Rabu, 08 Juli 2026

Jangan Jatuh Cinta #9


## **CHAPTER 9


Latihan, Goyah, dan Hampir Menyerah**


Arga sekarang hidup dalam dua dunia yang sama-sama bikin capek.


Dunia nyata.

Dan dunia di kepalanya sendiri.


Dan dua-duanya lagi lomba bikin dia panik.


---


### **Latihan yang Terlalu Serius untuk Cowok Gampang Baper**


Latihan drama masuk minggu kedua.


Guru sudah mulai galak.


> “Kalian bukan baca puisi! Ini drama ROMANTIS!”


Arga berdiri berhadapan dengan Naya.


Jarak mereka… terlalu dekat untuk cowok yang hobi kabur.


> **Naya (naskah):**

> “Kenapa kamu selalu pergi?”


Arga tahu ini dialog.


Tapi nadanya…

terasa nyata.


Arga menjawab sesuai naskah, suaranya pelan:


> “Karena aku takut kehilangan.”


Guru mengangguk puas.


> “Nah! Itu! Rasain!”


Arga:


> *“BU. SAYA MERASAKAN KEBANYAKAN.”*


---


### **Komedi: Arga Overthinking Total**


Saat adegan duduk bersebelahan, lutut mereka bersentuhan.


Sedikit.

Sangat sedikit.


Tapi bagi Arga, itu **gempa bumi skala 9**.


Dalam kepala:


> *“Ini latihan. Ini akting. Jangan kebawa.”*


Komik imajiner muncul:

panel berbunga.

teks miring.

detak jantung.


Arga langsung berdiri.


> “Bu, izin minum!”


Guru melotot.


> “Kamu kenapa lagi?”


Arga jujur setengah:


> “Dehidrasi… perasaan.”


Seluruh aula:


> “…?”


---


### **Maya Menekan di Saat yang Tepat**


Di luar aula, Maya menunggu.


> “Kamu kelihatan cocok sama dia.”


Arga terkejut.


> “Hah?”


Maya menyilangkan tangan.


> “Makanya aku tanya lagi. Kamu mau apa?”


Arga bingung.


> “Aku nggak mau nyakitin siapa pun.”


Maya mendekat.


> “Kadang, dengan diam, kamu nyakitin semua orang.”


Kalimat itu **kena**.


Maya menatapnya serius.


> “Kalau kamu takut sama Naya, bilang. Jangan pakai aku buat kabur.”


Arga menelan ludah.


> “Aku nggak pernah pakai kamu.”


Maya tersenyum tipis.


> “Belum.”


---


### **Naya Mulai Capek**


Hari-hari berikutnya, Naya berubah.


Masih latihan.

Masih profesional.

Tapi… dingin.


Saat Arga mencoba bercanda kecil:


> “Dialog kita kayak komik ya.”


Naya hanya mengangguk.


> “Fokus latihan aja.”


Arga merasa dadanya ditarik pelan.


---


### **Percakapan yang Hampir Jujur**


Suatu sore, setelah latihan, hujan turun.


Lagi.


Arga dan Naya berteduh di aula kosong.


Sunyi.


Akhirnya Arga bicara.


> “Kamu marah?”


Naya menggeleng.


> “Capek.”


Satu kata. Berat.


> “Aku nggak tahu posisiku apa,” lanjut Naya.

> “Teman? Lawan main? Atau cuma orang yang kamu hindari pelan-pelan?”


Arga membuka mulut…

lalu menutup lagi.


Naya tersenyum kecil, sedih.


> “Jawabanmu itu juga jawaban.”


---


### **Tragedi Kecil: Salah Paham Terbesar**


Besoknya, Arga melihat Maya keluar dari ruang musik…

bersama Naya.


Maya bicara.

Naya diam.


Dari jauh, Arga cuma melihat potongan adegan.


Dalam kepalanya, cerita langsung jadi:


> *“Maya bilang sesuatu. Naya capek. Naya pergi.”*


Arga tidak mendekat.


Dia memilih…

kabur.


---


### **Naya Mengambil Keputusan**


Di rumah, Naya duduk di tepi ranjang.


Ponselnya bergetar.


Pesan dari Arga tidak datang.


Dia menarik napas panjang.


> “Aku nggak mau jadi orang yang nunggu.”


Malam itu, Naya menulis pesan…

lalu menghapus.


Akhirnya, dia menutup ponsel.


---


### **Akhir Chapter: Menuju Klimaks**


Di kamar, Arga membuka komik.


Panel terakhir:


> *‘Jika kamu terus lari, kamu akan kehilangan tanpa pernah bertarung.’*


Arga menutup buku, tangannya gemetar.


> “Aku nggak mau kehilangan…”


Tapi di luar sana, waktu tidak menunggu cowok yang ragu.


Festival tinggal **beberapa hari lagi**.


Dan kesalahan Arga…

akan segera **meledak di panggung**.


---


**END OF CHAPTER 9**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar