Chapter 19
Anak Pendiam Akhirnya Bicara
Masalah terbesar Bima setelah wisata kelas bukanlah tugas matematika yang belum selesai.
Bukan juga sandal beda warna yang fotonya sudah tersebar di grup kelas.
Bukan pula fakta bahwa seseorang menulis di amplopnya:
Kesan: lucu.
Pesan: jangan terlalu percaya diri.
Masalah terbesar Bima adalah ia tahu sesuatu.
Dan ia tidak boleh asal mengatakannya.
Itu seperti menyuruh kucing menjaga ikan asin.
Secara teori mungkin.
Secara praktik menyiksa semua pihak.
Senin pagi setelah wisata kelas, Bima duduk di bangkunya dengan wajah terlalu serius.
Di depannya, buku penyelidikan terbuka.
Di halaman terakhir, tertulis:
SIAPA YANG SEBENARNYA RAKA PERHATIKAN?
Di bawahnya:
Jawaban: Naya.
Masalah: Naya mungkin mulai sadar.
Masalah tambahan: kalau Naya mulai sadar sebelum Raka siap bicara, satu circle bisa berubah jadi ruang sidang beneran.
Terutama kalau aku ikut campur.
Bima menatap tulisan itu lama.
Lalu menambahkan:
Masalah terbesar: aku adalah aku.
Ia mengangguk pelan.
Analisis yang jujur.
Dari pintu kelas, suara Naya terdengar.
“Selamat pagi, manusia-manusia yang masih belum move on dari wisata kelas!”
Satu kelas langsung menoleh.
Beberapa menyahut.
Beberapa mengeluh.
Beberapa tertawa.
Bima otomatis mengangkat kepala.
Naya masuk sambil membawa tas di satu bahu.
Dari saku kecil di bagian depan tasnya, ada ujung kertas terlipat yang menyembul sedikit.
Kertas itu.
Bima langsung menegang.
Ia memang hanya pernah melihatnya sebentar malam itu.
Terlalu sebentar untuk bisa membaca semuanya.
Tapi cukup lama untuk mengenali lipatan rapi Raka dan tulisan yang membuatnya hampir melanggar seluruh prinsip moral barunya.
Raka yang sudah duduk dekat jendela juga mengangkat wajah sebentar.
Sebentar saja.
Namun karena Bima sedang dalam mode detektif penuh, gerakan sekecil itu terlihat seperti lampu sorot.
Naya meletakkan tas di kursinya.
Lalu, alih-alih langsung membuat keributan seperti biasa, ia membuka saku kecil tasnya.
Bima nyaris berdiri.
Nyaris.
Tapi ia ingat tulisan di bukunya sendiri.
Terutama kalau aku ikut campur.
Jadi ia tetap duduk.
Dengan penderitaan yang sangat terlihat.
Sebenarnya, Naya sudah membaca kertas itu lebih dari jumlah yang sehat untuk satu potong kertas.
Semalam, ia membacanya sebelum tidur.
Lalu setelah mematikan lampu.
Lalu setelah menyalakan lampu lagi, karena ternyata otaknya lebih berisik daripada grup kelas.
Masalahnya bukan hanya isi pesannya.
Masalahnya, setiap kali ia membaca kalimat itu, wajah Raka ikut muncul di kepalanya.
Diam.
Datar.
Menyebalkan.
Lalu hal-hal lain ikut muncul.
Payung saat hujan.
Roti kecil di mejanya.
Permen tenggorokan.
Botol minum yang selalu didorong ke arahnya.
Cara Raka menunggu tanpa memanggil, tapi tetap memastikan ia aman.
Dulu, semua itu bisa ia sebut dengan mudah: Raka memang begitu.
Tapi setelah pesan itu, kalimat itu terasa terlalu pendek.
Karena diam-diam, Naya berharap semua hal kecil itu berarti sesuatu.
Dan itu membuatnya ingin menutup kertas itu, membuka lagi, lalu menutupnya lagi seperti orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan melipat barang bukti.
Jelas tidak berhasil.
Biasanya, kalau ada orang bertingkah aneh karena perasaan, Naya bisa langsung memberi komentar. Tajam, cepat, dan cukup menyebalkan untuk membuat Bima tepuk tangan.
Sekarang, orang yang bertingkah aneh itu dirinya sendiri.
Lebih buruk lagi, tidak ada komentar yang bisa ia pakai tanpa menyerang diri sendiri.
Ini jelas tidak adil.
Jadi pagi itu, ketika ia melihat Bima duduk dengan buku penyelidikannya, Naya melakukan sesuatu yang sebenarnya ia tahu sangat tidak bijak.
Ia membawa kertas itu ke meja Bima.
Naya tahu bertanya kepada Bima adalah keputusan buruk.
Sangat buruk.
Dalam daftar keputusan buruk, mungkin posisinya hanya sedikit di bawah “memberi Bima megafon”.
Tapi masalahnya, Bima sering salah dengan percaya diri.
Dan pagi itu, Naya butuh seseorang yang bisa salah duluan kalau tebakannya salah.
“Bim.”
Bima langsung menutup buku penyelidikannya.
Terlalu cepat.
Terlalu mencurigakan.
Naya menyipit.
“Kamu menyembunyikan apa?”
“Tidak ada.”
“Itu jawaban orang yang jelas menyembunyikan sesuatu.”
“Aku menyembunyikan martabat.”
“Martabatmu sudah lama hilang sejak Palkim diberi tas kain.”
Bima memegang dada.
“Pagi-pagi sudah menyerang.”
Naya duduk di bangku depan meja Bima, menghadapnya.
Itu sudah tidak biasa.
Biasanya, kalau Naya punya bahan, ia langsung menyebarkannya ke seluruh ruangan.
Kali ini ia meletakkan kertas itu di atas meja Bima.
Pelan.
Terlalu pelan untuk ukuran Naya.
Bima menatap kertas itu.
Lalu menatap Naya.
Lalu menatap kertas itu lagi.
Ia merasa sedang diuji oleh negara.
“Kamu suka nebak-nebak tulisan orang, kan?” tanya Naya.
“Biasanya.”
“Biasanya?”
“Hari ini aku sedang mencoba menjadi warga negara yang tidak mengganggu ketertiban umum.”
Naya menatapnya curiga.
“Kamu sakit?”
“Tidak. Aku berkembang.”
“Ke arah mana?”
“Masih tahap percobaan.”
Naya mengangkat kertas itu sedikit.
“Menurutmu ini tulisan siapa?”
Bima menatap kertas itu.
Ia belum membaca isinya, tapi ia tahu.
Tentu saja ia tahu.
Kertas itu seperti barang bukti yang seharusnya disegel, bukan dibawa ke meja orang paling tidak aman di kelas.
“Kenapa tanya aku?” katanya.
“Karena biasanya kamu punya teori bahkan untuk hal yang tidak perlu teori.”
“Biasanya itu hinaan.”
“Hari ini jadi fungsi sosial.”
Bima melirik ke arah Raka.
Salah.
Kesalahan besar.
Naya langsung mengikuti arah matanya.
Raka menunduk ke buku.
Terlalu cepat.
Lebih cepat daripada orang yang benar-benar sedang membaca.
Naya tidak langsung berkata apa-apa.
Namun pipinya berubah sedikit.
Sedikit saja.
Cukup untuk membuat Bima merasa hidupnya makin sulit.
“Bim,” kata Naya pelan.
“Hm?”
“Kamu tadi lihat Raka.”
“Aku melihat arah umum.”
“Arah umum itu spesifik.”
“Raka bagian dari lingkungan kelas.”
Naya menatapnya.
Bima menatap meja.
“Jawabanmu jelek,” kata Naya.
“Aku panik.”
“Kenapa panik?”
“Karena fungsi sosial terlalu berat.”
Sebelum Naya bisa menyerang lebih jauh, Alya masuk kelas bersama Salsa.
Alya langsung melihat posisi Naya, kertas di tangan Naya, wajah Bima, dan Raka yang terlalu fokus pada buku.
Sebagai ketua kelas, ia tidak butuh penjelasan panjang untuk tahu bahwa sesuatu sedang terjadi.
Sebagai manusia yang sudah mengenal Bima, ia tahu sesuatu itu berpotensi memburuk.
“Ada apa?” tanya Alya.
Naya mengangkat kertas.
“Aku minta Bima nebak tulisan.”
Alya langsung menatap Bima.
“Jangan.”
Bima mengangkat tangan.
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Bagus. Pertahankan.”
Salsa duduk di meja sebelah Naya dan tersenyum kecil.
“Kertas yang kemarin?”
Naya menoleh cepat.
“Kemarin?”
Salsa berkedip.
“Kamu cerita soal pesan yang bikin kamu kepikiran.”
“Oh.”
Naya menunduk sedikit.
Itu gerakan kecil.
Tapi untuk Naya, itu setara dengan pengumuman nasional.
Bima menunjuknya pelan.
“Naya malu lagi.”
Naya langsung menatap Bima.
“Lagi?”
Bima membeku.
Satu kata itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa ia baru saja membuka pintu yang seharusnya dikunci.
“Maksudku—secara konsep.”
Naya menyipit.
“Memangnya kamu pernah lihat aku malu?”
Bima membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Itu pertanyaan berbahaya, karena jawabannya adalah iya.
Kemarin.
Di teras penginapan.
Saat Naya mengangkat kertas seperti tameng kecil di depan Raka.
Tentu saja Bima tidak bisa mengatakan itu tanpa sekaligus mengakui bahwa ia mengamati terlalu banyak.
Alya menyipit.
“Naya bisa malu?”
Bima menoleh ke Alya dengan tatapan penuh terima kasih.
Salsa menutup mulut, menahan senyum.
Naya melihat mereka satu per satu.
“Kenapa kalian semua seperti melihat gerhana?”
“Karena jarang,” jawab Bima terlalu jujur.
Naya mengambil buku Bima yang tertutup dan memukul pelan bahunya dengan buku itu.
“Jangan dokumentasikan.”
“Aku belum buka buku.”
“Tapi niatmu sudah kelihatan.”
Raka, dari bangkunya, mengangkat wajah sebentar.
Melihat Naya memukul Bima dengan buku.
Melihat kertas di tangan Naya.
Melihat pipi Naya yang masih sedikit merah.
Lalu ia kembali menunduk.
Naya melihat itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bukan hanya menyadari Raka menunduk.
Ia menyadari dirinya menunggu Raka melihat lagi.
Itu menyebalkan.
Sangat menyebalkan.
Karena selama ini, Naya biasanya paling cepat melihat orang lain seperti itu.
Ia yang biasanya berkata “ohoo”.
Ia yang biasanya menyenggol Alya.
Ia yang biasanya membuat Bima makin berisik.
Sekarang, ia sendiri yang duduk dengan satu kertas kecil di tangan dan tidak tahu harus meletakkan matanya di mana.
Untungnya, bel masuk berbunyi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naya merasa bel masuk menyelamatkan harga dirinya.
Untuk pertama kalinya juga, Bima merasa bel masuk menghalangi pekerjaannya sebagai detektif.
Pelajaran pertama berjalan tidak seperti biasa.
Atau mungkin yang tidak biasa hanya lima orang itu.
Naya mencoba bersikap normal.
Ia tetap menjawab guru.
Tetap meledek Bima ketika Bima salah menyebut istilah biologi.
Tetap tertawa ketika Dito mengaku lupa membawa buku padahal bukunya ada di meja sendiri.
Tapi ada jeda kecil yang tidak biasa.
Setiap kali kertas itu terlihat dari sela buku catatannya, Naya menutupnya terlalu cepat.
Setiap kali Raka bergerak, Naya sadar.
Setiap kali sadar bahwa ia sadar, Naya menjadi kesal pada dirinya sendiri.
Raka tetap diam.
Namun diamnya kali ini bukan diam biasa.
Itu diam orang yang tahu pintu sudah terbuka sedikit dan tidak yakin harus masuk atau menahannya agar tidak terbuka lebih lebar.
Alya mencatat pelajaran lebih rapi dari biasanya.
Itu caranya berpura-pura tidak ikut tegang.
Salsa sesekali tersenyum sendiri.
Itu caranya menikmati perkembangan yang tidak berani ia komentari.
Bima menulis di buku catatannya:
Jangan bicara.
Jangan bicara.
Jangan bicara.
Ia berhenti.
Lalu menambahkan:
Tapi kalau semua orang diam, siapa yang menyelamatkan cerita?
Ia menatap kalimat itu.
Mencoretnya.
Menulis ulang:
Bukan tugasku.
Lalu setelah berpikir panjang, ia menambahkan tanda tanya.
Saat istirahat, mereka berkumpul di meja yang sama.
Kebiasaan yang sekarang tidak lagi terasa baru.
Naya membeli roti dan teh kotak.
Bima membeli gorengan.
Alya membawa bekal.
Salsa membawa buah potong.
Raka membawa makanan dari rumah dan, tentu saja, tisu cadangan yang entah kenapa dibutuhkan lima menit kemudian saat Bima menumpahkan saus.
“Lihat,” kata Naya sambil mengambil tisu dari Raka. “Ini kenapa dia disebut pengurus inventaris kehidupan.”
Raka menatap saus di meja.
“Karena Bima tidak stabil.”
Bima memegang gorengannya.
“Aku hanya terlalu bersemangat.”
“Kamu menumpahkan saus saat duduk,” kata Alya.
“Itu semangat internal.”
Salsa tertawa.
Naya mengambil satu tisu lagi, lalu menatap Raka.
“Kamu selalu bawa tisu?”
“Sering.”
“Payung?”
“Kalau musim hujan.”
“Permen?”
“Kadang.”
“Lakban?”
“Tidak selalu.”
Bima mencondongkan badan.
“Perhatian?”
Meja mendadak hening.
Alya langsung menatap Bima.
Salsa menahan napas.
Raka menoleh pelan.
Naya tidak langsung menjawab.
Biasanya ia akan langsung mengubah itu menjadi lelucon.
Biasanya ia akan berkata, “Bima, jangan buka cabang detektif di meja makan.”
Atau, “Perhatian itu bukan barang inventaris.”
Tapi kali ini, kata itu berhenti di tengah meja seperti gelas yang hampir jatuh.
Naya menatap Raka sebentar.
Sebentar saja.
Lalu cepat-cepat mengambil roti.
Bima melihat itu.
Alya melihat itu.
Salsa juga.
Raka melihat, tapi ia memilih menunduk ke tisu.
Bima menelan ludah.
“Perhatian terhadap kebersihan meja,” katanya cepat. “Maksudku, tisu itu bentuk perhatian terhadap saus yang tumpah.”
Alya menatapnya datar.
“Penjelasanmu jelek.”
Naya akhirnya tertawa kecil.
Kecil.
Tidak sekeras biasanya.
Tapi cukup untuk mengembalikan napas satu meja.
“Aku setuju sama Alya,” katanya.
“Aku panik,” kata Bima.
“Kelihatan.”
Raka berkata datar, “Sausnya sudah dibersihkan.”
“Traumanya belum,” kata Bima.
Salsa menaruh garpu buahnya.
“Nay.”
Naya menoleh.
“Hm?”
“Kamu masih bawa kertas itu?”
Naya langsung menyentuh saku kecil tasnya.
Terlalu cepat.
Semua orang melihat.
Naya membeku.
Bima membuka mulut.
Alya mengangkat satu jari ke arahnya tanpa melihat.
Bima menutup mulut.
Naya menarik tangan dari tasnya.
“Kenapa?”
Salsa tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa. Cuma... kalau kamu penasaran, mungkin lebih baik tanya langsung.”
Naya menatap Salsa.
“Tanya siapa?”
Salsa tidak menjawab.
Alya menurunkan pandangan ke bekalnya.
Bima menatap gorengan seolah baru menemukan makna hidup di sana.
Raka mengambil botol minumnya.
Naya menatap mereka satu per satu.
Lalu perlahan menoleh ke Raka.
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau aku punya tebakan soal penulis pesan itu...”
Raka menatapnya.
Bima berhenti bernapas secara sosial.
Alya memegang sendoknya tanpa makan.
Salsa menatap gelas minumnya sambil tersenyum kecil.
Naya melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Menurutmu tebakanku bakal salah jauh nggak?”
Raka tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu berkata, “Mungkin tidak.”
Naya diam.
Bima hampir membenturkan kepala ke meja.
Alya menutup mata.
Salsa semakin sulit menahan senyum.
Naya mencondongkan badan.
“Mungkin tidak?”
Raka mengambil botol minumnya.
Minum.
Jelas mengulur waktu.
Naya menunjuknya.
“Jangan pakai air sebagai pengalihan.”
Bima berbisik, “Biasanya kamu yang disuruh minum.”
“Bima, diam dulu.”
“Baik.”
Naya menatap Raka lagi.
“Kamu tahu siapa yang aku curigai?”
Raka meletakkan botolnya.
“Tahu.”
Satu kata.
Meja itu kembali hening.
Naya menunggu.
Raka tidak melanjutkan.
Naya membuka kedua tangan.
“Terus?”
“Terus apa?”
“Aku salah?”
Raka menatapnya.
Lalu menatap Bima.
Bima langsung menoleh ke gorengannya seolah gorengan itu mengandung jawaban ujian nasional.
Raka kembali melihat Naya.
“Nanti.”
Naya bersandar di kursi.
“Nanti?”
“Iya.”
“Nanti kapan?”
“Setelah pulang sekolah.”
“Kenapa harus setelah pulang?”
“Karena sekarang istirahat hampir habis.”
Naya melihat jam.
Masih ada dua belas menit.
Ia menatap Raka dengan curiga.
“Ini alasan teknis atau alasan kabur?”
“Dua-duanya sedikit,” jawab Raka.
Naya terdiam.
Lalu tertawa kecil.
“Kamu jujur banget sampai susah marah.”
Bima berbisik, “Ini perkembangan besar.”
Alya menyikutnya.
Raka menatap Naya.
“Setelah pulang. Di kelas. Kalau kamu masih mau tahu.”
Naya menatapnya.
Ada sesuatu di wajahnya yang berubah.
Penasaran.
Bingung.
Sedikit gugup.
Tapi tetap Naya.
“Baik,” katanya. “Aku mau tahu.”
Bel masuk berbunyi beberapa menit kemudian.
Dan sejak saat itu, hari sekolah terasa sangat panjang.
Naya mencoba bersikap biasa.
Tentu saja gagal.
Ia tetap bercanda.
Tetap meledek Bima.
Tetap menjawab guru.
Tapi setiap kali matanya tanpa sengaja bertemu Raka, ia cepat-cepat melihat ke arah lain.
Itu hal baru.
Bima hampir tidak tahan.
Ia berkali-kali membuka buku penyelidikan, lalu menutupnya lagi.
Alya mencatat pelajaran lebih rapi dari biasanya, tanda bahwa ia sedang mencoba mengendalikan sesuatu di kepalanya.
Salsa sesekali tersenyum sendiri, bukan karena lucu, tapi karena ia merasa sedang melihat sesuatu yang lama berjalan diam-diam akhirnya mendekati pintu keluar.
Raka tetap diam.
Namun diamnya kali ini bukan diam biasa.
Itu diam orang yang tahu ia sudah membuat janji dan tidak bisa pura-pura lupa.
Saat bel pulang berbunyi, kelas langsung ramai.
Sebagian siswa membereskan tas.
Sebagian membahas tugas.
Sebagian lain masih membicarakan isi amplop mereka.
Naya tidak langsung berdiri.
Raka juga tidak.
Bima berdiri, lalu duduk lagi.
Alya melihatnya.
“Kamu ngapain?”
“Aku ingin hadir sebagai saksi sejarah.”
“Tidak.”
“Tapi—”
“Tidak.”
Salsa tersenyum.
“Bim, kita beli minum dulu.”
“Aku tidak haus.”
“Kita beli minum dulu,” ulang Salsa dengan senyum yang sangat ramah.
Bima menatap senyum itu.
Lalu langsung berdiri.
“Baik. Tiba-tiba aku haus.”
Alya menatap Naya.
“Nay.”
Naya menoleh.
Alya tampak ingin mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya hanya berkata, “Kalau butuh kami, kami di kantin.”
Naya mengangguk pelan.
“Oke.”
Salsa menatap Raka sebentar.
“Jangan bikin satu circle jadi detektif terus.”
Raka diam.
Bima menunjuk Salsa.
“Judul yang bagus.”
Alya menarik Bima keluar sebelum ia benar-benar memulai pidato.
Kelas perlahan kosong.
Dito keluar sambil berteriak bahwa ia lapar.
Mira menutup pintu setengah, lalu membukanya lagi sedikit karena penasaran, lalu ditarik Salsa dari luar.
Akhirnya hanya Naya dan Raka yang tersisa di kelas.
Suara sekolah setelah pulang terdengar dari luar.
Langkah siswa di koridor.
Motor dinyalakan di parkiran.
Suara guru memanggil seseorang dari ruang piket.
Di dalam kelas, Naya duduk di kursinya.
Raka duduk dua meja di sampingnya.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
Naya akhirnya mengangkat kertas kecil yang sejak pagi ia simpan di saku tasnya.
“Jadi?”
Raka melihat kertas itu.
Lalu menarik napas pelan.
“Aku yang nulis.”
Naya tidak bergerak.
Mungkin karena ia sudah menduga.
Mungkin karena tetap berbeda ketika dugaan itu benar-benar dikatakan.
“Oh,” katanya.
Raka menunggu.
Naya melihat kertas itu lagi.
“Kenapa anonim kalau akhirnya ngaku?”
“Karena kamu tanya.”
“Kalau aku nggak tanya?”
“Mungkin tidak.”
Naya menatapnya.
“Kamu mau aku nggak tahu?”
Raka diam cukup lama.
Lalu menjawab, “Aku belum tahu.”
Naya bersandar pelan.
“Jawabanmu menyebalkan.”
“Iya.”
“Kamu setuju?”
“Karena memang.”
Naya tertawa kecil.
Tawa itu memecah sebagian ketegangan.
Tapi tidak semuanya.
Raka menatap meja.
“Aku tidak bermaksud bikin kamu kepikiran.”
“Pesanmu memang bikin kepikiran.”
“Maaf.”
“Bukan berarti jelek.”
Raka mengangkat wajah.
Naya melipat kertas itu dengan hati-hati.
“Aku malah suka.”
Raka diam.
Naya menatapnya.
“Maksudku, bukan suka yang—”
Ia berhenti.
Kalimat itu tiba-tiba punya jalan terlalu banyak.
Raka menunggu.
Naya menghela napas.
“Aku suka karena rasanya… ada yang sadar.”
Raka menggenggam pulpen di tangannya, meski sejak tadi ia tidak menulis apa-apa.
Naya menatap jendela kelas.
“Orang biasanya bilang aku lucu, rame, berisik, nggak bisa diam. Itu benar. Aku nggak masalah. Tapi pesanmu beda.”
Raka tidak menyela.
Seperti biasa, ia mendengar.
Naya melanjutkan, lebih pelan, “Kamu nulis seolah kamu tahu aku capek sebelum aku bilang.”
Raka menatapnya.
“Aku tidak selalu tahu.”
“Tapi sering.”
Raka tidak bisa membantah.
Naya tersenyum sedikit.
“Jadi aku mau tanya.”
Raka menunggu.
Naya berbalik menatapnya.
“Kenapa kamu memperhatikan aku sampai segitunya?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Tapi cukup membuat kelas yang kosong itu terasa lebih sempit.
Raka menatap Naya.
Ada banyak jawaban yang bisa ia pakai.
Karena kamu sering sakit waktu itu.
Karena kamu terlalu ceroboh.
Karena kamu bagian penting festival.
Karena aku memang memperhatikan semua orang.
Semua jawaban itu punya bagian benar.
Tapi tidak cukup.
Dan Raka, untuk pertama kalinya, merasa lelah mencari jawaban yang aman.
“Naya.”
“Hm?”
“Aku memang memperhatikan semua orang.”
Naya mengangguk.
“Iya. Aku tahu.”
“Tapi…”
Raka berhenti.
Naya tidak mendesak.
Ia hanya menunggu.
Dan mungkin karena Naya menunggu tanpa bercanda, Raka akhirnya bisa melanjutkan.
“Kalau kamu, aku mencari.”
Naya tidak langsung paham.
Atau mungkin ia paham, tapi tubuhnya butuh waktu untuk menerima.
“Mencari?”
“Kalau kelas ramai, aku biasanya dengar kamu dulu.”
Raka menatap meja, lalu kembali menatap Naya.
“Kalau kamu diam, aku sadar.”
Naya menatapnya.
“Kalau kamu belum makan, aku sadar. Kalau suara kamu berubah, aku sadar. Kalau kamu capek tapi masih bercanda, aku juga… biasanya sadar.”
Naya tidak berkata apa-apa.
Raka melanjutkan dengan suara yang tetap pelan, tapi lebih stabil daripada yang ia kira.
“Aku tidak merencanakan itu.”
“Terus?”
“Terjadi saja.”
Naya memegang kertas amplop di tangannya.
Raka menarik napas.
“Dan aku tahu itu tidak sama seperti perhatianku ke orang lain.”
Hening.
Di luar kelas, suara Bima terdengar jauh dari kantin.
Entah apa yang ia ributkan.
Biasanya Naya akan langsung bereaksi.
Kali ini tidak.
Raka akhirnya berkata, “Aku suka kamu.”
Kalimat itu tidak keras.
Tidak seperti deklarasi.
Tidak seperti adegan film.
Tapi justru karena itu, terasa sangat Raka.
Pendek.
Jelas.
Tidak bisa ditarik kembali.
Naya menatapnya.
Matanya sedikit membesar.
Bukan dramatis.
Lebih seperti orang yang akhirnya melihat jawaban dari teka-teki yang selama ini ditaruh terlalu dekat dengan wajahnya.
“Oh,” katanya pelan.
Raka menunduk sedikit.
“Maaf kalau bikin kamu tidak nyaman.”
Naya langsung menggeleng.
“Bukan. Aku cuma…”
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya, Naya tampak benar-benar kehabisan kata.
Raka menunggu.
Menunggu adalah salah satu hal yang paling ia bisa.
Naya melihat kertas itu lagi.
Lalu tertawa kecil.
Bukan mengejek.
Bukan menolak.
Lebih seperti tertawa karena baru menyadari betapa bodohnya ia selama ini.
“Pantesan.”
Raka mengangkat wajah.
“Apa?”
“Pantesan kamu menyebalkan sekali.”
Raka berkedip.
“Itu respons?”
“Aku masih memproses.”
“Baik.”
Naya menutup wajah dengan kertas amplop sebentar.
Lalu menurunkannya.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku kira kamu memang begitu ke semua orang.”
“Sebagian iya.”
“Sebagian?”
“Sebagian tidak.”
Naya menatapnya.
Lalu pipinya mulai sedikit memerah.
Ia cepat-cepat menoleh ke jendela.
“Wah.”
Raka diam.
Naya mengangkat kertas itu seperti tameng kecil.
“Jangan lihat.”
Raka langsung menunduk.
“Baik.”
“Jangan nurut secepat itu juga. Aku jadi tambah aneh.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf terus.”
“Baik.”
Naya menarik napas panjang.
Lalu tertawa kecil lagi.
“Kamu confess datar banget.”
“Maaf.”
“Raka.”
“Baik.”
Naya akhirnya menoleh lagi.
Kali ini senyumnya muncul.
Masih gugup.
Tapi tetap Naya.
“Aku belum tahu harus jawab apa.”
Raka mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kamu nggak minta jawaban sekarang?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Raka diam sebentar.
Lalu berkata, “Karena aku juga tidak tahu harus apa setelah ini.”
Naya menatapnya.
Lalu tertawa.
Kali ini lebih lepas.
“Astaga.”
Raka terlihat sedikit lega karena Naya tertawa.
Naya menyeka sudut matanya yang hampir berair karena tertawa, bukan menangis.
“Kamu confess terus bingung sendiri?”
“Iya.”
“Itu sangat kamu.”
“Aku tahu.”
Naya menatap kertas amplopnya.
Lalu berkata pelan, “Aku nggak nggak suka.”
Raka berhenti.
Kalimat itu berbelit.
Tapi cukup jelas untuk membuatnya diam.
Naya langsung mengangkat tangan.
“Maksudku—aku belum bisa jawab panjang. Tapi aku nggak merasa terganggu. Aku juga… nyaman sama kamu.”
Raka menatapnya.
Naya menunduk sedikit.
“Terutama kalau kamu nggak terlalu banyak nyuruh minum.”
“Itu sulit.”
Naya tertawa.
Ketegangan di kelas itu pecah sedikit demi sedikit.
Tidak hilang sepenuhnya.
Tapi berubah bentuk.
Dari cemas menjadi canggung.
Dari canggung menjadi hangat.
Dari hangat menjadi sesuatu yang belum punya nama.
Raka berkata pelan, “Aku tidak mau circle berubah buruk karena ini.”
Naya mengangguk.
“Aku juga.”
“Kalau kamu butuh waktu, tidak apa-apa.”
“Kayaknya kita semua butuh waktu.”
“Iya.”
Naya memandang pintu kelas.
“Alya, Salsa, Bima pasti nunggu di kantin.”
“Bima mungkin mencoba menguping.”
“Pasti.”
Raka berdiri.
Naya juga berdiri, meski masih memegang kertas kecil itu.
Mereka berjalan menuju pintu kelas.
Namun sebelum keluar, Naya berhenti.
“Rak.”
Raka menoleh.
“Jangan bilang ke Bima dulu.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Nanti dia bikin konferensi pers.”
“Benar.”
Naya menunjuknya.
“Dan jangan berubah jadi jauh.”
Raka diam.
Naya menatapnya dengan lebih serius.
“Kalau kamu tiba-tiba jadi canggung terus hilang, aku marah.”
“Aku tidak hilang.”
“Janji?”
Raka mengangguk.
“Janji.”
Naya tersenyum kecil.
“Bagus.”
Mereka keluar kelas.
Di kantin, Alya, Salsa, dan Bima memang menunggu.
Bima duduk paling depan, tampak seperti orang yang sudah menahan tiga puluh pertanyaan selama dua puluh menit.
Begitu melihat Raka dan Naya datang, ia langsung berdiri.
“Jadi?”
Alya menarik lengan bajunya.
“Bima.”
Salsa menahan senyum.
Naya duduk di kursi kosong sambil meletakkan kertas kecil itu di meja.
“Jadi apa?”
Bima menatapnya.
Lalu Raka.
Lalu Naya lagi.
“Apakah… ada sesuatu yang perlu disidangkan?”
Naya menatap Bima dengan wajah datar.
“Ada.”
Bima langsung berbinar.
“Serius?”
“Iya.”
Naya menunjuknya.
“Kasus orang yang terlalu kepo sampai hampir merusak suasana.”
Alya langsung tertawa kecil.
Salsa menutup mulut.
Raka duduk di kursi sebelah, diam seperti biasa.
Bima menunjuk dirinya sendiri.
“Aku terdakwa?”
“Selalu,” kata Raka pelan.
Naya tertawa.
Bima menatap mereka berdua.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tidak besar.
Tidak jelas.
Tapi ada.
Raka masih Raka.
Naya masih Naya.
Namun mereka seperti membawa rahasia baru yang tidak lagi sepenuhnya berat.
Bima perlahan duduk.
Alya melihat wajah Naya.
Salsa melihat Raka.
Tidak ada yang bertanya langsung.
Setidaknya tidak saat itu.
Karena mungkin mereka semua tahu, beberapa jawaban tidak perlu ditarik paksa keluar.
Kadang cukup melihat orang kembali duduk di meja yang sama.
Masih bercanda.
Masih saling meledek.
Masih menjadi mereka.
Namun tentu saja, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Karena sepuluh menit kemudian, Bima yang sudah terlalu lama menahan diri akhirnya berbisik, “Rak.”
“Hm?”
“Kalau misalnya seseorang suka seseorang, terus seseorang itu juga mungkin tidak tidak suka seseorang itu, apakah seseorang tersebut perlu membuat laporan resmi ke circle?”
Alya menutup wajah.
Salsa tertawa pelan.
“Belibet banget, Bim.”
Naya tersedak teh kotak.
Raka menatap Bima.
“Kalimatmu perlu denah,” kata Raka.
Bima mengangkat satu jari.
“Tapi secara inti paham, kan?”
“Tidak.”
Naya masih batuk kecil sambil menunjuk Bima.
“Kamu baru saja bikin pertanyaan cinta rasa soal cerita matematika.”
Bima tampak tersinggung.
“Itu pertanyaan hipotetis.”
Alya menurunkan tangan dari wajahnya.
“Hipotetisnya tersesat.”
Raka menatap Bima lagi.
Lalu berkata, “Jawabannya tidak.”
Bima mengangguk pelan.
“Baik. Pertanyaan hipotetis selesai.”
Naya menatap Bima dengan wajah merah karena tersedak dan karena alasan lain yang ia tidak mau bahas.
“Bima.”
“Iya?”
“Kalau kamu bikin satu circle jadi detektif, aku jadikan kamu terdakwa permanen.”
Bima tersenyum.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya tidak terlalu jahil.
Lebih lega.
“Baik.”
Alya menatap Bima.
“Kamu aneh.”
“Dewasa.”
“Jangan berlebihan.”
Salsa tersenyum.
Di meja kantin itu, lima orang duduk bersama seperti biasa.
Bedanya, kali ini ada satu rahasia yang sudah tidak sepenuhnya rahasia.
Ada satu perasaan yang sudah tidak sepenuhnya disembunyikan.
Dan ada satu masalah baru yang belum mereka tahu bentuknya.
Masalah itu muncul dua hari kemudian.
Selama dua hari itu, tidak ada pengumuman apa pun.
Naya belum memberi jawaban final.
Raka juga tidak menagih.
Tapi ada hal-hal kecil yang membuat Bima hampir menggigit sendok sendiri.
Naya mulai menyisakan kursi di sebelahnya sebelum Raka datang.
Saat Raka lupa membawa penghapus, Naya yang pertama melemparkan penghapus kecil ke mejanya.
Saat Raka terlihat belum makan, Naya menggeser satu gorengan ke dekat bukunya.
“Jangan GR,” katanya cepat saat Raka menatapnya. “Itu gorengan paling kecil.”
Raka hanya mengangguk.
Tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Bima melihat.
Alya melihat.
Salsa juga melihat.
Bagi Alya dan Salsa, itu masa penyesuaian.
Bagi Raka dan Naya, itu masa canggung yang aneh tapi tidak buruk.
Dua hari seperti itu cukup untuk membuat Bima, yang sebenarnya sedang berusaha dewasa, kembali mengalami gangguan moral.
Maka saat mereka makan bakso di depan sekolah, Bima akhirnya meletakkan sendoknya, menatap Raka dan Naya bergantian, lalu bertanya dengan wajah paling polos yang bisa ia buat,
“Kalian kenapa nggak pacaran aja sih?”
Raka yang sedang minum berhenti.
Naya yang sedang mengambil bakso langsung ikut berhenti.
Alya menatap Bima seperti ingin menghapusnya dari daftar teman.
Salsa membeku sambil memegang sendok.
Raka meletakkan gelasnya.
Lalu berkata pelan, “Karena aku nggak boleh pacaran.”
Bima berkedip.
Naya menoleh.
Alya mengerutkan kening.
Salsa menatap Raka.
Dan Bima, dengan seluruh kemampuan memilih waktu yang buruk, bertanya,
“Lah, terus confess kemarin itu apa?”
Raka diam.
Naya memerah.
Alya menutup mata.
Salsa menahan tawa.
Dan di sanalah mereka sadar.
Masalah baru bukan cuma ada.
Masalah baru sedang duduk satu meja bersama mereka, membawa mangkuk bakso, dan siap mengubah romcom ringan menjadi sidang darurat percintaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar