Chapter 3 — Ketua Kelas dan Buku Kas
Kirana Putri punya tiga prinsip hidup yang ia pegang sejak SMP.
Satu, semua hal bisa lebih mudah kalau dicatat.
Dua, orang yang bilang “tenang aja” biasanya justru penyebab masalah.
Tiga, uang kas kelas tidak boleh disentuh sembarangan.
Prinsip ketiga adalah yang paling penting.
Menurut Kirana, uang kas kelas bukan sekadar uang receh yang dikumpulkan tiap minggu. Uang kas adalah simbol kepercayaan, bukti peradaban, dan satu-satunya alasan kelas XI-2 masih bisa membeli spidol tanpa harus mengemis ke ruang guru.
Karena itu, ketika suatu hari buku kas kelas menghilang, Kirana hampir mengalami kerusakan sistem.
“Siapa yang terakhir pegang buku kas?”
Suaranya terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Jenis tenang yang membuat satu kelas langsung tahu bahwa badai sedang mengambil ancang-ancang.
Jam istirahat pertama baru berjalan lima menit. Anak-anak kelas XI-2 seharusnya sudah menyebar ke kantin, koperasi, atau toilet untuk sekadar bergosip sambil pura-pura cuci tangan. Tapi hari itu, semua tertahan di kelas karena Kirana berdiri di depan pintu dengan buku catatan kecil lain di tangan.
Buku catatan cadangan.
Buku yang kemunculannya berarti keadaan darurat.
Jalu, yang sudah setengah berdiri sambil membawa dompet tipis dan niat membeli gorengan, pelan-pelan duduk kembali.
“Kenapa semua orang melihat saya?” tanyanya.
Manda, yang duduk di atas meja paling belakang, menunjuknya dengan pulpen.
“Karena secara statistik, kalau ada barang hilang, kamu minimal pernah menyentuhnya.”
“Itu fitnah berbasis data palsu.”
Kirana menatap Jalu.
“Jalu.”
Jalu langsung menegakkan punggung.
“Saya siap memberikan kesaksian.”
“Kamu bayar kas minggu ini belum?”
Jalu berkedip.
Ruangan hening.
Tara, dari bangku tengah, langsung berbisik, “Lu, jangan bilang belum.”
Jalu tersenyum kaku.
“Definisikan minggu ini.”
Manda menutup wajah.
Kirana menarik napas panjang.
“Jalu.”
“Baik. Belum. Tapi itu bukan berarti saya mencuri buku kas.”
“Kamu memang belum tentu mencuri buku kas.”
Jalu tampak lega.
“Tapi kamu tetap belum bayar.”
Wajah Jalu kembali jatuh.
“Ketua kelas tidak pernah lupa penderitaan rakyat kecil.”
“Aku tidak galak,” kata Kirana. “Aku cuma memastikan sistem berjalan.”
Manda menyahut, “Itu kalimat yang biasa diucapkan tokoh antagonis di film pemerintahan.”
Kirana menoleh.
Manda langsung pura-pura membaca sampul buku tulis kosong.
Tara berdiri dari bangkunya dan menghampiri meja Kirana.
“Terakhir buku kas ada di mana?”
“Di laci mejaku,” jawab Kirana. “Kemarin setelah pulang sekolah masih ada. Aku ingat karena aku catat pengeluaran buat fotokopi proposal festival.”
“Terus pagi ini?”
“Hilang.”
“Di tas?”
“Sudah.”
“Laci?”
“Sudah.”
“Kolom meja?”
“Sudah.”
“Bawah meja?”
Kirana menatap Tara.
“Tara, aku memang panik, tapi aku belum kehilangan kemampuan melihat bawah meja.”
“Maaf. Aku cuma bantu brainstorming.”
Jalu mengangkat tangan pelan.
“Bagaimana kalau buku kasnya jalan sendiri?”
Kirana memandangnya tanpa berkedip.
Jalu menurunkan tangan.
“Tidak mungkin. Saya cabut teori itu.”
Manda melompat turun dari meja.
“Oke, mari berpikir logis. Buku kas kelas hilang. Isinya catatan uang. Uang kas kurang berapa?”
Kirana membuka buku catatan cadangan.
“Dua puluh ribu.”
Jalu langsung memegang dada.
“Kenapa kalimat itu terdengar seperti tuduhan?”
Manda menatapnya.
“Karena kamu juga belum bayar dua puluh ribu.”
“Saya merasa semesta sedang menjebak.”
Kirana berjalan ke arah Jalu dengan sangat pelan.
Jalu langsung mundur sampai punggungnya menempel ke dinding.
“Ra, dengar dulu. Saya memang miskin, tapi saya profesional.”
“Profesional apa?”
“Profesional dalam tidak punya uang.”
Tara menahan tawa.
Manda gagal menahan tawa.
Bima Arkananta, yang sejak tadi duduk di dekat jendela sambil memegang kamera, mengangkat kepala sedikit.
Biasanya Bima tidak ikut campur urusan kelas, apalagi urusan yang melibatkan Jalu, uang, dan kemungkinan dimarahi Kirana. Itu tiga hal yang jika digabungkan bisa menjadi bencana sosial.
Tapi kali ini, ia melihat tangan Kirana gemetar sedikit saat membalik halaman buku catatan cadangan.
Tidak banyak yang sadar.
Kirana pandai terlihat terkendali.
Ia bisa marah dengan kalimat rapi. Bisa panik sambil tetap menulis poin-poin masalah. Bisa terlihat seperti orang yang tahu semua jawaban, bahkan ketika sebenarnya ia sedang menghitung kemungkinan buruk di dalam kepala.
Tapi Bima melihat.
Pulpen di tangan Kirana diketuk-ketukkan ke buku.
Cepat.
Tidak beraturan.
“Kemarin setelah rapat festival,” kata Bima akhirnya.
Semua menoleh.
Manda menunjuknya lagi, kebiasaan yang mulai sering terjadi.
“Properti kelas berbicara.”
Bima mengabaikannya.
“Kita ke ruang OSIS.”
Kirana mengerutkan dahi.
“Iya, buat naruh proposal.”
“Buku kas kamu bawa?”
Kirana langsung diam.
Tara menatap Kirana.
“Ra?”
Kirana membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Aku... kayaknya iya.”
Jalu langsung mengangkat kedua tangan.
“Alhamdulillah, terdakwa dibebaskan!”
“Belum,” kata Kirana cepat.
Jalu menurunkan tangan lagi.
“Bangsa ini tidak memberi ruang untuk bernapas.”
Kirana menatap Bima.
“Kamu ingat aku bawa buku kas?”
Bima mengangguk.
“Warna cokelat. Ada stiker kelinci kecil di pojok.”
Manda langsung menyeringai.
“Kelinci?”
Kirana menatap tajam.
“Itu stiker dari adikku.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Wajahmu bilang banyak.”
Manda menutup mulut dengan dua tangan, tapi matanya tetap tertawa.
Bima melanjutkan, “Waktu di ruang OSIS, kamu taruh buku itu di meja dekat kardus kabel.”
Kirana tampak berpikir keras.
“Kardus kabel...”
Tara menjentikkan jari.
“Yang dekat lemari piala rusak?”
“Iya,” kata Bima.
Kirana langsung mengambil tas.
“Aku ke ruang OSIS.”
“Aku ikut,” kata Tara.
Manda juga langsung maju. “Aku ikut juga. Kalau bukunya hilang, kita bisa bikin poster orang hilang.”
Kirana menunjuknya.
“Tidak ada poster.”
“Minimal selebaran?”
“Manda.”
“Oke, aku ikut sebagai dukungan moral.”
Jalu mengangkat tangan.
“Saya boleh ke kantin sebagai dukungan finansial untuk pedagang gorengan?”
“Tidak,” jawab Kirana.
“Kenapa?”
“Karena kamu belum bayar kas.”
Jalu menoleh ke Bima.
“Bim, bela gue.”
Bima menatapnya.
“Bayar.”
Jalu tampak seperti dikhianati negara sendiri.
Ruang OSIS terletak di ujung koridor lantai satu, di dekat tangga belakang yang jarang dipakai kecuali oleh siswa yang ingin menghindari guru piket.
Secara resmi, ruang itu adalah pusat organisasi siswa.
Secara nyata, ruang itu lebih mirip gudang barang-barang yang belum sempat dibuang karena semuanya “mungkin masih dipakai nanti”.
Ada kardus kabel.
Ada papan acara tahun lalu.
Ada gulungan banner yang sudah patah ujungnya.
Ada kostum maskot yang membuat siapa pun bertanya kenapa sekolah pernah merasa membutuhkan kepala ayam raksasa.
Ada tumpukan kertas proposal dari generasi sebelumnya, seperti fosil administrasi.
Kirana membuka pintu ruang OSIS dengan kunci pinjaman dari Bu Ratih.
Begitu pintu terbuka, bau debu dan spidol permanen langsung keluar.
Manda mengintip dari belakang.
“Tempat ini auranya kayak kamar Jalu kalau punya jabatan.”
Jalu, yang ikut karena dipaksa, langsung protes.
“Kamar gue tidak seberantakan ini.”
Tara menoleh.
“Kamu yakin?”
“Minimal tidak ada kepala ayam.”
Dari pojok ruangan, kepala ayam raksasa menatap mereka dengan mata plastik kosong.
Manda menunjuknya.
“Aku merasa dia menghakimi kita.”
Bima berdiri paling belakang, melihat seluruh ruangan dalam diam.
Kirana langsung masuk dan menuju meja dekat lemari piala.
“Di sini?” tanyanya pada Bima.
Bima mengangguk.
“Kemarin kamu berdiri di situ. Aku foto proposal di meja. Buku kas ada di sebelah kanan.”
Kirana membungkuk, memeriksa meja.
Kosong.
Ia membuka laci.
Kosong juga.
Tara ikut mencari di bawah tumpukan kertas.
Manda mengangkat satu banner lama.
“Ini banner pensi dua tahun lalu. Kenapa masih ada tulisan ‘Coming Soon’? Dia sudah lewat, Sayang.”
Jalu membuka kardus kecil lalu langsung menutupnya lagi.
“Aku tidak tahu isinya apa, tapi aku merasa itu urusan senior.”
Kirana semakin cepat bergerak.
Meja.
Laci.
Kardus.
Bawah kursi.
Samping lemari.
Semakin tidak ditemukan, wajahnya semakin tegang.
“Harusnya di sini,” katanya pelan.
Tara menepuk bahunya.
“Ra, pelan-pelan. Pasti ketemu.”
“Kalau nggak ketemu, uang kas kurang. Catatan pengeluaran hilang. Nanti anak-anak mikir aku yang nggak teliti.”
“Enggak ada yang mikir gitu.”
Manda, yang sedang melihat ke balik papan acara, menyahut, “Kalau ada yang mikir gitu, kita lempar pakai kepala ayam.”
Jalu langsung mengangkat kepala ayam raksasa.
“Aku siap.”
Kirana menatap mereka berdua.
“Jangan sentuh itu.”
Jalu pelan-pelan meletakkan kepala ayam kembali.
Bima berjalan ke arah kardus kabel.
Ada tiga kardus bertumpuk di dekat dinding. Kardus paling atas berisi kabel gulung, stop kontak, dan beberapa lampu kecil untuk dekorasi lorong. Kardus kedua tertutup sebagian oleh kertas karton. Kardus ketiga penyok di bawah.
Bima berjongkok.
Ia memindahkan gulungan kabel satu per satu.
Manda mendekat.
“Ada?”
“Belum.”
“Aku bantu.”
Sebelum Bima sempat menjawab, Manda sudah berjongkok di sebelahnya dan ikut membongkar kardus.
Bima melirik.
Manda sangat berbeda ketika sedang benar-benar fokus.
Biasanya ia seperti radio rusak yang tidak bisa berhenti mengeluarkan komentar. Tapi saat mencari sesuatu, matanya tajam. Gerakannya cepat. Mulutnya masih kadang berkomentar, tentu saja, tapi tidak seribut biasanya.
“Ini kabel atau ular gagal hidup?” gumam Manda sambil mengangkat kabel kusut.
“Kabel.”
“Bima, kadang jawaban kamu merusak imajinasi.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf datar begitu. Aku jadi merasa dimarahi oleh mesin ATM.”
Bima hampir tersenyum.
Hampir.
Manda menyipit.
“Tuh.”
“Apa?”
“Mau senyum lagi.”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Kamu tidak bisa membuktikan.”
“Aku bisa merasakan getarannya.”
Bima menatapnya.
“Getaran senyum?”
“Iya. Aku sensitif terhadap fenomena langka.”
Dari belakang, Kirana berkata, “Tolong fokus.”
Manda langsung mengangkat tangan.
“Siap, Bu Ketua.”
Bima memindahkan kardus kedua.
Di bawahnya ada tumpukan karton hitam dan sekotak lampion kecil yang belum dirakit. Sebagian karton basah bekas terkena air AC.
Lalu ia melihat sesuatu berwarna cokelat terselip di antara kardus kabel dan dinding.
Bima menariknya pelan.
Sebuah buku tulis cokelat.
Ada stiker kelinci kecil di pojok kanan bawah.
“Ketemu.”
Kirana langsung berbalik.
Matanya membesar.
“Serius?”
Bima berdiri dan menyerahkan buku itu.
Kirana menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima bayi baru lahir atau dokumen negara.
Ia membuka halaman demi halaman, memeriksa catatan terakhir.
Lalu menghela napas panjang.
Sangat panjang.
“Ini dia.”
Jalu langsung tepuk tangan.
“Alhamdulillah! Nama baik saya dipulihkan!”
Kirana menoleh.
“Kamu tetap belum bayar kas.”
“Tapi sebagai tersangka, saya sudah bebas.”
“Sebagai siswa, kamu masih berutang.”
Jalu menunduk.
“Tidak ada amnesti di kelas ini.”
Tara tertawa lega.
Manda menepuk kardus kabel.
“Terima kasih, wahai sarang ular listrik.”
Kirana menutup buku kas dan mendekapnya ke dada.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam.
Tara menyadari lebih dulu.
“Ra?”
Kirana menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa.”
Tapi suaranya sedikit berbeda.
Lebih pelan.
Lebih manusia.
Tidak seketua kelas biasanya.
“Aku cuma... takut banget tadi,” katanya.
Manda, yang biasanya paling cepat bercanda, kali ini diam.
Jalu juga tidak menyela.
Bima menatap Kirana.
Kirana menunduk ke buku kas di tangannya.
“Aku tahu ini cuma buku kas. Uangnya juga nggak seberapa. Tapi kalau hilang, nanti semua orang mikir aku ceroboh. Padahal aku sudah coba rapi. Aku sudah coba ingat semuanya.”
Tara menepuk lengan Kirana pelan.
“Ra, kamu boleh lupa.”
Kirana tertawa kecil, tapi tidak lepas.
“Ketua kelas nggak boleh lupa.”
“Siapa bilang?” tanya Manda.
“Realita.”
Manda menggeleng.
“Nggak. Ketua kelas boleh lupa. Ketua kelas boleh panik. Ketua kelas boleh salah taruh buku kas di ruang OSIS yang isinya kepala ayam trauma.”
Jalu menunjuk kepala ayam. “Dia tidak trauma. Dia saksi.”
Kirana akhirnya tertawa.
Sedikit.
Bima memperhatikan tawa itu.
Bukan tawa seperti Manda yang meledak-ledak.
Bukan tawa seperti Tara yang mudah menular.
Tawa Kirana kecil, rapi, seperti ia masih meminta izin kepada dirinya sendiri untuk lega.
“Terima kasih,” kata Kirana.
Kalimat itu ditujukan kepada semua orang, tapi matanya berhenti pada Bima.
“Terutama kamu. Kalau kamu nggak ingat, mungkin aku masih nuduh Jalu.”
Jalu mengangkat tangan.
“Saya memaafkan, tapi tidak melupakan.”
Kirana menatapnya.
“Bayar kas.”
“Lupakan saja.”
Manda tertawa.
Tara ikut tertawa.
Bima hanya mengangguk.
“Sama-sama.”
Kirana menatapnya sebentar.
Ada sesuatu dari cara Bima menjawab yang membuatnya merasa lebih tenang.
Bima tidak bilang, tenang aja.
Tidak bilang, kamu lebay.
Tidak bilang, cuma buku kas doang.
Ia hanya membantu mencari.
Diam-diam mengingat detail yang Kirana sendiri lupa.
Tidak banyak bicara.
Tidak membuat paniknya terasa memalukan.
Dan anehnya, justru itu yang membuat Kirana merasa lebih aman.
Hari itu, pencarian buku kas membuat mereka semua terlambat kembali ke kelas setelah istirahat.
Bu Ratih sudah berdiri di depan kelas ketika mereka masuk satu per satu.
Kirana langsung maju.
“Maaf, Bu. Saya tadi ke ruang OSIS cari buku kas.”
Bu Ratih menatap buku cokelat di tangan Kirana.
“Hilang?”
“Keselip.”
“Sudah ketemu?”
“Sudah, Bu.”
Bu Ratih tersenyum kecil.
“Bagus. Duduk.”
Jalu masuk paling belakang sambil berusaha terlihat tidak bersalah.
Bu Ratih menatapnya.
“Jalu, kamu juga ikut mencari?”
Jalu langsung mengangguk mantap.
“Iya, Bu. Saya memberikan dukungan strategis.”
Manda berbisik, “Dia hampir pakai kepala ayam.”
Bu Ratih menaikkan alis.
Jalu menoleh tajam.
“Pengkhianat.”
Satu kelas tertawa kecil.
Bima duduk di tempatnya dekat jendela.
Kirana kembali ke bangkunya di depan.
Pelajaran dimulai lagi, tapi Kirana tidak langsung mencatat.
Ia membuka buku kas sebentar, memastikan lagi halaman terakhir masih ada. Angka-angka itu rapi. Tanggal, pemasukan, pengeluaran, sisa saldo.
Semuanya kembali pada tempatnya.
Harusnya perasaannya juga begitu.
Tapi entah kenapa, sejak tadi ada sesuatu yang tidak kembali seperti semula.
Kirana menoleh sedikit ke belakang.
Bima sedang menulis di bukunya. Wajahnya datar seperti biasa. Seolah-olah menemukan buku kas di ruang OSIS bukan apa-apa. Seolah-olah mengingat detail kecil tentang stiker kelinci juga bukan sesuatu yang perlu dibahas.
Kirana cepat-cepat menghadap depan lagi.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tidak suka.
Bukan karena perasaannya buruk.
Justru karena perasaan itu terlalu lembut untuk sesuatu yang datang tanpa izin.
Sore hari, setelah bel pulang, Kirana tinggal di kelas untuk merapikan catatan festival.
Biasanya ia suka suasana kelas setelah pulang. Lebih sepi. Lebih mudah berpikir. Tidak ada Jalu yang berdebat dengan penghapus papan. Tidak ada Manda yang tiba-tiba menyanyi potongan lagu iklan. Tidak ada Tara yang mengabarkan diskon minuman dengan semangat seperti berita nasional.
Hanya suara kipas tua yang berputar di langit-langit.
Bunyinya keras.
Anginnya tidak terasa.
Kirana menulis ulang daftar kebutuhan stand seblak.
Kerupuk.
Telur.
Cabai.
Sosis.
Bakso.
Cup.
Sendok plastik.
Gas portable.
Spanduk.
Lampu hias.
Ia berhenti di kata lampu hias.
Teringat ruang OSIS.
Teringat kardus kabel.
Teringat Bima yang berjongkok, memindahkan kabel satu per satu tanpa banyak komentar.
Pintu kelas berbunyi pelan.
Kirana menoleh.
Bima berdiri di ambang pintu, kamera tergantung di leher.
“Boleh masuk?”
Kirana mengangguk.
“Boleh. Ada yang ketinggalan?”
Bima berjalan ke bangkunya dan mengambil tutup lensa dari atas meja.
“Ini.”
“Oh.”
Kirana kembali menatap bukunya, tapi tangannya tidak menulis.
Bima sudah hendak keluar ketika Kirana tiba-tiba berkata, “Bima.”
Bima berhenti.
“Hm?”
“Kamu nggak capek diam terus?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Kirana sendiri agak kaget setelah mengatakannya.
Bima menatapnya.
“Nggak.”
Jawaban yang sangat Bima.
Kirana tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Kadang diam lebih aman.”
Kirana menutup pulpennya.
“Aman dari apa?”
Bima melihat ke luar jendela.
Di halaman bawah, Jalu sedang mencoba makan kerupuk pakai sumpit, entah dalam konteks apa. Manda berdiri di sebelahnya, tertawa sambil merekam. Tara terlihat ikut menonton sambil membawa minuman. Dari jauh pun, Kirana bisa tahu Jalu sedang gagal.
Bima menunjuk sedikit ke arah halaman.
“Dari obrolan yang tidak perlu.”
Kirana mengikuti arah pandangnya.
Beberapa detik kemudian, Jalu menjatuhkan kerupuknya ke tanah, lalu tampak menyampaikan pidato duka.
Manda tertawa sampai jongkok.
Tara menepuk pundak Jalu seperti sedang menenangkan korban bencana.
Kirana tertawa kecil.
Kali ini lebih lepas.
“Ya. Itu memang tidak perlu.”
Bima menoleh padanya.
Kirana sadar ia sedang tertawa, lalu cepat-cepat merapikan wajah.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu mau bilang aku galak?”
“Tidak.”
“Tapi kamu mikir begitu?”
Bima diam sebentar.
“Kamu rapi.”
Kirana mengerutkan dahi.
“Itu pujian atau cara sopan bilang galak?”
“Pujian.”
“Kedengarannya abu-abu.”
“Maaf.”
Kirana menatap Bima.
Anak itu benar-benar aneh.
Bukan aneh seperti Jalu yang membuat orang ingin menulis laporan kejadian.
Bukan aneh seperti Manda yang selalu datang membawa energi ledakan kecil.
Bima aneh karena ia tidak berusaha mengisi ruang kosong dengan kata-kata.
Dan untuk Kirana, yang hidupnya sering penuh daftar, tugas, target, serta orang-orang yang meminta keputusan cepat, diam Bima terasa seperti jeda.
Bukan canggung.
Bukan dingin.
Jeda.
“Kamu ingat detail banget, ya?” tanya Kirana.
Bima mengangkat bahu.
“Kadang.”
“Sampai stiker kelinci.”
“Itu mencolok.”
“Tidak mencolok.”
“Di buku cokelat polos, stiker kelinci mencolok.”
Kirana melihat buku kas di mejanya.
Stiker kelinci kecil itu memang agak kekanak-kanakan. Ia pernah ingin melepasnya, tapi adiknya marah karena katanya “biar buku Kak Rara nggak sedih”.
“Adikku yang tempel,” kata Kirana pelan.
Bima mengangguk.
“Bagus.”
Kirana menoleh.
“Apa?”
“Stikernya.”
Kirana menatapnya sebentar.
Lalu tersenyum.
“Kamu kalau muji orang irit banget.”
“Biar tidak boros.”
“Pujian bukan uang kas, Bim.”
“Lebih aman tetap hemat.”
Kirana tertawa lagi.
Di bawah, Manda tiba-tiba berteriak, “JALU, JANGAN MAKAN YANG JATUH!”
Jalu terdengar membalas sesuatu yang tidak jelas.
Tara berteriak, “TIGA DETIK ITU MITOS!”
Bima dan Kirana sama-sama melihat ke luar.
“Kadang aku heran,” kata Kirana, “kenapa kelas kita masih berfungsi.”
Bima menjawab, “Karena kamu catat semuanya.”
Kirana diam.
Kalimat itu sederhana.
Tidak romantis.
Tidak berlebihan.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti seseorang baru saja meletakkan selimut tipis di pundaknya setelah hari yang melelahkan.
Kirana menunduk ke bukunya.
“Terima kasih.”
Bima mengangguk.
“Sama-sama.”
Lalu ia pergi.
Kirana tetap duduk di kelas yang kipasnya berbunyi tanpa memberi angin.
Di halaman, suara Manda, Jalu, dan Tara masih terdengar samar.
Di meja, buku kas kembali aman.
Tapi Kirana tahu, ada hal lain yang diam-diam mulai tidak aman.
Ia membuka halaman baru di buku catatan festival.
Menulis judul:
Rapat Panitia Festival Senja
Lalu berhenti.
Pulpennya menggantung di atas kertas.
Tanpa sadar, ia menulis satu kata kecil di pojok halaman.
Bima
Begitu sadar, Kirana langsung mencoret kata itu cepat-cepat.
Sangat cepat sampai coretannya terlalu tebal.
Ia menatap halaman itu lama.
Lalu menutup buku catatannya dengan wajah panas.
“Enggak,” gumamnya pada diri sendiri.
Di luar kelas, matahari sore jatuh pelan di koridor.
Kirana menarik napas, mencoba kembali menjadi ketua kelas yang rapi, waras, dan tidak mudah goyah hanya karena seorang cowok pendiam mengingat stiker kelinci.
Tapi masalahnya, sejak hari itu, setiap kali kelas terlalu ramai dan Bima hanya diam di bangkunya dekat jendela, Kirana mulai merasa diam itu bukan kosong.
Diam itu punya tempat.
Dan tanpa ia rencanakan, ia mulai ingin duduk lebih dekat ke sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar