Chapter 3
Sidang Paling Tidak Penting di Dunia
Besoknya, Alya datang lebih pagi dari biasanya.
Bukan karena ia terlalu semangat.
Lebih karena ia tahu, kalau sesuatu tidak disiapkan sejak awal, sesuatu itu biasanya akan meledak di jam terakhir dan serpihannya mengenai ketua kelas.
Di tangannya ada buku catatan.
Di dalam buku itu sudah tertulis beberapa hal dengan rapi:
Ruang Sidang Anak Sekolah
Konsep utama
Daftar kasus
Alur pengunjung
Pembagian peran
Properti
Dekorasi
Promosi
Jadwal kerja
Anggaran
Cara membuat Bima tidak menghancurkan semuanya
Poin terakhir belum benar-benar ia tulis.
Tapi sudah ada di hatinya.
Alya berdiri di depan papan tulis kelas yang masih kosong. Ia menarik napas, mengambil spidol, lalu mulai menulis judul besar.
RAPAT STAND FESTIVAL
Lalu, di bawahnya:
SEMUA WAJIB MEMBANTU
Ia menatap tulisan itu sebentar.
Kurang tegas.
Alya menambahkan garis bawah dua kali.
Masih kurang tegas.
Ia menambahkan tanda seru.
SEMUA WAJIB MEMBANTU!!!
Baru terlihat seperti ancaman yang layak.
Pintu kelas terbuka.
Naya masuk sambil membawa roti di tangan kanan dan minuman kotak di tangan kiri.
“Pagi, Bu Ketua.”
“Jangan panggil begitu.”
“Pagi, Yang Mulia Ketua Kelas.”
“Lebih jangan.”
Naya mendekati papan tulis, membaca tulisan Alya, lalu mengangguk pelan.
“Wah. Aura kediktatorannya sudah terasa.”
“Aku hanya ingin semua orang membantu.”
“Kalimat yang biasanya diucapkan lima menit sebelum seseorang kehilangan kepercayaan pada umat manusia.”
Alya mengabaikan komentar itu.
“Kamu sudah pikirkan daftar kasus?”
“Sudah.”
Naya mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu menyerahkannya pada Alya dengan wajah bangga.
Alya menerimanya.
Ia membaca beberapa baris pertama.
Lalu diam.
Matanya bergerak turun.
Semakin turun.
Semakin lama wajahnya semakin sulit dijelaskan.
“Naya.”
“Iya?”
“Kenapa ada kasus ‘mengaku sudah belajar padahal baru buka buku di parkiran sekolah’?”
“Itu realistis.”
“Kenapa ada kasus ‘menyimpan stiker WhatsApp guru’?”
“Itu juga realistis.”
“Kenapa ada kasus ‘meminjam charger lalu merasa memilikinya secara spiritual’?”
“Itu kasus besar di masyarakat.”
Alya memejamkan mata.
“Naya, ini stand festival sekolah.”
“Iya. Justru itu. Kita harus dekat dengan kehidupan rakyat.”
“Rakyat mana?”
“Rakyat yang kehilangan charger.”
Sebelum Alya bisa membalas, Bima masuk kelas dengan langkah penuh percaya diri.
Terlalu percaya diri untuk orang yang rambutnya masih sedikit basah dan seragamnya belum rapi.
“Selamat pagi, rekan-rekan lembaga hukum.”
Naya menoleh.
“Jaksa kesiangan datang.”
“Aku tidak kesiangan. Aku datang tepat saat dibutuhkan.”
“Kamu bahkan belum dibutuhkan.”
“Berarti aku visioner.”
Bima meletakkan tasnya di meja, lalu melihat papan tulis.
“SEMUA WAJIB MEMBANTU!!!” bacanya keras-keras. “Wah, Alya sudah masuk fase tirani.”
“Aku dengar,” kata Alya.
“Memang tujuannya didengar.”
Bima mengambil spidol lain dan mendekati papan tulis.
Alya langsung waspada.
“Jangan gambar ayam lagi.”
“Phoenix.”
“Jangan.”
Bima menghela napas seperti seniman yang tidak dihargai.
Lalu ia menambahkan tulisan kecil di bawah kalimat Alya:
YANG TIDAK MEMBANTU AKAN DISIDANG
Naya langsung menunjuk tulisan itu.
“Nah! Ini bagus.”
Alya menatapnya.
“Kamu serius?”
“Bagus buat promosi internal. Biar anak-anak kelas merasa terancam secara kreatif.”
Bima menepuk dada.
“Aku memang punya insting hukum.”
“Kamu punya insting bikin masalah,” kata Alya.
“Itu fondasi hukum.”
Salsa masuk beberapa menit kemudian.
Ia membawa map berisi beberapa kertas warna dan ponsel yang layarnya masih menyala.
“Pagi.”
“Pagi, Salsa!” Naya melambai.
Beberapa anak yang sudah datang ke kelas ikut menyapa Salsa.
Terlalu banyak.
“Pagi, Sal.”
“Eh, Salsa, nanti kamu bagian jaga stand, kan?”
“Sal, kalau kamu jadi saksi, aku mau jadi terdakwa.”
“Sal, nanti foto poster bareng aku, ya?”
Salsa tersenyum pada mereka satu per satu.
Senyum ramah.
Senyum aman.
Senyum yang tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar menerima.
“Lihat nanti, ya,” jawabnya.
Jawaban itu terdengar lembut.
Tapi cukup kabur untuk tidak menjadi janji.
Naya memperhatikan sebentar, lalu menarik kursi untuk Salsa.
“Sini, duduk. Sebelum kamu direkrut jadi maskot nasional.”
Salsa tertawa kecil dan duduk di sampingnya.
“Makasih.”
“Tenang. Di sini kamu cuma akan dieksploitasi secara wajar oleh ketua kelas.”
Alya menghela napas.
“Aku tidak mengeksploitasi siapa pun.”
Bima menunjuk papan tulis.
“Tulisanmu bilang lain.”
Salsa melihat papan tulis, lalu tertawa pelan.
“Yang tidak membantu akan disidang?”
“Itu tambahan Bima,” kata Alya cepat.
“Tapi kamu belum hapus,” kata Naya.
Alya terdiam sebentar.
Lalu membuang muka.
“Karena... secara fungsi, itu mungkin berguna.”
Bima mengangkat tangan seolah baru memenangkan sidang.
Tidak lama kemudian, Raka masuk.
Tanpa suara berlebihan.
Tanpa menyapa satu kelas dengan gaya dramatis.
Ia hanya masuk, menaruh tas di kursinya, lalu melihat papan tulis.
Matanya berhenti pada tulisan Bima.
Yang tidak membantu akan disidang.
Raka diam selama dua detik.
Lalu berkata pelan, “Itu ancaman?”
“Motivasi,” jawab Bima.
“Beda tipis,” kata Raka.
Naya langsung menunjuknya.
“Nah, kan. Raka ngerti konsepnya.”
“Aku tidak bilang itu benar.”
“Tapi kamu tidak bilang salah.”
“Karena belum cukup bukti.”
Bima menepuk meja. “Lihat! Dia sudah mulai memakai bahasa hukum.”
Raka menarik kursinya dan duduk.
“Aku menyesal datang pagi.”
“Tidak ada yang datang pagi,” kata Alya. “Bel masuk lima menit lagi.”
Raka melihat jam.
“Oh.”
Naya menatapnya heran.
“Kamu kira sekarang jam berapa?”
Raka diam sebentar.
“Lebih pagi.”
“Jawaban yang sangat informatif.”
Raka tidak membalas.
Namun ia membuka tas, mengeluarkan buku, lalu meletakkan selembar kertas di meja Alya.
Alya menatap kertas itu.
“Apa ini?”
“Daftar barang yang mungkin dibutuhkan.”
Alya mengambil kertas itu.
Di sana sudah tertulis dengan rapi:
Meja panjang 2
Kursi 5–6
Kain hitam/cokelat untuk latar
Palu hakim bisa dibuat dari kayu bekas
Kartu kasus
Kotak undian
Nomor antrean
Tali pembatas
Spidol
Lakban
Kardus
Karton
Stop kontak cadangan
Speaker kecil
Tempat penyimpanan properti
Alya terdiam.
Ini jauh lebih rapi daripada yang ia perkirakan.
Bima ikut melongok.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu bikin ini kapan?”
“Kemarin malam.”
“Berapa lama?”
“Sebentar.”
“Definisi sebentar orang produktif memang menyakitkan.”
Alya membaca daftar itu lagi.
“Ini membantu. Makasih.”
Raka mengangguk.
“Beberapa bisa pinjam dari sekolah. Beberapa harus beli.”
“Kita belum tahu anggaran,” kata Salsa.
“Kelas kita punya kas,” jawab Bima.
Alya menatapnya.
“Kas kelas tidak sekuat khayalanmu.”
“Berarti kita perlu sponsor.”
“Dari siapa?”
Bima berpikir.
Lalu menjawab mantap, “Kantin.”
Naya tertawa.
“Ngapain kantin sponsorin sidang anak sekolah?”
“Sebagai bentuk tanggung jawab sosial.”
“Bima, kantin aja kadang nggak tanggung jawab sama ukuran bakwannya.”
Salsa menutup mulut, menahan tawa.
Raka menunduk sedikit.
Kali ini Naya melihat lagi.
“Raka senyum.”
Raka langsung kembali datar.
“Nggak.”
“Iya.”
“Nggak.”
“Kamu tuh kalau ketahuan senyum kayak kucing ketahuan nyuri ikan.”
“Aku tidak pernah nyuri ikan.”
“Itu bukan inti kalimatnya.”
Bel masuk berbunyi sebelum Naya bisa melanjutkan.
Satu per satu siswa masuk ke kelas.
Suasana yang tadinya hanya berisi lima orang mulai berubah menjadi ramai.
Dan setelah pelajaran pertama selesai, Alya melakukan sesuatu yang sejak tadi ia rencanakan.
Ia berdiri di depan kelas.
Memegang buku catatan.
Dengan wajah ketua kelas yang siap kehilangan sedikit umur.
“Teman-teman, sebelum istirahat, aku mau bahas sebentar soal stand festival.”
Sebagian kelas langsung mengeluh.
“Yah...”
“Lagi?”
“Kan baru dipilih kemarin.”
“Aku lapar, Alya.”
Alya menarik napas.
“Sebentar saja.”
Bima berbisik pada Naya, “Kalimat paling tidak bisa dipercaya dalam sejarah rapat.”
Naya mengangguk. “Biasanya sebentar itu berarti sampai bel berikutnya.”
Alya melanjutkan, “Tim inti sudah punya konsep awal. Nama stand kita adalah…”
Ia berbalik, lalu menulis di papan:
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Kelas hening.
Lalu seseorang bertanya, “Itu maksudnya kita dihukum?”
“Bukan,” jawab Alya.
“Kalau belum bayar kas gimana?”
“Tidak disidang.”
“Kalau belum piket?”
Alya berhenti.
Sebagian kelas langsung menoleh.
Bima berbisik, “Wah, ini bisa jadi fitur tambahan.”
Alya menatap Bima.
“Diam.”
Naya berdiri dari kursinya dengan semangat.
“Jadi gini,” katanya, mengambil alih penjelasan sebelum suasana berubah menjadi sidang sungguhan. “Stand kita itu konsepnya komedi. Pengunjung nanti masuk sebagai terdakwa kasus receh.”
“Kasus receh gimana?” tanya seorang anak.
Naya mengangkat kertasnya.
“Contoh. Kasus pertama: terdakwa terbukti mengatakan ‘otw’ padahal masih pakai handuk.”
Kelas langsung tertawa.
“Kasus kedua: terdakwa meminjam pulpen lalu menghilangkannya sampai pulpen itu diduga memulai hidup baru.”
Tawa makin besar.
“Kasus ketiga: terdakwa membaca chat grup, tidak membalas, tapi muncul saat ada makanan.”
Beberapa siswa langsung menunjuk satu sama lain.
“Itu Dito!”
“Bukan aku doang!”
“Jangan fitnah!”
Bima berdiri tiba-tiba.
“Keberatan, Yang Mulia! Terdakwa Dito memiliki riwayat kuat dalam kasus gorengan hilang!”
Dito melempar penghapus papan kecil ke arah Bima.
Bima menghindar dengan bangga, seolah baru lolos dari percobaan pembunuhan.
Alya memijat pelipis.
Tapi kali ini, ia tidak langsung menghentikan mereka.
Karena kelas tertawa.
Dan untuk konsep stand festival, tawa adalah tanda yang bagus.
Salsa maju ke depan sambil membawa beberapa kertas.
“Aku juga kepikiran visual posternya,” katanya. “Kita bisa buat poster seperti pengumuman buronan, tapi lucu. Misalnya ‘Dicari: Pelaku Penghilang Charger’. Nanti ada ilustrasi simpel dan ajakan datang ke stand.”
Beberapa anak mulai tertarik.
“Eh, itu lucu.”
“Bisa buat story, tuh.”
“Kalau ada foto terdakwa gimana?”
“Bisa viral di sekolah.”
Alya mulai melihat harapan.
Kecil.
Tapi ada.
“Makanya,” kata Alya, “kita butuh bantuan semua orang. Ada yang bisa bantu dekorasi, ada yang bisa bantu bikin properti, ada yang bantu promosi, ada yang nanti jaga stand.”
Kelas mulai ramai lagi.
Tapi kali ini bukan karena menolak.
Mereka mulai membicarakan kemungkinan.
Ada yang mengusulkan kasus baru.
Ada yang mengusulkan hukuman.
Ada yang ingin jadi hakim.
Terlalu banyak yang ingin jadi hakim.
“Gue mau jadi hakim!”
“Enak banget tinggal mukul palu.”
“Kalau jadi terdakwa boleh milih kasus sendiri?”
“Kalau kasus mantan balikan terus putus lagi ada nggak?”
“Jangan bawa trauma pribadi ke festival.”
Bima naik ke depan kelas tanpa diminta.
“Saudara-saudara sekalian!”
Alya langsung menoleh.
“Bima, turun.”
“Tunggu. Aku sedang mengobarkan semangat hukum.”
“Turun.”
Bima tidak turun.
Tentu saja.
“Sebagai calon jaksa utama, saya menyatakan bahwa stand ini akan menjadi tempat keadilan ditegakkan!”
“Bima.”
“Tempat para pelaku centang biru menerima hukuman!”
“Bima.”
“Tempat pulpen-pulpen hilang mendapat pembelaan!”
“Bima!”
“Dan tempat Dito mempertanggungjawabkan gorengan yang—”
Dito berdiri. “Itu sudah lama!”
Kelas meledak lagi.
Naya tertawa sambil memegang meja.
Salsa ikut tertawa.
Bahkan Alya, meski berusaha keras terlihat serius, gagal menahan senyum tipis.
Di bangkunya, Raka memperhatikan keramaian itu.
Tidak ikut bicara.
Tidak ikut maju.
Tapi matanya bergerak mengikuti suasana kelas.
Melihat Naya yang terlalu menikmati kekacauan.
Melihat Alya yang mulai menyerah pada kenyataan.
Melihat Salsa yang tertawa lebih lepas daripada tadi pagi.
Melihat Bima yang jelas tidak boleh diberi mikrofon.
Lalu ia menunduk ke buku catatannya.
Ia menambahkan satu poin kecil di daftar teknis:
Perlu aturan durasi sidang. Kalau tidak, Bima bisa bicara selamanya.
Setelah hampir sepuluh menit, Alya akhirnya berhasil merebut kembali kendali kelas.
Nyaris.
“Jadi,” katanya dengan suara lebih keras, “yang mau membantu dekorasi, nanti tulis nama di daftar. Yang mau bantu properti, juga tulis. Untuk peran saat hari H, akan kita seleksi.”
“Seleksi?” ulang Bima.
“Iya.”
“Aku kan sudah jaksa.”
“Belum tentu.”
“Ini kudeta.”
“Ini manajemen risiko.”
Naya mengangkat tangan.
“Aku daftar jadi pembela.”
Alya menatapnya.
“Kamu yang punya ide. Sudah pasti kamu bagian acara.”
“Berarti aku pembela?”
“Lihat nanti.”
“Aku punya potensi membela orang bersalah.”
“Justru itu yang aku takutkan.”
Salsa tersenyum. “Aku bantu promosi dan desain dulu. Kalau butuh, nanti aku bisa jadi saksi.”
Beberapa anak langsung bersorak.
“Salsa jadi saksi!”
“Saksi yang selalu dipercaya!”
“Kalau Salsa bilang aku bersalah, aku terima!”
Salsa tertawa, tapi kali ini sedikit canggung.
Naya memperhatikannya lagi.
Raka juga.
Bedanya, Raka tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya membuka halaman baru, lalu menulis:
Peran: saksi jangan selalu Salsa. Bisa terlalu ramai.
Tidak lama kemudian, daftar bantuan mulai beredar.
Dan seperti yang Alya khawatirkan, hasilnya tidak sepenuhnya menggembirakan.
Di kolom dekorasi, ada enam nama.
Di kolom properti, ada tiga nama.
Di kolom promosi, cukup banyak.
Di kolom “peran saat sidang”, hampir setengah kelas menulis nama.
Di kolom “bersedia membantu beres-beres setelah festival”, hanya satu nama.
Raka.
Alya menatap daftar itu lama.
Lalu menatap Raka.
Raka balas menatap.
“Apa?”
“Kamu satu-satunya yang isi bagian beres-beres.”
“Harus ada yang isi.”
“Kenapa kamu?”
Raka diam sebentar.
“Karena biasanya bagian itu kosong.”
Alya tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang aneh dari jawaban itu.
Bukan aneh dalam arti lucu.
Tapi aneh karena terlalu benar.
Naya melongok dari samping Alya.
“Wah, Raka ini tipe orang yang baca syarat dan ketentuan sebelum klik setuju, ya?”
“Kadang,” jawab Raka.
Bima langsung mundur sedikit.
“Aku takut sama orang kayak gitu.”
“Kenapa?”
“Mereka tahu konsekuensi hidup.”
Salsa tertawa.
Alya melihat daftar lagi.
Meski masih banyak masalah, setidaknya kelas mulai tertarik.
Itu sudah lebih baik daripada kemarin, ketika semua orang menganggap festival sebagai bencana yang harus dihindari.
Namun masalah baru muncul saat jam istirahat.
Dito dan beberapa anak lain menghampiri meja tim inti.
“Eh, kalau stand sidang, berarti kita butuh kostum, dong.”
“Kostum?” ulang Alya.
“Iya. Hakim pakai jubah. Jaksa pakai jas. Pembela pakai jas juga. Biar keren.”
Bima langsung berdiri.
“Setuju.”
“Tidak,” kata Alya cepat.
“Kenapa?”
“Anggaran.”
“Kita bisa pakai jas pinjaman.”
“Dari siapa?”
Bima berpikir.
“Pak guru.”
Alya menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu mau pinjam jas guru untuk festival?”
“Dengan pendekatan emosional.”
“Ditolak.”
Naya mengetuk meja.
“Kalau jubah hakim, kita bisa pakai kain hitam. Nggak harus bagus. Yang penting kelihatan niat.”
“Kalau palu hakim?” tanya Salsa.
Raka membuka daftar barangnya.
“Bisa bikin dari kayu bekas. Atau pakai palu mainan, tapi dibungkus supaya kelihatan seperti properti.”
Bima mengerutkan kening.
“Palu mainan kurang berwibawa.”
“Kamu juga,” kata Alya.
Naya tertawa terlalu keras.
Bima menatapnya dengan kecewa.
“Kamu menikmati penderitaanku?”
“Sebagai warga negara, iya.”
Masalah kostum selesai sementara.
Lalu muncul masalah lain.
“Kalau hukuman lucunya apa aja?” tanya seorang anak.
Naya langsung membuka kertasnya lagi.
“Nah, ini bagian penting.”
Bima mendekat.
“Aku punya ide.”
Alya langsung mengangkat tangan.
“Tunggu. Kita saring dulu.”
“Kenapa?”
“Karena idemu biasanya melanggar minimal dua aturan sekolah.”
“Fitnah.”
“Bulan lalu kamu mengusulkan lomba lari di koridor.”
“Itu olahraga.”
“Itu membahayakan.”
“Itu olahraga yang jujur.”
Naya membaca daftar hukuman.
“Pertama, terdakwa harus menyanyikan lagu nasional dengan ekspresi bersalah.”
“Bagus,” kata Salsa.
“Kedua, terdakwa harus minta maaf pada benda yang pernah ia hilangkan.”
Bima mengangguk serius.
“Pulpen-pulpen akan merasa didengar.”
“Ketiga, terdakwa harus membaca chat terakhir di grup kelas dengan nada pembawa berita.”
Dito langsung menunjuk.
“Itu bahaya!”
“Kenapa?” tanya Naya.
“Privasi.”
Bima menyipitkan mata.
“Kamu menyimpan dosa di chat grup?”
“Semua orang punya dosa di chat grup!”
Alya menghapus poin ketiga dari daftar.
“Jangan yang berisiko.”
Naya mencoret dengan wajah sedikit kecewa.
“Baiklah. Demokrasi memang menyakitkan.”
Raka yang sejak tadi diam tiba-tiba bicara.
“Hukumannya jangan terlalu memalukan.”
Semua menoleh.
Raka terlihat sedikit tidak nyaman menjadi pusat perhatian, tapi tetap melanjutkan.
“Kalau terlalu memalukan, pengunjung bisa nggak nyaman. Harus yang lucu, tapi masih aman.”
Alya mengangguk pelan.
“Benar.”
Salsa ikut mengangguk.
“Iya. Jangan sampai ada yang merasa dijatuhkan.”
Bima menatap Raka dengan mata menyipit.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu bijak sekali. Mencurigakan.”
“Aku cuma tidak mau stand kita dilaporkan.”
“Itu juga bijak.”
Naya menopang dagu sambil menatap Raka.
“Berarti stand kita harus punya prinsip.”
“Prinsip apa?” tanya Alya.
Naya mengambil spidol, lalu menulis di kertas:
LUCU, TAPI NGGAK JAHAT
Ia memutar kertas itu ke arah mereka.
“Ini.”
Salsa tersenyum. “Aku suka.”
Alya membaca tulisan itu, lalu mengangguk.
“Bisa jadi patokan.”
Bima mengangkat tangan.
“Kalau jaksa boleh jahat sedikit?”
“Tidak,” jawab empat orang hampir bersamaan.
Bima memegang dada.
“Dikhianati lembaga sendiri.”
Rapat kecil saat istirahat itu membuat meja mereka menjadi pusat keramaian.
Anak-anak datang bergantian.
Ada yang memberi ide.
Ada yang hanya menonton.
Ada yang sebenarnya cuma ingin dekat Salsa.
Ada yang ingin memastikan Bima tidak benar-benar punya kekuasaan hukum.
Dan di tengah semua itu, sesuatu yang sebelumnya tidak ada mulai terbentuk.
Bukan circle.
Belum.
Lebih seperti pusat gravitasi kecil.
Orang-orang mulai datang ke meja itu karena ada sesuatu yang hidup di sana.
Alya mencatat.
Naya melempar ide.
Bima memperburuk ide.
Salsa mempercantik ide.
Raka membuat ide itu mungkin dikerjakan.
Kombinasinya aneh.
Tapi berjalan.
Setidaknya sampai bel masuk berbunyi dan semua orang kembali ke tempat duduk masing-masing.
Sebelum duduk, Naya sempat mengambil kertas bertuliskan prinsip stand mereka.
LUCU, TAPI NGGAK JAHAT
Ia menempelkannya di sisi papan tulis dengan selotip.
“Biar semua ingat,” katanya.
Alya menatap tulisan itu.
“Selotipnya miring.”
“Pesannya tetap lurus.”
“Bukan begitu.”
Raka lewat di dekat papan, lalu tanpa bicara menekan ujung selotip yang hampir lepas.
Naya menoleh.
“Oh. Makasih.”
Raka mengangguk kecil.
“Selotipnya kurang nempel.”
“Iya. Kayak niat belajar Bima.”
Dari belakang kelas, Bima berteriak, “Aku dengar!”
“Bagus. Berarti telingamu masih punya masa depan.”
Kelas tertawa lagi.
Raka kembali ke kursinya.
Dan seperti biasa, hal kecil itu lewat begitu saja.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada yang salah tingkah.
Tidak ada yang menganggapnya penting.
Hanya Raka yang memperbaiki selotip sebelum jatuh.
Hanya Naya yang mengucapkan terima kasih tanpa berpikir panjang.
Hanya Alya yang diam-diam mencatat bahwa Raka cukup peka pada detail.
Hanya Salsa yang memperhatikan bahwa Naya bisa meledek Bima sambil tetap tersenyum ke arah Raka.
Dan hanya Bima yang tidak memperhatikan apa pun karena ia sedang sibuk membela harga dirinya dari tuduhan tidak niat belajar.
Siang itu, rencana stand mereka belum sempurna.
Jauh dari sempurna.
Mereka belum punya properti.
Belum punya jadwal latihan.
Belum punya anggaran yang jelas.
Belum punya cara membuat Bima berhenti menganggap dirinya jaksa sungguhan.
Tapi mereka punya konsep.
Mereka punya prinsip.
Dan, untuk pertama kalinya, kelas mereka punya alasan untuk tertawa bersama karena sesuatu yang sedang mereka bangun.
Alya duduk di bangkunya sambil melihat papan tulis.
RUANG SIDANG ANAK SEKOLAH
Di sampingnya, kertas Naya tertempel sedikit miring.
LUCU, TAPI NGGAK JAHAT
Alya tidak memperbaikinya lagi.
Entah kenapa, tulisan miring itu terasa cocok dengan tim mereka.
Tidak rapi.
Tidak ideal.
Tapi mungkin bisa berjalan.
Sayangnya, keyakinan kecil itu hanya bertahan sampai pulang sekolah.
Karena ketika mereka membuka lemari kelas untuk mengecek barang-barang yang bisa dipakai sebagai properti, mereka menemukan satu hal penting.
Kardus kas kelas hilang.
Bukan kosong.
Bukan rusak.
Hilang.
Bima menatap ruang kosong di dalam lemari.
Alya menatap Bima.
Bima langsung mengangkat kedua tangan.
“Kenapa lihat aku?”
Alya berkata pelan, “Karena kalau ada barang hilang, biasanya kamu pernah menyentuhnya.”
“Itu tuduhan serius.”
Raka melihat lemari.
Naya melihat Bima.
Salsa menutup mulut, menahan tawa gugup.
Bima mundur satu langkah.
“Baik. Sebelum kalian melakukan kriminalisasi, izinkan saya menyampaikan pembelaan.”
Alya memejamkan mata.
“Bima.”
Bima menunjuk ruang kosong di lemari dengan ekspresi paling serius yang pernah ia pasang hari itu.
“Sepertinya, sidang pertama kita harus dimulai sekarang.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar