*CHAPTER 12 (FINAL)
Cowok yang Berhenti Kabur**
Langit sore itu mendung.
Bukan hujan.
Bukan cerah.
Kayak perasaan Arga.
---
### **Pertemuan yang Tidak Seperti di Komik**
Arga duduk di bangku taman sekolah.
Tangannya berkeringat.
Komik favoritnya ada di tas…
tapi **tidak dia keluarkan**.
Langkah kaki terdengar.
Naya datang.
Tidak marah.
Tidak senyum.
Netral.
Itu lebih menakutkan.
> “Kamu mau ngomong apa?” tanya Naya.
Arga berdiri.
Menarik napas panjang.
> “Aku minta maaf.”
Pendek.
Tulus.
> “Aku nggak benci kamu.
> Aku takut sama perasaanku sendiri.”
Naya menyilangkan tangan.
> “Kenapa aku harus percaya?”
Arga menelan ludah.
> “Karena ini pertama kalinya aku nggak kabur.”
---
### **Pengakuan yang Berantakan Tapi Jujur**
Arga tertawa kecil, gugup.
> “Aku cowok aneh.
> Aku gampang baper.
> Aku suka baca komik romantis.”
Naya mengangkat alis.
> “Aku tahu.”
> “Dan setiap ada momen mirip komik, aku panik.
> Aku pikir kalau aku tinggal… aku bakal sakit lagi.”
Arga menatap Naya langsung.
> “Tapi waktu kamu jatuh di panggung…
> aku sadar, kabur juga nyakitin.”
Sunyi.
Naya menarik napas.
> “Kamu tahu aku nangis karena apa?”
Arga menggeleng.
> “Bukan karena jatuh.
> Tapi karena kupikir aku nggak cukup bikin kamu tinggal.”
Kalimat itu membuat dada Arga sesak.
---
### **Komedi Kecil di Tengah Jujur**
Arga refleks berkata:
> “Kamu cukup. Aku yang kepo kebanyakan.”
Naya terkekeh kecil.
> “Itu bukan kalimat romantis.”
> “Maaf. Aku biasa nyontek dari komik.”
Naya akhirnya tersenyum.
Sedikit.
Tapi nyata.
---
### **Pernyataan yang Tidak Sempurna**
Arga menghela napas.
> “Aku suka kamu.”
Tanpa metafora.
Tanpa panel bunga.
> “Dan aku takut… tapi aku mau belajar nggak lari.”
Naya menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
> “Aku nggak butuh cowok sempurna.”
Dia melangkah lebih dekat.
> “Aku cuma butuh cowok yang nggak ninggalin aku pas panik.”
Arga mengangguk cepat.
> “Aku bisa janji itu.”
> “Jangan janji,” potong Naya.
> “Bukti.”
Arga tersenyum gugup.
> “Oke… mulai sekarang.”
---
### **Akhir yang Tidak Seperti Komik, Tapi Lebih Baik**
Naya duduk di bangku.
Arga duduk di sampingnya.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada hujan pas.
Hanya dua orang…
yang memilih tinggal.
> “Komik kamu biasanya ending-nya gimana?” tanya Naya.
Arga berpikir.
> “Cowoknya berani.
> Ceweknya nunggu.”
Naya menyenggol bahunya.
> “Kalau di dunia nyata?”
Arga tersenyum.
> “Cowoknya masih takut…
> tapi nggak kabur.”
---
### **Epilog Komedi**
Seminggu kemudian.
Arga dan Naya jalan bareng di koridor.
Bisik-bisik terdengar.
> “Itu pacarnya ya?”
>
> “Kayaknya.”
>
> “Loh, bukannya dia trauma?”
Arga refleks melirik Naya panik.
Naya mengangkat alis.
> “Mau kabur?”
Arga menarik napas…
lalu tetap jalan.
> “Enggak.”
Naya tersenyum lebar.
Di tas Arga, komik romantis masih ada.
Bedanya…
kali ini dia tidak hidup di sana.
---
**TAMAT.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar