Bab 12 · Monster Baru di Tengah Badai
Tidak ada bunyi ting.
Kenzo terus menunggu bunyi itu. Bunyi kecil yang nyaring, seperti sendok diketuk ke gelas, lalu suara penyiar berita yang sok resmi: "Tuan-tuan dan Nona..."
Tapi yang terdengar hanya angin. Dan tali layangan yang berderit-derit karena menegang.
Kenzo duduk memeluk lutut di tepi pulau awan. Matanya panas. Ia sudah berhenti menangis, tapi rasanya tangisnya masih nyangkut di tenggorokan.
Ia menoleh ke kakaknya.
Akira berdiri di dekat simpul tali, memandang lurus ke depan, ke arah Pulau Seribu Naga. Wajahnya datar. Tidak sedih. Tidak apa-apa.
"Kakak nggak sedih, ya?" tanya Kenzo. Suaranya keluar lebih ketus dari yang ia mau.
Akira tidak menjawab.
"Bubu hilang, Kak! Disedot! Kakak diem aja!"
Akira tetap tidak menjawab. Tapi Kenzo melihat tangan kakaknya yang memegang tali. Buku-buku jarinya putih, saking kencangnya ia menggenggam.
Kenzo tidak tahu harus bagaimana membaca itu. Jadi ia memalingkan muka.
Nayla duduk di sebelah Kenzo dan merangkul bahunya. Ia tidak bilang apa-apa. Tidak ada Pemirsa. Rangkulannya saja sudah cukup.
Lalu Nayla melirik gelangnya sendiri dan meringis.
"Kenapa, Kak?"
"Bintangku tinggal dua." Ia menunjukkan gelangnya. Dari tiga gambar bintang, satu sudah padam. "Kena keranjang waktu jatuh di pasar tadi. Nggak kerasa, tahu-tahu udah berkurang."
Kenzo melirik gelangnya sendiri. Tiga bintangnya masih menyala. Entah kenapa, ia tidak merasa lega.
Langit mulai gelap.
Bukan gelap karena sore. Gelap karena awan. Awan-awan hitam yang tadi menumpuk di atas pulau sekarang sudah ada di depan mereka, tinggi sekali, seperti tembok yang menjulang sampai ke atas.
Matahari Jingga tidak kelihatan lagi.
Duaaar!
Kilat menyambar di dalam awan hitam itu. Sesaat semuanya putih terang, lalu gelap lagi.
Lalu hujan turun. Tidak pelan-pelan. Langsung deras, seperti air diguyur dari ember raksasa. Angin kencang menampar dari segala arah. Layangan raksasa mereka terombang-ambing, buntut naganya meliuk-liuk liar.
"Pegangan!" teriak Akira.
Nayla melompat ke dekat simpul dan ikut memegang tali bersama Akira. Kenzo merangkak ke arah tonjolan awan dan memeluknya erat-erat. Lalu ia merasakan sesuatu yang aneh. Awan di bawah lututnya terasa makin basah. Makin lembek.
Ia menunduk. Pulau awan mereka menyusut. Pinggirannya menetes-netes, berubah menjadi hujan, dan ikut jatuh ke laut.
"Kak! Awannya cair!"
Akira melihat ke bawah. Wajahnya pucat. Kenzo teringat penjelasan Bubu tadi. Kalau titik-titiknya bergabung jadi besar dan berat, mereka jatuh sebagai hujan.
Awan mereka sedang berubah menjadi hujan.
Lalu dari dalam awan hitam itu, sesuatu muncul.
Mula-mula hanya dua titik kuning yang menyala. Mata. Lalu dua tanduk besar yang melengkung, berkilat-kilat setiap kali kilat menyambar. Lalu tubuhnya. Besar dan berbulu kelabu kebiruan, seperti awan badai yang diberi badan. Tangannya bercakar panjang. Ada kilat-kilat kecil yang meletik di antara cakarnya. Tritt. Tritt.
Monster itu melayang mendekat, lalu berhenti tepat di depan mereka. Ia tertawa. Suaranya menggelegar bersama guntur.
"HAHAHAHA! Kaget, ya?!"
Kenzo membeku.
Ia kenal tawa itu.
Dan di pergelangan tangan monster itu, di antara bulu-bulu kelabu, melingkar sebuah gelang yang berkilau. Berwarna emas.
"Rafi?" bisik Kenzo.
"Bocil Bakso! Masih hidup kamu?" Monster itu memiringkan kepalanya, dan tanduknya ikut miring. "Keren, kan, kostum baruku? Baju ksatria itu ngebosenin. Jadi pahlawan nggak seru. Jadi penjahat lebih seru!"
Lalu dari belakang Rafi, dari balik awan hitam, terdengar bunyi yang sudah mereka kenal.
NGUUUUUUNG...
Si Penyapu muncul. Mata merahnya menyala di tengah hujan. Ia tidak menyerang. Ia hanya melayang di belakang Rafi, diam, menunggu. Seperti anjing yang menunggu perintah majikannya.
Rafi mengangkat tangan yang memakai gelang emas. Mata merah Si Penyapu ikut bergerak, mengikuti gelang itu ke atas, lalu ke bawah.
"Dia nurut sama aku," kata Rafi bangga. "Gara-gara gelang ini. Seru banget, kan?"
Kenzo merasa perutnya dingin. Jadi selama ini, monster yang menghapus pelangi, yang menghapus bapak penjual lada, yang menyedot Bubu... sekarang jadi peliharaan Rafi.
"Kalian lihat makhluk kotak-kotak abu-abu, nggak?" tanya Rafi. "Gelangku bilang dia virus. Kalau aku yang nangkep, Papa pasti..."
Rafi berhenti. Seperti tidak sengaja bicara terlalu banyak.
"Pokoknya aku yang mau nangkep," katanya cepat.
"Dia bukan virus!" Kenzo tidak tahu kenapa ia berteriak begitu. Kata-katanya keluar sendiri. "Dia nolongin aku!"
"Kenzo," desis Akira.
Rafi tertawa lagi. "Nolongin? Virus nolongin? Kamu tuh polos banget, ya, Bocil." Ia memandangi layangan raksasa mereka yang terombang-ambing di tengah badai. Mata kuningnya berbinar. "Eh, layangan kalian norak. Warna-warni gitu. Penyapu-ku suka yang warna-warni, lho."
Kenzo langsung mengerti maksudnya.
"Jangan!"
Rafi sudah melesat. Cakarnya menyambar rangka layangan dan mencengkeramnya. Ia menarik layangan itu ke arah belalai Si Penyapu.
Tali toska menyentak keras. Nayla, yang masih memegang tali di dekat simpul, ikut tertarik dan terseret di atas awan yang licin.
"Kak Nayla!"
Akira menyambar pinggang Nayla. Kenzo menyambar baju Akira. Mereka bertiga menahan tali seperti sedang lomba tarik tambang tujuh belasan. Tapi lawan mereka monster yang bisa terbang dan tidak pernah capek.
Tenggg! Tali itu menyentak lagi. Nayla terbanting ke tonjolan awan yang keras.
TIT! Gelang Nayla berbunyi. Kenzo melihat satu bintang lagi padam.
Tinggal satu.
"Lepasin aja, Kak!" teriak Kenzo. Ia melepaskan baju Akira dan merangkak maju ke simpul tali, mencoba membukanya. Biar layangannya lepas. Biar Kak Nayla tidak terbanting lagi.
Tapi simpul itu tidak mau terbuka. Makin ditarik makin kencang.
"Nggak!" Nayla menggertakkan gigi. "Ini satu-satunya jalan kita ke pulau!"
Rafi berdecak kesal. "Ih, bandel." Ia mengibaskan tangannya yang bebas ke arah simpul tali. Kilat-kilat kecil meletik dari cakarnya.
Kibasan itu mengarah tepat ke tangan Kenzo.
Nayla melihatnya lebih dulu. Ia melepaskan satu tangan dari tali dan mendorong Kenzo ke samping sekuat tenaga.
Kenzo terguling. Kibasan Rafi lewat tepat di tempat tangannya tadi berada.
Dan mengenai Nayla.
Semuanya terjadi cepat sekali.
Nayla terlempar dari pulau awan, masuk ke dalam hujan.
TIT-TIT-TIT. Bunyi gelangnya terdengar sekali lagi, pelan, di tengah deru angin.
Lalu tubuh Nayla berkedip. Seperti lampu yang mau padam. Satu kali. Dua kali.
Lalu hilang.
Tidak jatuh ke laut. Tidak tersangkut di mana pun. Hilang begitu saja, di tengah udara.
"KAK NAYLAAAA!"
Rafi berhenti menarik. Untuk sesaat, mata kuningnya melebar. Cakarnya yang memegang layangan sedikit mengendur.
"Eh..." katanya. "Bukan aku. Dia sendiri yang nggak mau lepas."
Lalu ia membuang muka. Ia melepaskan layangan dan melesat pergi menembus awan hitam. Si Penyapu mengikutinya, patuh, seperti bayangan.
nguuuung...
"Bintangnya habis," kata Akira. Suaranya bergetar. "Secara teori... kalau bintangnya habis, dia balik ke titik simpan. Pasti ke pantai awal. Waktu studi wisata dulu juga gitu."
Kenzo menatap kakaknya. Ia ingin percaya. Ia ingin sekali percaya.
Tapi tadi kakaknya juga bilang tepuk tiga kali pasti memanggil gerbang.
Lalu Kenzo melihat tali layangan. Tali toska itu, tali buatan Nayla, mulai memudar. Warnanya makin pucat, makin bening, seperti es batu yang mencair.
"Kak... talinya..."
Tali itu putus.
Layangan raksasa terlepas. Angin badai langsung menyambarnya. Dan pulau awan di bawah kaki mereka, yang sudah tinggal sebesar tikar, akhirnya ambrol menjadi hujan.
Mereka jatuh.
Kenzo menggapai-gapai udara. Lalu tangannya menyentuh sesuatu yang bersisik.
Buntut naga. Buntut layangan buatannya sendiri, yang menjuntai panjang ke bawah.
Kenzo mencengkeramnya dengan dua tangan. Sedetik kemudian, tangan Akira ikut mencengkeram buntut itu, tepat di bawah tangannya.
"JANGAN LEPAS!" teriak Akira.
"NGGAK!"
Layangan itu jatuh berputar-putar seperti daun kering. Langit, laut, awan hitam, langit lagi, semuanya berputar. Kenzo memejamkan mata. Perutnya terasa seperti ketinggalan di atas.
Bismillah. Bismillah. Bismillah.
Lalu, tiba-tiba, hujan berhenti.
Kenzo membuka mata. Mereka sudah keluar dari bawah awan badai. Di bawah mereka terbentang padang rumput yang luas sekali, berwarna emas, berkilau ditimpa cahaya Matahari Jingga yang muncul lagi dari balik awan.
Layangan mereka meluncur makin rendah. Makin rendah. Ujung buntutnya menyapu ujung-ujung rumput.
GEDEBUK!
Kenzo dan Akira jatuh berguling-guling di atas rumput. Layangan raksasa itu menancap miring di tanah, lalu pelan-pelan memudar dan menghilang. Pooof.
TIT. Gelang Kenzo berbunyi. Satu bintangnya padam. Gelang Akira juga.
Kenzo terlentang di rumput, terengah-engah. Rumputnya tinggi, kering, dan panas. Langitnya biru lagi. Rasanya ia ingin tidur saja di situ.
"Ken," bisik Akira.
Suara kakaknya aneh. Pelan sekali. Seperti orang yang tidak mau membangunkan sesuatu.
Kenzo mengangkat kepala.
Di sekeliling mereka, rumput emas itu bergoyang-goyang. Bukan karena angin. Dari balik rumput, muncul kepala-kepala besar bersisik. Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Lebih. Lidah-lidah panjang bercabang menjulur keluar masuk, ssst, ssst, mencicipi udara.
Komodo.
Belasan ekor. Mengepung mereka dari segala arah.
Dan di punggung komodo yang paling dekat, sepasang sayap kulit yang besar pelan-pelan terbentang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar