Sabtu, 13 Juni 2026

Sidang Buat Anak Pendiam Ch 4 / 20

Chapter 4

Ketua Kelas, Anak Pendiam, dan Kardus yang Hilang

Ada banyak hal yang bisa hilang di kelas XI IPA 2.

Pulpen.

Penghapus.

Niat belajar.

Kesabaran Alya.

Namun dari semua benda yang mungkin hilang, kardus kas kelas jelas bukan pilihan yang menyenangkan.

Apalagi kardus itu bukan sekadar kardus.

Di dalamnya biasanya tersimpan beberapa barang penting: uang kas cadangan, nota pembelian, kertas-kertas bekas yang entah kenapa masih disimpan, dan benda-benda kecil yang oleh Alya disebut “perlengkapan kelas”, sementara oleh Bima disebut “koleksi museum penderitaan”.

Sekarang kardus itu hilang.

Lemari kelas terbuka.

Rak bagian bawah kosong.

Dan lima orang berdiri di depannya seperti baru saja menemukan lokasi perkara.

Bima menunjuk ruang kosong itu dengan ekspresi sangat serius.

“Sepertinya, sidang pertama kita harus dimulai sekarang.”

Alya menoleh pelan.

“Bima.”

“Iya?”

“Ini bukan waktunya bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Ini justru bukti bahwa konsep stand kita sangat relevan dengan kehidupan nyata.”

Naya menatap lemari, lalu menatap Bima.

“Kalau ternyata kamu yang mindahin, aku pribadi akan mengusulkan hukuman membaca janji siswa pakai nada sedih.”

“Aku tidak bersalah.”

“Itu kalimat semua terdakwa.”

“Makanya aku butuh pengacara.”

Naya menunjuk dirinya sendiri. “Bayar dulu.”

“Teman kok transaksional.”

“Pengacara memang begitu.”

Salsa mencoba melihat ke dalam lemari, mungkin berharap kardus itu hanya bersembunyi di balik benda lain.

Sayangnya tidak.

Yang ada hanya beberapa sapu kelas, pengki, satu bola plastik penyok, dan tumpukan map lama.

“Terakhir siapa yang pegang?” tanya Salsa.

Alya membuka buku catatannya cepat.

Terlalu cepat.

Seolah ia memang sudah menduga suatu hari nanti sesuatu akan hilang dan ia perlu membuktikan bahwa dunia ini tidak bisa dipercaya.

“Kemarin aku pakai untuk ambil uang beli spidol,” kata Alya. “Setelah itu aku masukkan lagi ke lemari.”

“Lemarinya dikunci?” tanya Raka.

Alya berhenti.

Lalu menatap pintu lemari.

“Harusnya.”

Bima langsung mengangkat tangan.

“Yang Mulia, izinkan saya menyatakan bahwa kata ‘harusnya’ adalah pintu menuju kehancuran.”

Alya menatapnya.

Bima menurunkan tangan.

“Baik. Saya diam.”

Naya membuka pintu lemari satu lagi.

“Siapa tahu pindah ke sini.”

“Kalau kardus bisa pindah sendiri, kita punya masalah lebih besar,” kata Raka.

Naya menoleh.

“Raka, itu kalimat paling horor yang kamu ucapkan hari ini.”

“Aku cuma bilang kemungkinan.”

“Jangan. Aku tidak siap menghadapi kardus berhantu.”

Bima langsung mundur.

“Kalau horor, aku keluar dari kepanitiaan.”

“Kamu keluar dari kepanitiaan karena kardus?” tanya Salsa.

“Setiap orang punya batas.”

“Batasmu rendah sekali,” kata Alya.

“Yang penting ada.”

Alya menghela napas panjang, lalu menatap ruang kosong di lemari itu lagi.

Masalahnya bukan hanya kardusnya.

Masalahnya, mereka baru saja berhasil membuat satu kelas tertarik membantu stand.

Mereka baru saja punya konsep.

Baru saja punya prinsip.

Baru saja punya sedikit harapan.

Lalu sekarang, sebelum bahkan membeli properti pertama, barang kas kelas hilang.

Sebagai ketua kelas, Alya tahu satu hal dengan sangat jelas.

Pada akhirnya, semua orang akan bertanya padanya.

Bukan karena ia yang menghilangkan.

Tapi karena ia yang biasa memegang semua hal.

“Aku cari dulu,” kata Alya cepat.

Naya menoleh. “Cari ke mana?”

“Ruang guru, mungkin kemarin kebawa. Atau aku tanya petugas kebersihan. Atau cek ruang OSIS. Atau—”

“Alya.”

Salsa memanggilnya pelan.

Alya berhenti.

“Pelan-pelan dulu.”

“Aku pelan.”

“Nggak,” kata Naya. “Kamu udah masuk mode mesin fotokopi rusak.”

“Apa maksudnya?”

“Berisik, panas, dan semua orang takut mendekat.”

Bima mengangguk. “Analogi yang kuat.”

Alya menutup buku catatannya dengan sedikit lebih keras dari perlu.

“Aku ketua kelas. Kalau barang kelas hilang, aku harus bertanggung jawab.”

“Bertanggung jawab iya,” kata Raka.

Semua menoleh.

Raka berdiri di dekat lemari, masih melihat isi rak yang kosong.

“Tapi bukan berarti harus cari sendiri.”

Alya terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tidak terdengar dramatis.

Tidak terdengar seperti nasihat panjang.

Tapi justru karena itu, Alya tidak langsung punya jawaban.

Bima perlahan menunjuk Raka.

“Wah.”

Raka menoleh. “Apa?”

“Kamu barusan terdengar seperti tokoh bijak yang muncul di episode penting.”

“Tidak.”

“Kalau ada musik latar, aku pasti merinding.”

“Jangan tambahkan musik latar.”

Naya tersenyum. “Aku setuju sama Raka. Bukan soal musik latar, tapi soal jangan cari sendiri.”

Alya ingin membantah.

Kebiasaan lama.

Namun ia melihat empat orang di depannya.

Naya dengan wajah serius yang jarang bertahan lebih dari tiga detik.

Salsa yang menunggu dengan sabar.

Bima yang entah kenapa sudah menggulung lengan baju seperti benar-benar akan bekerja.

Dan Raka yang masih berdiri tenang di samping lemari.

Akhirnya Alya menarik napas.

“Baik.”

Bima langsung menepuk tangan.

“Keputusan bijak dari Yang Mulia Ketua.”

“Jangan mulai.”

“Maaf.”

Alya membuka buku catatannya lagi.

“Kita bagi tugas.”

“Ini baru rapat darurat,” kata Naya.

“Aku dan Raka cek ruang guru dan tanya Bu Ratna,” kata Alya. “Naya dan Salsa tanya anak-anak yang kemarin piket. Bima—”

“Aku siap.”

“Kamu cek bawah meja, belakang lemari, dan tanya petugas kebersihan.”

Bima menatapnya.

“Kenapa wilayahku seperti ekspedisi bawah tanah?”

“Karena kamu paling mungkin masuk ke tempat-tempat aneh tanpa malu.”

Bima terdiam.

Lalu mengangguk.

“Itu benar.”

Maka dimulailah pencarian kardus kas kelas XI IPA 2.

Sebuah operasi yang, menurut Bima, layak diberi nama besar.

“Operasi Keadilan Kardus,” katanya sambil keluar kelas.

“Jangan sebut itu di depan petugas kebersihan,” pesan Alya.

“Terlambat kalau sudah jadi sejarah.”

Naya dan Salsa pergi ke koridor untuk mencari anak-anak yang piket kemarin.

Bima berjalan ke arah gudang kecil dekat tangga sambil membawa sapu, entah untuk apa.

Sementara Alya dan Raka menuju ruang guru.

Selama beberapa langkah pertama, mereka berjalan dalam diam.

Bukan diam yang canggung.

Lebih seperti diam karena Alya terlalu sibuk menyusun kemungkinan di kepala, sementara Raka memang tidak merasa perlu mengisi udara dengan kata-kata.

Koridor sekolah sudah mulai sepi karena jam pulang.

Beberapa siswa masih lewat sambil membawa tas.

Di kejauhan, suara Bima terdengar samar.

“Pak, izin bertanya. Apakah Bapak melihat kardus mencurigakan?”

Alya berhenti berjalan.

Raka juga berhenti.

Mereka menoleh ke arah suara itu.

Petugas kebersihan terlihat menatap Bima dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Alya memejamkan mata.

“Kenapa dia bertanya seperti polisi di sinetron?”

“Setidaknya dia bertanya,” kata Raka.

Alya menoleh pada Raka.

Jawaban itu terlalu positif untuk situasi yang melibatkan Bima.

“Kamu selalu melihat sisi baik orang?”

“Tidak.”

“Tadi kedengarannya begitu.”

“Aku hanya berusaha supaya kamu tidak tambah stres.”

Alya terdiam sebentar.

Lalu cepat-cepat berjalan lagi.

“Tidak perlu.”

“Perlu apa?”

“Berusaha supaya aku tidak stres.”

Raka mengikuti langkahnya.

“Aku tidak bilang akan berhasil.”

Alya hampir tersenyum.

Hampir.

Tapi ia menahannya, karena merasa tidak pantas tersenyum saat kardus kas kelas masih hilang.

Ruang guru berada di ujung koridor.

Bu Ratna masih ada di dalam, sedang merapikan beberapa berkas.

Ketika melihat Alya dan Raka datang, beliau mengangkat wajah.

“Kenapa, Alya?”

“Bu, maaf mengganggu. Kardus kas kelas kami hilang dari lemari. Kemarin saya sempat ambil uang untuk beli spidol, lalu seingat saya saya kembalikan lagi. Ibu ada lihat kardus itu terbawa ke ruang guru atau dipindahkan?”

Bu Ratna berpikir sebentar.

“Kardus cokelat yang biasa di lemari?”

“Iya, Bu.”

“Sepertinya tidak ada di sini. Tapi tadi pagi Pak Dedi sempat memindahkan beberapa barang dari kelas kalian karena katanya lemari bawah mau dibersihkan.”

Alya langsung tegak.

“Pak Dedi?”

“Iya. Coba tanya ke gudang peralatan. Mungkin dibawa ke sana.”

Alya mengangguk cepat.

“Baik, Bu. Terima kasih.”

Mereka keluar dari ruang guru.

Alya berjalan lebih cepat.

Raka mengikuti.

“Gudang peralatan dekat lapangan,” kata Alya.

“Bima tadi ke arah sana?”

Alya berhenti.

Lalu menatap Raka.

Mereka berdua sadar pada saat yang sama.

Bima.

Gudang.

Kardus hilang.

Ini kombinasi yang tidak boleh dibiarkan terlalu lama.

Alya langsung mempercepat langkah.

Raka ikut berjalan di sampingnya.

Dari arah tangga, Naya dan Salsa muncul.

“Nemu info?” tanya Naya.

“Pak Dedi mungkin mindahin ke gudang,” jawab Alya cepat.

Salsa menghela napas lega. “Berarti belum tentu hilang.”

“Belum tentu,” kata Alya.

Naya menunjuk ke arah lapangan. “Bima juga tadi ke sana, kan?”

Keempatnya terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu mereka berjalan lebih cepat.

Ketika sampai di depan gudang peralatan, mereka mendengar suara Bima dari dalam.

“Tenang. Saya punya pengalaman.”

Alya langsung membuka pintu.

“Pengalaman apa?”

Di dalam gudang, Bima sedang berdiri di atas bangku kecil sambil berusaha menarik sesuatu dari rak atas.

Petugas kebersihan berdiri di bawahnya dengan wajah khawatir.

Dan di rak paling atas, terlihat kardus cokelat yang sangat familiar.

Kardus kas kelas.

Alya langsung menunjuk.

“Itu!”

Bima menoleh dengan wajah bangga.

“Aku menemukannya.”

“Kamu ngapain berdiri di situ?”

“Mengambil bukti.”

“Turun.”

“Sebentar lagi sampai.”

“Bima, turun dulu.”

“Tanggung.”

Bangku kecil itu bergoyang.

Salsa menahan napas.

Naya spontan maju setengah langkah.

Alya mematung karena terlalu banyak kemungkinan buruk muncul di kepalanya.

Raka bergerak paling cepat.

Ia masuk ke gudang, memegang sisi bangku agar tidak bergeser, lalu berkata datar, “Turun.”

Bima menunduk.

“Kalau aku turun, siapa yang ambil kardus?”

“Aku.”

“Kamu bisa?”

Raka melihat tinggi rak.

“Bisa.”

Bima memandangnya beberapa detik.

Lalu turun pelan-pelan dengan harga diri yang sedikit terluka.

“Baik. Silakan, wahai tiang listrik.”

“Aku tidak setinggi itu.”

“Lebih tinggi dari harga diriku saat ini.”

Raka tidak menjawab.

Ia naik ke bangku, meraih kardus itu tanpa banyak usaha, lalu menurunkannya.

Alya langsung menerima kardus tersebut.

Ia membuka tutupnya.

Uang kas ada.

Nota ada.

Kertas bekas ada.

Benda-benda kecil yang tidak jelas gunanya juga ada.

Semuanya lengkap.

Alya menghela napas lega.

Begitu lega sampai bahunya turun sedikit.

“Syukurlah.”

Pak Dedi, petugas kebersihan, akhirnya menjelaskan bahwa kardus itu tadi pagi dipindahkan sementara karena bagian bawah lemari kelas basah akibat tumpahan air. Beliau lupa memberi tahu karena dipanggil ke kelas lain.

“Maaf, ya, Nak,” kata Pak Dedi.

Alya langsung menggeleng.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga seharusnya cek dulu.”

Raka menatap Alya sebentar.

Namun tidak mengatakan apa pun.

Naya menyandarkan tangan di pinggang.

“Berarti kasus selesai?”

Bima mengangkat tangan.

“Sebentar. Sebagai jaksa, aku merasa perlu menyampaikan hasil penyelidikan.”

“Tidak perlu,” kata Alya.

“Perlu untuk pendidikan hukum.”

“Tidak perlu.”

Bima berdiri di tengah gudang, mengabaikan penolakan resmi.

“Setelah penyelidikan mendalam, dapat disimpulkan bahwa terdakwa utama bukanlah manusia.”

Salsa mengernyit. “Lalu?”

Bima menunjuk lantai.

“Terdakwanya adalah tumpahan air.”

Naya menepuk tangan pelan.

“Luar biasa. Untuk pertama kalinya, kamu menuduh benda mati.”

“Benda mati sering lolos dari hukum.”

Raka turun dari bangku.

“Karena tidak bisa disidang.”

Bima menunjuknya cepat.

“Nah! Makanya kita perlu sistem hukum yang lebih luas.”

Alya memegang kardus kas lebih erat.

“Ayo kembali ke kelas.”

“Tunggu, kita belum menentukan hukuman untuk tumpahan air.”

“Bima.”

“Baik.”

Mereka kembali ke kelas bersama-sama.

Untuk pertama kalinya sejak ditunjuk sebagai tim inti, mereka berjalan dalam satu rombongan kecil.

Bukan karena sengaja.

Hanya karena tujuan mereka sama.

Alya membawa kardus.

Raka berjalan di sebelahnya, sekali-sekali melirik untuk memastikan kardus itu tidak terlalu berat.

Naya dan Salsa berjalan di belakang sambil membahas kemungkinan hukuman untuk “kasus tumpahan air”.

Bima berjalan paling belakang sambil berkata pada siapa pun yang mau mendengar bahwa ia baru saja menyelesaikan kasus besar.

Tidak ada yang mau mendengar.

Tapi itu tidak pernah menghentikan Bima.

Sesampainya di kelas, Alya meletakkan kardus di meja guru.

Ia membuka buku catatannya lagi, lalu mencoret satu tulisan kecil yang tadi ia buat:

Cari kardus kas.

Setelah itu, ia menatap isi kardus.

“Kita harus hitung anggaran.”

Bima langsung mundur.

“Aku alergi angka.”

“Kamu kelas IPA,” kata Salsa.

“Itu status administratif.”

Naya duduk di meja depan.

“Berapa uang kas yang bisa dipakai?”

Alya menghitung cepat.

“Tidak banyak. Kita masih butuh untuk kebutuhan kelas lain. Jadi untuk stand, harus hemat.”

“Berarti dekorasi seadanya,” kata Salsa.

“Properti bikin sendiri,” tambah Raka.

“Promosi pakai media sosial dan poster murah,” kata Naya.

Bima mengangkat tangan.

“Palu hakim tetap harus berwibawa.”

Alya menatapnya.

“Kamu boleh buat sendiri.”

Bima terdiam.

“Aku merasa dijebak oleh impianku sendiri.”

“Bagus.”

Mereka mulai mengeluarkan isi kardus.

Uang kas disisihkan.

Nota dirapikan.

Kertas bekas dipilih yang masih bisa dipakai.

Karton lama yang terlipat ternyata masih bisa dipotong untuk kartu kasus.

Bima menemukan tiga tutup botol dan menyebutnya “barang bukti”.

Naya menemukan gulungan pita bekas lomba 17 Agustus dan mengusulkan itu untuk pembatas antrean.

Salsa menemukan kertas warna sisa dekorasi kelas dan langsung memikirkan poster.

Raka menemukan lakban bening yang masih setengah penuh.

“Ini penting,” katanya.

Bima menoleh.

“Kenapa nada bicaramu seperti menemukan harta karun?”

“Karena lakban selalu dibutuhkan.”

“Bahkan dalam hidup?”

“Terutama dalam kepanitiaan.”

Naya mengangguk serius.

“Lakban adalah fondasi peradaban sekolah.”

Alya, tanpa sadar, tersenyum kecil.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Raka melihatnya.

Lalu kembali menunduk ke kardus, seolah tidak melihat apa pun.

Mereka bekerja hampir satu jam.

Tidak ada yang benar-benar menyebutnya rapat.

Lebih seperti membongkar benda-benda lama sambil menyadari bahwa barang yang tadinya dianggap tidak berguna ternyata bisa menyelamatkan anggaran.

Alya mencatat semua barang.

Salsa mulai menggambar sketsa poster.

Naya menulis beberapa kasus baru di kertas bekas.

Bima mencoba membuat palu hakim dari spidol dan tutup botol, lalu gagal dalam waktu kurang dari tiga menit.

Raka memisahkan barang yang bisa digunakan, barang yang harus diperbaiki, dan barang yang sebaiknya tidak disentuh karena mencurigakan.

Pada suatu titik, Alya mencoba mengangkat tumpukan kertas dan karton ke meja lain.

Tumpukannya terlalu tinggi.

Beberapa kertas mulai meluncur.

Sebelum jatuh, Raka sudah menahan bagian sampingnya.

“Bagi dua,” katanya.

“Aku bisa.”

“Bisa jatuh juga.”

Alya menatapnya.

Raka menatap balik dengan wajah datar.

Tidak menantang.

Tidak menyindir.

Hanya menyatakan kemungkinan yang sangat masuk akal.

Alya akhirnya menghela napas dan membagi tumpukan itu menjadi dua.

“Terima kasih.”

Raka mengangkat separuh tumpukan.

“Sama-sama.”

Naya yang melihat dari ujung meja langsung menyipitkan mata.

“Ohoo.”

Alya menoleh cepat.

“Apa?”

“Nggak.”

“Jangan mulai.”

“Aku belum mulai.”

“Wajahmu sudah mulai.”

Bima ikut menoleh.

“Ada apa? Aku melewatkan gosip?”

“Tidak ada gosip,” kata Alya cepat.

Salsa hanya tersenyum sambil kembali menggambar.

Raka tidak bereaksi.

Atau setidaknya terlihat tidak bereaksi.

Namun setelah meletakkan karton di meja lain, ia memilih kembali ke kardus dan menyibukkan diri dengan menggulung kabel lama.

Alya duduk lagi, sedikit lebih tegak dari sebelumnya.

Naya tersenyum kecil.

Bukan karena ia benar-benar melihat sesuatu.

Lebih karena menggoda Alya selalu menyenangkan.

Setelah barang-barang selesai dipilah, Alya membuat daftar kebutuhan yang masih harus dibeli.

Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup membuatnya berpikir keras.

“Kita butuh karton tambahan, spidol warna, tali rafia, kain hitam, dan mungkin cat kecil.”

“Cat?” tanya Bima.

“Untuk properti.”

“Kalau pakai cat, aku punya bakat melukis.”

Naya menatapnya.

“Bima, phoenix kamu bentuknya ayam.”

“Itu gaya abstrak.”

“Abstrak pun bisa tersinggung.”

Salsa menahan tawa.

Alya menulis perkiraan harga.

Semakin lama, dahinya semakin berkerut.

Raka memperhatikan dari samping.

“Bisa kurangi kain,” katanya.

Alya menoleh.

“Maksudnya?”

“Kalau latar nggak full tertutup, cukup bagian meja hakim. Sisanya pakai karton tulisan. Lebih murah.”

Alya melihat sketsa kasar di bukunya.

Salsa ikut mendekat.

“Bisa juga. Kalau desain posternya kuat, dekorasinya nggak perlu terlalu penuh.”

Naya menunjuk papan tulis.

“Berarti kita bikin ruang sidang versi rakyat.”

Bima mengangkat tangan.

“Rakyat menuntut palu hakim tetap berkelas.”

“Rakyat disuruh bikin sendiri,” jawab Alya.

Bima menurunkan tangan.

Alya mencoret beberapa kebutuhan.

Anggaran turun sedikit.

Tidak banyak.

Tapi cukup.

Ia melirik Raka.

“Makasih.”

Raka mengangguk kecil.

Lagi-lagi cuma begitu.

Tidak ada kalimat manis.

Tidak ada senyum besar.

Tidak ada hal yang seharusnya membuat Alya merasa aneh.

Tapi entah kenapa, ia merasa sedikit lebih ringan.

Mungkin karena untuk pertama kalinya hari itu, ada orang yang tidak hanya memberinya masalah atau pertanyaan.

Ada orang yang memberi solusi sebelum ia sempat meminta.

Alya segera menunduk ke buku catatan.

Tidak perlu dipikirkan.

Itu cuma karena Raka teliti.

Bukan hal lain.

Pasti bukan hal lain.

“Bu Ketua,” panggil Naya tiba-tiba.

Alya mendongak.

“Apa?”

“Wajahmu barusan seperti orang yang habis dibantu terus gengsi mengakui.”

Alya menatapnya datar.

“Kamu terlalu banyak membaca novel.”

“Berarti akurat?”

“Tidak.”

Bima menunjuk Naya.

“Sebagai jaksa, aku ingin memanggil saksi.”

“Tidak ada sidang,” kata Alya.

“Salsaaa,” panggil Bima.

Salsa mengangkat wajah dari sketsanya.

“Aku tidak melihat apa-apa.”

“Kamu bahkan belum ditanya.”

“Aku belajar menghindari masalah.”

Raka berdiri sambil membawa gulungan kabel.

“Aku ke gudang sebentar. Ini kabel harus dicek.”

Alya langsung ikut berdiri.

“Aku ikut. Sekalian kembalikan barang yang tidak dipakai.”

Naya membuka mulut.

Alya langsung menunjuknya.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Sudah kelihatan.”

“Aku cuma mau bilang hati-hati.”

“Tidak.”

“Serius.”

Alya menatap Naya curiga.

Naya tersenyum polos.

Terlalu polos.

Akhirnya Alya mengambil beberapa barang dan berjalan keluar bersama Raka.

Begitu mereka keluar kelas, Bima langsung mendekat ke Naya.

“Menurutmu ada sesuatu?”

Naya melihat pintu.

Lalu mengangkat bahu.

“Belum tahu.”

“Tapi ada potensi?”

“Semua hal punya potensi kalau kamu cukup halu.”

Bima mengangguk bijak.

“Itu prinsip hidup yang indah.”

Di koridor, Alya dan Raka berjalan menuju gudang.

Kali ini, kardus tidak hilang.

Tidak ada Bima berdiri di atas bangku.

Tidak ada tumpahan air yang harus disidang.

Hanya koridor sore yang mulai sepi dan dua orang membawa barang sisa.

Alya memegang beberapa karton.

Raka membawa kabel dan benda-benda yang lebih berat.

Beberapa langkah berlalu tanpa suara.

Lalu Alya berkata, “Tadi makasih.”

Raka menoleh sedikit.

“Soal apa?”

“Soal kardus. Anggaran. Barang-barang. Semuanya.”

“Oh.”

Raka diam sebentar.

“Sama-sama.”

Jawaban singkat.

Seharusnya percakapan berhenti di sana.

Namun Alya, entah kenapa, melanjutkan.

“Kamu memang biasanya memperhatikan hal-hal kecil begitu?”

Raka berpikir.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Aku cuma melihat yang perlu dikerjakan.”

Alya menatapnya.

Kalimat itu sederhana.

Tapi terdengar seperti cara hidup.

“Capek nggak?”

Raka menoleh.

“Apa?”

“Melihat yang perlu dikerjakan terus.”

Raka diam.

Untuk beberapa detik, Alya merasa ia baru saja bertanya terlalu personal.

Ia hampir menarik kembali pertanyaan itu.

Namun Raka menjawab pelan.

“Kadang.”

Alya tidak tahu harus berkata apa.

Raka melanjutkan, masih dengan suara yang sama tenangnya.

“Tapi lebih capek kalau melihat sesuatu bisa dibereskan, tapi dibiarkan.”

Alya berhenti berjalan sebentar.

Raka ikut berhenti.

Ada sesuatu yang membuat jawaban itu terasa terlalu dekat dengannya.

Karena Alya juga begitu.

Ia sering mengambil tugas bukan karena ingin terlihat hebat.

Tapi karena melihat sesuatu berantakan dan tidak sanggup membiarkannya begitu saja.

Bedanya, Alya melakukannya sambil mengeluh dalam hati.

Raka melakukannya dalam diam.

“Berarti kamu juga tipe yang susah membiarkan orang lain kerja sendiri,” kata Alya.

Raka menatap barang di tangannya.

“Mungkin.”

Alya hampir tertawa.

“Kamu sering sekali jawab mungkin.”

“Karena seringnya memang mungkin.”

“Itu bukan jawaban.”

“Tapi tidak salah.”

Alya akhirnya benar-benar tersenyum kecil.

Kali ini tidak sempat ia tahan.

Raka melihatnya sebentar.

Lalu mengalihkan pandangan ke depan.

“Gudangnya masih dikunci?”

Alya berkedip.

“Oh. Iya. Kuncinya di Pak Dedi.”

Percakapan itu selesai begitu saja.

Tidak ada momen panjang.

Tidak ada musik latar.

Tidak ada angin dramatis.

Hanya dua orang yang sama-sama terlalu terbiasa membereskan sesuatu, berjalan mencari kunci gudang.

Namun bagi Alya, sore itu menyisakan satu hal kecil yang mengganggu.

Ternyata Raka tidak sediam yang ia kira.

Ia hanya bicara saat merasa perlu.

Dan entah kenapa, saat ia bicara, jawabannya sering tepat mengenai bagian yang paling sulit dibantah.

Setelah mereka mengembalikan barang dan kembali ke kelas, Naya langsung menatap Alya.

Alya menatap balik.

“Apa?”

“Nggak.”

“Jangan bilang ‘ohoo’.”

Naya menahan senyum.

“O—”

“Naya.”

“Baik. Aku simpan dulu.”

Bima langsung menulis sesuatu di kertas.

Alya menyipitkan mata.

“Kamu nulis apa?”

“Catatan kasus.”

“Kasus apa?”

“Belum tahu. Tapi atmosfernya menjanjikan.”

Salsa tertawa kecil.

Raka kembali duduk di dekat meja, seolah tidak ada yang terjadi.

Dan mungkin memang tidak ada yang terjadi.

Mereka hanya menemukan kardus.

Menghitung anggaran.

Memilah barang.

Mengembalikan kabel.

Hal-hal biasa dalam kepanitiaan kecil yang tidak penting bagi siapa pun di luar kelas mereka.

Tapi bagi Alya, hari itu sedikit berbeda dari kemarin.

Kemarin, ia merasa dipaksa memimpin empat orang yang belum tentu bisa diandalkan.

Hari ini, ia mulai curiga bahwa setidaknya satu dari mereka mungkin bisa diandalkan lebih dari yang ia kira.

Sayangnya, rasa percaya kecil itu langsung diuji keesokan harinya.

Karena Bima benar-benar datang membawa palu.

Bukan palu mainan.

Bukan palu properti.

Palu sungguhan.

Dengan wajah bangga, ia meletakkannya di atas meja tim inti.

“Untuk kewibawaan sidang.”

Alya menatap palu itu.

Naya menutup mulut.

Salsa membeku.

Raka melihat palu, lalu melihat Bima.

“Kenapa kamu bawa senjata ke sekolah?”

Bima tersinggung.

“Ini bukan senjata.”

Alya memejamkan mata.

“Bima.”

Bima menepuk gagang palu itu dengan penuh keyakinan.

“Ini simbol keadilan.”

Dan pada saat itu, Alya sadar satu hal.

Kardus hilang kemarin ternyata bukan masalah.

Itu baru pemanasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar