## **CHAPTER 7
Cemburu yang Tidak Diakui**
Arga bangun pagi dengan satu perasaan aneh.
Bukan takut.
Bukan nyaman.
Tapi **tidak enak**.
Perasaan yang muncul saat kamu bilang “nggak apa-apa”, padahal jelas **apa-apa**.
---
### **Naya yang Berubah (Pelan Tapi Terasa)**
Di kelas, Arga langsung mencari satu sosok.
Bangku dekat jendela masih diisi Naya.
Tapi…
Dia tidak menoleh.
Tidak menyapa.
Tidak senyum kecil.
Bukan dingin.
Lebih tepatnya: **berjarak**.
Arga duduk, gelisah.
Dalam kepala:
> *“Aku salah apa?”*
Padahal dia tahu jawabannya.
---
### **Maya Masuk, Tanpa Rem**
Saat jam kosong, Maya menghampiri Arga.
Langsung duduk di mejanya.
> “Kamu kabur lagi kemarin.”
Nada suaranya bukan marah.
Lebih ke observasi.
Arga menggaruk kepala.
> “Aku pusing.”
Maya mencondongkan badan sedikit.
> “Aku bisa bikin kamu nggak pusing.”
Arga hampir jatuh dari kursi.
> “Maya…”
Maya tersenyum.
> “Aku serius. Aku jelas. Kamu nggak perlu nebak-nebak.”
Dan itu…
**menggoda**.
---
### **Rani Memilih Mundur**
Di koridor, Rani menyapa Arga untuk terakhir kalinya.
> “Arga.”
Arga menoleh.
> “Iya?”
Rani tersenyum tipis, tapi matanya capek.
> “Aku nggak mau jadi salah paham terus.”
Arga ingin bilang sesuatu…
tapi tidak ada kalimat yang cukup.
Rani menepuk lengannya.
> “Semoga kamu bahagia.”
Dan pergi.
Arga berdiri lama.
> *“Aku selalu kehilangan orang… karena aku diam.”*
---
### **Cemburu Datang Tanpa Undangan**
Sore itu, Arga melihat pemandangan yang bikin dadanya aneh.
Naya berdiri di depan kelas…
bersama cowok lain.
Mereka ngobrol.
Tertawa kecil.
Arga berhenti jalan.
Dalam kepala:
> *“Siapa dia?”*
Hatinya terasa sempit.
Lalu otaknya cepat-cepat menyela:
> *“Bukan urusanmu.”*
Tapi perasaan tidak mau dengar.
Arga berbalik arah.
Kabur.
---
### **Flashback Konyol yang Menampar**
Flashback muncul.
Sekolah lama.
Dia melihat cewek yang dia suka tertawa dengan cowok lain.
Dia diam.
Menunggu.
Kabur.
Ending-nya?
Dia ditinggal tanpa pernah tahu kenapa.
Arga memejamkan mata.
> “Aku ngulang lagi.”
---
### **Pesan yang Tidak Dibalas**
Malam itu, Arga membuka chat.
Pesan Naya kemarin masih ada.
Arga mengetik:
> *“Kamu kenapa?”*
Lalu menghapus.
Dia mengetik lagi:
> *“Maaf kalau aku bikin kamu…”*
Menghapus lagi.
Akhirnya, tidak terkirim apa pun.
Di sisi lain, Naya menatap layar juga.
Lama.
Lalu menaruh ponsel.
> “Kalau dia mau, dia akan bicara.”
---
### **Akhir Chapter: Semua Menunggu**
Arga duduk di kamar.
Komik terbuka di halaman terakhir.
Balon dialog:
> *‘Kadang, yang paling menakutkan bukan ditolak… tapi mencoba.’*
Arga menutup buku.
> “Aku takut dua-duanya.”
Dan di sekolah, jarak antara Arga dan Naya tidak jauh…
Tapi terasa **panjang sekali**.
---
**END OF CHAPTER 7**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar