Senin, 22 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 13 / 20

Chapter 13

Festival Tinggal Dua Hari Lagi

Festival tinggal dua hari lagi.

Itu adalah kalimat sederhana.

Pendek.

Tidak mengandung ancaman secara langsung.

Namun bagi tim inti Ruang Sidang Anak Sekolah, kalimat itu terdengar seperti bunyi sirene.

Apalagi setelah panitia mengumumkan bahwa stand mereka masuk daftar stand yang akan dinilai langsung oleh kepala sekolah dan beberapa guru tamu.

Alya membaca pengumuman itu tiga kali.

Bukan karena tidak paham.

Tapi karena ia berharap pada bacaan keempat, nama kelas mereka menghilang sendiri.

Sayangnya tidak.

Di papan pengumuman panitia festival, tertulis jelas:

XI IPA 2 — Ruang Sidang Anak Sekolah

Bima berdiri di sampingnya sambil memegang Palkim.

“Kita naik kelas.”

Alya menoleh pelan.

“Naik kelas?”

“Dari pengadilan receh menjadi lembaga yang diakui negara.”

“Ini dinilai kepala sekolah, Bima.”

“Berarti negara benar-benar hadir.”

Alya memejamkan mata.

Di sisi lain, Naya membaca daftar itu sambil tersenyum terlalu lebar.

Senyum yang biasanya menjadi tanda bahwa pikirannya sedang menghasilkan ide berbahaya.

“Ini bagus.”

Alya langsung membuka mata.

“Tidak. Jangan bilang begitu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu bilang bagus, biasanya setelah itu ada ide yang membuatku ingin pindah sekolah.”

Naya menunjuk papan pengumuman.

“Kalau kepala sekolah datang, opening kita harus lebih niat.”

“Tidak.”

“Aku belum menjelaskan.”

“Justru itu.”

Salsa yang berdiri di sebelah Naya menahan tawa.

Raka membaca pengumuman itu tanpa banyak ekspresi.

Lalu ia melihat catatan jadwal di tangannya.

“Kita perlu final check lagi.”

Alya langsung menoleh kepadanya.

“Sudah ada di daftar.”

“Tambahkan simulasi alur kepala sekolah.”

Bima mengangkat tangan.

“Apakah kepala sekolah juga akan disidang?”

Alya dan Raka menjawab bersamaan.

“Tidak.”

Bima menurunkan tangan.

“Padahal sejarah bisa tercipta.”

Naya mengangguk pelan.

“Secara komedi, menarik.”

“Tidak,” kata Alya lebih keras.

Salsa tersenyum.

“Kalau kepala sekolah datang, mungkin kita cukup jelaskan konsep dan tunjukkan satu simulasi pendek. Jangan sampai terlalu liar.”

Alya langsung menunjuk Salsa.

“Nah. Ini pendapat sehat.”

Bima menatap Salsa dengan kagum.

“Saksi selalu dipercaya.”

“Karena masuk akal,” kata Raka.

Bima menoleh padanya.

“Berarti aku tidak dipercaya karena?”

Raka diam sebentar.

“Riwayat.”

Naya langsung tertawa.

Bima memegang dada.

“Aku ini manusia, bukan catatan kriminal.”

“Kadang sulit dibedakan,” kata Alya.

Mereka kembali ke kelas dengan membawa kabar buruk yang dibungkus peluang baik.

Begitu masuk, suasana kelas langsung ramai.

“Stand kita dinilai kepala sekolah?”

“Serius?”

“Wah, jangan malu-maluin.”

“Bima jangan dikasih mic.”

“Setuju!”

Bima berdiri di depan kelas.

“Kenapa namaku langsung muncul dalam konteks negatif?”

Dito menjawab dari belakang, “Karena kami mengenalmu.”

“Itu diskriminasi berbasis pengalaman.”

Alya mengetuk papan tulis dengan spidol.

“Dengar dulu. Karena stand kita akan dinilai, kita harus lebih rapi. Dekorasi final besok. Hari ini kita cek properti, alur, dan pembagian tugas.”

“Opening tetap?” tanya Mira.

“Tetap,” jawab Alya.

Bima langsung mengangkat Palkim.

“Dengan terdakwa utama yang telah difitnah sejarah.”

Naya menunjuknya.

“Difitnah? Kamu benar-benar membawa palu.”

“Sudah bertobat.”

“Setelah disita.”

“Proses pertobatan tiap orang berbeda.”

Kelas tertawa.

Alya membiarkan tawa itu berlangsung beberapa detik sebelum kembali mengambil kendali.

“Yang bagian dekorasi, kumpul setelah pulang sekolah. Yang bagian promosi, bantu Salsa upload jadwal terakhir. Yang bagian properti, cek barang sama Raka.”

Bima mengangkat tangan.

“Aku bagian apa?”

Alya menatapnya.

“Jangan mengganggu.”

“Itu bukan bagian.”

“Itu kontribusi.”

Beberapa anak bertepuk tangan.

Bima tampak tersinggung, tapi tetap bangga karena mendapat perhatian.

Hari itu berjalan dalam mode panik yang disamarkan sebagai produktivitas.

Kelas mereka berubah menjadi bengkel kecil.

Karton dipotong.

Kertas ditempel.

Kartu kasus dihitung.

Pita bekas lomba 17 Agustus disulap menjadi pembatas antrean.

Palkim diletakkan di kotak khusus, karena Bima bersikeras properti itu membutuhkan “tempat istirahat”.

Alya mengatur semua orang.

Terlalu semua orang.

“Dito, kartonnya jangan dipotong terlalu kecil.”

“Mira, tulisan tanggalnya miring.”

“Fajar, jangan tempel poster dekat jendela, nanti kena angin.”

“Bima, jangan berdiri di meja.”

Bima membeku di atas kursi.

“Aku bukan di meja.”

“Itu kursi juga jangan.”

“Aku sedang mengecek perspektif dekorasi.”

“Turun.”

Bima turun.

Naya memperhatikan Alya dari samping sambil memegang beberapa kartu hukuman.

“Bu Ketua.”

“Apa?”

“Kamu sudah minum?”

Alya berhenti.

“Kenapa?”

“Jawab dulu.”

Alya menatap botol minumnya di meja.

Masih hampir penuh.

Naya tersenyum penuh kemenangan.

“Nah. Biasanya kamu yang marahin aku.”

“Aku tidak sakit.”

“Tapi kamu manusia.”

Bima muncul di belakang mereka.

“Apakah ini momen ketika terdakwa kesehatan membalas sistem?”

“Pergi,” kata Alya.

Raka yang sedang mengecek kotak properti mendengar percakapan itu.

Ia mengambil botol minum Alya dan meletakkannya lebih dekat ke tangannya.

Alya menoleh.

Raka hanya berkata, “Minum dulu. Nanti salah hitung.”

Alya diam.

Naya langsung menatap Raka.

“Wah. Sekarang kamu jadi satpam semua tenggorokan?”

“Ini bukan tenggorokan. Ini konsentrasi.”

“Jabatanmu makin luas.”

Alya mengambil botol itu.

“Terima kasih.”

Raka mengangguk, lalu kembali ke kotak properti.

Naya melihat Alya.

Alya pura-pura sibuk minum.

“Ohoo.”

“Naya.”

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Matamu bilang.”

Bima mengangguk. “Mata Naya memang sering memberi dakwaan.”

Naya menunjuk Bima.

“Kamu tidak punya hak bicara soal mata. Matamu dari kemarin menyelidiki payung.”

Bima langsung tersedak tawa sendiri.

Dari sisi lain kelas, Salsa sedang menempelkan label pada kartu kasus bersama beberapa anak perempuan.

Beberapa anak laki-laki dari kelas lain mampir lagi ke depan pintu.

“Sal, nanti pas festival kamu jaga jam berapa?”

Salsa mengangkat wajah.

Senyumnya muncul otomatis.

Namun kali ini, sebelum ia menjawab dengan kalimat aman seperti biasanya, ia berhenti sebentar.

Lalu berkata, “Jadwalnya gantian. Kalau mau datang, datang karena stand-nya, ya. Bukan karena aku.”

Anak itu tertawa canggung.

“Ya, iya. Maksudnya…”

“Kalau mau lihat konsepnya, nanti datang pas opening. Seru kok.”

Nada Salsa tetap ramah.

Tapi kali ini jelas.

Tidak kabur.

Tidak memberi ruang terlalu banyak.

Anak-anak itu saling pandang, lalu mengangguk.

“Oke. Nanti datang.”

Setelah mereka pergi, Naya menoleh dari meja tengah.

“Sal.”

Salsa menatapnya.

Naya mengangkat dua jempol.

“Keren.”

Salsa tertawa kecil.

“Biasa aja.”

“Tidak. Itu tadi senyum ramah versi punya pagar.”

Bima langsung mendekat.

“Senyum berpagar. Istilah hukum baru.”

“Bukan hukum,” kata Alya.

“Tapi bisa jadi pasal.”

Raka yang sedang menghitung kartu kasus berkata pelan, “Bagus.”

Salsa menoleh.

“Apanya?”

“Jawabanmu tadi.”

Salsa tersenyum.

“Makasih.”

Tidak ada suasana aneh.

Tidak ada salah tingkah besar.

Tapi Salsa merasa dadanya sedikit lebih ringan.

Mungkin karena ia akhirnya berkata sesuatu yang ingin ia katakan sejak lama.

Mungkin karena teman-temannya mendukung tanpa membuatnya merasa berlebihan.

Mungkin karena ia mulai belajar bahwa ramah bukan berarti harus selalu tersedia.

Sore itu, mereka melakukan simulasi lengkap.

Bukan hanya opening.

Tapi seluruh alur pengunjung.

Dito menjadi pengunjung pertama.

Lagi-lagi.

“Kenapa gue terus?” protes Dito.

“Karena pengalaman terdakwamu paling banyak,” jawab Bima.

“Gue merasa difitnah.”

“Itu juga pengalaman terdakwa.”

Dito mengambil kartu kasus dari kotak.

Membacanya.

Lalu wajahnya berubah.

“Lah.”

Naya mendekat.

“Kasus apa?”

Dito menunjukkan kartu itu.

Terdakwa mengatakan ‘terserah’, lalu menolak semua pilihan.

Satu kelas langsung menunjuk Mira.

“Mira!”

Mira berdiri dari meja dekorasi.

“Kenapa aku?”

“Ini kamu banget!”

Mira menatap kartu itu, lalu menatap Naya.

“Naya, kamu bikin ini dari aku?”

Naya mengangkat kedua tangan.

“Semua kasus bersifat fiktif dan tidak menyerang individu tertentu.”

Mira menyipit.

“Tapi?”

“Tapi kalau merasa tersindir, berarti stand kami berhasil menyentuh realitas sosial.”

Kelas tertawa.

Raka mencatat di daftar evaluasi:

Kasus terlalu relatable. Bagus, tapi hati-hati.

Simulasi berjalan cukup lancar.

Dito masuk sebagai pengunjung.

Mengambil nomor antrean.

Menerima kartu kasus.

Masuk ke “ruang sidang” yang dibuat dari meja panjang, kain hitam, dan poster buronan.

Bima membacakan dakwaan dengan penuh tenaga.

Naya membela dengan logika yang sengaja bengkok.

Salsa memberi kesaksian yang membuat semua orang percaya.

Alya memutus hukuman dengan wajah serius.

Raka mengatur waktu dan antrean.

Hasilnya: sidang selesai dalam empat menit.

Terlalu lama.

Alya langsung mencatat.

“Harus tiga menit.”

Bima protes.

“Tapi dakwaanku baru pemanasan.”

“Justru itu.”

Naya menepuk Palkim.

“Bim, ingat. Pengunjung lain juga butuh keadilan receh.”

“Keadilan tidak boleh diburu-buru.”

“Festival hanya enam jam.”

“Baik. Keadilan bisa dipercepat.”

Raka menulis di papan kecil:

DURASI SIDANG: MAKSIMAL 3 MENIT

Lalu di bawahnya:

JAKSA DILARANG CERAMAH

Bima langsung berdiri.

“Ini pasal diskriminatif.”

“Pasal keselamatan antrean,” kata Raka.

Naya membaca tulisan itu dan tertawa.

“Raka, kamu makin pandai menertibkan Bima.”

“Terpaksa.”

“Terpaksa tapi berbakat.”

“Jangan jadikan itu pujian.”

“Terlambat.”

Bima menatap mereka.

Lalu menoleh ke Alya.

“Alya, kamu lihat?”

Alya sedang menghitung kartu hukuman.

“Lihat apa?”

“Raka dan Naya sekarang sering satu frekuensi.”

Alya berhenti setengah detik.

Salsa yang sedang melipat poster juga berhenti setengah detik.

Naya menoleh.

“Satu frekuensi apa?”

“Frekuensi menyakiti harga diriku.”

“Oh.” Naya mengangguk. “Itu karena kamu target mudah.”

Raka menambahkan, “Dan sering salah.”

Bima menunjuk keduanya.

“Nah! Ini yang kumaksud!”

Kelas tertawa.

Alya ikut tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang membuat senyumnya cepat hilang.

Karena Bima mungkin bercanda.

Tapi tidak sepenuhnya salah.

Selesai simulasi, mereka mulai membereskan kelas.

Kertas berserakan.

Lakban habis.

Karton sisa memenuhi meja.

Tali rafia entah bagaimana kusut seperti masalah hidup Bima.

Alya mencoba mengatur semuanya, tapi kali ini Naya langsung mengambil alih sebagian.

“Yang kartu kasus ke kotak biru. Hukuman ke kotak kuning. Properti hakim ke kardus cokelat. Properti Bima jangan dikasih terlalu dekat ke Bima.”

Bima tersinggung.

“Palkim punya hak dekat denganku.”

“Palkim butuh jarak sehat.”

Salsa membantu anak-anak lain melabeli kotak.

Raka mengecek daftar barang satu per satu.

Alya berdiri di tengah kelas, ingin memberi instruksi, tapi menyadari sebagian sudah berjalan tanpa ia harus bicara.

Itu aneh.

Aneh dalam arti baik.

Ia tidak terbiasa dengan itu.

Biasanya, kalau ia tidak mengatur, sesuatu pasti berantakan.

Hari ini, masih berantakan.

Tapi berantakan yang bergerak ke arah benar.

Raka lewat di sampingnya membawa kotak kartu kasus.

“Kenapa?”

Alya menoleh.

“Apa?”

“Kamu diam.”

“Aku cuma lihat.”

“Khawatir?”

“Sedikit.”

“Masih bisa selesai.”

Alya mengangguk pelan.

“Iya. Kelihatannya.”

Raka melihat ke arah Naya yang sedang memarahi Bima karena mencoba memberi tanda tangan pada Palkim.

Lalu ke Salsa yang membantu Mira memilih poster final.

Lalu kembali ke Alya.

“Timnya jalan.”

Alya melihat mereka.

Tim.

Kata itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa terasa cukup besar.

“Ya,” kata Alya pelan. “Timnya jalan.”

Raka mengangguk.

Lalu kembali membawa kotak ke depan kelas.

Alya memperhatikannya sebentar.

Dulu, ia mengira Raka hanya orang yang diam dan bisa diandalkan kalau diberi tugas.

Sekarang, ia mulai melihat bahwa Raka juga memperhatikan ritme orang lain.

Kapan harus membantu.

Kapan harus diam.

Kapan harus mengambil alih.

Dan kapan harus membiarkan orang lain berjalan sendiri.

Itu membuatnya nyaman.

Terlalu nyaman.

Alya cepat-cepat menunduk ke buku catatan.

Fokus festival dulu.

Kalimat itu kembali ia ucapkan dalam hati.

Menjelang magrib, pekerjaan akhirnya selesai.

Hampir semua properti sudah siap dibawa ke stand.

Palkim masuk kotak.

Kartu kasus tersusun.

Poster digulung.

Pin peran disimpan.

Nomor antrean diikat.

Alya menatap tumpukan barang itu seperti menatap anak-anak yang akhirnya berhasil mandi sendiri.

“Besok tinggal pindah ke lokasi stand,” katanya.

Bima mengangkat tangan.

“Bolehkah aku menyampaikan pidato?”

“Tidak.”

“Singkat.”

“Tidak.”

“Dengan perasaan.”

“Apalagi.”

Bima menunduk.

Naya menepuk bahunya.

“Simpan untuk festival. Siapa tahu ada pengunjung yang butuh penderitaan tambahan.”

Bima langsung cerah.

“Benar juga.”

Salsa melihat jam.

“Sudah sore. Kita pulang?”

Alya mengangguk.

“Pulang. Istirahat. Besok jangan ada yang sakit.”

Semua mata otomatis menoleh ke Naya.

Naya mengangkat tangan.

“Kenapa lihat aku?”

Bima menunjuknya.

“Riwayat.”

Raka mengambil botol minum Naya dan menyerahkannya.

“Bawa pulang.”

Naya melihat botol itu.

“Oh iya.”

“Kamu hampir tinggal.”

“Tidak hampir. Aku sedang memberi kesempatan kamu menunjukkan bakat inventaris.”

Raka menatapnya.

“Bawa.”

Naya mengambil botol itu sambil tersenyum kecil.

“Iya.”

Alya dan Salsa melihat.

Bima juga.

Namun kali ini Bima tidak langsung bercanda.

Ia hanya menyipitkan mata, lalu membuka buku penyelidikannya.

Alya melihat itu.

“Bima.”

“Aku tidak bicara.”

“Tapi kamu menulis.”

“Literasi penting.”

Alya merebut bukunya.

Di halaman terakhir, Bima menulis:

Raka mengingatkan botol Naya. Status: makin sulit dibantah.

Alya membaca tulisan itu.

Lalu diam.

Salsa yang ada di dekatnya ikut membaca.

Ia juga diam.

Bima menatap mereka berdua.

“Kan?”

Alya menutup buku itu.

“Pulang.”

“Tapi kan?”

“Pulang.”

Bima menerima bukunya kembali dengan senyum puas.

Mereka pulang bersama sampai gerbang sekolah.

Di sana, mereka berpisah sesuai arah masing-masing.

Bima ke arah halte angkot.

Alya dijemput ayahnya di depan sekolah.

Salsa menunggu ojek online.

Naya berjalan ke gerbang samping.

Raka berhenti sebentar.

“Kamu dijemput?”

Naya menoleh.

“Iya. Sepupuku sudah dekat.”

“Yakin?”

Naya menunjukkan layar ponselnya.

Ada pesan:

5 menit lagi. Beneran.

Raka membaca.

Lalu menatap Naya.

“Kalimat itu mencurigakan.”

“Dia memang sering berbohong, tapi kali ini aku percaya.”

“Kenapa?”

“Karena aku optimis.”

“Optimisme tidak bisa jadi kendaraan.”

Naya tertawa.

“Kalimatmu makin hari makin berguna untuk poster motivasi negatif.”

Raka tidak membalas.

Ia melihat langit.

Tidak hujan.

Lalu melihat Naya.

“Kalau lama, tunggu di warung. Jangan berdiri di pinggir jalan.”

Naya mengangkat alis.

“Baik, Pak Petugas Ketertiban.”

“Ya.”

“Besok jangan lupa datang. Mahkamah butuh kamu.”

“Aku bagian ketertiban.”

“Justru itu. Tanpamu, Bima merdeka.”

“Berarti aku datang.”

Naya tersenyum.

Raka mengangguk kecil, lalu berjalan ke arah masjid sekolah untuk salat sebelum pulang.

Salsa yang masih menunggu ojek di dekat gerbang melihat percakapan itu dari jauh.

Tidak mendengar semuanya.

Tapi ia melihat cara Raka berhenti untuk memastikan.

Cara Naya menjawab sambil tertawa.

Cara mereka berpisah seolah itu hal biasa.

Mungkin memang biasa.

Tapi kebiasaan kadang justru yang paling sulit disadari.

Ojek Salsa datang.

Ia naik, masih membawa satu pikiran kecil yang belum selesai.

Malamnya, grup Mahkamah Receh kembali ramai, tapi tidak seheboh biasanya.

Semua orang tampaknya lelah.

Alya: Besok kumpul jam 7. Jangan telat.

Bima: Siap.

Naya: Siap, Bu Ketua.

Salsa: Siap. Aku bawa poster.

Raka: Aku bawa daftar barang.

Bima: Aku bawa Palkim.

Alya: Jangan bawa palu lain.

Bima: Kepercayaan kalian padaku menyentuh hati.

Naya: Kami percaya kamu bisa membuat masalah.

Raka: Itu tetap kepercayaan.

Bima: Akhirnya dihargai.

Naya tertawa membaca chat itu.

Lalu pesan pribadi masuk.

Dari Salsa.

Salsa: Nay, kamu sudah beneran sehat?

Naya membalas:

Naya: Udah. Tenang. Besok aku full power.

Salsa: Jangan terlalu full. Nanti Raka marah.

Naya menatap pesan itu.

Keningnya berkerut.

Naya: Kenapa Raka?

Beberapa detik tidak ada balasan.

Lalu Salsa mengetik:

Salsa: Karena dia petugas ketertiban.

Naya tertawa kecil.

Naya: Benar juga.

Salsa menatap layar ponselnya.

Ia tidak tahu kenapa tadi mengetik nama Raka.

Mungkin karena memang itu yang terpikir.

Mungkin karena akhir-akhir ini, setiap kali Naya terlalu memaksa diri, Raka selalu ada di sekitar untuk menyadarinya lebih dulu.

Salsa meletakkan ponselnya di meja.

Lalu menarik napas pelan.

Besok festival hampir dimulai.

Tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu.

Sementara itu, di rumah Alya, buku jadwal festival terbuka di meja belajarnya.

Ia sudah memeriksa semuanya tiga kali.

Namun tetap saja, matanya kembali ke satu bagian.

Pembagian peran utama:

Hakim: Alya
Jaksa: Bima
Pembela: Naya
Saksi: Salsa
Petugas Ketertiban: Raka

Lima nama itu terlihat rapi.

Seimbang.

Seperti memang sejak awal seharusnya bersama.

Alya menutup buku itu.

Besok mereka harus memindahkan properti ke lokasi stand.

Lusa festival.

Tidak boleh ada yang kacau.

Tidak boleh ada yang sakit.

Tidak boleh ada perasaan aneh yang mengganggu.

Alya mematikan lampu meja.

Lalu bergumam pelan,

“Fokus festival.”

Sayangnya, semakin sering ia mengatakan itu, semakin jelas bahwa ada hal lain yang mulai ikut masuk ke sela-sela fokusnya.

Di sisi lain, Bima di rumahnya membuka buku penyelidikan.

Ia membaca ulang beberapa catatan terakhir.

Kasus Payung.
Kasus Gorengan.
Kasus Botol Minum.
Kasus Naya Sakit.
Kasus Raka Mengingatkan Banyak Hal.

Bima mengetuk pulpen ke dagunya.

“Hmm.”

Lalu ia menulis judul baru di halaman berikutnya:

SIAPA YANG SEBENARNYA RAKA PERHATIKAN?

Ia menatap judul itu dengan wajah serius.

Lalu menambahkan di bawahnya:

Kandidat: Semua orang.

Bima berhenti.

Mencoret.

Lalu menulis ulang:

Kandidat utama: masih diselidiki.

Ia tersenyum puas.

Besok festival tinggal sehari.

Dan menurut Bima, selain stand, ada kasus lain yang semakin menarik untuk dibuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar