Bab 13 · Si Cimol, Bayi Komodo
Akira tidak berani bergerak.
Komodo-komodo itu makin dekat. Rumput emas tersibak di depan moncong mereka, srek, srek, srek. Kakinya pendek dan besar, dengan cakar melengkung. Kulitnya bersisik kasar seperti batu yang sudah lama kena hujan. Dan komodo yang paling depan, yang paling besar, masih membentangkan sayap kulitnya lebar-lebar.
Kenzo merapat ke punggung Akira.
Otak Akira berputar cepat. Lari? Mereka pasti lebih cepat. Panjat sesuatu? Nggak ada pohon di dekat sini. Pura-pura mati? Ia pernah membaca soal itu. Tapi itu untuk beruang, bukan komodo. Atau malah bukan untuk dua-duanya?
Ia masih berpikir ketika komodo terbesar itu sudah tepat di depan wajahnya.
Lidahnya menjulur keluar. Panjang, kuning, dan bercabang dua di ujungnya. Ssst. Lidah itu hampir menyentuh hidung Akira, lalu masuk lagi. Ssst. Keluar lagi, ke arah Kenzo.
Akira ingat satu halaman di ensiklopedianya. Komodo mencium dengan lidah. Lidahnya menangkap bau di udara, lalu membawanya masuk ke mulut. Komodo itu bukan sedang mengancam mereka. Ia sedang mengendus mereka.
"Ssssiapa kalian?" desis komodo itu. Suaranya serak dan pelan, seperti angin yang lewat di celah pintu.
Kenzo yang menjawab duluan. "Kami lagi nyari Telur Fajar, Pak Komodo! Kami mau balikin ke sarangnya!"
Lidah itu menjulur lagi. Ssst. Komodo besar itu diam lama.
"Bau kalian... bukan bau telur," katanya akhirnya. "Kalian bukan pencurinya."
Akira menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.
"Tapi dengar baik-baik." Sayap kulit itu terlipat pelan. "Ratu sedang murka. Tidak ada orang asing yang boleh mendekati gunung. Kalau kami melihat kalian lagi di dekat gunung, kalian akan kami bawa menghadap Ratu."
Lalu komodo-komodo itu berbalik dan menghilang ke dalam rumput tinggi, satu per satu. Srek. Srek. Srek.
Rumput emas itu diam lagi.
Kenzo terduduk lemas. "Aku kira kita mau dimakan."
"Aku juga," kata Akira jujur.
Matahari Jingga sudah condong ke barat. Akira menghitung lagi. Kira-kira empat puluh menit menuju Magrib.
Dan tidak ada Nayla. Tidak ada Bubu. Tinggal mereka berdua.
Akira mengeluarkan buku catatannya yang masih agak lembap. Ia menggambar peta seadanya. Padang rumput. Gunung berasap di kejauhan. Garis-garis tempat komodo tadi menghilang.
TIT-TIT-TIT. Gelangnya berbunyi. "Jangan lupa minum!"
"Nanti," gumam Akira. Ia menutupi gelang itu dengan telapak tangannya tanpa melihat. Pensilnya terus bergerak.
Panas sekali di savana ini. Tidak ada pohon besar, tidak ada awan, hanya rumput setinggi pinggang dan matahari yang menyengat. Keringat menetes dari kening Akira ke halaman buku catatannya.
"Rencananya begini," kata Akira. "Komodo-komodo itu jaga di sekitar sini. Jadi kita harus nyamar. Kita bikin baju dari rumput. Kalau kita jalan pelan-pelan di dalam rumput yang tinggi, mereka nggak bakal lihat kita."
Kenzo memandangi rumput di sekeliling mereka. "Bikinnya pakai apa?"
"Pakai tangan. Ayo."
Mereka mencabuti rumput kering, lalu mengikatnya dengan rumput yang lebih panjang. Akira menyelipkannya ke saku-saku rompinya. Kenzo mengikatnya ke tali celemeknya. Ikatan Kenzo copot terus, jadi Akira yang mengikatnya ulang. Dua kali. Tiga kali.
TIT-TIT-TIT. "Jangan lupa minum!"
"Iya, iya. Nanti."
Akhirnya mereka selesai. Akira mundur selangkah untuk melihat hasilnya.
Kenzo terlihat seperti orang-orangan sawah yang habis kena angin puting beliung. Rumputnya mencuat ke segala arah. Topi kokinya menyembul di atas. Dan di bagian dada, di sela-sela rumput, tulisan BAKSO MANTAP masih kelihatan jelas.
"Kak," kata Kenzo, memandangi Akira. "Kakak kayak ketupat yang kebanyakan janur."
Akira ingin membalas. Tapi tiba-tiba kepalanya terasa ringan sekali.
Rumput emas di depannya bergoyang, padahal tidak ada angin. Langit berputar pelan. Lututnya lemas seperti karet gelang yang sudah kendor.
Akira terhuyung. Lututnya menyentuh tanah.
"Kak?!"
Suara Kenzo terdengar jauh, seperti dari ujung lorong yang panjang.
Akira mencoba berdiri. Tidak bisa. Kepalanya berdenyut. Mulutnya kering sekali, sampai lidahnya terasa lengket.
Lalu ada sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.
Sebutir buah. Bulat, berkulit ungu kehitaman, sebesar kelapa kecil, dan berkilau-kilau seperti kelapa di pantai tadi. Di dekat mereka berdiri sebatang pohon lontar yang tinggi, dan di kakinya berserakan buah-buah yang sama.
"Pos minum, Kak," kata Kenzo. Ia sudah membelah buah itu dengan batu. Di dalamnya ada daging bening seperti agar-agar, penuh air. "Duduk dulu, Kak. Bismillah."
Akira duduk. Ia tidak punya tenaga untuk membantah.
"Bismillah," bisiknya.
Airnya manis dan segar. Akira minum pelan-pelan, sambil duduk, persis seperti kata Bunda. Lalu satu buah lagi. Lalu satu lagi.
Pelan-pelan, rumput berhenti bergoyang. Langit berhenti berputar.
Akira memandangi gelangnya. Detak jantungnya masih cepat. Ia ingat bunyi "jangan lupa minum" tadi. Tiga kali. Dan tiga kali ia bilang nanti.
Badan mereka benar-benar berkeringat di sini. Air di dalam badan keluar bersama keringat. Kalau tidak diganti, badan kekurangan air, dan kepalanya jadi pusing. Akira tahu itu. Ia bahkan pernah menjelaskannya di depan kelas.
Tapi ia lupa. Ia terlalu sibuk menyusun rencana.
Dan yang ingat justru Kenzo.
"Makasih, Ken," kata Akira pelan.
Kenzo nyengir, memperlihatkan gigi ompongnya. Lalu ia ikut duduk dan makan buah lontar. Banyak. Sangat banyak.
Penyamaran mereka bertahan kira-kira sepuluh menit.
Mereka berjalan pelan-pelan di dalam rumput tinggi, membungkuk, seperti dua semak yang sedang berjalan-jalan sore. Gunung berasap makin besar di depan.
Lalu terdengar bunyi itu lagi. Srek. Srek.
Seekor komodo muncul dari balik rumput, kira-kira lima langkah di depan mereka. Akira langsung diam, membeku. Kenzo juga.
Kami semak. Kami cuma semak.
Komodo itu menoleh ke arah mereka. Lidahnya menjulur. Ssst. Lalu sekali lagi. Ssst. Ssst.
Ia mendekat. Bukan ke Akira. Ke Kenzo.
Lidah bercabang itu menjulur ke dada Kenzo, ke tulisan BAKSO MANTAP yang menyembul di sela rumput. Moncong komodo itu bergerak-gerak.
"Ssss... bau apa ini..." desisnya. "Kaldu... sapi..."
Air liur menetes dari ujung mulutnya.
Akira menepuk jidatnya sendiri. Tentu saja. Komodo mencium dengan lidah. Ia sendiri yang tadi mengingatnya. Komodo tidak perlu melihat mereka. Baju rumput mereka tidak ada gunanya sama sekali, apalagi kalau salah satunya memakai celemek yang wangi kuah bakso.
"LARI!"
Mereka berlari menembus rumput. Baju rumput mereka rontok di sepanjang jalan. Di belakang, komodo itu mengejar, dan larinya cepat sekali.
"POHON, KAK!" teriak Kenzo, menunjuk ke depan.
Sebatang pohon asam tua berdiri sendirian di tengah padang rumput. Batangnya besar dan bengkok-bengkok, dahannya rendah.
Kenzo sampai lebih dulu. Ia memanjat seperti tupai, lalu berbalik dan menjulurkan tangan. Akira meraihnya. Kenzo menarik, Akira memanjat. Kaki Akira baru saja terangkat dari tanah ketika rahang komodo itu mengatup di bawahnya. KLAP!
Mereka naik lebih tinggi lagi, ke dahan yang besar, lalu duduk terengah-engah.
Di bawah, komodo itu mencoba memanjat. Cakarnya mencakar-cakar batang pohon. Tapi badannya terlalu berat. Ia merosot. Mencoba lagi. Merosot lagi. Ia mengepakkan sayap kulitnya, melompat setinggi lutut, lalu jatuh berdebam.
"Sayapnya kekecilan," bisik Kenzo. "Badannya kegedean."
Akira mengangguk. "Komodo dewasa terlalu berat buat manjat pohon."
Komodo itu menyerah. Ia berbaring di bawah pohon, menunggu, lidahnya keluar-masuk. Sesekali ia mendongak ke arah celemek Kenzo dengan wajah sangat sedih.
Daun-daun di atas mereka bergoyang.
Bukan karena angin. Gerakannya datang dari dahan yang lebih tinggi, di antara daun-daun asam yang rimbun.
Akira mendongak. Sepasang mata kecil berwarna kuning sedang mengintip dari balik daun. Mata itu langsung bersembunyi lagi.
"Ada apa di atas?" bisik Kenzo.
Pelan-pelan, daun-daun itu tersibak. Seekor komodo kecil, panjangnya tidak lebih dari lengan Kenzo, sedang memeluk dahan erat-erat. Sisiknya hijau kekuningan dengan bintik-bintik. Di punggungnya ada sepasang sayap mungil, tipis dan bening seperti sayap capung. Dan seluruh tubuhnya gemetar.
"Bayi komodo," bisik Akira. Ia ingat lagi halaman ensiklopedia yang sama. "Bayi komodo memang tinggal di atas pohon. Soalnya di bawah... komodo yang besar kadang makan komodo yang kecil."
Kenzo menoleh ke bawah, ke komodo besar yang sedang menunggu. Lalu ke atas, ke bayi komodo yang gemetar. Wajahnya berubah.
"Kasihan," bisiknya.
Lalu Kenzo melakukan sesuatu yang tidak Akira duga.
Ia diam.
Kenzo, yang biasanya tidak bisa diam lima detik, duduk diam di dahan. Ia tidak memanggil-manggil. Ia tidak mendekat. Ia hanya mengulurkan satu tangannya, telapak menghadap ke atas, lalu menunggu.
"Nggak apa-apa," katanya pelan sekali. "Aku nggak gigit. Aku juga takut, kok."
Satu menit. Dua menit. Komodo besar di bawah mendengkur. Angin savana berdesir.
Lalu bayi komodo itu bergerak. Turun satu dahan. Lalu satu lagi. Lidah kecilnya menjulur, sst, mencicipi udara di dekat tangan Kenzo. Lalu ke celemeknya.
Lalu ia merayap naik ke tangan Kenzo, ke lengannya, dan meringkuk di pangkuannya seperti kucing.
Kenzo menahan napas. Matanya berbinar-binar.
"Kamu bulet," bisiknya. "Kenyal. Kayak cimol." Ia mengelus kepala kecil itu dengan satu jari. "Namamu Si Cimol, ya."
Bayi komodo itu mengedipkan matanya pelan. Sayap mungilnya bergetar.
Akira memandangi mereka berdua. Adiknya, dengan celemek basah dan topi koki yang lepek, memangku seekor bayi komodo yang tadi ketakutan setengah mati.
Ia teringat Kenzo yang mengembalikan ikan kecil ke air di hutan bakau. Kenzo yang bilang dia nolongin aku soal Si Ngebug. Kenzo yang tahu-tahu sudah menyodorkan buah lontar tadi.
"Ken," kata Akira.
"Hm?"
"Kamu jago banget bikin makhluk percaya sama kamu."
Kenzo mendongak. Mulutnya terbuka sedikit. Ia menatap Akira lama, seperti tidak yakin barusan mendengar apa.
"Kakak... muji aku?"
Telinga Akira terasa panas. Ia membuang muka. Tapi kali ini ia tidak bilang jangan geer.
"Iya," katanya.
Lalu komodo besar di bawah pohon berhenti mendengkur.
Ia mengangkat kepala, lalu menunduk dalam-dalam sampai dagunya menyentuh tanah. Di kejauhan, komodo-komodo lain muncul dari balik rumput dan melakukan hal yang sama.
Angin bertiup kencang sekali. Daun-daun asam beterbangan.
Dan matahari tiba-tiba hilang.
Akira mendongak. Sebuah bayangan raksasa menutupi langit. Sepasang sayap yang begitu lebar sampai menutupi Matahari Jingga, mengepak pelan, wuuum, wuuum, membuat rumput di bawahnya rebah.
Seekor komodo yang besarnya seperti rumah turun dari langit. Sisiknya keemasan. Di kepalanya ada tanduk-tanduk kecil yang berjajar seperti mahkota. Ia mendarat di depan pohon asam. BUMMM. Tanah bergetar sampai dahan tempat mereka duduk ikut berguncang.
Ratu Naga.
Mata emasnya menatap ke atas pohon. Ke dua anak manusia. Dan ke bayi komodo yang meringkuk di pangkuan Kenzo.
Ratu Naga membuka mulutnya, dan suaranya menggelegar ke seluruh padang rumput.
"PENCURI! Sudah mencuri telurku, sekarang kalian mau mencuri anak-anak kami juga?!"
CATATAN AKIRA 🔴
Tahukah Tuan dan Nona? (Bubu, aku pinjam kalimatmu lagi.) Komodo adalah kadal terbesar di dunia dan hanya hidup di Indonesia, di Pulau Komodo, Rinca, Flores, dan sekitarnya. Komodo asli tidak bersayap, dan ia mencium dengan lidahnya yang bercabang. Bayi komodo tinggal di atas pohon selama beberapa tahun supaya aman dari komodo dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar