Sabtu, 11 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #12

*CHAPTER 12 (FINAL)


Cowok yang Berhenti Kabur**


Langit sore itu mendung.


Bukan hujan.

Bukan cerah.


Kayak perasaan Arga.


---


### **Pertemuan yang Tidak Seperti di Komik**


Arga duduk di bangku taman sekolah.


Tangannya berkeringat.

Komik favoritnya ada di tas…

tapi **tidak dia keluarkan**.


Langkah kaki terdengar.


Naya datang.


Tidak marah.

Tidak senyum.


Netral.


Itu lebih menakutkan.


> “Kamu mau ngomong apa?” tanya Naya.


Arga berdiri.

Menarik napas panjang.


> “Aku minta maaf.”


Pendek.

Tulus.


> “Aku nggak benci kamu.

> Aku takut sama perasaanku sendiri.”


Naya menyilangkan tangan.


> “Kenapa aku harus percaya?”


Arga menelan ludah.


> “Karena ini pertama kalinya aku nggak kabur.”


---


### **Pengakuan yang Berantakan Tapi Jujur**


Arga tertawa kecil, gugup.


> “Aku cowok aneh.

> Aku gampang baper.

> Aku suka baca komik romantis.”


Naya mengangkat alis.


> “Aku tahu.”


> “Dan setiap ada momen mirip komik, aku panik.

> Aku pikir kalau aku tinggal… aku bakal sakit lagi.”


Arga menatap Naya langsung.


> “Tapi waktu kamu jatuh di panggung…

> aku sadar, kabur juga nyakitin.”


Sunyi.


Naya menarik napas.


> “Kamu tahu aku nangis karena apa?”


Arga menggeleng.


> “Bukan karena jatuh.

> Tapi karena kupikir aku nggak cukup bikin kamu tinggal.”


Kalimat itu membuat dada Arga sesak.


---


### **Komedi Kecil di Tengah Jujur**


Arga refleks berkata:


> “Kamu cukup. Aku yang kepo kebanyakan.”


Naya terkekeh kecil.


> “Itu bukan kalimat romantis.”


> “Maaf. Aku biasa nyontek dari komik.”


Naya akhirnya tersenyum.


Sedikit.

Tapi nyata.


---


### **Pernyataan yang Tidak Sempurna**


Arga menghela napas.


> “Aku suka kamu.”


Tanpa metafora.

Tanpa panel bunga.


> “Dan aku takut… tapi aku mau belajar nggak lari.”


Naya menatapnya lama.


Lalu berkata pelan:


> “Aku nggak butuh cowok sempurna.”


Dia melangkah lebih dekat.


> “Aku cuma butuh cowok yang nggak ninggalin aku pas panik.”


Arga mengangguk cepat.


> “Aku bisa janji itu.”


> “Jangan janji,” potong Naya.

> “Bukti.”


Arga tersenyum gugup.


> “Oke… mulai sekarang.”


---


### **Akhir yang Tidak Seperti Komik, Tapi Lebih Baik**


Naya duduk di bangku.

Arga duduk di sampingnya.


Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada hujan pas.


Hanya dua orang…

yang memilih tinggal.


> “Komik kamu biasanya ending-nya gimana?” tanya Naya.


Arga berpikir.


> “Cowoknya berani.

> Ceweknya nunggu.”


Naya menyenggol bahunya.


> “Kalau di dunia nyata?”


Arga tersenyum.


> “Cowoknya masih takut…

> tapi nggak kabur.”


---


### **Epilog Komedi**


Seminggu kemudian.


Arga dan Naya jalan bareng di koridor.


Bisik-bisik terdengar.


> “Itu pacarnya ya?”

>

> “Kayaknya.”

>

> “Loh, bukannya dia trauma?”


Arga refleks melirik Naya panik.


Naya mengangkat alis.


> “Mau kabur?”


Arga menarik napas…

lalu tetap jalan.


> “Enggak.”


Naya tersenyum lebar.


Di tas Arga, komik romantis masih ada.


Bedanya…

kali ini dia tidak hidup di sana.


---


**TAMAT.**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar