*CHAPTER 5
Rahasia yang Tidak Ditertawakan**
Naya sebenarnya bukan tipe orang yang mudah kepikiran.
Kalau ada yang menghilang dari hidupnya, biasanya dia cuma mikir:
“Oh. Ya udah.”
Tapi entah kenapa…
Arga beda.
Sudut Pandang Naya: Cowok Aneh tapi Tidak Jahat
Naya duduk di bangku dekat jendela, menatap halaman sekolah.
Arga tidak kelihatan lagi.
Dia mengingat kejadian-kejadian kecil:
Cara Arga mengembalikan penghapus dengan dua tangan.
Cara dia panik tiap kali jarak terlalu dekat.
Cara dia kabur, bukan menghindar dengan dingin.
Dalam hati, Naya bergumam:
“Dia bukan nggak peduli… dia kayak takut.”
Temannya menyenggol.
“Kamu kepikiran Arga, ya?”
Naya menggeleng.
“Nggak.”
Lalu nambah pelan:
“…mungkin dikit.”
Takdir Bernama Perpustakaan (Lagi)
Siang itu, Naya ke perpustakaan.
Dan tentu saja…
Arga ada di sana.
Duduk di pojok.
Kepala agak menunduk.
Tas terbuka sedikit.
Naya melihat map cokelat itu.
Dia ragu.
Lalu mendekat.
“Arga.”
Arga kaget, hampir menjatuhkan bukunya.
“Eh—Naya.”
Sunyi sebentar.
Naya duduk.
“Kamu sering ke sini.”
Arga mengangguk.
“Tempat aman.”
Naya tersenyum kecil.
“Dari apa?”
Arga terdiam.
Jawaban jujurnya terlalu panjang.
Jawaban bohongnya terasa salah.
“Dari… ribut.”
Naya mengangguk, tidak mengejar.
Momen Nyaman yang Berbahaya
Mereka duduk berdampingan, masing-masing membaca.
Tidak bicara.
Dan itu… nyaman.
Arga sadar hal itu, lalu langsung panik.
Dalam kepala:
“STOP NYAMAN. NYAMAN ITU AWAL.”
Saat Arga hendak menutup tas, map cokelat itu jatuh.
Kali ini, tidak bisa diselamatkan.
Komik romantis meluncur keluar.
Judulnya terbaca jelas.
Hening.
Arga mematung.
Wajahnya merah.
“Aku bisa jelasin.”
Naya mengambil komik itu, membaca judulnya pelan.
“Aku Menyukaimu Sejak Kamu Salah Duduk…”
Arga menutup wajah.
“Tolong jangan ketawa.”
Reaksi yang Tidak Sesuai Ekspektasi Arga
Naya tidak tertawa.
Dia duduk kembali, membuka komik itu sebentar.
“Ini yang scene hujannya bagus, ya?”
Arga mengintip dari balik jarinya.
“Kamu… tahu?”
Naya mengangguk.
“Aku suka komik ginian juga.”
Arga terdiam.
Skenario terburuk di kepalanya:
diejek.
dipermalukan.
dijadikan bahan gosip.
Yang terjadi:
diterima.
Naya mengembalikan komik itu.
“Nggak ada yang salah.”
Arga menelan ludah.
“Cowok suka ginian… nggak aneh?”
Naya menggeleng.
“Aneh itu kalau pura-pura.”
Kalimat itu nempel.
Arga Tanpa Sadar Membuka Sedikit Luka
Arga tertawa kecil, canggung.
“Aku sering kabur… karena komik-komik ini bikin aku gampang kebawa perasaan.”
Naya menatapnya.
“Dan kamu takut?”
Arga mengangguk.
“Aku pernah sakit.”
Tidak detail.
Tidak dramatis.
Tapi jujur.
Naya tidak mengasihani.
“Makasih udah jujur.”
Arga kaget.
“Itu aja?”
Naya tersenyum.
“Iya. Aku nggak minta kamu berubah.”
Dan untuk pertama kalinya…
Arga tidak ingin kabur.
Papan Skor Salah Paham Berubah Arah
Dari jauh, Maya melihat mereka di perpustakaan.
Duduk berdampingan.
Tenang.
Dekat.
Maya menyipitkan mata.
“Oh…”
Rani juga melihat.
Hatinya sedikit turun.
“Jadi… aku salah paham?”
Malam yang Terlalu Hangat
Malam itu, Arga membaca komik.
Balon dialog:
‘Orang yang tepat tidak membuatmu takut.’
Arga menutup buku.
Tersenyum kecil.
“Masalahnya… aku masih takut.”
Tapi sekarang, untuk pertama kalinya…
takut itu tidak sendirian.
END OF CHAPTER 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar