Selasa, 20 Oktober 2026

Terjebak di Jayaverse - Bab 11 · Layang-Layang Raksasa

Bab 11 · Layang-Layang Raksasa

Bluk.

Akira jatuh telentang di atas sesuatu yang dingin, lembap, dan empuk. Seperti kasur yang dijemur tapi belum kering.

Ia membuka mata. Yang terlihat hanya putih.

Jantungnya langsung berhenti sebentar. Putih. Penyapu.

Tapi putih yang ini tidak rata. Putih yang ini bergumpal-gumpal dan menggembung, dengan bayangan lembut di setiap lekukannya. Ia bergerak pelan, seperti sedang bernapas. Dan di atasnya ada langit biru.

Awan. Ia berbaring di atas awan.

"Alhamdulillah," bisik Akira. Ia sendiri kaget betapa leganya.

Di sebelahnya, Nayla sudah duduk sambil merapikan kerudung. Bubu melayang-layang di atas kepala mereka, warnanya kuning pucat.

Dan Kenzo sedang berlutut, mencomot segumpal awan, lalu memasukkannya ke mulut.

"Kenzo! Jangan dimakan!"

Terlambat. Kenzo mengunyah. Lalu wajahnya bingung.

"Kok nggak ada rasanya, Kak? Dingin doang. Kayak ngemut embun di pintu kulkas."

Ting! "Tentu saja, Tuan Kenzo," kata Bubu. "Awan memang terbuat dari air. Matahari memanaskan air laut sampai berubah menjadi uap, lalu uap itu naik ke langit. Makin tinggi, udaranya makin dingin. Di sana, uap air berubah lagi menjadi titik-titik air yang sangat kecil. Miliaran titik air berkumpul, jadilah awan. Kalau titik-titiknya bergabung jadi besar dan berat, mereka jatuh sebagai hujan."

Kenzo berhenti mengunyah. "Berarti aku barusan makan hujan yang belum jadi?"

Bubu diam sebentar. "...Secara teknis, ya."

Nayla tertawa. Akira juga hampir tertawa, tapi ada yang lebih penting. Ia berdiri dan melihat ke sekeliling.

Mereka berada di atas sebuah pulau awan kecil, kira-kira seluas lapangan voli, yang melayang tinggi di atas laut. Jauh di depan, di seberang laut, terlihat Pulau Seribu Naga. Gunung berasap di tengahnya tampak kecil sekali dari sini.

Matahari Jingga sudah turun sedikit dari tengah langit. Akira menghitung di kepalanya. Kira-kira lima puluh menit lagi menuju Magrib.

"Kak," kata Kenzo pelan. Ia sudah tidak mengunyah lagi. "Tadi di pasar, Si Ngebug dorong aku ke lubang. Pas belalainya mau nyedot aku."

Akira tidak menjawab.

"Dia nolongin aku, Kak."

Akira meraba tas selempangnya. Di dalamnya ada gambar krayon yang terlipat. Bubu-ku, temanku. Ia tidak mengeluarkannya.

"Mungkin," kata Akira akhirnya. "Atau mungkin dia cuma nggak mau kita ketangkep Penyapu sebelum dia..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Pokoknya telurnya ada di dia. Itu yang penting sekarang."

Kenzo tidak membantah. Tapi wajahnya jelas tidak setuju.


"Masalahnya," kata Akira, "gimana caranya kita ke pulau itu? Awannya nggak gerak ke mana-mana."

Nayla mengintip ke tepi awan, lalu buru-buru mundur. "Kalau lompat, ya jelas nggak mungkin."

"Layangan!" seru Kenzo.

Akira sudah membuka mulut untuk bilang jangan aneh-aneh. Kebiasaan.

Lalu ia menutupnya lagi. Ia ingat tongkat jingga di labirin akar tadi.

Ia memikirkan ide itu baik-baik. Layangan yang besar bisa menarik dengan kuat. Seperti layar perahu yang ditiup angin. Kalau talinya diikat ke awan ini...

"Layangan raksasa," kata Akira pelan. "Talinya diikat ke awan. Terus layangannya narik awan kita. Kayak perahu layar."

Mata Kenzo membesar. "Kakak setuju sama ideku?"

"Jangan geer. Ayo bikin."


Mereka bertiga berdiri melingkar dan memejamkan mata.

"Aku bikin rangkanya," kata Akira. "Bentuk wajik. Kayak layangan yang dijual abang-abang di dekat sekolah."

"Aku bikin talinya," kata Nayla. "Yang panjang dan kuat."

"Aku bikin buntutnya!" kata Kenzo. "Buntut panjang kayak naga!"

Akira membuka sebelah matanya. Buntut? Buat apa buntut?

Lalu ia ingat sesuatu dari buku yang pernah ia baca. Layangan tanpa buntut gampang berputar-putar dan menukik. Buntut yang panjang membuatnya lebih stabil.

"Secara teori," kata Akira, "itu ide bagus."

Kenzo sampai lupa memejamkan mata.

Cahaya merah keluar dari tangan Akira, membentuk rangka yang lurus dan rapi. Cahaya toska dari tangan Nayla memanjang menjadi tali yang tebal. Cahaya kuning dari tangan Kenzo meliuk-liuk menjadi kain layangan dan buntut panjang bersisik, persis buntut naga.

Dan di tempat cahaya merah dan kuning saling bersentuhan, di sudut-sudut rangka dan di pangkal buntut, warnanya berubah.

Jingga.

Masih sedikit. Masih belang-belang. Tapi ada.

Layangan itu jadi. Besarnya seperti atap rumah. Sisik-sisik di buntutnya berkilau ditimpa cahaya matahari.

"Masya Allah," bisik Nayla. "Keren banget."

Nayla mencari tempat untuk mengikat tali. Di tengah pulau awan ada sebuah tonjolan yang padat dan keras, seperti bantal kapuk yang kelamaan dijemur. Nayla melilitkan tali ke tonjolan itu, lalu membuat simpul yang rumit dengan cepat.

"Simpul delapan," katanya. "Simpul andalan pemanjat. Makin ditarik makin kencang, tapi nggak bakal lepas sendiri."


Akira membasahi telunjuknya dengan ludah, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sisi jarinya yang terasa dingin adalah sisi yang terkena angin.

"Anginnya dari arah laut," katanya. "Ke arah pulau. Pas."

"Kok bisa pas gitu?" tanya Kenzo.

"Ini kan siang. Siang hari, daratan lebih cepat panas daripada laut. Udara di atas pulau ikut panas, terus naik. Udara dari laut ngalir ke darat buat gantiin. Namanya angin laut." Akira membetulkan kacamatanya. "Kata Bu Guru, nelayan pulang melaut siang-siang juga dibantu angin ini."

Kenzo membawa layangan ke tepi awan yang menghadap pulau. Nayla memegang tali di dekat simpul. Akira berdiri di sebelahnya.

"Satu... dua... LEPAS!"

Kenzo melepaskan layangan. Angin langsung menangkapnya. Layangan raksasa itu melesat naik, buntut naganya meliuk-liuk di udara. Talinya menegang. Tenggg.

Pulau awan mereka tersentak. Lalu pelan-pelan mulai meluncur ke depan, ke arah Pulau Seribu Naga.

"Dan layangan raksasa mengudara, Pemirsa!" seru Nayla. "Awan kita resmi berlayar!"

Kenzo bersorak. Akira tersenyum. Kali ini ia tidak menyembunyikannya.


NGUUUUUUNG...

Senyum itu langsung hilang.

Akira menoleh ke belakang. Di kejauhan, dari balik gumpalan awan, sesuatu yang bulat, pipih, dan putih muncul perlahan. Satu mata merah menyala di tengahnya. Belalai panjang menjulur dan meliuk-liuk di bawahnya.

Si Penyapu.

Di antara mereka dan Si Penyapu, gerimis tipis sedang turun dari sebuah awan kelabu. Dan di depan gerimis itu melengkung sebuah pelangi. Besar dan terang, dengan tujuh warna yang lengkap.

Belalai Si Penyapu menyentuh ujung pelangi itu.

Lalu menyedotnya.

Warna-warna pelangi tersedot ke dalam belalai seperti mi yang diseruput. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Satu per satu. Di tempat pelangi itu tadi melengkung, sekarang hanya ada putih kosong yang rata. Seperti langit yang dihapus.

Lalu Si Penyapu melambat.

Tubuhnya oleng sedikit. Mata merahnya berkedip-kedip. Dan dari belalainya keluar bunyi yang sangat keras:

HEEEEEK!

Segumpal kabut warna-warni menyembur dari ujung belalai.

Hening sebentar.

Lalu Kenzo tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan pada tonjolan awan. "Kekenyangan dia! Dia sendawa, Kak!"

Nayla ikut tertawa, meskipun tawanya terdengar gugup.

Akira tidak tertawa. Ia sibuk menghitung jarak. Si Penyapu memang melambat. Tapi cuma sebentar.

Mata merah itu berhenti berkedip.

NGUUUUUUUUNG!

Si Penyapu bergerak lagi. Lebih cepat dari sebelumnya.


"Dia ngejar!" teriak Kenzo.

Awan mereka meluncur, tapi Si Penyapu meluncur lebih cepat. Jaraknya makin dekat. Bubu melayang di belakang mereka, tapi ia terus menoleh ke tempat pelangi tadi melengkung. Angin sedotannya mulai terasa, menarik-narik ujung kerudung Nayla dan buntut layangan.

Akira melihat ke depan dengan panik. Mencari apa saja.

Lalu ia melihatnya. Di depan, agak ke kiri, ada sebuah awan yang tinggi sekali. Bentuknya menggumpal-gumpal ke atas seperti kembang kol raksasa, dengan bagian bawah yang datar.

Awan terbentuk dari udara hangat yang naik. Awan setinggi itu berarti udara hangat di bawahnya naik dengan kencang sekali.

"Nayla!" teriak Akira. "Arahin layangannya ke bawah awan kembang kol itu!"

"Buat apa?!"

"Udara di bawahnya naik! Layangannya bakal ketarik ke atas!"

Nayla tidak bertanya lagi. Ia menarik tali kuat-kuat ke kiri, seperti pemanjat yang menggeser badan di tebing. Layangan raksasa itu berbelok, meliuk masuk ke bawah awan kembang kol.

WUSSSSS!

Layangan itu melesat ke atas seolah ditendang dari bawah. Talinya menyentak. Pulau awan mereka ikut terangkat, naik dan naik, seperti lift yang talinya ditarik raksasa.

Belalai Si Penyapu menyambar ke tempat mereka tadi berada.

Kosong. Belalai itu hanya menyedot udara.

"YESSS!" Kenzo meninju udara.

Tapi Bubu tidak ikut naik.


Bubu tertinggal di bawah. Ia melayang diam, menghadap ke tempat pelangi tadi melengkung. Ke putih kosong yang rata itu.

Warnanya biru. Biru yang sangat pucat.

"Bubu!" teriak Akira. "Naik! Cepat!"

Bubu seperti tidak mendengar. Suaranya terdengar pelan dan putus-putus, seperti radio kehabisan baterai.

"Pelangi itu... tidak akan kembali, Tuan-tuan. Yang sudah terhapus... tidak bisa diulang. Seperti nasi... sudah menjadi..."

Belalai Si Penyapu berbalik.

"BUBU!"

"...buburrr..."

Slurp.

Satu titik cahaya kecil tersedot ke dalam belalai. Lalu hilang.

Di tempat Bubu tadi melayang, sekarang ada sebuah lubang putih kecil di langit. Putih kosong. Bulat. Sebesar jeruk.

Si Penyapu diam sebentar. Mata merahnya mencari-cari ke atas, ke arah layangan mereka yang sudah terlalu tinggi untuk dijangkau belalainya. Lalu ia berbalik dan menghilang ke balik awan.

nguuuung...

Bunyinya makin pelan. Lalu sunyi.


Pulau awan mereka terus meluncur, ditarik layangan raksasa ke arah Pulau Seribu Naga.

Tidak ada yang bicara.

Kenzo duduk memeluk lututnya. Bahunya bergetar. Ia menangis tanpa suara.

Nayla memandangi lubang putih kecil di langit yang makin jauh di belakang mereka. Ia tidak berkomentar. Kepalan tangannya tidak naik ke depan mulut.

Akira berdiri memegangi tali layangan. Tangannya dingin.

Seperti nasi sudah menjadi bubur.

Biasanya, setiap kali Bubu bicara pakai peribahasa, ada yang salah. Lalu Nayla meralatnya, atau Kenzo bertanya, atau Akira ingin meralat tapi kalah cepat. Selalu begitu, dari pantai sampai pasar.

Tapi kali ini tidak ada yang meralat.

Karena kali ini Bubu benar.

Nasi sudah menjadi bubur. Artinya, yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi.

Akira menelan ludah. Di depan mereka, di atas Pulau Seribu Naga, awan-awan gelap mulai menumpuk.


CATATAN AKIRA 🔴

Tahukah Tuan dan Nona? (Biasanya Bubu yang bilang begini.) Awan terbentuk dari uap air laut yang naik, mendingin, lalu menjadi titik-titik air yang sangat kecil. Awan asli tidak bisa diinjak, karena isinya hanya titik air. Siang hari, angin bertiup dari laut ke darat. Namanya angin laut.

 BAB 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar