CHAPTER 11
Setelah Kabur, Dunia Tidak Ikut Kabur**
Festival selesai dengan suasana… aneh.
Tepuk tangan ada.
Teriakan ada.
Tapi gosipnya **lebih kencang dari speaker aula**.
---
### **Naya: Nangis Tanpa Dramatis, Justru Lebih Sakit**
Di ruang ganti, Naya duduk sendirian.
Lututnya lecet sedikit.
Harga dirinya… lebih dari sedikit.
Dia menatap cermin.
> “Aku segitu nggak nyamannya ya buat kamu?” gumamnya.
Air matanya jatuh pelan.
Bukan karena jatuh di panggung.
Tapi karena ditinggal **setelah diselamatkan**.
Rani masuk pelan.
> “Kamu oke?”
Naya mengangguk, bohong.
> “Aku kelihatan oke?”
Rani duduk di sampingnya.
> “Arga itu… spesial. Dalam artian, bermasalah.”
Naya tertawa kecil di sela tangis.
> “Aku sadar sekarang.”
---
### **Maya: Kesal Tapi Jujur**
Di lorong belakang, Maya menyusul Arga ke atap.
Arga masih duduk, tatapannya kosong.
Maya tidak teriak.
Dia duduk.
Itu lebih menyeramkan.
> “Kamu tahu nggak,” kata Maya pelan,
> “kamu nyelametin orang, lalu ninggalin dia… itu lebih nyakitin daripada nggak ngapa-ngapain.”
Arga menutup wajah.
> “Aku panik…”
> “Bohong,” potong Maya.
> “Kamu **takut**.”
Sunyi.
> “Dan karena takutmu, Naya nangis.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari jatuhnya properti panggung.
---
### **Komedi Pahit: Interogasi Massal**
Guru seni memanggil Arga.
Di ruang guru, suasananya kayak sidang.
Guru seni.
Guru BK.
Wakasek.
Arga duduk kecil.
> “Kamu tahu kamu lari dari panggung itu bahaya?” tanya guru seni.
Arga mengangguk.
> “Kamu tahu kamu bikin lawan mainmu jatuh?”
> “Iya.”
> “Kamu tahu kamu bikin satu sekolah bingung?”
> “…iya.”
Guru BK menyandarkan badan.
> “Kamu tahu kenapa kamu begitu?”
Arga menjawab jujur:
> “Karena saya kebanyakan baca komik romantis.”
Semua:
> “…?”
Guru BK menahan senyum.
> “Kita bahas itu nanti.”
---
### **Flashback Terakhir: Luka Lama yang Belum Sembuh**
Malam itu, di kamar, Arga membuka komik.
Tangannya berhenti di satu panel lama.
Flashback sekolah lama.
Cewek yang pernah dekat…
ternyata cuma mau dekat dengan sahabat Arga yang ganteng.
> “Eh, kamu bisa kenalin aku ke dia nggak?”
Arga ingat senyumannya waktu itu.
Retak.
> “Sejak itu aku mikir… aku cuma batu loncatan.”
Arga menutup komik.
> “Aku capek kabur.”
---
### **Naya Mendengar Kebenaran**
Besoknya, Maya menemui Naya.
> “Aku nggak mau kamu salah paham,” kata Maya.
Dia menceritakan semuanya.
Tentang trauma.
Tentang komik.
Tentang kebiasaan Arga kabur.
Naya mendengarkan lama.
> “Jadi… dia bukan benci aku?”
Maya menggeleng.
> “Dia benci dirinya sendiri.”
Sunyi.
Naya mengusap matanya.
> “Itu nggak bikin aku otomatis sembuh sih…”
> “Aku tahu.”
---
### **Keputusan Arga**
Di sekolah, Arga berdiri di depan papan pengumuman.
Poster:
**Evaluasi Drama – Pengumuman Besok**
Arga menarik napas.
> “Kalau aku kabur lagi…”
Dia mengepalkan tangan.
> “Aku kehilangan dia beneran.”
Untuk pertama kalinya, Arga membuat keputusan **tanpa panel komik**.
Dia menulis pesan.
> *Naya, aku salah.
> Aku nggak kabur karena kamu.
> Aku kabur karena aku takut… tapi aku mau berhenti.*
Pesan terkirim.
Dua centang.
Belum dibalas.
---
### **Akhir Chapter: Harapan Tipis Tapi Nyata**
Naya membaca pesan itu di rumah.
Dia menatap layar lama.
Belum membalas.
Tapi…
dia tidak menghapusnya.
Naya menaruh ponsel di dada.
> “Kalau kamu beneran berhenti lari…”
Dia menutup mata.
> “Aku mau denger.”
---
**END OF CHAPTER 11**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar