Jumat, 03 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #4

*CHAPTER 4

Gosip, Komik, dan Dunia yang Terlalu Romantis**

Arga tidak tahu sejak kapan, tapi ada satu fakta yang menghantam hidupnya:

Dia jadi bahan pembicaraan.

Padahal target hidup Arga cuma:

Datang. Duduk. Pulang. Hidup.

Tapi kelas punya agenda lain.


Gosip Dimulai (Tanpa Persetujuan Korban)

Di sudut kelas, suara berbisik terdengar jelas.

“Eh, Arga tuh sebenernya deket sama siapa sih?”

“Katanya sama Rani.”

“Lah, kemarin aku liat dia bareng Maya.”

“Aku malah sering liat dia sama Naya.”

Arga yang duduk di bangkunya, pura-pura fokus ke buku, bisa mendengar semuanya.

Dalam hati:

“KENAPA SEMUA ORANG NGOMONGIN AKU SEOLAH-OLAH AKU ARTIS.”

Rani duduk di bangkunya dengan wajah campur aduk.

“Kok Arga akhir-akhir ini kayak ngilang ya…”

“Dia bosen kali,” jawab temannya.

Kalimat itu menusuk.


Maya dan Teori yang Terlalu Jauh

Di sisi lain kelas, Maya menyandarkan punggung ke kursi.

Dia mendengar gosip itu… dan tersenyum tipis.

“PHP, ya?”

Temannya melirik.

“Maksudmu Arga?”

Maya mengangguk pelan.

“Cowok baik yang tiba-tiba menjauh. Klasik.”

Dalam pikirannya:

“Atau dia menyembunyikan sesuatu.”

Maya tidak suka misteri yang tidak terpecahkan.

Dan Arga?
Dia misteri berjalan.


Rahasia yang Hampir Terbongkar

Hari itu pelajaran olahraga.

Arga lupa satu hal penting:
tasnya tidak terkunci rapat.

Saat dia membuka tas untuk mengambil botol minum…

BRUK.

Map cokelat jatuh.

Dan isinya…
terbuka sedikit.

Warna pastel menyembul.

Judul hampir terbaca.

Rani yang berdiri di dekatnya mengerutkan kening.

“Itu apa, Ga?”

Waktu berhenti.

Dalam kepala Arga:
sirene berbunyi.
tulisan merah:

BAHAYA SOSIAL.

Dia menyambar map itu terlalu cepat.

“BUKU!”

Rani terkejut.

“Hah? Buku apa panik banget?”

Arga tertawa terlalu keras.

“BUKU PELAJARAN!”

Maya memperhatikan dari jauh.

“Buku pelajaran warna pink?”

Arga berkeringat.

“E—edisi baru.”

Untungnya, peluit guru olahraga berbunyi.

Nyawa sosial Arga selamat… untuk sementara.


Dunia Nyata yang Kelewat Mirip Komik

Sore hari, hujan turun.

Sekolah mendadak sepi.

Arga berdiri di selasar, menunggu hujan reda.

Dan tentu saja…

Naya berdiri di sana juga.

Sunyi.
Hujan.
Pantulan cahaya.
SETTING KOMIK ROMANTIS LEVEL TINGGI.

Arga menelan ludah.

Dalam kepala:

“Aku buka payung, kita berdiri dekat, lalu…”

Flashback suram menyela.

Cewek lain.
Hujan lain.
Harapan yang tidak jadi apa-apa.

Arga mengencangkan tas di bahu.

“Aku… duluan.”

Naya menoleh.

“Hujannya masih deras.”

Arga mengangguk.

“Nggak apa-apa.”

Dia melangkah keluar…
dan kehujanan total.

Naya menatap punggungnya.

Pelan, hampir ke dirinya sendiri:

“Aneh.”


Ledakan Salah Paham

Besoknya, gosip makin panas.

“Katanya Arga ninggalin Naya pas hujan.”

“Fix PHP.”

“Sok baik tapi kabur.”

Arga mendengarnya.

Kepalanya pusing.

Dia ingin berteriak:

“AKU BUKAN PHP, AKU TRAUMA.”

Tapi tentu saja, itu tidak mungkin dijelaskan.

Dia memilih solusi terbaik menurut versinya:

menghilang lebih jauh.


Naya Mulai Bertanya (Dalam Diam)

Di perpustakaan, Naya menutup bukunya.

Temannya bertanya:

“Kamu sama Arga kenapa?”

Naya menggeleng.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Tapi saat dia melihat kursi kosong di pojok perpustakaan…

Ada sesuatu yang terasa hilang.


Arga, Komik, dan Kejujuran yang Ditunda

Malam itu, Arga membaca komik.

Balon dialog:

‘Kadang, ketakutan membuat kita terlihat kejam.’

Arga menutup buku itu pelan.

“Aku nggak bermaksud jahat…”

Dia menatap langit-langit.

“Aku cuma belum siap.”

Di luar sana, tiga cewek memikirkan satu cowok yang sama—
dengan kesimpulan yang berbeda-beda.

Dan Arga?

Dia cuma ingin dunia berhenti mirip komik sebentar saja.


END OF CHAPTER 4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar