Jumat, 10 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #11

CHAPTER 11


Setelah Kabur, Dunia Tidak Ikut Kabur**


Festival selesai dengan suasana… aneh.


Tepuk tangan ada.

Teriakan ada.

Tapi gosipnya **lebih kencang dari speaker aula**.


---


### **Naya: Nangis Tanpa Dramatis, Justru Lebih Sakit**


Di ruang ganti, Naya duduk sendirian.


Lututnya lecet sedikit.

Harga dirinya… lebih dari sedikit.


Dia menatap cermin.


> “Aku segitu nggak nyamannya ya buat kamu?” gumamnya.


Air matanya jatuh pelan.


Bukan karena jatuh di panggung.


Tapi karena ditinggal **setelah diselamatkan**.


Rani masuk pelan.


> “Kamu oke?”


Naya mengangguk, bohong.


> “Aku kelihatan oke?”


Rani duduk di sampingnya.


> “Arga itu… spesial. Dalam artian, bermasalah.”


Naya tertawa kecil di sela tangis.


> “Aku sadar sekarang.”


---


### **Maya: Kesal Tapi Jujur**


Di lorong belakang, Maya menyusul Arga ke atap.


Arga masih duduk, tatapannya kosong.


Maya tidak teriak.


Dia duduk.


Itu lebih menyeramkan.


> “Kamu tahu nggak,” kata Maya pelan,

> “kamu nyelametin orang, lalu ninggalin dia… itu lebih nyakitin daripada nggak ngapa-ngapain.”


Arga menutup wajah.


> “Aku panik…”


> “Bohong,” potong Maya.

> “Kamu **takut**.”


Sunyi.


> “Dan karena takutmu, Naya nangis.”


Kalimat itu menghantam lebih keras dari jatuhnya properti panggung.


---


### **Komedi Pahit: Interogasi Massal**


Guru seni memanggil Arga.


Di ruang guru, suasananya kayak sidang.


Guru seni.

Guru BK.

Wakasek.


Arga duduk kecil.


> “Kamu tahu kamu lari dari panggung itu bahaya?” tanya guru seni.


Arga mengangguk.


> “Kamu tahu kamu bikin lawan mainmu jatuh?”

> “Iya.”


> “Kamu tahu kamu bikin satu sekolah bingung?”

> “…iya.”


Guru BK menyandarkan badan.


> “Kamu tahu kenapa kamu begitu?”


Arga menjawab jujur:


> “Karena saya kebanyakan baca komik romantis.”


Semua:


> “…?”


Guru BK menahan senyum.


> “Kita bahas itu nanti.”


---


### **Flashback Terakhir: Luka Lama yang Belum Sembuh**


Malam itu, di kamar, Arga membuka komik.


Tangannya berhenti di satu panel lama.


Flashback sekolah lama.


Cewek yang pernah dekat…

ternyata cuma mau dekat dengan sahabat Arga yang ganteng.


> “Eh, kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”


Arga ingat senyumannya waktu itu.


Retak.


> “Sejak itu aku mikir… aku cuma batu loncatan.”


Arga menutup komik.


> “Aku capek kabur.”


---


### **Naya Mendengar Kebenaran**


Besoknya, Maya menemui Naya.


> “Aku nggak mau kamu salah paham,” kata Maya.


Dia menceritakan semuanya.


Tentang trauma.

Tentang komik.

Tentang kebiasaan Arga kabur.


Naya mendengarkan lama.


> “Jadi… dia bukan benci aku?”


Maya menggeleng.


> “Dia benci dirinya sendiri.”


Sunyi.


Naya mengusap matanya.


> “Itu nggak bikin aku otomatis sembuh sih…”


> “Aku tahu.”


---


### **Keputusan Arga**


Di sekolah, Arga berdiri di depan papan pengumuman.


Poster:

**Evaluasi Drama – Pengumuman Besok**


Arga menarik napas.


> “Kalau aku kabur lagi…”


Dia mengepalkan tangan.


> “Aku kehilangan dia beneran.”


Untuk pertama kalinya, Arga membuat keputusan **tanpa panel komik**.


Dia menulis pesan.


> *Naya, aku salah.

> Aku nggak kabur karena kamu.

> Aku kabur karena aku takut… tapi aku mau berhenti.*


Pesan terkirim.


Dua centang.


Belum dibalas.


---


### **Akhir Chapter: Harapan Tipis Tapi Nyata**


Naya membaca pesan itu di rumah.


Dia menatap layar lama.


Belum membalas.


Tapi…

dia tidak menghapusnya.


Naya menaruh ponsel di dada.


> “Kalau kamu beneran berhenti lari…”


Dia menutup mata.


> “Aku mau denger.”


---


**END OF CHAPTER 11**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar