UANG ATAU CINTA
“Kalau menemukan cinta, lepaskan uang. Kalau tidak menemukan cinta, setidaknya pulang membawa uang.”
Bab 1 — Sepuluh Nama Palsu
Mobil produksi menurunkan Arga di depan sebuah villa abu-abu dua lantai yang berdiri di antara kebun dan kabut Lembang.
Udara dingin langsung masuk ke kerah kemejanya.
“Bagus,” gumamnya sambil menarik koper. “Baru datang sudah disambut keputusan hidup yang buruk dan hipotermia.”
Kamera robot di dekat pintu bergerak mengikuti wajahnya.
Arga berhenti.
Kamera ikut berhenti.
“Ini bakal begini terus?”
Kamera tidak menjawab.
“Baik. Hubungan kita jelas.”
Pintu villa terbuka otomatis. Di dalam, ruang keluarga luas menghadap jendela besar. Sofa krem, karpet, meja rendah, dua kamera di sudut, satu monitor mati, dan sebuah papan digital raksasa bertuliskan:
SALDO JACKPOT: Rp200.000.000
Arga berdiri cukup lama di depan angka itu.
Dua ratus juta.
Bukan angka abstrak. Bukan hadiah kuis yang terlihat seperti uang monopoli.
Dua ratus juta bisa jadi DP tempat tinggal. Bisa jadi dana darurat bertahun-tahun. Bisa menolong orang tua. Bisa mengubah keputusan yang biasanya harus ditunda.
“Belum juga kenal siapa-siapa, gue sudah sayang uangnya,” katanya.
Kamera mendekat sedikit.
“Jangan menilai.”
Pintu kembali terbuka.
Seorang perempuan masuk sambil menarik koper warna hijau tua.
“Halo?”
Arga menoleh.
Perempuan itu mengenakan sweater cokelat, celana hitam, dan ekspresi seseorang yang baru sadar dirinya telah setuju tinggal bersama sembilan orang asing tanpa ponsel.
“Halo. Arga.”
Ia otomatis mengulurkan tangan, lalu teringat briefing produksi.
Nama samaran.
Perempuan itu menyambut tangannya. “Naya.”
Mereka saling memandang sepersekian detik lebih lama daripada perlu.
Naya menunjuk layar saldo.
“Itu beneran?”
“Katanya.”
“Dua ratus juta?”
“Kalau ternyata voucher makan, kita pulang.”
Naya tertawa.
Itu tawa pertama di villa.
Dan, tanpa diketahui keduanya, salah satu kamera di langit-langit langsung menggeser sudut sedikit untuk menangkap mereka dalam satu frame.
Peserta berikutnya datang sepuluh menit kemudian.
“Raka,” katanya sambil masuk seperti orang yang terlambat ke acara ulang tahun sendiri. “Saya bawa kepribadian. Barang lain nggak banyak.”
Ia melihat Naya.
“Wah. Kalau semua peserta begini, saya jadi optimis.”
Naya menaikkan alis. “Baru tiga orang.”
“Makanya optimisnya belum ilmiah.”
Arga tertawa.
Raka melirik mereka berdua.
“Oh.”
“Apa?” tanya Naya.
“Enggak. Saya cuma baru datang dan sudah merasa ada yang mendahului antrean.”
“Antrean apa?”
“Belum tahu. Nanti saya pikirkan.”
Naya menggeleng sambil menahan senyum.
Peserta keempat yang datang adalah Dimas.
Ia membawa satu koper hitam, satu tas punggung, dan wajah yang terlalu serius untuk sebuah acara bernama Uang atau Cinta.
Raka menyambutnya.
“Selamat datang. Pilih uang atau cinta.”
Dimas menaruh tasnya.
“Boleh teh hangat dulu?”
Raka menoleh ke kamera.
“Ini orang paling realistis di sini.”
Perempuan kelima hampir tersandung ambang pintu karena mencoba menarik koper sambil membaca tulisan saldo.
“Astaga!”
Dimas refleks memegang gagang kopernya sebelum benda itu jatuh.
“Terima kasih,” kata perempuan itu cepat. “Saya Kirana. Saya nggak biasanya masuk ruangan sambil lihat angka dua ratus juta.”
“Dimas.”
Kirana memperhatikan tangannya yang masih memegang koper.
“Kamu staf produksi?”
“Peserta.”
“Oh.”
Dimas melepaskan gagang koper.
“Kalau staf produksi harusnya seragam.”
“Maaf. Kamu kelihatan seperti orang yang tahu aturan.”
“Saya baru datang.”
“Ya, tapi auranya sudah seperti PDF.”
Untuk pertama kalinya wajah Dimas berubah.
Bukan tertawa.
Lebih seperti sistemnya perlu waktu memproses.
Raka menutup mulut supaya tidak ketawa terlalu keras.
Sore menjelang malam, peserta lain berdatangan.
Fajar, yang langsung memeriksa dapur dan bertanya apakah jadwal masak dibagi.
Sari, yang membantu Kirana mencari kamar meski dirinya sendiri belum menaruh koper.
Maya, yang menatap seluruh ruang dengan antusias seperti sedang masuk ke set drama favorit.
Reza, yang bahkan sebelum duduk sudah bertanya, “Saldo bisa turun karena apa saja?”
Dan Tara, yang ketika mendengar pertanyaan itu berkata, “Nah. Akhirnya ada orang yang bertanya hal penting.”
Sepuluh peserta duduk membentuk setengah lingkaran di ruang keluarga.
Monitor menyala.
Tulisan putih muncul.
SELAMAT DATANG DI UANG ATAU CINTA.
Suara Game Master terdengar dari speaker.
Tenang. Datar. Hampir terlalu sopan.
“Selamat malam, peserta.”
“Selamat malam,” jawab sebagian.
Raka mengangkat tangan. “Pak, ini suaranya memang selalu kayak orang mau kasih kabar audit?”
Hening dua detik.
“Nama saya Game Master.”
Semuanya tertawa.
“Dan ya,” lanjut suara itu, “nada suara saya akan kurang lebih seperti ini.”
Tawa makin besar.
Game Master menjelaskan aturan utama.
Mereka tinggal di villa selama beberapa minggu. Tidak ada ponsel pribadi. Semua nama yang digunakan adalah nama samaran. Mereka boleh bercerita tentang pekerjaan secara umum, keluarga, pengalaman, kebiasaan, ketakutan, bahkan hubungan masa lalu—tetapi tidak boleh memberikan informasi yang memudahkan peserta lain menemukan identitas asli setelah acara.
“Kalau kalian menemukan seseorang yang benar-benar ingin kalian kenal di dunia luar,” kata Game Master, “ada satu prosedur.”
Layar berubah.
SWEET EXIT
Naya membaca keras-keras. “Dua peserta meninggalkan villa bersama?”
“Benar.”
“Dan kehilangan hak atas jackpot?” tanya Reza.
“Benar.”
Reza bersandar.
“Brutal.”
“Jujur,” kata Tara.
Game Master melanjutkan.
“Setelah Sweet Exit disetujui dan prosedur selesai, kalian diperbolehkan bertukar identitas asli dan informasi kontak.”
Raka mengangkat tangan.
“Kalau saya jatuh cinta sama uangnya?”
“Tidak tersedia prosedur Sweet Exit dengan layar saldo.”
Kirana menepuk sofa sambil tertawa.
Bahkan Dimas tersenyum tipis.
Lalu Game Master menjelaskan bahwa produksi sudah melakukan analisis pra-acara: tes kepribadian, pola komunikasi, nilai hidup, preferensi hubungan, dan kompatibilitas.
“Apakah ada pasangan yang sudah diprediksi?” tanya Sari.
“Ada beberapa kemungkinan.”
“Bisa salah?”
“Data tidak jatuh cinta.”
Ruangan menjadi sedikit lebih hening.
“Data hanya membaca pola.”
Monitor menampilkan kembali angka Rp200.000.000.
“Saldo dapat turun,” kata Game Master, “karena kegagalan challenge kelompok, pelanggaran, sabotase, atau perilaku yang secara nyata merusak jalannya acara. Saldo dapat dipulihkan melalui challenge dan kerja sama. Tidak akan melebihi dua ratus juta. Tidak akan menjadi negatif. Kalian tidak akan berutang kepada acara.”
Reza mengangguk seperti baru mendapat klausul yang ia tunggu.
“Pertanyaan?” tanya Game Master.
Tara mengangkat tangan.
“Kalau nanti tinggal enam orang dan saldonya, misalnya, seratus delapan puluh juta, pembagiannya rata?”
“Detail pembagian akhir akan dijelaskan mendekati final.”
Tara menoleh ke Reza.
Reza menoleh balik.
Raka menunjuk mereka.
“Nah. Dua orang ini baru kenal lima menit sudah merger.”
“Efisiensi,” kata Tara.
“Sinergi,” tambah Reza.
“Menakutkan.”
Malam pertama berlangsung lebih sederhana daripada yang dibayangkan semua orang.
Mereka membagi kamar.
Menyeduh teh.
Menemukan sambal botolan di dapur.
Berdebat soal apakah pemanas air kamar mandi benar-benar berfungsi.
Naya berdiri di teras, memegang mug, melihat kabut menutupi lampu taman.
Arga menyusul.
“Dingin?”
“Lumayan.”
“Kamu orang yang suka dingin?”
“Aku orang yang suka dingin kalau ada selimut.”
“Pendapat yang kontroversial.”
Naya tersenyum.
Di dalam, Raka mengintip dari balik tirai.
Satu kamera robot pelan-pelan berputar ke arahnya.
Raka menatap kamera.
“Jangan rekam gue.”
Kamera bergerak sedikit mendekat.
“Serius?”
Di dapur, Kirana sedang berdebat dengan Dimas karena ia salah meletakkan sendok.
“Kenapa sendok sup di sini?”
“Karena lacinya kosong.”
“Bukan berarti semua benda boleh masuk laci yang kosong.”
“Kalau ada laci sendok sup, beri label.”
“Ini rumah, bukan gudang.”
“Justru karena rumah harus ada sistem.”
Kirana menatapnya.
“Kamu beneran manusia?”
“Sejauh ini.”
Kirana menoleh ke kamera.
“Kalau besok ternyata dia robot produksi, tolong jangan kasih tahu dulu. Aku mau observasi.”
Malam semakin larut.
Sepuluh orang asing berpencar ke kamar masing-masing.
Tidak satu pun dari mereka tahu siapa akan pulang membawa uang.
Siapa akan pulang membawa nomor telepon.
Siapa akan pulang dengan persahabatan yang tidak mereka rencanakan.
Atau siapa yang, beberapa minggu lagi, akan menatap angka puluhan juta rupiah dan tetap memilih berjalan keluar tanpa bagian sedikit pun.
Malam itu, setidaknya, mereka masih lengkap.
Sepuluh nama palsu.
Dua ratus juta rupiah.
Dan terlalu banyak kemungkinan.
Bab 2 — Nilai Pertama
Pagi pertama dimulai dengan alarm dari speaker.
Bukan musik.
Bukan suara burung.
Hanya suara Game Master.
“Selamat pagi. Waktu menunjukkan pukul tujuh.”
Dari kamar laki-laki terdengar suara Raka.
“Ini ancaman.”
“Challenge pertama dimulai pukul sembilan.”
“Lebih ancaman lagi.”
Sarapan menjadi ujian pertama kemampuan sepuluh orang dewasa berbagi dapur.
Fajar ingin membuat telur.
Sari mengusulkan bubur instan supaya cepat.
Kirana mencari cabai.
Reza menghitung jumlah roti.
Tara menyembunyikan satu bungkus kopi sachet sambil berkata, “Ini dana darurat.”
“Dana darurat kok kopi?” tanya Maya.
“Justru.”
Dimas membuat kopi hitam tanpa gula.
Kirana melihatnya.
“Itu minuman atau hukuman?”
“Minuman.”
“Rasanya?”
“Pahit.”
“Berarti hukuman.”
Mereka mulai lebih mudah mengingat siapa siapa.
Fajar pendiam tapi praktis.
Sari sering tahu kapan harus menawarkan bantuan tanpa membuat orang merasa dibantu.
Maya banyak bertanya.
Raka mampu membuat percakapan muncul di tempat yang tadinya tidak ada percakapan.
Reza dan Tara mulai duduk berdekatan karena keduanya sama-sama tertarik pada aturan.
Dan Arga—tanpa terlihat berusaha—selalu berakhir di dekat Naya.
Pukul sembilan, mereka berkumpul di area challenge.
Di tengah ruangan ada lima meja.
Game Master menjelaskan permainan.
“Challenge pertama: Masak untuk Orang Asing.”
Kirana bertepuk tangan.
“Bagus.”
“Kalian akan dipasangkan secara acak. Setiap pasangan harus membuat satu hidangan utama dari bahan yang tersedia. Kalian tidak boleh menanyakan makanan favorit pasangan. Kalian harus membaca kebiasaan dan bernegosiasi.”
Pasangan muncul di monitor:
Arga — Sari
Naya — Reza
Dimas — Kirana
Fajar — Maya
Raka — Tara
Raka mengangkat kedua tangan.
“Pasangan finansial saya direbut sistem.”
Tara menyahut, “Hubungan kita belum legal.”
Challenge dimulai.
Dimas dan Kirana langsung bertengkar soal bawang.
“Kamu motongnya terlalu besar,” kata Kirana.
“Ukuran tidak mengubah rasa secara signifikan.”
“Ini kalimat orang yang belum pernah makan bawang setengah mentah.”
“Kalau dimasak cukup lama—”
“Dimas.”
“Iya?”
“Percayalah pada perempuan yang pegang pisau.”
Dimas berhenti.
“Itu argumen yang kuat.”
Di meja lain, Naya dan Reza membuat nasi goreng.
Reza membaca takaran kecap di botol.
Naya merebut botolnya.
“Kita masak, bukan mengajukan tender.”
“Kalau terlalu manis?”
“Kita tanggung bersama.”
“Kalimat itu berbahaya.”
Arga beberapa kali melirik Naya.
Sari menyadarinya.
“Kamu lihat wajan kita atau meja sebelah?”
“Wajan.”
“Kebetulan wajannya bentuk Naya?”
Arga tertawa, agak malu.
“Baru hari kedua.”
“Saya cuma observasi.”
Di ujung ruangan, Raka dan Tara membuat ayam kecap.
Tara ingin pembagian tugas jelas.
Raka ingin “mengikuti energi dapur”.
Lima menit kemudian Tara mengambil alih seluruh bumbu.
“Kamu potong daun bawang.”
“Kenapa posisi saya turun?”
“Karena tadi kamu mau masukin satu sendok garam.”
“Kan satu sendok.”
“Sendok makan.”
“Oh.”
“Potong daun bawang.”
Ketika waktu habis, tim produksi mencicipi makanan tanpa komentar.
Satu jam kemudian mereka berkumpul di ruang keluarga.
Monitor menyala.
CHALLENGE RESULT
Game Master mengumumkan bahwa secara keseluruhan challenge dinilai berhasil. Tidak ada saldo yang turun.
Semua bersorak.
“Namun,” kata Game Master, “mulai malam ini, kalian juga akan menerima Skor Acara.”
Layar berubah.
SKOR ACARA: 0–100
Game Master menjelaskan bahwa skor dinilai tim internal produksi berdasarkan aktivitas 24 jam terakhir.
“Bukan penonton?” tanya Maya.
“Bukan. Acara ini belum tayang.”
“Jadi nggak ada netizen?” kata Raka.
“Untuk saat ini, kalian aman.”
“Alhamdulillah.”
Game Master menjelaskan indikator: kejujuran, humor, kontribusi, hubungan sosial, kerja sama, perkembangan diri, penyelesaian konflik, keberanian, dinamika romantis yang autentik bila memang ada.
“Romance bukan syarat,” tegas Game Master.
Raka langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Saya mendengar peluang karier.”
“Batas aman adalah empat puluh poin.”
Layar menampilkan:
< 40 = ZONA BAHAYA
“Jika skor kalian di bawah empat puluh pada evaluasi malam, kalian masuk Zona Bahaya. Kalian tidak langsung dieliminasi. Kalian memiliki satu periode evaluasi penuh untuk menaikkan skor. Jika evaluasi berikutnya tetap di bawah empat puluh, produksi dapat melakukan eliminasi setelah review.”
Dimas mengangkat tangan.
“Jadi posisi terakhir tidak otomatis keluar?”
“Benar.”
“Kalau semua orang di atas empat puluh?”
“Semua aman.”
“Kalau tiga orang di bawah empat puluh?”
“Ketiganya masuk Zona Bahaya.”
Reza mencondongkan badan.
“Skor tidak memengaruhi jumlah hadiah?”
“Tidak.”
Tara mencatat sesuatu di buku kecil yang disediakan produksi.
Raka melihat.
“Apa itu?”
“Informasi.”
“Kenapa ditulis?”
“Karena otak manusia terbatas.”
“Gue takut sama kalian.”
Malam itu, skor pertama diumumkan.
Raka — 78
Sari — 73
Arga — 71
Naya — 70
Fajar — 66
Tara — 64
Reza — 62
Kirana — 59
Dimas — 55
Maya — 52
Raka berdiri.
“Tidak ada romance. Tetap nomor satu.”
Naya bertepuk tangan.
“Pidato?”
Raka menaruh tangan di dada.
“Saya ingin berterima kasih kepada daun bawang.”
Tara menyela, “Yang kamu potong tidak rata.”
“Kesempurnaan bukan syarat skor tinggi.”
Game Master berkata datar, “Pernyataan itu, secara teknis, benar.”
Ruangan pecah oleh tawa.
Tidak ada peserta di Zona Bahaya.
Semua santai.
Terlalu santai, mungkin.
Karena angka masih dua ratus juta.
Belum ada yang kehilangan apa pun.
Belum ada yang ditolak.
Belum ada yang harus memilih antara seseorang yang mereka sukai dan uang yang mulai terasa seperti milik mereka sendiri.
Malam itu, setelah semua bubar, Naya duduk di sofa bersama Arga.
“Kalau Sweet Exit,” katanya, “orang beneran mau ninggalin uang sebanyak itu?”
Arga melihat layar saldo.
“Kalau sepuluh orang sampai final dan dibagi rata, kira-kira dua puluh juta seorang.”
“Itu kalau tetap dua ratus juta.”
“Iya.”
“Dua puluh juta itu banyak.”
“Banget.”
Naya terdiam.
“Kamu bakal ninggalin?”
Arga menoleh.
“Baru hari kedua.”
“Hipotetis.”
“Hipotetisnya terlalu mahal.”
Naya tertawa kecil.
“Pengecut.”
“Rasional.”
Di belakang mereka, kamera bergerak pelan.
Arga menunjuk kamera.
“Nah, tuh. Besok nilai gue turun gara-gara disebut pengecut.”
Dari speaker, Game Master tidak menjawab.
Tapi Naya masih tertawa ketika mereka berpisah menuju kamar.
Bab 3 — Rumah Kecil
Pada hari keempat, villa mulai terasa seperti rumah.
Bukan rumah yang tenang.
Rumah yang dihuni sepuluh sepupu dewasa yang baru tahu mereka punya kebiasaan buruk berbeda-beda.
Kirana selalu meninggalkan mug di tempat aneh.
Dimas selalu mengembalikannya ke dapur.
Raka menyanyi ketika mencuci piring, tetapi hanya satu baris lagu berulang-ulang sampai orang lain mengancam menyiramnya.
Fajar bangun paling pagi.
Sari selalu tahu persediaan tisu habis sebelum siapa pun sadar.
Tara menyimpan daftar bahan dapur.
Reza mulai membuat estimasi berapa persen jackpot yang “layak” dikorbankan untuk hubungan.
Maya suka duduk dekat jendela ketika menulis jurnal.
Arga dan Naya hampir selalu sarapan bersamaan meski tidak pernah janjian.
Rutinitas itu tumbuh tanpa direncanakan.
“Gue bilang juga apa,” kata Raka suatu pagi sambil makan pisang. “Kalian kayak pasangan yang sudah dua tahun pacaran tapi masih bilang ‘kita lihat nanti’.”
Naya melempar tisu ke arahnya.
“Cerewet.”
Arga santai. “Dia iri.”
“Gue?” Raka menepuk dada. “Saya profesional. Target flirting bisa berubah.”
“Ke siapa?”
Raka melihat sekeliling.
Tara mengangkat satu alis.
“Jangan.”
“Belum ngomong.”
“Tatapanmu sudah mengganggu.”
Challenge hari itu sederhana: mengelola villa.
Mereka dibagi menjadi tim kecil untuk memasak, kebersihan, laundry, dan inventaris.
Produksi sengaja memasangkan orang yang jarang berinteraksi.
Fajar dan Sari mendapat inventaris dapur.
Tugas itu seharusnya membosankan.
Entah bagaimana, dalam dua puluh menit mereka sudah membuat sistem yang terlalu bagus.
“Beras tinggal enam kilo,” kata Fajar.
“Sambal dua botol.”
“Telur tiga tray.”
“Yang satu tinggal setengah.”
“Berarti dua setengah.”
Sari menulis.
Mereka bekerja tanpa banyak bicara.
Tidak canggung.
Tidak perlu saling menjelaskan hal sederhana.
Ketika Fajar mencari spidol, Sari sudah menyerahkannya.
Ketika Sari hendak mengangkat kardus air mineral, Fajar otomatis mengambil sisi satunya.
Raka lewat.
Berhenti.
Melihat mereka.
“Kalian ini mengganggu.”
Sari menoleh. “Kenapa?”
“Kelihatan kayak sudah buka warung bareng tujuh tahun.”
Fajar mengangkat kardus.
“Lewat.”
“Chemistry domestik,” kata Raka sambil berjalan pergi.
Di area laundry, Dimas dan Kirana mengalami perang kecil tentang cara melipat handuk.
“Harus sama ukuran,” kata Dimas.
“Kita pakai, bukan jual.”
“Kalau ditumpuk lebih rapi.”
“Kamu sadar nanti dibuka lagi?”
“Semua benda yang dirapikan akan dipakai lagi. Itu bukan argumen untuk tidak merapikan.”
Kirana memegang handuk.
“Kenapa aku sebel tapi kamu ada benarnya?”
“Karena dua hal itu bisa terjadi bersamaan.”
Kirana menatapnya lama.
“Kalimat itu lebih romantis daripada yang kamu kira.”
Dimas mengerutkan dahi.
“Saya tidak sedang romantis.”
“Tenang, Dimas. Aman.”
Maya yang sedang lewat membawa keranjang baju sempat melihat mereka.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Tapi sejak hari kedua, ia lebih sering memperhatikan Dimas.
Bukan karena Dimas paling menarik secara jelas.
Justru karena ia sulit dibaca.
Maya tertarik pada orang yang seperti pintu tertutup: bukan karena ia ingin mendobrak, tetapi karena ia ingin tahu apa yang ada di baliknya.
Siang itu, ketika Dimas sendirian membuat teh, Maya menghampiri.
“Kamu kerja di bidang yang pakai angka, ya?”
Dimas menoleh.
“Kenapa?”
“Feeling.”
“Bisa jadi.”
“Keuangan?”
“Bukan.”
“Teknik?”
Dimas tersenyum tipis.
“Informasi pekerjaan kita harus umum.”
“Aku nggak minta nama kantor.”
“Saya kerja dengan sistem.”
Maya mengangguk.
“Pantas.”
“Pantas apa?”
“Kamu suka sistem.”
Dimas melihat kotak teh yang sudah disusun sesuai jenis.
“Observasi yang tidak sulit.”
Maya tertawa.
Percakapan mereka tidak panjang.
Tapi malamnya, di confession room, Maya berkata kepada kamera:
“Dimas itu… aneh.”
Ia berhenti.
“Bukan aneh jelek. Aneh yang bikin penasaran.”
Di ruang lain, Reza dan Tara sedang membahas sesuatu yang lebih tidak romantis.
“Misalnya final enam orang,” kata Reza, “saldo seratus delapan puluh juta.”
“Tiga puluh juta per orang kalau rata.”
“Sweet Exit berarti opportunity cost tiga puluh juta.”
“Belum termasuk probabilitas saldo turun.”
“Betul.”
Tara menulis angka.
“Kamu sadar kita ngomongin cinta kayak portofolio investasi?”
“Justru cinta yang tidak dihitung biasanya bikin orang bangkrut.”
Tara terdiam.
Lalu tertawa.
“Kalau ini masuk episode, kita bakal dibenci.”
“Acara belum tayang.”
“Kelak.”
Reza menunjuk kamera.
“Publik masa depan, saya minta maaf.”
Kamera mendekat.
“Jangan zoom. Saya belum selesai.”
Malam itu, Game Master memberi skor.
Raka masih tinggi.
Arga dan Naya naik.
Fajar dan Sari juga naik karena kontribusi.
Dimas dan Kirana naik sedikit.
Maya tetap aman.
Semua di atas empat puluh.
Setelah lampu ruang keluarga diredupkan, Naya duduk di tangga belakang sambil membungkus diri dengan selimut.
Arga datang membawa dua mug.
“Teh.”
“Kamu tahu aku mau?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Aku mau. Bikin dua.”
Naya mengambil mug.
“Hidup kamu selalu sesimpel itu?”
“Enggak.”
“Mantan?”
Arga tertawa.
“Pertanyaan kamu lompat jauh.”
“Kita di reality show.”
“Benar.”
Ia duduk.
Mereka bicara tentang hubungan tanpa menyebut nama siapa pun.
Tentang orang yang terlalu lama menunggu kepastian.
Tentang pekerjaan yang membuat waktu seperti barang mewah.
Tentang keluarga yang bertanya kapan menikah seolah pasangan bisa dipesan bersamaan dengan galon.
Naya memandang kebun gelap.
“Aku tuh bukan takut nggak ketemu orang.”
“Takut apa?”
“Ketemu orang yang salah, tapi keburu nyaman.”
Arga tidak langsung menjawab.
“Aku takutnya kebalik.”
“Gimana?”
“Ketemu orang yang benar, tapi terlalu takut ambil risiko.”
Naya menatapnya.
Untuk pertama kali, percakapan mereka tidak ditutup candaan.
Di dapur, pada saat yang sama, Kirana mendapati Dimas sedang menuliskan label di wadah gula.
Ia berdiri di pintu.
“Kamu serius?”
“Supaya tidak tertukar garam.”
“Semua orang tahu ini gula.”
“Besok bisa lupa.”
Kirana mengambil spidol.
Di bawah tulisan GULA, ia menambahkan:
Bukan Garam. Demi Keamanan Nasional.
Dimas melihat.
“Kebanyakan.”
“Lebih informatif.”
Ia meletakkan spidol lalu pergi.
Dimas menatap label itu.
Sudut mulutnya naik.
Ia tidak menghapusnya.
Bab 4 — Dua Ratus Juta
Pada minggu pertama, uang masih terasa seperti papan skor.
Pada hari ketujuh, uang berubah menjadi sesuatu yang lebih pribadi.
Challenge pagi itu bernama Harga Sebuah Pilihan.
Tidak ada lomba fisik.
Tidak ada masak.
Hanya sepuluh amplop dan satu meja panjang.
Setiap peserta diminta menulis, tanpa angka pasti pendapatan atau identitas, apa arti dua puluh juta rupiah bagi hidup mereka.
Mereka boleh memilih membacanya atau tidak.
Raka membuka amplopnya paling dulu.
“Gue kira bakal lucu,” katanya.
Game Master menjawab, “Tidak semua challenge harus lucu.”
“Baik. Saya tersinggung.”
Giliran pertama jatuh pada Tara.
Ia membaca kertasnya.
“Dua puluh juta bagi saya adalah enam sampai delapan bulan rasa aman, tergantung kondisi.”
Ia menatap meja.
“Bukan buat belanja. Bukan liburan. Rasa aman.”
Reza mengangguk.
Giliran Fajar.
“Bisa membantu keluarga tanpa harus mengganggu tabungan sendiri.”
Sari membaca pelan.
“Bisa jadi biaya pindah ke tempat tinggal yang lebih layak.”
Maya menghela napas sebelum membaca.
“Bisa saya simpan untuk pendidikan lanjutan. Saya beberapa kali menunda karena selalu ada kebutuhan lain.”
Raka kali ini tidak bercanda.
Ketika gilirannya tiba, ia memutar kertas.
“Dua puluh juta… buat gue berarti bisa berhenti bilang ‘nanti dulu’ untuk beberapa hal.”
Ia tersenyum kecil.
“Tidak spesifik. Nanti identitas gue kebuka.”
Naya membaca, “Dana darurat. Sama sedikit kebebasan untuk bilang tidak pada pekerjaan yang bikin capek.”
Arga menyusul.
“Untuk keluarga. Dan mungkin supaya hidup tidak terasa selalu satu masalah dari panik.”
Ruangan sunyi.
Kemudian Game Master berkata, “Terima kasih.”
Saldo dua ratus juta di layar tiba-tiba terasa lebih berat.
Siang harinya, challenge kelompok dimulai.
Mereka harus membangun area makan malam dari perlengkapan terbatas: meja lipat, lampu, kain, bahan dekorasi, dan menu sederhana. Penilaian didasarkan pada kerja sama, waktu, dan penggunaan perlengkapan.
Masalah dimulai ketika Reza dan Tara terlalu fokus pada efisiensi.
“Kita jangan pakai semua lampu,” kata Reza. “Kalau ada penalti kerusakan—”
“Enggak ada penalti kerusakan selama normal,” kata Kirana.
“Belum tentu.”
Dimas menunjuk instruksi. “Tertulis di halaman dua.”
Reza membalik lembar.
“Oh.”
Raka tertawa. “Auditor diaudit.”
Sementara itu Maya ingin dekorasi lebih bagus.
Fajar ingin fokus pada makanan.
Naya dan Arga mencoba menyatukan.
Akhirnya mereka terlambat sebelas menit.
Makanan matang.
Dekorasi cukup bagus.
Tapi satu meja belum selesai ditata ketika waktu habis.
Malamnya Saldo Update diumumkan.
SALDO AWAL: Rp200.000.000
PENALTI CHALLENGE: -Rp5.000.000
SALDO BARU: Rp195.000.000
Kirana menutup mulut.
“Lima juta?”
Game Master tetap datar.
“Lima juta.”
Raka menatap layar.
“Gue baru sadar angka turun di layar itu lebih sakit daripada ekspektasi.”
Reza menghitung cepat.
“Kalau sepuluh orang sampai final, dampaknya lima ratus ribu per orang.”
Tara menoleh.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan sekarang.”
Reza berhenti.
Ia mengangguk.
Malam itu, percakapan uang muncul di mana-mana.
Fajar bilang lima juta bisa membayar banyak hal.
Sari bilang memang itu inti permainan: membuat mereka merasa kehilangan bahkan ketika uang belum pernah benar-benar mereka punya.
Raka berkata ia tidak suka betapa cepat manusia membangun kepemilikan emosional pada angka digital.
“Dua hari lalu itu uang acara,” katanya. “Sekarang rasanya uang kita.”
Di teras, Reza dan Tara duduk dengan selimut masing-masing.
“Gue nggak bermaksud insensitive,” kata Reza.
“Tahu.”
“Cuma otomatis menghitung.”
“Gue juga.”
“Terus kenapa nyuruh berhenti?”
Tara memandang halaman.
“Karena kadang angka yang benar disampaikan di waktu yang salah tetap bikin orang marah.”
Reza mempertimbangkan itu.
“Catat.”
“Sudah.”
Ia menepuk kepalanya.
“Di sini.”
Reza tertawa.
Hubungan mereka tidak romantis.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah.
Tapi ada sesuatu yang menyenangkan dalam menemukan orang lain yang memandang dunia melalui kolom untung-rugi, lalu menyadari orang itu juga tahu kapan kalkulator harus ditutup.
Sementara itu, di ruang makan, Fajar dan Sari sedang membereskan piring.
“Kita kelihatan kayak pasangan kata Raka,” kata Sari.
Fajar membilas piring.
“Raka bilang semua orang pasangan kalau duduk bersebelahan.”
“Dia nggak bilang Dimas sama Kirana.”
Dari dapur terdengar suara Kirana.
“DIMAS, INI KENAPA LAP DAPUR DILIPAT TIGA?”
Dimas menjawab, “Supaya muat di rak.”
Sari dan Fajar saling pandang.
Fajar berkata datar, “Mereka beda kategori.”
Sari tertawa.
Di ruang confession malam itu, Game Master bertanya pada Naya, “Apakah saldo yang turun mengubah cara Anda melihat Sweet Exit?”
Naya diam sebentar.
“Iya.”
“Bagaimana?”
“Awalnya Sweet Exit kayak simbol romantis.”
“Sekarang?”
“Sekarang rasanya kayak… keputusan finansial juga.”
“Apakah itu membuatnya kurang romantis?”
Naya menatap kamera.
“Justru mungkin lebih.”
Bab 5 — Sweet Exit Pertama
Pada hari kesepuluh, semua orang sudah tahu.
Bukan karena Arga dan Naya bermesraan terang-terangan.
Mereka justru cukup tenang.
Tapi ada jenis kedekatan yang sulit disembunyikan dalam rumah tanpa ponsel, tanpa pekerjaan, tanpa kesempatan kabur dari percakapan.
Arga selalu tahu Naya minum teh tanpa terlalu manis.
Naya bisa membedakan Arga sedang diam karena nyaman atau diam karena memikirkan sesuatu.
Mereka tidak lagi mencari satu sama lain.
Mereka otomatis bertemu.
Raka paling dulu mengatakannya.
Saat sarapan, ia melihat Arga menggeser sambal ke arah Naya sebelum Naya meminta.
Raka meletakkan sendok.
“Saya menyerah.”
Naya mengunyah.
“Apa?”
“Target flirting saya resmi saya pensiunkan.”
Arga tertawa.
“Baru sekarang?”
“Saya orangnya optimistis.”
Naya menatap Raka. “Kamu nggak pernah serius.”
“Lah, itu strategi perlindungan harga diri.”
Semua tertawa.
Raka ikut tertawa paling keras.
Tidak ada segitiga.
Tidak ada perebutan.
Hanya seseorang yang tahu kapan candaan harus selesai sebelum berubah menjadi luka.
Sore itu Arga dan Naya mendapat kesempatan melakukan “date design challenge” bersama kelompok lain.
Setiap pasangan acak harus membuat kencan singkat di dalam villa menggunakan barang yang tersedia.
Ironisnya, Arga tidak dipasangkan dengan Naya.
Arga bersama Tara.
Naya bersama Fajar.
Dimas dengan Maya.
Kirana dengan Reza.
Raka dengan Sari.
Challenge itu malah membuat sesuatu menjadi jelas.
Naya bersenang-senang dengan Fajar.
Arga dan Tara bekerja efisien.
Maya tertawa bersama Dimas.
Namun ketika challenge selesai, Arga dan Naya kembali duduk bersebelahan seolah semua pasangan tadi hanya peran sementara.
Malamnya mereka berbicara lama di taman.
“Kalau kita tunggu sampai final,” kata Naya, “secara logika lebih masuk akal.”
“Secara uang.”
“Ya.”
“Secara aturan, kita nggak boleh tukeran identitas kalau nggak Sweet Exit.”
“Aku tahu.”
“Kalau kita pulang masing-masing, kita bahkan nggak tahu cara cari satu sama lain.”
Naya meremas ujung selimut.
“Produksi pasti serius soal itu?”
“Harusnya.”
“Jadi pilihan kita cuma dua.”
“Coba beneran sekarang.”
“Atau pulang bawa uang dan berharap semesta bocorin LinkedIn.”
Arga tertawa.
“Kayaknya itu pelanggaran.”
Naya menoleh.
“Kamu yakin?”
Arga tidak menjawab cepat.
“Aku yakin aku mau tahu kamu siapa setelah ini.”
Naya menunduk.
“Itu jawaban licik.”
“Kenapa?”
“Karena bukan bilang yakin hubungan ini berhasil.”
“Aku nggak tahu hubungan ini berhasil atau enggak.”
Naya mengangkat wajah.
Arga melanjutkan.
“Tapi aku yakin mau mencoba di luar.”
Diam.
Kabut tipis melewati lampu taman.
Dari dalam villa terdengar Kirana tertawa terlalu keras.
Naya berkata, “Kalau kita keluar, kita kehilangan bagian jackpot.”
“Iya.”
“Saldo sekarang seratus sembilan puluh lima.”
“Iya.”
“Kalau delapan orang sampai akhir, misalnya, itu bisa dua puluh empat jutaan seorang.”
“Kurang lebih.”
“Banyak.”
“Banget.”
Naya menghembuskan napas.
“Aku benci acara ini.”
Arga tersenyum.
“Belum jawab.”
Naya menatapnya.
“Aku mau.”
Mereka mengajukan Sweet Exit malam itu.
Villa mendadak heboh.
“APA?” teriak Kirana.
Reza berdiri. “Sekarang?”
Tara menepuk lengannya. “Jangan pakai kalkulator.”
“Gue belum buka.”
“Wajahmu sudah.”
Maya memeluk Naya.
Sari memeluk Arga.
Fajar menyalami keduanya sambil tertawa.
Raka berdiri paling akhir.
Ia menunjuk Naya.
“Saya mau memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Kalau orang ini nyebelin di luar, jangan salahkan saya.”
Naya memeluknya.
Raka mematung satu detik.
Lalu membalas.
“Ya ampun,” katanya. “Saya kehilangan target flirting dan dua peserta bagus sekaligus.”
Prosedur Sweet Exit tidak instan.
Mereka masuk ruang confession terpisah.
Tim welfare berbicara kepada keduanya.
Produksi memastikan tidak ada tekanan.
Mereka diberi waktu tidur satu malam sebelum finalisasi.
Pagi berikutnya keputusan mereka tetap sama.
Monitor ruang keluarga menampilkan:
SWEET EXIT DISETUJUI
ARGA + NAYA
Hak atas jackpot mereka berakhir saat itu.
Sebelum pergi, keduanya dibawa ke ruang terpisah dan diberi kartu berisi identitas asli masing-masing.
Ketika kembali ke ruang utama, wajah Naya merah karena tertawa.
Arga juga.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Nama aslinya cocok,” kata Naya.
“Kalian nggak boleh bilang,” kata Game Master.
“Saya tahu.”
Arga membawa koper.
Naya berdiri di depan delapan peserta tersisa.
“Aneh banget.”
“Jangan nangis,” kata Kirana sambil sudah berkaca-kaca.
“Aku nggak nangis.”
“Kamu suaranya sudah.”
Raka membuka pintu villa.
Udara dingin masuk.
Arga dan Naya berdiri sebentar di ambang.
Di belakang mereka, layar masih menunjukkan:
Rp195.000.000
Naya menoleh sekali.
“Gila.”
Arga mengikuti pandangannya.
“Masih mau balik?”
Naya menatapnya.
“Enggak.”
Mereka keluar.
Pintu menutup.
Delapan orang tetap berdiri beberapa detik.
Villa mendadak terasa terlalu besar.
Dua kursi kosong di meja makan.
Dua mug yang tidak akan dipakai pagi berikutnya.
Dan untuk pertama kalinya, Sweet Exit berhenti menjadi aturan di monitor.
Ia menjadi sesuatu yang nyata.
Sesuatu yang bisa membuat dua orang meninggalkan kemungkinan puluhan juta rupiah hanya demi hak untuk saling menelepon setelah kamera mati.
Bab 6 — Dua Kursi Kosong
Pagi setelah Arga dan Naya pergi, tidak ada yang duduk di dua kursi mereka.
Bukan sengaja.
Semua seperti otomatis menghindar.
Raka akhirnya menunjuk kedua kursi itu.
“Ini mulai horor.”
Kirana langsung duduk di salah satunya.
“Nih. Selesai.”
Dimas duduk di kursi satunya.
“Masalah terpecahkan.”
Kirana menatapnya.
“Kok kamu yang duduk?”
“Karena kosong.”
“Kamu selalu punya jawaban teknis.”
“Pertanyaanmu teknis.”
Rutinitas villa berubah.
Tanpa Arga dan Naya, ruang kosong muncul dalam percakapan.
Raka mengisi sebagian besar.
Maya lebih banyak bicara.
Fajar dan Sari makin sering mengurus hal-hal rumah.
Reza dan Tara memperkuat aliansi.
Mereka secara terbuka menyebut diri mereka “Divisi Risiko”.
“Nama jelek,” kata Kirana.
“Efektif,” jawab Tara.
Challenge hari itu adalah compatibility quiz.
Peserta menjawab pertanyaan secara individu lalu mencoba menebak jawaban orang lain.
Pasangan ditentukan berdasarkan skor sebelumnya.
Dimas dan Kirana satu tim.
Pertanyaan pertama:
Apa yang lebih buruk: terlambat satu jam atau datang satu jam terlalu awal?
Kirana menulis: TERLAMBAT
Dimas menulis: TERLAMBAT
“Easy,” kata Kirana.
Pertanyaan kedua:
Lebih baik pasangan terlalu cerewet atau terlalu diam?
Dimas menulis: TERLALU CEREWET
Kirana menatap jawabannya.
“Kamu serius?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Kalau terlalu diam, informasi hilang.”
Kirana memegang dada.
“Dimas. Kamu bilang kamu toleran sama orang cerewet?”
“Saya bilang secara teoritis lebih mudah.”
“Romantis.”
“Bukan.”
Pertanyaan ketiga:
Kalau bertengkar, lebih baik selesaikan saat itu juga atau beri waktu?
Kirana: BERI WAKTU
Dimas: BERI WAKTU
Kirana berhenti tertawa.
“Oh.”
Dimas juga melihat jawaban mereka.
Untuk sesaat ada sesuatu yang tidak konyol di antara mereka.
Lalu Kirana berkata, “Tapi jangan lama-lama. Aku bisa bikin dua belas skenario di kepala.”
Dimas mengangguk.
“Masuk akal.”
“Kamu jangan validasi overthinking aku.”
“Kalau tidak masuk akal, saya bilang.”
“Lebih parah.”
Mereka menang challenge.
Bukan karena romantis.
Karena mereka mulai mengenal kebiasaan satu sama lain.
Malamnya Maya duduk di ruang santai bersama Sari.
“Aku kayaknya suka Dimas,” katanya.
Sari tidak bereaksi berlebihan.
“Sudah berapa lama sadar?”
“Entah.”
“Dia tahu?”
“Belum.”
Sari mengaduk teh.
“Kamu mau bilang?”
Maya menghela napas.
“Takut.”
“Takut ditolak atau takut suasana berubah?”
“Dua-duanya.”
Sari mengangguk.
“Itu dua ketakutan yang beda.”
Maya tersenyum tipis.
“Makanya aku cerita ke kamu. Kamu suka bikin masalah jadi lebih jelas.”
Di sisi lain villa, Reza dan Tara sedang membahas strategi skor.
“Kita nggak perlu romance,” kata Tara.
“Benar.”
“Asal kita tetap aktif, kontribusi challenge, bantu orang, interaksi bagus.”
“Tim penilai menghargai dinamika.”
“Dinamika dua orang tidak harus cinta.”
Reza mengetuk meja.
“Secara aturan, kita bisa menjaga skor lewat partnership.”
“Selama tidak pura-pura pacaran.”
“Tidak ada niat.”
Tara mengangkat alis.
“Yakin?”
Reza berhenti.
Tara tertawa.
“Bercanda.”
“Jangan bikin sistem error.”
“Jadi?”
“Aliansi finansial.”
Tara mengulurkan tangan.
“Deal.”
Mereka berjabat tangan.
Kamera zoom.
Reza menoleh.
“Ini bukan lamaran.”
Game Master menjawab dari speaker.
“Tidak ada yang mengatakan demikian.”
Seluruh ruang keluarga tertawa.
Malam itu skor diumumkan.
Raka: 84.
Fajar: 77.
Sari: 76.
Tara: 74.
Reza: 72.
Kirana: 70.
Dimas: 69.
Maya: 61.
Maya tetap aman.
Tapi ketika angka muncul, ia melihat skor Dimas naik.
Kemudian Kirana.
Ia tidak tahu kenapa hal kecil itu membuat dadanya sedikit berat.
Mungkin karena ia mulai melihat sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Bukan hubungan.
Belum.
Hanya dua orang yang semakin nyaman bertengkar soal hal bodoh.
Bab 7 — Tidak Dipilih
Maya memilih hari yang buruk untuk jujur.
Atau mungkin tidak ada hari yang baik.
Hujan turun sejak sore. Challenge membuat kelompok lelah. Makan malam terlambat karena kompor sempat bermasalah. Semua orang sedikit lebih sensitif daripada biasa.
Dimas sedang merapikan cangkir ketika Maya berkata, “Bisa ngobrol?”
Dimas menatapnya.
“Tentu.”
Mereka pergi ke teras samping.
Hujan terdengar di atap.
Maya memegang mug dengan dua tangan.
“Aku mau bilang sesuatu sebelum jadi makin aneh.”
Dimas menunggu.
Maya tertawa gugup.
“Ini sudah aneh.”
“Belum terlalu.”
“Jangan bantu.”
“Baik.”
Maya menarik napas.
“Aku suka kamu.”
Dimas diam.
Bukan diam yang kejam.
Diam karena ia tidak ingin salah memilih kata.
Maya buru-buru berkata, “Aku tahu kita nggak dekat banget. Aku juga nggak minta apa-apa. Cuma… aku ngerasa kalau nggak bilang, aku malah makin mikir.”
Dimas menatapnya.
“Terima kasih sudah bilang.”
Maya menunggu.
Dimas melanjutkan.
“Aku senang ngobrol sama kamu. Tapi aku tidak merasakan hal yang sama secara romantis.”
Maya mengangguk cepat.
“Oke.”
“Aku nggak mau kasih jawaban yang bikin kamu menunggu sesuatu yang mungkin nggak ada.”
“Iya.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.”
Maya tersenyum.
Senyumnya terlalu cepat.
“Aku malah lega.”
Dimas tidak mengatakan bahwa ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Ia hanya berkata, “Kalau kamu butuh ruang, aku ngerti.”
Maya mengangguk.
“Oke.”
Ia masuk.
Di dapur, Sari melihat wajahnya.
Maya mengangkat satu jempol.
“Ditolak secara profesional.”
Sari langsung memeluknya.
Maya tertawa di bahunya.
“Jangan baik-baik banget. Nanti aku nangis.”
“Ya sudah.”
“Jangan dilepas juga.”
Malam itu Maya tampak baik-baik saja.
Terlalu baik.
Ia ikut bercanda.
Makan.
Bahkan menertawakan Raka.
Masalah baru muncul keesokan siang.
Challenge kelompok mengharuskan delapan peserta menyelesaikan serangkaian tugas koordinasi. Salah satu tahap membutuhkan semua orang berdiri sesuai urutan berdasarkan jawaban personal tanpa berbicara.
Maya salah membaca instruksi.
Dimas mengoreksi.
Kirana ikut membantu.
Maya sudah lelah.
Salah satu jawaban Dimas terdengar terlalu datar.
Salah satu tawa Kirana terdengar terlalu ringan.
Tidak ada yang salah dari keduanya.
Tapi Maya sedang tidak punya ruang emosional untuk membedakan hal kecil dari hal besar.
“Ya udah!” katanya.
Semua berhenti.
Dimas menatapnya.
“Maya—”
“Aku tahu aku salah.”
“Bukan itu—”
“Aku bilang aku tahu.”
Fajar mencoba masuk.
“Kita reset aja.”
“Enggak usah semuanya ngatur.”
Suasana berubah.
Challenge masih berjalan.
Waktu terus berkurang.
Maya meninggalkan posisi dan duduk di sudut.
Game Master mengingatkan bahwa tahap masih aktif.
Maya tidak kembali.
Kelompok gagal menyelesaikan challenge.
Malamnya Saldo Update muncul.
SALDO SEBELUMNYA: Rp195.000.000
PENALTI KEGAGALAN CHALLENGE: -Rp10.000.000
SALDO BARU: Rp185.000.000
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Maya menatap layar.
Sepuluh juta.
Ia berdiri.
“Gue minta maaf.”
Sari hendak bicara, tapi Maya mengangkat tangan.
“Enggak. Biar gue.”
Ia melihat semua orang.
“Tadi gue emosi. Bukan karena challenge. Bukan karena kalian. Gue campur aduk semuanya.”
Ia melirik Dimas, lalu Kirana.
“Gue bikin masalah pribadi jadi masalah kelompok.”
Kirana membuka mulut.
Maya menggeleng.
“Gue tahu nggak ada yang salah sama kalian.”
Suaranya pecah sedikit.
“Dan sepuluh juta itu… gila.”
Reza menatap meja.
Tara menyentuh lengannya supaya ia tidak menghitung keras.
Maya berkata, “Maaf.”
Dimas menjawab dulu.
“Gue terima.”
Fajar mengangguk.
Sari juga.
Raka berkata, “Gue marah karena sepuluh juta. Tapi gue juga tahu kita semua bisa punya hari jelek.”
Maya menatapnya.
“Gue nggak mau itu jadi alasan.”
“Bagus,” kata Raka. “Karena gue juga nggak ngasih alasan.”
Nada suaranya tetap hangat.
“Cuma kasih konteks.”
Malam itu skor muncul.
Raka 86.
Sari 80.
Fajar 78.
Tara 77.
Reza 75.
Kirana 74.
Dimas 73.
Maya—
37
Ruangan hening.
Monitor berubah.
MAYA — ZONA BAHAYA
Maya menunduk.
Game Master menjelaskan prosedur.
“Maya memiliki satu periode evaluasi penuh. Jika pada evaluasi berikutnya skor mencapai empat puluh atau lebih, status Zona Bahaya dicabut. Jika tetap di bawah empat puluh, produksi akan melakukan review eliminasi.”
Raka menatap monitor.
“Jadi besok malam?”
“Sekitar dua puluh empat jam.”
Maya mengangguk.
“Oke.”
Game Master menambahkan, “Tim welfare tersedia jika diperlukan.”
“Terima kasih.”
Setelah pengumuman selesai, semua orang tidak tahu harus berkata apa.
Maya berdiri.
“Aku mau tidur dulu.”
Sari hendak ikut.
Maya menggeleng.
“Sendiri dulu.”
Ia masuk kamar.
Tidak ada tangisan dramatis.
Tidak ada pintu dibanting.
Hanya suara pintu yang menutup pelan.
Dan tujuh orang yang tersisa di ruang keluarga, sadar bahwa untuk pertama kalinya, salah satu dari mereka benar-benar bisa pergi bukan karena memilih cinta.
Tapi karena kehilangan dirinya sendiri di tengah permainan.
Bab 8 — Dua Puluh Empat Jam
Pagi berikutnya Maya tidak keluar untuk sarapan.
Sari mengetuk pintu.
“Boleh masuk?”
“Boleh.”
Maya duduk di tepi kasur.
Rambutnya berantakan.
“Gue tahu semua orang mau bantu,” katanya.
Sari duduk di samping.
“Tapi?”
“Kalau gue keluar kamar cuma buat naikin skor, rasanya palsu.”
Sari mengangguk.
“Ya jangan keluar buat skor.”
Maya menatapnya.
“Keluar karena lapar.”
Maya tertawa kecil.
Itu cukup.
Ia keluar sepuluh menit kemudian.
Tidak ada yang menyambut berlebihan.
Raka hanya mendorong piring roti ke arahnya.
“Yang gosong punya Dimas.”
Dimas menoleh.
“Itu punya kamu.”
“Fitnah.”
Maya duduk.
Kirana memberikan selai.
“Yang stroberi aman.”
Maya mengangguk.
“Thanks.”
Hari itu tidak ada challenge besar.
Produksi memberi aktivitas rumah biasa: merapikan ruang, memasak siang, menyiapkan talent night kecil.
Maya tidak tiba-tiba berubah menjadi pusat energi.
Ia tetap lebih diam.
Tapi ia membantu Sari memotong sayur.
Kemudian membantu Tara menyusun perlengkapan.
Ketika Reza salah menyebut takaran tepung, Maya mengoreksi.
Kecil.
Biasa.
Tidak heroik.
Siang menjelang sore, Dimas mendekatinya di taman.
“Boleh ngobrol?”
Maya tersenyum miring.
“Sekarang kebalik.”
Dimas duduk dengan jarak aman.
“Gue cuma mau bilang satu hal.”
Maya menunggu.
“Penolakan gue kemarin bukan penilaian terhadap lo.”
Maya melihat rumput.
“Gue tahu.”
“Secara kepala mungkin.”
“Secara kepala.”
Dimas mengangguk.
Maya menarik napas.
“Gue malu bukan cuma karena ditolak.”
“Karena challenge?”
“Karena gue tahu gue marah ke orang yang nggak salah.”
Dimas diam.
“Dan karena satu bagian kecil dari gue,” lanjut Maya, “kesal lihat lo gampang banget sama Kirana.”
Dimas berkedip.
“Gampang?”
Maya tertawa kecil.
“Kalian berantem tiap hari.”
“Betul.”
“Itu justru.”
Dimas menatap ke arah teras.
Kirana sedang berdebat dengan Raka tentang urutan lagu talent night.
Ia tidak menjawab.
Maya melihat reaksinya.
“Oh.”
“Apanya oh?”
“Enggak.”
“Maya.”
“Gue lagi Zona Bahaya. Jangan bikin gue buka storyline orang lain.”
Dimas menutup mulut.
Untuk pertama kali dalam dua hari, Maya tertawa sungguhan.
Malam talent night ternyata kacau.
Raka melakukan stand-up set yang hampir seluruh materinya tentang kamera robot.
Tara membacakan “laporan keuangan fiktif villa”.
Reza membuat presentasi tanpa slide tentang bagaimana orang boros gula.
Fajar menyanyi cukup baik hingga semua orang kaget.
Sari membaca puisi pendek.
Kirana melakukan imitasi peserta.
Ketika meniru Dimas, ia berdiri kaku dan berkata, “Secara teknis, perasaan adalah data yang belum tervalidasi.”
Dimas menatapnya.
“Saya tidak pernah bilang itu.”
“Belum.”
Maya tampil terakhir.
Ia menyanyikan satu lagu sederhana tanpa musik.
Suaranya sempat bergetar.
Tidak sempurna.
Tapi selesai.
Semua bertepuk tangan.
Maya membungkuk.
“Kalau skor gue turun karena nada terakhir, gue protes.”
Raka berdiri.
“Nada terakhirnya punya visi.”
Malam itu evaluasi muncul.
Maya memegang tangannya sendiri di bawah meja.
Skor dibacakan dari yang tertinggi.
Raka tetap 85.
Sari 82.
Tara 80.
Fajar 79.
Reza 78.
Kirana 77.
Dimas 76.
Maya—
58
Maya menatap layar.
Ia tidak langsung bereaksi.
Monitor berubah.
ZONA BAHAYA DICABUT
Sari memeluknya.
Raka bertepuk tangan.
Kirana menepuk meja.
Maya menutup wajah.
“Lima puluh delapan?”
Game Master menjawab, “Benar.”
“Naik dua puluh satu?”
“Benar.”
“Kenapa?”
“Tim penilai melihat perkembangan yang autentik: menerima konsekuensi, meminta maaf, kembali berkontribusi, menjaga batas, dan tidak menjadikan penolakan sebagai pusat identitas.”
Maya menelan ludah.
“Jadi bukan karena nyanyi?”
“Penampilan Anda cukup baik.”
Raka memukul meja.
“Game Master roasting peserta.”
Maya tertawa sambil menyeka mata.
Malam itu, ia tidak menjadi orang paling bahagia di villa.
Ia masih malu.
Masih sedih.
Masih harus tidur satu rumah dengan orang yang menolaknya.
Tapi ia aman.
Dan lebih penting, ia tahu bahwa ceritanya tidak selesai hanya karena seseorang tidak memilihnya.
Bab 9 — Menurut Data
Pada hari keenam belas, produksi membuka sebagian hasil analisis kompatibilitas pra-acara.
Semua peserta duduk di ruang utama.
Monitor menampilkan grafik tanpa angka detail.
Game Master berkata, “Kami akan menunjukkan beberapa kecenderungan. Ini bukan perintah. Bukan prediksi final.”
Pasangan pertama muncul.
FAJAR — SARI
KOMPATIBILITAS: SANGAT TINGGI
Raka berdiri.
“HA!”
Sari menutup wajah.
Fajar tertawa kecil.
Kirana menunjuk mereka.
“Tujuh tahun buka warung!”
Game Master melanjutkan.
“Nilai hidup, pola komunikasi, dan cara menyelesaikan masalah kalian termasuk yang paling selaras.”
Fajar menatap Sari.
“Masuk akal.”
Sari tersenyum.
“Sayangnya terdengar tidak romantis.”
“Betul.”
Pasangan lain muncul.
Beberapa cukup masuk akal.
Beberapa mengejutkan.
Kemudian Dimas dan Kirana.
KOMPATIBILITAS: MENENGAH
Kirana menoleh ke Dimas.
“Menengah?”
Dimas mengangguk.
“Masuk akal.”
“Kok masuk akal?”
“Kita beda banyak hal.”
“Contoh?”
“Kamu menaruh mug sembarangan.”
“Itu nilai hidup?”
“Bagi saya.”
Semua tertawa.
Game Master berkata, “Dimas dan Kirana bukan salah satu pasangan yang paling diunggulkan produksi.”
Raka menatap kamera.
“Data nggak pernah lihat mereka lipat handuk.”
Kirana melempar bantal.
Fajar dan Sari menerima hasil mereka dengan santai.
Terlalu santai.
Malamnya mereka duduk di teras.
“Kamu terganggu?” tanya Sari.
“Enggak.”
“Sedikit?”
Fajar berpikir.
“Bukan terganggu. Cuma… lucu.”
“Karena semua orang sekarang punya bukti?”
“Bukti kita cocok.”
Sari menatap kebun.
“Kita memang cocok.”
“Iya.”
“Tapi…”
“Ya.”
Mereka tertawa.
Sari berkata, “Ini aneh. Kalau dilihat dari luar, semua ada.”
“Nyambung.”
“Iya.”
“Nyaman.”
“Iya.”
“Nilai hidup mirip.”
“Iya.”
“Tapi nggak ada—”
Fajar mencari kata.
Sari membantu.
“Tarikan?”
“Kayaknya.”
Sari mengangguk.
“Kayak teman yang sangat tepat.”
Fajar tersenyum.
“Itu buruk?”
“Enggak.”
Di dalam villa, Dimas sedang mencuci gelas.
Kirana berdiri di sebelahnya.
“Menengah.”
“Kamu masih mikirin?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Enggak tahu.”
Dimas menaruh gelas di rak.
“Kalau datanya tinggi, apa berubah?”
Kirana diam.
“Enggak.”
“Kalau rendah?”
“Juga enggak.”
“Berarti?”
Kirana menatapnya.
“Kamu nyebelin kalau logis.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Sudah saya terima.”
Kirana tertawa.
Lalu ia mengambil lap.
Mereka berdiri berdampingan tanpa banyak bicara.
Tidak ada musik.
Tidak ada momen besar.
Hanya rutinitas kecil yang sudah terbentuk.
Kirana mengeringkan gelas.
Dimas menaruhnya di rak.
Tangan mereka sempat bersentuhan.
Keduanya berhenti.
Kirana buru-buru berkata, “Menengah.”
Dimas menatapnya.
Lalu tertawa.
Bukan senyum tipis.
Tertawa benar-benar.
Kirana memandangnya seperti baru menemukan fitur tersembunyi.
“Eh. Kamu bisa.”
“Apa?”
“Ketawa normal.”
Dimas menggeleng.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Kirana masuk confession room dan berkata:
“Gue nggak tahu ini apa.”
Ia berpikir.
“Yang jelas kalau dia Sweet Exit sama orang lain, gue bakal kesel.”
Ia menatap kamera.
“Ini informasi buruk.”
Bab 10 — Celah
Reza dan Tara tidak berusaha menyembunyikan strategi.
Itulah yang membuat orang lain bingung harus marah atau kagum.
Mereka selalu memilih kerja sama bila challenge memungkinkan.
Mereka saling mengingatkan jadwal.
Membantu menjaga interaksi.
Kalau salah satu terlalu diam, yang lain menarik ke percakapan.
Kalau salah satu mulai terlalu fokus pada angka, yang lain menghentikan.
“Secara teknis,” kata Reza saat makan malam, “kami cuma partner.”
“Secara teknis,” sahut Raka, “kalian pasangan menikah paling stabil di villa.”
Tara menyeruput sup.
“Tidak ada unsur romantis.”
“Justru itu yang bikin stabil.”
Sari tertawa.
Perdebatan serius muncul setelah challenge Strategi Rumah Tangga.
Peserta diminta mengelola anggaran fiktif rumah selama satu tahun: sewa, listrik, makanan, dana darurat, hiburan, bantuan keluarga, transportasi, dan tabungan.
Reza dan Tara menghancurkan semua tim lain.
Mereka menyusun anggaran dalam dua belas menit.
“Dana darurat enam bulan,” kata Tara.
“Setuju.”
“Bantuan keluarga harus ada pos sendiri.”
“Setuju.”
“Hiburan jangan nol. Kalau nol, anggaran nggak realistis.”
Reza menatapnya.
“Kita cocok.”
“Secara spreadsheet.”
“Level tertinggi kompatibilitas.”
Mereka menang.
Malamnya skor keduanya naik.
Reza 84.
Tara 86.
Raka melihat monitor.
“Nah.”
“Apa?” tanya Tara.
“Ini bukti kalian menemukan cheat code.”
Reza menaruh tangan di meja.
“Cheat code itu kalau melanggar.”
“Kalian memanfaatkan sistem.”
“Kami memanfaatkan aturan yang tersedia.”
Fajar ikut bicara.
“Pertanyaannya bukan melanggar atau enggak.”
“Terus?” kata Tara.
“Apakah kalian masih ikut acara ini buat benar-benar membuka kemungkinan hubungan?”
Reza diam.
Tara menjawab lebih dulu.
“Gue datang karena hadiah dan karena penasaran.”
“Sekarang?”
“Masih.”
“Kalau ada orang yang cocok?”
Tara melihat sekeliling.
“Ya gue pertimbangkan.”
Kirana menunjuk Reza.
“Termasuk dia?”
Tara menatap Reza.
Reza menatapnya balik.
Ada jeda.
“Pertimbangan administratif,” kata Tara.
Semua tertawa.
Tapi setelah tawa selesai, Reza berkata, “Gue nggak mau pura-pura cinta cuma supaya storyline bagus.”
Raka mengangguk.
“Itu fair.”
“Dan gue juga nggak mau pura-pura uang nggak penting.”
Ruangan lebih sunyi.
Reza melanjutkan.
“Gue tahu beberapa orang bisa bilang, kalau cinta ya uang nggak ada artinya. Buat gue itu omong kosong.”
Tidak ada yang memotong.
“Uang ada artinya. Banyak. Kalau gue bisa pulang bawa tiga puluh juta, empat puluh juta, itu konkret.”
Tara menambahkan, “Dan memilih uang bukan berarti hati kita mati.”
Maya mengangguk kecil.
Reza menatap Tara.
“Kalau nanti ternyata ada sesuatu antara gue dan Tara, ya itu masalah lain.”
Tara menoleh.
“Masalah?”
“Variabel lain.”
“Lebih buruk.”
“Faktor tambahan.”
“Stop.”
Raka bersandar.
“Pasangan finansial gagal flirting.”
Game Master tiba-tiba berbicara dari speaker.
“Untuk kejelasan: strategi Reza dan Tara tidak melanggar aturan.”
Reza mengangkat tangan seperti menang sidang.
Game Master melanjutkan.
“Selama tidak ada pemalsuan hubungan, sabotase, atau manipulasi yang merugikan peserta lain, kerja sama strategis diperbolehkan.”
Kirana mendesah.
“Legit.”
“Legit,” kata Tara.
Malam itu, Reza dan Tara duduk di tangga belakang.
“Gue serius tadi,” kata Reza.
“Bagian mana?”
“Kalau ada sesuatu.”
Tara memandangnya.
“Kamu merasa ada?”
Reza menghela napas.
“Gue merasa hidup sama lo mungkin efisien.”
Tara tertawa sampai hampir menumpahkan teh.
“Itu pernyataan cinta terburuk yang pernah gue dengar.”
“Makanya bukan pernyataan cinta.”
“Syukurlah.”
Reza ikut tertawa.
Setelah itu mereka diam.
Tara berkata, “Gue juga nggak tahu.”
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Berarti datanya belum cukup.”
Tara menepuk lengannya.
“Kamu memang nggak bisa ditolong.”
Tapi tangannya tinggal di sana sepersekian detik lebih lama.
Keduanya menyadari.
Keduanya memilih tidak membahas.
Celah sistem ternyata lebih mudah dianalisis daripada celah kecil di antara dua orang yang mulai tidak yakin apakah hubungan mereka masih murni strategi.
Bab 11 — Hampir
Fajar dan Sari mulai lelah dianggap pasangan.
Bukan karena mereka tidak suka satu sama lain.
Justru karena mereka sangat suka.
Sebagai teman.
Masalahnya, seluruh villa tidak percaya.
“Kalian denial,” kata Kirana.
“Tidak,” jawab Sari.
“Data tinggi.”
“Data juga bilang Dimas sama kamu menengah.”
Kirana diam.
“Argumen ditarik.”
Fajar tertawa.
Namun hasil kompatibilitas membuat Fajar mulai berpikir.
Bagaimana kalau mereka memang melewatkan sesuatu?
Bagaimana kalau rasa aman yang mereka punya adalah bentuk cinta yang lebih tenang?
Bagaimana kalau mereka terlalu terbiasa dengan drama masa lalu sehingga hubungan sehat terasa seperti tidak ada percikan?
Malam itu ia mengajak Sari bicara.
Mereka duduk di meja makan setelah semua orang tidur.
“Sar.”
“Hm?”
“Pernah kepikiran Sweet Exit?”
Sari tidak langsung menjawab.
“Dengan siapa?”
Fajar menatapnya.
Sari tersenyum kecil.
“Oh.”
“Gue serius.”
“Gue tahu.”
Fajar mengusap meja.
“Gue nggak yakin.”
“Bagus pembukaannya.”
“Maksud gue… kalau ternyata kita punya sesuatu dan cuma terlalu takut nyoba?”
Sari melihatnya lama.
“Lo ngerasa ada sesuatu?”
“Gue merasa kita cocok.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya.”
Fajar menghembuskan napas.
“Gue nyaman sama lo. Gue percaya sama lo. Gue bisa bayangin tetap berteman setelah ini.”
“Semua itu benar.”
“Terus kenapa gue kepikiran?”
“Karena semua orang bilang.”
“Bisa jadi.”
“Karena data bilang.”
“Bisa jadi.”
“Karena akhir makin dekat.”
Fajar mengangguk.
Sari meletakkan kedua tangan di meja.
“Kalau kita Sweet Exit, kita mengubah persahabatan ini jadi eksperimen romantis.”
“Ya.”
“Kalau gagal?”
“Kita tanggung.”
“Kalau enggak dicoba?”
“Mungkin kita nyesel.”
Sari terdiam.
Mereka berbicara hampir satu jam.
Tidak dramatis.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada pengakuan cinta tersembunyi.
Justru itu yang membuat keputusan mereka sulit.
Mereka benar-benar cocok.
Mungkin di dunia lain, dengan waktu lain, rasa itu bisa tumbuh.
Tapi malam itu mereka belum punya alasan yang cukup untuk meninggalkan uang dan memaksa hubungan mengambil bentuk yang belum terasa alami.
Akhirnya Sari berkata, “Gue nggak mau jatuh cinta karena takut melewatkan kesempatan.”
Fajar tersenyum.
“Gue juga.”
“Kalau nanti di luar ada sesuatu?”
“Kita nggak boleh tukeran kontak kalau bukan Sweet Exit.”
Mereka terdiam.
“Itu bagian menyebalkan,” kata Sari.
Fajar mengangguk.
“Tapi gue tetap nggak mau paksa.”
Sari mengulurkan tangan.
“Teman?”
Fajar menjabat.
“Teman.”
Di pintu dapur, Raka muncul.
“Gue nggak nguping.”
Mereka menoleh.
Kamera di belakang Raka berputar ke arahnya.
Raka menatap kamera.
“Jangan.”
Sari tertawa.
“Kamu dengar berapa banyak?”
“Cukup buat tahu tidak ada Sweet Exit.”
Fajar menunjuk lorong.
“Pergi.”
Raka mundur.
“Baik. Tapi sebagai penonton internal, saya kecewa dan bangga sekaligus.”
Pagi berikutnya, mereka memberi tahu yang lain.
Kirana tampak kecewa.
Maya justru tersenyum.
“Masuk akal.”
Reza berkata, “Secara finansial—”
Tara menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Tidak.”
Game Master tidak memberi komentar.
Tidak ada Saldo Update.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada penalti.
Hanya dua orang dewasa yang memilih tidak mengubah kedekatan menjadi cinta hanya karena semua indikator mengatakan mereka seharusnya cocok.
Dan ternyata itu juga sebuah keputusan.
Bab 12 — Orang yang Tidak Diprediksi
Dimas dan Kirana mulai menyadari hubungan mereka ketika orang lain sudah lelah menyadarinya lebih dulu.
Itu bermula dari hal sederhana.
Kirana sakit kepala ringan setelah kurang tidur.
Tim medis memeriksa.
Tidak serius.
Ia diminta istirahat.
Dimas tidak panik.
Ia hanya mengambil air, mematikan lampu ruang santai, dan berkata pada Raka supaya mengecilkan suara.
“Kenapa kamu nurut?” tanya Raka.
“Karena dia sakit kepala.”
“Bukan itu. Kenapa gue nurut?”
Dimas menatapnya.
“Karena saya minta.”
Raka mengangguk.
“Menyeramkan.”
Kirana tidur hampir dua jam.
Ketika bangun, ada teh hangat di meja.
Ia menatap Dimas.
“Kamu bikin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu biasanya minum teh sore.”
Kirana diam.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Rasanya salah?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Diam.”
Dimas menurut.
Kirana memegang mug sambil menatap ke arah lain.
Malam itu, di confession room, ia berkata:
“Ini masalah.”
Produksi bertanya, “Apa?”
“Dia hafal teh gue.”
“Apakah itu masalah?”
“Buat saya, iya.”
Di confession room lain, Dimas mendapat pertanyaan serupa.
“Apakah Anda tertarik pada Kirana?”
Dimas diam cukup lama.
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Saya tidak tahu.”
“Apakah Anda mempertimbangkan Sweet Exit?”
Dimas menatap kamera.
“Itu pertanyaan yang mahal.”
Saldo saat itu telah naik sedikit setelah dua challenge sukses.
Rp190.000.000
Enam peserta potensial tersisa bila dua orang melakukan Sweet Exit: Raka, Maya, Fajar, Sari, Reza, Tara.
Bagi Dimas dan Kirana, memilih keluar berarti menyerahkan kemungkinan puluhan juta.
Mereka membicarakannya malam berikutnya.
Tidak romantis.
Mereka duduk di lantai dapur karena semua kursi sedang dipakai untuk persiapan challenge.
“Kita suka satu sama lain?” tanya Kirana.
Dimas menatapnya.
“Cara kamu tanya kayak cek stok.”
“Aku gugup.”
“Iya.”
Kirana menghembuskan napas.
“Aku juga.”
“Baik.”
“Baik doang?”
“Apa respons yang tepat?”
“Kamu bisa bilang sesuatu yang manusia.”
Dimas berpikir.
“Kamu bikin rumah ini lebih berisik.”
Kirana menatapnya.
“Ini buruk.”
“Tapi kalau kamu nggak ada, terlalu sepi.”
Kirana terdiam.
“Oh.”
Dimas melanjutkan.
“Saya suka rutinitas sama kamu.”
“Lipat handuk?”
“Termasuk.”
“Mug?”
“Tidak termasuk.”
Kirana tertawa.
“Dimas.”
“Ya?”
“Aku suka kamu juga.”
Diam.
Kemudian Game Master tiba-tiba berbicara dari speaker dapur.
“Pengingat: area dapur tetap direkam.”
Kirana menengadah.
“PAK.”
Dimas menutup wajah.
Kamera zoom.
Kirana menunjuk.
“Jangan.”
Kamera tetap.
Mereka tertawa sampai hampir menangis.
Tapi setelah itu pembicaraan serius kembali.
“Sweet Exit?” kata Kirana.
Dimas memandang layar kecil saldo di ujung ruangan.
“Belum.”
Kirana mengangguk.
“Belum.”
Bukan karena ragu pada rasa.
Karena uang masih penting.
Dan justru karena hubungan mereka mulai terasa nyata, mereka tidak ingin mengambil keputusan besar hanya demi simbol romantis.
Mereka menunggu.
Bukan lama.
Hanya cukup untuk tahu bahwa mereka bukan sedang terbawa suasana.
Bab 13 — Uang atau Cinta
Final week diumumkan pada hari kedua puluh empat.
Tersisa delapan peserta di villa.
Arga dan Naya sudah pergi.
Tidak ada eliminasi.
Maya selamat dari Zona Bahaya.
Saldo berada di:
Rp194.000.000
Setelah beberapa challenge sukses, sebagian kerugian berhasil dipulihkan.
Game Master menjelaskan final.
“Peserta yang bertahan sampai akhir akan menerima bagian jackpot sesuai mekanisme final yang akan diumumkan setelah batas Sweet Exit terakhir.”
Reza langsung duduk lebih tegak.
“Batas?”
“Sweet Exit terakhir dapat diajukan sampai besok pukul dua puluh satu.”
Semua menoleh ke Dimas dan Kirana.
Kirana berkata, “Kenapa semua lihat kita?”
Raka menjawab, “Karena Fajar-Sari sudah rapat direksi.”
Sari melempar bantal.
Dimas dan Kirana tidak membahasnya di depan orang lain.
Mereka pergi ke taman malam itu.
Udara dingin.
Kabut lebih tebal daripada minggu pertama.
Kirana berkata, “Kalau kita stay, kita dapat uang.”
“Iya.”
“Kalau delapan orang, sekitar dua puluh empat juta lebih kalau rata.”
“Kalau mekanisme akhirnya rata.”
“Banyak.”
“Banyak.”
“Bisa banget dipakai.”
“Iya.”
Kirana menatap tangannya.
“Gue takut kedengarannya bodoh.”
“Apa?”
“Keluar.”
Dimas tidak menjawab.
Kirana melanjutkan.
“Arga dan Naya dulu kelihatan yakin. Kita tuh… kita.”
“Definisi yang kuat.”
“Diam.”
Dimas tersenyum.
Kirana menatap kebun.
“Aku suka kamu. Tapi aku juga suka dua puluh empat juta.”
“Sama.”
Kirana menoleh.
“Kamu suka aku atau dua puluh empat juta?”
“Dua-duanya.”
“Bagus.”
Mereka diam.
Dimas akhirnya berkata, “Aku nggak bisa jamin kita berhasil di luar.”
“Aku juga.”
“Aku nggak tahu nama asli kamu.”
“Aku juga nggak tahu nama asli kamu.”
“Aku nggak tahu hidup kita cocok secara praktis.”
Kirana mengangkat alis.
“Data bilang menengah.”
“Jangan pakai itu.”
“Katanya kamu suka data.”
“Tidak sekarang.”
Kirana tersenyum.
Dimas melanjutkan.
“Tapi gue tahu gue mau kesempatan buat tahu.”
Kirana menatapnya.
“Walaupun kehilangan uang?”
Dimas menarik napas.
“Ini bagian yang menyebalkan.”
“Jawab.”
“Iya.”
Kirana tertawa kecil sambil menutup wajah.
“Gila.”
“Kita belum daftar.”
“Kamu mau?”
Dimas menatapnya.
“Gue mau.”
Kirana terdiam.
Lalu mengangguk.
“Ya udah.”
“Ya udah?”
“Aku juga.”
Mereka mengajukan Sweet Exit pukul 20.12.
Villa meledak.
Raka berteriak.
Maya memeluk Kirana.
Fajar menepuk bahu Dimas.
Sari menangis sambil tertawa.
Reza memegang kepalanya.
Tara langsung menunjuk.
“Jangan hitung.”
“Saya manusia biasa.”
“Jangan.”
Raka berjalan keliling.
“Data menengah! Data menengah menang!”
Game Master berkata, “Data tidak sedang berkompetisi.”
“Pak, biarkan saya punya momen.”
Prosedur welfare dilakukan.
Mereka dipisahkan.
Ditanya ulang.
Diberi waktu.
Keduanya tetap memilih keluar.
Pagi finalisasi, monitor menampilkan:
SWEET EXIT DISETUJUI
DIMAS + KIRANA
Kirana menatap layar.
“Ya ampun.”
Dimas berdiri di sampingnya.
Raka memeluk Dimas tanpa izin.
“Gue bangga sama robot.”
“Lepas.”
“Tidak.”
Kirana memeluk Maya.
Maya berbisik, “Gue beneran senang buat lo.”
Kirana memegang tangannya.
“Thank you.”
Tidak ada kecanggungan.
Tidak ada luka lama yang harus diulang.
Maya sudah cukup jauh dari titik itu.
Sebelum keluar, Dimas melihat label wadah gula yang masih ada.
GULA — BUKAN GARAM. DEMI KEAMANAN NASIONAL.
Ia melepas label itu.
Kirana melihat.
“Kenapa?”
“Souvenir.”
“Kamu curi properti produksi.”
“Secara teknis ini kertas.”
“Masih aja.”
Mereka keluar sambil tertawa.
8 → 6 peserta.
Pintu menutup.
Raka menatap enam kursi yang tersisa.
“Wah.”
Final dimulai malam itu.
Game Master mengumumkan mekanisme jackpot: setelah penyesuaian akhir, saldo Rp194.000.000 dibagi rata kepada enam peserta yang bertahan.
Rp32.333.333 per peserta, dengan penyesuaian administrasi sesuai aturan pembayaran produksi.
Reza menutup mata.
“Nyaris tiga puluh dua setengah.”
Tara tertawa.
“Sekarang boleh hitung.”
Raka menatap angka bagiannya.
Ia tidak punya pasangan.
Tidak Sweet Exit.
Tidak romance besar.
Tapi skor akhirnya tertinggi kedua.
Sari dan Fajar tetap sahabat.
Maya berdiri dengan kepala tegak.
Reza dan Tara masih tidak punya label.
Dan tidak satu pun dari mereka tampak kalah.
Game Master mengumumkan skor akhir.
Raka berada di posisi teratas.
Raka berdiri di atas sofa.
“SAYA MENANG TANPA CINTA.”
“Bukan menang,” kata Game Master.
“Saya menang secara spiritual.”
Maya tertawa.
Saldo final selesai.
Enam orang mendapatkan uang.
Dua pasangan meninggalkan uang.
Tidak ada jawaban tunggal.
Acara bernama Uang atau Cinta ternyata gagal memaksa mereka memilih kategori yang rapi.
Ada yang memilih cinta.
Ada yang memilih uang.
Ada yang memilih persahabatan.
Ada yang memilih diri sendiri.
Ada yang memilih sesuatu yang belum punya nama.
Dan mungkin itulah satu-satunya hasil yang produksi benar-benar harapkan.
Bab 14 — Epilog
Acara mulai tayang empat bulan kemudian.
Barulah mereka tahu apa yang publik lihat.
Raka menjadi favorit penonton dalam dua episode.
Potongan videonya berkata, “Saya ingin berterima kasih kepada daun bawang,” menyebar di media sosial.
Ia dikirimi meme dirinya sendiri oleh teman-teman yang akhirnya tahu ia ikut acara.
“Ini penghinaan,” katanya di grup chat alumni peserta.
Tara membalas:
Enggak. Branding.
Reza mengirim spreadsheet berisi estimasi nilai endorsement.
Tara:
Kamu sakit.
Reza:
Terstruktur.
Arga dan Naya masih bersama.
Tidak sempurna.
Tidak seperti di villa.
Di luar, ada pekerjaan.
Macet.
Jadwal.
Keluarga.
Hari ketika salah satu terlalu lelah untuk bicara.
Hari ketika chemistry tidak terasa seperti adegan televisi.
Tapi mereka mencoba.
Suatu malam, Naya mengirim foto dua gelas kopi ke grup.
Raka membalas:
Target flirting saya bahagia. Saya ikhlas.
Naya:
Empat bulan masih bahas itu.
Raka:
Konten abadi.
Fajar dan Sari menjadi bahan perdebatan netizen.
Ada tagar kecil yang meminta mereka pacaran.
Sari mengirim screenshot.
Orang-orang yakin kita denial.
Fajar:
Kita?
Sari:
Jangan mulai.
Mereka tetap tidak jadian.
Mereka juga tetap tidak sepenuhnya menutup kemungkinan masa depan.
Bukan karena produksi.
Bukan karena data.
Hanya karena manusia kadang tidak perlu memberi label pada semua kemungkinan sekaligus.
Maya mendapat pesan paling banyak dari penonton yang pernah ditolak.
Ia tidak membacanya semua.
Produksi membantunya mengelola dampak penayangan.
Satu komentar ia simpan:
“Terima kasih karena nggak langsung hilang setelah ditolak.”
Maya menatap kalimat itu cukup lama.
Dulu ia pikir bagian paling memalukan dari acara adalah mengaku suka seseorang yang tidak memilihnya.
Ternyata bukan.
Bagian paling memalukan adalah ketika ia kehilangan kontrol dan membuat orang lain membayar akibat emosinya.
Dan bagian paling berharga bukan ketika skor naik.
Melainkan hari ketika ia bisa duduk satu meja dengan Dimas dan Kirana tanpa merasa dirinya kalah.
Reza dan Tara menjadi pasangan paling diperdebatkan.
Sebagian penonton menyebut mereka genius.
Sebagian menyebut mereka terlalu transaksional.
Sebagian yakin mereka sebenarnya jatuh cinta dan tidak mau mengaku.
Reza mengirim screenshot komentar:
“Mereka menikah juga nanti bahas ROI.”
Tara membalas:
Lucu.
Reza:
Tidak salah.
Tara:
Kita tidak menikah.
Reza:
Saya bicara hipotetis.
Tara:
Kamu masalah.
Mereka masih sering bicara.
Tidak setiap hari.
Tidak punya label.
Kadang makan bersama.
Kadang membahas pekerjaan.
Kadang membahas uang.
Sekali, setelah makan malam, Tara bertanya, “Ini kencan?”
Reza menjawab, “Apakah definisinya harus ditentukan sebelum pembayaran?”
Tara tertawa.
“Belum berubah.”
Dimas dan Kirana ternyata juga tidak berubah.
Mereka sekarang tahu nama asli masing-masing.
Tahu pekerjaan secara lebih jelas.
Tahu kota asal.
Tahu keluarga.
Tahu kebiasaan buruk yang tidak terlihat di villa.
Dan tetap bertengkar soal barang rumah.
Suatu Minggu sore, Kirana datang ke apartemen Dimas dan mendapati rak dapurnya punya label.
GULA
Kirana menatap.
“Mana lanjutannya?”
Dimas membuka laci.
Ia mengeluarkan potongan kertas lama yang sudah dilaminasi kecil.
BUKAN GARAM. DEMI KEAMANAN NASIONAL.
Kirana berhenti.
“Kamu laminating?”
“Supaya awet.”
“Kamu sadar ini romantis?”
“Secara teknis—”
“Jangan.”
Dimas tertawa.
Kirana mengambil foto label itu.
Ia tidak mengunggahnya.
Beberapa hal tidak perlu jadi konten.
Pada malam episode final tayang, delapan dari sepuluh peserta berkumpul di rumah sewaan produksi untuk menonton bersama.
Arga dan Naya datang terlambat.
Dimas dan Kirana berdebat soal parkir.
Fajar membawa makanan.
Sari membawa sambal tambahan.
Maya membawa dessert.
Reza dan Tara datang dengan satu tas berisi enam jenis camilan karena mereka membandingkan harga lebih dulu.
Raka datang tanpa apa-apa.
“Kontribusi saya suasana.”
“Skor kamu sudah tidak dinilai,” kata Tara.
“Karakter tidak berhenti hanya karena sistem berhenti.”
Ketika adegan Sweet Exit Dimas dan Kirana tayang, semua orang berteriak lagi seolah belum pernah melihatnya.
Kirana menutup wajah.
“Kenapa editing-nya gini?”
Dimas berkata, “Bagus.”
“Kamu diam.”
Di layar, versi mereka beberapa bulan lalu berjalan keluar dari villa.
Versi sekarang duduk berdempetan di sofa.
Tidak ada Game Master yang memberi skor.
Tidak ada saldo.
Tidak ada batas empat puluh.
Tidak ada kamera robot yang mengikuti setiap reaksi.
Meski malam itu ada kamera dokumentasi produksi di sudut, mereka hampir lupa.
Ketika episode selesai, layar televisi menampilkan tagline acara:
Kalau menemukan cinta, lepaskan uang. Kalau tidak menemukan cinta, setidaknya pulang membawa uang.
Raka membaca keras-keras.
“Masih kurang satu.”
“Apa?” tanya Maya.
Raka menunjuk semua orang di ruangan.
“Kalau menemukan teman?”
Sari tersenyum.
“Pulang bawa grup chat berisik.”
“Lebih mahal dari uang,” kata Raka.
Reza langsung menjawab, “Tidak.”
Semua tertawa.
Malam semakin larut.
Satu per satu mereka pulang.
Tidak ada kru yang mengatur urutan.
Tidak ada tantangan besok pagi.
Tidak ada evaluasi.
Tidak ada siapa pun yang memberi nilai untuk percakapan mereka.
Dan mungkin itu bagian paling aneh setelah semua ini:
hidup kembali tanpa skor.
Tanpa saldo yang menyala di dinding.
Tanpa algoritma yang mengatakan siapa paling kompatibel.
Tanpa Game Master yang mengingatkan kapan harus memilih.
Di villa, data pernah menemukan kemungkinan.
Acara mempertemukan mereka.
Uang memaksa mereka jujur tentang apa yang penting.
Cinta membuat sebagian dari mereka cukup gila untuk pergi.
Persahabatan membuat sebagian yang lain bertahan.
Tapi setelah kamera berhenti, tidak ada sistem yang bisa mengatakan apakah keputusan mereka benar.
Mereka hanya harus menjalaninya.
Seperti semua orang lain.
Dengan uang yang tetap berguna.
Dengan cinta yang tetap berisiko.
Dengan harga diri yang kadang terluka.
Dengan teman yang kadang menyebalkan.
Dan dengan beberapa pilihan yang baru terasa masuk akal setelah dipilih.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar