Minggu, 12 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #13

CHAPTER


Kencan Pertama yang Terlalu Banyak Salah Tingkah**


Arga berdiri di depan rumah Naya.


Jam di HP: **15.00**

Jam di hati Arga: **PANIK**


Tas selempang di dada.

Isinya: dompet, HP, **komik romantis (nyempil, darurat emosional)**.


> “Ini cuma kencan,” gumam Arga.

> “Bukan final drama.”


Pintu terbuka.


Naya keluar.


Sederhana. Kaos, jaket tipis, rambut diikat.


Arga langsung nge-freeze.


> *“PANEL BUNGA. EFEK GLOW. INI BAHAYA.”*


---


### **Kesalahan Pertama: Terlalu Formal**


Arga refleks membungkuk.


> “Selamat sore.”


Naya:


> “…kita mau kencan atau wawancara kerja?”


Arga panik.


> “Maaf, kebiasaan minta maaf.”


---


### **Naik Motor: Adegan yang Tidak Ada di Komik**


Arga naik motor duluan.


Naya naik…

terus bingung mau pegangan ke mana.


> “Aku pegang jaket kamu ya?”

> “Boleh—eh—iya—atau—”


Naya akhirnya **megang tas Arga**.


Tasnya kebuka sedikit.


Komik jatuh.


*PLAK.*


Sunyi.


Naya menunduk.


> “…ini?”


Arga ingin mati sosial.


> “Itu… referensi hidup.”


Naya memungut komiknya.


> “Lucu.”


> “Lucu?”

> “Iya. Cowok baca komik cinta tapi kelihatan kayak mau ujian nasional.”


---


### **Tujuan Kencan: Tempat yang Salah**


Arga berhenti di depan…

**toko alat tulis**.


Naya menatap papan toko.


> “Kita mau beli pulpen?”


Arga berkeringat.


> “Aku kira ini kafe.”


> “Itu kafe sebelah,” kata Naya sambil menunjuk.


Arga:


> “…aku kebiasaan salah baca tanda-tanda.”


---


### **Di Kafe: Duduk Terlalu Jauh**


Mereka duduk.


Arga duduk **kepanjangan jaraknya**.


Naya menggeser kursinya mendekat.


> “Aku nggak gigit.”


Arga refleks:


> “Aku yang sering kegigit perasaan.”


---


### **Minuman Datang, Masalah Dimulai**


Pelayan:


> “Pesanannya?”


Arga gugup.


> “Yang… manis tapi nggak bikin sakit.”


Pelayan:


> “…es teh?”


Arga:


> “Iya.”


Naya tertawa.


Saat minum, Arga tersedak.


Naya refleks menepuk punggungnya.


Dalam kepala Arga:


> *“INI ADEGAN KOMIK. AKAN ADA ROMANTIS.”*


Di dunia nyata:


Arga batuk keras.


> “UHUK—MAAF—SALAH NAPAS—”


Romantis: **batal**.


---


### **Percakapan Jujur Tapi Absurd**


Naya akhirnya berkata:


> “Kamu tahu nggak kenapa aku mau kencan sama kamu?”


Arga tegang.


> “Karena aku baik?”


> “Karena kamu lucu tanpa niat.”


Arga mikir.


> “Itu pujian atau peringatan?”


> “Dua-duanya.”


---


### **Momen Hampir Romantis (Lagi)**


Sore makin gelap.


Lampu kafe nyala.


Naya menatap Arga.


> “Kamu masih takut?”


Arga jujur.


> “Masih.”


> “Kabur?”

> “Enggak.”


Arga mengangkat komiknya.


> “Aku bawa ini… tapi aku pengen bikin cerita sendiri.”


Naya tersenyum hangat.


> “Pelan-pelan aja.”


---


### **Ending Kencan: Gagal Tapi Berhasil**


Di depan rumah Naya.


Sunyi canggung.


Arga menggaruk kepala.


> “Kencan ini… aneh.”


Naya tertawa kecil.


> “Iya.”


> “Tapi…” Arga menelan ludah.

> “Aku seneng.”


Naya membuka helm.


> “Aku juga.”


Mereka saling menatap.


Arga maju setengah langkah…

lalu berhenti.


> “Aku belum berani.”


Naya tersenyum.


> “Nggak apa-apa. Kamu nggak kabur.”


Itu cukup.


---


### **Epilog Mini**


Di rumah, Arga buka komik.


Panel terakhir.


Biasanya: ciuman.


Arga menutup buku.


> “Nanti aja.”


HP-nya bunyi.


Pesan dari Naya:


> *Kencan kedua kapan? Jangan ke toko alat tulis lagi.*


Arga senyum lebar.


---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar