Minggu, 05 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #6

CHAPTER 6


Saat Nyaman Jadi Masalah Baru**


Arga melakukan satu kesalahan fatal.


Dia pikir setelah rahasianya terbongkar ke Naya, hidupnya akan **lebih tenang**.


Ternyata tidak.


Hidupnya jadi **lebih ribet**, tapi dengan perasaan hangat yang mencurigakan.


---


### **Efek Samping: Arga Jadi Lebih Sering Senyum**


Pagi itu, Arga masuk kelas sambil…

**senyum tipis**.


Bukan senyum lebar.

Bukan senyum bahagia.

Senyum kecil yang biasanya cuma muncul di panel terakhir komik.


Rani memperhatikan.


> “Kamu kelihatan beda,” katanya pelan.


Arga tersentak.


> “Hah? Beda gimana?”


Rani mengangkat bahu.


> “Lebih… ringan.”


Arga panik.


> *“KELIHATAN? INI BAHAYA.”*


---


### **Maya Mulai Bermain Terang-terangan**


Saat istirahat, Maya mendekati Arga di koridor.


Tanpa basa-basi.


> “Arga.”


Arga berhenti jalan.


> “Iya?”


Maya menatapnya lurus.


> “Aku suka kamu.”


Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Tidak ada efek slow motion.


Justru itu yang bikin Arga **lemas**.


> “Aku nggak suka muter-muter,” lanjut Maya.

> “Dan aku nggak suka kalah.”


Arga menelan ludah.


> “Maya… aku—”


> “Tenang,” potong Maya.

> “Aku nggak minta jawaban sekarang.”


Dia melangkah mendekat setengah langkah.


> “Aku cuma mau kamu jujur sama dirimu sendiri.”


Lalu pergi.


Arga berdiri membeku.


Dalam kepala:


> *“INI BUKAN ADEGAN KOMIK. INI ADEGAN BOSS FIGHT.”*


---


### **Rani dan Kejujuran yang Terlambat**


Sore hari, Rani menyusul Arga ke taman sekolah.


Nada suaranya lebih pelan dari biasanya.


> “Arga… aku mau nanya.”


Arga berhenti.


> “Iya?”


Rani memainkan ujung tasnya.


> “Kamu pernah suka aku?”


Pertanyaan sederhana.

Efeknya seperti ujian hidup.


Arga jujur.


> “Pernah… mikir.”


Rani tersenyum tipis.


> “Aku juga.”


Sunyi.


Rani menghela napas.


> “Tapi kamu selalu kabur. Jadi aku kira… kamu main-main.”


Arga cepat menggeleng.


> “Aku bukan main-main. Aku cuma takut.”


Rani tertawa kecil, pahit.


> “Aku kalah sama ketakutanmu sendiri, ya?”


Kalimat itu **menancap**.


---


### **Arga Kalah oleh Kepalanya Sendiri**


Malam itu, Arga duduk di kamar, komik terbuka.


Adegan di komik:

cowok ragu.

cewek menunggu.


Arga menutup buku dengan kasar.


> “KENAPA SEMUA MIRIP.”


Flashback menyerbu:


* Salah tafsir

* Ditertawakan

* Ditinggal


Arga memeluk lutut.


> “Aku nggak siap…”


Tapi wajah Naya muncul di pikirannya.

Tenang.

Tidak memaksa.


Dan itu justru bikin goyah.


---


### **Komedi Salah Paham Level Sekolah**


Keesokan harinya, gosip meledak.


> “Katanya Arga ditolak Rani.”

>

> “Nggak, dia ditembak Maya.”

>

> “Fix playboy halus.”


Arga mendengar semuanya…

dan memilih solusi terbaik versi dia:


> **KABUR.**


Dia pura-pura sakit.

Izin pulang lebih awal.


Di gerbang sekolah, Naya melihat Arga pergi.


Dia tidak mengejar.


Tapi sore itu, dia mengirim pesan pertama kalinya.


> **Naya:**

> *“Kalau kamu lari terus, capek juga, ya?”*


Arga menatap layar lama.


Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.


> **Arga:**

> *“Iya.”*


Balasan Naya cepat.


> **Naya:**

> *“Aku di sini. Tapi aku nggak akan maksa.”*


Dan entah kenapa…

itu lebih menenangkan daripada janji apa pun.


---


### **Akhir Chapter: Goyah**


Arga berbaring di kasur.


Komik di sampingnya tertutup.


> “Aku pengen berani…”

>

> “Tapi aku belum bisa.”


Di sekolah, tiga cewek memikirkan Arga dengan cara berbeda.


Dan Arga?


Dia berdiri tepat di tengah:

antara trauma,

antara nyaman,

antara **lari atau tinggal**.


---


**END OF CHAPTER 6**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar