## **CHAPTER 10
Hari di Mana Semua Salah Paham Bertabrakan**
Hari itu akhirnya datang.
Hari yang selama ini Arga takuti, hindari, dan pura-pura tidak ada di kalender hidupnya.
**Festival Sekolah.
Hari Pementasan Drama.**
Dan tentu saja…
semesta bangun pagi dengan niat jahat.
---
### **Pagi yang Terlalu Tenang untuk Bencana Besar**
Arga berdiri di depan cermin kamar.
Seragam rapi.
Rambut disisir.
Wajah… pucat.
Dia menatap dirinya sendiri lama.
> “Ini cuma drama,” katanya pelan.
> “Bukan hidup.”
Tas di bahunya terasa berat.
Bukan karena buku.
Tapi karena **perasaan yang belum dibereskan**.
---
### **Di Sekolah: Aura Tidak Enak Tercium**
Begitu sampai sekolah, Arga langsung merasakan sesuatu yang salah.
Terlalu ramai.
Terlalu berisik.
Terlalu banyak mata.
Rani menyapa singkat.
> “Semangat.”
Nada suaranya sopan. Jaraknya jelas.
Maya lewat, menatap Arga sekilas.
> “Jangan bikin orang nangis.”
Arga ingin jawab…
tapi tidak tahu jawab apa.
Dan Naya?
Tidak kelihatan.
---
### **Backstage: Jarak yang Menyakitkan**
Di belakang panggung, kostum dibagikan.
Arga mengenakan pakaian karakter utama:
jas sederhana, kemeja putih.
Naya berdiri beberapa langkah darinya.
Cantik.
Tenang.
Terlalu tenang.
Arga memberanikan diri mendekat.
> “Naya…”
Naya menoleh.
> “Iya?”
Nada netral. Profesional.
> “Setelah ini… kita bisa ngomong?”
Naya terdiam sebentar.
> “Setelah panggung.”
Arga mengangguk.
Dalam hati:
> *“Kalau masih ada setelah panggung.”*
---
### **Komedi Sebelum Tragedi**
Properti panggung mulai dicek.
Ada bangku taman.
Ada tirai.
Ada lampu gantung dekoratif.
Panitia ribut.
> “Lampunya aman, kan?”
>
> “Harusnya.”
>
> “HARUSNYA ITU BUKAN JAWABAN.”
Arga melirik lampu itu.
Entah kenapa…
dadanya tidak enak.
---
### **Drama Dimulai**
Lampu mati.
Lampu panggung menyala.
Penonton ramai.
Arga dan Naya masuk panggung.
Dialog mengalir.
> **Naya (naskah):**
> “Kamu selalu datang… lalu pergi.”
Arga menatapnya.
Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu apakah ini naskah…
atau kenyataan.
> **Arga (naskah):**
> “Karena aku takut… tapi aku tetap kembali.”
Suara Arga bergetar.
Guru seni di bangku depan menepuk pelan.
> “Bagus…”
---
### **Detik yang Mengubah Segalanya**
Masuk adegan puncak.
Naya berdiri tepat di bawah **lampu gantung dekoratif**.
Tali penyangganya berderit.
*KREEET.*
Arga mendengarnya.
Matanya membesar.
Dalam kepala Arga, **dunia berubah jadi panel komik**.
* Background gelap
* Slow motion
* Teks besar:
> *“SELAMATKAN DIA.”*
Arga tidak mikir.
Dia **meloncat**.
---
### **Adegan Komik yang Salah di Dunia Nyata**
Arga menarik Naya ke pelukannya.
Penonton menahan napas.
Lampu…
**tidak jatuh ke arah Naya**.
Lampu jatuh ke samping panggung.
*DUAAARR.*
Aman.
Terlalu aman.
Arga masih memeluk Naya.
Hening.
Romantis.
Lalu…
Otak Arga hidup lagi.
> *“INI TERLALU NYATA.”*
Dia **langsung melepaskan** Naya.
Terlalu cepat.
Naya kehilangan keseimbangan.
> “Arga—!”
*BRUK.*
Naya jatuh ke lantai panggung.
Penonton:
> “OOOOH—”
Guru berdiri.
> “ASTAGA!”
Arga panik total.
> “Ma—maaf—aku—”
Dan tentu saja…
**dia kabur.**
---
### **Panggung, Air Mata, dan Salah Paham Terbesar**
Naya duduk di panggung.
Sakit sedikit.
Malu banyak.
Dan yang paling sakit:
**hatinya.**
Dalam pikirannya:
> *“Dia nyelametin aku… lalu langsung ngejauh.”*
> *“Dia benci aku, ya?”*
Air mata jatuh.
Bukan bagian naskah.
Penonton bingung:
> “Ini akting?”
>
> “Kok kayak nyata?”
Maya di belakang panggung mengepalkan tangan.
> “Bodoh…”
Rani menutup mulutnya.
> “Arga…”
---
### **Arga Kabur ke Tempat Favoritnya**
Arga berlari.
Lorong.
Tangga.
Atap sekolah.
Dia terengah.
Tangannya gemetar.
> “KENAPA AKU SELALU NGELAKUIN INI…”
Flashback menyerbu.
Komik.
Trauma.
Kesalahan yang diulang.
Arga duduk, menutup wajah.
Di bawah sana…
festival masih berjalan.
Tapi cerita Arga dan Naya…
**retak tepat di klimaksnya.**
---
**END OF CHAPTER 10**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar