Selasa, 07 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #8

 **CHAPTER 8


Saat Dunia Memaksa Mendekat**


Arga percaya satu hal:


Kalau dia cukup sering kabur,

mungkin dunia akan capek ngejar.


Ternyata dunia itu **bandel**.


---


### **Pengumuman yang Menghancurkan Strategi Kabur**


Jam terakhir, guru Seni Budaya masuk dengan wajah terlalu semangat.


> “Anak-anak, untuk festival sekolah, kita akan menampilkan **drama**.”


Kelas langsung ribut.


> “YES!”

>

> “Aduh, malu!”

>

> “Bu, boleh jadi pohon aja nggak?”


Guru tersenyum kejam.


> “Pemeran utama sudah ibu tentukan.”


Arga langsung nunduk.


> “Arga Pradana.”


Kepalanya terangkat pelan.


> “Saya, Bu?”


> “Dan… Naya.”


Sunyi.


Sunyi yang **tidak sehat**.


Rani menunduk.

Maya menatap ke depan, rahangnya mengeras.

Naya menoleh ke Arga… sebentar saja.


Arga membeku.


Dalam kepala:


> *“INI KONFLIK BESAR. INI BAB SEBELUM ENDING.”*


---


### **Reaksi yang Tidak Sinkron**


Saat bel berbunyi, Arga langsung berdiri.


Rencananya: **kabur sebelum realita nyusul**.


Tapi Naya berdiri di hadapannya.


> “Arga.”


Suaranya tenang. Terlalu tenang.


> “Kita harus latihan.”


Arga mengangguk cepat.


> “Iya. Tapi… nanti aja.”


Naya menatapnya lama.


> “Kamu selalu bilang ‘nanti’.”


Kalimat itu pelan, tapi berat.


Arga tidak sanggup membalas.


Dia pergi.


---


### **Maya Tidak Tinggal Diam**


Di lorong, Maya menyusul Arga.


Langkahnya cepat.


> “Kamu nggak bisa terus menghindar.”


Arga berhenti.


> “Aku nggak minta dipilih.”


Maya mendekat.


> “Tapi kamu juga nggak menolak.”


Arga terdiam.


Maya menarik napas.


> “Kalau kamu nggak mau Naya, bilang. Jangan gantung.”


Arga menatap lantai.


> “Aku… belum berani.”


Maya tersenyum miring.


> “Atau kamu cuma berani kalau aman?”


Kalimat itu **menampar**.


---


### **Latihan Drama Pertama (yang Aneh Banget)**


Latihan di aula.


Arga berdiri kaku.

Naya berdiri dua langkah di depannya.


Guru memberi naskah.


> “Adegan pertama, kalian bertemu dan saling menatap.”


Arga menelan ludah.


> “Tatapannya jangan kosong. Ini drama romantis.”


Arga menatap Naya.


Naya menatap balik.


Dan untuk pertama kalinya…

Arga **tidak kabur**.


Dadanya sesak.

Tangannya dingin.


Dalam kepala:


> *“Ini nyata. Ini bukan panel komik.”*


Guru bertepuk tangan.


> “Bagus. Teruskan.”


Arga ingin pingsan.


---


### **Komedi: Arga Salah Fokus**


Saat adegan dialog:


> **Naya (sesuai naskah):**

> “Aku menunggumu.”


Arga blank.


Dia spontan menjawab:


> “Aku… takut.”


Guru terdiam.


> “Itu bukan di naskah.”


Seluruh aula hening.


Arga panik.


> “Ma—maksud saya…”


Naya meliriknya.

Pelan, hampir tidak terdengar:


> “Jujur juga nggak apa-apa.”


Arga menatapnya.


Dan **itu** lebih berbahaya dari dialog romantis mana pun.


---


### **Jarak yang Dipaksa Menyempit**


Latihan selesai.


Arga duduk di tangga aula, capek mental.


Naya duduk di sampingnya, menjaga jarak satu orang.


> “Aku nggak akan ngejar kamu,” kata Naya pelan.

> “Tapi aku juga nggak mau pura-pura.”


Arga menggenggam tasnya.


> “Aku takut ngulang kesalahan.”


Naya mengangguk.


> “Aku juga takut. Tapi aku tetap datang.”


Sunyi.


Hangat.


Arga ingin bilang sesuatu…

tapi kata-katanya macet.


---


### **Akhir Chapter: Tidak Ada Jalan Mundur**


Di rumah, Arga membuka komik.


Panel terakhir bab itu:


> *‘Kadang, cerita memaksa kita sampai ke halaman berikutnya.’*


Arga menutup buku.


> “Aku dipaksa maju.”


Di sekolah, drama sudah berjalan.


Dan Arga tahu satu hal pasti:


**Kabur kali ini akan lebih sakit daripada tinggal.**


---


**END OF CHAPTER 8**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar