Chapter 20
Sidang Buat Anak Pendiam
Ada banyak cara membuat satu meja bakso menjadi hening.
Menjatuhkan mangkuk.
Melihat guru BK duduk di meja sebelah.
Mendengar harga es teh naik.
Atau, dalam kasus sore itu, mendengar Raka berkata:
“Karena aku nggak boleh pacaran.”
Lima detik berlalu.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan Bima, yang biasanya menganggap keheningan sebagai ruang kosong yang harus segera diisi, kali ini hanya berkedip.
Naya duduk di seberang Raka dengan sendok menggantung di udara.
Alya menutup mata seperti orang yang baru saja melihat bencana datang dari arah yang sudah ia duga.
Salsa menahan senyum dengan susah payah.
Bima akhirnya membuka mulut.
“Lah, terus confess kemarin itu apa?”
Raka menatap mangkuk baksonya.
“Confess.”
“Confess tapi nggak boleh pacaran?”
“Iya.”
Bima meletakkan sendoknya pelan-pelan.
Gerakan itu terlalu hati-hati untuk ukuran Bima.
Lalu ia menatap Raka dengan wajah yang pernah mereka lihat sebelumnya: wajah Bima ketika merasa semesta memberinya kasus.
“Baik,” katanya pelan. “Sidang dibuka.”
Alya langsung menoleh.
“Tidak.”
“Sebentar. Ini perkara serius.”
“Bima.”
“Tidak, ini penting. Ini bukan lagi kasus receh. Ini perkara prinsip.”
Alya menatap Bima.
“Jangan pakai istilah hukum.”
“Bagaimana tidak? Ada confess tanpa jalur pacaran. Ini seperti sidang tanpa hakim.”
“Berarti tidak sah,” kata Alya.
Bima berhenti sebentar.
Lalu menunjuk Alya.
“Kalau begitu kamu jadi hakim.”
“Aku tidak mau.”
“Sudah terpilih secara aklamasi.”
“Tidak ada aklamasi.”
“Ada. Aku mengaklamasikan.”
Salsa tertawa kecil.
“Biarkan Raka jelaskan dulu.”
Bima langsung duduk lebih tegak.
“Baik. Terdakwa dipersilakan memberi keterangan.”
Raka menatap Bima datar.
“Aku bukan terdakwa.”
“Untuk sementara iya.”
“Tidak.”
Naya menaruh sendoknya.
“Bima.”
Bima mengangkat kedua tangan.
“Baik. Saksi utama dipersilakan bertanya.”
Naya menatapnya.
“Aku juga bukan saksi utama.”
“Kamu korban kebingungan.”
Naya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Karena, sialnya, itu tidak sepenuhnya salah.
Semua mata kembali ke Raka.
Dalam sidang dadakan yang entah sejak kapan benar-benar dimulai itu, Raka jelas menjadi pihak yang paling sulit diselamatkan.
Masalahnya, ia terlihat seperti orang yang sangat ingin menghilang ke balik gerobak bakso.
Sayangnya, kursinya tidak menyediakan fitur itu.
Naya menatapnya.
Tidak marah.
Tidak tersinggung.
Lebih tepatnya: bingung.
“Rak.”
“Hm?”
“Maksudnya nggak boleh pacaran itu gimana?”
Raka diam sebentar.
Lalu menarik napas.
“Di rumahku, pacaran itu dianggap serius.”
Bima mengangguk sangat lambat.
“Pacaran memang cukup serius.”
“Bukan serius yang itu,” kata Raka.
“Serius yang mana?”
Alya mengetuk meja dengan ujung sendok.
“Jaksa tidak memotong keterangan.”
Bima langsung menoleh.
“Aku jaksa?”
“Kamu yang mulai.”
Bima tampak tersentuh.
“Baik, Yang Mulia.”
“Jangan panggil aku begitu.”
Raka menatap gelas es tehnya.
“Kalau mau dekat sama seseorang, harus jelas niatnya. Jangan cuma karena suka sebentar. Jangan main-main. Jangan bikin orang berharap kalau belum siap.”
Meja itu menjadi lebih tenang.
Kalimat Raka tetap sederhana.
Tapi kali ini tidak terdengar lucu.
Alya menatapnya dengan sedikit lebih lembut.
Salsa juga.
Naya memegang gelasnya dengan dua tangan.
Bima, untuk beberapa detik, benar-benar terlihat seperti sedang berpikir sebelum bicara.
Itu kejadian langka.
Lalu tentu saja, ia tetap Bima.
“Jadi,” kata Bima pelan, “kalau kamu pacaran, levelnya langsung dikenalin keluarga?”
Raka diam.
Naya langsung menunduk.
Wajahnya memerah.
Alya menutup mulut dengan tangan.
Salsa tidak sanggup menahan tawa.
Raka menjawab, “Kurang lebih.”
Bima berdiri setengah dari kursinya.
“ITU BUKAN PACARAN. ITU BAB PENUTUP.”
Beberapa orang di meja sekitar menoleh.
Alya menarik lengan Bima agar duduk lagi.
“Pelankan suara.”
Bima duduk, tapi wajahnya masih penuh guncangan.
“Naya.”
Naya menatapnya dengan mata membesar.
“Jangan panggil aku.”
“Kamu tahu ini?”
“Baru tahu!”
Bima menunjuk Raka.
“Rak, kamu confess ke Naya dengan sistem langsung pranikah?”
Raka menatap Bima datar.
“Tidak.”
“Tapi arah kebijakannya ke sana!”
“Bima,” kata Alya, “berhenti membuat istilah.”
Naya menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ya Allah.”
Salsa tertawa semakin sulit ditahan.
“Maaf, Nay. Tapi ini lucu.”
“Ini tidak lucu.”
“Sedikit.”
“Banyak,” kata Bima.
Alya mengetuk meja lagi.
“Jaksa diperingatkan.”
Bima langsung duduk tegak.
“Maaf, Yang—”
Alya menatapnya.
“Maaf.”
Raka menunduk.
“Maaf.”
Naya menurunkan tangan sedikit.
“Jangan minta maaf dulu. Aku masih memproses bahwa kemarin aku ditembak anak yang secara sistem keluarga tidak mengenal mode santai.”
Bima menunjuk Naya.
“Nah! Itu istilahnya.”
Raka tampak makin ingin menjadi bagian dari lantai.
Alya menghela napas panjang.
“Jadi, intinya, kamu suka Naya, tapi kamu nggak bisa langsung pacaran seperti orang-orang biasanya?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
“Dan kamu confess karena?”
Raka menatap Naya sebentar.
Lalu kembali ke meja.
“Karena dia tanya.”
Bima menepuk meja.
“Keberatan!”
Alya menatapnya.
“Keberatan terhadap apa?”
“Terhadap metode komunikasi terdakwa.”
“Apa maksudnya?”
Bima menunjuk Raka.
“Kalau Naya tidak tanya, dia mau menyimpan ini sampai kapan? Sampai pembagian rapor? Sampai kelas XII? Sampai reuni?”
Raka tidak langsung menjawab.
Bima menunjuknya.
“Jangan bilang mungkin.”
Raka menutup mulut.
Naya, meski masih malu, hampir tertawa.
“Kamu mau jawab mungkin?”
“Sedikit.”
“Raka.”
“Tidak tahu,” kata Raka akhirnya.
Meja kembali tenang.
Kali ini, keheningannya lebih lunak.
Karena jawaban itu jujur.
Mungkin terlalu jujur.
Raka melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Aku tidak punya rencana membuat ini jadi rumit. Aku juga tidak mau memaksa Naya jawab apa-apa. Aku cuma… sudah tidak bisa pura-pura kalau perhatianku biasa saja.”
Naya menatapnya.
Panas di pipinya belum hilang.
Tapi sekarang ada hal lain juga.
Sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh, tapi tidak buruk.
Bima membuka mulut.
Alya langsung menunjuknya tanpa melihat.
“Jaksa diam.”
Bima menutup mulut lagi.
Salsa tersenyum.
“Nay,” katanya lembut, “kamu sendiri gimana?”
Naya langsung menoleh.
“Aku?”
“Iya.”
“Aku…” Naya melihat mangkuk baksonya. “Aku belum tahu.”
Raka mengangguk cepat.
“Tidak apa-apa.”
“Jangan jawab dulu,” kata Naya.
Raka berhenti.
Naya menarik napas.
“Aku bukan nggak suka. Tapi ini… baru banget buatku. Maksudku, aku baru sadar. Atau baru dibuat sadar. Atau sebenarnya sudah sadar tapi pura-pura nggak sadar. Aku juga nggak tahu.”
Bima mengangkat tangan pelan.
“Kalimatmu mulai seperti tersangka dalam tekanan.”
Naya menatapnya.
Bima menurunkan tangan.
“Maaf.”
Naya menatap Raka lagi.
“Aku nyaman sama kamu. Itu benar. Aku suka ngobrol sama kamu, apalagi kalau kamu nggak cuma jawab ‘ya’ dan ‘hm’. Aku juga suka kamu perhatiin hal kecil, walaupun kadang menyebalkan.”
Raka diam.
Bima terlihat ingin mencatat.
Alya menatapnya.
Bima menjauhkan tangan dari buku penyelidikan.
Naya melanjutkan, lebih pelan.
“Tapi kalau harus langsung disebut pacaran, apalagi pacaran versi keluargamu yang levelnya kayak mau bawa map lamaran…”
Salsa tertawa kecil.
Naya ikut tertawa karena gugup.
“Aku belum siap.”
Raka mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kamu nggak kecewa?”
Raka berpikir.
“Sedikit.”
Naya terdiam.
Raka cepat-cepat melanjutkan, “Tapi bukan kecewa ke kamu. Ke keadaan. Ke aku juga, mungkin.”
Naya menatapnya.
Raka jarang menjelaskan dirinya sepanjang ini.
Karena itu, setiap kalimatnya terasa lebih berat.
“Aku tahu ini aneh,” katanya. “Aku bilang suka, tapi tidak bisa menawarkan bentuk yang jelas. Jadi kalau kamu butuh waktu, atau kalau kamu merasa ini terlalu berat, tidak apa-apa.”
Naya menatapnya lama.
Lalu berkata pelan, “Kamu tahu nggak, kamu ini aneh banget?”
Raka menunduk sedikit.
“Iya.”
“Tapi anehnya… baik.”
Bima langsung memegang dada.
“Wah.”
Alya memejamkan mata.
“Bima.”
“Maaf. Itu keluar dari hati.”
Salsa tersenyum.
Naya menarik napas lagi.
“Jadi begini. Aku belum mau langsung pacaran. Dan kalau aturan rumahmu begitu, aku juga jelas belum siap dikenalin sebagai calon apa pun. Aku masih berjuang lulus matematika dengan bermartabat.”
Bima mengangkat tangan.
“Aku juga.”
“Ini bukan tentang kamu.”
“Maaf.”
Naya menatap Raka.
“Tapi aku juga nggak mau kamu tiba-tiba menjauh karena sudah confess.”
“Aku tidak akan.”
“Dan aku nggak mau circle jadi aneh.”
Bima, Alya, dan Salsa otomatis duduk lebih tegak.
Naya melihat mereka bertiga.
“Kalian juga. Jangan aneh.”
Bima menunjuk dirinya.
“Aku memang—”
“Aneh yang lain,” potong Naya.
“Oh.”
Alya tersenyum kecil.
“Nay, kita tidak akan maksa kamu jawab apa pun.”
Salsa mengangguk.
“Kita juga nggak akan bikin kamu dan Raka jadi tontonan.”
Semua mata perlahan berpindah ke Bima.
Bima tersinggung.
“Kenapa lihat aku?”
Alya berkata datar, “Karena bagian itu paling relevan untukmu.”
Bima memegang dadanya.
“Aku bisa dewasa.”
Naya menatapnya.
Bima melanjutkan, “Kadang.”
Raka berkata pelan, “Usahakan sering.”
Bima menunjuk Raka.
“Lihat, bahkan saat sedang dalam kasus percintaan, dia masih menusukku.”
Naya tertawa.
Tawa itu membuat ketegangan di meja akhirnya benar-benar turun.
Tidak hilang seluruhnya.
Tapi cukup untuk membuat semua orang bisa bernapas lagi.
Alya mengambil gelasnya.
“Baik. Sebelum jaksa membuat dakwaan tambahan, sidang ini butuh putusan.”
Bima langsung tegak.
“Saya siap membacakan tuntutan.”
“Tidak,” jawab empat orang bersamaan.
Bima mengangkat kedua tangan.
“Baik. Jaksa mundur sementara.”
Salsa menahan senyum.
“Putusannya: Naya dan Raka jalan pelan-pelan. Tidak ada yang dipaksa. Circle tetap seperti biasa.”
“Seperti biasa tapi dengan pengetahuan baru,” tambah Bima.
Alya menatapnya.
Bima cepat-cepat berkata, “Pengetahuan yang akan dijaga dengan penuh tanggung jawab.”
Naya menyipit.
“Bima.”
“Iya?”
“Kalau kamu membuat pengumuman, aku akan menyidangmu di depan kelas.”
Bima menelan ludah.
“Dengan Palkim?”
“Dengan Palkim.”
“Keadaan serius.”
Raka menatap Bima.
“Jangan.”
“Aku tidak akan.”
Alya menatapnya lebih tajam.
Bima mengangkat tiga jari.
“Sumpah demi Palkim.”
Salsa tertawa.
“Kenapa malah terdengar tidak meyakinkan?”
“Karena dia Bima,” kata Raka.
Bima mengangguk pelan.
“Itu adil.”
Setelah sidang tidak resmi yang bahkan tidak punya berkas perkara itu selesai, mereka melanjutkan makan bakso.
Awalnya canggung.
Tentu saja.
Naya beberapa kali menghindari tatapan Raka.
Raka beberapa kali terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu memilih makan bakso.
Bima beberapa kali membuka mulut, lalu menutupnya karena Alya menatapnya dari samping.
Salsa beberapa kali tersenyum melihat usaha semua orang agar suasana tetap normal.
Namun semakin lama, mereka kembali ke ritme lama.
Bima mengeluh karena kuah baksonya kurang pedas.
Naya mencuri sedikit sambal dari meja sebelah, lalu langsung ditegur Alya.
Raka menggeser gelas air ke dekat Naya tanpa bicara.
Naya menatap gelas itu.
Lalu menatap Raka.
Untuk sesaat, keduanya sama-sama diam.
Bima melihat.
Alya juga.
Salsa juga.
Raka tampak baru sadar apa yang ia lakukan.
Ia hampir menarik tangannya kembali.
Namun Naya mengambil gelas itu.
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Bima menggigit bakso dengan sangat hati-hati agar tidak bersuara.
Alya menahan senyum.
Salsa melihat Naya.
Naya meminum air, lalu berkata, “Jangan lihat aku kayak begitu.”
Bima langsung menatap mangkuknya.
“Aku melihat bakso.”
“Bohong.”
“Baksonya punya aura.”
Raka berkata, “Bakso tidak punya aura.”
Bima menunjuknya.
“Ini dia. Orang yang membuat confess tapi menolak konsep aura bakso.”
Naya hampir tersedak.
Alya tertawa.
Salsa ikut tertawa.
Raka menatap Bima.
Untuk pertama kalinya sore itu, wajahnya tidak setegang sebelumnya.
“Tidak ada hubungannya.”
“Ada. Semuanya terhubung dalam semesta Mahkamah Receh.”
“Jangan bawa Mahkamah Receh.”
“Itu asal mula kita.”
Kalimat Bima membuat tawa mereka sedikit melambat.
Karena, lagi-lagi, Bima tidak sepenuhnya salah.
Mahkamah Receh memang asal mula mereka.
Bukan karena stand itu sendiri.
Tapi karena dari sanalah lima orang yang tadinya berdiri di tempat masing-masing mulai duduk di meja yang sama.
Alya menatap mereka satu per satu.
“Bima.”
“Iya?”
“Kali ini kamu benar.”
Bima berhenti makan.
“Aku ingin merekam kalimat itu.”
“Jangan.”
“Tapi ini sejarah.”
“Jangan membuatku menariknya kembali.”
Bima menahan diri.
Kemajuan besar.
Setelah makan, mereka tidak langsung pulang.
Seperti biasa, mereka duduk lebih lama daripada yang direncanakan.
Bukan karena ada agenda.
Bukan karena ada masalah besar.
Hanya karena belum ada yang ingin pergi duluan.
Salsa akhirnya berkata pelan, “Aku senang kita ngobrol begini.”
Naya menoleh.
“Tentang Raka yang tidak boleh pacaran?”
Salsa tertawa.
“Bukan cuma itu.”
Alya mengangguk.
“Setidaknya jadi jelas.”
Bima mengangkat jari.
“Jelas tapi belum final.”
“Bima,” kata Naya.
“Apa? Benar kan? Ini statusnya bukan pacaran, bukan tidak pacaran, bukan tidak tidak suka—”
“Kalau kamu lanjut, aku lempar bakso.”
Bima menutup mulut.
Raka menatap meja.
Lalu berkata pelan, “Tidak perlu diberi nama dulu.”
Naya menoleh.
Raka melanjutkan, “Kalau semua setuju.”
Alya mengetuk meja sekali dengan ujung sendok.
“Usulan diterima untuk dipertimbangkan.”
Bima mengangkat tangan.
“Sebagai jaksa, aku merasa istilah tanpa nama ini menyulitkan arsip.”
Naya mengangkat sendok.
Bima langsung berkata, “Jaksa setuju.”
Salsa tertawa.
Naya menatap Raka, lalu mengangguk.
“Aku juga setuju.”
Alya tersenyum kecil.
“Salsa?”
“Aku setuju.”
Maka sore itu, di meja bakso depan sekolah, mereka membuat kesepakatan yang tidak ditulis di mana pun.
Raka dan Naya tidak pacaran.
Belum.
Tidak ada label besar.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada perubahan dramatis.
Raka tetap boleh memperhatikan, selama Naya boleh protes kalau terlalu diatur.
Naya boleh butuh waktu, selama Raka tidak tiba-tiba menghilang.
Bima tidak boleh membuat konferensi pers.
Alya dan Salsa tidak boleh terlalu sering memberi tatapan “kami tahu”.
Semua orang setuju, meski poin terakhir langsung dilanggar tiga menit kemudian saat Raka mengingatkan Naya agar tidak memesan es terlalu dingin.
“Tatapan,” kata Naya sambil menunjuk Alya dan Salsa.
Alya pura-pura melihat jalan.
Salsa pura-pura mengecek ponsel.
Bima pura-pura tidak hidup.
Raka tidak paham.
Atau pura-pura tidak paham.
Setelah itu, hari-hari berjalan dengan cara yang hampir sama.
Hampir.
Di kelas, mereka tetap berkumpul di meja yang sama.
Bima tetap menjadi sumber perkara.
Alya tetap mengatur banyak hal sambil belajar membagi beban.
Salsa tetap tersenyum pada banyak orang, tapi semakin pandai berkata tidak.
Raka tetap pendiam.
Naya tetap berisik.
Namun ada hal-hal kecil yang berubah.
Raka tidak lagi selalu menyembunyikan perhatiannya.
Tidak terang-terangan.
Tapi juga tidak sekeras dulu menyangkal.
Saat Naya lupa botol minum, ia meletakkannya di meja Naya.
Saat Naya terlalu banyak bicara sampai batuk kecil, ia hanya menunjuk botol.
Saat Naya menatapnya dengan wajah kesal, ia kadang berkata, “Sebentar saja.”
Dan Naya, yang dulu akan langsung berdebat panjang, sekarang kadang menurut sambil mengeluh pendek.
“Petugas Ketertiban makin berkuasa,” kata Bima suatu hari.
Naya menunjuknya.
“Jangan mulai.”
“Aku hanya mengamati dinamika sosial.”
Alya menatap Bima.
“Buku penyelidikanmu mana?”
Bima memeluk tasnya.
“Sudah pensiun.”
Raka menatapnya.
“Serius?”
“Tidak. Tapi sedang cuti.”
Salsa tertawa.
Amplop kesan-pesan masih disimpan masing-masing.
Naya menyimpan miliknya di laci meja belajar.
Kertas dari Raka ia lipat paling rapi.
Tidak pernah ia akui.
Tapi ia tahu.
Raka juga menyimpan amplopnya.
Termasuk kertas dari Naya yang menyuruhnya berhenti menyalahkan efek cahaya.
Suatu hari, seminggu setelah perkara Raka resmi diputuskan tanpa vonis apa pun, Naya membawa lima kertas kosong ke meja mereka.
“Aku punya ide.”
Alya langsung waspada.
“Kenapa kalimat itu selalu membuatku takut?”
“Tenang. Ini bukan stand.”
Bima langsung kecewa.
“Sayang.”
Naya membagikan kertas itu ke mereka.
“Kita tulis kesan-pesan lagi.”
Salsa tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena yang kemarin anonim. Kali ini nggak.”
Raka menatap kertas kosong di depannya.
“Untuk apa?”
“Untuk arsip Mahkamah Receh.”
Bima langsung hidup kembali.
“Arsip!”
Alya menatap Naya.
“Kamu yakin tidak cuma ingin membuat kita malu?”
“Dua-duanya bisa jalan bersama.”
Salsa mengambil pulpen.
“Aku mau.”
Alya menghela napas, tapi tetap mengambil pulpen juga.
Bima sudah menulis bahkan sebelum instruksi selesai.
Raka menatap kertasnya sebentar.
Lalu mulai menulis.
Mereka menulis dalam diam.
Bukan diam yang canggung.
Diam yang nyaman.
Setelah selesai, Naya mengumpulkan semua kertas dan membagikannya sesuai nama.
Alya mendapat pesan dari Bima:
Kesan: ketua kelas paling menakutkan tapi efektif.
Pesan: jangan pensiun dari mengatur hidupku, nanti aku liar.
Alya menghela napas.
Tapi tersenyum.
Salsa mendapat pesan dari Naya:
Kesan: cantik, tapi bukan cuma itu.
Pesan: kalau ada yang lupa, suruh dia datang ke aku. Akan kujelaskan pakai volume besar.
Salsa tertawa kecil.
Bima mendapat pesan dari Alya:
Kesan: berisik.
Pesan: anehnya, cukup berguna. Jangan terlalu bangga.
Bima memegang dada.
“Ini pujian terindah darimu.”
“Jangan terlalu bangga.”
“Terlambat.”
Raka mendapat kertas dari Naya.
Ia membukanya.
Tulisan Naya besar dan miring.
Kesan: pendiam, tapi ternyata banyak yang disimpan.
Raka membaca baris berikutnya.
Pesan: kalau suka orang, jangan bikin satu circle jadi detektif.
Raka menatap kertas itu lama.
Lalu menatap Naya.
Naya mengangkat alis.
“Apa?”
Raka melipat kertas itu pelan.
“Sesuai.”
“Bagus.”
“Terima kasih.”
“Cuma itu?”
Raka diam sebentar.
Lalu berkata, “Aku akan coba.”
Naya tersenyum.
“Bagus.”
Bima langsung mencondongkan badan.
“Coba apa?”
Naya mengambil kertas kosong dan mengetuk kepala Bima pelan.
“Jangan mulai.”
“Baik.”
Lalu Naya membuka kertas yang ia terima dari Raka.
Tulisan Raka kecil, rapi, dan singkat.
Sangat Raka.
Kesan: berisik.
Naya langsung menatapnya.
“Rak.”
“Baca dulu.”
Naya menurunkan pandangan ke baris berikutnya.
Pesan: jangan berhenti.
Naya diam.
Kelas di sekitar mereka tetap ramai.
Bima sedang membaca ulang pesannya sendiri dengan bangga.
Alya sedang menegur Bima agar tidak menyimpan kertasnya di jidat.
Salsa sedang tersenyum melihat pesan dari Alya.
Namun bagi Naya, suara-suara itu seperti turun sedikit.
Ia menatap dua baris itu.
Berisik.
Jangan berhenti.
Sederhana.
Pendek.
Tidak romantis secara berlebihan.
Tapi tepat.
Terlalu tepat.
Naya melipat kertas itu dengan hati-hati.
Lalu menatap Raka.
“Ini panjang untukmu?”
Raka menatapnya.
“Lumayan.”
Naya tersenyum.
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Bima, tentu saja, tidak bisa membiarkan momen itu terlalu utuh.
Ia menyambar kertas Naya dari tangan Raka—atau setidaknya mencoba.
Raka langsung mengangkat kertas itu lebih tinggi.
Bima menunjuk mereka.
“Wah! Ada dokumen rahasia?”
Alya langsung berkata, “Bima, jangan.”
Salsa tertawa.
Naya memegang kertas dari Raka di depan dadanya.
“Ini arsip pribadi.”
“Mahkamah butuh transparansi.”
“Mahkamah sedang cuti,” kata Raka.
Bima membeku.
Lalu menunjuk Raka dengan mata berbinar.
“Kamu memakai istilahku.”
“Tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa. Aku terharu.”
Naya tertawa.
Alya menggeleng.
Salsa tersenyum.
Dan di meja yang sama, lima orang itu kembali ribut seperti biasa.
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Atau mungkin banyak yang berubah, tapi tidak dengan cara yang merusak.
Circle mereka tetap circle.
Bima tetap membuat semua orang ingin menyita buku penyelidikannya.
Alya tetap menjadi orang yang paling sering berkata “fokus”.
Salsa tetap menjadi orang yang paling cepat menyadari suasana berubah.
Raka tetap menjadi anak pendiam yang ternyata selalu memperhatikan.
Dan Naya tetap menjadi orang paling berisik di ruangan itu.
Hanya saja sekarang, setiap kali Naya tertawa terlalu keras, ada seseorang yang melihat bukan untuk menyuruhnya berhenti menjadi dirinya sendiri.
Melainkan untuk memastikan ia tidak kelelahan sendirian.
Beberapa minggu kemudian, saat kelas mereka mulai membicarakan pembagian kelas XII, Bima kembali membuka topik lama.
“Kalau nanti kita beda kelas, Mahkamah Receh tetap aktif kan?”
Naya menatapnya.
“Grupnya masih ada.”
Alya mengangguk.
“Selama kamu tidak spam.”
Salsa tersenyum.
“Kita masih bisa makan bakso.”
Raka berkata pelan, “Dan mengembalikan barang Bima yang tertinggal.”
Bima tersinggung.
“Aku tidak sesering itu meninggalkan barang.”
Empat orang menatapnya.
Bima menghela napas.
“Baik. Mungkin sering.”
Naya mengangkat botol minumnya.
“Kalau beda kelas, tetap kabari kalau ada kasus.”
“Kasus apa?” tanya Alya.
Naya tersenyum.
“Kasus gorengan terakhir. Kasus charger hilang. Kasus orang yang bilang otw padahal masih mandi.”
Bima mengangkat tangan.
“Kasus cinta tidak jelas statusnya?”
Naya melempar gulungan kertas.
Bima menghindar sambil tertawa.
Raka menatap Bima.
“Cuti.”
Bima menunjuknya.
“Dia mengatakannya lagi!”
Alya tertawa.
Salsa ikut tertawa.
Naya tertawa paling keras.
Raka tidak menyalahkan efek cahaya kali ini.
Ia hanya tersenyum.
Dan mungkin memang begitulah cara terbaik untuk menutup cerita mereka saat itu.
Bukan dengan status yang langsung jelas.
Bukan dengan janji besar.
Bukan dengan drama panjang yang membuat semua orang lelah.
Tapi dengan satu meja yang tetap ramai.
Satu grup yang tetap hidup.
Satu circle yang tidak dirancang untuk confess, tapi cukup kuat untuk menampungnya.
Dan satu anak pendiam yang, setelah membuat satu circle jadi detektif, akhirnya belajar bicara sedikit lebih jujur.
Tamat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar