi di dunia yang aneh tersebut. Mereka mengetahui dari warga desa terdekat bahwa mereka adalah Pahlawan Ramalan yang ditakdirkan untuk mengalahkan Raja Iblis Malagor, entitas gelap yang mengancam keseimbangan dunia. Raka, yang awalnya hanya pria kantoran biasa, terpaksa belajar cara menebas monster, sementara Naya ternyata memiliki bakat alami sebagai Archmage yang sangat destruktif.
Meski terjebak dalam krisis dunia fantasi, kehidupan pengantin baru mereka tak luput dari momen-momen manis. Ada malam di mana mereka harus berkemah di Hutan Berbisik karena kehabisan koin emas untuk menyewa penginapan. Udara malam itu sangat dingin. Naya duduk meringkuk di dekat api unggun, menatap dua bulan purnama yang bersinar keperakan, wajahnya menyiratkan kerinduan pada kasur empuk mereka di Jakarta.
Melihat itu, Raka duduk di belakang Naya, membuka jubah ksatrianya yang tebal, dan merangkumkan jubah itu ke tubuh mungil istrinya, memeluknya dari belakang.
"Kangen rumah ya?" bisik Raka, menyandarkan dagunya di puncak kepala Naya.
Naya mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke dada bidang suaminya. "Kangen martabak depan komplek. Kangen streaming film hari Minggu. Kamu nyesel nggak aku paksa masuk photobooth itu?"
Raka mempererat pelukannya, mengecup lembut pelipis Naya. "Awalnya iya. Tapi sekarang aku sadar. Selama tanganku masih bisa meluk kamu kayak gini, aku bisa hidup di dunia mana aja, Nay. Rumahku itu kamu, bukan bangunan di Jakarta."
Pipi Naya bersemu merah, matanya berkaca-kaca. Ia berbalik dan menangkup wajah suaminya, memberikan kecupan hangat di bibir Raka yang diwarnai oleh cahaya api unggun. "Aku sayang banget sama kamu, Raka," bisiknya. Momen baper itu nyaris sempurna andai saja Raka tidak tiba-tiba bersin karena hidungnya kemasukan debu api unggun.
Namun, romansa manis mereka harus diuji ketika hari penentuan tiba. Mereka berdiri di ruang singgasana hitam yang dihiasi tengkorak dan lahar magma. Di hadapan mereka berdiri Raja Iblis Malagor, sosok raksasa bersayap kelelawar dengan pedang api yang membara.
Pertempuran itu jauh dari kata lucu. Malagor sangat cepat dan mematikan. Udara terasa tipis dan panas. Naya menembakkan badai es dan petir dari garis belakang, sementara Raka menangkis tebasan pedang api raksasa yang setiap bantingannya membuat lantai obsidian retak. Di satu momen kritis, Malagor menyadari bahwa kelemahan sang ksatria adalah penyihir di belakangnya. Dengan kepakan sayapnya, Malagor melesat menembus asap, mengarahkan pedang apinya langsung ke jantung Naya.
Naya membeku, waktu seolah berjalan lambat. Mantranya belum selesai dirapal.
"NAYA!"
Raka melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, membuang pedangnya, dan menerjang tubuh Naya tepat sebelum pedang api itu menusuknya. Ujung pedang Malagor menyabet punggung Raka, merobek zirah peraknya. Raka mengerang kesakitan, darah segar menetes ke lantai saat ia jatuh berlutut sambil terus memeluk Naya untuk melindunginya.
Melihat suaminya terluka parah demi dirinya, sesuatu di dalam diri Naya meledak. Rasa takutnya lenyap tak berbekas, digantikan oleh amarah yang menggelegak. Air matanya menetes, menyentuh kristal di tongkatnya, memicu resonansi magis yang membutakan.
"Berani-beraninya kau menyakiti suamiku!" teriak Naya.
Aura sihir berwarna putih suci meledak dari tubuh Naya, mengangkatnya ke udara. Ia merapal mantra tingkat dewa yang bahkan tak pernah ia pelajari. Raka, yang menahan sakit luar biasa di punggungnya, memaksakan diri untuk berdiri. Ia memungut pedangnya yang kini ikut meresonansi cahaya putih dari kekuatan Naya.
Raka menatap istrinya, mengangguk kecil. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Dengan sisa tenaga terakhirnya, Raka melesat maju, meluncur di bawah tebasan panik Malagor, dan menancapkan pedangnya tepat di lutut sang Raja Iblis. Saat monster raksasa itu jatuh berlutut, Naya melepaskan pilar cahaya murni dari langit yang menghantam Malagor dengan kekuatan penuh.
Ledakan dahsyat merobek ruang singgasana. Sang Raja Iblis menjerit sebelum tubuhnya hancur menjadi debu kosmik yang tertiup angin kencang. Mereka berhasil.
Ruangan mulai runtuh, lantai obsidian berguncang hebat, dan sebuah portal pusaran cahaya terbuka di tempat Malagor hancur. Daya tarik portal itu sangat kuat. Raka yang terluka nyaris tersapu angin, tetapi Naya berlari dan mencengkeram tangan suaminya erat-erat. Raka menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya saat portal itu menelan mereka hidup-hidup dalam kilatan cahaya yang sama menyilaukannya dengan lampu photobooth mal.
Jepret!
Raka tersentak, refleks memejamkan mata sambil memeluk Naya. Suara deru angin dan panas magma lenyap, digantikan oleh dengungan kompresor AC dan alunan musik K-Pop dari pengeras suara mal.
Mereka membuka mata perlahan. Mereka kembali di dalam bilik sempit photobooth berbau kapur barus. Raka meraba punggungnya—tidak ada luka robek, tidak ada darah. Pakaiannya kembali menjadi kemeja kotak-kotak biasa. Di tangannya, kembali tergenggam pedang gabus murahan, dan Naya kembali memakai topi plastik yang sedikit miring. Keduanya terengah-engah, dada mereka naik turun, saling menatap tak percaya. Keringat dingin membasahi pelipis mereka.
Dari luar bilik, terdengar bunyi derit mesin. Krrrttt... Krrrttt...
Naya menelan ludah, perlahan membuka tirai bilik, diikuti Raka. Di tray mesin cetak, selembar foto strip baru saja keluar. Raka mengambilnya dengan tangan gemetar.
Bukan foto mereka memakai properti murahan di depan layar hijau yang tercetak di sana. Foto itu berisi empat panel:
Panel pertama: Raka dan Naya dalam zirah dan jubah penyihir yang epik, berdiri kebingungan di padang rumput dunia lain.
Panel kedua: Naya tertawa lebar menunjuk Raka yang duduk merengut dengan wajah penuh lendir merah muda dari Slime.
Panel ketiga: Sebuah siluet romantis mereka berdua yang sedang berciuman lembut di bawah dua bulan purnama di samping api unggun.
Panel keempat: Naya yang melayang bercahaya menembakkan sihir, sementara Raka yang terluka menancapkan pedangnya ke lutut Raja Iblis raksasa.
Di bagian bawah foto strip itu tertulis font pixelated: "Quest Completed! Selamat menempuh hidup baru!"
Raka menatap foto itu, lalu menatap Naya yang masih memegang tongkat perinya. Tanpa aba-aba, Naya melempar tongkat plastik itu, melingkarkan lengannya ke leher Raka, dan memeluknya erat-erat sambil tertawa lega. Raka membalas pelukannya tak kalah erat, menghirup aroma rambut istrinya dalam-dalam.
"Kayaknya," bisik Raka sambil tersenyum simpul, memandangi foto magis di tangannya, "pulang dari sini kita beneran harus makan martabak."
Naya mengangguk cepat di pelukannya. "Setuju. Dan Yang... tolong kamu aja yang bawa kantong belanjaan seprainya. Aku habis ngalahin Raja Iblis, capek banget."
Mereka berdua tertawa lepas di lorong mal yang sepi itu, bergandengan tangan, siap menghadapi petualangan dunia nyata—dimulai dengan mematikan mesin cuci yang lupa dimatikan di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar