Chapter 10
Anak yang Terlalu Ribut Akhirnya Tumbang
Bima menghabiskan dua hari berikutnya dengan memperlakukan payung Raka seperti barang bukti.
Bukan barang bukti biasa.
Barang bukti utama.
Setiap kali melihat Raka, ia menatapnya dengan mata menyipit.
Setiap kali melihat Naya, ia menatap payung hitam yang kini sudah kembali ke pemiliknya, seolah benda itu bisa memberikan kesaksian.
Alya sudah melarangnya membahas teori payung sebanyak enam kali.
Naya sudah melempar gulungan kertas ke arahnya sebanyak tiga kali.
Salsa hanya tertawa setiap kali Bima mulai memasang wajah detektif.
Raka, seperti biasa, tidak terlihat peduli.
Atau setidaknya terlihat begitu.
“Rak,” kata Bima saat istirahat, duduk di hadapan Raka dengan buku penyelidikan terbuka.
“Hm?”
“Aku punya pertanyaan.”
“Jangan.”
“Aku belum bertanya.”
“Biasanya tetap jangan.”
Bima mengetuk bukunya dengan pulpen.
“Kenapa kamu kasih payung ke Naya?”
Raka mengangkat wajah dari catatan teknisnya.
“Karena dia tidak bawa payung.”
“Jawaban terlalu masuk akal. Mencurigakan.”
“Kalau jawabannya tidak masuk akal, juga mencurigakan?”
“Iya.”
“Berarti bukan jawabanku masalahnya.”
Naya yang duduk di meja sebelah langsung tertawa.
Bima menunjuknya.
“Kamu jangan tertawa. Kamu bagian dari kasus.”
“Aku cuma korban cuaca.”
“Cuaca sering menjadi alibi.”
Alya menutup buku catatannya dengan keras.
“Bima. Kalau kamu masih membahas payung, aku coret namamu dari daftar calon jaksa.”
Bima langsung tegak.
“Itu ancaman terhadap karier hukumku.”
“Itu manajemen kelas.”
“Baik. Kasus payung ditunda.”
“Ditutup.”
“Ditunda.”
“Ditutup.”
Bima menulis sesuatu di bukunya.
Kasus Payung: ditunda secara paksa.
Alya melihat tulisan itu.
“Bima.”
Bima menutup buku cepat.
Sementara itu, persiapan festival masuk ke fase yang lebih berbahaya.
Fase ketika semua hal yang tadinya terlihat “nanti bisa dikerjakan” mendadak berubah menjadi “kenapa belum dikerjakan dari kemarin”.
Poster sudah selesai.
Kartu kasus sudah dicetak di kertas warna.
Palu kardus sudah diberi nama resmi oleh Bima: Palkim.
Alya menolak nama itu selama satu hari penuh sebelum akhirnya menyerah karena satu kelas sudah telanjur memakainya.
Dekorasi stand mulai dibuat.
Proposal sudah disetujui.
Opening tiga menit sudah hampir lancar.
Hampir.
Karena Bima masih beberapa kali menambahkan dialog yang tidak ada di naskah.
“Palu ini bukan sekadar palu!” serunya saat latihan.
Alya mengetuk meja.
“Bima, itu tidak ada di naskah.”
“Tapi ada di hati terdakwa.”
“Naskah lebih penting.”
“Hati rakyat—”
“Bima.”
“Baik.”
Naya, yang menjadi MC sekaligus pembela, biasanya paling cepat menyelamatkan latihan dari kekacauan Bima.
Kalau Bima keluar jalur, Naya menariknya kembali dengan lelucon.
Kalau suasana terlalu datar, Naya menaikkan energi.
Kalau anak-anak yang menonton mulai bosan, Naya mengubah ekspresi, melempar komentar spontan, dan dalam waktu kurang dari lima detik tawa kembali muncul.
Masalahnya, hari itu tawa Naya terdengar sedikit berbeda.
Tidak banyak yang sadar.
Karena Naya tetap ribut.
Tetap meledek Bima.
Tetap memprotes Alya.
Tetap menuduh Raka sebagai pengurus inventaris kehidupan.
Tapi Raka menyadarinya.
Awalnya dari suaranya.
Biasanya suara Naya naik turun seperti orang yang punya cadangan energi tidak terbatas.
Hari itu, suaranya sedikit lebih berat.
Saat tertawa, ia beberapa kali berhenti di tengah, seperti menahan batuk.
Saat orang lain berbicara, ia menaruh dagu di tangan lebih lama dari biasanya.
Dan saat latihan opening diulang untuk kelima kalinya, Naya sempat salah masuk cue.
“Naya,” panggil Alya.
Naya berkedip.
“Hah?”
“Bagianmu.”
“Oh. Iya. Maaf.”
Bima langsung menatapnya.
“Naya salah cue? Ini peristiwa langka.”
“Diam. Aku cuma memberi kalian kesempatan merasakan kepemimpinan tanpa aku.”
“Rasanya sepi,” kata Bima.
“Bagus. Itu namanya menghargai keberadaanku.”
Naya tersenyum lebar.
Terlalu lebar.
Seperti orang yang sengaja menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Raka menatapnya dari bawah panggung.
Di tangannya ada stopwatch.
Ia menekan tombol berhenti.
“Istirahat dulu.”
Alya menoleh.
“Sekarang?”
“Sudah empat kali ulang.”
“Lima,” koreksi Salsa.
Raka mengangguk.
“Berarti istirahat.”
Bima langsung menjatuhkan diri ke kursi terdakwa.
“Akhirnya pengadilan mengakui hak asasi terdakwa.”
Naya mengangkat tangan.
“Saya sebagai pembela juga menyetujui.”
Alya sebenarnya ingin latihan sekali lagi.
Tapi ketika melihat Naya duduk di pinggir panggung sambil mengusap leher, ia menahan kalimat itu.
“Oke. Sepuluh menit.”
Bima langsung bersorak kecil.
Naya turun dari panggung.
Langkahnya biasa saja.
Hampir biasa saja.
Namun saat ia sampai di bawah, ia berhenti sebentar seperti menunggu lantai kembali diam.
Raka berdiri tidak jauh darinya.
“Kamu sakit?”
Naya menoleh cepat.
“Hah? Nggak.”
“Suaranya beda.”
“Suaraku memang punya banyak varian.”
“Batuk?”
“Tidak.”
Begitu selesai berkata begitu, Naya batuk kecil.
Satu kali.
Lalu dua kali.
Ia langsung mengangkat telunjuk.
“Itu bukan batuk. Itu efek dramatis.”
Raka menatapnya.
Naya menatap balik.
Dua detik.
Tiga detik.
Akhirnya Naya menyerah sedikit.
“Cuma agak serak.”
“Minum?”
“Sudah.”
Raka melihat botol minum di meja.
Masih hampir penuh.
Naya mengikuti arah pandangnya.
Lalu mengambil botol itu cepat-cepat.
“Baru mau.”
Raka tidak berkata apa-apa.
Itu lebih menyebalkan daripada kalau ia menegur panjang.
Naya membuka botol, minum beberapa teguk, lalu berkata, “Puas?”
“Lumayan.”
“Kamu ini kalau jadi guru piket pasti banyak yang stres.”
“Minum air tidak bikin stres.”
“Caramu memperhatikan bikin stres.”
Raka diam.
Naya juga diam.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak sepenuhnya bercanda, tapi juga bukan sesuatu yang cukup serius untuk dibahas.
Untuk menghindari suasana aneh, Naya langsung menoleh ke Bima.
“Bim! Jangan duduk di kursi terdakwa sambil bangga begitu. Auramu makin cocok.”
Bima menunjuk dirinya sendiri.
“Aku sedang mendalami karakter.”
“Karakter orang salah?”
“Karakter orang tertindas sistem.”
Alya yang sedang menulis catatan latihan langsung berkata, “Sistemnya aku. Hati-hati.”
Bima duduk lebih rapi.
Raka masih berdiri di samping Naya.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.
Permen pelega tenggorokan.
Ia meletakkannya di tepi meja dekat Naya.
“Pakai kalau perlu.”
Naya melihat permen itu.
Lalu melihat Raka.
“Kamu bawa ini juga?”
“Kadang.”
“Payung. Lakban. Permen. Kamu ini minimarket berjalan?”
“Tidak menjual.”
“Sayang. Potensinya besar.”
Naya mengambil satu permen.
“Makasih.”
Raka mengangguk.
“Jangan latihan terlalu keras.”
“Kamu bilang ke orang yang salah. Yang terlalu keras itu Alya.”
Alya menoleh dari jauh.
“Aku dengar.”
“Bagus. Berarti komunikasi berhasil.”
Salsa yang duduk sambil mengecek desain kartu kasus tersenyum melihat interaksi itu.
Bima juga melihat.
Tentu saja.
Namun kali ini, ia tidak langsung bersuara.
Ia membuka buku penyelidikan pelan-pelan.
Menulis sesuatu.
Naya menyipit.
“Kamu nulis apa?”
“Tidak ada.”
“Itu jawaban orang yang jelas menulis sesuatu.”
Bima menutup bukunya.
“Aku hanya mencatat perkembangan kesehatan tim.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Alya berdiri.
“Istirahat selesai. Kita ulang sekali lagi, lalu pulang.”
Naya langsung berdiri.
“Siap!”
Suara itu terlalu semangat.
Raka menatapnya.
Naya pura-pura tidak lihat.
Latihan berikutnya berjalan cukup baik.
Naya masuk cue dengan benar.
Bima hanya keluar jalur satu kali.
Alya tidak perlu mengetuk meja terlalu sering.
Salsa berhasil menangkap beberapa foto dokumentasi untuk promosi.
Durasi mereka tepat tiga menit.
Secara teknis, latihan berhasil.
Secara manusiawi, Naya tampak semakin pucat.
Ketika latihan selesai, ia duduk lagi di pinggir panggung dan mengipasi wajahnya dengan naskah.
Bima mendekat.
“Nay, kamu benar-benar nggak apa-apa?”
“Nggak.”
“Wajahmu seperti orang yang habis debat dengan AC.”
“Aku menang.”
“Kamu yakin? Mukamu kelihatan kalah.”
Naya menatapnya.
“Bima.”
“Iya?”
“Kalau aku sakit, kamu mau ganti jadi MC?”
Bima langsung mundur.
“Cepat sembuh.”
“Lihat. Doa paling tulus lahir dari kepentingan pribadi.”
Salsa ikut mendekat.
“Nay, kamu pulang bareng siapa?”
“Naik ojek. Dekat kok.”
Alya menutup buku catatan.
“Besok jangan terlalu dipaksa kalau masih serak.”
“Bu Ketua, besok kita perlu latihan.”
“Latihan bisa jalan tanpa kamu bicara terlalu banyak.”
Semua orang diam.
Lalu Bima tertawa.
“Naya tanpa banyak bicara itu konsep yang sulit dibayangkan.”
Naya menunjuknya.
“Besok aku akan diam khusus untuk membuatmu tidak nyaman.”
“Jangan. Aku takut.”
Raka mengambil tasnya.
“Kamu pulang sekarang?”
Naya mengangguk.
“Iya. Sebelum kalian semua berubah jadi dokter.”
“Pakai jaket?”
Naya berhenti.
Lalu melihat seragamnya.
“Ini cukup.”
“Anginnya kencang.”
“Aku bukan jemuran.”
Bima berbisik pada Salsa, “Argumen yang tidak menjawab.”
Salsa mengangguk pelan.
Raka tidak berdebat.
Ia hanya mengambil jaket olahraga yang tergantung di kursi dekat properti, lalu menyodorkannya.
Naya menatap jaket itu.
“Itu punya siapa?”
“Punyamu.”
Naya berkedip.
“Hah?”
“Kamu taruh di sini tadi pagi. Di belakang poster.”
Naya menatap jaket itu lebih teliti.
Benar.
Itu jaketnya.
Ia bahkan lupa membawa jaket.
“Oh.”
Raka menyodorkan lebih dekat.
“Pakai.”
Naya menerimanya.
“Siap, Pak Inventaris.”
“Ya.”
Alya memperhatikan.
Salsa juga.
Bima apalagi.
Namun karena jaket itu memang milik Naya, tidak ada yang bisa dijadikan bukti kuat.
Setidaknya belum.
Naya memakai jaket sambil mengambil tas.
“Aku pulang dulu. Jangan merindukan suaraku.”
Bima mengangkat tangan.
“Kalau besok kamu diam, apakah kami boleh mengadakan peringatan?”
“Boleh. Dengan tema kehilangan nasional.”
“Bagus.”
Naya berjalan keluar aula sambil melambai.
Langkahnya masih terlihat santai.
Tapi begitu ia melewati pintu, Raka melihat ia batuk lagi.
Lebih keras dari sebelumnya.
Raka menatap punggung Naya sampai ia menghilang di koridor.
Alya yang melihat itu bertanya pelan, “Kamu khawatir?”
Raka menoleh.
“Hm?”
“Naya.”
Raka diam sebentar.
“Suaranya sudah jelek dari tadi.”
Bima mendekat cepat.
“Jelek?”
“Maksudnya serak.”
“Ah.”
Bima tampak kecewa.
Alya menatap Bima.
“Kamu berharap apa?”
“Tidak ada. Aku hanya mengamati pilihan kata.”
Raka memasukkan stopwatch ke tas.
“Besok mungkin jangan latihan opening dulu.”
Alya mengangguk.
“Iya. Kita bisa fokus properti.”
Bima membuka mulut.
Alya langsung berkata, “Bukan berarti kamu bebas improvisasi.”
Bima menutup mulut lagi.
Keesokan paginya, Naya tetap masuk sekolah.
Tentu saja.
Dan, seperti yang sudah diperkirakan semua orang, ia gagal diam.
“Selamat pagi, rakyat pengadilan!”
Suara Naya terdengar di ambang pintu kelas.
Lebih kecil.
Lebih serak.
Tapi tetap Naya.
Bima langsung berdiri.
“Dia hidup!”
“Sayangnya kamu juga,” balas Naya.
Kelas tertawa.
Alya menghela napas, antara lega dan putus asa.
Salsa tersenyum.
Raka mengangkat wajah.
Naya berjalan ke mejanya dengan gaya biasa.
Terlalu biasa.
Ia duduk, membuka tas, lalu mengeluarkan buku.
Setelah itu batuk kecil.
Sekali.
Dua kali.
Alya langsung berkata, “Naya.”
“Aku tahu. Minum.”
Naya mengambil botol minum.
Lalu menunjukkan pada semua orang.
“Lihat. Aku sudah menjadi manusia sehat.”
Bima mengangkat palu kardus.
“Pengadilan menerima bukti.”
Raka tidak ikut bercanda.
Ia hanya melihat botol itu.
Lalu bertanya, “Sudah sarapan?”
Naya berhenti membuka buku.
“Kenapa?”
“Sudah?”
“Belum sempat.”
Alya langsung menatap Naya.
Salsa juga.
Bima menutup wajah dengan palu kardus.
“Naya.”
“Aku buru-buru.”
“Kamu sakit dan belum sarapan?” tanya Alya.
“Sakitnya belum resmi.”
“Batukmu sudah mengajukan proposal,” kata Bima.
Naya tertawa, lalu batuk lagi.
Raka membuka tasnya.
Mengeluarkan roti kecil.
Meletakkannya di meja Naya.
“Makan.”
Naya menatap roti itu.
“Lagi-lagi minimarket berjalan.”
“Ini sarapanku.”
“Lah, terus kamu?”
“Aku beli lagi nanti.”
“Jangan. Aku bisa beli sendiri.”
“Kantin belum buka.”
Naya terdiam.
Itu fakta.
Fakta yang menyebalkan.
Bima perlahan menoleh ke Alya.
Alya menatap Bima.
“Jangan.”
“Aku belum—”
“Jangan.”
Bima menutup mulut dengan dua tangan.
Naya mengambil roti itu dengan wajah sedikit kalah.
“Makasih. Nanti kuganti.”
“Tidak usah.”
“Kuganti.”
“Terserah.”
“Itu artinya boleh?”
“Itu artinya makan dulu.”
Naya menatap Raka.
Raka menatap balik.
Akhirnya Naya membuka bungkus roti.
“Baik, Pak Dokter Inventaris.”
“Aku bukan dokter.”
“Belum.”
Salsa tersenyum kecil.
Alya memperhatikan interaksi itu, lalu kembali ke catatannya.
Bima, yang sudah tidak kuat, akhirnya membuka buku penyelidikan di bawah meja.
Ia menulis cepat.
Raka memberi roti. Alasan: kesehatan. Status: mencurigakan tapi masih bisa dibantah.
Sayangnya, ia lupa bahwa Naya duduk tidak terlalu jauh.
Naya melirik.
Lalu berkata, “Bima.”
Bima membeku.
“Iya?”
“Buku.”
“Tidak.”
“Buku.”
“Ini hak privasi detektif.”
“Buku.”
Bima menyerahkan buku itu dengan wajah pasrah.
Naya membaca catatan terakhir.
Lalu tertawa sampai batuk.
Alya langsung berdiri.
“Naya!”
“Aku nggak apa-apa.”
“Jangan ketawa dulu.”
“Itu susah.”
Raka menggeser botol minum Naya lebih dekat.
Naya mengambilnya.
Minum.
Lalu menatap Bima.
“Status mencurigakan tapi masih bisa dibantah?”
Bima mengangguk serius.
“Analisis objektif.”
Naya menunjuk roti di tangannya.
“Ini karena aku belum sarapan.”
“Benar.”
“Dan sakit.”
“Belum resmi.”
“Menurut catatanmu, semuanya bisa jadi bukti.”
“Kalau cukup kreatif, iya.”
Alya mengambil buku itu dari Naya dan menutupnya.
“Disita lagi.”
Bima tidak lagi terkejut.
Ia hanya terlihat lelah sebagai warga negara.
Pelajaran berlangsung seperti biasa.
Atau setidaknya berusaha begitu.
Naya tetap menjawab pertanyaan guru.
Tetap nyeletuk.
Tetap membuat satu kelas tertawa saat Bima salah menyebut istilah biologi.
Namun setiap kali ia tertawa terlalu keras, batuknya muncul.
Semakin siang, wajahnya semakin pucat.
Alya menyadari.
Salsa menyadari.
Bima akhirnya juga menyadari.
Tapi Raka yang pertama kali berdiri ketika Naya menunduk terlalu lama di mejanya.
“Naya.”
Naya mengangkat tangan sedikit.
“Sebentar.”
Suaranya kecil.
Aneh.
Tidak seperti Naya.
Guru yang sedang menulis di papan ikut menoleh.
“Naya, kamu sakit?”
Naya mencoba mengangkat wajah.
“Sedikit, Bu.”
Alya langsung berdiri.
“Bu, saya antar ke UKS.”
Salsa juga ikut berdiri.
“Aku ikut.”
Namun sebelum mereka bergerak, Naya sudah mencoba berdiri sendiri.
Kesalahan.
Begitu berdiri, ia sedikit limbung.
Kelas langsung ribut.
Bima berdiri terlalu cepat sampai kursinya hampir jatuh.
“Nay!”
Raka bergerak lebih dulu.
Ia menahan lengan Naya sebelum Naya benar-benar kehilangan keseimbangan.
Pegangannya tidak berlebihan.
Hanya cukup untuk membuat Naya tetap berdiri.
Naya berkedip.
Wajahnya bingung, seolah dunia baru saja bergeser beberapa sentimeter.
“Eh,” katanya pelan.
Raka menatapnya.
“UKS.”
“Tapi—”
“Sekarang.”
Nada Raka tidak keras.
Tidak panik.
Tapi tidak memberi ruang untuk bercanda.
Naya, untuk pertama kalinya hari itu, tidak langsung membalas.
Guru mengangguk.
“Antar ke UKS. Alya, kamu ikut.”
Alya sudah siap berjalan.
Namun Raka masih memegang lengan Naya.
Alya melihat itu sebentar.
Lalu berkata, “Raka, kamu bantu antar. Aku ambil izin ke guru piket.”
Raka mengangguk.
Salsa mengambil botol minum Naya dan jaketnya.
“Aku bawakan ini.”
Bima berdiri di tempatnya, wajahnya benar-benar cemas.
“Gue ikut?”
Alya menatapnya.
“Jangan bikin UKS penuh.”
“Tapi—”
“Nanti menyusul kalau perlu.”
Bima menelan protesnya.
Naya mencoba tersenyum.
“Tenang. Aku cuma mau upgrade jadi pasien.”
Tidak ada yang tertawa keras.
Bahkan Bima hanya tersenyum kecil.
Raka membantu Naya berjalan keluar kelas.
Koridor terasa lebih sepi dari biasanya.
Mungkin karena Naya tidak bicara.
Atau karena untuk pertama kalinya, suara paling ramai di kelas itu benar-benar hilang.
Naya berjalan pelan.
Raka menyesuaikan langkahnya.
Tidak terlalu cepat.
Tidak terlalu lambat.
Salsa berjalan di belakang mereka sambil membawa botol minum dan jaket.
Alya sudah lebih dulu ke ruang guru.
Di tengah koridor, Naya akhirnya berkata pelan,
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau aku pingsan, jangan bilang ke Bima.”
“Kenapa?”
“Nanti dia bikin sidang medis.”
Raka diam sebentar.
Lalu menjawab, “Aku tidak janji.”
Naya menoleh lemah.
“Jahat.”
“Kamu yang memberi ide.”
Naya tertawa kecil.
Lalu batuk lagi.
Raka berhenti berjalan.
“Nggak usah ketawa.”
“Susah.”
“Sementara.”
“Perintah dokter?”
“Bukan.”
“Pak Inventaris?”
“Ya.”
Naya tersenyum kecil.
Lebih lemah dari biasanya.
Tapi tetap Naya.
Mereka sampai di depan UKS beberapa menit kemudian.
Pintu UKS setengah terbuka.
Ruangan itu kosong.
Salsa meletakkan barang Naya di meja kecil, lalu berkata, “Aku panggil petugas UKS dulu.”
Raka mengangguk.
Naya duduk di ranjang UKS.
Begitu duduk, ia langsung menyandarkan punggung.
“Wah,” gumamnya.
Raka berdiri di samping ranjang.
“Apa?”
“Ternyata UKS nyaman kalau bukan dipakai pura-pura sakit.”
“Kamu pernah?”
“Tidak mengaku tanpa pengacara.”
Raka menatapnya.
Naya tersenyum kecil.
“Bercanda.”
“Kamu masih bisa bercanda.”
“Itu tanda vital.”
“Bukan.”
“Menurutku iya.”
Raka mengambil botol minum dari meja dan memberikannya.
Naya menerimanya.
Minum perlahan.
Untuk beberapa saat, ruangan itu sunyi.
Tidak ada Bima.
Tidak ada Alya yang mengetuk meja.
Tidak ada Salsa yang menenangkan suasana.
Tidak ada suara kelas.
Hanya suara kipas angin UKS yang berputar pelan.
Naya menatap Raka.
Raka menatap botol minum di tangannya.
“Kamu beda ya,” kata Naya tiba-tiba.
Raka mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kalau cuma berdua gini.”
Raka diam.
Naya menyandarkan kepala ke dinding.
“Suaranya lebih keluar.”
“Aku biasa saja.”
“Nggak. Kalau rame-rame, kamu kayak karakter sampingan yang muncul cuma buat memberi solusi.”
“Sekarang?”
“Sekarang tetap memberi solusi, tapi dengan dialog lebih banyak.”
Raka tidak langsung menjawab.
Lalu berkata, “Kalau rame-rame, kalian terlalu cepat.”
Naya berkedip.
Lalu tertawa kecil.
Kali ini ia cepat-cepat menutup mulut agar tidak batuk lagi.
“Jadi kami yang salah?”
“Tidak salah.”
“Tapi terlalu cepat?”
“Bima terutama.”
Naya tertawa tanpa suara.
Bahunya bergetar.
Raka menatapnya.
“Jangan ketawa.”
“Aku sedang mode hemat suara.”
“Itu tetap ketawa.”
“Versi ramah tenggorokan.”
Raka menghela napas kecil.
Naya tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya tidak terlalu dipaksakan.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu selalu sepeduli ini ke orang yang sakit?”
Raka diam.
Pertanyaan itu sebenarnya ringan.
Nada Naya pun masih bercanda.
Tapi ruangan yang terlalu sepi membuat pertanyaan itu terdengar lebih jelas daripada seharusnya.
Raka menatap botol minum.
Lalu menjawab, “Kalau orangnya keras kepala, harus lebih diperhatikan.”
Naya mengangkat alis.
“Aku keras kepala?”
“Kamu sakit, belum sarapan, tetap latihan, tetap bercanda.”
“Itu bukan keras kepala.”
“Apa?”
“Dedikasi.”
“Itu nama lain.”
Naya menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum pelan.
“Jadi kamu perhatian karena aku merepotkan?”
Raka menatapnya.
Kali ini cukup lama.
“Karena kamu biasanya yang bikin orang lain tidak merasa repot.”
Naya berhenti tersenyum.
Bukan karena sedih.
Lebih karena jawaban itu tidak memberi ruang untuk lelucon cepat.
Untuk beberapa detik, ia hanya melihat Raka.
Cowok itu mengucapkannya dengan wajah biasa.
Seolah ia baru berkata bahwa hujan turun dari langit.
Seolah itu bukan kalimat yang bisa membuat dada seseorang terasa sedikit aneh.
Naya membuka mulut.
Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu UKS terbuka terlalu keras.
“PASIEN MASIH HIDUP?!”
Bima muncul di ambang pintu.
Alya di belakangnya langsung menarik kerah bajunya.
“Bima!”
Salsa muncul sambil membawa petugas UKS, wajahnya antara panik dan ingin tertawa.
Naya menutup wajah dengan selimut tipis.
“Ya Allah, cabut saja status pasienku.”
Raka mundur satu langkah dari ranjang.
Kembali ke wajah datarnya.
Kembali ke mode diam yang biasa.
Bima masuk dengan wajah cemas yang dibungkus kebodohan.
“Nay, kamu pingsan?”
“Belum, tapi hampir karena suaramu.”
“Aku khawatir.”
“Aku bisa merasakan volumenya.”
Alya mendekat.
“Kamu masih pusing?”
“Sedikit.”
Petugas UKS mulai memeriksa suhu tubuh Naya.
Salsa berdiri di sisi ranjang, meletakkan jaket Naya lebih dekat.
Raka berdiri sedikit di belakang.
Tidak bicara.
Tidak ikut mengerumuni.
Namun saat Naya batuk lagi, ia yang pertama mengambilkan tisu dari meja.
Naya menerimanya.
“Makasih.”
Raka mengangguk.
Bima melihat.
Matanya menyipit.
Namun kali ini, sebelum ia sempat berkata apa pun, Alya sudah menunjuknya.
“Jangan.”
Bima menutup mulut.
Tapi di kepalanya, jelas ada sidang baru yang sedang dibuka.
Petugas UKS akhirnya berkata bahwa Naya demam ringan dan perlu istirahat. Kalau tidak membaik, sebaiknya pulang lebih awal.
Naya langsung mengangkat tangan.
“Aku bisa balik kelas.”
Empat orang menatapnya.
Naya menurunkan tangan.
“Baik. Aku istirahat.”
Bima mengangguk puas.
“Keputusan bijak dari terdakwa kesehatan.”
Alya menatapnya.
“Bima.”
“Maaf. Refleks.”
Naya berbaring sambil menarik selimut.
“Kalau kalian semua tetap di sini, UKS berubah jadi rapat festival.”
Salsa tersenyum.
“Kita balik dulu. Nanti istirahat aku cek lagi.”
Alya mengangguk.
“Raka?”
Raka menoleh.
“Apa?”
“Kamu balik kelas?”
Raka melihat Naya sebentar.
Naya sudah memejamkan mata, meski mulutnya masih bergerak pelan seperti ingin mengomentari sesuatu tapi terlalu lelah.
“Sebentar lagi.”
Alya menatapnya.
Lalu mengangguk.
“Oke.”
Bima membuka mulut.
Alya langsung menariknya keluar.
“Kenapa aku selalu ditarik?”
“Karena kalau dibiarkan, kamu berkembang.”
“Itu seharusnya bagus.”
“Tidak dalam kasusmu.”
Salsa ikut keluar sambil menahan tawa.
Pintu UKS tertutup pelan.
Ruangan kembali tenang.
Naya membuka satu mata.
“Mereka pergi?”
“Ya.”
“Kamu nggak?”
“Sebentar.”
“Kenapa?”
Raka mengambil kursi kecil dan duduk tidak jauh dari ranjang.
“Kalau kamu berdiri lagi diam-diam, ada yang lihat.”
Naya menatapnya.
“Aku tidak sebandel itu.”
Raka diam.
Naya menghela napas.
“Baik. Mungkin sedikit.”
Raka tidak tersenyum besar.
Tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Naya menangkapnya.
“Tuh. Kamu senyum.”
“Efek cahaya.”
“Di UKS?”
“Lampunya terang.”
Naya tersenyum.
Lalu memejamkan mata lagi.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.
Dan anehnya, Naya tidak merasa harus mengisi diam itu.
Mungkin karena tubuhnya terlalu lelah.
Mungkin karena Raka memang tidak menuntut obrolan.
Atau mungkin karena diamnya Raka tidak terasa kosong.
Beberapa menit kemudian, sebelum benar-benar tertidur, Naya bergumam pelan,
“Rak.”
“Hm?”
“Jangan bilang Bima aku hampir pingsan.”
“Sudah telat.”
“Kenapa?”
“Dia melihat.”
Naya menghela napas lemah.
“Berarti nanti dia bikin sidang.”
“Mungkin.”
“Kalau dia bikin, kamu jadi saksi.”
“Tidak mau.”
“Harus. Kamu lihat semuanya.”
Raka menatapnya.
Naya masih memejamkan mata.
Wajahnya pucat.
Suaranya lemah.
Tapi masih sempat mengatur sidang imajiner.
Raka menjawab pelan, “Nanti aku pikirkan.”
Naya tersenyum kecil tanpa membuka mata.
“Itu artinya iya.”
“Bukan.”
“Bagi pembela, iya.”
Raka tidak membantah lagi.
Di luar UKS, suara bel tanda pergantian jam terdengar.
Di kelas XI IPA 2, mungkin Bima sedang menyusun teori baru.
Alya mungkin sedang mencatat ulang jadwal latihan tanpa Naya.
Salsa mungkin sedang menjelaskan ke beberapa anak bahwa Naya hanya demam ringan.
Festival masih dekat.
Properti belum selesai.
Opening belum final.
Dan stand mereka masih punya banyak hal yang harus dibereskan.
Namun di UKS yang tenang itu, untuk pertama kalinya sejak proyek festival dimulai, Raka duduk bersama Naya tanpa gangguan selama beberapa menit.
Hanya beberapa menit.
Tidak lama.
Tidak cukup untuk disebut apa-apa.
Tapi cukup untuk membuat Naya tahu satu hal kecil sebelum ia tertidur.
Anak pendiam itu ternyata tidak selalu sedikit bicara.
Mungkin selama ini, ia hanya menunggu ruangan cukup tenang untuk didengar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar