CHAPTER 6
Saat Nyaman Jadi Masalah Baru**
Arga melakukan satu kesalahan fatal.
Dia pikir setelah rahasianya terbongkar ke Naya, hidupnya akan **lebih tenang**.
Ternyata tidak.
Hidupnya jadi **lebih ribet**, tapi dengan perasaan hangat yang mencurigakan.
---
### **Efek Samping: Arga Jadi Lebih Sering Senyum**
Pagi itu, Arga masuk kelas sambil…
**senyum tipis**.
Bukan senyum lebar.
Bukan senyum bahagia.
Senyum kecil yang biasanya cuma muncul di panel terakhir komik.
Rani memperhatikan.
> “Kamu kelihatan beda,” katanya pelan.
Arga tersentak.
> “Hah? Beda gimana?”
Rani mengangkat bahu.
> “Lebih… ringan.”
Arga panik.
> *“KELIHATAN? INI BAHAYA.”*
---
### **Maya Mulai Bermain Terang-terangan**
Saat istirahat, Maya mendekati Arga di koridor.
Tanpa basa-basi.
> “Arga.”
Arga berhenti jalan.
> “Iya?”
Maya menatapnya lurus.
> “Aku suka kamu.”
Tidak ada musik.
Tidak ada hujan.
Tidak ada efek slow motion.
Justru itu yang bikin Arga **lemas**.
> “Aku nggak suka muter-muter,” lanjut Maya.
> “Dan aku nggak suka kalah.”
Arga menelan ludah.
> “Maya… aku—”
> “Tenang,” potong Maya.
> “Aku nggak minta jawaban sekarang.”
Dia melangkah mendekat setengah langkah.
> “Aku cuma mau kamu jujur sama dirimu sendiri.”
Lalu pergi.
Arga berdiri membeku.
Dalam kepala:
> *“INI BUKAN ADEGAN KOMIK. INI ADEGAN BOSS FIGHT.”*
---
### **Rani dan Kejujuran yang Terlambat**
Sore hari, Rani menyusul Arga ke taman sekolah.
Nada suaranya lebih pelan dari biasanya.
> “Arga… aku mau nanya.”
Arga berhenti.
> “Iya?”
Rani memainkan ujung tasnya.
> “Kamu pernah suka aku?”
Pertanyaan sederhana.
Efeknya seperti ujian hidup.
Arga jujur.
> “Pernah… mikir.”
Rani tersenyum tipis.
> “Aku juga.”
Sunyi.
Rani menghela napas.
> “Tapi kamu selalu kabur. Jadi aku kira… kamu main-main.”
Arga cepat menggeleng.
> “Aku bukan main-main. Aku cuma takut.”
Rani tertawa kecil, pahit.
> “Aku kalah sama ketakutanmu sendiri, ya?”
Kalimat itu **menancap**.
---
### **Arga Kalah oleh Kepalanya Sendiri**
Malam itu, Arga duduk di kamar, komik terbuka.
Adegan di komik:
cowok ragu.
cewek menunggu.
Arga menutup buku dengan kasar.
> “KENAPA SEMUA MIRIP.”
Flashback menyerbu:
* Salah tafsir
* Ditertawakan
* Ditinggal
Arga memeluk lutut.
> “Aku nggak siap…”
Tapi wajah Naya muncul di pikirannya.
Tenang.
Tidak memaksa.
Dan itu justru bikin goyah.
---
### **Komedi Salah Paham Level Sekolah**
Keesokan harinya, gosip meledak.
> “Katanya Arga ditolak Rani.”
>
> “Nggak, dia ditembak Maya.”
>
> “Fix playboy halus.”
Arga mendengar semuanya…
dan memilih solusi terbaik versi dia:
> **KABUR.**
Dia pura-pura sakit.
Izin pulang lebih awal.
Di gerbang sekolah, Naya melihat Arga pergi.
Dia tidak mengejar.
Tapi sore itu, dia mengirim pesan pertama kalinya.
> **Naya:**
> *“Kalau kamu lari terus, capek juga, ya?”*
Arga menatap layar lama.
Mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
> **Arga:**
> *“Iya.”*
Balasan Naya cepat.
> **Naya:**
> *“Aku di sini. Tapi aku nggak akan maksa.”*
Dan entah kenapa…
itu lebih menenangkan daripada janji apa pun.
---
### **Akhir Chapter: Goyah**
Arga berbaring di kasur.
Komik di sampingnya tertutup.
> “Aku pengen berani…”
>
> “Tapi aku belum bisa.”
Di sekolah, tiga cewek memikirkan Arga dengan cara berbeda.
Dan Arga?
Dia berdiri tepat di tengah:
antara trauma,
antara nyaman,
antara **lari atau tinggal**.
---
**END OF CHAPTER 6**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar