Bab 9 · Air Pasang di Labirin Akar
Beberapa menit sebelumnya, Akira masih duduk di lumpur.
Ia melihat semuanya dari jauh. Kilatan emas yang turun dari langit. Rafi yang berdiri di atas akar seperti pahlawan di poster film. Kenzo yang berhenti berjalan, lalu menoleh ke belakang. Ke arah Akira.
Akira tidak memanggil.
Ia ingin memanggil. Mulutnya sudah terbuka. Tapi kata-katanya tersangkut lagi, seperti biji salak yang tidak mau ditelan.
Lalu Kenzo berbalik dan pergi bersama Rafi.
"Kamu sih, Ra," kata Nayla pelan.
Akira tidak menjawab. Ia mencabut sebatang rumput dan memilin-milinnya sampai putus.
Mereka duduk diam lama sekali. Bubu melayang di dekat mereka, warnanya biru pucat. Ombak berdebur pelan.
Lalu Nayla bicara lagi. Suaranya tidak seperti biasanya. Tidak heboh. Tidak seperti komentator.
"Enak tahu, Ra, punya adik."
Akira melirik. "Enak apanya? Nyebelin."
"Iya, nyebelin. Tapi ada." Nayla memeluk lututnya. "Aku di rumah sendirian terus. Ayah sama Ibu kerja sampai sore. Pulang sekolah, rumahnya sepi banget. Cuma ada Si Oyen."
"Si Oyen?"
"Kucingku. Oranye. Gendut." Nayla tersenyum sedikit. "Aku suka ngomong sama dia. Bukan ngomong biasa. Kayak siaran langsung. Dan Nayla membuka kulkas, Pemirsa! Apakah masih ada puding? Ternyata... tidak ada! Gitu."
Akira menatapnya. Selama ini ia kira Nayla suka bergaya komentator karena memang lucu. Karena memang begitu orangnya.
"Biar rumahnya nggak sepi," kata Nayla. Ia melempar sebutir kerikil ke air. Plung. "Lama-lama jadi kebiasaan. Kalau gugup atau seneng, keluar sendiri."
Akira tidak tahu harus bilang apa.
"Makanya," kata Nayla, "waktu Kenzo cerita soal penyapu tadi, aku dengerin. Soalnya aku tahu rasanya ngomong tapi nggak ada yang dengerin."
Akira menunduk. Rumput di tangannya sudah hancur jadi serpihan-serpihan kecil.
Lalu, dari dalam hutan bakau, terdengar sebuah teriakan.
Suara yang Akira kenal sejak hari pertama ia bisa mendengar.
"KAKAAAAAAAK!"
Akira tidak ingat kapan ia berdiri. Yang ia tahu, ia sudah berlari.
Lumpur menyedot sepatunya di setiap langkah. Clep! Clep! Clep! Kakinya yang sudah pegal sejak tadi menjerit-jerit minta berhenti. Napasnya langsung habis.
TIT-TIT-TIT. Gelang di tangannya berkedip merah. "Detak jantung terlalu cepat. Istirahat sebentar, ya!"
"NANTI!" bentak Akira ke gelangnya sendiri.
Nayla berlari di sebelahnya, jauh lebih ringan. Bubu melesat di depan mereka seperti senter.
"Ke sana!" seru Bubu. "Suaranya dari arah sana!"
Tapi di depan mereka berdiri dinding. Dinding akar bakau, tinggi, rapat, gelap, saling silang seperti anyaman tikar raksasa. Ke kiri, dinding. Ke kanan, dinding.
"KENZO!" teriak Akira. "KENZO, KAMU DI MANA?!"
"Kak...!" Suara Kenzo terdengar dari balik dinding. Teredam. Jauh. "Kakiku... kejepit...! Airnya naik...!"
Akira mendorong dinding akar dengan kedua tangan. Tidak bergerak. Ia mencoba menarik satu akar. Licin dan keras seperti besi.
"Ra, minggir." Nayla sudah melepas gulungan tali dari bahunya. Ia mengamati dinding akar itu sebentar, mencari pegangan, persis seperti di tempat latihan panjat. "Aku naik ke atas. Dari atas aku bisa lihat jalannya."
Lalu Nayla memanjat. Cepat sekali. Tangan kanan, kaki kiri, tangan kiri, kaki kanan. Dalam sekejap ia sudah berada di puncak dinding akar, berjongkok di atasnya seperti kucing di atas pagar.
"Aku lihat dia!" teriak Nayla dari atas. "Lurus, terus belok kiri, terus ada celah kecil di bawah akar yang bengkok! Ra, kamu muat lewat situ!"
Akira merangkak, menyelinap, dan menggeser badannya di antara akar-akar sesuai petunjuk Nayla. Bajunya tersangkut. Lututnya lecet. Kacamatanya hampir copot.
Lalu ia melihatnya.
Kenzo berdiri di tengah sebuah ruang kecil yang dikelilingi akar. Air laut sudah setinggi dadanya. Pergelangan kakinya terjepit di antara dua akar besar di dasar lumpur. Celemek BAKSO MANTAP-nya mengambang di permukaan air. Wajahnya pucat, dan bibirnya gemetar.
Ia melihat Akira. Dan untuk pertama kalinya sejak di laut tadi, mata Kenzo berkaca-kaca.
"Kak..."
"Aku di sini." Akira langsung menceburkan diri ke air. Ia menarik napas, menyelam sebentar, dan meraba-raba akar yang menjepit kaki adiknya di dasar lumpur. Ia menarik akar itu sekuat tenaga. Ngggh! Tidak bergeser sedikit pun. Ia muncul lagi ke permukaan, megap-megap.
WUSSS.
Sebuah bayangan emas melintas di atas mereka.
Akira mendongak. Rafi melayang di atas labirin, di samping Nayla. Ia melihat ke bawah, ke arah Kenzo yang terjepit, ke arah air yang terus naik.
Untuk sesaat, sangat sebentar, Akira melihat sesuatu di wajah Rafi. Sesuatu yang bukan senyum miring. Seperti ragu.
Lalu senyum miring itu kembali.
"Santai aja kali," kata Rafi. "Cuma game."
Lalu ia terbang pergi.
"DASAR..." Akira menahan kata-katanya. Tidak ada waktu untuk marah pada Rafi. Air sudah naik ke leher Kenzo.
"Daya Khayal!" seru Bubu. "Tuan Akira, bayangkan sesuatu untuk membuka akarnya!"
Akira memejamkan mata. Tali. Tali yang kuat. Tarik akarnya.
Cahaya merah keluar dari tangannya. Rapi. Lurus. Bergaris-garis seperti gambar rancangan. Membentuk seutas tali.
Tapi talinya tipis. Setipis benang jahit.
Akira melilitkannya ke akar dan menariknya. Pet. Putus.
Ia mencoba lagi. Tali merah, lebih tebal sedikit. Ia menarik. Pet. Putus lagi.
"Kenapa?!" Akira hampir berteriak. "Kenapa nggak bisa?! Tadi teropongnya bisa!"
"Daya Khayal Tuan sedang sangat lemah," kata Bubu pelan. "Perasaan Tuan sedang... kacau."
Air sudah sampai ke dagu Kenzo. Kenzo mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi supaya mulutnya tetap di atas air.
Akira memandangi tangannya yang gemetar. Tangan yang tadi menunjuk-nunjuk adiknya sambil berteriak.
Lalu, di tengah semua kepanikan itu, sesuatu muncul di kepalanya. Suara pelan. Suara Bunda di meja makan tadi siang, sambil mengelus kepalanya.
Kalau marah, istigfar dulu. Terus diam sebentar.
Dan satu lagi.
Kakak sama adik itu kayak dua tangan. Satu tangan nggak bisa tepuk tangan.
Satu tangan. Itu yang sedang ia lakukan dari tadi. Mencoba sendirian. Dengan satu tangan.
"Astagfirullah," bisik Akira.
Ia menarik napas dalam-dalam. Diam sebentar. Satu. Dua. Tiga.
Lalu ia menatap adiknya.
"Kenzo," katanya. "Maaf. Tadi aku... kebawa marah." Ia menelan ludah. "Tapi kamu juga nekat, sih."
Bukan permintaan maaf yang sempurna. Akira tahu itu. Kata tapi itu masih menempel di ujungnya seperti permen karet di sepatu.
Tapi Kenzo mengangguk. Pelan. Satu kali.
"Bantu aku," kata Akira. "Kita bikin bareng."
"Bikin apa?"
Akira berpikir cepat. Secara teori, akar itu terlalu berat untuk ditarik. Tapi bisa diungkit. Seperti waktu Ayah membuka tutup kaleng cat pakai obeng. Batang panjang, diselipkan di bawah, lalu ditekan di ujung satunya. Tenaga kecil bisa mengangkat beban besar.
"Pengungkit," kata Akira. "Batang panjang yang kuat. Bayangin bareng aku."
Mereka berdua memejamkan mata.
Cahaya merah keluar dari tangan Akira. Cahaya kuning keluar dari tangan Kenzo, yang terangkat tinggi di atas air.
Dua cahaya itu bertemu di udara. Berkedip. Merah. Kuning. Merah. Kuning.
Lalu, pelan-pelan, di bagian tengahnya, kedua warna itu bercampur.
Jingga.
Jingga yang tipis, pucat, tidak terlalu terang. Tapi jingga. Membentuk sebatang tongkat panjang seperti linggis.
Akira menyelam lagi dan menyelipkan ujung tongkat itu ke celah di bawah akar yang menjepit kaki Kenzo. Bagian tengah tongkat ia tumpukan di atas sebuah akar lain yang lebih rendah, seperti jungkat-jungkit. Lalu ia muncul ke permukaan, meraih ujung tongkat yang mencuat dari air, dan menekannya ke bawah dengan seluruh berat badannya.
Krrrr...
Tongkat jingga itu melengkung. Retak sedikit.
"Bayangin terus, Ken! Jangan berhenti!"
Krrrraaaak!
Akarnya terangkat. Sedikit. Cukup sedikit.
Kenzo menarik kakinya. Bebas.
Lalu tongkat jingga itu patah dan menghilang. Pooof.
"TANGKAP!"
Seutas tali hijau toska meluncur dari atas. Nayla menjulurkan tali itu dari puncak dinding akar, ujungnya sudah diikat simpul berbentuk lingkaran.
Akira memasukkan lingkaran tali itu ke badan Kenzo, di bawah ketiaknya. "Naik duluan!"
Nayla tidak menarik dengan tenaga saja. Ia melilitkan tali itu dulu ke sebuah akar bengkok di sebelahnya, seperti katrol di tempat latihan panjat, supaya tarikannya jadi lebih ringan. Lalu ia menarik pelan-pelan dan mantap. Kenzo naik sambil memanjat akar dengan kakinya. Lalu tali itu turun lagi, dan giliran Akira yang naik.
Mereka bertiga akhirnya duduk di atas dinding akar yang tinggi. Basah kuyup. Terengah-engah. Di bawah mereka, air pasang terus naik dan memenuhi labirin.
Nayla memandangi mereka berdua bergantian. Lalu, dengan suara pelan dan napas yang masih ngos-ngosan, ia mengangkat kepalan tangannya ke depan mulut.
"Dan... selamat, Pemirsa," bisiknya.
Kenzo tertawa kecil. Tawanya serak dan lemah. Tapi tertawa.
Akira tidak tertawa. Tapi ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya, hangat yang tidak ada hubungannya dengan matahari.
"Kalian berdua."
Suara besar dan berat itu datang dari belakang mereka. Pohon bakau tertua, yang paling keriput, menoleh ke arah mereka. Daun-daunnya bergoyang pelan. Tidak marah lagi.
"Aku melihat yang barusan," katanya. "Kakak dan adik. Mengangkat akarku bersama-sama."
"Maaf, Mbah," kata Kenzo cepat. "Soal tunas-tunasnya tadi."
Pohon tua itu diam sebentar. "Kamu yang mengembalikan ikan kecil ke air tadi, kan?"
Kenzo mengangguk.
"Kalau begitu, kamu sudah dimaafkan." Pohon tua itu menunduk ke arah mereka. "Dan sebagai gantinya, aku akan memberi tahu kalian sesuatu. Tadi pagi, makhluk kotak-kotak abu-abu yang kalian cari itu lewat di sini. Membawa telur emas."
Mereka bertiga langsung tegak.
"Ke mana dia pergi, Mbah?"
"Ke dalam lubang abu-abu yang aneh. Lubang yang berkedip-kedip." Pohon tua itu menggoyangkan daunnya pelan. "Tapi ada yang aneh, Nak. Makhluk itu tidak seperti pencuri. Ia memeluk telur itu erat-erat. Seperti anak kecil yang sedang ketakutan memeluk bonekanya."
Akira mengerutkan kening. Penyu tua juga bilang begitu. Dia seperti sedang kabur.
Pencuri macam apa yang ketakutan?
Ting! Bubu melayang naik dan memandang ke langit. Warnanya berubah jingga, lalu kemerahan.
Akira ikut mendongak.
Matahari Jingga sudah melewati tengah langit. Sedikit. Tapi sudah lewat.
"Tuan-tuan dan Nona," kata Bubu pelan. "Waktu kita tinggal separuh. Seperti nasi yang tinggal keraknya."
Kenzo menelan ludah. Nayla menggenggam tali di tangannya erat-erat.
Akira menghitung di kepalanya. Separuh hari Jayaverse. Berarti satu jam di dunia nyata. Satu jam lagi menuju Magrib.
Dan mereka belum menemukan apa-apa.
Krrrk.
Bunyi itu lagi. Akira menunduk. Di atas dinding akar tempat mereka duduk, muncul retakan abu-abu kotak-kotak. Berkedip-kedip. Melebar.
"Pegangan!" teriak Akira.
Kali ini ia tidak perlu berpikir. Tangan kanannya langsung meraih tangan Kenzo. Tangan kirinya meraih tangan Nayla.
Lubang itu terbuka di bawah mereka.
Dan mereka bertiga jatuh bersama-sama ke dalam gelap.
FAKTA BUBU 🟡
Ting! Tahukah Tuan dan Nona? Pengungkit adalah alat sederhana yang membuat benda berat jadi terasa ringan! Caranya: selipkan batang panjang di bawah benda, beri tumpuan di dekatnya, lalu tekan ujung yang jauh. Makin panjang batangnya, makin ringan tenaga yang dibutuhkan.
Contohnya ada di sekitar kita: membuka tutup kaleng dengan sendok, gunting, dan jungkat-jungkit di taman bermain!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar