CHAPTER
Kencan Pertama yang Terlalu Banyak Salah Tingkah**
Arga berdiri di depan rumah Naya.
Jam di HP: **15.00**
Jam di hati Arga: **PANIK**
Tas selempang di dada.
Isinya: dompet, HP, **komik romantis (nyempil, darurat emosional)**.
> “Ini cuma kencan,” gumam Arga.
> “Bukan final drama.”
Pintu terbuka.
Naya keluar.
Sederhana. Kaos, jaket tipis, rambut diikat.
Arga langsung nge-freeze.
> *“PANEL BUNGA. EFEK GLOW. INI BAHAYA.”*
---
### **Kesalahan Pertama: Terlalu Formal**
Arga refleks membungkuk.
> “Selamat sore.”
Naya:
> “…kita mau kencan atau wawancara kerja?”
Arga panik.
> “Maaf, kebiasaan minta maaf.”
---
### **Naik Motor: Adegan yang Tidak Ada di Komik**
Arga naik motor duluan.
Naya naik…
terus bingung mau pegangan ke mana.
> “Aku pegang jaket kamu ya?”
> “Boleh—eh—iya—atau—”
Naya akhirnya **megang tas Arga**.
Tasnya kebuka sedikit.
Komik jatuh.
*PLAK.*
Sunyi.
Naya menunduk.
> “…ini?”
Arga ingin mati sosial.
> “Itu… referensi hidup.”
Naya memungut komiknya.
> “Lucu.”
> “Lucu?”
> “Iya. Cowok baca komik cinta tapi kelihatan kayak mau ujian nasional.”
---
### **Tujuan Kencan: Tempat yang Salah**
Arga berhenti di depan…
**toko alat tulis**.
Naya menatap papan toko.
> “Kita mau beli pulpen?”
Arga berkeringat.
> “Aku kira ini kafe.”
> “Itu kafe sebelah,” kata Naya sambil menunjuk.
Arga:
> “…aku kebiasaan salah baca tanda-tanda.”
---
### **Di Kafe: Duduk Terlalu Jauh**
Mereka duduk.
Arga duduk **kepanjangan jaraknya**.
Naya menggeser kursinya mendekat.
> “Aku nggak gigit.”
Arga refleks:
> “Aku yang sering kegigit perasaan.”
---
### **Minuman Datang, Masalah Dimulai**
Pelayan:
> “Pesanannya?”
Arga gugup.
> “Yang… manis tapi nggak bikin sakit.”
Pelayan:
> “…es teh?”
Arga:
> “Iya.”
Naya tertawa.
Saat minum, Arga tersedak.
Naya refleks menepuk punggungnya.
Dalam kepala Arga:
> *“INI ADEGAN KOMIK. AKAN ADA ROMANTIS.”*
Di dunia nyata:
Arga batuk keras.
> “UHUK—MAAF—SALAH NAPAS—”
Romantis: **batal**.
---
### **Percakapan Jujur Tapi Absurd**
Naya akhirnya berkata:
> “Kamu tahu nggak kenapa aku mau kencan sama kamu?”
Arga tegang.
> “Karena aku baik?”
> “Karena kamu lucu tanpa niat.”
Arga mikir.
> “Itu pujian atau peringatan?”
> “Dua-duanya.”
---
### **Momen Hampir Romantis (Lagi)**
Sore makin gelap.
Lampu kafe nyala.
Naya menatap Arga.
> “Kamu masih takut?”
Arga jujur.
> “Masih.”
> “Kabur?”
> “Enggak.”
Arga mengangkat komiknya.
> “Aku bawa ini… tapi aku pengen bikin cerita sendiri.”
Naya tersenyum hangat.
> “Pelan-pelan aja.”
---
### **Ending Kencan: Gagal Tapi Berhasil**
Di depan rumah Naya.
Sunyi canggung.
Arga menggaruk kepala.
> “Kencan ini… aneh.”
Naya tertawa kecil.
> “Iya.”
> “Tapi…” Arga menelan ludah.
> “Aku seneng.”
Naya membuka helm.
> “Aku juga.”
Mereka saling menatap.
Arga maju setengah langkah…
lalu berhenti.
> “Aku belum berani.”
Naya tersenyum.
> “Nggak apa-apa. Kamu nggak kabur.”
Itu cukup.
---
### **Epilog Mini**
Di rumah, Arga buka komik.
Panel terakhir.
Biasanya: ciuman.
Arga menutup buku.
> “Nanti aja.”
HP-nya bunyi.
Pesan dari Naya:
> *Kencan kedua kapan? Jangan ke toko alat tulis lagi.*
Arga senyum lebar.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar