**CHAPTER 8
Saat Dunia Memaksa Mendekat**
Arga percaya satu hal:
Kalau dia cukup sering kabur,
mungkin dunia akan capek ngejar.
Ternyata dunia itu **bandel**.
---
### **Pengumuman yang Menghancurkan Strategi Kabur**
Jam terakhir, guru Seni Budaya masuk dengan wajah terlalu semangat.
> “Anak-anak, untuk festival sekolah, kita akan menampilkan **drama**.”
Kelas langsung ribut.
> “YES!”
>
> “Aduh, malu!”
>
> “Bu, boleh jadi pohon aja nggak?”
Guru tersenyum kejam.
> “Pemeran utama sudah ibu tentukan.”
Arga langsung nunduk.
> “Arga Pradana.”
Kepalanya terangkat pelan.
> “Saya, Bu?”
> “Dan… Naya.”
Sunyi.
Sunyi yang **tidak sehat**.
Rani menunduk.
Maya menatap ke depan, rahangnya mengeras.
Naya menoleh ke Arga… sebentar saja.
Arga membeku.
Dalam kepala:
> *“INI KONFLIK BESAR. INI BAB SEBELUM ENDING.”*
---
### **Reaksi yang Tidak Sinkron**
Saat bel berbunyi, Arga langsung berdiri.
Rencananya: **kabur sebelum realita nyusul**.
Tapi Naya berdiri di hadapannya.
> “Arga.”
Suaranya tenang. Terlalu tenang.
> “Kita harus latihan.”
Arga mengangguk cepat.
> “Iya. Tapi… nanti aja.”
Naya menatapnya lama.
> “Kamu selalu bilang ‘nanti’.”
Kalimat itu pelan, tapi berat.
Arga tidak sanggup membalas.
Dia pergi.
---
### **Maya Tidak Tinggal Diam**
Di lorong, Maya menyusul Arga.
Langkahnya cepat.
> “Kamu nggak bisa terus menghindar.”
Arga berhenti.
> “Aku nggak minta dipilih.”
Maya mendekat.
> “Tapi kamu juga nggak menolak.”
Arga terdiam.
Maya menarik napas.
> “Kalau kamu nggak mau Naya, bilang. Jangan gantung.”
Arga menatap lantai.
> “Aku… belum berani.”
Maya tersenyum miring.
> “Atau kamu cuma berani kalau aman?”
Kalimat itu **menampar**.
---
### **Latihan Drama Pertama (yang Aneh Banget)**
Latihan di aula.
Arga berdiri kaku.
Naya berdiri dua langkah di depannya.
Guru memberi naskah.
> “Adegan pertama, kalian bertemu dan saling menatap.”
Arga menelan ludah.
> “Tatapannya jangan kosong. Ini drama romantis.”
Arga menatap Naya.
Naya menatap balik.
Dan untuk pertama kalinya…
Arga **tidak kabur**.
Dadanya sesak.
Tangannya dingin.
Dalam kepala:
> *“Ini nyata. Ini bukan panel komik.”*
Guru bertepuk tangan.
> “Bagus. Teruskan.”
Arga ingin pingsan.
---
### **Komedi: Arga Salah Fokus**
Saat adegan dialog:
> **Naya (sesuai naskah):**
> “Aku menunggumu.”
Arga blank.
Dia spontan menjawab:
> “Aku… takut.”
Guru terdiam.
> “Itu bukan di naskah.”
Seluruh aula hening.
Arga panik.
> “Ma—maksud saya…”
Naya meliriknya.
Pelan, hampir tidak terdengar:
> “Jujur juga nggak apa-apa.”
Arga menatapnya.
Dan **itu** lebih berbahaya dari dialog romantis mana pun.
---
### **Jarak yang Dipaksa Menyempit**
Latihan selesai.
Arga duduk di tangga aula, capek mental.
Naya duduk di sampingnya, menjaga jarak satu orang.
> “Aku nggak akan ngejar kamu,” kata Naya pelan.
> “Tapi aku juga nggak mau pura-pura.”
Arga menggenggam tasnya.
> “Aku takut ngulang kesalahan.”
Naya mengangguk.
> “Aku juga takut. Tapi aku tetap datang.”
Sunyi.
Hangat.
Arga ingin bilang sesuatu…
tapi kata-katanya macet.
---
### **Akhir Chapter: Tidak Ada Jalan Mundur**
Di rumah, Arga membuka komik.
Panel terakhir bab itu:
> *‘Kadang, cerita memaksa kita sampai ke halaman berikutnya.’*
Arga menutup buku.
> “Aku dipaksa maju.”
Di sekolah, drama sudah berjalan.
Dan Arga tahu satu hal pasti:
**Kabur kali ini akan lebih sakit daripada tinggal.**
---
**END OF CHAPTER 8**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar