Selasa, 14 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #15

## **BONUS SCENE


Romantis Palsu yang Terlalu Sempurna**


Sore itu, Arga dan Naya duduk di halte taman.


Angin sepoi-sepoi.

Langit oranye.

Vibe… **berbahaya**.


Naya menopang dagu.


> “Kok kamu kelihatan mikir keras?”


Arga menatap jauh ke depan.


Suaranya berubah.


Tenang. Dalam. Puitis.


> “Ada kalanya, seseorang hadir bukan untuk dimiliki…

> tapi untuk mengajarkan kita arti pulang.”


Naya:


> “…?”


Arga menoleh pelan ke Naya.


> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”


Naya membeku.


Jantungnya:

**DUK. DUK. DUK.**


> “Arga…”

> “Hm?”


> “Kamu kenapa tiba-tiba…”


Arga tersenyum lembut.


> “Karena aku sadar… aku tidak butuh cerita lain. Aku cukup di halaman ini.”


Naya:

**KELEPEK.**


Dia menutup mulut.


> “Itu… itu manis banget…”


Arga mengangguk pelan, mantap.


> “Aku ingin tetap tinggal. Bersamamu.”


Sunyi.


Angin lewat.


Burung lewat.


Perasaan Naya naik ke langit ketujuh.


---


### **KEBONGKAR**


Naya menarik napas, matanya berbinar.


> “Arga…”


Tiba-tiba…

**HP Arga bunyi.**


*BEEP.*


Notifikasi.


Arga refleks melirik layar.


Naya ikut melirik.


Di layar, jelas:


**Judul:** *“Cinta di Musim Gugur – Chapter 47”*

**Subjudul:** *Dialog Pengakuan Tokoh Utama*


Naya:


> “…itu?”


Arga panik.


> “Itu—eh—referensi emosional.”


Naya merebut HP-nya.


Membaca.


Pelan.


Lalu membaca keras-keras:


> “Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa… dunia berhenti sebentar.”


Naya menatap Arga.


Hening.


Lama.


---


### **HUKUMAN SOSIAL RINGAN**


Naya tertawa keras.


> “ARGA.”


Arga menutup wajah.


> “Aku nggak niat nipu…”


> “Kamu BARUSAN BACAIN DIALOG KOMIK KE AKU?”


Arga mengangguk kecil.


> “…iya.”


Naya:


> “Aku hampir pingsan tahu.”


> “MAAF.”


---


### **PENEBUSAN JUJUR**


Naya mengembalikan HP.


> “Sekarang ganti.”


Arga menatapnya.


> “Ganti?”


> “Ngomong pakai kata kamu sendiri.”


Arga gugup.


Menggaruk kepala.


> “Aku… nggak sepintar tokoh komik.”


Naya tersenyum.


> “Nggak apa-apa.”


Arga menatap Naya.


> “Aku nyaman sama kamu.”

> “Aku sering takut.”

> “Tapi tiap sama kamu… aku pengen nyoba.”


Pendek.

Tidak puitis.


Naya tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.


> “Nah.”

> “Itu yang bikin aku kelepek beneran.”


---


### **ENDING ABSURD**


Bus datang.


Mereka berdiri.


Arga refleks berkata:


> “Aku suka kamu.”


Naya:


> “Itu komik?”


Arga cepat:


> “BUKAN.”


Naya tertawa dan meraih tangannya.


> “Bagus.”


Di tas Arga, komik itu bergeser.


Seolah berkata:


> *“Santai. Kamu sudah bisa tanpa aku.”*


---



Tidak ada komentar:

Posting Komentar