Bab 8 · Hutan Bakau Berjalan
Kenzo berjalan terus.
Lumpur di bawah sandalnya berbunyi clep, clep, clep. Celemeknya berat karena basah. Topi kokinya lepek dan meneteskan air ke pipinya, tes, tes, seperti air mata. Padahal Kenzo tidak menangis. Ia sudah memutuskan untuk tidak menangis.
Harusnya kamu nggak usah ikut.
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya. Seperti lagu iklan yang tidak mau pergi.
Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak mau melihat wajah kakaknya. Ia juga tidak mau kakaknya melihat wajahnya.
Hutan bakau di sebelah kirinya makin rapat. Pohon-pohonnya tinggi, daunnya hijau gelap mengilap, dan akar-akarnya mencuat dari dalam lumpur, melengkung-lengkung, saling silang, seperti ribuan jari yang mencengkeram tanah.
Lalu salah satu pohon itu bergerak.
Kenzo berhenti.
Pohon bakau itu mengangkat salah satu akarnya, pelan-pelan, seperti orang yang mengangkat kaki. Lalu menapakkannya ke depan. Clop. Lalu akar yang lain. Clop. Pohon itu berjalan beberapa langkah, lalu berhenti di sebelah pohon lain.
Lalu pohon itu berbisik.
"Eh, eh, Jeng. Lihat itu, deh."
Pohon di sebelahnya menggoyangkan daun-daunnya. "Yang mana, Jeng?"
"Itu, bocah yang pakai celemek. Itu kan yang tadi berantem sama kakaknya. Di laut."
"Masa, sih? Tahu dari mana, Jeng?"
"Dari ikan badut, dong. Dia kan jualan kabar. Kabarnya udah nyampe sini duluan, lho."
"Iya! Kakaknya teriak-teriak. Harusnya kamu nggak usah ikut, gitu katanya. Kasihan, ya, adiknya."
"Ih, kasihan banget. Kakaknya galak, ya?"
Pipi Kenzo langsung panas. Panas sekali, sampai lumpur di pipinya rasanya mau kering.
"Aku dengar, tahu!" teriaknya ke arah pohon-pohon itu.
Pohon-pohon itu langsung diam. Daun-daunnya berhenti bergoyang. Salah satunya pura-pura bersiul. Fiuuu... fiuuu...
Kenzo menghentakkan kaki dan berjalan lebih cepat. Clep-clep-clep-clep.
Semua orang tahu. Bahkan pohon pun tahu.
WUSSS!
Sesuatu yang berkilau emas melesat turun dari langit dan mendarat di atas sebuah akar besar, tepat di depan Kenzo.
Rafi.
Baju zirah emasnya masih berkilau-kilau, kering, bersih, tidak ada lumpur setitik pun. Jubah merahnya berkibar pelan. Ia berdiri di atas akar dengan tangan di pinggang, seperti pahlawan di poster film.
"Eh, Bakso," katanya. Lalu ia memiringkan kepala, seperti sedang mengingat-ingat. "Eh, bukan. Nama kamu Kenzo, ya? Kakakmu kan teriak 'KENZO!' terus dari tadi di pantai. Kedengeran sampai atas."
Kenzo terdiam. Rafi ingat namanya.
"Iya," kata Kenzo pelan.
"Pohon-pohon di sini dari tadi ngegosipin kamu." Rafi melompat turun dari akar dan berjalan mengelilingi Kenzo. "Katanya kakakmu ngamuk-ngamuk. Nyebelin banget, ya, punya kakak kayak gitu."
Kenzo tidak menjawab. Tapi ia juga tidak membantah.
"Udah, ikut aku aja," kata Rafi sambil nyengir. "Aku tahu tempat-tempat seru di pulau ini. Aku udah keliling dari tadi. Daripada jalan sama kakakmu yang bossy itu."
Kenzo melirik ke belakang, untuk pertama kalinya sejak tadi. Jauh di belakang, di ujung pantai berlumpur, ia bisa melihat dua titik kecil. Satu merah, satu toska. Mereka sedang berdiri. Mungkin sedang melihat ke arahnya. Mungkin juga tidak.
Kakaknya tidak memanggil.
Kenzo berbalik ke Rafi. "Seru kayak gimana?"
Senyum Rafi melebar. "Pokoknya seru. Yuk!"
Ternyata "seru" versi Rafi adalah ini.
Rafi berjalan ke sebuah pohon bakau kecil, pohon yang masih muda, tingginya baru selutut. Daunnya masih hijau muda dan mengilap. Lalu Rafi mencabutnya. Srek! Begitu saja, dengan satu tangan.
"Tangkap!"
Ia melempar pohon kecil itu ke arah Kenzo. Kenzo menangkapnya dengan kaget. Akar-akarnya masih basah dan bergoyang-goyang seperti kaki serangga.
"Hahaha! Lempar ke pohon yang tadi ngomongin kamu!" seru Rafi.
Kenzo menoleh ke pohon-pohon tukang gosip itu. Pohon-pohon itu langsung pura-pura tidur. Krrrok... krrrok...
Kenzo melempar.
Plok! Tunas bakau itu mengenai batang salah satu pohon gosip.
"ADUH!" jerit pohon itu. "Siapa yang lempar?!"
Rafi tertawa terpingkal-pingkal sampai harus berpegangan pada akar. Dan Kenzo... ikut tertawa. Sedikit. Rasanya aneh. Seperti makan permen yang terlalu asam. Enak di awal, tapi lama-lama lidahnya perih.
Rafi mencabut tunas lagi. Dan lagi. Dan lagi. Ia melemparkannya ke mana-mana. Plok! Plok! Plok! Pohon-pohon besar menjerit-jerit dan mengangkat akar mereka, mencoba berjalan menjauh.
"Seru, kan?!" teriak Rafi. "Ini kan cuma game! Mereka nggak beneran sakit!"
Kenzo mengangguk-angguk. Iya. Cuma game.
Lalu ia menunduk.
Di bawah akar-akar bakau, di air lumpur yang dangkal, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Kenzo berjongkok untuk melihat lebih dekat.
Ikan. Ikan-ikan kecil, sebesar jari kelingking. Puluhan, mungkin ratusan. Ada juga kepiting kecil sebesar tutup botol, dan udang-udang mungil yang bening seperti kaca. Mereka bersembunyi di sela-sela akar.
Tapi di tempat tunas-tunas bakau tadi dicabut, akarnya sudah hilang. Air lumpurnya keruh. Dan ikan-ikan kecil di sana berenang ke sana kemari dengan panik, tidak tahu harus bersembunyi di mana.
Satu ekor ikan kecil terdampar di lumpur. Menggelepar-gelepar. Plek. Plek. Plek.
Kenzo memungutnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke genangan air yang masih ada akarnya. Ikan kecil itu langsung berenang menyelinap di antara akar.
Kenzo berdiri pelan-pelan.
"HEI! KAMU YANG PAKAI CELEMEK!"
Suara itu besar dan berat, seperti suara bedug. Kenzo melompat kaget.
Di depannya berdiri pohon bakau yang paling besar dan paling tua di seluruh hutan. Batangnya keriput, dan akar-akarnya setebal lengan orang dewasa. Daun-daunnya bergetar marah.
"Kalian tahu apa yang barusan kalian cabut?!" gelegar pohon tua itu. "Itu anak-anak kami!"
Kenzo menelan ludah.
"Akar kami menahan ombak dari laut!" Pohon tua itu mengangkat salah satu akarnya tinggi-tinggi. "Tanpa kami, pantai ini akan terkikis habis dimakan ombak! Dan di bawah akar kami, ribuan anak ikan dan anak kepiting tinggal! Ini rumah mereka! Rumah!"
Kenzo melihat ke bawah lagi. Ke ikan-ikan kecil yang panik tadi.
"Ma... maaf, Mbah," bisik Kenzo.
Tapi Rafi tidak minta maaf. Rafi malah tertawa.
"Halah, pohon cerewet!" Rafi menendang akar pohon tua itu keras-keras. DUK! "Kamu kan cuma gambar! Nanti juga di-reset!"
Pohon tua itu diam.
Diam yang mengerikan.
Lalu seluruh hutan bakau ikut diam. Pohon-pohon tukang gosip berhenti berbisik. Pohon-pohon yang tadi menjerit berhenti menjerit. Bahkan angin berhenti bertiup.
Kenzo merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Rafi..." bisiknya. "Kayaknya kita harus pergi."
Akar-akar mulai bergerak.
Semua akar. Dari semua pohon. Akar-akar itu terangkat dari lumpur, melengkung, lalu menancap lagi di tempat yang baru. Krak. Krak. Krak. Pohon-pohon bergeser, merapat satu sama lain, seperti orang-orang yang bergandengan tangan membentuk barisan.
Jalan di belakang Kenzo tertutup akar.
Jalan di depannya juga tertutup.
Jalan di kiri dan kanannya juga.
Dalam beberapa detik saja, Kenzo sudah terkurung di tengah-tengah labirin akar. Dinding-dinding akar bakau menjulang tinggi di sekelilingnya, rapat dan gelap.
"Rafi! RAFI!"
Kenzo mendongak. Di atas sana, jauh di atas dinding akar, sebuah titik emas melesat ke langit. Rafi sudah terbang. Ia tidak terkurung. Gelang emasnya membawanya ke atas dengan mudah.
"Woi, Kenzo! Terbang dong!" teriak Rafi dari atas. Suaranya terdengar santai sekali, seperti sedang bercanda. "Oh iya, kamu kan nggak bisa! Hahaha!"
Lalu titik emas itu makin kecil. Makin kecil. Dan hilang di balik awan.
Kenzo berdiri sendirian di tengah labirin akar.
Ia mencoba memanjat dinding akar. Licin. Tangannya merosot.
Ia mencoba menyelinap di antara celah akar. Badannya kan kecil, biasanya ia paling jago menyelinap. Tapi celahnya terlalu sempit, bahkan untuk Kenzo.
Ia mencoba lari ke kiri, mencari jalan keluar. Buntu. Ke kanan. Buntu lagi.
Lalu, waktu ia melangkah mundur, kakinya terperosok ke sela-sela akar. Jlok! Akar-akar itu langsung merapat, menjepit pergelangan kakinya.
"Aduh!"
Kenzo menarik kakinya. Tidak bisa. Menarik lagi lebih keras. Akarnya malah makin erat, seperti tangan yang menggenggam.
Lalu ia mendengar bunyi lain. Bunyi yang pelan, tapi membuat perutnya mencelos.
Srrrrrrr...
Air.
Air laut merembes masuk ke dalam labirin dari sela-sela akar. Pelan-pelan. Membasahi lumpur di bawah kakinya. Lalu naik ke mata kaki.
Kenzo ingat apa yang dikatakan Akira di tanjung tadi. Air laut naik turun. Kalau naik, namanya pasang.
Air pasang.
Air itu sudah sampai ke betisnya. Dingin. Dan masih terus naik.
Kenzo menarik kakinya sekuat tenaga. Akar itu tidak bergerak sedikit pun.
Ia melihat ke atas. Tidak ada Rafi. Tidak ada siapa-siapa. Hanya dinding akar yang gelap dan sepotong langit biru di atasnya.
Dan entah kenapa, padahal ia masih marah, padahal ia sudah bertekad tidak akan bicara dengan kakaknya lagi, padahal tadi kakaknya bilang harusnya kamu nggak usah ikut...
Nama yang keluar dari mulut Kenzo adalah nama itu.
"KAKAAAAAAAK!"
FAKTA BUBU 🟡
Ting! Tahukah Tuan dan Nona? Hutan bakau (mangrove) adalah pahlawan pantai! Akarnya yang rapat menahan ombak supaya pantai tidak terkikis, dan menjadi rumah bagi anak ikan, kepiting, dan udang. Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia, meskipun pohon bakau asli tentu saja tidak bisa berjalan, apalagi bergosip.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar