## **BONUS SCENE
Romantis Palsu yang Terlalu Sempurna**
Sore itu, Arga dan Naya duduk di halte taman.
Angin sepoi-sepoi.
Langit oranye.
Vibe… **berbahaya**.
Naya menopang dagu.
> “Kok kamu kelihatan mikir keras?”
Arga menatap jauh ke depan.
Suaranya berubah.
Tenang. Dalam. Puitis.
> “Ada kalanya, seseorang hadir bukan untuk dimiliki…
> tapi untuk mengajarkan kita arti pulang.”
Naya:
> “…?”
Arga menoleh pelan ke Naya.
> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”
Naya membeku.
Jantungnya:
**DUK. DUK. DUK.**
> “Arga…”
> “Hm?”
> “Kamu kenapa tiba-tiba…”
Arga tersenyum lembut.
> “Karena aku sadar… aku tidak butuh cerita lain. Aku cukup di halaman ini.”
Naya:
**KELEPEK.**
Dia menutup mulut.
> “Itu… itu manis banget…”
Arga mengangguk pelan, mantap.
> “Aku ingin tetap tinggal. Bersamamu.”
Sunyi.
Angin lewat.
Burung lewat.
Perasaan Naya naik ke langit ketujuh.
---
### **KEBONGKAR**
Naya menarik napas, matanya berbinar.
> “Arga…”
Tiba-tiba…
**HP Arga bunyi.**
*BEEP.*
Notifikasi.
Arga refleks melirik layar.
Naya ikut melirik.
Di layar, jelas:
**Judul:** *“Cinta di Musim Gugur – Chapter 47”*
**Subjudul:** *Dialog Pengakuan Tokoh Utama*
Naya:
> “…itu?”
Arga panik.
> “Itu—eh—referensi emosional.”
Naya merebut HP-nya.
Membaca.
Pelan.
Lalu membaca keras-keras:
> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”
Naya menatap Arga.
Hening.
Lama.
---
### **HUKUMAN SOSIAL RINGAN**
Naya tertawa keras.
> “ARGA.”
Arga menutup wajah.
> “Aku nggak niat nipu…”
> “Kamu BARUSAN BACAIN DIALOG KOMIK KE AKU?”
Arga mengangguk kecil.
> “…iya.”
Naya:
> “Aku hampir pingsan tahu.”
> “MAAF.”
---
### **PENEBUSAN JUJUR**
Naya mengembalikan HP.
> “Sekarang ganti.”
Arga menatapnya.
> “Ganti?”
> “Ngomong pakai kata kamu sendiri.”
Arga gugup.
Menggaruk kepala.
> “Aku… nggak sepintar tokoh komik.”
Naya tersenyum.
> “Nggak apa-apa.”
Arga menatap Naya.
> “Aku nyaman sama kamu.”
> “Aku sering takut.”
> “Tapi tiap sama kamu… aku pengen nyoba.”
Pendek.
Tidak puitis.
Naya tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
> “Nah.”
> “Itu yang bikin aku kelepek beneran.”
---
### **ENDING ABSURD**
Bus datang.
Mereka berdiri.
Arga refleks berkata:
> “Aku suka kamu.”
Naya:
> “Itu komik?”
Arga cepat:
> “BUKAN.”
Naya tertawa dan meraih tangannya.
> “Bagus.”
Di tas Arga, komik itu bergeser.
Seolah berkata:
> *“Santai. Kamu sudah bisa tanpa aku.”*
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar